BERKACA PADA URAT POHON
berkacalah pada urat pohon saat segala ranting dan daun
meninggalkan dahan getah-getah akar yang dijemput kematian
urat-urat pohon adalah kitab yang terbuka
meriwayatkan hidup kita lahir dari rahim tanah
tumbuh dengan buah yang rimbun
namanya: usia!
semuanya menuju ke tanah
cahaya matahari seterang apapun
tak sanggup terangi semua yang kembali
pelan-pelan segalanya terkubur diam
wajah-wajah tengadah tanpa nafas
mencari warna di uban rambutnya
lantas menyerahkannya pada malam
TAK ADA YANG LEBIH INDAH
di bilik ini tak ada
yang lebih indah
selain duri
di ranting mawarMu
di bilik ini tak ada
yang lebih indah
saat hati dirajam
ranting duriMu
tuhan, penyair ini
terpanggang api
rinduMU
sebab sejak
mengenalMu
: Engkau tak pernah serupa!
SAJAK PARA PENYAIR
sajak-sajak kami menerima segala yang berlangsung dan berlari
: hujan yang tersisa di pepohonan, tikus merayap di langit-langit kamar, kuda-kuda
meringkik di kandang yang bersebelahan dinding kamar losmen murahan
yang di dalamnya terdengar ringkik perempuan di ujung telanjangnya
sajak-sajak kami adalah tidur yang menampung igau dan mimpi perawan tua
merindu jejaka, tangis gadis muda yang ditinggal lari perawannya saat akil balik,
suara bergemuruh di sepanjang rel kereta api tua atau kering matahari membentuk
bulatan bulatan uap yang membuat bumi keriput seperti usia yang tak putus-putus
meniup isyarat, melambai lambaikan bendera dan menggoncang lonceng-lonceng
sajak-sajak kami adalah bejana di dapur yang terisi air minum dan kali selokan
yang menggenangi lantai ruang tamu mengalir hingga ranjang serupa kolam
untuk mencopot dahaga dan membasuh peluh dan bilur pedih wajah dan mata
sajak-sajak kami adalah radio penuh suara riuh decit dan dengung benda-benda
yang mengabarkan hal-hal tak terduga, suara-suara yang melampaui lengking peluit,
gaung nada melebihi segala makna bahasa dan galau kota yang di bom para teroris,
segala suara cemas para serdadu di medan pertempuran, desah putus asa tahanan
yang dieksekusi pagi nanti, harapan yang kabur dari penumpang yang terikat di kursi
pesawat terbakar dan sekejap nyungsep mengambang di antara hiu yang meringis
sajak-sajak kami adalah juga kata-kata segar sekaligus kata-kata muskil yang aneh
melebihi semua mantra pawang, nyaris melampaui mukjizat para rahib
kami, para penyar melalui kata dan suara menumbuhkan segala
makna yang dicatat zaman!
(Ngawi, kedungdani)
HIKAYAT HASRAT
*) mencatat Gilles Deleuze
1/
ia membaca tubuh-tubuh itu.tubuh tanpa organ
mesin hasrat yang terpilin dari semacam sel atau telur
menetas, berubah wujud dan menumbuh
menjadi sesuatu yang tampak utuh seperti puzle
sejatinya terpisah serta terus menerus bergerak menuju entah
hasrat yang sembunyi di balik kerang
katup yang terbuka dan menutup
saat mata terbuka atau terpejam
tak peduli itu tanda atau makna
2/
ia merasa amat bahagia seperti bayi
yang melompat dari lumpur ketuban
yang belum peduli dengan pembenaran-pembenaran
sebab baginya tak ada yang baru dari kelahiran dan kematian
segalanya hanya sekedar tirai tersingkap menampakkan yang tersembunyi
semenjak bayi, hasrat telah meletup-letup
seperti nasib yang selalu keliru diramal
persis sebuah revolusi atau reformasi yang sibuk menemu pintu
segalanya selalu merambat bersama waktu
ia merasa manusia harus takluk pada dunia yang lain
3/
hasrat seperti kurcaci yang tiwikrama
tak satu pun bisa memeluknya dengan hangat
saat melompat-lompat seperti katak
berayun-ayun dari yang berubah dan yang terjadi
muncul dari yang tak terduga menuju nyata
temukan habitatnya sendiri sarang tempat
mendewasakan segala olah pikir, keinginan dan birahi
4/
sesuatu yang tampak nyata tak sanggup dipahami
walau sudah dibahasakan dengan sepeti makna
segala ingatan dan pengalaman luput digenggam
sebab makna melarikan diri kabur dari peristiwa
5/
ia suka permainan itu
semacam petak umpet yang tak punya satu peraturan
titik yang selalu bergerak dari satu garis lengkung ke lengkung lain
mirip bintang alihan, bergeser sepanjang masa
melacak makna dan mengikatnya
6/
ia sudah diramal oleh seorang peramal botak dan homo
disabda menjadi seorang santo atau rahib atau brahmana
karena hasratnya yang meluap ia dikutuk menjadi kitab
rujukan para musafir yang mencari peta dan pulau
namun, ia menolak menjadi mitos dan menggantung lehernya di pintu rumah
tangannya yang mengepal menggenggam sebuah wasiat
: ini cuma sekedar hasrat dan sebuah peristiwa!
(surabaya-ketintang)
RAINKARNASI DAJJAL (2)
aku biakkan kecemasan itu seperti kelelawar bertaring
melayang berterbangan menebarkan was di jalan hingga kolong ranjang
kubiakkan kecemasan itu untuk menumbuhkan gentar
maka duniamu akan terlipat di ketiakku
akan kubangkitkan kerajaan nero dan machiavelli
agar api menyala membakar apa saja
hingga takut dan gemetar mendengung seperti tawon
engkau pun akan meringkuk seperti trenggiling
atau babi yang akan kutusuk anusmu melengking-lengking
di tengah cemasmu kubangun surga. nirwanaku sendiri
rumah harem bidadari-bidadari telanjangku
RITUAL YANG MEREKA NAMAI: TEROR!
kau ganti bahasa dengan ledakan-dentuman
kau menyebutnya sebagai pertarungan suci
sorga bagimu harus dipetakan dengan darah
dan mesti dijaga dengan jubah-jubah suci
granat itu pun tiba-tiba hadir di meja makan anak-anak kami
maka, keramahan membusuk di mana-mana
pandangan mata menebar cemas curiga
koran-koran dan televisi pagi mengabarkan berita-berita kematian
namun mereka telah demikian biasa dengan pesona buruk itu
mereka jejalkan bersama takut yang was-was membuat kami linglung
sekarat itu mereka pilihkan untuk kami
angan-angan mitos mereka tentang sorga dan perang suci
menjadi kabar lelembut menebarkan dengki dan prasangka
menjalar bagai ular menjulurkan amarah yang diasah seperti kelewang
menyembelih siapa saja, tak peduli ibu atau anak perempuan sendiri
konon mereka impikan kafilah dengan pasukan surga
pemimpi yang percaya ayat-ayat bencana
dan mereka mengusungnya bersama keranda penuh bom
menjadi sesaji pesta-pesta pemakaman bersulang di atas nisan
itulah ritual yang mereka namai: teror!
TAN (5)
aku tak pernah cemas dengan takdir, sebab ini pilihanku
walau para serdadu dungu itu
akan mencungkil kedua biji mataku
aku tak pernah terpengaruh dengan gelap
segala cahaya telah kusimpan tidak pada mata
namun kulekatkan pada telapak kaki
dalam jalan paling rumpil, gelap dan berkabut
tetap saja aku mudah berlari-lari
kalian akan mengejar terseok
sebab lampu sejarah itu telah kucuri!
HIKAYAT ULAR YANG MENDESIS DI KEPALANYA
di kepalanya mendekam seekor ular dengan lidah bercabang
mendesis-desis beranak pinak di tiap serabut sel kelenjar otak
(persis ulat-ulat yang menggerogoti sebutir khuldi di genggaman eva)
desisnya menjilat pintu langit
: bukankah telah kau tukar keabadianmu dengan secuil kelamin syahwat?
langit lantas bukakan pintunya, julurkan sulur-sulurnya
mulailah ia melata merambatinya
lantas terperangkap dalam selokan tua
sabda itu berdengung
: mulailah perjalananmu mewaspadai ketololan sendiri!
riwayat itu pun dimulai
sejarah kelak mencatatnya sebagai sebuah legenda sepetak kebun
yang hilang bersama segenap prasastinya
(ular di kelenjar kepalanya itu masih saja mendesis-desis)
Ngawi
LELAKI PENAKLUK BUAYA
:buat penyair mashuri
Lihat, telah kuasah tombak dan kapak tajam-tajam pada padas karang. Sigra milir sang getek sinangga bajul. Lelaki itu mendorong rakitnya ke tengah sungai. Ngalir, ngalirlah ke muara menyisir hilir. Berkisah tentang seorang lelaki berikat kepala wulung menjagai sungai-sungai. Mengulang perjalanan Khidir yang dikuntit Musa menelisik pesisir mencuri kitab rahasia nasib, sorga, dan neraka.
Sigra milir sang getek. Lelaki dan rakitnya terapung-apung telusuri air dan kisah-kisah kuno, saat angka-angka tak jelas mana genap dan yang mana ganjil. Saat abjad-abjad tak jelas mana yang vokal mana konsonan. Sigra milir. Kuteriakkan mantram-mantram penakluk segala penghuni sungai. Kembang telon tujuh warna, cok bakal beserta putik asoka ditebar, terbuka segala pintu hantu, tersibak segala kabut. Mari timbullah segala buaya. Buaya sungai, buaya rawa, buaya darat, buaya samudera, buaya siluman. Buaya segala buaya, buaya maha buaya
Sigra milir. Rakit beringsut. Matram-matram mengigau. Inilah kidungku. Muncul engkau segala buaya. Merangkaklah ke mari, segera kubelah perutmu yang selalu bunting, sebab di sana kutemu segala frase dan kata-kata. Ayo, manis, merangkaklah dengan gairah. Di sini telah kusediakan ranjang hangatmu. Nina bobok oh nina bobok. Tidurlah manis dengan telentang, bentangkan buntingmu akan kutombak dan kubelah dengan kapak dan gergaji.
Sigra milir sang getek sinangga bajul. Segala buaya. Buaya sungai. Buaya rawa. Buaya darat. Buaya laut. Buaya siluman. Buaya maha buaya. Merintih-rintih. Perut buntingnya meledak. Muncrat janin kata-kata. Ohoi, Columbus temukan benua, aku temukan makna! Lantas, segalanya berubah aksara, terpahat di gerbang-gerbang kota, puing-puing candi, dinding-dinding biara, lonceng-lonceng gereja, kubah-kubah masjid, mercu suar dan rumah-rumah keong.
Lelaki itu masih setia mendorong-dorong rakitnya ke segala sungai-sungai. Ngalir susuri hilir. Tak sampai-sampai ke muara. Sigra milir sang getek sinangga bajul. Menabur mantram panggili segala buaya. Engkau mahluk manis baringkan buntingmu, dalam ketubanmu akan kutemu segenap rahasia lambang-lambang.
Sigra milir. Lelaki itu berdiri di tengah rakit, tegak dengan tombak dan kapak, menyisir hilir. Akulah penyair penjaga sungai kata-kata. Akulah penyair penakluk buaya!
Ngawi, kedungdani-kedung glagah
RUANG KERJA AYAH
ruang kerja ayah di loteng lantai dua.kalau jendelanya terbuka, lampu menyala
ia pasti ada di dalam menekuri pesawat komputer dengan mata setengah terpejam
sebelum memiliki komputer ayah bekerja dengan sebuah mesik tik tua setua ubannya
ibu amat senang mendengar tik tak tuk mesik ketik itu.
ditempelnya telinga di pintu mencuri dengar
sebab ayah melarang siapa saja masuk ke kamar kerjanya saat ia mendekam di situ
kata ibu, ayah adalah penyair.berkerja sebagai penyair.
sungguh aku tak paham profesi itu. sepengetahuanku, bekerja itu harus seperti
ayah kawan-kawanku si Kaila, Agis atau Sifak; berangkat ke kantor, jadi guru
atau pedagang di pasar besar, setidaknya jadi hansip di gardu jaga
kata ibu, ayah adalah penyair. seolah tuhan kecil yang sanggup mencipta apa saja
leluasa mencipta riang, petaka, harapan, senyum, caci maki atau kedunguan
seperti juga tuhan, kata ibu, ayah tak peduli dengan uang atau penghasilan.
tugasnya adalah mencipta. itu saja. mencipta sabda menuliskan firman kata-kata
tuhan merahasiakan bagaimana ia menciptakan mahluk dan menuliskan petuahnya
begitu juga ayah melarang siapa saja masuk ke ruang kerjanya
saat mencipta dan bersabda
“ini rahasia sebuah penciptaan”, katanya sambil mendelik
diam-diam aku pernah mengintipnya saat bekerja: ternyata saat menekuri komputernya
ayah hanya mengenakan celana dalam.kaki bergerak-gerak mengikuti jari-jari
mulut komat-kamit seperti presiden pidato atau dukun baca mantra
seperti juga tuhan, ayahku juga gemar menghukum, mengancam dan menakut-nakuti
acapkali ibu gemetar ketakutan saat wajahnya dituding-tuding dengan rotan
biasanya jika bertanya tentang rekening listrik dan tagihan pajak
diam-diam aku ingin seperti ayah, menjadi seorang penyair
: begitu berkuasa dan boleh hanya memakai celana dalam!
-ngawi-klitik-
Tjahjono Widarmanto, Lahir di Ngawi, 18 April 1969. Meraih gelar sarjananya di IKIP Surabaya (sekarang UNESA) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, sedangkan studi Pascasarjananya di bidang Linguistik dan Kesusastraan diselesaikan pada tahun 2006, saat ini melanjutkan studi di program doktoral Unesa.
Bukunya yang baru terbit MARXISME DAN SUMBANGANNYA TERHADAP TEORI SASTRA: Menuju Pengantar Sosiologi Sastra (2014) dan SEJARAH YANG MERAMBAT DI TEMBOK-TEMBOK SEKOLAH (2014)
MATA AIR DI KARANG RINDU (buku puisi, 2013) dan MASA DEPAN SASTRA: Mozaik Telaah dan Pengajaran Sastra (2013)
Bukunya yang lain yang telah terbit terdahulu : MATA AIR DI KARANG RINDU (buku puisi, 2013) dan MASA DEPAN SASTRA: Mozaik Telaah dan Pengajaran Sastra (2013), DI PUSAT PUSARAN ANGIN (buku puisi, 1997), KUBUR PENYAIR (buku puisi:2002), KITAB KELAHIRAN (buku puisI, 2003), NASIONALISME SASTRA (bunga rampai esai, 2011),dan DRAMA: Pengantar & Penyutradaraannya (2012), UMAYI (buku puisi, 2012).
Selain menulis juga bekerja sebagai Pembantu Ketua I dan Dosen di STKIP PGRI Ngawi, serta menjadi guru di beberapa SMA Sekarang beralamat di Perumahan Chrisan Hikari B.6 Jl. Teuku Umar Ngawi. Telp. (0351)746225 atau 085643653271. E-Mail: cahyont@yahoo.co.id,