Arsip Kategori: Cerpen

[Cerpen] Pelukis Gunung Semeru

 oleh: M. Rosyid HW

Lukisan yang tergantung di dinding ruang tamu itu tetaplah mempesona walau sudah kutatap setiap harinya. Semacam ada aura magis yang menyeruak, mencengkeram tatapan siapapun yang melihatnya. Segunduk gunung yang membiru sangatlah gagah sebagai algojo penjaga alam disekitarnya. Hijaunya persawahan dengan gemericik sungai yang mengalir laksana prajurit-prajurit penghias alam yang bestari. Sepotong mentari mengintip dari balik punggung gunung yang begitu kekarnya. Ah, lukisan yang sangat sempurna, tak jemu-jemu aku mengaguminya.

Keindahan lukisan tersebut kata mas Bedjo adalah pemandangan di belakang rumahnya. Persis di belakang rumahnya, di lereng Gunung Semeru. Karena itulah saat dia menawariku pekerjaan untuk membantunya di rumahnya, aku tak perlu pikir panjang-panjang untuk mengiyakannya. Dan kini, aku memang benar-benar melihatnya, lukisan karya Tuhan yang terbentang di bumi-Nya dan lukisan mas Bedjo yang tergantung di dinding ruang tamu rumahnya.

Sebagai orang kampung yang tak tahu estetika lukisan, aku memang benar-benar mengagumi karya-karya mas Bedjo. Lukisannya yang ratusan itu telah melanglangbuana dalam pameran-pameran yang tak terhitung jumlahnya. Yang lebih saya kagumi, dia punya jadwal khusus untuk melukis. Persis sekitar pukul lima pagi hingga pukul sepuluh pagi dan pukul tiga sore hingga pukul tujuh malam. Katanya, kemunculan mentari dan semburat mega merah di ufuk barat akan menambah energinya untuk melukis. Itu sudah dikatakannya berkali-kali, tanpa energi matahari yang terus bergerak aku mungkin tak mampu melukis sehebat ini. Seperti tumbuhan saja mas Bedjo ini, yang membutuhkan cahaya untuk berfotosintesis, candaku. Di jam-jam tertentu tersebut dia akan menghabiskan waktunya di sebuah ruangan di pojok rumahnya. Kamar itu terletak di samping rak-rak buku di ruang tamu, juga di samping lukisan gunungnya yang maha hebat itu. Kamar itu terkesan sangat mistis. Tak ada seorangpun yang pernah memasukinya kecuali mas Bedjo. Bahkan aku, tak diperbolehkannya untuk membersihkan dan menyapunya. “Biar aku sendiri yang membersihkannya Mak,” katanya suatu ketika. Saat pagi-pagi dia memesan kopi, dia juga tak memperbolehkanku masuk. “Taruh di depan pintu aja Mak!”Ah, pelukis memang punya dunia sendiri yang tak kupahami.

***

Hangat mentari menyusuri lekuk-lekuk wajahku yang berkerut. Di umur yang baru setengah abad ini badanku sudah lapuk dan tanganku tak sekuat dulu ketika memegang sapu lidi. Ah, aku iri melihat begitu gagahnya gunung Semeru yang bertahun-tahun tak pernah kusut dan lapuk. Walaupun terkadang-kadang meletus, tapi aku yakin Semeru tak sakit, dia hanya batuk-batuk dan sakit tenggorokan. Sepagi ini, dapat dipastikan mas Bedjo masih mendekam di kamar lukisnya. Aku juga tak mau terburu-buru memasak di dapur, udara segar di luar rumah dan daun-daun yang berguguran lebih menarik minatku.

Tiba-tiba, sebuah truk melintas melewati jalan depan rumah. Menderu-deru karena tak kuat menaiki tanjakan. Di belakang deknya, tetes demi setetes air mengucur. Sepertinya truk itu mengangkut pasir, batinku. Aku heran, kenapa ada truk sepagi ini, lagipula arahnya ke atas bukan ke bawah seperti truk-truk yang lain yang mengangkut pasir dari lereng gunung. Mungkin salah satu tukang angkut pasir atau sekop atau cangkul tertinggal di lereng, aku membuyarkan keherananku.

“Den, tadi ada truk membawa pasir menuju ke lereng. Biasanya turun ke bawah, kok truk ini naik ke atas,” laporku ke mas Bedjo.

“Mungkin, ia meninggalkan sesuatu di atas,” papar Mas Bedjo kalem, terkesan cuek.

“Mak, nanti aku dibuatkan teh hangat ya, aku tunggu di kamar. Seperti biasanya, gulanya jangan banyak-banyak dan taruh di depan pintu saja.”

Tak seperti biasanya, Mas Bedjo sarapan pagi cepat sekali dan langsung menuju kamarnya. Pikirannya hanya mengarah bahwa pekerjaannya menumpuk dan imajinasinya sedang membara.

Lewat tengah hari, saat aku sedang mengepel lantai ruang tamu, sebuah truk melintas dan lagi-lagi menaiki bukit. Menjelang mentari menghilang, sebuah truk melintas lagi. Aku semakin heran. Saat makan malam, aku mengutarakan keherananku kepada Mas Bedjo, dia menjawab sekenanya.

Hari makin hari, truk-truk yang menderu-deru semakin banyak. Bahkan tidak hanya truk, seingatku ada dua mobil yang melintas. Satu berwajah colt dan berkaki pick up, satu lagi berwajah kidjang dan berkaki pick up pula. Aku juga tak tahu apa saja barang-barang yang diangkutnya. Hari itu, hari ke tujuh semenjak kedatangan truk pertama, saat mega-mega oranye mewarnai awan di atas gunung semeru, sebuah mobil fortuner warna putih tertatih-tatih menaiki lereng yang terjal.

***

Kopi yang dibuatkan Mak Eni masih mengepul hangat saat kuselesaikan sebuah lukisan yang akan dipamerkan bulan depan. Kilau secercah titik mentari yang menerpa serpihan lereng Semeru, membuat gunung itu terlihat begitu mempesona. Pemandangan itu terekam dalam memoriku dan kini telah berpindah ke dalam kanvas. Nafasku menghela lega ketika lukisan itu telah selesai dengan sempurna. Ah, akhir-akhir ini jadwal pameranku begitu padat.

Sebagai seorang pelukis gunung, pelukis gunung Semeru tepatnya, aku harus mampu mencari sudut pandang yang beragam, taburan cahaya yang berbeda, dan sebuah tempat yang strategis untuk melukis Semeru. Maka, aku membangun sebuah rumah di lereng ini. Kemudian aku membuat kamar khusus yang kupergunakan untuk bekerja. Dikamar itu aku bergelut dengan kaleng cat aneka warna yang tumpah ke mana-mana. Harum semerbak perpaduan antara air cat dan goresan kanvas lah yang membuatku sangat betah berlama-lama di kamar ini. Di ujung kamar ada sebuah kaca yang sangat lebar, kira-kira seukuran tiga kali tiga meter. Melalui kaca tersebut aku mampu memandang gunung Semeru tanpa terhalang suatu apapun, apapun itu. Tinggal menunggu matahari dan alam berputar maka nampaklah Semeru dengan ragam pesonanya. Terekamlah keindahan gunung itu ke dalam memoriku kemudian kutuangkan dalam coretan di kanvas-kanvas putih. Lama kelamaan orang-orang menyebutku pelukis gunung semeru. Dengan kamar lukisku ini beserta kaca lebar yang mengarah ke Semeru, aku memantapkan hati menjadi pelukis untuk menyalurkan hobi dan mengais rezeki.

Hingga pada suatu pagi, Mak Eni memberitahuku tentang adanya sebuah truk yang menaiki lereng. Aku mencium gelagat tidak enak yang memasuki relung-relung hatiku. Pasti akan terjadi sesuatu dengan Semeru ini. Hari makin hari kata Mak Eni truk yang melintas semakin banyak, aku tak tahu dan aku tak peduli karena aku hanya fokus dan mengisolasi diri di kamar lukisku. Lukisan telah mengasyikkanku dengan bergelut bersama kanvas, kuas, cat yang berwarna warni dan sekepul kopi hangat.

***

Hari itu, mendung sedang bergelayut di lereng-lereng yang rimbun dengan kehijauan. Kegagahan Semeru tertutupi oleh kabut-kabut pagi yang belum mencair oleh sinar matahari. Saat sapu lidiku belum membersihkan seluruh daun yang berserakan, iringan mobil-mobil melewatiku. Ada sekitar delapan mobil. Kata tetangga sekitar rumah, hari ini sebuah pabrik air minum akan diresmikan oleh bupati. “Ah, pabrik minum? Mengapa harus ada pabrik di tengah rimbunan pohon-pohon ini? Mengapa harus ada pabrik di lereng gunung?”

Saat aku beralih untuk membersihkan ruang tamu, aku kaget. Lukisan Gunung Semeru yang tergantung sudah tidak ada di tempat. Mungkin mas Bedjo telah memindahkannya pikirku. Kuingat-ingat kembali, lukisan ini masih ada kemarin sore. Aku kembali terheran saat Mas Bedjo tak membuka kamar lukisnya saat aku mengetuknya berkali-kali berharap dia akan menyantap masakan yang telah kuhidangkan. Tak biasanya dia seperti ini, paling-paling dia akan menyahut “Taruh di depan pintu aja Mak”, “Ya sebentar lagi Mak, masih tinggal sedikit”atau langsung keluar memenuhi penggalianku. Kucoba membuka knop pintu berkali-kali. Terkunci dari dalam. Dia tetap tak menyahut.

Ketika malam menjelang dan hawa dingin pegunungan mulai menusuk, aku kembali mengetuk kamar lukisnya. Dia tetap tak menyahut, aku mulai curiga. Pasti terjadi sesuatu dengan mas Bedjo. Terngiang-ngiang di telingaku saat mas Bedjo melarangku untuk memasuki kamar itu walau dalam keadaan apapun. Tapi, hatiku memberontak. Dengan tubuhku rentaku, kodobrak kamar itu dan berhasil. Gelap menyelubung, bau cat air menyeruak. Kunyalakan lampu, barulah aku mulai tahu seluruh isi kamar ini setelah bertahun-tahun aku bekerja disini. Ini galeri lukis mas Bedjo, batinku. Pandanganku mencari-cari, kutemukan dua lukisan berjajar di atas sebuah kayu. Satu lukisan yang biasa kulihat di ruang tamu, satunya lukisan baru dengan cat yang masih basah. Terlukis jelas disana, sebuah menara dan asap yang membumbung menutupi gunung Semeru. Aku memandang lurus ke depan, kaca-kaca pecah berantakan. Terpampang gunung Semeru yang tak lagi gagah karena tertutupi menara dan asap pabrik. Seonggok tubuh kutemukan tergeletak di belakang kedua lukisan itu. Pergelangan tangannya tergores dan masih mengucurkan darah merah. Sebuah kertas ada ditangannya; keindahan Semeru telah mati, pelukisnya akan menyusul keindahan itu. Lewat retakan dan pecahan kaca, kulihat Semeru masih membisu menyaksikan pelukisnya, mungkin juga membeku atau bersedih, aku tak tahu. Besok, aku tak mempunyai majikan lagi.(*)

 

*M. Rosyid HW

Pegiat sastra di Komunitas Lilin lantai

Tulisan-tulisannya beterbaran di koran nasional dan lokal

Cerpen terakhirnya “Cabai di Belakang Rumah” terbit di Koran Madura 15 Juli 2016

No. HP                        :  085608554809

[Cerpen] Melati Kuning

Oleh: Gusti Trisno

Aku duduk di serambi masjid menunggu lalu-lalang para jamaah yang tak pernah henti berkomunikasi dengan-Nya di rumah-Nya yang begitu indah. Entah, mereka benar-benar sholat atau hanya mengagumi keadaan struktur bangunan yang memiliki emas 24 karat. Aku tak tahu dan tak ingin tahu.

Dari lalu-lalang beberapa pengunjung (atau jamaah sholat) aku seperti melihat sosok perempuan yang ada dalam masa laluku. Ah. Letih rasanya, jika membicarakan sosok perempuan itu. Pasalnya sudah bertahun-tahun, kutulis surat pun kulakukan. Tak sedikit pun ada balasan.

Dengan rasa penasaran kudekati perempuan yang memakai kerudung tak terlalu panjang itu. Ia pun langsung membalas dengan senyuman yang menggetarkan jiwa.

Ah. Wajahnya begitu indah. Lebih indah dari perempuanku di masa lalu. Aku terpesona sebentar, kemudian berusaha bertanya darimana asalnya.

“Aku dari Jember, Mas. Baru saja tiba di Situbondo untuk melihat masjid indah yang bagian pilar dan kubahnya itu terbuat dari 24 karat.” Jawabnya.

Sudah kupikir sebelumnya, jika masjid ini ramai karena kemegahannya. Bukan karena hal lainnya.

“Ooo…” hanya itu yang terlontar dari mulutku.

Tak sedikit pun ingin bertanya mengapa perempuan itu mirip dengan perempuanku di masa lalu. Bukankah bisa saja mereka adalah kembar seperti dalam sebuah sinetron picisan yang seolah menganut hukum,“Jika sepasang anak kembar  terpisah, pasti akan bertemu di masa depan dengan karakter bagai bumi dan langit.”

Ah. Ya. Memang dari tata cara senyum dan ucapannya mereka jelas berbeda. Tapi dari keanggunan tetaplah sama. Dan aku tak berani berkata jika mereka; kembar.

Ia segera meminta diri padaku yang begitu kaku. Begitupun dengan iring-iringan orang disebelahnya yang mungkin saja keluarga. Ah. Keluarga. Kapan rasanya aku bertemu dengan keluarga? Sedang diri hanya terasing di sini. Tak ada sanak kerabat sebagai tempat berbagi kisah.

“Maman…,” sapa seorang lelaki memakai peci putih.

Aku segera mendekatinya, lelaki itu kemudian memberiku beberapa lembar rupiah, lalu menyuruh membelikan beberapa bungkus nasi untuk marbot di masjid ini. Dengan sigap, aku langsung manut atas perintahnya. Tak ada sedikit pun rasa menolak ataupun yang lainnya.

Jelas saja. Penolakan berarti penghinaan yang berujung pada pemecatan. Kredebilitas sebagai marbot haruslah dipertahankan.

***

Malam tiba, situasi di masjid masih sama dengan siang. Malah pengunjung semakin bertambah. Dari wajah mereka terdapat banyak topeng, mulai dari topeng keikhlasan, sampai topeng maling. Sudah berapa kali masjid ini menjadi sasaran penjahat dibalik songkok berwarna putih-hitam yang ternyata seorang pencopet.

Mereka pun bukan cuma sekali-dua kali beraksi. Tapi berkali-kali. Dan malam ini, kuperhatikan ada seseorang yang berlagak mencurigakan, tampak bingung memandangkan wajahnya ke kiri-kanan.

Tanpa ba-bi-bu segera kumendekat. Kuberjalan memutar tubuhnya. Ia bertambah bingung dengan gerak-gerikku.

“Sudah dapat berapa mangsa?” tanyaku tanpa basa-basi.

“Apa maksudmu?” ia balik bertanya.

“Ah. Pencopet berpeci sepertimu tak usah berkelit. Ngaku saja!”

Keributan segera terbentuk. Ia tak juga mengaku. Satpam masjid segera mengamankannya. CCTV yang merekam kelakuan anehnya pun diputar. Tak ada rasa mengelak lagi. Ia pasti pencuri.

“Tidak, aku bukan pencuri,” elaknya, tak ingin dituduh.

Beberapa orang mendengar pernyataannya, bersiap memberi pukulan kepada lelaki itu.

“Aku ke sini untuk mencari melati berwarna kuning untuk istriku yang  sedang sakit dan hanya bisa sembuh dengan melati itu. Aku sudah berkeliling masjid.  Tapi, tak juga kutemukan. Padahal, dulunya masjid ini adalah rumahnya,” akunya, kemudian.

Hey, ini bukan zaman purba. Orang sakit itu dibawa ke dokter! Bukan malah mencari melati berwarna kuning! Kamu ini mengada-ada saja!” kata satpam bertambah geram.

“Siapa istrimu?” tanyaku.

Ia segera menyebut sebuah nama, seperti yang pembaca duga; perempuanku di masa lalu. Aku segera mengajak lelaki itu menuju belakang masjid. Di sana hiduplah melati kuning kesukaan perempuanku dulu yang kini menjadi istrinya. Ia pun langsung memetik beberapa bunga. Lalu berucap terima kasih.

Lelaki itu tersenyum senang. Sedang hatiku bertambah sakit akibat kabar yang baru saja kuterima. Sudah bertahun-tahun tak tahu kabarnya. Kini, ia hidup dengan laki-laki cengeng dalam novel picisan yang pernah kubaca.

Bak film yang diputar di kepala. Aku menjadi ingat kembali tentang masa lalu. Dulu, dulu sekali. Kami berdua sering main bersama, berkejaran mengejar layang-layang walaupun akibatnya kami kena marah orang tua. Orang tuanya yang termasuk kalangan priyayi di desa kemudian menjadi marah dan melarang kami untuk bermain bersama. Tapi, tentu sebagai bocah ingusan. Kami tak hilang akal. Pun, ada saja permainan-permainan yang bisa kami lakukan. Dan, yang paling tidak diketahui banyak orang adalah eksprimen menanam melati kuning. Memang terdengar aneh, tapi itu nyata.

Melati kuning itu merupakan persilangan antara bunga kemuning yang memiliki aroma bangkai dan bunga melati putih. Waktu itu, kami hanya menanam bijinya di dalam tanah yang sama. Dan, entah setelah sekian lama. Tumbuh melati berwarna kuning di belakang rumahku.

Berdasar alasan itu, kami menjadi semakin sering bersama. Pun, aku memiliki kesukaan baru, yakni: memberikan setangkai melati kuning pada telinganya yang berukuran sedang. Sungguh waktu itu, ia merasakan senang yang berlebih.

Dan, aku pun merasakan hal yang serupa. Kejadian tersebut kami ulang berhari-hari tanpa rasa bosan. Hingga kemudian, sesuatu terjadi pada keluargaku. Orang tua menjadi kolaps setelah ditinggal lari pelanggan tetapnya ke luar kota dengan membawa banyak hutang. Jauh dari itu, Ibu tiba-tiba sakit keras, mungkin terlalu banyak mikir. Ayah pontang-panting dengan keadaan yang seakan memuakkan itu. hingga akhirnya tanah kami menjadi anggunan ke bank untuk meminjam. Sayang, sengsara tak dapat dihindari. Uang dari bank berhasil didapat. Tapi, tak bisa menjamin nyawa Ibu untuk diperpanjang.

Ibu meninggal. Tepat ketika Ayah membawa segepok uang. Dan, saat itu. aku seperti melihat kegagalan kedua orang tua. Seharusnya Ayah langsung mengembalikan uang itu ke bank atau setidaknya menggunakannya sedikit untuk biaya pemakaman. Tapi, nyatanya Ayah melampiaskan kekesalan dengan menghambur-hambur.

Tak terhitung. Sejak kematian Ibu. Ayah bergonta-ganti pasangan. Isak-isak kenikmatan pun sering kudengar. Aku bukannya ikut menikmati, tapi merasa jijik luar biasa. Seandainya waktu itu aku cukup umur. Barang tentu aku menentang Ayah. Tapi, bukankah anak kecil tidak boleh menentang orang tua? Apalagi ada cap anak durhaka yang begitu mudahnya diucapkan!

Keadaan itu membuatku mengubah haluan. Aku tak boleh sama seperti Ibu juga Ayah. Sayangnya, di tengah butuh dukungan moril. Perempuan di masa laluku itu pergi dengan keluarganya. Dan, ternyata nasibnya hampir sama dengan keluarga kami; kena hutang dan rumah sebagai jaminan.

Waktu itu, aku sungguh tidak bisa menahan rasa haru. Entah mengapa, ingin rasanya aku bertanya pada Tuhan. Apakah Ia telah pergi? Membiarkan segala sepi dan sedih menghampiri hamba-Nya yang tak tahu diri!

Oh! Sudahlah! Toh aku sudah move on! Apalagi sejak kejadian itu, Ayah juga meninggal. Sekalipun batinnya sudah lama meninggal akibat frustasi terhadap hutang yang tak bisa dibayar juga kematian Ibu.

Dan, aku yang tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa memelas kasih pada orang sekeliling. Beruntung, tanahku dan tanah perempuan di masa lalu itu dijadikan tanah wakaf. Masjid berkilau emas pun dibangun. Menjadi masjid yang paling megah di Situbondo atau mungkin Jawa Timur.

Dari bekas rumah itu, hanya satu yang bisa kuselamatkan; bunga melati kuning. Sekalipun, kini suaminya meminta bunga tersebut!

Ah. Mengapa perangai lelaki cengeng yang mendapatkan perempuan penyuka melati kuning itu? Mengapa tidak aku saja? Itukah yang namanya jodoh?Entahlah!

***

Setelah membantu lelaki itu, aku kembali disuruh ke luar masjid untuk membeli beberapa bungkus nasi. Jalanan lengang menyambutku, tak ada sedikit pun kemacetan yang sering terjadi. Suara angin dan jangkrik beradu kencang menambah rasa nyilu yang tiba-tiba datang.

Di depanku ada seseorang yang baru saja mendapat peristiwa kecelakaan. Dan betapa terkejutnya aku, jika yang kecelakaan itu adalah suami perempuanku itu.

“Mas, tolong bawakan melati kuning itu pada istriku. Dia harus bisa disembuhkan. Rasanya aku seperti bertemu kematian.” Ucapnya, lalu mengembuskan napas terakhirnya.

Aku pun segera melakukan perintahnya. Uang yang seharusnya digunakan untuk membeli nasi malah dibuat untuk pergi ke rumah yang alamatnya telah disodorkan padaku. Dan sekitar satu jam kemudian, aku telah tiba di Desa Dadapan Bondowoso. Desa yang jauh lebih tenang dari keramaian Kota Situbondo.

Rumah bercat putih dan tembok tak terlalu tinggi, langsung menjadi sasaranku. Dan perempuan itu telah menunggu dengan rasa lelah yang tiada tara di bilik kamar sederhana.

“Suamiku, tolong buatkan jus dari melati yang kaubawa itu.” katanya, tanpa sedikit pun melihat wajahku.

Aku pun segera melakukan apa yang diperintahkannya. Dan beberapa menit kemudian, jus aneh itu langsung diminumnya.

“Terima kasih suamiku, aku sekarang sudah baikan. Aku sayang kamu. Tapi sungguh, pemuda bernama Maman lebih kusayang.” Katanya, manja. Sambil mengecup keningku. [!]

 

Gusti Trisno. Aktif menulis cerpen, puisi, novel, dan resensi. Penggiat Komunitas Penulis Muda Situbondo ini lahir di Situbondo pada tanggal 26 Desember 1994. Saat ini, ia menjadi mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Jember. Ia pernah menjadi juara 2 Penulisan Cerpen dalam Pekan Seni Mahasiswa Jawa Timur 2016. Tulisannya dalam bentuk cerpen dan essay telah dimuat di beberapa media. Ia bisa dihubungi di Facebook: Gusti Trisno, E-mail: gusti.trisno@gmail.com atau telepon: 085330199752.

[Cerpen] Tidak Ada yang Sia-sia

Oleh: Nasrul M. Rizal

Nayla mengembuskan napas panjang sebelum mengetuk pintu rumahnya. Sudah cukup lama dia tidak pulang. Kesibukan sebagai mahasiswa tingkat akhir memaksanya memendam rindu. Namun beberapa minggu terakhir orang tua Nayla sering menghubungi,ada hal penting yang ingin dibicarakan secara langsung. Karena tidak ingin mengecewakan orang tuanya terlalu lama, Nayla pun memutuskan untuk pulang.

“Assalamualaikum,” ucapnya Nayla setelah beberapa menit mematung di depan pintu.

“Waalaikum salam,” jawab seorang perempuan dari dalam rumah.Setelah itu pintu pun terbuka. Perempuan setengah baya langsung memeluk Nayla.

Nayla masuk ke rumahnya yang sepi, yang hanya dihuni oleh Ibu dan ayahnya saja. Kedua kakaknya (laki-laki) sudah berkeluarga dan tinggal di Bandung. Nayla pun terpaksa meninggalkan kedua orang tuanya karena harus kuliah di Ibu Kota. Siang ini Ayah Nayla masih ada di kebun.

Menyadari putrinya kelelahan, Ibu Nayla mempersilakan untuk beristirahat. Ia menahan diri untuk berbicara mengenai hal penting yang memaksa Nayla pulang. Sebetulnya Nayla sudah tahu apa pembicaraan “penting” yang dimaksud orang tuanya. Bukan, bukan tentangrasa sakit yang mereka derita.Apalagi perihal rindu yang menggebu. Tapi “sesuatu”yang membuat Nayla berpikir berkali-kali.

Ruangan berukuran 4 x 3 m2 di lantai dua, menjadi kamar Nayla. Ia beruntung mempunyai kamar sendiri. Tidak seperti kedua kakaknya yang harus berbagi tempat tidur. Nayla merebahkan badannya diatas kasur. Perjalanan lima jam Jakarta-Garut lebih dari cukup membuatnya lelah. Namun lelah yang dirasakan badannya tidak seberapa berat dibandingkan lelah yang menggelayuti hatinya. Nayla harus membujuk hatinya mengikuti kemauan orang tuanya. Ya, pembicaraan penting itu perihal rencanamenjodohkan Nayla dengan seorang lelaki pilihan orangtuanya. Lelai yang bahkan tidak dikenalNayla. Perkara satu ini membuatnya dilema.

Nayla tidak pernah meragukan pilihan orangtuanya. Ia sadar betul lelaki yang dipilih tentu saja lelaki baik-baik. Bahkan sesuai dengan kriteria yang ditetapkannya, berpendidikan tinggi dan berahlak baik. Ya lelaki itululus dariUniversitas Al-Azhar Mesir dengan predikat mumtaz. Dan dia juga hafidz 30 juz. Tidak ada alasan lagi untuk menolak perjodohan ini. Namun hati Nayla justru menolaknya, ia terlanjur memilih seseorang.

***

Sepuluh tahun silam Nayla aktif di Rohis Sekolah. Nayla suka membaca.Tak ayal perpustakaan di Sekre Rohis menjadi tempat favorite mengisi waktu luang. Baginya membaca merupakan kewajiban. Dia ingat ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, Iqra (bacalah!). Dengan membaca dia mengenal dunia, mendapat pelajaran terhebat dari kisah orang-orang hebat, serta mempunyai pegangan untukmenjalani hidupnya. Tidak jauh berbeda dengan Nayla, ada seorang lelakiyang suka sekali membaca buku. Baginya buku adalah teman terbaik. Menghibur di saat duka dan pengingat kala bahagia. Dia kakak kelas Nayla.

Beberapa kali Nayla bertemu dengan lelaki itu. Hanya senyuman saja yang mewarnai pertemuan mereka. Tidak lebih. Perlahan tapi pasti sesuatu tumbuh di hati Nayla. Dia mengagumilelaki berkaca mata itu. Pintar, ramah, sopan dan baik, membuat lelaki itu menjadi idaman siswa perempuan. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menggoyahkan prinsipnya. Ia tidak mau pacaran. Sungguh langka ada seoranglelakiseperti itu hidup di jaman sekarang.

Minggu depan lelaki itu lulus sekolah. Artinya dia akan meninggalkan Nayla. Dalam helaan napas yang sama, Nayla merasa bahagia dan juga sedih. Bahagia karena lelaki itu mendapat nilai tertinggi, sekaligus dinobatkan sebagai lulusan terbaik di sekolahnya. Dan sedih karena dia tidak bisa lagi bertemu dengan lelaki berkaca mata itu, yang selalu tersenyum manis ketika berpapasan dengannya.

Hari kelulusan pun tiba. Lelaki itu berbicara di depan ratusan siswa dan puluhan guru. Mewakili siswa-siwi kelas XII dia berterimakasih dan juga meminta maaf. Dia juga menitip pesan untuk menjaga silaturahim, terutama untuk anak-anak rohis. Air mata membanjiri sekolah. Perpisahan ialah hal yang amat dibenci. Sungguh kejam seseorang yang membuat mantra, “Setiap pertemuan pasti ada perpisahan”.

Mata Nayla menyapu seluruh bagian Sekre Rohis. Dia mencari seseorang, bermaksud memberi kenang-kenangan. Sayang orang tersebut tidak terlihat walau batang hidungnya. Air mata mentes dari mata Nayla. Dia tidak tahu betul alasan di balik air matanya. Susah payah Nayla membendung air mata tersebut.

Tiba-tiba seseorang menghampirinya, lalu bertanya, “Kamu kenapa Nay?”

“Tidak apa-apa Kak.” secepat mungkin Nayla mengusap air matanya.

“Beneran gapapa?”

Nayla mengangguk pelan.

Oh iya, kakak ingat sesuatu Nay.”

Nayla menatap heran.

Perempuan berlesung pipit yang dipanggil kakak mengambil sesuatu dari dalam tas. “Nay, kemarin dia nitip ini ke aku. Katanya maaf tidak bisa memberikannya secara langsung.”

Tiba-tiba air mata mengucur deras dari mata Nayla. Entah apa maknanya. Mungkinkah Nayla bahagia karena diberi kenang-kenangan? Atau justru sebaliknya? Tidak ada yang tahu persis makna air matanya.

“Terima kasih Kak Qiya.” Nayla berusaha tersenyum meski pipinya terlanjur basah.

“Iya sama-sama, jangan sedih gitu Nay. Ingat! Setiap orang diciptakan berpasang-pasangan. Allah sudah menentukan jodoh kita. Tidak ada yang bisa melanggar ketentuan itu,” ucap Qiya menghibur Nayla. “Sudah dulu ya Nay, sampai jumpa lagi.”

***

Waktu berlalu sangat cepat, sepuluh tahun sudah Nayla tidak bertemu dengan lelaki itu. Selama sepuluh tahun pula dia menyimpan buku pemberian darinya. Tidak terhitung sudah berapa kali dia membacanya. Tidak terhitung pula berapa kali ia membuangnya. Meski beberapa saat kemudian ia pungut kembali. Ia selalu gagalmembuang barang yang membuat bibirnya tersenyum tapi matanya menangis.

Ketahuilah di dalam buku tersebut tersimpan secarik kertas, pesan dari si pemberi buku.

Air mata kembali mentes dari kelopak mata Nayla. Air mata sepuluh tahun silam yang sampai detik ini belum juga kering. Nayla lamat-lamat membaca buku lusuh itu. Bukan bukunya yang membuat dia menangis, tapi kenangan yang menyertainya. Kenangan dengan seseorang yang selalu tersenyum saat berpapasan dengannya. Seseorang yang ia jadikan sebagai motivator. Yang membuatnya bisa melangkah sejauh ini. Yang membuat namanya tercatat sebagai mahasiswa pada salah satu Universitas ternama di Indonesia.Yang membuat ia menyibukan diri. Ya, baginya kesibukan adalah senjata paling ampuh untuk mengusir kesedihan. Sibuk memperbaiki diri, memantaskan diri dan juga berprestasi. Nayla berusaha keras untukberdamai dengan hatinya. Berhenti menanti lelaki tersebut untuk datang ke rumahnya.

Pilihan berat dihadapi Nayla. Ia tidak bisa lari dari pilihan tersebut. Jika ia menolak untuk dijodohkan, tentu saja orang tuanya akan kecewa. Menyakiti perasaan orang tua merupakan pantangan bagi Nayla. Namun, jika dia menerima,itu sama saja dengan menyakiti hatinya sendiri. Membunuh perasaan itu. Mengalah pada takdir. Dia harus berusaha keras membujuk hatinya merelakan seseorang yang bertahun-tahun ada disana untuk pergi.

“Bismillah, ya Allah apapun yang terjadi, aku yakin itu yang terbaik untukku.” Nayla mengambil keputusan.

***

Ibu Nayla menyuruh anaknya untuk bersiap-siap, memakai baju yang bagus dan make up. Tanpa make up saja Nayla sudah cantik, apalagi memakai make up?bisa-bisa bidadari pun iri padanya. Tidak banyak orang yang diundang dalam acara penting ini, hanya beberapa keluarga Nayla saja.

Belasan pasang mata menatap Nayla, kecantikannya berhasil menghipnotis mereka. Ruangan hening seketika. Nayla malu-malu mencuri pandang pada lelaki yang akan melamarnya. Hatinya berbisik “sepertinya aku pernah melihat lelaki itu. Hmm… jangan-jangan dia ..” logikanya melarang dia berpikir aneh-aneh, “Bukan. Bukan dia!”

“Sebelumnya kami ucapkan terimakasih atas jamuannya. Langsung saja pada inti dari kedatangan kami kesini. Adapun maksud dari kedatangan kami yang pertama untuk menyambung tali silaturahim diantara keluarga bapak dan kami. Selain itu, kami juga mau membahas perihal anak kami yang beberapa minggu kemarin sudah menghubungi bapak. Sebelumnya mohon maaf. Saya atas nama anak saya, Fatih, bermaksud untuk meminang putri bapak,” ucap Ayah lelaki tersebut.

Jantung Nayla berdetak sangat kencang. Rupanya lelaki yang ingin melamarnya bernama Fatih. Hah Fatih? Sepertinya nama itu tidak asing untuknya.

“Kami juga ucapkan terimakasih karena bapak dan keluarga bersedia datang ke rumah sederhana ini. Mohon maaf bila jamuan kami tidak seperti hotel bintang lima,” ayah Nayla sedikit bergurau yang disambut tawa semua orang, “Megenai lamaran dari putra bapak, sepenuhnya kami serahkan kepada putri kami,” lanjutnya.

Belasan pasang mata kini tertuju pada Nayla. Menunggu jawaban darinya. Tatapan mereka membuat jantung Nayla berdetak sangat kencang. Tiba-tiba kenangan sepuluh tahun silam berkelebat di pikirannya. Seperti kaset yang berkali-kali diputar.Satu menit. Dua menit Nayla belum merespon. Ia masih membujuk hatinya. Belasan pasang mata tajam menatap Nayla. Dari belasan orang yang ada di sana, sudah dipastikan Fatihlah yang harap-harap cemas menanti jawaban dari lamarannya. Satu tarikan napas panjang, Nayla mengambil keputusan.

***

Satu bulan setelah lamaran, Nayla menikah dengan Fatih. Lulus dengan predikat cum laudge menjadi kado pernikahannya. Kini Nayla resmi menjadi istri Fatih. Dia harus berbagi tempat tidur dengannya. Mewarnai waktu yang ditawarkan siang dan menikmati secuil waktu yang disediakan malam.

Malam hari, rahasia besar pun terungkap. Fatih menemukan buku lusuh di almari Nayla. Menyadari hal tersebut, Nayla meminta maaf pada Fatih. Dia mengakui kalau sebelumnya menaruh hati pada seorang lelaki. Buku itu kenang-kenangan dari lelaki tersebut. Fatih menatap lamat-lamat Nayla. Tersenyum. Lalu berkata “Tidak apa-apa, karena lelaki yang memberi buku ini untukmu adalah aku. Maaf dulu aku tidak sempat memberikannya langsung.Soalnya harus pulang, malam itu juga harus terbang ke Mesir.”

Nayla langsung memeluk Fatih. Menangis bahagia.

Fatih berbisik membaca kata-kata yang ia selipkan di buku tersebut.  “Setiap orang diciptakan berpasang-pasangan. Allah sudah menentukan jodoh kita. Tidak ada yang bisa melanggar ketentuan itu.”

Sempurna sudah penantian Nayla.Hati Nayla berbisik “Ya Allah terimakasih, aku tahu tidak ada yang sia-sia dalam penantian ini. Terimakasih Kau telah anugerahkan dia untukku. Rahmatillah pernikahan kami.”

 

Biodata Penulis

Nasrul M. Rizal lahir ke bumi 22 tahun silam, tepatnya 27 Agustus 1995, di Garut. Aktif di komunitas kepenulisan, yang diisi oleh orang-orang galau dan jomlo, KAFE KOPI. Beberapa cerpennya telah dimuat di berbagai media daring. Bisa dikepoin melalui: mr.nasrul19@gmail.com

[Cerpen] Cukup Lima Huruf Saja

 

Oleh: Nasrul M. Rizal

Ruangan itu kurang lebih berkapasitas 200 orang. Semua kursi sempurna terisi. Tepat di bagian depan ruangan ada sebuah panggung. Di atas panggung tersebut ada dua sofa berwarna cokelat serta satu buah meja kecil. Bukan hanya itu saja, di belakang sofa terpampang backdrop bertuliskan Talk Show Bersama Dito, Penulis Novel ‘Cukup Lima Huruf Saja’.

Ruangan berkapasitas 200 orang itu mulai hening saat seorang perempuan berdiri di atas panggung, memulai acara. Perempuan tersebut memperkenalkan diri. Nayla ujarnya. Nayla memanggil Dito untuk naik ke atas panggung. Sekali lagi ruangan menjadi riuh dengan tepuk tangan.

Dito duduk disebelah Nayla.

“Sebelumnya saya ucapkan selamat datang di Kampus Isola dan terimakasih karena Mas Dito berkenan datang kesini untuk berbagi cerita dengan kami. Saya merasa bangga bisa duduk di sebelah anda.” Nayla tersenyum. Memulai pembicaraan.

“Saya merasa bahagia bisa datang lagi kesini. Dulu saya sama seperti teman-teman, duduk di sana menjadi peserta. Sekarang Alhamdulillah saya datang lagi kesini, duduk di atas panggung menjadi pembicara,” ujar Dito tersenyum, Tangannya menunjuk kursi di bagian belakang.

Ratusan pasang mata sempurna melihat ke arah Dito. Mata tersebut berbinar seakan berkata “Wah hebat.”

“Mas, sebelum acara ini dimulai banyak sekali yang menghubungi saya. Mereka menitip pertanyaan untuk Mas. Sepertinya hari ini Mas akan cukup sibuk untuk menjawab.” Nayla bergurau.

“Tidak apa-apa, saya akan menjawab semuanya. Apalagi yang bertanya perempuan secantik kamu, tidak ada alasan untuk tidak menjawab.” Dito membalas gurauan Nayla.

Ratusan bibir tersenyum menanggapi gurauan Dito. Sedangkan Nayla tersipu malu, pipinya merah.

“Oh iya, manggilnya Bang aja yaa. Kalau dipanggil Mas kesannya sudah tua. Terus saya takut dijual, Mas kan mahal.” Ruangan berkapasitas 200 orang itu pecah oleh gelak tawa.

“Siap Mas, eh Bang hehe,” canda Nayla, “lanjut ya Bang. Beberapa bulan terakhir buku Abang laku keras. Nah itu kira-kira kenapa ya?”

“Kayanya pas beli buku matanya kelilipan. Jadinya beli buku saya, karena terlanjur dibeli, makanya dibaca,” Dito menjawab santai.

“Haha, Abang bisa aja.” Nayla tertawa, begitupun dengan yang lainnya. “Pertanyaan yang tadi cuma bercanda ya Bang, hehe.”

Dito tersenyum. Tanpa Nayla bilang, dia pun sudah tahu kalo itu cuma bercanda.

Nayla melihat secuil kertas yang ia pegang. Lalu melontarkan pertanyaan.

“Bang, seperti yang kita tahu, novel ‘Cukup Lima Huruf Saja’ menjadi best seller dan meraih berbagai penghargaan. Kalau boleh tahu Abang mendapat ide darimana?” Nayla lanjut bertanya.

“Sebetulnya yang mendapat perhargaan itu bukan saya. Tapi semua orang yang sudah membacanya. Karena tanpa kalian, buku itu hanya sebatas tinta yang berjejer di atas kertas. Buku ‘Cukup Lima Huruf Saja’ merupakan buku yang paling lama saya tulis. Butuh lima tahun untuk merampungkannya. Saya memulainya saat menjadi mahasiswa.”

“Oh, gitu Bang. Lama juga ya prosesnya.”

Dito tersenyum.

Sekai lagi Nayla melihat secuil kertas yang ia pegang. Di kertas tersebut terdapat daftar pertanyaan “titipan”.

“Dalam novel ‘Cukup Lima Huruf Saja’ si tokoh utama memberi sebuah buku pada seorang perempuan. Kenapa harus buku, Bang? Tidak bunga atau kue gitu?”

“Karena saya mencintai buku. Dan novel itu menceritakan perjalanan cinta saya. Keluh kesah saya merangkai huruf, menggambarkan kenangan, yang sedari dulu ingin dilupakan. Seiring dengan semakin banyaknya kata yang ditulis, akhrinya saya sadar, kenangan pahit itu justru menjadi penting bagi hidup saya, karenanya saya bisa menjadi lebih dewasa,” Dito tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan.

“Melupakan apa Bang? Kenapa pengin dilupakan? Kenangan pahit, maksudnya?” Nayla bertubi-tubi melontarkan pertanyaan.

Semua orang yang berada di ruangan berkapasitas 200 orang itu penasaran. Sangat penasaran.

“Hmm… sebelum menjawab pertanyaan itu, apakah saya boleh minum terlebih dahulu?. Sepertinya tenggorokan saya kering hehe.” Ucap Dito menghiraukan pertanyaan Nayla.

Nayla mengembuskan nafas panjang, rasa penasarannya bertambah lama.

“Silakan Bang,” Nayla tersenyum.

Dito membuka botol air mineral yang disediakan panitia. Botol itu bersebelahan dengan sekotak cemilan di atas meja kecil. Air masuk kedalam mulut, melewati tenggorokan yang kering, menghilangkan dahaga. Segar rasanya. Semua orang menatapnya, menunggu jawaban. Mereka sangat penasaran.

“Bisa dilanjutkan Bang?” ucap Nayla tidak sabaran.

“Ini pertanyaan yang agak susah. Karena susah, saya ingin bertanya terlebih dahulu. Nayla punya kenangan?”

Nayla mengangguk mengiyakan.

“Banyak kenangannya?”

“Sangat banyak Bang.”

“Kenangan seperti apa?” Dito kembali bertanya.

“Eh, kenapa jadi saya yang diwawancara. Kan harusnya Abang yang saya wawancara hehe,” tukas Nayla.

“Daritadi Nayla terus bertanya, jadi sekarang giliran Abang yang bertanya. Abang lelah neng,” ujar Dito.

Ruangan berkapasitas 200 orang ini kembali dipenuhi oleh tawa. Dari semua orang yang tertawa, tawa Nayla paling keras.

Setelah ruangan ini kembali hening, Dito mulai menjawab pertanyaan Nayla.

“Semua orang mempunyai kenangan. Ada yang terus dijaga supaya tidak lupa, tapi akhirnya kenangan itu hilang. Ada juga yang mati-matian untuk dilupakan, tapi justru terus ingat. Dua hal itu adalah pilihan. Yang pasti mau dilupakan atau tidak, kenangan tersebut sudah menjadi bagian dari hidup kita. Jujur dulu saya pengin melupakan kenangan tersebut, kenangan yang sangat pahit. Tapi, semakin ingin dilupakan justru kenangan tersebut semakin menghantui,” jelas Dito.

“Kenangan seperti apa yang Abang maksud?”

“Kenangan dengan seseorang.”

“Pacar?”

“Bukan,” jawab Dito singkat.

“Terus siapa Bang?”

Hari ini Nayla menjadi miss kepo. Pertanyaan satu dijawab, muncul lagi yang lain.

“Yang pasti dia seseorang yang sangat berharga bagi hidup saya. Karenanya saya bisa melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda, memberi pemahaman baru akan sebuah kenangan, rasa sakit, luka, tawa, dan air mata.

“Pacar? Ya itu keinginan saya. Tiga tahun lamanya (semasa SMA) saya mati-matian untuk mendapatkan hatinya, berharap dia memiliki perasaan yang sama, menjadi orang yang paling spesial di hidup saya. Sayangnya, dia tidak mau, dan terus saja tidak mau. Yang lebih menyakitkan, dia bilang tidak ingin pacaran dengan siapa pun, nyatanya satu bulan setelah itu dia justru pacaran dengan lelaki yang sangat saya hafal. Sahabat saya.”

Nayla diam membeku. Dia kehabisan kata untuk melanjutkan pertanyaan, padahal masih banyak pertanyaan “titipan” pada secuil kertas yang dipegannya. Ruangan berkapasitas 200 orang ini hening seketika. Orang-orang saling tatap. Ketahuilah di antara ratusan pasang mata, ada sepasang mata yang mulai basah.

“Loh kenapa saya jadi curhat gini ya? Jadi malu hehe,” Dito bergurau, berusaha memecah kesunyian.

Nayla tersenyum canggung meladeni gurauan Dito.

“Tapi waktu itu saya benar-benar keliru,” lanjut Dito.

“Apa yang keliru Bang?”

“Jawabannya ada di novel yang kamu pegang, Nay.”

Nayla melihat novel tersebut. Novel berwana putih dengan gambar hati di covernya. Dia teringat sesuatu. Perkataan Alif (tokoh utama novel) saat bertemu dengan Safa.

“Selama ini aku keliru. Bagaimana bisa aku menyebut apa yang telah dilakukan itu sebagai pengorbanan? Kalaulah hawa nafsu yang menuntunnya. Bagaimana mungkin semua itu disebut perjuangan? Jika amarah yang merajainya. Aku menghabiskan masa-masa SMA untuk mengejarmu, berharap kau membalas cintaku. Aku benar-benar keliru, itu bukan cinta tapi nafsu.”

Nayla kembali menatap Dito.

Seorang perempuan yang duduk di baris paling depan berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di kelopak mata.

“Saya pernah merasakan sakit hati yang teramat dalam. Lelahnya bertepuk sebelah tangan. Membenci masa lalu, mengutuknya, menyumpahinya, menyesalinya. Pada akhirnya waktu memberi pelajaran yang sangat berharga, dia memberi tahu sesuatu. Menyesali masa lalu hanya menyia-nyiakan waktu, dan membencinya hanya menampakkan kebodohan di hadapannya.” Dito menatap seorang perempuan yang duduk di barisan depan. Perempuan tersebut tertunduk, enggan menatap mata Dito.

“Novel ‘Cukup Lima huruf Saja’ hanya sebagian kecil dari kehidupan saya di masa lalu. Kita sepakat kalau semua orang mempunyai kenangan, baik yang menyenangkan maupun menyedihkan. Maka tulislah kenangan itu, supaya orang lain bisa mengambil secuil pelajaran. Saya ingin semua orang berdamai dengan masa lalu yang pahit, memeluknya dengan erat. Memberi pemahaman baru tentang lima huruf  yang bisa mengubah hidup.”

Nayla menoleh jam tangan putih yang melingkar di pergelangan tangannya. Lima menit lagi talk show ini berakhir.

“Bang, di antara banyaknya titipan pertanyaan yang saya dapatkan. Kebanyakan bertanya mengenai akhir cerita di novel ‘Cukup Lima Huruf Saja’, bagaimana kelanjutan kisah Alif dan Safa? Apa yang terjadi setelah mereka bertemu? Mungkin ini pertanyaan saya yang terakhir pada kesempatan ini.”

“Pertanyaan ini sering saya dengar, bahkan sejak novel itu baru beredar di pasaran. Jujur saya sebagai penulisnya sendiri tidak tahu bagaimana kelanjutan kisah Alif dan Safa.”

Nayla tidak mengerti dengan jawaban Dito. Bagaimana mungkin sang penulis tidak mengetahui akhir dari cerita yang ia tulis?

“Tapi, kalian beruntung, sangat beruntung. Karena hari ini saya akan mendapat jawabannya,” ucap Dito melihat wajah bingung Nayla.

Mendapat jawaban dari siapa? Tidak mungkin ada yang tahu jawabannya, karena anda penulisnya. Kami tidak tahu jawabannya.

Belum sempat Nayla membuka mulutnya, Dito beranjak turun dari panggung. Ratusan pasang mata menatapnya heran. Ternyata seorang penulis sekelas Dito tidak punya tatakrama. Dia meninggalkan panggung padahal belum dipersilakan.

Dito meraih tangan seorang perempuan yang duduk di barisan depan. Perempuan yang sedaritadi berusaha menahan airmata yang menggenang di kelopak matanya. Dito menariknya ke atas panggung.

Nayla sempurna membeku, tidak ada sepatah kata pun yang mampu keluar di bibirnya.

“Kalian akan tahu bagaimana kelanjutan kisahnya dari Safa.” Di sebelah Dito tepat berdiri seorang perempuan yang kemudian diketahui namanya Safa.

Hah? Safa? Jadi perempuan yang tadi masuk bersama Dito itu, Safa? Tokoh dalam novel? Ternyata dia yang membuat Alif terpuruk dalam jurang nestapa. Tapi kenapa sekarang Dito membawanya kesini? Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak semua orang yang hadir di ruangan berkapasitas 200 orang itu. Sayangnya tidak ada yang berani mengeluarkan pertanyaan tersebut.

Dito berlutut di hadapan Safa.

Kenapa pula Dito harus berlutut di hadapan peremuan itu? Apa maksudnya? Harusnya dia membenci perempuan yang menyia-nyiakan dirinya, bukan berlutut di hadapannya. Apa arti dari semua ini?

“Safa, aku menghabiskan masa-masa SMA hanya untuk mengejarmu, mengharapkan cintamu. Sempurna kau menolakku. Dua tahun berikutnya aku tersungkur di jurang penderitaan. Memikirkanmu.. Aku membaca berbagai macam buku, berharap menemukan jawaban terhadap apa yang aku rasakan, tak ada satu pun yang bisa menjawabnya. Aku bertemu dengan ratusan orang, berharap mendapat penjelasan, tak ada yang mampu memberi penjelasan. Penjelasan kenapa perasaan itu masih ada, walaupun jarak membentang begitu jauh.

“Safa, sejak aku menulis buku, aku mulai mengerti sedikit demi sedikit apa yang harus dilakukan. Menjauhimu, memperbaiki diri, mengejar cita-cita serta mewujudkan mimpi-mimpiku. Sempurna aku larut dalam kesibukan. Sibuk membangun masa depan, mengejar cita-citaku, mewujudkan mimpiku. Kesibukan berhasil menghancurkan kesedihan, kegalauan bahkan kerinduan. Rindu yang tak beralasan untukmu.”

Nayla tertegun menyadari apa yang tertangkap oleh matanya. Dia lupa waktu talk show telah habis. Panitia yang lain pun sama, lupa. Mereka seakan memberikan waktu ini untuk Dito, tidak peduli seberapa lama pun itu.

“Takdir berbaik hati padaku. Saat aku berhasil mewujudkan mimpi. Di pameran buku tempo hari kamu menghampiriku. Meminta untuk menandatangani Novel yang aku tulis, untukmu. Berkat novel itu aku menemukanmu,” Dito menghela nafas panjang. Orang-orang di ruangan itu bahkan sampai lupa bernafas. Mereka melihat dengan saksama apa yang terjadi di panggung.

“Jika kamu bertanya kenapa aku melakukan semua ini, jawabannya cukup lima huruf saja. Kamu tahu apa?”

Safa menggelengkan kepala. Dia tidak tahu jawabannya.

“C-I-N-T-A. CINTA. Karena aku mencintaimu,” Dito terdiam sejenak.

Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Safa. Dia hanya menangis. Tangisan yang selalu ditakuti Dito. Dua belas tahun yang lalu Safa menangis setiap menolak Dito. Lantas apa arti dari tangisannya yang sekarang?

“Safa saat ini aku tidak akan memintamu untuk jadi pacarku. Aku sudah melupakan itu beberapa tahun yang lalu. Sekarang aku ingin memintamu untuk …” Dito menggantungkan ucapannya.

Dito menatap mata Safa lamat-lamat. Dia berusaha mengatur nafasnya yang tidak karuan. Jika dia tidak bisa mengungkapkannya sekarang, tidak akan ada lagi kesempatan.

“Aku ingin memintamu menikmati waktu yang disediakan malam dan siang, bersama. Menghiasi hari demi hari dengan senyuman.

“Safa maukah kamu… kamu… kamu menikah denganku?” Dito mengeluarkan cincin. Cincin yang tersembunyi di dalam kotak kecil berbentuk hati.

Ruangan berkapasitas 200 orang itu menjadi sangat hening. Tidak ada seorang pun yang bersuara. Bahkan cicak di balik jam dinding pun tidak berani bersuara. Semuanya ikut tegang menunggu jawaban dari Safa. Harap-harap cemas menanti kata yang akan keluar dari bibirnya. Rasa cemas Dito berhasil mengalahkan kecemasan semua orang.

Lima detik berlalu. Safa masih diam. Tidak ada jawaban.

Sepuluh detik masih sama.

Lima belas detik.

Tiga puluh detik..

Jantung Dito berdetak sangat kencang.

Empat puluh lima detik.

“Iya aku bersedia.”  Di detik yang ke enam puluh Safa menjawab. Jawaban yang sangat dinantikan Dito.

Dito memasukkan sebuah cincin pada jari manis Safa. Semua orang yang melihatnya bersorak bahagia, memberi tepuk tangan. Tidak terasa mata mereka basah. Di antara semua orang yang ada di ruangan itu tidak ada yang lebih bahagia dibandingkan dengan Dito. Dua belas tahun berlalu, akhirnya Dito berhasil mendapatkan hati Safa. Bukan sebatas pacar, melainkan lebih dari itu.

Talk Show pun berakhir dengan bergugurannya air dari kelopak mata setiap orang yang menyaksikan sepotong kejadian ini.

***

Satu bulan setelah talk show, Safa dan Dito resmi menjadi pasangan suami istri. Sebuah rahasia besar terungkap. Semasa SMA, Safa tidak benar-benar pacaran dengan sahabat Dito. Dia melakukan itu supaya Dito berhenti mengejarnya, supaya dia fokus terhadap masa depannya. Begitupun keputusan Safa untuk kuliah di Jakarta. Membentangkan jarak, menjadikannya sebagai penghalang.

Ketahuilah, bertahun-tahun lamanya Safa memendam perasaan yang sama dengan Dito. Tidak ada yang tahu selain air mata saat menangis menahan rindu. Tidak ada yang paham selain buliran keringat saat dia larut dalam kesibukan.  Maka sempurna sudah penantian Safa dan perjuangan  Dito.

 

   Biodata Penulis

Nasrul M. Rizal lahir pada tanggal 27 Agustus 1995 di Garut. Menulis adalah cara untuk memafaatkan waktu di sela-sela kesibukannya sebagi mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia. Berkeinginan mempunyai perpustakaan pribadi dan melahirkan karya yang bermanfaat. Komunikasi lebih lanjut bisa melalui facebook: Nasrul Muhamad Rizal atau line: @mr_nasrul

[Cerpen] Bapak

Oleh: Muzammil Frasdia

Seminggu setelah dikeluhkannya benjolan kecil yang tertera di leher kirinya, akhirnya terpaksa Bapak kami larikan ke dokter untuk diperiksa. Semula ke bidan terdekat. Namun kata bidan penyakitnya serius, dan harus segera dirujuk ke Rumah Sakit. Tanpa berpikir panjang kami pun langsung tancap gas menuju rumah sakit.

Baru kali ini Bapak semasa hidupnya mengunjungi tempat paling menjengkelkan itu. Padahal dari dulu, jangankan diajak ke rumah sakit, dengar namanya saja Bapak langsung menandai sikap acuh kepada siapa saja yang bicara Rumah Sakit. Bila ia sakit, cukup minta antar ke bidan Yuyun. Hanya ke bidan Yuyun saja bapak ngerasa cocok bila geringnya kumat. Dan benar memang, keesokan harinya Bapak langsung kembali bugar pergi ke sawah menyabit rumput, membajak sawah, atau berdagang sapi di pasar.

Tidak ada kecurigaan tentang sakit yang aneh-aneh didera Bapak selama ini selain encok. Tentang adanya benjolan yang kian hari cepat membesar seukuran kepalan tangan ini belum terlintas di pikiran kami.

Setelah sampai di rumah sakit, Bapak langsung di tangani oleh dokter-dokter yang ada.  Sebelum Dokter ahli bedah itu melakukan tugasnya, ia menerangkan: “Kami harus mengambil sampel dari benjolan di lehernya terlebih dahulu. Barulah kami kabarkan hasilnya nanti.” Entah itu apa, kami semua mengijinkan dokter itu mengerat leher Bapak.

Satu jam kami menunggu dokter bedah dan dua orang asistennya tersebut mengurus Bapak di ruang operasi. Di sekitarku: kakak iparku, mbak Mut, dan ibu mencari duduk dalam suasana pikiran masing-masing. Aku tahu dari semua yang mereka tampung tentang kondisi Bapak, hal lain yang paling krusial, apalagi kalau bukan beratnya biaya yang harus dikeluarkan. Sedang tanggungan utang piutang puluhan juta ke Haji Jais hanya sedikit yang bisa dilunasi. Apalagi sekarang ditambah Bapak yang dirujuk ke rumah sakit. Pasti beban itu kian bengkak lagi.

Keluarga, sekalipun banyak orang, tidak ada satupun diantara kami yang bisa dibilang sukses dalam pekerjaan. Malah sebaliknya lika-liku kasus kakakku yang nomer dua lantaran sangkut paut sewa mobil yang belum terbayar sampai saat ini juga masih kalut menghantui kami sekeluarga. Mungkin juga Bapak begini karena terlalu suntuk memikirkan deritanya sendirian. Lalu pada akhirnya Bapak jadi begini dengan penyakit barunya yang serius. Pikiran lain juga kemungkinan tentang kabar kakak yang sampai sekarang hilang karena dicari pihak mobil. Seringnya polisi mendatangi rumah menanyakan kakak, pun makin membuat Bapak cemas dan stres.

Selang pintu ruang operasi tersebut ada yang membuka. Pandangan kami tertuju langsung pada kondisi Bapak yang tengah tertidur di atas ranjang pasien yang didorong dokter menuju ruangan lain. Kami bergegas berusaha mengikuti namun dokter tidak mengizinkan. Ibu mengeluh, dan kami hanya bisa pasrah berharap dokter tersebut cepat-cepat kembali menemui kami di sini.

“Satu minggu lagi hasilnya akan diketahui.” terang dokter kepada kami.

“Kira-kira penyakitnya apa, Dok?” Ibu bersikeras minta dikasih tahu.

“Belum ketemu, Bu. Belum jelas penyakitnya apa sebenarnya. Tapi dilihat dari benjolan pasien, kami masih menduga penyakitnya positif kanker. Jelasnya, hasil ini baru kita dengar seminggu lagi. Karena sampel kelenjar yang kami ambil dari benjolan di leher tadi harus dikirim ke Surabaya untuk diteliti lebih lanjut.”

Kami semua hanya mangguk-mangguk mendengar kata kanker dari dokter. Kami juga tak kuasa melihat Bapak yang kemudian berjalan pelan menghampiri kami yang masih duduk dengan dokter. Wajah bapak begitu pucat. Tubuhnya yang dekil kurus masih mengenakan baju pasien warna biru langit. Kata kanker masih terngiang-ngiang baginya, namun tetap akan kami rahasiakan agar pikiran Bapak merasa tenang dan tidak terusik.

Suara kumandang adzan maghrib di masjid itu seperti penutup pembicaraan kami dengan dokter. Kami pun bergegas kembali ke rumah dengan tubuh dan sikap layaknya manusia diberi beban pemikiran yang sulit untuk dipecahkan jalan keluarnya. Kami tidak tahu hal apa yang selanjutnya akan kami terima dan hadapi selain menunggu hasil kabar dari dokter. Di dalam mobil Bapak tampak lemas sehabis dikuras energinya oleh dokter. Kedua matanya memandangi pemandangan malam di luar kaca itu. Aku pun yang duduk di sampingnya hanya bisa merasakan riuhnya angin yang berlesatan melibas-libas wajahku, menghambur-hamburkan pikiranku ke sana kemari. Sempat Bapak menanyai tentang penyakitnya, kami semua diam dan ragu menjawab. “Penyakitnya ringan. Benjolan.” Sejurus ibu menjawabnya dengan lugas. “Dokter juga menyarankan harus banyak-banyak istirahat dan jangan banyak pikiran.” Mendengar ibu bicara, Bapak sedikit melegakan nafasnya dan kembali melanjutkan pandangannya ke luar jendela mobil.

**

Barulah seminggu kemudian, aku dan Mbak Mut menemui dokter lagi. Dan setelah hasil tes itu kami terima, selanjutnya kami harus mendengarkan arahan dokter itu.

“Kasihan beliau,” dokter bicara tentang Bapakku,“Betapa sakitnya ia.” dokter itu geleng-geleng kepala. Aku dan Mbak Mut terkejut dan tercengang menerima kalimat yang terpotong-potong itu.

“Maksud dokter?” tanyaku penasaran.

“Bapakmu ini sudah dikatakan terlambat, nak, untuk diperiksakan penyakitnya. Seharusnya dari dulu kalian membawanya periksa. Saya juga tidak menjamin usianya bertahan dalam waktu kurang lebih tiga bulanan. Karena jenis kanker otak ini sudah terbilang ganas dan sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. Tapi semua juga ada yang mengatur. Wallahua’lam. Kita hanya bisa berusaha dan pasrah.” Begitu berani Dokter ini memutuskan nyawa hidup seseorang.

Aku hanya bisa tertunduk lemas dan menelan ludah pahit yang tiba-tiba kurasakan ketika mendengar usia bapak yang ditaksir tidak akan lama lagi. Apalagi dibilangnya dokter taksiran mencapai 7 jutaan. Aduh, betapa kejam dunia ini menghabisi keluargaku.

“Dapat dari mana kita biaya segitu besar, nak?!” keluh ibu sambil menangis.

Benar memang, pada persoalan urus tanggung penyakit Bapak, ujungnya pasti ketidakmampuan kami mengeluarkan biaya. Dan jalan alternatif lain mau tidak mau Bapak kami bawa ke orang pintar. Jalan terapi tersebut kami lakukan keliling dari dukun satu ke dukun yang lain. Sampai Bapak harus pakai yang namanya susuk. Tapi dari sekian itu tak ada yang berhasil menyembuhkan, sebaliknya Bapak semakin mengerang sakit kepala yang luar biasa setiap harinya. Dan semakin membuat kami semua bingung mau berbuat apa. Air, ramuan rempah-rempah, tulisan arab, susuk, dan lainnya bak sia-sia untuk mencapai kata sembuh.

Seminggu lebih sejak Bapak ditemukan jatuh tersungkur terpeleset dari tangga pintu, Bapak jadi kaku dan terbaring di kasur. Tubuhnya semakin hari semakin kurus. Bicara pun Bapak sudah tidak bisa. Kedua matanya hanya berhelai-helai ke sana kemari memandangi suasana sekitar termasuk ibu yang di sampingnya tak ingin beranjak sedikit pun. Tangan dan kakinya dingin sekali kugenggam. Setiap dedahamnya yang berkeluh, selalu kami temani dengan air mata. Terakhir Bapak memberi kejutan luar biasa kepada kami. Di kondisi tubuhnya yang masih sempat bergerak, dalam pembaringan Bapak membalikkan tubuhnya hingga telungkup. Telungkup begitu saja pada bantal. Persis seperti ketika ia minta untuk dipijat. Karena dirasa lama, ibu menyarankan agar bapak dibalikkan kembali badannya. Tapi sayang, sesuatu begitu mengejutkan ketika Bapak sudah tiada dengan cara yang tidak lazim orang meninggal pada umumnya(*)

 

 

 

Muzamil Frasdia, seorang guru di Bangkalan, Madura

 

 

 

 

 

 

 

[Cerpen] Lantai Lima

Cerpen

Oleh: Nanda Dyani Amilla

Aku meletakkan tas punggungku di atas kursi panjang itu. Saat ini aku tengah berada di lantai lima gedung B Fakultas Keguruan. Jam perkuliahan baru saja selesai 10 menit lalu, teman-teman sudah menghambur menuruni anak tangga. Aku tak buru-buru sore ini, kulirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku, masih pukul 17.45 WIB. Masih ada sedikit waktu utuk melakukan hobiku sebelum waktu merangkak menuju maghrib.

Aku mengambil kamera dan mulai memotret beberapa objek dari atas gedung ini. Ya, aku memang mahasiswa Fakutas Keguruan, namun tidak dapat dipungkiri bahwa aku terlalu mencintai fotografi. Lagi pula, dari hobi ini aku juga bisa mendapatkan uang. Setelah memotret beberapa objek yang kurasa cukup bagus, tanpa sengaja kameraku menangkap sosok perempuan berdiri di sudut lantai lima gedung Fakultas Hukum.

Gedung Fakultas Keguruan memang berhadap-hadapan dengan gedung Fakultas Hukum, sehingga aku bisa melihat perempuan itu dengan jelas dari atas sini. Aku memperhatikannya, ini sudah keempat kalinya aku melihat perempuan itu berdiam diri menatap ke bawah dengan tatapan sendu. Perempuan itu selalu hadir menjelang petang, mungkin dia juga mahasiswa yang mendapat jam perkuliahan sore sepertiku.

Terkadang, jika isengku kambuh, aku suka memotretnya beberapa kali. Wajahnya terbilang cantik, dengan rambut panjang sebahu yang lurus, juga sweater pink fuschia yang selalu dikenakannya. Pada mulanya, aku heran mengapa perempuan itu selalu berdiri sendiri di sudut lantai lima gedung hukum. Tidak seperti perempuan kebanyakan yang suka beramai-ramai dan mengobrol jika jam perkuliahan sudah selesai.

Yang perempuan itu lakukan hanya berdiri menatap ke bawah dan membiarkan angin meneriapkan anak rambutnya.  Aku masih memotretnya dengan berbagai angle. Wajahnya sedikit pucat dengan bibir yang sedikit membiru. Entahlah barangkali perempuan itu kedinginan. Cuaca sore ini memang dingin dan mendung nampaknya sudah menyelimuti sebagian awan.

Aku kembali melirik jam di pergelangan tanganku, sepuluh menit lagi maghrib tiba. Aku bergegas memasukkan kamera ke dalam tas. Kiranya cukuplah hobi memotret sore ini sebagai pelepas penat setelah seharian menyantap menu perkuliahan yang membuat kram otak.  Aku mengalihkan pandang ke gedung hukum kembali, berniat memandang sekali lagi perempuan dengan mata sendu itu sebelum aku beranjak menuju masjid kampus. Tapi nihil, perempuan itu sudah tak ada lagi di sana. Barangkali dia sudah pergi lebih dulu ketika aku sedang membereskan kamera tadi. Aku menghela napas, kemudian beranjak menuruni anak tangga.

Hari berikutnya masih sama. Aku kembali menemukan perempuan bersweater pink fuschia itu. Di tempat yang sama pula, dengan tatapan sendu yang selalu ia bawa. Jam kuliahku sudah habis. Maghrib juga hampir menjelang. Anehnya, saat jam masuk kuliah tadi, aku tidak melihatnya di sudut gedung hukum itu. Entahlah, bahkan kemunculannya belakangan ini begitu aku nantikan. Sampai-sampai setiap aku keluar kelas, aku selalu mengalihkan pandang ke seberang gedung. Berharap perempuan itu ada di sana.

Lagi-lagi, aku hanya menemukannya di sepotong senja menuju maghrib. Dia masih sama seperti kemarin, menggunakan sweater dengan rambut tergerainya. Begitu manis tatkala angin senja menerpa rambutnya. Aku yang tengah penasaran dengan sosok perempuan itu akhirnya memberanikan diri berkunjung ke gedung hukum tersebut. Kebetulan aku memiliki kenalan di sana. Aku bisa berbasa-basi dan akhirnya menanyakan siapa perempuan yang kerap berdiri di sudut lantai lima itu.

“Perempuan cantik dengan sweater pink?” Rendi menggaruk tengkuknya bingung.

“Iya. Apa kau mengenalnya? Sepertinya dia anak semester akhir juga seperti kita,” jelasku. Berharap Rendi mengenal perempuan itu.

“Kebetulan kelasku juga tidak terlalu jauh dari kelas sudut di lantai lima ini, Dam. Dan aku mengenal beberapa gadis di sana. Tapi aku tidak pernah melihat gadis dengan ciri-ciri yang kau sebutkan tadi,” Rendi merasa jawabannya sudah benar.

Bagaimana mungkin Rendi tak mengenali perempuan itu? Bukankah perempuan itu kerapkali berdiri menikmati senja di sudut lantai lima ini? Aku berpikir keras bagaimana caranya agar bisa berkenalan dengan gadis itu. Aku ingin sekadar mengenalnya dan berbasa-basi menunjukkan hobiku memotretnya. Mungkin kami bisa mengobrol dan menjadi teman baik, pikirku.

Esoknya, aku yang masih penasaran dengan sosok perempuan itu, akhirnya memberanikan diri bertanya kepada salah satu cleaning service yang ada di lantai lima itu. Sore ini, perempuan itu tidak muncul. Beberapa kelas di lantai ini kebetulan kosong. Aku berpikir dia adalah bagian dari kelas yang tidak sedang masuk sore ini. Sosoknya begitu membuatku penasaran. Aku hanya ingin tahu alasannya menyukai berdiri lama-lama di sudut lantai lima menjelang maghrib.

“Hmm.. maksud Mas Adam, perempuan dengan rambut panjang sebahu yang mengenakan sweater pink?” Tanya Mang Asep memastikan.

“Iya, Mang. Saya kerapkali melihatnya dari lantai lima gedung FKIP. Saya melihatnya jelas sekali, bahkan ada beberapa yang saya potret. Saya hanya ingin tahu namanya. Ingin berkenalan. Sebentar, biar saya tunjukkan fotonya,” aku mengeluarkan kameraku. Kali ini aku membawanya agar bisa menunjukkannya pada Mang Asep.

Seketika kulihat wajah Mang Asep pucat pasi. Dia menatapku sekilas dengan tatapan menggigil. Berulang kali menatap foto itu dan menelan ludah. “Kenapa Mas Adam mencari tahu perempuan ini? Untuk apa, Mas?” Tanya Mang Asep lagi.

Aku sumringah, senang rasanya Mang Asep akhirnya mengenali gadis ini. “Jadi, Mang Asep tahu? Boleh saya tahu namanya, Mang? Besok saya akan menemuinya. Atau boleh saya tahu dia anak semester berapa? Ruang kelasnya yang mana?” tanyaku begitu antusias.

Mang Asep mengusap wajahnya yang berkeringat.. “Mas Adam lebih baik pulang sekarang. Sudah malam, saya juga mau beres-beres untuk kembali ke kontrakan,” Mang Asep menepuk pundakku dua kali.

“Loh, tunggu sebentar, Mang. Jawab pertanyaan saya dulu. Bukankah Mang Asep mengenali perempuan itu? Saya hanya ingin berkenalan kok, Mang. Tidak akan berbuat macam-macam,” terangku jujur.

Mang Asep mengajakku duduk di bangku panjang itu. “Mas Adam sebaiknya melupakan gadis itu,” kata-kata Mang Asep membuat dahiku berkerut. Memangnya kenapa, pikirku. Aku menatap Mang Asep serius. Aku tidak terlalu suka mendengar jawabannya.

“Gadis yang Mas Adam cari itu tidak ada,” katanya sekali lagi.

“Tidak ada bagaimana, Mang? Jelas-jelas Mang Asep melihat fotonya tadi, kan? Dan mengenali gadis itu,” aku berusaha memaksa Mang Asep.

“Mas Adam benar-benar tidak tahu dengan cerita itu?”

“Cerita apa?” tanyaku semakin bingung.

Mang Asep memasang raut muka serius. Tangannya sekali lagi mengusap dahi yang berkeringat. “Baiklah kalau Mas Adam membutuhkan jawabannya sekarang,” Mang Asep menarik napas dan mulai bercerita.

“Lima tahun yang lalu, ada tragedi berdarah di lantai lima ini, Mas. Seorang mahasiswi tingkat akhir, bunuh diri dengan cara melompat dari lantai lima gedung ini. Penyebab kematiannya tidak ada yang bisa memastikan. Sebab saat itu semua orang sedang sibuk melaksanakan sholat maghrib di masjid kampus. Diperkirakan dia melakukan bunuh diri itu sekitar jam 6 sore, Mas. Pihak kampus sempat melarikannya ke rumah sakit, namun sayang nyawanya tidak dapat diselamatkan. Gadis itu berambut sebahu, cantik, dan mengenakan sweater berwarna pink. Saya tahu sebab saat itu saya juga sempat membopongnya ke dalam mobil ambulans. Gadis itu adalah gadis yang ada di kamera Mas Adam tadi,” kalimat Mang Asep membuatku tersentak.

“Ma.. Maksud Mang Asep, gadis itu sudah…..”

“Iya, Mas. Gadis itu sudah meninggal dunia,” jawab Mang Asep.

Seketika itu juga bulu kudukku berdiri. Tak dinyana bahwa apa yang selama ini kupotret ternyata bukan manusia. Keringat dingin membanjiri dahiku. Aku benar-benar shock dengan yang baru saja kudengar. Bayangan gadis dengan mata sendu itu berkelebat hebat di kepalaku. Wajah pucatnya, rambut sebahunya, bibir birunya, dan tatapan sendunya, semuanya merasuki kepalaku. Mendadak kepalaku pusing. Badanku terasa lemas sekali. Seketika itu juga, mataku berkunang-kunang. Aku pingsan.

 

 

 

Profil Penulis :

Nanda Amilla demikian di akun Fb-nya kerap juga menggunakan nama fena Gadis Hujan. Penulis berparas cantik yang memang sangat mencintai hujan ini dan memiliki nama lengkap Nanda Dyani Amilla. Lahir di Medan, 16 Oktober 1996. Saat ini tercatat sebagai Mahasiswi aktif di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Semester 6. Domisili di Medan-Sumatera Utara.

Penulis sedang sibuk mempromosikan novel perdananya yang berjudul Kejebak Friendzone (Bentang Pustaka, 2017). Penulis juga aktif menulis puisi, cerpen, dan opini di berbagai media cetak dan media online. Penulis dapat dihubungi di beberapa akun sosial medianya :

  • Surel : dyani.nanda@gmai.com
  • FB : Nanda Amilla
  • IG : gadishujan_
  • Blog : nandadyaniamilla.blogspot.co.id
  • No HP : 0821 6315 5917

Matinya Sirih Merah Lotta

 

Cerpen: Wiwik Waluyo

Kartik paling bangga dengan menantunya yang bernama Lotta. Bukan karena Lotta tinggal persis di sebelah rumahnya dan sering mengiriminya panganan. Bukan juga karena Lotta sering mengajak Kartik pergi-pergi ke luar, untuk jalan-jalan atau sekadar jajan-jajan. Yang Kartik senangi dari menantunya yang ini adalah, Lotta memiliki tangan dingin yang bisa menumbuhkan semua jenis tanaman yang ia tanam.

Sebelum rumah di samping rumah Kartik selesai direnovasi untuk ditempati Jais anaknya dan Lotta menantunya, menantunya itu sudah membeli banyak sekali bibit tanaman. Dan walau Lotta itu perempuan berkarir, ia tetap menanam semua tanaman dengan tangannya sendiri. Lotta tidak jijik mengaduk-aduk tanah dan tidak menjerit jika bertemu ulat. Dan lihatlah sekarang, belum dua tahun Lotta tinggal di sana, pekarangannya sudah menghijau.

Di sisi dalam pagar Lotta menanam bambu Jepang yang sekarang sudah tinggi rapat dan cukup sebagai penampik abu jalanan. Pekarangan samping penuh dengan tanaman buah dalam pot yang mangga dan sawonya sudah tiga kali berbuah. Sementara di teras samping, terdapat lapangan hijau dengan cemara yang rindang dan perdu yang rapi teratur. Pot-pot berisi melati dan aglaonema berjajar apik. Dan sirih merah tumbuh subur menjalar-jalar di tali yang dipasang Lotta sepanjang satu sisi teras. Sirih merah itu menjadi kerai alami yang meneduhi teras kala siang hari.

Sebagai orangtua, Kartik sangat mengerti manfaat daun sirih merah. Mulai penyakit ringan berupa jerawat dan gatal-gatal hingga bronkitis, darah tinggi, asam urat, tumor, diabetes, juga paru-paru bisa diterapi dengan daun sirih merah. Berulang-ulang Kartik memuji Lotta karena keberhasilannya menanam tanaman obat dari banyak penyakit itu. Dan sore ini, Kartik yang merasakan badannya pegal-pegal akibat serentet penyakit tua yang menggelayuti tubuhnya datang ke rumah Lotta.

“Ibu minta daun sirih merahnya tiga lembar, ya?”

Lotta memandang wajah penuh gelambir milik Kartik, “tiga lembar cukup, Bu?”

“Cukup, kata orang-orang tua dulu memang harus ganjil. Kalau nggak tiga ya lima, atau tujuh. Pokoknya ganjil.”

“Kenapa harus ganjil?” Lotta menyerahkan gunting kepada Kartik.

“Nah itu Ibu nggak faham,” jawab Kartik sambil menggunting tiga lembar daun sirih merah dari tangkainya.

“Ambil yang banyak, Bu. Sembilan atau sebelas lembar gitu,” tawar Lotta tulus.

“Wah, ini tiga saja sudah pahit bukan main,” Kartik mengembalikan gunting pada Lotta. “Lagipula, nggak semua orang bisa menanam sirih merah seperti kamu Lotta. Ibu saja sudah coba beberapa kali tapi mati terus-terusan. Jadi yang kau tanam ini harus baik-baik dirawat, disayang-sayang. Kau bersyukur punya tangan yang dingin.”

Lotta menerima pujian mertuanya dengan senyuman kecil. Ia tahu benar bahwa yang memumbuhkan segala sesuatu hanyalah Tuhan. Jika benih dan bibit yang ditanam dengan tangannya mampu tumbuh besar, itu sama sekali bukan karena kehebatannya. Tapi karena Lotta memang telaten merawat tanaman dan Tuhan berkenan menyuburkannya.

Kartik terus memuji Lotta. Lotta bisa menerima pujian itu dengan wajar andai saja Kartik tak terlalu berlebihan. Lotta jadi jengah. Apalagi, ketika kemudian tetangga, saudara-saudara bahkan orang-orang entah dari mana datang meminta sirih merah milik Lotta, Kartik menjadi resah dan keresahannya itu tak masuk di akal Lotta.

“Itu Uwak Liang, kemarin datang minta sirih merah lagi, ya?”

“Iya, Bu. Luka diabetesnya lumayan kering setelah minum rebusan sirih,” jawab Lotta jujur.

“Lha, tapi ya jangan terus-terusan minta ke mari. Cari di tempat lain kan ada!”

“Nggak apa-apa, Bu. Lotta malah senang kalau yang kita tanam ada manfaatnya untuk orang-orang.”

“Iya, tapi ya jangan keseringan. Ibu saja sungkan kalau mau minta ke Lotta.”

Ups, Kartik kelepasan. Lotta memandang sekilas ke wajah Kartik yang serba salah.

“Ibu nggak perlu sungkan. Kalau ibu mau, setiap hari juga nggak masalah ibu petik sirih merahnya.”

Kartik mengendurkan nada bicaranya. “Bukan apa-apa, sirih merah itu susah menanamnya. Kalau sembarang orang petik nanti bisa mati. Kalau mati susah ditanam lagi.”

Dan, apa yang dikatakan Kartik itu serupa kaset yang selalu diputar-putar saat datang bertandang ke rumah Lotta. Bahwa tak mudah menanam sirih merah, tak boleh orang sembarangan memetiknya dan karenanya harus Lotta awasi tiap-tiap yang meminta ke rumahnya. Dan itu sungguh membuat Lotta tidak nyaman. Terlebih, Kartik beberapa kali meneriaki tetangga yang datang meminta sirih merah ke rumah Lotta.

“Heh, jangan banyak-banyak!”

“Jangan asal petik!”

“Kalau mau banyak beli di pasar!”

Sikap Kartik membuat Lotta mengurut dada. Satu sisi hati ia tak ingin bersikap buruk di hadapan ibu mertua, namun sisi lainnya ia juga tak bisa menerima sikap Kartik yang terlalu perhitungan. Di antara ketidak enak hatian itu, daun-daun sirih merah mengalami perubahan. Daunnya yang berwarna merah hijau dengan corak abu-abu berubah menjadi kuning. Daun-daun kuning itu lantas kering seolah terbakar dan gugur satu per satu diterpa angin.

Lotta mengira perubahan itu hanyalah akibat anomali cuaca. Karenanya ia memotong sulur-sulur sirih merah yang daunnya telah mengering. Ia juga menambahkan volume air saat menyiramnya. Namun usaha itu tak membuahkan hasil. Kian hari sirih merahnya semakin berubah. Daun-daun yang menguning itu seolah menular. Maka perlahan, helai-helai daun berubah menjadi kuning. Terbakar. Luruh.

Kartik menjadi naik darah. Uwak Liang yang datang ke rumah Lotta mengantar makanan mendapat sasaran kemarahannya.

“Itulah, karena terlalu sering dipetik, mati dia.”

Uwak Liang yang mendengar itu merasa bersalah. Sementara Kartik puas telah menumpahkan uneg-unegnya. Dan Lotta cepat-cepat meredakan suasana.

“Mungkin hanya karena cuaca, Bu. Selama batang utama masih segar, sirih kita masih bisa tumbuh sulur-sulur yang baru.”

Kartik tak puas dan terus menggerutu. Uwak Liang berulang-ulang meminta maaf. Dan berhari-hari setelahnya, Lotta tetap merawat sirih merahnya. Bahkan, Lotta selalu berbicara dengan sirih merahnya yang semakin meranggas, setiap malam menjelang tidur.

“Kalau kau lelah mendengar orang-orang meributkanmu, aku ikhlas kau pergi dan beristirahat.”

Dan, pada sebuah pagi yang ribut cericit emprit, saat Lotta membuka pintu teras sampingnya, ia melihat daun-daun sirih merahnya yang menguning dan terbakar luruh sepenuhnya menutupi tanah. Batang utamanya kisut dan kering. Lotta mengerti, sirih merahnya butuh jeda untuk kembali hidup dan tangguh pada angkara yang membumbung semesta.[]

 

 

BIODATA PENULIS

Nama               : Dwi Asih Rahmawati

Nama Pena      : Wiwik Waluyo

TTL                 : Lubuk Pakam, 01 Juli 1983

Alamat                        : Jl.Karya Gg.Ambarsari No.36 Medan Barat, 20117 Medan.

HP                   : 081232098883 dan 081270208383

Blog                : www.wiwikwaluyo.com

Pekerjaan         : Penulis lepas.

 

Karya fiksi tersiar di Majalah Paras, Annida, koran Batam Pos, Riau Pos, Minggu Pagi, Radar Surabaya.

Karya Buku Antologi :

  1. Karenamu Aku Cemburu (LPPH, 2007)
  2. Too Good To Be True (Hasfa publisher, 2011)
  3. Gado-gado Poligami (Quanta, Elex Media 2012)
  4. Love Journey, Mengeja Seribu Wajah Indonesia (Diva Press, 2013)
  5. My Wedding Story (Pustaka Al-Kautsar, 2014)
  6. Kumpulan Syair-Syair KeIndonesiaan (Interlude, Mei 2016)
  7. Antologi Cerpen Cinta Laki-laki Biasa (Asma Nadia Publishing House, Juni 2016)

Batu Besar di Balik Bukit

 Cerpen: Mufidz At-thoriq S.

Konon, batu-batu besar itu dulunya gajah. Dulu mereka berumah di balik bukit belakang kampung kita, hidup seperti biasa selayaknya gajah. Namun ada yang berbeda, mereka tak pernah berpindah-pindah meski musim kemarau merayap ke sana. Sebab air tidak pernah habis di danau mereka. Danau itu jernih dan indah, meski sering dipakai mandi gajah-gajah. Di sana hidup ikan-ikan sebesar paha orang dewasa, dan ikan-ikan itu bisa terbang dengan sirip lebar di samping tubuhnya.

Kalian pasti asing dengan danau yang kuceritakan. Jangan kira aku mengarang tentang danau itu, aku bersungguh-sungguh. Danau itu ada di sebelah timur bukit itu. Dekat! Tidak sampai berkilo meter. Danau itu yang sekarang tertimbun tanah dan bangunan yang kalian tinggali. Bangunan modern dengan selusin warna-warni yang cerah, juga pagar-pagar tinggi di halaman rumah seperti garpu-garpu besar yang dijajarkan. Bukannya aku tak suka, tapi kami dulu cukup dengan bilik dan selotan dari bambu yang diputar di daun lawang.

***

Di bukit yang rimbun dengan pepohonan, seperti kepala perawan berambut ikal selepas mandi, begitu indah di balik matahari yang baru menyala. Burung-burung dengan warna-warna serupa bunga hidup sejahtera, saling berpasangan, bergerombol menghias langit dengan awan yang memulun seperti orang berciuman. Cakrawala membuat siapapun merasa tenang dan damai. Mengembungkan jiwa senyaman berbaring di bawah pohon berdaun lebat –sampai meneduhi rerumputan di kakinya– dengan matahari yang menyisir masuk di sela-sela dedaunan. Lalu semilir angin menghanyut bersama sukma ke dalam dada paling dalam.

Di bawah itu semua, di tanah yang datar dan luas, seperti karpet hijau yang digelar sampai ke ujung mata, hidup segerombol gajah dengan warna yang sama. Mereka berwarna abu muda, dengan kuping dan gading yang besar. Di antara mereka, ada satu gajah yang berbeda. Tubuhnya besar besar, kantung mata bergelombang, gadingnya kokoh seperti emas, dan belalainya sekuat akar pohon seribu tahun. Ia adalah seseuh dari seluruh gajah di sana. Umurnya hampir dua abad, ia menyaksikan gajah-gajah lahir dan mati. Pohon tumbuh dan runtuh. Ribuan kali menyaksikan matahari naik dan tenggelam. Seperti berdiri di terminal, menyaksiakan orang-orang pergi dan datang. Hidupnya dipulun kesepian, ia tak memilih gajah betina lain selepas gajah yang sangat ia cintai habis ditelan waktu. “Sebab sesungguhnya hal yang paling kejam di sini ialah waktu, ia menelan segalanya” lirihnya pada salah satu senja. Gajah-gajah sering melihat matanya yang tak setajam dulu, katanya. Bagaikan diciptakan dari cahaya bulan di malam purnama, juga sinar senja yang memantul pada awan. Namun sekarang kesenduan dan kegelisahan begitu lekat pada licin matanya.

Saban sore, ia sering pergi ke balik bukit, di sana ada sebuah pemukiman manusia, dan katanya ia akan menemui sahabatnya di sana, seorang pemuda yang sangat mengerti perasaannya. Tak ada satu gajah pun yang berani membuntutinya, sebab mereka tahu, manusia akan merenggut gading dan belalai mereka yang berharga.

***

Para wanita sedang berebut sayur di pasar. Saling memaki dan saling menegangkan otot-otot keningnya. Di sebereng, para lelaki tua sedang duduk di kursi kayu pajang sambil ngopi dan menghisap tembakau yang dilinting rapi. Asapnya mengepul ke dahan pohon rambutan di atasnya, anak-anak sedang berebut rambutan matang di sana. Di masukkannya rambutan penuh semut itu ke kantong-kantong yang dirajut dari bambu-bambu tipis yang dihaluskan. Sambil tertawa, mereka memakan rambutan itu lalu melemparkan bijinya ke para pemuda yang sedang menyabung ayam di lapangan. Mereka bersorak dengan samping dan golok masing-masing dipinggang. Sebagian pemuda mengikat kepalanya dengan kain lusuh berwarna coklat.

Seorang Lelaki dengan dagu lancip dan dada lapang duduk di teras dengan teh hangat dalam cangkir kecil. Kepulnya ia hisap dengan jarak. Kenikmatan hidup menjadi wajahnya, serupa matahari muda dengan jentik embun. Angin mengelus empat batok kelapa kering kecil yang digantung di lawang. Bunyinya ritmis, saling membenturkan tubuhnya. Teh dalam cangkirnya bergelombang kecil, menggoyangkan wajahnya di sana. Perlahan menganyutkan ketenangan wajahnya pada dinding cangkir yang molek.

Lelaki beranjak dari kursi kayunya. Dengan tangan yang berpelukkan ke belakang pinggang, ia berjalan menuju bibir teras. Ia melihat matahari menggantung di langit barat, menjadi senja yang menempel pada setiap benda di cakrawala –di pohon-pohon, dinding-dinding kusam, wajah anak-anak dan orang tua. Membias cahaya keemasan yang indah. Lelaki itu menuju bukit, memantulkan bayangannya di genangan-genangan hujan yang ia lewati. Mata orang-orang mengikuti langkahnya yang tenang. Mereka tahu ia akan ke balik bukit menjumpai sahabatnya yang tak sembarang orang bisa menjumpainya.

Lelaki itu menuju senja, yang perlahan dimakan ketinggian bukit, masuk ke dalam keteduhan. Sambil menyibak pepohonan kecil yang menjuntai di pematang jalan, ia terlihat sumeringah. Sahabat tuanya sedang menanti di sana, duduk seperti batu besar yang disibak sedikit cahaya senja.

“Selamat senja, Gajah Tua.” Sapanya di samping gajah itu mengikuti menatap senja.

“Seperti biasa, senja selalu menjadi hal yang indah namun menyakitkan. Bahkan aku menunggu senja di usiaku, yang tak hinggap sampai sekarang. Mungkin senja lupa hinggap pada diriku, sampai aku setua ini menyaksikan banyak kematian.”

“Jangan melulu bersedih , Gajah Tua. Senjamu tahu kau masih dibutuhkan di sini. Untuk menuntun kami, aku takut keturunanku tak mengenal kebaikkanmu.”

“Semoga keturunanmu tak takut padaku yang seperti kulit pohon ini.” Gajah itu sedikit tersenyum. “Kau masih ingat Janji Batuku dan leluhurmu,” Ia menarik napas,”dan sekarang aku masih di sini menyimpan janji itu. Aku takut, ketika aku menuju senja dan pandanganku menjadi malam, anak cucuku tak bisa memegang Janji Batu itu. Aku menyimpan harap padamu.”

Lelaki itu menyentuh tubuh besar di sampingnya yang disibak cahaya senja. Ia rasakan kehangatan pada kembung napasnya, dan ia tak seperti dulu lagi yang bisa menaikinya dan memeluknya hangat. “Kita dulu sering menikmati senja sambil mandi bersama di danau itu. Rasanya aku rindu.”

***

Di tengah remang cempor yang hangat, udara malam tak seperti biasanya. Keringat membasahi seluruh tubuh yang tak lelap. Sepertinya musim hujan akan tiba, kata seseorang yang lewat. Lelaki itu sedang mengipasi bayinya yang baru delapan bulan, ia menyibak keringat di dahinya dengan lembut, seperti mengusap air mata pada pipi perempuan.

Di balik cahaya cempor di lawang, seorang pemuda lari dengan sendal penuh lumpur, pakaiannya kuyup dengan keringat, napasnya terengah. Ia mengetuk pintu dengan keras tanpa jarak. Lelaki itu segera menarik peruh pintunya, ia mendapatkan seorang pemuda yang kepayahan di terasnya.

“Malam Juragan, maaf menggangu.” Masih dengan napas yang terburu.” Anu, itu si Kasmin anak tetangga saya mati di danau timur bukit.”

Dengan kain coklat yang dililitkan di lehernya, Lelaki itu menuju rumah orang yang berduka. Malam diirisnya dengan langkah yang lebar dan cepat, napasnya diburu ketergesaan, dadanya sedikit bertalu mendengar orang yang meninggal dipinggir danau dengan isi kepala berhamburan, dan tempurungnya pecah.

Sesampainya di sana, para lelaki menggengam golok dan obor yang hidup di wajah mereka. Mereka bersiap memburu ketakutan. Gajah-gajah di balik bukit yang akan menjadi pertaruhan mereka. Semestinya sebuah kejadian, mereka takut kejadian serupa terulang kembali dan menimpa anak-anak mereka atau siapa saja. Tangan Lelaki itu bergetar melihat api obir yang menetes di hadapannya. Emosinya merangkak dari dada ke kepalanya, ia mengibaskan sorban yang ia pakai dengan keras, sampai pepohonan menggugurkan sebagian dedaunan. Semua orang terdiam. Malam menelen mereka semua.

“Aku akan bertanggung jawab untuk kejadian ini, sekarang aku akan menjumpai gajah-gajah itu tanpa golok dan api pada diri kalian.”

Semua orang terpaku di tanahnya masing-masing, seakan bumi telah memegang kaki mereka bersamaan. Melihat semua orang menuruti kehendaknya. Lelaki itu bersama para lelaki menuju ke balik bukit, ia akan menjumpai sahabat tuanya. Di sepanjang jalan, keringatnya tak henti membanjiri kening, pundak dan dadanya. Lelaki itu tak percaya, Gajah Tua yang sangat ia hormati menghianati Janji Batu dengan leluhurnya. Namun ia tahu, selalu ada alasan bagi setiap kehendak.

Langit tak lekat lagi, subuh mengantar dinginnya sesampainya Lelaki itu dan rombongan sampai di balik bukit. Di sana gajah-gajah sudah menantinya, berbaris membentang seluas mata menatapnya. Gajah Tua itu berjalan perlahan menghampiri Lelaki yang ia kenal. Begitu juga Lelaki itu –yang dipenuhi keringat dan air mata membentang seperti sungai di pipinya– melakukan hal yang sama dengan gajah tua.

Sesaat waktu seakan berhenti melangkah. Tak ada yang bersuara. Bahkan serangga pun sepakat diam saat itu, hanya kunang-kunang yang mengedip di balik dedaunan dan di antara mereka.

“Segeralah usap sungai di wajahmu , kuakui ini sebagai petaka bagi kaumku. Ia adalah anakku yang paling muda, ia belum terlalu dewasa untuk menyikapi gangguan manusia di sekitarnya. Maafkan aku dan kaumku. Juga Janji Batu itu sebentar lagi tiba pada kaumku. Setelah fajar menyentuh pepohonan di atas bukit itu, kami semua akan menjadi batu. Semoga leluhurmu dan kaummu takkan diingat dengan kisah yang salah.” Gajah Tua itu berbalik.

Ia merasakan segalanya lepas dari tubuhnya, bukan senja yang selama ini ia nantikan untuk memberangkatkanya menyusul leluhurnya, namun fajar yang berbeda yang akan menjemputnya menuju keabadian.

Fajar menyentuh ujung daun pohon tertinggi di bukit itu. Gajah-gajah itu berjingkrak dengan kedua kaki depannya. Teriakan mereka seperti terompet kesedihan yang mengisi setiap ruang di cakrawala. Menggema di cakrawala, mengisi setiap dada orang yang berdiri di sana. Mata mereka bergelimang di sentuh sinar mentari, mereka merasakan kesakitan gajah-gajah itu, perlahan tubuh mereka menjadi batu, merayap semakin menghabisi tubuh besar yang semakin terlihat kokoh. Seperti ribuah panah dengan api dihunuskan pada isi dadanya, Lelaki itu tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Sungai meluap di pipinya, menyibak segala kesakitan menyaksiakan batu-batu besar itu di sentuh sinar matahari pagi.[]

 

 

  Tentang Penulis

Mufidz At-thoriq Syarifudin mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Siliwangi yang sedang menyusun skripsi.

Lahir di Bandung pada 26 Juni 1994 namun dari kecil menetap di Tasikmalaya bersama keluarganya.

Menulis cerpen, puisi, cermin, essai/laporan budaya, dan naskah drama. Beberapa karyanya pernah dimuat Pikiran Rakyat, Kabar Priangan, Banjarmasin Post, Radar Tasikmalaya, Buruan.co, Radar Banyuwangi, Bentangpustaka.com, Detakpekanbaru.com, Majelissastra.com, sastramu.com, Pos Merto Prabu, Buletin Estetika Diksatrasia, dan lain-lain. Cerpennya yang berjudul “Gelisah” menjadi Juara 2 FSA II Lomba Menulis Cerpen Se-Priangan Timur UPI Kampus Tasikmalaya, “Di Tubuh Cermin, Marnus Bermain” menjadi Cermin pilihan Bentang Pustaka , antologi cerpen “Batu yang Dililit Ari” menjadi nominator Siwa Nataraja Award II dan antologi cerpen “Kampung Sebelah” masuk 8 besar Siwa Nataraja Award II. Cerpen dan puisinya juga tergabung dalam beberapa antologi bersama. Buku kumpulan cerpen tunggalnya“Bapak Kucing” (2015) dan “Batu yan Dililit Ari” (2016). Selain menulis, aktif juga di Teater 28 dan  Berada 57. Dapat dihubungi lewat facebook/gmail: mufidzatthoriq@gmail .com, juga sering upload gambar berkata di @mutthors_ yang diasuh @sherlyfirmayaa.

 

Catatan: cerpen ini merupakan tayangan ulang setelah sebelumnya (Minggu 9 Okt 2016) tampil di Buanakata dalam domain yang berbeda

 

[Cerpen] Menikahi Matahari

Oleh : Devian Amilla

“Bagaimana mungkin kau hidup dengan seseorang yang tak pernah menganggap kau ada, Mira?” tanyanya padaku. Dia menatapku dengan tatapan tak percaya. Seperti biasa, aku hanya diam lalu berusaha untuk tersenyum di hadapannya.

“Mira, pernikahan itu membawa kebahagiaan bukan kesedihan.” Ucapnya sambil mengelap air mataku yang sejak tadi tak mau berhenti. Aku merasakan kekecewaan yang teramat dalam dari nada bicaranya. Pagi ini setelah pertengkaranku dengan Sultan, aku memutuskan untuk menenangkan hati dan pikiranku di apartement Bita.

“Apakah kau menyesal telah menikah dengannya?”. Sebenernya aku masih malas untuk membuka mulut. Tapi rasa-rasanya Bita telah salah paham atas kehadiranku pagi ini di apartementnya. “Jika kau tanya padaku apakah aku menyesal, jawabannya jelas ‘tidak’, meskipun sekarang aku masih gagal, tapi aku bangga hidup di atas keputusan yang kubuat sendiri.” Aku mencoba menarik sudut bibirku untuk menciptakan senyuman yang selama ini ia suka. Meskipun aku tau, aku gagal melakukannya kali ini.

“Maksudku, apa kau tidak ingin berhenti saja? Sebelum semuanya semakin menyakitkan, Mir.”

“Ini sudah sangat menyakitkan untukku, Bit. Tapi aku mencintainya. Sangat mencintainya.” Aku mengelap pipiku yang basah.

“Tapi dia tidak mencintaimu!”, ucap Bita ketus.

“Mana mungkin dia menikahiku jika dia tidak mencintaiku, Bita!”, aku menjawab ucapan Bita tidak kalah ketus. Aku rasa percuma berdebat dengan sahabatku yang satu ini. Bita tidak akan sependapat denganku. Ini bukan kunjunganku yang pertama ke apartementnya. Sudah tiga bulan usia pernikahanku, dan hampir tiga bulan juga aku bertandang ke apartementnya dengan keadaan seperti ini. Mata sembab, hati berantakan, pikiran kacau. Sudah entah berapa ribu kali nasihat yang keluar dari bibir mungilnya untukku. Tapi aku tak pernah mengindahkannya. Bita sahabatku sejak kecil, usianya 3 tahun lebih tua dariku. Bita sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Sultan tahu pasti hal ini.

“Lepaskan Mataharimu, Mir. Dia terlalu panas untukmu. Lihatlah, tiga bulan pernikahan kalian, tak sekalipun dia mengusap air matamu ketika menangis. Padahal jelas-jelas dialah sebab kau menangis, dialah sebab mata cantikmu sembab seperti sekarang. Lihatlah, matamu sudah seperti pemain tinju yang menerima serangan telak di wajahnya.” Bita terus menggerutu.

“Kalau begitu, biarlah aku yang akan mengatur suhunya agar tak terlalu panas untukku, Bit.” Aku tersenyum tanpa menoleh ke arah Bita. Tuhan, rasanya sakit sekali ketika mengatakan ini. Tapi biarlah, biarlah aku yang merasakan semua ini. Aku mencintai Matahari, itu artinya aku harus tahan seberapa pun panas yang akan ia berikan untukku. Walaupun Bita benar. Selalu benar. Seharusnya aku melepaskan Matahari.

Malam itu aku diantar Bita pulang kerumah. Aku mengira Sultan belum pulang dari kantor. Karena jam masih menunjukkan pukul 20.00. Biasanya Sultan baru tiba dirumah pukul 02.00 pagi.  Tapi dugaanku salah. Sultan sudah pulang dan banyak sekali mobil parkir di halaman rumah kami. Aku panik. Sultan pasti marah sekali ketika tidak mendapatiku di rumah saat dia tiba tadi. Takut-takut aku melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Bita yang melihat aku begitu takut memutuskan untuk ikut masuk ke dalam mengantarkanku. Aku menolaknya tapi bukan Bita namanya kalau ia mau mendengarkanku. Bita menarik tanganku untuk segera masuk ke rumah karena diluar hujan sedang turun dengan derasnya.

Betapa terkejutnya aku melihat Sultan sedang pesta minuman keras dengan teman-teman wanitanya. Kucari penjelasan dari tatapan matanya. Tapi ia hanya menatapku dengan dingin. Bahkan tatapan dinginnya mengalahkan udara diluar. Bita yang saat itu menyadari aku sudah tak di hargai lagi sebagai seorang istri mulai berang.

“Sultan! Keluarkan teman-temanmu yang tidak tahu sopan santun ini dari rumah kalian!”, Bita kalap, ia melemparkan salah satu gelas yang berada tepat disampingnya ke lantai. Seluruh perhatian teman-temannya pun tertuju pada kami. Sultan menoleh, rahangnya mengeras. Dia berjalan kearahku dan Bita. Dia berbisik di telingaku, “Keluarkan temanmu yang seperti anjing liar ini dari rumah kita!”. Aku terkesiap. Bagaimana mungkin dia menyebut Bita “Anjing Liar”. Bukankah dia tahu Bita sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri.

Demi mendengar dirinya disebut “Anjing Liar” oleh Sultan, Bita refleks melayangkan tamparan telak di wajah tampan Sultan. Sultan mendesis. Menyeret paksa aku yang sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, meninggalkan Bita yang berteriak memanggil namaku. Sultan menarik paksa rambutku yang seharusnya dibelainya dengan lembut, mencampakkan tubuhku kedalam kamar yang seharusnya dia peluk dengan hangat. Sultan mengunciku dari luar. Kepalaku sakit sekali. Semua terasa berputar. Mataku sudah tidak bisa melihat dengan jelas lagi. Kurasakan cairan mengalir dari atas kepalaku. Tiba-tiba semua terasa begitu gelap.

Keesokan paginya aku terbangun dengan kepala yang masih terasa sakit. Aku mencoba mengingat kejadian tadi malam. Oh, Tuhan. Bagaimana dengan Bita? Tidak seharusnya dia ikut mengantarku ke dalam. Kulihat pintu kamarku sudah terbuka. Aku bersyukur Sultan sudah melupakan kejadian tadi malam dan mau memperbaiki semuanya dengan membukakan pintu kamarku.

Kulihat ia sedang membuat roti panggang kesukaanku. Kupeluk Sultan dari belakang, kubisikkan bahwa aku minta maaf atas kejadian tadi malam, bilang kalau tak seharusnya aku membawa Bita kedalam rumah. Tak ada respon. Sultan tak merespon perkataanku. Tapi ia juga tak berusaha melepaskan pelukanku seperti biasanya. Aku tersenyum, ini suatu kemajuan. Mungkin Matahari-ku akan sehangat dulu lagi.

Sultan sarapan tepat di hadapanku. Dia membiarkan aku menikmati caranya makan. Hal yang selalu aku suka dan tak pernah lagi ia lakukan untukku selama tiga bulan pernikahan kami. Biasanya dia akan pergi menghindariku jika aku berada di dekatnya. Mungkin Matahari-ku akan kembali seperti dulu. Senyumku terus mengembang.

Kulihat Sultan sibuk membereskan berkas-berkas yang akan dibawanya ke kantor. Kutanyakan apakah aku perlu membuatkan bekal untuknya. Tak ada respon. Kutanyakan lagi apakah malam ini ia akan makan malam dirumah? Ia juga tak merespon. Aku mulai merasa diacuhkan. Tapi tidak apa, setidaknya Sultan tidak menyuruhku pergi seperti biasanya. Rasanya aku lelah sekali. Kutinggalkan Sultan yang sekarang melangkah ke arah kamarku.

Baru beberapa langkah kakiku menjauh darinya, kudengar Sultan berteriak memanggil namaku. Aku pias. Aku segera berbalik ke arahnya. Aku terperanjat melihat tubuhku yang sudah lemah tak berdaya dengan darah yang segar dibagian kepala, sebagian sudah mengering di lantai. Kulihat Sultan menangis, berusaha membangunkanku dengan menggerak-gerakkan tubuhku. Aku bingung. Aku berteriak memanggil Sultan. Sultan tidak mendengarkanku. Oh, Tuhan. Apa-apaan ini? Kenapa Sultan tidak mendengarku? Kenapa ia malah sibuk dengan teleponnya? Bisa-bisanya dia menelepon seseorang dalam keadaan seperti ini?

Belum habis kepanikanku, kulihat dokter dan beberapa perawat masuk ke kamarku dan memindahkan tubuhku yang sudah mulai pucat seperti mayat. Semua belalai-belalai panjang yang dibawa dokter dipasangkan ke tubuhku. Alat kejut jantung juga dikeluarkan. Satu. Dua. Tiga. Tak ada respon dari tubuhku. Ayolah, sekali lagi, batinku. Satu. Dua. Tiga. Hasilnya tetap sama. Tidak ada lagi respon dari tubuhku.

Kulihat Sultan memohon pada dokter untuk mengupayakan segala cara, kudengar ia menyebut-nyebut asetnya. Ia ingin menukar semua asetnya untuk membuat jantungku berdegup kembali. Tapi itu tak mungkin terjadi. Manusia hanya bisa berencana, Tuhanlah yang menentukan segala. Saat itulah aku sadar, duniaku dan dunia Sultan sudah berbeda. Itu mengapa dari pagi tadi ia tak merespon semua pertanyaanku. Kulirik sudut meja kamarku, ada bercak darah disitu. Aku baru ingat, ketika Sultan mencampakkan tubuhku, kepalaku membentur sudut meja tersebut.

Aku pun mulai menyadari sesuatu, Sultan, Matahari-ku yang dulu hangat juga sangat mencintaiku. Sangat takut kehilanganku. Lihatlah, dia tak henti-henti menciumiku, menyuruhku membuka mata, bilang bahwa ia akan menjadi Matahari-ku yang manis, yang selalu hangat. Bita salah. Bita tidak selalu benar. Sultan mencintaiku. Matahari-ku sungguh mencintaiku. Hanya saja ia tak tahu bagaimana cara memperlakukan orang yang ia cintai dengan baik. Mahal sekali yang harus kubayar untuk mengetahui Sultan mencintaiku atau tidak. Aku bahkan menukarnya dengan nyawaku. Tapi tak mengapa. Aku tak pernah menyesalinya sedikit pun. Bagiku, dengan menikahi Matahari, aku menemukan kebahagiaanku sendiri dan aku bangga dengan keputusan untuk menikahi Matahari tiga bulan yang lalu.


 

Devian Amilla adalah Alumni UMSU, Jurusan Matematika, 2016. Perempuan kelahiran 13 Desember 1994 ini sekarang tercatat sebagai Guru Matematika di salah satu sekolah swasta di Medan. Bisa dihubungi di FB : Devian Amilla atau email : princessadevian@gmail.com

[Cerpen] Penangkapan

Oleh: Sulistiyo Suparno

Hidup di daerah kumuh memang menakutkan. Setiap saat keselamatan terancam. Anak-anak dilarang keluar malam oleh orang tua mereka, termasuk Nadya yang meski sudah kelas XII SMA, tetapi jam lima sore harus sudah berada di rumah.

Malam adalah saat yang menakutkan. Orang-orang entah dari mana hilir mudik, entah untuk urusan apa. Kata ayah, mereka sedang “bekerja”. Sekian lama Nadya tidak mengerti maksud ayah. Belakangan, Nadya tahu “pekerjaan” orang-orang itu sesuatu yang mengerikan.

Nadya pernah meminta ayah untuk pindah ke daerah lain yang tenang dan aman. Di mana saja asal bukan lagi di dekat pelabuhan seperti sekarang. Di sini, hujan sedikit saja rumah berubah menjadi danau, setelah itu jalanan menjadi becek, nyamuk merajalela dan penyakit datang menyerang.

Tetapi ayah menolak karena sebagai pegawai rendahan pada kantor pelabuhan, hidup mereka pas-pasan, tidak mampu mengontrak rumah. Lagi pula sayang bila harus menjual rumah warisan.

Bila malam Minggu tiba, Nadya hanya bisa menelan keinginannya untuk bermalam panjang. Ayah melarang Nadya keluar malam. Lebih parah lagi Nadya belum punya kekasih. Pemuda mana yang mau memacari gadis pelabuhan?

Banyak pemuda yang takut berkunjung ke daerah kumuh itu, apalagi mengunjungi rumah gadis. Para pemuda takut pada preman-preman yang mangkal di pos ronda di mulut gang. Sekumpulan preman itu gemar memalak orang-orang yang lewat.

Preman-preman itu kebanyakan anak putus sekolah. Mereka hanya baik pada gadis cantik; itu pun dengan catatan mereka dalam keadaan sadar. Bila sedang mabuk, mereka lupa daratan. Siapa saja yang melintas mereka ganggu, termasuk Nadya yang terpaksa lari dan menangis karena seorang dari preman itu mencoba berbuat kurang ajar padanya.

Nadya menangis dalam pelukan ibu. Sementara ayah hanya diam menahan marah. Ayah terlalu sabar hidup di daerah itu. Malamnya, saat Nadya dan ibu sedang menonton televisi, ayah pulang dengan wajah menyisakan berang.

“Dari mana, Yah?” tanya ibu.

“Menghajar orang!” sahut ayah pendek.

Esoknya, Nadya melihat preman yang mencoba berbuat kurang ajar padanya kemarin, berwajah bengkak di bagian mata dan luka mengering di bibir.

***

Suatu pagi di dekat rumah Nadya ada kerumunan orang-orang dan mobil polisi.

“Ada apa, Pak?” tanya Nadya pada seorang lelaki setengah baya.

“Jiteng ditangkap. Dia membacok seseorang.”

Jiteng adalah preman yang tempo hari hendak berbuat jahat pada Nadya. Nama aslinya, entah, tetapi orang-orang memanggilnya Jiteng karena kulitnya gelap dan dekil.

Nadya melihat Jiteng dibekuk polisi, keluar dari halaman rumahnya, lalu dinaikkan ke mobil tahanan bak terbuka. Beberapa orang berteriak memaki, tetapi sebagian besar orang-orang hanya diam, seakan tak ada yang perlu dipersoalkan.

Penangkapan seseorang di daerah itu adalah hal biasa. Masuk keluar tahanan atau penjara seperti piknik gratis saja bagi sebagian warga. Orang-orang di daerah itu sudah terbiasa berurusan dengan aparat keamanan dan hukum.

Nadya memandang dengan tatapan gamang pada Jiteng di mobil tahanan yang melaju perlahan meninggalkan kerumunan. Nadya merasa senang tetapi juga ada setitik iba. Tetapi, setidaknya Nadya merasa aman dari gangguan preman itu selama beberapa waktu ke depan.

***

Nadya merasa makin aman sejak akrab dengan Benny. Sebenarnya mereka sudah lama kenal, tetapi hanya sebatas bertegur sapa. Sampai suatu petang Nadya melihat Benny berdiri di depan rumah.

“Boleh jalan bareng?” tanya Benny.

Nadya mengangguk meski menyimpan ragu dan curiga. Tetapi, syukurlah tak ada insiden buruk sampai mereka memasuki halaman masjid. Kemudian, petang-petang berikutnya mereka sering berjalan bersama menuju masjid.

Benny anak Teknik Otomotif sebuah SMK swasta, usianya sebaya Nadya. Tubuhnya ceking dan tak terlalu tinggi. Meski sosoknya kecil, tetapi Benny jagoan, jadi bos pemuda-pemuda seusianya. Preman-preman di mulut gang juga segan padanya, sehingga mereka tak berani lagi mengganggu Nadya.

Benny itu pendiam, termasuk alim untuk pemuda yang kerap bergaul dengan berandalan.

“Aku nggak munafik, aku memang pernah coba ngisap ganja. Sekali saja, setelah itu nggak lagi,” kata Benny suatu petang.

“Aku nggak mau kamu pakai narkoba lagi, Ben. Kalau kamu pakai narkoba lagi, aku nggak mau jadi teman kamu.”

“Teman?” alis Benny bertautan.

“Ya….setidaknya teman dekat.”

Benny tersenyum mendengar jawaban Nadya.

Suatu hari Benny ingin mengajak Nadya jalan-jalan. Nadya gembira, tetapi harus meminta izin dulu pada ayah.

“Boleh ya, Yah?” Nadya merajuk.

Ayah hanya diam, memandang ibu seperti minta pertimbangan.

“Baiklah,” sahut ayah.

Nadya melonjak girang dan memeluk ayah.

“Terima kasih, Ayah, terima kasih.”

Usai sholat isya, Nadya mematut diri di depan cermin. Menaburkan bedak padat tipis-tipis pada pipinya yang sawo matang, mengoleskan lipgloss pada bibirnya yang tipis, dan menyisir rambutnya yang sebahu.

“Kamu cantik sekali, Nadya,” kata ibu.

Di teras, Benny telah menunggu. Di halaman, ada motor sport hijau. Nadya tersipu-sipu ketika naik ke boncengan. Ah, seperti bintang sinetron Anak Jalanan saja rasanya.

Beberapa ibu tetangga memandang dan mencandai mereka. Preman-preman di mulut gang bersuit-suit.

Mereka keliling kota, duduk di alun-alun, setelah itu makan di restoran cepat saji. Malam itu Nadya bahagia sekali, wajahnya berseri-seri. Itu kali pertama bagi Nadya bermalam Minggu dengan seorang pemuda!

“Sudah malam. Kita pulang?” tanya Benny menggenggam tangan Nadya.

Dada Nadya berdebaran. Nadya tersipu dan mengangguk pelan.

***

Hari ini Nadya pulang sore. Nadya sudah pamit pada ayah dan ibu bila hari ini ada pelajaran tambahan di sekolah, sehingga ia akan sampai rumah sekitar pukul empat sore.

Langkah Nadya terhenti ketika melihat kerumunan orang-orang dan mobil polisi. Nadya melihat dua polisi menggiring seseorang lalu menaikkannya ke mobil tahanan. Nadya terhenyak tak percaya, tubuhnya gemetar.

“Ada apa, Bu?” tanya Nadya pada seorang wanita setengah baya.

“Benny ditangkap. Dia anggota sindikat penyelundup barang-barang elektronik.”

Nadya terhuyung sejenak. Tidak, ini pasti mimpi! Benny yang baik, tak mungkin melakukan itu. Hati Nadya berontak, tetapi matanya jelas melihat Benny tertunduk dengan tangan diborgol, duduk diapit dua polisi.

Dari mobil tahanan, Benny mengangkat wajah sejenak. Nadya yakin Benny melihatnya.

Orang-orang menatap Nadya, entah apa maksud mereka[]

=====================================================

Sulistiyo Suparno, kelahiran Batang, 9 Mei 1974. Cerpen-cerpennya tersiar di Minggu Pagi, Banjarmasin Post, Cempaka, Radar Surabaya, Metro Riau, Nova, Girls, Suara Merdeka dan lainnya. Bergiat di Komunitas Pena, perkumpulan penulis di Batang. Bermukim di Batang, Jawa Tengah.

 

Sulistiyo Suparno

Krangkoan RT 004/RW 002, Ngaliyan, Kec. Limpung, Kab. Batang 51271, Jawa Tengah

Ponsel: 0856 2576 174

Surel: sulisjateng@gmail.com

Facebook: Sulistiyo Suparno