Migrasi Hujan di Tubuh Puisi

Oleh: Matroni Muserang*

Puisi dan pencipta puisi selalu berdampingan berjalan bermesraan. Puisi juga makhluk yang diciptakan oleh pencipta. Begitulah penjelasan judul di atas yang saya ambil dari antologi puisi M.Fauzi yang berjudul migrasi hujan. Saya ingin melihat antologi puisi ini dari sisi filosofis. Apa migrasi dan apa hujan dalam puisi Fauzi. Dengan mencari makna migrasi dan hujan, maka puisi tidak untuk puisi, akan tetapi puisi juga untuk publik yang bisa dipahami dan dinikmati, sehingga para pencari keilmuan akan menemukan sumbangsih keilmuan terhadap perkembangan pengetahuan ke depan. Lanjutkan membaca Migrasi Hujan di Tubuh Puisi

Menjahit Beda (Bag. 2)

Sambungan dari Bag-1
 

Oleh : Nanda Dyani Amilla

Keluarga Agatha tidak sedingin yang aku kira. Keramahan tampak keluar dari retina mata para penghuninya ketika aku sampai dan mengetuk pintu rumah mereka tiga kali. Saat itu, pintu dibuka oleh seorang perempuan berusia 30 tahunan. Perempuan dengan senyum ramah itu mempersilakanku masuk dan menggiringku menuju ruang keluarga. Kedatanganku ternyata telah ditunggu oleh orangtua dan kedua kakak Agatha. Ternyata perempuan yang membukakan pintu tadi adalah kakak iparnya, istri dari kakak laki-laki Agatha.

Lanjutkan membaca Menjahit Beda (Bag. 2)

Mengenal Sejarah Meriam

Meriam atau kanon (atau “Lela” dalam Bahasa Melayu) adalah sejenis artileri, yang umumnya berukuran besar dan berbentuk tabung, yang menggunakan bubuk mesiu atau bahan pendorong lainnya untuk menembakkan proyektil. Meriam memiliki bermacam-macam ukuran kaliber, jangkauan, sudut tembak, dan daya tembak. Lebih dari satu jenis meriam umumnya digunakan dalam medan pertempuran. Lanjutkan membaca Mengenal Sejarah Meriam

Menjahit Beda (Bag. 1)

Cerbung : Nanda Dyani Amilla

“Menjadi kekasihmu seperti menanak luka dan menyiramnya dengan cuka,” katamu di suatu sore. Kala itu, kita sedang menikmati pesanan es krim di sebuah café langganan kita—double truffle dan mint chocolate chip untukmu, vanilla chip dan cheesecake untukku. Kita duduk di salah satu meja kecil yang menempel di dinding. Sore ini kau tampak begitu cantik, dengan dress pink fuschia dengan sweater warna senada. Rambut panjangmu tergerai indah, dengan bandana putih di atasnya.

Aku menyendok es krim ke mulut, “Tapi kau selalu punya penawarnya, kan?” sahutku.

“Tidak selalu. Terkadang tembok itu membuatku berpikir bahwa aku tidak akan mampu melewatinya,” kudengar suara pesimis dari nada suaramu. Aku membetulkan letak dudukku, mencoba menangkap sesuatu dari tirai matamu. Ada sekelebat takut di sana, juga secercah lelah menghiasinya.

“Kau ingin menyerah?” tanyaku kemudian. Gadis dengan lesung pipi yang sejak dua tahun lalu menjadi kekasihku itu menggeleng.

“Lalu kenapa membahas hal ini lagi? Bukankah kita sudah sama-sama sepakat bahwa kita akan menjahit beda? Kau tidak ingin mengingkari omonganmu sendiri, kan?” tegasku lagi.

“Tidak, Satya. Belakangan ini aku hanya terlalu banyak berpikir, apakah tengadah tanganmu dan lipatan tanganku bisa bersatu?” suaranya mulai bergetar. Gadis itu mengaduk-aduk sisa es krimnya. Sudah tak berniat lagi untuk menghabiskan. Barangkali selera makannya juga sudah menguap entah kemana.

“Jika dua tahun ini baik-baik saja, mengapa sore ini kau begitu gelisah, Agatha?” tanyaku kemudian. Aku mencoba menenangkannya dengan tatapanku. Meyakinkannya bahwa segalanya bisa dijalani sama-sama. Agatha menatapku, masih sama tatapannya seperti pertama kali kami berkenalan. Bertemu dalam sebuah pekerjaan adalah hal biasa. Tetapi selalu kepikiran hingga malam menjelang adalah bagian dari rencana Tuhan. Begitu pikirku kala itu.

Kami dekat dan semakin akrab tatkala aku tahu bahwa dia juga seorang penulis. Tulisannya melalangbuana di berbagai media dan aku mengetahuinya karena aku pecandu aksara. Aku suka membaca. Dan sudah jatuh cinta dengan buku sejak zaman batu. Agatha tertawa jika aku mengatakan hal itu. Dia bilang aku adalah tipe laki-laki unik. Terunik yang pernah ditemuinya selama 22 tahun hidupnya.

Kami sering membahas hal-hal seputar dunia kepenulisan. Tentang novel-novel keluaran terbaru, tentang Afi Nihaya Faradisa yang begitu kontroversial dengan tulisannya, atau tentang impian Agatha menelurkan sebuah novel terbarunya. Aku bukan hanya menjadi pendengar yang baik untuk tulisan-tulisannya, terkadang aku juga senang memberi kritik dan saran untuk kemajuan tulisannya. Dan Agatha selalu menerima itu dengan senang hati.

Lamunanku buyar ketika kudengar suara adzan maghrib berkumandang. Agatha menatapku, “Mau kutemani ke masjid?” dia tersenyum manis sekali. Aku membalas senyumnya dan bangkit dari dudukku. Membayar bill dan langsung menuju masjid terdekat dari café ini. Beginilah, keyakinan kami berbeda, namun cinta kami sama. Agatha selalu suka menemaniku pergi ke masjid jika kami sedang berada di luar rumah bersama. Atau jika kami sedang melakukan pekerjaan berdua.

“Kau tidak mau masuk denganku?” aku menggodanya.

Agatha meninju bahuku, “Mungkin lain kali. Sampaikan salamku pada Tuhanmu, ya,” dia tersenyum, membalas gurauanku.

Aku berbalik dan menuju tempat berwudhu. Sementara Agatha menungguku di atas sepeda motor. Kami berbeda, namun rasa kami sama. Sehingga apapun yang terjadi, kami akan melewatinya bersama-sama. Meski beberapa pasang mata di tempat kerja memandang sinis, meski beberapa keluarga Agatha menatap tak suka, terlebih ayahandanya. Tapi aku selalu berkata pada Agatha bahwa apa-apa yang telah ditulis Tuhan di Mahfudz-Nya, tidak akan bisa dihancurkan manusia. Siapapun dia.

Aku yakin Agatha tak terlalu paham dengan ucapanku, tapi aku tahu bahwa dia adalah gadis yang cerdas. Dia pasti bisa mengartikan maksudku. Kini, dua tahun sudah kami berjuang walau kesakitan. Dua tahun sudah kami menjahit beda agar menjadi sama. Dan dua tahun pula, kami sibuk berdoa dengan bahasa masing-masing. Aku masih tetap mencumbu Al-Quran, dan Agatha masih tetap mencumbu Al-Kitab. Aku masih sibuk berdoa dengan menengadahkan tangan, Agatha masih asik berdoa dengan melipat tangan. Aku masih sibuk dengan butiran tasbih, Agatha pun sibuk dengan kalung salibnya.

Segalanya kami jalani dengan cara yang berbeda, namun demi tujuan dan perasaan yang sama. Pernah suatu waktu, Agatha menanyakan keadilan Tuhan padanya. Saat kutemui ia pulang dari gereja seusai misa pagi.

“Mengapa aku harus jatuh cinta pada lelaki muslim yang sangat mencintai Tuhannya?” itu pertanyaan kesekian yang Agatha lontarkan padaku.

“Mengapa kau suka bertanya hal yang aku tidak tahu jawabannya?” aku mencoba bergurau.

“Kau tahu, terkadang aku merasa tersiksa. Mengapa Tuhan membuat kita saling jatuh cinta, jika pada akhirnya kita tidak akan bisa bersama? Mengapa Tuhan sisipkan luka saat kita berdua sedang jatuh cinta? Mengapa pula Tuhan membuat perbedaan, jika pada akhirnya yang beda ingin disatukan?” Agatha mulai berceracau.

Begitulah perempuan. Dia selalu berusaha mengungkapkan hal-hal yang menjadi ketakutannya pada kekasihnya. Dia selalu berusaha mengais jawaban untuk segala kekalutannya. Dia selalu mencoba mencari jalan agar keinginannya dikabulkan. Tapi mengertilah, Sayang, selalu ada hal yang hanya Tuhan yang tahu jawaban tepatnya.

“Bukankah hidup umat manusia memang selalu penuh dengan perbedaan? Mengapa dipermasalahkan, jika beberapa orang bilang bahwa perbedaan itu indah. Tergantung bagaimana cara kita menyikapinya. Mengapa sekarang kau seolah-olah sedang menghakimi Tuhan, Agatha?” tanyaku.

“Kau tahu, apa yang pastor katakan saat misa pagi tadi?” Agatha menatapku tajam.

“Apa?” aku menjawabnya tenang.

“Dia bilang, jika salah satu dari kami mencintai yang beda agama, itu sama saja dengan sengaja kami menyakiti hati Tuhan,” Agatha menarik napas dalam, kemudian menunduk.

Aku juga diam. Tidak mau berdebat dengannya terlalu dalam. Kau adalah Protestan yang taat, aku tahu itu. Namun, aku juga amat sangat mencintai Rabb-ku. Aku mencintai Rasul-ku. Untuk hal-hal macam ini, aku tidak berani mencecarmu terlalu jauh. Keyakinan kita masih sama-sama kuat. Tidak ada yang ingin terbantahkan. Tidak ada yang bersedia mengalah.

“Pastor bilang begitu. Tapi dia tidak tahu, bahwa aku sangat mencintaimu,” Agatha bersuara lagi. Kali ini, dia menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.

Oh, sungguh aku tidak bisa ditatap seperti itu. Sedalam itukah sayang perempuan ini padaku? Dan tak bisa dipungkiri, aku pun telah sayang padanya sejak hari-hari lalu. Meski selalu ada luka, namun bersamanya selalu saja aku bahagia.

Aku keluar dari masjid dan menghampiri Agatha yang sedang asik dengan handphone-nya. Kulihat dia tidak menyadari kedatanganku. Aku menjawil telinganya. Dia kaget dan memelototiku, “Jangan jahil deh…” sungutnya lucu.

Aku mengantar Agatha kembali ke rumahnya. Kami tiba dalam waktu 20 menit. Sebelum dia masuk ke dalam rumah, aku iseng menarik setangkai mawar putih yang ada di pot kecil berwarna emas di samping gerbang. Lalu kusodorkan pada Agatha.

Dia melotot dan kembali dengan kebiasaannya; marah-marah, “Ih, itukan bunga kesayangan mama!” Aku cuma bisa nyengir, “Will you marry me?” kataku kemudian. Agatha tampak salah tingkah. Aku menatapnya dengan senyum simpul. Dia menggaruk tengkuknya. Detik berikutnya, aku sudah terbahak. Wajah Agatha merah padam. Dia malu, dan itu terlihat sangat lucu. Aku masih sibuk dengan gelakku. Dia meninju bahuku kuat.

“Aktingmu jelek!” sungutnya.

“Ini hanya latihan, siapa tahu suatu hari nanti aku akan mengatakan itu padamu,” jawabku tersenyum.

“Memangnya kau berani?” tantangnya.

“Kenapa tidak? Aku ini Romeo masa kini, yang akan selalu memperjuangkan cintanya. Apalagi kenyataannya, kekasihku lebih cantik dari Juliet,” aku menggodanya lagi.

Agatha mencibir, “Coba saja kalau berani, malam ini kau sudah merusak bunga kesayangan mama. Jika besok kau kemari, habislah kau kena pelototannya,” Agatha menakut-nakutiku.

“Ahh, calon mertuaku tidak akan sejahat itu, Sayang…” aku terbahak. Agatha kembali tersenyum lebar. Tidak habis pikir mengapa ia bisa jatuh cinta pada lelaki muslim yang doyan guyon ini.

Kami berpisah ketika kupastikan Agatha sudah masuk ke dalam rumah. Aku pun mulai menstater motorku dan membawanya pulang ke rumah. Aku rebah setelah lima belas menit bertarung dengan dingin dan debu jalanan. Kulirik arlojiku, pukul 11 malam. Pikiranku melayang dan hinggap di percakapan depan gerbang beberapa waktu lalu. Jujur, aku adalah lelaki yang berhak memilih. Dan aku sangat ingin memilih Agatha untuk menjadi pasangan hidupku. Tapi, apakah Tuhan akan merestui? Jika perbedaan yang mengikat kami sangatlah kuat?

Bip bip..

Pesan blackberry messanger dari Agatha masuk ke hapeku.

Papa ingin bertemu kamu besok.

Aku terlonjak dari rebahku. Kaget. Tidak percaya dengan apa yang kubaca.

Ini sudah malam, Agatha. Leluconmu tidak lucu, ah… balasku dengan emoji kesal.

Kulihat Agatha sedang mengetik lagi : “Aku tidak sedang bercanda. Datanglah pukul 10 pagi. Malam ini, aku telah menceritakan semuanya pada Papa. Termasuk tentang pilihanku hidup bersamamu. Papa menungguku di ruang keluarga tadi, dan bertanya tentang seberapa serius kamu padaku. Untuk itu, datanglah besok. Yakinkan Papa…”

Aku menelan ludah membacanya. Kulirik arloji lagi, hanya tinggal menghitung jam, aku akan bertemu pagi. Mengapa secepat ini? Ah, dua tahun bukanlah waktu yang singkat. Luka dan ketakutan Agatha akan terjawab esok pagi. Tapi, aku bahkan belum menyiapkan amunisi apapun untuk bertemu ayahnya besok. Bagaimana pun, aku harus menemuinya dengan dua kemungkinan: ditolak atau menolak. Bersama atau berpisah. Tapi, bagaimana jika aku beralasan saja? Haruskah kutemui ayahnya? Atau menghindar saja? Bukankah ini terlalu mendadak? Tiba-tiba, kepalaku berdenyut. Haruskah aku menyerah?

bersambung ke (Bag-2)

 

 

(Penulis novel Kejebak Friendzone, Bentang Pustaka, 2017)

Pangandaran Akan Miliki Lima Perguruan Tinggi

Mahasiswa Unpad Multikampus Pangandaran berfoto di depan kampus mereka di Desa Cikangkung, Kec. Sidamulih, Kab. Pangandaran, Jabar.(Foto atas/ Dok: Unpad)

SwaraPangandaran.Com. Posisi Kabupaten Pangandaran sebagai daerah otonom baru menarik minat perguruan tinggi untuk mendirikan kampus di wilayah tersebut. Kondisi ini diharapkan dapat meningkatkan angka partisipasi warga ke perguruan tinggi. Lanjutkan membaca Pangandaran Akan Miliki Lima Perguruan Tinggi

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai