Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru adalah taman nasional di Jawa Timur, Indonesia, yang terletak di wilayah administratif Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Probolinggo. Taman yang bentangan barat-timurnya sekitar 20-30 kilometer dan utara-selatannya sekitar 40 km ini ditetapkan sejak tahun 1982 dengan luas wilayahnya sekitar 50.276,3 ha. Di kawasan ini terdapat kaldera lautan pasir yang luasnya ±6290 ha. Batas kaldera lautan pasir itu berupa dinding terjal, yang ketinggiannya antara 200-700 meter.

 

Sejarah

Sebelum ditetapkan sebagai taman nasional, daerah Tengger merupakan kawasan hutan yang berfungsi sebagai cagar alam dan hutan wisata. Kawasan hutan ini berfungsi sebagai hutan lindung dan hutan produksi. Melihat berbagai fungsi tersebut, Kongres Taman Nasional Sedunia mengukuhkan kawasan Bromo Tengger Semeru sebagai taman nasional dalam pertemuan yang diselenggarakan di Denpasar, Bali, pada tanggal 14 Oktober 1982 atas pertimbangan alam dan lingkungannya yang perlu dilindungi serta bermacam-macam potensi tradisional kuno yang perlu terus dikembangkan. Pada tanggal 12 November 1992, pemerintah Indonesia meresmikan kawasan Bromo Tengger Semeru menjadi taman nasional.

Kekayaan Flora & Fauna

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru memiliki tipe ekosistem sub-montana, montana dan sub-alphin dengan pohon-pohon yang besar dan berusia ratusan tahun antara lain cemara gunung, jamuju, edelweis, berbagai jenis anggrek dan rumput langka. Pada dinding yang mengelilingi TN Bromo Tengger Semeru terdapat banyak rerumputan, mentigi, akasia, cemara, dll.

Ranu Regulo pada tahun 1930-an

Satwa yang terdapat di taman nasional ini antara lain luwak (Paradoxurus hermaphroditus), rusa (Rusa timorensis), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), kijang (Muntiacus muntjak), ayam hutan merah (Gallus gallus), macan tutul (Panthera pardus melas), ajag (Cuon alpinus javanicus); dan berbagai jenis burung seperti alap-alap burung (Accipiter virgatus), rangkong (Buceros rhinoceros silvestris), elang ular bido (Spilornis cheela bido), srigunting hitam (Dicrurus macrocercus), elang bondol (Haliastur indus), dan belibis yang hidup di Ranu Pani, Ranu Regulo, dan Ranu Kumbolo.

Akses

Taman nasional ini adalah salah satu tujuan wisata utama di Jawa Timur. Dengan adanya penerbangan langsung Malang-Jakarta dan Malang-Denpasar diharapkan jumlah kunjungan wisatawan asing maupun domestik akan semakin meningkat. Selain Gunung Bromo yang merupakan daya tarik utama, Gunung Semeru yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendaki. Meski demikian untuk sampai ke puncak Semeru tidaklah semudah mendaki Gunung Bromo dan para pendaki diharuskan mendapat izin dari kantor pengelola taman nasional yang berada di Malang.

Penggemar hiking disarankan untuk mengambil rute dari Malang karena bisa menikmati keindahan lautan pasir lebih panjang. Start point dapat dimulai dari Ngadas yang merupakan desa terakhir yang berada di dalam kawasan taman nasional serta tempat untuk melengkapi perbekalan terutama persediaan air karena setelah ini tidak akan dijumpai sumber air.

Gambar terkait

{Sumber utama: Wikipedia bahasa Indonesia}

Mengenal Bromo, Sejarah dan Obyek Wisata

Gunung Bromo (dari bahasa Sanskerta: Brahma, salah seorang Dewa Utama dalam agama Hindu) atau dalam bahasa Tengger dieja “Brama”, adalah sebuah gunung berapi aktif di Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut dan berada dalam empat wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang. Gunung Bromo terkenal sebagai objek wisata utama di Jawa Timur. Sebagai sebuah obyek wisata, Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif. Gunung Bromo termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi.

Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.

Sejarah letusan

Selama abad 20 dan abad 21, Gunung Bromo telah meletus sebanyak beberapa kali, dengan interval waktu yang teratur, yaitu 30 tahun. Letusan terbesar terjadi 1974, sedangkan letusan terakhir terjadi pada 2015-sekarang.

Sejarah letusan Bromo: 2015-2016, 2011, 2010, 2004, 2001, 1995, 1984, 1983, 1980, 1972, 1956, 1955, 1950, 1948, 1940, 1939, 1935, 1930, 1929, 1928, 1922, 1921, 1915, 1916, 1910, 1909, 1907, 1908, 1907, 1906, 1907, 1896, 1893, 1890, 1888, 1886, 1887, 1886, 1885, 1886, 1885, 1877, 1867, 1868, 1866, 1865, 1865, 1860, 1859, 1858, 1858, 1857, 1856, 1844, 1843, 1843, 1835, 1830, 1830, 1829, 1825, 1822, 1823, 1820, 1815, 1804, 1775

 

Bromo sebagai gunung suci

Bagi penduduk sekitar Gunung Bromo, suku Tengger, Gunung Bromo / Gunung Brahma dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo dan dilanjutkan ke puncak Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

 

Rute

Perjalanan melalui pintu barat dari arah pasuruan yaitu masuk dari desa Tosari untuk menuju ke pusat objek wisata ( lautan pasir )terbilang berat karena medan yang harus ditempuh tak bisa dilalui oleh kendaraan roda 4 biasa ini dikarenakan jalan turunan dari penanjakan kearah lautan pasir sangatlah curam, kecuali kita menyewa jip yang disediakan oleh pengelola wisata, jadi wisatawan banyak yang berjalan kaki untuk menuju ke pusat lokasi. Namun apabila kita melalui pintu utara dari arah sebelum masuk probolinggo yaitu pada daerah Tongas, kita akan menuju desa cemoro lawang sebelum turun menuju lautan pasir maka tidaklah terlalu berat dikarenakan turunan dari lerengnya tidaklah terlalu curam sehingga sepeda motor pun dapat melaluinya. Kebanyakan para wisatawan yang ingin mudah mencapai lautan pasir melewati jalur ini. Namun bila anda ingin menyaksikan sunrise yang sering ditampilkan di foto – foto, yang banyak difoto dari puncak penanjakan maka anda lebih praktis melewati jalur pintu barat.

Namun bila anda mempunyai jiwa petualang maka anda dapat mencoba jalur perjalanan yang jarang dilalui wisatawan. Yaitu melalui kota Malang anda masuk melalui kota kecil tumpang kemudian masuk kota pronojiwo lalu akan melalui cagar alam yang sangat indah dari sini anda akan menjumpai pertigaan jalan di mana kearah selatan akan memasuki ranu pane ( kearah gunung semeru ) dan kearah utara anda memasuki lautan pasir bromo yang berada di punggung gunung bromo sebelah selatan. Pertigaan tersebut bernama Jemplang. Perjalanan diawali dengan menuruni bukit yang kemudian disambut dengan padang rumput yang lama kelamaan berganti menjadi lautan pasir. Jalan ini akan mengitari gunung bromo melewati lautan pasir selama kurang lebih 3 jam. Jalur ini sebenarnya tidak terlalu curam dan dapat dilalui sepeda motor, namun memerlukan jiwa petualang karena jalurnya yang masih jarang dilewati dan tidak ada satupun persinggahan maupun rumah penduduk. Kita akan benar- benar disuguhkan dengan perjalanan yang sangat menantang. Namun anda akan diganjar dengan rahasia Bromo yang lain, yang sangat jarang dilihat wisatawan, yaitu padang ruput sabana dan bunga yang sangat luas berada dibalik Gunung Bromo. Sungguh pemandangan yang berkebalikan pada sisi Utaranya yang gersang dan berdebu. Namun perlu diingat, sebaiknya jangan melalui jalur ini pada malam hari dan atau dalam cuaca yang berkabut. Jalur tidak akan terlihat dalam kondidi seperti ini.

Berkas:Mtbromo.jpg

Kompleks pegunungan di Kaldera Tengger saat matahari terbit. Gunung Bromo adalah kedua dari kiri, kawah lebar, berasap

 

Lautan pasir adalah andalan wisata dari gunung Bromo, di alam pegunungan yang sejuk, kita dapat melihat padang pasir dan rerumputan yang luas. Sedangkan yang paling ditunggu dari gunung bromo adalah sightview ketika matahari terbit dan terbenam karena memang akan kelihatan jelas sekali dan sangat indah. Walaupun perjalanan ke Bromo sangat berdebu, tetapi tidak terasa, karena keindahan yang disuguhkan benar-benar luar biasa.

Berlibur menuju bromo dapat dibilang praktis bila anda menyukai tipe traveller dan melalui jalur pintu utara. Anda dapat melakukan kunjungan dalam jangka waktu 12 jam saja. tentunya bila anda memulainya dari kota Surabaya, Malang, Jember dan sekitarnya. Perjalanan dapat dimulai dari jam 12 malam sehingga anda akan sampai sekitar pukul 2 – 3 pagi. Di mana anda dapat beristirahat dahulu sebelum melihat sunrise. Penjual makanan dan minuman di areal lautan pasir biasanya sudah buka menjelang pukul 3 pagi, sehingga anda sudah bisa bersiap – siap untuk melakukan pendakian melewati anak tangga puncak bromo yang terkenal itu. nikmatilah pemandangan sampai jam 9 pagi dan anda pun dapat kembali sampai di kota keberangkatan anda sekitar 12 siang. Sebagai catatan, apabila anda melakukan perjalanan diareal lautan pasir ditengah kegelapan malam, sebagai patokan menuju areal parkir sekitar Pura anda dapat melihat patok dari beton yang sengaja diberikan sebagai penunjuk menuju areal pura. Dan apabila anda tersesat jangan panik dan meneruskan perjalanan ( apalagi ditengah kabut tebal ), tunggulah karena biasanya mulai jam 2 – 3 pagi beberapa penunggang kuda sewaan melintas diarea lautan pasir.

(Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

Tetap Ku Rindu – Puisi Moh.Romli

KENAPA?

Untuk Shinta.
Mencari rerindang malam

bersemayam dalam sunyi

adalah pilihan kita kala  itu

 

namun kenapa kita masih enggan bertanya

pada lagu-lagu dedahan, dan tarian dedaunan yang juga bersemayam di jembatan tua itu

 

kenapa Shinta?.

kenapa kita lupa, menitipkan janji suci kita pada ikan-ikan berloncatan yang juga sempat kegirangan lantaran gurauan kita

 

kenapa Shinta?.

kenapa kita lupa pesan riak-riak air ditepian batu itu

 

kenapa?.

kenapa kita lupa, atas rindu yang sempat kita cicipi berdua

 

dan kenapa kita juga lupa untuk kembali ke muasal rerindu jembatan tua.

 

TETAP KU RINDU

Mamakku perkasa

kurindu dirimu di hamparan karang-karang yang menusuk mata

 

kurindu dirimu di serbuan angin gaduh yang mencekam jiwa

 

kurindu dirimu di cercah-cercah cawan yang menjelma tawa

 

Kurindu dirimu.

meniti pasir basah di ujung gelora yang murka

tak kenal lelah dari ujung desa utara hingga di ujung desa selatan beringin tua

 

kau lelaki yang kekar

kau lelaki yang tegar

dan kau jua lelaki yang berhati mulia

rela menjadi budak

hanya tak ingin membuat anakmu kecewa.

 

NOSTALGIA

Untuk Sunna.

 

C G

Am Em

F C Am G.

Kunci itu menjelma semua tentang kita

disini, di kota kejauhan aku menyanyikan lagunya

dengan lirik adanya serupa wajah kita dulu

 

disini, di tengah hujan deras aku harus menimangnya

dengan raungan tangis dihati yang merana

 

disini, di heningnya malam aku kembali terhanyut di wajahmu yang semu, yang senantiasa menjanjikan damai dalam setiap takdirku.

 

Masih terhampar dengan jelas rasa yang tak sempat kita seduh di matamu yang indah

 

masih tumbuh dengan subur

walau ladang di hatiku sudah penuh dengan batu

 

dan masih berbuah lebat, walau rusuhnya topan terus menerjang.

disini, aku masih mengenangmu untuk kulupakan. SUNNA.

 

LUKA DI UJUNG RINDU

Padahal janjimu tak pernah rebah di saku

namun kenapa kau masih saja tampak begitu anggun di mataku

 

selalu merayu, mengayu, mengharu dan selalu meminta untuk meramaikan malammu dengan lelahku.

 

seperempat malam waktunya dimana aku harus mulai beranjak

dengan berjuta harapan di esok hari dapat memikul buah benang-benang kaca yang sudah ku rangkai sedemikian rupa

 

namun tadir berkata lain malam itu

harus berpulang dengan tangan hampa

dan membawa berjuta luka.

masih lelahku.

 

 

TAKDIRMU LAKNAT

 

Samping warung depan mesjid gang kecil jalan keluar dari sarangnya

keramain dan sunyi sepertiga malam waktu jalan siasatnya

mengundang nada desah

sehalus dan semerdu desau sunyi saat sendiri

nyaris tak ku pahami

kau tanpak cerdik bermain

minnyak di atas air

memarkan hati yang damai

memagut mata menanar

hingga hasratpun

mampu menyamar

Hemm..

hati-hati gadis merang

jika tubuhmu tak ingin terbakar

kau iblis serupa bidadari

aku tau itu..

mendekatlah dan lihatlah

pedangku masih terhunus dengan tajam jika hanya untuk menembus tubuhmu

jangan menangis

jangan sampai kecewa

karna pasti aku melampauimu.

 

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995. Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.

 

Keranda Yang Membelot

 Cerpen Otang K.Baddy

Para pengusung keranda itu mandi keringat. Semangat yang tinggi atas bayangan upah yang menjanjikan, telah membuatnya mati rasa. Mereka tak perduli apakah para penggali kubur merasa kesal dan pegal menunggu.  Juga, tak hirau akan keluguan iringan para pengantar yang sakral akan kalimah-kalimah toyibah yang menyertainya di gang setapak. Begitu pun soal tanda tanya semua orang di area pemakaman, tak jadi beban bagi mereka. Keranda berisi jasad perempuan tua itu bak emas murni, begitu sigap  disikat, dan telah berhasil  dibelotkan dari tujuan semestinya.

Keranda itu diusung lebih cepat, bahkan kalau perlu melompat demi menghindari kalau ada bola mata melihat. Bukan persoalan jika jasad itu terantuk-antuk atau terbanting ke kiri dan ke kanan membentur dinding keranda. Biarkan saja, yang penting sebujur tubuh kaku itu bisa terhindar dari penguburan di pesarean.
Mereka menaiki sebuah bukit dan batu cadas, untuk mencapai sebuah goa. Pengusungan pun agak hati-hati tatkala ditemui medan yang agak licin, mungkin bekas hujan semalam.
“Tinggal beberapa langkah lagi,” ucap salah seorang di antara mereka. Yang lain mengiyakan di tengah dengus nafas yang memburu. Memang mulut goa itu sudah di depan mata. Namun untuk mencapainya diperlukan pekerjaan yang ekstra ketat, mengingat mulut goa itu berada beberapa meter di atas kepala mereka. Jadi penyelesaianya bukan lagi berjalan, melainkan harus memanjat.
“Awas harus hati-hati!” kata seorang lelaki yang tiba-tiba muncul di mulut goa, bak seorang pribumi. “Yang dua orang naik dulu ke sini,” lanjutnya.
Setelah dua batang pinggulan depan keranda ditopangkan di tebing, dua orang itu memanjat ke bibir goa, sementara dua orang pengusung masih menahan di belakang. Lalu dua orang di bibir goa itu merengkuh kedua ujung keranda, dan perlahan menariknya ke atas. Demi menghindari kecemasan yang fatal, semua menahan nafas. Sebab posisi keranda itu tak cuma miring, melainkan berdiri seperti tangga.
          Entah ceroboh karena tergesa, atau mungkin keranda itu sudah cukup umur, tiba-tiba pintu keranda belakang tosblong bersamaan dengan melorotnya jasad kaku itu. Tanpa diduga mayat yang sudah mengeras itu terjatuh keras ke batu cadas dan terpelanting jauh, hingga terbontang-banting dari atas lereng bukit penuh bebatuan itu. Karenanya, kain kapan yang telah membungkusnya dengan rapi serta mewangi itu merosot dari jasadnya dan tersangkut pada sebuah tunggul.
“Goblog, kalian semua goblog!” maki seorang lelaki yang di goa tadi dengan geram. Giginya yang agak menghitam karena rokok, tampak gemeretak dirasuk amarah.
“Ini kegagalan total, dan merupakan aib besar! Aib besar sepanjang sejarah!” katanya seraya mata memandang langit, serta tangan kanan meninju-ninju telapak tangan kirinya.
Setelah empat orang itu melongo dan menyadari keteledorannya, seorang berkata penuh harap. “Mau kami Anda bersikap tenang saja, sebab ini bukan suatu kesengajaan. Bukankah jasad itu bisa diambil dan dikapani lagi seperti semula?”
“Sangat pesimis, mengingat jasad ibuku telah rusak!”
Entah apa maksud lelaki bujang lapuk itu. Memang tiada yang tahu pasti. Pengusung yang empat orang ini pun bukan sepenuhnya percaya padanya. Mereka bergiat lebih dikarenakan pada upah yang dijanjikan.
       Menurut Warong –satu-satunya anak lelaki almarhumah-perempuan yang kurus tinggal tulang itu belum sepenuhnya mati. Ketidakberdayaannya itu hanyalah koma semata. Di mata Warsad tubuh ibunya subuh tadi masih hangat, di pergelangan tangannya masih ada denyut. Dengan mendekatkan telinganya ke hidung jasad, ia masih mendengar dengus nafas. Tapi kenapa orang-orang telah memvonis sebuah kematian?
Pagi hari dada Warong panas menyesak. Bergumpal rasa, antara cemas dan harap begitu dahsyat menyergap. Bukan kesal pada warga yang datang dan turut belasungkawa, namun ia lebih benci dan dendam pada yang membuat keputusan.  Sumaring, kakak perempaun Warong satu-satunya, yang sok alim itulah biang keroknya. Dan menuding dirinya tak sayang orang tua, tak sayang pada ibunya.  Sumaring, merasa lelah akan ketelatenan mengurus perempuan tua yang sering sakit-sakitan selama adiknya itu pergi melanglang. Warong memang sering pergi dengan alasannya ingin melanglang buana. Dalam hidupnya ia tak cukup puas dengan hanya membaca buanakata, apalagi sampai dibuat situs model yang ini. Ia ingin menyelami kehidupan ini sampai ke buanarasa.
“Wah, kamu selalu ngaco, Warong. pola pikirmu telah ngawur. Istigfar kamu!” kata Sumaring kesal. Perempuan yang telah menjanda 4 anak itu sudah tak mau lagi mendengar omongan adiknya yang seperti punya kelainan tersebut.
Yang tak dimengerti oleh Sumaring– Warong sering mengembara itu mencari matahari yang tak terlihat di siang hari, mencari bulan yang tak pernah muncul di malam hari. Mencari bintang yang tak tampak berkedip, mencari mata yang buta saat belala. Mencari dirinya yang hilang ditelan kabut misteri. Begitulah Warong setiap hendak pergi kerap berujar di depan ibu dan Sumaring.
Dan dengan sering pergiannya Warong yang tak jelas tujuannya itu membuat Rukni  –ibunya, sering sakit-sakitan. Ibunya mengharap kepergian anak lelaki satu-satunya itu benar-benar mencari cinta atau iwanita seperti pada umumnya untuk dijadikan istri sekaligus mantunya. Namun entah yang kesekian kalinya setiap anak lelaki itu datang, sang ibu selalu mengurut dada. Kenapa anaknya itu kerap pulang melenggang dengan tetap melajang?
Kendatipun kedatangannya langsung bersimpuh, rasa kecewa ibunya tak terobati. Bahkan di hari berikutnya, perempuan yang sudah kurus-kering, tinggal kulit yang membungkus tulang itu, langsung merebahkan tubuhnya di dipan. Warsad tak cemas melihatnya, dalam batinnya, perubahan ibunya yang mendadak itu adalah sebuah bentuk dari kepuasan akan kepulangan dirinya.
       Semenatara Sumaring,  telah membaca gelagat bahwa perempuan ringkih itu sudah mendekati maut. Maka, nyaris tak luput setiap saat kerap menungguinya. Sedang Warong seperti mati rasa, ia lebih banyak berada di luar rumah memandang langit. Satu, dua orang temannya -yang sudah berkeluarga, seakan setia menemaninya ngobrol. Warong seakan lihai dalam mengurai kata, sehingga apa-apa yang diucapkannya itu seperti kebenaran. Dua orang temannya itu mengakui  Warong itu sebagai punya daya linuwih.
Maka ketika berita kematian terdengar di pengeras suara mereka tak percaya. Apalagi setelah Warong memeriksa keadaan tubuh ibunya, bukan sedih yang dibuat, melainkan tersenyum.
“Jangan tunjukkan kebodohanmu, Rong,” kata Sumaring tatkala adiknya berpendapat lain.
“Janganlah kau usik lagi Sang Ibu, biarlah dia menikmati peristirahatannya.,”
Warong tak berdaya untuk mengutarakan pembelaannya. Apalagi belum setengah jam, para warga sudah berdatangan.
Saat proses pemandian jenazah Warong tak bisa diam. Tampak terjadi bisik-bisik dengan kedua temannya itu. Di antara isi bisikkan itu, “Asal dengan kerja keras dan terampil uang sepuluh juta siap diberikan.” Dalam waktu singkat kesepakatan pun didapat. Dua teman itu segera mencari rekanan, hingga empat orang pengusung siap menyantap suap.
“Pengembaraanmu yang fana akan terus kujaga,” desis Warong, setelah sebelumnya ia pamit pada temannya untuk pergi menunggu di suatu tempat. Dalam teropong kacamata batinnya, ruh perempuan itu tengah mengembara ke dunia lain atau bisa disebut mati suri. Setidaknya tiga hari ke depan ruh itu akan kembali ke raga. Apa pun resikonya, jasad ini harus benar-benar dijaga, terutama jangan sampai terluka, begitu batin Warong.
Namun apakah yang terjadi? Jangankan dapat terjaga dari suatu luka, di dekatnya pun kini jasad itu sudah tiada[]
       (Merupakan cerpen revisi dari judul yang sama, karya Otang K.Baddy yang beberapa waktu lalu pernah dimuat di Kabar Priangan)
 

Puisi Iwan Ridwan

Kepulangan

Kepulanganku disambut hujan

Di sekeliling bandara.

Awan-awan hitam menghardikku.

Kepulanganku dibalas kabar kepulangan kakekku.

Ayahku meraung-raung

dalam telponnya.

Kodrat ilahi di bulan suci

Yang menyimpan misteri. Ya Ilahi,

kepulangan macam apa ini.

2016

Suara Rahasia

Terdengar lirih, syahdu, merdu

Menyentuh kalbuku. Ada suara

Yang tak kukenal dan tak pernah kudengar

Suara itu begitu lembut dan sayup

Membawa angin ke utara

Terbang ke langit meninggalkan daratan

Tanpa rumah kata di bumi.

Tanpa perpisahan pada lautan,

Jauh…

tak terdengar lagi.

2016 

 

Mencari Suara

Lagi-lagi terdengar suaramu

Dimana dirimu? Tolonglah aku sedari

Tadi mabuk di siang hari. Kelelawar

Yang tak menemukan tempat di bumi.

ayam yang buta di malam hari. Tanaman

yang layu di kemarau esok.

Hei suara-suara kudus

Dimanakah dirimu?

Tuntunlah aku ke jalanmu

2016 

 

Tamsil Hujan II 

Hujan pula yang mengabarkan duka pada kita

Bahwa kebenaran selalu datang

Setelah kesalahan. Itu pula yang dipalukan hujan

Untuk menguji kita

Makhluk yang fana

Di alam semesta raya

Hujan pulalah yang mengantarkan kita

Pada banjir

Bersama rumah-rumahnya.

Hujan pula yang berjasa pada kita

Di kala terang

kita

berpandang

Mata biji saga dalam  mengasuh bumi,

Bukannya mata langit yang menerangi semesta.

2016

 

Tamsil Hujan III 

Hujan menghalangi kita

membakar sampah-sampah nafsu.

Barangkali ada sisa peristiwa

Yang masih tersisa, didaur ulang

Agar lebih hijau di masa depan.

Bersiaplah saat sampah-sampah busuk

Mendatangi kita akibat luka silam

Sehingga hidung hilang di muka.

Basuhlah sampah itu dengan tanah yang kita tanami

Kejujuran. Dipupuki kebaikan, dan dirawat keikhlasan

Hingga tumbuh dalam asupan sari-sari surga. Dan baunya

Berubah menjadi wewangian kasturi. Begitupun sampah-sampah

Kita yang tak berupa dari masa kelam bangsa kita;

Dapat dikompos untuk orang papa. Juga sekadar

Obat penawar bagi bumi kita yang tua

2016

 

Biodata Penulis

Iwan Ridwan. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UPI. Bergiat di Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI. Menulis Puisi dan Esai. Alamatnya di Jl. Gerlong Girang Gg. Geger Arum 2 No. 26 Rt 04/06 Kec. Sukasari Bandung, 40154. Nomor kontak: 089663739806

Kedekatan Dan Kehilangan

Oleh Meisya Zahida
Seperti engkau aku juga tak paham, pagi yang gelisah, atau derap batin sesak dengan kata-kata. Mengejar yang jauh dan mengacuhkan yang dekat, serupa luas rerumputan setinggi mata kaki, hilang begitu saja saat ilalang membelukar sebatas dada. Kau masih bertanya arti kedekatan, juga mengapa harus ada kehilangan.

Kebersamaan memang sering diumpamakan, untuk mengukur nilai rasa yang membenih karenanya. Layaknya cinta, kadang tertakar dalam jeda begitu lama, bahkan terbagi di menit tak terduga. Di sinilah Tuhan menyematkan tali kinasih, merekatkan jiwa yang berbeda dalam satu dermaga. Membawa kapal kehidupan berlayar di tengah lautan, melewati pasang surut gelombang, mengendalikan laju mata angin bahkan membendung berbagai aral yang merintang meski dengan tangisan.

Masihkah kau menistakan hakikat penyempurna yang dianugerahkan untuk kita, ibarat mata, hati mampu melihat, mendengar, bahkan lebih peka menerjemah apa yang tersembunyi dan yang sering terdustai. Saat rasamu goncang, kadar setiamu diuji untuk hal yang kusebut pengkhianatan aku dapat membedakan, apakah dirimu masih dalam dekapan atau tengah memberontak untuk perburuan yang tak layak diagungkan.

Bukan hakku menahanmu untuk tetap tinggal, jika di suatu masa kau lebih rela menggugurkan bunga-bunga yang tertanam dengan paksa. Bukan juga tak peduli atau tak menjaganya dengan hati-hati. Aku pun harus menyadari dalam setiap ikatan yang kita teguhkan dengan janji, Tuhan juga pasti menempatkan batasan sejauh mana aku harus mengabdi dan kapan kepercayaan itu direnggut kembali.

Karenanya, aku tak lagi ingin bertanya. Apakah cinta masih bersemi di dada atau telah purna karena hadirnya orang ketiga? Engkau pun pasti ingat bagaimana kau mengenaliku pertama kali, dan tujuan apa mempersuntingku sebagai istri. Kau dan aku dua kewajiban yang tak kan terhindar dari pertanggung jawaban.

Aku bebaskan dirimu dengan segenap hasrat yang kau nilai layak, tak usah berpura-pura memaniskan luka dengan empedu yang kaubawa, karena memoriku tak kan pernah bisa menghapus apa yang sudah kau lakukan. Seperti wanita kebanyakan, “Aku memang memaafkan tapi, tidak akan mungkin melupakan.”

Inilah yang kunamai kehilangan, berdekatan untuk waktu yang tiba-tiba ditinggalkan. Bagai tamu datang bertandang kemudian, berpamitan meneruskan perjalanan setelah menikmati peristirahatan. Masihkah kau ragu pada sebuah kepastian? Bila maut kunjungan terakhir kan memanggilmu tanpa kau undang. Dan, kita akan mengerti kepergian yang sebenarnya.

Madura, 05102016

 

Meisya Zahida Lahir di sumenep-jawa timur. Tanggal 29 Desember. Menulis adalah cara paling indah menuangkan isi hati, mengungkapkan perih juga emosi. Jangan pernah ada kata berhenti, sebab berhenti adalah kekalahan. Sebelum kau meraih mimpi. Bisa dihubungi di akun Facebook Meisya zahida.

Istimewa, HUT RI di Pangandaran Dimeriahkan Atraksi Pesawat

Aksi aerobatik FASI Kab. Pangandaran memeriahkan Peringatan HUT ke-72 RI di Kab. Pangandaran, Kamis (17/8). IR/SPC

Parigi, SPC –  Setelah memamerkan aksi terjun payung di Pantai Barat Pangandaran yang sukses memukau wisatawan, Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Daerah Kabupaten Pangandaran memarkan aksi yang tidak kalah memukau pada ajang Peringatan HUT ke-72 RI di Alun-Alun Parigi, Kamis (17/8).

FASI Daerah Kabupaten Pangandaran menampilkan aksi aeorbatik sesaat sebelum Upacara Peringatan HUT ke-72 RI dimulai. Pertunjukan atraksi pesawat tersebut menampilkan manuver-manuver yang membuat warga masyarakat maupun tamu undangan berteriak histeris, salah satunya aksi pesawat jatuh.

Ketua Harian FASI Daerah Kabupaten Pangandaran Beni Gumilar mengatakan, aerobatik ditampilkan pada saat peringatan HUT ke-72 RI di Kabupaten Pangandaran adalah untuk menghibur warga masyarakat Parigi.

“Selain untuk menghibur warga masyarakat, aerobatik ini digelar untuk memperkenalkan kepada warga masyarakat Kabupaten Pangandaran bahwa Pangandaran saat ini sudah memiliki FASI Daerah, yang pengurusnya dikukuhkan Bupati Pangandaran pada Rabu malam lalu,”ujar Beni.

Menurutnya, pada peringatan HUT ke-72 RI, hanya ada dua penampilan aerobatik. Pertama di Istana Negara, yang kedua di Kabupaten Pangandaran. Walaupun menurut dia, di Kab. Pangandaran hanya menampilkan satu pesawat saja.

“Tadi itu pilotnya Marsekal Purnawirawan Eris, beliau sudah memiliki 35.000 jam terbang, jadi sudah sangat piawai sekali,” ujarnya.

Selain menampilkan aerobartik, kata dia, FASI daerah Kabupaten Pangandaran juga menampilkan aksi terjun payung cabang kanopi di udara dengan membawa bendera merah putih berukuran 3 meter.

“Namun dikarenakan perubahan jadwal, para penerjun tidak turun di Lapang Parigi tetapi di Bandara Nusawiru,” ujar dia.

Editor: Andi Nurroni/SP.Com

Puisi Moh. Romli

TOPENG SUCI

Intan,
Kumohon Jangan menyentuhku kali ini
jika tak ingin ku lumat bibir merahmu
hingga berdarah-darah
mengalir jadi telaga di tubuhku

hingga hutan-hutan kembali subur
berbuah lebat bebani dahannya

hingga hewan-hewan gemuk
juga singa-singa girang dengannya

sebabnya darahmu melebur
maka topeng suci ini akan hancur
dan imanku akan terguyur.

JELANG WAKTU

Aku bukan lagi bulu di matamu
yang setiap saat dapat melindungi matamu dari debu
aku juga bukan lagi kuku di ujung jarimu
yang sejeatinya masih kau butuhkan setiap waktu

tapi aku hanyalah bekas kulit yang menimpel di tubuhmu
yang terlepas dari darah dagingmu
dan itu tak lagi kau butuhkan dalam hidupmu
bahkan tiadapun takkan pernah merasa kehilangan
apalagi sampai kesakitan

buang saja diriku
jika sudah tak berkarisma lagi di tubuhmu
aku tak pernah berharap apa darimu

aku hanya ingin memberi apa yang mampu aku beri
sebab cinta tak mempunyai apa yang ingin aku dapatkan,
tapi cinta mempunyai apa yang aku mampu berikan.

GADIS ASING

Dibalik gantungan sampah maknai
setiap lubang berasap tak sempati
samping etalase tak sengaja dapati
bibir merah manis menjadi

pesonanya yang tak henti
anggun ulurkan lentik jari berduri
dantang mengusik ketenangan hati
entah siapa dan darimana tak pasti

namun cantikmu takkan abadi
kecuali kecantikan yang dari hati
kau tak lebih dari sampah dalam buih negri
nyaris terbawa mati.

 

PAGI YANG MALU

Bagaimana mungkin ini terjadi
pagi tercipta dari pecahan kaca yang tuhan ciptakan untuk membakar diriku sendiri

sepertinya pagi sudah enggan bercumbu denganku
atau mungkin dia cemburu dengan dinginnya malam yang terus mendekapku

hingga akhirnya geram, dan melemparku di wajah mentari yang bengis

dan memaksaku menyapa ribuan orang di pasar dengan wajah malu.
sebab batu-batu di tepian kolam itu belum aku benahi.

KARENA TUAN

Ketika jalur kehidupan mulai menyempit
mengimpit setiap air kehidupan senantiasa mengungkap jujur

merah memerah
Kaca berkaca
menjelma sebuah noktah

tubuh yang lelap
semakin melenyap
geming dalam penat
pada angkuhnya kota tetap bertuan

dasi melilit tanpak menjilat

dan kami adalah korban
tuan yang melamban
hanya demi umpan
yang mapan.

 

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995
Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.
Kumpulan Puisi Terbarunya PASAR ASMARA (2016).
No.085232343060
083853208689

Sesaat Pagi Di Sudut Taman

oleh : Marina Novianti

Ada sejuk angin berembus di sudut taman. Dua helai daun gugur menari turun perlahan bersamanya. Lembut aroma kuntum melati pagi malu – malu menghampiri hidungku, mengumumkan kejelitaan yang masih hijau. Lamat-lamat kudengar suara bocah kecil yang asyik bermain perosotan.  Ada tawa, ada canda, ada kata-kata kotor.

“Tai anjing, bau pesing, kurang ajar!” begitu racau si kecil, sambil terus bermain.

Sebentar! Rentetan kata-katanya tak serasi dengan suasana indah pagi ini. Mengapa kata-kata semacam itu keluar dari mulut bocah kecil yang sedang bermain di taman? Kutolehkan kepala mencari-cari kemana ibu atau pengasuh si kecil bermulut lancang.
Oh, itu dia! Sedang sibuk menyapu halaman depan sebuah rumah mungil bercat kuning. Sesekali kepalanya terdongak, memastikan bocah kecil itu belum mencelakakan dirinya sendiri dengan segala permainannya di taman. Sempat terpikir untuk menghampiri si ibu dan melontarkan kritik, jeng, kok anaknya bicara seperti itu dibiarkan saja? Apa tidak pernah diajarkan untuk berkata-kata yang lebih sopan, lebih indah?
Sesaat sebelum kulangkahkan kaki mendekati si ibu, kulihat ia kembali menegakkan tubuhnya. Didongakkannya kepala mengawasi si bocah. Ada sesuatu pada sorot mata ibu ini, ada makna mendalam pada seiris senyum manis di raut wajah yang mulai berhias kerutan letih. Aku tertegun saat mulai sadar, betapa ia sangat mengerti bahwa bocah kecilnya sedang belajar tumbuh mendewasa.
Si kecil sedang melatih semua kemampuan dan ketrampilannya, termasuk ketrampilan berbahasa dan berlogika.  Ia tak layak dituntut memenuhi standar kompetensi seorang dewasa. Jadi untuknya, berkata-kata kotor adalah semacam percobaan : seberapa ampuh kata-kata ini menarik perhatian dunia sekitarku, reaksi apa yang bisa kuperoleh bila kata-kata ini kulontarkan pada orangtua dan masyarakat? Dan dengan kagum kusadari, betapa si ibu sangat paham bahwa semakin besar respons keras dan negatif yang dia berikan untuk tiap kata-kata lancang bocahnya, semakin yakin si pembelajar kecil itu bahwa kata-kata lancang sangat ampuh sebagai senjata pemikat perhatian dunia.

Sambil menelisik ke dalam ruang hati, diam-diam terlontar umpatan malu pada diri sendiri. Siapa aku, berani-berani mengkritik ibu tadi, yang telah mengasuh dan memahami si kecil darah dagingnya sejak dalam kandungan? Di mana aku, saat ibu ini mengamati tiap peristiwa dalam tumbuh kembang anaknya? Apa yang telah kulakukan dalam kehidupan si kecil, sehingga aku berhak mengatai dia sebagai lancang, bocah bermulut kotor? Adakah aku mampu menyamai setengah saja pemahaman bijaksana si ibu tadi, dalam mendidik anakku sendiri?

“Nak, ayo masuk, mandi dulu, ya!” seru si ibu memanggil bocahnya.

“Nanti bu, aku masih mau main!” si bocah menegangkan tengkuk dan mengeraskan rahangnya. Tersenyum, si ibu meninggalkan sapunya dan menghampiri si bocah. Dengan lembut  ia menuntun lengan pemuda cilik yang darahnya menggelegak, berjalan menuju rumah mereka.

“Sebentar saja, sayang, setelah itu bisa bermain lagi,” bujuk si ibu.

“Aku tak mau! Maunya main saja! Ibu jahat!” racau si kecil, namun sambil menurut ia menggenggam erat tangan ibunya dan ikut melangkah ke rumah. Kupandangi dua manusia itu berjalan berdampingan, punggung mereka perlahan menjauhiku. Si ibu menelengkan kepala menatap buah hatinya,sementara kepala si kecil bersandar pada pinggang ibunya. Deras kata-kata protes bernada tinggi yang terdengar menjadi tak berarti, dimentahkan oleh sinaran kasih yang terpancar dari ibu dan anak.  Sesaat sebelum punggung keduanya menghilang kebalik pintu rumah bercat kuning, semua racauan si bocah pun sudah hilang dari pendengaranku.

*

Angin pagi masih berembus, walau tak lagi sesejuk tadi. Dedaunan gugur masih melayang turun ke tanah di sudut taman ini, yang coklat basah sisa hujan semalam. Lembaran mahkota flamboyan merah turut terbang dan menggelitik ujung mataku,  yang masih memandangi daun pintu rumah mungil bercat kuning. Sambil mengusap wajah, kutatap ke langit cerah dengan rasa malu. Di sana, di balik awan putih, ada seiris senyum seindah milik ibu tadi. Senyum itu untukku, senyum bijak penuh kasih dan pemahaman untuk semua kelancangan dan kekurangajaranku.  Diam-diam penuh rasa malu, kembali kulontarkan umpatan pada diri sendiri. (November 2013)

***

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai