Cerpen Otang K.Baddy
Siang dan malam, tak henti-henti, bahkan hingga nyaris satu minggu ini, lelaki itu terus menangis.
Tangisnya tersedu seperti anak tak diberi jajan. Melolong seperti anjing hutan pemandu siluman. Melenguh seperti kerbau lapar. Kadang pula berteriak histeris seperti ketakutan.
Anak-isteri, sanak saudara, para kerabat, tak habis pikir kenapa lelaki itu terus menangis? Beberapa dokter dan ahli nujum, pun kewalahan dan geleng kepala. Untuk yang satu ini mereka benar-benar angkat tangan, sekedar menunjukkan ketidakbecusan atas kinerja yang dipercayakannya selama ini. Lelaki berusia hampir 60 tahun itu tetap saja menangis.
“Wiiw…wiwi wiiiww….!
Wualaw…., wawawaw….wowowow….!
Aouuuwwww……!”
Demikianlah ia kerap menjadi perhatian, terlebih bagi orang yang kebetulan lewat depan rumahnya.
Dibilang sakit keras sepertinya tidak karena setiap ditanya ia selalu menggeleng. Bahkan, karena penasaran, anak-istrinya secara rahasia mencoba menelanjangi lelaki itu di ruang tertutup, siapa tahu ada luka menganga atau semacam bisul yang ganas. Namun hasilnya nihil. Tak ada luka atau pun bisul ditemukan di sana. Selain kariput sedikit faktor usia, kulit lelaki itu masih tetap mulus.
Tapi lelaki itu tak henti-hentinya menangis. Kadang tersedu seperti anak tak diberi jajan. Terisak-isak seakan merana yang dalam. Melenguh seperti kerbau lapar. Melolong seperti anjing hutan pemandu siluman. Kadang pula berteriak histeris dan menjerit-jerit seperti sakit tersiksa dan ketakutan. Tak pelak dan kadang bikin merinding tatkala suara tangis lelaki itu seperti tangisnya perempuan. Bahkan ada yang meringkiknya seperti suara kuntilanak dalam film horor.
Jika di siang tak terlalu jadi soal, mungkin suara nyaring tangis itu terhambat cuaca panas atau bising kendaraan. Yang menjadi risih jika tangis itu didengar tengah malam. Cuaca yang dingin itu telah mengantarkan suara tangis itu ke volume yang lebih nyaring dan melengking. Karenanya tak sedikit yang merasa terganggu oleh tangis itu. terutama para tetangga dekat, di pagi hari banyak yang lemas karena tak bisa tidur semalam.
Namun mereka masih bisa menguasai diri hingga tak terjadi antipati. Bahkan rasa simpati kerap hadir di benak-benak mereka yang mendengarnya. Semua berpikir mencari solusi, dan menduga-duga, mungkin penyebab tangis yang tak berkesudahan itu disebabkan dari sakit hati yang teramat dalam.
Pak Ketua RT yang merasa bertanggungjawab serta cemas merasa kewalahan. Pasalnya setiap kali ia menjenguk tangis lelaki itu semakin menjadi-jadi. Bahkan tangisnya terbilang aneh dan luar biasa. Yang biasanya seputar tersedu, terisak, sedikit melolong dan melenguh, ini malah menggeram seperti haraimau.
Karenanya sang ketua RT tersebut segera meghubungi Pak Kadus untuk mencari solusi terbaik. Setelah bermbuk singkat mereka berdua segera mengumpulkan warga kampung di dekat rumah yang bersangkutan. Satu persatu, lelaki atau perempuan dewasa dipanggil dan dipertemukan dengan lelaki penangis itu. Siapa tahu dari sejumlah itu ada di antara warga yang mengeluarkan perkataan kotor yang menyakitkan. Atau tak mustahil kalau-kalau di antara mereka ada yang terlibat konflik yang bisa mengakibatkan lelaki itu merana. Sayang, di antara warga yang tak kurang dari 500 orang itu tak satu pun yang punya masalah dengan lelaki itu.
Lalu kembali ke masalah internal. Yang ini lebih memungkinkan karena dari sekian waktu lebih banyak dihabiskan bersamanya. Pertama sang istri, suatu anggota keluarga yang paling dekat dengan penangis. Dari mulai pelayanan siang atau pun malam. Misal dari cara penyajian masakan, kalau-kalau ada yang kurang garam atau pun kepedasan, hingga ke masalah hubungan intim suami-istri. Semua dijawab dengan lancar, tak hambatan yang cukup berarti. Kemudian dipanggil kedua anaknya yang masih abg, siapa tahu di antara mereka terlibat perang mulut minta dibelikan laptop, handpone atau motor baru. Yang ini pun tetap lolos, tak ditemukan kenakalan di keduanya.
Lalu apakah penyebab lelaki itu hingga terus saja menangis?
Tangis itu seperti kesedihan karena ia kerap tersedu. Merengek seperti anak tak diberi jajan. Mencekam karena melolong seperti anjing hutan pemandu siluman. Mungkin rasa takut dan kesakitan karena sering berteriak keras dan menjerit-jerit.
“Ya Allah, Yang punya sifat Rahmaan-Rahiim, kasihanilah lelaki itu. Jangan biarkan ia menangis terus-menerus,” seseorang memohon doa, seolah mewakili yang lainnya. Kendatipun begitu semuanya tak tinggal diam. Terus mencari informasi dan solusi untuk memecahkan masalah tersebut.
Penelusuran pun tak henti. Dari mulai pekerjaan atau keseharian lelaki itu. Dia itu bukan pegawai negeri atau pun pegawai swasta. Kehidupan sehari-harinya bertani, menggarap sawah, mencangkul, menanam ketela, menyabit rumput untuk pakan sapi. Sebagai manusia yang hidup di zaman modern, ia pun tak ketinggalan dengan yang namanya Hp, komputer, dan dunia online. Dalam arti lelaki itu tak ketinggalan info terkini.
Lantas, diperiksalah lumbung padi yang ia miliki, barangkali mengalami gagal panen? Tidak, beberapa karung gabah kering cukup tersedia untuk bekal sebelum panen berikutnya . Mungkin sapi peliharaannya ada masalah -misalnya beberapa kali gagal inseminasi? Juga tidak, malah sapi itu telah bunting delapan bulan.
Lalu, kenapa lelaki itu masih terus saja menangis?
Mungkin ada rasa bosan dengan makanan yang kerap tersaji di rumah. Maka istrinya diminta membuka ingatan tentang apa yang menjadi makanan favorit lelaki itu. O, beberapa bulan lalu ia sempat meminta dibelikan martabak telor dan pepes tawon. Karenanya dengan segera dicarikan penganan yang berbahan terigu campur telor, sebagai makanan favorit utama lelaki itu. Bahkan dipesan pada pembuatnya agar penganan itu dibuat lebih istimewa, selain empuk harus lebih manis dan gurih dari biasanya. Bukan masalah kendati harganya dua atau tiga kali lipat dari harga normal. Dengan terlonjak dirumus mantap, seorang anaknya memangku setumpuk tangkupan martabak dan langsung diberikan pada ayahnya yang tengah menangis tersedu. Namun rumus mantap itu ternyata tak berpihak, setumpuk martabak super manis, gurih dan empuk tetap ditolak.
Nah, selanjutnya gampang-gampang susah. Pepes tawon. Bagi yang suka, makanan untuk sarapan ini lebih enak daripada martabak. Benar-benar lezat dan mantap! Pasti tangis lelaki itu akan segera berakhir dan kecengengannya bakal kucar-kacir tercumbui rasa gurih dan wangi bawang. Makanya meski mahal melebihi harga setumpuk martabak, tak perlu ditawar lagi, langsung saja gobrak dibayar.
“Yang ini pasti tak akan gagal lagi, alias mantap!” begitu pikir anak-istrinya, sebelum kemudian menyerahkannya pada penangis itu. Tapi, lagi-lagi kandas tak dapat ditolak, pepes tawon itu tak mampu merubah sikap lelaki itu. Bahkan penolakkan yang ini lebih keras dan berdampak malu pada sepihak.
“Makanan model ini kata sebagian orang, haram!” katanya seraya melempar pepesan itu ke lantai. Karuan saja penganan telur jenis larpa itu berceceran di lantai.
Anak dan istrinya kehabisan akal. Mereka tak mau lagi mencari solusi. Bahkan menjadi tak sudi, dan membiarkan lelaki itu terus menangis.
Mungkin punya pacar gelap seperti lelaki lebay pada umumnya? Inisiatif ini datang dari Pak RT, dan lantas ia menelusurinya dengan sendiri. Ada firasat lain ketika ingat beberapa waktu lalu ia sempat terjatuh dari jendela kamar Mbok Romlah -janda beranak lima yang berusia 73 tahun itu. Malam itu Pak RT tersentak dan meloncati jendela tatkala di kolong rumah panggung janda itu terdengar suara batuk terhanan hingga terkentut-kentut. Ternyata yang bikin teror lucu di bawah kamar itu adalah dia, lelaki yang kelak diketahui sering menangis. Tak ada dendam kesumat antara keduanya saat itu selain saling pengertian dengan tutup mulut.
Dan lelaki yang menjabat ketua RT itu pun tak habir pikir, kenapa teman karibnya tak mau terus terang? Bukanlah ia pun merupakan sama-sama maling?
Sementara di lain hari orang-orang itu berdatangan, saat diketahui seorang janda tua telah mati membusuk dengan kepala terpisah bekas pembunuhan.(*) Bagaimana, mggak nyambung ya endingnya? Karena itu kirimkan cerpen Anda untuk ditampilkan di sini, kalau bisa ceritanya jangan yang ngelantur seperti cerpen saya ini..hehe.. ditunggu kirimannya..