Unik, Begini Suasana Dalam Kereta Banjar-Pangandaran Waktu Itu

Peserta ajang Napak Tilas Jalur Kereta Banjar-Cijulang menyusuri Terowongan Juliana di Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang beberapa waktu lalu.

Trisilo Hartono (52) masih mengingat betul suasana kereta Banjar-Pangandaran yang ia naiki beberapa kali pada tahun 1978-1979. Tri ingat benar, harga tiket dari Banjar ke Pangandaran, ketika itu sebesar Rp 125 untuk dewasa dan Rp 100 untuk anak-anak.

Hingga kini, Tri mengaku masih menyimpan potongan-potongan tiket yang ia pungut di sekitar peron tersebut. Tri sendiri menyebut, ia yang saat itu masih murid SMP tidak membayar karena memiliki kartu subsidi keluarga Perusahaan Jawatan Kereta Api/PJKA (kini PT KAI).

“Saat itu saya ingin tahu Pangandaran. Saya pergi sendiri,” kata warga Jalan Padjajaran, Kota Bandung ini kepada SP.Com ketika mengikuti napak tilas jalur kereta Banjar-Cijulang beberapa waktu lalu.

Kereta dari Banjar ke Pangadaran, Tri melukiskan, ketika itu menggunakan satu lokomotif dan tiga gerbong berwarna hijau. Satu gerbong paling belakang, kata Tri, adalah gerbong barang yang diubah menjadi angkutan penumpang.

Di dalam kereta, Tri menggambarkan, penumpang duduk di dipan kayu menyamping. Ia mengingat, ada tiga dipan memanjang, masing-masing di kiri, kanan dan di tengah. Penumpang yang duduk di bangku tengah, kata dia, bisa sembarang menghadap, entah ke kiri atau ke kanan.

Tri mengingat, ketika itu, penumpang dari arah Banjar sebagian membawa barang belanjaan, seperti mi instan. Jika berangkat subuh dari Banjar, kata dia, ada sejumlah nelayan yang hendak melaut di Pangandaran. Menurut Tri, mereka membawa kecrik atau heurap, alat tangkap jaring tradisional.

“Pedagang asongan ada, tapi enggak banyak dan mereka sangat ramah. Kalau di stasiun, subuh-subuh mereka jualannya pakai lilin atau lampu sentir,” kata Tri yang juga bergiat di Yayasan Kereta Anak Bangsa, lembaga yang mewadahi para penggemar kereta api.

Beberapa hal mengesankan yang tak pernah ia lupa, ia menceritakan, ketika itu, selepas terowongan Wilhelmina di Kalipucang, kereta bisa dihentikan di sembarang tempat. Saat itu, ia bahkan melihat penumpang membawa batang-batang pohon bambu dan menaikannya ke atas gerbong.

“Pas musim liburan, saya juga pernah dari Pangandaran ke arah Banjar duduk di atas gerbong, karena saat itu penuh sekali,’ ujar pria 52 tahun ini.

Tri mengaku merasa beruntung pernah merasakan naik kereta ke Pangandaran. Karena tak di sangka, jalur berpemandangan indah itu ditutup tak lama kemudian. Rute Pangandaran-Cijulang ditutup pada 1979 dan Jalur Banjar-Pangandaran menyusul dihentikan pada 3 Februari 1981.

Mendengar rencana reaktivasi jalur Banjar-Cijulang ini, Tri sangat senang dan tak sabar kembali merasakan naik kereta ke Pangandaran. Ia berharap, rencana tersebut tak sebatas wacana, tapi benar-benar terealisasi.

Rekan Tri, Intrias Herlistiarto dari Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) Bandung, juga mengaku sangat antusias mendengar rencana reaktivasi jalur yang dianggapnya legendaris ini. Menurut Tri, reaktivasi jalur Banjar-Pangadaran atau dulu disebut jalur Ban-Ci, sangat menjanjikan, mengingat tingginya potensi ekonomi dan pariwisata di daerah Pangandaran.

“Banyak teman-teman saya orang Belanda yang tertarik datang ke Pangandaran. Mereka mengaku akan sangat suka kalau bisa naik kereta,” ujar Intrias kepada Andi Nuroni dari SP.Com.

Kereta Banjar-Cijulang, kata dia, bisa menjadi jalur wisata. Wisatawan dari arah barat, menurut Intrias, bisa singgah dulu ke Pangandaran sebelum melanjutkan ke Jogja atau Solo.

Turut menghadiri kegiatan, Kepala Daerah Operasi II Bandung PT KAI Saridal membenarkan, saat ini Pemerintah Pusat tengah merencanakan reaktivasi seluruh jalur kereta non-aktif, termasuk jalur Banjar-Cijulang.

“Kemarin pertamuan dengan Bu Menteri BUMN, dia berharap sebelum 2019 (jalur-jalur itu) sudah bisa digunakan,” kata Saridal.

Ia melaporkan, proses studi kelayakan atau feasibility study (FS) jalur Banjar-Cijulang sudah diselesaikan dan akan masuk pada tahap detil rancangan teknis atau detail engineering design (DED).

Untuk menyiapkan pengaktifan ulang atau reaktivasi, menurut Saridal, saat ini pihaknya tengah melakukan pendataan aset. Ia menyayangkan, kini, sebagian aset tanah PT KAI di jalur Pangandaran-Cijulang dikuasai warga.

Selain tanah, menurut Saridal, aset lain, seperti rel dan baja jembatan, juga sebagian besar telah hilang. Dan jikapun reaktivasi akan dilakukan, menurut dia, konstruksi jembatan lama, seperti Jembatan Cikacepit, tidak akan bisa digunakan lagi karena telah lapuk.

Editor: Andi Nurroni/SP.Com

Gerombolan babi hutan turun ke pemukiman warga di Pangandaran

PANGANDARAN. Kawanan babi hutan (celeng) turun gunung dan memasuki pemukiman warga di Dusun Desa Sidomulyo , Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Propinsi Jawa Barat, sejak Minggu (30/7) pagi tadi. Kuat dugaan, babi hutan turun ke pemukiman warga lantaran kelaparan.

Anto, warga Desa Sidomulyo, ketika dihubungi Warta Priangan, Minggu (30/7), mengaku sejumlah warga melihat kawanan babi hutan turun dari hutan.

“Pagi tadi melihat segerombol babi hutan masuk ke pesawahan dan halaman rumah. Mungkin babi babi itu kehausan dan kelaparan. Kemungkinan dikejar warga Kampung sebelah yang letaknya dekat hutan,” ujarnya.

Menurutnya, ada sekitar 10 ekor yang berkeliaran. Sudah tiga ekor yang sudah tertangkap, namun itu anaknya. Sedangkan bibitnya belum tertangkap.

“Sampai saat ini warga masih mengejarnya. Alasannya kawanan babi hutan ini merusak palawija yang baru beberapa minggu ditanam,”ujarnya.

Kawanan Babi hutan ini, tambahnya, dikejar orang-orang yang pemukimannya dekat hutan.

“Warga Desa Sidomulyo hanya membantu saja menangkapnya,”pungkasnya. (Iwan Mulyadi/Warta Priangan)

Puisi Puisi Vito Prasetyo

Burung-Burung pun Bersujud

Burung-burung itu
tak melekat buah pikirannya
terbang liar di kolong langit
sayapnya dikepakkan memotong ruang hampa
hanya naluri melekat di tubuhnya
kadang membelah ruang waktu
menembus batas-batas semu
kemudian hinggap di ranting pepohonan

Kicauannya merdu menyambut pagi
menciptakan syair indah tanpa musik
hingga membuat makhluk bumi terkesima
mengajarkan tentang sesuatu
yang bukan milik manusia
Kadang burung-burung itu
menjelajah seruas panjang siang
mungkin sampai puluhan kilometer
bahkan ratusan kilometer
tapi tak pernah ada keluh dan letih
tergambar dari raut wajahnya

Saat senja menghampiri penat siang
burung-burung itupun mencari peraduannya
seakan (mereka) terpanggil panggilan Ilahi
tanpa pernah menghitung pengabdiannya
dan seberapa banyak makanan
yang telah masuk kedalam perut (mereka)
karena penghujung senja itu
menjadi akhir perjalanan sehari
untuk menunggu hidup baru di esok hari
Mungkin dalam diam
ketika malam membasuh tubuh burung-burung itu
ada wujud syukur bersemayam
dalam dada mereka (burung-burung itu)
kepada Sang Ilahi

Malang – 2017

 

Coba Kita Renungkan

wahai engkau gemuruh pembawa maut
tidakkah ‘kau lihat tanahku, tempat berpijak
tak ada lagi pekik suara
karena ketakutan itu mencekam kami
pintu kami tertutup rapat
sedang anak kami menahan lapar
engkau berlari di sepanjang sepi
meninggalkan separuh zaman, – yang telah luka
sementara kami masih mendekap duka
pada titian hidup menanti sebuah kematian
– – –
sungguh kepasrahan ini telah menutup mata
pada tepian waktu, jiwa serasa begitu letih
kadang (dia) berkelana mencari dermaga
untuk menambatkan penat raganya
agar terkuak kembali catatan baru
– – –
tubuh-tubuh indah tak lagi berharga
tercabik dan teraniaya oleh pedang nista
merangkai langkah di semua persimpangan dusta
kini tak sanggup lagi memekik
tak akan luruh tanpa kebeningan doa
selain menunduk dan terus menunduk
merenungi dengan segala apa yang bukan milik mata
terkecuali memandang dengan mata bathin
hingga waktu menyelinap mensucikan diri kita
entah, sampai kapan…..
– – –

Malang – 2017

 

Episode Rindu

Aku telah mengupas hatimu
dengan separuh langkah hidupku
saat tertanam di ladang kerinduan

Ketika hampir senja,
kita menyusuri kenangan silam
pada tapak-tapak jalan penuh bunga

Bunga mawar pernah kutulis dalam mimpimu
engkau menciumnya tatkala hatimu gundah
dan aroma wangi merambah pada napasmu

Kini bunga itu layu
terpendam dalam gumpalan lara
telah kucoba untuk menanamnya kembali

Biarlah rindu terendam duka
dan air bahagia memercik di antara rimbun daunnya
kita bersihkan luka usang

Ladang itu masih menanti kerinduan kita
dan kicau burung di atasnya menanti sapamu
apakah mulutmu tersaput kebisuan?

Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun lamanya
waktu meninggalkan kehampaan ini
kutorehkan garis penaku dalam lembar mimpimu

Akhirnya kini terjawab sudah
engkau telah meninggalkan semua episode rindu
dan membakarnya dalam kebencian abadi

(Malang – 2017)

 

Kolong Neraka

Nyanyian duka tak berkumandang lagi
sayup-sayup, sejuta harap tenggelam
tenggelam dalam pelukan misteri hidup
napas pun menderu tanpa jalan
Langit tak lagi berteduh dalam keperkasaannya
panas merah-hitam menyatu pada jasad-jasad yang gagal
tak ada malam,
juga tak ada satu pun siang
semua lorong-lorong hidup menjadi gelap
bahkan semua kolong-kolong langit menjadi gulita
Manusia tak lagi sanggup memuliakan dirinya
hanya desis ketakutan meniti pada sebuah kolong
yang teramat panjang dan begitu lama

Malang – 2017

 

 

Layu

Lihatlah wajahmu pada cermin
begitu kusut dan layu
kulit-kulit wajahmu pun seakan gersang
Buanglah cinta itu
– yang melekat begitu dalam
janganlah engkau menikamnya
ke batas jiwamu
kepenatanmu telah berada di ujung nestapa
tuntaskanlah hidup
hingga engkau terlahir
pada duniamu yang baru

Malang – 2017

 

Biodata:
VITO PRASETYO, dilahirkan di Makassar(Ujung Pandang), 24 Februari 1964 — Agama: Islam — Bertempat tinggal di Malang – Pernah kuliah di IKIP Makassar
Bergiat di penulisan sastra sejak 1983
Karya-karya Sastra (cerpen – puisi – esai) pernah dimuat media cetak lokal dan nasional, antara lain: Harian Media Indonesia (Jakarta) – Harian Pikiran Rakyat (Bandung) – Harian Suara Merdeka (Semarang) – Harian Pedoman Rakyat (Makassar) – Harian Suara Karya (Jakarta) – Harian Radar Malang (Malang) – Harian Radar Surabaya (Surabaya) – Harian Solopos (Surakarta) – Harian Sumut Pos (Medan) – Harian Lombok Post (Mataram) – Harian Duta Masyarakat (Surabaya) – Harian Malang Post (Malang) – Harian Digital Nusantaranews.co – Harian Buanakata.Com – Majalah Puisi – Harian Digital LiniFiksi (Jakarta) – Harian Waktu (Cianjur) – Harian Republika (Jakarta) – Harian Haluan (Padang) – Harian Rakyat Sultra (Kendari) – Harian Fajar (Makassar)
Buku Antologi Puisi “Jejak Kenangan” terbitan Rose Book (2015)),“Tinta Langit” terbitan Rose Book (2015) -“2 September” terbitan Rose Book (2015), “Jurnal SM II” (2015) diterbitkan Sembilan Mutiara Publishing 2016
Sedang mempersiapkan Buku Kumpulan Puisi “Biarkanlah Langit Berbicara” (2016 – 2017) &
Buku Kumpulan Puisi “Sajak Kematian” (2017)

E-mail : vitoprasetyo1964@gmail.com — HP: 081259075381 —

 

 

[Cerpen] “Kisah Gracie”

Oleh : Devian Amilla

Aku gemar sekali melihat darah segar yang mengalir deras dari tubuh seseorang. Aku juga selalu excited ketika melihat seseorang sedang bertarung dengan kematian. Aku tergila-gila dengan darah yang kental dan anyir. Mungkin banyak yang bilang nyawa haruslah dibayar dengan nyawa. Tapi bagiku, bully yang harus dibayar dengan nyawa.
Aku sudah cukup lelah bertahan selama 13 tahun di bully oleh teman-temanku hanya karena aku berbeda. Aku yang sejak kecil tak pandai bergaul selalu mendapat diskriminasi dari orang-orang sekitarku. Tak terkecuali dari orangtuaku dan ketiga kakakku. Mereka bilang seharusnya aku tak perlu lahir karena membuat malu keluarga tidak bisa bergaul dan terlalu bodoh menempatkan diri dengan orang-orang baru. Ketiga kakakku sangat cantik, mereka sangat lihai dalam bergaul, mereka juga pintar berdandan. Bagi mereka aku hanya gadis kecil berkacamata yang tidak bisa apa-apa.
Aku mulai bersahabat dengan pisau dan benda-benda tajam lainnya saat aku merasa direndahkan sebagai perempuan. Saat usiaku 14 tahun, aku hampir kehilangan kesucianku. Teman sekelasku yang merencanakan semua ini. Aku dikepung oleh lima orang laki-laki ketika pulang dari bimbingan belajar dekat sekolahku. Aku diseret ke ujung jalanan yang sepi dan jarang dilewati kendaraan. Posisiku saat itu benar-benar terdesak. Mereka memaksaku untuk menanggalkan pakaian. Aku memberontak dan melihat salah satu dari mereka memegang pisau. Aku berhasil merebut pisau itu dari tangannya.
Kuacungkan pisau itu ke arah mereka, tapi mereka mengira bahwa aku hanya mengancam. Mereka malah menghinaku dan merendahkanku. Aku yang selama ini sudah muak dengan segala jenis bully langsung kalap menyayat leher salah satu dari mereka. Saat itu aku merasakan sisi lain dari diriku. Aku merasakan ada semangat yang selama ini hilang ketika aku melihat darah yang mengucur dari leher anak laki-laki tersebut. Teman-temannya yang lain mencoba kabur, namun aku lebih cepat dari mereka. Aku habisi mereka satu per satu dengan pisau yang ada di tanganku.
Kelima anak laki-laki itu sekarang terkapar dengan bersimbah darah. Aku belum merasa puas, kutikam dada mereka satu per satu berkali-kali. Aku tidak peduli bagaimana rupaku sekarang, aku merasa sangat senang. Ini pengalamanku yang paling menyenangkan. Setelah puas menghabisi mereka, kutinggalkan begitu saja tubuh mereka. Biarkan saja tubuhnya dimakan anjing liar yang berkeliaran di jalan ini.
Saat ini aku tercatat sebagai siswi kelas 3 di SMA Favorit di kotaku. Aku sedang sibuk-sibuknya belajar dan ‘bermain’ dengan mereka yang sibuk menghinaku. Aku berkali-kali ditegur dan di beri surat peringatan karena terus bercerita tentang pembunuhan. Semua anak-anak disekolahku jadi takut untuk berteman denganku. Padahal aku sangat senang melihat wajah-wajah ketakutan mereka saat aku menceritakan betapa serunya melihat darah yang mengalir deras dari tubuh seseorang.
“Gracie! Kerjakan soal ini di depan kelas.”, ucap pak Edward sambil menatapku tajam karena daritadi aku tidak memperhatikannya.
Aku maju ke depan kelas. Aku mencoba mengerjakan soal itu, tapi aku tidak bisa. Bagaimana mungkin aku bisa mengerjakannya, mendengarkan ia menjelaskannnya saja tidak.
“Kau sudah di tingkat akhir, kenapa kau tidak pernah serius belajar! Mau jadi apa kau setelah lulus nanti? Tukang sampah?!”, bentakan pak Edward menimbulkan suara tawa dari teman-teman kelasku.
Aku hanya bisa tertunduk. Dalam hati aku mengutuk perkataan pak Edward. Teman-teman sibuk menyorakiku dengan kata-kata yang sangat menyakitkan hati. Aku memang sudah terkenal dengan sebutan siswa yang paling bodoh sejak SD sampai sekarang. Tapi apakah menjadi bodoh itu dosa? Apakah bodoh itu termasuk salah satu dosa besar dan hina? Kenapa mereka memperlakukan aku seperti dosa besar yang haram untuk di dekati?
Pak Edward mempersilahkanku untuk duduk kembali setelah ia puas mempermalukanku di depan teman-teman. Aku kembali ke bangku dengan rasa marah yang membuncah. Pak Edward melanjutkan pelajarannya. Aku pun melanjutkan lamunanku. Aku malas untuk mendengarkan segala rumus fisika yang keluar dari mulutnya. Tapi, sial. Lagi-lagi pak Edward memergokiku melamun.
“Kau sedang akting menjadi hantu apa dengan gaya melamun seperti itu?”, teriak pak Edward dari depan kelas. Suasana kelas langsung pecah dengan suara tawa.
“Kau yang akan menjadi hantu. Bukan aku!”
“Kau bilang apa? Berani sekali kau memanggilku dengan sebutan “kau”!”, Pak Edward berjalan ke arahku. Melayangkan tamparan ke wajahku.
“KAU YANG AKAN MENJADI HANTU! BUKAN AKU!”.
Aku berteriak tepat di depan wajahnya, lalu bergegas meninggalkan kelas.
Napasku memburu. Aku berlari ke arah gudang sekolah dengan suara menggema di kepalaku. Suara itu menyuruhku untuk membunuh Pak Edward. Jadi, akan kubunuh lelaki tua itu dengan caraku.
***
Bel pulang sekolah sudah terdengar. Aku buru-buru menemui lelaki tua itu. Aku sudah mengatur rencanaku dengan matang. Kulihat lelaki tua itu berjalan ke arah kantor, sebelum ia sampai kesana aku harus mencegahnya. Aku berlari ke arahnya secepat mungkin.
“Pak Edward! Pak Edward!”, aku berusaha memanggilnya.
Lelaki tua itu memalingkan wajahnya. Ia tersenyum penuh kemenangan saat melihatku berlari ke arahnya. Ia mungkin berpikir aku akan minta maaf atas perbuatanku tadi. Ya, aku memang akan meminta maaf dengan caraku.
“Aku ingin minta maaf, Pak.”, ucapku dengan nada sesedih mungkin agar ia yakin.
“Aku menyesali perbuatanku.”, tambahku dengan suara bergetar menahan tangis.
“Akhirnya kau mengakui kesalahanmu! Aku akan memaafkanmu dengan satu syarat.”
“Apa itu, Pak?”, aku sudah mewanti-wanti permintaannya yang bisa saja menggagalkan rencanaku untuk membunuhnya.
“Bantu aku membersihkan ruangan laboraturium sekolah kita nanti sore. Bagaimana?”
“Baik Pak, dengan senang hati.”, aku tersenyum dan pamit dari hadapannya.
Ternyata si lelaki tua itu malah mempermudah rencanaku untuk menghabisi nyawanya. Aku jadi tidak sabar menunggu sore nanti.

 

***
“Gracie! What are you doing for me?!”, teriak Pak Edward ketika mendapati dirinya telah terikat di sebuah meja panjang.
“C’mon honey! Don’t worried like that. Oke?”, ucapku sambil mengeluarkan pisau, palu, gunting dan gergaji dari dalam tasku.
“Apa yang akan kau lakukan padaku, Gracie?”, suara lelaki tua itu melemah. Ia pias ketika melihat aku mengeluarkan “alat-alat kecantikanku”.
Aku mengelus wajahnya yang sudah hampir keriput dengan pisau. Kusayat kulit wajahnya beberapa kali. Ia menjerit kesakitan.
“Lanjutkan teriakanmu bapak tua! Seperti kau meneriakiku di kelas.”
“Apa salahku padamu?”, tanyanya sambil menangis.
“Salahmu karena kau telah bermain-main denganku. Salahmu telah merendahkanku di depan teman-temanku!”, teriakku frustasi.
Aku pun menyayat dan mengoyak-ngoyak tubuhnya dengan pisau kesayanganku. Ia terus menjerit kesakitan sambil mengeluarkan kalimat, Somebody, Help me! Please, help me! Aku semakin membabi buta menghabis nyawanya. Usai sudah kesabaranku selama ini.
Aku menancapkan pisau tepat ke jantungnya lalu mengoyak-ngoyak dan menarik jantungnya keluar. Belum puas sampai disitu, aku mengambil gergaji dan memotong-motong tangan dan kakinya menjadi beberapa bagian. Lalu aku membelah perutnya, mengeluarkan semua isinya. Kuambil gunting dan kupotong rambut lelaki tua ini sampai habis. Setelah itu kuhantamkan palu ke kepalanya yang sudah botak. Otaknya berceceran diatas meja. Aku tersenyum puas. Aku berjalan meninggalkan ruangan laboraturium sambil bergumam, “Bukannya sudah kukatakan? Kau yang akan menjadi hantu.”[]

 

Devian Amilla

 

Penulis adalah Alumni UMSU Jurusan Matematika, Beberapa karyanya seperti puisi, cerpen dan opini pernah dimuat di media lokal maupun luar daerah

 

 

 

Baca karya Devian Amilla LAINNYA

Puisi Ahmad Radhitya Alam

BAYANG IMAJI SEMU

Pupus sudah harapan semu
Raga rapuh mengeropos waktu
Nyala suara telah padam
Karam pada bara dalam sekam

Telah berapa jiwa ku jumpa
Memberi bayang warna yang sama
Kelabu semu tak indah di mata
Hanya menabur kilauan sephia, rona nista

Semu membaur di keheningan malam
Mengusik jiwa yang tenang
Lorong emosi terpendam
luapkan imaji rasa dendam
Sepi menyelimuti jiwa sunyi
luruh menjadi katalis perih hati

Blitar, 5 November 2016

 

MUNAFIK

Menutupi tabir gelap yang kau pilih
Sikapmu hilang redam dalam sekam
menyimpan rahasia nan mendalam
Mata, hati, telinga
masihkah mereka bekerja
sedangkan hati,
sudah lama mati
lama sudah mati

Aku hilang kepecayaan
hilang sudah kepercayaan

Janji-janji telah kau ingkari
dan aku pun selalu kau bohongi
kepercayaan yang kuberikan
sudah jelas kau sia-siakan

kini, aku pun tak lagi bias mengerti
jiwaku menyanyikan orkes sakit hati

Kata-katamu menusuk berkecamuk
menembus tembus palung hati terdalam
mengoyak kepercayaan dengan guratan nestapa
rona derita menyulubungi tubuh redam yang muram

Blitar, 26 Mei 2016

 

AKSARA JIWA

Menyingkap tabir waktu
bayangan darimu sebuah angan
membaur jiwa-jiwa yang tenang
sebuah tatapan, pandang

Nyala suara jiwa tak beraksara
tersirat darimu sebuah makna
yang terasa dalam hati
nian tak ku mengerti

Bunga-bunga merekahkan kelopak
mewangi pada setiap sudut sisi
Tersampailah harap sang rindu
Meski terbatas dimensi waktu
Baru ku tahu, bahwa itu
adalah seuntai
aksara
cinta

Blitar, 22 Maret 2016

 

MUSAFIR DI UJUNG SENJA

Menggulung senja
Pada huluan langit jingga
Deru-deru ombak samudera
Mengiring rona matari berkelana

Langit semakin menghitam
Mengelabuhi puspa cahya pesona
Langkah-langkah menapak tanah persada
Remuk redam tubuh sayu menuju temaram

Musafir di ujung senja
Mengitari rotasi jagat raya
Tapak kaki bergerak bersama
Beratap cakrawala, memecah samudera

Blitar, 15 Oktober 2016

MALAM MEMINANG PURNAMA

Berkas-berkas cahya menyinari langit yang legam
lentera malam tampak cerah maksimum
hilang sudah rona ekspresi muram
yang tampak hanyalah senyum

Malam meminang purnama
bintang-bintang merenda cahya
di tengah hiruk pikuk ceria
semarak pesta memesona

Blitar, 23 Mei 2016

 

  Ahmad Radhitya Alam, lahir di Blitar, pada tanggal 2 Maret 2001. Siswa SMAN 1 Talun dan santri di PP Mambaul Hisan Kaweron. Penulis bergiat di Teater Bara SMANTA. Karyanya termaktub dalam beberapa antologi puisi dan dimuat di Majalah MPA, Buletin Jejak, Radar Surabaya, Flores Sastra, RiauRealita.com, Radar Mojokerto, dan Malang Post.
Alamat Facebook : Ahmad RadhityaAlam/ facebook.com/mask.vendeta.5
Nomor HP : 085 706 022 133
Email : ahmadradhityaalam@gmail.com

Puisi Muhammad de Putra

Kutangisi Senja

mencari jalan buntu untuk mati.
tergeletak di antara judul-judul puisi.
meneriaki kata-kata yang terlumpah
di senja dengan bahasa basi.
langit yang bisu menyumpah
serapahkan air mata.

ingin kubunuh langit dan awan yang
berkembang di matamu yang awam

hidup memanglah puisi yang semakin hari,
semakin mati.
jalan di ujung puisi ini ada rumah
yang tak tampak.
samar bersama metafora milik senja
yang tak menginginkan matamu
memandangnya dengan sinis.

ah, sudahlah akan kutangisi senja
bila puisi-puisiku tidak membaik.

Senja Sastra | 2016

 

Bingkisan Milik Juni
Kepada Guru:-: Sapardi

yang berdoa dalam komposisi hujan
dan cerita tentang orang-orang yang
kabur dari amuk akhir bulan adalah
bingkisan Juni untukmu.

senyummu dalam sampul buku adalah
badai yang tak reda-reda di luar jendela.
memabukkan langit yang melibatkan jarak
antara kita. aku bukan melankolismu
yang menerbangkan sajak-sajak pada
halaman-halaman buku-buku.

dalam doa-doaku yang takkan pernah
rangkum selesai di ujung lidah.
inilah bingkisan Juni
yang menunggu untuk kau’amini’

Milad Sastra | 2016

 

Basah yang Tak Kunjung di Jemur

bukankah engkau adalah
jemuran yang menerima
segala kekotoran pada bajuku.
jemurlah rasa semangatmu
untuk bernafsu bermain air.
segala permainan yang membuatmu basah.

selalu teriklah mata hari
yang terang dalam tali-temali jemuran.
jangan biarkan gerhana
membuat semangatmu bermain gagal.
atau silaunya membuat
bajumu lembab.
maka, jemurlah air mata
yang tak kunjung kering.

Jemuran Sastra | 2016

 

Masuklah!
Kepada Datuk; Dasri Alwi

masuklah dalam rumah
yang tak pernah menyuruhmu
untuk menguncinya.
sebelum para hawa buruk menyeruak
di ruang tamu
dan menyelinap lewat celah-celah atap.
biarkan kelenggangan ruangan
menjadi kunjungan yang tak jadi.
bagi orang-orang sombong:
rumah adalah dosa yang tak layak di kunjungi lagi.

wahai orang sombong
yang mengempati waktu untuk berkunjung.

masuklah!
masuk pada rumah kami
yang telah di cat oleh merah
dosa kalian.

Rumah Sastra | 2016

 

Malam Sesat

pukullah waktu
yang tak pernah sempat
membangunkanmu
pada pukulnya yang tepat

dalam puing-puing malam
yang menyurukkan rasa hati-
hatimu memilih jalan.
bawalah kompas sesat ini!
tunjukkan pada cahaya bintang
yang fana
bahwa jalanmu telah benar.

Jalan Sastra | 2016

 

Muhammad de Putra. Kelahiran 14 April 2001. Siswa kelas VIII SMPN 6 Siak Hulu, Kampar. Puisi-puisi telah tersebar di pelbagai Media Massa di Indonesia. juara 1 lomba Cipta Puisi di Bulan Bahasa UIR tingkat SMP se-Indonesia, Juara 1 Cipta Puisi di Praktikum Sastra UR tingkat SMP se-Riau, Harapan 2 Lomba Cipta Cerpen di Bulan Bahasa UIR tingkat SMP se-Indonesia & Juara 1 Lomba Cipta Puisi tingkat Nasional seluruhnya Penyair Muda yang ditaja oleh Sabana Pustaka. Bukunya yang telah terbit Kepompong dalam Botol & Timang Gadis Perindu Ayah Penanya Bulan, Sedang meramu buku puisi tunggalnya yang ke-3 Hikayat Anak-anak Pendosa. Puisinya juga termaktub dalam beberapa antologi seperti: Merantau Malam (Sabana Pustaka, 2016), TeraKota (Liliput, 2015), Tunak Community Pena Terbang

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai