Oleh: Daruz Armedian (sambungan dari sebelumnya)
Tak lama, ia sudah berada di dekatku.
Tak lama, aku sudah berbenah diri.
“Maaf, membuatmu menunggu, Kak.” katanya sambil siap-siap duduk.
“Nggak apa-apa, kok.”
Ia duduk di sampingku. Dekat. Dekat sekali.
“Sebenarnya ada apa, sih, Kak?” tanyanya dengan bersamaan kerlingan matanya yang teduh.
“Harusnya aku yang bertanya seperti itu, Sya. Haruskah terus-menerus murung?”
Ia diam sebentar. “Em, habisnya, masalah yang kualami begitu berat.”
“Begini, Sya. Kamu harus ngomong yang sejujur-jujurnya masalah kemarin itu. Sudah satu bulanan, loh, kamu murung kayak gitu. Nggak enak dilihat orang. Begini. Pada waktu kamu bertengkar, adu mulut dengan seorang lelaki yang aku tak tahu siapa namanya, dari mana dia, dan siapamu, mungkin pacarmu, aku mendengarkan seluruhnya.”
“Terus?”
“Ya, aku ingin tahu saja apa yang terjadi sebenarnya. Eh, maksudku kamu jelaskan padaku yang gamblang. Segamblangnya.”
Ia menghela napas. Menghirup udara segar di tepi laut yang biru.
“Seperti ini, Kak. Dia itu pacarku. Tapi tak pernah ngertiin aku.”
“Kok, cuma segitu?”
“Belum selesai, Kak.”
“Oh, belum selesai, toh.” Aku tertawa.
“Aku benci, benci, benci. Kenapa, sih. Ke bandara aja minta ditemenin. Dia nggak nyadar kalau aku sedang sibuk dan, dan katanya itu sangat penting. Dia nggak mementingkanku. Nggak nganggap kalau tugas-tugas kuliahku nggak penting.”
Aku diam. Sibuk mendengarkan.
“Lalu dia malah membawa cewek lain untuk nemeninnya. Kan, aku yang cemburu. Masalahnya aku bukan nggak mau nemeninnya ke sana. Tapi aku sibuk. Sibuk banget.”
“Terus?”
“Ternyata cewek itu tidak hanya dijadikan temen, tapi malah nginep di hotel bersama. Itu apa-apaan coba? Terus foto-foto lalu diupload di Facebook. Foto-foto mesra. Aku sebagai pacarnya wajarlah cemburu.”
“Sudah, sudah cukup. Cukup sampai di situ saja kamu jelasinnya. Sekarang, aku mau tanya. Kamu masih sakit hati?”
“Ya, jelas dong, Kak.”
“Masih mau murung lagi?”
Ia tidak menjawab. Cukup mengerucutkan bibir saja.
“Em, lalu, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya setelah ini?”
“Kok, Kakak nanya melulu?”
“Loh, kan katamu aku mau jadi sarjana psikologi…”
“Ya, nggak tahu. Mungkin masih mau murung.”
“Hahahaha,”
“Kok, ketawa?”
Aku tidak menjawab. Aku memandangi laut. Laut yang biru. Laut yang luas. Laut yang seperti tak punya tepi jika dilihat dari sini. Sejenak ada diam menyelimuti. Lantas, ia bicara lagi.
“Aku iri kamu, Kak.”
“Kenapa?”
“Aku tak pernah melihat kamu punya masalah. Hidupmu tentram. Damai-damai saja. Aku benar-benar iri.”
Aku menghela napas. “Begini, Sya. Sebenarnya, aku juga punya banyak masalah. Tapi kuselesaikan dengan tenang. Tidak diam atau bahkan berusaha lari dari masalah itu. Dan sebenarnya pula, masalah itu dari diri kita sendiri. Kamu, misalnya. Seandainya tidak pacaran. Mungkin saja tidak akan punya masalah yang seperti ini. Benar, bukan?”
Ia mengangguk.
“Nah, jika kita terlanjur membuat masalah, tentu hakikatnya disuruh untuk menyelesaikan. Bagaimana cara menyelesaikannya? Kalau aku, kembali jatuh cinta pada Allah. Ini bukan sok alim atau apa. Yang jelas aku lakukan itu dan berhasil. Sebab, hanya cinta kepadaNyalah kita bisa damai. Hati kita akan tentram. Kemudian, perlahan-lahan masalah itu akan selesai.”
Ia diam. Merenung.
“Apalagi masalahnya adalah hati. Perasaan. Kamu perlu tahu, kalau mencintai orang pastinya ada luka di dalam. Yang sewaktu-waktu bisa muncul kapan saja. Patah hati dan sebagainya. Obatnya apa? Cara menyelesaikannya bagaimana? Ya, seperti itu tadi. Jatuh cinta kepada Allah. Cinta kepada Allah. Sebab, aku yakin, Dia tidak akan mengecewakanmu. Tidak akan membuatmu patah hati.”
Ia mengerlingkan mata. Mengerutkan dahi. Kemudian tersenyum. Senyum yang masih getir.
“Sebagai contoh, laut. Laut terlanjur membuat masalah. Ia membiarkan panas matahari mengurangi stok airnya. Ia tak berani mencegahnya. Masalah, kan? Itu sudah terlanjur. Tapi, ia tidak diam. ia terus berdoa kepada penciptanya agar airnya kembali. Dengan doa itu, skenario Sang Pencipta yang tak pernah ia duga, mengembalikan air itu kepadanya lewat sungai-sungai.”
Ia mengerlingkan mata. Mengerutkan dahi. Kemudian tersenyum. Senyum yang tidak lagi getir, tapi bahagia. Seperti ada sesuatu yang tiba-tiba hinggap di kepalanya. Ia seperti mendapat pencerahan. Kemudian angkat bicara sekarang.
“Oh, jadi ini alasan kakak terus menerus duduk memandang laut?”
“Bukan hanya itu, aku nyari inspirasi buat tulisanku tau’!”
“Benar juga, ya.”
Ia terdiam lama setelah mengucapkan kata-kata itu. Hanya terdengar helaan napas dan sesekali desau angin dari laut. Aku memandang jauh. Ia memandang jauh mengikutiku. Walaupun sebenarnya kita duduk berdekatan.
“Kita harus sering-sering jatuh cinta pada Allah. Pencipta kita. Kalau tidak, ya, mustahil kita akan menyelesaikan masalah.”
“Selama ini, aku rasa semakin jauh dari Allah.” Gumamnya. Aku suka kata-katanya. Ia jujur sekali. Termasuk aku juga yang jauh dari Allah.
“Hem, kalau sudah seperti ini, sholat, yuk. Sudah magrib.”
“Yuk!”
**
Alesia sudah tidak lagi keluar malam-malam seperti biasanya pada saat punya pacar. Ia makin sibuk dengan kuliahnya. Dan aku suka hal yang seperti itu. Masa muda memang haruslah rajin belajar. Sebelum tubuh renta.
Kini Alesia setiap kali keluar dari kosnya, juga selalu memakai kerudung. Pemberianku kemarin. Eh, dulu. Dulu sekali sebelum ia menjadi mahasiswa. Pada saat ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Ternyata ia masih menyimpannya. Tentu saja bukan hanya semakin cantik tapi juga hal itu dapat menutup auratnya. Hari-harinya sudah mulai ceria kembali. Aku ikut bahagia. Entah kenapa, seperti saat-saat ia bersedih dulu, aku selalu tak mengerti alasanku kenapa bisa seperti itu. Dan pada saat menyapaku, ada yang berbeda dari biasanya. Biasanya dengan senyuman yang meneduhkanku, sekarang bertambah mententramkan hatiku.
“Bagaimana, Sya? Sudah tidak sumpek lagi?” tanyaku suatu hari.
“Sudah nggak, Kak. Hatiku sudah plong sekarang. Memang benar katamu, Kak. Kalau semua permasalahan di dunia ini obatnya jatuh cinta pada Allah.”
Aku tersenyum. Berhasil.
“Kamu semakin cantik kalau memakai kerudung, Sya.”
Ia tersipu. Memang perempuan sering tersipu apabila mendengar puji-pujian tentang dirinya.
Begitulah perubahan drastis Alesia.
**
Kembali aku duduk di pinggir laut. Kali ini tidak ada perjanjian sama siapa pun. Sama sekali tidak ada perjanjian. Aku hanya ingin bersantai-santai setelah lelah mengerjakan novelku tentang kisah yang belum pernah ada yang tahu. Kisah hidupku dan ce i en te a. Kau tentu bertanya-tanya tentang siapa cinta itu. Atau sebagian ada yang menebak-nebak kalau yang aku maksud adalah Alesia.
“Kak!” suara dari belakang mengagetkanku. Sambil menyentuh pundakku secara tiba-tiba, ia juga tertawa. Suara itu sudah tidak asing bagiku. Alesia.
“Ngaget-ngagetin aja.” Kulihat wajahnya berseri-seri. Pasti ada kabar baik yang menghampirinya. “Padahal aku nggak ngasih tahu kalau aku ke sini, loh.”
“Emangnya harus ngasih tahu dulu baru aku ke sini? Ini kan tempatku menenangkan diri seperti dulu.”
“Tempatmu?”
“Tempat kita.” Tempat kita, katanya. Aku semakin tak mengerti.
“Jangan merenung mulu, ntar kesambet.” Katanya. Giginya yang gingsul itu kelihatan semakin manis.
“Ah, nggak, kok. Aku merenung-merenung amat. Lagipula, apa yang aku renungkan?”
“Ya, entahlah. Kan selain psikolog, kamu juga menulis. Pasti kebanyaklan merenung. Hati-hati kalau merenung.”
“Eh, tunggu dulu. Kelihatannya kamu bahagia banget hari ini. Ada apa?”
“Ini pertanyaan yang aku tunggu-tunggu, Kak.”
“Loh, masa’, sih?”
“Iya, beneran.” Ia terlalu bahagia, sampai tertunda-tunda mau menjelaskan padaku sedang ada apa. Ia masih ketawa-ketiwi.
“Sya, ada apa? Jelasin, dong.”
Ia baru duduk di sampingku setelah agak lama memandangi laut.
“Kak, aku jatuh cinta lagi.”
“Eh, sama siapa? Cepet amat.”
“Sama seseoranglah, Kak. Hehehe.” Ia main-main dengan kata-katanya.
“Maksudku, nama orangnya. Nggak asik kalau gitu, ah.”
“Cie, kakak ngambek.”
“Ngomong-ngomong, sakit hatinya sudah selesai belum. Kok, cepet banget jatuh cinta lagi pada seseorang.” aku merapikan kancing lengan bajuku.
“Udah, dong.”
“Takutnya sakit hati lagi, murung lagi, aku juga ikut sedih, loh. Udah dua kali kamu putus cinta kemudian sakit hati. Terus, lama lagi sakit hatinya. Walaupun yang pertama tidak lama seperti yang kedua, tetap saja kamu sakit hati, kan.”
“Insyaallah, nggak, Kak. Masalahnya saat ini berbeda. Beda banget. Orang yang aku maksud itu mau menikahiku.”
“Beneran?”
“Iya. Aku tidak bohong. Ini buktinya.” Ia mengeluarkan secarik kertas undangan. Aku baca pelan-pelan. ia benar-benar akan menikah bulan depan.
“Alhamdulillah,” gumamku. “Akhirnya kamu akan menjalani hubungan yang halal, Sya.” Ia mengangguk-ngangguk. Tentu saja masih sambil tersenyum.
Aku lanjutkan membacanya. Sampai pada nama lelaki yang akan menikahinya, aku mengerutkan kening. “Handim?” tanyaku yang sebenarnya tidak kutujukan pada Alesia.
“Handim. Iya, Handim. Masa’ kamu lupa, sih, Kak?” tanyanya.
“Iya, aku inget, kok.” Aku bernostalgia. Handim adalah kawan apaling cerdas yang pernah satu kelas denganku. Tapi, belum sempat ia lulus, sudah pidah dulu ke Singapura. Mengikuti ayahnya yang berkarir di sana. Selain cerdas, ia juga menjabat sebagai ketua osis. Ia cocok sekali dengan Alesia yang sekarang. Alesia yang berusaha keras ingin menjadi perempuan sholihah. Alesia yang adik kelasnya dulu. Alesia yang akan berusaha keras membahagiakan Handim nanti tentunya.
Aku tidak habis pikir kenapa Handim cepat lulus kuliah di Singapura, sebab itu tadi, ia anak yang cerdas. Beda denganku yang mengerjakan skripsi, satu bulan lebih belum kelar.
“Sekarang Handim di mana?”
“Sudah pulang ke Indonesia. Sekarang sudah menetap kembali ke rumah yang dulu. Ayahnya berbisnis di Indonesia lagi.”
“Oh, jadi begitu…” aku mengangguk mafhum.
“Hem, ini undangan untuk kamu, Kak.” Katanya yang lagi-lagi dilanjutkan memandangi laut. Semenjak kukenalkan kalau memandang laut yang lama membuat hati jadi tentram, ia sering memandangi perairan berwarna biru itu.
“Oke-oke. Jangan lupa aku jadi tamu istimewanya. Hahaha,” candaku yang garing.
“Itu harus. Eh, Kak. Aku tak bisa lama-lama di sini. Aku ada janji sama temen.”
“Yup, hati-hati. Lalu, semoga pernikahanmu dengan Handim nantinya barokah. Dan sekaligus hubungan yang diridloi Allah.”
Sekali lagi, ia tersenyum. Senyum yang semakin manis. Semakin manis…
Kupandangi laut. Walaupun warnanya masih biru seperti dulu, rasa-rasanya ada yang berbeda. Tidak lagi meneduhkan. Tidak lagi menyejukkan. Ketika Alesia beranjak pergi, kupandangi kerudungnya yang berwarna ungu, pemberianku dulu. Ada lagi yang berbeda. Tak seperti biasanya. Ketika ia bahagia, justru sekarang aku yang resah. Aku yang sedih. Di hatiku semacam ada air mata yang maha luas seperti laut.
Tiba-tiba saja aku tak berminat menyelesaikan novelku tentang aku dan cinta itu.
Alesia tidak pernah tahu kalau aku mencintainya. Sejak dahulu. Sejak sebelum ia jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.***
Bantul, 1 Desember 2014

*Daruz Armedian, lahir di Tuban, Jawa Timur. Alumni MA Islamiyyah Sunnatunnur ini sekarang tinggal di Bantul, Yogya. Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).
email: armediandaruz@gmail.com