[Cerpen] 21 Hari

Oleh: Ari Vidianto
Entah kenapa kehamilan istri saya penuh dengan cobaan. Saat ini sudah memasuki usia kehamilan dua puluh tujuh minggu.Tidak seperti wanita lain yang menjalani kehamilan dengan lancar. Hanya berobat tiap bulan ke bidan terdekat, tanpa perlu berobat ke klinik yang biayanya sampai satu juta lebih. Karena harus melakukan USG juga. Tiap bulan aku berusaha keras demi mendapat uang tiap bulan untuk kontrol istriku. Selain itu juga aku harus beli susu hamil untuk istriku yang hanya dipakai untuk lima gelas. Betul-betul memerlukan biaya yang cukup banyak, sementara aku hanya guru bhakti biasa, yang setiap bulannya hanya mendapat uang bayaran sedikit. Untunglah orang tuaku yang pensiunan penjaga SD selalu membantuku. Hingga pada suatu malam yang kelam, saat aku sedang membeli susu di supermarket, tiba-tiba hp ku berdering.
“Mas, cepat pulang, ketuban saya sudah pecah,” kata istriku.
“ Apa?? Pe..pe..pecah??” aku pun terkejut bukan main. Langsung aku tutup hpku dan segera mengendarai motorku untuk menuju rumah. Sesampai disana mertuaku sudah memanggil taxi, terlihat istriku sudah ada didalam.Tanpa aku bertanya taxi itu sudah melesat meninggalkanku.
“ Aztagfirulohhaladzim, Ya Allah…apa yang harus aku lakukan” pikirku. Tanpa pikir panjang aku pun segera mengejar taxi yang membawa istriku menuju rumah sakit.
***
Sesampai di rumah sakit istriku langsung ditangani oleh dokter, aku dan mertuaku menunggu di luar. Beberapa menit kemudian dokter keluar dan mengatakan padaku bahwa malam ini juga istriku harus dicesar. Hatiku sungguh tak karu-karuan, keringat menetes begitu deras dan jantungku berdetak begitu cepat. Apa yang akan terjadi pada istri dan anakku nanti. Sebetulnya untuk masalah biaya rumah sakit, aku tidak khawatir karena aku dan istriku sudah mempunyai BPJS. Tapi entah kenapa aku masih diam seribu bahasa.
“Maaf Pak bagaimana keputusannya? Kami sebagai dokter harus dapat menyelamatkan dua-duanya” jelas dokter tersebut. Dan aku pun masih bingung.
“To, Anto ayo kamu putuskan malam ini juga. Kasihan kan anak dan istrimu?” mertuaku coba membujukku.
“Baiklah Bu,” jawabku.Akhirnya aku pun menyetujuinya. Segera kutanda tangani persetujuan operasi cesar tersebut. Setelah itu istriku langsung di bawa ke ruang operasi. Aku dan mertuaku menunggu dengan cemas dan sambil berdoa pada Tuhan supaya di beri kelancaran.
***
Aku dan mertuaku masih menunggu dengan cemas, kata dokter operasi cesar berlangsung satu jam. Gelisah di dada dan keringat dingin bercucuran, aku membayangkan berapa ukuran anakku nanti. Aku hanya berharap semoga istri dan anakku baik-baik saja. Akhirnya terdengar suara bayi dan seorang perawat keluar dari ruang operasi sambil membawa seorang bayi.
“Pak ini putranya sudah lahir,” kata perawat itu padaku.
“Alhamdulilahirobilalamin,” jawabku sambil berkaca-kaca. Mertuaku pun merasa senang. Saya pun mengikuti perawat menuju runag bayi.
“Sus, anak saya laki-laki atau perempuan?” tanyaku.
“Laki-laki pak,” jawabnya.
“Alhamdulilahirobilalamin,” ucap syukurku tiada hentinya kepada Allah.Lalu aku pun segera memberi nama putraku : ‘Muhammad Yaafi‘
Setelah itu aku pun berwudhu dan segera mengadzani putraku,aku sungguh terharu dan sangat senang. Putraku mendengarkanku adzan sambil menggerak-gerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan.Setelah itu  suster memberitahukan bahwa berat putraku 1,2 ons dan panjangnya 33 cm. Aku pun jadi sedikit khawatir. Suster pun kembali memberitahukan bahwa rumah sakit disini alatnya belum lengkap, oleh karena itu anakku akan dirujuk ke rumah sakit lain. Dan dengan berat hati aku pun menyetujuinya.
***
Malam telah menjelang, kepalaku terasa terbang melayang kerena memikirkan nasib anakku. Sementara itu istriku telah siuman dan berada di kamar pasien rawat inap. Tiba-tiba datang suster dan memberitahukan malam ini juga anakku akan di bawa ke rumah sakit lain. Tapi sebelum itu aku disuruh ke tempat administrasi. Setelah sampai disana aku di sodorkan oleh rincian perawatan putraku dari siang sampai malam ini. Aku pun terkejut bukan main jumlahnya delapan ratus ribu lebih. Anakku belum ikut BPJS jadi ia dikenakan biaya. Demi anakku aku pun langsung membayar tagihan tersebut. Setelah itu aku menemui istriku dan menceritakan semuanya. Dan istriku pun hanya dapat berdoa supaya semuanya baik-baik saja. Setelah berpamitan pada istri dan mertua aku dengan seorang suster yang membawa anakku segera naik mobil ambulan menuju rumah sakit rujukan. Setelah setengah jam perjalanan akhirnya sampailah kami ke rumah sakit yang di tuju.Anakku langsung ditangani dan di bawa ke ruang perinatologi, ruang yang khusus untuk anak usia 0-27 hari. Disana aku tidak seorang diri, ternyata banyak orang yang bernasib sama denganku. Wajah-wajah mereka terlihat penuh tanya, resah gelisah sangat jelas karena letih yang teramat sangat. Ada yang sudah terlelap dalam mimpi ada yang melamun seorang diri. Dan aku pun duduk termangu di kursi besi berwarna perak yang dingin menyengat bersama angin malam yang menusuk tubuhku.
***
Pagi yang penuh tanya telah tiba,aku pun segera bangun. Terdengar adzan shubuh menggema,aku segera pergi ke masjid. Dalam shalatku aku memohon kepada Allah supaya anak dan istriku ku cepat sehat. Istriku belum dapat menemaniku karena luka habis cesarnya belum kering dan harus menunggu seminggu untuk pemulihan. Setelah lama berdoa aku segera kembali ke tempat anakku dirawat. Disana aku hanya dapat memandangi anakku lewat kaca. Kasihan sekali melihat anakku yang penuh dengan alat-alat penolongnya. Dan aku hanya bisa meneteskan air mata dan berdoa pada Yang Maha Kuasa. Supaya anakku cepat diberi kesembuhan.
***
Seminggu telah berlalu,istriku kujemput dan kubawa ke rumah sakit. Istriku langsung masuk ke dalam dan menemani anak kita. Dia pun merasa sedih dan tak kuasa melihat anaknya terbaring di ruangan incubator. Hampir setiap malam tetangga dekat rumah silah berganti menggunjungi kami dan selalu memberikan kata supaya kita tetap sabar. Orang tuaku pun telah datang bersama ibu mertua, kami semua bertemu dan menginap di emperan ruang tempat anakku di rawat. Hampir tiap malam udara dingin menyerang, siang menjelang panas menyengat di badan. Hujan pun datang tiba-tiba tanpa diundang,badan ini kadang masuk angin dan lelah yang teramat sangat. Tapi semuanya seolah tak dipikirkan demi pewaris kami yang kami harap-harapkan cepat sembuh dari sakitnya.
***
Malam yang tak diharapkan pun datang,malam ke 21, saat aku dan istriku duduk dengan gelisah tiada kunjung usai. Tiba-tiba seorang suster menyuruh kami ke ruang anak kami. Di sana ada seorang dokter yang sedang menangani anak kami. Dan mengatakan anak kami kondisinya semakin menurun. Dan dia sedang berusaha sekuat tenaga memulihkan kondisi anak kami. Kami pun berharap semoga dokter itu bisa menyelamatkan buah cinta kami. Sudah hampir setengah jam
dokter itu sudah berusaha.
“Maaf Pak, Bu,saya sudah berusaha. Tapi Allah berkehendak lain, putra anda telah meninggal,” kata dokter itu dengan wajah sedih. Aku dan istriku tak sedikit pun menyangka bahwa buah hati kami telah pergi secepat itu.
“Innalilahiwainailaihi rojiuun,” kataku sambil menenangkan istriku yang menangis berlinang air mata menyesak di dada.
“Bun,Bunda..sudah jangan menagis,kita harus merelakan kepergian anak kita. Mungkin Allah berkehendak lain,mungkin ini jalan terbaik untuk anak kita,” jelasku pada istriku sambil memeluknya erat-erat.
Lalu aku pun memberitahukan kedua orang tua dan mertuaku,mereka pun langsung menangis sejadi-jadinya karena kehilangan cucu yang tercinta. Setelah anakku diurus oleh suster dan meyelesaikan administrasi kami pun langsung pulang ke rumah menggunakan mobil ambulans. Setelah sampai di rumah,lalu anakku pun langsung di mandikan di pakaikan kain kafan. Malam itu juga anakku di makamkan.Hatiku ikhlas menerima cobaan ini. Aku pun berdoa:” Ya Allah berilah Surgamu yang terindah untuk anakku, Aamiin…!”

Lumbir, Mei 2016
                                                       Tentang Penulis

Ari Vidianto, S.Pd.SD lahir di Banyumas, 27 Januari 1984, pekerjaan seorang Guru di SD N 2 Lumbir UPK Lumbir. Tinggal di Cikole RT 03 RW 02, Desa Lumbir Kecamatan Lumbir, Kabupaten Banyumas Jawa Tengah Kode Pos 53177. Saya suka menulis Puisi, Cerpen, Pantun, Lagu dan Geguritan. Sudah menerbitkan 2 buku karya tunggal berjudul “ Ibu Maafkan Aku”, “ Wajah-Wajah Penuh Cinta” , 17 buku Antologi  dan banyak karya yang dimuat di Media Massa. No Hp 085726348627, Facebook Ari Vidianto, email : ari.vidianto@gmail.com

Puisi Puisi: Bagus Setyoko Purwo

Sajak Tak Kesampai

darahku membeku diterpa badai salju
menujumu bagai menjemput maut
bila aku mati membeku
niatku telah melesat menemuimu

dahulu aku memang dungu
menunggu bergulirnya waktu
dari berangkatnya kata-kata
sajakku tak kesampai dirimu

Sajak Kepada Dambaan Jiwa

dari sayatan waktu yang kugenggam
cintaku membara mengelupas sumsum
dari setangkai mawar segar yang kubawa
cintaku berangkat menemui dambaan jiwa

oh jiwaku peluklah erat sampai ku membeku
tiada keabadian menjalar ke jiwa
langit tempat kita bersemayam
aku tiba menyuarakan sajak kepada dambaan jiwa

Melingkari Majlis

kita bersitatap beradu dengkul
membuka salam dengan salam
menyusuri bibir gelas kopi kental
sehisapan jarum filter menguap menutupi malam.

cerita berkembang ke mahabbah kepada sang pencipta
atau puncak kerinduan hamba kepada sang pemilik Rindu

Sajak-sajak Muharam

bermula sebait niat menghujam keheningan batin
dalam diri mendegupkan rindu tak tertahan
meneruskan kebajikan melalui pintu ramadan
menghidupkan sebulan dengan getar-getar al quran

Maghrib ke berapa sekarang

adzan hampir menyeruak ke dada

rakaat ke rakaat membimbing manusia
salam kanan kiri
membagi kasih abadi

Tuhan

Tuhan, rawatlah mereka yang terlantar di wilayah dunia.
Tuhan, rawatlah mereka yang diabaikan kemujuran.
Tuhan, rawatlah kebahagiaan mereka dalam semua hal.

Sebaik Ibu: Bukan ia, Angeline

ibu sejatimu ialah ia yang suka mendongengkan kisah-kisah
Ibu hatimu ialah ia yang tak lupa menyirami bunga-bunga di kebunmu
ibu kasihmu ialah ia yang tak tega menghujanimu dengan duka lara mencengkam

Angeline baik-baiklah engkau
dikemudian hari

Usap Derai Itu

aku membaca nasibmu dari layar kaca yang menggemaskan
bagaimana bisa nurani perempuan berlaku keji
mengiris sedih berkali-kali

usap kepiluanmu dengan tisu bahagia
sebab di luar rumah
surga terbentang rumahmu berada..

Penyair Koran

aku membeli kulkas dari laba menyerahkan sepuluh puisi ke meja redaksi.
aku menunaikan hajat sebulan dari laba menuliskan kisah perselingkuhan dari ranjang ke ranjang.
aku menyelesaikan itu semua tanpa rasa bersalah.

sebab telah kulunasi hakekat kata-kata yang mengisi tiap bait dalam puisi-puisi itu

Om Malaikat

om… om, bagaimana agar tanganku bisa menggapai bintang?

lebarkan sayapmu, nak.
kepakkan sekuatmu.

kau akan mudah meraih banyak bintang itu
sajakku berjudul om malaikat

Bagus Setyoko Purwo, tinggal di Babelan Town, kab.Bekasi, menulis fiksi dan non fiksi, berkegiatan di Forum Sastra Bekasi, mengajar di SMK Ananda, Bekasi Timur, STIE Indonesia, Jakarta, dan STIE Kalpataru, Cileungsi, kab. Bogor

[Cerpen] Kopi, Puisi dan Bibir Merah

 

Illustrasi diolah dari internet

Cerpen: Ariska Anggraini

Setelah dirasa gincu merah menempel sempurna pada bibirnya, wanita itu bergegas menuju kedai kopi. Hari ini adalah hari yang patut dirayakan. Meskipun pada hari yang patut dirayakan ini sang kekasih tak dapat mendampinginya, wanita dengan bibirnya yang kini merah itu tetap bahagia. Wanita itu teringat sebuah puisi dari penyair kesayangannya: kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi[1]. Begitupula dengan kebahagiaan. Karena itulah, wanita dengan bibir merahnya itu mengunjungi kedai kopi. Hari ini dia merasa bahagia. Dan kebahagiaan tetap harus dirayakan meskipun tak lengkap.

Usai secangkir kopi hitam pekat terhidang di mejanya, wanita itu tak langsung mencicipinya. Aroma kopi ia biarkan merasuki tubuhnya terlebih dahulu. Rasa nikmat menyatu dalam sukmanya walau setetes kopi pun belum membasahi bibir merahnya. Memang benarlah jika empat cangkir kopi setiap hari mampu menjauhkan kepala dari bunuh diri, tetapi tidak dengan kematian. Tak ada yang bisa menjauhkan kematian dari kepala siapapun. Tiap kepala pasti mati, walau tak semua kepala akan mati dengan membunuh dirinya sendiri. Dan kini, lima menit sebelum wanita itu mengecup cangkir kopi dengan bibir merahnya, dia teringat akan kekasihnya. Kekasihnya mati. Tepat lima menit usai meminum secangkir kopi.[2]

Kalian pasti berpikir bahwa wanita berbibir merah itu adalah wanita yang paling jahat di dunia ini. Bagaimana mungkin seorang wanita merayakan kebahagiaan saat kekasihnya mati?! Tapi sungguh, percayalah! Sesungguhnya, wanita berbibir merah itu begitu mencintai kekasihnya. Dan sang kekasih pun  sebenarnya tidak mati. Dia hanya pergi menuju keabadian.

Pada tegukan pertama, wanita berbibir merah itu kembali ke masa lalunya.

****

Kedai kopi seperti biasa selalu dipenuhi orang-orang yang sedang merayakan kebahagiaan dan mengharap kebahagiaan. Begitupula dengan wanita berbibir merah itu. Ini kali pertama dia mengunjungi kedai kopi. Wanita berbibir merah itu sangat membutuhkan kebahagiaan. Dia sudah lelah dengan hidupnya yang terlalu menyedihkan. Hatinya berulang kali dipatahkan. Dan pada patah hati kali ini, dia ingin ini menjadi patah hati yang terakhir kali.

Beberapa menit berlalu dan wanita itu belum memesan kopi. Dia masih memandangi deretan menu di meja sembari menikmati melankolisme gerimis yang dibalut alunan sendu Everybody Hurts oleh sang penyanyi di kedai itu. Sang pelayan yang mulai jengah meninggalkan wanita itu dengan secarik kertas dan pulpen; berharap dengan sangat, wanita yang bibirnya merah merona itu segera menulis kopi pesanannya.

“Tempat ini punya bermacam-macam kopi yang mampu menghilangkan kesedihan dan keinginan bunuh diri,” penyanyi yang baru saja melantunkan Everybody Hurts tiba-tiba muncul di hadapannya. “Kau pilih kopi yang mana?”[3] lanjut lelaki itu sembari meneguk kopi di tangannya.

“Aku pilih kopimu.”[4] Lelaki itu tersenyum melihat wanita itu meminum kopi yang seharusnya menjadi miliknya.

“Ada banyak kopi disini, tetapi mengapa kau pilih kopi yang sudah diminum oleh orang yang belum kau kenal?” lelaki itu tersenyum lebar.

“Aku juga tak tahu. Hanya saja, saat melihat kau mencium aroma kopi ini dan meminumnya walau hanya sedikit, ada kebahagiaan memancar dari matamu.”

“Dengan kopi, kita tak pernah kesepian.” Lelaki itu kembali menuju panggung. Kali ini dia tak lagi menghadirkan kesedihan lewat Everybody Hurts. Lelaki itu membawa kebahagian yang dibungkusnya dengan alunan lagu Join Kopi dari grup musik Blackout. Kebahagiaan pun semakin menyatu dengan jiwa orang-orang yang menikmati kopi di kedai itu, saat lantunan Join Kopi dilanjutkan dengan sajak tentang kopi yang diiringi harmonika dan gitar akustik.

 

Begitulah cara mereka berkenalan. Aneh memang. Tetapi, yah, begitulah. Cinta datang dengan caranya sendiri. Dan kau tak akan bisa mengusirnya.

Sejak perkenalan yang aneh itu, hari-hari wanita yang bibirnya merah merona tersebut berlalu penuh dengan cinta. Namun, tetap saja kekhawatiran masih menyelip di tengah hati yang penuh cinta.

Hidup memang aneh sekali. Ada bahagia, ada sedih. Ada cinta, ada sakit. Ada tawa, ada tangis. Ada yang datang, ada yang pergi. Ada pengkhianatan, tetapi susah sekali untuk menemukan kesetiaan. Maka pada cinta yang datang kali ini, wanita berbibir merah itu memutuskan untuk benar-benar mengabadikan cintanya agar hatinya tidak kembali patah.

Segala cara pun dilakukan untuk mempertahankan cintanya. Mulai dengan mengabadikannya lewat puisi sampai berusaha menjaga bibirnya agar tetap merah acapkali bertemu dengan kekasihnya.

“Merah selalu menarik. Merah selalu menyala. Merah adalah cinta yang membara. Dan merah, selalu meninggalkan jejak yang sulit hilang acapkali aku berciuman dengan kekasihku,” ucapnya usai memastikan bahwa merah di bibirnya melekat dengan sempurna sebelum kekasihnya tiba.

Dan saat sang waktu hadir, wanita itu langsung memberi sang kekasih secangkir kopi juga kecupan yang sungguh hangat dan begitu panjang. Usai berciuman, mereka kembali menikmati kopi bersama. Lalu lima menit usai menandas secangkir kopi, sang kekasih mati dengan jejak gincu merah yang melekat di bibir dan lehernya.

****

Tak ada yang tahu bahwa di balik gincu merahnya, wanita itu telah mencampurnya dengan racun paling mahal. Juga tidak ada yang tahu, bahwa kopi yang disajikannya untuk sang kekasih juga diberinya racun serangga merek ternama. Tetapi ku mohon jangan salah sangka, wanita itu bukan wanita jahat. Wanita itu tidak membunuh kekasihnya. Wanita berbibir merah itu hanya mengabadikan cinta kekasihnya agar tak dimiliki orang lain. Kau tahu kan, keabadian tak pernah ada dalam hidup. Dan aku juga sudah mengatakan padamu bahwa hidup ini sungguh aneh. Ada banyak pengkhianatan, tetapi sulit sekali untuk menemukan kesetiaan. Atau mungkin, kesetiaan itu memang tak pernah ada?

Maka usai menikmati kopi pesanannya, wanita berbibir merah itu kembali menemui kekasihnya yang terbaring kaku di kamarnya. Lalu membacakan puisi tentang kopi dan kemudian, wanita itu kembali menikmati secangkir kopi yang diracik sendiri di rumahnya. Usai meminum habis kopinya, wanita itu mencium kekasihnya dan memeluknya erat sekali. Dalam sekejap, bibirnya yang kemerahan itu pun dipenuhi dengan busa dan wanita itu pun tertidur panjang tak pernah terbangun lagi.

Dan sejak saat itu pula, wanita berbibir merah itu tak pernah lagi merasakan sakitnya patah hati. []

[1] Puisi yang dimaksud adalah Surat Kopi karya Joko Pinurbo
[1] Paragraf ini terinspirasi dari puisi Surat Kopi karya Joko Pinurbo
3 Dialog yang diucapkan oleh tokoh lelaki ini juga terinspirasi dari puisi Surat Kopi
4 Dialog yang diucapkan oleh tokoh wanita berbibir merah ini merupakan petikan dari puisi Surat Kopi


*Mahasiswa tingkat akhir jurusan Bahasa dan Sastra Prancis Universitas Brawijaya Malang

Wahana Wisata Terpopuler di Asia

BENUA Asia merupakan wahana bagi berbagai tujuan liburan dan budaya yang menarik. Karena itu kaum wisatawan dapat memilih jenis liburan sendiri, mulai dari ramai dan euphoria kota dengan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi atau pulau-pulau terpencil indah yang tenang, damai dan sejuk.

Jika ingin menjadi salah satu dari para traveler yang menikmati keindahan Asia, sebaiknya tidak melewatkan beberapa tujuan paling populer di Asia berikut ini.

Beijing, Tiongkok. Beijing dianggap sebagai tempat budaya dan politik di Tiongkok. Wisatawan lokal dan asing dapat menemukan sejarah yang kaya. Di sini, pelancong akan terpesona oleh keagungan istana kuno yang bercerita tentang kehidupan masa lalu.

Di antara situs-situs sejarah yang populer di kota ini, dapat ditemukan Lapangan Tiananmen dan Kota Terlarang. Ada juga stasiun kereta bawah tanah kontemporer dengan sentuhan klasik yang rugi jika tak disambangi. Jangan lupa juga mengunjungi salah satu keajabian dunia yakni Tembok Besar Tiongkok.

Singapura. Singapura memang terkenal karena sistemnya yang sangat efisien dan teroganisir yang memudahkan siapa saja untuk melakukan perjalanan wisata maupun bisnis di sini.

Salah satu negara terkaya di dunia ini juga sangat pandai dalam menyeimbangkan pemandangan alam dan kehidupan modernnya. Selain itu, singapura juga merupakan salah satu dari 10 destinasi wisata terbaik untuk muslim yang menawarkan liburan halal meskipun Singapura sendiri bukanlah negara mayoritas muslim. Keberagaman sangat dihargai di sini, anda dapat menemukan Chinatown dan Little India di sini.

Hong Kong, Tiongkok. Banyak sekali tempat menarik yang bisa dikunjungi saat berada d Hongkong. Terkenal sebagai salah satu negara dengan internet tercepat di dunia, tak perlu bingung jika tersesat atau mencari referensi tempat melalui GPS.

Beberapa tempat menarik yang tak boleh terlewatkan di sini antara lain, Disney Land Hong Kong, Ngok Ping 360, Museum lilin Madam Tussaus dan Sky Terrace (dimana terdapat banyak patung lilin dari artis-artis dunia yang sayang sekali jika tidak diabadikan dalam jepretan kamera anda), Masjid Besar Kowloon, pusat perbelanjaan di Ladies Market dan Mongkok.

Teknologi

Tokyo, Jepang. Saat mendengar kata ” Tokyo “, hampir tidak mungkin untuk memisahkan kota ini dari gambar anime atau teknologi. Bahkan, kota Jepang megah ini terus ramai dan menyiptakan penemuan yang menarik bagi dunia.

Di sini, wisatawan dapat menemukan mobil bergaya zooming, kereta bawah tanah, dan kapal yang elegan untuk keluar dari Tokyo. Jepang juga menjadi salah satu kota di Asia yang sangat pesat kemajuan teknologinya, serta gaya hidupnya yang serba cepat. Tidak ada orang malas di Jepang.

Meski demikian, Jepang tetap memegang teguh nilai-nilai sejarah dan budaya, juga memperhatikan kebersihan serta keasrian alam yang tetap dijaga hingga saat ini. Wisata kulinernya juga tak kalah seru, dari kuliner terkenal seperti suhsi, onigiri dan bento, hingga makanan terekstrim seperti sperma ikan, odori don si cumi menari dan kadal panggang.

Bali, Indonesia. Merupakan salah satu tujuan bulan madu paling populer di dunia. Bali, adalah kota seribu candi yang menawarkan sejuta keunikan alam, budaya dan kuliner yang terbungkus menjadi satu dalam pariwisata mereka.

Bali memiliki semua yang diimpikan oleh para traveler dan para wisatawan. Pelancong bisa memilih kegiatan yang harus dilakukan, seperti berjemur, memanjakan diri untuk relaksasi dan spa, olahraga air seperti snorkeling dan menyelam, atau menikmati makan malam romatis di restoran-restoran yang dimilikinya.

Jika ingin menikmati keindahan khas budaya, ada berbagai pertunjukan yang bisa dinikmati, mulai dari penampilan tari kecak yang populer, tari pendet hingga berbagai kegiatan kebudaayn khas suku Bali yang ada.

Bangkok, Thailand. Sawaadeka! Welcome to Thailand! Negara ini sangat terkenal dengan wisata kulinernya yang telah mencuri banyak tempat dalam daftar 10 makanan terenak di dunia.

Selain itu, untuk tempat-tempat wisatanya, selain akan menjumpai gedung-gedung khas pemandangan kota, juga akan menemukan kuil kuno Buddha dan pusat perbelanjaan yang luas yang terletak di ibukota Thailand ini.

Bangkok akan membuat pelancong terpesona oleh pengalaman liburan yang luar biasa. Terlebih lagi, akan menemukan patung Golden Buddha yang menjulang indah, megah, dengan ketinggian sekitar 150 meter. Juga sebaiknya tak melewatkan akuarium di dalam pusat perbelanjaan kota serta dan pasar terbuka yang luas yang merupakan terbesar di dunia.

Menakjubkan

Koh Tunsay, Kamboja. Dikenal juga sebagai The Rabbit Island. Letaknya sekitar 20 menit perjalanan dari dermaga Kep. Hal yang paling menakjubkan dari pulau ini adalah bentuk pulaunya yang yang menyerupai bentuk semanggi.

Juga beberapa restoran, bar, dan beberapa bungalow bergaya pedesaan, yang dapat memberikan nuansa liburan yang spektakuler. Kamar-kamar yang tersedia di beberapa resornya tidak memiliki fasilitas seperti TV, internet atau AC.

Namun, di sinilah letak keunikannya. Karena pulau ini memang menawarkan liburan yang benar-benar membuat pelancong lebih dekat dan menikmati keindahan alam, dan melupakan sejenak teknologi modern.

Pulau Phu Quoc, Vietnam. Pantai menawan Vietnam memiliki keunikan tersendiri untuk menjadi bagian dari daftar tempat tujuan paling populer di Asia. Meskipun Panta Nha Trang merupakan pantai paling peopuler di negeri ini, namun pulau Phu Quoc juga menawarkan panorama dan suasana yang tak kalah seru.

Di sini wisatawan bisa menikmati pemandangan spektakuler dari kejernihan air dan pantainya elegan. Selain itu, perairan Phu Quoc adalah rumah bagi beragam kehidupan laut yang kaya serta terumbu karang yang unik di bawah air.

Yaang membuat liburan semakin menyatu dengan alam, pelancong bisa menjelajahi berbagai pegunungan yang dengan air terjun, tanaman yang indah dan hewan asli yang langka di negeri ini. Pulau Phu Quoc atau yang dikenal juga dengan Koh Trol ini sebelumnya milik Kamboja, nama Koh Trol adalah nama dalam bahasa Kamboja.

Boracay Island, Filipina. Pulau Boracay tetap sebagai salah satu tujuan pantai paling disukai oleh sebagian besar turis lokal maupun asing yang berencana untuk mengunjungi Filipina. Letaknya di sebelah selatan pulau Luzon, dan termasuk destinasi wisata terfavorit karena memiliki pantai yang putih dan bersih.

Perjalanan menuju pulau Boracay terbilang cukup panjang karena harus menggunakan pesawat kecil dari kota Manila menuju kota Kalibo di kepulauan Panay selama kurang lebih 45 menit, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan selama dua jam ke pelabuhan di Caticlan dengan bis.

Setibanya di Caticlan, wisatawan masih harus menyeberang selama 20 menit untuk menuju pulau Boracay. Namun, lamanya perjalanan yang harus ditempuh akan terbayar lunas saat tiba di sana. Wisatawan akan dibuat takjub dengan pemandangan indah yang terhampar di sepanjang Bulabog Beach dan White Beach.

Pulau Boracay memang memiliki dua pantai utama. Yang pertama adalah Bulabog Beach. Suasananya yang tenang dan damai dengan perpaduan pasir putih dan halus, air laut yang tenang serta rumput laut yang bergoyang seirama dengan arus air akan membuat pengunjungnya merasa rileks dan nyaman.

Pantai utama ke dua yaitu White Beach, menawarkan suasana yang berbeda karena merupakan pusat keramaian di Boracay. Selain banyaknya tempat makan dan penginapan, di sini juga merupakan pusat informasi pariwisata, tempat hiburan malam dan toko suvenir. (analisa/tmc/ar)

Kembara Mimpi – Puisi Ahmad Radhitya Alam

KEMBARA MIMPI
adalah mimpi
harapan yang harus dicapai
mendaki getirnya puncak tantangan
sambil menerjang karang yang melintang
sedangkan cobaan-cobaan masih terbentang
berpeluh cacian dan umpatan yang tak bertuan

telah berapa usaha kucoba
kurapal ritus-ritus doa
untuk menggapai harapan asa

dan angan bukan lagi remah-remah, menjelma
pengharapan mimpi yang nyata
di huluan capai yang sunyi
‘kan ku kembarai mimpi
sambil menunggang badai

peluh-peluh membaur
bersama angin yang menghempas, keras
menjual pasrah, membeli rela
di mana mimpi akan ku renda

Blitar, 23 Desember 2016

PEMUJA RAHASIA

Untukmu yang ku rindu
Untukmu yang selalu ada dalam mimpiku

Tahukah engkau
apa yang ada dalam rasaku
dalam diam aku menatapmu
dalam redam senyummu membuatku terpaku

Kau tetap ada dalam jiwa
Kau bagai separuh nyawa

Andai aku tak dapat memilikimu
Biarkan aku mengagumimu
Ijinkan aku mencintaimu
Mendekapmu dalam palung hatiku

Aku adalah pemuja rahasia
Yang selalu ada untuk menyapa

Ruang Imaji, 2016

PELANGI CAKRAWALA
Mataku terpejam
Aku termangu, dan diam
Menerawang jauh ke masa silam
Menembus lorong-lorong dimensi yang redam

Aku sendiri,
berdiri menyendiri

Kutatap pada embun pagi yang merona
hangatkan dahaga pesona
pelangi cakrawala
luruhkan
nestapa

Dan kuharap, itu semua
bukanlah fatamorgana
biasan belaka

Blitar, 4 April 2016

FRAGMEN RINDU
Rinduku seteguh besi
Menunggumu di gelap sunyi
Luka elegi menggunung
Pada palung hati terujung

Semburat cerita luka
Segunung tinggi derita
Hancur jiwa musnah
Menunggu tanpa arah

Blitar, 7 April 2016

MALAM MEMINANG PURNAMA
Berkas-berkas cahaya menyinari langit yang tampak legam
lentera malam tampak cerah di peron sebuah stasiun
hilang sudah derita nestapa, rona ekspresi muram
saat gerbong-gerbong kereta datang berduyun
tak ada lagi bara yang membakar jiwa
yang tampak hanyalah tawa bahagia

Malam meminang purnama
bintang-bintang merenda cahya
di tengah hiruk pikuk gembira
semarak pesta memesona

Blitar, 23 Mei 2016

MUARA RINDU
Malam tak lagi purnama
Hilang gemintang yang dahulu menyala
Sepi sunyi tanpa suara,
Hilang sudah rasa

Merajut satu persatu harap
Berterbangan rindu tak bersayap
Berkumpul membelenggu malam
Yang kian waktu semakin kelam
Lorong imaji angan yang sembilu
Mendayung tanya pada muara rindu

Mengayuh harap pada mimpi
rindu yang api

Blitar, 24 April 2016

BUNGKAM
Kami menolak diam
Walau mulut dibungkam
Mata, hati, telinga ditikam
Terhimpit di bawah tilam

Suaraku mungkin tedengar tajam
Bergerak terus menyusuri kelam
Mencari arah keluar
Daripada semak belukar

Aku mungkin bisa diracun di udara
Aku bisa tenggelam di lautan
Atau ditikam di pinggir jalan
Tapi suaraku akan tetap bergema

Gema suara di udara
Menelisik ribuan berita
Begerak menempuh keadilan
Karena kebenaran akan terus hidup, walau dilenyapkan

Aku dibungkam
Aku ditikam
Hilang dari alam
Tapi suaraku takkan pernah padam
Blitar, 7 Januari 2016

________________________________________________

 

Ahmad Radhitya Alam, lahir di Blitar, pada tanggal 2 Maret 2001. Siswa SMAN 1 Talun dan santri di PP Mambaul Hisan Kaweron. Penulis bergiat di Teater Bara SMANTA. Karyanya termaktub dalam beberapa antologi puisi dan dimuat di Majalah MPA, Buletin Jejak, Radar Surabaya, Flores Sastra, RiauRealita.com, Radar Mojokerto, Harian Amanah, Read Zone, dan Malang Post.
Alamat Facebook : Ahmad RadhityaAlam/ facebook.com/mask.vendeta.5
Nomor HP : 085 706 022 133
Email : ahmadradhityaalam@gmail.com

[Cerpen] Perempuan Yang Menjahit Mata Anaknya

Oleh: Nanda Dyani Amilla

Aku meraba tangan Ibu, jemarinya sudah tak utuh. Aku meraba wajah Ibu, kulit pipinya tak semulus dulu. Aku meraba telinga Ibu, yang kini hanya tinggal satu. Aku ingin menangis. Ingin merasakan air mata yang jatuh di pipi. Namun, itu tidak bisa kulakukan. Benar-benar tidak bisa kulakukan. Tiba-tiba aku mendengar Ibu mengucapkan sesuatu, seperti nyanyian menyayat hati yang menyentuh gendang telingaku. Suara merdu Ibu membawa ingatanku pada kejadian beberapa bulan lalu. Saat untuk pertama kalinya aku benar-benar membenci ayah.

“Perempuan jalang! Sudah miskin tak tahu diri pula! Bisa-bisanya kau merayu Ajid untuk memberi dua batang ubi itu! Dimana harga dirimu?!” suara ayah menggelegar dari ruang depan. Aku mengintip dari celah pintu kamar yang terbuka. Ibu menangis. Air matanya membasahi wajah. Menjelaskan berkali-kali meski ayah tak mau mendengar.

“Dia yang memberiku ini, Yah. Bagaimana mungkin ayah menuduhku seperti itu?” suara ibu terdengar dari balik isak tangisnya. Tapi ayah tidak peduli, terus mencaci maki Ibu seakan perempuan itu hina sekali.

“Aku tahu bahwa dia masih menyukaimu! Aku tahu kalau kau ada main dengan laki-laki itu!” tuduh ayah sinis. Kudengar Ibu beristighfar berulang kali. Ayah mendorong Ibu hingga tersungkur ke lantai. Aku segera muncul dan memeluk Ibu. Ayah membanting apa saja yang ada di dekatnya. Aku ingin bilang bahwa Paman Ajid-lah yang berbaik hati memberi ubi itu. Tapi aku takut jika ayah semakin marah dan menyakiti kami berdua.

Wajahnya merah padam. Aku paham sekali bahwa ayah marah. Ayahku yang tempramen dan tidak bisa mengontrol emosi. Suka menyakiti jika amarah tengah memenuhi kepala. Lihat, pincangnya kaki Ibu juga bersebab ulah ayah. Luka di kepala Ibu pun adalah karena ayah. Ayah terlalu sering menyakiti Ibu. Dan aku sangat tidak menyukai perbuatannya.

Malamnya, tidak ada ayah di meja makan. Ibu mengunyah nasi dengan mata sembab. Aku menyentuh tangan Ibu, menatapnya dengan wajah muram. “Ayahmu adalah lelaki baik, Naina. Dia baik sekali,” suara Ibu memecah keheningan. Aku menggeleng kuat-kuat, tidak setuju dengan kalimat Ibu. Ayah itu jahat. Ayah bukan lelaki baik. Ayah suka menyakiti Ibu. Dan aku membenci itu.

Ibu mengusap rambutku lembut. Bercerita banyak bahwa ayah adalah lelaki paling baik yang pernah ditemuinya. Ibu bilang kalau aku tak boleh sedikit pun membenci ayah. Ibu bilang kalau aku harus selalu menghormati ayah. Dan Ibu bilang, aku harus menyayanginya. Aku menggeleng lagi. Aku tidak akan menyayangi ayah. Ayah jahat pada Ibu. Ayah tidak menyayangi Ibu. Bagaimana mungkin aku menyayangi lelaki yang selalu menyakiti Ibu?

Hari-hari selanjutnya, rumah seperti wadah pertumpahan darah. Mataku terus dimanjakan ayah dengan kekerasan yang dilakukannya pada Ibu. Telingaku disuapinya dengan teriakan kasar dan jeritan Ibu. Bahkan tak jarang aku pun turut menjadi korban kemurkaan ayah. Pernah suatu malam, lelapku terbangun karena suara ayah. Aku menyeret kakiku menuju asal suara itu.

Kulihat di halaman belakang rumah, ayah sudah siap menghabisi Ibu. Ia memegang kasar tangan Ibu yang diletakkan di atas bangku kayu. Ibu meronta dan mencoba melepaskan genggaman ayah pada pergelangan tangannya, namun sia-sia. Pisau besar yang biasa digunakan ayah untuk menyembelih ayam akhirnya menjawab semua pertanyaan besar dalam hatiku tentang apalagi yang akan dilakukan ayah terhadap Ibu.

Pisau besar itu dengan sekali hentakan, memotong dua jemari tangan Ibu. Aku menelan ludah saat kulihat darah segar mengucur dari tangan Ibu. Setetes air mataku jatuh. Badanku menggigil. Seketika itu pula tubuhku gemetar hebat. Oh Tuhan, apa yang baru saja dilakukan ayah? Aku melangkah menjauhi pintu dapur, masuk menuju kamarku.

Kudengar suara jeritan pilu dari mulut Ibu. Aku tak lagi mendengar suara ayah, barangkali lelaki jahanam itu pergi setelah memotong dua ruas jari ibuku. Langkah kakiku menuju kamar Ibu, selang beberapa menit tak lagi kudengar suara apapun. Hanya sesenggukan tangis Ibu yang terdengar menyakiti hatiku. Kubawakan kotak P3K sambil berurai air mata. Ibu menatapku begitu dingin. Tak ada kata terucap dari bibirnya. Wajahnya pucat seperti seseorang yang hendak menemu kematian.

Aku membalut jemari berdarah Ibu. Ibu tidak merintih, hanya suara tertahan yang kudengar dari mulutnya. Sakit di hati ibu jelas lebih banyak daripada sakit di jemarinya saat ini. “Aku akan membunuh ayah!” tiba-tiba suara itu keluar dari mulutku. Ibu menggeleng, matanya kembali berair. “Aku tidak bisa membiarkan dia membunuh Ibu pelan-pelan, Bu. Terlalu sering dia menyakiti Ibu. Sakit! Sakit mata dan hatiku tiap kali melihat lelaki itu menjahatimu!” bentakku pada Ibu.

Oh Tuhan, dosakah aku telah membentak Ibuku sendiri? Aku hanya tak sanggup melihat lebih banyak laki luka di tubuh Ibu. Pun luka-luka lain di hatinya. “Lihat, Bu. Lihat! Lihat kakimu, Bu. Lihat telingamu! Lihat wajahmu! Dan sekarang lihat jemarimu! Mau sampai berapa banyak lagi cacat di tubuhmu hingga kau percaya bahwa sebenarnya dia ingin membunuhmu, Bu!” teriakku di depan Ibu. Aku terisak panjang. Hatiku benar-benar sakit melihat keadaan Ibu.

Untuk kemudian, aku tersadar. Jika Ibu tidak bisa menghentikan perbuatan ayah, maka akulah yang harus berhenti melihat ini semua. Aku sungguh tidak sanggup lagi melihat semua perbuatan ayah pada Ibu. Aku mengorek laci meja Ibu. Mencari sesuatu yang dapat menghentikan semua kegilaan ini. Ibu terus menangis di pinggir tempat tidur. Setelah mendapatkan apa yang aku cari, aku mendekati Ibu.

“Jahitlah, Bu. Jahitlah mataku. Kumohon…” pintaku dengan penuh keyakinan.

Ibu menggeleng lemah. Air matanya tidak berhenti. Aku tahu Ibu akan sulit melakukannya. Aku tahu ini adalah permintaan gila. Tapi aku akan lebih gila bila terus-terusan melihat ayah menyakiti Ibu. Kuusap lembut tangannya, kupeluk ia dengan hangat.

“Kumohon jahitlah, Bu. Jahitlah mataku. Aku tidak ingin melihatmu terluka lagi. Aku tidak sanggup melihatmu dengan kondisi begini. Kumohon jahitlah, Bu. Jahitlah sekarang juga,” aku serahkan jarum dan benang paling kuat ke tangan Ibu.

Ibu menerima dengan tangisan yang semakin kencang. Aku mengusap tangannya, “Jangan menangis, Bu. Percayalah, aku akan lebih bahagia jika kau menjahit mataku dan menyelamatkanku dari kekejaman ayah padamu,” suaraku menyentuh gendang telinga Ibu. Malam itu, Ibu menjahit mataku dengan lihai. Tak ada sakit yang kurasa sedikitpun. Aku seperti melayang dan ingin mati saja. Menyudahi segala kekejaman yang ada di dunia. Membuktikan pada ayah bahwa aku bisa lebih kejam dari dirinya.

Darah di mataku pun mengering keesokan paginya. Bersama mayat Ibu yang membeku di samping tubuhku. Ya, Ibuku telah meninggal dunia. Dia mati dalam rasa sakit di hati dan tubuhnya. “Dia lelaki baik, Naina. Dia satu-satunya lelaki yang mau menikahiku meskipun tahu aku sedang mengandung janin dari lelaki lain.” Astaga! Jadi itulah sebab mengapa ayah sering murka kepada Ibu. Karena ia merasa telah menolong Ibu, jadi ia merasa bebas memperlakukan apa saja terhadap Ibu. Dan aku? Aku bukan anak kandungnya. Cerita Ibu saat menjahit mataku benar-benar pilu. Kali ini, bukan hati Ibu saja yang sakit, melainkan hatiku.

Aku meraba tangan Ibu, jemarinya sudah tak utuh. Aku meraba wajah Ibu, kulit pipinya tak semulus dulu. Aku meraba telinga Ibu, yang kini hanya tinggal satu. Aku ingin menangis. Ingin merasakan air mata yang jatuh di pipi. Namun, itu tidak bisa kulakukan. Benar-benar tidak bisa kulakukan. Sebab Ibu telah menjahit mataku. Tiba-tiba kudengar suara jeritan tangis ayah memelukku. Kudengar teriakan histerisnya melihat mayat Ibu. Kudengar tangis meraungnya menyentuh mataku. Untuk pertama kalinya, ayahku menangis. Bukan, dia bukan ayahku. Dia bukan lelaki baik bagiku. Dia bukan keluargaku. Dia… dia adalah pembunuh ibuku!

 

 

 

 Nanda Dyani Amilla, Penulis Novel Kejebak Friendzone, Bentang Pustaka, 2017

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai