[Cerpen] “Kisah Gracie”

Oleh : Devian Amilla

Aku gemar sekali melihat darah segar yang mengalir deras dari tubuh seseorang. Aku juga selalu excited ketika melihat seseorang sedang bertarung dengan kematian. Aku tergila-gila dengan darah yang kental dan anyir. Mungkin banyak yang bilang nyawa haruslah dibayar dengan nyawa. Tapi bagiku, bully yang harus dibayar dengan nyawa.
Aku sudah cukup lelah bertahan selama 13 tahun di bully oleh teman-temanku hanya karena aku berbeda. Aku yang sejak kecil tak pandai bergaul selalu mendapat diskriminasi dari orang-orang sekitarku. Tak terkecuali dari orangtuaku dan ketiga kakakku. Mereka bilang seharusnya aku tak perlu lahir karena membuat malu keluarga tidak bisa bergaul dan terlalu bodoh menempatkan diri dengan orang-orang baru. Ketiga kakakku sangat cantik, mereka sangat lihai dalam bergaul, mereka juga pintar berdandan. Bagi mereka aku hanya gadis kecil berkacamata yang tidak bisa apa-apa.
Aku mulai bersahabat dengan pisau dan benda-benda tajam lainnya saat aku merasa direndahkan sebagai perempuan. Saat usiaku 14 tahun, aku hampir kehilangan kesucianku. Teman sekelasku yang merencanakan semua ini. Aku dikepung oleh lima orang laki-laki ketika pulang dari bimbingan belajar dekat sekolahku. Aku diseret ke ujung jalanan yang sepi dan jarang dilewati kendaraan. Posisiku saat itu benar-benar terdesak. Mereka memaksaku untuk menanggalkan pakaian. Aku memberontak dan melihat salah satu dari mereka memegang pisau. Aku berhasil merebut pisau itu dari tangannya.
Kuacungkan pisau itu ke arah mereka, tapi mereka mengira bahwa aku hanya mengancam. Mereka malah menghinaku dan merendahkanku. Aku yang selama ini sudah muak dengan segala jenis bully langsung kalap menyayat leher salah satu dari mereka. Saat itu aku merasakan sisi lain dari diriku. Aku merasakan ada semangat yang selama ini hilang ketika aku melihat darah yang mengucur dari leher anak laki-laki tersebut. Teman-temannya yang lain mencoba kabur, namun aku lebih cepat dari mereka. Aku habisi mereka satu per satu dengan pisau yang ada di tanganku.
Kelima anak laki-laki itu sekarang terkapar dengan bersimbah darah. Aku belum merasa puas, kutikam dada mereka satu per satu berkali-kali. Aku tidak peduli bagaimana rupaku sekarang, aku merasa sangat senang. Ini pengalamanku yang paling menyenangkan. Setelah puas menghabisi mereka, kutinggalkan begitu saja tubuh mereka. Biarkan saja tubuhnya dimakan anjing liar yang berkeliaran di jalan ini.
Saat ini aku tercatat sebagai siswi kelas 3 di SMA Favorit di kotaku. Aku sedang sibuk-sibuknya belajar dan ‘bermain’ dengan mereka yang sibuk menghinaku. Aku berkali-kali ditegur dan di beri surat peringatan karena terus bercerita tentang pembunuhan. Semua anak-anak disekolahku jadi takut untuk berteman denganku. Padahal aku sangat senang melihat wajah-wajah ketakutan mereka saat aku menceritakan betapa serunya melihat darah yang mengalir deras dari tubuh seseorang.
“Gracie! Kerjakan soal ini di depan kelas.”, ucap pak Edward sambil menatapku tajam karena daritadi aku tidak memperhatikannya.
Aku maju ke depan kelas. Aku mencoba mengerjakan soal itu, tapi aku tidak bisa. Bagaimana mungkin aku bisa mengerjakannya, mendengarkan ia menjelaskannnya saja tidak.
“Kau sudah di tingkat akhir, kenapa kau tidak pernah serius belajar! Mau jadi apa kau setelah lulus nanti? Tukang sampah?!”, bentakan pak Edward menimbulkan suara tawa dari teman-teman kelasku.
Aku hanya bisa tertunduk. Dalam hati aku mengutuk perkataan pak Edward. Teman-teman sibuk menyorakiku dengan kata-kata yang sangat menyakitkan hati. Aku memang sudah terkenal dengan sebutan siswa yang paling bodoh sejak SD sampai sekarang. Tapi apakah menjadi bodoh itu dosa? Apakah bodoh itu termasuk salah satu dosa besar dan hina? Kenapa mereka memperlakukan aku seperti dosa besar yang haram untuk di dekati?
Pak Edward mempersilahkanku untuk duduk kembali setelah ia puas mempermalukanku di depan teman-teman. Aku kembali ke bangku dengan rasa marah yang membuncah. Pak Edward melanjutkan pelajarannya. Aku pun melanjutkan lamunanku. Aku malas untuk mendengarkan segala rumus fisika yang keluar dari mulutnya. Tapi, sial. Lagi-lagi pak Edward memergokiku melamun.
“Kau sedang akting menjadi hantu apa dengan gaya melamun seperti itu?”, teriak pak Edward dari depan kelas. Suasana kelas langsung pecah dengan suara tawa.
“Kau yang akan menjadi hantu. Bukan aku!”
“Kau bilang apa? Berani sekali kau memanggilku dengan sebutan “kau”!”, Pak Edward berjalan ke arahku. Melayangkan tamparan ke wajahku.
“KAU YANG AKAN MENJADI HANTU! BUKAN AKU!”.
Aku berteriak tepat di depan wajahnya, lalu bergegas meninggalkan kelas.
Napasku memburu. Aku berlari ke arah gudang sekolah dengan suara menggema di kepalaku. Suara itu menyuruhku untuk membunuh Pak Edward. Jadi, akan kubunuh lelaki tua itu dengan caraku.
***
Bel pulang sekolah sudah terdengar. Aku buru-buru menemui lelaki tua itu. Aku sudah mengatur rencanaku dengan matang. Kulihat lelaki tua itu berjalan ke arah kantor, sebelum ia sampai kesana aku harus mencegahnya. Aku berlari ke arahnya secepat mungkin.
“Pak Edward! Pak Edward!”, aku berusaha memanggilnya.
Lelaki tua itu memalingkan wajahnya. Ia tersenyum penuh kemenangan saat melihatku berlari ke arahnya. Ia mungkin berpikir aku akan minta maaf atas perbuatanku tadi. Ya, aku memang akan meminta maaf dengan caraku.
“Aku ingin minta maaf, Pak.”, ucapku dengan nada sesedih mungkin agar ia yakin.
“Aku menyesali perbuatanku.”, tambahku dengan suara bergetar menahan tangis.
“Akhirnya kau mengakui kesalahanmu! Aku akan memaafkanmu dengan satu syarat.”
“Apa itu, Pak?”, aku sudah mewanti-wanti permintaannya yang bisa saja menggagalkan rencanaku untuk membunuhnya.
“Bantu aku membersihkan ruangan laboraturium sekolah kita nanti sore. Bagaimana?”
“Baik Pak, dengan senang hati.”, aku tersenyum dan pamit dari hadapannya.
Ternyata si lelaki tua itu malah mempermudah rencanaku untuk menghabisi nyawanya. Aku jadi tidak sabar menunggu sore nanti.

 

***
“Gracie! What are you doing for me?!”, teriak Pak Edward ketika mendapati dirinya telah terikat di sebuah meja panjang.
“C’mon honey! Don’t worried like that. Oke?”, ucapku sambil mengeluarkan pisau, palu, gunting dan gergaji dari dalam tasku.
“Apa yang akan kau lakukan padaku, Gracie?”, suara lelaki tua itu melemah. Ia pias ketika melihat aku mengeluarkan “alat-alat kecantikanku”.
Aku mengelus wajahnya yang sudah hampir keriput dengan pisau. Kusayat kulit wajahnya beberapa kali. Ia menjerit kesakitan.
“Lanjutkan teriakanmu bapak tua! Seperti kau meneriakiku di kelas.”
“Apa salahku padamu?”, tanyanya sambil menangis.
“Salahmu karena kau telah bermain-main denganku. Salahmu telah merendahkanku di depan teman-temanku!”, teriakku frustasi.
Aku pun menyayat dan mengoyak-ngoyak tubuhnya dengan pisau kesayanganku. Ia terus menjerit kesakitan sambil mengeluarkan kalimat, Somebody, Help me! Please, help me! Aku semakin membabi buta menghabis nyawanya. Usai sudah kesabaranku selama ini.
Aku menancapkan pisau tepat ke jantungnya lalu mengoyak-ngoyak dan menarik jantungnya keluar. Belum puas sampai disitu, aku mengambil gergaji dan memotong-motong tangan dan kakinya menjadi beberapa bagian. Lalu aku membelah perutnya, mengeluarkan semua isinya. Kuambil gunting dan kupotong rambut lelaki tua ini sampai habis. Setelah itu kuhantamkan palu ke kepalanya yang sudah botak. Otaknya berceceran diatas meja. Aku tersenyum puas. Aku berjalan meninggalkan ruangan laboraturium sambil bergumam, “Bukannya sudah kukatakan? Kau yang akan menjadi hantu.”[]

 

Devian Amilla

 

Penulis adalah Alumni UMSU Jurusan Matematika, Beberapa karyanya seperti puisi, cerpen dan opini pernah dimuat di media lokal maupun luar daerah

 

 

 

Baca karya Devian Amilla LAINNYA

Tinggalkan komentar