[Cerpen] Merayakan Luka

Oleh: Nanda Dyani Amilla
Ketika diksiku tak lagi mampu membuatmu yakin bahwa rumahku masih cukup hangat untuk kau tinggali. Ketika ujarku tak lagi bisa menahan langkahmu untuk tidak beranjak pergi. Ketika harapku pun tak lagi bisa menghentikan keputusanmu untuk lari dan menyendiri. Ketika itu pula, aku meragukan rasa yang pernah kita jaga bersama. Apakah memang sebesar itu? Atau waktu memang telah lelah untuk memaklumi semua keegoisan kita?

Aku tidak pernah ingin berada di posisi ini. Bahkan untuk membayangkannya saja aku enggan. Meski sakit, aku selalu mampu membujuk hatiku untuk tetap mempertahankanmu. Menjalani semuanya sekalipun kau berbuat salah. Aku berusaha menelan semua kecewa agar tak pernah kita berpisah. Aku berusaha meminimalisir luka, memaafkan agar kita tetap bahagia. Aku tahu kau pun turut melakukan hal yang sama. Namun, apakah kali ini kita benar-benar menyerah?
Kau memaksaku untuk melupa. Kau memaksaku untuk berjalan sendiri. Kau memaksaku untuk pergi. Meski aku tidak ingin, aku kembali melakukannya untukmu. Dan kali ini, sakitnya melebihi batas mampuku. Haruskah kita berakhir dengan cara seperti ini? Haruskah kau mengusirku dengan paksa dari hatimu? Ataukah kau telah menemukan seseorang yang baru?
Aku berusaha untuk tidak menangis ketika menuliskan ini. Sebab aku tahu, kau juga tidak akan menangis ketika membacanya nanti. Untuk sekadar kau tahu, perasaanku masih bertahan di tempat semula. Tidak akan pernah bergeser sedikitpun dari sana. Tak akan pernah berubah meski ada seseorang yang menawarkan bahagia. Kau perlu tahu, mencintaimu tidak pernah benar-benar sederhana. Aku mencintaimu dengan segala upaya terbaik yang kupunya. Aku memperlakukanmu dengan sangat istimewa. Meski sesekali kau merasa akulah penyebab segala luka.
Maaf, jika selama mencintaiku kau begitu kelelahan. Maaf, jika selama bersamaku aku begitu menyebalkan. Aku hanya sedang berusaha mencintaimu dengan baik, meski di matamu segala usahaku tak pernah terasa penuh. Hari ini, aku kembali mengais-ais ingatan tentangmu. Tentang perjalanan kita melewati purnama-purnama. Tentang sedih bahagia yang kita cipta bersama.
Senja beberapa waktu lalu, kita masih menghabiskan waktu bersama. Duduk di taman berdua. Dan bercerita tentang apa saja. Aku masih bisa menatap wajah teduhmu dari jarak sedekat itu. Juga merasakan tawa bahagiamu yang memenuhi gendang telinga. Kita bicara tentang masa depan. Tentang hal-hal yang ingin kita capai bersama. Tentang impian yang ingin diwujudkan berdua.
Barangkali kita lupa, bahwa kita pernah melewati masa-masa paling sulit. Lebih sulit daripada saat ini. Tapi kecewaku adalah mendapati kenyataan bahwa dengan mudahnya kau menyerah. Begitu mudahnya kau melupakan segala. Kau lupa bahwa akulah perempuan yang rela menerima semua kekuranganmu. Akulah perempuan yang menangis ketika rindu kamu. Dan akulah perempuan yang selalu berdoa untuk kebahagiaanmu. Kau lupa menghitung berapa banyak airmata yang pernah tumpah atas namamu. Kau lupa menghitung berapa banyak sakit yang dipertaruhkannya bersamamu. Kau lupa menghitung berapa banyak cinta yang dijauhinya demi kamu.
Tidak. Aku tidak perlu menjelaskan seberapa banyak buih perasaan yang kupunya untukmu. Aku paham, kau mengerti jika soal ini. Kau hanya tidak paham, bagaimana cara menyelamatkan hatimu dari rasa marah. Sekuat apapun kini aku berusaha, kau tidak akan merubah prinsip itu.
Pergilah, jika rumahku kini tak lagi menghangatkanmu. Pergilah, jika kurangku terasa memberatkanmu. Pergilah, jika bahagiamu bukan lagi terletak padaku. Jangan khawatir, aku sudah bersahabat dengan luka sejak lama. Aku hanya harus terbiasa dengan dunia yang tanpamu. Aku hanya harus terbiasa saat membuka mata dan tidak lagi menemukanmu pada tempat yang sama. Bukankah setiap pertemuan memang akan bermuara pada kata pisah? Bukankah bahagia juga bisa berganti menjadi labirin luka?
Kembalilah, jika di kemudian hari kau tidak menemukan bahagia pada hati lain. Kembalilah, jika suatu hari nanti kau kembali merindu kisah kebersamaan kita. Sejatinya, kau tidak pernah menempati ruang benci di dalam hatiku. Untuk saat ini, bantulah aku untuk bisa menerima keadaan. Bantulah aku untuk menyembuhkan hati. Dengan cara pergi dan jangan menoleh lagi. Setidaknya sampai aku bisa melupakan rasa sakit ini. Setidaknya sampai perasaanku mati di kemudian hari.[]

untuk seseorang
yang kerapkali kubuat patah hatinya

 

( Nanda Dyani Amilla yang mengaku bernama fena Gadis Hujan, Perempuan pluviophile yang juga menulis novel berjudul “Kejebak Friendzone”, Bentang Pustaka, 2017)

Tinggalkan komentar