[Cerpen] Musim Sakura Yang Paling Dingin

Oleh: Rinidiyanti Ayahbi

Aku sedang ingin sendiri, berjalan di temaram lampu jalan di waktu malam hari. Kadang memperkecil langkah, berjalan sedikit cepat, kemudian berhenti. Sesukaku saja. Tak begitu dingin malam ini, bukti jarum jam belum menuju tengah malam, masih kelihatan riuh orang-orang lalu lalang. Namaku Lunar, di ingatanku namamu Sabit. Dua nama itu saja yang berputar-putar dalam kepalaku. Sabit sudah diambil Langit. Langit yang megah tentu, singgasananya bintang-bintang cantik yang terpugar di antara keduanya. Singgasanaku hanya rimbunnya pohon sakura. Sesekali aku memakai cadar agar kau tak menemukanku. Tapi tak berhasil, kau masih saja mengikuti dan mengenali.

“Sudahlah, kau di sana saja, ya? Langit itu sepertinya sangat mencintaimu.” Aku menyuruhnya pergi.

Kau hanya diam, matamu saja yang mencari-cari mataku. Mungkin di dalam otakmu itu sedang kusut, berpikir apakah aku waras menanyakan hal itu. Sekarang aku kembali berjalan menuju pulang. Kau pasti nyaman sekali di sana, ini pikiranku yang bilang. Ada sesuatu bernoda yang benar-benar tak merelakan kau ada di sana, jujur aku masih merasa senang dibayangi-bayangi olehmu.

“Tolonglah, keluar dari persembunyianmu, Lunar?!” pintanya kebingungan.

“Ini tak benar, tolonglah, Langit sedang menunggumu!” Aku bersembunyi di balik pohon beringin yang besar, yang siap melindungiku. Entah mengapa tiba-tiba ada beringin yang sekejap muncul dari tanah basah, sepertinya beringin  itu juga tahu kalau di antara kami adalah salah. Sesekali aku berusaha menahan diri agar tak menatapnya. Sabit terlalu silau buatku.

“Bukan salahku, Lunar. Tolong maafkan aku,” lirih Sabit lemas.

Aku hanya bisa menatap punggung kekarnya yang kembali memanjat pohon sakura yang paling tinggi, kembali ke dekapan Langit. Kepalaku setengah pusing, hatiku sedikit sesak. Sudah berkali-kali aku berusaha mencoret namamu dengan arang yang paling legam, bertransmigrasi hingga ke pedalaman yang tak akan ada sakura yang sanggup tumbuh di tanahnya. Tak peduli banyak merpati yang memakan seluruh bagian bunga, herannya sakura itu terus tumbuh serentak dan bersama-sama mekar dan hanya berwarna sedikit merah muda. Sepertinya sakura itu tetap akan menjadi penghubung kami, Lunar dengan Sabit. Dulu, kami pernah merencanakan akan membuat teh bunga sakura, dengan cemilan sakura mochi. Aku sebelumnya tak pernah tahu apa itu sakura mochi. Dia menjelaskan dengan tatapan yang paling hangat, “ itu kue mochi yang dibungkus dengan daun sakura, Sayang.”

Kami duduk dan bercerita, tertawa renyah.

Sabit kembali menjelaskan, “sakura ada buahnya, seperti buah ceri. Kalau masih muda, buahnya berwarna hijau, tapi kalau sudah matang berwarna merah tua bahkan menjadi ungu, tapi tidak enak untuk dimakan, Sayang.”

Saat itu aku hanya melongo, berusaha menafsirkan diri sendiri, mengapa aku sampai tak bisa lepas dari Sabit. Aku kembali melongo melihat bibirnya yang terus bercerita tentang makanan yang terbuat dari bunga sakura. Aku baru tahu ternyata ada juga es krim dan kue kering rasa bunga sakura. Sepertinya Sabit suka sekali makan. Ah, bukan, dia mengaku dia suka sekali memasak. Aku seperti mendapat bonus, lelaki yang selalu membuatku melongo dengan ceritanya ternyata sangat suka memasak. Sepertinya kelak, aku akan sangat bahagia. Pikiranku kembali bilang.

“Mengapa kau suka sekali dengan sakura?”

“Entah,” jawabnya singkat.

“Sakura kan, hanya ada di Jepang, mengapa pohon-pohon itu tumbuh di mana- mana dan mengikuti kita?”

“Entah, mungkin mereka tahu aku ini sangat sukaa sekali dengan mereka, jadi mereka mengikutiku. Seperti kamu yang suka padaku. Jadiii …,” Sabit tersenyum dan tertawa lepas.

Dia berhasil membuat pipiku berubah warna, serupa dengan warna sakura yang sedikit merah muda dan hanya mampu mengiyakan dalam hati. Tapi itu hanya sementara, jalan cerita yang disusun dengan sempurna disulap menjadi pecahan yang menyakitkan. Saat itu juga bunga-bunga sakura rontok satu persatu pada saat yang hampir bersamaan dengan  hujan. Pohon-pohon sakura itu juga merasakan kesedihan kami. Kami tak pernah melawan dinginnya hujan deras yang membuat perasaan kami menggigil. Pernah satu saat, aku mengintip ke atas. Ada dirimu, Sabit dipeluk Langit, erat sekali. Aku seperti bayanganmu saja. Tapi aku cekatan dan paham kalau dirimu itu cengeng. Saat kau bersinar, selalu ada airmata di sana. Jatuh hanya di kepalaku.
“Aku bisa kedinginan, Sabit … berhentilah. Sudahlah, seharusnya aku yang cengeng, aku kan wanita. Kau lelaki, Sabit. Tapi sudahi saja sampai di sini ya? Tak pantas rasanya, aku berjanji tiap kau muncul dengan sinarmu, aku akan selalu mengawasimu dari jauh. Kalaupun dekat, jangan pernah bawa sakura mochi ke hadapanku ya?” Aku berusaha menenangkannya, merayu dengan jari kelingking yang menunjuk ke atas.
Kau lupa, aku tak perlu sayap, karena aku pemanjat ulung. Pohon sakura tertinggi yang mencapai dirimu, aku mampu memanjatnya. Kakiku kuat, jantungku juga kuat. Setelah sampai di puncak pohon sakura, aku duduk melepas lelah, kembali memandangimu dengan tersenyum. Tanganku menadah airmatamu yang jatuh satu-satu. Biarlah hatiku yang menelan airmataku sendiri.
Itu kulakukan setiap kau muncul. Aku selalu siap di pohon sakura yang paling tinggi. Siap menadah airmatamu. Berulang-ulang, entah mengapa aku tak pernah bosan. Kadang airmatamu terlalu banyak hingga pakaianku sampai basah semua. Kau tak pernah tahu, aku Lunar yang mengalah dan hanya mampu bersembunyi di tiap lapisan kelopak bunga sakura yang tipis. Tetaplah di sana bersama Langit dan bintang-bintang kecilmu. Tak mengapa, Aku Lunar, selalu ada Sabit di dalamnya, pada musim sakura yang paling dingin.[]

 

 

================================================

Biodata:

Pembaca dan penulis berdarah Aceh – Rinidiyanti Ayahbi  ini mengaku masih terus mengeja abjad. Menulis di beberapa antologi cerpen dan puisi, juga di beberapa media. Saat ini tinggal di Jakarta, dapat dihubungi di: ayahbi@yahoo.com.

 

 

Puisi Puisi: Fajrus Shiddiq

Magan

Saat air laut belum tenang

Sampan-sampan dari ranting diapungkan

Dengan sedih dibungkus senyum

Lalu nelayan bergoyang bersama ombak

Menunggu ikan-ikan

Mungkin untuk sekedar makan malam

 

Ada Slamet dan Sumarni

Bersandar pasir berselimut sedikit dedaunan

Menunggu ayahnya

Menghilang dibalik ombak

 

Rasti

Reinkarnasi cintamu, Rasti

Hanya berkamuflase dibalik embrio

Dan tak terfikirkan

Meski sesekali mengeruhkan urat nadi

 

Jantung hatimu, Rasti

Menjelma labirin dengan nafas membasah

Membekukan kelenjar dengan derajat rendah

Menidurkan saraf

 

Rasti, cantik

Leukosit dan trombosit terenyuh

Ketika kau hadirkan wajah lusuh

 

Seret aku dengan pasti, Rasti

Agar tak lagi terbagi

Setangkai mawar yang masih tertusuk di hati

 

Jani

Selamat malam, Jani

Maukah kau duduk bersamaku

Di meja yang aku tak tahu hulu-hilirnya

Dan aku tak pernah tahu tentang menunya

 

Seduh saja,

Karena empedu menjelma racun

Lalu racun telah kuendap

 

Hanya karena kau, Jani

Aku mabuk bukan karena vodka

Dan aku sakit tidak juga sembuh

 

Kapan kau mampir, Jani

Ruang ini menunggumu harum aroma melati

Kurajut dari duri mawar

Dan aku telah terluka

2009

 

Titipan Yang Maha

Kukarang namamu pada proposal

Tak lelah selalu aku semogakan

Lewat tuan yang melahirkan

Melukis mawar tak sebegitu merah

Yang Maha Cinta

 

Aransemen sanjung dipanjat  di tinggian

Masih tentang namamu yang kembang

Terus menjalar lekat eritrosit

Pintu delapan belas pada surat dua tiga

Yang Maha Cipta

 

Ruh kata sayembara

Belum saja berani menusuk pori membangunkan bulu-bulu

Hatimu terpenjara di kamar sembahyang

Dibalut lembut helaian mesra

Yang Maha Suci

Malang, 16 Maret 2015

 

Membaca Ka’bah

Gantung aku puisi

Pusar kitaran sesembahan Ibrahim

Perbawa ababil hapus hikayat kawanan gajah

Petarangan legojo gadis-gadis kersik

Rumah telah dibangun, milik tuannya

 

Tujuh pujangga mati

Aksara wangi dupa-dupa dan puja

Melontar kerikil mengusir diabolos

Arah pulang matahari di tempurung waktu penghisab tarikh

 

Ada puisi yang kuat dan teduh

Di Ka’bah

Malang 2015

 

Laghouat Cemburu

Laman pagi ini adalah etiket pertemuan

Di gedung yang hangat oleh cemburu

Aku dan duri mawar

 

Jadilah surat terakhir,

Oase keruh karena kau mengarau

Tercebur aku belum entas di kubangan

Kau hadiahi senyum

Pesan tak sampai

 

Laman siang ini adalah salam

Aku dzikir sumringahmu

 

 

Suatu Pagi yang Ping Pong

Ada karib membunuh sepagian

Seutas waktu bercengkrama dengan guru

 

Ping pong dekat patembayan minum kopi

Sepintas perawan melangkah ping pong

Semakin ping pong, kedatangan sekawanan membual

Desahku ping pong tak simetris

 

Lampu hijau perempatan

Aku telah gegas ke perteduhan

Sebingkis legum hadiah lora

Mengalpakan

Suatu pagi yang ping pong

 

 

Sketsa Pagi

Luminositas kota

Topeng-topeng gerilya di lingkarnya

Ada kaki lima dirintih gebuk hujan

Sempoyong kaku bermata kaca

Kehidupan baru dimulai

Disemogakan

 

 

Melodia Pagi

Ruang ini hampa

Saat tak lama aku menjumpa

Pagi yang mesra

Kantin yang sepi kosa kata

 

Kulihat kembang senyum

Perawan-perawan menebar harum

Graptophyllum pictum

 

Maka waktu ini semakin kusut

Hati tertambat sayang terpaut

 

Adakah yang lebih perih dari harap ?

 

================================================

Tentang Penulis

Fajrus Shiddiq, lahir di pedesaan Madura, Sumenep 18-Oktober-1991. Mahasiswa Jurusan Pendidikan S1 Bahasa Arab Universitas Negeri Malang. Puisinya tak jarang dimuat di berbagai antologi Senja Bercerita, Muara Pelangi, dan Pada Batas Tualang. Serta media lokal Qalam dan KOMUNIKASI. Aktif tulis menulis semenjak masih nyantri di PP. AL-AMIEN PRENDUAN, anggota Sanggar Sastra Al-Amien, Sanggar Cakram, dan anggota redaksi majalah berbahasa inggris ZEAL.Saat ini menggeluti seni teater bersama Sanggar Seni & Budaya Al-Karomi UM (Teater Bahasa Arab), FLP ranting UM, dan Perguruan Seni Beladiri Indonesia TAPAK SUCI.

______________________________________________________________________________

 

Jelmaan Kepompong

Cerpen: Gusti Trisno

Kamu tidak akan pernah tahu, persahabatan mereka tumbuh mulai dari lagu Kepompong-nya Sindetosca dijadikan OST sebuah sinetron remaja. Persahabatan mereka begitu cukup dekat, awalnya mereka terdiri dari tiga orang yakni Della, Ardo, dan Romi. Dan kamu pun berusaha menjadi salah satu di antara mereka. Mencoba masuk dan tiba-tiba ditolak tanpa alasan yang tidak kamu mengerti. Namun, anehnya mereka malah menerima anggota baru bernama Rizi yang baru saja masuk dalam sekolah mereka. Dan kebetulan sekelas di kelas XII.

Baiklah, kamu mungkin tak memahami siapa Rizi itu. Kamu perlu mengetahuinya terlebih dahulu, sebelum mengambil kesimpulan pada pemuda itu. Rizi adalah seorang anak pindahan yang berasal dari Jember, selain itu ternyata ia adalah anak dari kepala sekolah, tempat di mana Della, Ardo, dan Romi belajar. Kehadiran Rizi pun memperkuat citra geng mereka se-antero SMA Baluran Situbondo.

Nyaris setiap hari mereka bercanda tawa, juga menyimak pelajaran dari guru, keempat sahabat itu sudah layaknya saudara. Tak ada satu pun yang membuat jarak antara mereka. Awalnya Della, Ardo, dan Romi berteman dengan Rizi karena mereka menilai jika anak kepala sekolah itu butuh teman agar mudah bersosialasi di tengah kejamnya SMA Baluran, namun ternyata kedekatan itu membuat mereka merasa memiliki anggota baru yang senasip dan sepenanggungan.

Sinetron remaja kesukaanmu tiba-tiba berhenti tayang, bukan karena rating-nya yang buruk. Tapi sinetron tersebut merasa bahwa sudah saatnya diakhiri, daripada ceritanya dibuat bertambah panjang karena ratingnya bagus. Pasti hal tersebut tak baik bagi penonton. Kamu pasti setuju bukan? Tapi tidak dengan keesmpat sahabat itu, mereka merenggut kesal, sebab lagu Sindetosca di setiap sore tak lagi mereka dengar bersama.

“Aku malas kalo kayak gini!” Ardo berdengus kesal, sambil memperbaiki kacamata yang bermata minus enam itu.

“Kita harus protes ke stasiun televisi yang menayangkannya!” Della memberi saran.

Kamu terdiam, bingung mencerna perkataan dua orang remaja itu.

“Ah, awalnya aku juga sebal. Mengapa sinetron itu dihentikan? Tapi, bukankah justru membuat kita fokus terhadap ujian nasional di depan mata!” Rizi mulai bersuara.

Romi, lelaki yang gemuk diantara Ardo dan Rizi hanya semakin buas dalam memakan kue yang disediakan ibu dari Della.

Kamu merasa bahwa mereka sudah tak sejalan. Dan benar saja, tiba-tiba salah satu dari mereka beropini.

“Mari kita satukan mimpi yang satu. Yakni menjadi pejuang untuk negeri!”

Kamu terbingung? Pejuang untuk negeri? Pekerjaan apa itu, begitu yang ada dalam pikirmu. Kamu pun mencari tahu, apakah yang dimaksud adalah TNI/Polri. Dan benar perkiraanmu, keempat sahabat itu mencoba menantang mimpi yang sama.

Kamu mungkin terkejut, bagaimana mungkin mereka bisa memiliki satu mimpi yang sama. Bukankah dalam kepala-kepala anak manusia meskipun otaknya beratnya sama tapi pikiran dan keencerannya jelas berbeda. Tapi, tidak dengan mereka. Kamu pun melihatnya jika mereka memiliki kesungguhan dalam mewujudkan mimpinya:

Ardo, yang memiliki minus enam tiba-tiba melakukan tindakan untuk mengurangi minus ke pengobatan alternatif.

Romi memperketat makanan yang masuk dalam tubuhnya.

Sementara Rizi dan Della yang merupakan anak berada diantara mereka hanya cukup menjalani latihan bersama.

Ya? Latihan bersama? Kamu kemudian melihat mereka, melakukan sit-up, push-up, lari-lari kecil, dan sederet aktivitas fisik lainnya. Akhirnya, sampai suatu ketika mereka memiliki badan yang lumayan bagus untuk mengikuti seleksi.

“Mengapa Ardo daftar jadi polisi?” seorang guru kemudian bertanya pada anak didiknya itu, apalagi jika melihat otak Ardo yang begitu cemerlang. Pasti sukses menjadi sarjana.

“Mencoba, Bu. mimpi harus terwujud bersama De Kepompong!”

Bu Guru itu hanya tersenyum menanggapi pernyataan Ardo, kamu pun begitu. Tapi, tidak dengan Rizi. Ia tiba-tiba menarik diri terhadap ketiga sahabatnya, hingga suatu ketika kamu mengetahui alasan itu.

Cinta.

“Bagaimana mungkin kau mencintaiku?” tanya Della tak percaya.

“Haruskah cinta butuh alasan!”

Ardo dan Rizal bingung terhadap pernyataan Rizi yang sungguh tak diduga mereka.

“Tapi kita sahabat, dan tak mungkin bersatu. Jika boleh memilih aku menyukai Ardo. Dan tak mungkin kita bersama. Karena kita bersahabat.”

Rizi seperti ditimba godam. Kamu pun merasa tertimba longsor yang begitu menenggelemkan tubuh. Dan persahabatan yang kemudian menjadi cinta itu runtuh. Bahkan sampai mereka lulus dan menemui mimpi-mimpinya.

Kamu jangan kembali bingung, mimpi mereka kini tak lagi sama. Hanya Ardo yang mengentaskan mimpi di Polri. Sedang, yang lainnya berbeda. Bahkan, lebih tragisnya salah satu dari mereka yakni Romi meninggal dunia. Kamu mungkin bisa berpikir? Setelah, perseteruan itu Romi kembali kepada kebiasaan lama. Ia terus makan tanpa ada yang memerhatikan, makanya obesitas. Sedangkan Rizi dan Della kembali berkoalisi di suatu perguruan tinggi ternama, hingga benih-benih cinta antara mereka tumbuh, lalu koalisi itu berakhir di penghulu.

Kamu mungkin membayangkan bagaimana jika mereka bertemu dalam suatu reuni. Ya, hal itu memang terjadi.

“Ini siapa Rizi? Istrimu?”

“Ya, Della. Teman kita, sekarang menjadi istriku?”

“Mana Romi?”

Semua bingung. Kamu juga ingin bicara, tapi tak diizinkan oleh orang yang menciptamu dalam tulisan ini. Kemudian mereka pun mencari tahu kepada guru di sekolah yang juga datang di acara itu.

“Romi meninggal, beberapa tahun yang lalu karena obesitas!”

Mereka menyesal seketika, mengapa karena permasalahan sepele membuat tali silaturahmi merenggang!

            Jember, 08-11-16 5:22 lewat beberapa detik.

 


 

Gusti Trisno. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Kelahiran Situbondo, 26 Desember 1994. Karya penggiat Komunitas Penulis Muda Situbondo yang pernah menjadi Pemenang Kedua Lomba Menulis Cerpen dalam Pekan Seni Mahasiswa Jawa Timur ini dimuat di beberapa media. Kumpulan tulisannya bisa dibaca di: http://www.gustitrisno.blogspot.com.

Puisi Puisi: Vito Prasetyo

Buku Catatan Kita

Masa lalu…..
Puluhan tahun silam
seakan hidup ini milikmu
semua membelaimu
mengusapmu,
menimangmu,
dan menyayangimu
Begitu polos
penuh kasih sayang
Saat tangismu pecah
semua akan peduli padamu
Tak pernah ada bohong di wajahmu
tak pernah ada dusta di hatimu

Kini, masa itu telah berlalu
sering engkau menentang takdir
nasib seakan bisa terbeli
bohong dan dusta jadi bumbu hidup
segala nista terasa bagai hiasan dunia
terus memburu kenikmatan sesat
seakan tak pernah punah
tak pernah pupus diterjang badai
tak lapuk ditelan waktu
Aku datang sebagai sahabatmu
bukan malaikat yang mengingatkanmu
juga bukan perantara taubat
Diriku hanya hamba sahaja
masih penuh peluh di badan
dekil masih melekat di tubuhku
Mari kita uraikan waktu
mengenang masa kecil
saat hujan mengguyur tubuh kita
saat terik matahari memayungi tubuh kita
melepas tawa dan canda
seperti menggurat cakrawala di langit
menggaris lembayung di sudut pandang
dan membias dalam keceriaan kita

Roda hidup terus berputar
seperti matahari mengitari bumi
laksana bulan mengelilingi bumi
menyusuri semua lorong waktu
menuntaskan perjalanan hidup
Hingga tiba giliran kita
menutup buku catatan
saat penghujung waktu t’lah berakhir
– dan kadang hadir tanpa pesan

Malang – 2016

 

Bingkai Merenung

rindu ini seakan menjebakku
pada bingkai pigura ini wajahku pernah tersenyum
sekian lama ruang waktu kuarungi
jagad nusantara kujelajahi
kadang bintang gemintang turut mengiringi langkahku
aku tersanjung
terkadang kecewa menyelinap di antara goresan tintaku
itu semua membuat beban nafsu diriku
emosiku pun turut bicara
penaku mulai kehilangan nalar
ada sesuatu yang menyayat bathin
mungkin juga aku telah kehilangan perenungan diriapakah Tuhan mulai berpaling dariku

jiwa seakan mengarungin laut maha luas
disitu tangis seperti batu karang yang rapuh
ombak menerjang menelanjangi kulit tubuh
tetapi biarlah semua terbasuh
mungkin ada kesucian yang melebur kekotoran jiwa
hingga aku tetap terpaku pada bingkai itu—

(Tumapel – 2016)

 

Bidadari Langit Berpita Jingga

Saat sebuah tatapan terkesima langit
dan dari kaki-kaki langit
menjulur warna-warni pelangi
bercumbu garis lembayung
seakan menanti kehadiran bidadari
bidadari itu berpita jingga
membawa senandung merdu
memanjakan kicauan burung-burung
– yang bercengkrama di pucuk pepohonan
 

Pucuk pepohonan diam termenung
gemuruh angin datang menyibak rambutnya
tak ingin terlena menyambut datangnya bidadari
tatapannya penuh makna
seakan menerobos putihnya sinar
dan berkelana menggapai awan

 

Segenap langkah terhenti
di tepian telaga bertilam angin
meninggalkan sutera selimut malam
setelah melumat semua keindahan mimpi
Bidadari berpita jingga, di tengah kerinduan itu
menghujam batas pandang
dibaringkannya segenap penat
di antara garis lembayung dan kilau pelangi
membenamkan diri di telaga bisu
bermandikan bunga-bunga rindu
membasuh penat dan peluh tubuh
merekatkan kembali aroma baru
pada sekujur tubuh yang mempesona
mengundang kumbang berlalu-lalang
mencari serbuk-serbuk cinta
hingga tertanam di balik sekat resah
tanpa bisa memandang pesona bidadari
(makhluk indah turun dari langit)

 
Dalam tapaknya turun ke bumi
(dia) telah mencari bisikan hati
di atas bahu angin kemarau
tergenggam dalam kerapuhan tubuh
tertusuk rindu dengan jemari cintanya
Kini impiannya tertidur pulas
sebelum pesona malam hadir kembali
menggesek biola di tengah padang rumput
menyanyikan rindu kasmaran yang terpendam
ingin rasanya dia melepas kegelisahan sisa malam
dan berharap ada keteduhan air telaga
Sepasang merpati di kejauhan atap rumah
menyaksikan keresahan hatinya
seakan menerangkan tentang hidup
menuangkan dalam bejana waktu
mungkin esok masih tersisa kerinduan cinta

Malang – 2016

 

Biarkanlah Langit Berbicara                       

Aku melihat jiwamu
di mata langit
tertikam benang hitam
mengembara bersama mendung
suaramu merintih tersayat
entah apa yang menyiksamu
bidadari pun menatap dari kaki langit
berdiri di pangkuan pelangi
tanpa busana, nyaris telanjang
seakan ingin melumat semua birahi jiwamu
dan merobek sisa-sisa jasadmu

 
Sempat engkau berkata pada mereka
tapi mataku terlalu buta untuk memaknai itu
tanganmu ingin meraih benang hitam
benang itu menggulung
terjerat dan ditelan lidah pelangi
menyisakan napas-napasmu
bercengkrama di bahu angin
tergantung sesat di tubuh langit

 
Kalau saja aku punya sayap
ingin kuhantarkan padamu
memohon dengan segenap kekuatan bathin
saat Sang Ilahi masih iba
– dengan semua doa-doaku
agar jiwamu berkumpul bersama
anak-isterimu yang masih menunggu
membakar semua mimpi-mimpi kotor
menggantinya dengan menulis kata-kata suci
mungkin itu dinamakan ilham dari langit
tertulis pada kitab-kitab cinta di rumahmu

 
Sekali lagi kutatap tubuh langit
begitu dangkal nalarku membaca misteri itu
kadang kubaca aksara langit dengan sebuah kebohongan
mencoba menggapai jiwamu
entah dimana bisa kutemukan dirimu
karena takdir telah memvonis kasat mataku, dan
biarkanlah langit berbicara

(2016)

 

Biarkanlah Aksara Berbicara

Sudah lama tidur itu tanpa mimpi
kini angin berhembus menguak mimpi
menerangi akal lewat cahaya mentari
di tubuhnya ada segenggam senyum
selaksa keinginan pun menuangkan hasrat
dihembus angin dalam keranjang aksara
 

Dalam diam tidaklah harus terasa sunyi
semua kepalan tangan menyatukan keinginan
tak perlu lagi berjalan dengan langkah gontai
karena perang nalar hanyalah bias zaman
kadang (dia) berkelana pada ruas-ruas waktu
kadang menjelajah ke sudut-sudut kotor
hingga aksara itu menjadi sebuah kejernihan pikir
membuat semua malam jadi terkesima
– dan siapa pun serasa ingin memeluknya

 
Kalau saja boleh
aku ingin hidup pada dunia itu
meneruskan titah para penulis syair indah
mungkin, masih banyak mimpi “mereka” tersimpan
di balik pusara “mereka”, yang duduk membisu
tanpa peduli panas dan hujan
menerjang tanah-tanah penyimpan jasad “mereka”
– yang kadang berharap ada kiriman doa di atas tanah itu
atau mungkin kita hanya terbelenggu
dalam keindahan aksara peninggalan “mereka”
lewat susunan bait-bait pelipur makna
 

Zaman telah mengubah sejarah
walaupun pena terus memacu langkah
mencari batas-batas yang tak bertepi
dan aksara itu terus bicara
lewat orang-orang penulis syair
hingga dunia tak bisa lagi berpaling darinya

Malang – 2016

 

Bait-Bait Duka

Tak lagi kususun sebait kata
nalar ini seakan pergi
menembus gelapnya malam
 

Disitu, ada luka menganga
entah kapan akan kuobati
telah lama terkunci
– dan berselimut duka
 

Hari-hari berlalu
melangkah semakin jauh
meninggalkan keterpurukan nalarku
Haruskah bait-bait itu kubuang,
memenggalnya dengan pedang doa
atau dengan mensucikan diri?
Agar nalar ini tidak tersesat di persimpangan jalan
atau mungkin bait-bait itu telah terkunci
terbelenggu menyekat pikiran

 
Kini kuberharap untuk memulai lagi
menyusun aksara ke dalam bait-bait
penuh makna…
penuh harap…

Malang – 2016

 

 

Biodata:

 

VITO PRASETYO, dilahirkan di Makassar(Ujung Pandang), 24 Februari 1964 — Bernama lengkap: VICTORIO PRASETYO W — Agama: Islam — Bertempat tinggal di Malang

Bergiat di penulisan sastra sejak 1983

Karya-karya Sastra pernah dimuat media cetak lokal dan nasional, antara lain: Harian Pikiran Rakyat (Bandung) – Harian Suara Merdeka (Semarang) – Harian Pedoman Rakyat (Makassar) – Harian Suara Karya (Jakarta) – Harian Jawa Pos Radar Malang (Malang) – Harian Solopos (Surakarta) – Harian Sumut Pos (Medan) – Harian Duta Masyarakat (Surabaya) – Harian Malang Post (Malang) – Harian Digital Nusantara News.co – Harian Buanakata.Com

Buku Antologi Puisi “Jejak Kenangan” terbitan Rose Book (2015)),“Tinta Langit” terbitan Rose Book (2015) -“2 September” terbitan Rose Book (2015), Jurnal SM II (2015) diterbitkan Sembilan Mutiara Publishing 2016

Kumpulan Cerpen “Wanita-wanita, Menuju Ridho Allah” (2014 – 2015)

Sedang membuat Buku Antologi Puisi “Biarkanlah Langit Berbicara” (2016 – 2017)

E-mail : vitoprasetyo1964@gmail.com   —  HP: 081259075381 —

[Cerpen] Sebuah Jam di Kepala Khomsatun

 Oleh: Ida Fitri

Khomsatun mengelap keringat di dahi. Di kelapanya sebuah jam terus berdetak, dan bunyinya bukan: tak tik … tak tik, seperti jam yang biasanya dijual di etalase sebuah toko. Maukah kamu berdiam sejenak biar kuceritakan tentang sebuah jam di kepala Khomsatun?

***

Klojen hanya sebuah kelurahan yang terletak di kecamatan Klojen. Tidak seberapa luas. Tapi Khomsaton hampir setiap hari mengukur luas Klojen dengan sepedanya. Bahkan jika ban sepedanya kempes, ia akan mengukur dengan kakinya. Mengukur luas Klojen bukan  hal baru untuk perempuan bermata belok dan berkulit gelap itu. Semenjak ia masih sekolah dulu, sudah melakukan hal tersebut. Tapi dengan maksud yang berbeda.

Dulu Khomsatun mengukur luas kelurahan dengan tujuan berjalan ke sekolah untuk mengecam pendidikan, seraya berharap sebuah masa depan cerah, menjadi seorang guru di sebuah sekolah dasar. Sayang, cita-citanya terhempas di dinding tebing Batu yang berada lima belas kilo meter dari kota. Betapa tidak, saat orang-orang sibuk melakukan terbang layang di tebing Batu pada hari kemerdekaan, Bapak malah terjatuh dari tebing saat turun ke lembah untuk merawat daun selada mereka. Kepala bapak bocor, tulang belakangnya patah. Beruntung Wak Saminan yang memiliki kebun apel yang tidak jauh dari kebun selada mereka melihat kecelakaan itu. Lelaki itu segera memanggil pertolongan, hanya saja bapak menghembuskan napas terakhir dalam perjalanan ke rumah sakit.

Kini Khomsatun juga masih mengukur luas Klojen tapi bukan untuk pergi ke sekolah seperti dulu, ia melakukannya agar anak-anak bisa sekolah. Ia tidak mau cita-cita mereka kandas seperti dirinya. Untuk itu ia harus berjuang dengan menjajakan mie kering, berbagai keripik, bahkan terkadang tas dan baju dari satu rumah ke rumah selanjutnya. Beruntung jaman sudah sangat modern, dengan membelikan sebuah gadget murah, ia bisa memperluas pemasaran. Tapi menjajakan dari rumah ke rumah juga tetap di lakukannya, bahkan terkadang sampai ke universitas. Menawari dagangan pada anak-anak muda yang dengan mudah meminta uang pada orang tua mereka. Lampu tidur ber-sablon gambar mereka dan pasangannya selalu diborong para mahasiswi.

Universitas adalah sebuah tempat yang sangat ingin ia datangi dulu, sebagai mahasiswi tentunya. Hidup memang tak seindah harapan, tapi Khomsatun akan memastikan kedua anaknya bisa mengenyam tempat tersebut. Anak-anaknya harus menjadi orang yang berhasil yang tidak perlu mengukur luas Klojen setiap hari, atau minimal jika pun harus, mereka bisa melakukannya dengan menggunakan motor atau bahkan mobil. Untuk itu ia harus tetap hidup.

Seperti pada pagi ini, Khomsatun sedang mengayuh sepedanya. Di belakang sepedanya sepasang ayaman berbentuk bulat tergantung di kanan dan kiri, dimana perempuan bermata sipit itu meletakkan dagangannya. Sebeleh kiri berisi mie lidi dengan berbagai rasa, sebelah kanan berisi keripik usus yang akan ditawarkan pada anak-anak di universitas. Sementara di depan sepedanya berisi lima lampu tidur bersablon sebagai contoh untuk dipesan anak-anak itu.

Sepatu sekolah Ari, putra bungsunya yang koyak di bagian ujung sebelah kiri terus membayang dalam kepala. Kasihan Ari memakai sepatu koyak dan menjadi bahan ejekan teman-temannya.

“Nggak apa, Bu. Sepatunya masih bisa dipakai kok,” ujar Ari saat Khomsatun melihat keadaan sepatu putranya itu hari minggu lalu. Kebetulan hari minggu ia tidak jualan, jadi ia gunakan waktunya untuk mengurus anak-anak, salah satunya mencuci sepatu Ari. Dan si bungsu yang baru duduk di kelas tiga sekolah dasar itu telah tumbuh dewasa begitu cepat. Khomsatun menelan air matanya mendengar jawaban putranya itu.

Perempuan itu menghela napas berat sambil terus mengayuh sepeda. Sementara surat peringatan ketelambatan SPP Ajeng, putri sulungnya yang duduk di bangku SLTA berada di sudut kepalanya yang lain. Khomsatun sibuk mengalikan jumlah nominal yang dibutuhkan untuk membeli sepatu sekolah Ari dan uang SPP Ajeng ditambah kebutuhan sehari-hari.

Setelah sebuah nominal tertulis di dasar kepala, kini perempuan itu memikirkan cara untuk membuat dagangannya cepat habis. Tanpa terasa ia sudah berada di gerbang universitas. Perempuan tersebut memarkirkan sepedanya di dekat pagar kemudian meletakkan dagangannya di pinggir jalan di bawah pohon Mahoni besar. Ia berharap mahasiswi yang lalu lalang tertarik pada dagangannya.

“Mie Lidi pedas manis, Mba?” tawar khomsatun pada mahasiswi berambut sebahu yang kebetulan lewat di depannya. Mahasiswi berkaca mata minus itu menatap sebentar ke arah Khomsatun, kemudian kembali berjalan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Pesan lampu tidur bersablon, Mas?” Lagi Khomsatun menawarkan dagangannya pada seorang mahasiswa yang memanggul ransel. “Ayo, Mas. Ini bisa disablon fotonya Mas dan pacarnya.” Lanjut perempuan itu.

Mahasiswa tersebut menggeleng perlahan. “Maaf, Bu. Saya tidak punya pacar.” Tolak pemuda itu sopan.

“Keripik usus kalau tidak, Mas.” Khomsatun tidak putus asa. Namun sang mahasiswa hanya menggeleng sebelum meninggalkan perempuan itu dengan dagangannya.

Waktu terus berjalan. Hari ini mungkin bukan hari keberuntungan Khomsatun. Dagangannya belum laku satu pun. Menjelang matahari berada di atas kepala, Khomsatun hendak membereskan dagangannya. Ia mengangkat kedua ayaman bambu yang berbentuk bulat itu ke atas sepedanya. Kemudian perempuan itu mendorong sepedanya meninggalkan tempat itu. Entah kenapa ia merasa terlalu capai untuk mengayuh sepeda hari ini. Jam dalam keplanya berdetak semakin kuat. Ia dapat mendengar dengan jelas bunyinya, uang … uang …uang ….

Suara klakson mobil berulang kali membuat perempuan itu melihat ke belakang. Seorang lelaki setengah baya mengeluarkan kepala dari balik kepala dari balik kaca mobil.

“Bu Khomsatun, sebentar.” Lelaki itu melewati Khomsatun, kemudian memarkirkan sedan putihnya di dinggil jalan. Kemudian ia turun menemui perempuan penjual keliling itu.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak Sam?” Khomsatun mengenal lelaki itu sebagai dosen universitas. Lelaki itu juga pernah beberapa kali membelikan mie lidi yang ia jual. Menurut keteranganya, sang istri yang orang Aceh itu sangat menyukai mie lidi buatan Khomsatun.

“Mie lidi masih ada, Bu?”

“Banyak ini, Pak. Mau saya bungkuskan berapa?”

“Berapa ya?” Lelaki itu terlihat ragu,”Ini, Bu. Ada keluarga istri yang akan menikahkan anaknya di Aceh. Kami akan pulang ke sana. Menurut istri saya, di sana tidak ada mie lidi. Istri saya ingin bawa pulang untuk oleh-oleh. Dua lusin saja deh, Bu,” lanjut lelaki itu lagi.

Khomsatun bersorak dalam hati. Tuhan memang tahu apa yang dibutuhkan hambanya. Perempuan itu menghitung bungkus mie lidi yang ia bawa. Syukurlah ternyata memang ada dua lusin lebih satu. Ia memasukkan semuanya ke dalam plastic kresek, Pak Sam sangat baik, tak ada salahnya ia berikan bonus sesekali.

Lelaki itu mengeluarkan dua lembaran merah dan satu lembaran biru dari dompetnya. “Ini cukup, Bu?” Lelaki itu menyerahkan uang tersebut pada Khomsatun.

“Wah, ini kebanyakan, Pak. Harga mie lidi saya hanya seratus Sembilan puluh dua ribu. Sebentar saya carikan kembaliannya di kios itu.” Khomsatun menunjuk ke sebuah kios penjula rokok.

“Nggak usah, Bu. Untuk Ibu saja.”

“Ini sangat banyak, Pak.”

“Nggak apa, Bu. Anggap saja itu rejekinya anak-anak Ibu,” ujar  lelaki itu sambil berjalan naik ke dalam mobilnya.

Khomsatun berkali-kali mengucapkan syukur dalam hati. Tapi ia tidak ingin dikasihani, cepat ia mengisi beberapa bungkus keripik usus ke dalam plastik kresek yang lain.

“Saya jalan duluan, Bu,” ujar Pak Sam dari jendela mobilnya.

“Ini ….” Khomsatun menenteng plastic kresek yang berisai keripik usus, tapi mobil Pak Sam sudah melaju meninggalkannya.

“Bu, Keripik ususnya tiga dong,” ujar seorang mahasiswi berjilbab yang sudah menghentikan motornya di dekat perempuan itu. Khomsatun menyerahkan Plastik kresek di tanganya kepada sang mahasiswi. Dan seoarang mahasiswa pejalan kaki juga memesan dua lampu tidur bersablon setelah itu.

Ketika Khomsatun kembali mengayuh sepeda meninggalkan tempat tersebut. Sepatu dan uang SPP putra putrinya bisa ia penuhi hari ini. Jam di kepalanya kembali berbunyi. Dan bunyinya berubah menjadi, syukur … syukur … syukur. Jam di kepala Khomsatun memang memiliki bunyi yang berbeda setiap waktunya.

 

Tentang Penulis.

 

https://scontent.fcgk4-1.fna.fbcdn.net/v/t1.0-0/cp0/e15/q65/p240x240/183330_145479665516998_6394792_n.jpg?efg=eyJpIjoiYiJ9&_nc_eui2=v1%3AAeEcJm4ndw8KkaxVTO55bNE51quf2XEVW3Cb4gVUbLSFttnfOrvzLciwbgmVshyubRwr385acXGuwGna3IVuFuCjmmjkqkWb-Ef2qcRd3k2TFg&oh=dcc45e5b84e57c904f5a09087defa1cc&oe=59F4BE04Ida Fitri, lahir di Bireuen 25 Agustus. Sekarang menjadi Penyuluh Kesehatan Masyarakat di Aceh Timur.

 

Catatan: cerpen ini sebelumnya pernah tayang di Buanakata 18 Sept 2016

Puisi Puisi: Achmad Hidayat Alsair

Tanah Hindia

Bakar! Semua telah kau bakar!
Rampas! Semua telah kau rampas!
Harga diri dan kehormatan
jejalan bekas kebesaran

Kami gulung celana lusuh ini
berpeluh bukan untuk diri sendiri
tetap lapar, hidangan penjajahan
sebagian memilih melawan
lalu disapa tiang gantungan

Hampir habis! Dalam bara terkikis!
Hampir lenyap! Berontak lalu tengkurap!
Saat kami bertanya sesuatu
bedil lekas menjadi juru bicara
Saat kami meminta sesuatu
ancaman membuat nyali sia-sia
maka ini tinggal masalah waktu
kau telah nyalakan sumbu

Kami mengepalkan tangan
dan teteran sisa keberanian
Kami menjalar, menyebar
Jawa, Maluku, Sumatera
Bali, Kalimantan, Madura
Sulawesi hingga Maluku
Nusa Tenggara, Papua (sungguh merdu!)

Di balik hutan malam
kami susun siasat rinci
kuda-kuda dalam temali
keris dan parang, begitu tajam
Tanah ini milik kami
ke pangkuan lah akan kembali
Itu pasti

– Makassar, 22 Juni 2016

 

Mencari Sunyi

Aku mencari dirimu di sela-sela reruntuhan
yang musnah dimakan oleh peradaban
sebagai proses alamiah penuh kepasrahan
dalam debur alur almanak pergantian zaman.

Aku mencari dirimu di bunyi-bunyi halilintar
yang kini sayu karena dimakan oleh ingar-bingar
deru kendara kota yang dari hari ke hari memencar
hingga roda-rodanya sanggup kangkangi pagar

Aku mencari dirimu di tugu-tugu batu
yang kini warnanya pudar tak lagi baru
karena dibasahi oleh mendung yang berpacu
bersama badai dan karat pengisi rasa pilu

Aku mencari dirimu di berbagai tempat
namun kini hanya terpekur melihat kertas nubuat
mulai pula berdendang irama-irama penuh hikmat
lalu cekikmu melingkar semakin erat

– Makassar, 16 April 2016

 

Nonsensikal

Kulihat orang itu, membelah lautan dengan menggunakan sebuah sendok perak mengkilap
yang dia curi dari pasar loak yang penuh dengan barang-barang legal lagi baru.
Di jendela kamar kulihat seorang wanita dengan mata yang berjumlah seribu kelopak
memandang anak-anak yang sedang bermain sepakbola bersama Beckenbauer dan Cruyff.
Beranjak ke ruang sidang dimana mata hakimnya tertutup kain hitam
dan si terdakwa didudukkan dalam kandang singa yang lapar akan daging.
Lalu di pantai aku melihat orang-orang mencoba menghitung seluruh butiran pasir
menggunakan jari jemari yang keriput hasil direndam dalam minyak sepanjang hari.

Di hutan aku melihat traktor-traktor berjalan di atas awan kapas berwarna putih
sementara di bawahnya pepohonan sibuk menghitung daun demi daun yang berguguran.
Layar televisi menampakkan senjata-senjata yang berwarna merah muda cerah
menembakkan amunisi berupa butiran pelangi dan orang-orang yang tertembak jadi bahagia.
Aku menonton acara debat dimana seluruh narasumbernya adalah anak balita
yang berbincang serius mengenai kenapa kucing dan anjing bermusuhan sejak lama.
Di barisan buku perpustakaan kemudian aku melihat huruf-huruf menari riang gembira
sembari merayakan kejatuhan tiran bernama penerbit dan antek-anteknya.

Dan kemudian pandanganku tertuju kepada sebuah panggung tanpa alat musik
di mana penontonnya menyemut berebut menyalami seorang figur tanpa otak.
Tengadah aku ke atas melihat langit dengan ribuan rembulan berwarna hitam kelam
dan diriku berubah menjadi burung kondor yang makan malamnya berupa nasi uduk.

– Makassar, 20 Februari 2016

 

Melarung Kenangan

Kutatap sebuah perahu, sendu.
Angin puyuh mulai berbicara mengenai pilu
suaranya meraba-raba dinding beranda
sembari mencari luka untuk tubuhnya.

Kini laut memberiku pelukan hangat, kuat.
Sebab tulangku tak ingin melar sempurna
darahku kesiap diberi jalan untuk minggat
dan detak jantung terus menggurat tanda koma.

Aku membius diri sendiri, pedih.
Namun sedih malu-malu beranjak
dan jemarinya mulai nyalang oleh api
sebab sampan ingin dilarung tanpa jejak.

Kulepaskan temali tempat tambat, berat.
Perlahan menjauh dia dari daratan pijaknya
kusebar segera air mata yang melekat,
ingatanku ingin segera menjadi remah.

– Makassar, April 2016

 

Sebuah Meja Makan Di Ladang  Pembantaian

Kerja lidah hanya membeda rasa
ketika di meja dijejerkan hidangan derita
teraduk bersama bumbu-bumbu kealpaan
tangan menyatu menyuguhkan kepalan

Dan panas adalah kepul yang bergumul
dalam lindung batang berujung tumpul
Sembunyikan estetika ladang bernama jeritan
ditepinya bergantung keranda kesakitan

Rumput memerah oleh tinta hitam abadi
tanah adalah semayam tanpa nisan sejati
setiap langkah hanya berujung pada reka
tubuh-tubuh ngilu teronggok jadi kerangka

Tengkorak hanya termangu menunggu terka
tanya mengapa dirinya istirahat sangat lama

– Makassar, 9 Mei 2016

 

Penulis bernama Achmad Hidayat Alsair. Lahir di sebuah kota kecil bernama Pomalaa (Sulawesi Tenggara), 15 Mei 1995. Sekarang tengah berkuliah di Universitas Hasanuddin Makassar, FISIP, jurusan Ilmu Hubungan Internasional. Hobi menuangkan hal-hal yang melintas di pikirannya ke atas kertas. Puisi-puisinya pernah dimuat di harian Fajar Makassar, Tanjungpinang Pos, Jurnal Asia Medan, Litera.co.id, FloresSastra.com, ReadZone.com, SultraKini.com, MahasiswaBicara.com dan beberapa antologi puisi. Yang terbaru, salah satu puisinya tergabung dalam buku antologi bersama Temu Penyair Nusantara 2016 “Pasie Karam” (2016). Bisa dihubungi melalui ayatautum95@gmail.com.

Kisah Malaikat dan Gadis Pemanah Cinta

  Cerpen : Nanda Dyani Amilla

“Ini tugasmu berikutnya, Ren. Lakukan dengan cepat dan bijak,” ucap Dewa Oxi sambil memberikannya prasasti kecil berisi data singkat seseorang.
Nama : Abigail Ocaria
Umur : 23 tahun
Lokasi : Persimpangan Jalan Amerius Blok A.
Ren menghela napas pelan. Ya, sudah menjadi tugasnya mencabut nyawa seseorang di Atlantik Galaxy ini. Dewa Oxi sudah sangat mempercayainya melebihi petugas pencabut nyawa yang lain. Bahkan ratting-nya mengalahkan Xaveriza yang hanya pernah melakukan satu kesalahan saat menjalankan tugasnya. Sementara ia, namanya masih nihil untuk satu kesalahan pun. Ren pun menjadi kebanggaan Dewa Oxi di Galaxy ini. Bahkan Dewa Oxi berjanji akan mengangkatnya menjadi tangan kanannya kelak jika semua tugas yang diberikannya bisa Ren lakukan dengan cepat dan tanpa cela.
Ren membungkukkan setengah badan, memberi hormat seraya meminta izin untuk segera melakukan tugasnya. Dewa Oxi tersenyum tipis dan mengizinkan Ren pergi. Ren menghilang bersamaan dengan munculnya asap tipis di pelataran Dewa Oxi. Dan muncul dengan kilat di persimpangan Jalan Amerius. Ren melihat seorang wanita berambut pirang sedang asyik bermain gadget paling canggih di Galaxy ini. Dia memikirkan cara bagaimana agar kematian tak menyakiti gadis itu.

Di ujung jalan sana, Ren melihat sebuah truk besar melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Dengan segera ide itu datang. Ren berkonsentrasi mengulik pikiran sang supir dan membuat truk itu oleng. Tepat saat wanita berambut pirang itu berada di tepi jalan, Ren mengarahkan truk itu ke arahnya. Untuk beberapa detik, suara berdebam dan teriakan histeris terdengar di sekitar area itu. Kerumunan orang mulai mendekati wanita malang itu. Ren hanya melakukan tugasnya, “Lakukan dengan cepat dan bijak” begitu pesan Dewa Oxi. Galaxy ini terlalu mengerikan untuk sekadar main-main dalam mencabut nyawa seseorang. Dewa Oxi tidak menyukai itu.

Suara tepuk tangan seseorang mengagetkannya. Ren melihat Cupidista tersenyum padanya. Ah, gadis itu lagi, pikirnya. “Begitukah caramu melakukan tugasmu, Malaikat?” Cupidista bergurau. “Mau apa kau di sini?” Tanya Ren seraya membersihkan sarung tangan hitam yang selalu dikenakannya saat bertugas. “Mau melihatmu dari dekat saat kau menjalankan tugasmu. Yang tadi itu… cukup mengerikan, ya,” Cupidista memicingkan sebelah matanya. “Aku hanya melakukan perintah,” kata Ren singkat. Ren berjalan dan duduk di bangku besi seberang jalan.

“Yah… terkadang untuk mendapatkan popularitas, kita harus mengorbankan sesuatu. Bukan begitu?” Cupidista menyikutnya. Gadis itu sudah duduk manis di sebelah Ren. Ren tidak menjawab, hanya memperhatikan rambut panjang hitam Cupidista yang tergerai diterpa angin sore. Jingganya senja menerpa sedikit wajahnya, gadis itu kelihatan sangat cantik. Ren buru-buru menghapus pikiran gilanya. Bagaimana mungkin dia mencintai si pemanah cinta yang centilnya melebihi gadis manapun di Galaxy itu?

“Kau tidak bertugas?” Tanya Ren. “Pemanah cinta tidak pernah bertugas di saat senja begini,” jawab Cupidista tersenyum. “Lagipula aku ini perempuan, bagaimana mungkin perempuan bekerja hingga petang? Dewi Lovezia tidak akan setega itu padaku,” katanya tertawa. “Kau kebanggaan Dewi Lovezia, bukan?” Ren menatapnya. Gadis itu terdiam, lantas balas menatap Ren.

“Kenapa?” tanyanya kemudian. “Terkadang, aku merasa.. menjadi kebanggaan seseorang tidak selamanya menyenangkan. Apa kau merasakan hal yang sama?” Ren menyilangkan tangan di dada, menunggu jawaban. Cupidista menarik napas pelan, “Entahlah. Sejauh ini, aku merasakan semuanya baik-baik saja. Apa ada sesuatu?” dia balik bertanya. Ren menggeleng, “Tidak ada, hanya saja aku merasa menjadi kebanggaan seseorang berarti mengikuti segala kemauannya, tidak ingin membuatnya kecewa, dan seolah-olah seperti berjanji akan membahagiakannya. Bukan begitu, Dista?”

Kali ini dia mengangguk, “Kurasa kau sedang lelah, Ren. Apa Dewa Oxi memberikan tugas berat padamu? Siapa yang selanjutnya akan kau bunuh?” Cupidista bertanya lugu. Senja itu, untuk pertama kalinya, Ren enggan menjawab pertanyaan gadis pemanah cinta itu. Mereka menikmati senja hingga habis dimakan malam. Menikmati semilir angin yang menerbangkan anak rambut. Untuk kemudian, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.

* * *

Nama : Ren Andromeda
Umur : 21 tahun
Lokasi : Atap gedung Violet, 22.30 malam.
Panah untuk : Cupidista

Cupidista tercengang melihat prasasti yang diberikan Dewi Lovezia padanya. “Ini saatnya, Dista,” Dewi Lovezia tersenyum. Dia merasa menjadi Cinderella untuk beberapa detik, sudut matanya basah. Bagaimana mungkin Dewi Lovezia mengabulkan keinginan yang tak pernah terucapkan itu? Ini ajaib, batin Cupidista senang. Malam ini, dia akan menemui Ren di atap gedung Violet, pukul 22.30 malam. “Terima kasih, Dewi Lovezia. Aku sangat bahagia,” bisiknya seraya memeluk Dewi Lovezia.

Malam bergerak cepat. Di tempat yang berbeda, Ren menghela napas berat sesaat setelah menerima pesan dari Cupidista. Gadis itu ingin ia menemuinya malam ini di atap gedung Violet. Ren merasa ia tak harus pergi, sebab tugas Dewa Oxi sangat mengganggu pikirannya. Tapi bagaimana mungkin ia menolak ajakan gadis centil itu? Sebab sejak pertama kali mereka bertemu, gadis itu telah berhasil mencuri hatinya. Ya, Ren menyukai gadis itu. Meski ia tak pernah berani mengungkapkannya.

Ren akhirnya menghilang dan tiba dengan segera di atap gedung pencakar langit itu. Ternyata Cupidista telah tiba lebih dulu. Gadis itu tersenyum padanya, “Akhirnya kau datang juga. Kau telat dua menit, Ren!” katanya manja. Ren hanya memperhatikan gadis itu berceloteh. “Kenapa kau menyuruhku menemuimu malam ini?” Ren bertanya dingin. Cupidista menyerahkan prasasti pemberian Dewi Lovezia, “Ini tugasku selanjutnya. Untuk tugas yang satu ini, aku tidak akan memanahmu seperti apa yang kulakukan pada manusia-manusia kebanyakan. Aku ingin meminta persetujuanmu langsung. Apa kau bersedia mencintaiku, Ren?” Cupidista tersenyum, matanya berkaca-kaca.

Ren gamang. Disatu sisi, hatinya ingin sekali menjawab iya. Namun di sisi yang lain, hatinya menolak. Esok adalah tugas terberat yang diberikan Dewa Oxi padanya. Tugas pertama yang dirasanya amat tak mungkin untuk ia lakukan : mencabut nyawa Cupidista. Bagaimana mungkin dia akan mencabut nyawa gadis yang begitu dicintainya? Bagaimana mungkin dia akan mencabut nyawa gadis yang bahkan malam ini meminta jawabannya? Dan bagaimana mungkin dia menolak tugas dari Dewa Oxi? Tiba-tiba kepala Ren berdenyut. Dia berada di antara dua pilihan yang sulit.

“Ren…” tegur Cupidista. “Apa kau baik-baik saja?” Cupidista menyentuh kulit wajah Ren. Ren menepisnya, “Lupakan tugasmu ini, Dista!” Ren menolak. Cupidista terkejut mendengar jawaban Ren. “Tapi kenapa? Apa kau mencintai gadis lain?” Cupidista menatap Ren dalam, meminta jawaban. Dadanya bergemuruh, ada air yang hendak berlompatan dari kelopak matanya. “Dista… seandainya kau mengerti…” Ren tersungkur ke lantai. Ia menutupi wajahnya. “Katakan.. apa yang sedang kau sembunyikan dariku, Ren?” Cupidista memohon.

“Dewa Oxi memerintahkanku untuk mencabut nyawamu besok. Bagaimana bisa aku melakukannya pada orang yang paling kucintai, Dista,” Ren menangis. Hatinya bimbang menentukan apa yang akan dilakukannya. Cupidista terdiam. Benarkah apa yang baru saja didengarnya? Takdir memang selalu mengejutkan. Di saat Dewi Lovezia mengabulkan cintanya, Dewa Oxi malah telah menentukan kematiannya. Air mata yang sejak tadi ditahannya tumpah ruah, meski tanpa suara.

“Lakukanlah, Ren. Lakukanlah demi Dewa Oxi,” kalimat Cupidista membuat Ren tersentak. “Hey, jangan menangis! Kau adalah kebanggaan Dewa Oxi, bagaimana mungkin kau mengecewakannya? Lakukanlah, Ren. Lakukanlah esok. Aku tidak akan membencimu meski aku harus menggagalkan tugasku malam ini.” Cupidista mencoba tertawa. “Tersenyumlah, Ren. Aku pamit dulu.” Cupidista menghilang, meninggalkan Ren seorang diri di atap gedung itu. Dia hanya tidak ingin Ren melihat air matanya bertambah deras.

* * *

Nama : Cupidista
Umur : 20 tahun
Lokasi : Obelia Garden

Ren membuang prasasti itu ke dalam sungai di tepi jalan. Keputusannya sudah bulat. Untuk pertama kalinya, ia telah melahap semua amarah Dewa Oxi. Ren berjalan menuju Obelia Garden, dia yakin Cupidista ada di sana. Benar saja, dia melihat gadis itu duduk menghadap utara, membiarkan semilir angin memainkan rambut panjangnya. Gadis itu menggunakan jubah pink fuschia kesukaannya. Juga menggunakan bandana putih favoritnya.

Dengan perlahan, Ren mendekati gadis itu. “Boleh aku duduk di sini?” suara Ren mengejutkan Cupidista. Gadis pemanah cinta itu tampak terkejut. Dia mempersilakan meski dengan wajah yang sedikit canggung. “Apa kematianku sudah dekat?” Tanya Cupidista membuka percakapan. Ren meliriknya sekilas. “Apa kau bisa memberitahuku sedikit bagaimana caramu mencabut nyawaku? Apa itu akan terasa sakit?” gadis itu terus berkicau. “Apa kau akan mencabut nyawaku detik ini juga?”

Ren menyentuh wajah Cupidista lembut. Gadis itu terkesiap. “Bisakah kau menghentikan ucapan gilamu itu? Aku ke sini bukan untuk itu,” tegas Ren menatap dalam mata cokelat itu. “Lantas? Untuk apa?” Cupidista balas menatapnya dingin. “Aku ke sini untuk memberitahumu bahwa sekarang aku adalah manusia biasa. Aku bukan lagi Ren si Malaikat seperti yang dulu sering kau sebut. Dan aku ke sini, untuk menjawab pertanyaanmu tadi malam. Apa masih ada kesempatan?” Tanya Ren.

Cupidista membuka mulutnya setengah, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Kau bercanda?” Cupidista mencari jawaban di dalam mata Ren. Ren tersenyum dan menggeleng, “Pagi tadi aku menolak perintah Dewa Oxi. Dia marah besar dan mencabut kekuatan serta kedudukanku sebagai petugas pencabut nyawa. Itu bukan masalah besar, Dista. Yang jadi masalah adalah jika aku kehilangan kesempatan mencintaimu. Hey, aku sudah menunggu bertahun-tahun lamanya hanya untuk mendengar kau mengucapkan permintaan seperti malam tadi,” Ren mulai kesal.

Cupidista tertawa keras. Ia sampai memegangi perutnya. “Jadi, kau melakukan semuanya demi aku?” Cupidista terharu. Ren mengangguk, lantas menggenggam jemari Cupidista erat. “Ya, aku bersedia mencintaimu asal dengan satu syarat,” ucap Ren. “Syarat apa?” Tanya Cupidista penasaran. “Kau tidak boleh genit pada siapapun. Sebab kini aku hanya manusia biasa yang tidak bisa mengawasimu dengan kekuatanku!” kata Ren lucu. Cupidista melirik manja. Dia tersenyum sambil melihat kupu-kupu beterbangan di langit taman itu. Bukan hanya di taman itu, kupu-kupu pun turut terbang di dalam perutnya. Berkejaran, sampai lupa bahwa ia sudah melayang.

 

Profil Penulis :

 

 

Nanda Dyani Amilla, Penulis yang senang mengabadikan kenangan lewat tuisan, jepretan, dan hujan-hujanan. Pecinta kopi, puisi, dan narasi. Pembenci semangka, serangga, dan kecoa. Sering wara-wiri di FB : Nanda Amilla dan instagram : gadishujan_

Kerinduan di Puncak Malam – Puisi Iwan Setiawan

Kerinduan di Puncak Malam

biarkan malam ini
kabut tidur di bawah sinar bulan
jangan kau sentuh mimpiku
dengan kisah lalumu
biarkan embun turun
dalam jelaga kejujuran

jangan kau halangi
angin gunung yang semilir
bertiup menerpa pohon pohon cinta
karena malam ini
aku ingin terlelap
dalam dawai getar asmaradhana
sang puspa dewi rinjani,

bulan
di malam ini begitu indah
menggantung di langit anjasmara
wajahnya penuh
berseri di atas bukit batu,
o

bibir siapa yang mampu mengecup bulatnya

kunang berterbangan
di kebun-kebun bunga
melintasi kabut-kabut putih
yang menipis di sela temaram
baying-bayang pohon hutan,

malam yang indah,….
aku masih berdiri
dia atas batu-batu sungai kenangan
di bawah puncak-puncak bukit kerinduan

padang, 2016

 

Ruang Kita

ruang ini
masih meninggalkan jelaga debu usang
dan seonggok kisah yang pernah alpa
di antara gemuruh angin yang meruncing
menghembus bumi

perlahan kupungut sedikit rerindu
yang meleleh
di sela bebatuan tajam
yang dulu pernah kita ramu
sebagai penjaga kalbu

dan di sini, di pesisir pasir
kita selalu menghitung waktu
mengeja bait bait indah yang biru
merengkuh syahdu dalam dekap jemari rindu

hingga
membiarkan camar
membawa pulang petang ke peraduannya
hingga denting waktu
menangkap bayang-bayang malam
yang tak jemu
melarut dalam rindu

padang, 2013

 

Sajak Rindu di Tengah Hujan

hujan turun begitu sedih
aku berjalan lalui malam
yang begitu dingin
kulihat rembulan
telah tenggelam di batas telaga
cahayanya redup membelai namamu
seperti seuntai kembang,

kemudian
sebatang pohon mimpi
menunjuk kepucuk anjasmara
tempat sepasang alap-alap terbang bermanja
memadu cinta di langit asmara

oh,…
aku begitu rindu
pada tembang asmaradhanamu
yang selalu menebar renjana
dan merasuk hingga ke kalbu

lalu
aku begitu sulit
untuk menolak
panah cintamu
yang selalu menghujam ke detak jantungku,

hujan yang turun
bagai air mata kesedihan
tanpa angin
tanpa gemuruh
hanya dingin
menyelimut beku,

entah
sampai berapa zaman
aku di landa kesepian
sedang mimpi
selalu mengusik masa lalu
tentang kita yang pernah satu

oh,
di mana kau sembunyikan wajah manjamu
di mana kau simpan desah rindumu kepadaku
hingga
sepuluh tahun
aku harus berperang melawan
kesepian,
tanpamu, di sini

(hujan masih turun dengan sedihnya)

Padang, 2013

 

Sajak Luka

kepada perempuaku 1983

tinggalkan sebuah komentar
di atas rak waktu yang usang
tanpa lentera juga nyala kunang
masih juga seperti dulu,
sajak lara yang kau tinggalkan
pada bait sepi

mungkin aku masih bisa temukan kata cinta di sini
bila saja di akhir sajakmu aku temukan kata”perjumpaan”
namun,ku lihat kau makin terlelap pada bait luka
pada kata yang kau sebut nestapa

aku masih terjaga
menyusun makna di akhir kalimatmu
yang penuh butiran dendam

semoga saja kau bisa temukan kembali
ayat Tuhan untuk memaafkan kesalahanku

sejak fajar sampai perbatasan
dari penjara fana hingga lorong hampa

tak juga kutemui sajak perjumpaan
yang kau tinggalkan

kucoba cium dahi rembulan
saat malam kembali menjelang
sepi, sepi dan tetap sepi
tak bisa lagi kubaitkan
doa-doa pembebasan jiwa

semua telah menjadi
luka di akhir kalimat
sajakmu

padang, 2016

 

Perempuan Tanpa  Judul

di atas bukit kapur
ada bulan sepotong
menyerupa wajahmu yang melompong
semerbak bunga adalah harummu
namun, di taman hatimu
tak ada aroma yang menanda

di atas bukit kapur
ada bintang sepotong
menyerupa manjamu yang bengong
dan angin berkibar
menerpa rambutmu yang menjalar
menyusup hingga menyapa hembus nafasmu
yang masih setia
mengutarakan kesepian
di ujung-ujung embun yang melantun turun
hingga di perbatasan
mata kakimu yang bisu

di atas bukit kapur
kau masih menjadi perempuan
yang mengabjad rembulan
bersama kumpulan sunyi
yang di lontarkan gemerisik angin dedaunan

di atas bukit kapur
kau masih menjadi perempuan
yang terdiam dalam gemuruh waktu
yang terhunus belati sepi

di atas bukit kapur
kau telah menjadi perempuan tanpa judul
yang menghitung hari demi hari
tanpa mimpi yang terkabul,

padang, 2013

 

Astana Rasa

diri rindu padamu
duhai jelita kemayu
sapalah daku dengan kulum seyummu
agar rupa merona semu

tiada suara
kukatakan kata-kata
tiada makna
merubah rasa

kau masih indah
berbaur dalam harum debar kenanga
aku selalu sumringah
mendapat kau tetap setia

tiada hati menolak kelak
saat kita bersanding menapak puncak
menuju hidup penuh corak
degan ikatan cinta yag kuarak

kasih, kasihku yang terkasih
mari jaga hati saling asih
memberi rasa menuju mimpi tanpa perih
kemudian kita tanamkan diri menjadi benih

semoga,
gelanggang di dada
berpacu membaca bagai memantra
dan melumuri hasrat untuk segera membuka cerita

dan,kita kembali ada
sama merasa,sama membaca
memakna segala suarasuara bergelora

hingga kita terkapar di rangkaian cuaca suwarga

roemah bamboe, 24-12-14

 

Aku, Kau Dan Januari

kunang-kunang dan hujan
tak juga pulang
malam yang kesekian
aku masih di balut kesepian
mimpi tak berujung akal
di sini kau letakkan secawan kata
lalu hilang
aku kembali tenggelam
tergulung dalam gelombang makna
penuh ambigu
hutan-hutan kabut
menjilat maut
sepi yang meniti sisakan kepedihan
aku terpenjara dalam hujan diammu
januari pertama yang sedih
mataku masih mengenang wajahmu
bahkan beratus-ratus kali
aku kembali menata retak cinta ini
o,
kunang-kunang dan hujan
tak kunjung pulang
kau tahu tentang sepi ini
sepi yang tak pernah tuntas

januari, 2107

 

Kesetiaan Cintaku

andien,
biarkanlah bulan di malam ini
datang membawa cahaya kerinduan
menyinari di segala lekuk tubuh lusuhku
yang masih terbalut sendu

andien,
gemericik sungai kedung masih meriak tenang
membawa sejuta irama cinta yang panjang
melahap seisi embun dalam gletar usang
dan bayangmu semakin jauh di cumbu silirnya gunung karang

andien,
andai,kau ada di malam ini
mungkin pintu hatiku tak akan rapat terkunci
dan segala bintang yang telah hadir di sini
akan menjadi saksi cintaku yang abadi
kepadamu
hanya kepadamulah cinta ini berlabuh
hanya untukmu semua rindu yang tercipta di hatiku
hanya kepadamu
seluruh ruh asmaraku berteduh

andien,
kau tau, malam ini aku lewati semua udara dengan gemetar
sambil terus mengenang wajah cantikmu
agar tiba kantukku nanti
aku dapat bertemu denganmu walau itu hanya di alam mimpi
dan aku akan terus bertahan
mengemas semua bongkah kesepian
sampai kau datang kembali menemui aku di sini
di pinggir kali kedung tempat kita mengikat janji

andien,
pernah aku mecoba untuk berkelana
singgah ke dermaga hati para wanita
namun sampan kesetiaan itu tak mampu kukayuh
higga aku kembali teggelam
di laut cintamu yang begitu dalam

andien,
pulanglah sayang
aka kubelai rona wajahmu dengan wanginya kembang
lalu kutanamkan pohon sabar yang rindang
di taman hatimu,
agar pengembaraan hatiku dapat berteduh lama di pohon kasihmu
andien
jangan kau buat harapan hatiku menjadi serpihan yang sia-sia
pulanglah sayang
temui aku di pinggir kali kedung
yang di bawahnya mengalir air yang begitu jerih
sejernih bola matamu
andien

roemah bamboe,2013

 

Cintamu Telah Membakar Cemburuku

malam ini
aku kembali meratapi diri
setelah kepulanganmu melukai cintaku
tiada lagi harap
jalan kecil di tepian sungai itu
telah kupagari api
bunga-bunga dandelion
yang selalu kita mainkan bersama angin
pun, aku hancurkan
malam ini
aku ingin lampiaskan segala
dari kekecewaanku yang mendalam
hingga seluruh kelukaan hatiku yang mendendam
akan kucabik semua kesukaanmu
dari almari rinduku
aku tak ingin lagi
melukis senyum, apalagi wajahmu
kesakitanku yang mencintaimu
sudah memerah bara
mendidih magma
hariku hitam
mataku kelam
embun-embun hilang
udara pengap sekejap
dalam kamarku ada kehampaan
matahari ke tujuh telah hadir menabrakku
dari perpisahan yang terjadi
sinarnya tak lagi hangat
seperti waktu kau masih bersamaku
tak perlu lagi kau temui aku
cukup dustamu saja
yang aku nikmati
dengan secangkir kopi pahit
dari balik beranda rumahku yang
masih penuh cerita
tentang, kita

lampoeng, 2016

 

================================================

Iwan Setiawan kelahiran kotabumi lampung utara 23 agustus1980, menyukai puisi sejak SD, baginya puisi adalah ruh dalam tubuhnya, pernah tergabung dalam antologi 55 penyair coretan dinding kita, 30 penyair sastra roemah bamboe, dan 3 penyair ilalang muda, kini tinggal dan menetap di padang tepatnya di lubuk begalung padang Sumatra barat. Nomor hp: 082386725726

[Cerpen] Bibir Basah di Seberang Meja

 Oleh: Marina Novianti

Kau berdiri di seberang meja.Tubuhmu kau tegakkan seolah seutas temali dijatuhkan dari langit, menempel di ubun-ubun kepalamu dan menarik kencang hingga tubuhmu meregang ke atas. Kau tampak seperti penari yang sedang berpose di atas panggung, siap memukau penonton yang dengan mulut ternganga menantikan aksi geliat tubuhmu. Kedua sudut bibir basahmu yang merah menyala perlahan saling menjauhi satu sama lain. Lekuk sempurna ujung matamu di dekat hidung terangkat mendekati alis.  Ya,  aku paham. Kau hendak menyampaikan pembelaan diri.Bukan salahku kalau lelaki ini memilihku…begitu pikirmu sambil menatap adegan penuh air mata di depanmu.

“Duh Gustiiiii….Apa salahku sampai suamiku tega berkhianat dan membohongi selama ini?” jerit tangis perempuan berbaju daster yang menumpahkan dirinya di kursi meja makan.

Kau hanya diam dengan ekspresi tak berubah sama sekali. Megah, dengan bibir basahmu yang menantang .Dan aku memang tidak pernah menyalahkanmu. Aku hanya mencoba memberikan saran, sayang. Pandanglah perempuan itu, istri lelakimu. Perhatikan ia baik-baik. Rekam dan pelajarilah segala yang ia lakukan. Dengarkan dan pahamilah sedu-sedannya. Karena suatu saat, kau pun akan mengalami apa yang sedang terjadi padanya.

Lelaki curianmu ini, sekarang sedangberbangga hati telah beroleh pengalaman meninggalkan seorang perempuan – istrinya- demi yang lain -dirimu. Baginya, ini adalah suatu alasan kuat untuk membusungkan dada; bahwa di antara kaum lelaki, dirinyalah yang layak dipuja dan diperebutkan perempuan.Tentu kau sadar, telah menjadi lebih mudah baginya untuk mengulangi perbuatannya. Hanya di kali nanti, kaulah yang akan ditinggalkannya. Ah, tak perlu berpura-pura naif. Masakan kau percaya dengan usahamu memantrai diri sendiri, bahwa bagi dia, kaulah perempuannya, perempuan yang tepat, yang terindah dalam hidupnya, keputusan terbaik yang pernah dia pilih?

Sebab di benaknya, semua yang sedang terjadi hanyalah seperti bermain seluncuran di taman bermain. Sesaat gamang di puncak keputusan, terombang-ambing saat menjalani proses. Namun begitu sampai di titik rumput, dia kembali berlari-lari menuju anak tangga, tak sabar menapaki  langkah demi langkah ke atas.  Dirindukannya rasa gamang yang sama saat dia harus memilih perempuan berikut. Sungguh ironis, karena perempuan itupun, sama seperti halnya dirimu sekarang, akan merasa bahwa dialah yang menentukan, dialah pemegang kendali keputusan penting dalam hidup lelaki pujaannya.

Sementara bagi lelaki jantanmu, kanak-kanak sejati itu, kalian semua tak lebih dari mainannya. Semua perkara ini hanya variasi warna dan nada pada taman bermainnya. Itu sebabnya dia selalu tampak begitu indah, tampan menggemaskan, jauh dari kerut gundah. Walau tahun-tahun terus berlalu, keceriaan seorang bocah dan kegagahan pemuda selalu menjadi miliknya. Langkah kakinya tetap lebar dan bergegas, tak sabar ingin merambah  ketaman bermain yang lain, di mana terdapat aneka makhluk dahaga pesona ketampanannya.  Jari-jari tangannya tetap gelisah menyentuh dan meraup setiap kelembutan belaian, yang berlimpah ditawarkan dunia padanya.  Hela napasnya senantiasa terengah dalam menuntut perhatian tiap kerling mata yang rindu melihat keindahan, tiap daun telinga yang teruja mendengar gelak tawa yang ia tengadahkan ke awan-awan.

Dan kau, apa yang akan terjadi padamu, seiring berlalunya waktu? Dirimu, sayang, mulai menjalin keakraban dengan gelambir lengan, lipatan dagu dan keriput wajah. Lekukan bukit dan lembah di tubuhmu memutuskan untuk beralih wujud, menjadi onggokan gumpalan buruk yang bergelantungan secara serampangan. Sementara lelakimu masih tetap akan berdiri tegak menantang dunia dengan bangga, dan dunia membalas tatapannya dengan penuh pujaan. Sementara kau? Kau, sayang, saat itu mereka akan memandangmu penuh iba, seperti perasaanku padamu saat ini. Mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka sambil berkata, “Lihat. Menyedihkan sekali penampilan si Maling Kisut.”

Oh. Tahukah kau? Istri lelakimu, yang sekarangsedang tertelungkup sambil tersedu meratapi nasibnya, mengingatkanku pada ibuku. Saat itu, mereka mungkin tak sadar adaseorangbocahkecil di balik meja, yang menyaksikansemuaadegan di ruangmakanitu. Kulihat seorangperempuan sepertimu berdiri tegak  di seberang meja, sambil menatap ibuku.  Ibu terdudukgontai di kursi dan menumpahkan dirinya berinai tangis di meja makan. Lalu perlahan-lahan kedua sudut bibir basah yang merahmembatamilikperempuan megah itu saling menjauhi satu sama lain, dan lekuk mata dekat hidungnya yang mancung, terangkat mendekati alisp.[]

(Maret 2014)

================================================


Marina NoviantiboruTampubolon, lebih populernya Marina Novianti, putrid ketiga dari Ir. H.   Tampubolon dan E boruSiregar, lahir di Medan pada tanggal 21 November 1971.  Semasa kecilnya gemar baca novel dan nonton The Sound Of Music. Baginya, novel dan film ia jadikan medium belajar bahasa Inggris secara otodidak.  Selain itu, ia dan ketiga saudarinya belajar mengikuti kursus piano.

Tamat SMA di Medan, iakuliah di FakultasMatematikadanIlmuPengetahuanAlam, InstitutPertanian Bogor, JurusanBiologi – Mikrobiologi.  Menikah di tahun 1998 dan dikaruniai tiga orang anak.Sebelum menikah Marina berkarir di bank asing, setelah menikah beralih profesi menjadi ibu dan guru. Tahun 2005, mereka sekeluarga pindah ke Kuala Lumpur, mengikuti suami yang ditugaskan bekerja di sana. Di KL, Marina belajar piano klasik dan menjadi pianis di St. Andrew’s Presbyterian Church.Kembalike Indonesia tahun 2007, Marina mengajar di sebuahsekolahsambilmembuka New Tune Learning Center di Bogor.Tahun 2011 Marina menulisbukuRingToneBiologiuntuk SMP/ MTs, sebuah ringkasan teori dan evaluasi soal-soal Biologi untuk Sekolah Menengah Pertama yang diterbitkan Grasindo.TahunberikutnyabukuSelamatPagi Pak Guru, sebuah sharing tentangkehidupankeluarga dan pertumbuhan anak ditulisnya dan diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan.Marina juga menggubah beberapa lagu serta memusikalisasi puisi. Tahun 2013 Marina mendapat kesempatan dari Depdikbud turut serta sebagai penulis naskah Kelas Dua SD Tematik untuk Kurikulum 2013.

Tahun 2012, Marina mulai bertekun di sastra.Tahun 2013, lahirlah antologi puisinya Aku Mati di Pantai terbitan Rayakultura. Bulan Mei 2014 terbit antologi puisi kedua, Pendar Plasma terbitanTeras Budaya Jakarta.Puisi-puisi Marina juga turut mengisi antologi Habituasi WajahSemesta (Rumah Kata Medan, 2013), Dari NegeriPoci 5 (PenerbitKosakatakita, 2014), Metamorfosis (TerasBudaya, 2014)dan 1000 Haiku Indonesia (PenerbitKosakatakita, 2015).Puisidancerpen Marina turut dimuat dalam kumpulan puisi (Puisi Menetas di Kaki Monas) dan cerpen(EmbunPecah di Taman Kota) karya sastrawan Mitra Praja Utama IX tahun 2014 yang diterbitkan Departemen Pariwisata dan Kebudayaan, sebagai delegasi dari Jakarta.Karya Marina juga pernah dimuat di beberapa media cetak nasional dan daerah (Koran Tempo, SuaraKarya, Indopos, SinarHarapan, Media Indonesia, majalah sastra Horison, Nova, Radar Bekasi, Analisa Medan, Medan Bisnis, Haluan Padang, Lampung Post, Serambi Indonesia, Pos Metro Jambi, MimbarUmum, Sumut Pos).

 

Puisi Galeh Pramudianto

Tamsil Caraka

ajarkanlah aku bagaimana mengeja sunyi

dari altar paling lindap, berlinang di jari meja makan

yang kenyang dari gemuruh dan rusuk tubuh

 

tuturkanlah berita ini pada anak dan cucumu

bahwa kau menganggit benda itu

yang sampai pada kedua tanganmu

dan tulangnya tak terbit pada sebuah adalah

 

kubisikan pada angin di sebuah perjalanan

tentang kesik yang mengudara di duri-duri

juga malam yang tak kunjung padam

di hela pusaka dan nyanyian istana

 

sebagaimana utusan, kidung ialah jaduk dalam nurani

menuntun tajali, dari gelap yang abadi

 

dengarlah baris-baris ini

pusaka terbang tak jauh dari bayang dirimu

memeluk lirih rangkul dan pangku tubuhmu

Bintaro, Juli 2016

 

Dora Sambada

aku tidak dusta pada api dalam mulutmu

tidak pergi dengan tahi di atas punggungmu

kubayangkan amsal ular dalam panu merekah

di sela tubuh yang dengki paling purbawi

 

aku tidak remuk dalam doamu

mencemari asap banal pun profan dalam paru-paru

kulihat lidah yang menari di sekujur tubuh

desis bisa menyiratkan api suci

 

aku tidak tidur dalam tangismu

menyanyikan kidung kesetiaan

pada bilik sembab dan sembah

kudengar derap langkah gagah

terbang di atas sebuah kisah kasih

tak sudah-sudah.

Bintaro, Juli 2016

 

Mendengar Kecipak Air

selimut cuacamu

memayungi batu-batu penyangga kepala

yang kerap bersuara

 

di dalam langit-langit kepakan sayap

ombak bertapa dan sauh buritan

meluncur di selebu

 

mimpi yang bergelombang pada riak

hibuk mudik membuka makrifat,

desir pantai yang raun-raun di sepanjang bibir

menyalakan senja yang tawar dalam dadamu

 

di atas tebing rindu dan di bawah pualam kalbu

wajahku terhapus oleh kaki-kaki geladak

yang membakar doa

dalam avontur laksamana mengunyah pembajak

 

mendengar kecipak air

setidaknya kepalaku mengalir tenang

nujum ikan-ikan

kembali dansa mendekap jaring nelayan.

Bintaro, Juli 2016

 

Pulau

jangkar tak mampu lagi menahan perhentian kita

yang ada hanya karat pada batu karang

dan kau tak mampu lagi menyusun pasir

yang kita tinggalkan pada peristirahatan kemarin.

 

apa yang tersisa dari jejak yang dihapuskan pasir kepada air?

lumbung kaki yang menimbun ingatan-ingatan perjalanan,

angin dan genggaman hujan.

 

apa yang terpelihara dari tubuh-tubuh yang datang silih berganti,

menuangkan tujuan mereka masing-masing lalu melaut bersama udara

yang dingin memekakkan tas, pakaian dan wewangian sementara?

 

kita dicurigai orang-orang dan diusir oleh dermaga kita sendiri.

pergi dan pulang hanya omong-omong kendaraan,

membawa gugusan petang

lalu akan segera terbenam menjadi malam.

 

palung hati mengubur perahu-perahu

yang mondar-mandir di perhentian keterasingan.

menakhodai badai yang datang

membawa tumpukan makanan cepat saji

yang hangat senantiasa menidurkan kita dari piring-piring kebahagian

sebentar saja.  

Bintaro, Juli 2016

 

Sampyuh

demikian kita sampai di sini

tidak di mana-mana dan tidak apa-apa

langkah yang kulalui gumul dengan angin sembap

asap lembap dan aspal tak henti-henti

 

penaka paradoks zeno, langkah kita

tak tiba dalam beberapa cuaca

achiles, kura-kura dan kita

mencoba berlari sekuat tenaga

menembus lorong-lorong beliak

mendayung mimpi kian beriak

 

aku di atas, kau di atas dan terus berperang

di antara kantata cemas tak berkesudahan

 

kita bertapa dalam ombak gerak

menabrak celah langit-langit yang bergejolak

di bawah gema semu dan belian lindur

lahir anak panah dalam riwayat papa

 

panah itu,

panah yang kuhujamkan di langit-langitmu,

menerobos dinding waktu kita

kita bersidekap di antara bayang-bayang remang

merawi gamang yang bersarang di tiang-tiang

Bintaro, Juli 2016

 

Tatahan

jikalau jalan raya mendengar lebam semut

dan bersin seseorang dari kamar yang dikunci

adakah mobil-mobil itu memejamkan mata

dari langkah-langkah beribu sunyi?

 

jikalau airmata menertawai bola mata yang berkaca-kaca

adakah yang peduli pada gemercik yang turun setetes demi tetes?

 

jikalau tetes itu menggunung di kasur dan tisu

adakah yang didapat dari tisu yang berwisata

ke tempat sampah—dan kasur yang dijemur?

 

jikalau lembayung masih menatap kita

adakah jawaban meluncur dari sekon-sekon kesekian?

 

jikalau andaimu itu terbit di sebuah adalah

maka tiada belum dalam pertanyaan-pertanyaan kita.

 

Bintaro, Juli 2016

 Galeh Pramudianto, mahasiswa akhir Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta. Menulis naskah drama, puisi, esai dan skenario. Penerima beasiswa menulis fiksi Tempo Institute. Manuskrip puisinya (Kacukan) masuk nominasi 10 besar (masih berlangsung, dengan juri Herman J. Waluyo dan Gunawan Maryanto) dan akan diterbitkan dua bahasa (Indonesia dan Inggris) oleh Pena Kawindra. Pengajar teater dan sutradara di Sanggar Embun Cileungsi—juga kadang bergiat di Riset Teater Jakarta. Buku puisi tunggalnya: Skenario Menyusun Antena (2015).

Pernah memenangkan sayembara antara lain: 10 besar Festival Film Bandung IKAPI JABAR 2014 (Cipta film), UNJ Art Festival 2014 (Juara 1 penulisan lakon), Peksimida 2014 (Juara 1 penulisan lakon), Peksiminas 2014 (Juara 3 penulisan lakon), Festival Seni UNJ 2015 (Juara 1 cipta puisi), Falasido UI Bulan Bahasa 2015 (Juara 2 cipta puisi). G-Sastrasia Bulan Bahasa UNJ 2015 (Juara 1 Cipta Puisi). Piala Indonesia UNJ (Juara 1 Cipta Puisi dan Juara 2 Cipta Cerpen).

Naskah dramanya: Sesuka-suka (2013), Opera Oposan (2014) dan Parabel Pembelot (2014). Beberapa puisinya termaktub di pelbagai antologi: Dari Negeri Poci: Negeri Langit (2014), Rodin Memahat Le Penseur (2015), Buletin Jejak Forum Sastra Bekasi, Buletin Sastra Stomata Rawamangun, Dari Negeri Poci: Negeri Laut (2015) dan beberapa media daring. Bisa ditemui di senandungmendung.com atau melalui akun twitter @galehpramdianto. Korespondensi: galeh.pramudianto@gmail.com dan 0856-175-7768.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai