[Cerpen] Penangkapan

Oleh: Sulistiyo Suparno

Hidup di daerah kumuh memang menakutkan. Setiap saat keselamatan terancam. Anak-anak dilarang keluar malam oleh orang tua mereka, termasuk Nadya yang meski sudah kelas XII SMA, tetapi jam lima sore harus sudah berada di rumah.

Malam adalah saat yang menakutkan. Orang-orang entah dari mana hilir mudik, entah untuk urusan apa. Kata ayah, mereka sedang “bekerja”. Sekian lama Nadya tidak mengerti maksud ayah. Belakangan, Nadya tahu “pekerjaan” orang-orang itu sesuatu yang mengerikan.

Nadya pernah meminta ayah untuk pindah ke daerah lain yang tenang dan aman. Di mana saja asal bukan lagi di dekat pelabuhan seperti sekarang. Di sini, hujan sedikit saja rumah berubah menjadi danau, setelah itu jalanan menjadi becek, nyamuk merajalela dan penyakit datang menyerang.

Tetapi ayah menolak karena sebagai pegawai rendahan pada kantor pelabuhan, hidup mereka pas-pasan, tidak mampu mengontrak rumah. Lagi pula sayang bila harus menjual rumah warisan.

Bila malam Minggu tiba, Nadya hanya bisa menelan keinginannya untuk bermalam panjang. Ayah melarang Nadya keluar malam. Lebih parah lagi Nadya belum punya kekasih. Pemuda mana yang mau memacari gadis pelabuhan?

Banyak pemuda yang takut berkunjung ke daerah kumuh itu, apalagi mengunjungi rumah gadis. Para pemuda takut pada preman-preman yang mangkal di pos ronda di mulut gang. Sekumpulan preman itu gemar memalak orang-orang yang lewat.

Preman-preman itu kebanyakan anak putus sekolah. Mereka hanya baik pada gadis cantik; itu pun dengan catatan mereka dalam keadaan sadar. Bila sedang mabuk, mereka lupa daratan. Siapa saja yang melintas mereka ganggu, termasuk Nadya yang terpaksa lari dan menangis karena seorang dari preman itu mencoba berbuat kurang ajar padanya.

Nadya menangis dalam pelukan ibu. Sementara ayah hanya diam menahan marah. Ayah terlalu sabar hidup di daerah itu. Malamnya, saat Nadya dan ibu sedang menonton televisi, ayah pulang dengan wajah menyisakan berang.

“Dari mana, Yah?” tanya ibu.

“Menghajar orang!” sahut ayah pendek.

Esoknya, Nadya melihat preman yang mencoba berbuat kurang ajar padanya kemarin, berwajah bengkak di bagian mata dan luka mengering di bibir.

***

Suatu pagi di dekat rumah Nadya ada kerumunan orang-orang dan mobil polisi.

“Ada apa, Pak?” tanya Nadya pada seorang lelaki setengah baya.

“Jiteng ditangkap. Dia membacok seseorang.”

Jiteng adalah preman yang tempo hari hendak berbuat jahat pada Nadya. Nama aslinya, entah, tetapi orang-orang memanggilnya Jiteng karena kulitnya gelap dan dekil.

Nadya melihat Jiteng dibekuk polisi, keluar dari halaman rumahnya, lalu dinaikkan ke mobil tahanan bak terbuka. Beberapa orang berteriak memaki, tetapi sebagian besar orang-orang hanya diam, seakan tak ada yang perlu dipersoalkan.

Penangkapan seseorang di daerah itu adalah hal biasa. Masuk keluar tahanan atau penjara seperti piknik gratis saja bagi sebagian warga. Orang-orang di daerah itu sudah terbiasa berurusan dengan aparat keamanan dan hukum.

Nadya memandang dengan tatapan gamang pada Jiteng di mobil tahanan yang melaju perlahan meninggalkan kerumunan. Nadya merasa senang tetapi juga ada setitik iba. Tetapi, setidaknya Nadya merasa aman dari gangguan preman itu selama beberapa waktu ke depan.

***

Nadya merasa makin aman sejak akrab dengan Benny. Sebenarnya mereka sudah lama kenal, tetapi hanya sebatas bertegur sapa. Sampai suatu petang Nadya melihat Benny berdiri di depan rumah.

“Boleh jalan bareng?” tanya Benny.

Nadya mengangguk meski menyimpan ragu dan curiga. Tetapi, syukurlah tak ada insiden buruk sampai mereka memasuki halaman masjid. Kemudian, petang-petang berikutnya mereka sering berjalan bersama menuju masjid.

Benny anak Teknik Otomotif sebuah SMK swasta, usianya sebaya Nadya. Tubuhnya ceking dan tak terlalu tinggi. Meski sosoknya kecil, tetapi Benny jagoan, jadi bos pemuda-pemuda seusianya. Preman-preman di mulut gang juga segan padanya, sehingga mereka tak berani lagi mengganggu Nadya.

Benny itu pendiam, termasuk alim untuk pemuda yang kerap bergaul dengan berandalan.

“Aku nggak munafik, aku memang pernah coba ngisap ganja. Sekali saja, setelah itu nggak lagi,” kata Benny suatu petang.

“Aku nggak mau kamu pakai narkoba lagi, Ben. Kalau kamu pakai narkoba lagi, aku nggak mau jadi teman kamu.”

“Teman?” alis Benny bertautan.

“Ya….setidaknya teman dekat.”

Benny tersenyum mendengar jawaban Nadya.

Suatu hari Benny ingin mengajak Nadya jalan-jalan. Nadya gembira, tetapi harus meminta izin dulu pada ayah.

“Boleh ya, Yah?” Nadya merajuk.

Ayah hanya diam, memandang ibu seperti minta pertimbangan.

“Baiklah,” sahut ayah.

Nadya melonjak girang dan memeluk ayah.

“Terima kasih, Ayah, terima kasih.”

Usai sholat isya, Nadya mematut diri di depan cermin. Menaburkan bedak padat tipis-tipis pada pipinya yang sawo matang, mengoleskan lipgloss pada bibirnya yang tipis, dan menyisir rambutnya yang sebahu.

“Kamu cantik sekali, Nadya,” kata ibu.

Di teras, Benny telah menunggu. Di halaman, ada motor sport hijau. Nadya tersipu-sipu ketika naik ke boncengan. Ah, seperti bintang sinetron Anak Jalanan saja rasanya.

Beberapa ibu tetangga memandang dan mencandai mereka. Preman-preman di mulut gang bersuit-suit.

Mereka keliling kota, duduk di alun-alun, setelah itu makan di restoran cepat saji. Malam itu Nadya bahagia sekali, wajahnya berseri-seri. Itu kali pertama bagi Nadya bermalam Minggu dengan seorang pemuda!

“Sudah malam. Kita pulang?” tanya Benny menggenggam tangan Nadya.

Dada Nadya berdebaran. Nadya tersipu dan mengangguk pelan.

***

Hari ini Nadya pulang sore. Nadya sudah pamit pada ayah dan ibu bila hari ini ada pelajaran tambahan di sekolah, sehingga ia akan sampai rumah sekitar pukul empat sore.

Langkah Nadya terhenti ketika melihat kerumunan orang-orang dan mobil polisi. Nadya melihat dua polisi menggiring seseorang lalu menaikkannya ke mobil tahanan. Nadya terhenyak tak percaya, tubuhnya gemetar.

“Ada apa, Bu?” tanya Nadya pada seorang wanita setengah baya.

“Benny ditangkap. Dia anggota sindikat penyelundup barang-barang elektronik.”

Nadya terhuyung sejenak. Tidak, ini pasti mimpi! Benny yang baik, tak mungkin melakukan itu. Hati Nadya berontak, tetapi matanya jelas melihat Benny tertunduk dengan tangan diborgol, duduk diapit dua polisi.

Dari mobil tahanan, Benny mengangkat wajah sejenak. Nadya yakin Benny melihatnya.

Orang-orang menatap Nadya, entah apa maksud mereka[]

=====================================================

Sulistiyo Suparno, kelahiran Batang, 9 Mei 1974. Cerpen-cerpennya tersiar di Minggu Pagi, Banjarmasin Post, Cempaka, Radar Surabaya, Metro Riau, Nova, Girls, Suara Merdeka dan lainnya. Bergiat di Komunitas Pena, perkumpulan penulis di Batang. Bermukim di Batang, Jawa Tengah.

 

Sulistiyo Suparno

Krangkoan RT 004/RW 002, Ngaliyan, Kec. Limpung, Kab. Batang 51271, Jawa Tengah

Ponsel: 0856 2576 174

Surel: sulisjateng@gmail.com

Facebook: Sulistiyo Suparno

 

Puisi Redovan Jamil

Bukit Tertinggalkan Kawan

Bukit barisan terlihat tandus dan gundul. Pertapaannya telah usang ditinggal pohon. Kini tak ada lagi kawan merangkul erat, menjaga raga yang menggigil, dan menjawab cerita.

Corak dulu hijau permadani, terhampar luas membentang di jagad Sumatera. Pinus terjajar rapi menjulang langit, menopang tanah di lereng bukit. Kuat, liat, dan erat.

Rerintik hujan basahi pertiwi. Berkepanjangan, menggenang kali, sawah, dan rumah warga. Pekik keluh atas murka Tuhan. Sejenak dingin, berbau, susah beraktifitas, dan rezki terhalang.

Got terdampar sampah, air enggan beranjak pergi, bau sampah dan urat kayu ngambang di udara. Pemerintah menyegrah berbenah, warga sadar akan celaka, dan Tuhan mengutuk akan serakah penebang liar.

Padang, 01 Agustus 2016

 

Sebuah Perjuangan Untuk Sarjana

Lorong penuh kesakralan. Menghujam seram dan debaran jantung. Gemetar kaki memasuki ruang dan tatapan para peminta dan sangarnya mata. Puluhan mahasiswa duduk termangu sembari menunggu. Tentengan kertas tebal berjilid. Peluh bercucuran, kening mengerut, wajah merah padam, dan perut ciut.

Impian digantungkan pada setitik coretan tanda pengesahan. Usaha tak terkirakan pikir. Harapan tak seindah tabir. Menguak, meruah, menganga dan terdampar di sisi yang usang.

Coretan diganti perbaikan. Ulang diulang lagi. Malam berlanjut dinihari. Pagi tak terasa menjemput, fajar murung dan diakhiri hujan.

Bermimpi; ACC menghampiri kertas bertinta biru.

Padang, 02 Agustus 2016

 

Petani Berpacu Hidup

Pagi menyongsong sang surya yang cemerlang. Kaki-kaki baja petani menapak di tanah kering kerontang. Menyusuri jalan setapak yang diselimuti tebalnya embun pagi. Dingin menusuk pori-pori yang termakan usia. Waktu berlalu, hidup menuntut lebih.

Matahari terik menerpa ubun-ubun. Menjalar ke organ dalam yang letih. Dehidrasi, keringat kuyup di baju, dan wajah merah padam. Kepingan rupiah di kumpulkan. Harap sesuap nasi. Padi di sawah bertengkar dengan hama. Tikus-tikus merampas milik yang tak terampas. Memporak-porandakan benih panen yang di tuai berbulan. Babi hutan menyerang dikala sang surya lelap. Burung-burung hinggap di tangkai padi. Berburu dan menompang hidup.

Berbulan-bulan petani menanam, menunggu waktu datang menjemput berkah.

Padang, 31 Juli 2016

 

Cadarnya Pesona

Mata di balik cadar putih. Tersisakan sedikit raga, namun menggoda. Dikaukah itu relung cinta. Buat bibir ini bisu, mata ini nyalang. Hati ini berbisik harap.

Esok pagi dikau berjalan menuju rumah syurga. Elok laku dikau peragakan, senyum dikau tebarkan, buat mimpiku sakin jadi. Diantara bait-bait doa yang kusegerakan.

Dan, senja datang sebelum bianglala tenggelam. Dikau bernyanyi bersama detak jantung. Menyimak tiap canda tawa, hingga rasa tak tertahan.

Padang, 30 Juli 2016

Jika Rindu Bertamu, Kusengajai Bertemu

Malam-malamku dibaluti rindu yang terbentang. Keluh desah suara tersendat. Bungkam asaku kini tertahan, dejavu, melankolis, menjadi satu. Tangan bergetar, mata sayup-sayup menatap fotomu di dinding kamar. Merubah harap jadi getaran rindu yang tak tertahan.

Hujan turun basahi rindu. Usaha untuk mengikis relung-relung hampa tiada tara. Pekik pintu hati tertetes rerintik bulir bening. Membawanya mengalir hingga muara. Menyatu dengan asinnya air laut, bertengkar dengan ombak yang menghempas dan menerpa ke tepian. Rinduku terombang-ambing dalam buliran hujan yang beriak.

Dan, jika rindu sejatinya bertamu. Aku sengai berjumpa pada senja di dermaga kayu usang.

Padang, 03 Agustus 2016

 

===================================================

 

Redovan Jamil, kelahiran Sijunjung, Sumpur kudus 10 Mei 1993. Sedang menempuh perkuliah di STKIP PGRI Sumatera Barat, jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pernah menjadi Ketua HMJ Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumatera Barat periode 2014/2015, Wakil Ketua BEM Kabinet Biru 56 STKIP PGRI Sumatera Barat periode 2015/2016. Aktif di organisasi IMABSII (Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Se-Indonesia) periode 2014/2016. Aktif di organisasi IMAKIPSI (Ikatan Mahasiswa Keguruan dan Ilmu Pendidikan Seluruh Indonesia) periode 2016/2018. Ikut dan menjadi pengurus di komunitas menulis (Komunitas Daun Ranting). Perihal menulis; bagiku adalah sebuah kesenangan dan kecintaan. Sebuah terapi jiwa dan renungan hati yang suci.

[Cerpen] Bangkai Pesawat Yang Menimpa Kami

Oleh Ferry Fansuri

Lama tak kulihat Kamidi atau kadang dipanggil si Kami, dia tampak berbeda setelah 5 tahun yang ditinggal istri dan anaknya. Istrinya meninggal bersama jabang bayinya, setelah itu Kamidi pergi dari kampung ini. Konon dia menjadi TKW di negara tetangga Malaysia atau menyepi di ujung Sumatra. Tapi sekarang dia kembali ke kampung dengan janggut panjang dan tubuh yang kurus kering, matanya sayu sama seperti kulihat dia dulu. Hampa kosong tanpa harapan

Dia kembali ke rumahnya dulu, sebuah rumah yang lumayan besar tapi sekarang tak terawat. Dulu keluarga Kamidi cukup terpandang dikampung ini, semenjak dia pergi semua hilang. Saat sore kulihat dia, membangun sebuah ruangan kecil suluk (surau) menghadap barat dari kayu.

Tiap kali kujumpai, Kamidi hanya berdiam didalam ruangan kayu itu. Bertafakur dan bersujud, melantunkan doa-doa buat yang Kuasa. Mulai pagi sampai sore bahkan menjelang malam tak beranjak dari suluk itu. Rumahnya sendiri tak terawat, cat terkelupas oleh debu dan hujan. Listrik pun tidak menerangi lagi karena bertahun-tahun diputus pusat karena menunggak lama bertahun-tahun. Sepertinya si Kami juga tidak perduli akan hal tersebut, tiap malam hanya lampu templok kecil yang menerangi bilik suluk kecilnya itu.

Si Kami juga tidak melakukan pekerjaan apapun selain di suluknya itu, sesekali dia ke sumur belakang rumahnya untuk membersihkan diri. Memang terlihat manual karena pompa air tidak lagi dialiri listrik sama sekali dan juga air pam sudah tidak mengalir, Si Kami harus mengambil air secara mengangsuh memakai timba dengan kerekan tua penuh dengan karat.

Untuk makan sehari-hari, Si Kami juga seperti tidak terlalu perduli. Pernah kulihat sekali-kali dia memungut ranting dahan kering hutan dekat kampung ini. Dibawalah ranting tersebut dengan dipanggul diatas punggung yang kurus kering kerontang itu. Setibanya dirumahnya, Si Kami membuat tungku dari batu dan api dari bahan ranting itu. Diatas diletakkan panci yang terlihat tak karuan bentuknya mungkin bekas didalam rumahnya dulu. Air mendidih didalamnya dan si Kami mencelupkan mie instan. Setelah jadi, mie instan itu dilahap langsung dari pancinya dan tanpa melihat kanan kirinya. Darimana pula uang yang peroleh karena selama ini dia tidak bekerja sama sekali, mungkin dari tabungan saat merantau dulu. Kamidi seperti terasing didalam kampungnya sendiri.

**********************************

“Bang, nih kasih ke Kamidi” tiba-tiba sore itu Karni istriku menyodorkan bungkusan ke aku. Kubuka bungkusan itu, ikan selais asap dalam rantang yang menggugah selera. “ Ini buat si Kami dik?”sahutku. “Iya bang, sesekali ajak ngobrol dia sambil anter nih makanan. Khan dulu dia teman abang dari kecil” jawab istriku. Memang Kamidi adalah teman akrab dari kecil, tapi setelah musibah itu dia terasa berbeda dan hidupnya sepi.

Sambil kujinjing bungkusan tersebut, melangkah aku ke rumah Kamidi. Kulihat dia sedang duduk diberanda pekarangannya sambil membersihkan ranting-ranting yang biasa diambil dari hutan. Kehadiranku cuman dipandangnya dengan mata sayu itu “Hei No, tumben kesini” sambut Kamidi. “Ah nggak juga Di, ini ada titipan istriku buat kamu” sambil kusodorkan bungkusan tersebut “Tak usah repotlah sampai bawa makanan segala” nyinyirnya. Kuletakkan pantatku pada beranda pekarangan di sampingnya, Kamidi hanya meminggirkan bungkusan sambil meneruskan pekerjaannya.

“Kabarmu bagaimana Di?” aku membuka omongan lebih dulu untuk basa-basi. “Oh baik, seperti kau lihat” sahutnya tanpa menoleh. Ku tengok  sekeliling rumah ini, begitu kotor tak terawat tapi si Kamidi ini betah juga..ah..Apa pedulinya dia..lha wong ini rumahnya sendiri.

“Betah juga kau disini Di?” tanyaku kembali “Yah ini khan rumahku ya pasti betahlah” sahutnya  kembali. Kulihat kaki dan tangannya yang kurus terbalut kulit itu cekatan mempisahkan ranting-ranting kering untuk dibuat bahan tungku apinya. “Sudah lama seperti kita tak ketemu dan bicara Di” buka omongan lagi “Iya 5 tahun lebih sepertinya” jawabnya lirih.

Ada pertanyaan-pertanyaan didalam hati ini yang ingin aku tanyakan ke Kamidi tapi tertahan. Dan akhirnya “Kamu nggak mau nikah lagi Di?” tanyaku dengan nada sedikit rendah. Kamidi sepertinya terdiam sejenak dan tidak melanjutkan pekerjaannya kembali. Sepertinya terganggu akan ucapanku tadi, terus dia bergeser ke sebelahku sambil memandangku nyinyir.

“Ketahui No, semua itu semu yang ada kehidupan ini dan tidak ada abadi” sergapnya “Harta, Wanita dan Anak hanyalah ilusi dan titipan sementara. Pernah aku miliki tapi tidak abadi” tambahnya “Jadi apa yang aku lakukan saat ini hanya menunggu kuasa-Nya untuk memanggil pulang. Cuman ini yang bisa aku lakukan, menunggu ajal sambil memuja Nya” akhir katanya.

Aku hanya terdiam mendengar ucapannya, tak sedikitpun bergerak dan membantah perkataan. Mataku hanya melihat Kamidi perlahan sekelebat masuk ke suluk-nya kembali.

 

*******************************

 

Suatu masa kulihat Kamidi berjalan tenang di titian jembatan, memakai kain putih diselempang pada bahunya. Wajahnya terlihat berseri-seri, seperti saatnya telah tiba di “Hari Penghakiman”. Kamidi terlihat tersenyum nyinyir ke arah seperti dialah yang benar dan menang. Dengan gagahnya dia melangkah melewati titian jembatan, semua orang terlihat mengatri tapi Kamidi melenggang tanpa halangan.

Titian jembatan itu mengarah ke dua pintu yang tampak di jaga dua makhluk bertubuh besar bercahaya. Kamidi memandang sinis kepada orang-orang yang mengantri seperti mau mengucapkan selamat tinggal sambil melambaikan tangan tanda kemenangan.

Pintu ke kiri menuju neraka dan sebelah kanan Surga seperti plang penunjuk jalan tertera, dengan pedenya Kamidi berbelok ke pintu sebelah kanan. Tapi tiba-tiba “Hei manusia bernama Kamidi,engkau berhenti!!. Apa tujuan ke pintu surga ini?” hardik malaikat penjaga pintu. “Tentunya saja tempatku di Surga, kemana lagi kalau tidak disini” betapa nyakin dia.

“Tempatmu bukan disini, tapi di Neraka” jawab malaikat penjaga surga . Betapa kaget Kamidi mendengar ucapan malaikat penjaga. “Pergi kau Kamidi !” ditendang tubuh kurus si Kamidi sekali gerakan. Melesatlah Kamidi dengan sekejab jatuh dipintu Neraka.

Sekejap Kamidi tampak meronta-ronta dipegangi malaikat penjaga neraka “Apa salahku, di dunia aku memuja Tuhanku. Aku tidak terima!!” teriaknya sampai menggema. “Lepaskan hei kau malaikat jijik, kau tak layak memegang tanganku yang suci” tapi malaikat berwujud besar bercahaya itu terbelak matanya yang memancarkan api.

“Aku mau ketemu Tuhanku, ini tak adil” “Tak seharusnya seperti ini, siang malam aku memuja Mu dan melantunkan ayat-ayat suci untuk Mu tapi apa yang aku terima saat ini..Tidak!!” teriaknya sekali lagi dengan menggelora.

“Diam kau Kamidi !!!, tempatmu bukan di surga tapi neraka” hardik salah satu Malaikat yang memiliki sayap lebar selebar ufuk timur tiba-tiba muncul.

“Aku mau ketemu Tuhanku, aku mau protes. Kenapa aku diperlakukan seperti ini? Tidak Adil” serunya. “Diam kau Kamidi, tak layak kau ketemu Tuhanku. Kau hanya manusia rendahan yang hanya mementingkan diri sendiri” hardik si malaikat ini.

Dilemparkan sebuah buku dari tangan kiri si malaikat, jatuh didepannya. “Lihatlah buku timbanganmu, tak ada gunanya kau di masa hidupmu” tambahnya

“Apa salahku? Sisa hidupku abadikan untuk memuja Tuhanku, menghapal ayat-ayat suci dari Nabi Mu luar kepala. Kepalaku menghitam karena sujud tiap tengah malam dan tanganku tak henti bertasbih akan namaMu” rinci si Kamidi.

“ Apa? Tuhanku tak perlu pujamu Kamidi. Tuhanku tidak mabuk akan rayuan sujudmu. Lihatlah engkau hanya beribadah karena kau takut masuk neraka bukan? dan apa hanya sujud dan dzikir perintah TuhanMU” seru si malaikat.

“Tapi..Tapi..” Kamidi belepotan tak bisa menyanggah. “Lihatlah dirimu hidup dalam kesendirian dan miskin.Bagaimana mau beramal jika kau hanya ibadah saja? Tak bekerja dan menjadi miskin. Mau membantu sekitarnya pun tidak bisa” “Hidupmu bukan untuk kamu saja tapi buat orang lain, kamu diciptakan bukan kesia-sia saja” “TuhanMu menyuruh kamu untuk beristri dan beranak pinak untuk meneruskan kehidupan manusia di dunia” “Kamu egois Kamidi, takut jika nanti istri dan anakmu diambil lagi, pengecut !!! tidak bisa terima kenyataan” “Kamu takut untuk berusaha lagi, takut kehilangan, takut tidak bisa mencukupi anak dan istrimu lagi. Itulah kamu rela tidak berkeluarga lagi” teriak malaikat itu sekali lagi.”Pergi kau ke Neraka!!”

Sadarlah Kamidi apa yang telah ia perbuat selama ini dan apa yang diridha Tuhan-Nya. Terasa tubuhnya panas seperti terkena jilatan api neraka dan menggigil kedinginan.

 

*******************************

 

Terbangun aku dari tidur, sebelahku Karni sedang memeluk si kecil. Diluar hujan deras sekali, petir menyambar beberapa kali dengan kilatan maha dashyat. Mimpiku tadi terasa aneh, mungkin aku terlalu memikirkan ucapan Kamidi beberapa hari yang lalu. Kulihat wajah istriku dan anakku yang masih kecil, betapa teduhnya mereka. Kuselimut mereka dengan tenang dan kulanjutkan tidurku.

Pagi harinya panas matahari menyeruak dari bilik jendelaku, ku tengok Karni dan si kecil tidak ada. Mungkin di belakang memandikan si kecil, tiba-tiba suara ketukan pintu seperti digendor dari luar. Brakk..Brak..Brakk “No..Darno..buka pintu cepat ini Darmiji” suara dari luar. Darmiji? Tumben pagi-pagi tetangga sebelah mengedor pintu rumah.

Kubuka pintu rumah, “No, ada kejadian di rumahnya si Kamidi teman engkau” serunya “Hah, si Kami itu kenapa ?” terheran-heran. Ditariklah tanganku tergesa-gesa kearah rumah Kamidi. Terlihat banyak warga kampungku berkerumunan di depan perkarangan rumah Kamidi. Membelah kerumunan warga, kulihat rumah si Kami hancur berantakan seperti diterjang angin puting beliung. Parahnya suluk yang biasa didiami oleh Kamidi hancur berkeping-keping, aku bergidik ngeri saat kulihat dalam reruntuhan tersebut banjir menggenang bersimbah darah.

Kepala Kamidi tertimpa sebongkah besar terbuat dari besi, aku perhatikan seksama ternyata sebuah turbin pesawat dengan tulisan Boeing. Dari mana benda itu, sampai bisa jatuh di kampung ini dan mengenai rumah Kamidi. Baru kusadari bahwa itu serpihan kecelakan bangkai pesawat yang sempat meledak saat mengudara tadi pagi dan beritanya ada diseluruh saluran televisi[]

 

Kisaran, Desember 2016

Puisi Moh.Romli

Doa di Pagi Hari

Mentari, jangan duakan kami
walau terkadang kami enggan menjawab salammu di pagi hari

di wajahmu kami hidup, sebelum dedaun ranggas mengering

di biasmu kami hinggap, menyimpan ribuan nyawa anak-anak kami yang kelaparan.
mentari, di matamu terdapat seketsa kehidupan kami, dimana burung-burung itu mulai bernyanyi
mentari, di langkahmu kami belari-lari, dimana dedomba merangkak menuju wajahmu yang menari.

 

Mengagumu

Karyamu membuatku ada dari sebelumnya yang ada
mendobrak dua gerbang yang semalam hilang kuncinya
hampir saja aku ini menjadi seekor burung dalam sangkar
yang setiap hari harus bernyanyi menghibur tuannya.
malam menjadi tak gairah
di meganya yang membentangi bebintang
mengunci di antara hati dan otak batu yang semakin padat
Ah ..
kurasa sudah takkan hidup lagi obor ini
andai saja tak ada kabar pagi
dari risalahmu yang kejam yang menerjang dua gerbang itu
mungkin saja ding-ding ini retak
dan takkan lagi mampu berlayar.

 

Matamu Telanjang Sunna

Hentikan,
rasa itu milikku yang kau sebunyikan dariku
hempaskan,
rasa itu yang semakin melilit jiwamu
lepaskan,
rasa itu yang sebenarnya tak pernah singgah di hatimu
jiwamu gersang
matamu telanjang
sementara rasa itu terus mencekam
dan aku masih disini, menafsir matamu telanjang
sebab rasa ini belum kita benahkan.

 

Salahmu Sendiri

Sepasang merpati itu kembali sembunyi
dengan cemas mendekap anak-anaknya yang sedang bersenda gurau di kamarnya
dia melarang anak-anaknya untuk bersuara kali ini
sepertinya dia sangat memahami apa yang akan terjadi
angin ngebut, awan kabut dan kilatannya yang semakin ribut.

 

entahlah, yang kuheran para dewa dan dewi disitu masih tenang menukar sunyi
seakan mereka sama sekali tak terusik kerusuhan itu
mereka tak peduli, melupakan takdir yang sudah di kehendaki
hingga percikan menyapa dan menari
mengguyur dan menyeret jejak kaki
membuyarkan mimpi para dewa dewi.

 

Telanjang Kawan

Telanjanglah kawan, kita hanya berdua di kamar ini
lepas dan umbarkan bulu-bulu itu kawan, jangan malu, jangan sungkan padaku, kita hanya berdua dikamar ini.
jangan biarkan kutu-kutu itu menjadi penghuni
apalagi sampai persada itu menjadi miliknya

 

telanjanglah kawan, kita hanya berdua di kamar ini
jika sekiranya kau tak mampu
menangislah dan rekahkan hatimu di dadaku
tak kubiarkan getah-getahnya mengalir begitu saja
sebab tangismu adalah darahku yang tumpah.

 

====================================================================

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995

Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.

Kumpulan Puisi Terbarunya DI SUDUT KOTA (2016)

No.085232343060

083853208689

 

Puisi: Muhammad Asqalani eNeSTe

Tarian Kampung Halaman

“ campong ale campong camporong lampu dinding,

on dope hami ro mangalapko da boru bujing.

bue-bue dainang bue!”*

 

ia nyanyikan jua baitbait pilu

yang padu padamkan rindu,

masih di jendela renta yang sama.

memanah angan.

terjun ke dalam liang bayangan.

ke dalam genangan linang.

gadis igomigomnya telah kehilangan pulang.

lupa pada kuning padi dan hijau ilalang.

lupa pada siul pipit tanpa sarang.

***

Oi pincang taman,

kalau tumbuh jua bunga cirik ayam.

sebab itu

akan mengunduh kampung halaman.

tentang joruk, joring dan rimbang, nasinasi, paparia

dan sawi.

tentang ayah yang mati di sungai Suligi,

selepas tarawih dan mengaji.

tentang kau yang tak ingat ziarah kubur

di sisasisa umur.

***

buah salak itu yang membesarkan dadamu.

merekahkan bibirmu,

memanjangkan rambutmu.

meramu mukamu.

pesonamu. hingga lelaki berbaju teluk belanga ungu

dengan kacamata abuabu

datang menjemputmu.

ia hanya memberimu restu

dengan bahasa paling gugu.

airmata dan doa satu..

2012

*selirik nyanyi dari Mandailing-Tapanuli Selatan

 

Dekke na Niarsik 3

hula hula

bagi pasu pasu

 

Nekke na Niarsik

telah lahir anak pertamaku

segala marga lebih keramat daripada hantu

 

lalu turunlah berkah

bersama tali darah yang naik sembah

kehidupan yang mesti seliat tabah

dan doadoa tak henti ditarah

 

pada mulanya

dongeng Adam dilaungkan

selepas adzan

selepas satusatu keinginan dikeramatkan

 

segalanya

mengkutuskan pantang larangan yang selalu silam

2013

 

Kania

kembalilah….

ada rumahrumah megah kehilangan ruhnya

seorang Adam yang kesepian,

selalu mengumandangkan adzan tengah malam

keningnya berdebu!

Kania

ketahuilah ada seribu sesal yang melingkar di pucuk dada Adam

tiap kali ia bayangkan wajahmu tiap kali pula ia lupa raut rupamu

ia kerap mengirim harapanharapan panjang ke pada tuhan

begitu dalam penyesalan, begitu dalam cinta, Kania

kembalilah!

ada rumahrumah megah kala kau benarbenar memaafkan Adam

yang lempang dada itu

2012

 

Slip Tounge

: Desi Sommalia

tak ada apa apa, tidurlah…

aku mengintip jendela rahasia yang sedikit lama kautinggalkan

kata kata yang mestinya kauutarakan, tergeletak di sana.

kata kata itu bermata tajam, penuh kecurigaan tapi juga nanar

dideliknya aku, seperti mengatakan: “kubunuh kau yang gelisah”

aku berlari, pura pura tenang di meja makan, kau datang

dengan beberapa potong goreng pisang. sangat dingin,

dan kau seolah menegaskan: “tak ada ramah tamah malam ini.

kecurigaan yang kauhaturkan telah menegaskan keterdiamanku”

aku pun memilih tak menyentuh apa pun, termasuk kopi panas

yang beberapa menit lalu dengan gairah kuseduh. aku ingat

kata ibu : “diam adalah percakapan paling dalam, maka kau

harus berusaha sedaya daya menghindar darinya”

aku memang berjalan ke ruang tidur, seperti anjuranmu.

tapi kata kata yang mestinya kau utarakan tergeletak di pintu

kamarku, wajahnya lelah, tapi matanya tak berubah: tajam,

penuh kecurigaan, dan nanar. aku langkahi tubuhnya, berusaha

biasa. meski aku telah menyediakan tubuh untuk seluruh insomnia.

dan pikiran pikiran tentang kata yang telanjang, salah jalan. sialan!

2013

 

 

Bulvari Menuju HF

Sayang, aku melihat mobius bunga di radius ujung pandangku.

Ia serupa cabang mahkota rusa di rimba tanpa tapa. Rimba

yang tak pernah terjangkau kaki manusia kecuali lewat lengan imaji.

Dimana orang orang suci membakta mimpi seperti bundar naluri.

Sayang, ingin sekali rasanya kukalungkan mobius bunga itu ke leherku,

andai aku sepenuh yakin bunga itu pernah tumbuh di lehermu, sebab aku

percaya, dengan begitu tali nyawaku akan lebih wangi dari kelopak sukma,

dari kelopak kurma manusia pertama.

Sayang, jika kau benar pemilik rusa tanpa rusuk, aku akan salibat daging

buruan sepanjang nafsu, maksudku selama hidupku dicungkup nafsu, tapi

bagaimana mungkin kutunggangi rusa yang merasuk ke dalam ruhmu tanpa

nafsu.

Sayang, seluruh yang tak mampu kutikung dengan rubayat selubung, adalah

bulvari terdekat dengan tubuhmu, aku ngin menjadi si buta di bulvari itu,

meraba sepanjang gazal tangan, sepanjang tubuhmu mampu kusentuh,

kusentuh keabadianmu

         Betung Semesta – 2014

 

 

Muhammad Asqalani eNeSTe. Kelahiran Paringgonan, 25 Mei 1988. Alumnus Pend. Bahasa Inggris – Universitas Islam Riau (UIR). Pengajar English Conversation di Smart Fast Education – Pekanbaru. Menulis sejak 2006. Puisi-puisinya dijadikan skripsi “Lisensia Puitika Puisi-puisi Muhammad Asqalani; Sebuah kajian stilistika” disusun oleh Raka Faeri (NPM: 086210631. Pernah menjadi Redaktur Sastra Majalah Frasa. Meraih gelar “Penulis & Pembaca Puisi Muda Terpuji Riau 2011”. Puisi-puisinya dimuat di: Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Suara NTB, Minggu Pagi, Fajar Makassar, Riau Pos, Batam Pos, Tanjung Pinang Pos. Sumut Pos, Pos Bali, Lombok Post, Sastra Sumbar, Padang Ekspres, Medan Bisnis, Buletin Jejak, Tribun Sumsel, Waspada, Posmetro Prabu, Metro Riau, Haluan Riau, Koran Riau, Koran Madura, Inilah Koran, Dinamika News, Ruang Rekonstruksi, Majalah Sabili, Majalah Frasa, Majalah Noormuslima (Hongkong), Majalah Sagang, Koran Cyber, KOMPAS.com, Kuflet.com, Detak UNSYIAH, AKLaMASI, Bahana Mahasiswa,dll. Aktif di Community Pena Terbang (COMPETER).

[Cerpen] Demi Cinta Laila

Oleh: M. Rosyid HW

Ini semacam keras kepala yang berbatu-batu. Seperti tekad yang mengalir dalam urat nadi, atau cita-cita yang sudah mengakar berabad-abad dalam hati. Kata pujangga, ini perjuangan cinta. Kalau tidak, mana mungkin aku berada di tempat ini. Meneguhkan diri dan memantapkan sendi-sendi hati.

Bulan sedang pada masa jaya-jayanya, bercahaya lembut di malam yang membiru. Baru kali ini kulihat bulan bersinar sedemikian cantiknya. Sungai Brantas mengalir begitu anggun, tenang di permukaan, bergejolak di dasar. Tak terlihat siapapun sefajar ini di bantaran sungai ini, hanya seonggok lampu yang bekerjap-kerjap di kejauhan. Gelap gulita menyelimuti sekelilingku, hanya deru alir sungai yang bergelora dan sangat berwibawa. Mengerdilkan nyaliku yang sudah kuberanikan semenjak berangkat dari rumah. Perlahan-lahan kumasukkan ujung kakiku ke dalam sungai terbesar di ujung timur jawa ini. Batas air merambat dari lutut, paha, perut hingga mencapai dada bidangku. Hawa dingin menjalari tubuhku, mengalir begitu mencekam. Bibirku bergetar, bulu kudukku berdiri, aku menggigil. Riak-riak air bergelombang menerjang seluruh inci badan. Angin selatan berselancar di permukaan sungai, menerpa wajah telanjangku. Badanku bergetar hebat, hebat sekali. Aku hela nafas dalam-dalam, mencoba mengalirkan hawa panas dan menetralisir dingin yang menekan erat. Gigilku berkurang, tapi dingin tetap mencekam. Bermandikan cahaya bulan, kurendam tubuhku dalam deras air sungai. Untung bulan bercahaya begitu indah, menemani kesunyian malam ini.

Kalau bukan karena Laila, gadis jawa itu, aku tak mungkin merendam diri di malam sedingin ini, di sungai Brantas pula. Malam ini adalah malam ke lima belas dari empat puluh hari yang harus kulalui dengan raga yang basah oleh air dan cahaya bulan. Separuh jalan telah hampir ku lalui. Walau tulang-tulangku bergeletukan, senyum simpul merona dari bibirku.

Aku tak mengerti, mengapa aku bisa senekad ini. Laila dengan rambutnya yang tergerai-gerai dilambai angin membuat hatiku tak karuan. Seandainya saja aku mampu mempersuntingnya untuk menjadi istriku, hidupku yang pas-pasan akan berubah bahagia.

Seandainya aku pintar merangkai kata-kata layaknya penyair. Pasti, Laila akan terbuai oleh gombal-gombal cinta yang kulontarkan dalam puisiku. Setiap hari akan kukirimi dia sepucuk mawar merah lengkap dengan sajak yang mendayu-dayu penentram kalbu. Kemudian, dia akan menerimaku sebagai pelabuhan hatinya. Namun aku hanyalah penambang pasir di pinggiran sungai Brantas yang sedikit beruntung. Ya beruntung, karena mampu melihat dan mengenal bidadari yang turun dari langit, secantik Laila. Sayangnya, wajahku tak ganteng pula layaknya aktor-aktor film. Hingga akhirnya, tekadku berakhir dengan malam yang panjang tanpa mengatupkan mata sedikitpun dan dingin yang merasuk ke tulang-tulang.

Adalah Ki Joyoboyo yang memberikanku petuah ijazah untuk memenangkan hati Laila. Saat itu, malam Jum’at kliwon aku mendatangi rumahnya di pinggiran Sungai Brantas. Seminggu setelah aku bertemu Laila, tujuh hari setelah renungan yang berkecamuk dalam hati. Pohon beringin di depan rumah dukun ini menambah kesan sakti plus mistis yang sudah melekat dalam namanya. Aku datang mengendap-endap, tak berani banyak bersuara.

“Perempuan mana yang kau suka?” Tanya Ki Joyoboyo bahkan sebelum aku mengutarakan maksudku.

“Laila Ki, anak pakSutiyo, janda satu anak Ki.”

Setelah itu, dia mengeluarkan sebuah kertas dan menuliskan huruf-huruf arab diatasnya. Hurufnya panjang berderet-deret, berdesak-desakan dalam kertas yang sempit. Aku tak tahu isinya, lampu di kamar itu terlalu remang untuk mampu menjangkau deret hurufnya. Mungkin, itu arab pegon, bahasa jawa yang ditulis dalam huruf arab, batinku. Saat lafadz-lafadz itu sudah lengkap, dia memasukkannya dalam segelas air kemudian merapal mantra-mantra dengan memejamkan mata. Tinta-tinta dalam kertas melarut dalam air hingga air jernih itu berubah menjadi kehitam-hitaman. Aroma dupa bergelegak masuk ke dalam hidungku. Aku menciut, bulu kudukku meremang.

“Minumlah nak, minum dengan menyebut nama Tuhanmu.” Air dalam gelas kutenggak sampek habis, menyisakan kertas di dasar gelas.

“Jika kau ingin Laila bertekuk dalam pelukmu, kau harus melakukan hal yang kupinta ini. Berendamlah di Sungai Brantas sebelum fajar menjelang, berbalut cahaya bulan. Selama empat puluh hari tak boleh putus-putus. Sambil berendam bacalah ayat ini sebanyak seribu kali sampai shubuh tiba. Jika itu sudah kau lakukan, maka Sungai Brantas akan memberikanmu kekuatan untuk menaklukkan hati si Laila. Kau akan menjadi gagah di matanya, segagah aliran sungai” ujar Ki Joyoboyo sambil memberikan sepucuk kertas bertuliskan arab di depanku.

“Makasih banyak Ki,” aku menyalaminya sambil menyelipkan beberapa lembar uang ratusan ribu dalam genggamannya. Malam itu, aku pulang dengan senyum yang mengembang dan bersiul-siul gembira. Impianku untuk memperistri Laila sedikit lagi akan terwujud.

***

Siang sedang buram hari ini. Awan pekat bergulung-gulung menghitam menutup sorot cahaya mentari. Gelap menggelayut bumi, segelap hatiku saat ini. Sudah berhari-hari aku tak bertemu dengan sorot ayu wajah Laila. Biasanya, sesiang ini, dia akan menggowes sepedanya untuk menjemput anaknya pulang sekolah. Saat dia melintas di atas jembatan bambu yang membentang di atas sungai Brantas, aku akan melirik sosoknya dengan sepanggul pasir basah di bahuku. Maka, hatiku akan membuncah, semangatku akan bergelora, seakan seluruh pasir di sungai itu akan kukeruk habis dan kupersembahkan untuk Laila. Namun, sudah seminggu ini batang hidungnya tak terlihat.

Sebagai seorang penambang pasir, menyelam sungai adalah keseharianku. Berangkat semenjak mentari mulai terlihat dan berhenti ketika ia menyembunyikan cahayanya di balik mega. Seonggok bambu berbentuk kerucut yang dilapisi seng menemaniku menyusur kedalaman arus sungai. Aku mampu menyelam selama hampir lima menit kemudian muncul dengan segepok pasir basah, mutiara Sungai Brantas yang sudah terkenal kualitasnya seantero negeri. Setelah seminggu, pasir akan terkumpul dan dijemput truk-truk yang merapat untuk mengangkutnya.

Hari ini, aku beristirahat lebih cepat. Dengan baju yang basah kuyup, kupandangi lekat-lekat sungai terbesar di Jawa Timur ini. Sungai yang tak pernah kering, terus menerus mengalir, menjadi sumber penghidupanku semenjak aku lahir. Sungai yang bersumber di lereng gunung Arjuno ini melintasi beberapa kabupaten dan bermuara di ujung pantai utara jawa. Tiba-tiba aku teringat Laila dan pertama kali aku bertemu dengannya.

Senja itu angin bertiup sepoi-sepoi, aku baru saja selesai dengan angkatan pasir terakhir. Nafasku terengah-engah, tenagaku terkuras habis. Dibalik rindang pohon nangka, aku melepas lelah. Hingga seorang perempuan duduk selemparan pandang di sampingku. Duduk bertekuk lutut, memandang lepas Sungai Brantas dan melempar kerikil-kerikil ke arus yang deras. Semacam ada kabut bergelayut dalam hatinya. Rambutnya tergerai-gerai tersapu angin selatan.

“Kau lihat perempuan itu? Siapa namanya Man?” tanyaku kepada teman sesama penambang Pasir.

“Itu Laila, anak Pak Sutiyo. Sebulan lalu pulang, setelah ditinggal mati suaminya.”

Kupandangi Laila lekat-lekat, semacam ada rasa kekaguman tumbuh dalam dada. Semenjak saat itulah aku sering memimpikannya dan selalu menunggunya melintas di jembatan bambu yang berdiri gagah di atas Sungai Brantas.

***

Saat kutengok jendela di samping dipanku, fajar telah menghilang semenjak sang mentari menampakkan batang hidungnya. Malam telah menunaikan hajatnya, berganti kuning menyala-nyala di ufuk timur disertai ciut-ciut burung-burung. Fajar telah digantikan lembaran pagi. Bersamaan dengan wajahku yang tertimpa percik sinar mentari, kantuk yang melekat di kantung mataku mulai memudar. Rasa lega dan bahagia menyesaki kalbuku, malam-malam berat telah berhasil kulalui. Empat puluh malam tanpa memejamkan mata, bertahan dalam kedinginan dan jutaan mantra telah kupanjatkan.

Cuaca yang cerah, secerah gemuruh dalam dada. Hari ini akan kuselesaikan keras kepala yang membatu-batu, tekad yang mengalir dalam urat nadi, dan cita-cita yang sudah mengakar berabad-abad dalam hati. Dengan menggenggam tulisan ayat pemberian Ki Joyoboyo dan mewarisi kegagahan Sungai Brantas, aku siap untuk menjemput cinta Laila.

 

*M. Rosyid HW , Pegiat sastra di Komunitas Lilin Lantai

Tulisan-tulisannya pernah dimuat di koran nasional dan lokal

 

 

Puisi Budhi Setyawan

Desember – Januari (1)

orang orang siap melewati perbatasan
dalam kepala. pergi ke toko toko dengan
wajah berlapis doa. musim makin pelik
diduga.
berbagai kue dan ragam cokelat, berbagi
perayaan yang singkat. untuk mengingat
atau menandai, simpul simpul dalam
riwayat.
hujan hanya sekelumit rintik rintih haru
langit. mereka kemudian menyalakan
lilin, seperti menghangatkan ingin.
Jakarta, 2015

 

Desember – Januari (2)

jalan jalan jadi tempat parkir kendaraan.
umpat berledakan, bersaing bunyi petasan.
ruang ruang bergembira, meraung ke telinga
malam. seberapa lama menahan ronta jam.
anak anak menyulut kembang api. pijar
memancar rapi. tapi jantung waktu tetap sepi.

Jakarta, 2015

 

Desember – Januari (3)

mereka memburu momentum baru. bersama
melepaskan kepiatuan waktu, ke garis tubir
deru.
apa yang berubah, wajah kalender menanggung
lelah. lembar lembar akan rebah, sejumput
persepsi patah.
di esok pagi mimpi tersangkut gagang pintu,
matahari bermimikri menjadi biru.
Jakarta, 2015

 

Silsilah Debu

apa alpa
yang mencipta debu
jatuh berdebum
di kebun surga
tertolak melontar
melayang masygul
menjadi bumi
Jakarta, 2015

 

Pijar dan Getar

ayat adalah hayat:

  • aksara menyulut pijar
  • suara merawat getar

 

Jakarta, 2015
 

Lingkar Embun

gigil daun
membaca luka tahun
di mana musim bermukim
cuaca berkaca kaca
Jakarta, 2015

Osmosis Elegi

teraduk duka
akan daku
menyusup pori waktu
membaur partikel gagu
Jakarta, 2015

 

Semburat Senyap

nada terakhir
resital gitar tunggal
menggaris tanya
ke mana lindap cahaya
saat lampu ruang pertunjukan diredupkan
saat kesibukan dalam kepala dihidupkan
di kamar
gitaris tertidur
berselimut lagu lagu

Jakarta, 2015

 

Riwayat Kata

hanya selubang jarum
sebagai pintu
segajah pesan dan maksud
terus memburu
Jakarta, 2015

 

Pusaran Bayang

ihwal mendekat-menjauh
kesadaran separuh
detik dan detak berkejaran
fragmen fragmen berlepasan
ruang mengangkut remang
sajak makin menggenang
Jakarta, 2015

 

 

 

 

Budhi Setyawan, kelahiran Purworejo, Jawa Tengah. Menyukai musik rock dan puisi. Bergiat di komunitas Forum Sastra Bekasi (FSB). Tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

[Cerpen] Bapak dan Sebuah Kenangan

 Oleh: Daruz Armedian

Waktu kecil, bapak sering mengajakku pergi ke sebuah jembatan di salah satu desa tempat kami tinggal. Kata bapak, jembatan adalah penghubung jalan. Kalau tidak ada jembatan, kita akan kesulitan jika mau melewati sungai. Di situlah aku selalu diberi cerita macam-macam. Banyak sekali cerita yang diutarakan, sehingga banyak juga yang aku lupakan. Yang selama ini masih kuingat adalah cerita tentang tiga orang gadis cantik-cantik. Namanya Klenting Abang, dan Klenting Ijo. Kedua Klenting itu sifatnya sangat jahat. Hati mereka busuk. Kemudian ada Klenting Kuning yang sering dijadikan musuh bagi mereka meskipun Klenting Kuning tidak memusuhi dan malah selalu berbuat baik kepada mereka. Suatu hari, ada seorang pemuda putra raja bernama Ande-Ande Lumut yang hendak mencari pendamping hidup. Ketiga gadis itu ikut mendaftar menjadi calon pendamping meski jarak rumah mereka jauh sekali dengan kerajaan. Pagi sekali, Klenting Abang dan Klenting Ijo merias tubuhnya agar terlihat elok. Sementara Klenting Kuning disuruh emaknya—yang memang tidak suka pada Klenting Kuning—mencuci piring dan perabotan-perabotan lainnya.

Klenting Abang dan Klenting Ijo berangkat. Tetapi dalam perjalanan, mereka tidak tidak menemukan jembatan di sungai yang biasa ada jembatannya. Di sana hanya ada orang usil bernama Yuyu Kangkang yang sedang naik perahu sampan. Mereka berdua memanggil-manggil Yuyu Kangkang untuk meminta tolong menyeberangkan. Tapi Yuyu Kangkang tidak mau. Meski dengan syarat apa pun termasuk uang. Kecuali mencium pipi kanan dan kiri mereka. Klenting Abang dan Klenting Ijo yang mulanya tidak mau akhirnya terpaksa mau. Sementara Klenting Kuning datang telat dan tidak sempat merias wajahnya. Dengan pakaian yang jelek pula ia berangkat menuju kerajaan. Sampai di sungai, ada orang tua yang sukarela membantu menyeberangkannya sebab Yuyu Kangkang tidak mau.

Di dalam kerajaan, ternyata Ande-Ande Lumut tidak mau memilih Klenting Abang dan Klenting Ijo karena sudah menjadi sisa Yuyu Kangkang. Akhirnya Klenting Kuninglah yang dipilih. Meski datang terlambat, dengan paras muka yang jelek karena belum merias wajahnya dan masih menggunakan pakaian jelek. Tetapi Ande-Ande Lumut tahu kalau seseorang tidak dilihat dari seberapa elok paras tubuh, tetapi elok paras hatinya.

Begitulah, kemudian bapak hanya akan menasihatiku agar menjadi anak yang baik meski sering diejek teman-teman karena menjadi anak orang miskin. Sebab, setiap kebaikan mempunyai balasan sendiri-sendiri. Begitu juga kejelekan.

Setelah itu, biasanya bapak akan pulang. Dalam perjalanan pulang, bapak memboncengkanku di belakang. Kedua kakiku ditali dengan sapu tangan dan diikatkan pada besi di bawah sadel untuk mengantisipasi agar tidak kena jeruji. Pernah aku tidak mau kakiku diikat karena tidak bisa bergerak dengan bebas. Tapi naas, benar kata bapak, aku orangnya teledor. Kakiku masuk dalam ruas-ruas jeruji yang sedang berputar. Sakitnya lebih dari seminggu tidak sembuh-sembuh.

Ketika emak marah-marah padaku karena membuat kesalahan, bapak hanya diam. Ia tidak ikut memarahiku. Meskipun kadang bapak juga kena marah karena tidak memarahi anaknya, ia tetap tidak memarahiku. Dan sekarang aku tahu, kepada anak kecil kemarahan hanya akan membuatnya minder.

Ketika aku ingin sekali punya sepeda, bapak dengan diam-diam menabung hasil kerjanya untuk membeli sepeda. Meski saat itu ia rela tidak merokok dan tidak di warung kopi berhari-hari. Padahal biasanya merokok dalam satu hari habis lebih dari lima batang. Kemudian ia mengajariku naik sepeda. Jika saat aku jatuh, emak lihat dan menyuruhku berhenti saja. Karena jatuh itu sakit. Tapi bapak tidak, ia menyuruhku bangun sendiri dan memberdirikan sepeda sendiri. Kemudian bilang nanti lama-lama juga bisa kok.

Ketika aku kecil dan tak bisa berenang seperti teman-teman, bapak menggendongku, kemudian ia berenang. Seolah-olah aku sedang naik ikan. Aku tertawa bahagia.

Waktu remaja, aku minta dibelikan hape, tapi bapak menolak. Aku marah-marah. Bapak tetap teguh pada pendiriannya, walau aku murung setiap hari. Dan saat ini aku baru mengerti, bahwa bapak tak ingin aku lalai dalam sekolah karena nanti bakalan main hape terus-terusan.

Waktu bapak ingin sekali mengantarkanku sekolah dengan motor bututnya yang dengan susah payah mengumpukan uangnya untuk beli motor itu. Aku tidak mau. Aku malu sama teman-temanku. Dan bapak tidak marah. Ia hanya tersenyum sambil berkata “hati-hati di jalan.” Lalu saat ini aku sadar, bapak saat itu hanya ingin aku bangga anaknya masih punya bapak yang mau mengantarkan sekolah anaknya.

Dan saat di perantauan ini, ketika mendengar kabar bahwa bapak sakit, sedang aku masih menjalani ujian di perkuliahan dan tak bisa pulang, bapak kutelepon, di sana ia berpesan agar aku di sini tetap baik-baik saja. Jangan terlalu gusar. Fokus saja pada ujian.

Mungkin ada saatnya aku akan dikisahkan begini:

Ada seorang bapak, tubuhnya yang renta membawa telepon pemberian anaknya ke sebuah bengkel hape, ia bertanya pada tukang servis “Pak, ini hapenya apanya yang rusak?” dan tukang servis itu menjawab “Tidak ada yang rusak.” Dan seorang bapak itu berkata dengan nada lirih “Kalau tidak rusak, kok tidak ada telepon dari anakku?”

Tidak bapak. Aku tidak ingin seperti itu. Semoga bapak tetap sehat selalu. Maafkan anakmu.**

 

* Daruz Armedian, mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga dan bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).

armediandaruz@gmail.com

Puisi Alfa Anisa

Peziarah Waktu

Sepasang ruh malam meniupkan kesunyian

pada rembulan yang bersandar di punggung langit

Mencegat ribuan malaikat yang terjatuh satu persatu

di haribaan dini hari

Hari ini kita akan menjadi peziarah waktu

Memikul hening pada puncak malam

Setelah itu tujuh macam kembang ditaburkan

Tujuh macam doa dirapalkan

Air jampi-jampi dalam kendi dituangkan

Siapa yang didatangi kematian, ketika jarum jam berhenti berputar ?

Sedang masing-masing dari kita masih khusyuk mengabadikan sinar bulan

dalam genggaman tangan

Hangudi, 2015

 

Perempuan Di Sudut Taman Sidoarjo

Di antara daun-daun yang berguguran, angin berembus manja

mengelilingi pohon-pohon tua yang kehabisan ruang

dan orangorang yang sedang khusyuk memelihara tawa

Sepasang burung berkicau mesra,  duduk berdua di ranting kemesraan

Seperti benih-benih cinta tumbuh disengaja

Berkicau dengan sapaan paling bahagia

 

Namun, lihatlah! perempuan berwajah kesedihan sedang duduk terdiam

Menampung tangisan di telapak tangan, kedua bibir tak henti merapal ayat-ayat kesetiaan

Yang terlanjur betah menghuni ruang-ruang di rongga dada

Binar matanya telah kehilangan masa depan, sebab masa lalu kerapkali datang tak diundang

Dan pada langit biru,  gerumbul awan yang hilir mudik

Perempuan itu menitipkan pesan penantian

Bagi sang tuan yang mungkin lupa jalan pulang

Atau sembunyi dari sumpah kesetiaan dan restu Tuhan

Blitar, 2015

 

Waktu Paling Luka

Seringkali aku mencari-cari waktu paling luka

Mengingat suaramu yang datang tiba-tiba

Saat tengah malam, saat orang-orang terbaring dalam buaian

Aku ingin merendam jejak masa lalu dalam kubangan air mata

Lalu menukarnya dengan harapan hari depan

Meski begitu setiap musim berlalu pergi

Rinduku akan habis ditelan rencana yang terkikis

Dan dalam waktu yang paling luka

Aku mengikuti langkah kakimu yang tergesa-gesa

Mencari-cari sebuah kebaikan nasib, atau memilih kenangan tak lagi berkarib

Blitar, Januari 2016    

 

Pawang

menatap birunya langit untuk dikelabui, ketika bumi masih alpa  menerima nyala api.

jari-jemari sucimu menyentuh bumi, mengumpulkan bait-bait mantra dari sekujur tubuh ke ujung kuku

angin pagi itu mengirim kecemasan, mantra-mantra dirapalkan, pelepah tanganmu diacungkan ke langit, menangkap sejumlah udara buruk yang berkelit

sambil mencegat sinar matahari yang jatuh di tanah lapang, membiarkan mendung berayun-ayun manja.

lalu sejumlah embusan angin kembali berontak, mengusir panas yang menyala ke tepian bumi.

dan pada detak jam yang hampir habis, sinar matahari raib dalam komat-kamit. sehari penuh didatangi awan abu-abu, entah datang dari seberang hulu menuju hilir

Blitar, 2016

 

 

_________________________________________________________                   

Biodata:

Alfa Anisa adalah nama pena dari Anisa Alfi Nur Fadilah. Lahir di Blitar, 28 Maret 1995. Mahasiswa program ilmu komunikasi di Universitas Islam Balitar, saat ini aktif bergiat di komunitas sastra Hangudi di Bumi Bung Karno Blitar. Bisa dihubungi di akun facebook Alfa Anisa.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai