[Cerpen] Wentira

Oleh: Pone Syam
“Acong…Acong…Aco­ng…” Teriak histeris Mak Dini ibunda Acong, sambil menangis meraung berusaha mengejar langkah Acong yang semakin menjauh. Mak Dini yang sudah tua tidak mampu menjejeri langkah Acong, bahkan lututnya malah bergetar, membuatnya terpaksa berhenti mengejar Acong dan jatuh tersungkur ke tanah.
“Acong…Acong…” Teriak Daeng Sialle berusaha untuk menghalangi langkah Acong.
“Acong.. Mau jadi anak durhaka kamu?” bentak Daeng Sialle sambil menarik pergelangan tangan Acong.
“Daeng Sialle, mau membiayai hidupku? Hidup mak Dini?” sergah Acong sambil menarik kasar pergelangan tangannya dan melanjutkan langkahnya.
Mak Dini terus saja meradang, menangisi putra tunggalnya yang semakin menjauh. Satu persatu warga datang untuk tenangkan Mak Dini.
“Kau terlalu serakah Acong,” teriak Daeng Sialle yang hanya dibalas lambaian tangan oleh Acong tanpa berbalik.
“Ratusan tahun sejak leluhur kita lahir, kita sudah hidup dari bertani, kau sendiri yang mau mengubah sejarah Acong…ukhu…ukhuk­,..” kerongkongan Daeng Sialle jadi kering sebab berteriak. Daeng Sialle jengkel dan berlari ke kerumunan warga.
Daeng Sialle berusaha untuk membopong Mak Dini ke rumahnya. Semua warga berbisik-bisik tentang keputusan Acong yang tega meninggalkan Mak Dini sebatang kara.
Tangis Mak Dini belum reda meski sudah sejam yang lalu dia sudah tiba di rumahnya. Daeng Sialle kakak sepupu Acong berusaha menenangkan Mak Dini namun Mak Dini terus saja menangis.
Wajah Mak Dini memerah, Daeng Sialle memeriksa kening Mak Dini dengan punggung tangannya, “Mak demam,” lirihnya. Harus ada cara untuk mengalihkan perhatian Mak Dini, pikir Daeng Sialle.
“Ada apa dengan Acong mak?” tanya Daeng Sialle.
“Acong ingin menikah dengan karaeng Bulan,” jawab Mak Dini lirih.
“Mimpinya kelewatan,” Desah Daeng Sialle.
“Dia tidak sadarkan diri, kita dari kasta rendah. sedangkan Karaeng Bulan keturunan bangsawan,” kata Mak Dini terisak, tangisnya kini sudah tidak terdengar lagi.
“Dia pikir dengan harta bisa membeli gelar bangsawan? Itu warisan leluhur, meski seluruh air di lautan dia gunakan untuk mencuci darahnya tetap saja dia keturunan rakyat jelata,” desis Daeng Sialle dengan penuh amarah.
“Lalu dia akan kemana mak?” tanya Daeng Sialle.
Mak Dini menghapus air matanya, bangkit dari tempatnya duduk kemudian menutup pintu dan juga jendelanya. Daeng Sialle menatap heran.
“Cerita ini tidak boleh keluar dari rumah ini,” kata Mak Dini memulai ceritanya. Daeng Sialle menatapnya penasaran.
“Aku tidak ingin ketika Acong kembali, ketika sadar langkahnya salah. Dia malah dikucilkan warga,” desah Mak Dini.
“Aku paham soal itu Mak,” ujar Daeng Sialle.
“Acong akan merantau,” desah mak Dini.
“Kemana mak?” tanya Daeng Sialle makin penasaran.
“Terlalu menggelikan, kau pasti tidak akan percaya,” Mak Dini semakin sedih.
“Andai saja dia merantau ke tempat yang benar, yang bisa dijangkau oleh nalar, Mak tidak akan pernah sedih, bahkan mendukung. Tetapi ini,” lanjut mak Dini sedih.
“Wentira,” desah Daeng Sialle dengan mata merah. Daeng Sialle bahkan meninju meja di depannya untuk bisa melepaskan sedikit beban amarah yang telah meluap.

**
“Stop,” teriak Acong menghentikan bus malam yang ditumpanginya. Semua mata penumpang dan sopir menatap Acong heran. Acong tidak peduli, dengan santainya Acong mengambil rangselnya yang diletakkan dibawah kursinya. Setelah membayar sewa bus, Acong melompat turun dari bus sambil tersenyum bahagia.
“Lanjut,” katanya sambil mengetuk badan bus. Bus tersebut melaju meninggalkan Acong yang berdiri dalam kegelapan.

Acong menyulutkan api, memberikan penerangan pada gelap yang mengelilinginya. Dengan bantuan Api dari pemantik, Acong bisa melihat keadaan di sekitarnya. Acong tersenyum manis saat melihat tugu berwarna kuning dengan tulisan “Ngawa Uwentira” yang berarti kampung tak kasat mata.
“Itu dia,” ucap Acong sambil melangkah mendekati tugu tersebut. Dia duduk bersandar di tugu.
“Menurut cerita, di tugu ini ada jembatan peninggalan belanda, jika itu bisa dilihat maka itu pertanda bahwa gerbang wentira terbuka, kalau begitu aku istirahat dulu,” kata Acong.
Baru saja Acong memejamkan mata, tiba-tiba cahaya kuning keemasan menyinari mukanya hingga membuatnya terbangun. namun dengan mata menyipit agar ia bisa beradaptasi. Cahaya itu begitu menyilaukan hingga Acong malah tidak bisa melihat apa pun.
Cahaya tersebut sedikit demi sedikit meredup hingga akhirnya cahaya itu tersisa hanya berbentuk bayangan yang melangkah mendekati Acong, sedikit demi sedikit mengecil hingga padam dan menyisakan seorang gadis cantik jelita.
“Ciri-ciri manusia Wentira, jika tidak ada garis tengah diatas bibir dan di bawah hidung. Nach gadis ini orangnya,” desah Acong.
“Apa yang kau cari ditempat ini?” kata gadis itu sambil berlutut di depan Acong. Gadis tersebut menyusun tiga buah piring yang berisikan nasi putih, kuning dan hitam.
“Aku ingin ke wentira,” jawab Acong mantap.
“Untuk apa?” tanya gadis itu kemudian duduk dengan menekuk kedua lututnya berhadapan dengan Acong.
“Untuk mengadakan perjanjian dengan ratu wentira,” ucap Acong lantang penuh percaya diri. Gadis itu hanya tersenyum, menutup mulutnya menahan tawa sambil menggelengkan kepalanya.
“Perjanjian apa?” tanya gadis itu penasaran.
“Hm…hmhmm” Acong berdehem, menarik jangkungnya kemudian memperbaiki duduknya dengan duduk bersila menegakkan badan.
“Pertama, saya bersedia menikahi ratu Wentira dengan syarat, dia menjamin kehidupan mak Dini dan Daemg Sibali di kampungku,” Kata Acong mantap.
“Perjanjian selanjutnya?” tanya gadis itu.
“Kirimkan bidadari secantik kamu untuk menjaga Mak Dini dan merangkap menjadi istri Daeng Sialle agar Daeng Sialle tidak dipandang sebelah mata,” katanya dengan suara sedih.
“Apalagi?” tanya gadis cantik itu.
“Cukup itu saja,” kata Acong lemas.
“Kau yakin?”
“Tentu.”
“Bagaimana jika ratu Wentira menolakmu?” pertanyaan gadis cantik itu membuat Acong terbelalak.
“Bagaimana bisa?” tanya Acong sewot.
“Aku ini manusia, bukankah kalian bermimpi ingin bersuamikan manusia?” tanya Acong dengan dahi berkerut.
“Itu betul,”
“Lagi pula, aku ini tampan,” jawab Acong sombong.
“Di Wentira banyak yang lebih tampan darimu,” jawab Gadis cantik, membuat Acong berkerut.
“Ini hanya kemungkinan,” lanjut gadis itu, “Aku tidak ingin kau menyesal,”
“Kalaupun ratu Wentira menolak, aku bersedia jadi budak,” jawab Acong lemas.
“Kenapa?”
“Demi kehidupan layak untuk Mak Dini, sejak lahir Mak Dini tidak pernah bahagia,” tuturnya sedih.
“Kau kan bisa bekerja keras di dunia nyata,”
“Gengsi dong, cakep-cakep petani,”
“Baiklah, kau tahu kan resikonya? Silahkan menyantap separuhnya, sisanya kau akan lihat di wentira,”
“Tentu saja aku tahu segalanya tentang wentira,” kata Acong mulai menyuap nasi kuning ke mulutnya.
“Kau tahu arti nasi yang kau makan?”
“Aku tahu segalanya,” jawab Acong dengan mulut penuh nasi.
“Nasi putih, itu berarti kembali ke dunia nyata,” Lanjut Acong,”Nasi kuning, untuk tinggal selamanya di wentira dan nasi hitam berarti kematian.”
“Baiklah, selamat datang di Wentira, Atlantis yang hilang,” teriak gadis itu lalu berdiri berputar hingga menghasilkan warna kuning keemasan yang perlahan menyinari dunia. Tampak hutan kopi berubah menjadi negara yang makmur dengan kehidupan modern, gedung mewah dan mobil canggih. Acong sangat takjub.
“Hohohohohoho…” tiba-tiba kerongkongan Acong terasa sakit, nasi sisa di piring yang dipegangnya berwarna hitam.
“Itulah akibatnya berbohong, penglihatanmupun membohongimu,” kata gadis cantik itu.
“Aku bohong apa?”
“Kau ke sini untuk melupakan kehidupanmu di masa lalu dan ingin hidup bahagia dengan ratu wentira yang mirip dengan karaeng bulan kekasihmu, iyakan?” bentak gadis cantik itu. Acong sudah tidak bisa menjawab apapun sebab kini sudah terkulai lemas dengan mulut berbusa hitam[*]

Baca: Cerpen karya  Pone Syam lainnya

 

 

Rahmayunawati Syam atau Rahma Yunani  lebih populernya Pone Syam, seorang penulis yang lahir dan tinggal di Kota Makasar

Puisi Vito Prasetyo

Muzdalifah

Wajah malam terbakar
tak ada senyum rembulan
bulan gemintang menahan malu
langit pun mengirim kebodohan
kemanakah jiwa-jiwa bersih berpaling?
Ataukah Tuhan telah bersembunyi dari hadapan kita?
dan kita tetap saja hidup dengan diri sendiri
tak pernah mendengar sesuatu yang tersembunyi
ditertawai angin yang menebar dingin
sementara hamparan pasir membawa panas
sungguh, kita sangat kecil
sungguh, kita adalah hina
ucapkanlah takbir dengan lantang
agar tanah ini tidak mengeringkan
jiwa dan raga kita
– dan sujudlah di atas tanah itu
: Tanah Muzdalifah

Malang – 2017

Munajat Jiwaku

Aku berlari pada lipatan air
menggulung jelagah hitam
Tapi napas seakan merintih, lirih
pada lorong sempit menyampaikan pesan
sesaat lagi jiwa tiba di penghentian akhir

Bayangan putih membawa sebuah isyarat
ada malam terlewatkan
ada siang terhempaskan
Setiap saat ada aroma dosa kutaburkan
lewat langkah
lewat kenaifan pikiran
lewat kemungkaran tangan
lewat kedangkalan nalarku
Masih adakah tersisa
untuk jiwaku yang tersesat?

Dalam sepinya malam
hanya kefakiran doaku bisa kupanjatkan
pintu munajat tak pernah terkunci
Disitu kutumpahkan tangisan jiwaku
aku hanya setitik kecil
pada hamparan dunia ini
– yang tak punya apa-apa
Selain hanya bisa berpasrah
pada pemilik jiwa

Malang – 2017

 

Jalan Barzah

keluh lidah terbakar sekam
mengarungi perjalanan menuju barzah
jasad kering meninggalkan tulang belulang
ketika nalar bertanya, dimana diriku
tetapi sesungguhnya itu jiwa
karena (dia) telah mati
meninggalkan wujud raga hina
dan mulut terkatup tanpa doa
tak sanggup berteriak lantang
selain melihat diri tanpa selembar pakaian
berlari liar, telanjang tanpa nafsu

(2017)

Hujjah

Angin jiwa senantiasa bergejolak
hidup berjalan bersama pikiran manusia
dan berteriak tentang kebenaran
hingga kadang melupakan
Rabb-lah pemilik kebenaran

sunnah Rasul S.A.W pun jadi pertentangan
katanya bid’ah, karena bukan ajaran Rasul S.A.W
hingga pikiran orang seakan lebih suci

sesungguhnya kita tak pernah
melihat kebenaran dengan mata hati
selain dengan kasat jiwa dan pikiran
apakah karena hujjah telah mengingkari kita?

(2017)

 

Di Pertapaan Tasawuf

(1)
tujuan keraguan itu adalah ketiadaan
pergilah dari keraguan sedikitpun
buanglah keraguan, semuanya
benamkan diri pada kebenaran
karena itulah keindahan
bukan hidup dunia
bukalah mata hati
sedalam-dalamnya
hingga jiwa terkelupas
disitu ada sifat-sifat-Nya

(2)
Aku menggigil dingin
Aku puasa, aku lapar
pakaianku hanya muraqqa’ah tua
jasadku terasa begitu hina
Saat nafsu sudah membekap kesucian jiwa
sementara aku mengingkari kekotoran jiwa

Matahari pun hampir terbenam
mataku hanya sepenggal dusta
selalu berlari dari pikiran
Kusentuh air, membasuh wajah
disitu tampak
bening wajah Kitab al-Hikam, penuh nur

(3)
Aku hidup dalam masa silam
dalam ujian kesulitan
tapi, hidup semakin tumbuh
mengikis kecelaan manusia-ku
rasa sombong pun mencuri kesempatan
Masa telah mengukir
tercatat pada kitab-kitab bersih
mataku pun terantuk
membacanya, menuntun pikiran dangkal
lalu sebuah nama terlintas
penuh ma’rifat
begitu lekat nama itu
seakan terkunci pada batas nalarku
Kini pertapaannya musnah
tinggal puing dan bebatuan
sajakku pun tak sanggup menghidupkannya

(2017)

 

  Biodata:

VITO PRASETYO, dilahirkan di Makassar (Ujung Pandang), 24 Februari 1964 — Agama: Islam — Bertempat tinggal di Malang – Pernah kuliah di IKIP Makassar

Bergiat di penulisan sastra sejak 1983, dan peminat Budaya

Karya-karya Sastra (cerpen – puisi – esai) pernah dimuat media cetak lokal dan nasional, antara lain: Harian Media Indonesia (Jakarta) – Harian Pikiran Rakyat (Bandung) – Harian Republika (Jakarta) – Harian Suara Merdeka (Semarang) – Harian Pedoman Rakyat (Makassar) – Harian Suara Karya (Jakarta) – Harian Radar Malang (Malang) – Harian Radar Surabaya (Surabaya) – Harian Solopos (Surakarta) – Harian Sumut Pos (Medan) – Harian Lombok Post (Mataram) – Harian Duta Masyarakat (Surabaya) – Harian Malang Post (Malang) – Harian Digital Nusantaranews.co – Harian Buanakata.Com Majalah Puisi – Harian Digital LiniKini (Jakarta) – Harian Waktu (Cianjur) – Harian Haluan (Padang) – Harian Rakyat Sultra (Kendari) – Harian Fajar (Makassar) – Mingguan Utusan Malaysia (Kualalumpur) – Harian Online Malang Voice (Malang) – Majalah SIMALABA (Versi Digital)

Buku Antologi Puisi “Jejak Kenangan” terbitan Rose Book (2015)),“Tinta Langit” terbitan Rose Book (2015) -“2 September” terbitan Rose Book (2015), “Jurnal SM II” (2015) diterbitkan Sembilan Mutiara Publishing 2016

Sedang mempersiapkan Buku Kumpulan Puisi  “Biarkanlah Langit Berbicara”  (2016 – 2017)  &

Buku Kumpulan Puisi  “Sajak Kematian”  (2017)

E-mail : vitoprasetyo1964@gmail.com   —  HP: 081259075381 —

[Cerbung] Di Balik Mata Yang Buram (3)

–sambungan dari Bag-2

Lagi-lagi terjadi simpar-siur, apakah ini cerbung ataukah  cerita mini seri.  Tak ada yang tahu pasti. Namun harap maklum karena tulisan  ini timbul dan terjadi di sebuah dusun sunyi di masa lalu. Di mana anak-anak perawan dan bujang konon belum mengenal lipstick dan gincu. Tapi bukan berarti karena tak tahu mana kulit mana isi lantas berlipstick  menggunakan tai ayam atau berbedak pakai abu. Tidak.  Mereka pun tetap berlagu. Kidung kasmaran, kidungnya parahyangan yang merdu. Saat malam terang bulan, mereka bermain di tanah lapang. Sementara rumah-rumah bilik diterangi pelita kelapa atau lentera. Begitu indah dikenang. Yang jelita, yang rupawan di masanya, suka-cita dan ceria warga di zamannya.

Namun suasana yang kerap membuai itu tiba-tiba lenyap tatkala malam-malam tanpa bulan, tanpa bintang, juga bilik-bilik tanpa lentera dan lampu kelapa.  Suasana ceria itu tersulap aroma mistis, bayangan horor berkembang dan kental di benak-benak mereka.

Masalahnya, kalau tak batu terguling pada malam-malam tertetu,  pasti yang didengar suara tangis.

Tangis itu seorang lelaki teraniaya. Tangis kesakitan yang melenguh panjang. Tangis kesedihan sekaligus kesaksian. Tangis yang tak sudi difitnah sebagai penghianat pada bangsa, negara dan agama. “Tidak. Aku bukan penghianat. Aku tidak berbuat macam-macam. Aku hanya sebagai rakyat biasa!”  Barangkali begitulah yang hendak diutarakan dalam suatu sidang. Namun di sini tak ada sidang, keputusan terlalu cepat dibuat. Tanpa penyelidikan atau penyidikkan. Zaman memang tengah darurat.

Lelaki tertuduh itu bernama Kaswian. Disaksikan para anggota keluarga dan khalayak para pengungsi dan beberapa anggota pejuang di bukit itu. Bukit Kiarapayung. Suatu tempat yang terbilang aman untuk mengungsi jika terjadi konsfrontasi. Jadi tak mungkin ada peluru nyasar karena di sana-sini banyak pohon pelindung  –termasuk pohon kiarapayung yang teduh, dan juga goa-goa.  Kaswian, dalam hukumannya harus menggali kubur sendiri, tak diperbolehkan barang seorang pun untuk membantu. Lelaki itu terus mencangkuli tanah, mengangkatnya dengan sekop, kadang meratakan sisinya dengan tembilang .

“Biar semua tahu, begitulah cara penghianat mengawali detik-detik perjalanan hukumannya,” ujar seorang lelaki berpengaruh . Seorang yang dipercaya dari pihak pejuang sebagai ketua dalam  acara yang menggetirkan itu. Para hadirin, hanya meringis menyaksikannya. Tak mampu berbuat apa-apa selain menonton.

Setelah selesai menggali tanah di kemiringan bukit itu,  Kaswian disuruh berdiri membelakangi lobang tanah galian itu. Lalu seorang petugas mengambilkan tali khusus, yang di tengahnya telah dibuat kolongan, pas untuk dimasukan ke kepala terhukum.  Setelah kolongan itu dipasang di leher, tali itu ditarik dari dua arah berlawanan. Bak suatu lomba tarik tambang.

“Lihatlah semuanya….inilah ganjaran bagi seorang mata-mata..!”  kata lelaki yang memimpin itu, dengan komando berikutnya; “Satu….dua….tiga…tariiik….!”

Orang-orang hanya meringis. Kalau diperbolehkan banyak yang mau menangis. Namun di sini tak boleh menangis. Buat apa menangisi seorang penghianat. Menangis berarti akan kena hukuman yang sama, mau tak mau – suka tak suka, harus siap dijerat leher setelah sebelumnya menggali kubur sendiri. Namun menangis boleh saja asal memenuhi syarat, yakni harus berjanji dan bersumpah seyakin-yakinnya. Tangis di sini bukan tangis kasihan melihat korban. Tapi harus menangis sejujurnya bahwa tak akan sudi sedikit pun untuk jadi penghianat seperti Kaswian. Dan itu pun  harus minta izin terlebih dulu pada yang punya kuasa di situ. Yakni para pejuang yang punya misi memurnikan negara ini menjadi bangsa madani. Isi perizinan itu, diantaranya harus berani berjuang melawan antek-antek penjajah yang saat itu memegang tampuk kekuasaan. Salah satu kesepakatan itu, paling tidak jangan menjadi penghianat dengan menjadi mata-mata seperti yang dituduhkan pada Kaswian.

Kaswian, lelaki itu. lidahnya menjulur keluar. Matanya mendelik, melotot terbalik.  Perut dan otot-ototnya mengencang, kadang pula bergumpal-gumpal, melendung-lendung  seperti balon mau meletus. Sekira nyawanya akan hilang, tali dari dua sisi itu diulur kembali.

“Bukan suatu hukuman namanya  jika  ia dibunuh terlalu cepat, biarlah dia merasakan siksa dan penyesalan atas perbuatannya sendiri,” begitu sang pembicara berujar. Sang tertuduh segera memburu nafasnya yang hampir hilang. Seraya berkata berat terpatah-patah; “bunuhlah aku..bunuhlah aku, biar lebih puas..”

“Haha…lihatlah dia telah menyadari perbuatannya. Dia telah menyadari dan tampak begitu sudi atas ganjarannya!”

Dan hukuman pun dilanjutkan dengan cepat. Leher lelaki itu dijerat kuat hingga tubuhnya terjengkang dan masuk kubur galiannya. Tanpa dimandikan, karena sang pengianat haram untuk dimandikan –apalagi disolatkan. Entah masih bernafas atau tidak, tubuh lelaki itu segera ditimbun dengan tanah. Tanah yang merah di bukit itu, tanah pengungsian di jaman bergolak. Konflik horizontal antara orang dalam dan luar. Yang pada intinya tak ada bedanya orang luar dan dalam , bagi rakyat tetap saja rakyat. Rakyat satu negeri, satu pulau, satu kecamatan, satu desa, satu lembur dan satu sumur –bahkan satu kasur.

Seperti apa yang dilakukan Kaswian, hanyalah sebagai rakyat biasa. Namun dari segi ekonomi terbilang berada.  Artinya, walau berada di pengungsian ia masih bisa pergi ke pasar. Sekedar beli makanan dan tembakau.  Pasar itu letaknya di dekat kecamatan, dekat dengan markas tentara. Dituduh penghianat, alasannya karena ia pulang membawa makanan kaleng. Yakin, itu dia beli dari pasar. Namun namanya juga jaman darurat, jaman bergolak. Mungkin saja yang namanya iri-dengki di pengusian itu ada. Mungkin ada yang melapor pada orang luar, orang luar itu  –yang menurut versi penguasa dinamai gerombolan pengacau.  Lelaki itu dituduh sebagai mata-mata dari penguasa, yang diberi imbalan makanan kaleng berisikan olahan daging. Gerombol yang menamakan dirinya pejuang kebenaran, makanan kaleng itu bukan makanan bangsa dirinya. Makanan itu makanan orang asing, begitu katanya. Maka, Kaswian, lelaki itu yang jadi korban. Ia terhukum. Terjerat. Terjengkang. Diduga lelaki itu saat dikubur masih bernafas. Jadinya, lelaki itu terkubur hidup-hidup. Di sebuah bukit, di dekat pohon kiarapayung, yang memang kerindangan pohon itu mirip payung.

**

Sampai negeri itu berubah. Sampai gerombolan pejuang kebenaran itu habis ditumpas, suara tangis di bukit itu masih sering didengar. Tangis seorang lelaki yang teraniaya. Tangis kesakitan. Tangis yang melenguh panjang. Tangis kesedihan yang tak berkesudahan. Tangis kesaksian  bahwa dirinya bukan penghianat. Tangis penasaran dari zaman yang pernah bergolak.

Para warga di dekat bukit itu sudah maklum akan tangis itu.  Yang biasa terdengar antara waktu magrib dan isya, pukul sembilan, tengah malam dan menjelang subuh. Semua  menduga tangis itu muncul atas kematian Kaswian yang tak wajar, sehingga melonggarkan kesempatan setan atau demit bukit kiara payung untuk mengoyah iman manusia. Karenanya tangisan itu pun kadang muncul beragam, sesekali terdengar seperti tangis perempuan yang berakhir  dengan tawa meringkik.

 

Namun yang lebih mencengangkan saat berikutnya ada suara gemuruh dari bukit itu.      Braakk….bruuk….! guluduugg…borotokkk….gorobass….prraaaaakk…..!

 

Gemuruh yang terdengar  itu suara batu-batu terguling. Mungkin sebesar kerbau atau sebesar truk lebih. Membetur sesama batu yang terlindas dan melabrak rerumpunan bambu. Braakk..! Bruuk…!     Guluduuk…guluduuk…! bletok..karabyaak…!, begitulah. Bukan satu batu, tapi banyak batu. Setelah gulingan batu itu sampai di lembah dan hampir menghantam rumah warga, kejadian serupa kembali menyusul. Bahkan saat berikutnya petaka itu datang lagi.

“Ah, ini benar-benar terlalu!” ujar seorang warga seakan menyesali keadaan. Begitupun yang lainnya, mengeluh, berpikiran sama yang ujungnya menyudutkan seseorang. Siapa lagi kalau bukan Bah Madro. Lelaki bertubuh tambun itu yang selalu iseng mengganggu orang.

Betapa tidak, jika malam ada pejalan kaki yang lewat di jalan berbatu, di lembah sana, kalau tak melempar pasti menggulingkan batu-batu itu. Ulah itu sering dilakukannya, terutama saat-saat mondok di saung huma dekat kiarapayung itu. Barangkali keisengannya menakuti orang, agar dia dianggap demit bukit itu. Demit yang zaman sebelumnya kerap terdengar suara tangis lelaki teraniaya, tangis perempuan yang sebelum kemudian tertawa meringkik. Arwah penasaran berujud amarah dengan mengguling-gulingkan batu dari bukit pohon kiara. Mungkin terinspirasi dari itulah  Bah Madro senang bertingkah,  dan baginya seakan menjadi hiburan tersendiri.

Tapi kenapa mesti mengguling-gulingkan batu besar? Sebab dengan demikian, kesannya bukan horor lagi. Melainkan sebuah teror bencana yang mematikan.

“Ini sungguh membahayakan!”  desis warga lain di sekitar lembah.

Dan bukan satu dua orang yang mengutuk ulah Bah Madro saat itu. Namun mereka tak ada yang berani mengambil tindakan, mungkin karena kejadiannya selalu tengah malam. Rasa malas mereka semakin menjadi tatkala kantuk berat selalu menyerang.

Sebenarnya, gemuruh itu bukan wujud nyata suatu bencana. Kendati diacuhkan pun tak akan menjadi persoalan. Untuk mengatasinya  cukup dengan do’a atau keyakinan yang kuat. Sebab, manuver itu hanyalah ilusi belaka. Suatu ulah yang tercipta untuk menggoyah hati yang mendengarnya. Buktinya, di waktu siang jejak-jejak itu tak ada. Tak sedikit pun ada bongkahan batu, tak juga tampak bekas benturan atau rerumpunan bambu yang rebah. Tak ada sama sekali. Tak ada.

Yang ada cuma kisah masa lalu. Di jalan desa penghubung dusun itu dan dusun lainnya. Para anak bujang tiap menjelang larut malam selalu lewat, sekitar lima atau kadang sepuluh orang. Bernyanyi riang penuh guyonan, baik hendak atau pulang dari dusun tetangga tatkala mengintip bilik-bilik di pondok perawan. Mereka bukan sekali dua kali mendapat perlakuan iseng Bah Madro, yang tengah tunggu kebun di bagian atas bukit itu.

Sering ada lemparan, ya karena namanya juga iseng lemparan itu pun  tak dikenakan. Benda yang dilemparkan itu tak cuma batu, kadang ubi, jagung bakar, kedodong atau degan. Memang saat pertama ada rasa takut, namun kejadian berikutnya kalau tak digubris kadang pula senang jika lemparan itu berupa makanan.

“Hahah…! Hahaha…hahahah..!” Bah Madro kerap tertawa manakala usai melakukan isengnya. Suaranya begitu besar dan menggelegar. Mungkin dibuat sengaja agar disangka demit Kiarapayung, yang menurut dongeng sepuh terkesan angker.

Namun keangkeran itu ternyata cuma resep meredam anak agar tak cengeng. Juga upaya melestarikan alam agar sumber mata air tak kering, dan pohon kiara itu tak ditebang oleh tangan-tangan jahil. Namun tak menutup kemungkinan, yang namanya makluk halus itu ada. Begitulah, barangkali Bah Madro merasa terinspirasi sebagai demit bukit Kiarapayung.

Bah Madro suka iseng, telah dilihat sendiri oleh Sarno –seorang cucunya yang pernah ikut mondok di kebun lelaki itu pada musim panen jagung. Benar, ladang jagung itu tak jauh dari rimba kiara. Di tempat itu banyak lutung, monyet, dan juga babi hutan. Pada musim itu Bah Madro merasa kewalahan. Selain bantu menjaga serangan binatang itu, juga hitung-hitung menikmati bakar jagung yang hijau segar.

Malam itu cahya bulan benderang, anak-anak bujang terdengar riang di jalan desa di lembah sana.

“Nanti saat pulangnya..” Bah Madro terkekeh menahan kegelian niatnya. Ia menunjuk sebuah batu besar, diperlihatkan pada cucunya yang berusia tujuh tahun itu. Anak itu pun ikut-ikutan menahan geli, dan tak sabar ingin menyaksikan bagaimana kisah seru yang dilakukan kakeknya.

Dan tak begitu lama, saat yang dinanti itu datang. Bahkan kesannya lebih awal dari biasanya. Kepulangan mereka dirasa cukup cepat. Yang biasanya kunjungan itu memakan waktu sedikitnya dua jam, ini sekira limabelas menit. Namun keheranan itu seketika lenyap tatkala ditemui suatu alasan. Mungkin saja ada gangguan, misalnya para perawan itu tak berangkat ke pondok karena sorenya terjadi hujan gerimis.

“Mari..kakek, bantu!” lelaki itu menyeret cucunya. Mengambil linggis, mendongkelnya. Begitu berat, namun berusaha sekuat tenaga hingga otot-otot lelaki itu tampak mengencang. Dan batu besar itu mulai terguling…gorobass…gorobass…dak..duk..brak..brek…prak…! Menggelinding ke lembah, ke jalan itu,, ke para anak bujang itu.

 

Aneh!?

Seperti ada keganjilan di sana. Biasanya usai aksi itu bakal terdengar suara langkah atau sorak-serai para anak bujang. Entah suara takut atau suara pura-pura takut, misal saling mempercepat langkahnya. Sebab, mereka sudah tahu yang menggulingkan batu itu bukan demit bukit Kiarapayung, tapi Bah Madro. Ini benar-benar di luar dugaan. Apakah yang lewat kawanan tadi itu bukan aslinya para pemuda kampung? Lantas siapa ya?, begitulah  Sarno sempat heran.

**

Bah Madro, demit Kiarapayung, atau ilusi yang tak bertanggung-jawab, entah siapa sebenarnya yang menggulingkan batu malam-malam saat orang lelap. Malam-malam berikutnya menjadi tak jelas, simpang-siur. Mungkin karena kesiur angin, atau karena warga terlalu segan dengan pohon kiara yang kerap menunjukkan keperkasaan di benaknya. Bahkan, mungkin penguasa saat itu pun terinspirasi untuk menjadikan kiarapayung sebagai lambang partainya.

Dengan koloni rotan alas dan bambu, bermacam kedaka, binatang buas seperti ular cobra, macan belang atau tutul. Keluarga monyet atau lutung , para bajing, juga bermacam burung  seperti elang, gagak, kangkareng, ciung, ketilang, jalak, dsb, termasuk pipit pun lengkap di situ.    Kiarapayung laksana sebuah kerajaan rimba yang perkasa.

Sosoknya  yang menjulang menggapai langit itu kerap dijadikan barometer para nelayan pencari ikan,  misal apakah pelayarannya tak terlalu jauh menyasar atau tidak. Jika pohon itu masih terlihat, berarti perambahan laut masih dalam status wajar. Barangkali dari kepercayaan yang diakui warga itulah, Kiarapayung tetap menebar manuvernya. Yang jadi korban, tentu dusun terdekatlah. Dengan menuduh Bah Madro sebagai kambing hitamnya?

Bagaimana tidak. Batu-batu terguling, kadang disusul tawa terbahak. Kadang terdengar alunan seruling kidung kasmaran. Juga suara-suara wanita cekikikan, yang sebelumnya lolongan anjing sebagai penghantar suasana seram mencekam. Namun berita itu cuma isyu, kadang tak jelas alias simpang siur.  Sebab, saat terjadi batu terguling  –atau lemparan-lemparan iseng  — seperti batu-kerikil, ubi jalar, singkong, pisang, pepaya, jagung, kedongdong atau daugan, kadangkala di ladang itu Bah Madro tak mondok.

**

Selama hamir  40 hari setelah kematian tragis itu, warga dusun tak ada yang berani keluar rumah. Terutama jika hari berganti malam, begitu magrib datang, tua-muda semua masuk ke biliknya. Karena rasa takut yang menyungkup di benak-benak mereka, untuk sekedar buang hajat atau kencing pun tak merasa sungkan walau cuma ditadah di ember. Biarlah, besok saja air dan hajat itu dibuang, begitu pikir mereka. Tak peduli bau pesing dan bau haluan botrok menyergap di rumah bilik mereka.

Begitu pun langgar-langgar mendadak sepi, tak ada solat berjamaah. Tak ada bacaan solawat nabi dan pepujian anak-anak mengaji. Aktivitas itu seakan berhenti tiba-tiba. Anehnya tak ada wejangan atau penyuluhan dari tokoh agama atau pemerintah setempat. Semua seolah terhipnotis dengan keadaan.  Lampu lentera, pelita kelapa atau cempor tak ada satu pun yang dinyalakan. Dusun itu sepi mencekam. Malam-malam gelap bagai kuburan.

Bayangan horor itu memang terus menyergap pikiran mereka. Terutama setelah melihat kematian Bah Ado yang mengenaskan. Lelaki itu memang telah mati terbunuh. Namun entah siapa pembunuh itu, sungguh sangat misterius. Sepertinya pembunuh itu bukan manusia, sebab luka di bagian belakang kepala itu bukan bekas senjata tajam seperti golok atau sejenisnya. Luka yang menganga itu bekas tancapan kuku tajam yang meruncing. Orang menduga, karena lukanya bekas kuku harimau, yang membunuhnya itu pasti harimau atau siluman harimau. Namun entahlah.

Yang jelas di pagi buta geger. Istri mendiang tak tahan dengan keadaan, tangisnya meledak dan meraung-raung seraya mendekap seorang yang tak berdaya. Darah segar tercecer di dekat pintu masuk dan sampai ke tengah rumah. Bahkan tak sedikit yang muncrat ke bilik.

Tersiar kabar yang membunuh lelaki itu adalah seorang wanita. Tanda-tanda yang mengarah ke situ memang ada. Beberapa saat sebelum kejadian itu, beberapa warga yang terlintasi jalan setapak di depan rumahnya mendengar suara wanita seperti tengah cekcok dengan Bah Madro.

Bahkan seorang bercerita, ketika malamnya lelaki itu nganjang ke rumahnya. Entah kenapa sang korban seperti gelisah. Apalagi setelah di luar ada suara seorang wanita seakan memanggil-manggil nama lelaki itu.

“Tunggu sebentar,” kata Bah Madro yang saat itu tengah menikmati kopi. Walau tampak sungkan ia segera permisi ke pribumi hendak memenuhi panggilan itu, yang diduga tuan rumah adalah istrinya Bah Madro.

“Ditunggu sejak tadi, kok,” terdengar percakapan oleh tuan rumah. Selanjutnya tak tahu karena keduanya semakin menjauh. Ya, mungkin itu tadi, para tetangga yang jalannya terlewati.

Bah Madro seakan cekcok dengan seorang wanita. Namun percekcokkan itu berubah menjadi teriak kesakitan seorang lelaki yang disusul suara tawa meringkik seorang perempuan.

“Hihihi…Hihihi…!” Begitulah. Ada yang menduga, wanita itu istrinya Bah Madro. Mungkin istrinya  yang lain dari bukit kiara payung. (*)

Puisi Arif Tunjung Pradana

Jati Cempurung Ki Ageng Donoloyo

Aku tertinggal menetap pada pertengkaran saudara yang membabi buta. Berseteru atas dasar batas wilayah dan beberapa pohon jati besar; tinggi menjulang di sisi utara Kedhung Ombo. Suara-suara meneriaki penuh siasat, bambu uluh menyembunyikan dua induk jati, menanam perkataan abdi dalem yang menyindirnya; untuk pulang.

 

Saka Majapahit Sunan Giri

Sunan Giri menyusuri sisi selatan Bengawan Solo melaksanakan tugas sebagai penegak ajaran. Sinden Ki Donosari mengantarkan jati melewati tepian dengan tembang mocopat. Hutan dan gunung memenuhi perjalan dan pikiran dengan nama-nama baru.

 

Waduk Mungkur

Perpindahan adalah hal yang menyebalkan, membuatku melupakan kenyamanan dan menumbuhkan kenangan yang menyakitkan. Kubangan berlebur dengan lebih dari sejuta harapan pada tiang-tiang dan ruang-ruang sesak dalam dada. Genangan dan gusaran sejarah menjadi lubang yang beradu di tanah perantauan; seberang jalan.

 

Tri Darma Said

Hidup atau mati dalam pertempuran membuatku segera bertindak mengenali bahagia dan duka yang berkerabat erat, saling mengancam juga membenamkan. Semayam adalah rumah paling nyaman setelah pelukan darah tanah kelahiran.

 

Arif Tunjung Pradana, lahir pada 16 Juli 1997 dan besar di tanah kelahirannya Wonogiri, Jawa Tengah. Mengenyam pendidikan di Universitas Sebelas Maret.

[Cerbung) Di Balik Mata Yang Buram (2)

Sambungan dari Bag-1

Karena itu hati-hatilah. Mata dan kuping harus difungsilkan secara jujur. Mengingat panca indera manusia multiguna, salah kendali bisa berakibat fatal. Jangan dibiarkan benak itu sampai melenggang dan menggentayang. Seperti dalam kisah ini, seketika tercipta dan terdengar suara yang sebelumnya dibayangkan. Ya tentang suara dari yang punya bulu halus, corak belang dan yang berekor panjang itu toh. Suara yang terdengar mendengkur, mengaum dan juga menggeram. Mungkin karena kepercayaan yang kuat itulah yang membuat otak terasuk.

Ya seperti cerita tentang rumah kosong dekat langgar itu. Kan jadi membawa ingatan pada mulut sebuah goa di tepi hutan. Maka tak pelak aroma horor pun kerap meneror, baik sebelum atau sesudah keluar langgar. Ya, seperti yang dialami Kodir belakangan ini.

“Allahu Akbar!” Ia setengah meloncat dan berjingkat dari langgar, tatkala pulang usai menunaikan solat isya sendirian. Gara-garanya ia terlambat berjamaah akibat keenakan nonton bola di tv. Di benaknya, dari balik kaca rumah yang gelap itu sepasang mata merah menyala mengancam. Betapa tidak, sebab sebagai jemaah langgar ia tahu betul karakter siempunya rumah itu yang punya watak kasar. Dan wajarlah jika kerap menghantui dirinya, juga para tetangga sekitar langgar.
**

Semua yang terjadi itu sebenarnya gara-gara Ki Tamim, seorang lelaki tua di lingkungan ke-RT-an itu. Seharusnya ia bisa menjaga lidahnya dalam bertutur, bukan malah sebaliknya. Omongnya yang seperti bijak, tak tahunya telah menggentayangkan arwahnya Kardian, seorang tetangga yang telah lama meninggal.

“Meninggal tak bersih tentu tak sampai ke Maha Suci, karena kesucian mana sudi menerima yang kotor. Maka ia akan menggentayang di antara langit dan bumi. Jiwa yang gelap akan tersesat ke jalan yang lebih hina dan terkutuk. Yakni ke wujud yang gelap dan seram,” Begitulah dari lidah pertamanya pernah tercetus, dan orang-orang mencernanya sepenuh jiwa, sampai pada akhirnya menyergap jiwa-jiwa mereka yang kerdil.

Goa dan rumah kosong, dalam kisah ini terkait erat. Namun sebenarnya itu bukan goa, tapi semacam lobang dangkal pada sebuah tebing di lembah kebun kelapa. Di tempat inilah diduga ia sengaja sembunyi untuk sekedar menghingdar dari pandangan orang atau pun para tetangga.

Lobang berukuran sekira 1,5×2 meter itu cukup leluasa untuknya berbaring terlentang, tengkurap atau meringkuk. Toh tak sampai 24 jam, ia hanya mebutuhkan waktu tak lebih dari 13 jam dalam waktu siang. Masuk menjelang pagi, di remang senja ia keluar. Kalau tak singgah ke kebun (yang berjarak sekira 10 meter dari lobang itu) untuk sekedar duduk menatap malam, ia akan langsung pulang. Dengan kehidupan malamnya yang terlatih, dalam waktu yang singkat pun telah mampu masuk rumahnya yang gelap.

Namun kendati kerap sembunyi dan mengisolasikan diri, tetap saja tercium. Tak karena rumahnya dekat langgar, tapi tatkala saban hari menghuni goa dekat kebunnya itu pun sudah banyak yang tahu. Berbatuk yang tertahankan itu kesannya menggeram, wangi rokok linting yang kerap menguar. Baik berasal dari lobang goa atau pun dari dalam rumahnya yang selalu gelap, siapa lagi yang berulah kalau bukan ia sempunya?

Ia lelaki gelap. Wajar jika orang mengatakan itu. Karena jika suka yang terang kenapa setiap siang ia mau membenamkan diri di sebuah lobang gelap. Juga, kenapa ketika malam-malam dalam rumahnya selama itu tak pernah menyalakan lampu. Padahal listrik ia punya, bahkan lampu di langgar itu pun listriknya dari dia. Seolah dengan lampu 5 watt di bagian depan rumahnya merasa lebih dari cukup. Itu pun penyala-pematiannya terpaksa dengan cara, yakni diputar orang langgar sesaat sebelum waktu magrib dan jelang pagi.

“Kalau dipikir, sungguh kasihan nasibnya sampai malang begitu,” ujar Ki Tamim di hadapan para tetangga, yang pagi itu sengaja berkerumun di depan rumahnya, yang juga tak jauh dengan rumah seorang tergunjing itu. Lelaki yang melansia dan jadi ki merebot di langgar itu, seolah tak bosan menceritakan nasib kematian tetangganya selama itu.

“Tapi biarlah, semua itu terjadi atas karmanya sendiri,” lanjut Ki Tamim. Semua yang mendengar berdecak miris, terutama para ibu-ibu. Nyali mereka tampak ciut dan gigil. Terbayang, wujud seram itu akan terus menghantuinya, terutama jika saat hari berganti malam..

Lelaki itu memang telah terfitnah!
**

Sebenarnya isyu itu sudah lama lenyap terkubur waktu. Suasana telah adem-ayem. Namun setelah hampir setahun terlupakan, tiba-tiba kisah serupa muncul lagi, bahkan yang ini ceritanya lebih parah. Semuanya terjadi karena jiwa-jiwa dan pikiran mereka yang lemah dan dangkal.

Sepatutnya yang mesti betanggungjawab adalah Ki Tamim, sebagai orang tertua di lingkungan itu. Kata-katanya yang seolah kebenaran dan bijak, bahkan dalam hal mimpinya yang riwan, malah bak sengaja menebar teror mistis.

“Ia memang lelaki gelap!”

Begitulah berkali ia katakan, bahkan sejak seminggu kepergiannya.

Mungkin kesyuudzonannya timbul dari ulah-ulah Kardian sebelumnya yang agak nakal dan pelit. Nakalnya, ia kerap menyambar gula-kopi dan rokok di tempat hajatan tetangga dengan tangan secepat kilat melebihi tukang sulap.. Pelitnya, nah, inilah sumber utama yang diduga melemparkannya pada kegelapan. Saat berjamaah magrib di langgar itu lampu gelap (karena layanan itu dengan lampu tunggal tanpa stop-kontak), seorang jemaah keluar dari syaf dan meloncat ke rumah Kardian untuk sekedar nekan saklar. Kardian yang pelit dengan teganya membatalkan shalat dan mengejar orang itu dengan hardikan, “Dasar kurang ajar kamu..Kodir, beraninya masuk rumah orang! Ataukah kamu mau maling,hah!?” tuding lelaki itu dengan mata menyala.

Dan kericuhan pun terjadi di langgar itu. Saking ricuh dan lampu tak sampai dinyalakan, jamaah shalat magrib pun bubar. Bahkan saat itu tak ada shalat magrib. Alasannya ya karena kegelapan dari lampu Kardian itu.

“Itu sebenarnya menunjukkan jati dirinya yang memang benar-benar gelap!” seakan mantap Ki Tamim kala itu berkata.

***

Kepergian Kardian telah sampai setahun.

Setelah punya mimpi –riwan, Ki Tamim kembali berkata-kata yang seolah bijak.

“Kegelapan itu terjadi karena dosa dalam hidup.” berhenti sejenak, lalu matanya menyapu reaksi orang-orang di hadapannya. “Arwah seperti Kardian akan terus menggentayang, melayang di antara langit dan bumi. Setelah mengalami derita yang panjang, ia akan terbanting ke jalur yang hina dan terkutuk. Yakni ke wujud yang seram dan gelap,”

Yang mendengar terhipnotis.Terlebih setelah orangtua itu menjelaskan pengalamannya semalam. Dalam keadaan setengah tidur dan terjaga, katanya, tiba-tiba tanganya meraba sosok tubuh mendengkur yang terbaring di sampingnya. Dengkur siapa, ia kenal betul suaranya. Dan ketika mata terbuka sesosok hitam terperanjat dan meloncat lewat jendela yang memang benar terbuka atau mungkin lupa menutupnya.

“Ia pasti langsung masuk lewat pintu belakang rumahnya, yakin saya mendengar suara pintu berderit,” kata Ki Tamim. Semula, sebagian menyangka yang masuk rumah itu Lumah—istrinya Kardian, yang sejak setahun tinggal bersama anak perempuannya di lain RT. Hanya saja, dalam waktu tak tentu ia kadang masuk rumah untuk sekedar menyapu ruang atau ngambil barang yang tertinggal bekas kunjungan siang.

Namun tiba-tiba pikiran mereka berpaling dari kejujuran, hingga tega melayangkan ke hal terbodoh sekalipun. Ilusi yang kian terpupuk itu semakin subur dan berkembang, bahkan menjadi suatu yang nyata-nyata di benak-benak mereka.

Baik di kebun kelapa tepi hutan atau di dekat rumahnya, tak luput selalu menebar suasana seram. Penghuni lobang dan rumah gelap itu, matanya menyala liar, seakan menacatat gerak-gerik orang di luar. Bagi jiwa yang terasuk, telah meluangkan energi negatif untuk terus menggoda kelabilan iman. Tak terkecuali Ki Tamim sebagai perpanjangan tangannya yang dianggap mereka lelaki pencetus kebijakan.

“Benar-benar kematian yang tak sempurna, kasihan dia padahal telah bergelar haji,” masih kata Ki Tamim dalam suatu kerumunan.

“Ya, arwahnya benar-benar gelap. Padahal kuburnya telah beberapa kali disirami air do’a, toh tak mampu mensucikan pendirianya demi menghadap sang khaliq. Ini malah tersangkut pada unsur kebendaan, dan terpaksa harus menjadi makhluk dengan wujud yang seram,” sambung Kodir seperti hotbah. Ia telah terpengaruh oleh dongeng-dongeng lelaki tua itu. Sikap pemuda 37 taunan ini tak pelak seakan mengukuhkan jiwa dan pandangan orang di lingkungan ke-RT-an itu, bahwa arwah Kardian sebenarnya masih akan terus gentayangan sampai hari kiamat.

Hampir setahun setengah, setelah kematian lelaki itu. Tak sepatutnya fitnah kubur itu terus menyebar dan jadi bahan gunjingan. Anehnya, orang sekampung tak satu pun yang mengatakan bahwa itu hanyalah fitnah kubur yang harus dibuang jauh-jauh. Semua seakan percaya, jasad lelaki itu tak diterima oleh bumi. Ruhnya yang kotor dan gelap, telah memilih jasad harimau sebagai penerus hidupnya. Nauzubillahimindzalik.

Selanjutnya

Lelaki Yang Terus Menangis

Cerpen Otang K.Baddy

Siang dan malam, tak henti-henti,  bahkan hingga nyaris satu minggu ini, lelaki itu terus menangis.

Tangisnya tersedu seperti anak tak diberi jajan. Melolong seperti anjing hutan pemandu siluman. Melenguh seperti kerbau lapar. Kadang pula berteriak histeris seperti ketakutan.

Anak-isteri, sanak saudara, para kerabat, tak habis pikir kenapa lelaki itu terus menangis? Beberapa dokter dan ahli nujum, pun kewalahan dan geleng kepala. Untuk yang satu ini mereka benar-benar angkat tangan, sekedar menunjukkan ketidakbecusan atas kinerja yang dipercayakannya selama ini. Lelaki berusia hampir 60 tahun itu tetap saja menangis.
“Wiiw…wiwi wiiiww….!
Wualaw…., wawawaw….wowowow….!
Aouuuwwww……!”
Demikianlah ia kerap menjadi perhatian, terlebih bagi orang yang kebetulan lewat depan rumahnya.

Dibilang sakit keras  sepertinya tidak karena setiap ditanya ia selalu menggeleng. Bahkan, karena penasaran, anak-istrinya secara rahasia mencoba menelanjangi lelaki itu di ruang tertutup, siapa tahu ada luka menganga atau semacam bisul yang ganas. Namun hasilnya nihil. Tak ada luka atau pun bisul ditemukan di sana. Selain kariput sedikit faktor usia, kulit lelaki itu masih tetap mulus.

Tapi lelaki itu tak henti-hentinya menangis. Kadang tersedu seperti anak tak diberi jajan. Terisak-isak seakan merana yang dalam. Melenguh seperti kerbau lapar. Melolong seperti anjing hutan pemandu siluman. Kadang pula berteriak histeris dan menjerit-jerit seperti sakit tersiksa dan ketakutan. Tak pelak dan kadang bikin merinding tatkala suara tangis lelaki itu seperti tangisnya perempuan. Bahkan ada yang meringkiknya seperti suara kuntilanak dalam film horor.

Jika di siang tak terlalu jadi soal, mungkin suara nyaring tangis itu terhambat cuaca panas atau bising kendaraan. Yang menjadi risih jika tangis itu didengar tengah malam. Cuaca yang dingin itu telah mengantarkan suara tangis itu ke volume yang lebih nyaring dan melengking. Karenanya tak sedikit yang merasa terganggu oleh tangis itu. terutama para tetangga dekat, di pagi hari banyak yang lemas karena tak bisa tidur semalam.

Namun mereka masih bisa menguasai diri hingga tak terjadi antipati. Bahkan rasa simpati kerap hadir di benak-benak mereka yang mendengarnya. Semua berpikir mencari solusi, dan menduga-duga, mungkin penyebab tangis yang tak berkesudahan itu disebabkan dari sakit hati yang teramat dalam.

Pak Ketua RT yang merasa bertanggungjawab serta cemas merasa kewalahan. Pasalnya setiap kali ia menjenguk tangis lelaki itu semakin menjadi-jadi. Bahkan tangisnya terbilang aneh dan luar biasa. Yang biasanya seputar tersedu, terisak, sedikit melolong dan melenguh, ini malah menggeram seperti haraimau.

Karenanya sang ketua RT tersebut segera meghubungi Pak Kadus untuk mencari solusi terbaik. Setelah bermbuk singkat mereka berdua  segera mengumpulkan warga kampung di dekat rumah yang bersangkutan. Satu persatu, lelaki atau perempuan dewasa dipanggil dan dipertemukan dengan lelaki penangis itu. Siapa tahu dari sejumlah itu ada di antara warga yang mengeluarkan perkataan kotor yang menyakitkan. Atau tak mustahil kalau-kalau di antara mereka ada yang terlibat konflik yang bisa mengakibatkan lelaki itu merana. Sayang, di antara warga yang tak kurang dari 500 orang itu tak satu pun yang punya masalah dengan lelaki itu.

Lalu kembali ke masalah internal. Yang ini lebih memungkinkan karena dari sekian waktu lebih banyak dihabiskan bersamanya. Pertama sang istri, suatu anggota keluarga yang paling dekat dengan penangis. Dari mulai pelayanan siang atau pun malam. Misal dari cara penyajian masakan, kalau-kalau ada yang kurang garam atau pun kepedasan, hingga ke masalah hubungan intim suami-istri. Semua dijawab dengan lancar, tak hambatan yang cukup berarti. Kemudian dipanggil kedua anaknya yang masih abg, siapa tahu di antara mereka terlibat perang mulut minta dibelikan laptop, handpone atau motor baru. Yang ini pun tetap lolos, tak ditemukan kenakalan di keduanya.

Lalu apakah penyebab lelaki itu hingga terus saja menangis?

Tangis itu seperti kesedihan karena ia kerap tersedu. Merengek seperti anak tak diberi jajan. Mencekam karena melolong seperti anjing hutan pemandu siluman. Mungkin rasa takut dan kesakitan karena sering berteriak keras dan menjerit-jerit.

“Ya Allah, Yang punya sifat Rahmaan-Rahiim, kasihanilah lelaki itu. Jangan biarkan ia menangis terus-menerus,” seseorang memohon doa, seolah mewakili yang lainnya. Kendatipun begitu semuanya tak tinggal diam. Terus mencari informasi dan solusi untuk memecahkan masalah tersebut.

Penelusuran pun tak henti. Dari mulai pekerjaan atau keseharian lelaki itu. Dia itu bukan pegawai negeri atau pun pegawai swasta. Kehidupan sehari-harinya bertani, menggarap sawah, mencangkul, menanam ketela, menyabit rumput untuk pakan sapi. Sebagai manusia yang hidup di zaman modern, ia pun tak ketinggalan dengan yang namanya Hp, komputer, dan dunia online. Dalam arti lelaki itu tak ketinggalan info terkini.

Lantas, diperiksalah lumbung padi yang ia miliki, barangkali mengalami gagal panen? Tidak, beberapa karung gabah kering cukup tersedia untuk bekal sebelum panen berikutnya . Mungkin sapi peliharaannya ada masalah -misalnya beberapa kali gagal inseminasi? Juga tidak, malah sapi itu telah bunting delapan bulan.

Lalu, kenapa lelaki itu masih terus saja menangis?

Mungkin ada rasa bosan dengan makanan yang kerap tersaji di rumah. Maka istrinya diminta membuka ingatan tentang apa yang menjadi makanan favorit lelaki itu. O, beberapa bulan lalu ia sempat meminta dibelikan martabak telor dan pepes tawon. Karenanya dengan segera dicarikan penganan yang berbahan terigu campur telor, sebagai makanan favorit utama lelaki itu. Bahkan dipesan pada pembuatnya agar penganan itu dibuat lebih istimewa, selain empuk harus lebih manis dan gurih dari biasanya. Bukan masalah kendati harganya dua atau tiga kali lipat dari harga normal. Dengan terlonjak dirumus mantap, seorang anaknya memangku setumpuk tangkupan  martabak dan langsung diberikan pada ayahnya yang tengah menangis tersedu. Namun rumus mantap itu ternyata tak berpihak, setumpuk martabak super manis, gurih dan empuk tetap ditolak.

Nah, selanjutnya gampang-gampang susah. Pepes tawon. Bagi yang suka, makanan untuk sarapan ini lebih enak daripada martabak. Benar-benar lezat dan mantap! Pasti tangis lelaki itu akan segera berakhir dan kecengengannya bakal kucar-kacir tercumbui rasa gurih dan wangi bawang. Makanya meski mahal melebihi harga setumpuk martabak, tak perlu ditawar lagi, langsung saja gobrak dibayar.

“Yang ini pasti tak akan gagal lagi, alias mantap!” begitu pikir anak-istrinya, sebelum kemudian menyerahkannya pada penangis itu. Tapi, lagi-lagi kandas tak dapat ditolak, pepes tawon itu tak mampu merubah sikap lelaki itu. Bahkan penolakkan yang ini lebih keras dan berdampak malu pada sepihak.

“Makanan model ini kata sebagian orang, haram!” katanya seraya melempar pepesan itu ke lantai. Karuan saja penganan telur jenis larpa itu berceceran di lantai.

Anak dan istrinya kehabisan akal. Mereka tak mau lagi mencari solusi. Bahkan menjadi tak sudi, dan membiarkan lelaki itu terus menangis.

Mungkin punya pacar gelap seperti lelaki lebay pada umumnya? Inisiatif ini datang dari Pak RT, dan lantas ia menelusurinya dengan sendiri. Ada firasat lain ketika ingat beberapa waktu lalu ia sempat terjatuh dari jendela kamar Mbok Romlah -janda beranak lima yang berusia 73 tahun itu. Malam itu Pak RT tersentak dan meloncati jendela tatkala di kolong rumah panggung janda itu terdengar suara batuk terhanan hingga terkentut-kentut. Ternyata yang bikin teror lucu di bawah kamar itu adalah dia, lelaki yang kelak diketahui sering menangis. Tak ada dendam kesumat antara keduanya saat itu selain saling pengertian dengan tutup mulut.

Dan lelaki yang menjabat ketua RT itu pun tak habir pikir, kenapa teman karibnya tak mau terus terang? Bukanlah ia pun merupakan sama-sama maling?

Sementara di lain hari orang-orang itu berdatangan,  saat diketahui seorang janda tua telah mati membusuk dengan kepala terpisah bekas pembunuhan.(*) Bagaimana, mggak nyambung ya endingnya? Karena itu kirimkan cerpen Anda untuk ditampilkan di sini, kalau bisa ceritanya jangan yang ngelantur seperti cerpen saya ini..hehe.. ditunggu kirimannya..

Puisi Moh.Romli

JEDA WAKTU

Mungkin harus ku mulai dari sini sebelumnya
sebelum semua usai
sebelum semuanya terberai
diantara lelah, luka, dan gerimis yang siap menampar

Kau tau itu bukan?
bukan merupakan sesuatu yang ku inginkan
juga bukan merupakan sesuatu yang tak ku harapkan
namun memang seharusnya di lepaskan
dua pencalang hidup di rusuhnya gelombang.

Kawan, tetaplah berlayar
jangan terpengaruh akan gaduh topan
apalagi sampai mencium bau karang

menarilah dan terus menyanyi
walau dalam lagu yang amat pedih kita nikmati
demi pesta di ujung jeda waktu nanti
buatlah ia tunduk dan mati.

KU TEBUS KAMPUNGKU

Langit jangan menangis karenaku
sebab jiwa tak punya wadah
jika untuk menampung air matamu

jangan cegat
takkan mampu kau bentangi arah
sudah ku bilang takdirmu tak senada hasratku

jangan paksa
jika kau tak ingin patah tubuhmu
kau laksana iblis penggrogot hati.
kalah, jika aku merasa mati.

SENJA LAMONGAN

Kejam malam menyekap
ding-ding kaca melamur
wajah langit masih sendu

tatap lubang nyembur kesap
mata semakin gelap
sementara tubuh tak kelar di isap
juga kulit kaki jadi putih kerut
bak hamba layat.

Aku menuju kampung halaman
tubuh terjungkal diantara siang dan malam
entah kapan embun akan melupakan malam
entah kapan alam akan bersalin rupa

ku coba tanya asap yang lupa untuk setia pada kopinya
hembus bayu dan jari mentarilah jawabanya.

 

AENG PASESER

Tak seperti yang ku duga
asin dan tawar masih lekat terasa
namun sentuhannya tak ada yang beda
aku masih merasa seperti dulu kala
ketika manja, nakal, dan tubuh nan ter-elus mesra

aku menangis, tak tau bagaimana orang dimanja
aku nakal, tak tau bagaimana orang peduli
dan aku geram, tak tau bagaimana orang di sayang
yang aku tau,
asin dan tawar adalah air kita yang masih damai.
 

LAGU AGUSTUS

Deru ombak malam
menitip duka angin topan
penghuni paseser terkabar
terkapar di pulau-pulau mengasingkan

pencalang, biduk, diam
pasrah pada asap putih gelombang
jungkal-jungkil gelora semakin geram
menumpuk rindu dari paseser hingga pulau sebrang
akankah semua terbenahkan?..

tak ada yang mampu menahan tangis di bulan agustus
sampai janur-janur menangis
mengiring langkah para pahlawan yang mulai hilang perlahan
sampai setiap lambayan harus di relakan
angin timur tak karuan.

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995
Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.
Kumpulan Puisi Terbarunya. MENGHITUNG LUKA DAN RINDU SEPANJANG JALAN JAKARTA – SUMENEP. (2016)

No. 085232343060, 083853208689

Bikin Geger, Menteri Susi Dayung Kano Meriahkan Hajat Laut

Aksi Menteri Susi mendayung kano di Perairan Teluk Pangandaran saat Perayaan Syukuran Nelayan, Kamis (21/9). NS/SPC.

Pangandaran,SPC – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti muncul tiba-tiba di Perairan Teluk Pangandaran dengan mendayung kano saat ajang Syukuran Nelayan (Hajat Laut), Kamis (21/9). Aksi kejutan sang Menteri tersebut sontak mencuri perhatian ribuan warga dan wisatawan.

Menteri Susi mengayuh kano mendekati acara perayaan Syukuran Nelayan saat Bupati Pangandaran bersama jajaran pejabat setempat sedang melakukan prosesi tabur bunga untuk mengenang nelayan yang meninggal di laut. Tidak ada yang mengetahui darimana awalnya Menteri Susi bermain kano.

Tiba-tiba saja, Ia melambaikan tangan menyapa ribuan warga dan teman baiknya Bupati Pangandaran H Jeje Wiradinata dari tengah laut. Jaraknya sekitar 200 meter dari pantai. Setelah menyapa warga, Susi lantas melanjutkan petualangannya ke tengah laut.

Dikawal sejumlah pria berbadan tegap, Susi terlihat menikmati bermain kano, meskipun kondisi ombak tidak begitu bersahabat karena sedang musim angin timur. Beberapa nelayan mencoba mendekat menggunakan perahu untuk sekedar menyapanya.

“Ibu apa kabar, kita lagi panen ikan layur,” tutur Rudi Santoso (37), salah seorang warga Pangandaran.

Sautan warga tersebut langsung disapa Susi dengan senyuman dan lambaian tangan. “Oh lagi panen ikan yah, bagus,” teriaknya ramah.

Menteri nyentrik itu kemudian berpamitan dan terus mendayung ke tengah laut. Beberapa pengawalnya mengikuti di belakang dan memberi kode kepada warga yang naik perahu untuk tidak mendekat.

Editor: Andi Nurroni

Karnaval Seni Tradisional Meriahkan Syukuran Nelayan di Pangandaran

Bupati Jeje Wiradinata dan Wakil Bupati Adang Hadari memimpin karnaval dengan menaiki kereta hias, diikuti peserta karnaval di belakangnya/foto:Iwan Mulyadi/WP

Pangandaran/WP- Ratusan nelayan, warga dan wisatawan beramai ramai berbaur menghadiri prosesi budaya Syukuran Nelayan yang dipusatkan di Pantai Timur Pangandaran, Kamis (21/9) pagi.

Kegiatan yang bertujuan untuk mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkah serta keselamatan kepada para nelayan ini dihadiri oleh ribuan warga yang berbaur dengan wisatawan.

Kegiatan ini dihadiri Bupati Jeje Wiradinata dan Wakil Bupati Adang Hadari, Anggota DPRD Jawa Barat H Ijah Hartini, para anggota Dewan DPRD Kabupaten Pangandaran dan undangan lainnya.

Prosesi ini diawali dengan pelaksanaan karnaval yang mengambil rute dari depan Kantor Desa Pangandaran, menyusuri Jalan Kidang Pananjung dan akan berakhir di lokasi Syukuran nelayan di komplek Pasar Ikan Pantai Timur Pangandaran.

Dalam Kesempatan tersebut Bupati Jeje Wiradinata dan Wakil Bupati Adang Hadari memimpin karnaval dengan menaiki kereta hias, diikuti peserta karnaval lain dengan menampilkan berbagai kesenian tradisional yang ada di Kabupaten Pangandaran. (Iwan Mulyadi/Warta Priangan)

Puisi Habib Safillah Akbariski

Episode Koran Zaman Baru

Sebuah koran di lempar seorang kurir. bersepeda di pagi kabut
Dikabarkan dua juta hektar hutan terbakar
Aku membacanya di teras rumah sambil meneguk segelas kopi yang asap-asapnya mengepul dari hutan-hutan
Di pojok bawah, 10 desa dari dua kabupaten kebanjiran: ratusan rumah terendam sebab hujan tak kunjung reda. aku melihat langit: masih berkabung saja
Di bagian lain seorang istri di bunuh selingkuhan suami: Alangkah lucunya negeri ini!
Lembar berikut adalah lapak-lapak sesak lahan parkir mobilmobil,kavling rumah,warung makan,hotel,atau jajanan obat kuat
Mataku berjalan lalu saja membaca kabarkabar itu:Dari Barat ke Timur: sepenjuru mata angin: Kemacetan, Demo kenaikan sembako—BBM—,Mogok kerja, Politik yang sama panas dengan dua juta hektar hutan terbakar
Dan tangis rakyat membuat banjir bendungan dangkal
Kolomkolom pekerjaan sepi. padahal jutaan sarjana kita bosan cuti panjang sejak hari wisuda
Rubrikrubrik artis foyafoya subur ditanam di pojok utara. padahal jutaan anakanak kita kelaparan

Ahhh!
Inilah kemarau panjang. duka tak berkesudahan di negeri ini
Korankoran penuh berita tak mengenakan. sesak pencitraan

Inilah zaman baru
A-Z jadi murahan!
Ladangladang puisi kekeringan
Penyairpenyair bisu membela
Sebab semua huruf habis terjual

Para pembaca jadi penyakitan. berita penuh gula, micin, asin, keasaman

Ahhh!
inilah zaman baru Nestapa
inilah zaman baru Nestapa
inilah duka baru Nestapa

Aku tertawa
kopiku tumpah
koran jadi hitam dan basah
lalu ku koyak dan buang ke tong sampah
“Sudah habis episode koran hari ini”

Teras Rumah, Bulan Delapan 2017

 

Buku Catatan Harian Tentang Ibu

Kepada Rumah: tempat masa kanak berlari riang

di kafe ini. aku benar-benar sendiri. selembar tisu baru saja diterbangkan angin. gelembung dari minuman—bernama Honey….—yang setengah jam lalu ku pesan hampir habis meletup sejak sampai di permukaan. kursi di depanku diduduki sepi. senja membanjiri lantai dan dinding ruangan

sedang dilantai dua. di Kota Solo
setelah hari ini

“selamat datang SENDIRI. kamu sudah jadi penjajah. lalu bagaimana caranya merdeka? aku lupa. maafkan. aku sedang tidak menikmati ini: ia meletup di dada. seperti kenangan sebagai luka-luka.”

dan aku terjebak sepi yang membuka catatan harian tentang “rumah”. tangan Ibu yang senantiasa harum ketumbar, merica, cabai, bawang, dan rempah-rempah kala aku menciumnya

aku menghirup aroma dapur milik Ibu, tempat ia menghidangkan cintanya paling tulus setiap hari. meracik sesuatu yang kami suka. mendengar suara radionya yang baru dibeli tiga bulan lalu. alasan baginya untuk mengusir sepi yang seringkali mengusik

aku teringat oven besar milik Ibu. yang menebar hawa panas kala ia tengah membuat roti, diisinya keju, cokelat, dan kacang gula.

aku teringat meja makan. ada tujuh kursi dan hanya penuh di akhir ramadan. mejanya bisa diputar, sering kami rebutan makanan kesukaan

menyantap remah tawa. tak perlu memesan apa-apa: di atas meja, Ibu sudah menyiapkan semua yang kami suka: perkedel, tempe bacem, lempah kuning, bayem, kerupuk, atau lainnya. kadang ada bonus pempek atau martabak Bangka

tentang buku catatan harianku yang terbuka di atas meja kafe ini. aku tak memesan apa-apa selain segelas minuman tadi. lalu kuteguk beberapa rasa sakit di dada

lampu di lantai dua sudah dinyalakan. rinduku memancar

tentang Ibu. ia paling paham jika ada sesuatu yang rubuh di tubuhku. aku belajar betapa indahnya rahim bungamu. di tempat ini. puluhan mil terbentang antara aku dan Ibu. ditubuhku: malam hampir ranum. memoriku berguguran. menyemai selembar kertas di depanku

dalam dadaku. kolam jiwa menciptakan arus. ia berdebur begitu kencang. dan angin bergemuruh di antara perbukitan cadas yang curam. rindu makin runcing menghunus sisa jingga yang membakar tubuhku

Ibu
bidadarikah engkau?
aku tengah terpenjara kini. tiap detik yang berdetak menyebut namamu. hanya namamu Ibu. kenapa rindu seperti dua mata pisau yang menusukku?

Surakarta, Sembilan—Sembilan—Tujuhbelas 05.15 pm

 

   

Habib Safillah Akbariski

BIODATA PENULIS
Habib Safillah Akbariski, demikianlah ia populer. Lahir 10 Juni 1999 di Bandung. Jadi usianya 18 tahun , terhitung sejak profil ini ditampilkan di Buanakata. Terlahir dari rahim orang yang paling dicintainya, Heniar dan lelaki yang bersedia berpeluh untuknya, Otto Rikintara. Namun secara teknis pria berwajah cakep ini dibesarkan di Bangka Belitung sejak umur empat tahun dan belajar merantau sejak umur 15 tahun. Sekarang tengah memulai dunia perkuliahan di Prodi Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta: berharap suka dan lulus secepatnya. Amin.

Info lebih lanjut beliau bisa dihubungi di Hp/Wa: 087797252549 dan aktif bersosial media di FB: Habib Safillah, Ig: Habibsafillah. Beberapa karyanya disemayamkan di habibsafillah.tumblr.com dan di tempat yang ia kehendaki.
Alamat: Jl. Dahlia Dalam 1 No. 446 RT 003 RW 001 Kel. Bukit Merapin Kec. Gerunggang Kota Pangkalpinang Prov. Kep. Bangka Belitung (kode pos: 33123)

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai