[Cerpen] Wentira

Oleh: Pone Syam
“Acong…Acong…Aco­ng…” Teriak histeris Mak Dini ibunda Acong, sambil menangis meraung berusaha mengejar langkah Acong yang semakin menjauh. Mak Dini yang sudah tua tidak mampu menjejeri langkah Acong, bahkan lututnya malah bergetar, membuatnya terpaksa berhenti mengejar Acong dan jatuh tersungkur ke tanah.
“Acong…Acong…” Teriak Daeng Sialle berusaha untuk menghalangi langkah Acong.
“Acong.. Mau jadi anak durhaka kamu?” bentak Daeng Sialle sambil menarik pergelangan tangan Acong.
“Daeng Sialle, mau membiayai hidupku? Hidup mak Dini?” sergah Acong sambil menarik kasar pergelangan tangannya dan melanjutkan langkahnya.
Mak Dini terus saja meradang, menangisi putra tunggalnya yang semakin menjauh. Satu persatu warga datang untuk tenangkan Mak Dini.
“Kau terlalu serakah Acong,” teriak Daeng Sialle yang hanya dibalas lambaian tangan oleh Acong tanpa berbalik.
“Ratusan tahun sejak leluhur kita lahir, kita sudah hidup dari bertani, kau sendiri yang mau mengubah sejarah Acong…ukhu…ukhuk­,..” kerongkongan Daeng Sialle jadi kering sebab berteriak. Daeng Sialle jengkel dan berlari ke kerumunan warga.
Daeng Sialle berusaha untuk membopong Mak Dini ke rumahnya. Semua warga berbisik-bisik tentang keputusan Acong yang tega meninggalkan Mak Dini sebatang kara.
Tangis Mak Dini belum reda meski sudah sejam yang lalu dia sudah tiba di rumahnya. Daeng Sialle kakak sepupu Acong berusaha menenangkan Mak Dini namun Mak Dini terus saja menangis.
Wajah Mak Dini memerah, Daeng Sialle memeriksa kening Mak Dini dengan punggung tangannya, “Mak demam,” lirihnya. Harus ada cara untuk mengalihkan perhatian Mak Dini, pikir Daeng Sialle.
“Ada apa dengan Acong mak?” tanya Daeng Sialle.
“Acong ingin menikah dengan karaeng Bulan,” jawab Mak Dini lirih.
“Mimpinya kelewatan,” Desah Daeng Sialle.
“Dia tidak sadarkan diri, kita dari kasta rendah. sedangkan Karaeng Bulan keturunan bangsawan,” kata Mak Dini terisak, tangisnya kini sudah tidak terdengar lagi.
“Dia pikir dengan harta bisa membeli gelar bangsawan? Itu warisan leluhur, meski seluruh air di lautan dia gunakan untuk mencuci darahnya tetap saja dia keturunan rakyat jelata,” desis Daeng Sialle dengan penuh amarah.
“Lalu dia akan kemana mak?” tanya Daeng Sialle.
Mak Dini menghapus air matanya, bangkit dari tempatnya duduk kemudian menutup pintu dan juga jendelanya. Daeng Sialle menatap heran.
“Cerita ini tidak boleh keluar dari rumah ini,” kata Mak Dini memulai ceritanya. Daeng Sialle menatapnya penasaran.
“Aku tidak ingin ketika Acong kembali, ketika sadar langkahnya salah. Dia malah dikucilkan warga,” desah Mak Dini.
“Aku paham soal itu Mak,” ujar Daeng Sialle.
“Acong akan merantau,” desah mak Dini.
“Kemana mak?” tanya Daeng Sialle makin penasaran.
“Terlalu menggelikan, kau pasti tidak akan percaya,” Mak Dini semakin sedih.
“Andai saja dia merantau ke tempat yang benar, yang bisa dijangkau oleh nalar, Mak tidak akan pernah sedih, bahkan mendukung. Tetapi ini,” lanjut mak Dini sedih.
“Wentira,” desah Daeng Sialle dengan mata merah. Daeng Sialle bahkan meninju meja di depannya untuk bisa melepaskan sedikit beban amarah yang telah meluap.

**
“Stop,” teriak Acong menghentikan bus malam yang ditumpanginya. Semua mata penumpang dan sopir menatap Acong heran. Acong tidak peduli, dengan santainya Acong mengambil rangselnya yang diletakkan dibawah kursinya. Setelah membayar sewa bus, Acong melompat turun dari bus sambil tersenyum bahagia.
“Lanjut,” katanya sambil mengetuk badan bus. Bus tersebut melaju meninggalkan Acong yang berdiri dalam kegelapan.

Acong menyulutkan api, memberikan penerangan pada gelap yang mengelilinginya. Dengan bantuan Api dari pemantik, Acong bisa melihat keadaan di sekitarnya. Acong tersenyum manis saat melihat tugu berwarna kuning dengan tulisan “Ngawa Uwentira” yang berarti kampung tak kasat mata.
“Itu dia,” ucap Acong sambil melangkah mendekati tugu tersebut. Dia duduk bersandar di tugu.
“Menurut cerita, di tugu ini ada jembatan peninggalan belanda, jika itu bisa dilihat maka itu pertanda bahwa gerbang wentira terbuka, kalau begitu aku istirahat dulu,” kata Acong.
Baru saja Acong memejamkan mata, tiba-tiba cahaya kuning keemasan menyinari mukanya hingga membuatnya terbangun. namun dengan mata menyipit agar ia bisa beradaptasi. Cahaya itu begitu menyilaukan hingga Acong malah tidak bisa melihat apa pun.
Cahaya tersebut sedikit demi sedikit meredup hingga akhirnya cahaya itu tersisa hanya berbentuk bayangan yang melangkah mendekati Acong, sedikit demi sedikit mengecil hingga padam dan menyisakan seorang gadis cantik jelita.
“Ciri-ciri manusia Wentira, jika tidak ada garis tengah diatas bibir dan di bawah hidung. Nach gadis ini orangnya,” desah Acong.
“Apa yang kau cari ditempat ini?” kata gadis itu sambil berlutut di depan Acong. Gadis tersebut menyusun tiga buah piring yang berisikan nasi putih, kuning dan hitam.
“Aku ingin ke wentira,” jawab Acong mantap.
“Untuk apa?” tanya gadis itu kemudian duduk dengan menekuk kedua lututnya berhadapan dengan Acong.
“Untuk mengadakan perjanjian dengan ratu wentira,” ucap Acong lantang penuh percaya diri. Gadis itu hanya tersenyum, menutup mulutnya menahan tawa sambil menggelengkan kepalanya.
“Perjanjian apa?” tanya gadis itu penasaran.
“Hm…hmhmm” Acong berdehem, menarik jangkungnya kemudian memperbaiki duduknya dengan duduk bersila menegakkan badan.
“Pertama, saya bersedia menikahi ratu Wentira dengan syarat, dia menjamin kehidupan mak Dini dan Daemg Sibali di kampungku,” Kata Acong mantap.
“Perjanjian selanjutnya?” tanya gadis itu.
“Kirimkan bidadari secantik kamu untuk menjaga Mak Dini dan merangkap menjadi istri Daeng Sialle agar Daeng Sialle tidak dipandang sebelah mata,” katanya dengan suara sedih.
“Apalagi?” tanya gadis cantik itu.
“Cukup itu saja,” kata Acong lemas.
“Kau yakin?”
“Tentu.”
“Bagaimana jika ratu Wentira menolakmu?” pertanyaan gadis cantik itu membuat Acong terbelalak.
“Bagaimana bisa?” tanya Acong sewot.
“Aku ini manusia, bukankah kalian bermimpi ingin bersuamikan manusia?” tanya Acong dengan dahi berkerut.
“Itu betul,”
“Lagi pula, aku ini tampan,” jawab Acong sombong.
“Di Wentira banyak yang lebih tampan darimu,” jawab Gadis cantik, membuat Acong berkerut.
“Ini hanya kemungkinan,” lanjut gadis itu, “Aku tidak ingin kau menyesal,”
“Kalaupun ratu Wentira menolak, aku bersedia jadi budak,” jawab Acong lemas.
“Kenapa?”
“Demi kehidupan layak untuk Mak Dini, sejak lahir Mak Dini tidak pernah bahagia,” tuturnya sedih.
“Kau kan bisa bekerja keras di dunia nyata,”
“Gengsi dong, cakep-cakep petani,”
“Baiklah, kau tahu kan resikonya? Silahkan menyantap separuhnya, sisanya kau akan lihat di wentira,”
“Tentu saja aku tahu segalanya tentang wentira,” kata Acong mulai menyuap nasi kuning ke mulutnya.
“Kau tahu arti nasi yang kau makan?”
“Aku tahu segalanya,” jawab Acong dengan mulut penuh nasi.
“Nasi putih, itu berarti kembali ke dunia nyata,” Lanjut Acong,”Nasi kuning, untuk tinggal selamanya di wentira dan nasi hitam berarti kematian.”
“Baiklah, selamat datang di Wentira, Atlantis yang hilang,” teriak gadis itu lalu berdiri berputar hingga menghasilkan warna kuning keemasan yang perlahan menyinari dunia. Tampak hutan kopi berubah menjadi negara yang makmur dengan kehidupan modern, gedung mewah dan mobil canggih. Acong sangat takjub.
“Hohohohohoho…” tiba-tiba kerongkongan Acong terasa sakit, nasi sisa di piring yang dipegangnya berwarna hitam.
“Itulah akibatnya berbohong, penglihatanmupun membohongimu,” kata gadis cantik itu.
“Aku bohong apa?”
“Kau ke sini untuk melupakan kehidupanmu di masa lalu dan ingin hidup bahagia dengan ratu wentira yang mirip dengan karaeng bulan kekasihmu, iyakan?” bentak gadis cantik itu. Acong sudah tidak bisa menjawab apapun sebab kini sudah terkulai lemas dengan mulut berbusa hitam[*]

Baca: Cerpen karya  Pone Syam lainnya

 

 

Rahmayunawati Syam atau Rahma Yunani  lebih populernya Pone Syam, seorang penulis yang lahir dan tinggal di Kota Makasar

Tinggalkan komentar