Puisi Novy Eko Permono

 

Muntah

Aku membuka mata
Merasa seluruh tubuh remuk
Aku melihat langit namun tampak tidak seperti biasanya
Ia mengedipkan mata, langit tampak begitu dekat
Ia mengedip (lagi) beberapa kali, kedipan yang lemah
Aku mencoba, namun terasa berat untuk bangun
Terasa
angin mengantarkan debu-debu,
dan bau kandang ke teras rumah
aku ingin muntah

Ruang tamu, 08/16

 

Menuju Kartasura

Pada sebuah minggu
Perjalanku ke Kartasura penuh kantuk
Berbekal kuah soto dengan cabe bubuk
Motor-mobil serupa burung pelatuk
Bertengger pada dahan jalanan yang sibuk

2016

Bunga Anggrek

: Nureini Hanik
Pada lidahmu pernah tertanam
Deretan pot-pot hitam di halaman
Pada ingatanmu pernah tergambar
Sebuah anggrek dengan tangkai yang memudar
Pada sakuku pernah kau titipkan
Vas dan kelopak bunga jantan
Kita adalah dua kuntum anggrek
Padanya  terdapat keindahan,
kerahasiaan yang mengasyikkan.

Kelas menulis, Oktober 2016
 

Jendi dan Masa Silam

: Isnan A.H
Roda berputar
melaju kencang
melawan cahaya keelokan
sawah terjepit deretan pertokoan
Antara rimbun bambu dan kebun tebu
ranting-ranting sengon melambai lugu
derap langkah bocah
bersautan lonceng jam tujuh
Seorang tua
berbaju lekukan batik
tampak olehnya kebingungan
menjual aneka dolanan
memecah senyap
keramaian jalan
Dijalanku pulang
anak-anak berjalan
setengah menari
setengah menyanyi
setengah meledek
“Kok sudah pulang?”
“Gurunya rapat bu.”
aku tertawa
kursi tertawa
dipan tertawa
baju seragam tertawa seragam

2016

 

Ruang yang Biru

Pada ruang yang biru
Aku melihat keluar jendela
Menatap sejauh-jauhnya
Ke arah kolam dengan teratai di tengahnya
Pada ruangan itu
Tersusun tembok-tembok angkuh
Bertatahkan motivasi masa kini
Papan-papan administrasi
Jua poto pak Jokowi
Pada ruang yang biru
Huruf-huruf mulai berpendar
Dari lembaran-lembaran soal
Menuju setiap mata pemandangnya yang kumal
Pada ruangan yang bisu
Penuh laku mengingat
Rumus-rumus yang terpahat
Pada saku celana ketat
Pada ruangan itu
Pedal-pedal dikayuh
Melewati deretan huruf yang lusuh
Pena-pena mulai meliuk malas
Pada lembaran-lembaran kertas
Kejujuran hanya penghias
Kulihat dari sudut ruangan
Udara mulai riuh
Mulut-mulut mulai mencuit
Kode-kode rahasia, kode-kode entah apa
2016

 

Semak Menggiring Malam

Pagi menjemput
Kerbau-kerbau mengisut berjalan
Sepanjang petak-petak
Membuatnya mandi tanah
Sepasang domba
Digiring ke padang rumput punggung bukit
Menggembala bersama bocah lain
Roman mukanya riang
Bunga sepatu
Mendatangkan kupu-kupu
Membenamkan tanah lembab kebiruan
Menyatu bersama lengkung bibirmu
Tak berapa lama
Setelah adzan ashar
Sore segera mengubah banyak hal
Semak-semak belukar berhimpitan
Menerobos dinding berkedip putih
Pekarangan hening
Semak-semak pejal menggiring malam
2016

Menjelma Pasar

Di surau selepas mengaji
mereka datang
berjejalan di atas gerobak
menempuh jalan koral
kubangan kerbau
terbenam di balik kerudung hujan

Rumah kosong sudut jalan
kaca-kaca
lantai keramik
gading yang terus berpijar
menjelma pasar
menggelar baju-baju cantik
sepeda tua
kopra, singkong dan paya

Tukang cukur
bercermin besar
kotak-kotak perkakas
meja kursi
berkalung handuk yang khas

Di sudut lain
bocah-bocah
beradu gambar
duduk
berbaring di langit basah
menenggelamkan diri
dalam kerahasiaan yang menyenangkan

Rumah bukanlah rumah
tak ada kamar
tak ada dapur
kotak-kotak tembok selembaran
memanjang beberapa depa

ketika matahari berpulang pada laut
merekapun pergi
lamat-lamat
menjauh
menghilang
rumah kembali dalam kebisuan
Wonogiri, 2016
Penulis

Novy Eko Permono penggemar tempe ‘mendoan’ garis keras. Saat ini aktif sebagai koordinator Ikatan Jomblo Nusantara Cabang Wonogiri. Terkadang bermain peran sebagai ‘guru’ di Teater Dua Sisi SKND. Dapat disapa via email: novyekop@gmail.com, fb: Novy Eko Permono, hp: 085725073433

[Cerpen] Pria Pondok

Cerpen : Devian Amilla

Aku mengetuk-ngetukan pena di atas kertas yang sudah penuh dengan coretan-coretan tidak jelas. Aku mendengus beberapa kali tanda kesal karena pilhan yang diberikan Bunda. Aku dihadapkan pada dua pilihan yang hampir membuatku frustasi.

“Masuk pondok atau tidak usah sekolah.” ucap Bunda.

Aku yang saat itu sedang asyik mengotak-atik gitar kesayanganku langsung menoleh ke arah Bunda. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Bunda menyerangku dengan pernyataan yang membuatku menolaknya mentah-mentah.

“Arkan nggak mau masuk pondok. Arkan mau sekolah di sekolah negeri seperti teman-teman yang lain.” bantahku.

“Kalau Arkan nggak mau masuk pondok, lebih baik Arkan bantu-bantu Bunda dirumah saja.”

“Arkan nggak mau, Bunda! Kalau masuk pondok, Arkan nggak bisa main sama teman-teman Arkan lagi.”

Bunda menatapku dan membelai kepalaku dengan lembut, “Kalau Arkan masuk pondok, nanti Bunda belikan sepeda baru.” Bunda terus merayuku agar menuruti keinginannya.

Selama ini aku adalah anak laki-laki Bunda yang penurut. Selalu mengiyakan apapun permintaan Bunda. Mulai dari mengikuti pengajian setiap malam, les Bahasa Arab setiap pulang sekolah dan pulang kerumah lima belas menit sebelum adzan maghrib berkumandang. Aku dan Bunda hanya tinggal berdua. Ayahku sudah pulang kepangkuan Allah saat aku berusia satu tahun. Ayah mengalami kecelakaan saat berangkat mencari nafkah untuk kami. Kecelakaan hebat yang membuatku kehilangan sosok ayah sejak kecil.

Sejak ayah pergi, Bundalah yang membesarkanku dan merawatku seorang diri. Pontang-panting memenuhi kebutuhanku. Tanpa pernah sedikit pun mengeluh. Aku sangat mencintai Bunda. Hanya dengan menuruti semua keinginannyalah aku merasa menjadi anak yang berguna. Tapi tidak dengan yang satu ini. Masuk pondok? Ah, tak pernah terlintas sedikit pun dipikiranku. Aku memimpikan diterima di sekolah yang bonafit, di sekolah yang keren dengan seabreg kegiatan ekstrakurikulernya. Bukan malah masuk pondok yang dipenuhi dengan orang-orang yang memakai sarung dan peci. Aku sungguh tidak mau, Bun.

Kudengar ketukan pintu dari luar kamarku. Itu pasti Bunda. Aku sengaja mogok makan dan tidak mau keluar kamar sebagai wujud penolakan pada Bunda bahwa aku benar-benar tidak ingin masuk pondok. Tapi, bukan Bunda namanya jika menyerah. Bunda terus mengetuk pintu kamarku, bilang bahwa semua yang Bunda lakukan itu demi kebaikanku. Aku tak percaya pada Bunda. Bunda jahat. Bunda tega mengirimku ke pondok yang jauh dari rumah dan jauh dari teman-temanku.

Hari mulai gelap, perutku mulai tidak bisa diajak berdamai. Sejak pagi tadi aku menolak untuk makan, sampai sekarang belum ada sebutir nasi masuk ke lambungku. Kuringankan langkahku menuju dapur. Betapa terkejutnya aku ketika keluar dari kamar. Kudapati Bunda sedang tertidur di depan pintu kamarku sambil memegang nampan berisi makanan untukku. Tak bisa kutahan air mataku. Sebegitu besarkah keinginanmu untuk menyuruhku masuk pondok, Bun? Saat itu juga kupeluk Bunda dan kukatakan dengan lembut di telinganya bahwa aku bersedia menuntut ilmu di pondok. Bunda terjaga dari tidurnya dan tersenyum melihatku yang sedang memeluknya.

“Arkan makanlah dulu, Nak.” ucap Bunda dengan lembut.

“Arkan mau masuk pondok, Bunda.”

Mendengar pernyataanku, Bunda tersenyum. Sembari memeluk dan memangkuku, Bunda menjawab, “Percayalah sayang, sudah saatnya kau belajar ilmu agama untuk bekalmu di kemudian hari, tidak bisa selamanya kau ada disini, suatu saat Bunda ingin kita berkumpul lagi bersama ayah. Ayahmu yang bercita-cita ingin melihatmu menjadi laki-laki shaleh yang taat pada agama, Nak.”

“Kalau Arkan masuk pondok, Bunda bagaimana?” tanyaku.

“Bunda tetap disini, sayang. Arkan bisa mengunjungi Bunda beberapa bulan sekali.” ucap Bunda.

Kuseka air hangat yang tersisa disudut mataku. Kuajak Bunda untuk menemaniku makan malam. Malam ini Bunda begitu sumringah. Bisa kurasakan aura kebahagiaan dari matanya. Ah, Bunda.. Aku sungguh minta maaf atas kelakuanku tadi pagi.

Keesokan harinya kami berangkat ke Pondok Pesantren Baitussalam. Letaknya sangat jauh dari rumah, memakan waktu hingga empat jam perjalanan. Tapi tak kulihat sedikit pun rasa lelah di wajah Bunda. Bunda begitu bersemangat mengantarkanku kesana. Senyumnya terus mengembang. Terlebih lagi ketika kami sudah tiba di pintu gerbang PonPes Baitussalam. Bunda langsung meminta izin pada satpam untuk masuk ke dalam pondok. Pak satpam berkumis tebal itu langsung mengantarkan kami ke ruang pendaftaran menemui Kyai Majid.

“Pak Kyai, saya minta izin untuk menitipkan anak saya, Arkan Irhamsyah untuk belajar di pondok pesantren ini.” ucap Bunda pada Kyai Majid.

Kami duduk dalam ruangan yang begitu tenang dan rapi. Bunda menguraikan maksud kedatangan kami. Aku diapit oleh mereka berdua. Aku pasrah saja dengan apa yang mereka katakan. Bunda menginginkan aku belajar agama di pondok pesantren. Walaupun sebenarnya hati kecilku berontak disuruh mondok di pesantren. Bukan aku tak suka belajar agama. Tapi aku tak suka dengan dunia kesantrian yang terbilang, ah, pokoknya aku tidak menyukainya.

Akhirnya setelah panjang lebar Bunda menceritakan maksud dan tujuan kami, Kyai Majid menerimaku menjadi salah satu santri di PonPes Baitussalam. Dan saat itu juga aku resmi tidak pulang kerumah untuk beberapa bulan ke depan. Aku menangis saat melepas kepulangan Bunda. Belum pernah aku berpisah sejauh ini dengan Bunda. Dengan lembut Bunda mengusap air mataku, “Anak Bunda nggak boleh cengeng, belajar yang bagus ya, Nak.” Kupeluk Bunda erat sekali. Ingin rasanya aku berada di pelukanmu saja, Bun.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Sampai akhirnya aku menyadari keberadaanku di pondok sudah berjalan enam bulan. Dan sudah enam bulan lamanya aku tidak bertemu dengan Bunda. Ketua asrama tidak mengizinkan kami keluar sembarangan. Kami juga tidak dibolehkan membawa alat komunikasi. Jadilah aku dan Bunda hanya bertukar kabar melalui surat. Hari-hariku di pondok disibukkan dengan menghapal kosakata arab yang menurutku cukup sulit. Ditambah dengan hapalan-hapalan yang lain. Apalagi memahami kalimat arab yang ada di kitab. Aduh Gusti, aku mati kutu. Omelan pak Kyai, hukuman dari ketua asrama dan hukuman-hukuman lain dari ustad sering aku alami. Kalau saja aku tidak ingat bagaimana senyum bahagia Bunda, mungkin aku sudah kabur di hari pertama menjadi santri.

Satu hari sebelum ujian semesterku selesai. Aku mendapat surat dari Bunda. Tapi kali ini berbeda, Kyai Majid yang langsung menemuiku untuk memberikan surat ini. Kyai mengajakku untuk masuk ke dalam ruangannya. Sambil menyerahkan surat tersebut. Kyai berpesan bahwa apapun isi dalam surat itu, aku harus ikhlas dan sabar. Aku semakin penasaran dengan isi surat Bunda kali ini. Aku minta izin pada Kyai untuk membaca surat itu. Betapa sakitnya perasaanku ketika mengetahui isi surat itu. Mataku panas. Kakiku gemetar. Seluruh isi ruangan ini terasa seperti berputar. Kukuatkan hati dan pikiranku agar tetap bisa berpikir jernih. Kulihat Kyai di depanku hanya bisa memandangku dengan tatapan iba. Hanya Kyai yang tahu alasanku masuk pondok hanya untuk membuat Bunda bahagia.

Aku keluar dari ruangan Kyai tanpa pamit. Aku berlari ke kamar dan memasukkan seluruh pakaianku ke dalam tas. Teman-teman sekamarku tak sempat bertanya. Aku bergegas lari keluar pondok. Aku ingin secepatnya sampai di rumah. Aku sempat tidak mendapatkan izin keluar dari ketua asrama, tapi Kyai Majid mengizinkanku. Siapa yang berani membantah Kyai?  Tidak ada.

Selama dalam perjalanan aku hanya bisa menangis. Memohon pada Allah agar aku diberi kesempatan untuk melihat wajah Bunda terakhir kali. Setelah empat jam perjalanan yang penuh air mata, akhirnya aku sampai di rumah. Kulihat bendera merah sudah terpasang di depan halaman rumahku. Aku berlari secepat mungkin, kulihat Bunda sudah cantik dalam balutan kain putih itu. Kupeluk dan kucium Bunda untuk terakhir kalinya. Aku tak bisa menahan air mataku untuk tidak jatuh. Bunda, maafkan aku jika terlihat cengeng di hadapanmu. Aku sudah tak peduli lagi dengan orang-orang yang menatap iba ke arahku. Jadilah aku sekarang yatim-piatu di usiaku yang masih sangat belia. Ah, sungguh aku tidak peduli. Aku hanya ingin memelukmu lebih lama.

Bangunlah, Bun. Aku ingin bercerita tentang kegiatanku di pondok. Aku ingin menunjukkan hapalan bahasa Arabku padamu. Aku janji, aku tidak akan menjadi santri yang sering di hukum lagi. Aku janji akan jadi santri yang baik seperti yang sering Bunda utarakan dalam surat Bunda. Kumohon, bangunlah Bunda.

Usahaku sia-sia. Bunda tidak akan pernah bisa membuka matanya kembali. Bunda sudah kembali kepangkuan Allah. Mungkin sekarang Bunda dan Ayah sedang melihatku dari surga. Kuhapus air mataku. Aku tidak mau terlihat jelek di hadapan Ayah dan Bunda. Kurapikan peci yang ada di kepalaku. Kuambil Al-Qur’an di dalam tas. Kubacakan ayat-ayat Allah disamping jenazah Bunda. Bunda, sampaikan salamku pada ayah. Katakan padanya aku akan menjadi anak laki-laki shaleh yang selalu ia impikan.


 

 

Devian Amilla adalah Alumni UMSU, Jurusan Matematika, 2016. Perempuan kelahiran 13 Desember 1994 ini sekarang tercatat sebagai Guru Matematika di salah satu sekolah swasta di Medan. Bisa dihubungi di FB : Devian Amilla atau email : princessadevian@gmail.com

Menyelamatkan Jejak di Kehidupan yang Singkat

Oleh: Nasrul M. Rizal

Banyak orang yang terlahir ke dunia ini, namun hanya segelintir saja yang dikenal oleh kebanyakan orang. Apakah kalian termasuk yang terkenal? Namun bagaimana jika sudah meninggal, masihkah dikenal? Boleh jadi lenyap begitu saja, dicerna oleh bumi, hilang di ingatan. Tapi ada satu cara supaya nama kita bisa abadi walau kita mati. Ya, menciptakan karya. Sebagaimana yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer: “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Itulah yang saya maksudkan dengan jejak. Menyematkan jejak melalui karya tulis.

Keinginan menulis buku lahir dari teman saya. Sebelum perpisahan (SMA) dia menulis sebuah buku dan diterbitkan oleh penerbit mayor. Hal itu yang menjerumuskan saya untuk datang ke toko buku, ingin membeli bukunya. Dikarenakan baru pertama kali datang ke toko buku yang super komplit –karena di Garut tidak ada toko buku besar– saya ngiler melihat ribuan buku yang berjajar rapih. Saya mencari buku karya teman saya di setiap sudut toko. Sayangnya tidak saya temukan walau sebiji. Kepalang tanggung sudah di toko buku, saya memutuskan membeli beberapa buku. Kala itu buku Tere Liye (yang kemudian menjadi penulis favorite saya)

Sepulangnya dari toko buku saya menelepon teman saya. Dia tertawa bahak, lalu berkata, “Den, buku itu udah ditarik dari toko dan sudah gak dicetak lagi. Itukan buku tahun 2012 dan sekarang 2013, kalau pun ada juga, paling bekas atau dimakan rayap di gudang.”

Hmm.. saya merenung, buku Tere Liye yang saya beli bahkan diterbitkan tahun 2008 tapi sekarang (2013) masih ada, sedangkan buku teman saya sudah hilang di pasaran. Sebegitu ketat kah persaingan di dunia perbukuan?

Kata demi kata saya baca, lembar demi lembar saya cerna. Tidak terasa buku setebal 360 halaman bisa selesai dibaca dalam hitungan hari saja. Saya baru sadar ternyatadaya pikat novel sangat luar biasa. Andaikan buku kuliah yang dibaca, setidaknya perlu satu tahun untuk melahapnya. Berkat buku 360 halaman itu, keinginan saya untuk menulis bertambah. Ternyata apa yang dikatakan kebanyakan orang itu benar; penulis hebat ialah mereka yang mampu memberi inspirasi. Dan langkah pertama seorang penulis hebat adalah menulis. Kapan ya kira-kira saya bisa mulai menulis?

Di penghujung tahun 2014, saat reuni SMA, teman saya –perempuan- memaksa untuk menulis sebuah cerita yang pernah kami alami, di mana saya dan dia menjadi tokoh utamanya. Ia pula menjerumuskan saya datang ke toko buku, sehingga perlahan tapi pasti mencintai dunia literasi. Dengan berbagai pertimbangan, saya pun memutuskan untuk menulis cerita tersebut. Dan ini menjadi debut pertama saya berkecimpung di dunia tulis-menulis.

Tidak mudah untuk mempertemukan kata, mengawinkan kalimat, melahirkan paragraf. Walaupun saya masih ingat betul setiap kejadiannya, tetap saja tidak mudah untuk merangkainya dalam barisan kata. Baru beberapa kata ditulis, saya terdiam, lalu menghapusnya lagi, mengganti dengan yang baru, setelah diganti malah saya menyesal telah menggantinya. Ratusan hari saya habiskan untuk menulis cerita tersebut, berusaha menjadikannya sebagai buku. Frustasi senantiasa menghantui. Godaan untuk berhenti kian merajai. Saya membuktikan, menulis tidak semudah mencorat-coret kertas tak karuan.

Setelah satu tahun berjuang untuk menulis, akhirnya saya bisa merampungkannya.Sebuah buku lahir dengan judul ‘Ilusi Hati’. Saya menjadikan buku tersebut sebagai kado ulang tahunn teman perempuan saya. Bersama dengan buku itu, saya berjanji pada dia; “suatu saat dia akan membaca buku di mana penulisnya ialah saya, diterbitkan oleh penerbit ternama”. Tidak, ‘Ilusi hati’ tidak diterbitakan penerbit, hanya diprint lalu diberi cover seadanya di tempat fotocopy.

Keinginan membaca buku karya sendiri, saya tulis juga di kertas folio, walau “terpaksa”. Ada dosen yang memberi tugas nyeleneh. Kami disuruh untuk menulis keinginan, harapan, mimpi, impian, cita-cita ataupun yang sejenis, baik jangka pendek maupun panjang pada kertas folio –padahal mata kuliah kewirausahaan. Dari ratusan impiansaya, beberapa diantaranya berhubungan dengan dunia tulis-menulis; menjadi penulis, membaca buku karya sendiri, menulis buku best seller, menulis buku dengan berbagai genre, menulis buku fiski dan non-fiksi, dikenal banyak orang karena prestasi, dan melaharikan karya yang bermanfaat.

Tak lama setelah saya merampungkan tugas coretan “mimpi” tersebut, ada lomba cerpen dari salah satu penerbit indie. Lebih dari 800 naskah cerpen mewarnai daftar peserta, mungkin karena temanya bebas. Meniru gaya menulis Tere Liye dan menjadikan pengalaman pribadi sebagai ide dasar cerita. Lahirlah cerpen berjudul “Untukmu yang Aku Benci” yang kemudian tercantum dalam buku kumcer ‘My Destiny’. Awal tahun 2016, saya bisa membaca buku di mana salah satu penulisnya ialah saya. Selain itu, masih di bulan yang sama, artikel saya yang berjudul “Melawan Korupsi Dengan Terasi” (Temuan Rakyat Terintegrasi) menjadi 50 artikel terbaik –dipilih dari ratusan artikel lainnya– yang diposting di laman resmi Madrasah Anti Korupsidan berkesempatan menjadi juara. Berdasarkan banyaknya read, likeandshare serta kualitas artikel, artikel saya dinobatkan sebagai juara favorite. Satu kebanggaan tersendiri bagi saya ialah peserta yang ikut dalam lomba ini mempunyai latar belakang yang berbeda-beda; mahasiswa S1, S2, Guru, Dosen, dan kalangan lainnya.

Saat ini saya bisa membaca buku yang di dalamnya terpatri karya saya. Tidak mudah untuk menyematkan karya tersebut. Meskipun pada percobaan pertama, cerpen saya langsung dibukukan, ternyata tidak diikuti oleh cerpen-cerpen berikutnya. Ada puluhan cerpen yang ditolak mentah-mentah. Sedih, kesal, dan frustasi mengerubungi. Di saat frustasi membayangi, rupanya kegagalan terus menghampiri. Setiap bulannnya saya mengikuti lomba, dan setiap bulan pula kegagalan mewarnai. Tapi salah jika kalian berfikir saya akan menyerah. Karena, walaupun mudah, menyerah hanya akan menghancurkan apa yang telah saya bangun dengan tertatih. Saya intropeksi diri, mengevaluasi karya-karya yang telah dibuat. Membaca lebih banyak buku. Belajar dan terus belajar, memungut ilmu darimana pun, kapan pun dan dari siapapun. Sekarang saya memetik hasilnya. Walaupun saya belum bisa menembus penerbit mayor dan belum melahirkan buku tunggal, setidaknya saya melangkah di jalan yang mengarah ke sana.

Hidup ini singkat, maka tinggalkanlah jejak. Menulis kini menjadi hoby sekaligus mendatangkan rezeki. Selain tulisan fiksi (Cerpen) saya pun sering menulis non-fiksi (esai, artikel, KTI). Dari kedua jenis tulisan tersebut pundi-pundi mengalir. Namun, hal ini bukan tujuan utama saya menulis. Lebih dari itu, saya  menulis karena ingin orang-orang berdamai dengan masa lalu, menjadikannya pelajaran, menatap masa depan tanpa membenci bayangan (masa lalu), tidak pernah kehilangan harapan, menyederhanakan masalah lewat untaian kata, memberi solusi, motivasi serta inspirasi. Atau yang paling rendahnya ialah bisa menghibur saat lara.

Satu impian terbesar saya di dunia tulis-menulis ialah menulis novel bergenre sejarah -tentang ekonomi. Karena saya sadar, daya pikat novel lebih tinggi daripada buku pelajaran. Hitungan hari saja novel setebal ratusan halaman bisa selesai dibaca. Tapi butuh ratusan hari untuk membaca buku pelajaran yang tebalnya tidak lebih dari setengah novel. Dari hal itu saya berkeinginan menyuguhkan materi ajar (ekonomi) dengan tehnik penceritaan sebuah novel. Semoga naskah itu bisa rampung sebelum saya wisuda. Aamiin.

Ide adalah harta yang paling berharga. Darinya lahir berbagai karya. Ide menulis yang paling murah ialah pengalaman. Biarkan orang lain tahu bagaimana pengalamanmu, selama ada manfaat yang bisa dipetik oleh mereka. Terima-kasih J

Teruslah melangkah walau tak mudah. Teruslah berjuang meski banyak yang menghadang. Teruslah bangkit kendati sangat sulit.

Bandung, Agustus 2016.

 

Biodata Penulis

Nasrul M. Rizal lahir ke bumi 22 tahun silam, tepatnya 27 Agustus 1995, di Garut. Aktif di komunitas kepenulisan, yang diisi oleh orang-orang galau dan jomlo, KAFE KOPI. Beberapa cerpennya telah dimuat di berbagai media, baik online maupun cetak. Bisa dikepoin melalui: mr.nasrul19@gmail.com

Puisi Puisi: An Najmi

Ruang-Ruang Waktu

Waktu bercerita tentang rentang yang singkat, di ruang itu, kuberbaring tanpa satupun kegelisahan, aku sendiri tak mengerti, ruang-ruang seperti menyodorkan ketentraman, kaca-kaca bergetar, tapi bukan hatiku, dan aku tetap diam menyaksikan apa yang kusebut kesendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa.

Prabumulih, 2017

 

Malam Liontin
;Sergio

Mengapa selalu kau ceritakan malam keramat yang menentukan, bukankah ada kesenangan yang kau gali setelah gelap: katamu, seperti aku yang kau tarik menjadi setubuhmu ke dalam cerita, bukan?

Malam seperti guratan kata yang terangkai di mulutmu, pada seutas karangan berkilau dan berkaca-kaca dari canda ke canda

Tugu, 2015-2017

 

di Bawah Alis Mata

di bawah alis mata kurengkuh segala cinta, tanpa pandang bulu-bulunya,
dan semua terkesan lapang, tanpa halang, kulihat begitu saja kau bersentuhan dengan bola mata, mengalirkan tawa, suka dan segenggam bahagia kepada lekukannya, walau kadang tersangkut di air mata, menerawang pandang yang jingga, kepadamu tetap kurebah

Malik Fatih, 2017

 

Pohon Tua Yang Berdosa

di pohon tua ada burung hantu yang hinggap di dahannya, kulihat ia memain-mainkan ranting dan daun dengan hikayat dosa, sesekali berlaga bak primadona dan melengking dengan suara soprannya, kejadian itu sangat menakutiku
menakuti hatiku

2017

 

Lady Gajah

seekor gajah menunjukkan kejantanannya dengan menginjak-injak masa lalu, Lady sudah tiada?; katamu, dan gajah kembali ingin tampan, siap sarapan perempuan-perempuan

2017

Kota Yang Berdo(s)a

Setiap hari langit menjerit bersama awan, sebelum datang hujan, mendung yang tak ketahanan, ia menceritakan bahwa manusia telah berdosa tangannya, tapi hujan menghapus cerita dengan seketika, dengan amarah yang tumpah, ruah ke badan kota, kota yang berdosa

2017

Merobek Napas

di dada, hati, jantung dan paru membisu dari kejaran masa lalu, menekan napas haru, dari seonggok sesal terlampau, yang sangat jauh, di ubun deritaku,

kau yang pernah tumbuh, telah tumbang di kalbu, dalam jajaran yang tak lagi utuh, tersingkap dari tabir ke tabir yang biru, melepas luruh, cerita dan napas lampauku, degub-degub rindu

2017

 

 

Biodata :

An Najmi. Berdomisili di kota kecil Prabumulih, Sumatera Selatan.  Saat ini bergiat sebagai ketua di komunitas puisi COMPETER (Community Pena Terbang) Palembang, Sumatera Selatan. Merupakan cabang COMPETER (Community Pena Terbang) – Pekanbaru.  Untuk mengenalnya bisa add FB-nya An Najmi email : star.annajmi@gmail.com atau handphone : 0822 8057 3060

[Cerbung] Seperti Laut – Bag.II Tamat

Oleh: Daruz Armedian           (sambungan dari sebelumnya)

 

Tak lama, ia sudah berada di dekatku.

Tak lama, aku sudah berbenah diri.

“Maaf, membuatmu menunggu, Kak.” katanya sambil siap-siap duduk.

“Nggak apa-apa, kok.”

Ia duduk di sampingku. Dekat. Dekat sekali.

“Sebenarnya ada apa, sih, Kak?” tanyanya dengan bersamaan kerlingan matanya yang teduh.

“Harusnya aku yang bertanya seperti itu, Sya. Haruskah terus-menerus murung?”

Ia diam sebentar. “Em, habisnya, masalah yang kualami begitu berat.”

“Begini, Sya. Kamu harus ngomong yang sejujur-jujurnya masalah kemarin itu. Sudah satu bulanan, loh, kamu murung kayak gitu. Nggak enak dilihat orang. Begini. Pada waktu kamu bertengkar, adu mulut dengan seorang lelaki yang aku tak tahu siapa namanya, dari mana dia, dan siapamu, mungkin pacarmu, aku mendengarkan seluruhnya.”

“Terus?”

“Ya, aku ingin tahu saja apa yang terjadi sebenarnya. Eh, maksudku kamu jelaskan padaku yang gamblang. Segamblangnya.”

Ia menghela napas. Menghirup udara segar di tepi laut yang biru.

“Seperti ini, Kak. Dia itu pacarku. Tapi tak pernah ngertiin aku.”

“Kok, cuma segitu?”

“Belum selesai, Kak.”

“Oh, belum selesai, toh.” Aku tertawa.

“Aku benci, benci, benci. Kenapa, sih. Ke bandara aja minta ditemenin. Dia nggak nyadar kalau aku sedang sibuk dan, dan katanya itu sangat penting. Dia nggak mementingkanku. Nggak nganggap kalau tugas-tugas kuliahku nggak penting.”

Aku diam. Sibuk mendengarkan.

“Lalu dia malah membawa cewek lain untuk nemeninnya. Kan, aku yang cemburu. Masalahnya aku bukan nggak mau nemeninnya ke sana. Tapi aku sibuk. Sibuk banget.”

“Terus?”

“Ternyata cewek itu tidak hanya dijadikan temen, tapi malah nginep di hotel bersama. Itu apa-apaan coba? Terus foto-foto lalu diupload di Facebook. Foto-foto mesra. Aku sebagai pacarnya wajarlah cemburu.”

“Sudah, sudah cukup. Cukup sampai di situ saja kamu jelasinnya. Sekarang, aku mau tanya. Kamu masih sakit hati?”

“Ya, jelas dong, Kak.”

“Masih mau murung lagi?”

Ia tidak menjawab. Cukup mengerucutkan bibir saja.

“Em, lalu, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya setelah ini?”

“Kok, Kakak nanya melulu?”

“Loh, kan katamu aku mau jadi sarjana psikologi…”

“Ya, nggak tahu. Mungkin masih mau murung.”

“Hahahaha,”

“Kok, ketawa?”

Aku tidak menjawab. Aku memandangi laut. Laut yang biru. Laut yang luas. Laut yang seperti tak punya tepi jika dilihat dari sini. Sejenak ada diam menyelimuti. Lantas, ia bicara lagi.

“Aku iri kamu, Kak.”

“Kenapa?”

“Aku tak pernah melihat kamu punya masalah. Hidupmu tentram. Damai-damai saja. Aku benar-benar iri.”

Aku menghela napas. “Begini, Sya. Sebenarnya, aku juga punya banyak masalah. Tapi kuselesaikan dengan tenang. Tidak diam atau bahkan berusaha lari dari masalah itu. Dan sebenarnya pula, masalah itu dari diri kita sendiri. Kamu, misalnya. Seandainya tidak pacaran. Mungkin saja tidak akan punya masalah yang seperti ini. Benar, bukan?”

Ia mengangguk.

“Nah, jika kita terlanjur membuat masalah, tentu hakikatnya disuruh untuk menyelesaikan. Bagaimana cara menyelesaikannya? Kalau aku, kembali jatuh cinta pada Allah. Ini bukan sok alim atau apa. Yang jelas aku lakukan itu dan berhasil. Sebab, hanya cinta kepadaNyalah kita bisa damai. Hati kita akan tentram. Kemudian, perlahan-lahan masalah itu akan selesai.”

Ia diam. Merenung.

“Apalagi masalahnya adalah hati. Perasaan. Kamu perlu tahu, kalau mencintai orang pastinya ada luka di dalam. Yang sewaktu-waktu bisa muncul kapan saja. Patah hati dan sebagainya. Obatnya apa? Cara menyelesaikannya bagaimana? Ya, seperti itu tadi. Jatuh cinta kepada Allah. Cinta kepada Allah. Sebab, aku yakin, Dia tidak akan mengecewakanmu. Tidak akan membuatmu patah hati.”

Ia mengerlingkan mata. Mengerutkan dahi. Kemudian tersenyum. Senyum yang masih getir.

“Sebagai contoh, laut. Laut terlanjur membuat masalah. Ia membiarkan panas matahari mengurangi stok airnya. Ia tak berani mencegahnya. Masalah, kan? Itu sudah terlanjur. Tapi, ia tidak diam. ia terus berdoa kepada penciptanya agar airnya kembali. Dengan doa itu, skenario Sang Pencipta yang tak pernah ia duga, mengembalikan air itu kepadanya lewat sungai-sungai.”

Ia mengerlingkan mata. Mengerutkan dahi. Kemudian tersenyum. Senyum yang tidak lagi getir, tapi bahagia. Seperti ada sesuatu yang tiba-tiba hinggap di kepalanya. Ia seperti mendapat pencerahan. Kemudian angkat bicara sekarang.

“Oh, jadi ini alasan kakak terus menerus duduk memandang laut?”

“Bukan hanya itu, aku nyari inspirasi buat tulisanku tau’!”

“Benar juga, ya.”

Ia terdiam lama setelah mengucapkan kata-kata itu. Hanya terdengar helaan napas dan sesekali desau angin dari laut. Aku memandang jauh. Ia memandang jauh mengikutiku. Walaupun sebenarnya kita duduk berdekatan.

“Kita harus sering-sering jatuh cinta pada Allah. Pencipta kita. Kalau tidak, ya, mustahil kita akan menyelesaikan masalah.”

“Selama ini, aku rasa semakin jauh dari Allah.” Gumamnya. Aku suka kata-katanya. Ia jujur sekali. Termasuk aku juga yang jauh dari Allah.

“Hem, kalau sudah seperti ini, sholat, yuk. Sudah magrib.”

“Yuk!”

 

**

 

Alesia sudah tidak lagi keluar malam-malam seperti biasanya pada saat punya pacar. Ia makin sibuk dengan kuliahnya. Dan aku suka hal yang seperti itu. Masa muda memang haruslah rajin belajar. Sebelum tubuh renta.

Kini Alesia setiap kali keluar dari kosnya, juga selalu memakai kerudung. Pemberianku kemarin. Eh, dulu. Dulu sekali sebelum ia menjadi mahasiswa. Pada saat ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Ternyata ia masih menyimpannya. Tentu saja bukan hanya semakin cantik tapi juga hal itu dapat menutup auratnya. Hari-harinya sudah mulai ceria kembali. Aku ikut bahagia. Entah kenapa, seperti saat-saat ia bersedih dulu, aku selalu tak mengerti alasanku kenapa bisa seperti itu. Dan pada saat menyapaku, ada yang berbeda dari biasanya. Biasanya dengan senyuman yang meneduhkanku, sekarang bertambah mententramkan hatiku.

“Bagaimana, Sya? Sudah tidak sumpek lagi?” tanyaku suatu hari.

“Sudah nggak, Kak. Hatiku sudah plong sekarang. Memang benar katamu, Kak. Kalau semua permasalahan di dunia ini obatnya jatuh cinta pada Allah.”

Aku tersenyum. Berhasil.

“Kamu semakin cantik kalau memakai kerudung, Sya.”

Ia tersipu. Memang perempuan sering tersipu apabila mendengar puji-pujian tentang dirinya.

Begitulah perubahan drastis Alesia.

**

 

Kembali aku duduk di pinggir laut. Kali ini tidak ada perjanjian sama siapa pun. Sama sekali tidak ada perjanjian. Aku hanya ingin bersantai-santai setelah lelah mengerjakan novelku tentang kisah yang belum pernah ada yang tahu. Kisah hidupku dan ce i en te a. Kau tentu bertanya-tanya tentang siapa cinta itu. Atau sebagian ada yang menebak-nebak kalau yang aku maksud adalah Alesia.

“Kak!” suara dari belakang mengagetkanku. Sambil menyentuh pundakku secara tiba-tiba, ia juga tertawa. Suara itu sudah tidak asing bagiku. Alesia.

“Ngaget-ngagetin aja.” Kulihat wajahnya berseri-seri. Pasti ada kabar baik yang menghampirinya. “Padahal aku nggak ngasih tahu kalau aku ke sini, loh.”

“Emangnya harus ngasih tahu dulu baru aku ke sini? Ini kan tempatku menenangkan diri seperti dulu.”

“Tempatmu?”

“Tempat kita.” Tempat kita, katanya. Aku semakin tak mengerti.

“Jangan merenung mulu, ntar kesambet.” Katanya. Giginya yang gingsul itu kelihatan semakin manis.

“Ah, nggak, kok. Aku merenung-merenung amat. Lagipula, apa yang aku renungkan?”

“Ya, entahlah. Kan selain psikolog, kamu juga menulis. Pasti kebanyaklan merenung. Hati-hati kalau merenung.”

“Eh, tunggu dulu. Kelihatannya kamu bahagia banget hari ini. Ada apa?”

“Ini pertanyaan yang aku tunggu-tunggu, Kak.”

“Loh, masa’, sih?”

“Iya, beneran.” Ia terlalu bahagia, sampai tertunda-tunda mau menjelaskan padaku sedang ada apa. Ia masih ketawa-ketiwi.

“Sya, ada apa? Jelasin, dong.”

Ia baru duduk di sampingku setelah agak lama memandangi laut.

“Kak, aku jatuh cinta lagi.”

“Eh, sama siapa? Cepet amat.”

“Sama seseoranglah, Kak. Hehehe.” Ia main-main dengan kata-katanya.

“Maksudku, nama orangnya. Nggak asik kalau gitu, ah.”

“Cie, kakak ngambek.”

“Ngomong-ngomong, sakit hatinya sudah selesai belum. Kok, cepet banget jatuh cinta lagi pada seseorang.” aku merapikan kancing lengan bajuku.

“Udah, dong.”

“Takutnya sakit hati lagi, murung lagi, aku juga ikut sedih, loh. Udah dua kali kamu putus cinta kemudian sakit hati. Terus, lama lagi sakit hatinya. Walaupun yang pertama tidak lama seperti yang kedua, tetap saja kamu sakit hati, kan.”

“Insyaallah, nggak, Kak. Masalahnya saat ini berbeda. Beda banget. Orang yang aku maksud itu mau menikahiku.”

“Beneran?”

“Iya. Aku tidak bohong. Ini buktinya.” Ia mengeluarkan secarik kertas undangan. Aku baca pelan-pelan. ia benar-benar akan menikah bulan depan.

“Alhamdulillah,” gumamku. “Akhirnya kamu akan menjalani hubungan yang halal, Sya.” Ia mengangguk-ngangguk. Tentu saja masih sambil tersenyum.

Aku lanjutkan membacanya. Sampai pada nama lelaki yang akan menikahinya, aku mengerutkan kening. “Handim?” tanyaku yang sebenarnya tidak kutujukan pada Alesia.

“Handim. Iya, Handim. Masa’ kamu lupa, sih, Kak?” tanyanya.

“Iya, aku inget, kok.” Aku bernostalgia. Handim adalah kawan apaling cerdas yang pernah satu kelas denganku. Tapi, belum sempat ia lulus, sudah pidah dulu ke Singapura. Mengikuti ayahnya yang berkarir di sana. Selain cerdas, ia juga menjabat sebagai ketua osis. Ia cocok sekali dengan Alesia yang sekarang. Alesia yang berusaha keras ingin menjadi perempuan sholihah. Alesia yang adik kelasnya dulu. Alesia yang akan berusaha keras membahagiakan Handim nanti tentunya.

Aku tidak habis pikir kenapa Handim cepat lulus kuliah di Singapura, sebab itu tadi, ia anak yang cerdas. Beda denganku yang mengerjakan skripsi, satu bulan lebih belum kelar.

“Sekarang Handim di mana?”

“Sudah pulang ke Indonesia. Sekarang sudah menetap kembali ke rumah yang dulu. Ayahnya berbisnis di Indonesia lagi.”

“Oh, jadi begitu…” aku mengangguk mafhum.

“Hem, ini undangan untuk kamu, Kak.” Katanya yang lagi-lagi dilanjutkan memandangi laut. Semenjak kukenalkan kalau memandang laut yang lama membuat hati jadi tentram, ia sering memandangi perairan berwarna biru itu.

“Oke-oke. Jangan lupa aku jadi tamu istimewanya. Hahaha,” candaku yang garing.

“Itu harus. Eh, Kak. Aku tak bisa lama-lama di sini. Aku ada janji sama temen.”

“Yup, hati-hati. Lalu, semoga pernikahanmu dengan Handim nantinya barokah. Dan sekaligus hubungan yang diridloi Allah.”

Sekali lagi, ia tersenyum. Senyum yang semakin manis. Semakin manis…

 

Kupandangi laut. Walaupun warnanya masih biru seperti dulu, rasa-rasanya ada yang berbeda. Tidak lagi meneduhkan. Tidak lagi menyejukkan. Ketika Alesia beranjak pergi, kupandangi kerudungnya yang berwarna ungu, pemberianku dulu. Ada lagi yang berbeda. Tak seperti biasanya. Ketika ia bahagia, justru sekarang aku yang resah. Aku yang sedih. Di hatiku semacam ada air mata yang maha luas seperti laut.

Tiba-tiba saja aku tak berminat menyelesaikan novelku tentang aku dan cinta itu.

Alesia tidak pernah tahu kalau aku mencintainya. Sejak dahulu. Sejak sebelum ia jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.***

 

Bantul, 1 Desember 2014

 

*Daruz Armedian, lahir di Tuban, Jawa Timur. Alumni MA Islamiyyah Sunnatunnur ini sekarang tinggal di Bantul, Yogya. Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).

email: armediandaruz@gmail.com

 

Puisi Maisyaroh el-shoby

LUKA  PARA PETANI 

Pada musim yang berlabuh

Pada kemarau tandus menusuk hati kami yang rapuh

iIalang senja memahat hati kami yang nanar

luka bekas pacul membias membelah samudra

lain kali hati kami merasa senang dengan ini

tak pernah memaksakan diri

sehingga ku biarkan sapi-sapi mengelilingi jagat raya

antara tani dan polisi sama saja

lukanya tak sampai menggores sukma

lantaran hatinya dipahat didinding kaca

bahwa anak kami yang kecil akan merebut warna jingga menjadi kejora

niatnya tak sampai melukai pada dirinya

hati tak pernah salah menbedakan antara uang rakyat dan Negara

sekalipun ada mereka adalah pecundang dimasa lalu

yang datang dalam keadaan miskin meminta uang pada  rakyat

sebenarnya tidak ada bedanya  antara tikus dan pejabat

yang kerjaanaya mengupas uang melarat

tangan tangannya menjalar keseluruh arah

sekalipun ada mereka akan selamat

karena mereka dilindungi oleh uang laknat

 

MENATAP MUSIM

dan aku,

berlari-lari pada musim hujan

gemuruh angin dan Guntur bercengkrama dalam siang

wajah langit cemas pada hati kami yang nakal

ada sedikit bimbang dan ragu

wajahnya masam menyambutku tak peduli

dan aku,

tertawa bahagia bermain bola dengan kakiku yang nakal

kata ku “jangan hawatir bu, hati kami bermain penuh bahagia”

hari seperti berselimut malam

tak ada yang mengenal waktu

matahari lari dan bersembunyi

dan aku,

mata ku perih

suara ku tak didengarnya

teman ku yang baik berhasil memasukkan kedalam sarang

hati ku berdengus

sial wajah langit kembali terang

wajahku pucat bekas luka semakin tampak dan terang

dan aku,

tersenyum geli mengingat itu

dan akhirnya angan ku mulai terang

tak terasa waktu telah gelap

anak ku sayang telah tidur pulas.

28 oktober 2016

 

Potret Indonesia Kita

Adalah aku mencari angin

Dimana arah menebus luka

Kemana jiwa membahas  petuah

Sebuah senyum yang tersungging

Kembali kepada hening

Sebuah dosa jika tuhan tak member ampun

Hanya menciptakan bahasa luka dan sepi

Tak pantas luka ini terobati

Lantas kemarin tertawa bersama

Ya, itu sebuah gelisah rindu

Permainan kita di masalalu

Pa’-opa’ iling, ilingnga sakoranjang

Peloto’ pelghedeng

Saparea!

Riuh tawa  melepas dahaga

Adalah ciri Indonesia

Kemana kah ketenangan kita?

Sumenep, 7 Agustus 2016

 

Birahi yang terluka

Suara ku serak

Membasahi daun dipagi hari

Menghirup dan melepaskan

Diantara musim kemarau

Bibir yang basah kuyup diterpa angin

Menjelma kemarau panjang dimataku

Hatiku lelah,

Bahasaku layu dalam raung wajahmu

Entah, apa yang terjadi

Adalah rinduku diujung senja

Sengaja membajak langit dimalam hari

Lalu mengembalikan sebagian kepada tuhan

Tentang kehampaan yang tertuah dihati kami

Tak perna dimengerti

Hati kami gersang ya illahi

Bibir kami lelah bertakbir

Atas nama selain engkau

Menjadi budak sepanjang masa

Jika mereka basah dengan mengingatmu

Entah, apa yang terjadi pada hati kami

Gemulai dan senang tertanggap kehampaan hidup

Hati kami gersang

Padang tandus

Tak mampu menyimpan air dimata kami

Oh tuhan,

Kami adalah sebagian yang jahat

Kami adalah jiwa-jiwa yang rapuh disepanjang hidup manusia.

 

MAHASISWA  KEPADA  NEGARA

Kepada bangsa!

Kami adalah kumpulan para pecundang yang tak berdosa

Membiarkan anak anak kami bahagia di hari esok

Menaruh beras dan karung untuk sekedar diterka

Lalu tubuh kami kering dan kerontang

Bibir kami basah sekejap memecahkan langit

Lalu berbaring dan membusuk

Hati kami terenyu tak sempat kami saksikan kematian pak soekarno

Dalam ceritanya di tembak mati oleh pak harto

Bangsa dibeli dengan hasil uang kami

Kepada Negara !

Hari ini sumpah kami berbeda

Sekedar bercanda tikus berdasi tak pernah mati

Mereka semakin bercengkrama dengan puisi

Buku dan  mulut kami dibakar api

Bangsa  dijadikan tumbal peradaban

Keperawanan bangsa diambil paksa

Tubuh tak berdosa merasa puas dan perkasa

Padahal  tubuh yang ranum  tak boleh tinggal diam

Membahasakan puisinya sendiri  kedalam masa lalu

Luka ini terlalu parah untuk sekedar disembuhkan

hati kami hampir rapuh

beribu mahasiswa berlomba menyeret dasi dasi

tak hanya  makanan yang busuk dan basi

ternyata agama telah ditinggal mati

lalu pergi melarikan diri ke ujung sunyi

kepada politisi !

silahkan tumpahkan hati kami yang sunyi

darah tuhan tak pernah mati

aku akan tersenyum melawan diri

karena itu bunuh lah kami

dalam kesesatan yang berbeda

tubuh akan tetap bangkit

suara rakyat adalah senjata sejati yang tak pernah mati.

27 september 2016

 

Dibulan agustus

Malam telah dingin

Menyeruap pada tulang belulang

Yang menggigil diterpa angin

Membawa arus  penyakit menyanyat merasuk jiwa

Seakan pudar dalam angan

Seakan pudar dalam kelam

Mengganti musim pada bulan agustus

Adalah rindu pada ikhtiar  para santri

Yah, aku menahan sakit

Pada sekur tubuh

Lalu kau setia menemaniku disepanjang malam

Sahabat sejati ku

Adalah kebahagian dimusim musim

Tak sadar air mata ku mengalir deras.

08 januari, 2017

 

Menutup senja

Sebenarnya kelelahan telah mencapai puncaknya

Luruh dan gelisah melebur air mata

Secercah harapan dulu hampa

Rindu sekian lama membelah samudra

Ada yang hilang

Ada yang merindukan senyuman malam

Saat sepi dan tertawa

Mungkin saja kau disana

Menggeluti sakit hati mu yang lama

Biar kita buang air yang keruh

Aku ingin mengenalmu kembali

Yang terlahir tuk ku miliki

Maafkan aku yang kaku

Maafkan aku yang lalu

Karena berani menutup mata

08 desember 2016

 

*)M.elshoby  atau Maisyaroh el-shoby  Lahir pada 18 Juli 1997 di Pasongsongan Sumenep. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah Usymuni (STITA). Saat ini, nyantri di PP. Aqidah Usymuni Tarate PandianSumenep. Juga aktif bergiat di LSA (lembaga santri aktif) CANDRA dan UKM  Komunitas  Pelar  STITA Sumenep, no. hp: 085104004932

 

[Cerpen] Bocah Penyihir dan Perempuan Bertatokan Kesedihan

oleh: Ferry Fansuri

Pagi itu di Akwan Ibom seorang bocah mengais sampah untuk menyambung hidupnya. Bocah sekecil itu bertelanjang mengaduk-aduk sisa-sisa makanan diujung jalan itu. Tubuhnya yang kurus kerontang dengan perut buncit penuh cacing, sekujur punggungnya penuh luka akan siksaan masyarakat Uyo-Nigeria Selatan. Mereka menyebut bocah itu pembawa sial, kerasukan atau lebih tepat penyihir menyebarkan teluh jahat.

Badannya hitam legam bermata sayu merah itu mengunyah dan mengerat daging busuk yang telah dikerubungi lalat-lalat kotor. Ia tak tahu apakah itu bersih atau menyehatkan buatnya, hanya insting layaknya binatang untuk menghapus lapar dan dahaga. Bocah ini tak punya pilihan, dilahirkan tapi tak inginkan dan dibuang oleh orang tuanya. Dianggap bukan bayi normal, lahir dengan abnormal cacat.

Tidak ada baju sehelai ditubuh bocah ini, terik matahari dan hujan tak dihiraukan sama sekali. Kaki-kaki kecil itu hanya berbalut kulit tanpa alas menjejakkan bumi bercampur lumpur. Ia tak tahu siapa bapak ibunya, lahir menangis sekarang berkeliaran dipasar itu tak dihiraukan sama sekali.

Sekitarnya ada yang peduli tapi takut untuk dekat bocah ini, cap penyihir akan membawa kesengsaraan dan kepedihan. Mereka hanya bisa membuang sisa-sisa makanan dan dilempar ke hadapan bocah itu. Tangannya meraih tak berpikir lama memasukkan kedalam mulut, air liur menetes disela-sela bibirnya.

Tak mempunyai tempat tinggal dan malam harinya  ia tertidur diujung pasar itu, paginya ia bangun tak ada rengekan anak kepada ibunya atau gelayutan manja seorang ayah. Bocah ini hanya duduk termenung terkadang mengigil kedinginan menahan kantuknya sambil mengucek-ngucek matanya penuh dengan kotoran belek. Mengaruk-garuk kepala yang penuh luka bercampur kutu dalam rambutnya

Biarpun anak sekecil itu tapi Tuhan masih sayang dia, tubuhnya terlihat ringkih ada kekuatan dalam tubuhnya menolak untuk mati. Tetap hidup seperti menantang orang-orang yang memandang atau mencaci makinya. Kalimat kotor yang disampaikan ke bocah ini tak dimengerti olehnya.

“Kau pembawa api ditanganmu, kau anah haram jadah..cuiih!” hujatan dan cibiran berbalut ludah diarahkan kepadanya.

Tapi ia tetap diam dan tak mengerti apa yang mereka perbuat pada dirinya dan apa salahnya kepada mereka.

Terkadang suatu malam yang sunyi, bocah ini duduk sendiri memandang bintang di langit. Dalam benaknya mengapa aku dilahirkan jika tidak diakui, bahkan ia tak tahu namanya sendiri dan tak sempat mengulum tetek ibunya sendiri. Tak bisa merasa kesenangan anak kecil sepertinya lainnya, bermain bola atau saling berkejaran mengejar matahari terbenam.

Hal yang ia bisa lakukan hanyalah bagaimana melawan rasa lapar dan haus yang berada di dalam perutnya. Cacing-cacing dalam perutnya terus berontak dan minta jatah pada tuannya yang masih kecil ini. Ia hanya tahu bertahan hidup, memungut makanan yang ditinggalkan pemiliknya dan minum air sisa dari botol yang terceceran di ujung jalan itu.

Suatu ketika bocah ini berusaha mendekati kerumunan anak seusianya yang sedang bermain bola. Sifat kekanak-kanaknya itu membuat mendekati mereka untuk ikut bermain, saat bola yang diperebutkan mental kearahnya dan kaki kecil tak kuasa menendangnya mengenali salah satu anak tersebut.

Sesaat itu terhenti keriuhan disana, mereka memandang bocah ini dengan tajam seakan sangat membencinya.

“Penyihir cilik…penyihir cilik…pergi kau! Tubuhnya tak diundang disini” teriak salah satu anak disana. Mereka kompak menghujat bocah ini, melempari ia dengan batu dan mengenai kepala. Lemparan-lemparan itu membuat kening mengucur darah, tidak kepala bahkan sekujur tubuh tapi bocah ini tak pernah sekalipun menangis. Orang sekelilingan hanya diam dan tidak berbuat apapun karena hanya mengiyakan perbuatan anak-anak mereka.

Malam ini bocah penyihir ini berselimut dingin dengan sekujur tubuh penuh luka tapi ajaib luka cepat mengering. Masyarakat Uyo mengira bocah sial itu menjadi bangkai mati dan lenyap kesialan di negeri itu. Tapi paginya anak ini tetap hidup dan mengais-gais sampah dekat pasar itu lagi dan mengerat daging busuk kembali. Tuhan memang sayang sama anak satu ini, ada rencana lain buatnya.

Sudah ratusan anak menjadi korban tuduhan penyihir yang menyisahkan pedih jika melihatnya. Tuduhan tidak masuk akal untuk anak kelainan fisik, indigo atau terlihat aneh tidak seperti anak umumnya. Sekte gereja orthodox setempat mengklaim anak-anak ini kerasukan setan dan harus diusir, penguasa tidak berbuat apapun karena kemiskinan menguasai semua lini kehidupan Akwan Ibom.

Malam itu seperti malam lainnya, bocah ini duduk sendirian memandang langit matanya dan disampingnya ada seekor anak anjing yang tengil kotor disampingnya. Tanganya mengelus-mengelus kepala anjing ini

“Kau kesepian juga, akupun demikian” ujarnya biarpun anjing tak tahu apa yang dikatakan dan hanya menjulur-julurkan lidah.

“Andai dunia ini kiamat dan tak ada satuppun orang hidup. Maukah kau jadi temanku”

“Orang-orang membenciku, apa kau juga membenciku?”

“Guuuk…guukkk” timpal anjing tapi tak tahu apakah jawaban iya atau tidak sambil mengibas-gibaskan ekornya.

Percakapan bocah ini dan anjing jadi penghias mimpi malam ini yang dingin menusuk tulang

 

**************

Berita tentang bocah penyihir ini menjadi viral di medsos dan didengar kantor berita lokal dan luar. Mereka berduyun-duyun turun ke Akram Ibom untuk mendokumentasikan bocah ini, semua awak kamera menyorotnya jepretan kilat kamera bersambungan menyilaukan mata. Pewarta ini diingatkan masyarakat setempat agar meliput dari kejauhan, polisi juga memasang garis pembatas agar tidak terlalu mendekat kuatir ada jurnalis asing menyentuh bocah ini menular dan membuat citra negeri jelek dimata dunia luar.

Tapi bocah ini tak terlalu peduli akan media yang datang, semua aktivitas diiikuti terus dari ia bangun, berak, kencing sampai ngupil semua tak luput dari sorotan mata kamera media. Esoknya koran pagi terbit sore lokal muncul foto-foto bocah ini, tivi-tivi asing mengulas jadi headline “Bocah Penyihir Akram Ibom” bahkan dilakukan penelitian para peneliti sampai talkshow.

Berita bocah ini menaikkan rating televisi dan oplah koran, ini membuat para pembaca dari luar negeri berdatangan. Turis-turis berduyun-duyun ke Uyo melihat bocah ajaib, datangnya wisatawan ini membawa berkah masyarakat sekitar. Geliat ekonomi mulai naik, devisa uang dollar masuk. Banyak masyarakat sekitar membuka warung dadakan, suvenir dibuar, kaos disablon atau gantungan kunci dibuat.

Selama ini kemiskinan jadi momok sekarang tidak lagi berkat bocah ini, bocah sial ini membawa peruntungan tapi masyarakat Uyo tetap mengganggap hanya sebagai binatang yang ditonton menghasilkan uang bagi mereka

Layak hewandi kebun binatang, turis-turis itu melihat dari kejauhan dengan penjagaan polisi ketat. Bocah ini tak peduli, ia tampak duduk diatas tanah yang kotor berlumpur. Banyak makanan dan minuman dilemparkan ke bocah ini, layaknya monyet mencari pisangnya bocah ini memungutnya. Tepuk riuh kerumanan bergelegar mirip suporter bola saat tim kesayangan menceploskan gol ke gawang lawan.

Berminggu-minggu sampai berbulan pertunjukukan bocah penyihir ini digelar bahkan dikarciskan. Ekonomi penduduk setempat beranjak dari taraf rendah ke menengah atas, para istri bisa membeli perhiasan gelang atau kalung emas yang bisa dipamerkan atau para bapak bisa membeli motor dan para anak memakai baju bagus. Semua itu karena pertunjukkan konyol bocah itu, memang ironis pemandangan tersebut.

Mata sayu bocah ini suatu saat menangkap hal menarik dalam kerumunan itu, sepasang mata itu tampak indah. Mata kiri dengan bola mata biru sedangkan sebelah kanan perpupil hijau. Tapi ada pancaran kesedihan, tapi seperti ada tetes mata mengalir dibawah kelopak mata….ah bocah ini hanya melihat sekilas. Bocah melanjutkan aktivitasnya mengejar dan bermain dengan sabahat anjingnya.

Setelah berbulan-bulan para turis dan awak media luar meliput fenomena ini terjadi kebosanan. Redaktur media menarik crew untuk meliput headline lainnya yang lebih bombastis, turis juga bosan tidak ada yang dilihat dari Uyo selain bocah ini. Sedikit demi sedikit pengunjung berkurang, warung-warung tutup bertumbangan, masyarakat sekitar kehilangan pekerjaan mata pencaharian. Para ibu menggadaikan perhiasan, motor para laki-laki ditarik dealer karena menunggak angsuran. Pada akhirnya kemiskinan kembali ke Akram Ibom, ke awal sekali lagi.

Kejadian ini membuat kemarahan, orang-orang disana menyalahkan bocah penyihir itu kembali.

“Ini gara-gara bocah laknat, kita miskin lagi”

“Pembawa sial !”

“Tukang sihir !”

“Kita bunuh saja !”

“Cincang !”

“Bakar hidup-hidup!”

Semua caci maki dan hinaan sahut menyahut, malam itu mereka membuat rencana busuk

 

******************

Kesunyingan tampak pagi hari itu, deru debu berkibar terkena angin. Kota itu tampak sepi tapi diujung gang tersebut bermunculan wajah-wajah penuh ketegangan dan kebencian, hawa membunuh tersirat disana. Tidak hanya laki, perempuan dan anak kecil di tangan memegang golok, pisau, rantai ataupun balok kayu. Tampak beringas terlihat seperti dari mata mereka memerah.

“Bunuh anak itu!”

“Habisi !”

“Potong-potong, kasih daging buat makanan anjing!1”

Teriakan-teriakan itu membahana di seantero kota, mereka mencari anak itu tapi kebetulan tak tampak batang hidungnya. Mereka terus mencari dan mencari dengan tujuan menghabisi sang pembawa sial kota mereka. Amarah memucak diubun-ubun dan iblis sudah merasuki mereka tapi tak ketemukan buat pelampisannya.

Terlihat bocah itu bermain dengan anjing tengiknya dipinggiran kali kota ini, kerumunan nan beringas langsung merangsek

“Itu dia, gayang! “

“Jangan sampai hilang”

“Bunuh!

Bocah tak tak tahu kenapa orang-orang ini berlari-lari kearahnya dengan membawa beda-benda tumpul itu. Maka terjadi pembantaian sore hari itu, berbagai pukulan, tendangan, sayatan pisau dan sodokan balok kayu menghantam bocah ini. Setelah puas, mereka menginjak-injak ini di atas tanah. Tubuh itu bersimbah darah tergeletak disamping anjingnya yang lebih dulu dicincang.

Merasa bocah ini telah menghembuskan napas terakhir, jasad dibuang di tumpukan sampah berharap membusuk dan dikerat anjing liar.

Tapi mereka begitu kaget, bahwa esok bocah ini masih berdiri tegak mengais sampah kembali. Betapa geram masyarakat Uyo bahwa buruan tidak mati seperti binatang.

Hajar lagi!

Hidup kembali

Hantam sanan sini!

Tegak berdiri

Itu terjadi berulang-ulang hingga pembantaian ke-13 mereka membiarkan bocah ini di tengah lampangan hingga malam. Kali ini mereka percaya bahwa setan dalam tubuh bocah sudah lenyap dan mereka kembali ke rumah mereka masing-masing. Dan tak sadar ada mata yang memperhatikan pambantaian mereka yang miris.

Tengah malam yang dingin jasad bocah tergeletak sendiri, ada seekor anjing mendekati mencoba menjilat-jilat muka. Tak dikira mata bocah ini perlahan membuka, anjing sepertinya kaget hingga lari terkaing-kaing. Bocah ini merangkak dari kematiannya lagi.

“Aku sudah lelah, kenapa tak kau matikan aku saja” wajahnya tengadah keatas langit penuh dengan bintang.

“Aku tak tahu apa salahku ? kenapa mereka memukuliku?

“Andai kau tahu jawabannya?”

Pekat malam itu ada langkah kecil mendekati ia, langkah itu berhenti didepannya.

“Kau ..kau seperti tidak asing bagiku. Mata itu..mata itu begitu indah”

Seorang perempuan mendekati bocah ini, seluruh badannya berkulit putih berajah tato dan rambut putih pirang bak emas berkilau di gelapnya malam itu.

Perempuan ini menyodorkan botol aqua ke mulut bocah sambil berjongkok

“Kau begitu cantik, matamu berbinar”

Mata itu layaknya pelangi, memancarkan harapan dan kesedihan. Kulihat airmata itu meleleh dari matamu tapi itu bukan airmata itu sebuah tato airmata. Kenapa kau tato matamu? Apakah kau membenci kebahagian? Kenapa kau menolongku tidak seperti lainnya menghujatku? …ah aku tak tahu jawabannya.

Kau ulurkan tangamu, kau selimuti aku dengan selimut dan kau gendong aku. Begitu hangat.

Kau ajak aku pergi dari kota sialan ini, pergi jauh dari kota ini. Mereka pasti senang bahwa aku sudah tidak ada, menghilang tanpa bekas dan tidak memberikan kesialan lagi kota ini.

Dalam dekapanmu kurasakan degup jantungmu, lama tak kurasakan ini.

Karena setelah ini dan esok kau kupanggil MAMA.

 

Surabaya, Februari 2017

 

Puisi Maulidan Rahman Siregar

PENYAIR HESTI

penyair hesti menulis puisi

peri hati dan lapar imaji,

dibagi-bagi, dipisahkan mana

madu mana belati, apa yang

terjual dan siapa pembeli

 

selain puisi, sehari-hari

penyair hesti mengaji

mencari siapa betul yang

meminta Adam makan pohon kuldi

 

jangan-jangan bukan setan

barangkali ada pengecualian

gemuruh penyair hesti di dada kanan

 

di ujung kata, penyair hesti bilang

pada dadanya yang lapang bahwa kadang

saya hanya menduga-duga

jangan kejar saya dengan babi yang buta

2016

 

TIDUR, PUKUL SEPULUH MALAM

Tidur bersama buku-buku

tingkahi setiap putaran waktu, menari

menyanyi, riang semesta

du du du…

 

usah kawan, jangan diamkan

lirih hati yang memanggil

ke arah kebenaran

ke arah tenang

 

mengejar masa lalu

sembunyi di bilk hari depan

tulis sesuatu

nyanyikan bila perlu, du du du…

akhir kata

tolong maafkan

kesalahan tak untuk dimakan

 

kau melayang, kau terbang

du du du…

 

YUNUS IBRAHIM DIMAKAN MALAM

la ila ha illallah

kau bertemu gelap maha gelap

gelap lautan, gelap malam

gelap perut ikan

 

kau dibakar atas nama tuhan-tuhan

yang sebenarnya tak pantas dituhankan

 

api tunduk di hadapan

tak ada kuasa lain bagi orang-orang

selain heran

 

la ila ha illallah

kau bernyanyi seperti band indie

2016

 

DOA PENGHILANG KABUT

ya Tuhan, tidurkan Mikail

kami sedang ingin berburu

untuk hidup yang selelu tergesa

 

nanti dulu kirimkan air

kami butuh uang untuk beli air

 

ya Tuhan, tidurkan Mikail

dongengkan kisah cinta, tentang

Adam yang diusir, tentang Hawa

yang penasaran

2016

 

SATE PADANG

hujan, hujan kau tetap mengipas

asap minyak mengepul ke udara

setiap yang berhenti adalah pembeli

 

malam telah larut

dingin-dingin kau berdoa,

“semoga biaya pendidikan menurun

dan buku-buku dapat diunduh gratis”

 

tinggi asap ke udara

memanggil kaum yang menggigil

selamat datang, hai mata uang rendah

Tunggul Hitam, 2016

 

LELAKI PATAH KEMUDI

nasib sepantun dengan tepian patahan

digerus terus digerus air lalu

siap-siap untuk habis

siap-siap hilang

 

menjadi yang diam di lautan

diam batu karang

diam ketika pasang

diam bila surut

 

dijemur mentari

dieram hari esok

biduk sansai menghitung untung

rugi melulu sekujur detik

 

ya Allah, ya Allah, kau panggil

apa yang bisa diselesaikan sablon kaos

2016

 

BAGAIMANA PUISI MENYELESAIKAN INI

aku mencintaimu, dan berpikir keras

bagaimana puisi menyelesaikan ini

 

kurangkai bunga manis bahasa

rima seluas samudera

dalam bola mata

 

cahaya sebagai haluan

memilih singgah atau lanjut

berjalan

2016

 

BERTEDUH, MENEPI

hati kita tak lagi bersua,

meski rindu tak ujung reda.

Seperti butir habbah* yang dipatuki merpati

peziarah, aku bersedia tiada.

 

Siiruu!**, kau kata

tak usah pamit

jangan lagi meminta.

2016

* = Habbah adalah sejenis gabah. Dinukil dari cerpen Triyanto Triwikromo.

**= Pergilah (Bahasa Arab)

 

BIODATA PENULIS

Maulidan Rahman Siregar, lahir di Padang, Sumatera Barat, 03 Februari 1991. Menyelesaikan pendidikannya di IAIN Imam Bonjol Padang. Kini tinggal dan bekerja di Padang Pariaman. Puisinya disiarkan Haluan, Singgalang, Padang Ekspress, DinamikaNews, Metro Riau, Harian Rakyat Sumbar, Mata Banua, Buletin Jejak, Buletin Tubuh Jendela, Biem.co, Brikolase.com, DetakPekanbaru.com, Riaurealita.com, tarbijahislamijah.com.

[Cerpen] Kisah Hujan dan Summer

Oleh : Nanda Dyani Amilla

 

Januari hampir habis. Hujan tidak pernah datang lagi meski hanya sekadar rintik. Dia memilih bersembunyi dalam mendung yang kelabu. Entahlah apa sebabnya, aku sendiri kadang-kadang sangat merindukan hujan, meski kini aku tidak bisa terang-terangan mencintainya. Bian, laki-laki berambut cokelat yang mempunyai alasan kuat mengapa aku begitu mencintai hujan. Dia senang mengajakku menari di bawah hujan. Merentangkan tangan lebar-lebar dan membiarkan tetes hujan membasuh wajah secara perlahan. Bian bilang, hujan adalah kebahagiaannya. Hujan adalah kecintaannya setelah aku.

Aku lebih suka menamai Bian dengan sebutan hujan. Sejak kali pertama dia mengenalkanku pada ribuan tetes air langit itu. Di bawah senja, di sebuah halte pinggiran kota. Kala itu, Bian memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Sambil tersenyum, dia banyak bercerita tentang kecintaannya pada hujan. Katanya, hujan adalah teman terbaik dalam mengingat sesuatu. Hujan adalah momen terbaik untuk mengadu pada sang pencipta raga.

Berbulan-bulan lamanya, aku semakin akrab pada hujan. Aku bahagia jika hujan datang. Aku bahagia jika hujan berkunjung. Hidupku seolah terpenuhi oleh hujan. Aku tidak butuh yang selain hujan. Hujan bisa menenangkan gundahku, bisa meminimalisir lukaku, dan bisa menjadi penyebab tawaku. Hujan adalah segala, meski banyak orang menyumpahserapahinya.

Hingga suatu ketika, hujan tidak pernah datang lagi. Hujanku tengah sibuk dengan aktivitasnya. Panggilanku diabaikan, pesanku dibiarkan. Hujan tak lagi ingin menemuiku meski aku sangat ingin bertemu dengannya. Hujan bilang, semuanya sudah berakhir. Masa-masa sejuk dan dingin itu sudah sirna. Sebentar lagi summer akan datang.

Aku mengatakan padanya bahwa aku hanya mencintai hujan. Aku tidak butuh summer. Aku hanya ingin menari di bawah hujan. Aku juga hanya ingin berdoa banyak-banyak saat derasnya hujan. Lantas, apa yang bisa aku lakukan jika hujan tak ada dan summer tiba?

Hujan datang tepat di malam aku menangisinya. Dia mengetuk kaca jendela kamarku, berbisik bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi bagaimana bisa, sedangkan kini lukaku bertaburkan namanya. Berdarah-darah hingga aku tak berdaya. Aku tidak menyukai summer. Aku tidak ingin summer ada. Tapi hujan seolah mengejekku, bilang bahwa aku terlalu arogan menyikapi semuanya. Kesukaan adalah hal yang tumbuh dari kebiasaan. Hujan bilang, kesukaanku padanya pun tumbuh bersebab kebiasaan. Maka dari itu, kehadiran summer kelak, mungkin saja juga menjadi kecintaanku. Tapi, aku enggan mendengarkan celoteh hujan. Aku menutup telingaku dengan bantal besar. Lalu menangis sesenggukan, semerdu lagu cinta kesukaan kami berdua.

Aku tidur dengan airmata yang berserakan di pipi. Hujan benar-benar telah pergi. Pagi ini, summer untuk pertama kalinya, menyapaku dengan hangat. Cahayanya menerpa wajahku lembut. Kehangatannya memberikan kesan positif di hati, not bad, aku membatin. Hari-hari berikutnya, summer lah yang menemaniku. Aku menemukan sosoknya ketika memungut daun jatuh di depan toko kue itu. Dia melambaikan tangan dan mengajak berkenalan. Sore itu, aku tahu bahwa ia bernama Biru.

Biru sangat berbeda dengan hujan. Dia menyukai Mars. Dia menyukai senja. Juga menyukai cokelat panas. Dia tidak suka hujan. Katanya, hujan itu hal terburuk yang pernah ada. Jika saja aku tak mengenalnya sebagai kekasih baruku, tentu aku akan marah besar padanya. Berani benar mengatai hujanku adalah hal terburuk. Hujan itu adalah yang terbaik. Hujan adalah saat terbaik untuk memanjatkan doa. Meminta banyak-banyak pada Tuhan agar dihadiahkan banyak berkah. Lantas, mengapa Biru tak menyukainya?

“Bagaimana kalau kita menari di bawah hujan. Sekali saja.” Pintaku kala itu.

Biru menggeleng, “Aku tak suka hujan, Mia. Hujan membuat tubuhku flu. Lebih baik kau ke sini, dengarkan aku bercerita tentang Mars. Planet merah dengan banyak cinta. Kau mau mendengarnya?”

Aku terdiam, berkedip dua kali, namun menurut. “Kau tahu kenapa aku suka Mars?” Biru bertanya. Aku menggeleng, menatapnya menunggu jawaban. “Karena di Mars tidak ada hujan,” katanya tajam. Aku melirik Biru dalam. Mengapa dia menekan kata hujan di kalimatnya? Sebegitu bencinyakah ia pada hujan? Atau dia tahu alasan mengapa aku kini sangat mencintai hujan? “Dan tidak akan ada hujan di langit senja!” lirihnya. Aku terdiam.

Hari-hari berikutnya, kunamai dia dengan sebutan summer. Dia benar-benar summer untuk hatiku yang dingin. Dia suka bercanda dan melontarkan banyak jokes, namun aku terus saja menyisir kenangan bersama hujan. Mengais-ais masa lalu dengan ketidakpastian. Apa kabar hujanku? Kapan dia akan datang lagi? Aku rindu bermain di bawah rintiknya. Tertawa-tawa melepaskan segala beban yang terasa. Aku bahagia bersama summer, tentu saja. Namun aku lebih bahagia jika bersama hujan.

Kabar hujan datang ketika malam itu kuputuskan meneleponnya. Hujan memberi kabar beserta guntur yang bersahut-sahutan. Menyambar gendang telingaku tanpa ampun. Minggu depan, hujanku akan menikah. Aku tergugu. Apa yang akan aku katakan selanjutnya? Sambungan telepon masih tersambung. Apakah mengatakan selamat adalah yang terbaik? Atau mematikan sambungan telepon dengan alasan jaringan yang kurang bersahabat?

Malam itu, kuputuskan untuk tertawa dalam airmata. Kami bercanda seperti biasa. Namun hatiku terluka karenanya. Dia menyebutkan bahwa gadis itu cantik luar biasa. Bahkan aku tak sudi membayangkannya. Bagaimana mungkin aku membayangkan gadis yang sudah merebut hujan dariku? Hujan tetap tak menyadari bahwa aku begitu mencintainya. Usai bertelepon, airmataku luruh satu-satu. Hingga akhirnya menderas dan membuat bantalku basah.

Musim hujan benar-benar sudah berlalu. Masa-masa membahagiakan sudah usai. Tak ada lagi yang tersisa selain duka lebam yang dicongkelnya dengan geram. Panah yang ditancapkan hujan terlalu dalam hingga melukai hatiku. Sejak malam itu, aku berusaha menerima summer. Mencintai summer apa adanya. Mencintai cerita summer tentang Mars yang penuh cinta. Dan sejak malam itu pula, aku berhenti mencintai hujan. Berhenti menangisi tentangnya. Berhenti mengharapkan kedatangannya. Meski kerapkali, hatiku tetap setia menyusuri kenangan.

 

 Biodata Penulis :

Mahasiswi FKIP UMSU, Semester 6, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Penulis puluhan antologi cerpen dan puisi. Novel perdananya berjudul “Kejebak Friendzone” akan segera terbit dalam naungan Novela, Bentang Pustaka. Sapa ia di email : dyani.nanda@gmail.com atau intip galerinya di instagram : gadishujan_

[Cerbung] Seperti Laut — Bag. I

Cerbung:  Daruz Armedian

Di langit, mendung-mendung bergelayut pelan. Hitam. Kelam. Kemudian tak terlalu lama menurunkan gerimis. Gerimis yang tipis. Membasahi rerumputan di depan beranda kos-kosan.

Di sini, pertengkaran dimulai. Aku yang bukan siapa-siapa, tidak mengerti apa-apa, cuma diam dan mendengarkan dari kamar kosku sendiri. Pertengkaran itu dari dua insan. Laki-laki dan perempuan. Pertengkaran yang memecah ritmisnya hujan. Pertengkaran yang begitu memuakkan. Pertengkaran yang merusak konsentrasi seseorang sedang membaca buku, sepertiku.

“Sya, ini salah kamu! Mengapa kamu tak menepati janji ke bandara kemarin pagi?!” teriak lelaki itu. Sebenarnya tidak semata-mata teriak, tapi juga membentak. Aku tidak tahu yang sejelasnya dia siapa. Barangkali mungkin pacar Alesia.

“Ha? Salah aku? sebagai laki-laki, harusnya kamu tahu. Harusnya kamu tuh, nyadar kalau aku memang benar-benar tidak bisa datang waktu itu. Kan sudah aku sms!” bantah Alesia, perempuan yang identitasnya sebagai temanku. Bukan hanya itu, teman dekat. Bahkan dekat sekali.

“Tidak! Aku tak percaya sama kamu. Bulshit! Jika aku yang minta, kamu pasti punya alasan begini begitu, tidak pernah satu kali pun menghargai aku!”

“Iya, iya, memang aku selalu salah di mata kamu. Selalu tidak berarti. Apa ini yang kamu namakan sebagai cinta? Ha? Cinta?” suara Alesia meninggi.

“Terserah apa katamu. Harusnya—“ suara si lelaki terpotong.

“Kamu seorang lelaki tak bisa menjaga hubungan. Aku sudah tahu segalanya. Jangan lagi mengelak. Aku sudah tahu kalau kamu selingkuh. Kamu—“

“Bodoh! Itu salah kamu. Harusnya kamu yang nyadar kalau aku juga butuh seseorang waktu itu.—“

Pembicaraan saling potong-memotong. Semakin panas. Semakin garang.

“Kamu laki-laki cemen!”

“Apa katamu?” kata si laki-laki

“Kamu laki-laki cemen! Habisnya tidak pernah ngerti perasaan perempuan!”

Plak!

Terdengar suara tamparan. Aku tergidik. Aku takut bila pertengkaran itu semakin menjadi-jadi. Tidak hanya adu mulut tapi adu fisik. Tentu Alesia perempuan yang lemah akan kalah. Laki-laki tidak tahu diri, batinku.

Aku masih di sini. Di kamar kosku sendiri. Duduk bersandar dinding di balik kamar kos Alesia. Di luar sana, gerimis sudah berubah menjadi hujan. Meski tidak terlalu deras, cukup untuk membuat suara pertengkaran semakin agak kurang jelas. Buku yang sedari aku pegang, kini kuletakkan di meja kecil dekat laptop. Simakanku menjadi serius. Sebab setelah tamparan itu, kini terdengar ada tangisan. Selain itu sudah tidak ada lagi suara-suara yang lain.

Alesia menangis sesenggukan. Agak lama tidak ada pembicaraan lagi.

Aku merutuk dalam hati. Agak lama tidak ada yang kubaca lagi.

Laptop kumatikan. Ternyata tebakanku salah. Masih ada perbincangan-perbincangan yang lain.

“Lelaki bajingan!” teriak Alesia yang membuatku merinding. Entah akan ada apa lagi setelah perkataan itu. Aku hanya bisa berharap tidak ada yang lebih mengerikan daripada tadi.

“Beraninya sama perempuan!” lanjut Alesia. Aku tidak kaget lagi omongan-omongan kasarnya. Sebab dari dulu memang seperti itu. Judes.

“Kamu perempuan munafik! Kita putus!” suara itu menggetarkan. “Tak ada lagi hubungan di antara kita.”

Aku terus menyimak dan menyimak. Semakin kupincingkan telinga. Pada saat itulah…

“Oke, kamu, kamu, jangan per—“

“Jangan banyak omong!”

Prang!

Suara gelas pecah. Seperti sengaja dibanting. Aku tak mau ikut campur dalam urusan yang serba kacau seperti ini. Nanti saja, setelah lelaki yang di dalam kamar kos Alesia itu pergi. Setelah gelas pecah, kudengar gebrakan pintu ditutup. Kembali lagi suara tangisan itu ada. Kali ini lebih memilukan daripada yang tadi.

Tak berapa lama, dari balik pintu yang terbuka sedikit, aku lihat lelaki itu pergi setelah hujan agak reda. Masih ada tetes sedikit-sedikit menyerupai embun pagi. Dengan langkah cepat menuju sepeda motornya yang sedari tadi bertengger di parkiran kos.  Orangnya sepadan denganku. Hanya saja dengan jaket tebalnya itulah yang membuat terlihat lebih gagah.

Seperginya lelaki itu dari sini, dari lingkungan kos-kosan, masih kudengar sesenggukan dari dalam kamar kos Alesia. Sebenarnya aku ingin ke sana, tapi nanti dulu setelah ia tenang dari masalahnya. Dari tangisnya.

Kurebahkan tubuhku di kasur lantai. Ah, ada-ada saja di dunia ini.

Alesia adalah tetanggaku. Ketika hendak kuliah di Jogja, ia dipasrahkan orang tuanya padaku. Mereka kenal betul denganku. Sebab rumahku dekat sekali dengan rumah mereka. Sedangkan Alesia sendiri, bukan hanya kenal betul denganku, tapi ia seperti adik.  Sungguh, ketika pelajaran apa pun, ia sering minta bantuan denganku. Ia bukan sekelas denganku, dulu. Tapi adik kelas di sekolahan yang sama. Sehingga, kadang-kadang aku dan dia sering berangkat bersama berboncengan.

Di sini, sebagai mahasiswa yang senior darinya, akulah yang harus menjaganya. Itu tujuan awal. Tapi, seiring dia mulai dewasa, dan sekaligus sudah bisa mandiri, aku juga harus mengerti. Setiap orang berhak menentukan kehidupannya masing-masing. Meskipun begitu, aku masih selalu menjaganya. Walau tidak seperti dulu. Sebab orang tuanya telah berpesan seperti itu.

Yang membuatku masih dekat dengannya ada beberapa alasan. Pertama-tama, ia ngekos di samping kosku. Sampai sekarang masih di sini. Karena masih sering minta bantuan masalah kuliahnya. Kedua, ia sering pulang. Setiap bulan pasti pulang ke rumah. Maka dari itu, aku juga sering nitip sedikit uang agar diberikan pada orang tuaku. Begitulah kedekatanku dengannya. Harusya ada beberapa lagi, tapi hal tersebut tidak terlalu penting buat cerita pendek ini.

Aku duduk kembali. Suara sesenggukan Alesia sudah berhenti. Aku mulai beranjak menuju kamarnya. Kuintip dari celah jendela, ia terduduk membisu. Pipiya masih basah oleh air mata.

“Sya,” panggilku pelan. Pelan sekali.

Alesia mendongakkan wajahnya. Mulutnya masih tetap membisu. Hanya saja matanya seperti bicara. Tentu dengan isyarat mata juga.

Aku membuka pintu. Bau harum semerbak menusuk hidung. Memang seperti inilah tempat tinggal perempuan. Yang masih gadis, maksudku. Kupandangi wajahnya dalam-dalam. Seperti ada luka yang begitu menyayat hatinya. Rambutnya acak-acakan seperti orang gila. Buka. Bukan. Maksudku seperti orang yang belum mandi dan belum merias diri.

“Kak,” ia angkat bicara. “Saat ini aku pengen sendiri dulu.” Terusnya pelan. Seperti panggilku tadi.

Aku menyadari itu. Sebagai mahasiswa psikologi yang hampir wisuda, aku memang harus seperti itu.

Aku kembali membuka pintu. Sebelum melangkah ke luar, mulut Alesia kembali berbicara. “Maaf, Kak.”

“Ya, Sya. Tenangkan dulu hatimu. Aku juga mau nerusin ngerjain skripsiku, kok.” Kataku tersenyum sambil berlalu. Masih kudengar lamat-lamat dari mulutnya sebuah kata maaf. Yang entah ke berapa kali.

**

Satu bulan berlalu.

Alesia masih seperti dulu. Tiap harinya dilalui dengan kelabu. Selalu murung. Setiap kali aku mendekatinya, ia bicara agar aku jangan mendekatinya. Ia masih ingin sendiri. Selalu begitu. Maka, kalau seperti ini terus. Akulah yang terluka. Entah apa sebab pastinya, aku tak tahu sekaligus tak mengerti.

Di pantai ini, langit sore cerah sekali. Biru-biru kemerahan. Atau merah-merah kebiruan. Aku rasa sama saja. Suasana seperti inilah yang kumau. Yang kutunggu. Apalagi sesekali ada sekawanan burung melintas, matahari yang condong ke barat seperti ingin menyelami laut dan memancarkan cahaya kekuning-kuningan. Semakin menambah jadi sempurna.

Di sini, aku menunggu seseorang. Sebagai pembaca yang baik pada cerita ini, tentulah kau tidak perlu menebak-nebak siapa orang itu. Pasti akan aku beri tahu. Aku menunggu Alesia. Seseorang yang cantik dan tidak lupa menarik. Dan ini sudah menjadi perjanjian, dia akan menemuiku sore ini.

Bersambung….

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai