Arsip Kategori: Puisi

Puisi Lamuh Syamsuar

Deguk Jernih

sinar dan kicau lunak
bersihangat membuka kelepak lembayung

biji-biji kerling yang melayang
seperti sehimpun sayap laron di dinding pagi
menggerayangi lekuk
kelabu, lekuk kalbu

rinduku telah sampai ke deguk jernih
telaga yang hening sepanjang musim
Loteng,  07 Mei 2016 

 

Tanah Pecatu

petak pecatu adalah tanah sengketa yang pulang ke tangan datu
begitulah awig-awig yang ada. tapi adanya sekarang jarang disinggung
padahal tanah seakan meninggal pesan tiada dicipta dua kali
kisahnya waktu itu amat sulit jika air sumur terangkat tanpa timba
maka pecatu digarap keliang. sebagai ganti berkat
lestari rukun kaula sepanjang kampung
sepertinya perjalanan kampung tak sanggup lagi menjinjing khasanah aguman
lantaran hamba-hamba yang lahir kemudian tak banyak tahu tanah pecatu

juga lantaran keliang hampir seluruhnya menyalin ladang nafkah

Loteng, 09 Juni 2015 
 

Pelantun Solawat Subuh
:Uwak Asih

tidak seperti ketika lelap membuai baring kampung
perempuan cekung itu keluar menerobos tirai kabut
ia mengambil air yang diembuni langit
menyuci tapak-tapaknya yang berhadas malam
seakan lembaran sisa pagi melarangnya pulas di sela suara muadzin
selalu ia yang utama terdengar mengisi buta subuh
dengan lantun solawat yang tidak dapat tidak keluar gemetar
mungkin karena gelombang itu lahir dari dada yang tengah digitik gigil
masih dari rambat benang yang pecah dari pengeras surau
terbayang usaha yang dalam memeras jaga, memelihara khusyu
seingat bilamana dulu ia pernah capai lewat mata terpejam
dan yang lepas, seolah mengandung sedih telah lalai-luput menghatur sembah

Loteng, 01 Juli 2015 

 

Durian dan Manggis

barangkali. kita adalah
sepasang buah yang tengah ranum
pada pokok yang berbeda.
aku durian. siapa tak kenal harum dagingku.
aku gemar meninggalkan ujung-ujung duri diriku
memanjat ke salah satu pohon pembaca di kotamu.
segera penciumanmu mengenali aku
sekali lagi. aku gampang mencuri selera darimu,
meruntuhkannya dari dahan jantungmu
sayangnya engkau manggis
meski telah manis
kau tahan tak menangis
kau cukup setia menunggu pencicip
di balik selimut daging merah tua itu
kau perempuan tabah yang tahan
menyekam bara tanpa bicara
barangkali kita sama-sama tengah ranum
bedanya, aku kerap gundah
saat biji mataku selalu menangkap raut tenang seratmu
seolah buah bibirku di depanmu bagai desis ular tak berbisa

Loteng, 29 September 2015

 

Lamuh Syamsuar, Lahir di Lombok Tengah. Menyelesaikan Studi S1 di IKIP Mataram. Puisi-puisinya juga pernah dimuat di Suara NTB, Lombok Post, Jurnal Sastra Santarang, Bali Pos dan Riau Pos. Belajar sastra di Komunitas Akarpohon (Mataram). Buku puisi pertamanya Secauk Pasir Kesunyian (2014).

Puisi Pusvita Defi

LUKISAN TERAKHIR UNTUK MILLAN

Bruce Allender

Di matamu kota Honolulu serasa kebakar, seperti ladang yang disiram percikan api

Debu-debu itu hinggap di etalase ingatanmu, juga celana dalam yang kau pakai sewaktu

melepas lambai pada kekasih mayamu

 

“terkadang Tuhan itu lebih suka menatapku seorang diri, meraya sepi, lalu dengan lembut

membunuh cinta yang tidak semestinya kukecup, ucapmu lirih sebelum kereta mengantar

detak jam yang terasa tua menuju Melbourne. Kota tua yang mengeram kenangan

//

Di pantai Waimanalo, sore itu, udara gigil terlalu asing untuk  di nikmati, ombak begitu

garang, burung merak mengepak sayap di jingga yang hampir terbenam, perlahan dingin

dalam dadamu menyeruak pitam, dan sebentuk kenangan yang menyerupai

daun-daun maple jatuh tepat di keningmu.

//

Tiga tahun berangsur lalu

di sudut ruang yang penuh redup dan sunyi

kepalamu terasa nyeri, matamu berkunang-kunang

bagai dihantam sebuah bongkahan batu besar

kau menatap ke luar jendela, angin berdesir lambat

kecamuk dalam batin semakin teriris

ketika lekat  tatap lukisan  di atas dinding itu membentur kembali ingatanmu

“aku tidak ingin  terpukau pada bibirmu yang terlalu rapuh, dan binar matamu yang

memukau, sayang.

sebab di sini telah kumakamkan jasadmu dalam genting jeruji waktu

juga semburat air mata yang kian layu

dihantam cemburu,  ihwal kerahasiaan cinta

yang kau tusuk tepat di punggung hatiku

 

jangan menangis atau pun merintih,

sebab kisah putri tidur dan dongeng lainya adalah sebuah cerita  yang paling kubenci

dan aku tak betah sewaktu mencium bibirmu lalu dengan tergesa meracuni lambungmu

maafkan aku, Millan

terlarutlah kau dalam eraman ujung kuas dan halaman kanvas yang kupersembahkan

untukmu terakhir kali

kecammu dengan serinai kelopak mata yang

berkaca-kaca dan luapan emosi membabi buta.

    Pelalawan, 14:54 Wib

 

MANTERA PARAKANG

lelaki penganut Parakang

itu telah menanam dendam diatas pusara

Eyangnya yang  mampus disabit

oleh kaum Bangsawan, gumpalan darah hitam

berkunang-kunang di atas batinya meradang

menumpas liang dendam,

Barangkali bagai cambuk api membakar hati

 

Di malam jumat kliwon

di rentan bulan sabit

Sebuah ritual disajikan

Rangka, sehari menjelang pernikahan

Puteri bangsawan dengan Tutu, kekasihnya.

dua tetes darah perawan

telah ia sungguhkan
menyuruh mambang bertandang
menyilaukan taring
melumat gadis kampung  yang terbungkus perawan

teramat rawan

//

Seraya kabut pagi menjelang,
ilmu guna-guna itu telah melekat
di atas pangkal rambut Puteri Natisha
hingga kokok ayam melengking,

Rangka berhasil mencuri Natisha dari istana

//

Di lereng gunung,
Lelaki berbudak setan itu mentabiat
sesembah yang akan ia tumbalkan

untuk menambal ilmu gaibnya

dan Natisha yang lincah bakal ditumbal

untuk persembahan terakhir

dengan mantra yang ia ritualkan

 

Manusia yang beralih rupa menjadi Serigala,
yang menyanyikan kidung-kidung purba,
telah menyambut tetes-tetes darah perawan Natisha!”

 

Akan tetapi, Dewa jagat batera bertakdir lain.

sebelum semua itu terjadi, secarik pesan rahasia

ditemukan Tutu di loteng Rumah Rangka,

lalu ia memecah kode-kode  Rerahasia

dalam kitab kuno ilmu Parakang,

hingga akhirnya Tutu pun berhasil menumpas

darah bejat Rangka, sebelum perawan  Natisha tumpah

              Pangkalan Kerinci, 2016

 

PEREMPUAN  YANG  MENANAM  API  DI DADANYA

Perempuan itu berkecak

matanya bagai bara yang meluap-luap

barangkali, seliang luka telah mengubun

menancap di lubuknya paling purba

 

Pukul dua dini hari

di patung yang tergantung

bewarna merah—serekah darah

perempuan itu telah ditawan

oleh sekumpulan buaya putih berkepala manusia

tubuhnya dicabik, di rampas kesuciannya
orang-orang berdoa menghilangkan kepala

dan hatinya

sepasang burung ruak mengepak

membiar tubuh perempuan itu dilahap derita.

 

Di luar—senja terbenam

langit pitam, malam bertandang

angin datang

menghantam bagai tajam belati

kendati perawan dirampas habis

namun desir dendam tetap menyala

di lubuk—perempuan yang membara api

di dadanya

Pangkalan kerinci, 29/09/16

 


Pusvita Defi, Wanita kembar Kelahiran Medan, 23 Juni 1994, menyukai seni Teater dan Sastra Beberapa Puisinya dimuat di laman : Rakyat Sumbar, Sumut Pos, Basa-basi.co, koran Harian Cakrawala Makassar, Batam Pos, RiauKepri, Detakpekanbaru, Tetas Kata, Banjarmasin Post, Rakyat Sultra.

Penyair juga memenangkan beberapa Lomba Baca puisi diantaranya: Juara 1 Baca puisi Se-Riau, Juara 1 Baca puisi Bulan Bahasa UNRI,  Juara 1 Baca puisi UR, Juara 1 Baca Puisi Gelora Puisi UKM-Batra

Karya-karyanya pun termaktub dalam Himpunan Puisi dan antologi Cerpen, Bergabung di Komunitas Pena Terbang (Competer), Kenduri Puisi Pekanbaru

Penyair berdomisili di Riau- Pekanbaru

Puisi Lia Amalia Sulaksmi

 JIKA TAK TAHU JALAN PULANG

jika kau tunjukkan jalannya maka akan kutabur kamboja di atas nisannya
sampai musim yang sunyi menemukan mekarnya kembali, entah berkilo panjangnya itu
tiada tahu, tempat singgah apa yang telah mencium bau surga
tubuhmu tubuhku tak berarti apa-apa
hanya kau tahu? denting musafir di setiap perjalanan
menambah kekuatan, cinta atau dendam atau rindu
semakin erat semakin luruh dalam ketidakkuasaan kita

apa yang kurengkuh, detik! tiba-tiba menghambur bagai hujan
menembus peluhku, menimbun baramu

jika tak tahu jalannya, maka kamboja menahan sedihnya
dari pengembaraan yang tak pernah mampu diselesaikan

Bandung, 2-9-14

Setahun yang lalu, dia memberiku harapan, entah Tuhan yang memberikannya? Lewat pikirannya, aku menemukan diriku, menemukan apa yang telah hilang selama ini. Lewat dirinya aku juga menemukan salahku. Menyusun kembali batu-batu yang sudah menjadi kerikil runcing.

“Aku menemukanmu, melalui celah-celah kesakitan. Kau membuatku tertawa, seakan tawa benda purba di tanganku waktu itu”

#EPS 1

KETIKA MENEMUKAN

memasuki rumah, menghembus napas dan aroma mawar
yang ditertawakan sepi seperti memukul-mukul mata
kepala menatap namun hati menyayat, jejak jejak di beranda
mengisi hampa; aku menemukanmu, risalah yang cemburu

masuk lebih lama; tungku api menyala, diam-diam aroma masakan menusuk jantungku
almanak tua tergantung miring, dinding muram dan detak jam melebam dadaku
;aku menemukanmu ketika kertas-kertas berbaring tak berdaya

di pembaringan yang kian sunyi, alarm menghunus tubuhku
gambarmu tersenyum di sudut paling berwarna oleh lampu-lampu
;yang berjuang mempertahankan hati
aku menemukanmu mengelus keperempuananku

aku berlari dan kuhitung bintang di halaman belakang
rambut yang tergerai meniup senja yang lapar
punggungmu di tepi ngarai mengurai banyak hal
kutangkap tanganmu kudekap tubuhmu kuciumi kerinduanku

sungguh-sungguh aku menemukanmu, ilalang berarak adalah waktu singgah yang lama

Bandung, 10-9-14

Sungguh! Itu setahun yang lalu, dan akhirnya dia menemukan rasa sakitku di celah paling tersembunyi. Katanya, “aku membayangkan bagaimana orang itu bisa tetap menciummu, ketika engkau menangis dalam luka.” Aku tertawa miris dan pilu. Sedangkan dia mengelusku dalam setiap kata-kata puitisnya.

“Kau mengerti! Betapa berharganya engkau melebihi apa yang dimiliki dunia ini, tetapi kau lebih memahami, cinta akan lebih membuatku perih kehilanganmu. Dan kini aku akan kehilanganmu”

#14

biarkan aku berlari, menangisi temaram dalam matahari
gila sebab yang berjuntai bukan saja sungai dan kelokannya
tapi mimpi-mimpi mendaratkan sepi
sehampa laguku sore yang ragu itu

kamu yang memberi kecupan, dari bibir terkatup
gelap dan mesra, angin barat telah menabur pucuk dedaunannya
di tanahku, lama tertinggalkan; pada sebuah nisan

tanganmu wahai sang penyair, meramu masakan tulang-tulangmu
rempah-rempah menangkup ciumanku
batas malam di antara sesak rembulan

dan aku kini, menjadi kelu, saat bayangmu menggapai-gapai

biarkan aku berlari, tepat di jantungmu

Bandung, September 2014

Dia pergi, aku yang membiarkannya pergi. Hari ini, Agustus 2015. Sudah hampir setahun. Aku memberinya kecupan kata yang pahit. Aku pergi untuk hidupnya! Bukan untukku.

“Kata-kata telah menjadi mimpi, mereka menamparmu, dan aku pun tertampar. Dalam kebimbanganku untuk meyatakan aku merdeka dari rasa yang tiada aku sesali, aku masih mencari adakah sela

selain dirimu yang mampu tepat menembus jantungku dengan bunga-bunga? Sungguh hidup ini memberiku akal untuk memilih yang lain, bukan dirimu! Sayang, dalam ketidakmengertian kita, aku hendak memilih jalanku, cukuplah hidupmu dengan adanya sekarang, dan hidupku biarkan mengalir ke jalannya”

Tanganmu wahai sang penyair
akan damai saat sunyi di atas bukit mimpi
memanggil untuk kembali
menjemput pagi

Bandung, 11 Agustus 2015

Ini kisahnya, setahun lalu.

Dan aku memberikan puisi pertamaku padanya, 1 September 2014. Aku menganggapnya seorang teman dari masa lalu, yang biasa berbagi tawa. Setelah lama menghilang dari jagad permayaan, aku menemukannya lagi, masih dengan perasaan yang sama, seorang teman yang sangat lucu.

“Tiba-tiba engkau hadir pada ketidakmengertianku,­ pada misteri masa depan. Kau datang memberi warna, pada hidup kelabuku. Semua orang tidak pernah tahu tentang lubang rasa sakitku waktu itu”

terlelap sayangku, mungkin jiwa
mungkin lainnya, mengenai terbang
seperti camar atas lautannya.
aku atas samuderaku dari kumpulan angin
yang tersedu-sedu.

jika warna itu rindu, aku memulai
dari yang paling sunyi
menemukanmu dari tatap panjang masa silam
seolah-olah terbangun dari mimpi itu

kutemukan palung indah dari kedalaman yang damai

Bandung, 1 September 2014

Lia Amalia Sulaksmi, Ibu Guru Muda yang suka piknik

Puisi Vito Prasetyo

Mawar Rindu

Setangkup rindu berubah duka
warnanya semakin memudar
nyaris kusam
saat sukma bicara tentang harapan cinta
Mawar hanya bisa mengais rindu
dalam mimpi-mimpi malam
Di luar sana, di batas pelataran malam
gesekan sebuah biola mengalun
sayup-sayup irama itu seakan berlabuh di hatinya
mungkin masih ada yang tersisa dari kerapuhan hatinya
Sejumput angan, ingin rasanya
ia meramu buaian asmara
bergelayut pada setangkai rindu
karena mulai terpaku dalam nalurinya

 

Mawar, hampir tiap malam
engkau merebahkan sudut pandangmu
pada pepohonan di pelataran rumah
tetapi, masih saja pesona dedaunan itu diam membisu
tak mampu mengalirkan senandung rindu
untuk mengusir resah hati
Mungkin getar-getar perasaan itu telah terkoyak
hingga rerimbunan daun semakin menutupi sudut pandang
kala matamu ingin menatap rembulan di rimba langit
yang semestinya selalu tersenyum pada makhluk bumi

 

Dalam kesendirianmu, Mawar
ingin rasanya membunuh penantian rindu
yang senantiasa bergejolak dalam hatimu
Apakah karena makna hidup telah berubah arti
mungkin juga berubah wujud
atau duka-lara itu tersimpan terlalu dalam!?
Dan malam pun terus bergulir
menghembuskan penatnya sang waktu
seperti hari-hari kemarin, yang telah terlewati
hingga aku menulisnya dalam sajak hatimu
(2017)

 

Tentang Hatimu

janganlah engkau bicara dengan kasat matamu
tapi bicaralah dengan kasat jiwamu
karena disitu mengalir kemurnian hati
: dan disitu engkau selalu merindukan Tuhan

Malang – 2017

 

Tentang Jiwamu

Lihatlah jiwamu pada cermin
begitu kusut dan layu
kulit-kulit wajahmu pun tampak gersang
buanglah rasa cintamu itu
– yang melekat begitu dalam
Janganlah engkau menikamnya
ke batas jiwamu
hingga akhirnya engkau terlahir
pada duniamu yang baru

Malang – 2017

 

Tentang Kamu

Ingin aku cerita tentang mimpimu
melukis tentang bayangmu
tetapi mimpimu bisu
dan bayangmu diam
semua dirimu tak tersisa
Apakah makna hidup telah terbelenggu
dan mimpi itu, – dalam hidup dia mati
bayang itu kehilangan sadar
atau haruskah kurenungi sekali lagi
agar penantianku hilang
Saat kupu-kupu terbang melintas
ingin kupinjam sayapnya
untuk meraih kepingan mimpi
kusatukan dalam bejana waktu
agar mimpi dan bayangmu tak merepih duka
Kini, saat kusibak kenangan dalam jiwamu
hidupmu mengalir sejuk
bagai embun menusuk kalbuku
dan disitu senyummu menggetarkan jiwaku
separuh episode waktu telah terbuang
kita kais hidup baru, dalam detak baru
kita satukan semua cerita tentang dirimu
(Malang – 2017)

 

Dibawah Gerimis Rindu

pagi ini begitu berat
malam berlalu dan pergi tanpa menyisakan mimpi
keresahan masih saja melekat di pelupuk mata
langit pun kelabu berselimutkan mendung
getar di hati seakan menyimpan lara
mungkin tangis hujan akan menyiramnya
agar rindu ini tak semakin mengering

gerimis pun mulai berserakan
jatuh ke bumi dari hamparan awan
disitu, butir-butir bayangnya melekat
ingin kucumbu bayang itu
agar temaram rindu tak semakin menggumpal
segala resah pun ikut tercurah
tetapi penantianku bukan untuk seseorang
telah lama kubuang rasa itu

sungguh, aku merindukan gerimis ini
agar bunga-bunga di tamanku kembali bersemi
setelah semusim kulitnya tak berseri
terbakar kemarau dalam penantian panjang
hingga langit begitu letih
seakan ingin direbahkan dirinya bersama gerimis
menyiramkan semua kerinduan ke dalam hatiku
dan dedaunan meniriskan impiannya
ke dalam bejana waktu
sampai tiba waktunya musim berlalu
Malang – 2017

 

Biodata:

VITO PRASETYO, dilahirkan di Makassar(Ujung Pandang), 24 Februari 1964 — Agama: Islam — Bertempat tinggal di Malang – Pernah kuliah di IKIP Makassar

Bergiat di penulisan sastra sejak 1983

Karya-karya Sastra pernah dimuat media cetak lokal dan nasional, antara lain: Harian Republika (Jakarta) – Harian Pikiran Rakyat (Bandung) – Harian Suara Merdeka (Semarang) – Harian Pedoman Rakyat (Makassar) – Harian Suara Karya (Jakarta) – Harian Radar Malang (Malang) – Harian Radar Surabaya (Surabaya) – Harian Solopos (Surakarta) – Harian Sumut Pos (Medan) – Harian Lombok Post (Mataram) – Harian Duta Masyarakat (Surabaya) – Harian Malang Post (Malang) – Harian Digital Nusantaranews.co – Harian Buanakata.Com – Majalah Puisi – Harian Digital LiniKini.Id (Jakarta)

Buku Antologi Puisi “Jejak Kenangan” terbitan Rose Book (2015)),“Tinta Langit” terbitan Rose Book (2015) -“2 September” terbitan Rose Book (2015), Jurnal SM II (2015) diterbitkan Sembilan Mutiara Publishing 2016

Kumpulan Cerpen “Wanita-Wanita, Menuju Ridho Allah” (2014 – 2015)

Buku Antologi Puisi “Biarkanlah Langit Berbicara” (2016 – 2017)

Sedang membuat Buku Antologi Puisi “Sajak Kematian” (2017)

 

E-mail : vitoprasetyo1964@gmail.com   —  HP: 081259075381 —

 

Puisi Puisi Moh.Romli

LITER PAGI

Tak sanggup menahan embun yang berlalu

memaksaku menantang terik matahari

dengan wajah pucat

melawan jeritan lapar yang terasa semakin menyengat

 

lelah aku sangat lelah

Gemetar tangan dan kaki semakin kencang

melewati gang kecoak di bawah got-got panjang

namun tetap saja hasil kepingan logam itu masih tak dapat aku tukar dengan seliter beras dengan harga yang semakin deras

 

mengeluh, bosan dengan harga yang tak terbatas

lalu kucoba mendaki gunung barang kali ada bekas-bekas semalam yang bisa mengganjal perut kita

 

namun yang ku temui bukan itu, melainkan singa yang sedang mencabik – cabik tulang tanpa kasihan.

aku tak tau keadaanku begitupun dengan keluargaku yang masih menunggu liter-liter itu.

 

RINDU MAMAK

Rindu di ujung senja

Mamak, senja itu kembali menusukku

dengan ujung pedangnya yang gelap

 

mamak, senja itu kembali menyambukku

dengan kulit tangannya yang terkupas

seperti yang mamak lakukan waktu aku kecil dulu

 

menyeretku, mamandikanku, menyiapkanku

untuk bergegas di lamur senja itu.

 

terlepas dua gema adalah waktumu

menjemputku

merayuku, menggendongku

 

dan raungan yang kau tahan

hanya untuk duduk dan makan bersama anakmu.

 

Mamak, anakmu rindu akan itu.

 

TIRAKATMU – TIRAKATKU

Lantaran awan memutih

hujan berlalu tak pamit

menyumpahkan rindu kematian

mengabdi keabadian

 

entahlah, yang kurasa bukanlah hakikatnya

melainkan hikmah dari kehendakmu Yaa-Rab

 

atau mungkin ini adalah

pahatan doa mamak

yang masih engkau sapa selama ini

 

mampu membuatku ada

walaupun sebenarnya sudah tiada.

 

tirakatmu dan tirakatku

adalah janji tuhan yang dipersiapkan untukku.

 

AKU TAU ITU

Waktu itu.

Yaah.. sampai saat ini aku masih terus bertanya tentang waktu itu

waktu dimana tiga sukma yang hilang tertangisi.

saat itu aku masih kecil dan keluguannya yang sangat tampak dimata mereka

 

entah dengan kakak dan ibu yang mestinya juga harus bisu, meratap dan melugu

hanya mengasa dan berharap lima daging dan darah yang tumpah dari rahim yang sama kembali menyatuh di puskesmas itu.

 

kami tak pernah menyalahkan siapa dan siapa, sebab kami sadar berharap bukan menunggu, meminta bukan pula membeli.

 

karna kami adalah orang tiada yang cuma mengemis belas kasih tuhan, entah dari posisi mana datangnya, dari gumpalan darah kita sendiri atau malah dari orang lain yang sama sekali kita tak mengnalinya.

 

harapan semakin beku

sementara detik, menit dan jam mengalir saja di tong sampah

seakan tak ada seorangpun yang rela berkorban mencairi asa dan mengalirkan hingga ke tubuh yang terbaring diranjang sepon hitam itu, kecuali bibik yang juga menangisinya, dengan kerelaan, keiklasan dan ketulusan yang sampai melelapkan dirinya.

aku tau itu

 

lima daging dan darah yang tumpah dari rahim yang sama hanya tampak dua,

ketiga daging dan darah lainnya entah melesat kemana

jangankan bertaruh untuk adapun meraka terpaksa

aku tau itu

 

matanya yang dusta

lelahnya yang pura

suaranya yang nyampah

dan rugi nya yang tanpak nyata

aku tau itu.

 

AKU INGIN SURGAMU

Dengarlah desahan anakmu

tinggalkan malam-malam itu, malam yang kerap melukaimu

sebab aku tak rela jika pekatnya sampai menyentuh mu apalagi lirih nya menyelimuti tubuhmu

ibu urungkanlah niatmu

untuk bangun malam menyiapkan ramuan yang akan ibu jual di pagi hari nanti

sudahlah ibu kumohon berhenti jualan

sekian lama ibu harus membanting tulang demi menafkahi anak-anak ibu, dan mengabulkan apa yang di inginkannya

apapun ibu lakukan itu

walau terkadang fisik tak mampu menuruti kemauan jiwanya yang sudah menua

aku tau itu ibu

karna ibu tak ingin anak ibu merasa kekurangan apalagi sampai kelaparan

tapi itu dulu ibu, itu dulu.

di waktu anakmu masih kecil dan sekarang siklus telah beralih

lihatlah anakmu ibu

pandanglah anakmu

anakmu sudah besar

anakmu sudah bisa hidup mandiri

dan bahkan anakmu sudah siap bekerja untuk ibu.

ibu, izinkanlah anakmu untuk menepati janji-janjinya

janji pada ibu dan juga pada beliau (mamak) yang sudah tiada

ini kawajibanku ibu

dan tangga untuk menggapai surgamu

ibu, aku masih ingat pesan beliau di desah nafas terahirnya,

anakku kalau mamak sudah tiada

jangan nakal ya nak

jangan main terlalu jauh

jangan sampai ibumu bersedih karenamu dan bantulah ibumu dalam setiap kesibukannya

sebab dibalik kesibukan itu

ibumu senantiasa menyimpan mutiara yang setiap hari nya ia kumpulkan untuk masa depanmu kelak

karna beliau tak ada alasan untuk hidup kecuali untuk membahagiakan, membing-bing dan mengarahkan mu ke jalan yang benar nak, ke jalan yang di ridhoinya.

ketika ibumu di dapur sedang memasak siapkanlah kayu yang di butuhkannya

jangan biarkan ibumu yang mengambil dan menebas nya sendiri

karena mamak sudah tak lagi bisa melakukannya nak

dan ketika ibumu di ladang sedang menyabit rumput  untuk peliharaan yang ia pelihara hanya untukmu

bawalah hasil sabitan itu nak

jangan sampai ibumu sendiri yang memikulnya

di karenakan mamak sudah tak lagi di samping kalian

itulah pesan beliau ibu.

desahan itu masih tertera dengan jelas di hati dan di telinga anakmu

jadi kumohon berhentilah jualan demi kesehatan ibu.

 

 

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995

Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.

Kumpulan Puisi Terbarunya DI SUDUT KOTA (2016).

No.085232343060

083853208689

Puisi Achmad Fathoni

Kapan Terakhir Kita Bertemu

Kapan teakhir kita bertemu? Saat itu aku telah melepas bajuku

dan siap untuk dirimu. Tapi kapan itu? Aku lupa kapan itu?

Yang masih kuingat aku menyentuh tubuhmu yang halus

lalu jantungmu berdebar-debar, keras sekali suaranya

terdengar di telingaku dan aku pun berhenti menyentuhmu.

Aku mulai menjilati bajumu, dari ujung ke ujung

sampai aku menemukan gula yang terbaik. Dan tak ada tandingannya.

Kapan terakhir aku menemuimu? Apakah mungkin kita bertemu lagi?

Aku sedang memandangi fotomu saat itu, aku lupa menuliskan tanggalnya

di foto padahal biasanya aku selalu, tapi kapan kita akan bertemu kembali?

Sempatkah kau datang, membiarkanku menyentuh tubuhmu mendengar

degup jantungmu yang mendebar-debar itu, lalu aku menjilatimu mencari

yang asin bukan yang manis sebab yang manis sudah membuatku lupa

kapan kita terakhir bertemu.

 

Malang, 2016

 

Aku Sedang Mencari Air

Aku sedang mencari air, menungggu air, dimana air?

Apakah di gula; apakah di kopi; apakah terikat

dengan penjalasan tentang air; lalu bagaimana dengan air?

Apakah kau menyimpannya? Aku membutuhkan air;

menunggunya datang lalu ku tenggak dalam-dalam.

Bagaimana dengan penjelasannya? Apakah ada yang lain seperti air,

di kopi? Bagaimana air di kopi? Aku mencari air. Pisahkan air dari kopi,

pisahkan teh dari air, peras. Aku lupa bagaiamana menemukanmu

sedang menenggak air, di atas meja dengan kopi lalu air

apakah ada penjelasan untuk air? Aku hanya butuh air.

Laut, tawar, manis, sungai, apapun aku butuh air.

Malang, 2016

 

Sudah Siang, Mulai Mengantuk

Sudah siang, mulai mengantuk,

kantong mata sudah seperti panda.

Pandanya telah tidur, kapan aku tertidur.

Jangan disamakan dengan panda,

aku berbeda. Mengantuk, sudah larut siangnya.

Ia berjalan mengelilingiku

dan mendung masuk kedalam tubuhku

dan diam-diam pergi meninggalkanku.

Bagaimana dengan daun-daun?

Apakah ia tertidur atau mengantuk sepertiku?

Aku ingin menularkan padanya,

agar tertidur bersamaku, tidur bersamaku

lalu menidurinya dan meninggalkan kekasihku, dunia.

Malang, 2016

 

Di Kota Ini Kita Akan Bersama

Di kota ini kita akan bersama,

setelah akad nikah yang telah kita lalu bersama.

Di kota ini mari kita membuat cerita, ada kasih sayang,

petaka, bencana, lalu cinta, rejeki, keramaian, kesepian,

sunyi jangan lupa. Mari kita menuliskannya

agar cepat kita merasakan kota.

Di kota ini kita bersama

sudah lebih dari sepuluh menit kita bersama

di sini selebihnya terserah kau mau apakan kota ini.

Aku menunggu kabar baik saja darimu.

Buatlah kota sesukamu sesuai otakmu.

Kota-kota wahai kota, turutilah istriku,

biarkan dia mengubahmu, sesuai dengan otaknya

dan berdoa sajalah agar tidak kebalik otaknya.

Aku menunggu kabar darimu juga.

Malang, 2016

 

Seberapa Jauh akan Berjalan

Seberapa jauh akan berjalan,

sedangkan kaki sudah lemah dan kram.

Mungkin sebentar lagi akan linu-linu, patah.

Kaki sudah putung. Kapan tangan putung?

Sebelum berjalan kembali.

Kapan mata akan melihat kedepan,

kapan bisa melihat kebelakang atau ke samping tanpa melirik.

Orang-orang selalu bilang,

hati-hati dengan paru-paru nanti ada flek ada kotoran,

jangan merokok, banyak bahayanya. Nanti mati, itu pembunuhan.

Penjarakan saja rokoknya, biar puas keluarganya.

Biar tak menangis lagi, biar tak sedih lalu kuburnya tenang.

Bukan karena rokok, karena paru-paru yang sudah berkarak

mungkin karena rokok, bukan. Karena watak yang kusam,

atau nafasnya tak bersih. Kotor, najis perlu di basuh dulu nafasnya.

Malang, 2016

 

ACHMAD FATHONI, mahasiswa Universitas Negeri Malang. Aktif menulis puisi, cerpen, beberapa puisinya ada di berbagai media cetak lokal daerah, puisinya pun ada di berbagai buku antologi  hasil lomba, cerpen-cerpennya beberapa kali mendapat apresiasi juara di perlombaan sayembara menulis. Kini aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis.

No Hp : 085733841571

Alamat : Jl. Semarang No.5 Kampus Universitas Negeri Malang, Gedung C3 UKM Penulis (Achmad Fathoni), Kode Pos 65145 (Malang)

Puisi Ferry Fansuri

Lama tanpaMu

Dalam sujudku ku mengingatMu

Terkadang hambamu ini lupa akan diriMu

Tapi sungguh dalam lubuk ini ada Kamu

Bergumul napsu kerumunan dunia

Berselimut selubung ilusi

Aku lama tanpaMu

 

Surabaya, Maret 2017

 

Badai Dejavu

Gemuruh badai itu

Datang menerpaku

Menggerototi tulang

Merayapi sela-sela jiwa ini

 

Ombak itu menggulung

Menderu-deru

Menghantam tepian kalbu

Berdiam tak bergerak

 

Layaknya dejavu

Berulang bergilir

Mencabik-cabikku

Tapi disini aku tetap tegak

Tuk mengingatMu

 

Surabaya, Maret 2017

 

 

Rapuh

Kulihat seorang ayah renta tua

Duduk ditepian kasur termenung

Menyeka luka dikakinya

Tertunduk meratapi nasib

 

Kupandangi wanita yang kusebut Mama

Tergeletak lemah stroke menyerang

Tangan kiri terkulai tak berdaya

Teronggok dalam kursi rodanya

 

Kusaksikan pemuda itu pergi

Meradang meninggalkan luka

Tak kembali mengejar amarah

Kebencian itu ada di sorot matanya

 

Ah rumah ini begitu besar tapi kosong

Dan aku sendiri terkulai lelah

Memandang waktu terus tergerus habis

Tapi dalam doaku untukMu

Kau kuatkan jiwaku yang rapuh ini

 

Surabaya, April 2017

 

Bara Api Es

Subuh itu di kamar kos

Terbangun gundah

Ada detak berkecamuk di ulu hati ini

Kulinting batang rokok

Kuteguk arak itu

Kuhisap bong sabu

Kubiarkan melayang tanpa arah

Tapi tak semua itu menenangkanku

 

Langkahku terseok

Pundak terasa berat

Memikul dosa itu

Ingin kutusuk jantung kotor ini

Sayup-sayup alunan Alif…Lam..Min

Menghentikanku tuk bergejolak

 

PesanMu menyejukkanku

Bara Api itu menjadi es

Surabaya, April 2017

 

Labirin Rahim

Kerlingan mata sendu

Bibir merah merekah

Lenggok pinggul menggoda

Dua pualam itu menantang

 

Jeratan berahi selalu datang

Legungan berkeliaran diotak

Dentuman syahwat meletup

Menyebar urat nadi ini

 

Setiap kali kumasuki labirin rahim

Saat itu juga jatuh tertunduk

Sujud minta ampun padaMu

 

Surabaya, April 2017

 

Biodata Penulis :
> Ferry Fansuri kelahiran Surabaya adalah travel writer, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya “Roman Picisan” (2000) termuat. Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional
ferry_fansuri@yahoo.comHP. 0818509233 Alamat Simogunung Barat Tol 3 no.1B Surabaya 6018