Oleh: Ari Vidianto
Entah kenapa kehamilan istri saya penuh dengan cobaan. Saat ini sudah memasuki usia kehamilan dua puluh tujuh minggu.Tidak seperti wanita lain yang menjalani kehamilan dengan lancar. Hanya berobat tiap bulan ke bidan terdekat, tanpa perlu berobat ke klinik yang biayanya sampai satu juta lebih. Karena harus melakukan USG juga. Tiap bulan aku berusaha keras demi mendapat uang tiap bulan untuk kontrol istriku. Selain itu juga aku harus beli susu hamil untuk istriku yang hanya dipakai untuk lima gelas. Betul-betul memerlukan biaya yang cukup banyak, sementara aku hanya guru bhakti biasa, yang setiap bulannya hanya mendapat uang bayaran sedikit. Untunglah orang tuaku yang pensiunan penjaga SD selalu membantuku. Hingga pada suatu malam yang kelam, saat aku sedang membeli susu di supermarket, tiba-tiba hp ku berdering.
“Mas, cepat pulang, ketuban saya sudah pecah,” kata istriku.
“ Apa?? Pe..pe..pecah??” aku pun terkejut bukan main. Langsung aku tutup hpku dan segera mengendarai motorku untuk menuju rumah. Sesampai disana mertuaku sudah memanggil taxi, terlihat istriku sudah ada didalam.Tanpa aku bertanya taxi itu sudah melesat meninggalkanku.
“ Aztagfirulohhaladzim, Ya Allah…apa yang harus aku lakukan” pikirku. Tanpa pikir panjang aku pun segera mengejar taxi yang membawa istriku menuju rumah sakit.
***
Sesampai di rumah sakit istriku langsung ditangani oleh dokter, aku dan mertuaku menunggu di luar. Beberapa menit kemudian dokter keluar dan mengatakan padaku bahwa malam ini juga istriku harus dicesar. Hatiku sungguh tak karu-karuan, keringat menetes begitu deras dan jantungku berdetak begitu cepat. Apa yang akan terjadi pada istri dan anakku nanti. Sebetulnya untuk masalah biaya rumah sakit, aku tidak khawatir karena aku dan istriku sudah mempunyai BPJS. Tapi entah kenapa aku masih diam seribu bahasa.
“Maaf Pak bagaimana keputusannya? Kami sebagai dokter harus dapat menyelamatkan dua-duanya” jelas dokter tersebut. Dan aku pun masih bingung.
“To, Anto ayo kamu putuskan malam ini juga. Kasihan kan anak dan istrimu?” mertuaku coba membujukku.
“Baiklah Bu,” jawabku.Akhirnya aku pun menyetujuinya. Segera kutanda tangani persetujuan operasi cesar tersebut. Setelah itu istriku langsung di bawa ke ruang operasi. Aku dan mertuaku menunggu dengan cemas dan sambil berdoa pada Tuhan supaya di beri kelancaran.
***
Aku dan mertuaku masih menunggu dengan cemas, kata dokter operasi cesar berlangsung satu jam. Gelisah di dada dan keringat dingin bercucuran, aku membayangkan berapa ukuran anakku nanti. Aku hanya berharap semoga istri dan anakku baik-baik saja. Akhirnya terdengar suara bayi dan seorang perawat keluar dari ruang operasi sambil membawa seorang bayi.
“Pak ini putranya sudah lahir,” kata perawat itu padaku.
“Alhamdulilahirobilalamin,” jawabku sambil berkaca-kaca. Mertuaku pun merasa senang. Saya pun mengikuti perawat menuju runag bayi.
“Sus, anak saya laki-laki atau perempuan?” tanyaku.
“Laki-laki pak,” jawabnya.
“Alhamdulilahirobilalamin,” ucap syukurku tiada hentinya kepada Allah.Lalu aku pun segera memberi nama putraku : ‘Muhammad Yaafi‘
Setelah itu aku pun berwudhu dan segera mengadzani putraku,aku sungguh terharu dan sangat senang. Putraku mendengarkanku adzan sambil menggerak-gerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan.Setelah itu suster memberitahukan bahwa berat putraku 1,2 ons dan panjangnya 33 cm. Aku pun jadi sedikit khawatir. Suster pun kembali memberitahukan bahwa rumah sakit disini alatnya belum lengkap, oleh karena itu anakku akan dirujuk ke rumah sakit lain. Dan dengan berat hati aku pun menyetujuinya.
***
Malam telah menjelang, kepalaku terasa terbang melayang kerena memikirkan nasib anakku. Sementara itu istriku telah siuman dan berada di kamar pasien rawat inap. Tiba-tiba datang suster dan memberitahukan malam ini juga anakku akan di bawa ke rumah sakit lain. Tapi sebelum itu aku disuruh ke tempat administrasi. Setelah sampai disana aku di sodorkan oleh rincian perawatan putraku dari siang sampai malam ini. Aku pun terkejut bukan main jumlahnya delapan ratus ribu lebih. Anakku belum ikut BPJS jadi ia dikenakan biaya. Demi anakku aku pun langsung membayar tagihan tersebut. Setelah itu aku menemui istriku dan menceritakan semuanya. Dan istriku pun hanya dapat berdoa supaya semuanya baik-baik saja. Setelah berpamitan pada istri dan mertua aku dengan seorang suster yang membawa anakku segera naik mobil ambulan menuju rumah sakit rujukan. Setelah setengah jam perjalanan akhirnya sampailah kami ke rumah sakit yang di tuju.Anakku langsung ditangani dan di bawa ke ruang perinatologi, ruang yang khusus untuk anak usia 0-27 hari. Disana aku tidak seorang diri, ternyata banyak orang yang bernasib sama denganku. Wajah-wajah mereka terlihat penuh tanya, resah gelisah sangat jelas karena letih yang teramat sangat. Ada yang sudah terlelap dalam mimpi ada yang melamun seorang diri. Dan aku pun duduk termangu di kursi besi berwarna perak yang dingin menyengat bersama angin malam yang menusuk tubuhku.
***
Pagi yang penuh tanya telah tiba,aku pun segera bangun. Terdengar adzan shubuh menggema,aku segera pergi ke masjid. Dalam shalatku aku memohon kepada Allah supaya anak dan istriku ku cepat sehat. Istriku belum dapat menemaniku karena luka habis cesarnya belum kering dan harus menunggu seminggu untuk pemulihan. Setelah lama berdoa aku segera kembali ke tempat anakku dirawat. Disana aku hanya dapat memandangi anakku lewat kaca. Kasihan sekali melihat anakku yang penuh dengan alat-alat penolongnya. Dan aku hanya bisa meneteskan air mata dan berdoa pada Yang Maha Kuasa. Supaya anakku cepat diberi kesembuhan.
***
Seminggu telah berlalu,istriku kujemput dan kubawa ke rumah sakit. Istriku langsung masuk ke dalam dan menemani anak kita. Dia pun merasa sedih dan tak kuasa melihat anaknya terbaring di ruangan incubator. Hampir setiap malam tetangga dekat rumah silah berganti menggunjungi kami dan selalu memberikan kata supaya kita tetap sabar. Orang tuaku pun telah datang bersama ibu mertua, kami semua bertemu dan menginap di emperan ruang tempat anakku di rawat. Hampir tiap malam udara dingin menyerang, siang menjelang panas menyengat di badan. Hujan pun datang tiba-tiba tanpa diundang,badan ini kadang masuk angin dan lelah yang teramat sangat. Tapi semuanya seolah tak dipikirkan demi pewaris kami yang kami harap-harapkan cepat sembuh dari sakitnya.
***
Malam yang tak diharapkan pun datang,malam ke 21, saat aku dan istriku duduk dengan gelisah tiada kunjung usai. Tiba-tiba seorang suster menyuruh kami ke ruang anak kami. Di sana ada seorang dokter yang sedang menangani anak kami. Dan mengatakan anak kami kondisinya semakin menurun. Dan dia sedang berusaha sekuat tenaga memulihkan kondisi anak kami. Kami pun berharap semoga dokter itu bisa menyelamatkan buah cinta kami. Sudah hampir setengah jam
dokter itu sudah berusaha.
“Maaf Pak, Bu,saya sudah berusaha. Tapi Allah berkehendak lain, putra anda telah meninggal,” kata dokter itu dengan wajah sedih. Aku dan istriku tak sedikit pun menyangka bahwa buah hati kami telah pergi secepat itu.
“Innalilahiwainailaihi rojiuun,” kataku sambil menenangkan istriku yang menangis berlinang air mata menyesak di dada.
“Bun,Bunda..sudah jangan menagis,kita harus merelakan kepergian anak kita. Mungkin Allah berkehendak lain,mungkin ini jalan terbaik untuk anak kita,” jelasku pada istriku sambil memeluknya erat-erat.
Lalu aku pun memberitahukan kedua orang tua dan mertuaku,mereka pun langsung menangis sejadi-jadinya karena kehilangan cucu yang tercinta. Setelah anakku diurus oleh suster dan meyelesaikan administrasi kami pun langsung pulang ke rumah menggunakan mobil ambulans. Setelah sampai di rumah,lalu anakku pun langsung di mandikan di pakaikan kain kafan. Malam itu juga anakku di makamkan.Hatiku ikhlas menerima cobaan ini. Aku pun berdoa:” Ya Allah berilah Surgamu yang terindah untuk anakku, Aamiin…!”
Lumbir, Mei 2016
Tentang Penulis
Ari Vidianto, S.Pd.SD lahir di Banyumas, 27 Januari 1984, pekerjaan seorang Guru di SD N 2 Lumbir UPK Lumbir. Tinggal di Cikole RT 03 RW 02, Desa Lumbir Kecamatan Lumbir, Kabupaten Banyumas Jawa Tengah Kode Pos 53177. Saya suka menulis Puisi, Cerpen, Pantun, Lagu dan Geguritan. Sudah menerbitkan 2 buku karya tunggal berjudul “ Ibu Maafkan Aku”, “ Wajah-Wajah Penuh Cinta” , 17 buku Antologi dan banyak karya yang dimuat di Media Massa. No Hp 085726348627, Facebook Ari Vidianto, email : ari.vidianto@gmail.com








