[Cerpen] Muhasabah Cinta

0leh : Ratna Ning

Malam ini hujan Rei. Kupandangi gemericik air yang berjatuhan pada tanah, dedaun dan rumpun bogeunville di halaman rumahku, lewat jendela kaca kamarku. Saat hujan begini ingatan padamu seakan kembali berseliweran. Terkenang kembali pada masa-masa indah kita, sebelum peristiwa pahit itu.
Kamu dan aku Rei, kata orang tak akan terpisahkan lagi. Hubungan kita mendapat restu dari teman-teman kita.
“Aku melihat binar cinta dimatanya Vi. Aku yakin Rei cowok yang baik. Saat ia menatapmu tadi, dia hanya menatapmu lurus dan dalam. Tanpa berusaha mengalihkan tatapnya ke yang lain. Selain kulihat cinta yang begitu dalam di matanya, dia juga cowok yang teguh dan lurus pada satu tujuan. Kamu tlah jatuh di tempat yang tepat Vi. Aku harap, kamu tak akan sendirian lagi!” kata Rien menilaimu. Kamu tahu ketika kuminta kamu menjemputku di rumah Rien, Rei? Saat itu sebenarnya diam-diam aku memamerkanmu pada Rien dan Shila. Mereka yang asalnya selalu mengolok-olokku karena aku tak pernah jalan dengan cowok. Katanya aku tak laku.
Jahat sekali ya Rei? Meskipun aku tahu itu hanya bercanda. Yang mereka tak tahu, aku orangnya sangat hati-hati untuk menjatuhkan cinta, setelah kegagalan demi kegagalan dalam menjalin kasih dengan cowok-cowok membuatku jadi kecil nyali.
Tapi mereka benar kali ini. Bertemu denganmu dalam ketaksengajaan, adalah sebuah anugrah yang kemudian sangat kusyukuri. Bagaimana tidak? Kamu adalah sosok dewasa yang selama ini aku impikan. Kamu sangat melindungi, lembut hati memperlakukanku. Kamu juga begitu penyayang Rei.
Aku ingat kembali pertemuan kita di suatu senja. Saat itu aku terjebak hujan di salah satu temnpat perbelanjaan minimart. Kamu yang asalnya menemaniku di emperan, menawarkan jasa baik untuk mengantarkanku.
“Hujan nggak akan reda dalam waktu cepat dek. Ini bakalan lama nih. Hujannya awet. Daripada kamu kemalaman terjebak hujan disini, mari saya antar!” tawarmu.
Saat itu hatiku diliputi keraguan. Aku belum mengenalmu. Tubuhmu yang tinggi besar, matamu yang juga bulat besar, menumbuhkan rasa takut di hatiku. Jangan-jangan kamu lelaki jenis srigala. Pikirku. Rupanya, kamu melihat binar ragu di wajahku.
“Tenang saja. Aku bukan orang jahat kok. Percaya deh. Apa mesti kuperlihatkan KTP dan surat-surat pribadi lainnya? Tapi aku nggak bawa Kelakuan Baik dari kepolisian lho!” kamu meyakinkanku dengan kelakar.
Aku tertawa. Kebekuanku mencair. Malam itu rasanya aku menjadi cewek paling berani. Karena mau diajak menumpang dengan orang tak dikenal.
Tapi kamu betul. Kamu memang baik Rei. Bahkan setelah itu kamu begitu rajin mengantar dan menjemputku kuliah. Bahkan ketika kamu sedang sibuk dengan bisnismupun, jika kumintai tolong untuk menjemput, kamu akan dengan sigap mengiyakan dan sejurus kemudian memenuhi permintaan.
Bagaimana tidak akan menimbulkan bibit-bibit perasaan lain di hatiku Rei? Sikapmu, caramu memperlakukanku, tlah membuatku dengan cepat jatuh cinta. Cinta yang berjalan tanpa ada kata yang terlahir. Sebagai perempuan, akupun hanya mengikuti saja kemana air mengalir. Ya, hari-hari manis kita bergulir begitu saja. Menggelinding seperti bola.
Perhatian-perhatianmu yang berlebih untuk ukuran sahabat, kemudian yang kuartikan bahwa itulah cinta dalam terjemahan tanpa kata. Caramu memandangku Rei, hangat pelukanmu yang mengusir dingin kabut Tangkuban Perahu, suapan mesramu yang telaten ketika aku terkapar sakit, keromantisanmu yang selalu menjabani setiap keinginanku tlah menyimpulkan satu keyakinan bahwa kamu menyayangiku.

Hujan, masih kupandangi luruhan airnya. Dari balik jendela kaca kamarku Rei. Gelinyar kerinduan beradu dengan sekelumit kebencian yang pelan menjalar. Terasa hangat, mengusir dinginnya hawa yang ditularkan hujan. Kata pepatah, batas antara cinta dan benci itu sesungguhnya amatlah dekat. Bahkan hanya terpisah sebesar rambut saja. Mungkin itu betul.
Aku masih menyimpan kerinduan, cinta yang tak tertepikan, di hati ini Rei. Tapi terkadang, aku teramat membencimu. Sama seperti malam ini. Kamu raib dari hari-hariku di musim hujan pertama. Lama aku mencarimu. Lama aku bertanya-tanya.
Hingga akhirnya, setelah tiga bulan, pertanyaan itu menemukan jawabnya. Lewat telefon saja, kamu mengabarkan sesuatu yang membuat jantungku terhenti sesaat. Air mataku luruh diam-diam. Katamu, kamu baru saja melangsungkan pernikahan. Oh Gusti..disini aku menanti Rei, di sana kamu berpesta pora.
“Kamu…Aku kira kamu…mencintaiku Rei. Apa kamu tak punya perasaan sedikitpun sampai kamu tega…” kata yang keluar dari mulutku tersendat-sendat bercampur isak.
Kamu lama terdiam Rei. Lalu akhirnya pengakuan itu meluncur dari mulutmu.
“Aku…Demi Tuhan aku sayang sama kamu Vi. Tapi, jujur saja, aku hanya punya rasa sayang. Bukan cinta! Maafkan aku jika membuatmu berharap dan salah paham. Tapi sungguh, aku tulus Vi!”
Kamu tahu Rei, pengakuanmu itu membuatku malu. Marah juga. Aku tak terima diperlakukan seperti ini Rei. Aku benci kamu.
Benci? Sesungguhnya aku ingin benar-benar membencimu. Aku tak bisa menerima laki-laki lain setelah itu. Kau menambah rasa patah hati menjadi lebih berantakan. Tapi untuk benar-benar membenci? Ahh, sesungguhnya aku tak pernah bisa berhasil. Rasa sakit ini ada Rei. Tapi itu lebih karena ketakpuasan hati, karena akhirnya kamu tak memilihku. Kemudian aku selalu berpikir, ternyata untuk benar-benar membencimu, aku tak pernah bisa.
Ya! Tak bisa dan tak ada. Tak ada apapun yang menjadi alasan untuk membencimu Rei. Kebaikanmu, kelembutan hatimu, caramu melindungiku, hanya kenangan itu saja yang membayang dan memanjang dalam ingatanku. Dalam kenanganku. Betul kata pepatah, budi baik itu akan terus dikenang meski ragawinya terpisah.
Hujan masih menyisakan rintiknya. Malam ini Rei, ingatanku kian lekat padamu. Ingatan yang semakin membening di qalbu. Aku tak akan lagi menganak-pinakkan kebencian ini Rei. Karena apa yang kamu berikanpun, tak ada yang salah. Aku juga tak akan berusaha untuk mengubur kenangan yang pernah ada antara kita. Akan kubiarkan dia ada, seperti lembaran-lembaran kisah lama yang sesekali bisa kubuka untuk kubaca. Akan kubiarkan juga namamu ada. Selamanya di sini, membangun sebuah prasasti tentang tapak perjalanan kita, suatu saat dalam waktu.
Meskipun hari-hari masih diliputi mendung dan sesekali hujan turun, tapi satu sudut di hatiku mulai Nampak cerah. Kusibakkan tirai trauma yang sempat mengendap dan membatu, sehingga aku menutup pintu rapat-rapat untuk kehadiran lelaki lainnya.
Ahh! Rasanya ini memang tak adil. Peristiwa yang pernah terjadi antara aku dan kamu Rei, mungkin peristiwa gagal paham tentang perasaan. Atau karena hatiku terlalu jatuh kagum dan kemudian begitu banyak menyimpan harap hingga akhirnya cinta itu bertepuk sebelah tangan. Aku merasakan kesakitan karena sebelah tangan ini hanya menepuk angin saja.
Lalu lama, aku hanya membiarkan hatiku terkatung-katung dan memanjakan rasa sakitku. Membiarkan satu hati lain menunggu, menunggu dengan segenap kesabarannya. Dia hanya kuberikan janji persahabatan saja. Dia Aru, Rei. Lelaki yang datang dengan niat memberikan seluruh hatinya untukku, hingga mau menantiku hingga tak terbatas waktu.
Saat ini, aku tak memiliki cinta itu. Tapi bukankah dicintai itu lebih membahagiakan kan Rei? Seperti katamu. Karena dengan begitu, aku bisa belajar untuk menumbuhkan benih-benih cinta secara perlahan jika melihat kesungguhan dan ketulusan dari si Pecinta?
Dua puluh lebih tiga puluh menit jam di hpku ketika ringtone sms berbunyi. Hujan sudah mereda, perut terasa berdendang lagi keroncong. Ahh, kenangan selalu membuat kita lupa pada sekeliling, pada waktu, juga pada usia. Sepertinya aku harus menyudahi lenaku pada kenangan lama. Dua puluh Sembilan hanya hitungan angka. Tapi sepertinya sudah cukup kugenapkan angka ganjil itu dengan suatu bentuk kebersamaan. Dan Rei, seperti katamu, kita sudah tak butuh romansa. Tapi rencana matang tentang masa depan.
“Turunlah Vi! Aku menunggumu di bawah. Membawakanmu nasi goreng. Dingin begini, pasti perutmu lapar kan?” bunyi sms dari Arul menghentakkan ketermenunganku selanjutnya.
Gelinyar hari menyelinap di hatiku. Kututp gorden kamar, seperti juga kututup segala ronta kenangan akanmu. Kamu akan selalu ada Rei. Sebagai batu moment, peringatan kala kuterjatuh dalam perasaan yang begitu mendalam, sekaligus terbangun dari mimpi pelangi tentang cinta dan harapan.
Kuturuni anak tangga. Kali ini setengah berlari. Tidak lagi melangkah mengendap penuh keraguan dan enggan. Kulebarkan senyum pada sosok yang duduk dengan wajah teduh di sofa sana. Arul, aku janji, akan belajar menghargai segala ketulusanmu. Aku akan bangun dari mimpi masa lalu. Untuk cinta baru.
***

Biodata:

Ratna Ning, nama pena sekaligus nama di akun FBnya, lahir di Subang tanggal 19 September. Mulai menulis sejak tahun 1994. Beberapa karyanya sempat dimuat di beberapa Media Massa. Pada akhir tahun 2000 Buku Kumpulan Cerpennya sendiri di terbitkan oleh Surya Media Agency Semarang. Buku-buku kumpulan cerpen dan puisinya pernah terbit bareng dengan teman-teman penulis perempuan di facebook baik dari event maupun yang diterbitkan bersama. Diantaranya : Buku Antologi Move On, Antologi Bintang Kecil, Antologi Puisi Seruni, Antologi Ini Aku Ini Hidupku dan ada beberapa lagi. Menjadi pemenang terbaik 1 di event Realisme Sosialis yang diadakan Ar-rahman Press.
Twitter : ratnaning6
Blog : ratnaning597.blogspot.com
No. Hp : 087726550820
Email : ratnaning597@gmail.com

 

Tinggalkan komentar