Polisi Tak Bertelinga
Mungkin panah telah menjadi Tuhan
Kemana perginya, disitu ujungnya ajal
Berita semakin mekar, tuli pun semakin jadi
Duduk di kantor, diam, bercerita, mungkin itu aktifitas mereka
Resah, risau, gusar hati orang-orang yang tak dianggap mata
“anakku dipanah, dimana pelakunya? Aku sedang terbaring tak mampu. Tolong carikan tersangkanya. Oh, rupanya polisi itu tak bertelinga. Mereka di kantor. Aku salah mengadu.” Keluh seorang Ibu.
Pndah saja dari Bau-Bau, jika tak berani melawan rusuh
Kini tak ada beda lawan dan kawan
Mana pelindung mana terlindung
Yang terlindung makin melarat oleh airmata
Sedang pelindung tetap tertawa dengan rupiah tiap bulan
Oh, aku salah mengadu lagi
Baiklah akan kutanggalkan pakaianku
Tapi copot juga seragam polisi tak bertelinga itu
Copot seragam mereka yang hanya menengadahkan tangan
(Bau-Bau, Jumat, 25 November 2016)
Seperti Musim
Itu dia yang kurindukan
Datang seperti kedipan mata
Lalu pergi seperti tak mengenal
Malam memenjara tawa
Berpesta pora dalam putihnya putih
Layar berrpecah-pecah
Kecanggihan mesinnya melewati akal
Entahlah
Mengapa rindu mampu menyiksa
Padahal tak sedikitpun ia tampak
Berulang seolah aku satu-satunya
Dia yang kurindukan
Datang seperti hujan
Pergi seperti hujan
Seperti musim hari ini
(Bau-Bau, Jumat, 24 Februari 2017)
Semilir Angin
Ada semilir angin
Hanya sepintas
Tapi terus
Disana burung hitam berlomba
Lalu hilang
Di telan ombak
Ini hanya semilir angin
yang pergi tanpa pesan
(Kapal Ciremai, Sorong-Bau-Bau, Rabu, 16 November 2016, pukul 05.31 Sore)
Pernahkah Kau Bercerita
Pernahkah aku bercerita
Pada toilet yang kau kotori tiap hari?
Pernahkah kau bercerita
Pada air keruh di kolam kecil?
Kata ini sepeti kutukan
Dari selang-selang pengisi hidup orang miskin
Sekali lagi, ini seperti kutukan
Pernahkah kau bercerita?
Tentang kebohongan
(Bau-Bau, 16 Februari 2017)
Terima Kasih Untuk Malam Yang Tak Mau Sunyi
Terima kasih untuk malam yang tak mau sunyi
Kutinggalkan bunyi kipas di celamu
Terima kasih untuk malam yang tak mau sunyi
Atas waktu agar kau kusejarahkan
Terima kasih untuk malamyag tak mau sunyi
Telah kubelah bulan dalam panci
Terima kasih untuk malam yang tak mau sunyi
Biarkan iringan klakson kapal saling berkejaran
Terima kasih untuk malam yang tak mau sunyi
Kututup dengan birunya
sang legenda
(Wanci, Selasa, 22 November 2016)

Joe Annas Hasan, lahir di Ambon pada 22 Februari. Karya-karyanya baru tersebar di penerbit indie. Aktif di bidang olahraga (Taekwondo). Nomor HP : 082248207003

