Cerpen : Nanda Dyani Amilla
Membaca kisahmu berkali-kali, sungguh berhasil membawaku menekuri perjalanan masa SMA yang sejujurnya ingin kulupakan. Pada wajahmu, aku seolah membaca sebuah kepahitan yang telah lama kuhapus dari ingatan. Sebab pada wajah itu, tepatnya di matamu, aku pernah menitipkan cinta yang terbungkus dalam iba. Rasaku menempel pada sosokmu selama seribu sembilan puluh lima hari. Atau bahkan lebih? Entahlah, aku sendiri tidak mau lagi menghitungnya saat ini.
Aku pun tak begitu paham, mengapa dulu aku begitu menggilaimu. Padahal saat itu usiaku baru lima belas tahun, saat untuk pertama kalinya aku memakai seragam putih abu-abu. Dan saat pertama kalinya mata kita bertemu. Aku jatuh cinta pada tatapan teduhmu. Jatuh cinta pada suara lembut yang menyentuh gendang telingaku. Juga pada sikap tenangmu kala itu. Semua hal yang tak kutemui pada diri teman-teman kelas yang lain.
Singkatnya, aku menimbun rasa sejak pertama kali kita berkenalan. Apalah yang bisa aku lakukan sebagai seorang gadis pendiam yang tak punya nyali untuk mengatakan segalanya. Aku memperhatikanmu dari balik kacamataku. Memenuhi buku tulisku dengan deskripsi manis tentangmu. Atau membuat sajak-sajak romantis atas namamu. Layaknya gadis remaja yang sedang jatuh cinta, aku suka tersenyum dan menangis sendirian.
Dan kamu…
Kamu masih tetap acuh dengan perasaan gadis dingin sepertiku. Bukan, bukan karena kamu tidak tahu. Bukan pula karena kamu tidak merasakan semua sinyal yang pernah kulemparkan padamu. Hanya saja, ada hati yang sedang kamu jaga saat itu. Dan dia adalah gadis beruntung yang mendapatkan hatimu. Dia adalah gadis cantik yang telah membersamaimu jauh sebelum kita bertemu. Pantaslah, matamu tidak lagi memandang ke arah lain. Bahkan untuk sekadar menyadari ada gadis kecil dengan perasaan besarnya di sini.
Setiap hari, telingaku dijejali dengan beragam kisah cintamu. Tentu saja bukan denganku, tapi dengan gadis beruntung itu. Mereka bilang, kalian adalah pasangan sempurna. Meski aku suka mencibir dalam hati, “Masih kecil sudah pacar-pacaran.” Untuk setelahnya aku malu sendiri, bahwa sampai saat itu aku pun masih berharap menjadi kekasihmu. Tapi biarlah, setidaknya itu adalah bentuk protesku atas cerita yang mampir ke telingaku. Jika boleh jujur, aku benci mendengar kisah tentangmu dengan gadis itu. Meski hanya sebatas menyebutkan namanya.
Saat menuliskan ini, aku seperti terseret ke masa-masa dimana aku tidak ingin melupakanmu. Meski pada kenyataannya, saat ini aku sudah berhasil melupakan perasaan itu. Anehnya, mengapa Tuhan sekarang malah mempertemukan kita? Tiga tahun aku menunggu dan menyukaimu secara diam-diam. Bahkan mendengar helaan napasmu saja itu sudah cukup membuatku bahagia. Tiga tahun aku memimpikan bisa sedekat ini denganmu. Bisa bercerita dan menertawakan apa saja.
Tiga tahun setelahnya, kau menghilang. Aku menghilang. Cerita tentang kita menghilang. Kita? Bahkan kau dan aku tak pernah menjadi kita. Tapi biarlah, aku senang mengatakan itu. Aku senang membayangkan bahwa suatu hari kau dan aku menjadi kita. Itu pikirku dulu. Aku tidak tahu keberadaanmu setelah kita lulus SMA. Aku juga tidak tahu bagaimana keadaanmu dan apa yang tengah kau kerjakan di sana. Aku pun tidak lagi mencari tahu apa-apa tentang dirimu. Aku disibukkan dengan kegiatan baruku. Pergi ke kampus, belajar, dan bercanda dengan teman-teman.
Perlahan, aku bisa melupakanmu. Melupakan rasa yang setiap hari hanya membuat perih hati. Meski di awal-awal masuk kuliah, aku masih sering berharap kau menghubungiku. Tapi bagaimana mungkin? Jika ketika dulu saja, hubungan kita hanya sebatas teman biasa. Hanya aku yang punya perasaan berlebih terhadapmu. Kamu? Jangan tanya. Jawabannya pasti membuat sesak di dada.
Mungkin sesekali kau harus menjadi aku. Agar kau tahu bagaimana rasanya menunggu selama itu. Agar juga kau tahu bahwa menunggu tak sebercanda itu. Ya, aku tahu, aku tak berhak menuntut apa-apa darimu. Karena sejatinya perasaan bukan romusha yang bisa dipaksa-paksa. Aku paham dan mencoba menerima dengan situasi yang tercipta saat itu. Menerima kenyataan bahwa mencintai seorang diri ternyata semenyakitkan ini.
Hingga enam tahun lamanya, perasaanku terbuang sia-sia. Suatu pagi, tangan Tuhan bekerja. Entah bagaimana caranya, yang kurasa rencana-Nya sungguh indah. Dia menjawab doa-doa yang sempat tertunda. Dia menjawab segala harap yang dulu sempat menguap. Dia memberikan kesempatan untuk kita kembali saling menatap. Kau tahu, apa hal pertama yang kurasa saat mendengar kabar bahwa kita akan berjumpa? Patah hati.
Aku merasa tidak ingin bertemu denganmu lagi. Tapi bagaimana caranya aku menolak ajakan teman-teman yang seakan berkonspirasi mengajakmu untuk bertemu denganku? Dan aku rasa, aku akan terlihat kekanak-kanakan jika aku membawa-bawa perasaan enam tahun lalu untuk perjumpaan kita kali ini. Itulah sebab aku mencoba menyambutmu dengan senang hati. Menjabat tanganmu untuk kedua kalinya. Jabatan tangan pertama kita, saat aku mengucapkan selamat ulang tahun padamu ketika masa SMA dulu. Mengucapkan hai-hallo sebagai tanda selamat bertemu kembali.
Aku melihat kau tidak jauh berbeda seperti dulu. Bedanya hanya wajah teduh itu tampak sedikit lebih mendewasa. Selebihnya, kamu sama. Masih hangat dan senang bercanda. Masih lembut dan suka tertawa. Sesekali aku mendapati retinamu menatapku. Entahlah, aku berusaha menepis semua prasangkaku tentang kamu. Tidak mungkin saat ini aku terhanyut dalam perasaan enam tahun lalu yang tidak tahu malu itu.
Sekarang aku sudah punya kekasih. Aku sudah mengubur dalam-dalam masa SMA kita. Keadaan sudah berubah. Usia hubunganku dengannya juga sudah beranjak menduduki angka dua. Meski belum genap sepenuhnya. Aku mencoba menatapmu dengan tatapan persahabatan. Teman-teman masih suka meledek soal kedekatan kita dahulu. Padahal aku yakin sekali, lebih tepatnya mereka meledek soal perasaanku yang tidak pernah berbalas itu.
Hingga pertemuan kita berakhir, kau berhasil meruntuhkan pertahananku untuk tidak bersikap biasa saja denganmu. Aku mulai rindu bercerita banyak denganmu. Membicarakan apa saja, tentang hal-hal yang kita lewati selama itu. Tentang aku dan kesibukanmu.
Hingga akhirnya dari mulutmu sendiri aku tahu, bahwa kau tidak lagi bersama gadis itu. Ah, gadis cantik yang malang. Jika sekarang kau sia-siakan “pangeranku” ,mengapa dulu kau sombong sekali menghalangiku untuk mendapatkannya?
Lupakan! Itu hanya pikiran burukku saja. Aku tidak sepenuhnya bisa menjadi orang baik. Terkadang aku dengan sosok lain muncul untuk memenangkan egoisku. Bukankah itu hal yang wajar untuk setiap manusia? Aku rasa jawabannya adalah ya.
Tapi aku tidak begitu bahagia mendengar kabar itu. Aku hanya merasa bahagia, akhirnya aku bisa sedekat ini denganmu lagi. Masa-masa yang begitu aku impikan sejak enam tahun lalu. Sejak awal aku mengenalmu. Kita menjadi sangat akrab. Kita pergi nonton film, menikmati milk shake, dan juga menghabiskan malam dengan tawa. Tidak berdua, tapi itu cukup menukar luka-luka lama yang ada.
Sepulang mengantarku ke rumah, aku mendapati sebuah pesan singkat masuk ke layar handphone-ku. Tertera namamu. Dan isinya cukup membuat rasa penasaranku terbayar. Mengenai sikapmu dua hari ini yang kurasa tidak biasa. Kalimat singkat tanpa emoticon itu menelusup masuk dalam otakku. Gila! Selarut itu kau menyuruhku untuk berpikir keras. Kalimat aku sayang kamu yang kau kirimkan padaku, sukses membuat aku membacanya berulang kali. Kupikir ini hanya candaan. Atau kau yang terbawa suasana usai menonton film malam itu. Tapi ternyata tidak, Kau mengatakan hal yang selama ini aku tunggu. Kau menyayangiku.
Kau seperti hujan. Dan aku adalah gadis yang menyukai hujan. Hanya saja, di antaranya ada payung yang kini tengah melindungiku. Menjagaku agar tetap terlindung dari hujan. Menjagaku agar hujan tak membuat aku sakit. Menjagaku agar hujan tak menyentuh kulitku walau sedikit. Payung itu adalah kekasihku. Kau tahu, gadis penyuka hujan itu sudah lama mencintai payung. Gadis itu telah lama menggunakan payung untuk berlindung dari balik hujan. Tapi bukan berarti dia akan selamanya mengenakan payung. Dan bukan selamanya pula dia akan menyukai hujan. Segalanya bisa berubah. Semua kisah sudah ditulis indah oleh tangan Yang Maha Kuasa. Si penulis hebat yang tiada tandingannya.
Sekarang, mari jalani hari-hari kita dengan rasa bahagia. Percaya saja, bahwa semua kehendak-Nya adalah indah. Menunggu selama enam tahun tidak mudah, tapi lihatlah… Tuhan menukarnya dengan pertemuan yang tak kalah luar biasa. Aku hanya ingin kau belajar meresapi segala kejadian lama kita. Bumi ini berputar, tapi Tuhan selalu menyelipkan bahagia meskipun kita sedang terluka.
Dengarlah…
Dengan ataupun tanpaku kelak, aku ingin melihat kau bahagia dan baik-baik saja. Tanpa luka. Tanpa duka[]
Teruntuk pria,
yang sering memanggilku Milla
teruslah berbahagia
