Puisi Endang Supriadi

Endang Supriadi, menulis puisi dan cerpen sejak 1983

 

SUDAH KALAH AKU

sudah kalah aku. percuma atap kubangun
pintu kupasang, roda kuputar, payung
kubuka. aku renta, tumbuh langsung tua
dagingmu dagingku beda. aku berdarah
awan, engkau berdarah kawah
benar-benar jauh panggang dari api

sukmaku menggelontor seperti air bah
yang tak berakar, namun justru
mengepung seluruh tempat persembunyianmu
ini aku, cemara yang bergoyang
rantingku tempat senggama burung-burung
langit membungkusnya berabad-abad,
tapi engkau begitu rela membakarnya

sudah kalah aku. percuma kuberi nama manis
pada pisau, kuberi nama salju pada batu
kuberi nama rindu pada badai, kuberi nama
sorga pada kubur. kereta kepedihan ini,
terus melangsir di sendi-sendi pikiranku.

Citayam, Pebruari 2006

 

KEKASIHKU MEMBUNUHKU DARI BELAKANG

kekalahanku membentuk figura yang
terbakar. sudut-sudut menjelma kabut
dan di kepalaku tumbuh mercon, meledak
setiap hari. jiwaku diarak sepanjang rel,
dihujani kritik yang terlontar dari ujung-ujung
jalan.. di setiap orang berlari, ada
darahku yang tumpah. sedang kekasihku
kerap membunuhku dari arah belakang

aku terhuyung dari dinding ke dinding
mengendus bau kematian yang agung
aku tahu kekalahanku ini bukan untuk
yang terakhir, karena pohon mawar yang
kutanam selalu berbunga kecubung. dan
getahnya selalu mengisi gelas kehidupanku
setiap hari. entah pisau manalagi yang akan
menguliti pikiran dan mengukir luka-luka
baru. sebab aku tak bisa lepas dari rantai ini.

Citayam, 2006

(Diambil dari buku kumpulan puisi Endang Supriadi, “Lumpur di Mulutmu” atas seizinnya)

 

 

  Tentang Endang Supriadi

Endang Supriadi lahir di Bogor, 1 Agustus 1960. Menulis puisi dan cerpen sejak 1983. karyanya tersebar di berbagai media cetak dan antologi bersama. Antologi puisinya, Tontonan dalam Jam dan Lumpur dalam Mulutmu (2010). Lima buah cerpennya dijadikan skenario audiovisual untuk sinetron televisi, yaitu: Lelaki itu Bernama Oding, Sosok Bertopeng, Protes, Sumirah, dan Dendam. Alamat surat, Gedung AKA, Jl. Bangka Raya No. 2  Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. HP. 08128556494.

 

Catatan tentang “Lumpur di Mulutmu”

Judul : Lumpur di Mulutmu
Penulis : Endang Supriadi
Cetakan : I, 2010
Penerbit : Pustaka Yashiba.
Tebal  : 68 halaman (50 puisi)
ISBN : 978-979-17857-2-0
Desain sampul dan tata letak : Dewi Prenji

Antologi puisi ini menandai 50 tahun sang penyair hidup di dunia. Buku ini juga dipersembahkan untuk cucu pertamanya. Di halaman awal ada tulisan begini: Buku yang amat sederhana ini, terkirim buat Bung Micky Hidayat. Salam kreatif. Endang Supriadi. Tentu ada tanda tangan si penyair dan tanggal: Depok, 16 Juli 2010. Tentang bagaimana buku itu bisa sampai ke rak Hajri, tanya yang bersangkutan saja.

 

Puisi Ferry Fansuri

Ulurkan Tanganmu

Mengapa tidak abadi seketika
Segala rasa cinta
Kesejukan yang menyertai cerita kita

Mengapa tidak abadi seketika
Hati tempat berlabuh
Tali yang mengikat janji-janji

Jangan pernah usai kita inginkan
Namun pil pahit yang harus kita telan
Inilah puisi jalan kita kasih
Segala prahara mendera
Segenap dusta menyerta

Tiba saatnya prahara membiru warnanya
Namun kita harus tetap waspada

Ulurkan tanganmu kasih, tetaplah ulurkan
Agar kita senantiasa dapat bergandangen
Berjalan bersama menuju satu tujuan
Sebuah jalan terang

 

Jalan di Tengah Samudera

Cakrawala yang kita tuju
Nyatanya masih jauh
Namun percayalah kepada angin
Yang senantiasa menuntun

Maka jagalah perahu ini
Jangan sampai pecah di tengah samudera
Dan tegakkan tonggak layar

Mengapa harus berkecil hati?
Sedangkan rembulan dan mentari
Masih tetap setia mengirimkan cahaya
Meskipun harus melewati jalan yang tak mudah
Di sela-sela mendung dan mega

Mestinya kita selalu terjaga
Menahan ombak dengan kekuatan jiwa raya
Mengingat kita harus bertahan
Maka jangan terhenti di tengah cerita
Jika disini masih ada jalan
Untuk menuju keabadian

 

Yang Terindah

Yang terindah kuberikan untukmu
Terlahir dalam dekapan jiwaku

Yang mencari….

Tertatihku coba berdiri
Terhempas ku disana menantimu
Mendambakan kau yang terindah
Persembahan dariku tercipta dalam

Alunan langkahku yang terhenti
Menatap jejakku sendiri
Tertinggal ku disana menantimu

Mendambakan dirimu
Semua yang tersisa
Hanya persembahanku yang terakhir

Kau yang terindah
Jangan biarkan diriku
Terhempas keraguan

 

Cinta

Cinta serupa dengan laut
Selalu ia terikat pada arus
Setiap kali ombaknya bertarung
Seperti tutur kata dalam hatimu

Sebelum mendapat bibir yang mengucapkannya
Angin datang dari jiwa
Air berpusar dan gelombang naik
Memukul hati kita yang telanjang

Dan menyelimutinya dengan kegelapan
Sebab keinginan begitu kuat
Untuk menangkap cahaya

Maka kesunyian pun pecah
Dan yang tersembunyi menjelma
Kau disampingku
Aku disampingmu
Kata-kata adalah jembatan
Waktu adalah jembatan
Tapi yang mempertemukan
Adalah kalbu yang saling memandang

 

Tak lekang oleh waktu

Telah lama kutunggu
Hadirmu disini
Namun hanya ruang semu
Yang nampak padaku
Meski sulit haarus kudapatkan

Sambutlah tangan ini terima janjiku
Rasakan cinta yang tulus
Lewat aliran darahmu
Menyatu seiring dalam kasih

Mari kita jaga sebentuk cinta putih yang telah terbina
Sepenuhnya terimalah pengertian adanya dua beda menyatu
Masilah panjang, jalan hidup merki ditempuh
Semoga tak lekang oleh waktu

Surabaya, Desember 2016
Yang tersisa dari yang terkasih


Biodata Penulis :

Ferry Fansuri kelahiran Surabaya, 23 Maret 1980 adalah penulis, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya “Roman Picisan” (2000) termuat. Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional

 

Mengenal Sosok Penulis Populer Eddy D. Iskandar

Eddy D. Iskandar (lahir di Bandung, Jawa Barat, 11 Mei 1951; umur 66 tahun) adalah seorang sutradara dan penulis Indonesia.

Minat menulis Eddy diawali dari hobinya membaca buku. Sejak kecil ia terbiasa membaca buku yang di pinjam di perpustakaan umum untuk bacaan orang tuanya. Beberapa karya penulis besar, seperti Motinggo Busye, Toha Mohtar, Mochtar Lubis, Marah Roesli, Sutan Takdir Alisjahbana, Usmar Ismail hingga Pramoedya Ananta Toer kerap dibacanya.

Awal karier

Tulisan pertamanya yang berjudul Malam Neraka hadir secara tidak sengaja saat ia mengikuti orientasi mahasiswa baru di Akademi Industri Pariwisata (AKTRIPA) Bandung, pada tahun 1970. Tulisan tersebut di muat di Mingguan Mandala yang redaktur budayanya pada saat itu adalah sastrawan Muhammad Rustandi Kartakusumah. Sejak saat itu, ia mulai rajin menulis beragam tulisan, esai, dan puisi.

Hijarah ke Jakarta

Pada tahun 1975, setelah menyelesaikan kuliahnya di Akademi Industri Pariwisata (AKTRIPA) Bandung, ia pergi ke Jakarta guna menekuni dunia film di Akademi Sinematografi Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta yang kini dikenal sebagai Fakultas Film dan TV Institut Kesenian Jakarta. Ia ingin menjadi sutradara. Film dianggapnya sebagai media yang paling mudah mempengaruhi dan melihat berbagai sisi kehidupan masyarakat.

Di Jakarta, ia kerap berada di Taman Ismail Marzuki yang dikenal sebagai gudangnya penulis dan seniman. Namun, bukan menjadi sutradara, ia justru semakin matang sebagai penulis serba bisa. Selain bergaul dengan seniman dari segala profesi, ia juga sering menyaksikan beragam pementasan di TIM. Eddy juga turut bergabung dalam grup wartawan Zan Zapha Grup yang beranggotakan para penulis muda sepertu El Manik dan Noorca M. Massardi. Tulisan-tulisannya kemudian di distribusikan ke berbagai media cetak, terutama majalah populer.

 

Karya-karya terkenal

Karya tulisnya yang fenomenal, berjudul Gita Cinta Dari SMA dimuat sebagai cerita bersambung di majalah GADIS pada tahun 1976. Karyanya ini banyak menuai pujian. Atas permintaan pembaca, ia membuatkan cerita sambungannya Puspa Indah Taman Hati. Novel Gita Cinta Dari SMA juga diangkat ke layar lebar yang mengorbitkan pasangan, Rano Karno dan Yessy Gusman. Novelnya yang lain, yang berkisah tentang cinta antara tokoh Galih dan Ratna itu juga pernah di reka ulang dalam bentuk sinetron bersambung yang di tayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta. Tahun 2004, ia kembali merilis novel Gita Cinta Dari SMA, Pada tahun 2010, Gita Cinta Dari SMA kembali di angkat sebagai drama musikal berjudul “Gita Cinta The Musical”.

Novelnya yang lain, yang juga meraih sukses di pasaran antara lain Cowok Komersil, yang berhasil dicetak enam kali dalam setahun dengan rata-rata 5.000 buku percetak. Selanjutnya novel Semau Gue diminati sineas film dan menjadi film bertabur bintang, seperti Rano Karno, Yessy Gusman dan Yenny Rachman. Sementara novel dengan 100 halaman berjudul Sok Nyentrik yang di selesaikannya hanya dalam kurun waktu sehari, tercatat berhasil berkali-kali cetak ulang. Salah satu kekuatan novel karya Eddy D. Iskandar karena daya ungkap dan dialognya yang mengalir lancar dan tetap aktual, tidak berpengaruh oleh perubahan trend.

Mengelola Budaya Sunda

Ketenaran tidak membuatnya puas. Ia merasa ada kekosongan batin karena jauh dari kultur asalnya, Jawa Barat. Ia kagum dengan seniman dari daerah lain yang bisa membuat berbagai karya berbasis kearifan lokal. Kesempatan pun datang saat ia di tawari mengelola koran mingguan berbahasa Sunda, Galura, meskipun secara finansial kalah jauh dengan menulis novel popular, namun kepuasan batin sulit dicari tutur penulis berambut Gondrong berwarna putih ini.

Berkecimpung di media massa berbahasa Sunda memberikan banyak pengalaman baru. Ia aktif dalam pembuatan karya seni Sunda, antara lain naskah cerita legenda tanah Sunda seperti Kisah Perang Bubat, menggarap pementasan Konser Kecapi Patereman dan musik Perkusi Marakdungga dalam pergelaran kolosal Mahawira Tatar Sunda, sehingga mengangkat pamor tembang Bandungan yang sebelumnya jarang dimainkan. Ia juga aktif merangkul seniman agar berani mementaskan dirinya, seperti Paguyuban Pelawak Sunda atau Komunitas Peduli Jaipongan Jawa Barat.

Sekuel film “Si Kabayan”

Meski sudah terjun dalam pelestarian budaya Sunda, bakat besarnya sulit di sembunyikan. Tahun 1989, ia diminta menulis skenario film mitos terpopuler Sunda, Si Kabayan. Ia berhasil mengangkat tokoh Si Kabayan yang di bawakan oleh Didi Petet itu menjadi disukai masyarakat Indonesia. Film sekuel Si Kabayan antara lain Si Kabayan Saba Kota(1989), Si Kabayan dan Anak Jin (1991), Si Kabayan Saba Metropolitan(1992) serta Si Kabayan Mencari Jodoh (1994) menjadi film berbalut kearifan lokal terlaris di Indonesia saat itu. Belakangan Si Kabayan juga di buat dalam bentuk sinetron dengan judul Si Kabayan (1997).

Festival Film Bandung

Salah satu kunci suksesnya saat menggarap sekuel Kabayan adalah keberaniannya mendobrak kemapanan dan membawa ide segar dalam film, Kecintaannya pada film jualah yang mendorong dirinya bersama produser Chad Parwez Servia membidani lahirnya Forum Film Bandung yang rutin menyelenggarakan Festival Film Bandung (FFB) sejak tahun 1988. Kini ia menjabat sebagai ketua umum FFB.

 

Penghargaan

Atas dedikasinya yang besar dibidangnya, tercatat beberapa kali ia meraih penghargaan, diantaranya mendapat nominasi untuk skenario jenis komedi untuk Si Kabayan pada FSI 1997, Penghargaan Anugerah Budaya Kota Bandung 2010 dalam bidang Film dari pemerintah Kota Bandung dan Penghargaan Anugrah Seni Budaya Jawa Barat (2010).

Keluarga

Eddy menikah dengan Evi Kusmiati, dikaruniai tiga orang putri Dini Handayani, Novelia Gitanurani, Asri Kembang kasih dan satu orang putra Andre Anugerah. Sampai saat ini ia tetap produktif menulis termasuk menulis sekian banyak skenario sinetron dan film.

 

 

Karya sastra
  • Malam Neraka
  • Gita Cinta dari SMA
  • Puspa Indah Taman Hati
  • Cowok Komersil
  • Semau Gue
  • Sok Nyentrik

 

Sinematografi

Film

Tahun Film Catatan
1977 Cowok Komersil Sebagai penulis
Semau Gue Sebagai penulis
1978 Musim Bercinta Sebagai penulis
1979 Gita Cinta dari SMA Sebagai penulis
Puspa Indah Taman Hati Sebagai penulis
1980 Roman Picisan Sebagai penulis
Sejoli Cinta Bintang Remaja Sebagai penulis
1981 Bunga Cinta Kasih Sebagai penulis
1988 Biarkan Aku Cemburu Sebagai penulis
1989 Si Kabayan Saba Kota Sebagai sutradara
Si Kabayan dan Gadis Kota Sebagai sutradara
1990 Komar Si Glen Kemon Mudik Sebagai sutradara
Jual Tampang Sebagai sutradara
Di Sana Senang Di Sini Senang Sebagai penulis
1991 Si Kabayan dan Anak Jin Sebagai sutradara
1992 Si Kabayan Saba Metropolitan Sebagai penulis
1994 Si Kabayan Mencari Jodoh Sebagai penulis
Sinetron
Tahun Film Catatan
1996 Bidadari yang Terluka Sebagai penulis
Mentari di Balik Awan Sebagai penulis
Harkat Wanita Sebagai penulis
1997 Tirai Kasih yang Terkoyak Sebagai penulis
Senyum di Wajah Tangis di Hati Sebagai penulis
Si Kabayan Sebagai penulis
Selalu Untuk Selamanya Sebagai penulis

(sumber;Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas}

Puisi Ahmad Radhitya Alam

RUANG TANYA

Janjimu semanis madu
Mengambil hati yang tertipu
Bayang nanar bak sembilu
Merombak tatanan baru

Demikuasa, kau lakukan segala
Menindas yang jelata
Lorong gelap kepahitan
Tak perlulah sedu sedan

Luka menganga
Membawa derita
Ruang-ruangtanya
Terbuka

Ruang Imaji, 2017

 

OH ALAMKU, OH NEGERIKU

Oh alamku
Oh negeriku
Kemanakah elokmu
Yang dulu membuat kami merindu

Kemanakah pohonku
Yang dulu hijau indah
Kemana lagi rawaku
Yang jernih memantulkan cahya cerah

Pohon ditebang
Tanah menjadi gersang
Rawa dialih fungsi
Di mana-mana banyak polusi

Oh alamku
Oh negeriku
Aku tak tahu lagi dimana akan bertemu
Dengan alamku yang seperti dulu

Efek rumah kaca menerpa
Alamku tak lagi mau menyapa
Salah siapa ?
Aku, kita, mereka, atausemua

Gubuk Sastra, 2017

 

ANASTASIA

Irama suara menggema
Nada-nada melagu
Nyala suara
Berpadu

Melodi
Indah tak berperi
Memberi kehangatan jiwa
Melepas, meluruh rasa dalam tawa

Blitar, 02 Maret 2016

 

FRAGMEN RINDU

Rindu kami seteguh besi
Menunggu di gelap sunyi
Luka elegi menggunung
Padapalung hati terujung
Semburat cerita luka
Segunung tinggi derita
Hancur jiwa musnah
Menunggu tanpa arah

Blitar, 7 April 2016

 

KEBOHONGAN

Duniadipenuhi dengan kebohongan
Senyum kebohongan
Tawa kedustaan
Atau juga tangisan buaya kenistaan
Ketika hati bingung menghadapi asa semu
Ketika mawar yang dulunya mekar menja dilayu
Aku hanya meminta petunjuk kepadamu
Tuhan

Blitar, 2015

 

Ahmad Radhitya Alam, lahir di Blitar 2Maret2001. SiswaSMAN1 Talun dan santri di PP Mambaul Hisan Kaweron. Penulis bergiat diFLP Blitar, Awalita, vdanTeater Bara SMANTA. Karyanya termaktub dalam beberapa antologi puisi dan dimuat di beberapa media.
AlamatFacebook :Ahmad Radhitya Alam/facebook.com/mask.vendeta.5
NomorHP :085706022133
Email :ahmadradhityaalam@gmail.com

Runtuhnya Sekelumit Mimpi

Cerpen Ratna Ning

Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba ia datang, menyelinap dalam hidupku yang kupikir semula telah sempurna. Entahlah…mungkin karena satu sudut hatiku yang sesungguhnya telah berpenghuni ini tiba-tiba lengang setelah penghuninya menjauh secara ragawi.
Ya, sejak kepergian Dani ke Negeri sakura untuk magang kerja dari perusahaannya, aku merasa sebelah jiwaku hilang. Melayang dan seperti kehilangan arah. Kadang akupun bertanya, kesepiankah ini? Tapi mana mungkin, hampir setiap hari kami berkomunikasi. Lewat telefon, video call, sms ataupun inbox.
Aku yakin ini bukan tentang kesepian. Hanya karena keasyikan mulanya. Di sela jeda kelengangan hari-hariku selepas Dani pergi, Ken dengan luwesnya menyelinap masuk. Memanfaatkan ruang.
“Kita bisa saling menghibur, Mira. Akupun sama, berpisah jauh dengan kekasihku entah untuk berapa lama!” dimulai dengan sebuah prolog, hari-hari manispun bergulir.
Bagiku, Ken adalah lelaki yang berbeda. Ia kocak, santai, bisa menghiburku dengan jiwa seni yang dipunyainya.
Berbincang berdua sembari menyanyikanku lagu-lagu romantis dengan petikan gitarnya adalah salah satu moment romantis yang mengisi hari-hariku semenjak kenal dekat dengan Ken. Kutemukan rasa baru dengannya. Ken membuatku bergairah. Sedangkan Dani, ketenangan dan kebersahajaannya masih tetap menjadikan ia istimewa di hatiku. Dani membuatku merasa nyaman dan berharga. Kupikir, dua lelaki yang hadir dalam hidupku kini mempunyai style yang berbeda, sehingga dari keduanya aku tlah diberi mimpi-mimpi indah meski masih belum sempurna.

***
“Aku mencintaimu, Ra! Entah kapan perasaan itu hadir. Padahal kita sudah saling tahu kadaan kita sejak kita saling kenal. Tapi entahlah…rasa itu semakin hari semakin tumbuh, besar. Sampai akupun sudah tak mampu lagi menguasai logikaku!” Ken sudah nongkrong di depan wajahku dengan semburat sendu.
Aku hanya menunduk. Diam. Tak berusaha menjawab iya ataupun menampiknya. Tiba-tiba saja aku dirubung kebingungan.
“Ra…”Ia bergeming, tangannya meraih tanganku. Lalu tanpa bisa kucegah..
Cupp! Tanganku ditariknya ke bibirnya. Aku menggelinyar. Ada debar yang begitu parah dengan kejadian yang secepat kilat itu.
“Ngomong dong Ra! Apa kamu punya perasaan yang sama denganku? Atauuu…salah dengan semua yang kurasa ini? Perasaanku….”
Aku menggeleng. Kubekap mulutnya dengan kedua jariku. Mataku nanap menatapnya.
“Tidak Ken! Tak ada yang salah. Setiap orang berhak jatuh cinta. Boleh mencintai siapa saja. Bukankah cinta tak mengenal tempat untuk jatuh? Tapi…cinta juga tidak buta. Ia bisa memandang dengan akal sehat si empunya rasa untuk bisa memperlakukan rasa cinta itu jika memang ada kenyataan lain yang membuatnya tak bisa memiliki. Aku…akupun merasakan hal yang sama….” Kataku tersendat. Mata Ken begitu kejora menatapku.
“Betul Ra?”
Aku mengangguk. Lantas kubawa tundukku. Meredakan rasa yang tiba-tiba bergolak. Haiii…keep calm Ra. Kuasai akal sehatmu. Bukankah kamu sudah punya Dani? Tapi…bolehlah jika bisa bermain hati sedikit. Menjalin sebuah hubungan manis. Dan jatuh cinta? Bukankah setiap orang berhak jatuh cinta? Jatuh cinta! Bukan berarti harus saling memiliki. Toh kita tak dapat mencegah. Itu manusiawi. Orang bisa jatuh cinta ribuan kali pada orang yang berbeda di sepanjang hidupnya. Itu haya tentang rasa. Toh hati nanti tetap saja akan memilih salah satu diantaranya. Dua sisi hatiku saling mempengaruhi.
Di hadapanku, Ken senyum-senyum penuh arti. Tangannya bergerak mengacak rambutku. Membelainya lembut. Mengusap-ngusapkan jemarinya pada ubun-ubunku. Untuk sesaat aku hanya diam, merasakan perlakuan manis Ken. Hatiku terasa hangat.
“Kita akan melalui hari-hari kita dengan warna-warna cinta ya Ra. Aku akan selalu ada buat kamu. Begitu juga kamu. Kita akan saling mengisi…” bisik Ken.
“Kita?” Aku tersentak, menyadari sesuatu. “Tapi Ken…aku ragu. Aku tak mungkin bisa melupakan dan membuang Dani begitu saja dari hatiku….”
“Haiiii…kau kira aku juga bisa melupakan dan membuang Intan dari hidupku? Rasanya aku ragu juga. Aku tak siap kehilangan Intan. Tak mungkin!!” sabot Ken dengan suara tegas.
“Jadiiii??” kutatap mata romantisnya dengan rasa kebat-kebit.
“Yaaa..sementara mereka jauh dari kita apa salahnya kita jalani saja jalinan cinta ini diam-diam…”
“Artinya? Kita? Selingkuh?”
“Tapi indah khannnn?” Ken setengah menggoda. Aku tersenyum. Lebih untuk menetralisir suasana hatiku yang tiba-tiba acak-acakan tak karuan.

***
“Sedang apa sayang?”
“Menangis!” kutuliskan jawaban dengan memijit kalimat itu di inbox.
“Lho? Menangis kenapa?” Jawaban dari sana tak kugubris. Diam menunggu reaksinya.
“Dani paham apa yang Mira rasa…” tu khan, seperti tak sabar ia meneruskan jawabannya.
“Tapi tolong Mira dengar! Dani pergi untuk Mira juga. Untuk masa depan kita. Demi rasa sayang Dani sama Mira. Mira tahu, untuk mewujudkan rumah impian di hati kita, cinta saja tidak akan cukup Ra. Kita tak mungkin bisa hidup dengan ngucapin cintaaaa melulu tiap hari. Dani juga gak bisa kasih makan Mira cukup dengan say I love u. Dengan cinta Dani, Dani ingin mewujudkan sebuah bangunan yang kokoh, kuat, dengan pilar-pilar yang megah, taman yang indah. Bangunan hati dan bangunan yang sesungguhnya. Cinta yang akan kita bangun di kehidupan rumah tangga nanti, sayang. Kamu yang sabar ya? Dani tak hanya ingin membuat Mira cinta mati sama Dani. Tapi Dani juga ingin memberikan keyakinan dan kebanggaan di hati Mira hingga Mira tak akan merasa menyesal tlah memilih Dani untuk Mira cintai. Mira ngerti khan?”
Aku mengangguk, meski Dani tak dapat melihat anggukanku. Seperti juga, ia tak bisa melihat luruhan air mataku yang semakin menderas. Rasa sedih, sepi, terharu bercampur aduk dengan rasa bersalah yang membuatku tak berdaya akhir-akhir ini. Tiba-tiba saja aku merasa kerdil di hadapan Dani yang begitu kuat menjaga dan memperjuangkan cintanya sementara aku? Aku malah asyik membagi hati disini. Betapa tololnya!
Satu kotak obrolan terbuka.
“Sayaaannggg….” Ken dengan sapaan manjanya.
“Iya!” kujawab dengan singkat. Masih menunggu Dani melanjutkan obrolan.
“Dingin banget jawabannya…” datang lagi rentetan kata dari ken. Tanganku berpindah box lagi.
“Truss? Mesti gimana?” send lagi.
“Bosen ya sama aku?”
Kuhela nafas, kesal. Ken selalu begitu. Jika telat menjawab sms atau inbox, begitupun kalau telefon tak sempat diangkat, ia akan melontarkan pertanyaan serupa. Huhh! Jenuh juga lama-lama.
“Kamu selalu bertanya seperti itu. Ken, jangan kayak anak kecil deh!”
“Abisnya, kamu gak ngerti sayang, aku tuh lagi butuh kamu. Aku galau banget niii…:”
“Whats? Galau? Makhluk apa tuh? Kamu tuh lelaki dewasa Ken. Bukan ababil lagi. Jadi dah gak penting deh bergalau ria…”
“Emang orang dewasa gak boleh galau ya? Justeru orang dewasa yang banyak galau. Banyak masalah.Kamu sama saja dengan Intan. Selalu gak punya cukup waktu untukku. Aku putus asa dengan hubungan kami, Mira. Intan selalu menyuruh aku setia menunggu, tapi iapun selalu tak punya cukup waktu untukku…padahal…”:
“Heiiii..jangan underestimate dulu. Dia disana bukan sedang liburan, sedang kerja Ken. Ya pastilah hari-harinya mesti lebih focus sama kerjaan. Kamu harusnya mengerti. Bukan malah kolokan begitu. Nanti bisa jadi beban buat Intan. Kasihan khan?”
“Entahlah…”
“Aku sudah gak mood. Kerjapun jadi malas. Gak ada semangat.sorry, kayaknya aku juga bakal jarang ngehubungi dia. Mungkin ngehubungi kamu juga. Aku lelah Mira!”
Obrolan berakhir. Notifikasi aktif yang berwarna hijau padam. Tanpa memberi kesempatan padaku untuk menjawab.
“Mira sayang…sudah tenang kan sekarang?” inbox dari Dani muncul lagi.
“Baik-baik ya disana. Ingat selalu, Dani tuh sayaaang banget sama Mira. Dani ingin menjaga Mira seumur hidup Dani. Jangan khawatir sayang! Harus yakin. Oke? Dani off dulu ya?”
“Iya sayang. Mira sayang sama Dani!” jawabku mengakhiri obrolan.
Hening. Aku mencangkung di depan laptop yang masih menyala. Memikirkan kembali dua lelaki yang sempat menjadi dilema. Dani dengan kesederhanaan dan kesabarannya. Cintanya yang begitu besar yang membuatnya tegar menggapai dunianya. Ia begitu hidup dengan cinta yang tumbuh besar di hatinya. Ken, cowok yang mulanya begitu menarik dengan sifat humoris, romantis dan sempat mengantarkanku melayang dalam dunia angan tentang cinta yang begitu elegant. Tapi setelah berjalan dan merasakan setiap moment yang terjadi, Ken itu tak lebih cowok pendamba cinta yang begitu melankolik, rapuh dan mudah patah. Dibalik kekonyolannya ia adalah cowok egois yang keras hati. Tiba-tiba saja aku seperti disadarkan dari tidur dengan mimpi indah tentang seorang pangeran idaman.
Ahh, hidup ini bukanlah mimpi. Pangeran idaman itu haya hidup dalam mimpi. Sedangkan lelakiku yang sesungguhnya adalah dia yang sudah bersemayam indah di hatiku. Dia yang sesungguhnya sudah betah mendiami singgasana dan tak bisa lagi tergantikan.
“Laki-laki yang lembut hati tapi kuat dalam karakter dan pendirian. Mampu survive dan bisa mensugesti untuk suatu kemajuan, yang mampu menenangkanku dengan cintanya yang dibarengi keyakinan, dialah lelakiku!”
Di episode ini aku berhenti. Berhenti tuk melepaskan sekelumit impian yang sempat singgah. Ya, ken bagiku hanyalah sebuah impian. Karena pada kenyataannya, aku tak bisa beranjak untuk menjatuhkan pilihan pada ken meski aku sempat menjatuhkan hatiku dalam sebuah kekaguman yang berlebihan.
Kembali berjalan menggandeng hati Dani. Ialah lelakiku. Seseorang yang meskipun bersahaja tapi tak pernah melonggarkan ikatan kasihnya meski terpisah ribuan mill. Lelaki yang selalu memanggilku dengan kelembutan hatinya, tuk sentiasa kembali dan mendiami sudut indah dalam bangunan kami.
***

Biodata:

Ratna Ning, lahir di Subang Jawa barat pada tanggal 19 September. Mulai menulis pada tahun 1994. Pada tahun itu pula tulisannya di muat di media massa Kawanku. Dari tahun 1994 sampai dengan tahun 2005 aktif menulis di Media Massa. Beberapa tulisannya berupa cerpen, cerpen islami, puisi, Cerpen daerah dimuat di beberapa Media Massa Nasional diantaranya Kawanku, Ceria Remaja, Annida, Muslimah, Puteri, tabloid Jelita dan beberapa media daerah dan instansi. Sempat vakum dari 2005 sampai dengan 2012. Padah tahun 2013 beberapa antologinya baik yang digawangi sendiri maupun yang ikut event telah dibukukan.
Ratna Ning bisa dihubungi di facebook Ratna Ning. Twitter ratnaning6. Ratnaning597Blogspot.com. No. kontak 087726550820.

 

Sosok Makhluk Halus Tertangkap Kamera di Siang Bolong di Pangandaran

Geger, warga masyarakat di Dusun Bojongjati Rt. 01/RW. 04 Desa Pananjung, Kec./Kab.Pangandaran, Jawa Barat, setelah diketahui seorang warga (tanpa sengaja) berhasil mengabadikan sesosok makhluk berambut panjang terurai dan menutup wajahnya di siang bolong.

Sosok misterius tersebut tertangkap kamera oleh Novita Imut Maharani (10) ketika memotret tantenya, namun hasilnya justru sesosok hantu berdiri persis di depan jendela rumahnya, Kamis, (23/8/2017)/foto bawah.

Novita Imut Maharani menceritakan, pada saat itu dirinya sedang memotret tantenya. Namun begitu dilihat hasilnya justru sesosok mahluk halus berambut panjang dengan kain putih.

“Saya juga kaget begitu hasil foto dilihat yang ada bukan tante, “ungkapnya.

Menurutnya setelah itu badannya terasa merinding dan dingin begitu melihat ada penampakan sosok tersebut, sementara tantenya jadi tidak ada dalam foto.

“Ini asli bukan aplikasi dari perangkat handphone, “tuturnya.

Nurwati (36), tidak tahu kalau dirinya di foto oleh keponakannya. Lebih kaget lagi ketika melihat hape keponakan tiba-tiba ada foto penampakan wanita berbaju putih.

“Saya tadi sedang makan tidak tahu kalau di foto oleh Dede Imut, “katanya.

Sementara pemilik rumah Tukiyah (48) menyampaikan di rumahnya memang ada mahluk halus yang seperti itu. Namun baru kali ini tertangkap kamera.

“Banyak tetangga juga sering melihat penampakan mahluk halus tapi sudah terbiasa, namun baru kali ini terlihat dalam foto”ungkapnya.

Saksi lainnya Jerry mengatakan foto ini asli. Dirinya bahkan memeriksa hp nya dan tidak ditekulanw aplikasi edit foto dan anak yang mengambil gambar belum terlalu mengerti penggunaan hp.

Kalau aplikasi hp mestinya dalam foto mestinya tampak tantenya sebagai objek foto, namun justru sosok lain yang muncul.

Dirinya juga mengaku sebelumnya tidak percaya, namun setelah ke lokasi dan memeriksa hp yang digunakan memotret, barulah dia yakin ini bukan editan.

“Warga juga menyampaikan disekitar lokasi malah kerap terdengar tangisan dan rintihan perempuan,”pungkasnya. (Iwan Mulyadi/Warta Priangan)

Apa Hukumnya Menikah Bagi Kinata?

Cerpen: Redovan Jamil 

Ketika makan malam keluarga kecil itu. Tiba-tiba semua mata tertuju pada Kinata. Komat kamit mulutnya mengunyah nasi serta lauk, lalu sambil menundukkan kepala ia berucap, “Aku tidak ingin menikah. Batalkan saja pertunangan yang telah kita jalin bersama keluarga Duri!” Ibunya Kinata bingung atas apa yang dilontarkan anaknya. Hanya tinggal hitungan hari pesta itu akan segera diselenggarakan.

Kelopak mata jingga Kinata kini telah berat dengan bongkahan air yang ingin buncah. Setitik. Dua titik. Kemudian pecah dan mengalir deras membanjiri pipinya.

“Bapak dan ibu tidak bisa jadi panutan untukku. Keluarga ini tidak pernah akur. Siapa yang akan aku contoh? Apa untungnya sebuah pernikahan? Dan apa juga hukumnya menikah bagi seorang laki-laki?”, gerutu Kinata dalam hatinya yang  penuh pergolakan.

Peperangan hebat terjadi pada dirinya. Masa lalu atau masa depan. Beberapa bulan setelah kejadian itu, terdengar kabar Kinata tertawa-tertawa sendiri sepanjang jalan di kotanya.

***
Mimpiku telah sirna,
Bersama petang tenggelam,
Kekosongan akan abadi,
Dalam gelap-gelap malam.
 

Lembabnya sisa air hujan semalam membasahi dedaunan di sepanjang perjalanan menuju rumahnya Kinata. Kiri-kanan rumahnya ditumbuhi oleh pepohonan yang sengaja ditanam untuk menyejukkan kota. Program penanaman itu bertujuan untuk pengendalian ekosistem yang sudah mulai tidak stabil. Masyarakat yang tidak tahu benar akan hal itu menyetujui saja. Maka tumbuh suburlah beberapa pohon pelindung di sepanjang jalan di kota itu.

Terlihat Kinata tengah termenung sembari duduk di beranda rumah. Sarjana muda itu belum mendapatkan pekerjaan. Usai perayaan wisuda yang sudah beberapa bulan lalu, ia habiskan hari-harinya membantu orang tuanya bertani. Paginya ikut ibunya ke kebun untuk menyadap karet. Dan siangnya ia bekerja di sawah.

Sekarang adalah musim panen. Padi-padi telah menguning. Hamparan keindahan persawahan itu tersaji indah di depan mata. Bertumpak-tumpak sawah milik petani sudah siap untuk di panen. Terlihat Kinata tengah menyusuri pematang sawah sembari mengamati padinya siang itu. Wajah tersenyum dan hatinya berkata, “Sawah adalah taman kanak-kanakku, sebelum kehadiran lelaki asing itu. Apakah waktu bersedia berbalik haluan?”

Semua masa kecilnya itu sempurna hadir. Tidak sanggup ia menepis kenangan yang membuatnya rindu akan kedamaian itu. Di mana ia berlari sebisanya di dalam lumpur sawah. Memancing belut. Mengamati senyum ayah kandungnya yang penuh takjub pada kelihaiannya membuat pematang sawah.

“Anak bujangku yang pintar dan tangguh. Jagoan bapak yang nomor satu”,  ucapan ayah kandungnya sambil mengacungkan jempul ke udara. Kinata tersenyum penuh dengan rasa bangga. Anak kecil yang haus prestasi dan pujian dari orang yang dicintainya.

Kini Kinata telah beranjak dewasa. Orang asing selalu hadir di dalam keluarganya. Merenggut semua kebahagian yang dulu ada. Kinata sudah memvonis dalam dirinya bahwa lelaki itu adalah orang asing baginya. Selalu asing. Sampai detik ini.

“Kenapa IP kamu dari semester ke semester selalu menurun? Semester sebelumnya satu mata kuliah yang tidak tuntas. Untuk sekarang bertambah menjadi dua”, ibunya Kinata kesal sembari membaca lembaran nilai semesternya. Kinata hanya menundukkan kepala. Jika ibunya memarahi atas penurunan prestasinya, ia selalu mencoba tidak melawan. Walau di dalam hatinya banyak pernyataan-pernyataan pembelaan yang ingin ia lontarkan. Tentang keluh kesah yang menganjal di dalam dadanya. Tetapi kali ini ia hanya sanggup menahannya. Mencoba untuk terlihat biasa-biasa saja.

Tubuh Kinata terasa lemah dan tidak berdaya. Ia tidak ingin mengerjakan apa-apa. Kinata mengurung dirinya di kamar. Terdengar ibunya memanggil dan menyuruhnya ke kebun. Ia pura-pura tidak mendengarnya.

“Sarjana macam apa anakmu itu? Kerjanya hanya bermalasan saja. Disuruh kerja tidak mau. Lebih baik pergi saja dia dari rumah ini!”, terdengar sayup-sayup perbicangan lelaki asing itu dengan ibunya Kinata. Ibunya hanya diam. Tidak memihak siapapun. Lelaki asing itu terus memaki-maki Kinata. Menghujat semua kesalahan Kinata. Kinata hanya diam di dalam kamarnya.

‘Aku adalah orang asing, semenjak kedatangan lelaki asing itu di ramah ini. Aku adalah orang baru di rumah sendiri.’ Air bening telah mengalir di pipinya. Ia rindu akan ayah kandungnya. Orang yang menjadi jagoannya sekaligus teman bermain baginya. Orang asing itu tidak akan pernah sanggup menggantikan posisi ayah kandungnya. Sampai kapanpun.

***

“Apakah benar apa yang dibicarakan tetangga akhir-akhir ini Suharti. Tolong berikan penjelasan kepadaku?”, ayah kandung Kinata ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Kalau benar kenapa? Jika tidak bagaimana?”, ibu menyergah ayah kandungnya Kinata.

“Berikanlah penjelasan yang pasti, Suharti! Saya tidak suka berbelit-belit.” Ayah Kinata mencoba mengendalikan emosinya. “Iya. Memang benar apa yang dilihat dan dibicarakan tetangga kita”, ibunya Kinata berucap tanpa ada penyesalan pada raut wajahnya.

Ayah Kinata hanya sanggup menggeleng-gelengkan kepala. Ia tidak menyangka setega itu istrinya menghianati pernikahan mereka yang tidaklah seumuran jagung. Beraninya ibu Kinata membawa lelaki asing ke rumahnya. Ayah Kinata pergi beberapa hari dari rumah hanya untuk menjali tugas dinas dari sekolah. Selama itu wanita yang dari dulu ia cintai dan ia banggakan tega berselingkuh. Mengakui semua kejadian itu tanpa rasa bersalah sedikitpun. Ayahnya Kinata sungguh kecewa. Hatinya tidak sanggup menerima kenyataan yang berdiri tegak di hadapannya.

Malam itu Kinata tidak ada di rumah. Ia tidak tahu pertengakaran hebat yang terjadi antara ibunya dengan ayah kandungnya.

“Ayah mana, Bu?”, dengan polosnya Kinata bertanya pada ibunya.

“Ayahmu sudah pergi semenjak tadi malam”, jawab ibunya datar. Mencoba untuk mengalihkan percakapan.

“Ayah dinas lagi, Bu?”, lanjut Kinata dengan penuh tanda tanya. Ia sudah menunggu kepulangan ayahnya beberapa hari ini.

“Ayahmu pergi selamanya. Mungkin tidak akan pulang lagi”.

Wajah Kinata merah padam.

Setelah ibunya mejelaskan semuanya. Semenjak itu Kinata benci dengan ibunya. Kinata sangat merasa kehilangan. Ia selalu menunggu ayahnya untuk kembali ke rumahnya. Tapi ayahnya tidak kunjung pulang. Hari-hari Kinata dipenuhi kesedihan dan kerinduan terhadap ayahnya.

***

Waktu makan malam, ibunya meminta waktu untuk membicarakan hal serius. Kinata hanya memasang wajah datar. Apapun yang ingin dibicarakan ibunya, baginya tidak penting. Kinata tidak begitu peduli lagi dengan ibunya, apalagi tentang masa depannya. Kini Kinata tidak memiliki semangat hidup. Rasanya ia ingin mencari ayahnya. Tapi ia tidak tahu ke mana ayahnya pergi. Sampai saat ini Kinata tidak pernah lagi mendapat kabar dari ayahnya.

“Ibu ingin menikah lagi. Ibu harap kamu menyetujui rencana ini!” Beberapa kata yang disusun menjadi sebuah kalimat yang menghujam jantung Kinata. Kalimat yang dilontarkan ibunya bukanlah sebuah pertanyaan, tetapi adalah sebuah pernyataan. Pernyataan yang tanpa ada kata penolakan yang keluar dari mulut Kinata.

Kinata memandang wajah ibunya lamat-lamat untuk beberapa detik. Kinata dapat menafsirkan bahwa apa yang diucapkan ibunya adalah sesuatu yang sungguhan. Kinata meletakkan sendok makannya dengan sembarangan dan meninggalkan bunyi yang keras. Berjalan dengan terburu-buru ke kamarnya. Baginya kalimat yang disampaikan ibunya adalah sebuah kewajiban untuk sepakati.

Perasaan Kinata tidak karuan. Otaknya dipenuhi rasa benci terhadap ibunya. Setega itu ibunya menikah dengan orang lain dan menggantikan posisi ayahnya. Kinata mengurung diri di kamar dan tidak keluar-keluar.

***

“Siapa yang kamu bonceng kemarin siang? Ada tetangga yang bilang”, ibunya Kinata melontarkan pertanyaan kepada lelaki asing itu.

“Ooo…perempuan itu. Dia adalah teman lamaku, kebetulan bertemu tadi di pasar. Jadi aku mengantarnya pulang,” jawab lelaki asing itu seadanya sembarai memainkan cigaret.

“Sudah sering tetangga melihatmu bersama perempuan itu. Sekarang jujur saja”.

“Siapapun perempuan itu, memang bagaiman?”, dengan suara tinggi lelaki asing itu membentak ibunya Kinata.

“Apakah dia selingkuhanmu?”

“Kalau benar kenapa? Jika tidak bagaimana?”. Persis dengan kalimat yang pernah dilontar ibu Kinata kepada ayah kandungnya. Air mata ibunya Kinata telah buncah dan menghujani pipinya. Semua telah terjadi. Kekecewaan telah terbalas kekecewaan. Tidak ada yang harus disalahkan, selain diri sendiri.[]

 

Biodata

Redovan Jamil, lahir Padang Benai pada 24 tahun yang lalu. Profesi  karyawan Yayasan Dompet Dhuafa sebagai Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia yang bertugas di Kepulauan Meranti, Riau. Ingin menebarkan virus cinta literasi kepada anak-anak marginal/ujung negeri. Berbagi apa punya, menuai apa yang disemai. Antologi puisinya juga pernah tergabung dalam Puisi Penyair Nusantara 6,5 Luka Pidie Jaya: 2016, Sajak Hujanku: 2016, dan Antologi Sajak-sajak Anak Negeri: Sajak Angin: 2017. Karya dan tulisannya juga pernah dimuat di media lokal dan nasional seperti Riau Post, Haluan Singgalang dan Rakyat Sumbar serta media online lainnya. Alamat Yayasan Fitrah Madani Meranti, jln. Siak no.70A Selatpanjang, pos 28753. Bisa dihubungi ke nomor 085265781291/ WA, email redovanjamil1993@gmail.com, dan Facebook atas nama Redovan Jamil

Puisi Soni Farid Maulana

Soni Farid Maulana

Batu Hiu

Terdampar di pantai
sebab rakus dan buas

Ia dikutuk jadi batu
orang-orang menyebutnya:

batu hiu. Lalu bagaimana
dengan mereka yang bengis

melebihi binatang buas?
Demi kuasa, tahta, dan harta

menyingkirkan sesama?
Sungguh lebih dari:

Malin Kundang

2017

Soni Farid Maulana, lahir di Tasikmalaya 18 Februari 1962. Saat ini tinggal di Ciamis, Jawa Barat. Buku puisi yang ditulisnya, Arus Pagi *2015) meraih Anugerah Buku Utama dari Yayasan Puisi Indonesia 2015. Buku lainnya yang sudah terbit antara l;ain Sisa Senja *KKK, 2015), Kisah Suatu Pagi (KKK 2017) dan Sehabis Hujan (KKK, 2017)

Mengenal Soni Farid Maulana, Sastrawan Kelahiran Tasikmalaya

Soni Farid Maulana (lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 19 Februari 1962; umur 55 tahun) adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Namanya mulai dikenal melalui karya-karyanya yang dipublikasikan di berbagai media massa, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda. Namanya tercatat dalam dalam entri Enslikopedi Budaya Sunda (PT. Pustaka Jaya, 2000) dan Apa Siapa Orang Sunda (Kiblat Buku Utama, 2003). Soni merupakan penerima Anugerah Jurnalistik Zulharmans PWI Pusat, periode 1999 -2000.

Soni Farid Maulana (foto internet)

 

Latar belakang

Soni Farid Maulana menyelesaikan pendidikannya di Akademi Seni Tari (ASTI) Bandung jurusan teater tahun 1985. Aktif menulis puisi sejak tahun 1976, dipublikasikan di berbagai media massa cetak terbitan daerah dan ibu kota. Sejumlah puisi yang ditulisnya sudah dibukukan dalam sejumlah antologi puisi tunggal dan bersama penyair lain. Karya sajaknya, Tusuk Gigi (1987) oleh musikus Harry Roesli, direpresentasikan ke dalam pertunjukan Opera Tusuk Gigi (1996) di Bandung. Beberapa sajaknya diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Prof. Dr. A. Teeuw dan Linda Voute. Selain itu, sajaknya diterjemahkan pula ke dalam bahasa Jerman oleh Dr. Berthold Damshauser.

Sebagai penyair, Soni berkali-kali diundang oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk membacakan sejumlah puisi yang ditulisnya di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta antara lain dalam forum Puisi Indonesia 1987, dan Cakrawala Sastra Indonesia 2005. Pada tahun 1990 mengikuti South East Asian Writers Conference di Queezon City, Filipina. Pada 1999 mengikuti Festival de Winternachten di Den Haag, Belanda. Pada 2002 mengikuti Festival Puisi Internasional Indonesia di Bandung, dan International Literary Biennale Living Together 2005 di Bandung. Pada November-Desember 2013 baca puisi dan ceramah sastra Indonesia di INALCO, Paris atas undangan Prof. Dr. Etienne NAVEAU. Pada April 2014, dia tampil baca puisi di Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, atas undangan Prof. Dr. SN Dato Kemala dari komunitas sastrawan Nusantara Melayu Raya (Numera). Saat ini dia aktif di Rumah Baca Ilalang.

Bibliografi

  • Karya tunggal
  1. Variasi Parijs van Java (PT. Kiblat Buku Utama, 2004)
  2. Secangkir Teh (PT. Grasindo, 2005)
  3. Sehampar Kabut (Ultimus, 2006)
  4. Angsana (Ultimus, 2007)
  5. Opera Malam (PT. Kiblat Buku Utama, 2008)
  6. Pemetik Bintang (PT Kiblat Buku Utama, 2008)
  7. Peneguk Sunyi (PT Kiblat Buku Utama, 2009)
  8. Mengukir Sisa Hujan (Ultimus, 2010)
  9. Disekap Hujan (Kelir, 2011)
  10. Telapak Air (KSLS, 2013)
  11. Arus Pagi (Rumah Baca Ilalang, 2015)
  12.  Sisa Senja *KKK, 2015),
  13. Kisah Suatu Pagi (KKK 2017) 
  14. Sehabis Hujan (KKK, 2017)
  • Karya Bersama
  1. Tonggak IV (PT Gramedia, 1987)
  2. Winternachten (Stichting de Winternachten, Den Haag, 1999)
  3. Angkatan 2000 (PT. Gramedia, 2001)
  4. Dari Fansuri Ke Handayani (Horison, 2001)
  5. Gelak Esai & Ombak Sajak Anno 2001 (Penerbit Buku Kompas, 2001)
  6. Hijau Kelon & Puisi 2002 (Penerbit Buku Kompas, 2002)
  7. Horison Sastra Indonesia (Horison, 2002)
  8. Puisi Tak Pernah Pergi Penerbit Buku Kompas, 2003)
  9. Nafas Gunung (Dewan Kesenian Jakarta, 2004)
  10. Living Together (Kalam, 2005)
  11. Antologia de Poéticas (PT Gramedia, 2009)
  12. Negeri Abal-Abal (Kosakatakita, 2013)
  13. Teras Belakang (KSLS, 2014)
  14. Negeri Langit (Kosakatakita, 2014)
  15. Setebas Malam (Rumah baca Ilalang, 2015)
  • Karya berbahasa Sunda
  1. Kalakay Méga (Cetakan 3, 2007, CV Geger Sunten)
  2. Angin Galunggung (CV. Geger Sunten, 2012)
  3. Saratus Sajak Sunda (CV Geger Sunten 1992)
  4. Sajak Sunda Indonesia Emas (CV. Geger Sunten, 1995)
  5. Antologi Puisi Sajak Sunda (PT. Kiblat Buku Utama, 2007)
  • Esai
  1. Pintas Puisi Indonesia (Jilid 1, PT. Grafindo, 2004, dan Jilid 2, 2007)
  2. Apresiasi dan Proses Kreatif Menulis Puisi (PT. Nuansa Cendekia, 2012)
  3. Menulis Puisi Sebuah Pengalaman (KSLS, 2013)
  • Cerpen
  1. Orang Malam (Q-Press, 2005)
  2. Empat Dayang Sumbi (Komunitas Sastra Lingkar Sastra Selatan, 2011)

Penghargaan

  • Karyanya, Sehampar Kabut dan Angsana meraih Hadiah Sastra Lima Besar Khatulistiwa Literary Award untuk periode 2005-2006 dan 2006-2007
  • Karyanya, Telapak Air meraih Hadiah Sastra Lima Besar Khatulistiwa Literary Award untuk periode 2012 -2013.
  • Sajak Tina Sapatu Jeung Baju Sakola Barudak meraih Hadiah Sastra LBSS (1999)
  • Esai yang ditulisnya Taufiq Ismail, Penyair Yang Peka Terhadap Sejarah, meraih Anugerah Jurnalistik Zulharmans dari PWI Pusat, Jakarta (1999).
  • Hadiah Puisi Juniarso Ridwan lewat puisi Sunda yang ditulis dan dipublikasikannya di majalah Sunda, Manglé.
  • Pada bulan Desember 2010 mendapat Anugerah Budaya 2010 dari Gubernur Jawa Barat untuk bidang penulisan karya sastra.
  • Namanya dicatat Ajip Rosidi dalam entri Enslikopedi Budaya Sunda (PT. Pustaka Jaya, 2000) dan Apa Siapa Orang Sunda (Kiblat Buku Utama, 2003)

Sonian

Apa itu sonian? Penyair Soni Farid Maulana menjelaskan, bahwa sonian adalah puisi sepanjang empat baris yang dikreasi dengan pola 6-5-4-3 suku kata perlarik. Semakin bawah seorang penyair menulis sonian, maka semakin sulit, karena kata-kata yang dibutuhkan semakin sedikit jumlahnya.

“Hal ini dimaksudkan, agar puisi yang ditulis dalam bentuk ini tidak pecah, melainkan kian fokus pada pengalaman batin macam apa yang ingin diekpresikan. Jika diibaratkan dengan mata panah yang terbalik, maka jelas sudah, bahwa kian bawah kian runcing adanya. Walau demikian, meski nyaris sama pendeknya dengan haiku, sonian bukan haiku yang ditulis dengan pola 5-7-5 suku kata perlariknya, yang dikreasi oleh penyair Jepang kenamaan pada zamannya, Bāsho,” tutur Soni seperti pernah diberitakan PRLM (21 Februari, 2015 lalu).

Dibukanya grup penulisan puisi genre sonian di Jejaring Sosial Facebook pada 21 Januari 2015 lalu oleh penyair bertubuh atleris ini, telah mendapat perhatian yang meluas. Media nasional seperti HU Kompas, pada Sabtu (21/02/2015) telah turut memberitakan gerakan penulisan puisi yang dikreasnya.(okb/berbagai sumber)

Baca: Puisi Soni Farid Maulana

Seru, Festival Kuda Lumping Padaherang Diikuti Puluhan Grup

Salah satu grup penampil beraksi dalam ajang Festival Kuda Lumping di Padaherang, Minggu (20/8). Foto: Bid. Kebudayaan Disparbud Pangandaran (atas)

Padaherang, SPC – Puluhan kelompok seni kuda lumping dari Kec. Padaherang, Mangunjaya, dan Kalipucang mengkuti ajang Festival Kuda Lumping di Lapangan Procit Desa Patinggen Kec. Padaherang,  (Minggu 19/8). Selain banyak peserta yang mengikuti hajat seni budaya tersebut, ajang yang digelar pertama kali di Kab Pangandaran, Jawa Barat itu mendapat sambutan meriah dari masyarakat.

Tidak kurang dari 2000 warga sekitar antusias menyaksikan jalannya festival. Para penonton tampak antusias melihat satu demi satu kebolehan kelompok peserta.

Kepala Bidang Kebudayaan Disparbud Pangandaran Aceng Hasim menjelaskan kategori yang dilombakkan yaitu ibing cakilan, baladewaan dan barongan. Indikator yang dijadikan dasar penilaian di antaranya keluwesan gerak, kesesuaian gerak dengan musik, serta kekompakkan gerak.

Lebih jauh Aceng menyampaikan, kuda lumping bukan seni tradisi asli Kab. Pangandaran. Namun, kata dia, kesenian tersebut tumbuh baik di Pangandaran dibawa dan dirawat oleh leluhur warga suku Jawa asal Jawa Tengah.

“Dibanding kesenian lain yang ada di Pangandaran, kelompok seni ini paling banyak. Menurut catatan kami ada 60 kelompok se-Kab. Pangandaran, terbanyak di Kec Mangunjaya dan Kec. Pangandaran” kata Aceng seperti diberitakan SP.Com.

Kepala Disparbud Kab Pangandaran H Undang Sohbardin dalam sambutannya menyampaikan, ajang budaya di Padaherang selalu nendapat sambutan meriah dari masyarakat, tak terkecuali Festival Kuda Lumping. Potensi seni tersebut dan antusiasme masyarakat, kata Andang, perlu diapresiasi.

Dengan keadaan tersebut pihaknya ingin menyelenggarakan kegiatan tersebut di Padaherang, serta mengundang kelompok seni sejenis dari kabupaten tetangga.

“Ke depan kami ingin mengundang kelompok seni kuda lumping dari kabupaten yang terdekat. Sehingga acara semakin meriah serta bisa menjadi perbandingan, ” papar Undang.

Editor: Andi Nurroni/SP.Com

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai