Oleh: Zainuddin KR
Mestinya pada usia lima bulan si janin tak perlu resah atau bimbang memikirkan masa depannya. Sebab Tuhan , Yang Maha Rahman-Rahim telah memberikan jaminan pada setiap makhluk ciptaanNya. Artinya tidak dibeda-bedakan. Dan segala wewenangNya diserahkan sepenuhnya kepada para malaikat, dengan tugas masing-masing yang harus dipatuhi. Namun entah kenapa sang malaikat yang baru saja meniupkan roh pada si janin itu tiba-tiba tak berdaya. Ia merasa iba ketika menatap daging yang mulai bergerak-gerak pada rahim sang perempuan itu.
Malaikat itu tak mampu lagi terbang ke langit tingkat tujuh, dimana tempat bersemayamnya Loch al Mahfudz. Sayap-sayap yang telah diberikan Tuhan untuk segala tugasnya bagaikan hilang fungsi.
“Cepatlah terbang sana, segeralah singgah di Loch al Mahfudz, ulislah nasib saya di sana sesuai janji Tuhan!” ujar si Janin setengah berteriak, dan teriakan itu membuat malaikat semakin gemetar. Kewenangan Tuhan yang diberikannya merasa tidak mutlak.
“Pergilah secepatnya sebelum didahului para setan yang selalu ingin merontokkan daunan pohon itu!” tegas si janin merasa tak sabar, ketika dilihatnya malaikat itu bersimpuh pada dirinya. “Jangan bersimpuh pada saya, sujudlah pada Tuhan dan patuhi perintahNya. Segeralah ke sana, tuliskan nasib saya! Tuliskan nasib saya!”
“Demi Tuhan, nasibmu mutlak milikNya,” malaikat itu berucap datar, ”Aku diutus cuma memberimu gerak dari kebekuan. Coba tanyakan pada bapakmu, ada maksud apa dia menampung spermanya di rahim ibumu.” Lalu malaikat itu merangkak sebisanya. Keluar dari rahim perempuan yang mengandung si Janin.
Dan perempuan ibunya si janin itu bergegas menyambut sang malaikat dengan wajah sumringah. Ia tergopoh-gopoh memanggil-manggil suaminya yang tengah rapat di bale desa, membahas soal pembebasan tanah warga.
“Akang, pulang dulu Kang,” rujuk perempuan itu pada suaminya. Semua mata yang ikut rapat itu menoleh. “Biarlah tak usah dipikir tentang ganti rugi yang tak seberapa itu,Kang. Tak ada nilainya uang sedikit di zaman sekarang dibanding tamu yang bertandang ke rumah kita. Malaikat..Kang!”
Suami perempuan itu terbelalak. Demikian juga Pak Lurah yang saat itu memimpin rapat pun melotot. Kaget dan juga campur kesal karena konsentrasi rapat sesaat buyar karena kedatangan perempuan itu. Walau mangkel, lelaki itu melangkah mendekati istrinya yang mengajak pulang.
“Lihatlah Kang, malaikat itu kemari membawa kabar baik,” kata perempuan itu sesampainya di rumah, mengarahkan pandangan suaminya di ruang tamu. Namun suaminya tak melihat siapa-siapa di sana.
“Si Janin sudah hidup Kang, sekarang sudah bisa bergerak-gerak. Dia sudah minta dibikin rujak. Sudah minta ditingkebi. Ya..sesuai adat kita, setiap usia Janin lima atau tujuh bulan harus ditingkebi. Kata ajengan acara tingkeban atau kekeba, adalah merupakan bukti ucapan terimakasih kita kepada Tuhan yang akan memberi kita anak. Ya..tasyakuran begitu.”
Lelaki itu menatap istrinya dengan tajam. Ia khawatir, bahwa istrinya telah terkena gangguan jiwa akibat akan terjadinya penggusuran.
“Ini lho tuan, suami saya masih tak percaya dengan apa-apa yang telah terjadi. Padahal dia seharusnya gembira dengan kabar baik ini.”
Malaikat yang diajak bicara itu tiba-tiba menghilang dari hadapan perempuan itu. Ia tak sanggup, tak tega, atau mungkin tak merasa perlu menyampaikan perihal yang dialami oleh Janin dalam rahim perempuan itu.
“Hah, malaikat itu telah pergi Kang!?” kata perempuan itu merasa kaget. Lalu ia segera memburunya, tapi tidak tahu kemana malaikat itu perginya. Hanya saja sebelum terbang ia sempat mendengar pesan; “si Janin sekarang urusan kalian”.
Perempuan itu terus melangkah. Tapi tidak ada sesuatu pun yang ditemuinya dalam perjalanan itu. Pohon-pohon sudah ditumbangkan, rumputan sekeliling pada mengering, dangubuk-gubuk telah rata dengan tanah. Tapi tiba-tiba ia dikejutkan oleh sesuatu yang menghadang langkahnya, ia berdiri tegak di depan hidungnya. Dari sayup-sayup suaranya yang terdengar, menandakan bahwa sesuatu itu adalah bisikan jaman, yang sngaja dilahirkan.
“Arahmu menuju jalan buntu”, kata buldoser.
“Saya mau mencari malaikat, adakah ia melewati jalanan ini?” kata perempuan itu.
“Saya tak kenal malaikat, tugas kami hanya melaksanakan pembangunan yang rasional,” jawab besi baja.
“Malaikat dan Tuhan adalah urusan orang yang kalah perang, atau gagal membentuk dirinya dengan akal, lalu mereka berhamburan mencariNya untuk mengadukan nasibnya,” tukas beton-beton sembari mengusir perempuan itu.
Perempuan itu mengalihkan langkahnya, ia menuju jalanan lain. Di jalan ini, jalan yang baru pertamakali dilaluinya. Banyak sekali peristiwa yang dijumpainya. Ayam, kambing, kerbau, sapi dan binatang-binatang ternak lainnya berbaris memadati jalan.
“Kalian mau kemana?” tanya perempuan itu pada ayam.
“Kami mau mencari pasar,” jawab kambing.
“Tuan-tuan kami pada sibuk dengan dirinya sendiri. Kami tidak sempat dirawat, tak dipiara secara wajar. Dan kandang-kandang kami sengaja dimusnahkan,” sapi menyela, “tapi kami telah ditakdirkan bangsa hewani. Menentang tuan berarti kami binasa dan akan dibantai,” lanjutnya kemudian, “Terpaksa akhirnya kami bersepakat menjual diri ke pasar-pasar.”
**
Suara adzan menggema dari atas munara masjid. Perempuan itu termangu memandang langit. Di ufuk barat tampak warna kuning kemerah-merahan. Berarti sudah waktu magrib. Di saat itu, seketika perempuan itu menemukan malaikat, bahkan malaikat itu memapahnya menuju Tuhan. Setelah mengambil air wudhu di kali kecil, lalu shalat dan membaca wirid. Tubuhnya terasa hangat
dalam dekapan Tuhan. Tapi tiba-tiba ketika ia ingat pada suaminya yang ditinggal di rumah tanpa pamit, mendadak seluruh tubuhnya menggigil. Peluh dan keringat mengucur. Lalu perempuan itu terjatuh. Pingsan.
Warga berdatangan, mereka menyambut dengan rasa gembira. Suaminya sibuk menyambut para tamunya, mengatur ini dan itu. Perempuan itu pun seketika menguakkan bibirnya, meski ada kecemasan menggurat di dalam batinnya. Tersenyum. Si Janin yang baru saja terlahir dari rahim sang ibu menangis sekeras-kerasnya. Warga masyarakat yang menyambut kelahiran itu tak ada sedikitpun yang memahami kenapa bayi itu menangis. Termasuk juga ibu bayi itu, karena sewaktu hamil bulan kelima terlalu bangga, sewaktu kedatangan malaikat, ia terlalu bangga dan bahagia atas
kehamilannya. Hingga ia tak sempat memikirkan bagaimana nasib si Janin kelak. Malaikat pun tak sempat memberikan keterangan padanya. Ayah si bayi apalagi, suami perempuan yang melahirkan bayi itu sama sekali tak mengerti apa yang dimaui anaknya. Lelaki itu meng-adzani bayi itu, dan si bayi meloncat keluar dari raganya, ia membiarkan dirinya menangis sekerasnya dan ditonton oleh warga masyarakat.
Si Janin, bayi itu berlari menghambur mencari malaikat. Malaikat yang bertugas meniupkan roh dulu, sedang sibuk berdiskusi pada sesama malaikat lainnya. Mereka membahas sekitar masalah dan ikhwal mengenai tulisan nasib sang Janin – yang hingga kini sudah terlahir—belum tercatat dalam daunan pohon yang berada di Loch al Mahfudz, karena daunan itu telah rontok oleh para setan yang biadab. Mereka tidak menghendaki janin-janin yang lahir kelak dapat dengan leluasa menghendaki nasibnya sendiri.
“Mana tulisan nasib saya..! Mana tulisan nasib saya..!” teriak si bayi sebelum memasuki ruang rapat para malaikat, “Mana hak-hak saya, mana warisan saya..!” lanjutnya.
“Wahai Tuhan, siapa yang telah merampas warisan yang Kau berikan kepada saya. Dan, kalian para malaikat; kembalikan lagi saya kepada asal-muasal saya jika kalian tak sanggup mengembalikan hak-hak saya.”
Hiruk-pikuk suasana rapat jadi kacau, diskusi pun dihentikan.
“Baiklah, karena asalmu dari tanah, akan aku kembalikan lagi kepada tanah,”kata salah satu malaikat.
“Tidak, kerna ia berasal dari air, akan aku kembalikan kepada air,” kata malaikat yang lain.
“Akan aku kembalikan seperti udara, kerna ia berasal dari udara,” kata malaikat satunya lagi.
“Aku yang lebih berwenang mengembalikan dirinya menjadi api kembali, kerna ia diciptakan dari api,” kata malaikat ke-empat.
“Terserah kalian, pokoknya saya tak mau menyaksikan dunia yang retak-retak. Tuhan juga berfirman; manusia agar dipatri tetap utuh. Tapi siapa yang mau jadi tukang las di jaman kini, maka
kembalikan lagi saya kemana saja sebagaimana dulu kalian mengambil asal-muasal kejadian saya”.
Para malaikat itu sibuk. Masing-masing berusaha mengembalikan kepada asal-muasal sang bayi. Tapi dengan penuh ketakutan dan keletihan, malaikat pertama gagal mengembalikan si Janin
pada tanah. Sebab semua tanahnya sudah tergusur, dan menjadi hijau ranau serta terdapat banyak lubang-lubang setan di dalamnya.
Malaikat kedua, kembali dengan wajah keruh dan tubuh lesu tanpa membuahkan hasil. Ia tidak tega membiarkan si Janin terhanyut dan tenggelam ke dalam sungai berlimbah. Dan dengan tergopoh-gopoh malaikat ke-tiga kembali tetap bersama si Janin. Katanya; kini tiada lagi udara yang bersih , polusi pabrik industri telah dengan seenaknya terbang mengotori angkasa. Berikutnya, malaikat yang ke-empat, melaporkan bahwa api kini telah seenaknya membakar gubuk-gubuk dan membiarkan para penghuninya kehilangan tempat berteduh. “Maka, tidak aku kembalikan si Janin pada api.”
“Baiklah, kalau kalian tidak sanggup mengembalikan kepada asal-muasal terjadinya saya, biarlah saya akan memilih nasib saya sesuka hati. Jangan salahkan jika terpaksa saya membantai para perampok nasib-nasib saya dan janin-janin lain setelah saya.”
Si Janin perlahan melangkah menuju hidup yang buram. Dan sejenak ia berhenti menundukkan kepalanya. “Tuhan, ijinkanlah saya hidup sengsara!@
(Catatan: Cerpen karya Zainuddin Kr ini pernah dimuat di SKM Swadesi tahun 90-an dan diketik ulang oleh admin. Karenanya mohon maaf jika ada pengetikan maupun susunan paragraf yang tak semestinya)