Puisi Ahmad Ginanjar

Aku Ingin Menjadi Mereka

Ada gunung es membongkah

Di bungkuk tubuh

Setiap kita bercakap.

 

Ada danau berair hangat

Di pipi rekah mulut madu

Setiap engkau berkata-kata

Dengan mereka.

 

Aku hangat, engkau es

Aku gigil.

Aku beku, engkau panas

Aku gagal.

 

Mengapa bicara denganmu

Demikian sukar?

 

Harus menjadi apa aku denganmu?

Berpura-pura hura padahal haru,

Atau berpura-pura haru agar hura?

 

Atau bila kauminta aku menjadi selain aku,

Tikamlah aku lebih dahulu.

(2016)

 

Akulah Nestapa

Akulah nestapa,

Denganku kau bisa apa?

 

Tiada candle dinner

Di sebuah meja kafe mewah.

 

Tak ada kelopak mawar berpita

Sampai di pintu matamu

Yang rekah-mekarnya sepanjang duabelas keretek.

 

Tak ada tamasya taman, pantai, atau wahana pasar malam.

Sebab akulah goa sunyi yang berteriak lolong malang.

 

Akulah nestapa,

Bertahanmu sebab apa?

 

Sarapanmu kata-kata

Makan siangmu timbel sajak

Makan malammu lagu senyap.

 

Wisata kita tempat paling angker

Yang ditinggalkan manusia biasa.

Tanpa kendaraan,

Tanpa bekal.

 

Kalau aku nestapa,

Engkau masih siapa?

(2016)

 

 

Ahmad Ginanjar, lahir di Cianjur 24 Januari 1993
Guru Bahasa Indonesia SMA Al-Ittihad Cianjur
Penyair. Buku kumpulan puisi pertamanya berjudul “Lantai Dansa” terbit Maret 2014.

 

[Cerpen] Pelukis Gunung Semeru

 oleh: M. Rosyid HW

Lukisan yang tergantung di dinding ruang tamu itu tetaplah mempesona walau sudah kutatap setiap harinya. Semacam ada aura magis yang menyeruak, mencengkeram tatapan siapapun yang melihatnya. Segunduk gunung yang membiru sangatlah gagah sebagai algojo penjaga alam disekitarnya. Hijaunya persawahan dengan gemericik sungai yang mengalir laksana prajurit-prajurit penghias alam yang bestari. Sepotong mentari mengintip dari balik punggung gunung yang begitu kekarnya. Ah, lukisan yang sangat sempurna, tak jemu-jemu aku mengaguminya.

Keindahan lukisan tersebut kata mas Bedjo adalah pemandangan di belakang rumahnya. Persis di belakang rumahnya, di lereng Gunung Semeru. Karena itulah saat dia menawariku pekerjaan untuk membantunya di rumahnya, aku tak perlu pikir panjang-panjang untuk mengiyakannya. Dan kini, aku memang benar-benar melihatnya, lukisan karya Tuhan yang terbentang di bumi-Nya dan lukisan mas Bedjo yang tergantung di dinding ruang tamu rumahnya.

Sebagai orang kampung yang tak tahu estetika lukisan, aku memang benar-benar mengagumi karya-karya mas Bedjo. Lukisannya yang ratusan itu telah melanglangbuana dalam pameran-pameran yang tak terhitung jumlahnya. Yang lebih saya kagumi, dia punya jadwal khusus untuk melukis. Persis sekitar pukul lima pagi hingga pukul sepuluh pagi dan pukul tiga sore hingga pukul tujuh malam. Katanya, kemunculan mentari dan semburat mega merah di ufuk barat akan menambah energinya untuk melukis. Itu sudah dikatakannya berkali-kali, tanpa energi matahari yang terus bergerak aku mungkin tak mampu melukis sehebat ini. Seperti tumbuhan saja mas Bedjo ini, yang membutuhkan cahaya untuk berfotosintesis, candaku. Di jam-jam tertentu tersebut dia akan menghabiskan waktunya di sebuah ruangan di pojok rumahnya. Kamar itu terletak di samping rak-rak buku di ruang tamu, juga di samping lukisan gunungnya yang maha hebat itu. Kamar itu terkesan sangat mistis. Tak ada seorangpun yang pernah memasukinya kecuali mas Bedjo. Bahkan aku, tak diperbolehkannya untuk membersihkan dan menyapunya. “Biar aku sendiri yang membersihkannya Mak,” katanya suatu ketika. Saat pagi-pagi dia memesan kopi, dia juga tak memperbolehkanku masuk. “Taruh di depan pintu aja Mak!”Ah, pelukis memang punya dunia sendiri yang tak kupahami.

***

Hangat mentari menyusuri lekuk-lekuk wajahku yang berkerut. Di umur yang baru setengah abad ini badanku sudah lapuk dan tanganku tak sekuat dulu ketika memegang sapu lidi. Ah, aku iri melihat begitu gagahnya gunung Semeru yang bertahun-tahun tak pernah kusut dan lapuk. Walaupun terkadang-kadang meletus, tapi aku yakin Semeru tak sakit, dia hanya batuk-batuk dan sakit tenggorokan. Sepagi ini, dapat dipastikan mas Bedjo masih mendekam di kamar lukisnya. Aku juga tak mau terburu-buru memasak di dapur, udara segar di luar rumah dan daun-daun yang berguguran lebih menarik minatku.

Tiba-tiba, sebuah truk melintas melewati jalan depan rumah. Menderu-deru karena tak kuat menaiki tanjakan. Di belakang deknya, tetes demi setetes air mengucur. Sepertinya truk itu mengangkut pasir, batinku. Aku heran, kenapa ada truk sepagi ini, lagipula arahnya ke atas bukan ke bawah seperti truk-truk yang lain yang mengangkut pasir dari lereng gunung. Mungkin salah satu tukang angkut pasir atau sekop atau cangkul tertinggal di lereng, aku membuyarkan keherananku.

“Den, tadi ada truk membawa pasir menuju ke lereng. Biasanya turun ke bawah, kok truk ini naik ke atas,” laporku ke mas Bedjo.

“Mungkin, ia meninggalkan sesuatu di atas,” papar Mas Bedjo kalem, terkesan cuek.

“Mak, nanti aku dibuatkan teh hangat ya, aku tunggu di kamar. Seperti biasanya, gulanya jangan banyak-banyak dan taruh di depan pintu saja.”

Tak seperti biasanya, Mas Bedjo sarapan pagi cepat sekali dan langsung menuju kamarnya. Pikirannya hanya mengarah bahwa pekerjaannya menumpuk dan imajinasinya sedang membara.

Lewat tengah hari, saat aku sedang mengepel lantai ruang tamu, sebuah truk melintas dan lagi-lagi menaiki bukit. Menjelang mentari menghilang, sebuah truk melintas lagi. Aku semakin heran. Saat makan malam, aku mengutarakan keherananku kepada Mas Bedjo, dia menjawab sekenanya.

Hari makin hari, truk-truk yang menderu-deru semakin banyak. Bahkan tidak hanya truk, seingatku ada dua mobil yang melintas. Satu berwajah colt dan berkaki pick up, satu lagi berwajah kidjang dan berkaki pick up pula. Aku juga tak tahu apa saja barang-barang yang diangkutnya. Hari itu, hari ke tujuh semenjak kedatangan truk pertama, saat mega-mega oranye mewarnai awan di atas gunung semeru, sebuah mobil fortuner warna putih tertatih-tatih menaiki lereng yang terjal.

***

Kopi yang dibuatkan Mak Eni masih mengepul hangat saat kuselesaikan sebuah lukisan yang akan dipamerkan bulan depan. Kilau secercah titik mentari yang menerpa serpihan lereng Semeru, membuat gunung itu terlihat begitu mempesona. Pemandangan itu terekam dalam memoriku dan kini telah berpindah ke dalam kanvas. Nafasku menghela lega ketika lukisan itu telah selesai dengan sempurna. Ah, akhir-akhir ini jadwal pameranku begitu padat.

Sebagai seorang pelukis gunung, pelukis gunung Semeru tepatnya, aku harus mampu mencari sudut pandang yang beragam, taburan cahaya yang berbeda, dan sebuah tempat yang strategis untuk melukis Semeru. Maka, aku membangun sebuah rumah di lereng ini. Kemudian aku membuat kamar khusus yang kupergunakan untuk bekerja. Dikamar itu aku bergelut dengan kaleng cat aneka warna yang tumpah ke mana-mana. Harum semerbak perpaduan antara air cat dan goresan kanvas lah yang membuatku sangat betah berlama-lama di kamar ini. Di ujung kamar ada sebuah kaca yang sangat lebar, kira-kira seukuran tiga kali tiga meter. Melalui kaca tersebut aku mampu memandang gunung Semeru tanpa terhalang suatu apapun, apapun itu. Tinggal menunggu matahari dan alam berputar maka nampaklah Semeru dengan ragam pesonanya. Terekamlah keindahan gunung itu ke dalam memoriku kemudian kutuangkan dalam coretan di kanvas-kanvas putih. Lama kelamaan orang-orang menyebutku pelukis gunung semeru. Dengan kamar lukisku ini beserta kaca lebar yang mengarah ke Semeru, aku memantapkan hati menjadi pelukis untuk menyalurkan hobi dan mengais rezeki.

Hingga pada suatu pagi, Mak Eni memberitahuku tentang adanya sebuah truk yang menaiki lereng. Aku mencium gelagat tidak enak yang memasuki relung-relung hatiku. Pasti akan terjadi sesuatu dengan Semeru ini. Hari makin hari kata Mak Eni truk yang melintas semakin banyak, aku tak tahu dan aku tak peduli karena aku hanya fokus dan mengisolasi diri di kamar lukisku. Lukisan telah mengasyikkanku dengan bergelut bersama kanvas, kuas, cat yang berwarna warni dan sekepul kopi hangat.

***

Hari itu, mendung sedang bergelayut di lereng-lereng yang rimbun dengan kehijauan. Kegagahan Semeru tertutupi oleh kabut-kabut pagi yang belum mencair oleh sinar matahari. Saat sapu lidiku belum membersihkan seluruh daun yang berserakan, iringan mobil-mobil melewatiku. Ada sekitar delapan mobil. Kata tetangga sekitar rumah, hari ini sebuah pabrik air minum akan diresmikan oleh bupati. “Ah, pabrik minum? Mengapa harus ada pabrik di tengah rimbunan pohon-pohon ini? Mengapa harus ada pabrik di lereng gunung?”

Saat aku beralih untuk membersihkan ruang tamu, aku kaget. Lukisan Gunung Semeru yang tergantung sudah tidak ada di tempat. Mungkin mas Bedjo telah memindahkannya pikirku. Kuingat-ingat kembali, lukisan ini masih ada kemarin sore. Aku kembali terheran saat Mas Bedjo tak membuka kamar lukisnya saat aku mengetuknya berkali-kali berharap dia akan menyantap masakan yang telah kuhidangkan. Tak biasanya dia seperti ini, paling-paling dia akan menyahut “Taruh di depan pintu aja Mak”, “Ya sebentar lagi Mak, masih tinggal sedikit”atau langsung keluar memenuhi penggalianku. Kucoba membuka knop pintu berkali-kali. Terkunci dari dalam. Dia tetap tak menyahut.

Ketika malam menjelang dan hawa dingin pegunungan mulai menusuk, aku kembali mengetuk kamar lukisnya. Dia tetap tak menyahut, aku mulai curiga. Pasti terjadi sesuatu dengan mas Bedjo. Terngiang-ngiang di telingaku saat mas Bedjo melarangku untuk memasuki kamar itu walau dalam keadaan apapun. Tapi, hatiku memberontak. Dengan tubuhku rentaku, kodobrak kamar itu dan berhasil. Gelap menyelubung, bau cat air menyeruak. Kunyalakan lampu, barulah aku mulai tahu seluruh isi kamar ini setelah bertahun-tahun aku bekerja disini. Ini galeri lukis mas Bedjo, batinku. Pandanganku mencari-cari, kutemukan dua lukisan berjajar di atas sebuah kayu. Satu lukisan yang biasa kulihat di ruang tamu, satunya lukisan baru dengan cat yang masih basah. Terlukis jelas disana, sebuah menara dan asap yang membumbung menutupi gunung Semeru. Aku memandang lurus ke depan, kaca-kaca pecah berantakan. Terpampang gunung Semeru yang tak lagi gagah karena tertutupi menara dan asap pabrik. Seonggok tubuh kutemukan tergeletak di belakang kedua lukisan itu. Pergelangan tangannya tergores dan masih mengucurkan darah merah. Sebuah kertas ada ditangannya; keindahan Semeru telah mati, pelukisnya akan menyusul keindahan itu. Lewat retakan dan pecahan kaca, kulihat Semeru masih membisu menyaksikan pelukisnya, mungkin juga membeku atau bersedih, aku tak tahu. Besok, aku tak mempunyai majikan lagi.(*)

 

*M. Rosyid HW

Pegiat sastra di Komunitas Lilin lantai

Tulisan-tulisannya beterbaran di koran nasional dan lokal

Cerpen terakhirnya “Cabai di Belakang Rumah” terbit di Koran Madura 15 Juli 2016

No. HP                        :  085608554809

Puisi Khairani Piliang

  • SKETSA
  • Bosan aku pada huruf-huruf bergelantungan
  • Bosan pada kata
  • Pada kalimat
  • Pada paragraf
  • Pada cerita dan kisah yang berlompatan di kepala
  • Masuk ke lorong-lorong kosong
  • Berbondong mencari kantong-kantong kepompong
  • Yang akhirnya melompong
  • Lalu guratan-guratan takdir semakin renta
  • Terlukis mematri di dahi-dahi berlubang
  • Ada yang serupa sumur tak berair,
  • Kadang kala berupa lubang hitam tak berdasar
  • Puisiku hanya sepotong huruf yang langka
  • Dan sajak malam berlarian, serupa kuda liar berkejaran
  • Berebut perhatian sang betina
  • Menghitung derapnya hingga bulan terjaga
  • Mataharikah yang kau tunggu?
  • Hanya ada luka, tenang dan tak terlihat
  • Tapi ini ada, tapi ini nyata
  • Jakarta, 091115

 

Jangan Menoleh ke Belakang

Aku menitip sebait sajak yang kuselipkan di saku bajumu
Sajak dengan kata terangkai yang pernah kita susun bersama
Sajak tanpa koma, juga tak ada titik di akhir kalimatnya

Ketika itu hujan baru mulai menitip jejaknya
Pada tanah-tanah retak
Pada batang-batang meranggas
Pada sumur-sumur kosong
Pada sungai yang kehilangan muara
Ada sepotong harap

Kelak ketika kau lupa jalan pulang
Bacalah jejak hujan
Kau pasti temukan selarik kisah
Yang pernah menjadi milik kita
Meski kini telah mengukir
Jadi nisan tertutup lumut tanpa nama di sana

Jkt, 031115

 

Akar Pikiranku

Selepas hujan turun
Kau susuri jalan licin itu
Ketika mendung kemarin menebal
Namun air enggan menyapa
Kini gerimis mengiris hatimu

Selepas badai berlalu
Porakporandakan mimpimu
Ketika langit kemarin kelabu
Namun setitik warna menyembul
Mengukir jejak pelangi di harimu

Kaulah sajak di pikiranku
Selepas semua itu
Kau coba berdamai dengan waktu
Kau hadir kembali
Temukan masa lalu
Dengungkan nama di hatimu
Karena Kau adalah Aku

Jakarta, 031115

 

INTUISI 1

Aku melukismu di secangkir kopi hitamku yang nyaris tandas. Kopi pahit tanpa gula, tapi kusuka. Kepulan hangatnya menyelimutiku dari gigil suasana. Dan manis yang tersirat setelah pahit yang kutelan mengajarkanku untuk bisa sedikit lebih lama mempermainkan rasa.

Satu ketika aku bertanya, apa yang kau cari ketika gerimis mulai menggelitikmu, setelah sekian lama kering melingkupi? Kau hanya tersenyum serupa bulan yang rekah ketika cuaca sedang purnama. Dan aku paham, karena tak ada yang bisa paham kecuali kita.

Cinta adalah, ketika kau mulai mencicipi pengorbanan di balik manis yang kau telan, dan jiwa kita mulai saling rengkuh menambat serupa jaring laba-laba mengikat tembok usang. Inilah prosaku dalam batas ambang rasa yang tertuang di cangkir kopi yang kau hidangkan pagi ini. Kita baru mulai, masih ada sejuta cangkir lagi dengan lukisan berbeda nanti.

Sabtucerahselepasmendung, 141115

 

INTUISI 2


Ini waktu ketika mentari masih memegang janji yang sama saat senyumnya menyentuh bumi, menjadikan siang yang kita lalui masih seperti hari kemarin. Hanya saja di musim penghujan ini menjadikan pancaroba bergulir mewarna hari.

“Buat hujan ini menjadi butiranbutiran salju, membeku ketika berada dalam genggaman,” ucapmu satu waktu dalam cuaca yang menjadikan hembus napasmu serupa embun menyinggahi kaca jendela kamarku. Kau tetap bersidekap dengan mantel bulu dengan tatapan hangat melebur dari hari yang kian beku.

Dan untuk tahun kesekian kita menjalani ini sebagai dejavu yang kita cipta dalam dimensi berbeda, namun tetap melebur dalam wadah cangkir yang sama, yaitu rasa. KAU, AKU adalah KITA.

 

 

Biodata narasi:
Saya Khairani dengan nama pena Ranpil.
Karir saya di dunia literasi baru dimulai lebih kurang 2 tahun terakhir.
Mempunyai beberapa buku antologi bersama dan aktif di beberapa grup kepenulisan.

[Cerpen] Melati Kuning

Oleh: Gusti Trisno

Aku duduk di serambi masjid menunggu lalu-lalang para jamaah yang tak pernah henti berkomunikasi dengan-Nya di rumah-Nya yang begitu indah. Entah, mereka benar-benar sholat atau hanya mengagumi keadaan struktur bangunan yang memiliki emas 24 karat. Aku tak tahu dan tak ingin tahu.

Dari lalu-lalang beberapa pengunjung (atau jamaah sholat) aku seperti melihat sosok perempuan yang ada dalam masa laluku. Ah. Letih rasanya, jika membicarakan sosok perempuan itu. Pasalnya sudah bertahun-tahun, kutulis surat pun kulakukan. Tak sedikit pun ada balasan.

Dengan rasa penasaran kudekati perempuan yang memakai kerudung tak terlalu panjang itu. Ia pun langsung membalas dengan senyuman yang menggetarkan jiwa.

Ah. Wajahnya begitu indah. Lebih indah dari perempuanku di masa lalu. Aku terpesona sebentar, kemudian berusaha bertanya darimana asalnya.

“Aku dari Jember, Mas. Baru saja tiba di Situbondo untuk melihat masjid indah yang bagian pilar dan kubahnya itu terbuat dari 24 karat.” Jawabnya.

Sudah kupikir sebelumnya, jika masjid ini ramai karena kemegahannya. Bukan karena hal lainnya.

“Ooo…” hanya itu yang terlontar dari mulutku.

Tak sedikit pun ingin bertanya mengapa perempuan itu mirip dengan perempuanku di masa lalu. Bukankah bisa saja mereka adalah kembar seperti dalam sebuah sinetron picisan yang seolah menganut hukum,“Jika sepasang anak kembar  terpisah, pasti akan bertemu di masa depan dengan karakter bagai bumi dan langit.”

Ah. Ya. Memang dari tata cara senyum dan ucapannya mereka jelas berbeda. Tapi dari keanggunan tetaplah sama. Dan aku tak berani berkata jika mereka; kembar.

Ia segera meminta diri padaku yang begitu kaku. Begitupun dengan iring-iringan orang disebelahnya yang mungkin saja keluarga. Ah. Keluarga. Kapan rasanya aku bertemu dengan keluarga? Sedang diri hanya terasing di sini. Tak ada sanak kerabat sebagai tempat berbagi kisah.

“Maman…,” sapa seorang lelaki memakai peci putih.

Aku segera mendekatinya, lelaki itu kemudian memberiku beberapa lembar rupiah, lalu menyuruh membelikan beberapa bungkus nasi untuk marbot di masjid ini. Dengan sigap, aku langsung manut atas perintahnya. Tak ada sedikit pun rasa menolak ataupun yang lainnya.

Jelas saja. Penolakan berarti penghinaan yang berujung pada pemecatan. Kredebilitas sebagai marbot haruslah dipertahankan.

***

Malam tiba, situasi di masjid masih sama dengan siang. Malah pengunjung semakin bertambah. Dari wajah mereka terdapat banyak topeng, mulai dari topeng keikhlasan, sampai topeng maling. Sudah berapa kali masjid ini menjadi sasaran penjahat dibalik songkok berwarna putih-hitam yang ternyata seorang pencopet.

Mereka pun bukan cuma sekali-dua kali beraksi. Tapi berkali-kali. Dan malam ini, kuperhatikan ada seseorang yang berlagak mencurigakan, tampak bingung memandangkan wajahnya ke kiri-kanan.

Tanpa ba-bi-bu segera kumendekat. Kuberjalan memutar tubuhnya. Ia bertambah bingung dengan gerak-gerikku.

“Sudah dapat berapa mangsa?” tanyaku tanpa basa-basi.

“Apa maksudmu?” ia balik bertanya.

“Ah. Pencopet berpeci sepertimu tak usah berkelit. Ngaku saja!”

Keributan segera terbentuk. Ia tak juga mengaku. Satpam masjid segera mengamankannya. CCTV yang merekam kelakuan anehnya pun diputar. Tak ada rasa mengelak lagi. Ia pasti pencuri.

“Tidak, aku bukan pencuri,” elaknya, tak ingin dituduh.

Beberapa orang mendengar pernyataannya, bersiap memberi pukulan kepada lelaki itu.

“Aku ke sini untuk mencari melati berwarna kuning untuk istriku yang  sedang sakit dan hanya bisa sembuh dengan melati itu. Aku sudah berkeliling masjid.  Tapi, tak juga kutemukan. Padahal, dulunya masjid ini adalah rumahnya,” akunya, kemudian.

Hey, ini bukan zaman purba. Orang sakit itu dibawa ke dokter! Bukan malah mencari melati berwarna kuning! Kamu ini mengada-ada saja!” kata satpam bertambah geram.

“Siapa istrimu?” tanyaku.

Ia segera menyebut sebuah nama, seperti yang pembaca duga; perempuanku di masa lalu. Aku segera mengajak lelaki itu menuju belakang masjid. Di sana hiduplah melati kuning kesukaan perempuanku dulu yang kini menjadi istrinya. Ia pun langsung memetik beberapa bunga. Lalu berucap terima kasih.

Lelaki itu tersenyum senang. Sedang hatiku bertambah sakit akibat kabar yang baru saja kuterima. Sudah bertahun-tahun tak tahu kabarnya. Kini, ia hidup dengan laki-laki cengeng dalam novel picisan yang pernah kubaca.

Bak film yang diputar di kepala. Aku menjadi ingat kembali tentang masa lalu. Dulu, dulu sekali. Kami berdua sering main bersama, berkejaran mengejar layang-layang walaupun akibatnya kami kena marah orang tua. Orang tuanya yang termasuk kalangan priyayi di desa kemudian menjadi marah dan melarang kami untuk bermain bersama. Tapi, tentu sebagai bocah ingusan. Kami tak hilang akal. Pun, ada saja permainan-permainan yang bisa kami lakukan. Dan, yang paling tidak diketahui banyak orang adalah eksprimen menanam melati kuning. Memang terdengar aneh, tapi itu nyata.

Melati kuning itu merupakan persilangan antara bunga kemuning yang memiliki aroma bangkai dan bunga melati putih. Waktu itu, kami hanya menanam bijinya di dalam tanah yang sama. Dan, entah setelah sekian lama. Tumbuh melati berwarna kuning di belakang rumahku.

Berdasar alasan itu, kami menjadi semakin sering bersama. Pun, aku memiliki kesukaan baru, yakni: memberikan setangkai melati kuning pada telinganya yang berukuran sedang. Sungguh waktu itu, ia merasakan senang yang berlebih.

Dan, aku pun merasakan hal yang serupa. Kejadian tersebut kami ulang berhari-hari tanpa rasa bosan. Hingga kemudian, sesuatu terjadi pada keluargaku. Orang tua menjadi kolaps setelah ditinggal lari pelanggan tetapnya ke luar kota dengan membawa banyak hutang. Jauh dari itu, Ibu tiba-tiba sakit keras, mungkin terlalu banyak mikir. Ayah pontang-panting dengan keadaan yang seakan memuakkan itu. hingga akhirnya tanah kami menjadi anggunan ke bank untuk meminjam. Sayang, sengsara tak dapat dihindari. Uang dari bank berhasil didapat. Tapi, tak bisa menjamin nyawa Ibu untuk diperpanjang.

Ibu meninggal. Tepat ketika Ayah membawa segepok uang. Dan, saat itu. aku seperti melihat kegagalan kedua orang tua. Seharusnya Ayah langsung mengembalikan uang itu ke bank atau setidaknya menggunakannya sedikit untuk biaya pemakaman. Tapi, nyatanya Ayah melampiaskan kekesalan dengan menghambur-hambur.

Tak terhitung. Sejak kematian Ibu. Ayah bergonta-ganti pasangan. Isak-isak kenikmatan pun sering kudengar. Aku bukannya ikut menikmati, tapi merasa jijik luar biasa. Seandainya waktu itu aku cukup umur. Barang tentu aku menentang Ayah. Tapi, bukankah anak kecil tidak boleh menentang orang tua? Apalagi ada cap anak durhaka yang begitu mudahnya diucapkan!

Keadaan itu membuatku mengubah haluan. Aku tak boleh sama seperti Ibu juga Ayah. Sayangnya, di tengah butuh dukungan moril. Perempuan di masa laluku itu pergi dengan keluarganya. Dan, ternyata nasibnya hampir sama dengan keluarga kami; kena hutang dan rumah sebagai jaminan.

Waktu itu, aku sungguh tidak bisa menahan rasa haru. Entah mengapa, ingin rasanya aku bertanya pada Tuhan. Apakah Ia telah pergi? Membiarkan segala sepi dan sedih menghampiri hamba-Nya yang tak tahu diri!

Oh! Sudahlah! Toh aku sudah move on! Apalagi sejak kejadian itu, Ayah juga meninggal. Sekalipun batinnya sudah lama meninggal akibat frustasi terhadap hutang yang tak bisa dibayar juga kematian Ibu.

Dan, aku yang tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa memelas kasih pada orang sekeliling. Beruntung, tanahku dan tanah perempuan di masa lalu itu dijadikan tanah wakaf. Masjid berkilau emas pun dibangun. Menjadi masjid yang paling megah di Situbondo atau mungkin Jawa Timur.

Dari bekas rumah itu, hanya satu yang bisa kuselamatkan; bunga melati kuning. Sekalipun, kini suaminya meminta bunga tersebut!

Ah. Mengapa perangai lelaki cengeng yang mendapatkan perempuan penyuka melati kuning itu? Mengapa tidak aku saja? Itukah yang namanya jodoh?Entahlah!

***

Setelah membantu lelaki itu, aku kembali disuruh ke luar masjid untuk membeli beberapa bungkus nasi. Jalanan lengang menyambutku, tak ada sedikit pun kemacetan yang sering terjadi. Suara angin dan jangkrik beradu kencang menambah rasa nyilu yang tiba-tiba datang.

Di depanku ada seseorang yang baru saja mendapat peristiwa kecelakaan. Dan betapa terkejutnya aku, jika yang kecelakaan itu adalah suami perempuanku itu.

“Mas, tolong bawakan melati kuning itu pada istriku. Dia harus bisa disembuhkan. Rasanya aku seperti bertemu kematian.” Ucapnya, lalu mengembuskan napas terakhirnya.

Aku pun segera melakukan perintahnya. Uang yang seharusnya digunakan untuk membeli nasi malah dibuat untuk pergi ke rumah yang alamatnya telah disodorkan padaku. Dan sekitar satu jam kemudian, aku telah tiba di Desa Dadapan Bondowoso. Desa yang jauh lebih tenang dari keramaian Kota Situbondo.

Rumah bercat putih dan tembok tak terlalu tinggi, langsung menjadi sasaranku. Dan perempuan itu telah menunggu dengan rasa lelah yang tiada tara di bilik kamar sederhana.

“Suamiku, tolong buatkan jus dari melati yang kaubawa itu.” katanya, tanpa sedikit pun melihat wajahku.

Aku pun segera melakukan apa yang diperintahkannya. Dan beberapa menit kemudian, jus aneh itu langsung diminumnya.

“Terima kasih suamiku, aku sekarang sudah baikan. Aku sayang kamu. Tapi sungguh, pemuda bernama Maman lebih kusayang.” Katanya, manja. Sambil mengecup keningku. [!]

 

Gusti Trisno. Aktif menulis cerpen, puisi, novel, dan resensi. Penggiat Komunitas Penulis Muda Situbondo ini lahir di Situbondo pada tanggal 26 Desember 1994. Saat ini, ia menjadi mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Jember. Ia pernah menjadi juara 2 Penulisan Cerpen dalam Pekan Seni Mahasiswa Jawa Timur 2016. Tulisannya dalam bentuk cerpen dan essay telah dimuat di beberapa media. Ia bisa dihubungi di Facebook: Gusti Trisno, E-mail: gusti.trisno@gmail.com atau telepon: 085330199752.

Puisi Puisi Tjahjono Widarmanto

 BERKACA PADA URAT POHON

berkacalah pada urat pohon saat segala ranting dan daun

meninggalkan dahan getah-getah akar yang dijemput kematian

 

urat-urat pohon adalah kitab yang terbuka

meriwayatkan hidup kita lahir dari rahim tanah

tumbuh dengan buah yang rimbun

namanya: usia!

 

semuanya menuju ke tanah

cahaya matahari seterang apapun

tak sanggup terangi semua yang kembali

pelan-pelan segalanya terkubur diam

wajah-wajah tengadah tanpa nafas

mencari warna di uban rambutnya

lantas menyerahkannya pada malam

 

TAK ADA YANG LEBIH INDAH

di bilik ini tak ada

yang lebih indah

selain duri

di ranting mawarMu

 

di bilik ini tak ada

yang lebih indah

saat hati dirajam

ranting duriMu

 

tuhan, penyair ini

terpanggang api

rinduMU

sebab sejak

mengenalMu

: Engkau tak pernah serupa!

 

SAJAK PARA PENYAIR

sajak-sajak kami menerima segala yang berlangsung dan berlari

: hujan yang tersisa di pepohonan, tikus merayap di langit-langit kamar, kuda-kuda

meringkik di kandang yang bersebelahan dinding kamar losmen murahan

yang di dalamnya terdengar ringkik perempuan di ujung telanjangnya

 

sajak-sajak kami adalah tidur yang menampung igau dan mimpi perawan tua

merindu jejaka, tangis gadis muda yang ditinggal lari perawannya saat akil balik,

suara bergemuruh di sepanjang rel kereta api tua atau kering matahari membentuk

bulatan bulatan uap yang membuat bumi keriput seperti usia yang tak putus-putus

meniup isyarat, melambai lambaikan bendera dan menggoncang lonceng-lonceng

 

sajak-sajak kami adalah bejana di dapur yang terisi air minum dan kali selokan

yang menggenangi lantai ruang tamu mengalir hingga ranjang serupa kolam

untuk mencopot dahaga dan membasuh peluh dan bilur pedih wajah dan mata

 

sajak-sajak kami adalah radio penuh suara riuh decit dan dengung benda-benda

yang mengabarkan hal-hal tak terduga, suara-suara yang melampaui lengking peluit,

gaung nada melebihi segala makna bahasa dan galau kota yang di bom para teroris,

segala suara cemas para serdadu di medan pertempuran, desah putus asa tahanan

yang dieksekusi pagi nanti, harapan yang kabur dari penumpang yang terikat di kursi

pesawat terbakar dan sekejap nyungsep mengambang di antara hiu yang meringis

 

sajak-sajak kami adalah juga kata-kata segar sekaligus kata-kata muskil yang aneh

melebihi semua mantra pawang, nyaris melampaui mukjizat para rahib

 

kami, para penyar melalui kata dan suara menumbuhkan segala

makna yang dicatat zaman!

(Ngawi, kedungdani)

 

 

HIKAYAT HASRAT

*) mencatat Gilles Deleuze

1/

ia membaca tubuh-tubuh itu.tubuh tanpa organ

mesin hasrat yang terpilin dari semacam sel atau telur

menetas, berubah wujud dan menumbuh

menjadi sesuatu yang tampak utuh seperti puzle

sejatinya terpisah serta terus menerus bergerak menuju entah

 

hasrat yang sembunyi di balik kerang

katup yang terbuka dan menutup

saat mata terbuka atau terpejam

tak peduli itu tanda atau makna

 

2/

ia merasa amat bahagia seperti bayi

yang melompat dari lumpur ketuban

yang belum peduli dengan pembenaran-pembenaran

sebab baginya tak ada yang baru dari kelahiran dan kematian

segalanya hanya sekedar tirai tersingkap menampakkan yang tersembunyi

 

semenjak bayi, hasrat telah meletup-letup

seperti nasib yang selalu keliru diramal

persis sebuah revolusi atau reformasi yang sibuk menemu pintu

 

segalanya selalu merambat bersama waktu

ia merasa manusia harus takluk pada dunia yang lain

 

 

3/

hasrat seperti kurcaci yang tiwikrama

tak satu pun bisa memeluknya dengan hangat

saat melompat-lompat seperti katak

berayun-ayun dari yang berubah dan yang terjadi

muncul dari yang tak terduga menuju nyata

temukan habitatnya sendiri sarang tempat

mendewasakan segala olah pikir, keinginan dan birahi

 

4/

sesuatu yang tampak nyata tak sanggup dipahami

walau sudah dibahasakan dengan sepeti makna

 

segala ingatan dan pengalaman luput digenggam

sebab makna melarikan diri kabur dari peristiwa

 

5/

ia suka permainan itu

semacam petak umpet yang tak punya satu peraturan

titik yang selalu bergerak dari satu garis lengkung ke lengkung lain

mirip bintang alihan, bergeser sepanjang masa

melacak makna dan mengikatnya

 

6/

ia sudah diramal oleh seorang peramal botak dan homo

disabda menjadi seorang santo atau rahib atau brahmana

 

karena hasratnya yang meluap ia dikutuk menjadi kitab

rujukan para musafir yang mencari peta dan pulau

 

 

namun, ia menolak menjadi mitos dan menggantung lehernya di pintu rumah

tangannya yang mengepal menggenggam sebuah wasiat

: ini cuma sekedar hasrat dan sebuah peristiwa!

 

(surabaya-ketintang)

 

RAINKARNASI DAJJAL (2)

aku biakkan kecemasan itu seperti kelelawar bertaring

melayang berterbangan menebarkan was di jalan hingga kolong ranjang

 

kubiakkan kecemasan itu untuk menumbuhkan gentar

maka duniamu akan terlipat di ketiakku

akan kubangkitkan kerajaan nero dan machiavelli

agar api menyala membakar apa saja

hingga takut dan gemetar mendengung seperti tawon

 

engkau pun akan meringkuk seperti trenggiling

atau babi yang akan kutusuk anusmu melengking-lengking

 

di tengah cemasmu kubangun surga. nirwanaku sendiri

rumah harem bidadari-bidadari telanjangku

 

 

RITUAL YANG MEREKA NAMAI: TEROR!

kau ganti bahasa dengan ledakan-dentuman

kau menyebutnya sebagai pertarungan suci

sorga bagimu harus dipetakan dengan darah

dan mesti dijaga dengan jubah-jubah suci

 

granat itu pun tiba-tiba hadir di meja makan anak-anak kami

 

maka, keramahan membusuk di mana-mana

pandangan mata menebar cemas curiga

koran-koran dan televisi pagi mengabarkan berita-berita kematian

 

namun mereka telah demikian biasa dengan pesona buruk itu

mereka jejalkan bersama takut yang was-was membuat kami linglung

 

sekarat itu mereka pilihkan untuk kami

 

angan-angan mitos mereka tentang sorga dan perang suci

menjadi kabar lelembut menebarkan dengki dan prasangka

menjalar bagai ular menjulurkan amarah yang diasah seperti kelewang

menyembelih siapa saja, tak peduli ibu atau anak perempuan sendiri

 

konon mereka impikan kafilah dengan pasukan surga

 

pemimpi yang percaya ayat-ayat bencana

dan mereka mengusungnya bersama keranda penuh bom

menjadi sesaji pesta-pesta pemakaman bersulang di atas nisan

 

itulah ritual yang mereka namai: teror!

 

TAN (5)

aku tak pernah cemas dengan takdir, sebab ini pilihanku

 

walau para serdadu dungu itu

akan mencungkil kedua biji mataku

aku tak pernah terpengaruh dengan gelap

 

segala cahaya telah kusimpan tidak pada mata

namun kulekatkan pada telapak kaki

 

dalam jalan paling rumpil, gelap dan berkabut

tetap saja aku mudah berlari-lari

kalian akan mengejar terseok

sebab lampu sejarah itu telah kucuri!

 

HIKAYAT ULAR YANG MENDESIS DI KEPALANYA

di kepalanya mendekam seekor ular dengan lidah bercabang

mendesis-desis beranak pinak di tiap serabut sel kelenjar otak

(persis ulat-ulat yang menggerogoti sebutir khuldi di genggaman eva)

 

desisnya menjilat pintu langit

: bukankah telah kau tukar keabadianmu dengan secuil kelamin syahwat?

 

langit lantas bukakan pintunya, julurkan sulur-sulurnya

mulailah ia melata merambatinya

lantas terperangkap dalam selokan tua

 

sabda itu berdengung

: mulailah perjalananmu mewaspadai ketololan sendiri!

 

riwayat itu pun dimulai

sejarah kelak mencatatnya sebagai sebuah legenda sepetak kebun

yang hilang bersama segenap prasastinya

(ular di kelenjar kepalanya itu masih saja mendesis-desis)

                                                                                    Ngawi

 

LELAKI PENAKLUK BUAYA

                                                                    :buat penyair mashuri

Lihat, telah kuasah tombak dan kapak tajam-tajam pada padas karang. Sigra milir sang getek sinangga bajul. Lelaki itu mendorong rakitnya ke tengah sungai. Ngalir, ngalirlah ke muara menyisir hilir. Berkisah tentang seorang lelaki berikat kepala wulung menjagai sungai-sungai. Mengulang perjalanan Khidir yang dikuntit Musa menelisik pesisir mencuri kitab rahasia nasib, sorga, dan neraka.

 

Sigra milir sang getek. Lelaki dan rakitnya terapung-apung telusuri air dan kisah-kisah kuno, saat angka-angka tak jelas mana genap dan yang mana ganjil. Saat abjad-abjad tak jelas mana yang vokal mana konsonan. Sigra milir. Kuteriakkan mantram-mantram penakluk segala penghuni sungai. Kembang telon tujuh warna, cok bakal beserta putik asoka ditebar, terbuka segala pintu hantu, tersibak segala kabut. Mari timbullah segala buaya. Buaya sungai, buaya rawa, buaya darat, buaya samudera, buaya siluman. Buaya segala buaya, buaya maha buaya

 

Sigra milir. Rakit beringsut. Matram-matram mengigau. Inilah kidungku. Muncul engkau segala buaya. Merangkaklah ke mari, segera kubelah perutmu yang selalu bunting, sebab di sana kutemu segala frase dan kata-kata. Ayo, manis, merangkaklah dengan gairah. Di sini telah kusediakan ranjang hangatmu. Nina bobok oh nina bobok. Tidurlah manis dengan telentang, bentangkan buntingmu akan kutombak dan kubelah dengan kapak dan gergaji.

 

Sigra milir sang getek sinangga bajul. Segala buaya. Buaya sungai. Buaya rawa. Buaya darat. Buaya laut. Buaya siluman. Buaya maha buaya. Merintih-rintih. Perut buntingnya meledak. Muncrat janin kata-kata. Ohoi, Columbus temukan benua, aku temukan makna! Lantas, segalanya berubah aksara, terpahat di gerbang-gerbang kota, puing-puing candi, dinding-dinding biara, lonceng-lonceng gereja, kubah-kubah masjid, mercu suar dan rumah-rumah keong.

Lelaki itu masih setia mendorong-dorong rakitnya ke segala sungai-sungai. Ngalir susuri hilir. Tak sampai-sampai ke muara. Sigra milir sang getek sinangga bajul. Menabur mantram panggili segala buaya. Engkau mahluk manis baringkan buntingmu, dalam ketubanmu akan kutemu segenap rahasia lambang-lambang.

Sigra milir. Lelaki itu berdiri di tengah rakit, tegak dengan tombak dan kapak, menyisir hilir. Akulah penyair penjaga sungai kata-kata. Akulah penyair penakluk buaya!

Ngawi, kedungdani-kedung glagah

 

RUANG KERJA AYAH

ruang kerja ayah di loteng lantai dua.kalau jendelanya terbuka, lampu menyala

ia pasti ada di dalam menekuri pesawat komputer dengan mata setengah terpejam

sebelum memiliki komputer ayah bekerja dengan sebuah mesik tik tua setua ubannya

ibu amat senang mendengar tik tak tuk mesik ketik itu.

ditempelnya telinga di pintu mencuri dengar

sebab ayah melarang siapa saja masuk ke kamar kerjanya saat ia mendekam di situ

 

kata ibu, ayah adalah penyair.berkerja sebagai penyair.

sungguh aku tak paham profesi itu. sepengetahuanku, bekerja itu harus seperti

ayah kawan-kawanku si Kaila, Agis atau Sifak; berangkat ke kantor, jadi guru

atau pedagang di pasar besar, setidaknya jadi hansip di gardu jaga

 

kata ibu, ayah adalah penyair. seolah tuhan kecil yang sanggup mencipta apa saja

leluasa mencipta riang, petaka, harapan, senyum, caci maki atau kedunguan

seperti juga tuhan, kata ibu, ayah tak peduli dengan uang atau penghasilan.

tugasnya adalah mencipta. itu saja. mencipta sabda menuliskan firman kata-kata

 

tuhan merahasiakan bagaimana ia menciptakan mahluk dan menuliskan petuahnya

begitu juga ayah melarang siapa saja masuk ke ruang kerjanya

saat mencipta dan bersabda

ini rahasia sebuah penciptaan”, katanya sambil mendelik

 

diam-diam aku pernah mengintipnya saat bekerja: ternyata saat menekuri komputernya

ayah hanya mengenakan celana dalam.kaki bergerak-gerak mengikuti jari-jari

mulut komat-kamit seperti presiden pidato atau dukun baca mantra

 

seperti juga tuhan, ayahku juga gemar menghukum, mengancam dan menakut-nakuti

acapkali ibu gemetar ketakutan saat wajahnya dituding-tuding dengan rotan

biasanya jika bertanya tentang rekening listrik dan tagihan pajak

 

diam-diam aku ingin seperti ayah, menjadi seorang penyair

: begitu berkuasa dan boleh hanya memakai celana dalam!

-ngawi-klitik-

Tjahjono Widarmanto, Lahir di Ngawi, 18 April 1969. Meraih gelar sarjananya di IKIP Surabaya (sekarang UNESA) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, sedangkan studi Pascasarjananya di bidang Linguistik dan Kesusastraan diselesaikan pada tahun 2006, saat ini melanjutkan studi di program doktoral Unesa.

Bukunya yang baru terbit MARXISME DAN SUMBANGANNYA TERHADAP TEORI SASTRA: Menuju Pengantar Sosiologi Sastra (2014) dan SEJARAH YANG MERAMBAT DI TEMBOK-TEMBOK SEKOLAH (2014)

MATA AIR DI KARANG RINDU (buku puisi, 2013) dan MASA DEPAN SASTRA: Mozaik  Telaah dan Pengajaran Sastra (2013)

Bukunya yang lain yang telah terbit terdahulu : MATA AIR DI KARANG RINDU (buku puisi, 2013) dan MASA DEPAN SASTRA: Mozaik  Telaah dan Pengajaran Sastra (2013), DI PUSAT PUSARAN ANGIN (buku puisi, 1997), KUBUR PENYAIR (buku puisi:2002),  KITAB KELAHIRAN (buku puisI, 2003), NASIONALISME SASTRA (bunga rampai esai, 2011),dan  DRAMA: Pengantar & Penyutradaraannya (2012), UMAYI (buku puisi, 2012).

Selain menulis juga bekerja sebagai Pembantu Ketua I dan Dosen di STKIP PGRI Ngawi, serta menjadi guru di beberapa SMA  Sekarang beralamat di Perumahan Chrisan Hikari B.6 Jl. Teuku Umar Ngawi. Telp. (0351)746225 atau 085643653271. E-Mail:  cahyont@yahoo.co.id,

[Cerpen] Tidak Ada yang Sia-sia

Oleh: Nasrul M. Rizal

Nayla mengembuskan napas panjang sebelum mengetuk pintu rumahnya. Sudah cukup lama dia tidak pulang. Kesibukan sebagai mahasiswa tingkat akhir memaksanya memendam rindu. Namun beberapa minggu terakhir orang tua Nayla sering menghubungi,ada hal penting yang ingin dibicarakan secara langsung. Karena tidak ingin mengecewakan orang tuanya terlalu lama, Nayla pun memutuskan untuk pulang.

“Assalamualaikum,” ucapnya Nayla setelah beberapa menit mematung di depan pintu.

“Waalaikum salam,” jawab seorang perempuan dari dalam rumah.Setelah itu pintu pun terbuka. Perempuan setengah baya langsung memeluk Nayla.

Nayla masuk ke rumahnya yang sepi, yang hanya dihuni oleh Ibu dan ayahnya saja. Kedua kakaknya (laki-laki) sudah berkeluarga dan tinggal di Bandung. Nayla pun terpaksa meninggalkan kedua orang tuanya karena harus kuliah di Ibu Kota. Siang ini Ayah Nayla masih ada di kebun.

Menyadari putrinya kelelahan, Ibu Nayla mempersilakan untuk beristirahat. Ia menahan diri untuk berbicara mengenai hal penting yang memaksa Nayla pulang. Sebetulnya Nayla sudah tahu apa pembicaraan “penting” yang dimaksud orang tuanya. Bukan, bukan tentangrasa sakit yang mereka derita.Apalagi perihal rindu yang menggebu. Tapi “sesuatu”yang membuat Nayla berpikir berkali-kali.

Ruangan berukuran 4 x 3 m2 di lantai dua, menjadi kamar Nayla. Ia beruntung mempunyai kamar sendiri. Tidak seperti kedua kakaknya yang harus berbagi tempat tidur. Nayla merebahkan badannya diatas kasur. Perjalanan lima jam Jakarta-Garut lebih dari cukup membuatnya lelah. Namun lelah yang dirasakan badannya tidak seberapa berat dibandingkan lelah yang menggelayuti hatinya. Nayla harus membujuk hatinya mengikuti kemauan orang tuanya. Ya, pembicaraan penting itu perihal rencanamenjodohkan Nayla dengan seorang lelaki pilihan orangtuanya. Lelai yang bahkan tidak dikenalNayla. Perkara satu ini membuatnya dilema.

Nayla tidak pernah meragukan pilihan orangtuanya. Ia sadar betul lelaki yang dipilih tentu saja lelaki baik-baik. Bahkan sesuai dengan kriteria yang ditetapkannya, berpendidikan tinggi dan berahlak baik. Ya lelaki itululus dariUniversitas Al-Azhar Mesir dengan predikat mumtaz. Dan dia juga hafidz 30 juz. Tidak ada alasan lagi untuk menolak perjodohan ini. Namun hati Nayla justru menolaknya, ia terlanjur memilih seseorang.

***

Sepuluh tahun silam Nayla aktif di Rohis Sekolah. Nayla suka membaca.Tak ayal perpustakaan di Sekre Rohis menjadi tempat favorite mengisi waktu luang. Baginya membaca merupakan kewajiban. Dia ingat ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, Iqra (bacalah!). Dengan membaca dia mengenal dunia, mendapat pelajaran terhebat dari kisah orang-orang hebat, serta mempunyai pegangan untukmenjalani hidupnya. Tidak jauh berbeda dengan Nayla, ada seorang lelakiyang suka sekali membaca buku. Baginya buku adalah teman terbaik. Menghibur di saat duka dan pengingat kala bahagia. Dia kakak kelas Nayla.

Beberapa kali Nayla bertemu dengan lelaki itu. Hanya senyuman saja yang mewarnai pertemuan mereka. Tidak lebih. Perlahan tapi pasti sesuatu tumbuh di hati Nayla. Dia mengagumilelaki berkaca mata itu. Pintar, ramah, sopan dan baik, membuat lelaki itu menjadi idaman siswa perempuan. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menggoyahkan prinsipnya. Ia tidak mau pacaran. Sungguh langka ada seoranglelakiseperti itu hidup di jaman sekarang.

Minggu depan lelaki itu lulus sekolah. Artinya dia akan meninggalkan Nayla. Dalam helaan napas yang sama, Nayla merasa bahagia dan juga sedih. Bahagia karena lelaki itu mendapat nilai tertinggi, sekaligus dinobatkan sebagai lulusan terbaik di sekolahnya. Dan sedih karena dia tidak bisa lagi bertemu dengan lelaki berkaca mata itu, yang selalu tersenyum manis ketika berpapasan dengannya.

Hari kelulusan pun tiba. Lelaki itu berbicara di depan ratusan siswa dan puluhan guru. Mewakili siswa-siwi kelas XII dia berterimakasih dan juga meminta maaf. Dia juga menitip pesan untuk menjaga silaturahim, terutama untuk anak-anak rohis. Air mata membanjiri sekolah. Perpisahan ialah hal yang amat dibenci. Sungguh kejam seseorang yang membuat mantra, “Setiap pertemuan pasti ada perpisahan”.

Mata Nayla menyapu seluruh bagian Sekre Rohis. Dia mencari seseorang, bermaksud memberi kenang-kenangan. Sayang orang tersebut tidak terlihat walau batang hidungnya. Air mata mentes dari mata Nayla. Dia tidak tahu betul alasan di balik air matanya. Susah payah Nayla membendung air mata tersebut.

Tiba-tiba seseorang menghampirinya, lalu bertanya, “Kamu kenapa Nay?”

“Tidak apa-apa Kak.” secepat mungkin Nayla mengusap air matanya.

“Beneran gapapa?”

Nayla mengangguk pelan.

Oh iya, kakak ingat sesuatu Nay.”

Nayla menatap heran.

Perempuan berlesung pipit yang dipanggil kakak mengambil sesuatu dari dalam tas. “Nay, kemarin dia nitip ini ke aku. Katanya maaf tidak bisa memberikannya secara langsung.”

Tiba-tiba air mata mengucur deras dari mata Nayla. Entah apa maknanya. Mungkinkah Nayla bahagia karena diberi kenang-kenangan? Atau justru sebaliknya? Tidak ada yang tahu persis makna air matanya.

“Terima kasih Kak Qiya.” Nayla berusaha tersenyum meski pipinya terlanjur basah.

“Iya sama-sama, jangan sedih gitu Nay. Ingat! Setiap orang diciptakan berpasang-pasangan. Allah sudah menentukan jodoh kita. Tidak ada yang bisa melanggar ketentuan itu,” ucap Qiya menghibur Nayla. “Sudah dulu ya Nay, sampai jumpa lagi.”

***

Waktu berlalu sangat cepat, sepuluh tahun sudah Nayla tidak bertemu dengan lelaki itu. Selama sepuluh tahun pula dia menyimpan buku pemberian darinya. Tidak terhitung sudah berapa kali dia membacanya. Tidak terhitung pula berapa kali ia membuangnya. Meski beberapa saat kemudian ia pungut kembali. Ia selalu gagalmembuang barang yang membuat bibirnya tersenyum tapi matanya menangis.

Ketahuilah di dalam buku tersebut tersimpan secarik kertas, pesan dari si pemberi buku.

Air mata kembali mentes dari kelopak mata Nayla. Air mata sepuluh tahun silam yang sampai detik ini belum juga kering. Nayla lamat-lamat membaca buku lusuh itu. Bukan bukunya yang membuat dia menangis, tapi kenangan yang menyertainya. Kenangan dengan seseorang yang selalu tersenyum saat berpapasan dengannya. Seseorang yang ia jadikan sebagai motivator. Yang membuatnya bisa melangkah sejauh ini. Yang membuat namanya tercatat sebagai mahasiswa pada salah satu Universitas ternama di Indonesia.Yang membuat ia menyibukan diri. Ya, baginya kesibukan adalah senjata paling ampuh untuk mengusir kesedihan. Sibuk memperbaiki diri, memantaskan diri dan juga berprestasi. Nayla berusaha keras untukberdamai dengan hatinya. Berhenti menanti lelaki tersebut untuk datang ke rumahnya.

Pilihan berat dihadapi Nayla. Ia tidak bisa lari dari pilihan tersebut. Jika ia menolak untuk dijodohkan, tentu saja orang tuanya akan kecewa. Menyakiti perasaan orang tua merupakan pantangan bagi Nayla. Namun, jika dia menerima,itu sama saja dengan menyakiti hatinya sendiri. Membunuh perasaan itu. Mengalah pada takdir. Dia harus berusaha keras membujuk hatinya merelakan seseorang yang bertahun-tahun ada disana untuk pergi.

“Bismillah, ya Allah apapun yang terjadi, aku yakin itu yang terbaik untukku.” Nayla mengambil keputusan.

***

Ibu Nayla menyuruh anaknya untuk bersiap-siap, memakai baju yang bagus dan make up. Tanpa make up saja Nayla sudah cantik, apalagi memakai make up?bisa-bisa bidadari pun iri padanya. Tidak banyak orang yang diundang dalam acara penting ini, hanya beberapa keluarga Nayla saja.

Belasan pasang mata menatap Nayla, kecantikannya berhasil menghipnotis mereka. Ruangan hening seketika. Nayla malu-malu mencuri pandang pada lelaki yang akan melamarnya. Hatinya berbisik “sepertinya aku pernah melihat lelaki itu. Hmm… jangan-jangan dia ..” logikanya melarang dia berpikir aneh-aneh, “Bukan. Bukan dia!”

“Sebelumnya kami ucapkan terimakasih atas jamuannya. Langsung saja pada inti dari kedatangan kami kesini. Adapun maksud dari kedatangan kami yang pertama untuk menyambung tali silaturahim diantara keluarga bapak dan kami. Selain itu, kami juga mau membahas perihal anak kami yang beberapa minggu kemarin sudah menghubungi bapak. Sebelumnya mohon maaf. Saya atas nama anak saya, Fatih, bermaksud untuk meminang putri bapak,” ucap Ayah lelaki tersebut.

Jantung Nayla berdetak sangat kencang. Rupanya lelaki yang ingin melamarnya bernama Fatih. Hah Fatih? Sepertinya nama itu tidak asing untuknya.

“Kami juga ucapkan terimakasih karena bapak dan keluarga bersedia datang ke rumah sederhana ini. Mohon maaf bila jamuan kami tidak seperti hotel bintang lima,” ayah Nayla sedikit bergurau yang disambut tawa semua orang, “Megenai lamaran dari putra bapak, sepenuhnya kami serahkan kepada putri kami,” lanjutnya.

Belasan pasang mata kini tertuju pada Nayla. Menunggu jawaban darinya. Tatapan mereka membuat jantung Nayla berdetak sangat kencang. Tiba-tiba kenangan sepuluh tahun silam berkelebat di pikirannya. Seperti kaset yang berkali-kali diputar.Satu menit. Dua menit Nayla belum merespon. Ia masih membujuk hatinya. Belasan pasang mata tajam menatap Nayla. Dari belasan orang yang ada di sana, sudah dipastikan Fatihlah yang harap-harap cemas menanti jawaban dari lamarannya. Satu tarikan napas panjang, Nayla mengambil keputusan.

***

Satu bulan setelah lamaran, Nayla menikah dengan Fatih. Lulus dengan predikat cum laudge menjadi kado pernikahannya. Kini Nayla resmi menjadi istri Fatih. Dia harus berbagi tempat tidur dengannya. Mewarnai waktu yang ditawarkan siang dan menikmati secuil waktu yang disediakan malam.

Malam hari, rahasia besar pun terungkap. Fatih menemukan buku lusuh di almari Nayla. Menyadari hal tersebut, Nayla meminta maaf pada Fatih. Dia mengakui kalau sebelumnya menaruh hati pada seorang lelaki. Buku itu kenang-kenangan dari lelaki tersebut. Fatih menatap lamat-lamat Nayla. Tersenyum. Lalu berkata “Tidak apa-apa, karena lelaki yang memberi buku ini untukmu adalah aku. Maaf dulu aku tidak sempat memberikannya langsung.Soalnya harus pulang, malam itu juga harus terbang ke Mesir.”

Nayla langsung memeluk Fatih. Menangis bahagia.

Fatih berbisik membaca kata-kata yang ia selipkan di buku tersebut.  “Setiap orang diciptakan berpasang-pasangan. Allah sudah menentukan jodoh kita. Tidak ada yang bisa melanggar ketentuan itu.”

Sempurna sudah penantian Nayla.Hati Nayla berbisik “Ya Allah terimakasih, aku tahu tidak ada yang sia-sia dalam penantian ini. Terimakasih Kau telah anugerahkan dia untukku. Rahmatillah pernikahan kami.”

 

Biodata Penulis

Nasrul M. Rizal lahir ke bumi 22 tahun silam, tepatnya 27 Agustus 1995, di Garut. Aktif di komunitas kepenulisan, yang diisi oleh orang-orang galau dan jomlo, KAFE KOPI. Beberapa cerpennya telah dimuat di berbagai media daring. Bisa dikepoin melalui: mr.nasrul19@gmail.com

Negeri Pasir Seribu Suluk

  Catatan perjalanan Ferry Fansuri

Jejakku sekarang menuju kota Pasir Pengaraian, tak banyak tahu tentang kota satu ini. Kota seribu suluk wilayah Riau propinsi Rokan Hulu. Start dari jalan Arengka sekitar jam 8 pagi menuju terminal bus Panam. Tapi sebelumnya dapat info bahwa transportasi ke pasir pengaraian harus dilalui angkutan L300, ini minibus sejuta umat khusus di pulau Andalas.

 

Pas dipinggir jalan celingak-cilinguk sampai membopong tas carrier merah buluk menunggu ojek samperin, masih jam 8 pagi kulihat jam tanganku. Memang di kota Pekanbaru masih opang (ojek pangkalan) tapi unik jika kita berdiri aja di pinggir jalan pasti ada kereta(motor) pasti samperin nawarin ojek. Setengah jam nunggu tak kunjung muncul si ojek dadakan. Pas kebetulan tempat berdiri berdekatan dengan pool Riau Taxi en pas juga ada 1 ekor taxi keluar, daripada lama-lama nunggu ku stop tuh taxi.

 

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/u/0/?view=att&th=15966a8820253ae8&attid=0.5&disp=inline&safe=1&zw&saddbat=ANGjdJ9AG6prnUd-D_hR4ixVDKjKWqdGn0z9654rcI3cznbUQ6e_HHWGwm_70Dm_plj13S2Lzr8imTUwz5DfujUsXGhnf3MIkRaj9X9FSQy7oSqlZCAJcY45-OtMdlS_od4cqUZJd9ah-oc6n9ukWmABbSUJhAjT5EyvjNZzs5zrWsDHS3CZvd2Q0lmPUgjXdcuH0BT0VYVkF_uOPumuV_--0hU7JzWf-0ZR8ra6LigSFkTVxK1hsNC0tLh0n9CQk34q7pLMAVKJzUTHXpWJWemVYXq2gTFRXj6BJTYTyyrTQT2XrcqUDbWicwGiI6cUVPUp5cBYmRZpyYYgIZ3gPf9pnIxkwRH81wZKLC8Ut1d62NBcy_PCZcqIwHC2Qk631YaFJ7_du0jC55sutYXIGZPV8bR7ZE2SBBKQNxzg0H0Pm5BqEe6vgnRz_DR9rIKvydyky_B3Cq8w3GQZd-kEurKMkb8YWQr9uVKHcPBWcX9y-YjCeSKccqzSHzpyF77f_-iiWV0655YJ2vIgnq3DOxooobl7ZJco1_7dlcF5-v0n09RMRo_ibU52BzfXPmm7DZ1PVSMOMHfjxiaseWQwKJfbDOzqkYpYDKuOEaIB_mFyaOlEr7o27az8WDWnYyE

Memang taxi agak mahal sekitar 60 ribu itupun ditentukan argometer, kalo ojek bias nego 40 ribu. Cuman 15 menit aja nyampai di simpang empat Panam jalan H.Soebrantas, disini terminal bayangan L300. Keluar dari Taxi, sudah diserbu calo yang mencoba mengais rejeki pagi hari. Berderet minibus Mitsubishi menunggu tujuan Bukittinggi, Padang, Bangkinang atau kota diperbatasan Riau dan Sumatera Barat melalui jalan kelok 9 yang terkenal itu.

Sebenarnya banyak alternatif transport ke pasir pangaraian seperti ke kota lainnya macam travel “Tapi untuk ke pasir belum ada yang resmi bang untuk travel, kita bisa jemput juga” ujar Daniel, salah satu calo terminal bayangan. Pemberangkatan cuman 2 jadwal pagi dan sore, ini dikarenakan kuantitas menuju pasir tidak sebanyak kota lainnya. Wajar karena Pasir dibilang kota perlintasan menuju Medan, sering dilalui Bus antar propinsi macam ALS.

Jam mendekati 9 pagi, L300 start dari simpang empat Panam dengan jarak 180 km atau 4 jam perjalanan. Melewati kota terbesar Bangkinang sebagai rute menuju pasir pangaraian, disini juga si sopir jemput bola angkut penumpang. Tarif normal L300 ini 30 ribu tapi pas kena calo 50 ribu, bagi-bagi rejeki deh pagi-pagi ceritanya. Kalo mau cepat naik pesawat, tapi mahal guys. Tak banyak tahu bahwa kota Pasir Pengaraian ada bandara namanya Tuanku Tambusai, pakai pesawat kecil baling-baling bambu 12 seat bisanya Susi Air menyediakan penerbangan pagi. Siap-siap sedia 280 ribu sekali terbang dari bandara Sultan Syarif Qasim, itupun dalam sepekan hanya 1 kali penerbangan. Kalo ente jurangan sawit bolehlah, naik pesawat pulang pergi.

 

Sepanjang perjalanan menuju pasir, kanan-kiri banyak budidaya kelapa sawit dan memang daerah Riau terkenal akan sawitnya. Tak aneh Indofood Group juga punya berhektar-hektar lahan sawit di bumi melayu ini. Jalanan juga dibilang naik-turun sedikit terjal, setelah 2 jam diombang-ambing per keras L300 berhenti di Rumah makan H.Nurman Ardai daerah Saran Kabun terkenal dengan Pesantren Darussalam-nya. Sejenak istirahat melepas lelah atau menunggu penumpang lainnya makan, seperti kebanyakan angkutan dimana aja pasti ada tempat ngetem. Rumah makan Padang ini juga dijadikan tempat ngetem L300, ini hubungan simbiosis mutualis antara pemilik rumah makan dan sopir. Owner diuntungkan datangnya pembeli dengan kompensasi menyediakan makanan gratis buat sang sopir.

Tepat jam 12 siang kita go again , melewati dua daerah ramai Tandun dan Ujungbatu sebelum tiba di pasir. Akhirnya jam 2 siang tiba memasuki kota, sesuai planku untuk diturunkan di Islamic Center Masjid. Karena browsing-broswing, Islamic center salah satu icon wisata Pasir Pengaraian. Terletak di jantung kota depan kantor pemerintahan bersebelahan lapangan Dataran Tinggi Rantau Baih dan hotel Sapadia.

 

Tapi eits ane kagak nginap di Sapadia, karena backpacker budget jadi nyari alternatif. Sebelumnya sudah nanya ke mbah google tentang hotel di Pasir Pengarian, memang ada beberapa tapi pas cek lokasi ternyata tidak ada. Berjalan menyusuri jalan Tuanku Tambusai berharap kelihatan penginapan, harapan dikabulkan pas ada. Penginapan Andisna Motor yang dibundling bengkel jadi tempat beristirahat sementara, memang bukan hotel bintang 3 tapi cukuplah. Cuman 200 ribu dalam TV channel berbayar en kipas angin, tapi kamar mandi luar. Taruh tas sebentar en mandi, istirahat sejenak melepas penat. Ada yang rekomendasi nginap di Ujung Batu, kota sebelum Pasir Pengaraian. Lebih murah dan beragam, lebih ramai bahkan ada rumah sakit Awal Bros.

 

Menjelang maghrib waktunya jelajah kota Pasir Pengaraian, kotanya sih tidak begitu ramai karena perlintasan. Ciri khas kota-kota kecil di Riau, uniknya ada betor (becak motor) yang biasanya ada di Medan sekitarnya berseliweran. Tujuan utama ke Islamic Center, icon Pasir Pengaraian terlihat megah. Disini dibuat satu kompleks dengan menara 99, jadi dipusatkan pendidikan dan agama Islam. Setelah mencicipi karpet masjid untuk Ashar, kesempatan berkeliling kompleks Islamic Center.

 

Menyusuri lorong-lorong yang mengitari masjid terasa sejuk. Penampakan sekilas seperti Taj Mahal di India terdapat kolam ditengah diapit 4 menara. Uniknya lagi tempat masuk jamaah wanita dan pria diberi tanda berbeda. Seperti untuk jamaah pria, pintu diatas terdapat tulisan Abu Bakar As Shidiq-Khalifah pertama sedangkan Pintu jamaah wanita bertuliskan Siti Khadijah-istri Nabi Muhammad.Jadi nggak salah masuk ruangan sholatnya, ane juga pas bingung banyak pintu mana yang buat jamaah pria. Biar nggak malu salah masuk, tiap pintu Islamic Center sesuai ruangannya masing-masing.

 

Setelah lelah mengelilingi masjid, dilanjutkan diluar masjid. Bagian depan Islamic Center ini ada tugu Ratik Togak. Ini termasuk salah icon terkenal kota Pasir Pengaraian, sebuah tugu perlambangan ekstensi Islam di sini, lima tonggak melambang 5 rukun Islam tersambung dengan tasbih. Memang Islam di Pasir sangat kuat, sebutan seribu suluk(tempat ngaji) disematkan. Selain pondasi religi, kota ini konon kaya hasil buminya macam emas. Dulu sungai Rokan Kanan atau Batang Buluh mengandung emas, banyak masyarakat sekitar melakukan tambang dengan teknik pengaraian(ayakan). Pasir disungai diayak sampai menghasilkan butir emas, itu asal nama Pasir Pengaraian diambil.

Kali ini ane cuman wisata kota aja untuk salam kenal dulu, sebenarnya Pasir pengaraian banyak wisata tempat yang wajib dikunjungi seperti obyek wisata air panas Hapanasan, Pawan, air terjun Aek Martua dan Danau Cipogas . Kalo tak suka main air bisa jelajah alam Taman Nasional Bukit Suligi dan Goa Huta Sikafir. Banyak obyek-obyek tersembunyi yang masih perawan perlu dijelajahi. Next Trip Next Rute. fey []

 

Biodata penulis:
Ferry Fansuri adalah penulis, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs. Eks redaktur tabloid Ototrend Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance untuk berbagai media Nasional

Puisi Muhammad Lutfi

 

Api di Dunia Pendidikan

Pendidikan hanya memberi sebuah harapan palsu

Kepada anak-anak yang pergi jauh dari rumah

Dan kepada orang tua, bapak ibu yang bersusah payah mulutnya kering gemetaran

Mendoakan anaknya siang malam.

 

Sebuah kurikulum hanya akan meranggas moral dan akal sehat,

Kalau para pejabat mendikte memori-memori

Penuh hitungan matematika dan bahasa asing.

 

Bahasa kita tersingkirkan, diri kita akan menjadi terbodohi

Dan senantiasa mengacu pada nilai, nilai, dan nilai.

Sedangkan nilai tidak pernah melambangkan kepuasan.

Hanya akan mendidik nurani menjadi orang yang curang, culas, dan manja.

Menyetor uang ke meja dan laci kepala sekolah.

 

Kita adalah bangsa yang payah, yang pongah, dan ragu.

Hati kita bimbang melihat ruang dan aset papan tulis para pendidik.

 

Lebih baik kita menjadi pengkritik nafsu serakah

Yang dihuni oleh kebejatan dinas maupun sipil.

Jangan sampai, hanya demi uang, kemuliannmu sebagai pahlawan

Hilang begitu saja,

Seolah begitu tak mengenal arti.

 

Sedangkan zaman selalu merundung pilu.

Waktu yang berbobot membuat kita menjadi tanpa bobot.

Dan keadaan yang terkoyak seperti ini,

Diriku sendiripun sedih dan bimbang, bingung.

Terkoyak oleh penjajahan hati nurani,

Baik dalam negeri sendiri, maupun dari luar.

Surakarta, 10 Maret 2017

 

Membongkar Kepalsuan

Dari balik jubahmu yang rapi, pecimu yang licin, dan suaramu yang fasih

Apakah benar kau tak pernah menyimpan dusta,

Tak pernah berkata khianat, atapun bertingkah serong.

 

Dari balik sikapmu yang diam, dudukmu yang sopan, dan gerakmu yang gemulai.

Apakah benar kau tak pernah mendurhakai, mencoba masa kenakalan,

Dan bersembunyi karena dikejar-kejar oleh ketidaktenangan.

Jangan bohong! Dirimu berkata lain,

Tapi masa lalu, adalah waktu yang berkata apa adanya.

Dirimu terbaca dan dibaca.

Olehku, olehnya, ataupun olehmu sendiri.

 

Kita bukan keturunan ningrat yang mewarisi harta, istri yang berlimpah,

Dan kenikmatan yang tidak terkikis sampai tujuh generasi.

Kita bukan anak seorang ulama yang paham agama,

Yang terjaga dari sebuah dosa karena kesucian.

Kita adalah orang yang pernah gagal, bersalah, dan mencuri.

Kita menyimpan derita, menanggung dosa yang kita pikul di pundak.

Karena apa?

Karena kita adalah manusia, yang jauh dari kata sempurna.

Yang selalu di penuhi oleh kelemahan.

Dipenuhi oleh ketidakmampuan,

Dan berbagai prasangka yang mencebloskan kita kedalam keterpurukan.

Makanan kita adalah ubi dan nasi, yang di tanam di tanah berkapur

Di belakang rumah masing-masing.

Tetapi kita tak merasa kalah, aku tak merasa sendiri.

Karena kita semua punya cerita dari warna hitam-putih.

Surakarta, 10 Maret 2017

 

 

Biodata

Nama saya Muhammad Lutfi. Saya bertempat tinggal di Desa Tanjungsari, RT.01/ RW.02, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah. E-mail saya ajidika69@yahoo.com. Saya lahir di Pati, tanggal 15 Oktober 1997. No.Hp: 085200135657. Fb: Muhammad Lutfi. Sekarang berstatus sebagai pelajar di Fakultas Ilmu Budaya, Prodi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta.

 

[Cerpen] Cukup Lima Huruf Saja

 

Oleh: Nasrul M. Rizal

Ruangan itu kurang lebih berkapasitas 200 orang. Semua kursi sempurna terisi. Tepat di bagian depan ruangan ada sebuah panggung. Di atas panggung tersebut ada dua sofa berwarna cokelat serta satu buah meja kecil. Bukan hanya itu saja, di belakang sofa terpampang backdrop bertuliskan Talk Show Bersama Dito, Penulis Novel ‘Cukup Lima Huruf Saja’.

Ruangan berkapasitas 200 orang itu mulai hening saat seorang perempuan berdiri di atas panggung, memulai acara. Perempuan tersebut memperkenalkan diri. Nayla ujarnya. Nayla memanggil Dito untuk naik ke atas panggung. Sekali lagi ruangan menjadi riuh dengan tepuk tangan.

Dito duduk disebelah Nayla.

“Sebelumnya saya ucapkan selamat datang di Kampus Isola dan terimakasih karena Mas Dito berkenan datang kesini untuk berbagi cerita dengan kami. Saya merasa bangga bisa duduk di sebelah anda.” Nayla tersenyum. Memulai pembicaraan.

“Saya merasa bahagia bisa datang lagi kesini. Dulu saya sama seperti teman-teman, duduk di sana menjadi peserta. Sekarang Alhamdulillah saya datang lagi kesini, duduk di atas panggung menjadi pembicara,” ujar Dito tersenyum, Tangannya menunjuk kursi di bagian belakang.

Ratusan pasang mata sempurna melihat ke arah Dito. Mata tersebut berbinar seakan berkata “Wah hebat.”

“Mas, sebelum acara ini dimulai banyak sekali yang menghubungi saya. Mereka menitip pertanyaan untuk Mas. Sepertinya hari ini Mas akan cukup sibuk untuk menjawab.” Nayla bergurau.

“Tidak apa-apa, saya akan menjawab semuanya. Apalagi yang bertanya perempuan secantik kamu, tidak ada alasan untuk tidak menjawab.” Dito membalas gurauan Nayla.

Ratusan bibir tersenyum menanggapi gurauan Dito. Sedangkan Nayla tersipu malu, pipinya merah.

“Oh iya, manggilnya Bang aja yaa. Kalau dipanggil Mas kesannya sudah tua. Terus saya takut dijual, Mas kan mahal.” Ruangan berkapasitas 200 orang itu pecah oleh gelak tawa.

“Siap Mas, eh Bang hehe,” canda Nayla, “lanjut ya Bang. Beberapa bulan terakhir buku Abang laku keras. Nah itu kira-kira kenapa ya?”

“Kayanya pas beli buku matanya kelilipan. Jadinya beli buku saya, karena terlanjur dibeli, makanya dibaca,” Dito menjawab santai.

“Haha, Abang bisa aja.” Nayla tertawa, begitupun dengan yang lainnya. “Pertanyaan yang tadi cuma bercanda ya Bang, hehe.”

Dito tersenyum. Tanpa Nayla bilang, dia pun sudah tahu kalo itu cuma bercanda.

Nayla melihat secuil kertas yang ia pegang. Lalu melontarkan pertanyaan.

“Bang, seperti yang kita tahu, novel ‘Cukup Lima Huruf Saja’ menjadi best seller dan meraih berbagai penghargaan. Kalau boleh tahu Abang mendapat ide darimana?” Nayla lanjut bertanya.

“Sebetulnya yang mendapat perhargaan itu bukan saya. Tapi semua orang yang sudah membacanya. Karena tanpa kalian, buku itu hanya sebatas tinta yang berjejer di atas kertas. Buku ‘Cukup Lima Huruf Saja’ merupakan buku yang paling lama saya tulis. Butuh lima tahun untuk merampungkannya. Saya memulainya saat menjadi mahasiswa.”

“Oh, gitu Bang. Lama juga ya prosesnya.”

Dito tersenyum.

Sekai lagi Nayla melihat secuil kertas yang ia pegang. Di kertas tersebut terdapat daftar pertanyaan “titipan”.

“Dalam novel ‘Cukup Lima Huruf Saja’ si tokoh utama memberi sebuah buku pada seorang perempuan. Kenapa harus buku, Bang? Tidak bunga atau kue gitu?”

“Karena saya mencintai buku. Dan novel itu menceritakan perjalanan cinta saya. Keluh kesah saya merangkai huruf, menggambarkan kenangan, yang sedari dulu ingin dilupakan. Seiring dengan semakin banyaknya kata yang ditulis, akhrinya saya sadar, kenangan pahit itu justru menjadi penting bagi hidup saya, karenanya saya bisa menjadi lebih dewasa,” Dito tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan.

“Melupakan apa Bang? Kenapa pengin dilupakan? Kenangan pahit, maksudnya?” Nayla bertubi-tubi melontarkan pertanyaan.

Semua orang yang berada di ruangan berkapasitas 200 orang itu penasaran. Sangat penasaran.

“Hmm… sebelum menjawab pertanyaan itu, apakah saya boleh minum terlebih dahulu?. Sepertinya tenggorokan saya kering hehe.” Ucap Dito menghiraukan pertanyaan Nayla.

Nayla mengembuskan nafas panjang, rasa penasarannya bertambah lama.

“Silakan Bang,” Nayla tersenyum.

Dito membuka botol air mineral yang disediakan panitia. Botol itu bersebelahan dengan sekotak cemilan di atas meja kecil. Air masuk kedalam mulut, melewati tenggorokan yang kering, menghilangkan dahaga. Segar rasanya. Semua orang menatapnya, menunggu jawaban. Mereka sangat penasaran.

“Bisa dilanjutkan Bang?” ucap Nayla tidak sabaran.

“Ini pertanyaan yang agak susah. Karena susah, saya ingin bertanya terlebih dahulu. Nayla punya kenangan?”

Nayla mengangguk mengiyakan.

“Banyak kenangannya?”

“Sangat banyak Bang.”

“Kenangan seperti apa?” Dito kembali bertanya.

“Eh, kenapa jadi saya yang diwawancara. Kan harusnya Abang yang saya wawancara hehe,” tukas Nayla.

“Daritadi Nayla terus bertanya, jadi sekarang giliran Abang yang bertanya. Abang lelah neng,” ujar Dito.

Ruangan berkapasitas 200 orang ini kembali dipenuhi oleh tawa. Dari semua orang yang tertawa, tawa Nayla paling keras.

Setelah ruangan ini kembali hening, Dito mulai menjawab pertanyaan Nayla.

“Semua orang mempunyai kenangan. Ada yang terus dijaga supaya tidak lupa, tapi akhirnya kenangan itu hilang. Ada juga yang mati-matian untuk dilupakan, tapi justru terus ingat. Dua hal itu adalah pilihan. Yang pasti mau dilupakan atau tidak, kenangan tersebut sudah menjadi bagian dari hidup kita. Jujur dulu saya pengin melupakan kenangan tersebut, kenangan yang sangat pahit. Tapi, semakin ingin dilupakan justru kenangan tersebut semakin menghantui,” jelas Dito.

“Kenangan seperti apa yang Abang maksud?”

“Kenangan dengan seseorang.”

“Pacar?”

“Bukan,” jawab Dito singkat.

“Terus siapa Bang?”

Hari ini Nayla menjadi miss kepo. Pertanyaan satu dijawab, muncul lagi yang lain.

“Yang pasti dia seseorang yang sangat berharga bagi hidup saya. Karenanya saya bisa melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda, memberi pemahaman baru akan sebuah kenangan, rasa sakit, luka, tawa, dan air mata.

“Pacar? Ya itu keinginan saya. Tiga tahun lamanya (semasa SMA) saya mati-matian untuk mendapatkan hatinya, berharap dia memiliki perasaan yang sama, menjadi orang yang paling spesial di hidup saya. Sayangnya, dia tidak mau, dan terus saja tidak mau. Yang lebih menyakitkan, dia bilang tidak ingin pacaran dengan siapa pun, nyatanya satu bulan setelah itu dia justru pacaran dengan lelaki yang sangat saya hafal. Sahabat saya.”

Nayla diam membeku. Dia kehabisan kata untuk melanjutkan pertanyaan, padahal masih banyak pertanyaan “titipan” pada secuil kertas yang dipegannya. Ruangan berkapasitas 200 orang ini hening seketika. Orang-orang saling tatap. Ketahuilah di antara ratusan pasang mata, ada sepasang mata yang mulai basah.

“Loh kenapa saya jadi curhat gini ya? Jadi malu hehe,” Dito bergurau, berusaha memecah kesunyian.

Nayla tersenyum canggung meladeni gurauan Dito.

“Tapi waktu itu saya benar-benar keliru,” lanjut Dito.

“Apa yang keliru Bang?”

“Jawabannya ada di novel yang kamu pegang, Nay.”

Nayla melihat novel tersebut. Novel berwana putih dengan gambar hati di covernya. Dia teringat sesuatu. Perkataan Alif (tokoh utama novel) saat bertemu dengan Safa.

“Selama ini aku keliru. Bagaimana bisa aku menyebut apa yang telah dilakukan itu sebagai pengorbanan? Kalaulah hawa nafsu yang menuntunnya. Bagaimana mungkin semua itu disebut perjuangan? Jika amarah yang merajainya. Aku menghabiskan masa-masa SMA untuk mengejarmu, berharap kau membalas cintaku. Aku benar-benar keliru, itu bukan cinta tapi nafsu.”

Nayla kembali menatap Dito.

Seorang perempuan yang duduk di baris paling depan berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di kelopak mata.

“Saya pernah merasakan sakit hati yang teramat dalam. Lelahnya bertepuk sebelah tangan. Membenci masa lalu, mengutuknya, menyumpahinya, menyesalinya. Pada akhirnya waktu memberi pelajaran yang sangat berharga, dia memberi tahu sesuatu. Menyesali masa lalu hanya menyia-nyiakan waktu, dan membencinya hanya menampakkan kebodohan di hadapannya.” Dito menatap seorang perempuan yang duduk di barisan depan. Perempuan tersebut tertunduk, enggan menatap mata Dito.

“Novel ‘Cukup Lima huruf Saja’ hanya sebagian kecil dari kehidupan saya di masa lalu. Kita sepakat kalau semua orang mempunyai kenangan, baik yang menyenangkan maupun menyedihkan. Maka tulislah kenangan itu, supaya orang lain bisa mengambil secuil pelajaran. Saya ingin semua orang berdamai dengan masa lalu yang pahit, memeluknya dengan erat. Memberi pemahaman baru tentang lima huruf  yang bisa mengubah hidup.”

Nayla menoleh jam tangan putih yang melingkar di pergelangan tangannya. Lima menit lagi talk show ini berakhir.

“Bang, di antara banyaknya titipan pertanyaan yang saya dapatkan. Kebanyakan bertanya mengenai akhir cerita di novel ‘Cukup Lima Huruf Saja’, bagaimana kelanjutan kisah Alif dan Safa? Apa yang terjadi setelah mereka bertemu? Mungkin ini pertanyaan saya yang terakhir pada kesempatan ini.”

“Pertanyaan ini sering saya dengar, bahkan sejak novel itu baru beredar di pasaran. Jujur saya sebagai penulisnya sendiri tidak tahu bagaimana kelanjutan kisah Alif dan Safa.”

Nayla tidak mengerti dengan jawaban Dito. Bagaimana mungkin sang penulis tidak mengetahui akhir dari cerita yang ia tulis?

“Tapi, kalian beruntung, sangat beruntung. Karena hari ini saya akan mendapat jawabannya,” ucap Dito melihat wajah bingung Nayla.

Mendapat jawaban dari siapa? Tidak mungkin ada yang tahu jawabannya, karena anda penulisnya. Kami tidak tahu jawabannya.

Belum sempat Nayla membuka mulutnya, Dito beranjak turun dari panggung. Ratusan pasang mata menatapnya heran. Ternyata seorang penulis sekelas Dito tidak punya tatakrama. Dia meninggalkan panggung padahal belum dipersilakan.

Dito meraih tangan seorang perempuan yang duduk di barisan depan. Perempuan yang sedaritadi berusaha menahan airmata yang menggenang di kelopak matanya. Dito menariknya ke atas panggung.

Nayla sempurna membeku, tidak ada sepatah kata pun yang mampu keluar di bibirnya.

“Kalian akan tahu bagaimana kelanjutan kisahnya dari Safa.” Di sebelah Dito tepat berdiri seorang perempuan yang kemudian diketahui namanya Safa.

Hah? Safa? Jadi perempuan yang tadi masuk bersama Dito itu, Safa? Tokoh dalam novel? Ternyata dia yang membuat Alif terpuruk dalam jurang nestapa. Tapi kenapa sekarang Dito membawanya kesini? Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak semua orang yang hadir di ruangan berkapasitas 200 orang itu. Sayangnya tidak ada yang berani mengeluarkan pertanyaan tersebut.

Dito berlutut di hadapan Safa.

Kenapa pula Dito harus berlutut di hadapan peremuan itu? Apa maksudnya? Harusnya dia membenci perempuan yang menyia-nyiakan dirinya, bukan berlutut di hadapannya. Apa arti dari semua ini?

“Safa, aku menghabiskan masa-masa SMA hanya untuk mengejarmu, mengharapkan cintamu. Sempurna kau menolakku. Dua tahun berikutnya aku tersungkur di jurang penderitaan. Memikirkanmu.. Aku membaca berbagai macam buku, berharap menemukan jawaban terhadap apa yang aku rasakan, tak ada satu pun yang bisa menjawabnya. Aku bertemu dengan ratusan orang, berharap mendapat penjelasan, tak ada yang mampu memberi penjelasan. Penjelasan kenapa perasaan itu masih ada, walaupun jarak membentang begitu jauh.

“Safa, sejak aku menulis buku, aku mulai mengerti sedikit demi sedikit apa yang harus dilakukan. Menjauhimu, memperbaiki diri, mengejar cita-cita serta mewujudkan mimpi-mimpiku. Sempurna aku larut dalam kesibukan. Sibuk membangun masa depan, mengejar cita-citaku, mewujudkan mimpiku. Kesibukan berhasil menghancurkan kesedihan, kegalauan bahkan kerinduan. Rindu yang tak beralasan untukmu.”

Nayla tertegun menyadari apa yang tertangkap oleh matanya. Dia lupa waktu talk show telah habis. Panitia yang lain pun sama, lupa. Mereka seakan memberikan waktu ini untuk Dito, tidak peduli seberapa lama pun itu.

“Takdir berbaik hati padaku. Saat aku berhasil mewujudkan mimpi. Di pameran buku tempo hari kamu menghampiriku. Meminta untuk menandatangani Novel yang aku tulis, untukmu. Berkat novel itu aku menemukanmu,” Dito menghela nafas panjang. Orang-orang di ruangan itu bahkan sampai lupa bernafas. Mereka melihat dengan saksama apa yang terjadi di panggung.

“Jika kamu bertanya kenapa aku melakukan semua ini, jawabannya cukup lima huruf saja. Kamu tahu apa?”

Safa menggelengkan kepala. Dia tidak tahu jawabannya.

“C-I-N-T-A. CINTA. Karena aku mencintaimu,” Dito terdiam sejenak.

Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Safa. Dia hanya menangis. Tangisan yang selalu ditakuti Dito. Dua belas tahun yang lalu Safa menangis setiap menolak Dito. Lantas apa arti dari tangisannya yang sekarang?

“Safa saat ini aku tidak akan memintamu untuk jadi pacarku. Aku sudah melupakan itu beberapa tahun yang lalu. Sekarang aku ingin memintamu untuk …” Dito menggantungkan ucapannya.

Dito menatap mata Safa lamat-lamat. Dia berusaha mengatur nafasnya yang tidak karuan. Jika dia tidak bisa mengungkapkannya sekarang, tidak akan ada lagi kesempatan.

“Aku ingin memintamu menikmati waktu yang disediakan malam dan siang, bersama. Menghiasi hari demi hari dengan senyuman.

“Safa maukah kamu… kamu… kamu menikah denganku?” Dito mengeluarkan cincin. Cincin yang tersembunyi di dalam kotak kecil berbentuk hati.

Ruangan berkapasitas 200 orang itu menjadi sangat hening. Tidak ada seorang pun yang bersuara. Bahkan cicak di balik jam dinding pun tidak berani bersuara. Semuanya ikut tegang menunggu jawaban dari Safa. Harap-harap cemas menanti kata yang akan keluar dari bibirnya. Rasa cemas Dito berhasil mengalahkan kecemasan semua orang.

Lima detik berlalu. Safa masih diam. Tidak ada jawaban.

Sepuluh detik masih sama.

Lima belas detik.

Tiga puluh detik..

Jantung Dito berdetak sangat kencang.

Empat puluh lima detik.

“Iya aku bersedia.”  Di detik yang ke enam puluh Safa menjawab. Jawaban yang sangat dinantikan Dito.

Dito memasukkan sebuah cincin pada jari manis Safa. Semua orang yang melihatnya bersorak bahagia, memberi tepuk tangan. Tidak terasa mata mereka basah. Di antara semua orang yang ada di ruangan itu tidak ada yang lebih bahagia dibandingkan dengan Dito. Dua belas tahun berlalu, akhirnya Dito berhasil mendapatkan hati Safa. Bukan sebatas pacar, melainkan lebih dari itu.

Talk Show pun berakhir dengan bergugurannya air dari kelopak mata setiap orang yang menyaksikan sepotong kejadian ini.

***

Satu bulan setelah talk show, Safa dan Dito resmi menjadi pasangan suami istri. Sebuah rahasia besar terungkap. Semasa SMA, Safa tidak benar-benar pacaran dengan sahabat Dito. Dia melakukan itu supaya Dito berhenti mengejarnya, supaya dia fokus terhadap masa depannya. Begitupun keputusan Safa untuk kuliah di Jakarta. Membentangkan jarak, menjadikannya sebagai penghalang.

Ketahuilah, bertahun-tahun lamanya Safa memendam perasaan yang sama dengan Dito. Tidak ada yang tahu selain air mata saat menangis menahan rindu. Tidak ada yang paham selain buliran keringat saat dia larut dalam kesibukan.  Maka sempurna sudah penantian Safa dan perjuangan  Dito.

 

   Biodata Penulis

Nasrul M. Rizal lahir pada tanggal 27 Agustus 1995 di Garut. Menulis adalah cara untuk memafaatkan waktu di sela-sela kesibukannya sebagi mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia. Berkeinginan mempunyai perpustakaan pribadi dan melahirkan karya yang bermanfaat. Komunikasi lebih lanjut bisa melalui facebook: Nasrul Muhamad Rizal atau line: @mr_nasrul

Puisi: Joe Annas Hasan

Polisi Tak Bertelinga

Mungkin panah telah menjadi Tuhan
Kemana perginya, disitu ujungnya ajal
Berita semakin mekar, tuli pun semakin jadi
Duduk di kantor, diam, bercerita, mungkin itu aktifitas mereka
Resah, risau, gusar hati orang-orang yang tak dianggap mata
“anakku dipanah, dimana pelakunya? Aku sedang terbaring tak mampu. Tolong carikan tersangkanya. Oh, rupanya polisi itu tak bertelinga. Mereka di kantor. Aku salah mengadu.” Keluh seorang Ibu.
Pndah saja dari Bau-Bau, jika tak berani melawan rusuh
Kini tak ada beda lawan dan kawan
Mana pelindung mana terlindung
Yang terlindung makin melarat oleh airmata
Sedang pelindung tetap tertawa dengan  rupiah tiap bulan
Oh, aku salah mengadu lagi
Baiklah akan kutanggalkan pakaianku
Tapi copot juga seragam polisi tak bertelinga itu
Copot seragam mereka yang hanya menengadahkan tangan

(Bau-Bau, Jumat, 25 November 2016)

 

Seperti Musim

Itu dia yang kurindukan
Datang seperti kedipan mata
Lalu pergi seperti tak mengenal
Malam memenjara tawa
Berpesta pora dalam putihnya putih
Layar berrpecah-pecah
Kecanggihan mesinnya melewati akal
Entahlah
Mengapa rindu mampu menyiksa
Padahal tak sedikitpun ia tampak
Berulang seolah aku satu-satunya
Dia yang kurindukan
Datang seperti hujan
Pergi seperti hujan
Seperti musim hari ini

(Bau-Bau, Jumat, 24 Februari 2017)

 

Semilir Angin

Ada semilir angin
Hanya sepintas
Tapi terus
Disana burung hitam berlomba
Lalu hilang
Di telan ombak
Ini hanya semilir angin
yang pergi tanpa pesan
(Kapal Ciremai, Sorong-Bau-Bau, Rabu, 16 November 2016, pukul 05.31 Sore)

 

Pernahkah Kau Bercerita

Pernahkah aku bercerita
Pada toilet yang kau kotori tiap hari?
Pernahkah kau bercerita
Pada air keruh di kolam kecil?
Kata ini sepeti kutukan
Dari selang-selang pengisi hidup orang miskin
Sekali lagi, ini seperti kutukan
Pernahkah kau bercerita?
Tentang kebohongan

(Bau-Bau, 16 Februari 2017)

 

Terima Kasih Untuk Malam Yang Tak Mau Sunyi

Terima kasih untuk malam yang tak mau sunyi
Kutinggalkan bunyi kipas di celamu
Terima kasih untuk malam yang tak mau sunyi
Atas waktu agar kau kusejarahkan
Terima kasih untuk malamyag tak mau sunyi
Telah kubelah bulan dalam panci
Terima kasih untuk malam yang tak mau sunyi
Biarkan iringan klakson kapal saling berkejaran
Terima kasih untuk malam yang tak mau sunyi
Kututup dengan birunya
sang legenda

(Wanci, Selasa, 22 November 2016)

 

Joe Annas Hasan, lahir di Ambon pada 22 Februari. Karya-karyanya baru tersebar di penerbit indie.  Aktif di bidang olahraga (Taekwondo). Nomor HP : 082248207003

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai