Cerpen: Redovan Jamil
Ketika makan malam keluarga kecil itu. Tiba-tiba semua mata tertuju pada Kinata. Komat kamit mulutnya mengunyah nasi serta lauk, lalu sambil menundukkan kepala ia berucap, “Aku tidak ingin menikah. Batalkan saja pertunangan yang telah kita jalin bersama keluarga Duri!” Ibunya Kinata bingung atas apa yang dilontarkan anaknya. Hanya tinggal hitungan hari pesta itu akan segera diselenggarakan.
Kelopak mata jingga Kinata kini telah berat dengan bongkahan air yang ingin buncah. Setitik. Dua titik. Kemudian pecah dan mengalir deras membanjiri pipinya.
“Bapak dan ibu tidak bisa jadi panutan untukku. Keluarga ini tidak pernah akur. Siapa yang akan aku contoh? Apa untungnya sebuah pernikahan? Dan apa juga hukumnya menikah bagi seorang laki-laki?”, gerutu Kinata dalam hatinya yang penuh pergolakan.
Peperangan hebat terjadi pada dirinya. Masa lalu atau masa depan. Beberapa bulan setelah kejadian itu, terdengar kabar Kinata tertawa-tertawa sendiri sepanjang jalan di kotanya.
***
Mimpiku telah sirna,
Bersama petang tenggelam,
Kekosongan akan abadi,
Dalam gelap-gelap malam.
Lembabnya sisa air hujan semalam membasahi dedaunan di sepanjang perjalanan menuju rumahnya Kinata. Kiri-kanan rumahnya ditumbuhi oleh pepohonan yang sengaja ditanam untuk menyejukkan kota. Program penanaman itu bertujuan untuk pengendalian ekosistem yang sudah mulai tidak stabil. Masyarakat yang tidak tahu benar akan hal itu menyetujui saja. Maka tumbuh suburlah beberapa pohon pelindung di sepanjang jalan di kota itu.
Terlihat Kinata tengah termenung sembari duduk di beranda rumah. Sarjana muda itu belum mendapatkan pekerjaan. Usai perayaan wisuda yang sudah beberapa bulan lalu, ia habiskan hari-harinya membantu orang tuanya bertani. Paginya ikut ibunya ke kebun untuk menyadap karet. Dan siangnya ia bekerja di sawah.
Sekarang adalah musim panen. Padi-padi telah menguning. Hamparan keindahan persawahan itu tersaji indah di depan mata. Bertumpak-tumpak sawah milik petani sudah siap untuk di panen. Terlihat Kinata tengah menyusuri pematang sawah sembari mengamati padinya siang itu. Wajah tersenyum dan hatinya berkata, “Sawah adalah taman kanak-kanakku, sebelum kehadiran lelaki asing itu. Apakah waktu bersedia berbalik haluan?”
Semua masa kecilnya itu sempurna hadir. Tidak sanggup ia menepis kenangan yang membuatnya rindu akan kedamaian itu. Di mana ia berlari sebisanya di dalam lumpur sawah. Memancing belut. Mengamati senyum ayah kandungnya yang penuh takjub pada kelihaiannya membuat pematang sawah.
“Anak bujangku yang pintar dan tangguh. Jagoan bapak yang nomor satu”, ucapan ayah kandungnya sambil mengacungkan jempul ke udara. Kinata tersenyum penuh dengan rasa bangga. Anak kecil yang haus prestasi dan pujian dari orang yang dicintainya.
Kini Kinata telah beranjak dewasa. Orang asing selalu hadir di dalam keluarganya. Merenggut semua kebahagian yang dulu ada. Kinata sudah memvonis dalam dirinya bahwa lelaki itu adalah orang asing baginya. Selalu asing. Sampai detik ini.
“Kenapa IP kamu dari semester ke semester selalu menurun? Semester sebelumnya satu mata kuliah yang tidak tuntas. Untuk sekarang bertambah menjadi dua”, ibunya Kinata kesal sembari membaca lembaran nilai semesternya. Kinata hanya menundukkan kepala. Jika ibunya memarahi atas penurunan prestasinya, ia selalu mencoba tidak melawan. Walau di dalam hatinya banyak pernyataan-pernyataan pembelaan yang ingin ia lontarkan. Tentang keluh kesah yang menganjal di dalam dadanya. Tetapi kali ini ia hanya sanggup menahannya. Mencoba untuk terlihat biasa-biasa saja.
Tubuh Kinata terasa lemah dan tidak berdaya. Ia tidak ingin mengerjakan apa-apa. Kinata mengurung dirinya di kamar. Terdengar ibunya memanggil dan menyuruhnya ke kebun. Ia pura-pura tidak mendengarnya.
“Sarjana macam apa anakmu itu? Kerjanya hanya bermalasan saja. Disuruh kerja tidak mau. Lebih baik pergi saja dia dari rumah ini!”, terdengar sayup-sayup perbicangan lelaki asing itu dengan ibunya Kinata. Ibunya hanya diam. Tidak memihak siapapun. Lelaki asing itu terus memaki-maki Kinata. Menghujat semua kesalahan Kinata. Kinata hanya diam di dalam kamarnya.
‘Aku adalah orang asing, semenjak kedatangan lelaki asing itu di ramah ini. Aku adalah orang baru di rumah sendiri.’ Air bening telah mengalir di pipinya. Ia rindu akan ayah kandungnya. Orang yang menjadi jagoannya sekaligus teman bermain baginya. Orang asing itu tidak akan pernah sanggup menggantikan posisi ayah kandungnya. Sampai kapanpun.
***
“Apakah benar apa yang dibicarakan tetangga akhir-akhir ini Suharti. Tolong berikan penjelasan kepadaku?”, ayah kandung Kinata ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Kalau benar kenapa? Jika tidak bagaimana?”, ibu menyergah ayah kandungnya Kinata.
“Berikanlah penjelasan yang pasti, Suharti! Saya tidak suka berbelit-belit.” Ayah Kinata mencoba mengendalikan emosinya. “Iya. Memang benar apa yang dilihat dan dibicarakan tetangga kita”, ibunya Kinata berucap tanpa ada penyesalan pada raut wajahnya.
Ayah Kinata hanya sanggup menggeleng-gelengkan kepala. Ia tidak menyangka setega itu istrinya menghianati pernikahan mereka yang tidaklah seumuran jagung. Beraninya ibu Kinata membawa lelaki asing ke rumahnya. Ayah Kinata pergi beberapa hari dari rumah hanya untuk menjali tugas dinas dari sekolah. Selama itu wanita yang dari dulu ia cintai dan ia banggakan tega berselingkuh. Mengakui semua kejadian itu tanpa rasa bersalah sedikitpun. Ayahnya Kinata sungguh kecewa. Hatinya tidak sanggup menerima kenyataan yang berdiri tegak di hadapannya.
Malam itu Kinata tidak ada di rumah. Ia tidak tahu pertengakaran hebat yang terjadi antara ibunya dengan ayah kandungnya.
“Ayah mana, Bu?”, dengan polosnya Kinata bertanya pada ibunya.
“Ayahmu sudah pergi semenjak tadi malam”, jawab ibunya datar. Mencoba untuk mengalihkan percakapan.
“Ayah dinas lagi, Bu?”, lanjut Kinata dengan penuh tanda tanya. Ia sudah menunggu kepulangan ayahnya beberapa hari ini.
“Ayahmu pergi selamanya. Mungkin tidak akan pulang lagi”.
Wajah Kinata merah padam.
Setelah ibunya mejelaskan semuanya. Semenjak itu Kinata benci dengan ibunya. Kinata sangat merasa kehilangan. Ia selalu menunggu ayahnya untuk kembali ke rumahnya. Tapi ayahnya tidak kunjung pulang. Hari-hari Kinata dipenuhi kesedihan dan kerinduan terhadap ayahnya.
***
Waktu makan malam, ibunya meminta waktu untuk membicarakan hal serius. Kinata hanya memasang wajah datar. Apapun yang ingin dibicarakan ibunya, baginya tidak penting. Kinata tidak begitu peduli lagi dengan ibunya, apalagi tentang masa depannya. Kini Kinata tidak memiliki semangat hidup. Rasanya ia ingin mencari ayahnya. Tapi ia tidak tahu ke mana ayahnya pergi. Sampai saat ini Kinata tidak pernah lagi mendapat kabar dari ayahnya.
“Ibu ingin menikah lagi. Ibu harap kamu menyetujui rencana ini!” Beberapa kata yang disusun menjadi sebuah kalimat yang menghujam jantung Kinata. Kalimat yang dilontarkan ibunya bukanlah sebuah pertanyaan, tetapi adalah sebuah pernyataan. Pernyataan yang tanpa ada kata penolakan yang keluar dari mulut Kinata.
Kinata memandang wajah ibunya lamat-lamat untuk beberapa detik. Kinata dapat menafsirkan bahwa apa yang diucapkan ibunya adalah sesuatu yang sungguhan. Kinata meletakkan sendok makannya dengan sembarangan dan meninggalkan bunyi yang keras. Berjalan dengan terburu-buru ke kamarnya. Baginya kalimat yang disampaikan ibunya adalah sebuah kewajiban untuk sepakati.
Perasaan Kinata tidak karuan. Otaknya dipenuhi rasa benci terhadap ibunya. Setega itu ibunya menikah dengan orang lain dan menggantikan posisi ayahnya. Kinata mengurung diri di kamar dan tidak keluar-keluar.
***
“Siapa yang kamu bonceng kemarin siang? Ada tetangga yang bilang”, ibunya Kinata melontarkan pertanyaan kepada lelaki asing itu.
“Ooo…perempuan itu. Dia adalah teman lamaku, kebetulan bertemu tadi di pasar. Jadi aku mengantarnya pulang,” jawab lelaki asing itu seadanya sembarai memainkan cigaret.
“Sudah sering tetangga melihatmu bersama perempuan itu. Sekarang jujur saja”.
“Siapapun perempuan itu, memang bagaiman?”, dengan suara tinggi lelaki asing itu membentak ibunya Kinata.
“Apakah dia selingkuhanmu?”
“Kalau benar kenapa? Jika tidak bagaimana?”. Persis dengan kalimat yang pernah dilontar ibu Kinata kepada ayah kandungnya. Air mata ibunya Kinata telah buncah dan menghujani pipinya. Semua telah terjadi. Kekecewaan telah terbalas kekecewaan. Tidak ada yang harus disalahkan, selain diri sendiri.[]
Biodata

Redovan Jamil, lahir Padang Benai pada 24 tahun yang lalu. Profesi karyawan Yayasan Dompet Dhuafa sebagai Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia yang bertugas di Kepulauan Meranti, Riau. Ingin menebarkan virus cinta literasi kepada anak-anak marginal/ujung negeri. Berbagi apa punya, menuai apa yang disemai. Antologi puisinya juga pernah tergabung dalam Puisi Penyair Nusantara 6,5 Luka Pidie Jaya: 2016, Sajak Hujanku: 2016, dan Antologi Sajak-sajak Anak Negeri: Sajak Angin: 2017. Karya dan tulisannya juga pernah dimuat di media lokal dan nasional seperti Riau Post, Haluan Singgalang dan Rakyat Sumbar serta media online lainnya. Alamat Yayasan Fitrah Madani Meranti, jln. Siak no.70A Selatpanjang, pos 28753. Bisa dihubungi ke nomor 085265781291/ WA, email redovanjamil1993@gmail.com, dan Facebook atas nama Redovan Jamil