Cerpen Otang K.Baddy
Para pengusung keranda itu mandi keringat. Semangat yang tinggi atas bayangan upah yang menjanjikan, telah membuatnya mati rasa. Mereka tak perduli apakah para penggali kubur merasa kesal dan pegal menunggu. Juga, tak hirau akan keluguan iringan para pengantar yang sakral akan kalimah-kalimah toyibah yang menyertainya di gang setapak. Begitu pun soal tanda tanya semua orang di area pemakaman, tak jadi beban bagi mereka. Keranda berisi jasad perempuan tua itu bak emas murni, begitu sigap disikat, dan telah berhasil dibelotkan dari tujuan semestinya.
Keranda itu diusung lebih cepat, bahkan kalau perlu melompat demi menghindari kalau ada bola mata melihat. Bukan persoalan jika jasad itu terantuk-antuk atau terbanting ke kiri dan ke kanan membentur dinding keranda. Biarkan saja, yang penting sebujur tubuh kaku itu bisa terhindar dari penguburan di pesarean.
Mereka menaiki sebuah bukit dan batu cadas, untuk mencapai sebuah goa. Pengusungan pun agak hati-hati tatkala ditemui medan yang agak licin, mungkin bekas hujan semalam.
“Tinggal beberapa langkah lagi,” ucap salah seorang di antara mereka. Yang lain mengiyakan di tengah dengus nafas yang memburu. Memang mulut goa itu sudah di depan mata. Namun untuk mencapainya diperlukan pekerjaan yang ekstra ketat, mengingat mulut goa itu berada beberapa meter di atas kepala mereka. Jadi penyelesaianya bukan lagi berjalan, melainkan harus memanjat.
“Awas harus hati-hati!” kata seorang lelaki yang tiba-tiba muncul di mulut goa, bak seorang pribumi. “Yang dua orang naik dulu ke sini,” lanjutnya.
Setelah dua batang pinggulan depan keranda ditopangkan di tebing, dua orang itu memanjat ke bibir goa, sementara dua orang pengusung masih menahan di belakang. Lalu dua orang di bibir goa itu merengkuh kedua ujung keranda, dan perlahan menariknya ke atas. Demi menghindari kecemasan yang fatal, semua menahan nafas. Sebab posisi keranda itu tak cuma miring, melainkan berdiri seperti tangga.
“Tinggal beberapa langkah lagi,” ucap salah seorang di antara mereka. Yang lain mengiyakan di tengah dengus nafas yang memburu. Memang mulut goa itu sudah di depan mata. Namun untuk mencapainya diperlukan pekerjaan yang ekstra ketat, mengingat mulut goa itu berada beberapa meter di atas kepala mereka. Jadi penyelesaianya bukan lagi berjalan, melainkan harus memanjat.
“Awas harus hati-hati!” kata seorang lelaki yang tiba-tiba muncul di mulut goa, bak seorang pribumi. “Yang dua orang naik dulu ke sini,” lanjutnya.
Setelah dua batang pinggulan depan keranda ditopangkan di tebing, dua orang itu memanjat ke bibir goa, sementara dua orang pengusung masih menahan di belakang. Lalu dua orang di bibir goa itu merengkuh kedua ujung keranda, dan perlahan menariknya ke atas. Demi menghindari kecemasan yang fatal, semua menahan nafas. Sebab posisi keranda itu tak cuma miring, melainkan berdiri seperti tangga.
Entah ceroboh karena tergesa, atau mungkin keranda itu sudah cukup umur, tiba-tiba pintu keranda belakang tosblong bersamaan dengan melorotnya jasad kaku itu. Tanpa diduga mayat yang sudah mengeras itu terjatuh keras ke batu cadas dan terpelanting jauh, hingga terbontang-banting dari atas lereng bukit penuh bebatuan itu. Karenanya, kain kapan yang telah membungkusnya dengan rapi serta mewangi itu merosot dari jasadnya dan tersangkut pada sebuah tunggul.
“Goblog, kalian semua goblog!” maki seorang lelaki yang di goa tadi dengan geram. Giginya yang agak menghitam karena rokok, tampak gemeretak dirasuk amarah.
“Ini kegagalan total, dan merupakan aib besar! Aib besar sepanjang sejarah!” katanya seraya mata memandang langit, serta tangan kanan meninju-ninju telapak tangan kirinya.
“Goblog, kalian semua goblog!” maki seorang lelaki yang di goa tadi dengan geram. Giginya yang agak menghitam karena rokok, tampak gemeretak dirasuk amarah.
“Ini kegagalan total, dan merupakan aib besar! Aib besar sepanjang sejarah!” katanya seraya mata memandang langit, serta tangan kanan meninju-ninju telapak tangan kirinya.
Setelah empat orang itu melongo dan menyadari keteledorannya, seorang berkata penuh harap. “Mau kami Anda bersikap tenang saja, sebab ini bukan suatu kesengajaan. Bukankah jasad itu bisa diambil dan dikapani lagi seperti semula?”
“Sangat pesimis, mengingat jasad ibuku telah rusak!”
Entah apa maksud lelaki bujang lapuk itu. Memang tiada yang tahu pasti. Pengusung yang empat orang ini pun bukan sepenuhnya percaya padanya. Mereka bergiat lebih dikarenakan pada upah yang dijanjikan.
“Sangat pesimis, mengingat jasad ibuku telah rusak!”
Entah apa maksud lelaki bujang lapuk itu. Memang tiada yang tahu pasti. Pengusung yang empat orang ini pun bukan sepenuhnya percaya padanya. Mereka bergiat lebih dikarenakan pada upah yang dijanjikan.
Menurut Warong –satu-satunya anak lelaki almarhumah-perempuan yang kurus tinggal tulang itu belum sepenuhnya mati. Ketidakberdayaannya itu hanyalah koma semata. Di mata Warsad tubuh ibunya subuh tadi masih hangat, di pergelangan tangannya masih ada denyut. Dengan mendekatkan telinganya ke hidung jasad, ia masih mendengar dengus nafas. Tapi kenapa orang-orang telah memvonis sebuah kematian?
Pagi hari dada Warong panas menyesak. Bergumpal rasa, antara cemas dan harap begitu dahsyat menyergap. Bukan kesal pada warga yang datang dan turut belasungkawa, namun ia lebih benci dan dendam pada yang membuat keputusan. Sumaring, kakak perempaun Warong satu-satunya, yang sok alim itulah biang keroknya. Dan menuding dirinya tak sayang orang tua, tak sayang pada ibunya. Sumaring, merasa lelah akan ketelatenan mengurus perempuan tua yang sering sakit-sakitan selama adiknya itu pergi melanglang. Warong memang sering pergi dengan alasannya ingin melanglang buana. Dalam hidupnya ia tak cukup puas dengan hanya membaca buanakata, apalagi sampai dibuat situs model yang ini. Ia ingin menyelami kehidupan ini sampai ke buanarasa.
Pagi hari dada Warong panas menyesak. Bergumpal rasa, antara cemas dan harap begitu dahsyat menyergap. Bukan kesal pada warga yang datang dan turut belasungkawa, namun ia lebih benci dan dendam pada yang membuat keputusan. Sumaring, kakak perempaun Warong satu-satunya, yang sok alim itulah biang keroknya. Dan menuding dirinya tak sayang orang tua, tak sayang pada ibunya. Sumaring, merasa lelah akan ketelatenan mengurus perempuan tua yang sering sakit-sakitan selama adiknya itu pergi melanglang. Warong memang sering pergi dengan alasannya ingin melanglang buana. Dalam hidupnya ia tak cukup puas dengan hanya membaca buanakata, apalagi sampai dibuat situs model yang ini. Ia ingin menyelami kehidupan ini sampai ke buanarasa.
“Wah, kamu selalu ngaco, Warong. pola pikirmu telah ngawur. Istigfar kamu!” kata Sumaring kesal. Perempuan yang telah menjanda 4 anak itu sudah tak mau lagi mendengar omongan adiknya yang seperti punya kelainan tersebut.
Yang tak dimengerti oleh Sumaring– Warong sering mengembara itu mencari matahari yang tak terlihat di siang hari, mencari bulan yang tak pernah muncul di malam hari. Mencari bintang yang tak tampak berkedip, mencari mata yang buta saat belala. Mencari dirinya yang hilang ditelan kabut misteri. Begitulah Warong setiap hendak pergi kerap berujar di depan ibu dan Sumaring.
Dan dengan sering pergiannya Warong yang tak jelas tujuannya itu membuat Rukni –ibunya, sering sakit-sakitan. Ibunya mengharap kepergian anak lelaki satu-satunya itu benar-benar mencari cinta atau iwanita seperti pada umumnya untuk dijadikan istri sekaligus mantunya. Namun entah yang kesekian kalinya setiap anak lelaki itu datang, sang ibu selalu mengurut dada. Kenapa anaknya itu kerap pulang melenggang dengan tetap melajang?
Dan dengan sering pergiannya Warong yang tak jelas tujuannya itu membuat Rukni –ibunya, sering sakit-sakitan. Ibunya mengharap kepergian anak lelaki satu-satunya itu benar-benar mencari cinta atau iwanita seperti pada umumnya untuk dijadikan istri sekaligus mantunya. Namun entah yang kesekian kalinya setiap anak lelaki itu datang, sang ibu selalu mengurut dada. Kenapa anaknya itu kerap pulang melenggang dengan tetap melajang?
Kendatipun kedatangannya langsung bersimpuh, rasa kecewa ibunya tak terobati. Bahkan di hari berikutnya, perempuan yang sudah kurus-kering, tinggal kulit yang membungkus tulang itu, langsung merebahkan tubuhnya di dipan. Warsad tak cemas melihatnya, dalam batinnya, perubahan ibunya yang mendadak itu adalah sebuah bentuk dari kepuasan akan kepulangan dirinya.
Semenatara Sumaring, telah membaca gelagat bahwa perempuan ringkih itu sudah mendekati maut. Maka, nyaris tak luput setiap saat kerap menungguinya. Sedang Warong seperti mati rasa, ia lebih banyak berada di luar rumah memandang langit. Satu, dua orang temannya -yang sudah berkeluarga, seakan setia menemaninya ngobrol. Warong seakan lihai dalam mengurai kata, sehingga apa-apa yang diucapkannya itu seperti kebenaran. Dua orang temannya itu mengakui Warong itu sebagai punya daya linuwih.
Maka ketika berita kematian terdengar di pengeras suara mereka tak percaya. Apalagi setelah Warong memeriksa keadaan tubuh ibunya, bukan sedih yang dibuat, melainkan tersenyum.
“Jangan tunjukkan kebodohanmu, Rong,” kata Sumaring tatkala adiknya berpendapat lain.
“Janganlah kau usik lagi Sang Ibu, biarlah dia menikmati peristirahatannya.,”
Warong tak berdaya untuk mengutarakan pembelaannya. Apalagi belum setengah jam, para warga sudah berdatangan.
Saat proses pemandian jenazah Warong tak bisa diam. Tampak terjadi bisik-bisik dengan kedua temannya itu. Di antara isi bisikkan itu, “Asal dengan kerja keras dan terampil uang sepuluh juta siap diberikan.” Dalam waktu singkat kesepakatan pun didapat. Dua teman itu segera mencari rekanan, hingga empat orang pengusung siap menyantap suap.
“Pengembaraanmu yang fana akan terus kujaga,” desis Warong, setelah sebelumnya ia pamit pada temannya untuk pergi menunggu di suatu tempat. Dalam teropong kacamata batinnya, ruh perempuan itu tengah mengembara ke dunia lain atau bisa disebut mati suri. Setidaknya tiga hari ke depan ruh itu akan kembali ke raga. Apa pun resikonya, jasad ini harus benar-benar dijaga, terutama jangan sampai terluka, begitu batin Warong.
Namun apakah yang terjadi? Jangankan dapat terjaga dari suatu luka, di dekatnya pun kini jasad itu sudah tiada[]
Maka ketika berita kematian terdengar di pengeras suara mereka tak percaya. Apalagi setelah Warong memeriksa keadaan tubuh ibunya, bukan sedih yang dibuat, melainkan tersenyum.
“Jangan tunjukkan kebodohanmu, Rong,” kata Sumaring tatkala adiknya berpendapat lain.
“Janganlah kau usik lagi Sang Ibu, biarlah dia menikmati peristirahatannya.,”
Warong tak berdaya untuk mengutarakan pembelaannya. Apalagi belum setengah jam, para warga sudah berdatangan.
Saat proses pemandian jenazah Warong tak bisa diam. Tampak terjadi bisik-bisik dengan kedua temannya itu. Di antara isi bisikkan itu, “Asal dengan kerja keras dan terampil uang sepuluh juta siap diberikan.” Dalam waktu singkat kesepakatan pun didapat. Dua teman itu segera mencari rekanan, hingga empat orang pengusung siap menyantap suap.
“Pengembaraanmu yang fana akan terus kujaga,” desis Warong, setelah sebelumnya ia pamit pada temannya untuk pergi menunggu di suatu tempat. Dalam teropong kacamata batinnya, ruh perempuan itu tengah mengembara ke dunia lain atau bisa disebut mati suri. Setidaknya tiga hari ke depan ruh itu akan kembali ke raga. Apa pun resikonya, jasad ini harus benar-benar dijaga, terutama jangan sampai terluka, begitu batin Warong.
Namun apakah yang terjadi? Jangankan dapat terjaga dari suatu luka, di dekatnya pun kini jasad itu sudah tiada[]
(Merupakan cerpen revisi dari judul yang sama, karya Otang K.Baddy yang beberapa waktu lalu pernah dimuat di Kabar Priangan)