
Cerpen: Arianto Adipurwanto
Pagi sekali, Maq Bangkol duduk menjengkeng di depan tungku. Di berugaq, Naq Bangkol duduk, bersandar di salah satu tiang, kedua kakinya diluruskan, salah satu tangannya memegang pisau, dan tangannya yang lain memegang singkong seukuran lengan. Beberapa potong yang telah selesai ia kupas diletakkan begitu saja di atas lasah, membiarkan ayam–besar dan kecil– datang mematuk-matuknya, menimbulkan lubang-lubang kecil; tampak seperti ubi yang telah kena penyakit cacar.
Di depan tungku, Maq Bangkol tidak melakukan apapun. Ia diam bagai patung, meski dari lubang atas dan samping tungku mengepul asap tebal keungunan, menerpa wajahnya, menghitamkan atap pelepah kelapa di atasnya.
Dengan suara yang telah tidak lagi jelas, Maq Bangkol mengusir asap yang semakin lama kian gencar menyerbu wajahnya. “To lai inan dik ngan empit, to lai inan dik ngan empit,” berkali-kali, sampai ia menemukan nada yang terdengar indah di telinganya sendiri, namun tidak di telinga istrinya.
“Coba nyalakan api itu!” perintah Naq Bangkol yang sekarang sedang memotong kecil-kecil singkong yang telah ia kupas untuk dijadikan nasi. Bunyi pisau di atas landasan terdengar berirama.
“Lempar singkong satu,” perintahnya tanpa melihat ke arah istrinya.
Naq Bangkol kesal, ia lemparkan singkong yang belum ia kupas dengan keras, hingga tepat mengenai punggung suaminya. Membuat Maq Bangkol teriak kesakitan. “Lubang anu ibumu!” umpatnya. Sambil meringis kesakitan ia mengambil ubi yang karena benturan keras telah patah bagian ujungnya, lalu melemparkannya begitu saja ke dalam tungku yang apinya belum juga menyala.
“Ndak ada guna sama sekali kamu sekarang ya. Coba kamu keliling kebun sana, kali saja ada jamur atau apa, buat kita makan. Setiap hari kamu habiskan waktu depan tungku.” Naq Bangkol menggerutu.
“Aee, apa yang ada sudah kita makan, ndak usah susah-susah,” jawabnya santai. Sekarang api telah menyala, dan ia mengubah posisi duduknya. Beralaskan dua iris serabut kelapa, ia duduk sambil memeluk lututnya. Kehangatan dari nyala api di depannya menghangatkan sebagian besar tubuhnya.
“Apa yang ada itu ndak ada.” Kesal, Naq Bangkol menetak-netak dengan keras potongan singkong di atas landasan, hingga potongan itu seperti telah hancur jadi pasir, dan kemudian berhamburan ke segala arah. Mengundang lebih banyak ayam yang datang.
Suara-suara kaki ayam ini sangat dikenal oleh Maq Bangkol. “Itu ayam itu saja gorok satu, buat apa kita pelihara ayam banyak-banyak, nanti keburu kita mati, ndak bisa kita makan enak-enak,” katanya dengan makin santai, seolah-olah ia mengucapkan kata-kata yang sama sekali tidak akan berpengaruh apapun. Dengan cara suaminya berbicara, tentu saja Naq Bangkol semakin bertambah kesal.
“Ya, memangnya nanti kalau kamu mati, kamu mau saya tanam begitu aja, heh?” Naq Bangkol tidak menghendaki jawaban, tetapi lebih tepatnya, ia menghendaki permintaan maaf dari suaminya.
***
Maq Bangkol dan Naq Bangkol adalah pasangan suami istri yang telah tua renta. Mereka tinggal hanya berdua di tengah hutan. Yang Maha Kuasa tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk memiliki satu orang anak pun. Juga tidak ada orang yang dengan sukarela memberikan anak mereka untuk mereka besarkan. Karena itulah mereka dipanggil Maq Bangkol dan Naq Bangkol.
Semakin hari, keadaan tubuh mereka kian tidak memungkinkan untuk melakukan sesuatu yang membutuhkan tenaga besar. Rumah gubuk yang mereka tempati, berlubang di sana-sini. Berugaq bambu tempat Naq Bangkol duduk tinggal sedikit lagi mungkin akan rubuh. Atapnya begitu rapuh, hingga angin yang sangat pelan pun dapat menggugurkannya. Sedang rumah utama tempat mereka tidur, kurang lebih sama. Terlihat seperti pohon yang sebagian besar akarnya telah terputus. Karena satu-dua keluarga yang mereka miliki, telah pergi mencari penghidupan yang lebih layak, maka tidak ada satu orang pun yang bisa mereka suruh untuk sekadar menyelamatkan rumah itu dari kehancuran.
***
“Kalau saya mati biarkan saja mayat saya dimakan anjing,” kata Maq Bangkol sambil berusaha keras mengeluarkan singkong di tengah-tengah bara api yang menyala-nyala dengan jepitan bambu.
“Kalau saya mati duluan, apa kamu tega membiarkan mayat saya begitu aja?”
Maq Bangkol membiarkan pertanyaan istrinya menggantung. Seolah istrinya tidak pernah bertanya apapun, ia kupas singkong yang masih panas itu dengan bekas potongan parang yang ia dapat di dekatnya.
“Pasti saya duluan mati. Kamu masih segar begitu,” sambung Naq Bangkol setelah diabaikan oleh suaminya. Tanpa menunggu kata-kata suaminya, ia turun dari berugaq dengan susah payah. Lalu dengan terbungkuk-bungkuk, ia membawa bakul berisi singkong yang telah hancur lebur ke dalam dapur.
Ia membuka ember hitam tempat biasa ia menyimpan air. Dengan susah-payah ia masukkan gayung kemudian mengangkatnya, namun gayung itu hanya terisi sedikit. Rencananya ia mau mencuci singkong itu, kemudian menanaknya.
“Air habis, kita ndak makan kalau ndak ada air.” Dengan sengaja ia keraskan suaranya, berharap suaminya dengar dan pergi ke sungai di bawah sana mengambil air.
“Ndak usah makan sudah.” Kata-kata suaminya membuat kesabarannya habis. Ia dengan terbungkuk-bungkuk berjalan keluar, mendekati suaminya. “Bilang apa kamu? Kamu tidak makan?” tanyanya setengah membentak sambil berdiri di belakang suaminya. Sepasang matanya menatap Maq Bangkol yang sedang memakan singkong bakar. Untuk pertama kali, ia melihat suaminya seperti monyet.
“Ya, nanti malam makan, ndak apa kita mati,” kata Maq Bangkol masih dengan nada serupa.
Naq Bangkol bingung hendak mengatakan apa untuk membuat suaminya menuruti keinginannya. Lama ia berdiri di belakang Maq Bangkol. “Kamu manusia tidak berguna!” katanya pada akhirnya, kemudian ia berjalan ke dalam rumah, naik ke atas dipan, dan meringkuk di atas tikar pandan yang telah lusuh.
Setelah menghabiskan singkongnya, Maq Bangkol bangun dan masuk mencari istrinya. Sekuat tenaga ia berdiri. Dari salah satu lututnya, terdengar bunyi seperti dahan-dahan kecil dipatahkan. Kurang lebih dengan cara yang sama seperti istrinya, ia berjalan ke dalam rumah, dan mendapati istrinya sedang meringkuk tanpa selimut. Pelan-pelan, ia naik ke atas dipan.
Sampai hari ini, mereka masih terbaring. Berlawanan arah. Masing-masing enggan berbicara.*
Catatan kaki:
To lai inan dik ngan empit : pergi ke sana ada ibumu sedang makan empit.
Empit : kerak nasi
Berugaq : Balai-balai
Lasah : Lantai
_______________________________________________________________________
Biodata:
Arianto Adipurwanto, lahir di Selebung, Lombok Utara, 1 Nopember 1993. Cerpen-cerpennya pernah disiarkan di surat kabar Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Batam Pos, Rakyat Sultra, Padang Ekspres, Suara NTB. Belajar di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Hp. 082339209367