Oleh: Sulistiyo Suparno
Hidup di daerah kumuh memang menakutkan. Setiap saat keselamatan terancam. Anak-anak dilarang keluar malam oleh orang tua mereka, termasuk Nadya yang meski sudah kelas XII SMA, tetapi jam lima sore harus sudah berada di rumah.
Malam adalah saat yang menakutkan. Orang-orang entah dari mana hilir mudik, entah untuk urusan apa. Kata ayah, mereka sedang “bekerja”. Sekian lama Nadya tidak mengerti maksud ayah. Belakangan, Nadya tahu “pekerjaan” orang-orang itu sesuatu yang mengerikan.
Nadya pernah meminta ayah untuk pindah ke daerah lain yang tenang dan aman. Di mana saja asal bukan lagi di dekat pelabuhan seperti sekarang. Di sini, hujan sedikit saja rumah berubah menjadi danau, setelah itu jalanan menjadi becek, nyamuk merajalela dan penyakit datang menyerang.
Tetapi ayah menolak karena sebagai pegawai rendahan pada kantor pelabuhan, hidup mereka pas-pasan, tidak mampu mengontrak rumah. Lagi pula sayang bila harus menjual rumah warisan.
Bila malam Minggu tiba, Nadya hanya bisa menelan keinginannya untuk bermalam panjang. Ayah melarang Nadya keluar malam. Lebih parah lagi Nadya belum punya kekasih. Pemuda mana yang mau memacari gadis pelabuhan?
Banyak pemuda yang takut berkunjung ke daerah kumuh itu, apalagi mengunjungi rumah gadis. Para pemuda takut pada preman-preman yang mangkal di pos ronda di mulut gang. Sekumpulan preman itu gemar memalak orang-orang yang lewat.
Preman-preman itu kebanyakan anak putus sekolah. Mereka hanya baik pada gadis cantik; itu pun dengan catatan mereka dalam keadaan sadar. Bila sedang mabuk, mereka lupa daratan. Siapa saja yang melintas mereka ganggu, termasuk Nadya yang terpaksa lari dan menangis karena seorang dari preman itu mencoba berbuat kurang ajar padanya.
Nadya menangis dalam pelukan ibu. Sementara ayah hanya diam menahan marah. Ayah terlalu sabar hidup di daerah itu. Malamnya, saat Nadya dan ibu sedang menonton televisi, ayah pulang dengan wajah menyisakan berang.
“Dari mana, Yah?” tanya ibu.
“Menghajar orang!” sahut ayah pendek.
Esoknya, Nadya melihat preman yang mencoba berbuat kurang ajar padanya kemarin, berwajah bengkak di bagian mata dan luka mengering di bibir.
***
Suatu pagi di dekat rumah Nadya ada kerumunan orang-orang dan mobil polisi.
“Ada apa, Pak?” tanya Nadya pada seorang lelaki setengah baya.
“Jiteng ditangkap. Dia membacok seseorang.”
Jiteng adalah preman yang tempo hari hendak berbuat jahat pada Nadya. Nama aslinya, entah, tetapi orang-orang memanggilnya Jiteng karena kulitnya gelap dan dekil.
Nadya melihat Jiteng dibekuk polisi, keluar dari halaman rumahnya, lalu dinaikkan ke mobil tahanan bak terbuka. Beberapa orang berteriak memaki, tetapi sebagian besar orang-orang hanya diam, seakan tak ada yang perlu dipersoalkan.
Penangkapan seseorang di daerah itu adalah hal biasa. Masuk keluar tahanan atau penjara seperti piknik gratis saja bagi sebagian warga. Orang-orang di daerah itu sudah terbiasa berurusan dengan aparat keamanan dan hukum.
Nadya memandang dengan tatapan gamang pada Jiteng di mobil tahanan yang melaju perlahan meninggalkan kerumunan. Nadya merasa senang tetapi juga ada setitik iba. Tetapi, setidaknya Nadya merasa aman dari gangguan preman itu selama beberapa waktu ke depan.
***
Nadya merasa makin aman sejak akrab dengan Benny. Sebenarnya mereka sudah lama kenal, tetapi hanya sebatas bertegur sapa. Sampai suatu petang Nadya melihat Benny berdiri di depan rumah.
“Boleh jalan bareng?” tanya Benny.
Nadya mengangguk meski menyimpan ragu dan curiga. Tetapi, syukurlah tak ada insiden buruk sampai mereka memasuki halaman masjid. Kemudian, petang-petang berikutnya mereka sering berjalan bersama menuju masjid.
Benny anak Teknik Otomotif sebuah SMK swasta, usianya sebaya Nadya. Tubuhnya ceking dan tak terlalu tinggi. Meski sosoknya kecil, tetapi Benny jagoan, jadi bos pemuda-pemuda seusianya. Preman-preman di mulut gang juga segan padanya, sehingga mereka tak berani lagi mengganggu Nadya.
Benny itu pendiam, termasuk alim untuk pemuda yang kerap bergaul dengan berandalan.
“Aku nggak munafik, aku memang pernah coba ngisap ganja. Sekali saja, setelah itu nggak lagi,” kata Benny suatu petang.
“Aku nggak mau kamu pakai narkoba lagi, Ben. Kalau kamu pakai narkoba lagi, aku nggak mau jadi teman kamu.”
“Teman?” alis Benny bertautan.
“Ya….setidaknya teman dekat.”
Benny tersenyum mendengar jawaban Nadya.
Suatu hari Benny ingin mengajak Nadya jalan-jalan. Nadya gembira, tetapi harus meminta izin dulu pada ayah.
“Boleh ya, Yah?” Nadya merajuk.
Ayah hanya diam, memandang ibu seperti minta pertimbangan.
“Baiklah,” sahut ayah.
Nadya melonjak girang dan memeluk ayah.
“Terima kasih, Ayah, terima kasih.”
Usai sholat isya, Nadya mematut diri di depan cermin. Menaburkan bedak padat tipis-tipis pada pipinya yang sawo matang, mengoleskan lipgloss pada bibirnya yang tipis, dan menyisir rambutnya yang sebahu.
“Kamu cantik sekali, Nadya,” kata ibu.
Di teras, Benny telah menunggu. Di halaman, ada motor sport hijau. Nadya tersipu-sipu ketika naik ke boncengan. Ah, seperti bintang sinetron Anak Jalanan saja rasanya.
Beberapa ibu tetangga memandang dan mencandai mereka. Preman-preman di mulut gang bersuit-suit.
Mereka keliling kota, duduk di alun-alun, setelah itu makan di restoran cepat saji. Malam itu Nadya bahagia sekali, wajahnya berseri-seri. Itu kali pertama bagi Nadya bermalam Minggu dengan seorang pemuda!
“Sudah malam. Kita pulang?” tanya Benny menggenggam tangan Nadya.
Dada Nadya berdebaran. Nadya tersipu dan mengangguk pelan.
***
Hari ini Nadya pulang sore. Nadya sudah pamit pada ayah dan ibu bila hari ini ada pelajaran tambahan di sekolah, sehingga ia akan sampai rumah sekitar pukul empat sore.
Langkah Nadya terhenti ketika melihat kerumunan orang-orang dan mobil polisi. Nadya melihat dua polisi menggiring seseorang lalu menaikkannya ke mobil tahanan. Nadya terhenyak tak percaya, tubuhnya gemetar.
“Ada apa, Bu?” tanya Nadya pada seorang wanita setengah baya.
“Benny ditangkap. Dia anggota sindikat penyelundup barang-barang elektronik.”
Nadya terhuyung sejenak. Tidak, ini pasti mimpi! Benny yang baik, tak mungkin melakukan itu. Hati Nadya berontak, tetapi matanya jelas melihat Benny tertunduk dengan tangan diborgol, duduk diapit dua polisi.
Dari mobil tahanan, Benny mengangkat wajah sejenak. Nadya yakin Benny melihatnya.
Orang-orang menatap Nadya, entah apa maksud mereka[]
=====================================================

Sulistiyo Suparno, kelahiran Batang, 9 Mei 1974. Cerpen-cerpennya tersiar di Minggu Pagi, Banjarmasin Post, Cempaka, Radar Surabaya, Metro Riau, Nova, Girls, Suara Merdeka dan lainnya. Bergiat di Komunitas Pena, perkumpulan penulis di Batang. Bermukim di Batang, Jawa Tengah.
Sulistiyo Suparno
Krangkoan RT 004/RW 002, Ngaliyan, Kec. Limpung, Kab. Batang 51271, Jawa Tengah
Ponsel: 0856 2576 174
Surel: sulisjateng@gmail.com
Facebook: Sulistiyo Suparno