Arsip Kategori: Cerpen

Aku (bukan) Monster

Oleh : Devian Amilla

“Maaf, bu. Tidak boleh ada monster di tempat ini.” Kata pemilik yayasan tersebut kepada Ibu. Pemilik yayasan tersebut menoleh ke arahku dengan tatapan ngeri. Ibu tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Sambil berlalu kudengar Ibu seperti berbisik kepada dirinya sendiri, “Anakku bukan monster.” Kuikuti langkah kaki Ibu yang semakin cepat. Kutarik ujung bajunya untuk menyuruhnya berhenti. Ibu menoleh kearahku sambil memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Ia berusaha menutupi rasa marahnya.

“Ada apa, sayang? Fahri capek, ya? Kita cari satu sekolah lagi sebelum pulang, ya.”

Aku menggelengkan kepala. Ini sudah berjalan seminggu, tapi tak satupun sekolah mau menerimaku sebagai muridnya. Ibu bersikeras menyekolahkanku di sekolah umum, ia tak mau aku dianggap berbeda. Apalagi dianggap sebagai ‘monster’.

“Fahri mau pulang, Bu.” dengan terbata-bata kuutarakan niatku pada ibu. Ibu menggelengkan kepala dengan tegas. Ibu menarik tangankku untuk tetap berjalan. Aku tidak mau. Aku bersikeras berdiri dan tidak mau bergerak.

“Fahri, apa yang kamu lakukan? Ayo bergegas, sebentar lagi hari mulai gelap.”

“Fahri mau pulang sekarang!”

“Tidak! Kita tidak akan pulang sebelum nama kamu ada di salah satu sekolah di kota ini.” Kurasakan suara ibu bergetar.

“FAHRI MAU PULAAAANGGG!!!” Aku berteriak. Aku tidak lagi menghiraukan sekitarku. Aku menangis sejadi-jadinya. Kulihat Ibu panik dan berusaha menenangkanku. Aku mengambil batu yang berada di sekitarku, melemparkannya ke segala arah. Orang-orang yang berada di jalan sempurna melihatku dengan tatapan ngeri, seperti melihat monster yang lepas dari peradabannya. Ya, beginilah aku. Aku bisa sangat berbahaya jika kemauanku tidak terpenuhi. Aku bahkan sulit mengontrol emosiku.

Sejak lahir aku divonis dokter mengidap Down Syndrome. Aku memang berbeda dengan anak-anak lain seusiaku. Saat ini aku berusia 8 tahun. tapi bentuk fisikku tak seperti teman-temanku. Kepalaku lebih kecil dari kepala anak normal lainnya, ukuran hidungku kecil dan datar, itulah yang sering kali membuatku sulit bernapas. Ukuran mulutku juga kecil, menguncup dan punya lidah yang tebal, dan mengakibatkan lidahku sering menjulur keluar. Bentuk mataku miring dan tidak memiliki lipatan kelopak mata. Kulitku kering, leherku juga pendek, tangan dan jari-jari kakiku pun pendek. Pertumbuhan gigiku juga terbilang lambat dan tumbuh tidak beraturan. Sekarang, kalian paham kenapa Ibu pemilik yayasan tadi mengataiku ‘monster’ kan?

Aku tidak pernah menginginkan terlahir seperti ini, begitu pun Ibuku. Mungkin, Ibu memimpikan anak laki-laki yang tampan dengan bola mata yang indah dan senyum yang mempesona. Tapi kenyataannya, Ibu melahirkan seorang anak laki-laki yang mengidap Down Syndrome. Begitulah hidup, kadang manusia hanya bisa berencana dan berangan-angan, selebihnya Tuhan lah yang berkuasa atas segalanya.

Tetapi aku bersyukur mempunyai Ibu yang hebat. Ibuku tidak pernah malu dengan kondisiku. Ibu memperlakukanku layaknya anak normal. Meskipun seringkali aku membuat Ibu malu di depan banyak orang. Pernah suatu ketika Ibu mengajakku ke Supermarket untuk membeli keperluan bulanan. Ketika hendak masuk, Ibu berpesan, “Fahri jangan sentuh apapun ya, Nak. Kalau Fahri menginginkan sesuatu, minta pada Ibu untuk mengambilkannya.” Aku mengangguk. Ibu menarik napas lega, lalu menuntunku berjalan disampingnya.

Ketika Ibu sibuk memilih barang, kulihat seorang gadis kecil dengan bola mata berwana biru, rambutnya di kepang dua, dan tangannya sedang memegang ice cream. Mata kami beradu, saling tatap. Tiba-tiba saja gadis kecil itu menjerit dan menangis histeris. Aku sama sekali tidak mengerti, aku tidak mendekatinya apalagi menyentuhnya. Tapi gadis kecil itu menangis seperti baru melihat hantu. Sontak seluruh pengunjung berlari kearah kami. Gadis itu terus menangis sambil mengucapkan kata-kata yang tidak kumengerti.

“He’s monsters! He’s monsters!”

“There is a monsters!”

Ibu mendengar teriakan gadis kecil itu dan langsung berlari kearahku, lalu membawaku keluar dari kerumunan orang-orang. Sejak kejadian itu, Ibu tidak pernah lagi mengajakku ke Supermarket. Sama halnya dengan yang terjadi baru saja, sudah entah berapa sekolah yang kami kunjungi, tetapi tak satupun sekolah mau menerimaku. Mereka mengaggapku monster yang berbahaya.

Akhirnya, Ibu mengalah. Ibu membawaku pulang. Selama perjalanan pulang, Ibu tidak mengajakku bicara seperti biasa. Mungkin Ibu masih marah padaku. Akibat ulahku yang melempari batu ke segala arah tadi, tanpa sengaja mengenai kepala seorang kakek yang berdiri tidak jauh dariku. Ibu terpaksa harus membayar biaya pengobatannya meskipun beliau menolaknya.

Sampai dirumah, ibu langsung menyuruhku masuk kamar. Ibu tidak mau bermain denganku seperti biasa. Ibu masih marah. Kulihat kalender di meja kamarku, hari ini adalah hari ulang tahun Ibu. Aku tersenyum, aku mengambil celengan ayam dari lemari. Kupecahkan celengan yang terbuat dari tanah liat itu, lalu kukutip uang yang berserakan di lantai dan kumasukkan ke dalam kantung plastik. Aku akan membelikan Ibu kue ulang tahun. Aku pun keluar rumah tanpa sepengatahuan Ibu.

Aku sudah berada di toko kue. Aku memberikan uang yang ada di dalam kantung plastik itu kepada petugas. Ia menanyakan padaku hendak membeli kue apa? Aku menunjuk kue tart yang dilumuri coklat dan bertuliskan “Happy Birthday” kepada petugas. Sebelum mengambil kue tart tersebut, petugas menghitung uang yang kubawa. Ternyata, setelah menghitung jumlah uang yang kubawa, uangku tidak mencukupi untuk membeli kue tersebut. Aku marah. Bilang bahwa petugas sengaja tidak memberiku kue itu. Aku mulai beringas. Aku berteriak-teriak agar petugas itu mau memberikanku kue tart.

Ketika aku membuat keributan, pemilik toko kue keluar dari ruangannya.

“Ada apa ini?”, dengan nada kesal ia bertanya pada pegawainya.

“Begini Pak, anak ini ingin membeli kue tart, tetapi uang yang ia bawa tidak cukup. Ia mengamuk dan memaksa kami untuk memberikannya.”

Pemilik toko itu terdiam, ia memperhatikanku, melihatku dengan tatapan yang berbeda. Ada rasa kasih sayang dari tatapannya. Pemilik toko tersebut langsung mengambil kue tart itu dan memberikannya untukku. Aku tersenyum, berulang kali mengucapkan terima kasih. Ia mengelus kepalaku.

“Sekarang, pulanglah. Berikan kue ini pada Ibumu.”

Aku mengernyitkan dahi. Darimana ia tahu kalau aku ingin memberikan kue ini untuk Ibu. Seperti mengerti kebingunganku, ia menjawabnya.

“Sudah pasti kue ini untuk Ibumu, anak tampan. Itu terlihat sekali dari matamu.”, sambil tertawa ia mengusap lembut kepalaku.

“Maukah, Bapak membantuku menulis surat untuk Ibu? Aku ingin sekali Ibu membaca tulisanku.”

Dengan senyum yang tulus, pemilik toko itu mengangguk.

***

Aku pulang ke rumah dengan selamat, diantar oleh bapak pemilik toko kue itu. Beliau tahu alamat rumahku dari gelang yang selalu kupakai kemana-mana. Ibu menulis alamat rumah kami di gelang tersebut, untuk berjaga-jaga jika aku keluar rumah tanpa sepengetahuan Ibu seperti sekarang. Begitu sampai di depan rumah, ibu langsung memarahiku. Ibu panik ketika tidak mendapati aku di kamar. Ibu mengucapkan terima kasih kepada pemilik toko itu dan langsung menarikku masuk ke dalam rumah.

Ibu mengambil dengan kasar kotak kue dari tanganku dan mencampakkannya ke atas meja. Ibu menyeretku ke arah gudang belakang, mendorongku dan mengunciku di dalam gudang yang pengap itu. Aku marah, berusaha bilang kalau kue tart itu untuk Ibu. Ibu jahat. Ibu tidak pernah seperti ini sebelumnya. Aku memukul-mukul pintu, minta dikeluarkan dari gudang. Tapi Ibu tidak mau mendengarkanku. Aku kehabisan tenaga, mulai sulit bernapas. Pukulanku di pintu pun semakin melemah. Dan aku mulai memejamkan mataku, berharap mendapatkan kekuatan.

Ibu yang sedang emosi mulai sadar dengan apa yang ia lakukan padaku. Ia membuka isi kotak kue tart tersebut. Betapa terkejutnya ia melihat kue tart yang sudah tak berbentuk lagi. Ada sepucuk surat di dalamnya. Dengan tangan bergetar dan air mata yang berjatuhan ia membaca isi surat itu.

Selamat ulang tahun, Ibuku terhebat.

Maafkan aku jika selama ini aku hanya menjadi beban untukmu

Maafkan aku karena sudah terlalu banyak air mata yang kau jatuhkan untukku

Maafkan aku karena belum bisa menjadi anak laki-laki kebanggaanmu

Mulai hari ini, aku berjanji akan menjadi anak laki-laki seperti yang selalu Ibu ceritakan sebelum tidur.

Sekali lagi, selamat ulang tahun wanita yang paling kucintai dan kuinginkan kebahagiannya…

Ingatlah selalu, Bu. Aku bukan monster seperti yang mereka katakan.

Aku FAHRI, Anak laki-laki kesayangan Ibu.

Aku bukan monster, Bu.

Aku bukan monster!

Aku bukan monster!

 

   Air mata ibu tidak bisa berhenti setelah membaca baris terakhir dari surat itu. Ibu langsung berlari ke arah gudang, Ketika Ibu membuka pintu gudang dan mendapati aku yang sudah terbaring tak bernyawa, Ibu histeris dan menangis sejadi-jadinya sambil bergumam, “Fahri bukan monster, sayang. Maafkan Ibu.” Aku tersenyum melihat ibu dan kubisikkan di telinganya, “Selamat ulang tahun, Bu.”

 

(Penulis adalah Alumni UMSU Jurusan Matematika, Beberapa karyanya seperti puisi, cerpen dan opini pernah dimuat di media lokal maupun luar daerah)

Melepas Pelukan Hujan

Karya : Devian Amilla

Aku memiliki seorang kekasih. Seseorang yang selalu ada untukku. Seorang lelaki berlesung pipi dengan bola mata yang bulat dan bulu mata yang lentik. Seorang lelaki yang perfeksionis. Meski begitu, kekasihku adalah seorang yang setia. Ia selalu ada saat aku membutuhkannya. Ia ada saat aku butuh seseorang untuk melampiaskan amarahku. Tersenyum hangat, tak menatapku kaku. Ia pun tak segan meminjamkan dadanya yang bidang untuk menyembunyikan tangisku dibalik pelukan kokohnya. Hujan, begitu ia kupanggil.

Hujan tak menyukai sesuatu yang berlebihan. Tapi Hujan menyukai hal-hal yang sempurna. Mulai dari penampilan hingga pekerjaan. Hujanku selalu tampil keren, aku suka meskipun terkadang aku tidak bisa menjadi sekeren Hujan. Beberapa bulan lalu, Hujan mengajakku pergi ke acara pernikahan teman kantornya. Aku senang karena aku bisa bertemu dan berkenalan dengan teman-temannya. Hujanku terlihat tampan dengan kemeja maron dan celana keper hitam yang semakin membuatnya terlihat sempurna.

“Apa kau tidak bisa mengganti pakaianmu? Kita akan ke pernikahan teman kantorku, loh.” Hujan menatapku dengan tatapan aneh. Aku melirik pakaian yang kukenakan. Apakah ada yang salah dengan pakaianku? Ini adalah pakaian terbaikku, tapi kenapa Hujan menyuruhku mengganti pakaianku?

“Ini pakaian terbaikku. Apakah pakaian yang kukenakan tidak cocok dipakai untuk ke acara pernikahan teman kantormu?” Aku mencoba mengendalikan intonasi suaraku.

“Pakaian yang kau kenakan tidak matching dengan pakaianku. Tapi ya sudahlah, kalau kau tidak mau menggantinya. Ayo, kita pergi sekarang. Jangan membuang waktuku untuk hal-hal seperti ini. Nanti kita terlambat sampai disana.” Hujan berjalan meninggalkanku yang sempurna berdiri mematung. Mataku panas. Kuikuti Hujan masuk ke dalam mobil. Aku mencoba menenangkan hatiku sendiri.

Di penghujung Desember 2015, karir Hujan meningkat. Hujan naik jabatan dan mengharuskan Hujan untuk pindah tugas keluar kota. Bukannya aku tidak senang mendengar kabar ini. Tapi itu berarti aku harus terpisah jarak ratusan kilometer dengan Hujan. Aku membenci bulan Desember ini lebih dari Desember-desember tahun sebelumnya, tahun ini Hujan akan pergi sangat lama sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.

Sebelum Hujan pergi, ia membuatkanku akun Skype. Katanya, agar ia bisa melihat wajahku setiap malam sebelum tidur. Aku hanya diam.

“Janji?”

“Iya, aku janji.” Hujan tersenyum, mengecup keningku dan menarikku kedalam pelukannya.

Setelah hari ini, Hujan tak akan sama lagi. Hujan mengecupku perlahan di depan bandara kota kami. Bulan Desember adalah musim penghujan. Kali ini hujan deras mengantarkan kepergiannya meninggalkan kota kami. Hujan deras diluar bandara sederas air mataku yang tak juga mau berhenti meski telah diseka puluhan kali. Ia memelukku erat, berjanji akan selalu memberi kabar. Hujan berjanji akan selalu meluangkan waktunya untukku, melakukan video call setiap minggu. Ya, Hujan berjanji.

Juli 2016. Sudah tujuh bulan berlalu. Sudah belasan minggu tidak lagi kami lewati dengan melempar senyum lewat video call. Sibuk katanya. Bahkan membalas pesanku pun Hujan tak sempat lagi. Padahal Hujan telah berjanji. Aku coba memahaminya tapi rasa sedih dan kecewaku lebih besar. Aku merindukan Hujan. Bahkan Hujan tak tahu kapan bisa kembali ke kota kami. Ketika kutanya kabarnya, Hujan marah. Hujan memintaku untuk tidak mengganggunya. Pekerjaan kantor dan teman-teman barunya disana lebih menarik baginya sekarang.

Aku kesepian. Sampai pada akhirnya aku menemukan Summer. Summer lelaki yang menyenangkan. Summer rekan kerjaku. Summer membenci hujan, bukan Hujan tapi hujan. Apalagi jika hujan di pagi hari. Mengganggu aktivitas, katanya. Aku tidak sependapat dengannya. Kubilang bahwa hujan itu menyenangkan jika kita tahu cara menghadapinya.

Malam itu, aku menangis. Aku sangat merindukan Hujan. Hujanku. Aku mencoba menghubungi Hujan. Tapi Hujan tidak bisa dihubungi. Lalu aku mencoba menghubungi Summer. Aku butuh teman curhat. Summer mendengarkan ceritaku. Summer pendengar yang baik. Setelah aku selesai bercerita, hanya satu yang Summer katakan.

“Kau punya duniamu sendiri, jangan menangis lagi.” Aku tersenyum. Malam ini aku memang menangis, tapi hatiku tersenyum. Terima kasih Summer, batinku.

Setelah malam itu, aku memutuskan pergi dari Hujan. Aku mencintainya, maka kubiarkan ia bahagia dengan apa yang ia cintai. Biarlah aku mencari bahagiaku sendiri. Tanpa Hujan. Kukirim pesan bahwa aku telah melepasnya, bahwa ia sekarang bebas. Tidak perlu lagi menyisihkan waktunya yang berharga itu untuk memberiku kabar. Hujan marah. Seharusnya aku yang marah, tapi ia lebih marah dariku.

Ia mendengar kedekatanku dengan Summer. Ia bilang aku tidak memahaminya. Ia menuduhku tidak setia, ia bilang aku membohonginya selama ini. Aku menangis. Tidakkah ia menyadari bahwa jika ada orang yang paling berhak kecewa atas semua ini, orang itu adalah aku?

Gemetar, kuketik dengan perlahan di layar ponsel bahwa aku lelah menjadi yang kedua setelah tugas-tugasnya, aku lelah menjadi orang kedua yang tahu setiap kali ia pergi dengan teman-temannya, aku lelah selalu ada untuknya sementara ia tak pernah ada saat aku butuh. Aku lelah ia selalu melanggar janji-janji kecil yang ia buat sendiri.

Hujan diam. Hujan tak membalas pesanku. Hujan pergi. Aku tak mau menahannya seperti dulu. Aku tak bisa. Aku tak mau. Sekarang  aku memiliki Summer. Sesuatu yang kusuka setelah Hujan pergi. Summer yang hangat. Bukan Hujan yang selalu membuat gigil. Summer yang ceria dan sederhana. Bukan Hujan yang dingin dan perfeksionis.

Maafkan aku, Hujan. Aku pergi.

 ====================================================

 

Devian Amilla adalah Alumni UMSU, Jurusan Matematika, 2016. Perempuan kelahiran 13 Desember 1994 ini sekarang tercatat sebagai Guru Matematika di salah satu sekolah swasta di Medan. Bisa dihubungi di FB : Devian Amilla atau email : princessadevian@gmail.com

Alamat: Jl. Serayu 3 Dusun V, Medan-Sumatera Utara

No. Hp           : 0821 6736 7106

[Cerpen]: Perempuan Jadi-jadian itu mati dibawah kasur

oleh: Ferry Fansuri

Kamar itu letaknya dilantai dua hotel murahan itu, ukuran tidaklah terlalu besar. Single bed room berhadapan layar lcd televisi saluran channel digital satelit, lampu sedikit remang-remang kekuningan. Sirikit telah lama berada di kamar itu tapi tak tahu tanggal dan bulan berapa sekarang, tak tahu kapan masuk dalam ruangan itu. Ia hanya terdiam terpaku disana, terkadang mendengar suara kebisingan lalu lintas Pattaya diluar jendela kamarnya.

Di waktu malam Sirikit tidak bisa tidur, matanya terus melek tak bisa dipejamkan sama sekali. Suara-suara itu itu terus mengganggu dari luar dan kamar sebelah, ia tidak bisa menutup telinga. Menusuk ke gendang telinga bagai tawon berseliweran kesana kemari bahkan membuat mata merah pedih.

Sirikit merasa sendirian tanpa teman, tidak ada yang memperhatikan tapi ia tidak bisa pulang. Ada sesuatu yang menahannya disana, tubuhnya seperti kaku tak bisa bergerak sama sekali.

Saat pintu kamar itu terbuka, seorang cleaning service tampak membawa kain pel, sapu dan bak berisi air. Suara Sirikit ingin berteriak tapi pita suara seperti tercekik tak mengeluarkan kata sekatapun. Cleaning service tetap melakukan aktivitasnya, memberesin selimut, menata bantal dan menyapu kotoran dilantai.Tak ketinggalan menggosok bekas kotoran-kotoran manusia melekat di toilet.

“Dasar penyewa tengik, buang hajat tak disiram” gerutu cleaning service terlihat gemulai dan jari lentik tapi terlihat ia adalah seorang pria. Dan ia tidak melihat Sirikit sama sekali disana atau tidak tampak.

Bau apek dan menyengat membuat hidung cleaning service mengendus-endus mencari asal bau. Tapi tak ia temukan, akhirnya ia menyemprot wangi-wangian ke seluruh ruangan.

“Jangan pergi, tolong aku” Sirikit memohon dengan sangat tapi kata-kata tersendak dengan ludah di tenggorokannya. Saat terakhir cleaning service menutup pintu, malam itu Sirikit kembali sendiri disana. Berteman sepi dan berselimut keheningan hingga menjelang esok

 

*********

 

Hari berganti hari, senja merayap ke malam.Sirikit hanya bisa diam dan didalam otaknya terus berputar mencari jalan keluar dari tempat sial ini. Tapi sia-sia, semua syarafnya tidak bisa ia kendalikan sama sekali. Sirikit tak bisa menggerakkan jari-jari tangan ataupun kakinya, semua lumpuh tapi inderanya masih berfungsi. Telinga dan mata masih normal, bisa mendengarkan dan bola mata bisa bergerak ke kanan-kiri seperti mencari sesuatu.

Sirikit memang tidak berdaya tapi dalam ruangan itu tapi bisa merasakan dan melihat semua peristiwa yang terjadi. Pagi itu ada sepasang berlain jenis, pria separuh baya kira beumur 50 an postur tambun, kepala sedikit beruban dan botak meranggas terlihat mengkilap. Datang bersamaan wanita berumur 30-an terlihat cantik dengan setelan kemeja bluse dan rok terusan.

“Khun(pak) kenapa Som dibawa kesini? Katanya kita akan hotel berbintang kok malah hotel murahan begini” sungutnya si wanita

“Nong(dik) jangan marah, disini lebih aman. Kalau dihotel berbintang itu nanti istriku tahu. Mata-matanya dimana-mana nong, disini saja kita juga bisa gituan” kekeh pria tambun hingga perut yang bergelambir naik turun. Sambil mencolek dagu wanita ini, pria merayu untuk meredakan kesewotannya.

“Ah khun nakal” berusaha beringsut menjauh jual mahal, sang pria semakin menggebu-gebu mendekap dan sang wanita tidak menolak.

“Khun kapan mau menceraikan istri, katanya janji menikah aku secepatnya”

“Sabar nong, pasti aku ceraikan tapi masih waktu yang pas tapi sekarang terpenting senang-senang dulu”

Pria ini langsung menindih tubuh asoy semok itu dan mencium bertubi-tubi melampiaskan syahwatnya. Pekikan dan legungan sang wanita membuat Sirikit mual karena telinga tidak bisa disumbat sama sekali. Sirikit merasakan gumulan dan desahan mereka ada diatas tubuhnya.

Mata dan telinga menyaksikan adegan demi adegan tersaji apik dimata Sirikit, sepertinya dipaksa menyaksikan tiap peristiwa yang terjadi di kamar itu.

Terkadang ini bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia telah mati atau menjadi arwah penasaran menghantui kamar itu? Tapi tak tahu jawaban, seberapa berat Sirikit mengingat terus terasa ada palu godam menghantam kepalanya. Sirikit merasa masih hidup, napas bisa ia rasakan dalam hembusan hidungnya. Pori-pori kulit juga merasakan dingin dan panas, gendang telinga bisa mendengarkan jelas bahkan detak jantungnya sendiri terasa dekat. Tapi mengapa tiap orang yang datang dikamar 313 itu tak melihatnya sama sekali.

Seperti juga pada suatu malam ada seorang pemuda datang, raut muka masam dan perawakan ceking yang semalam memandang sebuah foto. Matanya tampak sembab oleh linangan airmata, sesekali ia memukul dadanya, menampar wajahnya atau menjambak-jambak rambutnya sendiri.

“Nongsa, kenapa kau begitu jahat kepadaku? Kau lari dengan begundal itu…hah…kenapa Nongsa?” matanya melototi foto itu. Ia remas dan terus dibuang di ujung kamar tapi kemudian diambil lagi, dicium foto gadis manis berambut sebahu.

“Maafin aku Nongsa, tadi aku aku menyakiti kamu?” kata-kata memelas dan mulai tertawa sendiri kehilangan akal. Pemuda tak pernah keluar dari kamar itu, bergelut dengan kesedihan dan keputusasaan. Menenggak bir, menelan extacy atau menyuntikan beberapa morfin dilengan kanannya. Merusak dirinya sendiri dan menyesali kebodohan tak bisa mendapatkan gadis idamannya.

Selepas teler memasukan morfin ke dalam urat nadi, pemuda ini tergeletak di ranjang. Berhalusinasi bahwa ia terbang tinggi ke langit ke tujuh, Sirikit tak bisa berbuat apa-apa hanya melihat nasib pemuda ini. Keesok hari pemuda ini ditemukan overdosis tapi nyawa sempat tertolong di rumah sakit.

Sunyi kembali, Sirikit sendirian lagi. Sebenarnya orang-orang datang lalu lalang masuk ke kamar itu membuat dirinya sedikit terhibur. Banyak kelakuan unik dan agak konyol,  membuat Sirikit senyum-senyum sendiri.

Macam ada sepasang muda-mudi yang janjian untuk ketemu dikamar itu, sebelumnya belum pernah ketemu hanya bersua di medsos facebook. Si cewek menjanjikan akan memberikan tubuhnya, sang cowok mengiyakan bagaikan anjing yang ketemu tulang, menggonggong. Setengah telanjang dari tahap foreplay sampai menjelang intercourse, tiba-tiba..

“Stop, aku tidak mau melakukannya kalau kau tak pakai pengaman” cewek menghentikan gerilya si cowok untuk mengerayanginya.

“Sana cari dulu, baru aku mau” usir cewek itu dan cowok itu mengangguk iya keluar dari kamar

Berselang beberapa menit, cowok itu datang membawa kondom kebahagiaan buat pujaan tercintanya. Tapi yang ia dapati kamar kosong melompong, dompet, Iphone dan kunci matic raib bersama sang cewek kabur.

Mulut Sirikit mau tertawa terpingkal-pingkal, pita suaranya tak mau diajak kompromi tak suara sama sekali.

Banyak cerita dan peristiwa-peristiwa Sirikit saksikan tapi mereka tidak bisa melihat dia. Ia merasa nyata hadir di kamar itu, tapi tidak semua mengacukan Sirikit. Sempat ada duo suami istri bule ostrali backpacker menyewa kamar itu, saat mereka datang ke kamar sang istri mencium bau tak sedap. Terus mencari-cari asal bau tersebut, saat melongok ke bawah ranjang, mata bule itu memandangku tapi ia seperti tidak melihat aku.

“Tolong miss, help me” Sirikit mencoba berkomunikasi dengannya tapi sia-sia. Bule ostrali itu memanggil pemilik hotel murahan tersebut untuk komplain bahwa ada bau yang menyengat sekali. Sang owner dengan santai mengatakan semua bisa ditangani, bos memanggil anak buahnya untuk menyemprot pewangi lavender. Bau aneh menghilang, duo backpacker melepas lelah diatas ranjang.

Sirikit hanya menghela napas dalam kesendirian, kamar itu gelap kembali hanya sinar matahari kecil menerobos. Beberapa hari kamar 313 tidak ada yang menyewa, Sirikit tidak melihat pintu itu dibuka. Terasa lama sekali tidak orang masuk, apakah sedang ada renovasi atau low season turis ddi Pattaya lagi menurun.

Sempat sekilas pintu itu terbuka, Sirikit melihat bos hotel bercakap-cakap dengan pria berseragam, bersepatu boot, berkacamata hitam dan bertopi brigadir. Ada wajah pucat basi dari bos ketika pria itu menjelaskan sesuatu,..ah aku tak tah apa yang dibicarakan mereka. Sebelum pintu itu ditutup, sekelebatan sebuah pita yellow line melintang depan pintu kamar itu.

 

***********

Chiangrai Times. Polisi Thailand menahan 2 remaja terkait kasus pembunuhan terhadap seorang lady boy. Mayat korban dibunuh dan disembunyikan dibalik ranjang hotel Pattaya agar tidak ketahui. Berawal dari pertemuan korban di Facebook, mereka bertemu dikamar 313 hotel itu. Korban dicekik setelah menolak berhubungan intim, mayat membusuk selama 3 atau 4 hari tersimpan rapi dibalik tempat tidur tertumpuk kasur, baru ketahui jasad tersebut saat sepasang muda-mudi chek in mencium bau busuk dan meminta staff hotel untuk disemprotkan pengharum ruangan. Tanpa disadari, mereka telah tidur diatas mayat itu. (neo)

Pematang Siantar, Maret 2017

 

Biodata Penulis :
Ferry Fansuri kelahiran Surabaya adalah travel writer, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya “Roman Picisan” (2000) termuat. Cerpen “pria dengan rasa jeruk” masuk antologi cerpen senja perahu litera (2017). Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional. Dalam waktu dekat menyiapkan buku antalogi cerpen dan puisi tunggal.
ferry_fansuri@yahoo.com
HP. 0818509233
Alamat Simogunung Barat Tol 3 no.1B Surabaya 60181

 

Hari-Hari Bersama dan Membersamaimu

Cerpen : Nanda Dyani Amilla

Selalu ada yang tak bisa kujelaskan ketika aku melihat dirimu. Terlalu banyak cinta yang berlompatan dan menyusup masuk ke dalam hati, bahkan sebelum aku mengizinkannya untuk masuk dan menepi. Juga segudang rindu yang kau biaskan lewat tatapan matamu, semakin membuat aku kewalahan mewaraskan diri. Ya, bahkan lebih dari yang kau pahami, bahwa kau telah kujatuhcintai jauh sebelum kau mulai menyadari. Bahwa segala rasaku, muaranya adalah kamu. Lanjutkan membaca Hari-Hari Bersama dan Membersamaimu

Masakan Ibu dan Cerita Yang Mengiringinya

Cerpen: Nasrul M. Rizal

Kamu tahu, apa yang membuat aku rindu rumah? Ya, kamu benar. Canda dan tawa adikku, beserta kenakalan yang mereka ciptakan. Tapi ada satu hal lagi yang membuatku sangat rindu rumah. Ingin sekali pulang walau beberapa hari yang lalu sudah pulang. Yang tidak bisa diobati meski berkomunikasi lewat sambungan telepon. Bahkan lewat video call sekalipun. Kamu ingin tahu? Aku merindukan masakan ibu.

Tidak terhitung berapa kali aku membeli makanan. Mulai dari makanan cepat saji hingga makanan lama tersaji. Beli di rumah makan biasa hingga mewah. Diwarteg hingga rumah makan padang. Mulai dari yang harganya ribuan rupiah hingga ratusan ribu. Tapi, tidak satu pun yang bisa menggantikan masakan ibu. Aku pun heran. Padahal jika diperhatikan, masakan ibu sangat sederhana. Aku juga bisa membuatnya, dengan resep dan cara yang sama. Anehnya rasa masakanku kalah jauh dibandingkan masakan ibu. Apa karena aku masaknya terlalu lama ya (baca: gosong) atau justru terlalu sebentar. Ah, perasaan sama kayak ibu. Dan kenapa rasanya terlalu asin. Apa karena aku pengin cepat-cepat nikah, seperti yang diucapkan ibu? Bisa jadi sih haha.

Di rumah, aku bersedia menunggu lama demi mencicipi masakan ibu. Sambil menunggu Ibu memasak, aku menjagasi bungsu yang mulai nakal. Si bungsu sering membuat onar. Namanya Alfath,walau masih merangkak tapi, kamu harus percaya, dia bisa menjadikan rumah seperti kapal pecah. Apa pun diperhatikan. Dimainkan. Lebih tepatnya dirusak. Remot TV dilempar gara-gara tidak bisa digigit. Mungkin dia kira biskuit. Yang lebih menggelikan, saat aku membuka kulkas, Al mendekat,sepertinya dia penasaran. Sebagai kakak yang baik hati, aku menuruti rasa ingin tahunya. Dengan semangat Al mengacak-acak isi kulkas. Tidak lama kemudian dia menangis. Aku mengenalkan dia dengan es batu,freezer.Mendengar si bungsu menangis, ibu berhenti masak, memarahiku sejadinya. Untung aku bukan anak kecil. Jadi meski dimarahi aku tidak menangis, seperti ketiga adikku.

Aku menyesal mengenalkan Al dengan es batu. Bukan karena dia menangis, tapi karena dia dibawa sama ibu. Artinya aku harus menunggu lebih lama unutk merasakan masakan ibu. Memasak sambil menggendong anak pasti merepotkan. Aku saja masak tanpa ada gangguan sangat repot, apalagi ini, diganggu Al. Semngat ya Bu. Eh, maksudnya semangat Bu.

Jarum jam menunjuk angka 10. Perut aku sudah berbunyi, krubuk, krukk. Sepertinya cacing di perutku sedang demo. Aku harap mereka tidak anarkis. Supaya tidak terjadi bentrok. Kan bahaya kalau bentrok. Bisa-bisa perutku semakin kencang bunyinya.

Karena sudah bebas tugas –tidak menjaga Alfath lagi– aku semedi di kamar. Aku mendudukkan si Hime dipangkuanku, membuka bajunya pelan-pelan, merabanya, memijitnya perlahan. Sungguh mulus si Hime. Dalam hati aku berkata, “Hime, sekarang hanya ada kau dan aku, kita bisa berlama-lama menikmati waktu.” Aku kembali memijit tubuh si Hime.Untung saja kuota aku masih banyak, jadi semediku pasti berjalan dengan mulus. Apa? Kamu pengin kenalan sama Hime? Hmm, baiklah. Dia laptopku. Sudah tiga tahun lamanya Hime menjadi sahabatku. Dia menemaniku mengerjakan tugas, menonton film, main game, berselancar di dunia maya, dan … rahasia. Sudah beberapa kali Hime sakit (baca: rusak) karena itu aku mengganti namanya. Awalnya nama dia Asu seperti mereknya, aku ganti jadi Hime. Berdasarkan kepercayaan orang-orang di kampung halamanku, kalau ada anak yang sakit-sakitan terus, maka namanya harus diganti. Nah, aku melakukan hal yang sama pada laptopku.

Belum lama aku semedi, pintu kamarku dibuka kasar. Mataku berpaling dari wajah si Hime, melihat sosok pembuka pintu. “Si raja onar pulang. Pasti dia ganggu,” batinku.

Aa[1] tadi Azka olahraga. Lari jauuuuhpisan[2]. Untung Azka biasa lari jadi teu cape teuing.[3]” Si pembuka pintu menembakku dengan ocehannya.

Aku mengembuskan napas panjang. Mencoba meniraukannya,kembali fokus menatap wajah si Hime.

“Wih si Aa jago perang. Tembak, terus tembak.” Tiba-tiba si pembuka pintu duduk di sampingku. Menyuruh ini dan itu layaknya komandan, “Tembak yang sebelah kiri. Itu di belakang. Awas bom. Ah, si Aa mah teu baleg maen teh[4]. Gantian! Azka yang maen.”

Tanpa dipersilakan Azka mengangkat si Hime dari pangkuanku, meletakkannya di kasur. Aku menatapnya sinis, dia merusak kebersamaanku dengan si Hime.

“Aa gimana cara maennya?” Azka bertanya dengan tampang polos khas anak SD.

Heeeeuhh kalau saja dia bukan adikku, daritadi sudah kutelan kepala pelontosnya. Menyebalkan sekali. Mana masuk kamar tidak izin dulu. Ganggu maen game. Merebut si Hime. Dan dengan polosnya bilang gimana cara maennya. Menyebalkan bukan? Dari ketiga adikku, Azkalah yang sering bikin onar. Si raja onar. Tidak ada hari tanpa “pertikaian” antara Azka denganku. Bahkan ketika matahari masih bersembunyi, emosiku sudah meninggi. Dengan wajah tanpa dosa, Azak memukul pipiku. Berteriak, “Bangun! Bangun! Hey kebo bangun!” Dengan sangat terpaksa aku bangun. Ingin sekali kutelan kepalanya yang mirip baso. Tapi niatku selalu urung. Dalam kondisi apa pun. Dalam keadaan bagaimanapun. Aku yang akan disalahkan. Ya, Ibu pasti memarahiku. Katanya aku ini sudah besar jadi harus mengalah. Benarkah seorang kakak harus selalu mengalah pada adiknya? Walau dalam keadaan apa pun? Apa kamu seperti itu?

Kedongkolanku sedikit berkurang. Ibu memanggilku. Meminta untuk menggendong Al. Harumnya masakan ibu membuatku semakin ngiler. Perutku berbunyi keras, krubuk, krubuk, krubuk. Sepertinya cacing di perutku menjadi anarkis. Ibu membersihkan dapur. Tak lama kemudian makanan sudah siap disantap. Kami (aku, Azka, Ibu dan Al) duduk, melingkar, di karpet tipis. Di rumahku tidak ada meja makan. Tapi meskipun begitu, makan dengan cara seperti ini sungguh nikmat. Sesekali cobalah!

“Biasakan berdoa dulu sebelum makan… Azka jangan buru-buru makannya. Deni jangan banyak-banyak lauknya, ingat Ayah sama adikmu, Anti.” ucap Ibu mengingatkan sekaligus menegur.

Dasar Azka, dia menghiraukan teguran Ibu. Mulutnya cepat mengunyah makanan. Tidak mau kalah dengan Azka, aku pun malahap masakan sederhan ini. Ya, kali ini Ibu memask tumis kangkung, tahu, tempe dan cumi. Tak lupa sambal terasi sebagai pelengkap. Walaupun sederhana tapi rasanya nikmat sekali.

Kalau Ayah dan Anti bergabung. Suasana makan pasti lebih hangat –lebih tepaya panas. Azka dan Anti berebut lauk. Walaupun Ibu sudah membaginya dengan adil. Tetap saja kedua anak itu tidak mau mengalah. Merasa bagian yang satu lebih banyak dari yang lainnya. Jika Ayah tidak turun tangan terkadang salah satu di antara ke duanya menangis. Lebih seringnya Azka yang menangis. Aku memanfaatkan situasi tersebut dengan mengambil lauk lagi. Menyembunyikannya di bawah nasi. Stttt! Ini rahasia.

Ya, aku ingin pulang karena rindu masakan ibu. Rindu makan bersama keluargaku. Lebih rindu lagi melihat Azka dan Anti bertengkar, sedangkan aku memanfaatkannya untuk menyelundupkan lauk.

Jadi kamu mau makan apa? Maaf aku malah bercerita hehe. Sesuai dengan janjiku, sebelum pulang ke rumah, kita makan bareng dulu. Silakan pilih saja. Tenang aku yang bayar[]

[1] Kakak

[2] Banget

[3] Tidak terlalu capai

[4] Tidak bener mainnya

 

Biodata Penulis

Nasrul M. Rizal lahir ke bumi 22 tahun silam, tepatnya 27 Agustus 1995, di Garut. Aktif di komunitas kepenulisan, yang diisi oleh orang-orang galau dan jomlo, KAFE KOPI. Beberapa cerpennya telah dimuat di berbagai media daring. Bisa dikepoin melalui: mr.nasrul19@gmail.com

 

 

Cinta Dalam Diam

Cerpen: Redovan Jamil

Akhirnya Egy lulus dengan nilai memuaskan serta dapat masuk ke perguruan tinggi yang diinginkannya. Setelah ia berusaha sebisa mungkin untuk mencapai impiannya. Dulu Egy belajar giat agar dapat dilirik oleh lelaki yang dikagumi. Kedua orang tuanya sangat bangga dengan prestasi yang telah ditorehkannya. Anak yang berkulit sawo matang dengan tinggi lebih kurang 160. Tubuhnya termasuk kategori ideal seumurannya. Perempuan yang suka memakai jilbab di kesehariannya.
Wanita yang memiliki nama lengkap Peggy Anggraini itu telah mengenang masa selama di pesantren. Duduk manis di bawah pohon depan kelas 7.2. Mengamati lapangan tempat melaksanakan upacara bendera. Berlari dan bermain dengan teman sebaya. Sesuatu yang tidak bisa ia lupakan adalah saat pertama kali menatap mata sipit santri pujaan hatinya. Mereka bertabrakan karena terburu-buru ingin masuk kelas masing-masing.
Santri laki-laki itu adalah kakak kelasnya Egy di kala itu. Kelas lelaki misterius itu bersebelahan dengan kelasnya Egy. Egy duduk di kelas 7.2 dan lelaki itu duduk di kelas 8.1. Semenjak pertemuan tanpa sengaja pagi itu, Egy selalu terpikirkan pandangan tajamnya lelaki yang menusuk jauh ke dalam relung hatinya. Sepanjang pelajaran pagi itu ia tidak bisa fokus. Pikirannya melayang-layang dan penuh tanya. Siapakah lelaki yang menabraknya? Kenapa lelaki tersebut yang minta maaf terlebih dulu, padahal Egy tahu ia yang sebenarnya salah.
“Egy, mengapa kamu bermenung?” ucap, Bu guru.
“Iya..iya buk.” Egy menjawab penuh cemas.
“Apa yang iya, Gy?” Bu guru sedikit melotot.
Egy hanya menundukkan kepalanya. Ia tahu telah melakukan kesalahan; tidak bisa menyimak dan memperhatikan apa yang diterangkan oleh gurunya. Egy memaksakan otaknya membuang beribu tanda tanya tentang lelaki itu. Mencoba untuk hanyut ke dalam pelajaran pagi ini. Jadwal pagi itu adalah pelajaran Fiqih dengan guru yang bernama Bu Yetti. Ibu yang bertubuh bongsor dan berperawakan jawa. Banyak senior Egy mengatakan Ibu Yetti termasuk kepada guru yang pemarah. Maka pada saat Egy ditegur, ia hanya diam dan tidak ingin berdebat.
***
“Bangun…semua bangun lagi! Sekarang sudah pukul 04.00 WIB.”
Ibu asrama yang biasa dipanggil Umi Rosi mengetuk pintu kamar para santri. Mencoba membangunkan semua anak santrinya. Terdengar beberapa santri menyahut dari dalam kamar dengan suara sedikit parau. Setelah ibu asrama yakin semua santri telah bangun baru ia pergi menuju mushalla untuk menunaikan shalat subuh berjemaah. Egy pun sudah bangun. Segera ia mengganti baju tidurnya dengan pakaian yang layak digunakan untuk shalat. Mengambil serta memakai mukenah yang biasa terlipat rapi di atas meja. Mukenah putih dengan bordiran bunga berwarna merah saga di ujung tepinya. Egy terlihat anggun oleh mukenah yang membaluti tubuhnya.
Terdengar suara adzan berkumandang. Egy dengan sahabat karibnya yang bernama Sinta buru-buru untuk menuju Mushalla. Setelah semua santri memenuhi ruangan Mushalla, baik itu laki-laki maupun perempuan, shalat pun dimulai. Diimami oleh Ustad Jefri Al- Qhadri. Syahdu suara imam merindingkan bulu roma para santri. Seakan-akan diimami oleh imam besar di Mekah. Shalat subuh itu berjalan dengan khitmad. Setelah shalat subuh selesai, semua santri dianjurkan melakukan tadarus sampai pukul 05.45 WIB.
Sesampai di asrama Egy pun segera mengambil handuk. Menuju ke kamar mandi. Egy pun mandi lebih kurang sepuluh menit. Disaat mandi para santri berbicara tidak karuan. Karena di asrama memiliki bak mandi besar yang muat oleh sepuluh santri. Bak mandi itu dipakai oleh santri secara bersama.
Pada saat mandi, banyak santri yang suka bercanda. Seperti lempar-lemparan air. Sebagian juga ada yang membicarakan tentang keluh kesah selama belajar di pesantren. Tapi, saat mandi Egy menceritakan kejadian pagi kemarin kepada Sinta. Menjelaskan secara terperinci hingga Sinta merasa ada yang menakjubkan atas kejadian itu.
“Siapa nama lelaki itu, Gy?”
“Tidak tahu. Aku belum sempat kenalan.”
“Kenapa kamu tidak mengajaknya kenalan?
“Aku malu. Tidak sewajarnya aku begitu.”
Beberapa menit mereka saling bertatapan. Tergambar tanda tanya di wajahnya. Sinta ingin tahu siapa lelaki yang dimaksud oleh sahabatnya tersebut. Sinta mencoba menerka-nerka lelaki yang ciri-cirinya sesuai yang dibicarakan Egy. Tapi ia belum juga bisa menemukan siapa lelaki misterius itu.
***
Pada hari sabtu siang adalah waktunya Ekstrakulikuler. Ada yang masuk ke bidang tataboga, seni rupa, dan olahraga. Egy dan Sinta memilih bidang tataboga. Biasanya mereka selalu rajin untuk mengikuti Ekstrakulikuler. Bersemangat menyambut hari sabtu karena mereka memang hobi persoalan masak-memasak. Untuk sabtu kali ini Egy dan Sinta sudah berencana tidak mengikuti proses belajar memasak. Mereka sudah sepakat untuk mencari tahu lelaki yang mampu membuat tidur Egy tidak nyaman. Dihantui tatapan tajam lelaki itu yang penuh rasa saat pertemuan yang tidak disengaja. Seolah-olah wajah lelaki itu selalu mengikuti Egy ke manapun ia pergi. Tidak ingin beranjak dalam pikirannya.
“Kemana kita harus mencarinya, Gy?”
“Tidak tahu.”
“Bagaimana kita ke lapangan basket saja!”
Mereka kini berjalan menuju lapangan basket. Mencoba melirik ke kanan dan ke kiri. Mengamati semua santri laki-laki yang sedang bermain basket. Mendatangi kantin yang biasanya tempat makan para santri laki-laki. Mereka pura-pura membeli sesuatu di sana. Padahal hanya bermaksud mencari seorang laki-laki yang membuat mereka penasaran. Mereka tidak menemukan orang yang dicari. Mereka menyempatkan mencari ke tempat duduk di bawah pohon kelas 8.2. Di mana tempat itu pertama kali Egy dan lelaki itu tidak sengaja bertabrakan. Usaha mereka sia-sia. Wajah putus asa Egy tergambar jelas. Egy merasa tidak akan pernah bertemu lagi dengan lelaki itu. Angan-angannya untuk berkenalan secara dekat dengan lelaki itu telah sirna. Kini tidak ada lagi kesempatan Egy. Mereka memutuskan untuk segera kembali ke kelas tataboga.
Wajah kecewa mereka tergambar jelas. Tidak ada lagi semangat Egy untuk mencari siapa lelaki itu. Egy berjalan dengan gontai. Hanya memandang ke depan, seolah-olah sepi di antara keramaian aktifitas Ekstrakulikuler. Sesekali ia memandang ke arah lapangan takraw. Kemudian Egy memandang ke depan lagi. Di hatinya timbul penasaran akan siapa saja yang sedang bermain takraw. Dialihkan lagi pandangan ke arah lapangan takraw. Mengamati santri yang sedang bersorak-sorak memainkan bola takraw. Tanpa disengaja Egy mengenali wajah salah satu santri yang sedang bermain takraw itu. Sejenak ia berhenti mengayunkan kakinya. Lalu, Egy memastikan orang yang ia rasa kenal tersebut. Tiba-tiba Egy berteriak kencang.
“Sinta…itu lelaki yang menabrakku kemarin.”
“Yang Mana?”
“Itu santri lelaki yang berbaju putih dan bercelana merah.”
“Gantengnya…”
Kegembiraan Egy tidak bisa diungkapkan lagi. Egy melompat-lompat kegirangan. Jantungnya berdetak kencang. Tiba-tiba wajahnya memerah seperti udang kepanasan. Sinta jadi bingung melihat tingkah sahabatnya tersebut. Sungguh Sinta tidak menyangka betapa bahagianya sahabatnya tersebut. Mereka berdua sepakat untuk melihat santri laki-laki itu secara dekat. Mencoba sedikit berjalan mendekati lapangan takraw. Mengamati lelaki itu dari kejauhan.
***
Pada akhirnya Egy mengetahui nama santri laki-laki itu dari teman sekelasnya yang bernama Ainun. Suatu hari Egy melihat Ainun sedang bercakap-cakap dengan lelaki itu. Egy tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Sebenarnya Egy ingin langsung menemui lelaki itu untuk minta maaf atas kejadian beberapa waktu lalu. Tapi ia enggan untuk langsung bergabung dengan mereka. Egy mencoba menahan hasratnya untuk bertindak gegabah. Egy sabar menunggu mereka selesai bicara. Tidak lama kemudian lelaki itu pergi masuk kelas 8.1. Tinggalah Ainun berdiri terpaku. Dengan perasaan penuh tanya Egy memberanikan diri untuk menghampiri Ainun dan mengajukan beberapa pertanyaan. Ternyata santri laki-laki yang ia cari selama ini bernama Fauzan Mubaroh. Biasa dipanggil Fauzan. Ainun menjawab semua pertanyaan yang diajukan Egy. Ainun menjelaskan bahwasannya Fauzan adalah anak dari pamannya yang bernama Firdaus. Rumah Ainun di kampung tidak begitu jauh dari rumah Fauzan. Apabila Ainun perlu bantuan, ia tidak sungkan-sungkan untuk meminta bantuan kepada Fauzan. Karena Fauzan sudah menganggap Ainun adik kandungnya sendiri di tanah rantau ini. Sudah kewajiban Fauzan membantu dan melindungi adiknya dari bahaya apapun.
Semenjak Egy tahu nama lelaki yang dikaguminya tersebut. Egy selalu membuat puisi cinta setiap malam ia berangan-angan bisa lebih mengenal lelaki itu. Buku diary Egy kini telah penuh dengan puisi cinta. Apabila ia merindukan tatapan pesona Fauzan, maka ia akan mengungkapkan rasanya melalui sebuah puisi. Lebih kurang sudah ada tiga puluh puisi ditulis Egy. Kala siang hari Egy melihat Fauzan bercanda tawa dengan temannya, malamnya akan dituangkannya ke dalam sebuah puisi.
“Apa yang sedang kamu tulis, Gy?”
“Tidak ada. Cuma coretan saja.”
“Coba sini aku baca!”
Sinta membaca lembar demi lembar puisi ungkapan perasaan cinta Egy terhadap Fauzan. Sungguh menakjubkan kata-kata perumpamaan yang dipakai oleh Egy. Sinta saja terkesima oleh makna yang disampaikan puisi sahabatnya tersebut. Sinta telah mengetahui betapa Egy mengagumi dan menyukai Fauzan. Lelaki yang berkulit putih dengan tinggi lebih kurang 170 itu. Berhidung mancung dan berwajah sedikit opal. Fauzan memiliki bola mata yang indah. Bola matanya hitam dan sekelilingnya putih jernih. Seakan-akan Egy bisa berkaca-kaca di sana.
Setiap hari sabtu, pada jam ekstrakulikuler Egy selalu menyempatkan diri pergi melihat Fauzan yang sedang bermain takraw. Fauzan adalah salah satu santri yang sangat pandai bermain takraw. Hampir setiap pertandingan yang dihadapinya, ia selalu menang. Egy mendapat kabar bahwa Fauzan juga sudah pernah mewakili pesantren untuk lomba takraw tingkat kabupaten. Egy semakin mengagumi lelaki yang bertemu tidak sengaja itu. Egy berpikir bahwasannya pertemuanya dengan Fauzan adalah kehendak Tuhan. Egy selalu berdoa setiap shalat agar bisa berkenalan dengan Fauzan lebih dekat.
Tanpa disadari Egy berdiri terlalu dekat dengan lapangan takraw. Fauzan dan kawan-kawannya keasikan memainkan bola takraw. Tidak tahu kenapa, salah satu pemain tersebut salah mengatasi pukulan dari Fauzan. Sehingga bolanya memutar arah menuju Egy. Karena tanpa persiapan Egy tidak sanggup menghindari bola takraw tersebut. Bola takraw tepat mengenai kepalanya. Egy berteriak kesakitan. Bola takraw tersebut sangat keras mengenai kepalanya sehingga membuat ia pingsan di tepi lapangan tersebut. Segera Fauzan berlari menghampiri Egy yang telah roboh ke tanah. Langsung Fauzan serta kawan-kawannya memapah Egy ke UKS. Fauzan panik. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Sesampai di UKS Egy diperiksa oleh Ibu yang bertugas di sana.
Ibu UKS memberikan keterangan bahwa Egy tidak apa-apa. Memang benar benturan bola terhadap kepalanya keras. Tapi Insa Allah Egy akan segera siuman. Ia hanya butuh istirahat beberapa jam saja. Ibu UKS tersebut mencoba meyakinkan Fauzan. Fauzan memutuskan untuk menjaga dan menunggu Egy hingga tersadar dari pingsannya. Dipandanginya wajah santri perempuan itu penuh rasa prihatin. Fauzan mengingat-ingat atas kejadian beberapa waktu lalu. Timbullah rasa bersalahnya. Sudah dua kali ia mencelakakan Egy. Fauzan ingin meminta maaf mewakili kawan-kawan atas kejadian tersebut.
Lebih kurang sudah satu jam Egy pingsan. Tiba-tiba Egy terbangun. Terlihat jelas wajah lelahnya. Fauzan menawarkan air putih kepada Egy. Egy tidak menolak karena ia memang terasa haus. Dituntunnya gelas oleh Fauzan ke mulut Egy. Tanpa disengaja mereka bertatapan. Bagi Egy itu adalah tatapan penuh cinta. Ia merasa beruntung sekali bisa sedekat ini dengan lelaki yang mengisi lembaran demi lembaran dalam bait puisinya. Dipandanginya laki-laki yang membuatnya terkagum dengan kebaikan serta kelihaiannya bermain takraw.
“Besok kamu jangan terlalu dekat ke lapangan takraw. Berbahaya.”
“Istirahat yang cukup. Semoga cepat sembuh.”
“Maafkan aku yang sudah mencelakakan kamu.”
Egy hanya memandang dan mengamati bibir Fauzan komat-kamit memberikan perhatian dan ucapan maaf. Tidak ada satupun kata-kata yang keluar dari mulut Egy. Di dalam hatinya mengiyakan apa yang disampaikan oleh Fauzan. Tapi mulutnya kali ini tidak bisa bekerjasama dengan hatinya. Hatinya ingin berkata panjang lebar. Tapi mulutnya memilih untuk diam. Kemudian Fauzan mohon pamit untuk melanjutkan kelas berikutnya. Egy hanya menjawab dengan bahasa isyarat.
***
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan tahun pun telah beranjak pergi. Egy dan Fauzan semakin dekat. Fauzan selalu memberikan perhatian terhadap Egy agar terus giat belajar. Baik belajar menghafal hadist atau pun pelajaran yang lainya. Hari-hari Egy semakin berwarna. Pelangi sering melengkung indah di atas atap pesantren.
Sampai saat ini Egy dan Fauzan tidak pernah mengikrarkan janji cinta. Tapi mereka hanya berbagi cerita dikala resah. Saling memberi semangat satu sama lain. Memang pernah Egy meminta kejelasan hubungannya dengan Fauzan. Fauzan memberikan sebuah pemahaman bahwa rasa suka dan cinta tidak diwajibkan untuk sebuah ikrar cinta. Fauzan berharap suatu saat mereka dipertemukan dengan kehendak Tuhan. Untuk saat ini marilah kita kejar impian kita masing-masing. Mari kita mencintai Tuhan dan berdoa agar kita dipertemukan semesta.(*)

 


Redovan Jamil, lahir 10 Mei 1993, asal Sijunjung, Sumpur kudus. Sedang menempuh perkuliah di STKIP PGRI Sumatera Barat, jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pernah menjadi Ketua HMJ Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumatera Barat periode 2014/2015, Wakil Ketua BEM Kabinet Biru 56 STKIP PGRI Sumatera Barat periode 2015/2016. Aktif di organisasi IMABSII (Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Se-Indonesia) periode 2014/2016. Aktif di organisasi IMAKIPSI (Ikatan Mahasiswa Keguruan dan Ilmu Pendidikan Seluruh Indonesia) periode 2016/2018. Aktif dan menjadi pengurus di komunitas kepenulisan Daun Ranting. “Perihal menulis bagiku adalah sebuah kesenangan dan kecintaan. Sebuah terapi jiwa dan renungan hati yang suci,” demikianlah katanya.
Kontak person: 085265781291

[Cerpen] Pria Pondok

Cerpen : Devian Amilla

Aku mengetuk-ngetukan pena di atas kertas yang sudah penuh dengan coretan-coretan tidak jelas. Aku mendengus beberapa kali tanda kesal karena pilhan yang diberikan Bunda. Aku dihadapkan pada dua pilihan yang hampir membuatku frustasi.

“Masuk pondok atau tidak usah sekolah.” ucap Bunda.

Aku yang saat itu sedang asyik mengotak-atik gitar kesayanganku langsung menoleh ke arah Bunda. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Bunda menyerangku dengan pernyataan yang membuatku menolaknya mentah-mentah.

“Arkan nggak mau masuk pondok. Arkan mau sekolah di sekolah negeri seperti teman-teman yang lain.” bantahku.

“Kalau Arkan nggak mau masuk pondok, lebih baik Arkan bantu-bantu Bunda dirumah saja.”

“Arkan nggak mau, Bunda! Kalau masuk pondok, Arkan nggak bisa main sama teman-teman Arkan lagi.”

Bunda menatapku dan membelai kepalaku dengan lembut, “Kalau Arkan masuk pondok, nanti Bunda belikan sepeda baru.” Bunda terus merayuku agar menuruti keinginannya.

Selama ini aku adalah anak laki-laki Bunda yang penurut. Selalu mengiyakan apapun permintaan Bunda. Mulai dari mengikuti pengajian setiap malam, les Bahasa Arab setiap pulang sekolah dan pulang kerumah lima belas menit sebelum adzan maghrib berkumandang. Aku dan Bunda hanya tinggal berdua. Ayahku sudah pulang kepangkuan Allah saat aku berusia satu tahun. Ayah mengalami kecelakaan saat berangkat mencari nafkah untuk kami. Kecelakaan hebat yang membuatku kehilangan sosok ayah sejak kecil.

Sejak ayah pergi, Bundalah yang membesarkanku dan merawatku seorang diri. Pontang-panting memenuhi kebutuhanku. Tanpa pernah sedikit pun mengeluh. Aku sangat mencintai Bunda. Hanya dengan menuruti semua keinginannyalah aku merasa menjadi anak yang berguna. Tapi tidak dengan yang satu ini. Masuk pondok? Ah, tak pernah terlintas sedikit pun dipikiranku. Aku memimpikan diterima di sekolah yang bonafit, di sekolah yang keren dengan seabreg kegiatan ekstrakurikulernya. Bukan malah masuk pondok yang dipenuhi dengan orang-orang yang memakai sarung dan peci. Aku sungguh tidak mau, Bun.

Kudengar ketukan pintu dari luar kamarku. Itu pasti Bunda. Aku sengaja mogok makan dan tidak mau keluar kamar sebagai wujud penolakan pada Bunda bahwa aku benar-benar tidak ingin masuk pondok. Tapi, bukan Bunda namanya jika menyerah. Bunda terus mengetuk pintu kamarku, bilang bahwa semua yang Bunda lakukan itu demi kebaikanku. Aku tak percaya pada Bunda. Bunda jahat. Bunda tega mengirimku ke pondok yang jauh dari rumah dan jauh dari teman-temanku.

Hari mulai gelap, perutku mulai tidak bisa diajak berdamai. Sejak pagi tadi aku menolak untuk makan, sampai sekarang belum ada sebutir nasi masuk ke lambungku. Kuringankan langkahku menuju dapur. Betapa terkejutnya aku ketika keluar dari kamar. Kudapati Bunda sedang tertidur di depan pintu kamarku sambil memegang nampan berisi makanan untukku. Tak bisa kutahan air mataku. Sebegitu besarkah keinginanmu untuk menyuruhku masuk pondok, Bun? Saat itu juga kupeluk Bunda dan kukatakan dengan lembut di telinganya bahwa aku bersedia menuntut ilmu di pondok. Bunda terjaga dari tidurnya dan tersenyum melihatku yang sedang memeluknya.

“Arkan makanlah dulu, Nak.” ucap Bunda dengan lembut.

“Arkan mau masuk pondok, Bunda.”

Mendengar pernyataanku, Bunda tersenyum. Sembari memeluk dan memangkuku, Bunda menjawab, “Percayalah sayang, sudah saatnya kau belajar ilmu agama untuk bekalmu di kemudian hari, tidak bisa selamanya kau ada disini, suatu saat Bunda ingin kita berkumpul lagi bersama ayah. Ayahmu yang bercita-cita ingin melihatmu menjadi laki-laki shaleh yang taat pada agama, Nak.”

“Kalau Arkan masuk pondok, Bunda bagaimana?” tanyaku.

“Bunda tetap disini, sayang. Arkan bisa mengunjungi Bunda beberapa bulan sekali.” ucap Bunda.

Kuseka air hangat yang tersisa disudut mataku. Kuajak Bunda untuk menemaniku makan malam. Malam ini Bunda begitu sumringah. Bisa kurasakan aura kebahagiaan dari matanya. Ah, Bunda.. Aku sungguh minta maaf atas kelakuanku tadi pagi.

Keesokan harinya kami berangkat ke Pondok Pesantren Baitussalam. Letaknya sangat jauh dari rumah, memakan waktu hingga empat jam perjalanan. Tapi tak kulihat sedikit pun rasa lelah di wajah Bunda. Bunda begitu bersemangat mengantarkanku kesana. Senyumnya terus mengembang. Terlebih lagi ketika kami sudah tiba di pintu gerbang PonPes Baitussalam. Bunda langsung meminta izin pada satpam untuk masuk ke dalam pondok. Pak satpam berkumis tebal itu langsung mengantarkan kami ke ruang pendaftaran menemui Kyai Majid.

“Pak Kyai, saya minta izin untuk menitipkan anak saya, Arkan Irhamsyah untuk belajar di pondok pesantren ini.” ucap Bunda pada Kyai Majid.

Kami duduk dalam ruangan yang begitu tenang dan rapi. Bunda menguraikan maksud kedatangan kami. Aku diapit oleh mereka berdua. Aku pasrah saja dengan apa yang mereka katakan. Bunda menginginkan aku belajar agama di pondok pesantren. Walaupun sebenarnya hati kecilku berontak disuruh mondok di pesantren. Bukan aku tak suka belajar agama. Tapi aku tak suka dengan dunia kesantrian yang terbilang, ah, pokoknya aku tidak menyukainya.

Akhirnya setelah panjang lebar Bunda menceritakan maksud dan tujuan kami, Kyai Majid menerimaku menjadi salah satu santri di PonPes Baitussalam. Dan saat itu juga aku resmi tidak pulang kerumah untuk beberapa bulan ke depan. Aku menangis saat melepas kepulangan Bunda. Belum pernah aku berpisah sejauh ini dengan Bunda. Dengan lembut Bunda mengusap air mataku, “Anak Bunda nggak boleh cengeng, belajar yang bagus ya, Nak.” Kupeluk Bunda erat sekali. Ingin rasanya aku berada di pelukanmu saja, Bun.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Sampai akhirnya aku menyadari keberadaanku di pondok sudah berjalan enam bulan. Dan sudah enam bulan lamanya aku tidak bertemu dengan Bunda. Ketua asrama tidak mengizinkan kami keluar sembarangan. Kami juga tidak dibolehkan membawa alat komunikasi. Jadilah aku dan Bunda hanya bertukar kabar melalui surat. Hari-hariku di pondok disibukkan dengan menghapal kosakata arab yang menurutku cukup sulit. Ditambah dengan hapalan-hapalan yang lain. Apalagi memahami kalimat arab yang ada di kitab. Aduh Gusti, aku mati kutu. Omelan pak Kyai, hukuman dari ketua asrama dan hukuman-hukuman lain dari ustad sering aku alami. Kalau saja aku tidak ingat bagaimana senyum bahagia Bunda, mungkin aku sudah kabur di hari pertama menjadi santri.

Satu hari sebelum ujian semesterku selesai. Aku mendapat surat dari Bunda. Tapi kali ini berbeda, Kyai Majid yang langsung menemuiku untuk memberikan surat ini. Kyai mengajakku untuk masuk ke dalam ruangannya. Sambil menyerahkan surat tersebut. Kyai berpesan bahwa apapun isi dalam surat itu, aku harus ikhlas dan sabar. Aku semakin penasaran dengan isi surat Bunda kali ini. Aku minta izin pada Kyai untuk membaca surat itu. Betapa sakitnya perasaanku ketika mengetahui isi surat itu. Mataku panas. Kakiku gemetar. Seluruh isi ruangan ini terasa seperti berputar. Kukuatkan hati dan pikiranku agar tetap bisa berpikir jernih. Kulihat Kyai di depanku hanya bisa memandangku dengan tatapan iba. Hanya Kyai yang tahu alasanku masuk pondok hanya untuk membuat Bunda bahagia.

Aku keluar dari ruangan Kyai tanpa pamit. Aku berlari ke kamar dan memasukkan seluruh pakaianku ke dalam tas. Teman-teman sekamarku tak sempat bertanya. Aku bergegas lari keluar pondok. Aku ingin secepatnya sampai di rumah. Aku sempat tidak mendapatkan izin keluar dari ketua asrama, tapi Kyai Majid mengizinkanku. Siapa yang berani membantah Kyai?  Tidak ada.

Selama dalam perjalanan aku hanya bisa menangis. Memohon pada Allah agar aku diberi kesempatan untuk melihat wajah Bunda terakhir kali. Setelah empat jam perjalanan yang penuh air mata, akhirnya aku sampai di rumah. Kulihat bendera merah sudah terpasang di depan halaman rumahku. Aku berlari secepat mungkin, kulihat Bunda sudah cantik dalam balutan kain putih itu. Kupeluk dan kucium Bunda untuk terakhir kalinya. Aku tak bisa menahan air mataku untuk tidak jatuh. Bunda, maafkan aku jika terlihat cengeng di hadapanmu. Aku sudah tak peduli lagi dengan orang-orang yang menatap iba ke arahku. Jadilah aku sekarang yatim-piatu di usiaku yang masih sangat belia. Ah, sungguh aku tidak peduli. Aku hanya ingin memelukmu lebih lama.

Bangunlah, Bun. Aku ingin bercerita tentang kegiatanku di pondok. Aku ingin menunjukkan hapalan bahasa Arabku padamu. Aku janji, aku tidak akan menjadi santri yang sering di hukum lagi. Aku janji akan jadi santri yang baik seperti yang sering Bunda utarakan dalam surat Bunda. Kumohon, bangunlah Bunda.

Usahaku sia-sia. Bunda tidak akan pernah bisa membuka matanya kembali. Bunda sudah kembali kepangkuan Allah. Mungkin sekarang Bunda dan Ayah sedang melihatku dari surga. Kuhapus air mataku. Aku tidak mau terlihat jelek di hadapan Ayah dan Bunda. Kurapikan peci yang ada di kepalaku. Kuambil Al-Qur’an di dalam tas. Kubacakan ayat-ayat Allah disamping jenazah Bunda. Bunda, sampaikan salamku pada ayah. Katakan padanya aku akan menjadi anak laki-laki shaleh yang selalu ia impikan.


 

 

Devian Amilla adalah Alumni UMSU, Jurusan Matematika, 2016. Perempuan kelahiran 13 Desember 1994 ini sekarang tercatat sebagai Guru Matematika di salah satu sekolah swasta di Medan. Bisa dihubungi di FB : Devian Amilla atau email : princessadevian@gmail.com

[Cerpen] Bocah Penyihir dan Perempuan Bertatokan Kesedihan

oleh: Ferry Fansuri

Pagi itu di Akwan Ibom seorang bocah mengais sampah untuk menyambung hidupnya. Bocah sekecil itu bertelanjang mengaduk-aduk sisa-sisa makanan diujung jalan itu. Tubuhnya yang kurus kerontang dengan perut buncit penuh cacing, sekujur punggungnya penuh luka akan siksaan masyarakat Uyo-Nigeria Selatan. Mereka menyebut bocah itu pembawa sial, kerasukan atau lebih tepat penyihir menyebarkan teluh jahat.

Badannya hitam legam bermata sayu merah itu mengunyah dan mengerat daging busuk yang telah dikerubungi lalat-lalat kotor. Ia tak tahu apakah itu bersih atau menyehatkan buatnya, hanya insting layaknya binatang untuk menghapus lapar dan dahaga. Bocah ini tak punya pilihan, dilahirkan tapi tak inginkan dan dibuang oleh orang tuanya. Dianggap bukan bayi normal, lahir dengan abnormal cacat.

Tidak ada baju sehelai ditubuh bocah ini, terik matahari dan hujan tak dihiraukan sama sekali. Kaki-kaki kecil itu hanya berbalut kulit tanpa alas menjejakkan bumi bercampur lumpur. Ia tak tahu siapa bapak ibunya, lahir menangis sekarang berkeliaran dipasar itu tak dihiraukan sama sekali.

Sekitarnya ada yang peduli tapi takut untuk dekat bocah ini, cap penyihir akan membawa kesengsaraan dan kepedihan. Mereka hanya bisa membuang sisa-sisa makanan dan dilempar ke hadapan bocah itu. Tangannya meraih tak berpikir lama memasukkan kedalam mulut, air liur menetes disela-sela bibirnya.

Tak mempunyai tempat tinggal dan malam harinya  ia tertidur diujung pasar itu, paginya ia bangun tak ada rengekan anak kepada ibunya atau gelayutan manja seorang ayah. Bocah ini hanya duduk termenung terkadang mengigil kedinginan menahan kantuknya sambil mengucek-ngucek matanya penuh dengan kotoran belek. Mengaruk-garuk kepala yang penuh luka bercampur kutu dalam rambutnya

Biarpun anak sekecil itu tapi Tuhan masih sayang dia, tubuhnya terlihat ringkih ada kekuatan dalam tubuhnya menolak untuk mati. Tetap hidup seperti menantang orang-orang yang memandang atau mencaci makinya. Kalimat kotor yang disampaikan ke bocah ini tak dimengerti olehnya.

“Kau pembawa api ditanganmu, kau anah haram jadah..cuiih!” hujatan dan cibiran berbalut ludah diarahkan kepadanya.

Tapi ia tetap diam dan tak mengerti apa yang mereka perbuat pada dirinya dan apa salahnya kepada mereka.

Terkadang suatu malam yang sunyi, bocah ini duduk sendiri memandang bintang di langit. Dalam benaknya mengapa aku dilahirkan jika tidak diakui, bahkan ia tak tahu namanya sendiri dan tak sempat mengulum tetek ibunya sendiri. Tak bisa merasa kesenangan anak kecil sepertinya lainnya, bermain bola atau saling berkejaran mengejar matahari terbenam.

Hal yang ia bisa lakukan hanyalah bagaimana melawan rasa lapar dan haus yang berada di dalam perutnya. Cacing-cacing dalam perutnya terus berontak dan minta jatah pada tuannya yang masih kecil ini. Ia hanya tahu bertahan hidup, memungut makanan yang ditinggalkan pemiliknya dan minum air sisa dari botol yang terceceran di ujung jalan itu.

Suatu ketika bocah ini berusaha mendekati kerumunan anak seusianya yang sedang bermain bola. Sifat kekanak-kanaknya itu membuat mendekati mereka untuk ikut bermain, saat bola yang diperebutkan mental kearahnya dan kaki kecil tak kuasa menendangnya mengenali salah satu anak tersebut.

Sesaat itu terhenti keriuhan disana, mereka memandang bocah ini dengan tajam seakan sangat membencinya.

“Penyihir cilik…penyihir cilik…pergi kau! Tubuhnya tak diundang disini” teriak salah satu anak disana. Mereka kompak menghujat bocah ini, melempari ia dengan batu dan mengenai kepala. Lemparan-lemparan itu membuat kening mengucur darah, tidak kepala bahkan sekujur tubuh tapi bocah ini tak pernah sekalipun menangis. Orang sekelilingan hanya diam dan tidak berbuat apapun karena hanya mengiyakan perbuatan anak-anak mereka.

Malam ini bocah penyihir ini berselimut dingin dengan sekujur tubuh penuh luka tapi ajaib luka cepat mengering. Masyarakat Uyo mengira bocah sial itu menjadi bangkai mati dan lenyap kesialan di negeri itu. Tapi paginya anak ini tetap hidup dan mengais-gais sampah dekat pasar itu lagi dan mengerat daging busuk kembali. Tuhan memang sayang sama anak satu ini, ada rencana lain buatnya.

Sudah ratusan anak menjadi korban tuduhan penyihir yang menyisahkan pedih jika melihatnya. Tuduhan tidak masuk akal untuk anak kelainan fisik, indigo atau terlihat aneh tidak seperti anak umumnya. Sekte gereja orthodox setempat mengklaim anak-anak ini kerasukan setan dan harus diusir, penguasa tidak berbuat apapun karena kemiskinan menguasai semua lini kehidupan Akwan Ibom.

Malam itu seperti malam lainnya, bocah ini duduk sendirian memandang langit matanya dan disampingnya ada seekor anak anjing yang tengil kotor disampingnya. Tanganya mengelus-mengelus kepala anjing ini

“Kau kesepian juga, akupun demikian” ujarnya biarpun anjing tak tahu apa yang dikatakan dan hanya menjulur-julurkan lidah.

“Andai dunia ini kiamat dan tak ada satuppun orang hidup. Maukah kau jadi temanku”

“Orang-orang membenciku, apa kau juga membenciku?”

“Guuuk…guukkk” timpal anjing tapi tak tahu apakah jawaban iya atau tidak sambil mengibas-gibaskan ekornya.

Percakapan bocah ini dan anjing jadi penghias mimpi malam ini yang dingin menusuk tulang

 

**************

Berita tentang bocah penyihir ini menjadi viral di medsos dan didengar kantor berita lokal dan luar. Mereka berduyun-duyun turun ke Akram Ibom untuk mendokumentasikan bocah ini, semua awak kamera menyorotnya jepretan kilat kamera bersambungan menyilaukan mata. Pewarta ini diingatkan masyarakat setempat agar meliput dari kejauhan, polisi juga memasang garis pembatas agar tidak terlalu mendekat kuatir ada jurnalis asing menyentuh bocah ini menular dan membuat citra negeri jelek dimata dunia luar.

Tapi bocah ini tak terlalu peduli akan media yang datang, semua aktivitas diiikuti terus dari ia bangun, berak, kencing sampai ngupil semua tak luput dari sorotan mata kamera media. Esoknya koran pagi terbit sore lokal muncul foto-foto bocah ini, tivi-tivi asing mengulas jadi headline “Bocah Penyihir Akram Ibom” bahkan dilakukan penelitian para peneliti sampai talkshow.

Berita bocah ini menaikkan rating televisi dan oplah koran, ini membuat para pembaca dari luar negeri berdatangan. Turis-turis berduyun-duyun ke Uyo melihat bocah ajaib, datangnya wisatawan ini membawa berkah masyarakat sekitar. Geliat ekonomi mulai naik, devisa uang dollar masuk. Banyak masyarakat sekitar membuka warung dadakan, suvenir dibuar, kaos disablon atau gantungan kunci dibuat.

Selama ini kemiskinan jadi momok sekarang tidak lagi berkat bocah ini, bocah sial ini membawa peruntungan tapi masyarakat Uyo tetap mengganggap hanya sebagai binatang yang ditonton menghasilkan uang bagi mereka

Layak hewandi kebun binatang, turis-turis itu melihat dari kejauhan dengan penjagaan polisi ketat. Bocah ini tak peduli, ia tampak duduk diatas tanah yang kotor berlumpur. Banyak makanan dan minuman dilemparkan ke bocah ini, layaknya monyet mencari pisangnya bocah ini memungutnya. Tepuk riuh kerumanan bergelegar mirip suporter bola saat tim kesayangan menceploskan gol ke gawang lawan.

Berminggu-minggu sampai berbulan pertunjukukan bocah penyihir ini digelar bahkan dikarciskan. Ekonomi penduduk setempat beranjak dari taraf rendah ke menengah atas, para istri bisa membeli perhiasan gelang atau kalung emas yang bisa dipamerkan atau para bapak bisa membeli motor dan para anak memakai baju bagus. Semua itu karena pertunjukkan konyol bocah itu, memang ironis pemandangan tersebut.

Mata sayu bocah ini suatu saat menangkap hal menarik dalam kerumunan itu, sepasang mata itu tampak indah. Mata kiri dengan bola mata biru sedangkan sebelah kanan perpupil hijau. Tapi ada pancaran kesedihan, tapi seperti ada tetes mata mengalir dibawah kelopak mata….ah bocah ini hanya melihat sekilas. Bocah melanjutkan aktivitasnya mengejar dan bermain dengan sabahat anjingnya.

Setelah berbulan-bulan para turis dan awak media luar meliput fenomena ini terjadi kebosanan. Redaktur media menarik crew untuk meliput headline lainnya yang lebih bombastis, turis juga bosan tidak ada yang dilihat dari Uyo selain bocah ini. Sedikit demi sedikit pengunjung berkurang, warung-warung tutup bertumbangan, masyarakat sekitar kehilangan pekerjaan mata pencaharian. Para ibu menggadaikan perhiasan, motor para laki-laki ditarik dealer karena menunggak angsuran. Pada akhirnya kemiskinan kembali ke Akram Ibom, ke awal sekali lagi.

Kejadian ini membuat kemarahan, orang-orang disana menyalahkan bocah penyihir itu kembali.

“Ini gara-gara bocah laknat, kita miskin lagi”

“Pembawa sial !”

“Tukang sihir !”

“Kita bunuh saja !”

“Cincang !”

“Bakar hidup-hidup!”

Semua caci maki dan hinaan sahut menyahut, malam itu mereka membuat rencana busuk

 

******************

Kesunyingan tampak pagi hari itu, deru debu berkibar terkena angin. Kota itu tampak sepi tapi diujung gang tersebut bermunculan wajah-wajah penuh ketegangan dan kebencian, hawa membunuh tersirat disana. Tidak hanya laki, perempuan dan anak kecil di tangan memegang golok, pisau, rantai ataupun balok kayu. Tampak beringas terlihat seperti dari mata mereka memerah.

“Bunuh anak itu!”

“Habisi !”

“Potong-potong, kasih daging buat makanan anjing!1”

Teriakan-teriakan itu membahana di seantero kota, mereka mencari anak itu tapi kebetulan tak tampak batang hidungnya. Mereka terus mencari dan mencari dengan tujuan menghabisi sang pembawa sial kota mereka. Amarah memucak diubun-ubun dan iblis sudah merasuki mereka tapi tak ketemukan buat pelampisannya.

Terlihat bocah itu bermain dengan anjing tengiknya dipinggiran kali kota ini, kerumunan nan beringas langsung merangsek

“Itu dia, gayang! “

“Jangan sampai hilang”

“Bunuh!

Bocah tak tak tahu kenapa orang-orang ini berlari-lari kearahnya dengan membawa beda-benda tumpul itu. Maka terjadi pembantaian sore hari itu, berbagai pukulan, tendangan, sayatan pisau dan sodokan balok kayu menghantam bocah ini. Setelah puas, mereka menginjak-injak ini di atas tanah. Tubuh itu bersimbah darah tergeletak disamping anjingnya yang lebih dulu dicincang.

Merasa bocah ini telah menghembuskan napas terakhir, jasad dibuang di tumpukan sampah berharap membusuk dan dikerat anjing liar.

Tapi mereka begitu kaget, bahwa esok bocah ini masih berdiri tegak mengais sampah kembali. Betapa geram masyarakat Uyo bahwa buruan tidak mati seperti binatang.

Hajar lagi!

Hidup kembali

Hantam sanan sini!

Tegak berdiri

Itu terjadi berulang-ulang hingga pembantaian ke-13 mereka membiarkan bocah ini di tengah lampangan hingga malam. Kali ini mereka percaya bahwa setan dalam tubuh bocah sudah lenyap dan mereka kembali ke rumah mereka masing-masing. Dan tak sadar ada mata yang memperhatikan pambantaian mereka yang miris.

Tengah malam yang dingin jasad bocah tergeletak sendiri, ada seekor anjing mendekati mencoba menjilat-jilat muka. Tak dikira mata bocah ini perlahan membuka, anjing sepertinya kaget hingga lari terkaing-kaing. Bocah ini merangkak dari kematiannya lagi.

“Aku sudah lelah, kenapa tak kau matikan aku saja” wajahnya tengadah keatas langit penuh dengan bintang.

“Aku tak tahu apa salahku ? kenapa mereka memukuliku?

“Andai kau tahu jawabannya?”

Pekat malam itu ada langkah kecil mendekati ia, langkah itu berhenti didepannya.

“Kau ..kau seperti tidak asing bagiku. Mata itu..mata itu begitu indah”

Seorang perempuan mendekati bocah ini, seluruh badannya berkulit putih berajah tato dan rambut putih pirang bak emas berkilau di gelapnya malam itu.

Perempuan ini menyodorkan botol aqua ke mulut bocah sambil berjongkok

“Kau begitu cantik, matamu berbinar”

Mata itu layaknya pelangi, memancarkan harapan dan kesedihan. Kulihat airmata itu meleleh dari matamu tapi itu bukan airmata itu sebuah tato airmata. Kenapa kau tato matamu? Apakah kau membenci kebahagian? Kenapa kau menolongku tidak seperti lainnya menghujatku? …ah aku tak tahu jawabannya.

Kau ulurkan tangamu, kau selimuti aku dengan selimut dan kau gendong aku. Begitu hangat.

Kau ajak aku pergi dari kota sialan ini, pergi jauh dari kota ini. Mereka pasti senang bahwa aku sudah tidak ada, menghilang tanpa bekas dan tidak memberikan kesialan lagi kota ini.

Dalam dekapanmu kurasakan degup jantungmu, lama tak kurasakan ini.

Karena setelah ini dan esok kau kupanggil MAMA.

 

Surabaya, Februari 2017

 

[Cerpen] Kisah Hujan dan Summer

Oleh : Nanda Dyani Amilla

 

Januari hampir habis. Hujan tidak pernah datang lagi meski hanya sekadar rintik. Dia memilih bersembunyi dalam mendung yang kelabu. Entahlah apa sebabnya, aku sendiri kadang-kadang sangat merindukan hujan, meski kini aku tidak bisa terang-terangan mencintainya. Bian, laki-laki berambut cokelat yang mempunyai alasan kuat mengapa aku begitu mencintai hujan. Dia senang mengajakku menari di bawah hujan. Merentangkan tangan lebar-lebar dan membiarkan tetes hujan membasuh wajah secara perlahan. Bian bilang, hujan adalah kebahagiaannya. Hujan adalah kecintaannya setelah aku.

Aku lebih suka menamai Bian dengan sebutan hujan. Sejak kali pertama dia mengenalkanku pada ribuan tetes air langit itu. Di bawah senja, di sebuah halte pinggiran kota. Kala itu, Bian memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Sambil tersenyum, dia banyak bercerita tentang kecintaannya pada hujan. Katanya, hujan adalah teman terbaik dalam mengingat sesuatu. Hujan adalah momen terbaik untuk mengadu pada sang pencipta raga.

Berbulan-bulan lamanya, aku semakin akrab pada hujan. Aku bahagia jika hujan datang. Aku bahagia jika hujan berkunjung. Hidupku seolah terpenuhi oleh hujan. Aku tidak butuh yang selain hujan. Hujan bisa menenangkan gundahku, bisa meminimalisir lukaku, dan bisa menjadi penyebab tawaku. Hujan adalah segala, meski banyak orang menyumpahserapahinya.

Hingga suatu ketika, hujan tidak pernah datang lagi. Hujanku tengah sibuk dengan aktivitasnya. Panggilanku diabaikan, pesanku dibiarkan. Hujan tak lagi ingin menemuiku meski aku sangat ingin bertemu dengannya. Hujan bilang, semuanya sudah berakhir. Masa-masa sejuk dan dingin itu sudah sirna. Sebentar lagi summer akan datang.

Aku mengatakan padanya bahwa aku hanya mencintai hujan. Aku tidak butuh summer. Aku hanya ingin menari di bawah hujan. Aku juga hanya ingin berdoa banyak-banyak saat derasnya hujan. Lantas, apa yang bisa aku lakukan jika hujan tak ada dan summer tiba?

Hujan datang tepat di malam aku menangisinya. Dia mengetuk kaca jendela kamarku, berbisik bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi bagaimana bisa, sedangkan kini lukaku bertaburkan namanya. Berdarah-darah hingga aku tak berdaya. Aku tidak menyukai summer. Aku tidak ingin summer ada. Tapi hujan seolah mengejekku, bilang bahwa aku terlalu arogan menyikapi semuanya. Kesukaan adalah hal yang tumbuh dari kebiasaan. Hujan bilang, kesukaanku padanya pun tumbuh bersebab kebiasaan. Maka dari itu, kehadiran summer kelak, mungkin saja juga menjadi kecintaanku. Tapi, aku enggan mendengarkan celoteh hujan. Aku menutup telingaku dengan bantal besar. Lalu menangis sesenggukan, semerdu lagu cinta kesukaan kami berdua.

Aku tidur dengan airmata yang berserakan di pipi. Hujan benar-benar telah pergi. Pagi ini, summer untuk pertama kalinya, menyapaku dengan hangat. Cahayanya menerpa wajahku lembut. Kehangatannya memberikan kesan positif di hati, not bad, aku membatin. Hari-hari berikutnya, summer lah yang menemaniku. Aku menemukan sosoknya ketika memungut daun jatuh di depan toko kue itu. Dia melambaikan tangan dan mengajak berkenalan. Sore itu, aku tahu bahwa ia bernama Biru.

Biru sangat berbeda dengan hujan. Dia menyukai Mars. Dia menyukai senja. Juga menyukai cokelat panas. Dia tidak suka hujan. Katanya, hujan itu hal terburuk yang pernah ada. Jika saja aku tak mengenalnya sebagai kekasih baruku, tentu aku akan marah besar padanya. Berani benar mengatai hujanku adalah hal terburuk. Hujan itu adalah yang terbaik. Hujan adalah saat terbaik untuk memanjatkan doa. Meminta banyak-banyak pada Tuhan agar dihadiahkan banyak berkah. Lantas, mengapa Biru tak menyukainya?

“Bagaimana kalau kita menari di bawah hujan. Sekali saja.” Pintaku kala itu.

Biru menggeleng, “Aku tak suka hujan, Mia. Hujan membuat tubuhku flu. Lebih baik kau ke sini, dengarkan aku bercerita tentang Mars. Planet merah dengan banyak cinta. Kau mau mendengarnya?”

Aku terdiam, berkedip dua kali, namun menurut. “Kau tahu kenapa aku suka Mars?” Biru bertanya. Aku menggeleng, menatapnya menunggu jawaban. “Karena di Mars tidak ada hujan,” katanya tajam. Aku melirik Biru dalam. Mengapa dia menekan kata hujan di kalimatnya? Sebegitu bencinyakah ia pada hujan? Atau dia tahu alasan mengapa aku kini sangat mencintai hujan? “Dan tidak akan ada hujan di langit senja!” lirihnya. Aku terdiam.

Hari-hari berikutnya, kunamai dia dengan sebutan summer. Dia benar-benar summer untuk hatiku yang dingin. Dia suka bercanda dan melontarkan banyak jokes, namun aku terus saja menyisir kenangan bersama hujan. Mengais-ais masa lalu dengan ketidakpastian. Apa kabar hujanku? Kapan dia akan datang lagi? Aku rindu bermain di bawah rintiknya. Tertawa-tawa melepaskan segala beban yang terasa. Aku bahagia bersama summer, tentu saja. Namun aku lebih bahagia jika bersama hujan.

Kabar hujan datang ketika malam itu kuputuskan meneleponnya. Hujan memberi kabar beserta guntur yang bersahut-sahutan. Menyambar gendang telingaku tanpa ampun. Minggu depan, hujanku akan menikah. Aku tergugu. Apa yang akan aku katakan selanjutnya? Sambungan telepon masih tersambung. Apakah mengatakan selamat adalah yang terbaik? Atau mematikan sambungan telepon dengan alasan jaringan yang kurang bersahabat?

Malam itu, kuputuskan untuk tertawa dalam airmata. Kami bercanda seperti biasa. Namun hatiku terluka karenanya. Dia menyebutkan bahwa gadis itu cantik luar biasa. Bahkan aku tak sudi membayangkannya. Bagaimana mungkin aku membayangkan gadis yang sudah merebut hujan dariku? Hujan tetap tak menyadari bahwa aku begitu mencintainya. Usai bertelepon, airmataku luruh satu-satu. Hingga akhirnya menderas dan membuat bantalku basah.

Musim hujan benar-benar sudah berlalu. Masa-masa membahagiakan sudah usai. Tak ada lagi yang tersisa selain duka lebam yang dicongkelnya dengan geram. Panah yang ditancapkan hujan terlalu dalam hingga melukai hatiku. Sejak malam itu, aku berusaha menerima summer. Mencintai summer apa adanya. Mencintai cerita summer tentang Mars yang penuh cinta. Dan sejak malam itu pula, aku berhenti mencintai hujan. Berhenti menangisi tentangnya. Berhenti mengharapkan kedatangannya. Meski kerapkali, hatiku tetap setia menyusuri kenangan.

 

 Biodata Penulis :

Mahasiswi FKIP UMSU, Semester 6, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Penulis puluhan antologi cerpen dan puisi. Novel perdananya berjudul “Kejebak Friendzone” akan segera terbit dalam naungan Novela, Bentang Pustaka. Sapa ia di email : dyani.nanda@gmail.com atau intip galerinya di instagram : gadishujan_