Melepas Pelukan Hujan

Karya : Devian Amilla

Aku memiliki seorang kekasih. Seseorang yang selalu ada untukku. Seorang lelaki berlesung pipi dengan bola mata yang bulat dan bulu mata yang lentik. Seorang lelaki yang perfeksionis. Meski begitu, kekasihku adalah seorang yang setia. Ia selalu ada saat aku membutuhkannya. Ia ada saat aku butuh seseorang untuk melampiaskan amarahku. Tersenyum hangat, tak menatapku kaku. Ia pun tak segan meminjamkan dadanya yang bidang untuk menyembunyikan tangisku dibalik pelukan kokohnya. Hujan, begitu ia kupanggil.

Hujan tak menyukai sesuatu yang berlebihan. Tapi Hujan menyukai hal-hal yang sempurna. Mulai dari penampilan hingga pekerjaan. Hujanku selalu tampil keren, aku suka meskipun terkadang aku tidak bisa menjadi sekeren Hujan. Beberapa bulan lalu, Hujan mengajakku pergi ke acara pernikahan teman kantornya. Aku senang karena aku bisa bertemu dan berkenalan dengan teman-temannya. Hujanku terlihat tampan dengan kemeja maron dan celana keper hitam yang semakin membuatnya terlihat sempurna.

“Apa kau tidak bisa mengganti pakaianmu? Kita akan ke pernikahan teman kantorku, loh.” Hujan menatapku dengan tatapan aneh. Aku melirik pakaian yang kukenakan. Apakah ada yang salah dengan pakaianku? Ini adalah pakaian terbaikku, tapi kenapa Hujan menyuruhku mengganti pakaianku?

“Ini pakaian terbaikku. Apakah pakaian yang kukenakan tidak cocok dipakai untuk ke acara pernikahan teman kantormu?” Aku mencoba mengendalikan intonasi suaraku.

“Pakaian yang kau kenakan tidak matching dengan pakaianku. Tapi ya sudahlah, kalau kau tidak mau menggantinya. Ayo, kita pergi sekarang. Jangan membuang waktuku untuk hal-hal seperti ini. Nanti kita terlambat sampai disana.” Hujan berjalan meninggalkanku yang sempurna berdiri mematung. Mataku panas. Kuikuti Hujan masuk ke dalam mobil. Aku mencoba menenangkan hatiku sendiri.

Di penghujung Desember 2015, karir Hujan meningkat. Hujan naik jabatan dan mengharuskan Hujan untuk pindah tugas keluar kota. Bukannya aku tidak senang mendengar kabar ini. Tapi itu berarti aku harus terpisah jarak ratusan kilometer dengan Hujan. Aku membenci bulan Desember ini lebih dari Desember-desember tahun sebelumnya, tahun ini Hujan akan pergi sangat lama sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.

Sebelum Hujan pergi, ia membuatkanku akun Skype. Katanya, agar ia bisa melihat wajahku setiap malam sebelum tidur. Aku hanya diam.

“Janji?”

“Iya, aku janji.” Hujan tersenyum, mengecup keningku dan menarikku kedalam pelukannya.

Setelah hari ini, Hujan tak akan sama lagi. Hujan mengecupku perlahan di depan bandara kota kami. Bulan Desember adalah musim penghujan. Kali ini hujan deras mengantarkan kepergiannya meninggalkan kota kami. Hujan deras diluar bandara sederas air mataku yang tak juga mau berhenti meski telah diseka puluhan kali. Ia memelukku erat, berjanji akan selalu memberi kabar. Hujan berjanji akan selalu meluangkan waktunya untukku, melakukan video call setiap minggu. Ya, Hujan berjanji.

Juli 2016. Sudah tujuh bulan berlalu. Sudah belasan minggu tidak lagi kami lewati dengan melempar senyum lewat video call. Sibuk katanya. Bahkan membalas pesanku pun Hujan tak sempat lagi. Padahal Hujan telah berjanji. Aku coba memahaminya tapi rasa sedih dan kecewaku lebih besar. Aku merindukan Hujan. Bahkan Hujan tak tahu kapan bisa kembali ke kota kami. Ketika kutanya kabarnya, Hujan marah. Hujan memintaku untuk tidak mengganggunya. Pekerjaan kantor dan teman-teman barunya disana lebih menarik baginya sekarang.

Aku kesepian. Sampai pada akhirnya aku menemukan Summer. Summer lelaki yang menyenangkan. Summer rekan kerjaku. Summer membenci hujan, bukan Hujan tapi hujan. Apalagi jika hujan di pagi hari. Mengganggu aktivitas, katanya. Aku tidak sependapat dengannya. Kubilang bahwa hujan itu menyenangkan jika kita tahu cara menghadapinya.

Malam itu, aku menangis. Aku sangat merindukan Hujan. Hujanku. Aku mencoba menghubungi Hujan. Tapi Hujan tidak bisa dihubungi. Lalu aku mencoba menghubungi Summer. Aku butuh teman curhat. Summer mendengarkan ceritaku. Summer pendengar yang baik. Setelah aku selesai bercerita, hanya satu yang Summer katakan.

“Kau punya duniamu sendiri, jangan menangis lagi.” Aku tersenyum. Malam ini aku memang menangis, tapi hatiku tersenyum. Terima kasih Summer, batinku.

Setelah malam itu, aku memutuskan pergi dari Hujan. Aku mencintainya, maka kubiarkan ia bahagia dengan apa yang ia cintai. Biarlah aku mencari bahagiaku sendiri. Tanpa Hujan. Kukirim pesan bahwa aku telah melepasnya, bahwa ia sekarang bebas. Tidak perlu lagi menyisihkan waktunya yang berharga itu untuk memberiku kabar. Hujan marah. Seharusnya aku yang marah, tapi ia lebih marah dariku.

Ia mendengar kedekatanku dengan Summer. Ia bilang aku tidak memahaminya. Ia menuduhku tidak setia, ia bilang aku membohonginya selama ini. Aku menangis. Tidakkah ia menyadari bahwa jika ada orang yang paling berhak kecewa atas semua ini, orang itu adalah aku?

Gemetar, kuketik dengan perlahan di layar ponsel bahwa aku lelah menjadi yang kedua setelah tugas-tugasnya, aku lelah menjadi orang kedua yang tahu setiap kali ia pergi dengan teman-temannya, aku lelah selalu ada untuknya sementara ia tak pernah ada saat aku butuh. Aku lelah ia selalu melanggar janji-janji kecil yang ia buat sendiri.

Hujan diam. Hujan tak membalas pesanku. Hujan pergi. Aku tak mau menahannya seperti dulu. Aku tak bisa. Aku tak mau. Sekarang  aku memiliki Summer. Sesuatu yang kusuka setelah Hujan pergi. Summer yang hangat. Bukan Hujan yang selalu membuat gigil. Summer yang ceria dan sederhana. Bukan Hujan yang dingin dan perfeksionis.

Maafkan aku, Hujan. Aku pergi.

 ====================================================

 

Devian Amilla adalah Alumni UMSU, Jurusan Matematika, 2016. Perempuan kelahiran 13 Desember 1994 ini sekarang tercatat sebagai Guru Matematika di salah satu sekolah swasta di Medan. Bisa dihubungi di FB : Devian Amilla atau email : princessadevian@gmail.com

Alamat: Jl. Serayu 3 Dusun V, Medan-Sumatera Utara

No. Hp           : 0821 6736 7106

Tinggalkan komentar