Arsip Kategori: Puisi

Puisi: Joe Annas Hasan

Polisi Tak Bertelinga

Mungkin panah telah menjadi Tuhan
Kemana perginya, disitu ujungnya ajal
Berita semakin mekar, tuli pun semakin jadi
Duduk di kantor, diam, bercerita, mungkin itu aktifitas mereka
Resah, risau, gusar hati orang-orang yang tak dianggap mata
“anakku dipanah, dimana pelakunya? Aku sedang terbaring tak mampu. Tolong carikan tersangkanya. Oh, rupanya polisi itu tak bertelinga. Mereka di kantor. Aku salah mengadu.” Keluh seorang Ibu.
Pndah saja dari Bau-Bau, jika tak berani melawan rusuh
Kini tak ada beda lawan dan kawan
Mana pelindung mana terlindung
Yang terlindung makin melarat oleh airmata
Sedang pelindung tetap tertawa dengan  rupiah tiap bulan
Oh, aku salah mengadu lagi
Baiklah akan kutanggalkan pakaianku
Tapi copot juga seragam polisi tak bertelinga itu
Copot seragam mereka yang hanya menengadahkan tangan

(Bau-Bau, Jumat, 25 November 2016)

 

Seperti Musim

Itu dia yang kurindukan
Datang seperti kedipan mata
Lalu pergi seperti tak mengenal
Malam memenjara tawa
Berpesta pora dalam putihnya putih
Layar berrpecah-pecah
Kecanggihan mesinnya melewati akal
Entahlah
Mengapa rindu mampu menyiksa
Padahal tak sedikitpun ia tampak
Berulang seolah aku satu-satunya
Dia yang kurindukan
Datang seperti hujan
Pergi seperti hujan
Seperti musim hari ini

(Bau-Bau, Jumat, 24 Februari 2017)

 

Semilir Angin

Ada semilir angin
Hanya sepintas
Tapi terus
Disana burung hitam berlomba
Lalu hilang
Di telan ombak
Ini hanya semilir angin
yang pergi tanpa pesan
(Kapal Ciremai, Sorong-Bau-Bau, Rabu, 16 November 2016, pukul 05.31 Sore)

 

Pernahkah Kau Bercerita

Pernahkah aku bercerita
Pada toilet yang kau kotori tiap hari?
Pernahkah kau bercerita
Pada air keruh di kolam kecil?
Kata ini sepeti kutukan
Dari selang-selang pengisi hidup orang miskin
Sekali lagi, ini seperti kutukan
Pernahkah kau bercerita?
Tentang kebohongan

(Bau-Bau, 16 Februari 2017)

 

Terima Kasih Untuk Malam Yang Tak Mau Sunyi

Terima kasih untuk malam yang tak mau sunyi
Kutinggalkan bunyi kipas di celamu
Terima kasih untuk malam yang tak mau sunyi
Atas waktu agar kau kusejarahkan
Terima kasih untuk malamyag tak mau sunyi
Telah kubelah bulan dalam panci
Terima kasih untuk malam yang tak mau sunyi
Biarkan iringan klakson kapal saling berkejaran
Terima kasih untuk malam yang tak mau sunyi
Kututup dengan birunya
sang legenda

(Wanci, Selasa, 22 November 2016)

 

Joe Annas Hasan, lahir di Ambon pada 22 Februari. Karya-karyanya baru tersebar di penerbit indie.  Aktif di bidang olahraga (Taekwondo). Nomor HP : 082248207003

Puisi Moh.GhufronCholid

MERAPIKAN KENANGAN

Merapikan kenangan

ada yang mesti dipertaruhkan

: kesetiaan

 

Lipatan duka

pengobat segala

yang nesta

yang hilangrupa

rekah senyum

mula mencipta tentram

dalam debar keberkahan

                    Al-AmienPrenduan, 25 Juni 2016

 

SELINGAN RINDU

Pada sebuah selingan rindu

ada yang berhamburan di pekaranganingatan

tentang keakrabanmu

lamat-lamat melengkapkan separuh imanku

 

senyummu, senyummu

alasanku bertahan

lewati segenap debaran

kadang aku tak berdaya

 

embun ucapmu

; matahari, bangunkan bumi kalbuku

 

Dan aku

keyakinan yang berjalan

menuju keridhaan

Tuhan

Al-AmienPrenduan, 25 Juni 2016

 

SEPUTAR ARUS PAGI
: SoniFaridMaulana

 

Arus pagi berlari dekati hati
menyalami hidup
seimbangkan degup

 

ini keterasingan, terbalas
ini idealis dekati ikhlas

 

arus pagi berlari dekati hati
sunting mimpi
yang telah lama tertunda
doa lama terperam
dan tirakat usai
dalam syukur
menyubur tafakur

 

                       Madura, 2015

 

SALAM RINDU

 

Salam rindu
buatmu guru

 

kehadiranmu
surgaku

 

kau, matahari pengetahuan
karuniaTuhan

 

           Junglorong, 8 Agustus 2015

 

MENANAM MATAHARI

 

aku telah percaya
segenap jiwa

 

tak aku hiraukan segala
kendati meyakinimu duka terus tumbuh
ini semata agar kau bisa tegak

 

aku telah percaya
aku abaikan seluruh nyeri
menyaksikanmu lumpuh
aku tak ingin

 

kelak ada masa
kau bangkit dan bangkit
meninggalkan kamar keputusasaan

 

sebagai guru akrab duka
jalan tak terhindarkan
dan pengobatnya
puncak kejayaan didikan

 

sebagai guru benturan kekecewaan
tak dapat terelakkan
menyaksikan senyum anak-anak matari yang diasuh
adalah jalan mahabbah terindah
begitu pun menyaksikanmu berdiri tegak
dan aku lupa pada segala onak

 

biar aku tanam matahari
dalam hatimu
biar tak hanya malam
bermukim dalam
hatimu

 

Junglorong, 2015

 

 

 

BiodataPenulis

Moh.GhufronCholid adalah nama pena Moh. Gufron, S.Sos.I, lahir di Bangkalan, 7 Januari 1986 M. PendiriPesantrenPenyair Nusantara di FB.Karya-karyanyatersebar di berbagai media sepertiMingguan Malaysia, New Sabah Times, MingguanWanita Malaysia, MingguanWartaPerdana, Utusan Borneo, Tunas Cipta, Daily Ekspres, Bali Post, MajalahHorison, Majalah QALAM, Majalah QA, MajalahSabili, Radar Madura, Koran Madura, Radar Surabaya, poemhunter.com, kompas.comdll jugaterkumpuldalamberbagaiantologibaikcetakmaupun online, terbit di dalammaupunluarnegerisepertiMengasahAlief, EpitafArau, AkarJejak,JejakSajak, MenyiratCintaHaqiqi, SinarSiddiq, Ketika Gaza PenyairMembantah, UnggunKebahagiaan, AnjungSerindai, Poetry-poetry 120 Indonesian Poet, Flows into the Sink into the Gutter, Indonesian Poems Among the Continents, dll. Beberapapuisinyapernahdibacakan di Japan Foundation Jakarta (10 Agustus 2011), di UPSI Perak Malaysia (25 Februari 2012), di Rumah PENA Kuala Lumpur Malaysia(2 Maret 2012) dan di RumahMakanBiyungJemursari Surabaya dalamacarabukabersamaPipietSenja (30 Juli 2012), di Jogjadalam Save Palestina (2012), di SragendalamTemu 127 Penyair Dari SragenMemandang Indonesia (20 Desember 2012), di Pekalongandalam Indonesia di Titik 13 (Maret 2013), di SastraReboandalamTemuSastra Indonesia-Malaysia (Agustus 2013), di P.O.RT AmanJaya, Mydin Mall danDewanBahasadanPustaka Malaysia dalamKongresPenyairSeduniake 33 (21,23, 26 Oktober 2013), di Brunei ketikamenikmatiindahkampoeng air (7 November 2013) di Al-Izzah Islamic Boarding School BatuJawaTimurdalam safari menulisbersamaPipietSenjadkk (Juli, 2014), di RRI Sumenep (5 Januari 2015), di PondokPesantrenPutridan Putra DarulUlumBanyuanyarPamekasan (27&28 Juni 2015), di Bandung dalamTemuSastra Indonesia Malaysia (2015), di Janati Park dalamTemuMahasiswa Madura selepasshalatIdulAdha (24/09/2015), di Kampung Toga Sumedang (2015), di TeaterGunungKunciSumedang (26/09/2015), di Pesantren Al-Amien PRENDUAN dalamacaraBhineka Tunggal Ika (26/10/2015). Bukupuisi terbarunya Menemukan Allah (Pena House, 2016). Berkhidmat di PondokPesantrenAssanusiTorjunan Robatal Sampang Madura. HP 087705743403

Puisi Eddy Pranata PNP

SAJAK MALAM

berkali-kali menarik nafas dalam-dalam
menahan ngilu detak jarum jam
serupa irama langkah makhluk yang aku rindukan
: sajak malam!

Cilacap, 29 Juni 2015

 

KAUBUKALAH JENDELA

kaubukalah jendela sunyimu, suatu siang
udara panas menyerbu kamarmu yang berantakan
cemburumu pada sajak-laut bergemeretap
: hidup harus berkeringat, bisikku di telingamu
seperti debu, suara isakmu berlompatan dari jendela
hidup harus selalu tersenyum, bisikku lagi.

Cilacap, 29 Juni 2015

 

SUARAMU YANG SERAK

suaramu yang serak kukira bangun tidur
mengabarkan mimpimu: mengemas hatiku setulusnya, sepenuhnya!

Cilacap, 29 Juni 2015

 

TUBUH SENYAP KEKASIHKU

rasa kehilangan yang mengekal; menetesnya darah puisiku
pada jalan panjang masalalu yang absurd
pada amis pelabuhan, karang-karang runcing
padang getir, bukit dan lembah berkabut
aku kemas segalanya untukmu, tubuh senyap kekasihku, o, puisi!

Cilacap, 28 Juni 2015

 

KENIKMATAN DALAM LAPAR

kenikmatan dalam lapar adalah menjejak alam bawah sadar dengan perlahan
ada keindahan yang asing serupa senja dan matahari yang menurun
di batas laut, dan kau duduk di sampingku, melukis sketsa diriku berlatar laut senja.

Cilacap, 27 Juni 2015

 

APAKAH DIRIMU SUKA LAUT

aku ingin mengundangmu makan malam di rumahku, bung puisi
kekasihku masak diksi yang dipetik sepanjang jalan berdebu
goreng estetika, rendang daging-ambigu
bakar kata-kata dari laut
semur jamur-lumut ilham
jus kepahitan hidup
segelas airmata, dan keringat yang mengucur dari leherku
dirimu datang tepat waktu ya bung?
banyak cerita yang akan bisa kaudengarkan dariku
dan aku juga ingin mendengar cerita darimu
apakah dirimu, bung puisi, akan mati?
seperti diriku, apakah dirimu suka laut?

Cilacap, 26 Juni 2015

 

DARI WAKTU KE WAKTU

dari waktu ke waktu kenangan menggenang di kamar ini, rumah ini
bagaimana setiap malam engkau mengecup keningku
engkau menyiapkan segala sesuatu sebelum keberangkatanku
bahkan tak jarang engkaulah yang menyisir rambut dan merapikan bajuku
dan banyak hal unik dan tulus lainnya kau lakukan kepadaku, chin
: genangan di kamar ini sering merendam gigilku, lalu melambungkanku
aku melayang ke mana saja
sampai aku lelah dan tertidur dengan sejuta mimpi
dengan sejuta mimpi!

Cilacap, 26 Juni 2015

 

MENCINTAI KABUT

mencintai kabut yang turun di penghujung malam
dalam sujudku; angin pelan seperti isak tertahan
dan jemari tanganMu mengelus rambutku yang beruban
kelopak mataku basah merindukanMu.

Cirebah, 24 Juni 2015

 

 

Biodata:

Eddy Pranata PNP, sekarang tinggal di Cirebah –sebuah dusun di pinggiran barat Banyumas, Jawa Tengah. Lahir 31 Agustus 1963 di Padang Panjang, Sumatera Barat. Sehari-hari beraktivitas di Disnav Ditjenhubla Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016).Puisinya dipublikasikan di Horison, Aksara, Kanal, Jejak, Indo Pos, Suara Merdeka, Media Indonesia, Padang Ekspres, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, Batam Pos, Sumut Pos, Fajar Sumatera, Lombok Pos, Harian Rakyat Sumbar, Singgalang, Haluan, Satelit Pos, Radar Banyuwangi, Solopos dan lain-lain.Puisinya juga terhimpun ke antologi: Rantak-8 (1991), Sahayun (1994), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Antologi Puisi Indonesia (1997), Puisi Sumatera Barat (1999), Pinangan (2012), Akulah Musi (2012), Negeri Langit (2014), Bersepeda ke Bulan (2014), Sang Peneroka (2014), Metamorfosis (2014), Patah Tumbuh Hilang Berganti (2015), Negeri Laut (2015), Palagan Sastra (2016), Pesisir Karam (2016), Memo Anti Terorisme (2016) dan lain-lain.

Alamat rumah: Cirebah RT.02/RW.08 Desa Cihonje, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Kode Pos 53615.
Handphone: 082322062966

Puisi Achmad Fathoni

Ada Senja yang Bermain-main di Otakku

ada senja yang bermain-main di otakku,
berwarna kelabu membantang
kearah yang tak berlabuh, anginnya pun riuh,
membuntuti burung-burung menuju ke selatan
untuk berlabuh. senja bermain-main
membentuk pendar cahaya di danau; laut; air
dan juga selembar rayuan yang telah lama kumu.
kapan akan turun senja, sudah banyak orang yang bertanya
dan menunggu, tapi wajahnya direnggut kesedihan.
lalu gerimis datang menjadi bingkai sebelum
larut sebelum malam datang membawa bintang
dan mendung tipis-tipis lalu menebal.
ada senja di otakku sedang melilit kata di mataku.
Malang, 2016

 

Sepi Membunuh

sepi menikam tubuh, belati telah siap di tancapkan
tetapi mati tak lagi pasti
ruang menjadi bunting lalu malahirkan sepi yang baru lagi,
beranak pinak mengembang seperti soda gembira
di warung sebelah rumah yang dijual dengan harga mati
lalu perut mual menunggu orang keluar dari toilet umum
yang dibandrol dua ribu rupiah dengan sepasang sandal
yang di lepas di di depan pintu. tapi sayangnya terlalu kotor
toliet tersebut, baunya seperti keringat anjing kampung
yang tak pernah dimandikan oleh pemiliknya
yang bekerja di toilet umum itu.
sepi menikan tubuh, menjadikan soda tak lagi gembira
dan tak ada ruang yang bunting lagi
dan dukun beranak tak ramai seperti sebelumnya.
sepi menikam tubuh menjadikan luka
yang tak sempat sembuh sampai lupa kapan bertemu subuh.

Malang, 2016

 

Nasib Sebatang Rokok

satu batang rokok telah habis,

tiga batang lainnya menunggu dihabiskan,

satu batang rokok harga seribu lima ratus

dengan bea cukai lebih dari tiga ratus

lalu dikali empat batang rokok menjadi enam

ribu tanpa uang kembali sebab membelinya

dengan uang pas. seribu lima ratus dapat sebatang

rokok lalu di nyalakan untuk menemukan asap,

mencari sebab kematian yang terdakwa adalah rokok.

apakah rokok akan dipenjara? apakah ada lapas rokok?

mungkin orang-orang sedang bercanda,

padahal tuhan maha memafkan,

kenapa harus menghakimi padahal benda mati.

Malang, 2016

 

Tiga Jam Berlalu Melewatkan Ruang

tiga jam sudah berlalu, melewatkan ruang

yang belum bertatap muka dengan waktu

serta matahari yang belum sempat menunjukan

waktu akan terbit. begitulah telunjuk jarimu

menyentuh keningku saat subuh menjelma kabut

dan dingin bersekongkol bersama embun

membelenggu tubuh ringkih seperti ini.

tiga jam sudah aku duduk menunggu

sebelum jarimu menyentuh keningku lagi

Malang, 2016

 

================================================================

 

ACHMAD FATHONI, mahasiswa Universitas Negeri Malang. Aktif menulis puisi, cerpen, beberapa puisinya ada di berbagai media cetak lokal daerah, puisinya pun ada di berbagai buku antologi  hasil lomba, cerpen-cerpennya beberapa kali mendapat apresiasi juara di perlombaan sayembara menulis. Kini aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis.

No Hp : 085733841571

Alamat : Jl. Semarang No.5 Kampus Universitas Negeri Malang, Gedung C3 UKM Penulis (Achmad Fathoni), Kode Pos 65145 (Malang)

Puisi Yoga Permana Wijaya

Bunga Tidur

aku di mimpimu

bermain peran

waktupun perlahan

mengeja dengan bahasa puisi

memantik pelukan

yang menghangatkan

 

dan engkau dimimpiku

sebagai lahan

tempatku berlarian

untuk aku isi

menjadi taman

penuh warna-warni

surgawi

Sukabumi, 22 Juni 2016

 

Yang Merindukan Pelangi

adalah hujan yang merindukan pelangi

di sudut binar netramu

melukis langit lazuardi

melengkungkan waktu yang terus melaju

pada degup jantung yang berhenti tiba-tiba

karena terpesona

 

hujan pun tak pernah berhenti berharap

karena selalu yakin pelangi muncul setelahnya

dan kebahagiaan ada, setelah kesulitan

begitupun aku

padamu sebagai hujan

Sukabumi, 28 Juni 2016

 

Kisah Cemburu

jika setiap lelaki kau akukan

maka aku yang satu kan menjauh

mengkamukan satu wanita lain

yang hanya mengakukan aku

 

karena hatiku yang satu hanya membutuhkan kesetiaan

sebagai kutub utara dan selatan yang selamanya

saling tarik menarik

satu sama lain

Sukabumi, 03 Juli 2016

 

Tentang Sebuah Kenangan

matahari yang tenggelam

purnama yang meredup

tak ada yang abadi

karena esok mentari terbit lagi

dan suatu hari bulan bersinar kembali

tetapi esok bukanlah kemarin

 

-hanya kenangan –

yang membuat esok dan kemarin menjadi sama

mungkin suatu saat kita tak kan lagi bersama

tetapi kenangan denganmu kan jadi yang abadi

yang terbit dan tak kan pernah tenggelam

yang bersinar tanpa pernah meredup

Sukabumi, 05 Agustus 2016

 

Kisah yang Tak Terucap

aku dan kamu

sebuah pintu tak berdaun

dalam remang-remang waktu

bergaun kelambu

 

kita –sebagai dinding beratapkan langit bulan Agustus penuh puisi

mengapit ketiak cakrawala dengan tarian Bima Sakti

 

rasi Angsa, cemerlang Vega, Deneb dan Altair

menggantung di atas kepala tanpa tabir

berdansa dengan manja

menebar romansa pada malam paling purna

menghias kisah kita

sebagai kisah paling angkasa

kisah di mana semburat cahaya

dengan genitnya

mengedipkan kerlip dari jarak berjuta tahun

hanya sekedar menyapa aku yang lamun

lewat layar retina penuh takjub dengan cinta

 

sebagai kisah asmaraterpisah

asmara, terindah…

Sukabumi, 10 Agustus 2016

 

=================================================================

 

Biografi:

Yoga Permana Wijaya, tinggal di Sukabumi. Guru TIK yang sedang melanjutkan S2 bidang sains. Baru saja belajar sastra secara otodidak. Meski baru memulai, puisinya berhasil menjadi finalis dan menjuarai beberapa perlombaan, diantaranya Juara 1 Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional Deza Publishing (2016), Juara 1 Lomba Cipta Puisi Tiga Tema Isykarima Media (2016) dll. Puisinya tersebar dalam puluhan antologi bersama diantaranya: Goresan Jiwa (2016); Ketika Senja Mulai Redup (2016); Sajak Kita (2016); Dialog Dini Hari Kala Itu (2016); Kembang Api (2016); Turunnya Nawang Wulan (2016); Senandung Kidung-Kidung Lara (2016); Bahtera Nelayan (2016); Rumah Abadi (2016); Rona di Simpul Bibirmu (2016); Baju Baru Untuk Puisi & Hal-Hal Yang Belum Kita Mengerti (2016) dll.

Biodata Diri:

Nama               : Yoga Permana Wijaya

TTL                 : Cianjur, 31 Maret 1989

Alamat                        : Kp. Babakan RT 016 RW 005, Desa/Kecamatan Bojonggenteng Kabupaten

Sukabumi, Jawa Barat 43353

No Kontak      : 085759486317

Email               : yogapermanawijaya@gmail.com

 

Puisi Redovan Jamil

Bukit Tertinggalkan Kawan

Bukit barisan terlihat tandus dan gundul. Pertapaannya telah usang ditinggal pohon. Kini tak ada lagi kawan merangkul erat, menjaga raga yang menggigil, dan menjawab cerita.

Corak dulu hijau permadani, terhampar luas membentang di jagad Sumatera. Pinus terjajar rapi menjulang langit, menopang tanah di lereng bukit. Kuat, liat, dan erat.

Rerintik hujan basahi pertiwi. Berkepanjangan, menggenang kali, sawah, dan rumah warga. Pekik keluh atas murka Tuhan. Sejenak dingin, berbau, susah beraktifitas, dan rezki terhalang.

Got terdampar sampah, air enggan beranjak pergi, bau sampah dan urat kayu ngambang di udara. Pemerintah menyegrah berbenah, warga sadar akan celaka, dan Tuhan mengutuk akan serakah penebang liar.

Padang, 01 Agustus 2016

 

Sebuah Perjuangan Untuk Sarjana

Lorong penuh kesakralan. Menghujam seram dan debaran jantung. Gemetar kaki memasuki ruang dan tatapan para peminta dan sangarnya mata. Puluhan mahasiswa duduk termangu sembari menunggu. Tentengan kertas tebal berjilid. Peluh bercucuran, kening mengerut, wajah merah padam, dan perut ciut.

Impian digantungkan pada setitik coretan tanda pengesahan. Usaha tak terkirakan pikir. Harapan tak seindah tabir. Menguak, meruah, menganga dan terdampar di sisi yang usang.

Coretan diganti perbaikan. Ulang diulang lagi. Malam berlanjut dinihari. Pagi tak terasa menjemput, fajar murung dan diakhiri hujan.

Bermimpi; ACC menghampiri kertas bertinta biru.

Padang, 02 Agustus 2016

 

Petani Berpacu Hidup

Pagi menyongsong sang surya yang cemerlang. Kaki-kaki baja petani menapak di tanah kering kerontang. Menyusuri jalan setapak yang diselimuti tebalnya embun pagi. Dingin menusuk pori-pori yang termakan usia. Waktu berlalu, hidup menuntut lebih.

Matahari terik menerpa ubun-ubun. Menjalar ke organ dalam yang letih. Dehidrasi, keringat kuyup di baju, dan wajah merah padam. Kepingan rupiah di kumpulkan. Harap sesuap nasi. Padi di sawah bertengkar dengan hama. Tikus-tikus merampas milik yang tak terampas. Memporak-porandakan benih panen yang di tuai berbulan. Babi hutan menyerang dikala sang surya lelap. Burung-burung hinggap di tangkai padi. Berburu dan menompang hidup.

Berbulan-bulan petani menanam, menunggu waktu datang menjemput berkah.

Padang, 31 Juli 2016

 

Cadarnya Pesona

Mata di balik cadar putih. Tersisakan sedikit raga, namun menggoda. Dikaukah itu relung cinta. Buat bibir ini bisu, mata ini nyalang. Hati ini berbisik harap.

Esok pagi dikau berjalan menuju rumah syurga. Elok laku dikau peragakan, senyum dikau tebarkan, buat mimpiku sakin jadi. Diantara bait-bait doa yang kusegerakan.

Dan, senja datang sebelum bianglala tenggelam. Dikau bernyanyi bersama detak jantung. Menyimak tiap canda tawa, hingga rasa tak tertahan.

Padang, 30 Juli 2016

Jika Rindu Bertamu, Kusengajai Bertemu

Malam-malamku dibaluti rindu yang terbentang. Keluh desah suara tersendat. Bungkam asaku kini tertahan, dejavu, melankolis, menjadi satu. Tangan bergetar, mata sayup-sayup menatap fotomu di dinding kamar. Merubah harap jadi getaran rindu yang tak tertahan.

Hujan turun basahi rindu. Usaha untuk mengikis relung-relung hampa tiada tara. Pekik pintu hati tertetes rerintik bulir bening. Membawanya mengalir hingga muara. Menyatu dengan asinnya air laut, bertengkar dengan ombak yang menghempas dan menerpa ke tepian. Rinduku terombang-ambing dalam buliran hujan yang beriak.

Dan, jika rindu sejatinya bertamu. Aku sengai berjumpa pada senja di dermaga kayu usang.

Padang, 03 Agustus 2016

 

===================================================

 

Redovan Jamil, kelahiran Sijunjung, Sumpur kudus 10 Mei 1993. Sedang menempuh perkuliah di STKIP PGRI Sumatera Barat, jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pernah menjadi Ketua HMJ Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumatera Barat periode 2014/2015, Wakil Ketua BEM Kabinet Biru 56 STKIP PGRI Sumatera Barat periode 2015/2016. Aktif di organisasi IMABSII (Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Se-Indonesia) periode 2014/2016. Aktif di organisasi IMAKIPSI (Ikatan Mahasiswa Keguruan dan Ilmu Pendidikan Seluruh Indonesia) periode 2016/2018. Ikut dan menjadi pengurus di komunitas menulis (Komunitas Daun Ranting). Perihal menulis; bagiku adalah sebuah kesenangan dan kecintaan. Sebuah terapi jiwa dan renungan hati yang suci.

Puisi Moh.Romli

Doa di Pagi Hari

Mentari, jangan duakan kami
walau terkadang kami enggan menjawab salammu di pagi hari

di wajahmu kami hidup, sebelum dedaun ranggas mengering

di biasmu kami hinggap, menyimpan ribuan nyawa anak-anak kami yang kelaparan.
mentari, di matamu terdapat seketsa kehidupan kami, dimana burung-burung itu mulai bernyanyi
mentari, di langkahmu kami belari-lari, dimana dedomba merangkak menuju wajahmu yang menari.

 

Mengagumu

Karyamu membuatku ada dari sebelumnya yang ada
mendobrak dua gerbang yang semalam hilang kuncinya
hampir saja aku ini menjadi seekor burung dalam sangkar
yang setiap hari harus bernyanyi menghibur tuannya.
malam menjadi tak gairah
di meganya yang membentangi bebintang
mengunci di antara hati dan otak batu yang semakin padat
Ah ..
kurasa sudah takkan hidup lagi obor ini
andai saja tak ada kabar pagi
dari risalahmu yang kejam yang menerjang dua gerbang itu
mungkin saja ding-ding ini retak
dan takkan lagi mampu berlayar.

 

Matamu Telanjang Sunna

Hentikan,
rasa itu milikku yang kau sebunyikan dariku
hempaskan,
rasa itu yang semakin melilit jiwamu
lepaskan,
rasa itu yang sebenarnya tak pernah singgah di hatimu
jiwamu gersang
matamu telanjang
sementara rasa itu terus mencekam
dan aku masih disini, menafsir matamu telanjang
sebab rasa ini belum kita benahkan.

 

Salahmu Sendiri

Sepasang merpati itu kembali sembunyi
dengan cemas mendekap anak-anaknya yang sedang bersenda gurau di kamarnya
dia melarang anak-anaknya untuk bersuara kali ini
sepertinya dia sangat memahami apa yang akan terjadi
angin ngebut, awan kabut dan kilatannya yang semakin ribut.

 

entahlah, yang kuheran para dewa dan dewi disitu masih tenang menukar sunyi
seakan mereka sama sekali tak terusik kerusuhan itu
mereka tak peduli, melupakan takdir yang sudah di kehendaki
hingga percikan menyapa dan menari
mengguyur dan menyeret jejak kaki
membuyarkan mimpi para dewa dewi.

 

Telanjang Kawan

Telanjanglah kawan, kita hanya berdua di kamar ini
lepas dan umbarkan bulu-bulu itu kawan, jangan malu, jangan sungkan padaku, kita hanya berdua dikamar ini.
jangan biarkan kutu-kutu itu menjadi penghuni
apalagi sampai persada itu menjadi miliknya

 

telanjanglah kawan, kita hanya berdua di kamar ini
jika sekiranya kau tak mampu
menangislah dan rekahkan hatimu di dadaku
tak kubiarkan getah-getahnya mengalir begitu saja
sebab tangismu adalah darahku yang tumpah.

 

====================================================================

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995

Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.

Kumpulan Puisi Terbarunya DI SUDUT KOTA (2016)

No.085232343060

083853208689

 

Puisi: Muhammad Asqalani eNeSTe

Tarian Kampung Halaman

“ campong ale campong camporong lampu dinding,

on dope hami ro mangalapko da boru bujing.

bue-bue dainang bue!”*

 

ia nyanyikan jua baitbait pilu

yang padu padamkan rindu,

masih di jendela renta yang sama.

memanah angan.

terjun ke dalam liang bayangan.

ke dalam genangan linang.

gadis igomigomnya telah kehilangan pulang.

lupa pada kuning padi dan hijau ilalang.

lupa pada siul pipit tanpa sarang.

***

Oi pincang taman,

kalau tumbuh jua bunga cirik ayam.

sebab itu

akan mengunduh kampung halaman.

tentang joruk, joring dan rimbang, nasinasi, paparia

dan sawi.

tentang ayah yang mati di sungai Suligi,

selepas tarawih dan mengaji.

tentang kau yang tak ingat ziarah kubur

di sisasisa umur.

***

buah salak itu yang membesarkan dadamu.

merekahkan bibirmu,

memanjangkan rambutmu.

meramu mukamu.

pesonamu. hingga lelaki berbaju teluk belanga ungu

dengan kacamata abuabu

datang menjemputmu.

ia hanya memberimu restu

dengan bahasa paling gugu.

airmata dan doa satu..

2012

*selirik nyanyi dari Mandailing-Tapanuli Selatan

 

Dekke na Niarsik 3

hula hula

bagi pasu pasu

 

Nekke na Niarsik

telah lahir anak pertamaku

segala marga lebih keramat daripada hantu

 

lalu turunlah berkah

bersama tali darah yang naik sembah

kehidupan yang mesti seliat tabah

dan doadoa tak henti ditarah

 

pada mulanya

dongeng Adam dilaungkan

selepas adzan

selepas satusatu keinginan dikeramatkan

 

segalanya

mengkutuskan pantang larangan yang selalu silam

2013

 

Kania

kembalilah….

ada rumahrumah megah kehilangan ruhnya

seorang Adam yang kesepian,

selalu mengumandangkan adzan tengah malam

keningnya berdebu!

Kania

ketahuilah ada seribu sesal yang melingkar di pucuk dada Adam

tiap kali ia bayangkan wajahmu tiap kali pula ia lupa raut rupamu

ia kerap mengirim harapanharapan panjang ke pada tuhan

begitu dalam penyesalan, begitu dalam cinta, Kania

kembalilah!

ada rumahrumah megah kala kau benarbenar memaafkan Adam

yang lempang dada itu

2012

 

Slip Tounge

: Desi Sommalia

tak ada apa apa, tidurlah…

aku mengintip jendela rahasia yang sedikit lama kautinggalkan

kata kata yang mestinya kauutarakan, tergeletak di sana.

kata kata itu bermata tajam, penuh kecurigaan tapi juga nanar

dideliknya aku, seperti mengatakan: “kubunuh kau yang gelisah”

aku berlari, pura pura tenang di meja makan, kau datang

dengan beberapa potong goreng pisang. sangat dingin,

dan kau seolah menegaskan: “tak ada ramah tamah malam ini.

kecurigaan yang kauhaturkan telah menegaskan keterdiamanku”

aku pun memilih tak menyentuh apa pun, termasuk kopi panas

yang beberapa menit lalu dengan gairah kuseduh. aku ingat

kata ibu : “diam adalah percakapan paling dalam, maka kau

harus berusaha sedaya daya menghindar darinya”

aku memang berjalan ke ruang tidur, seperti anjuranmu.

tapi kata kata yang mestinya kau utarakan tergeletak di pintu

kamarku, wajahnya lelah, tapi matanya tak berubah: tajam,

penuh kecurigaan, dan nanar. aku langkahi tubuhnya, berusaha

biasa. meski aku telah menyediakan tubuh untuk seluruh insomnia.

dan pikiran pikiran tentang kata yang telanjang, salah jalan. sialan!

2013

 

 

Bulvari Menuju HF

Sayang, aku melihat mobius bunga di radius ujung pandangku.

Ia serupa cabang mahkota rusa di rimba tanpa tapa. Rimba

yang tak pernah terjangkau kaki manusia kecuali lewat lengan imaji.

Dimana orang orang suci membakta mimpi seperti bundar naluri.

Sayang, ingin sekali rasanya kukalungkan mobius bunga itu ke leherku,

andai aku sepenuh yakin bunga itu pernah tumbuh di lehermu, sebab aku

percaya, dengan begitu tali nyawaku akan lebih wangi dari kelopak sukma,

dari kelopak kurma manusia pertama.

Sayang, jika kau benar pemilik rusa tanpa rusuk, aku akan salibat daging

buruan sepanjang nafsu, maksudku selama hidupku dicungkup nafsu, tapi

bagaimana mungkin kutunggangi rusa yang merasuk ke dalam ruhmu tanpa

nafsu.

Sayang, seluruh yang tak mampu kutikung dengan rubayat selubung, adalah

bulvari terdekat dengan tubuhmu, aku ngin menjadi si buta di bulvari itu,

meraba sepanjang gazal tangan, sepanjang tubuhmu mampu kusentuh,

kusentuh keabadianmu

         Betung Semesta – 2014

 

 

Muhammad Asqalani eNeSTe. Kelahiran Paringgonan, 25 Mei 1988. Alumnus Pend. Bahasa Inggris – Universitas Islam Riau (UIR). Pengajar English Conversation di Smart Fast Education – Pekanbaru. Menulis sejak 2006. Puisi-puisinya dijadikan skripsi “Lisensia Puitika Puisi-puisi Muhammad Asqalani; Sebuah kajian stilistika” disusun oleh Raka Faeri (NPM: 086210631. Pernah menjadi Redaktur Sastra Majalah Frasa. Meraih gelar “Penulis & Pembaca Puisi Muda Terpuji Riau 2011”. Puisi-puisinya dimuat di: Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Suara NTB, Minggu Pagi, Fajar Makassar, Riau Pos, Batam Pos, Tanjung Pinang Pos. Sumut Pos, Pos Bali, Lombok Post, Sastra Sumbar, Padang Ekspres, Medan Bisnis, Buletin Jejak, Tribun Sumsel, Waspada, Posmetro Prabu, Metro Riau, Haluan Riau, Koran Riau, Koran Madura, Inilah Koran, Dinamika News, Ruang Rekonstruksi, Majalah Sabili, Majalah Frasa, Majalah Noormuslima (Hongkong), Majalah Sagang, Koran Cyber, KOMPAS.com, Kuflet.com, Detak UNSYIAH, AKLaMASI, Bahana Mahasiswa,dll. Aktif di Community Pena Terbang (COMPETER).

Puisi Budhi Setyawan

Desember – Januari (1)

orang orang siap melewati perbatasan
dalam kepala. pergi ke toko toko dengan
wajah berlapis doa. musim makin pelik
diduga.
berbagai kue dan ragam cokelat, berbagi
perayaan yang singkat. untuk mengingat
atau menandai, simpul simpul dalam
riwayat.
hujan hanya sekelumit rintik rintih haru
langit. mereka kemudian menyalakan
lilin, seperti menghangatkan ingin.
Jakarta, 2015

 

Desember – Januari (2)

jalan jalan jadi tempat parkir kendaraan.
umpat berledakan, bersaing bunyi petasan.
ruang ruang bergembira, meraung ke telinga
malam. seberapa lama menahan ronta jam.
anak anak menyulut kembang api. pijar
memancar rapi. tapi jantung waktu tetap sepi.

Jakarta, 2015

 

Desember – Januari (3)

mereka memburu momentum baru. bersama
melepaskan kepiatuan waktu, ke garis tubir
deru.
apa yang berubah, wajah kalender menanggung
lelah. lembar lembar akan rebah, sejumput
persepsi patah.
di esok pagi mimpi tersangkut gagang pintu,
matahari bermimikri menjadi biru.
Jakarta, 2015

 

Silsilah Debu

apa alpa
yang mencipta debu
jatuh berdebum
di kebun surga
tertolak melontar
melayang masygul
menjadi bumi
Jakarta, 2015

 

Pijar dan Getar

ayat adalah hayat:

  • aksara menyulut pijar
  • suara merawat getar

 

Jakarta, 2015
 

Lingkar Embun

gigil daun
membaca luka tahun
di mana musim bermukim
cuaca berkaca kaca
Jakarta, 2015

Osmosis Elegi

teraduk duka
akan daku
menyusup pori waktu
membaur partikel gagu
Jakarta, 2015

 

Semburat Senyap

nada terakhir
resital gitar tunggal
menggaris tanya
ke mana lindap cahaya
saat lampu ruang pertunjukan diredupkan
saat kesibukan dalam kepala dihidupkan
di kamar
gitaris tertidur
berselimut lagu lagu

Jakarta, 2015

 

Riwayat Kata

hanya selubang jarum
sebagai pintu
segajah pesan dan maksud
terus memburu
Jakarta, 2015

 

Pusaran Bayang

ihwal mendekat-menjauh
kesadaran separuh
detik dan detak berkejaran
fragmen fragmen berlepasan
ruang mengangkut remang
sajak makin menggenang
Jakarta, 2015

 

 

 

 

Budhi Setyawan, kelahiran Purworejo, Jawa Tengah. Menyukai musik rock dan puisi. Bergiat di komunitas Forum Sastra Bekasi (FSB). Tinggal di Bekasi, Jawa Barat.