Sastra Tanpa Lembaran Rupiah

Gerai Indonesia di Pameran Buku Frankfurt 2016, Jerman/Foto dw.com.

Sejak menjadi tamu kehormatan di Pameran Buku Frankfurt 2015 silam, Indonesia rajin mempromosikan sastra nasional di luar negeri. Upaya itu disokong oleh Litri, dana penerjemahan pemerintah, yang ironisnya minim dana.

“Suara kita perlu disampaikan,” kata Direktur Litri, Anton Kurnia, dalam sebuah wawancara. Sebab itu “penerjemahan sastra kita penting untuk memperkenalkan karya kita kepada dunia.”

Kesempatan tersebut muncul di arena Pameran Buku Internasional Frankfurt, Jerman. Sejak menjadi tamu kehormatan tahun silam, Indonesia mulai dilirik penerbit asing sebagai lahan menggali cerita. Terutama kehadiran penulis muda seperti Lakshmi Pamuntjak, Leila S. Chudori atau Eka Kurniawan yang tidak jengah bersinggungan dengan isu-isu sensitif bisa memperkuat daya pikat sastra nusantara.

Tapi berbeda dengan tahun lalu yang riuh, kali ini Indonesia tampil sederhana di Frankfurt Book Fair. Selain gerai nasional yang didesain modern menyerupai sawah terasering oleh duo Avianti Armand dan Andro Kaliandi, Indonesia cuma memiliki sebuah tenda kecil sebagai tempat pertunjukan.

Lewat lembaga penerjamahan itu, nantinya penerbit asing bisa meminta dukungan dana penerjemahan untuk karya-karya yang telah dibeli hak terbitnya. Insiatif tersebut diusung oleh Komite Buku Nasional sebagai bagian dari program promosi.

Terkendala Birokrasi

Tapi sebagaimana lazimnya, dana menjadi kendala terbesar mempromosikan sastra Indonesia di dunia. Rumitnya birokrasi di level pemerintah membuat promosi budaya lewat aksara itu sering terhambat.

Anton Kurnia misalnya mengklaim Litri kehilangan lebih dari 50% anggaran yang sudah dijanjikan tahun lalu. Hasilnya “penerjemahan buku yang bisa kami danai menjadi berkurang,” tutur Anton. Dari 200 judul buku, Litri cuma mampu mendanai lima penerjemahan.

“Persoalannya ada pada teknis birokratis,” kata Anton. Meski pemerintah berpandangan sama soal promosi sastra, “mereka belum bisa melepaskan diri dari aturan-aturan” yang mengikat tersebut, tambh direktur Litri itu.

Keberadaan Litri dinilai penting oleh banyak pihak. Pasalnya “menerjemahkan 200 halaman ke dalam bahasa Inggris menelan biaya sangat besar. Sementara kita tidak tahu bukunya laku apa tidak,” kata Sari Meutia, Direktur Utama Mizan Group.

“Kita sangat membutuhkan penerjemahan sastra. Jadi setelah diterjemahkan ke bahasa Inggris misalnya, penerbit asing bisa lebih mudah mempelajarinya dan mengapresiasi karya tersebut,” kata Siti Gretiani, Direktur Utama Gramedia. Dari sekitar 2000 judul yang diterbitkan rumah cetak terbesar Indonesia itu, tidak sampai 10% yang diadaptasi ke dalam bahasa asing. (Dikutif dari dw.com)

Puisi Arif Tunjung Pradana

Duka Masa Purba

Mereka berbisik kepada pepohonan “Tolong, kabarkan berita duka kami”. Perlahan kematian menjemput dengan khidmat, mereda dihantam ketidaksiapan melawan perubahan. Kehidupan-kehidupan baru bermunculan; berkembang-biak dengan leluasa dan tidak semestinya.

Jelaga kerinduan masa purba terus-menerus meraba tubuh-tubuh baru.

 

Membalas Perbuatan

Sekelompok pendosa menyembah dengan segala desakan pertolongan. Tuhan menunjukan jalan yang benar. Murka dan sesat segera menyelusup di tengah-tengah mereka, kemudian sesal dan sesak tumbuh dalam dada, pembuluh darah, dan pemikiran sempit mereka.

 

Pada Manusia

Aku hidup di sela-sela dirimu. Berbisik, bersembunyi, dan tumbuh pada lubang menganga dalam dadamu. Tuhan ataupun rajamu salah kaprah dalam bermuslihat.

Percayalah, neraka adalah tempat ternyaman untuk mencintai kehidupan.

 

Luka Kakiku

Kakiku meraba tanah bergema di pinggiran jurang dengan luka menganga pada bagian samping; tergores air mata. Seorang perempuan mencari-cari sebabnya.

Dalam jurang ada tubuh saling menuduh.

 

 

Arif Tunjung Pradana, lahir pada 16 Juli 1997 dan besar di tanah kelahirannya Wonogiri, Jawa Tengah. Mengenyam pendidikan di Universitas Sebelas Maret.

[Cerpen] Perempuanku

Oleh Pone Syam

(Tidak Ada Jarak Diantara Kita)
Aku hanya bisa memandanginya dengan mata nanar. Mulutku kaku untuk menyapa bahkan untuk sekedar menyebut namanya saja. Aku menelan air liur kepedihan membasahi hatiku yang terluka. Menyesal? Benarkan kata itu berlaku untukku?
Rahmatia, begitu orang memanggilnya. Dia gadis desa dengan segudang mimpi. Kecerdasannya mampu mengantarkannya pada cita-cita tertingginya namun tingkat kecerdasan itu tidak mampu beradaptasi dengan cinta pertamanya. Otaknya seperti lumpuh jika harus berdebat dengan realita kehidupan yang diselimuti manisnya cinta dan indahnya kebersamaan.
Atas nama cinta akupun merampas semua miliknya. Hidup dengan hartanya dan juga tubuhnya.
“Aku mencintaimu, ingin hidup selamanya denganmu. Jangan pernah berfikir tinggalkanku,” kalimat mengiba diiringi adegan berlutut dengan tetesan air mata palsu mampu untuk merobohkan pertahanannya.
Semua miliknya adalah milikku tanpa sadar bahwa aku lelaki biasa dengan segudang kebanggaan. Aku butuh pengakuan. Lalu aku membuatnya tak mampu hidup tanpaku.
Segudang cita-cita yang dia bawa dari kampung untuk diwujudkan di kota kini hancur lebur. Dunianya runtuh bahkan aku bisa yakin bahwa dia tidak akan pernah bangkit dan berakhir di rumah sakit jiwa.
Kecerdasannya tidak mampu mengimbangi logikanya. Dia seperti orang gila, berjalan tanpa arah dan tujuan, kakinya melangkah tanpa alas kaki. Membuat darah bercucuran ketika menginjak beling atau meringis perih sebab panasnya aspal.
“Ifal…ifal..ifal..­.” begitu mulutnya nyerocos menyebut namaku. Akupun bangga ketika semua orang seperti berdecak kagum dengan kehebatanku.
Lelaki biasa, tidak tampan dari golongan orang miskin. Bagaimana lagi aku membuktikan kehebatanku selain membuat orang mencintaiku terlihat tak mampu hidup tanpaku.
Kemudian aku kembali padanya. Aku tahu bahwa dia masih sangat terluka namun cinta yang tulus dan amat besar untukku mengalahkan segalanya. Dia kembali menjadi Rahmatia milikku seutuhnya. Memanjakanku dengan barang mahal yang tidak pernah mampu diberikan orang tuaku.
Uang memang segalanya bagiku dan hidup dari uang Rahmatia membuatku terpandang. Benar kata orang, meski kayu lapuk dan mati jika diselimuti berlian maka akan nampak indah, begitupun denganku terlihat begitu berkharisma hingga aku sadar bahwa di muka bumi ini bukan hanya aku yang menggilai uang, ada banyak diluar sana dan salah satunya adalah Susanti.
Aku jatuh cinta pada Susanti, seniorku di sekolah dulu dan kini bertemu dengannya. Statusnya sebagai janda kembang dengan harta berlimpah hasil gono gini dari pernikahannya dengan mantan anggota legislatif.
Logikakupun lumpuh ketika berhadapan dengan cinta. Semua harta pemberan Rahmata aku gunakan untuk membahagiakan Susanti hingga Rahmatia seperti orang gila mengejar ingin membunuh susanti.
“Pilih aku atau dia?” pertanyaan Susanti membuatku menentukan sikap dibawah terik mentari di jalan raya dan tentu saja aku memilih susanti dan membalap motorku meninggalkan Rahmatia yang menjerit menangis bahkan ikut mengejarku dengan motor yang dikendarainya namun nasibnya naas, dia menerobos lampu merah dan tertahan oleh polisi lalu lintas, dari kaca spion aku bisa melihat bagaimana dia berusaha lepas dan ingin mengejarku.
Tak ada rasa bersalah bahkan ketika dia menelfon dan mengirimkan pesan tentang keberadaannya di kantor polisi. Aku dan Susanti malah tertawa dan bersyukur dengan keadaannya. Itu kali terakhir aku melihat Rahmatia dan aku melanjutkan hidupku dengan bahagia bersama Susanti.
Semua tidak berjalan indah sesuai inginku. Harta susanti ludes dengan gaya hidup kami. Susanyi menuntutku untuk menghasilkan uang banyak tetapi aku tidak bisa berbuat apapun. Terlintas dibenakku untuk memanfaatkan Rahmatia tetapi tak ada yang tahu keberadaannya. Rumah miliknya telah dijual dan tak ada jejak untuk bisa mencarinya.
Lalu aku dan susanti menjalani hidup bak neraka hingga seseorang menawarkan surga dunia dengan pekerjaan mudah. Cukup menjadi kurir barang haram, aku dan susanti kembali hidup mewah tetapi itu tidak berlangsung lama, Susanti tertangkap sedangkan aku… Berakhir disini, menyusun skenario hidupku sendiri.
Penjara sangat menyeramkan bagiku sebab itu aku memilih untuk pura-pura gila agar terlepas dari jeratan hukum.
-….-
Rahmatia berbalik kemudian tersenyum kearahku. Aku ingin menjerit seperti ketika dia aku tinggalkan tetapi itu akan membuatnya menyadari kebohonganku.
Rahmatia menarikku untuk duduk dibawah pohon tepat di halaman rumah sakit jiwa tempatku diobati.
“Kau tidak usah membohongiku,” katanya memulai percakapan namun aku tidak ingin mwnghentikan sikapku, bersiul dan bermain seperti orang gila sesungguhnya.
“Aku sudah mengisi kelengkapan berkasmu, aku sudah disumpah. Tidak akan berbohong meski untuk orang yang aku cintai,” kata-kata Rahmatia membuatku tertegun dan melupakan bahwa aku sedang berakting menjadi orang gila.
“Jalani ifal.. Di depan masih terbuka lebar masa depan lebih baik,” katanya lirih dengan mata berkaca.
“Tidak untukku Rahmatia,” desahku.
“Aku bisa memberimu kehidupan seperti yang kau inginkan,” ucapnya lagi lalu beranjak dari duduknya.
“Aku tidak berhak untuk kau cintai,” kalimatku menghentikan langkahnya. “Aku tidak pantas untuk kau tunggu,” kataku lagi tertunduk dan terisak. Rahmatia berbalik dan tersenyum.
“Aku tahu itu, sayangnya cinta tak kenal logika,” jawabnya lalu berbalik meninggalkanku. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Dicintai seperti itu membuatku siap menghadapi kejamnya jeruji besi.[]

 

Pone Syam, lahir 19 November 1988 di Kota Makasar. Perempuan yang punya rnama lengkap Rahmayunawati Syam, lulus dari SMU Negeri 1 Tamalate, saat ini tengah memfokuskan diri dalam menulis prosa. Sementara –katanya, sebelum berharap ada penerbit yang tertarik karya-karya tersebut ia simpan di blog pribadinya

Tentang Makna Intertekstualitas

Intertekstualitas adalah pembentukan makna teks dengan teks lain. Kata intertekstual meliputi: kiasan, kutipan, calque, plagiarisme, terjemahan, pastiche dan parodi. Ketepatan konteks adalah perangkat sastra yang menciptakan ‘hubungan timbal balik antara teks’ dan menghasilkan pemahaman yang terkait dalam karya terpisah (“Intertekstualitas”, 2015). Referensi ini dibuat untuk memengaruhi pembaca dan menambahkan lapisan kedalaman ke teks, berdasarkan pengetahuan dan pemahaman pembaca sebelumnya.

Intertekstualitas adalah strategi wacana sastra (Gadavanij, n.d.) yang digunakan oleh penulis dalam novel, puisi, teater dan bahkan teks-teks non-tertulis (seperti pertunjukan dan media digital). Contoh intertekstualitas adalah pinjaman dan transformasi penulis dari teks sebelumnya, dan referensi pembaca tentang satu teks dalam membaca yang lain.

Intertekstualitas tidak memerlukan kutipan atau referensi tanda baca (seperti tanda petik) dan sering keliru untuk plagiarisme (Ivanic, 1998). Intertekstualitas dapat diproduksi dalam teks menggunakan berbagai fungsi termasuk kiasan, kutipan dan referensi (Hebel, 1989). Namun, intertekstualitas tidak selalu disengaja dan bisa dimanfaatkan secara tidak sengaja. Seperti yang ditulis oleh filsuf William Irwin, istilah “telah memiliki makna yang hampir sama banyaknya dengan pengguna, dari orang-orang yang setia dengan visi asli Julia Kristeva kepada mereka yang menggunakannya sebagai cara yang bergaya untuk membicarakan kiasan dan pengaruh”

Jenis
Intertekstualitas dan hubungan intertekstual dapat dipisahkan menjadi tiga jenis: wajib, opsional dan tidak disengaja (Fitzsimmons, 2013). Variasi ini bergantung pada dua faktor kunci: maksud penulis, dan pentingnya referensi. Perbedaan antara jenis ini dan perbedaan antara kategori tidak mutlak dan eksklusif (Miola, 2004) namun dimanipulasi dengan cara yang memungkinkan mereka hidup berdampingan dalam teks yang sama.

Wajib
Intertekstualitas wajib adalah ketika penulis dengan sengaja meminta perbandingan atau keterkaitan antara dua teks (atau lebih). Tanpa pra-pemahaman atau kesuksesan ini untuk ‘memahami tautan’, pemahaman pembaca terhadap teks dianggap tidak memadai (Fitzsimmons, 2013). Intertekstualitas wajib bergantung pada pembacaan atau pemahaman tentang hipotesis sebelumnya, sebelum pemahaman penuh tentang hiperteks dapat dicapai (Jacobmeyer, 1998).

Contoh
Untuk memahami konteks dan karakter spesifik dalam ‘Rosencrantz and Guildenstern’ milik Tom Stoppard adalah Mati ‘, seseorang harus terlebih dahulu mengenal’ Hamlet ‘Shakespeare (Mitchell, n.d.). Di Dukuh kami pertama kali bertemu karakter ini sebagai karakter kecil dan, saat plot Rosencrantz dan Guildenstern terungkap, adegan spesifik dari Hamlet benar-benar dilakukan dan dilihat dari perspektif yang berbeda. Pemahaman Hamlet hipotetis ini, memberi arti lebih dalam pada dalih karena banyak tema implisit dari Rosencrantz dan Guildenstern lebih mudah dikenali.

Pilihan
Intertekstualitas opsional memiliki dampak yang kurang penting terhadap signifikansi hypertext. Ini adalah hubungan intertekstual yang mungkin, namun tidak penting, jika dikenali, hubungannya akan sedikit mengubah pemahaman teks (Fitzsimmons, 2013). Opsional Intertekstualitas berarti adalah mungkin untuk menemukan koneksi ke beberapa teks dengan satu frase tunggal, atau tidak ada hubungan sama sekali (Ivanic, 1998). Maksud penulis saat menggunakan intertekstualitas opsional, adalah memberi penghormatan kepada penulis ‘asli’, atau memberi penghargaan kepada orang-orang yang telah membaca hipotesa tersebut. Namun, pembacaan hipotesis ini tidak diperlukan untuk memahami hypertext.

Contoh
Penggunaan intertekstualitas opsional mungkin sesuatu yang sederhana seperti karakter paralel atau alur cerita. Misalnya, J.K. Seri Harry Potter Rowling berbagi banyak kesamaan dengan trilogi Lord R. the Rings dari J. R. R. Tolkien. Mereka berdua menerapkan penggunaan mentor penyihir penuaan (Profesor Dumbledore dan Gandalf) dan sebuah kelompok persahabatan kunci dibentuk untuk membantu tokoh protagonis (anak laki-laki yang tidak bersalah) dalam usaha mereka yang sulit untuk mengalahkan seorang penyihir yang hebat dan untuk menghancurkan makhluk yang kuat (Keller , 2013).

 

Poststrukturalisme

Julia Kristeva adalah orang pertama yang menemukan istilah “intertekstualitas” dalam usaha mensintesis semiotika Ferdinand de Saussure – studinya tentang bagaimana tanda-tanda memperoleh makna mereka di dalam struktur teks – dengan dialogisme Bakhtin – teorinya yang menyarankan sebuah dialog terus-menerus dengan yang lain. karya sastra dan penulis lainnya – dan pemeriksaannya terhadap banyak makna, atau “heteroglossia”, dalam setiap teks (terutama novel) dan dalam setiap kata. Bagi Kristeva, “pengertian intertekstualitas menggantikan gagasan” intersubjektivitas “ketika kita menyadari bahwa makna tidak ditransfer langsung dari penulis ke pembaca namun dimediasi melalui, atau disaring oleh,” kode “yang disampaikan kepada penulis dan pembaca melalui teks-teks lain. Misalnya, ketika kita membaca Ulysses karya James Joyce, kita dapat memecahkan kode itu sebagai eksperimen sastra modernis, atau sebagai tanggapan terhadap tradisi epik, atau sebagai bagian dari percakapan lain, atau sebagai bagian dari semua percakapan ini sekaligus. Pandangan intertekstual ini literatur, seperti yang ditunjukkan oleh Roland Barthes, mendukung konsep bahwa makna sebuah teks tidak ada dalam teks, namun diproduksi oleh pembaca dalam hubungan tidak hanya dengan teks yang dipermasalahkan, tetapi juga jaringan teks kompleks yang dipanggil di dalam teks. proses membaca.

Teori post-strukturalis yang lebih baru, seperti yang diformulasikan dalam Daniela Caselli’s Beckett’s Dantes: Intertekstualitas dalam Fiksi dan Kritik (MUP 2005), meneliti kembali “intertekstualitas” sebagai produksi dalam teks, bukan sebagai rangkaian hubungan antara teks yang berbeda.  Beberapa teoretikus postmodern suka membicarakan hubungan antara “intertekstualitas” dan “hiperteksualitas” (jangan dikelirukan dengan hypertext, istilah semiotik lain yang diciptakan oleh Gérard Genette); intertekstualitas membuat setiap teks menjadi “neraka neraka yang hidup di bumi” dan bagian dari mosaik teks yang lebih besar, sama seperti setiap hypertext dapat menjadi jaringan tautan dan bagian dari keseluruhan World Wide Web. Memang, World Wide Web telah berteori sebagai wilayah unik intertekstualitas timbal balik, di mana tidak ada teks tertentu yang mengklaim sentralitas, namun teks Web akhirnya menghasilkan citra komunitas – kelompok orang yang menulis dan membaca teks menggunakan strategi diskursif spesifik

Seseorang juga dapat membuat perbedaan antara pengertian “intertext”, “hypertext” dan “supertext”. [Rujukan?] Ambil contoh Kamus Orang Khazars oleh Milorad Pavić. Sebagai sebuah interteks, ia menggunakan kutipan dari tulisan suci agama-agama Ibrahim. Sebagai hypertext, itu terdiri dari link ke artikel yang berbeda dalam dirinya sendiri dan juga setiap lintasan pembacaannya. Sebagai supertext, ia menggabungkan versi pria dan wanita dari dirinya sendiri, serta tiga kamus mini di setiap versi.

Ragam Ketentuan
Beberapa kritikus mengeluhkan bahwa di mana-mana istilah “intertekstualitas” dalam kritik postmodern telah memenuhi syarat dan nuansa penting. Irwin  menyesalkan bahwa intertekstualitas telah melampaui kiasan sebagai objek studi sastra sementara tidak memiliki definisi jelas, Linda Hutcheon berpendapat bahwa ketertarikan yang berlebihan terhadap intertekstualitas menolak peran penulis, karena intertekstualitas dapat ditemukan “di mata orang yang melihatnya” dan tidak mengandung maksud seorang komunikator. Sebaliknya, dalam A Theory of Parody Hutcheon mencatat parodi selalu menampilkan seorang penulis yang secara aktif mengkodekan sebuah teks sebagai tiruan dengan perbedaan kritis. Namun, ada juga upaya untuk menentukan jenis intertekstualitas yang lebih ketat.

Sarjana media Australia John Fiske telah membuat perbedaan antara apa yang dia labelkan ‘vertikal’ dan ‘horizontal’ intertekstualitas. Intertekstual horizontal menunjukkan referensi yang ada pada tingkat yang sama yaitu ketika buku membuat rujukan ke buku lain, sedangkan keterkaitan vertikal ditemukan saat, misalnya, sebuah buku merujuk pada film atau lagu atau sebaliknya. Semenatara Ahli bahasa Norman Fairclough membedakan antara ‘manifest intertextuality’ dan ‘intertextuality konstitutif’. Yang pertama menandakan elemen intertekstual seperti prasuposisi, negasi, parodi, ironi, dan sebagainya. Yang terakhir ini menandakan keterkaitan fitur diskursif dalam teks, seperti struktur, bentuk, atau genre. Intertekstualitas Konstitutif juga disebut interdisipasif, meskipun demikian, umumnya interdisccerivity mengacu pada hubungan antara formasi teks yang lebih besar.

Kiasan
Sementara intertekstualitas adalah istilah sastra yang kompleks dan multilevel, seringkali membingungkan dengan istilah ‘allusion’ yang lebih santai. Alusi adalah referensi yang lewat atau santai; penyebutan sesuatu secara langsung atau implikasinya (“Plagiarisme”, 2015). Ini berarti hubungan ini sangat erat kaitannya dengan intertekstualitas yang bersifat wajib dan kebetulan, karena ‘kiasan’ bergantung pada pendengar atau penampil yang mengetahui tentang sumber aslinya. Hal ini juga dilihat sebagai kebetulan Namun, karena biasanya frasa yang sering digunakan atau sering digunakan, arti sebenarnya dari kata-kata tersebut tidak sepenuhnya dihargai. Alusi paling sering digunakan dalam percakapan, dialog atau metafora. Misalnya, “Saya terkejut hidungnya tidak tumbuh seperti Pinocchio’s.” Ini membuat referensi untuk Petualangan Pinokio, yang ditulis oleh Carlo Collodi saat boneka kayu kecil itu terletak (YourDictionary, 2015). Jika ini adalah intertekstualitas wajib dalam sebuah teks, beberapa referensi untuk ini (atau novel lain dengan tema yang sama) akan digunakan di seluruh hypertext.

Plagiat
“Intertekstualitas adalah area dengan kompleksitas etis yang cukup besar” (Share, 2006). Karena keterkaitan, menurut definisi, melibatkan penggunaan pekerjaan sesekali dengan tujuan yang sama tanpa kutipan yang tepat, seringkali keliru untuk plagiarisme. Plagiarisme adalah tindakan “menggunakan atau meniru bahasa dan pemikiran penulis lain tanpa otorisasi-” (“Plagiarisme”, 2015). Sementara ini tampaknya mencakup intertekstualitas, maksud dan tujuan penggunaan karya orang lain, adalah apa yang memungkinkan keterkaitan dimasingkan dari definisi ini. Bila menggunakan intertekstualitas, biasanya merupakan cuplikan kecil hipotetis yang membantu pemahaman tema, karakter, atau konteks awal hypertext (Ivanic, 1998) yang baru. Mereka menggunakan sebagian dari teks lain dan mengubah maknanya dengan menempatkannya dalam konteks yang berbeda (Jabri, 2004). Ini berarti bahwa mereka menggunakan gagasan orang lain untuk menciptakan atau meningkatkan gagasan baru mereka sendiri, bukan sekadar menjiplak mereka. Intertekstualitas didasarkan pada ‘penciptaan gagasan baru’, sementara plagiarisme sering ditemukan dalam proyek berdasarkan penelitian untuk mengkonfirmasi gagasan Anda. “Ada banyak perbedaan antara meniru pria dan memalsukannya” (Benjamin Franklin, n.d).

 

Konsep terkait

Ahli bahasa Norman Fairclough menyatakan bahwa “intertekstualitas adalah masalah rekontekstualisasi”. [14] Menurut Per Linell, rekontekstualisasi dapat didefinisikan sebagai “transfer dan transformasi dinamis sesuatu dari satu wacana / teks dalam konteks … ke yang lain”.Recontextualization dapat relatif eksplisit-misalnya, ketika satu teks secara langsung mengutip yang lain-atau yang secara implisit-seperti ketika “makna” generik yang sama diartikan kembali di berbagai teks yang berbeda. 132-133

Sejumlah ilmuwan telah mengamati bahwa rekontontikasi dapat memiliki konsekuensi ideologis dan politik yang penting. Misalnya, Adam Hodges telah mempelajari bagaimana pejabat Gedung Putih mengontrontkan dan mengubah komentar jenderal militer untuk tujuan politik, menyoroti aspek yang menguntungkan dari ucapan umum sambil meremehkan aspek yang merusak. Ulama retoris Jeanne Fahnestock telah menunjukkan bahwa ketika majalah populer mengkontemplasikan kembali penelitian ilmiah, mereka meningkatkan keunikan temuan ilmiah dan memberikan kepastian yang lebih besar mengenai fakta yang dilaporkan. Demikian pula, John Oddo menemukan bahwa wartawan Amerika yang meliput pidato U.N. pidato Colin Powell mengubah nuansa Powell saat mereka mengkontemplasikannya kembali, memberikan tuduhan Powell dengan kepastian dan kemungkinan yang lebih besar dan bahkan menambahkan bukti baru untuk mendukung klaim Powell.

Oddo juga berpendapat bahwa rekontextualization memiliki tandingan berorientasi masa depan, yang ia dubs “precontextualization”. Menurut Oddo, precontextualization adalah bentuk intertekstualitas antisipatif dimana “sebuah teks memperkenalkan dan memprediksi elemen dari sebuah peristiwa simbolis yang belum terungkap”. Misalnya, Oddo berpendapat, wartawan Amerika mengantisipasi dan melihat dulu alamat UN di Colin Powell. , menggambar wacana masa depannya menjadi hadiah normatif.

(berbagai sumber)

 

Puisi Ratna Ning

Uphoria Sisingaan

Gendang ditabuh gamelan bertalu
Senja pada sebuah euphoria
Kau tlah patahkan gelak
Dari niat dari tekad
Irama rancak
Menyongsong beban
Di pundakmu kau bukanlah tuan-tuan
Tapi hamba yang menjungjung tinggi titah
Mengarak sebuah prasasti janji
Hingga mencapai destinasi

Lalu pertarungan bukanlah serupa kepalan tinju
Tapi bersatunya sebuah gerakan pencak dalam irama bersahabat
Tak terbacakah Tuan?
Lihatlah si bocah kecil tertawa, meliukkan kedua tangannya ke udara
Wajahnya merona jingga, tersipuh sorot lembayung yang merangkak senja
Dia si kecil yang diarak para abdi
Bersatu dalam sebuah tandu
Digotong serempak, bergoyang dan bergerak dalam keseragaman laku
Langkahnya meski maju dan terkadang mundur
Tapi tak ada keraguan saat menapak
Yakin, Pasti
Hingga tiba ke pusat sebuah euphoria
Lalu ketika tandu-tandu itu menjejak
Para hamba tersenyum…Bangga

“Nak! Kami tlah memberimu kenangan indah hari ini
Yang akan terus membekas hingga wajah kami pudar dari album-album terlindas masa”

***

Kepergian

Kau tlah katakan tentang jejak
Yang membekas usai gerimis
Dan bukan saja kita cerita tentang rindu yang ranggas
Ketika kepergian merampas siang dan malam kita
Lalu engkau akan berhenti sesaat
Menatap rembulan dalam mata bocah-bocah tercinta
Kemudian senyap di ruang tamu, di meja makan
Di jeda kita bersenda
Perbincangan tentang mimpi-mimpi yang coba kau nakwilkan
Ahh, aku akan menantimu tanpa syarat
Dalam notasi-notasi sunyi, syimponi akan tetap berkumandang

Untuk Sebuah Catatan Usang
Seperti juga Engkau,
Akupun belajar mengeja jejak
Lewat hujan,
Dan airmataku sembunyi dalam curahnya
Seperti juga Engkau
Akupun belajar mengurai kata
Yang berserak dan tak sempat terbaca
Seperti juga Engkau Tuan,
Akupun belajar pada riak air
Yang tenang mengkamuflase gejolak
Tapi ketika aku belajar menyempurnakan catatan
Lewat sekumpulan Fatwa, Nakwil dan Titahnya
Aku tak seperti Engkau, Tuan
Karena menuju jalan Rabbaniku
Itulah rangkuman dan sinopsis
dalam ensiklopedi Akbar ini
***

Di Lorong Pangsapuri, Perempuan itu

Aku kenal ia..
Perempuan yang membisu rangkuli jejak hidup
Sudahlah banyak cerita sia-sia
Dari sekian purnama ia tinggalkan rumah rapuhnya pada ranah kecil yang tlah kehilangan rindu buat ia pulang
Aku kenal ia
Pada keterasingan
Dari keterbuangan aku hingga ranggas di negeri berantah
Aku kenal ia
Seorang perempuan yang dongakkan dagu menjalani kerancuan nasib
Hidup yang menyerah di kubangg gelap
Atau seperti kunang-kunang yang melayang kitari malam, tanpa cahaya.
Aku kenang ia, kini
Perempuan yang sembunyikan pedihnya
Yang meredamkan suara isaknya
Yang membuka topeng rapuhnya, suatu malam di lorong pangsapuri kumal

***
Batu Sembilan, 2014

 

Biodata:
Ratna Ning lahir di Subang tabggal 19 september. Mulai menulis sejak tahaun 1994. Tyulisan pertamanya di muat di media massa remaja populer Kawanku th. 1994. Aktif jadi freeancer sampai tahun 2005. Sepat vakum karena sibuk bekerja, pada tahun 2013 kembali aktif menulis. Buku-bukunya terbit secara antologi dan indie. Ratna Nng sekarang mengasuh rubrik sastra dan budaya di website Subang.

Baca juga Cerpen Ratna Ning

Catatan Mata dan Imaji Liar

Oleh  Otang K.Baddy

Mana kopi, mana? Duh betapa candu ini begitu lekat, hingga tanpa dengannya jiwa ini seakan sekarat. Rokok, mana rokok? Tanpamu kehidupan ini seakan dingin!

Entahlah, saat menulis ini saya benar-benar ngantuk. Padahal saya seharusnya jangan ngantuk, apalagi jika sampai tertidur. Mungkin selain perut saya terlalu banyak isi juga karena  terlalu banyak minum kopi yang terlalu manis. Harapan utuk melek sampai dini hari sepertinya bakal kandas terjegal diraja kantuk.

Masalahnya saya ini bukan pekerja keras, selain kerjanya harus tak terlalu banyak tidur, terlebih jika malam hari. Pun  seharusnya jangan terlalu banyak makan, terlebih saat-saat waktunya tak tidur. Kenapa harus demikian, karena jika saya banyak tidur –apalagi sampai lebih dari enam jam hasilnya bakal puyeng.

Apa tidak merusak kesehatan? Demikian mungkin Anda  bertanya. Jawabnya, entahlah, dalam sesi ini saya seakan tak memikirkan apakah saya ini sehat atau tidak. Yang penting tubuh terasa ringan, pikiran serasa terang dan tenang. Namun bukan berarti karena rasa terang atau rasa tenang itu kemudian saya harus bernyanyi riang, bertralala-trilili, bersiul-siul seperti kutilang. Tidak. Melainkan malah harus selalu berhati-hati, sebab dalam ketenangan itu nyatanya malah banyak ancaman. Benda-benda yang semula dikira mati, kaku membisu  itu seketika menjadi hidup. Riap daun, gerimis, suara serangga, desir angin dlsb termasuk juga kentut menjadi daya pukau tersendiri yang mesti disikapi secara arif. Sebab kalau tidak ia akan jadi prasangka yang mengambang, samar rupa maupun rasa. Kalau tak menyejukan kadang harmoni itu bisa saja menyakitkan yang berujung pada kematian.  Terlebih matinya hati  dimana ia sebagai sopir dalam mengarungi kehidupan ini.

Apakah itu sebuah ilusi?
Saya tak bisa menjawab ya atau pun tidak sebab semua yang terjadi dan saya alami itu kadang seperti mimpi. Seperti mimpi yang jadi kenyataan. Ketika saat itu saya mau ngopi, bagaimana pun proses dan caranya saya bisa merasakan nikmatnya kopi. Ketika seorang tampak ramah, ia memberiku seulas senyum. Ketika orang-orang tampak suka hati ini merasa lega.

Ya, seperti mimpi yang jadi nyata. Kendati saya bukan ahli tafsir soal mimpi tapi dapat menarik kesimpulan dari yang telah saya baca dari pengalaman yang telah terjadi. Jadi bukan menafsirkan dulu, melainkan membaca jejak sebelumnya. Orang bijak janganlah melupakan sejarah, kelam maupun terang kisah masa lalu adalah ilmu yang mesti dihayati. Ambil yang baik dan campakan buruknya. Namun bukan berarti harus seutuhnya meniru seperti zaman tersebut di mana menyiratkan pelajaran kepada kita, melainkan cerdas-cerdaslah mengerjapkan mata dan pandangan. Jika masa lalu orang-orang menggosok gigi pakai sabut kelapa, daun ilalang atau serbuk batu bata, kini tak perlu. Begitu pun seandainya dulu konon manusia berpakaian dengan kulit kayu, kini juga tak harus. Lagi pula kulit kayu apa yang pantasnya kini bisa dijadikan pakaian.

Ada yang perlu digarisbawahi di celoteh ngawur ini. Yakni soal mimpi, mimpi di sini pengertiannya mutlak mimpi saat tidur. Bukan mimpi/impian yang artinya sebuah harapan. Mimpi dikejar-kejar ular, dikejar hewan lainnya macam sapi atau babi, pertanda apakah itu. Sekali lagi saya bukanlah ahli tafsir, terlebih tafsir mimpi. Namun semula menyangka saat mimpi didatangi seekor ular akan bertemu ancaman mematikan. Tapi maaf, ini hanya dalam versi mimpi saya, terlebih dalam mimpi itu ular yang menjumpai saya tampaknya gemulai dan jinak. Kata orang jika seorang lelaki yang mimpi tersebut dalam kehidupan nyatanya tengah dikejar seorang wanita.

Diuber wanita? Oih..
Saya mulai mengingat-ingat itu. Kendati kesannya tak perkasa saya ini memang lelaki. Dan pernah mimpi diikuti ular –bukan dikejar. Lantas mencocokannya dengan kehidupan sehari-hari saat itu. Saat baru merebaknya penggunaan telpon seluler, seketika saya pun ikut  tergila dengan barang yang bak sakti tersebut. Entah kenapa saat itu banyak telpon nyasar, mungkin dari mereka yang sekadar melacak nomor. Maka tersangkutlah saya dengan seorang wanita. Ya, sekedar gombal-gombal gitulah, tapi ia seperti tergila dan bahkan ingin sekali bertemu dengan saya. Wuih….. Tapi untunglah dari rentetan peristiswa meningkatnya perceraian rumahtangga akibat korban penyalahgunaan gadget tersebut saya tak ikut terlibat. Demikianlah kesimpulan mimpi dikejar ular dalam versi saya.

Bagaimana jika mimpi  dikejar hewan lainnya? Saya belum mengalami selain hanya mimpi diseruduk sapi dan diikuti monyet. Biasanya ada orang yang iri dan maunya hendak mengenyahkan kita dari kehidupan ini. Sebelumnya saya tak pernah percaya kalau cuma ‘katanya’. Apalagi saya bukan ahli tafsir mimpi, namun ya seperti apa yang telah saya ceritakan di atas. Saya ingat-ingat ada permasalahan apa dalam kehidupan sehari-hari. Selidik punya selidik ternyata sebab akibat dari sengketa masalah perbatasan tanah. Dari batas pagarnya yang kerap melebar dan nyerobot ia tampak mau memiliki tanah itu. Lantas soal monyet yang kerap mengikuti atau hendak mencakar, ya hampir sama dengan mimpi diseruduk sapi. Namun jika yang tampak monyetnya setengah manusia dan berujud hitam itu berasal dari mahluk genderuwo, yang kerap disuruh-suruh oleh majikannya. Tentu masalahnya tak jauh dengan yang disebut iri dengki dan mengharap kekayaan tak wajar. Mereka bersekutu dengan mahluk halus sebagai balatentara yang dipelihara demi keserakahan duniawi. Dari ekonomi, karir maupun pembangunan yang dirancang kita, ia tak suka dengan kemajuan orang lain.  Makanya,  jangan heran jika siang mereka seperti manusia dan malam menggentayang seperti binatang buas yang mencari mangsa.

Dalam hidup ini kadang banyak sekali penyamaran dan kesannya seperti terbalik. Yang hitam dikemas putih, sebaliknya yang putih kadang sengaja dibungkusnya dengan yang hitam. Biasanya yang putih (yang asli) tak mau kentara. Intinya kebenaran, kejujuran kerap kali bersembunyi dan tidak menggembor-gemborkan diri. Semua biar kita sebagai mahluk yang berbudi mau berpikir.

Solusi yang terbilang gampang-gampang susah untuk menangkal hal buruk macam gambaran mimpi tadi tiada lain jangan terlalu banyak tidur. Setidaknya sejak waktu Asar sampai tengah malam lebih sedikit. Sebab pengaruh buruk itu kerap nyebarnya di saat-saat seperti itu. Biasanya jika akan datang pengaruh buruk tersebut  perbawanya ngantuk berat. Apalagi jika sebelumnya terlalu banyak makan lemak. Kesimpulannya, tentu saja selain ucap perilaku yang baik kita harus rajin meronda. Meronda berarti terjaga, menjaga lingkungan dari pengaruh jahat yang hendak merongrong. baik di lingkungan luar maupun dalam diri ini. Meronda di sini bisa juga diartikan berdzikir, membaca ayat-ayatmu yang tertulis di kertas semesta. Dengan rajin meronda, ibaratnya setelah Hp dicharger segala pengoperasiannya akan terasa cling!

Wualah, kok jadi ngawur ya. Tapi tak apa lah judulnya pun kan ada imajinasi liarnya, Jadi tak terikat dengan topik tertentu. karenanya jika kamu tak suka dengan celoteh ini segera beranjak dari konten ini. Atau jika terasa puyeng mendingnya ngopi saja. Aduh jadi kepikiran mau ngopi.

“Ngopi, Mang?  Ayo..!”
“Tidak ah, nanti tak bisa tidur!”
“Ah, moso iya?”
“Iya, Kang.”
Kok bisa gitu, ya?
Aneh, kalau saya setelah minum kopi tetap saja ngantuk. Memang saat meminumnya tidak karena air kopi itu hangat. Masuk dan melintas tenggorokan, “bray”, sebelum kemudian meredam isi di lambung. Cairan itu mendingin, maka ngantuklah.

“Paling susah jika terbangun tengah malam sulit tidur lagi. Malam terasa panjang, namun jelang pagi atau waktu subuh kantuk itu menyerang. Tidur sejenak sebelum kemudian pagi bangun, duh puyengnya. Bahkan puyengna tak juga hilang sampai malam berikutnya.”

Bersebrangan. Ngopi jadi tak enak, terlebih menurutnya ngopi merupakan tindakan yang royal dan buang duit. Begitu pun merokok, di samping boros anggaran juga akan cepat membunuhmu. Karena itu aku tak suka kopi, apalagi rokok, sebab kedua-duanya merupakan pembunuh!

Kalau begitu terserah kamu mau apa, jika ngantuk tidurlah. Sebab seperti yang telah saya ceritakan tadi minum ngopi –sekalipun kopi hitam, tetap saja tak bisa menjamin sampai tengah malam melaksanakan ronda. Tetap saja kewalahan dan terkapar tak berdaya. Tak tahu peristiwa apa yang terjadi dalam detik, menit, atau jam-jam berikutnya..

Aduh, ngantuk berat nih. padahal sebelumnya saya hendak meneruskan cerita tentang ketiduran sejak sore hari dan malamnya terjadi seperti huru-hara. Dalam keadaan siuman saya mendengar suara sorak-serai. Ternyata telah terjadi kebakaran di rumah tetangga. Di lain sesi, ketika siuman saya mendengar teriakan histeris istri saya dan  setelah diketahui anak sulung saya muntah darah. Yang jadi pertanyaan kenapa saya yang tidur di kamar tak diketahui. Orang-orang malah mencari saya ke tempat jauh seraya nelpon-nelpon yang katanya Hp saya tak aktif karena sengaja dimatikan.

Kecolongan lagi, coy! Padahal telah saya perhatikan dan cemas sebelumnya ketika ia tidurnya bak sembunyi dalam gowok. Kenapa kamar itu tak dipasang lampu, jadi gelap gulita. Bagaimana kalau si kegelapan itu menjegal. Ya, seperti pada pohon beringin yang hijau rindang  di tepi jalan itu. Kesannya gelap, lembab. Terlebih pohon itu memayungi sumur di bawahnya. Di tikungan lagi adanya. Kendati saat purnama, karena kerindangan itu tetap saja gelap. Karenanya tak heran jika imajinasi ini mencipta sesuatu di balik gelap itu. Ada sosok yang entah berupa apa, begitu seram dan bulu kuduk merinding. Ya, karena imajinasinya kuat maka tumbuh di hati, hingga yang terbayang itu jadilah nyata. Nyata gelap. Terlebih hati yang gelap menebak yang gelap.

Ngopi dulu, coy!

Gitu, ngerti juga kau. Pemilik pabrik pengolahan kayu itu akhirnya memasang lampu di batang pohon beringin tersebut. Kan kalau terang hati ini juga jadi terang, tak ada hantu atau makhluk halus di sana. Ngerti juga ya kamu. Pasti seneng ngopi, ya. Tentu  satu selera, kopi hitam yang kadang bisa membuat lambung ini perih. Tapi kendati perih kamu tak akan cengeng karena dibalik rasa sakit itu setidaknya tak cepat ngantuk..

Oya, karena lambung ini terasa perih, tunggu saya akan obati dengan buah pisang rajasiem. Pasti perihnya hilang. Tunggu, ya…nanti dilanjut lagi…

***

Ya, menang semua tak terlepas dari masalah ngopi. Ngopi malam minggu di Pos Ronda lingkungan keRT-an. Oh iya, dirasa-rasa dunia seperti kembali ke zaman dulu, ya? Ada pos ronda lagi. Ada penilaian mengenai prestasi atas kekompakan warga dan kebaikan bangunan gardunya. Lantas diberi nilai, siapa yang menang itu juara. pak RT yang Posnya jadi juara tersenyum, sementara nyengir kuda bagi yang nilainya buruk. Padahal enak katanya, bagi pencinta bola tak ada alasan lagi untuk malas keluar rumah, soalnya di pos juga ada tivinya. Ya cuma seminggu sekali kok..moso gk dateng..

Tapi saya kurang serius nonton bola, apalagi jika tim yang didukung mainnya  tak konsen, terlebih jika gawangnya  sudah kebobolan 1 atau 2 gol. Satu gol tak semangat apalagi jika kekalahannya sampai 4-0, 5-0 dan seterusnya. Bikin gemes lah.

Tapi untung saja ngeronda malam minggu ada yang nraktir kopi dan rokok. Enak lah. Biarlah yang lain nonton bola atau melihat  tayangan lainnya. Sebagian main gapleh. Bagus lah, demikian pikiran saya. Ya itu karena ada kopi lah. Ngomong ngalor ngidul, tentang masa kini dan masa lalu. Pokoknya cocoklah!

Karenanya saat ibu saya butuh dironda malam itu, saya sampai tega meninggalkannya karena tergila mau ngopi di pos ronda. Segelas kopi dan dua batang rokok tandas sudah. Saya tersentak dan  bergegas ketika pukul satu dini hari  sms dari istriku mengabarkan ibu tiada. Eh, ternyata saat itu belum mutlak. Cuma kesadarannya telah hilang. Mungkin kalau kata isyilah  Mas Parman yang aslinya telah tiada.

Yang asli dari istilah sedulur papat kelima pancer. Pancernya telah pulang. Yang bergerak-gerak bak pikun itu katanya yang terbuat dari empat anasir, empat cahaya, yakni dari tanah, api, air dan angin. Mereka merupakan energi, ibaratnya sebuah mesin yang tanpa operator karena operatornya telah pergi memenuhi panggilan Illahi. Minggu siang ibu belum juga sadar, ia seperti lupa pada dunia dan lupa siapa yang berada di dekatnya. Matanya biasa berkedip-kedip, ia seperti tak merasakan sakit. hanya saja mesin itu tak ada pengemudinya. Jasad itu terus melemah, hingga sampai hari Senin pagi ia dikebumikan menyusul orang-orang terdahulu.

Malam setelah kepergiannya kembali saya ngopi, bahkan ngopinya agak unik, yakni depan keranda..

 

 

Mengenal Pemandian Kaki Gunung Pandan Aceh Tamiang

 
 Objek wisata pemandian alam di Kaki Gunung Pandan yang terletak di ‎Kampung Selamat, Dusun Pandan perlahan makin terkenal dan ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah di Aceh.
Objek wisata yang memang terletak jauh dari kota ini, tepatnya di Kecamatan Tenggulung, Kabupaten Aceh Tamiang, telah berdampak positif bagi perekonomian masyarakat setempat.

Tempat pemandian yang dikenal sebagai Pemandian Gunung Pandan ini sangatlah asri, karena air pegunungan mengalir bersih dan segar. Banyak pengunjung dari berbagai penjuru daerah datang ke Pemandian Gunung Pandan ini.

Tidak hanya masyarakat Aceh yang datang untuk menikmati keindahan alam di Gunung Pandan, pengunjung dari Kota Medan ramai terlihat..


Menurut Tamrin Ketua Pengelola tempat pemandian, lokasi rekreasi ini dirintis oleh masyarakat setempat pada tahun 2013.
Dan pada saat itu dinas pariwisata memberi bantuan berupa kamar ganti, mushola, dan pondok tempat para pengunjung beristirahat.

Tetapi masih membutuhkan perhatian dari pemerintah untuk dapat membangun tempat pemandian yang lebih baik.

Ditambahkan Tamrin, penahan air atau dam yang rusak perlu untuk diperbaiki dan juga belum adanya jembatan penyeberangan, serta sebagian jalan menuju tempat pemandian belum di aspal.

Masyarakat mengakui sangat terbantu dengan adanya tempat pemandian ini, sehingga masyarakat dapat meningkatkan perekonomian dan dapat mengurangi pengangguran.

“Untuk pekerja ada 50 orang termasuk tim SAR dan para pengaman parkir, serta masyarakat dapat berjualan makanan di tempat itu, sangat membantu sekali,” ujar Tamrin saat ditemui wartawan WartaKepri.co.id, Kamis (29/6/2017) lalu.

Tamrin juga mengatakan, pengunjung datang setiap harinya, pada hari libur atau pun hari besar bisa mencapai 2.000 – 4.000 orang pengunjung.

” Maka dari itu sangat diharapkan perhatian lebih dari pemerintah untuk bisa memperindah alam wisata yang sudah di garap oleh masyarakat setempat, menjadi tempat wisata yang mendunia,” tutup Tamrin pada Ria dari Wartakepri.

Sumber Air Panas Kaloy

catatan: Indra Nasution  – tamiangtraveller

Bagi masyarakat Tamiang sendiri mungkin sudah tidak asing lagi dengan objek wisata yang satu ini karena memang sempat jadi buah bibir lantaran keunikannya. Mereka (pengunjung) banyak yang terheran-heran, bagaimana mungkin ada sumber air panas di daerah Kaloy, sementara tidak ada Gunung berapi disana. Tetapi tidak usah diragukan lagi, pemandian air panas di daerah kaloy ini memang ada.

Pemandian air panas kaloy ini berlokasi di Desa Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu, Aceh Tamiang. Kami mencoba merekam suasana Wisata alam air panas desa Kaloy ini dari Kuala Simpang dengan harus menempuh sekitar 2 jam perjalanan. Jarak antara pusat kota “pulo tiga” menuju objek wisata ini kurang lebih 15 Km dengan kondisi jalan berbatuan terjal dan naik turun bukit. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kondisi jalan menuju wisata ini sudah sedikit membaik karena lokasi air panas ini sejalan dengan pabrik pemecah batu yang di bangun di pedalaman desa kaloy sehingga akses jalan pelan tetapi pasti mulai diperbaiki. Tetapi mungkin masih butuh waktu lama bagi masyarakat kaloy untuk berharap jalan menuju lokasi wisata ini di aspal.

Jalan menuju Air panas kaloy ini sejalan dengan jalan menuju “Kuala Paret”, jadi sangat disayangkan jika kamu pergi ke Kuala Paret tetapi tidak singgah sebentar berendam melepaskan penat badan di sumber air panas ini. Rugii.iiii rugii……

Saran :

” Jika ingin ke kuala Paret, lebih baik pergi pada pagi hari jadi kamu punya waktu untuk singgah sebentar ke sumber air panas Kaloy, kemudian menikmati pemandangan alam di Goa Kalamuning karena kedua lokasi ini sebelum Kuala Paret”.

Setiba kami disana memang tidak tampak ada masyarakat sekitar yang berjualan dan menjaga parkiran seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Yang ada hanya beberapa orang pekerja proyek pembuatan jalan.

Tempat air panas ini memang sangat indah karena kita disuguhkan dengan pemandangan perbukitan yang alami dan aliran sungai kaloy di bawahnya. Pemandian Air Kaloy ini tampak seperti alur kecil yang airnya mengalir deras dari celah-celah batuan cadas hingga ke sungai Kaloy. Nah..loh  air yang mengalir dari batuan cadas ini hangat dan bau belerang sangat terasa menyengat, terlihat memang adanya belerang di endapan aliran sumber air panas ini.

Sayangnya objek wisata yang satu  ini tampak dibiarkan seperti apa adanya, sehingga terkesan tidak ada upaya untuk membuat cagar wisata alam. Kami malah harus membuat kolam sendiri yang disusun dari batu-batu sungai untuk berendam di air panas ini.

Mandi di mata air panas alami bermanfaat mengembalikan kesegaran tubuh, meregangkan otot yang tegang, dan membuat tubuh lebih rileks. Dan memang Setelah beberapa menit berendam badan memang terasa lebih ringan tetapi tubuh berkeringat. Ditambah lagi dengan lokasinya yang pure alami dengan eksotisnya pemandangan alam. Jadi sangat disayangkan jika sumber air panas ini tidak dikelola dengan baik oleh Pemda Aceh Tamiang.

Nah ini dia serunya, karena sumber air panas ini berdekatan dengan sungai Kaloy setelah berendam beberapa menit kami langsung berenang-renang dan jump clift di aliran sungai. Jika musim kemarau, air sungai kaloy ini menjadi lebih bersih dan berwarna kebiru-biruan.

Setiap akhir pekan atau liburan, tempat ini selalu ramai di datangi wisatawan local Walaupun dengan kondisi sumber air panas kaloy yang tidak dikelola seperti itu. Mudah-mudahan Pemda Aceh Tamiang dapat segera mengelola air panas ini karena bukan hanya menambah PAD, tetapi juga masyarakat yang sekitar sangat terbantu dengan banyaknya wisatawan yang datang ke lokasi ini[]

Home
About Me  Tamiangtraveller.com

Hi, nama saya Indra Nasution. Saya tinggal di Aceh Tamiang, Indonesia. Saya seorang guru yang senang traveling dan berbagi pengalaman dan skill yang saya punya. saya suka mencari potensi wisata alam dan pergi ke tempat-tempat wisata yang belum pernah dipublikasikan orang sebelumnya karena banyak hal yang tak terduga bisa dinikmati dari perjalanan traveling saya selama ini. 

 

Puisi: M Ivan Aulia Rokhman

Ilusi Langit Api

Ilusi mengutuk neraka
Mimpi-mimpi tak percaya
Binasalah liang lahat pada kiamatmu
Terpapan sebuah nama
Dalam kumpulan kertas
Bakar sia-sia
Sampai menjelang matimu
Dan terpapan sepenah jiwamu

Ajaib waktumu
Sedangkan disana sangat teduh
Jika membawa peluru api
Hujan api menyangga mulutmu
Sungguh parah yang tak ditentukan
Selaras belenggu setan membidikmu
Bukan lagi di dunia
Namun lebihkan di akhiratmu

Surabaya, 18 Juli 2017

Membayangkan Sosial Media

Lintas sosial media di otakmu
Sebelah mana yang ditampilkan
Maklum jika terpasang foto mesum
Maklum jika membaca kata buruk
Maklum jika membaca dibentrok habis
Setelah terkepung belahan jiwamu
Segenap dirimu akan melusuh

Deringkan belenggu pada padi merah
Membesuk lalai dengan sendirinya
Setelah itu akan diusapkan samudra jiwamu
Seakan-akan alunan musik terpaku hampa
Begitu pula rindu dan kenangan akan lepas sebulan lagi
Tangan meleleh hingga tanpa sadar
Habislah sudah riwayatmu

Surabaya, 18 Juli 2017

Siapakah Dirimu?

Belum seberapa kenal
Menunggu sekian tahun yang berjumpa
Seperti puisi diarungi jiwamu
Seluk beluk di belah namamu
Seperti mengusang dening keangkuhanmu
Kemudian terisah tangis

Namamu siapa?
Asal darimana dirimu?
Setelah lama-lama tersiar pada nadi-nadi jiwamu
Terlumpuh orang tanpa dikenal
Kenapa sampaikan satu suara
Tanpa lirik apapun seberapa jauh ku kenang

Surabaya, 18 Juli 2017

Penjabat Terlibat Koruptor

Koruptor merebah dimana-mana
Tersanjung uang di hangus
Melipat jarak di antara lebah-lebah penjabat
Libatkan hampa kepada serdadu merah
Menutup mata langsung diadili
Baca pikiran masa lalu

Yang tersimpan peristiwa begitu tak lazim
Seperti biasa tak mampu diampuni dosa
Bukan lagi doa yang dipanjatkan
Hanya menggema sayup-sayup terlentang jari
Sakit tiada alasan lagi
Bahwa hidup di dunia hanya sementara

Surabaya, 18 Juli 2017

Belenggu Gadis Manja

:Agustha Ningrum

Selepas setahun
Tinggalkan segala pertemanan
Kini meninggalkan segala kepunahan
Sama seperti selimut bayang-bayang malam
Elegi gadis manja meninggalkan api merebah
Sebelum mengayomi suami
Lupa dengan kami

Belenggu tanpa sebab
Tak lekang dimana-mana
Hadirkan segala yang disembunyikan
Mengeming nada-nada keperihanmu
Semua tak lagi bertemu

Surabaya, 18 Juli 2017

Video Viral

Video semata-mata terkenal
Seolah-olah dikenal karena dinilai sosok setia
Inilah di viral ke berbagai sosial media
Mengiring orang dilihat pada video tersebut
Dijaga oleh jaksa agung
Bila terhangus sia-sia
Hukum dunia dan akhirat akan ditimbang

Surabaya, 18 Juli 2017

BIODATA PENULIS

M Ivan Aulia Rokhman, Lahir di Jember, 21 April 1996. Mahasiswa Universitas Dr Soetomo. Karyanya dimuat di koran lokal dan Nasional. Beberapa puisinya juga dimuat dalam antologi Bukan Kita (2017), My Teacher (2017), Syair dalam Nada (2017). Bergiat di FLP Surabaya, dan Komunitas Serat Panika. Seorang Penulis ditengah Berkebutuhan Khusus.

Telepon/WA : 083830696435
Email : rokhmansyahdika@gmail.com”>rokhmansyahdika@gmail.com
Facebook : M Ivan Aulia Rokhman
Alamat Korespondensi : Jalan Klampis Ngasem VI/06-B, Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur, 60117

[Cerpen] Si Janin

Oleh: Zainuddin KR     

         Mestinya pada usia lima bulan si janin tak perlu resah atau bimbang memikirkan masa depannya. Sebab Tuhan , Yang Maha Rahman-Rahim telah memberikan jaminan pada setiap makhluk ciptaanNya. Artinya tidak dibeda-bedakan. Dan segala wewenangNya diserahkan sepenuhnya kepada para malaikat, dengan tugas masing-masing yang harus dipatuhi. Namun entah kenapa sang malaikat yang baru saja meniupkan roh pada si janin itu tiba-tiba tak berdaya. Ia merasa iba ketika menatap daging yang mulai bergerak-gerak pada rahim sang perempuan itu.

Malaikat itu tak mampu lagi terbang ke langit tingkat tujuh, dimana tempat bersemayamnya Loch al Mahfudz. Sayap-sayap yang telah diberikan Tuhan  untuk segala tugasnya bagaikan hilang fungsi.

“Cepatlah terbang sana, segeralah singgah di Loch al Mahfudz, ulislah  nasib saya di sana sesuai janji Tuhan!” ujar si Janin setengah berteriak, dan teriakan itu membuat malaikat semakin gemetar. Kewenangan Tuhan yang diberikannya merasa tidak mutlak.

“Pergilah secepatnya sebelum didahului para setan yang selalu ingin merontokkan daunan pohon itu!” tegas si janin merasa tak sabar, ketika dilihatnya malaikat itu bersimpuh pada dirinya. “Jangan bersimpuh pada saya, sujudlah pada Tuhan dan patuhi perintahNya. Segeralah ke sana, tuliskan nasib saya! Tuliskan nasib saya!”

“Demi Tuhan, nasibmu mutlak milikNya,” malaikat itu berucap datar, ”Aku diutus cuma memberimu gerak dari kebekuan. Coba tanyakan pada bapakmu, ada maksud apa dia menampung spermanya di rahim ibumu.”  Lalu malaikat itu merangkak sebisanya. Keluar dari rahim perempuan yang mengandung si Janin.

Dan perempuan ibunya si janin itu bergegas menyambut sang malaikat dengan wajah sumringah. Ia tergopoh-gopoh memanggil-manggil suaminya yang tengah rapat di bale desa, membahas soal pembebasan tanah warga.

“Akang, pulang dulu Kang,” rujuk perempuan itu pada suaminya. Semua mata yang ikut rapat itu menoleh. “Biarlah tak usah dipikir tentang ganti rugi yang tak seberapa itu,Kang. Tak ada nilainya uang sedikit di zaman sekarang dibanding tamu yang bertandang ke rumah kita. Malaikat..Kang!”

Suami perempuan itu terbelalak. Demikian juga Pak Lurah yang saat itu memimpin rapat pun melotot. Kaget dan juga campur kesal karena konsentrasi rapat sesaat buyar karena kedatangan perempuan itu. Walau mangkel, lelaki itu melangkah mendekati istrinya yang mengajak pulang.

“Lihatlah Kang, malaikat itu kemari membawa kabar baik,” kata perempuan itu sesampainya di rumah, mengarahkan pandangan suaminya di ruang tamu. Namun suaminya tak melihat siapa-siapa di sana.

“Si Janin sudah hidup Kang, sekarang sudah bisa bergerak-gerak. Dia sudah minta dibikin rujak. Sudah minta ditingkebi. Ya..sesuai adat kita, setiap usia Janin lima atau tujuh bulan harus ditingkebi. Kata ajengan acara tingkeban atau kekeba, adalah merupakan bukti ucapan terimakasih kita kepada Tuhan yang akan memberi kita anak. Ya..tasyakuran begitu.”

Lelaki itu menatap istrinya dengan tajam. Ia khawatir, bahwa istrinya telah terkena gangguan jiwa akibat akan terjadinya penggusuran.

“Ini lho tuan, suami saya masih tak percaya dengan apa-apa yang telah terjadi. Padahal dia seharusnya gembira dengan kabar baik ini.”

Malaikat yang diajak bicara itu tiba-tiba menghilang dari hadapan perempuan itu. Ia tak sanggup, tak tega, atau mungkin tak merasa perlu menyampaikan perihal yang dialami oleh Janin dalam rahim perempuan itu.

“Hah, malaikat itu telah pergi Kang!?” kata perempuan itu merasa kaget. Lalu ia segera memburunya, tapi tidak tahu kemana malaikat itu perginya. Hanya saja sebelum terbang ia sempat mendengar pesan; “si Janin sekarang urusan kalian”.

Perempuan itu terus melangkah. Tapi tidak ada sesuatu pun yang ditemuinya dalam perjalanan itu. Pohon-pohon sudah ditumbangkan, rumputan sekeliling pada mengering, dangubuk-gubuk telah rata dengan tanah. Tapi tiba-tiba ia dikejutkan oleh sesuatu yang menghadang langkahnya, ia berdiri tegak di depan hidungnya. Dari sayup-sayup suaranya yang terdengar, menandakan bahwa sesuatu itu adalah bisikan jaman, yang sngaja dilahirkan.

“Arahmu menuju jalan buntu”, kata buldoser.

“Saya mau mencari malaikat, adakah ia melewati jalanan ini?” kata perempuan itu.

“Saya tak kenal malaikat, tugas kami hanya melaksanakan pembangunan yang rasional,” jawab besi baja.

“Malaikat dan Tuhan adalah urusan orang yang kalah perang, atau gagal membentuk dirinya dengan akal, lalu mereka berhamburan mencariNya untuk mengadukan nasibnya,” tukas beton-beton sembari mengusir perempuan itu.

Perempuan itu mengalihkan langkahnya, ia menuju jalanan lain. Di jalan ini, jalan yang baru pertamakali dilaluinya. Banyak sekali peristiwa yang dijumpainya. Ayam, kambing, kerbau, sapi dan binatang-binatang ternak lainnya berbaris memadati jalan.

“Kalian mau kemana?” tanya perempuan itu pada ayam.

“Kami mau mencari pasar,” jawab kambing.

“Tuan-tuan kami pada sibuk dengan dirinya sendiri. Kami tidak sempat dirawat, tak dipiara secara wajar. Dan kandang-kandang kami sengaja dimusnahkan,” sapi menyela, “tapi kami telah ditakdirkan bangsa hewani. Menentang tuan berarti kami binasa dan akan dibantai,” lanjutnya kemudian, “Terpaksa akhirnya kami bersepakat menjual diri ke pasar-pasar.”

**

Suara adzan menggema dari atas munara masjid. Perempuan itu termangu memandang langit. Di ufuk barat tampak warna kuning kemerah-merahan. Berarti sudah waktu magrib. Di saat itu, seketika perempuan itu menemukan malaikat, bahkan malaikat itu memapahnya menuju Tuhan. Setelah mengambil air wudhu di kali kecil, lalu shalat dan membaca wirid. Tubuhnya terasa hangat

dalam dekapan Tuhan. Tapi tiba-tiba ketika ia ingat pada suaminya yang ditinggal di rumah tanpa pamit,  mendadak seluruh tubuhnya menggigil. Peluh dan keringat mengucur. Lalu perempuan itu terjatuh. Pingsan.

Warga berdatangan, mereka menyambut dengan rasa gembira. Suaminya sibuk menyambut para tamunya, mengatur ini dan itu. Perempuan itu pun seketika menguakkan bibirnya, meski ada kecemasan menggurat di dalam batinnya. Tersenyum. Si Janin yang baru saja terlahir dari rahim sang ibu menangis sekeras-kerasnya. Warga masyarakat yang menyambut kelahiran itu tak ada sedikitpun yang memahami kenapa bayi itu menangis. Termasuk juga ibu bayi itu, karena sewaktu hamil bulan kelima terlalu bangga, sewaktu kedatangan malaikat, ia terlalu bangga dan bahagia atas

kehamilannya. Hingga ia tak sempat memikirkan bagaimana nasib si Janin kelak. Malaikat pun tak sempat memberikan keterangan padanya. Ayah si bayi apalagi, suami perempuan yang melahirkan bayi itu sama sekali tak mengerti apa yang dimaui anaknya. Lelaki itu meng-adzani bayi itu, dan si bayi meloncat keluar dari raganya, ia membiarkan dirinya menangis sekerasnya dan ditonton oleh warga masyarakat.

Si Janin, bayi itu berlari menghambur mencari malaikat. Malaikat yang bertugas meniupkan roh dulu, sedang sibuk berdiskusi pada sesama malaikat lainnya. Mereka membahas sekitar masalah dan ikhwal mengenai tulisan nasib sang Janin – yang hingga kini sudah terlahir—belum tercatat dalam daunan pohon yang berada di Loch al Mahfudz, karena daunan itu telah rontok oleh para setan yang biadab. Mereka tidak menghendaki janin-janin yang lahir kelak dapat dengan leluasa menghendaki nasibnya sendiri.

“Mana tulisan nasib saya..! Mana tulisan nasib saya..!” teriak si bayi sebelum memasuki ruang rapat para malaikat, “Mana hak-hak saya, mana warisan saya..!” lanjutnya.

“Wahai Tuhan, siapa yang telah merampas warisan yang Kau berikan kepada saya. Dan, kalian para malaikat; kembalikan lagi saya kepada asal-muasal saya jika kalian tak sanggup mengembalikan hak-hak saya.”

Hiruk-pikuk suasana rapat jadi kacau, diskusi pun dihentikan.

“Baiklah, karena asalmu dari tanah, akan aku kembalikan lagi kepada tanah,”kata salah satu malaikat.

“Tidak, kerna ia berasal dari air, akan aku kembalikan kepada air,” kata malaikat yang lain.

“Akan aku kembalikan seperti udara, kerna ia berasal dari udara,” kata malaikat satunya lagi.

“Aku yang lebih berwenang mengembalikan dirinya menjadi api kembali, kerna ia diciptakan dari api,” kata malaikat ke-empat.

“Terserah kalian, pokoknya saya tak mau menyaksikan dunia yang retak-retak. Tuhan juga berfirman; manusia agar dipatri tetap utuh. Tapi siapa yang mau jadi tukang las di jaman kini, maka

kembalikan lagi saya kemana saja sebagaimana dulu kalian mengambil asal-muasal kejadian saya”.

Para malaikat itu sibuk. Masing-masing berusaha mengembalikan kepada asal-muasal sang bayi. Tapi dengan penuh ketakutan dan keletihan, malaikat pertama gagal mengembalikan si Janin

pada tanah. Sebab semua tanahnya sudah tergusur, dan menjadi hijau ranau serta terdapat banyak lubang-lubang setan di dalamnya.

Malaikat kedua, kembali dengan wajah keruh dan tubuh lesu tanpa membuahkan hasil. Ia tidak tega membiarkan si Janin terhanyut dan tenggelam ke dalam sungai berlimbah. Dan dengan tergopoh-gopoh malaikat ke-tiga kembali tetap bersama si Janin. Katanya; kini tiada lagi udara yang bersih , polusi pabrik  industri telah dengan seenaknya terbang mengotori angkasa. Berikutnya, malaikat yang ke-empat, melaporkan bahwa api kini telah seenaknya membakar gubuk-gubuk dan membiarkan para penghuninya kehilangan tempat berteduh. “Maka, tidak aku kembalikan si Janin pada api.”

“Baiklah, kalau kalian tidak sanggup mengembalikan kepada asal-muasal terjadinya saya, biarlah saya akan memilih nasib saya sesuka hati. Jangan salahkan jika terpaksa saya membantai para perampok nasib-nasib saya dan janin-janin lain setelah saya.”

Si Janin perlahan melangkah menuju hidup yang buram. Dan sejenak ia berhenti menundukkan kepalanya. “Tuhan, ijinkanlah saya hidup sengsara!@

(Catatan: Cerpen karya Zainuddin Kr ini pernah dimuat di SKM Swadesi tahun 90-an dan diketik ulang oleh admin. Karenanya mohon  maaf jika ada pengetikan maupun susunan paragraf yang tak semestinya)

Puisi: Eddy Pranata PNP

SEJARAH KECIL ‘WEISKU DAN NUEIKU’

sekecil apa pun ‘weisku memendam rasa benci pada nueiku’
sebesar apa pun nueiku’ menaruh harapan pada ‘weisku
matahari dan bulan menjadi saksi
dalam segala perubahan musim
dan orang-orang pergi menyeret sunyi dengan pedih hati
‘weisku, hanya engkau yang paham pada malam yang turun perlahan
dengan kunang-kunang melintas-lintas di atas taman bunga

 

(entah sejak kapan, diam-diam ‘weisku jatuh hati
pada lelaki yang selalu berjalan sepanjang malam
dengan menimang kunang-kunang)

 

terkadang nueiku’ seperti melihat seorang dalam rasa sakit
melintas– terhuyung seraya memegang dadanya yang rapuh
dan panas-dingin yang tak kunjung sembuh
: apakah ia maut? nueiku’ kian menua dalam ruang kian sunyi
(ia terlanjur menabur keringatnya di laut yang maha luas
apakah ia benar-benar bisa lepas dari kepungan ombak?)
ia memejamkan mata: ia lihat langit jingga
ia lihat seseorang tersaruk-saruk
menuju ruang hati ‘weisku
april demam: nueiku’ belajar bagaimana menelan pahitnya
kehidupan agar mei manis di tenggorokan
nyaman sepanjang bulan
seberapa sering engkau susah tidur?
nueiku’lah imsonianis kambuhan yang selalu ingin menemanimu
kesendirianmu dan kesunyianmu
dalam larik-larik sajak pendek ‘weisku
seseorang yang selalu menyusuri jalan paling sunyi
berbisik di telinga ‘weisku dengan sangat hati-hati
: “bahkan keringat yang mengucur dari tubuhmu
tidak akan mampu memperbaiki masa depanmu
andai engkau tidak pernah membasuh tubuhmu dengan
embun di atas dedaunan sebelum cahaya pagi!”
hati ‘weisku pualam, nueiku’ penjaganya
agar tak retak hingga berabad-abad
dalam hujan menderas
ia temukan jasad rindumu serupa pisau
berkilat tajam
hendak mengiris hati-jiwamu?
ou, ‘weisku, irislah!

(maaf bila ia lupa menyematkan anggrek ungu
di rambut di atas telinga kananmu
padahal telah ia kecup keningmu
ia seret juga masa lalumu yang lama membeku
ke taman kota yang jauh)
nueiku’ bertekuk-lutut; hatinya remuk
perempuan bergamis-berhijab hitam menatapnya dengan mata teduh
lalu tidak acuh dan sibuk membersihkan musala dan halamannya
lalu melangkah pelan ke barat laut
ribuan sayap malaikat mengurung tubuhnya yang menyala
dan kemilau; nueiku’ lebur!
kepada nueiku’ selalu aku tekankan dengan kata-kata yang keras
: jangan buang-buang usiamu hanya berkelakar dengan nasib
piuhlah keringat, kayuhlah sampan berlumut
sebelum karang melipat ombak, sebelum maut menjemput
piuh keringat sajakmu sekarang jua!
Cirebah, 26 April sd  8  Mei 2016

KETIKA SENJA MENGAPUNG

ketika senja mengapuñg dan airmatamu pecah juga, mungkin aku tengah berlatih musikalisasi dan baca puisi untuk pertunjukan sosial anak zaman yang getir: gersuas– malam lusa di kampungku yang jauh dan senyap tetapi bukankah engkau tengah berpesta dengan ratusan temanmu, mestinya engkau paham bahwa keberpihakanku pada keserbakekurangan orang lain  selalu saja menghanyutkanku, merobek-robek serat hatiku sekecil apa pun, sesederhana apa pun aku ingin mengulurkan tangan puisiku, o, tangan puisiku, chin!

Cilacap, 23 Juli 2015

 

SEPERTI DANGDUT

engkau terlalu manis untukku, chin

aku sangat tidak tahu malu menyatakan perasaanku

walau sambil bercanda dan lalu berlari

seperti dangdut; kau orang kaya, aku orang tak punya

dan dirimu tergelak-gelak

entah karena senang atau mungkin hanya menganggap lucu saja

entahlah, yang jelas; dirimu memang terlalu manis, chin!

Cilacap, 22 Juli 2015

 

Eddy Pranata, Lahir 31 Agustus 1963 di Padang Panjang, Sumatera Barat. Sekarang tinggal di Cirebah –sebuah dusun di pinggiran barat Banyumas, Jawa Tengah.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai