Simone de Beauvoir, lahir di Paris, 9 Januari 1908 – meninggal di Paris, 14 April 1986 pada umur 78 tahun) adalah tokoh feminisme modern dan ahli filsafat Perancis yang terkenal pada awal abad ke-20 dan juga merupakan pengarang novel, esai, dan drama dalam bidang politik dan ilmu sosial. Ia dikenal karena karyanya dalam politik, filsafat, eksistensialisme, dan feminisme, terutama karya Le Deuxième Sexe yang diterbitkan pada tahun 1949.
Lanjutkan membaca Simone de Beauvoir, eksistensialisme dan feminisme |
Jean-Paul Sartre, seorang filsuf dan penulis Perancis
Jean-Paul Sartre (lahir di Paris, Perancis, 21 Juni 1905 – meninggal di Paris, 15 April 1980 pada umur 74 tahun) adalah seorang filsuf dan penulis Perancis. Ialah yang dianggap mengembangkan aliran eksistensialisme. Sartre menyatakan, eksistensi lebih dulu ada dibanding esensi (L’existence précède l’essence). Artinya, manusia akan memiliki esensi jika ia telah eksis terlebih dahulu dan esensinya itu akan muncul ketika manusia mati. Dengan kata lain, manusia tidak memiliki apa-apa saat dilahirkan dan selama hidupnya ia tidak lebih hasil kalkulasi dari komitmen-komitmennya pada masa lalu. Karena itu, menurut Sartre selanjutnya, satu-satunya landasan nilai adalah kebebasan manusia (L’homme est condamné à être libre).
Lanjutkan membaca Jean-Paul Sartre, seorang filsuf dan penulis Perancis
Untuk Seseorang Setelah Aku
Cerpen : Devian Amilla
Bagaimana? Berdebar kencangkah jantungmu saat melihat matanya? Begitu sulitkah kau memalingkan wajahmu dari senyumnya? Ya, aku juga dulu merasakan hal yang sama denganmu. Aku selalu sulit mengalihkan pandanganku ketika melihat lengkungan senyum manis yang tercipta dari bibirnya. Jantungku pun berdetak lebih cepat dari biasanya ketika melihatnya menatap mataku.
Untuk seseorang setelah aku, bolehkah aku meminta tolong? Aku titipkan lelaki yang kini telah menjadi lelakimu. Dia memang sudah dewasa, tapi dia tetap si bungsu yang manja. Dia tidak akan segan untuk tidur di pangkuanmu, juga tidak akan malu untuk menggenggam tanganmu di hadapan teman-temannya. Dia akan rela datang kerumahmu meskipun kau tidak membukakan pintu untuknya. Karena dulu, aku pernah melakukan hal jahat itu padanya ketika kami sedang bertengkar. Kau, wanita yang sekarang dipilihnya untuk melangkah bersama, jangan biarkan dia merasakan hal menyakitkan yang dulu sempat aku berikan padanya.
Aku pernah dalam keadaan sangat mencintainya. Bahkan saat kutahu dia sekarang telah menjadi milikmu; aku masih sangat mencintainya. Keputusanku untuk mengakhiri hubungan dengannya bukan tanpa alasan. Dia, lelaki yang bahunya sempat menjadi sandaran paling kokoh untuk menyembunyikan tangis, lelaki yang memiliki sejuta cara untuk membuatku tersenyum bahkan tertawa dalam amarah. Lelaki yang pelukannya sehangat mentari pagi. Dia; lelaki yang sekarang telah menjadi lelakimu dan akan tetap menjadi milikmu.
Untuk seseorang; setelah aku. Bolehkah aku meminta tolong lagi padamu? Aku mengenalnya jauh sebelum kau bisa tersenyum bahagia melihat senyumnya sekarang. Aku mengenalnya bukan baru kemarin sore. Aku mengenalnya jauh sebelum kau datang ke kehidupannya. Jadi, izinkanlah aku mengatakan beberapa hal penting untukmu.
Lelakimu tidak suka kopi, dia lebih menyukai teh. Jadi, jika nanti dia berkunjung kerumahmu, tolong jangan sediakan kopi untuknya. Dia tidak akan mengatakannya padamu, tapi dia akan tetap meminumnya untuk menghargaimu. Bukankah dia akan senang jika kau membuatkan teh kesukaannya? Dia juga tak suka jika melihat wanitanya memakai blazer atau cardigan, dia lebih menyukai wanitanya memakai kemeja atau kaos. Dia tipe lelaki yang menyukai hal-hal sederhana. Begitupun dalam hal berpakaian. Jadi, jika nanti kalian hendak bepergian, kenakanlah pakaian yang ia sukai agar ia tak bisa melepaskan pandangannya darimu.
Oh ya, lelakimu juga sangat tergila-gila dengan makanan yang pedas. Jika nanti kau diminta untuk membuatkan masakan untuknya, tidak ada salahnya untuk menaikkan kadar pedas sesuai seleranya. Satu bocoran lagi, dia sangat menyukai nasi goreng. Jika kau tidak bisa membuat nasi goreng, ada baiknya kau mulai belajar dari sekarang. Dia akan semakin mencintaimu jika tahu kau pandai memasak.
Aku tidak tahu kau lebih sempurna dari aku atau tidak. Tapi aku sangat berharap, kehadiranmu di hidupnya bisa membuat dia lebih bahagia. Cintai dia seperti kau mencintai dirimu. Peluk erat tubuhnya ketika dia lelah. Jadilah sosok wanita yang kuat, lelakimu butuh disemangati bukan hanya dicintai.
Untuk seseorang; setelah aku. Jika nanti suatu saat kalian bertengkar, jangan menjalankan aksi diam seribu bahasa. Dia tidak akan mengerti maksud aksi diammu. Dia tidak ahli dalam membujuk wanita. Jadi, jika nanti kalian bertengkar tidak ada salahnya jika kau mengalah. Katakan semua yang ada dalam isi hatimu kepadanya. Keluarkan semua keluhan-keluhanmu. Dia akan dengan senang hati mendengarkannya. Dan kau tahu pasti, dia akan meminta maaf padamu berkali-kali setelah mendegar semua keluhanmu tentangnya.
Aku hampir lupa, ketika bersamaku dulu dia sering mengeluh bahwa tangannya sering kesemutan. Jika sampai sekarang dia masih sering mengeluhkan tentang itu, ingatkan dia untuk membeli obatnya. Dia bukan pengingat yang baik, dia seringkali melupakan hal-hal kecil. Sudah menjadi tugasmu sebagai wanitanya untuk mengingatkan dia menjaga kesehatannya. Ingatkan dia untuk membawa air mineral kemana pun, ingatkan dia untuk meminum air putih yang banyak agar penyakitnya tak kambuh lagi.
Berbahagialah dengannya, walau terkadang hatiku masih tak sanggup untuk melihatnya bersamamu. Tapi jika dia bahagia denganmu, aku sepenuh hati rela. Jangan sesekali membahas sesuatu yang tak disukainya. Dia bisa berubah menjadi orang yang paling menyebalkan di dunia. Tapi, semenyebalkan apapun dirinya, kau pasti tetap bisa mencintai dirinya. Sama seperti aku. Aku masih tetap mencintai dirinya meskipun dia telah melupakan aku.
Untukmu; wanita yang sekarang mendampinginya. Bolehkah aku meminta satu hal? Maukah kau berjanji untukku? Permintaanku tidak sulit, aku yakin kau bisa mengabulkannya. Begini, kau tahu bahwa sampai detik ini juga aku masih sangat mencintainya. Aku tidak bisa lagi menjadi alasannya tersenyum. Aku mohon padamu, jangan sakiti hatinya. Jangan permainkan perasaannya. Jika memang kau tidak sanggup berjalan beriringan dengannya, jangan berikan dia harapan seolah kau mampu bertahan. Aku berharap dan terus berharap, kau menjadi wanita terakhir yang bisa mendampinginya dalam suka maupun duka. Dalam lapang dan sulitnya.
Sekali lagi, berbahagialah dengannya. Bahagiakan dia seperti aku membahagiakannya. Kelak, kau juga akan merasakan menjadi perempuan paling beruntung bisa mendapatkan cintanya. Aku memang tidak pernah bertatap muka denganmu, tapi aku yakin kau bisa kupercaya untuk hal membahagiakannya.
Untuk seseorang; setelah aku. Jangan kecewakan rasa percayaku padamu.
Dari wanita yang pernah menjadi wanita lelakimu…
Beranda rumahku, 28 Mei 2017

(Penulis adalah Alumni UMSU Jurusan Matematika, Beberapa karyanya seperti puisi, cerpen dan opini pernah dimuat di media lokal maupun luar daerah)
Seni Badud Menolak Punah

Seni Badud Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran. (Andi Nurroni/SwaraPangandaran.Com)
Beberapa orang kakek tampak kepayahan mendaki titian menuju puncak bukit. Nyaris tak ada yang melenggang dengan tangan kosong. Mereka mengangkut banyak hal, mulai dari perabot pertunjukan hingga kantung-kantung berisi penganan.
Puisi Lamuh Syamsuar
Deguk Jernih
sinar dan kicau lunak
bersihangat membuka kelepak lembayung
biji-biji kerling yang melayang
seperti sehimpun sayap laron di dinding pagi
menggerayangi lekuk
kelabu, lekuk kalbu
rinduku telah sampai ke deguk jernih
telaga yang hening sepanjang musim
Loteng, 07 Mei 2016
Tanah Pecatu
petak pecatu adalah tanah sengketa yang pulang ke tangan datu
begitulah awig-awig yang ada. tapi adanya sekarang jarang disinggung
padahal tanah seakan meninggal pesan tiada dicipta dua kali
kisahnya waktu itu amat sulit jika air sumur terangkat tanpa timba
maka pecatu digarap keliang. sebagai ganti berkat
lestari rukun kaula sepanjang kampung
sepertinya perjalanan kampung tak sanggup lagi menjinjing khasanah aguman
lantaran hamba-hamba yang lahir kemudian tak banyak tahu tanah pecatu
juga lantaran keliang hampir seluruhnya menyalin ladang nafkah
Loteng, 09 Juni 2015
Pelantun Solawat Subuh
:Uwak Asih
tidak seperti ketika lelap membuai baring kampung
perempuan cekung itu keluar menerobos tirai kabut
ia mengambil air yang diembuni langit
menyuci tapak-tapaknya yang berhadas malam
seakan lembaran sisa pagi melarangnya pulas di sela suara muadzin
selalu ia yang utama terdengar mengisi buta subuh
dengan lantun solawat yang tidak dapat tidak keluar gemetar
mungkin karena gelombang itu lahir dari dada yang tengah digitik gigil
masih dari rambat benang yang pecah dari pengeras surau
terbayang usaha yang dalam memeras jaga, memelihara khusyu
seingat bilamana dulu ia pernah capai lewat mata terpejam
dan yang lepas, seolah mengandung sedih telah lalai-luput menghatur sembah
Loteng, 01 Juli 2015
Durian dan Manggis
barangkali. kita adalah
sepasang buah yang tengah ranum
pada pokok yang berbeda.
aku durian. siapa tak kenal harum dagingku.
aku gemar meninggalkan ujung-ujung duri diriku
memanjat ke salah satu pohon pembaca di kotamu.
segera penciumanmu mengenali aku
sekali lagi. aku gampang mencuri selera darimu,
meruntuhkannya dari dahan jantungmu
sayangnya engkau manggis
meski telah manis
kau tahan tak menangis
kau cukup setia menunggu pencicip
di balik selimut daging merah tua itu
kau perempuan tabah yang tahan
menyekam bara tanpa bicara
barangkali kita sama-sama tengah ranum
bedanya, aku kerap gundah
saat biji mataku selalu menangkap raut tenang seratmu
seolah buah bibirku di depanmu bagai desis ular tak berbisa
Loteng, 29 September 2015
Lamuh Syamsuar, Lahir di Lombok Tengah. Menyelesaikan Studi S1 di IKIP Mataram. Puisi-puisinya juga pernah dimuat di Suara NTB, Lombok Post, Jurnal Sastra Santarang, Bali Pos dan Riau Pos. Belajar sastra di Komunitas Akarpohon (Mataram). Buku puisi pertamanya Secauk Pasir Kesunyian (2014).
Reaktivasi Kereta Banjar-Cijulang Ditarget 2020
Salah satu kereta api jurusan Banjar-Cijulang sekitar tahun 70-an saat tengah melintasi jembatan Cikacepit beberapa kilometer jelang Pangandaran (atas) Foto: Doc KA
Pengaktifan kembali jalur kereta Banjar-Cijulang direncanakan dimulai pada tahun 2020. Saat ini, Kementerian Perhubungan dan Dinas Perhubungan Jawa Barat sedang bersama-sama melakukan kajian.
Lanjutkan membaca Reaktivasi Kereta Banjar-Cijulang Ditarget 2020
Bangkitnya Seni Badud Kertayasa, Pangandaran

Pertunjukan Badud Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang. (foto:Ahmad Toni Harlindo/SwaraPangandaran.Com)
Siang itu, 3 April 2016, waktu menunjukkan pukul 12.30. Matahari begitu terik menyengat. Namun cuaca yang panas tak mematahkan semangat serombongan pemain seni Badud untuk pentas. Lanjutkan membaca Bangkitnya Seni Badud Kertayasa, Pangandaran
Mengenal Alat Musik Nafiri Dari Riau

Alat-alat musik di atas menghasilkan irama dan melodi tersendiri yang berbeda dengan alat musik lainnya. Kita dapat melihat permainan alat musik ini bersama dengan pertunjukkan makyong yang merupakan sebuah bentuk kesenian tradisional yang saat ini masih dimainkan dan diwariskan di provinsi Riau. Selain sebagai alat musik, nafiri juga digunakan sebagai alat komunikasi masyarakat melayu. Terutama untuk memberitahukan tentang adanya bencana, dan berita tentang kematian.
Sejarah
Asal-usul alat musik tersebut belum begitu jelas. Jika melihat perjalanan sejarah provinsi Riau, sejak dahulu sudah ditempati oleh orang-orang Melayu pada masa kerajaan Sriwijaya. Orang Melayu tersebut menempati berbagai macam tempat di selat malaka. Pembauran yang terjadi antara masyarakat melayu dengan suku bangsa Padang, Jawa, Minangkabau, Bugis, Banjar dan Batak menyebabkan munculnya berbagai macam budaya termasuk di dalamnya alat-alat musik. Akan tetapi, ada suatu pendapat bahwa alat musik ini berasal dari India karena mirip dengan alat musik untuk memainkan ular. Selain itu ada juga pendapat bahwa alat ini berasal dari daerah Timur Tengah karena adanya kemiripan nama yaitu naifr.
Pada zaman kerajaan-kerajaan, nafiri merupakan salah satu alat yang penting untuk digunakan pada acara penobatan raja selain sebagai alat musik di istana. Pada kerajaan melayu dulu alat pusaka Nobat seperti nafiri, gendang, sirih esar, dan cogan merupakan lambang negara atau yang biasa disebut dengan regelia kerajaan yang dijadikan sebagai kekuatan spiritual dan kehormatan kerajaan bersama dengan adat istiadat. Tanpa adanya alat-alat tersebut penobatan seorang raja tidak dapat disahkan.
Ada kepercayaan pada zaman dahulu jika kedua kekuatan spiritual tersebut rusak maka akan hancur dan runtuhlah harkat dan harga diri bangsa tersebut. Bagi Kerajaan Kerajaan Melayu di rantau itu, sebuah kerajaan boleh saja ditaklukan, direbut, dan dikuasai oleh pihak lain. Raja atau sultannya bisa saja terusir dan melarikan diri ke negara atau daerah lain, mencari perlindungan. Tetapi, jika Regelia Kerajaan tidak dirampas dan tidak direbut, selagi Regelia sakti dan keramat itu masih dipegang oleh rajanya, maka kedaulatan negeri itu masih tegak. Sultannya tetap punya kedaulatan, dan dia bisa mendirikan kerajaan di mana saja, dan dijadikan raja di mana saja.
Karena alat-alat yang dianggap memiliki kesaktian itu, belum ditaklukkan. Karena itulah, siapapun yang memegang dan diberi tugas menjaga Regelia itu, adalah seorang yang kuat dan perkasa. Seseorang yang memiliki kekuasaan jauh di atas kekuasaan lain, termasuk sultannya sendiri. Biasanya orang tersebut merupakan penasihat raja.
Di Kedah nafiri bersama dengan alat-alat musik nobat lainnya disimpan di dalam sebuah tempat yang bernama Balai Nobat. Balai Nobat sendiri merupakan bangunan yang khas dengan arsitektur Islam. Hal tersebut dapat dilihat dengan adanya kubah di atasnya. Bangunan ini telah seringkali direnovasi terutama pada zaman pemerintahan Sultan kedah yang ke-25 yaitu Sultan Ahmad Tajuddin Mukarram Shah yang telah menduduki takhta mulai tahun 1854 hingga 1879. Nobat berasal dari Kata Persia ‘Naubat” yang berarti sembilan instrumen.
Nobat merupakan orkestra musik kerajaan yang digunakan terutama untuk penobatan raja, bangsawan serta penyambutan tamu istimewa. Para pemainnya disebut dengan Orang Nobat. Nobat juga dimainkan bersama dengan perayaan-perayaan suci lainnya seperti kematian. Ada sebuah kepercayaan bahwa nobat berasal tradisi India yang ditularkan oleh para pedagang yang saat itu singgah di selat Malaka.
Pada zaman kerajaan dulu, nafiri digunakan sebagai alat untuk menyatakan peperangan terhadap kerajaan lain. Selain itu juga, nafiri digunakan untuk memberitakan tentang kematian raja, diangkatnya raja. Alat ini juga digunakan untuk mengumpulkan rakyat, agar mereka segera datang ke alun-alun istana untuk mendengarkan berita atau pengumuman dari rakyat mereka. Oleh karena itu, alat ini dijadikan sebagai barang pusaka kerajaan.
Di Malaysia kita juga akan menemukan alat musik yang disebut dengan nafiri walaupun dengan bentuk yang sedikit berbeda. Di negara tersebut alat musik ini dapat kita jumpai untuk mengiringi lagu-lagu daerah dan juga upacara adat. Kita dapat melihat alat ini pada orkestra nobat di Malaysia. Alat musik ini juga digunakan untuk penobatan gelar kebangsawanan.
Salah satu orang yang pernah mendapatkan gelar kehormatan Adat di Riau adalah sultan Hamengku Buwono X. Ketika penobatannya berlangsung suara Nafiri bersama dengan Alat musik tradisional lainnya mengiringi acara tersebut di depan sidang Majelis Perapatan Adat Melayu. Alat-alat tersebut digunakan sebagai penanda diangkatnya seseorang sebagai bangsawan. Saat ini fungsi nafiri menjadi lebih berkurang karena hanya digunakan pada acara-acara kerajaan atau perayaan-perayaan yang dilakukan oleh masyarakat melayu.
Menurut kepercayaan orang Melayu Riau, ketika memainkan alat musik ini para pemainnya dirasuki oleh para dewa, mambang, dan peri. Sehingga seolah-olah mereka menyampaikan pesan akan terjadinya bahaya atau kejadian penting lainnya. Oleh karena itu, sebelum ditiup alat musik ini perlu dipusung yaitu diasapi di atas pedupaan. Nafiri ditiup dengan aliran udara yang tidak terputus selama dua atau tiga jam. Pemain Nafiri harus orang yang memiliki napas panjang, sehat badannya, dan memiliki teknik khusus sehingga tidak putus tiupannya. Nafiri ditiup hanya dengan tangan tangan kanan sedangkan tangan kirinya memegang bagian bawahnya.
Fungsi dan kegunaan
- Pengiring tarian tradisional, tari Inai, tari Jinugroho dan tari Olang.
- Sebagai alat musik yang utama di dalam musik robat yang merupakan musik yang dimainkan di lingkungan masyarakat.
- Sebagai melodi yang digunakan untuk menentukan gerakan-gerakan silat.
- Untuk penobatan raja-raja ketika Riau masih berbentuk kerajaan-kerajaan serta bangsawan.
- Tanda terhadap terjadinya peperangan, bencana, dan kematian.
- Alat yang digunakan sebagai penanda spiritual untuk memanggil dewa, roh, atau arwah nenek moyang.
Cara membuat Nafiri
Terbuat dari kayu yang berukuran 25 sampai 45 centimeter. Antara batang dengan dan tempat tiupnya diberi batas yang terbuat dari tempurung kelapa. Nafiri menggunakan semacam lidah yang terbelah dua terbuat dari daun kelapa yang muda atau ruas bambu yang sudah kering. Lidah tersebutlah yang disebut dengan vibrator yang akan mengeluarkan suara atau bunyi-bunyian. Lubang jari ada tiga buah yang besarnya kira-kira sebesar biji jagung untuk mengatur tinggi rendahnya nada. Pada bagian pangkalnya diberi sambungan berbentuk seperti bujur telur yang terpotong dan berongga untuk membuat volume yang dikeluarkan lebih besar. Musik yang dikeluarkan terdengar seperti meronta-ronta daripada melodi yang jelas untuk didengar.
Sepotong kayu yang telah dikerat menurut ukuran yang dikehendaki ditoreh besar dipangkalnya sehingga bentuknya mirip dengan telur yang sudah dipotong bagian ujungnya. Kemudian diberi bebatang, proses tersebut yang disebut dengan balan atau bakal nafiri. Kemudian balan tersebut diperhalus dengan menggunakan pisau raut dan digesek untuk dihaluskan dengan daun trap atau kelopak bunga sukon yang hanya ditemukan didaerah sumatera. Kemudian dilubangi dengan menggunakan gurdi kecil dan pahat, hal tersebut akan membuat nafiri tersebut berongga dengan tebal kulitnya kurang lebih setengah centimeter. Pada batang nafiri dibuat lubang-lubang jari dengan menggunakan besi yang dipanaskan. Cara memainkan dan membuat Nafiri diturunkan secara terus menerus dari generasi ke generasi oleh masyarakat Melayu Riau.
sumber: Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
[Cerpen] Sifat Kembali Uang
Oleh: Gusti Trisno
Seulas senyum tersungging tatkala aku melihat lima lembar uang bergambar Soekarno-Hatta. Aku tak pernah tahu, apakah ini jalan rezeki-Nya atau ini hanya sebuah ujian dari-Nya. Bagaimana tidak, sedari kemarin keluarga merasa kesulitan dalam mencari uang. Ibu yang hanya pedagang ikan kecil di pasar, sedang mengalami krisis moneter karena cuaca laut yang tidak mendukung untuk jualan ikan.
Seperti telah diketahui, seorang nelayan dan pedagang ikan, nasibnya bergantung pada cuaca buruk. Jika cuaca tidak mendukung, pasti para nelayan tak berani melaut, hal ini mengakibatkan pedagang ikan kesulitan mencari barang dagangannya, kalaupun ada, pasti harganya sangat mahal.
“Ada apa Nak? Kok sepertinya wajahmu gelisah?” tanya Ibu memperhatikanku.
“Ah tidak, Bu. Oya, apakah ada yang bisa Rizki bantu lagi, Bu.” jawabku mengelak.
“Sudah tidak ada lagi, kok. Rizki tidur saja dulu, ini masih jam dua pagi lho.” kata Ibu mengingatkanku.
”Iya, Bu. Paham, baiklah Rizki pamit ya!” pamitku seraya mencium tangan Ibu.
Kulangkahkan kaki dengan pelan, jam dua pagi menjadi waktu yang baik bagi para pedagang di Pasar Panarukan untuk menggelar dagangannya termasuk Ibu. Aku sering membantunya membawa barang dagangannya dari rumah yang hanya berjarak duaratus meter. Namun baru pertama kali, aku menemukan uang di perjalanan menuju pasar. Ah daripada aku bingung memikirkan uang itu, lebih baik aku melaksanakan qiyamul lail, demikianlah batinku menimbang.
***
Adzan Subuh belum berkumandang. Aku pun memutuskan untuk tidur sejenak. Dan anehnya kejadian dini hari tadi terbawa dalam mimpi. Dimana terdapat seorang Ibu yang menangis karena kehilangan uangnya, padahal ia begitu membutuhkan uang tersebut.
Kejadian dalam mimpi tersebut membuatku mengutip beberapa kata-kata para ahli tentang tafsir mimpi. Di mana sebagian dari mereka beranggapan, jika mimpi adalah bunga tidur. Atau mimpi adalah tafsir atas kejadian yang akan terjadi di masa mendatang.
Dengan rasa bingung tiada tara, aku pun memutuskan untuk menyegerakan sholat Subuh. Begitu pun dengan menyelesaikan beberapa surah-surah pendek. Namun, tetap saja kegelisahaan atas uang tersebut masih membekas dalam pikiran. Bahkan, sampai kubawa di sekolah.
Nina. Teman sebangku memperhatikan tingkah lakuku yang lumayan aneh hari itu. Selain itu, dia juga menceritakan jika ayahnya kehilangan uang lengkap dengan dompetnya. Mengingat kejadiaan itu, aku jadi teringat akan uang yang ditemukan.
Dengan penasaran segera kuberondong Nina dengan beberapa pertanyaan. Dan beberapa menit kemudian, ia mendapat SMS jika uang ayahnya telah ditemukan.
Jadi. Bukan ayah Nina yang kehilangan uang, lalu siapa?
Kejadian aneh berikutnya adalah tatkala keluar dari gerbang sekolah, di mana ada seorang ibu-ibu persis dengan ibu yang ada dalam mimpi. Dia pun menyatakan jika uangnya hilang?
Apakah dia?
Aku tak berani langsung memberi kesimpulan.
Bukankah terlalu dini untuk kesimpulan mengingat sebuah mimpi belumlah pasti.
Tapi yang paling aneh perempuan itu terus membuntutiku sepanjang perjalanan dari sekolah ke rumah. Motivasinya apa?
Dan sesampainya aku di rumah, Ibu bercerita dengan perasaan sedih. Mengingat teman seperjuangannya berjualan ikan kehilangan banyak uang. Anehnya, sebelumnya teman Ibu itu menemukan uang banyak di jalan, lalu mencampurkan uang tersebut dengan uang hasil dagangannya.
Sejurus kemudian aku berpikir, apakah mungkin uang yang kutemukan adalah uang balik? Uang yang akan kembali ke pemiliknya dengan tambahan uang yang kita miliki?
Dengan penuh penasaran segera aku mengecek kantong dan benar juga uang yang kutemukan itu raib lengkap dengan uangku yang hanya memiliki nominal dua puluh ribu. Pun, terdapat tulisan tangan yang tak beraturan: DASAR PELAJAR NGGAK PUNYA UANG.
Hah?
Aneh?
Jadi Ibu tadi itu siapa?
Pemilik uang balik itukah?
Atau?
Ah. Semuanya menjadi tanda-tanya dan aku tak berani menceritakannya pada Ibu[]
Gusti Trisno. Lahir di Situbondo pada tanggal 26 Desember 1994. Saat ini menjadi mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Jember dan Penggiat Komunitas Penulis Muda Situbondo. Pemilik buku Ajari Aku, Bu(Kumpulan Puisi) ini dihubungi di Facebook: Gusti Trisno, E-mail: gusti.trisno@gmail.com atau telepon: 085330199752.
Catatan redaksi: Cerpen ini merupakan tayangan ulang setelah sebelumnya tampil di buanakata.com yang expired
Maq Bangkol dan Naq Bangkol

Cerpen: Arianto Adipurwanto
Pagi sekali, Maq Bangkol duduk menjengkeng di depan tungku. Di berugaq, Naq Bangkol duduk, bersandar di salah satu tiang, kedua kakinya diluruskan, salah satu tangannya memegang pisau, dan tangannya yang lain Lanjutkan membaca Maq Bangkol dan Naq Bangkol

