A Room of One’s Own: Ayu Utami

Oleh: Dias Novita Wuri

Yang pertama akan menyambut kita bukanlah sang tuan rumah, melainkan sepasang anjing yang ribut menyalak dan mengendus-endus penasaran. Setelah itu baru muncul Ayu Utami, menyapa riang sambil berkata, “Kenalin, ini Kacung dan Lobo. Lobo agak galak, susah percaya orang asing. Maklum dulu pernah trauma. Kalau Kacung gobloknya setengah mati.” Kemudian secara berkesinambungan bermunculan peliharaannya yang lain, yaitu sembilan ekor kucing yang masing-masing bernama Ayah Ham, Semi, Mulan, Jenglot, Lolita, Tombola, Francesco, Rodriguez, dan Katam. Memang sulit memisahkan kehidupan di rumah itu dengan kehadiran sekian banyak binatang lucu di dalamnya.

Sejengkal dari pintu masuk utama rumah, kita akan langsung mendapati meja kerja Ayu Utami berikut rak buku sangat besar menjulang memenuhi dinging dan nyaris menyentuh langit-langit. Ada tangga logam bersandar pada rak tersebut, tentunya untuk membantu Ayu meraih buku-buku di bagian rak teratas. “Dulu pernah kena rayap, begitulah komentar Erik Prasetya, seorang fotografer kenamaan sekaligus suami Ayu Utami. Rak bukunya enggak boleh nempel dinding.” Ruangan kerjanya penuh artifak mereka berdua: sebuah piano tua, dua foto hasil jepretan Erik berukuran besar dipajang di dinding, patung kayu melayang dari langit-langit, kotak tisu berbentuk rol film, meja lain penuh buku, termasuk satu eksemplar majalah Bintang Home edisi akhir tahun lalu yang menampilkan Ayu Utami beserta rumahnya yang indah dan unik.

Rumah itu menimbulkan kesan desa—sangat teduh, lapang, berangin, ruang-ruang terbukanya dinaungi pohon-pohon bambu rimbun dan pohon-pohon lainnya yang senantiasa menggugurkan daun-daunnya. Kita tidak akan tahu bahwa saat itu tepat tengah hari bolong dan panasnya bukan main di luar sana. Bambu-bambu, pepohonan, dan suara nyanyian seekor burung Nuri Kepala Hitam Papua peliharaan Ayu dan Erik sungguh membuat kita lupa kita berada di Jakarta. Lebih jauhnya, begitu menginjakkan sebelah kaki di kediaman mereka, kita teringat “nuansa” magis yang kerap dihadirkan tulisan-tulisan fiksi Ayu Utami. Nuansa magis itu bertambah kuat oleh aroma dupa yang dari waktu ke waktu dinyalakan Ayu dan ditancapkannya di tanah pekarangannya.

Raknya berlimpah-ruah oleh bermacam buku; mulai dari karya-karyanya sendiri dalam berbagai bahasa (kita mengamati lamat-lamat dan menemukan tiga jilid Bilangan Fu edisi Belanda, Het Getal Fu, menyempil di tengah-tengah), berbagai karya fiksi, non-fiksi, filsafat, politik, sejarah, dan lainnya. Meja kerjanya terletak tepat di samping rak, membelakangi sebuah jendela, namun juga menghadap jendela lain yang membuka ke arah pekarangan tempat Ayu dan Erik menggantung kandang si burung nuri. Di meja itulah sehari-hari Ayu melakukan sihirnya—menulis. Mejanya lebar dan kokoh, terbuat dari kayu berwarna gelap. Sebuah laptop MacBook Air ukuran 11,6 inci bertengger di permukaannya. Menurut Ayu, ia sesungguhnya tak begitu betah menulis di ruang tertutup, tapi dari meja itu ia bisa melihat bulan di malam-malam tertentu.

Ketika sedang tidak ingin terkungkung dinding dan atap dan jika cuaca mendukung, Ayu akan memindahkan ruang kerjanya ke sebuah meja bekas meja menenun yang diletakkannya di sisi pekarangan, beberapa jengkal dari tebing resin tinggi yang digunakan Ayu dan Erik untuk latihan memanjat. Ia akan bekerja di sana seharian, dikelilingi sulur beringin, sambil mendengarkan suara-suara binatang dan angin dan terkadang suara dari masjid tetangga. Ia bekerja berpindah-pindah sesuai keinginan hatinya.

Namun di meja kerja di dalam ruangan itulah kita bisa menemukan ciri-ciri Ayu Utami. Terkadang ada satu pak kartu tarot tergeletak di sana. Cangkir kopi. Segelintir alat tulis. Buku-buku catatan. Alkitab yang sampulnya ditempeli foto masa kecil. Sebuah kotak musik ukuran mini yang dibeli Ayu di Venesia, yang kalau diputar akan memainkan gubahan Antonio Vivaldi, The Four Seasons, bagian pertama Spring. Ketika melihat meja itu tak berpenghuni, kita tetap bisa dengan mudah membayangkan Ayu duduk bekerja di sana, mengenakan celana panjang dan kaus oblong yang silir.

Bagaimana rutinitas menulisnya? Ayu Utami biasa bangun pagi-pagi sekali lalu mulai menulis sejak pukul enam pagi. Apabila sedang tidak terlalu intens mengerjakan suatu tulisan, sebelum menulis ia akan terlebih dahulu menggiling biji kopi (sekalian melatih otot tangan), dan menyeduhnya. Ia senang menulis di pagi hari sambil sarapan muesli atau granola, dan nyemil pisang, sukun, dan cempedak goreng bikinan Erik di sore hari. Di pagi hari Ayu biasanya menulis sampai pukul sepuluh. Setelah itu ia akan pergi berkendara ke Komunitas Salihara atau Teater Utan Kayu, atau ke kantor penerbit, atau mengurus berbagai keperluan lainnya di luar rumah, sebelum akhirnya pulang dan melanjutkan menulis di malam hari sebelum tidur. (Kamar tidurnya sendiri lapang tanpa begitu banyak perabotan, lengkap dengan tempat tidur berkelambu, daun pintunya dicat warna kuning terang.)

Ia merupakan penulis yang mampu bekerja dengan relatif cepat. Satu buku dikerjakan selama rata-rata delapan bulan. Rekor tercepatnya adalah dua minggu untuk buku Soegija Seratus Persen Indonesia, sudah lengkap dengan desain dan ilustrasi serta foto, sementara rekor terlamanya adalah empat setengah tahun untuk Bilangan Fu (namun kita tahu buku itu merupakan sesosok babon setebal 548 halaman dengan topik yang lumayan bikin garuk-garuk kepala). Ayu menerangkan bahwa ia melakukan riset sembari menulis, bukan sebelumnya. Itu juga yang diajarkannya kepada murid-muridnya di kelas menulis.

Hingga hari ini, Ayu Utami telah menghasilkan hampir dua lusin buku fiksi, nonfiksi, esai, buku biografi populer, juga telah menulis banyak sekali cerpen di berbagai media massa dan bunga rampai. Karya-karyanya juga telah diterjemahkan dan terbit di berbagai negara, menyihir banyak orang sejak tahun sembilan puluhan.

Dan sihirnya dimulai di sana, di meja itu./jakartabeat.net

Dias Novita Wuri

Penulis kelahiran Jakarta, 11 November. Ia menyelesaikan kuliah di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UI jurusan Sastra Rusia. Telah beberapa kali cerpennya diterbitkan Koran Tempo dan terpilih sebagai Emerging Writers di Ubud WRF pada 2014. Pernah bekerja sebagai asisten program di Komunitas Salihara.  Awal 2016 bergabung dalam keredaksian Jakartabeat sebagai redaktur sastra.

 Last modified on: 9 Agustus 2017

Puisi-Puisi M Ivan Aulia Rokhman

Perjalanan Jauh Untuk Sahabat Kecil

: Kepada Hervina Putri

Kenangan indah
Yang terpisah jauh
Entah kemanakah perjalanan saat ini?
Mungkin sudah benci di kota ini
Sedangkan memandang muka begitu kumuh
Lantas percayakah padamu
Sudah tidak layak lagi menjadi sahabat kecil
Aku sudah meninggalkanmu tanpa sekadar pertanyaan
Mengapa ia pergi tanpa merindukan pesan
Dimanakah kamu pindah?
Kenapa kau hendak pergi tanpa meninggalkan sahabat kami
Kami ini satu generasi denganmu
Jangan heran melepas hanya sepintas lupa
Dimanakah menempuh sekolah yang sedang diraih saat ini?

Surabaya, 06092017

Berdoa Untuk Sahabat yang Sedang Meninggal Dunia

Tak terasa ia rela meninggalkan segala musibah
Banyak cobaan yang dilewati
Akan tetapi ia berujung duka hati
Apa yang telah dihadapi
Lalu terjun ke kubur
Selepas usia kelam
Ia menghembuskan nafas terakhir
Semua itu ada kenangan di sini
Seperti itulah waktu yang dilampui
Sedangkan hampir mendekati genggaman
Sudah seharusnya bintang kecil mengantarmu di Surga
Menemui masa lalu yang sempat meninggalkan jejak
Semua ini antara dirindukan hatimu
Akan ada cinta dan suka duka
Serta tawa yang melampuimu
Berdoakan untuk sahabat
Agar senantiasa menghendaki sisi tuhan
Kepada sang maha kuasa
Selamat jalan sahabatku
Sudah menemani usia yang belia
Surabaya, 06092017

Indonesia Bersedia untuk Mengungsi Masyarakat Rohingya
Betapa kekerasan belum berakhir
Masyarakat Rohingya sedang menunggu kabar
Sedangkan di sana masih terjadi perang

Penduduk telah memencar di berbagai wilayah
Karena ingin mencari hidup sederhana
Alangkah baiknya Indonesia bersedia
Untuk mengungsi bagi masyarakat Rohingya
Berupa hadiah sedekah dan infaq untuk menerima santunan kemanusiaan

Kita berharap
Kota Myanmar dan Rohingya segera damai
Jangan pernah bentrok satu sama lain
Terimalah keikhlasan atas umat Muslim
Ku junjung persatuan demi adil makmur dan sentosa

Surabaya, 06092017

Hilang Persamaan Antar Teman

Teman telah meninggalkan desa
Berlari di dalam hutan untuk menempati suasana hening
Konon hutan banyak bencana
Terdapat keracunan di antara binatang
Hanya mencari mangsa

Pagi berkabar
Ia barusan hilang tanpa jejak
Kalau terus begini akan segera dievakuasi
Wanita senggang meninggalkan kekasih
Dimanakah ia pergi?

Hilangnya persamaan
Berujung pada kematian
Lalu berbaring tanah

Dua tahun telah menganomali hutan
Kini bermukim di pohon
Bulan purnama mengisahkan suara serigala
Tak akan mencariku lagi

Surabaya, 06092017

Boneka Menyelip di Kursi Saat Tengah Malam

Boneka keliaran di kursi
Duduk dengan tenang
Apakah ia boneka beneran
Atau kutukan bekas pembunuhan pemilik boneka
Jawaban belum pasti
Jika disentuh
Disitulah akan membangkitkan dimensi seram
Fisik berubah jadi hantu

Pernahkah Annabelle dan The Conjuring sebagai kutukan terbesar dalam lingkungan makhluk supernatural?
Inilah The Doll disebut makhluk kasat mata
Yang terletak di bangunan tua
Bekas suara tangisan
Menampakan suara mengerikan
Akan mendatangkan malapetaka

Surabaya, 06092017

Mencari Kesempatan
Sudahkah hendak mencari kesempatan?
Yakin ia menempati posisi jadi pria sejati?
Sudah layak nggak menjadi pacarku?
Lantas apa yang membuat penampilan makin menggoda?
Inilah yang disebut mencari tahta kekuasaan?
Kesempatan hanya dua kali. Apakah benar seperti itu?

Surabaya, 06092017

Salah Pergaulan

Bertemu dengan kawan-kawan
Akhirnya salah pergaulan
Jujur belum menyangka
Apakah diundangan hanya asli

Ternyata berkawan oleh teman lalu perasaan terada beda
Ia merayakan pesta penyembahan hewan
Duduk lalu menceritakan tentang mistis
Melihat video sejarah penyembahan
Ia terasa nyeri
Genggaman tangan
Ia bertanya “maukah bergabung bersama kami?”
Wajah meringgas
Lalu meneriak “Tolong!”

Surabaya, 07092017

 

M Ivan Aulia Rokhman, Lahir di Jember, 21 April 1996. Mahasiswa Universitas Dr Soetomo. Karyanya dimuat di koran lokal dan Nasional. Beberapa puisinya juga dimuat dalam antologi Bukan Kita (2017), My Teacher (2017), Syair dalam Nada (2017). Bergiat di FLP Surabaya, dan Komunitas Serat Panika. Seorang Penulis ditengah Berkebutuhan Khusus. Ia paling sering mengirimkan puisinya ke Buanakata seperti di antaranya yang ditampilkan di atas
  • M Ivan Aulia Rokhman
  • Telepon/WA : 083830696435
  • Email : rokhmansyahdika@gmail.com
  • Facebook : M Ivan Aulia Rokhman
  • Alamat Korespondensi : Jalan Klampis Ngasem VI/06-B, Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur, 60117

Ini di Bali, Ada tradisi culik perempuan, yang merasa jomlo mari merapat

Pengunjung desa tertua di Bali mendadak membludak. Tak hanya turis, warga setempat pun turut merayakan tradisi unik di Desa Tenganan yang terletak di Kabupaten Karangasem ini.

Di desa yang terletak dekat dengan perbatasan wilayah Kabupaten Klungkung pada bagian barat Kabupaten Karangasem ini, warga dan turis merayakan kegembiraan dengan menggelar tradisi Perang Pandang.

Baik warga setempat maupun wisatawan yang melihat acara di pinggir arena tak jarang ditarik paksa ke dalam gelanggang untuk duel, untuk merasakan bagamana serunya tradisi itu.

Usai duel, para peserta Perang Pandang akan merasakan perih dan nyeri akibat terkena goresan duri-duri pandan yang digunakan dalam aksi duel. Acara tradisi Perang Pandan ini digelar pada Senin (12/6), dari mulai sore hingga menjelang malam.

I Ketut Sudiastika, selaku tetua di desa ini dan salah satu Klian Adat di Tenganan Pegringsingan menjelaskan bahwa tradisi Perang Pandan digelar setiap tahun.

Acara ini merupakan puncak dari upacara besar di Desa Tenganan yang digelar sejak sebulan lalu.

“Jadi ini rangkaian puncak dari upacara kami yang kita gelar sejak sebulan lalu,” kata Sudiastika, mengutip Merdeka.com, Senin (12/6).

Sebelum digelarnya Perang Pandang, di desa adat Tenganan Pegringsingan, terlebih dahulu menggelar acara penyepian desa atau Nyepi. Hari Nyepi itu sudah dilakukan kemarin, Minggu (11/6).

Pelaksanaan Nyepi tidak jauh beda dengan pelaksanaan Nyepi pada umumnya di Bali. Di mana warga dilarang bepergian atau keluar desa maupun keluar rumah. Termasuk juga tidak melakukan kegiatan dan tanpa penerangan pada malam hari.

Pelaksanaan upacara yang digelar selama sebulan penuh ini, disebut Usabha Sembah yang merupakan satu-satunya upacara besar yang dimiliki Desa Tenganan Pegringsingan.

Upacara ini digelar berdasarkan perhitungan kalender yang dimiliki desa adat. Di mana 1 tahun dari kalender desa adat Tenganan ada 13 bulan.

“Tradisi Usaba Sembah ini merupakan tradisi yang wajib kita laksanakan setiap setahun sekali berdasarkan perhitungan kalender kami. Upacara ini merupakan tradisi ritual memuja Dewa Indra sebagai dewa perang, karenanya di puncak acara itulah kita gelar perang pandan ini,” tuturnya.

Menculik perempuan

Ada banyak keunikan dari tradisi Usaba Sembah ini. Salah satunya sebelum tradisi perang digelar, beberapa hari sebelumnya ada upacara maling-malingan.

Maling-malingan ini dilakukan oleh sejumlah pemuda yang disahkan sebagai pemuda dewasa. Malam itu juga diperbolehkan mencari pasangan, yang nantinya diperuntukkan untuk mendampingi saat dimulai hari Perang Pandan.

Tidak jarang dari pasangan ini berlanjut sampai pelaminan.

Tidak hanya itu, usai acara maling-malingan atau Mulan Saat. Dilanjutkan dengan Tradisi Mayunan. Untuk diketahui di desa tua ini ada ayunan tua dan tinggi. Pada tradisi Mayunan ini, hanya wanita yang masih perawan saja yang boleh menaiki ayunan tersebut.

“Setelah upacara Perang Pandan ini, nantinya akan ada rangkaian tradisi megibung (makan bersama). Ini merupakan penyatuan rasa yang terjadi di arena sehingga nantinya tidak ada lagi dendam atau sakit hati setelah rangkaian upacara besar ini berakhir,” tutup Sudiastika. (jurnalsumut/mc)

 

[Cerbung] Di Balik Mata Yang Buram (1)

Oleh: Otang K.Baddy

Orang kampung tak mau peduli lagi terhadap Markonah. Begitu pula pada Kartieum. Mereka menganggap kedua nama perempuan itu tak ada bedanya. Sama-sama kurang waras atau gila. Namun kemudian ceritanya agak lain, terlebih pada perempuan yang tiba-tiba kasak-kusuk ke sana kemari itu.
“Bulu apa di atas pusar ini bulu apa?” Wanita itu kebingungan. Ia tak habis pikir, “Bulu apa ini, wahai ini bulu apa?” katanya pada orang-orang. Kenapa ia bertanya-tanya karena ia bingung mengingat bulu itu sebelumnya tak ada. Mulanya orang-orang tak terpengaruh, namun setelah Kartieum mengulangi pertanyaan yang sama seraya memperlihatkan bagian pusarnya mereka bereaksi. Bahkan yang semula jauh mulai mendekat seraya memelototkan matanya hingga hingga liar. Sepintas bulu itu seperti rambut yang kerap tumbuh di kepala, tapi jika diteliti dengan seksama bulu itu seperti bulu babi hutan. Tapi ada juga yang mengatakan bulu itu lebih mirip dengan bulu domba.
“Coba tolong, bulu apa ini?” Kartieum memelas minta kepastian ketika salah seorang lelaki tua terus memelotkan matanya lekat-lekat. “Ayo, bulu apa ini?”

Tapi lelaki tua itu tak bisa memberi jawaban, bahkan saking puyengnya ia pun nyaris pingsan seketika. Begitupun yang lainnya. mereka kebanyakan bingung. Betapa tidak, bukankah untuk pembuktian harus diteliti lebih jeli atau setidaknya melibatkan pakar bulu-buluan. Sementara untuk meneliti langsung itu mereka rasa teramat canggung. Sekadar menutupi kelemahannya di antara mereka ada yang bilang bahwa bulu yang berada di atas pusar itu mungkin merupakan kiriman dari tukang santet. Mendengar kata santet, wanita itu segera pergi, seolah ia tak sudi. Dan ia tetap bertanya-tanya pada setiap orang yang ditemuinya.
“Akang-akang, Aceuk-aceuk,  bulu apa ini hai bulu apa?” wanita itu menudingkan telunjuknya di bawah dada.
Sama seperti sebelumnya, orang-orang tak langsung terpengaruh, bahkan ketika wanita itu memperlihatkan bagian pusarnya. Orang-orang hanya melihat sesaat sebelum kemudian memalingkan muka. Di balik kegeliannya setelah melihat bagian pusar batinnya berujar: “Dasar orang gila!” Namun di sisi lain batinnya mengatakan, “Wow, pemandangan yang eksotis !”
Seraya berjalan. Wanita itu terus bertanya-tanya sambil berteriak. “Bulu apa ini bulu apa, kok tega-teganya tumbuh di pusar saya?”
Wanita itu benar-benar kebingungan. Kadang ia merintih seperti menangis.  Benar-benar tak habis pikir. Kalau memang benar itu bulu babi hutan kenapa bisa tumbuh di atas pusarnya. Namun seberapapun bukti, kendati timbul di bagian lain tubuhnya tetap saja tak masuk akal. Babi hutan bukan, kok apa bisa bulu itu tumbuh bercokol di kulitnya yang bukan babi. Bukan babi hutan. Ia manusia tulen kok. Begitu pun jika bulu itu mirip bulu domba, tetap saja ia geleng kepala. Domba bukan, ah masa iya bulunya bisa tumbuh di perutnya?
“Wahai semua, bulu apa ini bulu apa? Bulu kasar di atas pusar, bulu lembut di kulit perut?”

Wanita itu bergeming.
Di benaknya mencoba mengingat-ingat tentang peristiwa semalam.
Wanita itu bermimpi di tengah pasar ada seorang wanita seperti gila. Wanita itu bertanya-tanya tentang bulu yang tiba-tiba bercokol di pusar. “Bulu apa ini bulu apa?” demikianlah katanya. Meski agak malu ia sempat melirik apa yang ditunjukkan wanita itu pada pusarnya. Sepertinya bulu itu bulunya Markodin, lelaki yang tiba-tiba jadi lutung setelah beberapa tahun mengasingkan diri di hutan. Namun perlu dicatat, kata lutung di sini hanyalah sekadar julukan atau hinaan atas bulu-bulu di tubuhnya yang tak mengenal istilah cukur. Lelaki itu adalah suaminya sendiri yang pernah main serong dengan Markonah, janda penjual kue surabi. Tapi ia tetap heran, jika benar itu bulunya Markodin manusia lutung, kenapa saat ini bisa tumbuh di bagian pusarnya? Apakah pertanda ia telah kualat dan terkena kutukan akibat sebelumnya pernah berhubungan badan?
Perempuan itu akhirnya mematung sendiri.di tengah pasar. Seolah berusaha hendak memulihkan keadaannya yang ia rasa ganjil.

Terhenyak. Siapa diriku ini sebenarnya? Apakah seorang perempuan yang bernama Kartieum ataukah Markonah? Ia bingung. Bahkan untuk sekadar mengetahui kelamin yang ia miliki. Ia tak tahu pasti apakah kelamin yang ia miliki itu jantan atau betina.. Seakan pola pikirnya terbatas dan buntu sosok itu pun akhirnya membebaskan diri dari pemikirannya. Seiring dengan kebebasannya, sosok itu pun kemudian menghilang entah kemana. Baik di benak penulisnya, pun di benak pembacanya. Tak ada like apalagi komentar.

Entah bagaimana maksudnya. Bisa saja mungkin bentuk protes atas status di Fb  tersebut. Tampaknya lelaki yang bernama aslinya bukan Markodin itu menjawabnya, tentu saja jawaban ini pun tak populis. Bahkan terkesan apaan gitu, mirip seperti lebay dan bloon.

— Sebenarnya rambutku tak segondrong apa yang dituduhkan, apalagi sampai seperti lutung. Kalau bikin pernyataan apalagi untuk disampaikan ke publik jangan asal kecrot. Mending kalau sampai viral, ini malah semakin redup melempem. Apa kamu tak pernah  lihat jika aku sering pulang untuk dicukur?

Tiga bulan mengasingkan diri di tengah hutan Dawolong, memakan pucuk lantoro, surage, loa, wuni, tekokak, lajagoa, tawohwol dan buah tepus. Semula memang terasa asing dan kesat di lidah, tapi setelah seminggu kemudian rasanya biasa-biasa saja. Bahkan hal tak terduga pun datang terasa. Tubuh serasa bugar perkasa bak bujangan tingting. Karenanya tak perlu heran jika kemudian aku tak hendak pulang kembali ke negeri penuh dongeng ini.

Begini ya, kawan. Kepergianku dengan bertelanjang ini bukan semata karena muak melihat kepura-puraan, polesan lipstick dan topeng-topeng berkeliaran. Tidak. Bukan soal itu, bahkan sama sekali tak kaitannya. Aku tak muak pada mereka karena mereka bagian dari kita juga. Bahkan jika tanpa itu mana mungkin dunia ini asyik. Kepergianku yang ‘gila’ ini, di mana jalan bertelanjang tanpa celdam maupun perban -kendati borok bernanah bercucuran, bisul di hidung dan kurap di selangkangan. Bukan pula suatu pengukuhan –apalagi sampai berkata demi menfokuskan diri terhadap Sang Khaliq. Tidak. Bukan kepongahan macam itu. Bukan. Sebab sejatinya manusia hidup harus seperti ikan di lautan. Kendati arus buih terasa asin kita tak perlu ikut asin. Tetap tawakal mengimbangi arus maupun gelombang yang seakan mengkaparkan.

Satu hal yang membuat keremajaanku timbul karena hutan yang aku jajaki ini masih perawan. Betapa tidak, sebab di sini akar-akar masih mencengkeram kuat mempertahankan pendirian pohonnya. Begitu pun hal sekeliling, baik dari sudut pandang maupun lekak-lekuk, tak ada yang namanya plastik. Daun-daun menghijau, kendati ada pun yang berjatuhan bukanlah sampah plastik seperti di pelataran kita saat ini yang terus bertebaran tiap hari. Yang gugur di hutan ini telah melewati proses yang matang, ia pergi meninggalkan jasa, yakni menghasilkan humus, tanah gembur untuk  diwariskan pada generasi selanjutnya. Gitu. Jadi awas ya jika ada lagi yang menjulukiku sebagai lutung. Benar-benar tak nyambung tuh. Sungguh!

(bersambung ke Halaman ke Bag.2)

Puisi Moh.Romli

SIAPA SEBENARNYA DIRIMU

Di alunan kidung malam

wajahmu tak enggan menyapa

di setiap petikan gitar hitam selalu menari dan menari

 

siapa sebenarnya dirimu?

selalu menampar hati dalam sunyi

selalu menabur garam dalam luka

dan selalu paksa hati untuk berhenti melangkah.

 

Siapa sebenarnya dirimu?

kau yang kerap membuatku melayang ke arah yang tak kutuju

kau gemar menuntunku ke jalan yang buntu

dan kau juga yang membuatku lumpuh.

 

Siapa sebenarnya dirimu?

apakah kau hanya sebatas rasa kecewa yang memalu

yang hinggap di imajinasi hingga akhir hayatku.

 

atau mungkin hanya angin malam yang membisikkan rindu

yang membuatku tak henti melempar dadu.

 

MENYEDUH RINDU

Di ujung senja, perahu sebrang pulau utara

sekedar mencari dan melampiaskan rindu manja selera

sesampainya di pulau itu, tampak hamparan altar putih yang memanjang dengan tongkat besi berwarna hijau , disitu perahuku tertambat

memanja mata dengan warna-warni tumbal untuk gelar pesta malam nanti

lalu ku coba untuk menyeduh rindu sendiri, dengan buah api bersimbolis rindu yang sudah siap saji

tinggallah aku memilih, untuk mengambil sebagian tumbal dan kujadikan selera rindu yang merekah di lentik jarimu, ibu.

sempatlah kucipta, walau sebenarnya tak beraroma kasih sayang darimu.

 

PENA

Tiada henti pena membuatku tersenyum dan menangis

dalam suka dia selalu tertawa seakan dia juga merasa apa yang aku rasa

 

begitu juga dalam tangis, dia tak pernah enggan menangis, malah dia seakan lebih sedih dariku

 

pena, engkaulah teman sejati

setia dalam suka maupun duka

 

engkau pencatat sejarah diantara terbitnya mentari hingga sungset senja

 

hanya engkau yang tak pernah bosan mendengar keluh

walaupun kau harus menumpahkan darahmu untukku

 

pena, hanya engkau setia mati di tanganku.

maaf kan aku

jika hidupku terus menyiksamu hingga nanti kau mati.

 

CINTAKU PADAMU

Untuk, Hoy.

Cintaku padamu serupa tetes embun yang jatuh di pangkuan keladi

selalu saja kau hiraukan

meski pada hakekatnya senantiasa membutuhkan

 

cintaku padamu serupa angin topan nan geram

yang dimana ketika nelayan menangis, menjerit ketakutan

tak sadar, bahwasanya itu rekahan gerbang hidir pembawa risalah

 

cintaku padamu serupa gigimu sendiri nikmat tuhan

lupa dan menangis seketika di ingatkan.

 

MALAM MINGGU

Entah dengan malam minggu

seperti semua bisu

seperti semua batu

 

tak ada lagu

tak ada malu

tak ada ragu

tak ada deru

 

semua jadi lugu

jadi tumbu

jadi beku

jadi rindu.

 

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995

Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.

Kumpulan Puisi Terbarunya KITAB RINDU. (2016)

No. 085232343060

        083853208689

Lelaki Penjual Kenangan

Cerpen : Nanda Dyani Amilla

Membaca kisahmu berkali-kali, sungguh berhasil membawaku menekuri perjalanan masa SMA yang sejujurnya ingin kulupakan. Pada wajahmu, aku seolah membaca sebuah kepahitan yang telah lama kuhapus dari ingatan. Sebab pada wajah itu, tepatnya di matamu, aku pernah menitipkan cinta yang terbungkus dalam iba. Rasaku menempel pada sosokmu selama seribu sembilan puluh lima hari. Atau bahkan lebih? Entahlah, aku sendiri tidak mau lagi menghitungnya saat ini.

Aku pun tak begitu paham, mengapa dulu aku begitu menggilaimu. Padahal saat itu usiaku baru lima belas tahun, saat untuk pertama kalinya aku memakai seragam putih abu-abu. Dan saat pertama kalinya mata kita bertemu. Aku jatuh cinta pada tatapan teduhmu. Jatuh cinta pada suara lembut yang menyentuh gendang telingaku. Juga pada sikap tenangmu kala itu. Semua hal yang tak kutemui pada diri teman-teman kelas yang lain.

Singkatnya, aku menimbun rasa sejak pertama kali kita berkenalan. Apalah yang bisa aku lakukan sebagai seorang gadis pendiam yang tak punya nyali untuk mengatakan segalanya. Aku memperhatikanmu dari balik kacamataku. Memenuhi buku tulisku dengan deskripsi manis tentangmu. Atau membuat sajak-sajak romantis atas namamu. Layaknya gadis remaja yang sedang jatuh cinta, aku suka tersenyum dan menangis sendirian.

Dan kamu…
Kamu masih tetap acuh dengan perasaan gadis dingin sepertiku. Bukan, bukan karena kamu tidak tahu. Bukan pula karena kamu tidak merasakan semua sinyal yang pernah kulemparkan padamu. Hanya saja, ada hati yang sedang kamu jaga saat itu. Dan dia adalah gadis beruntung yang mendapatkan hatimu. Dia adalah gadis cantik yang telah membersamaimu jauh sebelum kita bertemu. Pantaslah, matamu tidak lagi memandang ke arah lain. Bahkan untuk sekadar menyadari ada gadis kecil dengan perasaan besarnya di sini.

Setiap hari, telingaku dijejali dengan beragam kisah cintamu. Tentu saja bukan denganku, tapi dengan gadis beruntung itu. Mereka bilang, kalian adalah pasangan sempurna. Meski aku suka mencibir dalam hati, “Masih kecil sudah pacar-pacaran.” Untuk setelahnya aku malu sendiri, bahwa sampai saat itu aku pun masih berharap menjadi kekasihmu. Tapi biarlah, setidaknya itu adalah bentuk protesku atas cerita yang mampir ke telingaku. Jika boleh jujur, aku benci mendengar kisah tentangmu dengan gadis itu. Meski hanya sebatas menyebutkan namanya.

Saat menuliskan ini, aku seperti terseret ke masa-masa dimana aku tidak ingin melupakanmu. Meski pada kenyataannya, saat ini aku sudah berhasil melupakan perasaan itu. Anehnya, mengapa Tuhan sekarang malah mempertemukan kita? Tiga tahun aku menunggu dan menyukaimu secara diam-diam. Bahkan mendengar helaan napasmu saja itu sudah cukup membuatku bahagia. Tiga tahun aku memimpikan bisa sedekat ini denganmu. Bisa bercerita dan menertawakan apa saja.

Tiga tahun setelahnya, kau menghilang. Aku menghilang. Cerita tentang kita menghilang. Kita? Bahkan kau dan aku tak pernah menjadi kita. Tapi biarlah, aku senang mengatakan itu. Aku senang membayangkan bahwa suatu hari kau dan aku menjadi kita. Itu pikirku dulu. Aku tidak tahu keberadaanmu setelah kita lulus SMA. Aku juga tidak tahu bagaimana keadaanmu dan apa yang tengah kau kerjakan di sana. Aku pun tidak lagi mencari tahu apa-apa tentang dirimu. Aku disibukkan dengan kegiatan baruku. Pergi ke kampus, belajar, dan bercanda dengan teman-teman.

Perlahan, aku bisa melupakanmu. Melupakan rasa yang setiap hari hanya membuat perih hati. Meski di awal-awal masuk kuliah, aku masih sering berharap kau menghubungiku. Tapi bagaimana mungkin? Jika ketika dulu saja, hubungan kita hanya sebatas teman biasa. Hanya aku yang punya perasaan berlebih terhadapmu. Kamu? Jangan tanya. Jawabannya pasti membuat sesak di dada.
Mungkin sesekali kau harus menjadi aku. Agar kau tahu bagaimana rasanya menunggu selama itu. Agar juga kau tahu bahwa menunggu tak sebercanda itu. Ya, aku tahu, aku tak berhak menuntut apa-apa darimu. Karena sejatinya perasaan bukan romusha yang bisa dipaksa-paksa. Aku paham dan mencoba menerima dengan situasi yang tercipta saat itu. Menerima kenyataan bahwa mencintai seorang diri ternyata semenyakitkan ini.

Hingga enam tahun lamanya, perasaanku terbuang sia-sia. Suatu pagi, tangan Tuhan bekerja. Entah bagaimana caranya, yang kurasa rencana-Nya sungguh indah. Dia menjawab doa-doa yang sempat tertunda. Dia menjawab segala harap yang dulu sempat menguap. Dia memberikan kesempatan untuk kita kembali saling menatap. Kau tahu, apa hal pertama yang kurasa saat mendengar kabar bahwa kita akan berjumpa? Patah hati.

Aku merasa tidak ingin bertemu denganmu lagi. Tapi bagaimana caranya aku menolak ajakan teman-teman yang seakan berkonspirasi mengajakmu untuk bertemu denganku? Dan aku rasa, aku akan terlihat kekanak-kanakan jika aku membawa-bawa perasaan enam tahun lalu untuk perjumpaan kita kali ini. Itulah sebab aku mencoba menyambutmu dengan senang hati. Menjabat tanganmu untuk kedua kalinya. Jabatan tangan pertama kita, saat aku mengucapkan selamat ulang tahun padamu ketika masa SMA dulu. Mengucapkan hai-hallo sebagai tanda selamat bertemu kembali.

Aku melihat kau tidak jauh berbeda seperti dulu. Bedanya hanya wajah teduh itu tampak sedikit lebih mendewasa. Selebihnya, kamu sama. Masih hangat dan senang bercanda. Masih lembut dan suka tertawa. Sesekali aku mendapati retinamu menatapku. Entahlah, aku berusaha menepis semua prasangkaku tentang kamu. Tidak mungkin saat ini aku terhanyut dalam perasaan enam tahun lalu yang tidak tahu malu itu.

Sekarang aku sudah punya kekasih. Aku sudah mengubur dalam-dalam masa SMA kita. Keadaan sudah berubah. Usia hubunganku dengannya juga sudah beranjak menduduki angka dua. Meski belum genap sepenuhnya. Aku mencoba menatapmu dengan tatapan persahabatan. Teman-teman masih suka meledek soal kedekatan kita dahulu. Padahal aku yakin sekali, lebih tepatnya mereka meledek soal perasaanku yang tidak pernah berbalas itu.
Hingga pertemuan kita berakhir, kau berhasil meruntuhkan pertahananku untuk tidak bersikap biasa saja denganmu. Aku mulai rindu bercerita banyak denganmu. Membicarakan apa saja, tentang hal-hal yang kita lewati selama itu. Tentang aku dan kesibukanmu.

Hingga akhirnya dari mulutmu sendiri aku tahu, bahwa kau tidak lagi bersama gadis itu. Ah, gadis cantik yang malang. Jika sekarang kau sia-siakan “pangeranku” ,mengapa dulu kau sombong sekali menghalangiku untuk mendapatkannya?

Lupakan! Itu hanya pikiran burukku saja. Aku tidak sepenuhnya bisa menjadi orang baik. Terkadang aku dengan sosok lain muncul untuk memenangkan egoisku. Bukankah itu hal yang wajar untuk setiap manusia? Aku rasa jawabannya adalah ya.

Tapi aku tidak begitu bahagia mendengar kabar itu. Aku hanya merasa bahagia, akhirnya aku bisa sedekat ini denganmu lagi. Masa-masa yang begitu aku impikan sejak enam tahun lalu. Sejak awal aku mengenalmu. Kita menjadi sangat akrab. Kita pergi nonton film, menikmati milk shake, dan juga menghabiskan malam dengan tawa. Tidak berdua, tapi itu cukup menukar luka-luka lama yang ada.

Sepulang mengantarku ke rumah, aku mendapati sebuah pesan singkat masuk ke layar handphone-ku. Tertera namamu. Dan isinya cukup membuat rasa penasaranku terbayar. Mengenai sikapmu dua hari ini yang kurasa tidak biasa. Kalimat singkat tanpa emoticon itu menelusup masuk dalam otakku. Gila! Selarut itu kau menyuruhku untuk berpikir keras. Kalimat aku sayang kamu yang kau kirimkan padaku, sukses membuat aku membacanya berulang kali. Kupikir ini hanya candaan. Atau kau yang terbawa suasana usai menonton film malam itu. Tapi ternyata tidak, Kau mengatakan hal yang selama ini aku tunggu. Kau menyayangiku.

Kau seperti hujan. Dan aku adalah gadis yang menyukai hujan. Hanya saja, di antaranya ada payung yang kini tengah melindungiku. Menjagaku agar tetap terlindung dari hujan. Menjagaku agar hujan tak membuat aku sakit. Menjagaku agar hujan tak menyentuh kulitku walau sedikit. Payung itu adalah kekasihku. Kau tahu, gadis penyuka hujan itu sudah lama mencintai payung. Gadis itu telah lama menggunakan payung untuk berlindung dari balik hujan. Tapi bukan berarti dia akan selamanya mengenakan payung. Dan bukan selamanya pula dia akan menyukai hujan. Segalanya bisa berubah. Semua kisah sudah ditulis indah oleh tangan Yang Maha Kuasa. Si penulis hebat yang tiada tandingannya.

Sekarang, mari jalani hari-hari kita dengan rasa bahagia. Percaya saja, bahwa semua kehendak-Nya adalah indah. Menunggu selama enam tahun tidak mudah, tapi lihatlah… Tuhan menukarnya dengan pertemuan yang tak kalah luar biasa. Aku hanya ingin kau belajar meresapi segala kejadian lama kita. Bumi ini berputar, tapi Tuhan selalu menyelipkan bahagia meskipun kita sedang terluka.

Dengarlah…
Dengan ataupun tanpaku kelak, aku ingin melihat kau bahagia dan baik-baik saja. Tanpa luka. Tanpa duka[]

Teruntuk pria,
yang sering memanggilku Milla
teruslah berbahagia

(Penulis adalah peracik kata yang hobi ketawa. Penikmat kopi tanpa roti. Pejuang rindu tanpa temu. Mari mampir ke blog pribadinya : nandadyaniamilla.blogspot.com , siapa tahu jatuh hati.)

 

 

 

Abdullah Harahap, Penulis Novel Horor/Misteri Legendaris Indonesia

Abdullah Harahap, merupakan penulis novel misteri (horor) Indonesia terbaik. Novel-novel horornya memiliki gaya yang menarik dan khas, hingga terkadang kontroversial karena dibumbui dengan hal-hal berbau seksual. Tidak banyak penulis Indonesia yang memilih kisah-kisah horor, dan terbukti AH mampu bertahan di jalur tersebut. Ia lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan pada 17 Juli 1943. Sebelum menulis novel horor misteri, ia juga menulis novel roman percintaan, namun namanya melambung berkat novel horor yang dikarangnya.

Awal karier
Abdullah Harahap mengawali karier semenjak masih duduk di bangku SMA di kota Medan dengan menulis sejumlah cerita pendek serta puisi yang dimuat oleh media cetak setempat. Tahun 1963, ia pindah ke Bandung untuk melanjutkan studi di IKIP (kini UPI) sambil meneruskan aktivitas menulis cerpen yang sempat membanjiri sejumlah media cetak baik yang terbit di Bandung, Yogya, Surabaya, Medan, dan paling terutama Jakarta (yang oleh Abdullah Harahap dianggap sebagai kota yang membesarkan namanya sebagai penulis).

Di tengah perjalanan kuliahnya, AH menekuni profesi sebagai jurnalis di SK Mingguan GAYA dan GALA (cikal bakal SK Harian Galamedia), lalu kemudian menjadi perwakilan tetap untuk wilayah Jawa Barat dari Majalah Selecta Grup (Selecta, Detektif & Romantika, Senang, Stop, Nova). Perjalanan karier sebagai wartawan yang ditekuni AH selama seperempat abad lebih (1965-1995) menambah luas wawasan serta pengetahuan AH sebagai penulis novel. Karena sebagai wartawan, AH bukan hanya sekadar meliput berita sesuai tanggung jawab yang diembannya, akan tetapi juga memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk melakukan riset ke tempat-tempat tertentu yang dia inginkan untuk bahan novelnya.

Riset yang dilakukan oleh Abdullah Harahap ini saya rasa menjadi sebuah keungulan kengerian yang diciptakan di novel-novel horor/misterynya. Jadi horornya tidak melulu hantu penasaran yang sembarangan membunuh orang orang. Ada latar belakang budaya, dendam kesumat, bahkan seringnya sex sebagai latar belakang kemunculan iblis iblis yang menebar teror.

Abdullah Harahap mendatangi lalu bertukar pikiran dengan tokoh masyarakat setempat, terutama yang kehidupan sehari-harinya berhubungan dengan alam mistis, baik itu dari aliran putih maupun aliran hitam, tanpa melibatkan diri di dalamnya. Ilmu-ilmu mana kemudian (sesuai kebutuhan), dikembangkan sendiri oleh AH di depan mesin tik atau komputer sesuai dengan imajinasi AH yang ia kehendaki. Tercatat keseluruhan buku sudah diterbitkan dari imajinasinya itu berjumlah sekitar 60 judul (Drama), 75 judul (Misteri) dan 15 judul Pulpen (Kumpulan cerita pendek). Sebagian di antaranya telah diangkat ke layar lebar dan yang terbanyak ke layar kaca (TPI, SCTV, RCTI, dan Indosiar), baik dalam bentuk sinetron seri maupun FTV.

Berhenti Menulis

Abdullah Harahap berhenti menulis sekitar tahun 1990-an. Beberapa penerbit yang biasa menerbitkan buku-bukunya tutup. Novel-novel Abdullah Harahap seringkali dianggap picisan dan murahan, karena selalu bercerita tentang horor, dibalut dengan adegan sex. Tetapi, Abdullah Harahap tidak peduli. Yang penting ia bisa berkarya. Walaupun dianggap picisan, novel-novelnya selalu habis terjual. Bahkan banyak yang diangkat ke layar kaca dan layar perak.

Abdullah Harahap berhenti menulis karena ia adalah seorang yang penakut juga. Tetapi, ketakutannya itu sangat bermanfaat dalam proses pengerjaan novel horornya. Ia berkata, kalau kita tidak takut saat menulis bagian seramnya, maka itu bearti novel tersebut gagal. Kalau sang pengarang saja tidak takut, apalagi yang membacanya?

Akibat terlalu banyak menulis novel horor, Abdullah Harahap menjadi seorang yang sangat penakut. Dan hasil novelnya juga tidak maksimal, dan penerbitnya pun tutup. Maka ia segera berhenti menulis, dan beralih menjadi penulis skenario untuk layar lebar dan layar kaca. Ia pun hanya sesekali menulis novel, yaitu Misteri Boneka Cinta (dimuat bersambung di Sk Galamedia Bandung), Misteri Janda Hitam (Harian Jawa Pos Surabaya), dan Misteri Sebuah Peti Mati (Harian Surabaya Post), yang kini sudah diterbitkan dalam format buku saku oleh Paradoks).

Penerbit Paradoks

Tahun 2010, novel-novel lama dan baru Abdullah Harahap diterbitkan ulang oleh Penerbit Paradoks ( imprint Gramedia ). Paradoks ini awalnya dibentuk untuk menerbitkan ulang novel-novel horor Abdullah Harahap, sebelum akhirnya dibuka untuk penulis yang lain. Paradoks adalah sebuah penerbit khusus buku-buku misteri dan horor.

Bibliografi

( Seandainya Judul buku Abdullah Harahap ini belum lengkap. Tolong dilengkapi di komentar )

  • Misteri Perawan Kubur
  • Misteri Sebuah Peti Mati 1
  • Misteri Sebuah Peti Mati 2
  • Misteri Lemari Antik
  • Manusia Serigala
  • Misteri Rumah Diatas Bukit
  • Manekin
  • Penunggu Jenazah
  • Misteri Kalung Setan
  • Sumpah Berdarah
  • Babi Ngepet
  • Dosa Turunan
  • Suara dari Alam Gaib
  • Bisikan Arwah
  • Pemuja Setan
  • Sumpah Leluhur
  • Penjelmaan Berdarah
  • Penghuni Hutan Parigi
  • Misteri Penari Topeng
  • Dendam Berkarat dalam Kubur
  • Penunggu Dari Kegelapan
  • Lukisan Berlumur Darah
  • Wajah-wajah Setan
  • Mahkluk Pemakan Bangkai
  • Kembalinya Seorang Terkutuk
  • Dalam Cengkeraman Iblis
  • Dendam di Balik Kubur
  • Roh dari Masa Lampau
  • Penjaga Kubur
  • Penghuni-penghuni Rumah Tua
  • Dendam Roh Jejaden
  • Pengemban Kutuk
  • Bercinta dengan Syaitan
  • Penghisap Darah
  • Pewaris Iblis
  • Sepasang Mata Iblis
  • Panggilan dari Neraka
  • Misteri pintu Gaib
  • Misteri Anjing Hutan
  • Arwah yang Datang Menuntut Balas
  • Perawan Sembahan Setan
  • Tumbal Kalung Setan
  • Pemuja Setan
  • Manusia Penuntut Balas
  • Senggama Kubur
  • Misteri Alam Gaib
  • Jeritan Dari Pintu Kubur
  • Arwah Yang Tersia-Sia
  • Misteri Putri Peneluh

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Perbedaan Cara Mengolah Daging Kambing di Indonesia dan Eropa

Daging Kambing Panggang ala Turki.
Daging Kambing Panggang ala Turki.(KOMPAS/LASTI KURNIA)

 

Daging kambing sebagai bahan baku masakan ternyata tak hanya lazim digunakan di Indonesia. Di Eropa, kambing juga diolah menjadi beberapa jenis makanan.

Cara mengolah kambing yang lazim di Indonesia ternyata begitu berbeda dengan cara mengolah daging tersebut di Eropa. Mulai dari menyembelih atau memotong kambing, pembagian ruas daging, sampai pengolahan sebelum dimasak.

“Mulai dari memotong, di Indonesia jelas peraturannya disembelih, sesuai sunnah. Kambingnya tidak boleh cacat, usia kambing minimal enam bulan, domba satu tahun,” ujar chef Haryo Pramoe saat dihubungi KompasTravel, Senin (28/8/2017).

Sedangkan di Eropa peraturannya cenderung bebas. Mulai dari cara memotong hingga pilihan usia kambing yang disesuaikan dengan kebutuhan.

“Soal jenis kelamin kambing, di Indonesia pun bebas mau jantan atau betina. Di peraturan sunnah Islam juga tidak ada yang membedakan, dan ternyata memang sama saja dagingnya juga,” ungkap Chef Haryo.

 

Selain itu, untuk pembagian daging, Eropa memiliki pakem meat map standar internasional. Dalam satu ekor kambing, yang bisa dipotong untuk dimanfaatkan hanya sembilan bagian. Antara lain leher, tulang belikat, betis depan, payudara, punggung, pinggang, bokong, paha, dan betis.

“Kalau di Indonesia, lebih kepada tradisional caranya. Jadi yang penting daging terbagi rata, mana saja yang mau dipakai,” ujar chef Haryo.

Gunakan parutan nanas untuk membuat daging kambing jadi lebih empuk
Gunakan parutan nanas untuk membuat daging kambing jadi lebih empuk(shutterstock)

Menurut Chef Haryo, bagian terbaik untuk dimasak tetaplah bagian paha belakang. Juga bagian tenderloin yang terletak di punggung.

Setelah daging dipotong, dalam tradisi masyarakat Eropa dan Amerika, ada proses peristirahatan dan pelayuan daging yang disebut resting atau egeding. Daging besar yang sudah dipotong, diistirahatkan dalam suhu stabil empat derajat Celsius.

“Tujuannya saat daging kambing tegang setelah dipotong, daging diistirahatkan biar rileks, lalu akan melemas. Memang akan menghasilkan daging yang enak nantinya,” ujar Chef Haryo.

Sedangkan di Indonesia, lazimnya menggunakan proses tradisional yang spontan. Setelah kambing dipotong, daging masih dalam keadaan tegang langsung bisa dimasak. Baik disup, direbus, atau dikuah dengan proses yang lama.

“Bedanya proses memasak di Indonesia lama, berjam-jam hingga benar-benar empuk. Jadi proses pengempukannya itu terjadi di saat masaknya, disebut proses tradisional,” ungkap celebrity chef yang kini sedang giat mendalami ilmu sunnah termasuk untuk kuliner itu. (komaps.com)

Wow..luar biasa, Warga Dusun di Pangandaran Sukses Bangun Balai Dusun Megah


Sebuah bangunan Balai Dusun berdiri megah dan kokoh di Dusun Pasirkiara Desa Karangbenda Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Maka meskipun hanya sebuah Balai Dusun, sebagai bentuk apresiasi, Bupati Pangandaran H Jeje Wiradinata berkenan hadir meresmikannya, Rabu (29/8).

Hadir pada kesempatan ini Camat Parigi, Kepala Desa Karangbenda, Kepala Duusun, ketua RT, RW, tokoh pemuda dan tokoh masyarakat setempat.

Pembangunan Balai Dusun Pasirkiara ini menghabiskan dana sebesar Rp 160. juta. Dana sebesar itu berasal dari swadaya masyarakat sebesar Rp 120 juta dan dana batuan dari Desa sebesar Rp 40 juta .

Menurut Kepala Dusun Pasirkiara Endang Mansur, bangunan tersebut selain tempat menggelar rapat dan pertemuan, juga sebagai tempat pelayanan kesehatan berupa posyandu, poskesdes, dan balai serbaguna.

“Diharapkan dengan Balai Dusun tersebut dapat meningkatkan pelayanan administrasi, kesehatan dan pusat pelayanan lainnya kepada masyarakat,”ujarnya.

Sementara itu Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata dalam sambutannya mengatakan, saat gotong-royong mulai terlupakan, tetapi di dusun ini budaya gotong-royong ini masih terpelihara.

“Hal itu terbukti, dengan kebersamaan upaya membangun balai dusun yang menghabiskan anggaran ratusan juta rupiah dapat diwujudkan,”kata Bupati Jeje.

Dalam kesempatan ini Bupati Jeje menyampaikan program program yang sedang berjalan.

“Sampai saat ini saya belum memikirkan membangun kantor bupati. Pada 2018 kita harapkan jalan utama selesai dibangun, puskesmas juga rampung dan pembangunan RSUD dimulai. Sementara program tahun ini yang sudah berjalan berupa pendidikan gratis dan kesehatan gratis,”ujarnya.

Pada kesempatan ini, juga diserahkan asuransi nelayan atas nama Miskun sebesar Rp 160 juta. (Iwan Mulyadi/WP.Com)

 

Kisah Pendiri Penerbit Erlangga Marulam Hutauruk

SOPO – Ia seorang guru, kemudian menjadi pengusaha, mendirikan penerbit Erlangga. Airlangga atau sering pula ditulis Erlangga, adalah pendiri Kerajaan Kahuripan, yang memerintah 1009-1042 dengan gelar abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa. Airlangga berarti “Air yang melompat.” Erlangga lahir tahun 990. Ayahnya bernama Udayana, raja Kerajaan Bedahulu dari Wangsa Warmadewa. Ibunya bernama Mahendradatta, seorang putri Wangsa Isyana dari Kerajaan Medang.


                                             Logo Erlangga.

Sebagai seorang raja, dia memerintahkan Mpu Kanwa untuk mengubah Kakawin Arjunawiwaha yang menggambarkan keberhasilannya dalam peperangan. Nama Erlangga sampai saat ini masih terkenal dalam berbagai cerita rakyat, dan sering diabadikan di berbagai tempat di Indonesia. Dari cerita di atas, penerbit Erlangga kerap kali dianggap didirikan orang Jawa Timur, padahal pendiri penerbit Erlangga adalah orang Batak. Pendirinya sendiri terinspirasi dari kisah seorang raja ini, membuat nama penerbitnya Erlangga.

Penerbit yang sudah lebih dari 60 Tahun melayani pembacanya ini didirikan oleh Marulam Hutauruk. Marulam adalah seorang putra Batak kelahiran Sipoholon, Tapanuli Utara, hasil didikan zending gereja. Dirinya seusai studi di Tarutung, kemudian menjadi guru di Semarang, puncaknya menjadi Kepala Sekolah. Awalnya, sebagai guru Marulam tak mau hanya berpangku tangan, lalu membuat stensilan untuk bahan ajar anak didiknya. Lama-lama berkembang berniat menulis buku sendiri, sebagai bahan ajar.

Masa itu masa penjajahan Belanda, dia merasakan kesulitan yang sangat, isi buku-buku yang tersedia nirnasionalisme, semuanya memuji kolonial Belanda. Selain itu, dia melihat banyak muridnya yang tak bisa belajar dengan baik karena minimnya buku ajar berbahasa Indonesia. Buku pelajaran dalam bahasa Indonesia yang waktu itu sangat minim dan sulit diperoleh, yanga da malah buku-buku berbahasa Belanda. Untuk mengatasi kelangkaan buku tersebut, dirinya berinisiatif sendiri membuat bahan ajar sendiri, kemudian hari mengajak kawan-kawannya sesama guru untuk menulis, mandiri. Tujuannya, untuk menggantikan buku-buku pelajaran berbahasa Belanda.

Berlahan, peminatnya makin banyak, dia mulai membuat brandnya. Maka, jadilah nama penerbit Erlangga. Awal didirikan Erlangga berkantor di sebuah rumah di Semarang, bersama teman-temanya Marulam berhasil menulis beberapa buku. Antara lain buku pelajaran Ilmu Alam, karya Widagdo, Ilmu Kimia, karya Ir.Polling dan Ragam Bahasa Indonesia, dan karya bukunya sendiri. Buku-buku itu semua diterbitkan dengan memakai nama Penerbit Erlangga. Karena itu, dia bertekat mendirikan penerbit dengan dikelola profesional. Sejujurnya, buku-buku Erlangga di awalnya tak terlalu menarik, tak seperti produknya sekarang yang mencetak dengan kertas terbaik. Melihat perkembangan tersebut, Marulam pada Tanggal 30 April 1952 menghadap Notaris, di Semarang untuk melegalitas penerbitnya menjadi penerbit berbadan hukum.

Sejak itu, sembari pelan-pelan dia terus menumbuhkembangkan penerbit Erlangga, penerbit yang banyak menaruh perhatian pada buku pelajaran sekolah. “Fokus penerbitan itu sudah muncul sejak awal berdirinya.” Gayung bersambut, ternyata pelan-pelan penerbit Erlangga mulai dikenal masyarakat. Walau dia seorang guru berdarah Batak, namun naluri penciuman bisnis tajam, dia prediksi bahwa kemajuan penerbitan akan makin masif ke depannya. Nyatanya penerbitan makin melaju dan menaik. Memang, saat itu penerbit masih menumpang percetakan, Erlangga tak langsung memiliki mesin cetak sendiri. Takdir baik berpihak kepadanya, kariernya pun menaik menjadi seorang kepala sekolah SMA Negeri 1 di Semarang, jadilah penerbit makin berkembang.

Sembari memimpin sekolah dirinya terus mengarang buku Pelajaran sejarah yang diterbitkan oleh Kedaulatan Rakyat, Yogya. Marulam ahli dalam sejarah, iya itu tadi, termasuk mendalami sosok Raja Erlangga. Akhirnya, jiwa bisnis itu makin kuat, penerbit Erlangga pun bergerak di bidang pengadaan buku di sekolah-sekolah, dan fokus menerbitkan buku-buku bahan ajar. Tapi, dalam perkembangannya, Erlangga kemudian merambah ke buku-buku umum. Buku-buku terbitannya sekarang merambah juga ke buku kesehatan, makanan, kecantikan, mode, novel, hingga biografi. Sedangkan buku-buku bacaan untuk kebutuhan anak-anak, mereka terbitkan di bawah bendera Erlangga for Kids.

Seiring perkembangannya, penerbit Erlangga kemudian mengimbit, pindah ke Jakarta dan berkantor di Jalan Kramat Raya 162, Jakarta Pusat (sekarang Kantor Pusat PT Pegadaian [Persero]). Dari sana pindah ke Jalan H. Baping No. 100, ‎Ciracas‎, Jakarta Timur. Sekarang Erlangga dipimpin generasi ketiga, cucu Marulam. Penerbit ini, sejak kehadirannya terus berbenah mengembangkan penerbitan buku-buku lainnya. Selain itu, Erlangga kerap juga jor-joran melontarkan slogan yang memotivasi masyarakat suka membaca, misalnya; “Buku adalah jendela dunia.”

Slogan tersebut mengingatkan kita, betapa pentingnya membaca untuk memperkaya khazanah, cakrawala diri terhadap ilmu dan pengetahuan. Bisa disebut, salah satu kekuatan penerbitan Erlangga kekonsistennya menyediakan buku-buku yang bermutu, baik dari segi isi dan produk fisik buku, juga kapabel dari penulis-penulisnya. Keunggulan inilah yang membuatnya eksis, seperti satu devisi lain penerbitan Erlangga Esis.

Selain pengusaha, Marulam juga penulis buku handal. Karya-karyanya adalah:

– Pelarian yang tidak punya apa-apa menjadi maharaja (kisah Erlangga), Erlangga, Tahun 1988.
– Menuju terwujudnya suatu masyarakat adil dan makmur di Republik Indonesia tahun 2000-an, Erlangga, Tahun 1987.
– Sejarah Ringkas Tapanuli: Suku Batak, Erlangga, Tahun 1987.
– Garis Besar Ilmu Politik Pelita Keempat 1984-1989, Erlangga, Tahun 1985.
– Gelora Nasionalisme Indonesia, Erlangga, Tahun 1984.
– Peraturan Hak Cipta Nasional, Erlangga, Tahun 1982.
– Kunci Lagak Ragam Bahasa Indonesia, Erlangga, Tahun 1979.
– Azas-azas Ilmu Negara, Erlangga, Tahun 1978 (berbagai sumber/int)

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai