Puisi Muhammad Fajar Andi

MENUNGGU KEPASTIAN CINTA

Aku masih berharap cinta datang
Kuyakin cinta akan datang
Untuk menemaniku yang kesepian
Yang kuinginkan cinta sejati

Aku rasakan bahagia penuh harapan
Aku mencari cinta tulus
Langkahku penuh cinta
Bahagia pasti kudapatkan

Kubisa temukan waita yang kuinginkan
Menunggu kepastian cinta
Yang buatku bahagia jalani hidup bersama
Aku pasti dapatkan cinta

Keyakinanku pada Allah sangat kuat
Aku percaya diri cinta sejati
Karena Allah aku jalani hidup
penuh cahaya yang terang

Pandaan, Pasuruan, Jawa Timur 15 Desember 2017

Fajar Andi Suharja atau Muhammad Fajar Andi   kerap disapa Andi,  Pernah belajar di SLB Pandaan Kab. Pasuruan. Saat ini tinggal  Jl raya Ahmad Yani no 5 RT 2 RW 7 Petungwulung, lingkungan petungasri depan kantor kecamatan Pandaan Pasuruan-Jawa Timur.  WA: 089678244486

[Cerpen] Membunuh Ibu

Oleh : Nanda Dyani Amilla

Kemarau panjang melanda hati wanita berusia setengah abad itu. Matanya tak lagi cerah sejak bertubi-tubi cobaan Tuhan menimpa rumah tangganya. Hari-hari ia habiskan dengan tangis. Meratapi mengapa kehidupan dunia sekejam ini. Tubuhnya tak lagi gemuk, hanya kulit yang membungkus tulang-tulangnya. Semangatnya tak lagi ada, hingga berjalan pun ia terpapah. Kepahitan memakan habis sisa bahagia di umur senjanya. Tak ada lagi yang tersisa, hanya bongkahan duka yang terasa menghantam keras dadanya.

~
Bik Jah, begitu warga kampung Pinangjaga memanggilnya. Ia hanya buruh cuci yang setiap hari melahap baju kotor warga yang memerlukan tenaganya. Dari helai-helai baju itulah, ia bisa mengenyangkan perut kelima anaknya. Juga suaminya yang belakangan ini jarang pulang ke rumah. Entah bersebab apa, lelaki yang tujuh tahun lebih tua darinya itu mulai jarang berdiam diri di rumah. Pagi buta sudah pergi, malamnya lupa kembali.
Bik Jah tidak terlalu memikirkan kelakukan suaminya. Baginya, anak-anak adalah alasan mengapa ia terus bekerja keras. Suaminya bukan lagi prioritas. Ditengah ekonomi yang menghimpit, rasa-rasanya cinta bukan lagi hal pertama untuk dipikirkan. Biarlah hatinya patah-patah mendengar segala bisikan tetangga. Biarlah dadanya berlubang duka dihujani tatapan rasa iba.

.
Bukan Bik Jah tak bisa marah. Tapi ia memilih mengalah. Tak ada guna meributkan hal-hal yang belum tentu terjadi, usianya sudah tua, akan malu jika tengkarnya hinggap di telinga tetangga. Anak pertama dan keduanya pun kerap berkata demikian. Keduanya sudah bukan lagi anak-anak. Marni, anak pertama, bahkan sudah menikah. Namun suaminya entah kemana. Itulah mengapa ia masih tinggal serumah dengan Bik Jah dan keluarga.

.
Sementara anak keduanya, Ahmad, senangnya berkumpul di cakro yang ada di simpang rumahnya. Pagi ke siang ia tidur, sore ke malam ia memetik gitar bersama teman-temannya. Sesekali menggoda para gadis yang lewat di sana. Ingin Bik Jah memaki dan menyeret anak lelakinya itu untuk pulang ke rumah. Namun Bik Jah sadar, anaknya bukan lagi bocah yang bisa dimarahi sesuka hati. Beberapa kali dinasehati, Ahmad tidak peduli. Beberapa kali disuruh bekerja, ia mengomel sendiri.
“Mau kerja apa, Bu? Tamatan SD sepertiku mana ada yang mau terima,” katanya ketus.
“Kerja apa saja. Kuli bangunan juga tidak apa-apa,” jawab Bik Jah kala itu.
“Malu. Gengsi!” bantahnya masih dengan nada ketus.
“Ibu kalau modal gengsi dan rasa malu, mungkin kau dan adik-adikmu tidak akan hidup sampai detik ini!” Bik Jah menatapnya tajam. Marah sekali ia mendengar jawaban anaknya.
“Itu kan ibu, beda denganku!” Ahmad tetap membantah.
Sedih rasanya mendengar kalimat itu dari mulut anak lelakinya. Sementara Bik Jah dihujani tatap penasaran dari ketiga anaknya yang masih berusia SD dan SMP. Mereka masih belum mengerti apa yang tengah didebatkan ibu dan abangnya. Sambil menahan letupan kekecewaan, Bik Jah bangkit dari duduknya dan beranjak ke kamar. Meninggalkan gumpalan keheranan dari raut wajah anak-anaknya.
* * *
Bik Jah masuk rumah sakit. Bukan. Bukan karena kelelahan mencuci. Bukan pula karena sakit kepala menghadapi tingkah kelima anaknya. Tapi bersebab pikiran dan rasa sakit di hatinya yang berkepanjangan. Dua hari lalu, tengkar hebat terjadi di rumah kecil itu. Rumah yang sejak puluhan tahun ia tinggali bersama suami dan anak-anaknya. Rumah yang dikenal tetangga jarang terdengar pertengkaran di dalamnya. Dua hari lalu, berubah seketika.
Pecah sudah sabar Bik Jah menghadapi suaminya. Tak tanggung-tanggung, tangisnya ia tumpahkan tanpa jeda. Isaknya terdengar oleh tetangga. Tak peduli lagi bagaimana ia akan menjawab segala pertanyaan mereka esok hari. Suaminya pulang dengan kabar menjijikkan.
“Aku sudah menikah lagi.”
Sepenggal kalimat itu merobohkan pertahanan Bik Jah selama ini. Tangisnya, kesalnya, kekecewaannya, juga rasa sakitnya kini luruh satu-satu. Malam itu, Bik Jah menangis di hadapannya suaminya. Rasa sakit hati menghantam dadanya. Mengoyak sisa kekuatannya untuk tetap bertahan hidup. Lelahnya tidak lagi diperhitungkan lelaki yang puluhan tahun menjadi suaminya. Semuanya terasa amat sia-sia.
Bagaimana bisa suaminya menikahi wanita lain tanpa seizin darinya? Bukan hanya tanpa izin, tapi juga tanpa sepengetahuannya. Cincin lain sudah melekat di jari suaminya. Itu artinya bukan hanya ia yang kini menjadi makmumnya, melainkan ada wanita lain yang kini posisinya sama dengannya. Keterlaluan! Tangis Bik Jah tak bisa berhenti malam itu. Dadanya seperti terhimpit ribuan batu. Anak-anak mengintip dari kamar, menyaksikan ibu mereka bertarung dengan air mata. Tidak ada raut menyesal dari wajah lelaki yang tak lagi muda itu. Tak ada rasa kasihan yang ia tunjukkan lagi pada Bik Jah, wanita yang telah memberinya lima orang anak.
Bik Jah masih menangis. Dihapusnya berkali-kali, tetap saja air matanya jatuh lagi. Hatinya bukan saja tersakiti oleh kabar pernikahan itu. Melainkan kenyataan baru yang dilontarkan suaminya bahwa ia telah pindah agama. Habis sudah cinta Bik Jah pada lelaki itu. Habis sudah percayanya pada ayah kelima anaknya.
Suaminya menikahi wanita yang beda agama. Dan kini, suaminya tidak satu keyakinan lagi dengannya. Bagaimana ini? Bik Jah merasakan sakit yang luar biasa di bagian kepalanya. Mendadak ia terhuyung. Jatuh berdebam di atas lantai. Sontak jerit histeris keluar dari mulut anak-anaknya. Malam itu, Bik Jah bermalam di rumah sakit.


Seminggu sudah sejak kejadian itu. Bik Jah tak lagi seperti dulu. Ia tidak lagi menjadi buruh cuci. Marni-lah yang menggantikan tenaganya. Anak sulungnya itu mendadak menjadi yang paling mengerti ketika kondisinya tengah sekarat seperti ini. Sejak kejadian menyakitkan itu, kondisi Bik Jah semakin memburuk. Habis sudah tubuhnya kini, tinggal tulang yang menampakkan bahwa kondisinya tak sebaik dulu. Kini ia begitu kurus dan lesu. Tidak ada semangat dalam bola matanya lagi. Tidak ada cerah dalam raut mukanya kini.


Cobaan tidak berhenti sampai di situ. Imah, anak ketiganya yang masih duduk di kelas 3 SMP, mendadak membawa kabar duka bagi hati Bik Jah. Tercabik lagi jiwanya. Sepertinya Tuhan belum mau berhenti menguraikan tangisnya. Bik Jah jatuh pingsan mendengar pengakuan anak perempuannya itu. Imah telah hamil di luar nikah. Tamparan keras dari Marni pun mendarat tepat ke pipi kiri adiknya. Marni murka dan menusuknya dengan kalimat berurai air mata.
Selesai menunggui pejam Bik Jah karena pingsan, Marni mendekati ibunya. Dibelainya lembut tangan sang ibu dengan penuh kasih sayang. Dihapusnya sisa air mata yang masih menempel di sudut pipi sang ibu. Betapa Marni ikut merasakan kesakitan yang dirasakan ibunya selama ini. Dengan berurai air mata, Marni memeluk erat ibunya yang lemah. Bik Jah hanya diam. Air matanya ikut tumpah.
“Maafkan kami, Bu. Sungguh, maafkan kelakuan kami,” Marni bersuara dalam isaknya. Dadanya bergemuruh hebat. Tangisnya membasahi baju Bik Jah.
Bik Jah hanya menggeleng pelan, air matanya masih tumpah, susah payah ia berkata ‘tidak apa-apa’ namun suaranya tercekat dalam dada. Tubuhnya terasa tidak lagi bertenaga. Setelah apa yang telah ia alami belakangan ini, rasanya Bik Jah tak sanggup lagi untuk berdiri. Marni melepas pelukannya. Matanya merah, pipinya sudah basah. Ia menyekanya perlahan. Lantas tersenyum menatap Bik Jah.
“Ibu mau minum susu?” tanyanya.
Bik Jah menarik sudut bibirnya. Sudah lama ia tak mendapat perhatian seperti itu dari anak sulungnya. Sekilas Bik Jah mengangguk. Marni keluar kamar dan beberapa menit kemudian, ia kembali dengan susu putih di tangannya.
“Minumlah, Bu. Habiskan.” Marni menyodorkan gelas itu pada ibunya.
Tanpa rasa curiga, Bik Jah menghabiskan semuanya. Sementara Marni tampak menahan air mata. Ia menggigit bibir bawahnya. Kuat. Kuat sekali. Bik Jah telah menghabiskan isi dalam gelas itu. Ia merasa perutnya mulai hangat, pikirannya pun demikian. Hingga beberapa menit kemudian, ia merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhnya. Marni mulai menangis, menutup mulutnya.
Bik Jah mulai mengejang. Kepalanya pusing tak berkesudahan. Untuk setelahnya, buih menghiasi sudut bibirnya, Banyak, banyak sekali. Tangis Marni semakin kencang, ia pegang tangan ibunya yang memucat.
“Maafkan aku, Bu. Maafkan aku…” tubuhnya terguncang hebat.
Marni dengan sengaja mencampurkan obat serangga ke dalam gelas susu itu. Tak tahan hatinya melihat ibunya menderita lebih lama lagi. Maka dengan tega, ia ingin menyudahi kesedihan itu. Baginya, sang ibu sudah cukup menderita berada di dunia ini. Dengan gila, Marni melakukan semua ini. Dengan sesak di dada, Marni tega membunuh ibunya sendiri.
Napas Bik Jah mulai jatuh satu-satu. Kesusahan ia menghirup oksigen yang tampaknya semakin sempit. Matanya berkunang-kunang. Sebelum akhirnya ia menutup mata, Bik Jah menatap Marni tuk terakhir kalinya. Sulungnya berurai air mata, memanggil-manggil namanya. Begitulah adanya Bik Jah, bahkan menghadap kematiannya pun, ia tidak pernah berburuk sangka. Baginya, lumrah manusia menyakiti, lumrah baginya untuk memahami dan memaafkan tanpa henti. Bik Jah tidur untuk selamanya, sementara tangis Marni meraung di udara.[]

 

 

 

(Penulis adalah mahasiswi tingkat akhir di FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia)

Puisi Moh.Romli

CHANDA

 

Chanda, Garis di bibir itu terhampar kisah lalu

serupa gerakan gelombang sore yang di iringiri sepoi bayu

dan lagu camar yang mulai bisu mengantukkan diriku.

 

Chanda, kau curi waktu sore itu

kau buat tuli telingaku

kau buat lalai kaki dan tanganku

hingga setiap gemahan

aku lupa harus menari dan bernyanyi

 

begitupun dibawah sadarku

senjatamu bagai tombak penghisap darah hamzah dulu

kau telah buatku lupa

dimana aku harus tunduk pada kebenaran.

 

Chanda, kau serupa hujan yang jatuh di tengah-tengah musim kemarau

walau tak mampu menyuburkan tanaman di halaman rumahku

namun aku merasakan kesejukan dalam hatiku

meski ku harus buang jauh.

 

MATAMU SUNNA

Pada angin timur

aku bertanya tentang matamu yang lupa

Pada senja lamur

aku bertanya tentang wajah bersalin rupa

 

Apa karena semua telah di murka?

 

Rindu, rindu, rindu, jadi luka

lalu bagaimana dengan kedamain yang pernah kita sapa

apa takkan menyapa?

 

aku hanya termangu

andai saja aku bisa seperti bayi

yang damai dengan ibu jarinya sendiri

mungkin aku telah lupa, matamu yang berduri.

 

AKU INGIN

Aku ingin menjadi penyakit rindu

yang takkan pernah ku rindui

 

aku ingin mejadi pengukir waktu

yang takkan pernah ku waktui

 

aku ingin menjadi pengarang lagu

yang takkan pernah ku lagui.

 

namun aku tak pernah ingin menjadi seperti kamu

yang terus menyakiti.

 

SAUDARA KU

Sungguh tak seperti yang aku cipta

benih yang telah lama kita tanam

kucoba pupuki dengan mainannya sendiri

namun tawa begitu dalam sembunyi di pekat malam

hingga kini telah berbuah duri, Duri cengkrama malam

 

Saudaraku, kalian saudaraku!

tak ku pahami faktornya

pupuk atau benar racun kuberi

tak kubiarkan duri itu tumbuh hingga padat

nantinya pasti menusuk kaki kita sendiri

 

barangkali kita harus mengutuknya

dalam dzikir kita yang sama

hingga nanti, Kembali berbuahi rindu.

KARJE MADURE

Musim kemarau adalah lagu diantara siang dan malam

dimana tontonan jadi tuntunan

dogma suci jadi cacian

kemaksiatan, kebenaran

tanamkan kemurkaan

pada generasi yang di korbankan

tuli, buta, sampai setiap nikmat disiakan

jadi semakin jadi, jadi semakin jadi

setiap karsanya racun mengalir kencang

hingga bermacam jenis ekor menjadi sasaran

menebus dosa dari hasil curian.

 

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995. Bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep. Kumpulan Puisi Terbarunya MIMPI YANG TERTUNDA. (2016)

No. 085232343060

083853208689

[Cerpen] KOLAT

 Oleh: Sabda Alur

Aku benar-benar ingin menemui bapak sore ini. Semenjak banyak orang sering mendatangi kuburannya, aku tak lagi bisa bermain di samping gundukan tanah yang hanya ditandai sebuah batu sebagai nisan.

Suasana agak riuh, saat aku berjongkok di bawah pohon rambutan. Semakin mendekati adzan maghrib, orang-orang semakin berjubel. Sebagian ada yang sibuk merapal do’a sambil memegangi ujung nisan, sebagian lainnya menyirami kuburan dengan air kembang mawar. Wajah mereka sangat khusyu’. Matanya terpejam dengan sedikit mendongak ke langit.

“Kau pegang kolat tadi? Aku tak percaya ada jamur macam itu,” ucap seorang lelaki yang berjongkok di sampingku.

“Ya, barangkali Jumarto kasian melihat bini dan anaknya sengsara.”

Sebenarnya, aku tak ingin melihat orang-orang datang ke kuburan bapak. Kalau sekedar menengok rupa kolat yang tumbuh di dekat nisan, tak apa. Tapi, lihatlah sore ini. Orang-orang berdo’a dan meminta banyak keinginan di kuburan bapak terutama kesembuhan penyakit dan cepat kaya. Anehnya, Lek Man, saudara bapak satu-satunya, menjual air yang katanya telah didoa’kan secara khusus di atas makam bapak.

“Kau tau, kemarin lusa ada polisi datang kemari. Mau mencabut jamur itu. Bahkan sampai digergaji, kolat tetap tak bisa terpotong. Sepulang dari Seputih, polisi itu mati ditabrak truk.”

“Pasti itu karma, Jup. Sudah tau kuburan itu angker.”

“Kau benar. Barangkali mereka tak tau, itu kuburan siapa. Jumarto memang miskin. Tapi, kebaikannya tak ada yang menandingi.”

Jamur yang tumbuh di atas makam bapak memang tak seperti jamur lainnya. Tingginya tak sampai setengah meter. Bercabang seperti pohon dengan batang dan ranting. Sudah sebulan lebih kolat itu tumbuh dan sampai sekarang tak layu. Barangkali, ini yang membuat orang-orang dari luar kabupaten datang berkunjung. Meminta banyak keinginan, membeli air Lek Man dan sedikit memberi uang untuk emak.

“Eh, itu, Samad! Yang jongkok di samping laki-laki bersarung coklat.”

Puluhan orang-orang yang berada di sekitar kuburan, menoleh ke belakang. Mereka berlari ke arahku. Pastinya akan berebut menyalami tangan kecilku ini, lalu menyantuni dengan beberapa lembar rupiah. Tak cukup sampai disitu. Mereka akan meminta dido’akan, sebab hanya aku anak bapak yang kuburannya ditumbuhi kolat. Mereka percaya do’aku mandih. Dikabulkan Tuhan.

Aku tak mau turuti keinginan mereka. Kaki ini meliuk-liuk diantara kuburan berlari pulang. Sesampai di dapur dengan nafas tak teratur, kudapati suasana rumah cukup ramai. Masih dengan nafas terpotong-potong, kulihat banyak orang berpakaian dinas polisi duduk di dekat emak. Ada pula yang berpakaian seperti sesepuh di kampung. Ya, itu memang sesepuh.

“Tak mungkin kita biarkan terus menerus. Sebulan lebih jamur itu ada disana. Lihatlah orang-orang yang selalu seliweran berdo’a dan meminta.”

“Orang-orang mulai salah mengartikan ziarah. Mereka meminta agar penyakitnya disembuhkan. Itu tak boleh dalam agama.”

“Kalau begitu, apa bapak-bapak ini bisa mencabut kolat itu? Nyatanya, dulu digergaji tak bisa. Ini bukan kolat sembarangan. Ini takdir Tuhan berikan kolat di kuburan Jumarto. Kalau bapak mau mendapat karma, silahkan saja dicoba,” Lek Man berseloroh tinggi.

“Anak buah saya murni mati tertabrak truk. Benar-benar kecelakaan. Tak ada kaitannya dengan jamur itu. Kalau kalian semuanya tak mau bekerja sama dengan kepolisian, tak apa. Tapi, kalian semua akan berurusan dengan kami, sebab tak mau berkompromi demi kebaikan bersama.”

Suasana hening. Lek Man diam. Begitupun sesepuh kampung, turut mematung.

“Sekiranya itu demi kebaikan kita semua, saya ikhlas, Pak. Alangkah baiknya jamur itu memang dipotong atau bahkan dibuang.”

“Apa yang kamu lakukan Sa’ti? Kau tak bisa lihat, hidupmu lebih baik setelah kolat itu tumbuh? Benar-benar gila kau rupanya,” mata Lek Man  mendelik. Tersirap mendengar penuturan emak.

“Jumarto itu suamiku, Man. Lagi pula, aku tak menginginkan ini semua. Untuk apa rumah berbatu bata, lantai keramik, lalu uang melimpah kalau nyatanya orang-orang menjadikan kuburan Jumarto sebagai Tuhan,” bibir emak bergetar. Tak pernah kulihat wajah seperti itu sebelumnya.

“Ah, dasar manusia tak mau diuntung. Sudah baik aku urusi keuanganmu. Tak tau berterima kasih.”

Lek Man keluar tanpa salam. Dan, emak kembali mengusap matanya yang berair.

***

Keesokannya, suasana di kuburan bapak lebih riuh dari sebelumnya. Ratusan polisi menjaga area kuburan. Berita pencabutan jamur sudah menyebar. Ada yang setuju, sebagian besar lainnya berusaha menyerang polisi.

“Keparat kalian semua. Pasti kalian celaka.”

“Kalau kalian tak percaya, lihat saja sebentar lagi.”

Suasana semakin panas. Kulihat Lek Man berada di depan orang-orang. Mengeluarkan sumpah serapah tak karuan. Petugas tak hiraukan dengungan warga. Mereka tetap menggali sampai akhirnya berhenti.

“Angkat saja bambu-bambu itu!” perintah salah seorang lelaki berpakaian polisi, yang menyuruh para penggali mengeluarkan dinding areh. Sekat di dalam kuburan yang terdiri dari beberapa potongan bambu.

Saat dinding areh diambil, para penggali tercengang. Mendadak mereka loncat keluar dari kuburan. Tersisa seorang di bawah sana.

“Ada apa?”

Penggali tadi gemetar. Mukanya pucat.

“Jamur itu, tumbuh dari kepala jenazah, Pak.”

Komandan di hadapannya tak kalah tercengang. Ia turun ke dalam kuburan. Tiba-tiba hujan turun mengguyur. Petir saling bersahutan. Padahal terik matahari sebelumnya menyengat. Komandan tadi keluar. Menghampiri penggali tadi supaya turun kembali. Penggali kembali turun membawa gergaji. Suara gesekan gergaji dan jamur terdengar keras. Lagi-lagi penggali tadi menggelengkan kepala. Jamur tak bisa dipotong. Bahkan gergajinya patah. Jamur hanya berbekas lalu mengeluarkan darah.

Sesepuh kampung terkejut. Ia menyuruh komandan menghentikan pekerjaan ini. Komandan tetap bersikukuh. Ia mengeluarkan kembali gergaji baru. Menyuruh keluar para penggali. Ia turun ke kuburan. Memotong sendiri jamur itu. Tak sampai menyentuh jamur, petir menyambar tubuhnya. Sang komandan mendadak mati. Orang-orang yang semula mengeluarkan sumpah serapah, terdiam melihat tubuh kaku komandan. Mereka tak percaya, ucapannya terbukti.

Aku yang melihat tubuh komandan diangkat dari dalam kuburan, tak kuasa menopang tubuh. Seakan Tuhan benar-benar menjadikan kolat itu sebagai mukjizat layaknya para nabi. Tiba-tiba aku ingin menemui bapak. Melihat kain kafan dan tubuhnya yang tak tak terjamah tanah meski lima tahun telah meninggal.

“Bapak,” ucapku bercampur isak tangis.

Sesepuh kampung menghampiri. Menahan tubuhku yang bergerak turun ke dalam kuburan.

Tiba-tiba saja petir datang menyambar. Kilatan cahayanya jauh lebih silau. Semua mata tak bisa memandang. Kali ini tak ada yang mati tersambar petir. Manusia ataupun pepohonan. Aneh. Tubuh bapak tak lagi di dasar kuburan. Ia menghilang. Ya, ia terangkat ke atas. Seakan ada yang membawanya terbang. Langit seakan terbelah. Tubuh bapak terus terangkat. Aku melihatnya. Tubuh bapak diangkat ribuan orang berjubah putih. Terus menaik. Tiba-tiba sesuatu jatuh di dekat kaki. Kolat. Ini kolat seperti yang ada di kuburan bapak. Panjangnya sekitar dua puluh sentimeter. Memiliki batang dan ranting. Bercabang seperti kolat yang didatangi orang-orang kemarin.

 

Sabda Alur, Bertempat tinggal di Jember, Jawa Timur

Puisi Arif Tunjung Pradana

Puan

Perempuan itu berlarian dengan kata-katanya sendiri; memanjang kepada mata mawar yang telah menua. Tubuhnya mengeras dan tersapu suara menggema yang entah dari siapa. Gerimis mengancam matanya yang berkaca-kaca dan terpercik tajam ke empat penjuru mata angin.

Tiba-tiba ia merasa asing dalam waktu yang hening; dengan derai di sekelilingnya.

 

Taman Kala

Di sebuah taman gaunmu terkubur rapi dengan pertengkaran saat cahaya bulan menari-nari tepat di atas senyuman wajahmu. Bercak warna yang begitu ringan kemudian memerah lekat dengan rahang-rahang belati yang tersentak dan mencatut urat nadimu dalam pandangan tajam. Menghabiskan malam-malam yang mencekik kewarasan begitu juga akan kehormatan. Ambisi adalah sampah dan kotoran yang menyematkan rangkaian bunga dalam dada kemudian mengakar dipikiran. Aku adalah kebodohan; tak pernah usai mengancam setiap senyuman.

 

Menumbuhkembangkan Kenangan

Kita telah berhasil menumbuhkan kenangan yang membanggakan sekaligus menyakitkan. Bahkan derap langkah tumpukan nama-nama baru dalam berkas-berkas tua itu masih tertata rapi dalam ingatan. Bayangan harapan, ambisi, dan kekekalan kerap memandangi tubuh-tubuh kita yang takluk akan kenyamanan dengan perlahan.

 

Ambisi

Kematian mengawali cerita tentang ambisi, kehormatan,  dan dendam yang tak pernah usai. Teka-teki kehidupan selalu berpaling kepada adab yang purba. Bercak darah menyayat pandangan yang perlahan memutih. Perhelatan perihal ambisi adalah keteduhan hati. Pertikaian akan kehormatan adalah kerusuhan jiwa. Dan,  dendam yang tak pernah usai adalah tagihan-tagihan yang menumbuh-kembangkan perasaan.

 

Ranjana

Sebulan terakhir Ranjana melewati jalan kecil dengan kaki telanjang; penuh denyut nadi para pemeran. Setumpuk berkas berisi rencana-rencana kecil menatap mata kita. Nyaman mengkristal dan membaur ke segala penjuru sudut senyuman dalam detak detik waktu. Lelah mulai menghukum beberapa prasangka bersalah ketika suara-suara menyusur menjelma bayang-bayang angka. Barangkali rindu adalah penjara yang pandai menghitung mundur angka-angka itu dan menghancurkan kenyamanan yang telah menua. Hanya nafas kita yang mampu menyelesaikannya; menjadi harapan dan halaman rapi yang disusun dalam kotak memori dalam hati. Genangan sungguh akan menjadi kenangan dan perihal ketegangan biarlah menjadikan kita kebanggaan.

Melingkari Wajahmu

anak kecil berlarian di sekujur lingkar wajahmu, bernyanyi-nyanyi di kaki langit kemudian menyulam senyum dengan denting hujan di balik lengkung alismu.

ia menggertakan tubuhnya ke dalam rumah yang mematang dirajam waktu. dadanya menganga dengan segala teduh yang menengadah.

sempurna abadi dalam kantung matamu dengan dentuman memejam.

 

Beranda Rumah Tua

/1/

Kenangan menggenang di beranda rumah tua itu, menggenapi peristiwa-peristiwa yang tak pernah terbayang dalam pelukan, hentakan, ataupun lengking ingatan. Hujan menembus sela-sela kelopak bibirmu dengan murka, menunggu detakan nama yang mulai mengabur.

/2/

Bekas kopi tak lagi terlihat dalam permukaan bibir cangkir yang tersaji di atas meja tua. Ia sudah meletup berkali-kali semenjak hujan dan sepi menghantam ruang tamu dalam rumah tua itu. Ia pun mengepung lingkar matahari yang menanggalkan sinarnya pagi ini.

 

Arif Tunjung Pradana, lahir pada 16 Juli 1997 dan besar di tanah kelahirannya Wonogiri, Jawa Tengah. Mengenyam pendidikan di Universitas Sebelas Maret.

Negara Tanpa Rakyat

Opini

 Oleh Asep Salahudin
Staf Ahli Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila;
Wakil Rektor I IAILM Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya

SIAPA pun pasti sulit membayangkan sebuah negara tanpa kehadiran rakyat. Kalau sebaliknya bisa saja terjadi: rakyat tanpa negara. Rakyat ternyata menjadi subyek utama dalam relasi dengan negara.

Sistem teokrasi, aristokrasi, atau monarki sekalipun ditegakkan “nawaitu”-nya untuk menciptakan rakyat yang sejahtera. Apalagi demokrasi khitahnya sangat terang dari, oleh, dan untuk rakyat. Pancasila dengan tegas, lewat sila kelima, diteguhkan kesejahteraan bagi rakyat, bahkan seluruhnya. “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Demikian pula riwayat kehadiran partai politik. Kelahirannya bertemali erat dengan maksud sebagai saluran aspirasi rakyat. Lagi-lagi dari sisi pelabelannya sudah sangat jelas, Dewan Perwakilan Rakyat (Daerah). Sekadar “perwakilan”, tuannya yang paling hakiki, ya, rakyat itu sendiri.

Bung Hatta menyebutnya dengan daulat rakyat. Dalam bukunya, Demokrasi Kita (1960), dengan jelas Hatta menulis ihwal beban-kewajiban dan toleransi sebagai prasyarat demokrasi, “Demokrasi dapat berjalan baik apabila ada rasa tanggung jawab dan toleransi pada pemimpin-pemimpin politik”. Bahkan, Bung Karno menahbiskan dirinya “Penyambung Lidah Rakyat” dan rakyat dimaknainya sebagai “komunitas marhaen”.

Edmund Chan dalam The Predicament of Democratic Man sebagaimana dikutip Parakitri T Simbolon (2014) menulis, “Selama dua abad kita (Amerika Serikat) mencanangkan bahwa rakyat merupakan satu-satunya sumber kekuasaan negara, dan kedaulatan rakyat adalah landasan kekuasaan pemerintah. Untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dan menaruhnya di tangan para pengemban, kita terus-menerus memperluas hak-hak pemilih. Dengan khidmat kita tegaskan bahwa warga negara ialah pemangku kedaulatan tertinggi, yang atas namanya dan atas kekuasaannya, semua pejabat bertindak dan berkarya. Anggota parlemen, pejabat pemerintah, dan lain-lain yang kita pilih dan kita awasi lewat pemungutan suara dianggap mewakili kita, dan tak lain daripada kita; mereka bicara dan bertindak untuk kepentingan dan atas nama kita.”

Seorang yang sering disebut-sebut pemikir Islam puritan, Ibnu Taimiyah, dalam kajian politiknya ternyata sangat maju. Dia bikin buku as-Siyasah asy-Syariyyah fi Ishlahi ar-rai wa ar-raiyyah. Politik itu trajektorinya membangun kemaslahatan rakyat dan baru kemudian pimpinannya. Dan siapa pun yang bisa memastikan terdistribusikannya kemaslahatan itu dia yang paling mungkin menjadi pimpinan, tanpa harus melihat latar belakang identitas etnik, budaya, atau agamanya.

Ibnu Taimiyah bahkan menyimpulkan pemimpin kafir yang adil lebih utama dan harus didahulukan ketimbang Muslim tetapi zalim. Kualifikasi kepemimpinan ukurannya bukan politik identitas, melainkan moralitas, integritas, dan kapabilitas. Pernyataan itu bukan disampaikan oleh aktivis partai Islam abad ke-20, tetapi Ibnu Taimiyah yang menelaah. Ulama terpelajar yang hidup ketika persoalan agama masih dominan dipercakapkan di ruang publik.

Kalau hari ini politik identitas masih digoreng untuk kepentingan politik praktis dengan menafsirkan ayat (dan mayat) secara serampangan dan demo berjilid-jilid tak karuan, sesungguhnya peradaban kita tidak lebih maju dari masa silam.

Tidak netral

Negara tentu saja seharusnya netral. Ideologi yang menjadi rujukannya semestinya menjadi payung yang melindungi semua komponen rakyatnya. Negara tidak boleh berpihak kecuali kepada kebenaran, kejujuran, kedaulatan, dan kebaikan bersama (common good).

Seorang yang terpilih menjadi presiden dalam sistem presidensial, dia bukan hanya dituntut menjadi kepala pemerintahan yang harus terampil memastikan mesin birokrasinya jalan dan melayani rakyat, melainkan juga sebagai kepala negara yang memberikan jaminan bahwa negara aman dari setiap potensi, rongrongan, dan gangguan yang dapat merobohkan negara dan menumbangkan ideologinya.

Dalam konteks ini Perppu Keormasan No 2/2017 bukan hanya penting, melainkan suatu keniscayaan. Tidak hanya yang nyata-nyata memberontak, bahkan ormas keagamaan atau ormas nonkeagamaan yang terang-terangan menampik Pancasila dan menolak UUD 1945 harus ditertibkan.

Dalam fikih Islam, “bughat” itu diperangi sampai akar-akarnya. Bukan persoalan melanggar hak berserikat yang menjadi bagian hak asasi manusia, tetapi ada alasan yang lebih substansial dan asasi: menjaga keutuhan bangsa. Jangan menunggu api semakin berkobar. Ketika api ideologis yang bertolak belakang dengan dasar negara sudah membubung besar, bukan hanya ideologi resmi negara yang akan gosong, melainkan juga eksistensi negara dan segenap rakyat dipertaruhkan. Rontoknya negara-negara di Timur Tengah dalam peristiwa “musim semi Arab” salah satu faktornya adalah negara tidak pernah tegas menindak ideologi yang menyimpang dari konsensus rakyat.

Kalau dahulu Bung Karno memberangus DI, PRRI, komunisme, dan sebagainya, tindakan ini bukan hanya diamanatkan konstitusi, melainkan juga langkah antisipatif supaya ideologi yang berseberangan dengan Pancasila tidak tumbuh. Bung Karno sebagai tokoh besar revolusi yang telah makan manis dan pahitnya keindonesiaan sangat paham bagaimana seharusnya melawan kaum dengan agenda berbeda dalam kehidupan berbangsa. Saya melihat penumpasan pemberontakan itu bukan untuk menyelamatkan kekuasaan, tetapi ada hal yang lebih besar: memastikan NKRI tetap “ada”.

Pancasila sesungguhnya dilahirkan kaum pergerakan, napasnya adalah ideologi kerakyatan. Menampung semua komponen masyarakat sekaligus kalau kita perhatikan merefleksikan sebuah ideologi yang menyatukan paham-paham besar. Sebut saja misalnya agama, nasionalisme, dan marxisme-sosialisme. Betul jika Bung Besar itu menyebut bahwa Pancasila seandainya dipadatkan akan menjadi trisila sosio demokrasi/kerakyatan, sosio kebangsaan/nasionalisme, dan ketuhanan yang berkebudayaan. Kalau dipadatkan lagi, intinya ekasila, gotong royong.

Sukma Nusantara

Gotong royong inilah sejatinya yang menjadi sukma rakyat Nusantara. Gotong royong merupakan roh kebangsaan dan bagian tidak terpisahkan dari napas budaya masyarakat. Sebagai hemoglobin yang bikin sel darah merah itu terus mengalir dan tubuh keindonesiaan tetap sehat jiwa dan raganya.

Etik imperatif gotong royong adalah tolong-menolong, lapang dada, toleran, mementingkan orang lain, tidak merasa benar sendiri, selalu menyelesaikan persoalan lewat musyawarah dan mufakat. Persoalan itu sangat berat dan tidak mungkin dipikul sendiri, tetapi menjadi ringan ketika melibatkan banyak orang.

Dahulu, itulah yang menjadi alasan utama mengapa rakyat menaruh harapan kepada HOS Tjokroaminoto dengan Serikat Islam-nya sehingga dia disebut ratu adil dan Raja Jawa tanpa mahkota. Salah satu jawabannya karena HOS Tjokroaminoto menawarkan konsep gotong royong yang dirumuskannya dalam ideologi sosialisme (Islam), bahkan serikat itu sendiri artinya adalah persekutuan, gotong royong atau paguyuban dalam bahasa Sunda.

Hari ini, “rakyat” sering tampil di panggung hiruk-pikuk kenegaraan sekadar atas nama. Malah tragisnya ketua rakyatnya sendiri digelandang menjadi tersangka dari kasus urusan kartu tanda penduduk rakyatnya sendiri! Gejala populisme di mana massa dimobilisasi elite agama (fundamentalisme-puritanistik) dan pemodal (kapitalisme konservatif) untuk semata memburu pragmatisme kekuasaan semakin menjauhkan rakyat dari khitahnya.

Itulah persoalan politik kita yang belum selesai. Kita punya utang ideologis dengan sila kelima yang tak pernah sudah, “Kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Sumber: Kompas, 8 Desember 2018

Puisi Puisi Ari Vidianto

Ari Vidianto, seorang Guru di SD Negeri 2 Lumbir, Banyumas

 

Sentuhan Terlembut 

Keheningan malam membisikkan sepi

Hanya desahan angin yang menemani

Lirih berhembus menerpa jiwa

Yang haus akan gelimangnya cinta

Sentuhan terlembut yang din anti

Hanya angan-angan tak pasti

Berharap suatu saat menjadi nyata

Kebahagiaan yang hadir penuh warna

Lumbir, 31 Mei 2017

 

Gertakan Jiwa 

Kenangan itu masih membara

Belum hilang dan sirna

Menyisakan luka perih di dada

Menusuk menyayat di relung jiwa

Merobek-robek hati yang tersiksa

Menahan pahitnya gertakan jiwa

Lumbir, 31 Mei 2017

 

 

Pergilah Cepat 

Senyummu kini basi

Tak berirama dan bermelodi

 

Wajah cantikmu telah sayu

Seperti daun yang merontok sendu

 

Luka hati yang tersisa di jiwamu

Masih mendekam tak berlalu

 

Hilanglah luka cepat hilanglah

Pergilah cepat oh pergilah 

Lumbir, 31 Mei 2017 

 

Haus Cinta 

Serumpun wajah bahagia
Berkumpul dalam persatuan jiwa

Terekam memori tanpa sandiwara
Semuanya mengalir penuh cinta

Sinar hangat gejolak asamara
Membelai jiwa-jiwa yang haus cinta

Lumbir, 31 Mei 2017

 

Pesona Mimpi 

Tabir malam berdenyut sunyi

Irama syahdu membentuk melodi

Haus penuh luka debaran hati

Semesta jiwa mencoba mengobati

Rintihan pilu mengalun sendu

Mencabik-cabik gelora jiwaku

Tamparan perihnya hari-hari

Kan menyongsong pesona mimpi

   Lumbir, 6 Juni 2017

 

 

Ari Vidianto,lahir di Banyumas, 27 Januari 1984. Bekerja sebagai Guru di SD Negeri 2 Lumbir.Bukunya yang sudah terbit yaitu “ Ibu Maafkan Aku” &  Wajah-Wajah Penuh Cinta” , 17 buku Antologi  dan banyak karya yang dimuat  di Media Massa seperti di Tabloid Gaul, Majalah Sang Guru, Majalah Ancas,SatelitPost, Readzone.com, Buanakata.com,Sultrakini.Com, Riaurealita.Com, Duta Masyarakat, Solopos,Wartalambar.Com, LPM Arena, Sastranesia.Com, Majalah Derap Guru,Kedaulatan Rakyat,Radar Mojokerto, Kedaulatan Rakyat,Artebia.Com, Buanakata.Top, Joglosemar,Palembang Ekspres, Haluan, Majalah Simalaba.Com & Padang Ekspres . No Hp 081575448984.  Facebook Ari Vidianto & Penulis Lumbir, Sastra Lumbir,email : ari.vidianto@gmail.com & Blog: http://penulislumbir.blogspot.co.id/

Puisi-Puisi Isa Asmaul Khusna

Melodi-melodi rerupa

Ambang sepi mati di pangkuan. Termenuk di samping seekor kucing kurus di dekat perapian. Mendengar dongeng-dongeng perempuan tua di kursi goyang.

Puisi yang malang

Tak sempat hidup, mati terjepit nafsu-nafsu hewan di pangkal tenggorokan. Kemudian dinyanyikan lagu-lagu kematian. Memainkan melodi-melodi yang mengenaskan, menyakitkan.

Sepi mati di dekat perapian. Di pangkuan.

Kediri, 26/05/2017 15:38

 

Aku dan sekawanan sepi

Aku berkawan dengan sekawanan sepi.

Yang datang bertamu kala sembilu mengoyak dinding-dinding hati

Aku tak ingin mengiyakan, namun alam terlanjur mengijinkan

Lalu mau dikata apa?

Bait-bait syairnya terlalu menyanjungku, menghiburku

Dengan melodi-melodi yang candu; syahdu

 

Ini derita,

Ia nyanyikan nyanyian-nyanyian luka

Kulayani sepi dengan alunan-alunan pelipur lara

Untuknya, tentangnya, dan atas namanya

Kediri, 16/05/2017

 

Kota

Sedan-sedan yang mengerang di kemacetan.

Klakson-klakson dibunyikan; mengadu keburukan dan kelumpuhan.

Soal hiatus-hiatus kebencian dan kabar-kabar soal pemerintahan.

Komentar-komentar ditudingkan.

Polemik-polemik diperdebatkan meluas, melupakan akar masalahnya.

Ah, bujan negeriku kini sangatlah lucu.

 

Pedagang asongan, penjual koran, kuli bangunan

Tenaga sipil, resepsionis, guru besar,  penjual kaos

Ahli tata negara, kritikus, penjual bakmi,

Mengoceh di koran-koran dan sosial media

Ini kotaku, sayang. Yang jatuh cinta pada sensasi

Kegaduhan, dan  kepopuleran

Tapi isi kotaku ramah tamah

Lihatlah! Menurutmu?

Kediri, 26/05/2017 20:08

 

Malam bercahaya

Adakah kota yang lebih padam?

Dari bohlam-bohlam lampu taman yang menyilaukan? Dari sorot-sorot lampu mobil yang pecah dalam pandangan?

Dari  ketransparanan sayatan-sayatan penyimpangan di dinding-dinding dengan tulisan-tulisan dan gambar-gambar nakal.

Soal cabul, dan graviti-graviti yang tak senonoh.

O bujan, ini kota yang terlalu berwarna, hingga larut.

Menyamahi sinar-sinar chandra kala malam tlah tiba.

Merah, hijau, kuning, biru menyala di lampu-lampu ruko-ruko semi permanent, pinggir-pinggir jalan dan motel-motel yang menjamur di ibukota.

O bujan, kuceritakan tentang sebuah kota yang besar, dihuni para pembesar, orang kecilpun bercakap besar.

Kediri, 27/05/2017 10:35

 

BIODATA

Isa Asmaul Khusna, lahir di Kediri 12 Maret 1999. Saat ini menempuh pendidikan di Tadris Bahasa Indonesia IAIN Tulungagung. Menulis cerpen dan puisi di isaasna.blogspot.com. Menyukai puisi-puisi Rendra. Dapat dihubungi di akun FB: Isa Asmaul Khusna,  email: Isaasna@gmail.com atau WA: 0895334085559 bertempat di Ma’had Al-Jami’ah IAIN Tulungagung

[Cerpen] Sebatas Angan

oleh: Teti Hodijah

SORE ini hatiku berbunga, badan pun mendadak segar. Entahlah, aku pun tak mengerti apa sebabnya. Yang jelas, hari ini Ema, Abah dan semua adikku dapat berkumpul di tempat ini. Ah, bagai hidup di alam mimpi saja. Indah sekali.

Apakah dokter juga dapat merasakan keindahan sore ini?

Iya, mestinya orang berduit seperti dokter setiap saat berbahagia dan dapat meraskan keindahan. Bukankah di dunia ini uang telah menjadikan segalanya?

Eh, maaf dokter, aku bicara lantang. Maklum saja, dokter juga tahu siapa aku. Seorang pembantu rumah tangga yang terpaksa harus mendekam di rumah sakit akibat dari kebodohan dan ketololan.

Dokter, jangan salahkan Ibu dan Bapak. Dan juga salahkan Ema dan Ayahku, aku sangat menyayangi mereka. Itulah sebabnya, pada usia empatbelas tahun ketika baru saja sembuh dari sakit yang berkepanjangan aku rela mninggalkan kampung halaman serta saudaraku yang berjumlah enam orang. Kutepiskan masa kecil yang teramat indah. Memang, rasanya terlalu muluk bagi orang miskin seperti aku harus mendambakan suatu kebahagiaan.

Dulu, ketika aku pergi bersama Bi Ocih, Ema, Abah dan keenam adikku ngantar sampai ke pinggir jalan. Ketika beca yang kutumpangi melaju kencang, mereka menatap seperti tak berkedip. Ingin aku menjerit sambil menangis. Aku sedih berpisah dengan orang-orang yang sangat mencintai dan dicintai. Berpisah yang entah untuk berapa lama.

Kesedihan itu sempat menghilang dokter, tatkala dalam pikiranku terbayang sebuah angan, setiap bulan dapat uang gaji, bisa beli baju dan perhiasan. Sisanya ditabung buat nanti lebaran. Ou, lebaran, hari bahagia bagi seluruh umat Islam. Betapa bangganya kedua orang tua serta adikku, bila pada saat lebaran nanti bisa memakai baju baru hasil dari keringat Si Sulung. Ah,,, siapa bilang orang seperti aku tidak dapat mendambakan kebahagiaan?

Dokter, kesedihan itu ternyata masih senang menguntitku. Buktinya, Si Enci yang minta dicarikan pembantu itu ternyata tidak mau menerima aku. Karena aku masih kecil katanya. Dia kira aku tidak akan bisa bekerja. Padahal, hampir semua orang di desaku mengetahui kalau aku ini cabe rawit. Mencangkul, mencari kayu bakar, menyabit rumput, memotong padi adalah pekerjaanku di desa. Masa bekerja di dapur saja yang tidak banyak mengeluarkan tenaga, tidak mampu?

Air mata tak dapat dibendung saat itu. Aku benar-benar sedih karena tidak jadi tinggal bersama Si Enci yang rumahnya besar itu. Yang konon sanggup membayar gaji 300 ribu sebulan.  Dan Bi Ocih pun seperti kebingungan, karena bekas ongkos pulang-pergi ke desa tidak jadi diganti oleh Si Enci. Rasanya aku benar-benar berdosa, dokter. Untung saja Bi Ocih tak bosan-bosannya  membujuk, agar aku tidak berkecil hati dan menyuruhku agar banyak berdoa kepada Tuhan.

Oh ya, dokter tahu kan, siapa Bi Ocih? Yang suka berjualan lotek di belakang kantoran yang gedungnya besar dan tinggi itu. Ia sering pulang ke desa, karena banyak orang kota yang minta dicarikan pembantu kepadanya. Banyak teman sebaya yang berhasil hidupnya setelah dibawa oleh Bi Ocih ke kota. Si Tumir, Si Supti, Si konoh, Si Kiloh, kalau pulang ke desa suka membawa banyak pakaian, bagus-bagus. Pipinya yang montok bersinar itu dihiasi anting dan kalung mas. Jadi banyak teman laki yang naksir, dan akhirnya dapat jodoh. Ah, anak perempuan cepat dapat jodoh, adalah impian orang-orang tua di desaku.

Boleh dong sesekali dokter main ke rumahku. Namun perlu diketahui rumahku berupa gubuk bambu terbilang kecil. Artinya tak seimbang dengan jumlah keluargaku yang sembilan, terdiri dari kedua orang tua dan tujuh orang anak. Terbayang kan, dok?

Jika musim paceklik tiba, kami cukup saja makan singkong. Karena padi hasil panen satu kali tak mampu bertahan hingga panen berikutnya.  Di tengah kesenggangan menggarap sawah orang, paling bisa ema dan abah mencari lidi kelapa untuk dibuat sapu lidi, yang dijual dengan harga 5.00 per ikat. Kalau satu hari dapat tiga-empat ikat, ya uangnya berkisar 1.500-2.000,  dapat apa? Namun kami bersyukur karena uang itu dapat ditukar dengan ikan asin, untuk kemudian dicampur dengan rebus singkong.

***

Oya, setelah seminggu aku tinggal bersama Ma Ocih (yang tentunya merepotkan Ma Ocih), tiba-tiba ada seorang ibu cantik mencariku. Siapa gerangan? Eh, anehnya beliau seperti sudah mengenali aku. Rupanya sering melihatku kalau aku sedang bantu-bantu Ma Ocih di warung. Dan yang paling mengherankan, kok ibu ini tahun persis tentang aku. Sampai dia bicara begini: “Omih pinter ngaji, kan? Nanti ajarin anak ibu yah,” bibir mungilnya tersenyum.

Pasti Si Ma Ocih yang cerita, bahwa aku pinter ngaji. Ah, Ma Ocih, malu-maluin orang!

***

Hampir Sembilan bulan aku tinggal bersama ibu cantik itu. Beliau baik sekali. Biarpun aku sering melakukan kesalahan, beliau tak pernah marah. Itulah sebabnya, walau badan terasa letih aku tak pernah mengeluh. Aku tidak mau merepotkan Ibu dan Bapak. Mereka perlu istirahat setelah seharian pikiran dan tenaganya dikuras di kantor. Biarlah ketiga anaknya aku yang ngurus. Anaknya yang paling gede sudah duduk di SD kelas dua. Adiknya usia empat tahun –sudah bisa main sendiri. Si bungsu –masih bayi, nggak usah digendong-gendong. Anak ibu sehat-sehat sih. Ngurusnya juga nggak terlalu repot.

Dokter, kira-kira tiga bulan yang lalu kepalaku mulai terasa pusing. Biasanya, kalau keadaan di rumah sepi, anak-anak semua pada tidur, ibu dan bapak masih di kantor, rasa pusing itu terasa parah. Saat itulah aku sempat menangis. Menangis hanya karena memikirkan nasib, membayangkan keadaan kedua orangtua serta adik-adikku di desa sana. Makan apa mereka hari ini. Apakah Si Oce mencretnya sudah sembuh. Si Oding juga, waktu ditinggal pergi korengnya masih ada nanahnya. Si Ikin sering ada cacingan. Si kecil pernah terserang batuk dan suhu badannya panas sekali, mudah-mudahan tak kambuh lagi. Yang menjadi pikiran, kapankah mereka bernasib baik seperti aku, bisa makan nasi dan lauknya tiap hari?

Suatu hari, ketika pusing kepalaku tak tertahankan, aku sempat muntah-muntah. Waktu itu ketahuan oleh Ibu, langsung diajak ke Puskesmas. Namun aku tolak. Karena sejak kecil aku tidak pernah berobat ke Puskesmas. Kalau badan terasa sakit cukup dengan obat-obatan tradisional, ya dengan dedaunan, akar-akaran, atau dengan air jampi dari Ma Amot.

Aneh, setiap aku kelihatan murung, ibu selalu mengajakku ke Puskesmas, dan selalu aku tolak. Lama-lama jengkel juga aku. Kepala jadi tambah pening, mata sering kunang-kunang. Sampai suatu saat aku jatuh pingsan. Tubuhku memang panas sekali waktu itu. Ketika sadar ternyata sudah ada di kamar ini, ruang sepuluh kamar empat. Mataku sempat melihat-lihat sekeliling ruang, sepertinya banyak juga orang yang senasib denganku. Hampir semua tempat tidur di ruang ini diisi.

Yang membuat hatiku bertanya-tanya, kok Ema dan Abah tiba-tiba ada di sampingku. Darimana mereka tahu kalau anaknya sakit? Aku yakin, Bapak atau entah siapa yang memberi tahu ke sana. Dan dari mana beliau berdua punya ongkos jalan. Duh, lagi-lagi aku merepotkan orang.

Lagi-lagi aku menangis, dokter. Mengapa orang seperti aku mesti mengalami dirawat di rumah sakit yang kata orang biayanya cukup mahal? Kendatipun Ibu dan Bapak kerap membujukku agar tidak mimikirkan apa-apa, karena semua biaya beliau yang akan menanggung. Namun tetap merasa berhutang budi dan berdosa.

Kalau saja dulu mau diajak ke puskesmas, mungkin tidak akan mengalami kejadian seperti ini. Apalagi jika mengingat keadaan orangtuaku yang jauh-jauh dari desa harus menjenguk ke rumah sakit. Padahal anak-anaknya masih kecil-kecil, bahkan masih ada yang menyusui. Yang paling membuatku ngeri, Si Nyai –adikku yang baru berusia tigabelas bulan– terpaksa berhenti minum ASI karena terlalu lama ditinggal Ema kemit di rumah sakit. Si Nyai ditinggalkan di rumah Bi Esih –adik Ema yang bungsu—yang suaminya sebagai buruh kuli bangunan. Adik-adikku yang lainnya sebagian tinggal di rumah nenek, sebagian lagi dititipkan di Ceu Munah, tetangga yang baik hati.

Rupanya penyakitku bandel juga ya, dok? Sehingga suhu badanku naik, muntah-muntah dan tak mau sembuh, serta sering sekali mengalami pingsan. Menjengkelkan ya, dok? Untung saja suster-suster di sini baik-baik. Sepertinya mereka tak membeda-bedakan, baik pasen kaya maupun miskin seperti aku, mereka layani dengan wajah yang ramah.

Dan akhirnya aku mengerti, dok, bahwa sehat itu lebih berharga daripada emas murni.

Pak Dokter, saat ini aku butuh kedamaian. Kedamaian yang hakiki.  Sampaikan salamku buat teman-teman, buat suster dan semuanya.@***

Puisi Moh.Romli

UNTUK YANG DISANA, HT
Untukmu yang disana.
masihkah dirimu hafal dengan wajahku
wajah yang selalu kau harap rebah di hatimu, lima abad yang lalu

diantara bentangan rindu yang tak bertepi
diantara jarak-jarak yang tak berujung
aku masih mengenang seribu tanya di sini

tentang langit yang lugu
membuatku bisu
dan segalanya untukmu.

masih mengingatmu di sini
masih menggenggam cintamu yang lalu
yang pernah terpahat di hatimu, hanya untukku.

masihkah kau genggam erat rasa itu?
rasa yang pernah kau janjikan pada senja hingga membuatnya tenggelam

rasa yang kau sematkan kan pada petang hingga membuatnya terang

disini aku masih bertanya tentang itu
tentang tiga istana yang akan kita harungi berdua.

 

KABAR DARI DESA

Di ujung seketsa gelora bengis
di uluran jari mentari sengit
ku lihat sosok seorang perempuan tua layat

dari pecahan cermin-cermin bening yang terpang-pang di mata
sangat terlihat jelas
bahwa perempuan itu sudah meningal

seperti kabar yang kudapat sebelumnya
membekas lengkung di hamparan pasir kelabu yang basah
yang menjadi tumpuan amarah temannya, tempat dimana ia mengaduh.

semoga saja perempuan tua itu korban dari takdir tuhannya
bukan dari takdir amarahnya sendiri.

 

MALAM MUTIARA KITA

Maret sampai juli.
malam mutiara kita adalah malam minggu, senin dan kamis.

kita relakan tetes peluh deras mengalir

kita relakan jari-jari kita terus menari kekal sampai di penghujung

dan kita relakan mata kita berdarah-darah

demi sang raja yang datang berbondong menyapa kita di malam-malam itu
pastilah kita lupa letih, desah dan urat-urat yang berbisik.

kita jadi jongos
kita jadi budek
kita jadi bodoh
semata tak ingin mengecewakannya.

 

HARAPAN KITA

Kali ini suara rintik hujan malah lebih sedih dari lagu yang biasa kita dengarkan kawan

dari pagi sampai tengah pengharapan tetap sama tak ada yang beda
semoga saja tak sampai di penghujung nya

menghitung kotak per kotak, ekor per ekor, dan bahkan batang per batangpun kita layani meski cukup melelahkan dan membosankan

kita harus sabar dan iklas kawan
layaknya secarik kertas dan pena yang berada di atas meja
pencatat sejarah kita.

 

KABAR PAGI

Engkaukah itu, embun yang hinggap di keningku pagi hari
meluap berasa asin yang pernah aku cicipi, engkaukah itu.

engkaukah itu, pembius, perangsang otot-otot kaku sehabis mati, engkaukah itu.

jika ia, maka jiwa-jiwaku kekal di siang dan malam-malam yang beku.

ku kabarkan pada mentari
ku kabarkan pada hujan
ku kabarkan pada angin

bersiaplah, aku menangtangmu
dan kau kan rebah di saku untuk ku tumbal.

 

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995. Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.
Kumpulan Puisi Terbarunya MIMPI YANG TERTUNDA. (2016)

No. 085232343060
083853208689

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai