BERTANDANG untuk habiskan masa liburan di Provinsi Lampung, ada baiknya anda sempatkan waktu ke Taman Wisata Lembah Hijau di Bandar Lampung. Lokasi ini merupakan pionir wisata alam yang ada di Bumi Ruwa Jurai yang tidak kalah dengan Kebun Binatang Ragunan di Jakarta Selatan atau Waterboom Lippo Cikarang sekalipun.
Sejak dibuka pada April 2007 lalu, taman wisata alam buatan Lembah Hijau sudah menjadi tempat rekreasi favorit di Lampung. Tempat rekreasi alam yang menempati lahan seluas 30 hektar ini berada di Jalan Radin Imba Kesuma Ratu, Kampung Sukajadi, Sukadanaham, Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung.
Mengapa wajib mendatangi tempat ini? Sebab area wisata ini dipandang cukup menarik karena berorientasi lingkungan.
Lembah hijau terdiri dari taman rekreasi dan kebun binatang mini. Berada di area perbukitan dihiasi lembah dan sungai kecil. Tidak berlebihan apabila taman rekreasi ini diberi nama Lembah Hijau. Taman hijau yang sejuk ini menawarkan banyak kesenangan dan hiburan bagi masyarakat Lampung dan khususnya bagi wisatawan dalam negeri yang datang ke Lampung.
Menempati area yang luas, Taman Wisata Lembah Hijau menyediakan berbagai wahana hiburan variatif di antaranya adalah: taman satwa, kolam renang dan waterboom, teater empat dimensi, arena bermain sepak bola, kereta mini, dan lainnya.
Waterboom Boomerang dengan fasilitas :
Twins Boomerang
Torpedo Slide
Spiral Slide
Kolam Arus
Water Splash
Gelas Tumpah
Water Canon
Sejak awal didirikan 14 april 2007 Taman Wisata Lembah Hijau menyiapkan kolam renang waterboom sebagai salah satu wahana andalan rekreasi bernuansa air. Kolam waterboom terdiri dari 5 buah kolam seluas 1,3 ha dengan kedalaman 50 cm sampai 150 cm, berbagai fasilitas pendukung disiapkan di 5 kolam ini berbagai fasilitas tersbut adalah water splash, gelas tumpah, kolam arus, water canon, spiral slide serta torpedo slide yang setia saat dapat memanjakan anda dan keluarga dengan kebersihan dan debit air yang senantiasa terjaga sepanjang waktu karena sistem sirkulasi dan penyaringan yang maksimal.
Sebagai tempat wisata terkemuka di Lampung, Taman Wisata Lembah Hijau selalu ingin memberikan yang terbaik kepada pelanggannya. Salah satunya dibuktikan dengan menghadirkan wahana Twins Boomerang. Rasakan sensasi ketegangan luar biasa di wahana ini, dengan 2 jalur slide dengan sepanjang 160 m, dan tower setinggi 32 m. Lintasan slide yang meliuk berbentuk terowongan spiral, turunan curam dan menukik naik di ujung lintasan benar-benar membuat jantung anda berdebar.
Fasilitas yang juga sudah tersedia, yaitu paintball and airsoft gun area dan racing games.
Selain fasilitas hiburan, taman ini juga dilengkapi penginapan unik, restoran, mushola,dan tempat parkir yang luas. Satu wahana terunik bernuansa pengetahuan alam yang menjadi unggulan Taman Wisata Lembah Hijau adalah Taman Satwa.
Di area ini pengunjung dapat melihat taman burung, pentas satwa, dan kebun binatang. Kawasan taman satwa sedikitnya memiliki 465 satwa dari 65 jenis binatang. Di antara fauna yang jadi primadona adalah burung pelikan, orangutan, banteng, beruang madu, buaya dan taman burung.
Dari segi tiket masuk, Taman Wisata Lembah Hijau pun terbilang terjangkau yaitu Rp 10.000.
Tarif tersebut sudah termasuk menyaksikan pentas satwa, berkunjung ke taman burung, dan taman satwa. Pentas satwa dihelat tiga kali sehari pada hari normal mulai pukul 90.30, 11.00 dan 13.00 WIB.
Sedangkan pada akhir pekan atau hari libur nasional area yang mampu menampung 600 pengunjung ini digelar sebanyak empat kali pertunjukan dengan satu tambahan waktu pada pukul 14.30.
Ke depan, pihak manajemen berencana akan menjadikan taman satwa Lembah Hijau menjadi pusat konservasi alam di ujung Selatan Pulau Sumatera dan terus menambah koleksi hewan mereka.
Apalagi kawasan ini pun terus menjalin kerjasama dan bimbingan dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung.
Sementara terkait taman satwa mini, Lembah Hijau memiliki habitat bagi sejumlah flora dan fauna. Taman satwa ini bisa dijadikan sebagai tempat pembelajaran bagi anak-anak dalam mengenali berbagai jenis satwa dan tumbuhan. Rusa sambar, rusa timor, kuda, unta, berbagai jenis burung, dan banyak lagi spesies hewan lainnya dapat ditemui di taman satwa. Penangkaran rusa juga menarik untuk dilihat di sana.
Area Outbond
Bagi Anda yang gemar akan outdoor activity jangan khawatir. Lembah Hijau menyediakan fasilitas untuk outbond, baik untuk orang dewasa maupun anak-anak. Selain itu kini hadir pula fasilitas untuk paintball, futsal, dan arena permainan balap ATV di tanah berlumpur.
Aktifitas-aktifitas outdoor tersebut kerap dijadikan pilihan bagi sekelompok orang yang melangsungkan acara team building demi membentuk kekompakan tim. Tentunya selain dapat memupuk kekompakan, kegiatan tersebut terbilang menantang dan memacu adrenalin.
Wahana lain yang tersedia di Lembah Hijau adalah Cinema 4 Dimensi. Sebagaimana namanya wahana ini adalah suatu fasilitas menonton teater empat dimensi yang terbilang amat sayang jika dilewatkan.
Teater ini juga termasuk teater 4 dimensi pertama yang hadir di Lampung. Terdapat sekira 10 film dengan durasi masing-masing 10 menit yang dapat dinikmati para pengunjung.
Fasilitas lain di Lembah Hijau tak kalah menarik untuk dicoba. Terdapat kereta mini, boom-boom car yang terbilang baru, rumah hantu, komedi putar, kolam ikan koi, bahkan area berkemah juga disediakan di kawasan hijau dan asri tersebut.
Apabila lapar dan lelah, terdapat restoran dan cottage untuk menginap masih dalam kawasan Lembah Hijau.
Akomodasi
Apabila Anda berniat menginap di kawasan Taman Wisata Lembah Hijau, terdapat 5 cottage yang dapat ditinggali. Rinciannya empat unit terdiri dari dua kamar dan satu unit yang berisikan tiga kamar. Setiap cottage juga dilengkapi dengan ruang tamu dimana bangunannya ditata dengan dengan desain tradisional.
Bagi anda yang minat, tarif dimulai dari Rp 750.000 sampai Rp 1.500.000 per malam. Fasilitas yang tersedia dalam cottages mulai dari televisi, kulkas, meja makan, kursi ruang tamu dan pendingin udara.
Transportasi
Berjarak sekira 30 menit saja dari Bandar Lampung, ibu kota provinsi Lampung, akses transportasi ke kawasan ini terbilang mudah. Kebanyakan wisatawan yang berkunjung adalah kelompok murid sekolah yang datang menumpang bus-bus sewaan.
Selain itu, tentu saja keluarga dengan mengendarai mobil pribadi juga menjadikan Lembah Hijau sebagai tempat rekreasi bersama.
Terdapat area parkir yang luas di Lembah Hijau guna menunjang kenyamanan pengunjung. Untuk menuju Lembah Hijau, kebanyakan pengunjung memang menggunakan kendaraan pribadi, baik mobil, motor, atau bahkan bus pariwisata.
Hal ini dikarenakan belum ada jalur angkutan umum yang langsung menuju Lembah Hijau yang berada di wilayah perbukitan Kelurahan Sukadanaham, Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung. Taman Wisata Lembah Hijau
JI. Radin Imba Kesuma Ratu, Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung
Telp : (0721) 7404744 / 9638387
Email : Lembah.Hijau@yahoo.co.id
Jam Operasional : 08.00 – 17.00 WIB Tiket Masuk:
– Umum Rp 10.000
– Pelajar Rp 8.000
– Mobil Rp 5.000
– Motor Rp 2.000
Berikut potretnya, jika masih penasaran kunjungi langsung Taman Wisata Lembah Hijau Lampung.
Rumah Hantu di Lembah Hijau
Penginapan di Lembah Hijau
Restaurant dan Meeting Room Lembah Hijau
||Sumber: Lembahhijaulampung.com dan berbagai sumber lainnya.[]
Pagi ini aku terjaga dari tidurku karena mendengar lantunan ayat suci Al-Quran dari kamar Mbak Anzani. Kulirik jam weker yang berada tepat di samping ranjangku. Ah, masih jam 03.00 pagi. Aku pun melanjutkan tidurku. Tak lama kemudian, pintu kamarku diketuk.
“Assalamualaikum, Dek. Bangun yuk, shalat tahajud.”, suara Mbak Anzani terdengar lembut. Aku menggeliat. Kubiarkan suara Mbak Anzani yang terus berusaha membangunkanku. Aku masih ngantuk, lagian badanku masih pegal karena harus lembur di kantor semalaman. “Mbak Anzani ngeselin banget, sih. Baru juga mau tidur udah disuruh bangun.” Aku ngomel sambil terus memejamkan mata.
Aku adalah anak tunggal dan cucu satu-satunya dari keluarga besar Papi dan Mami. Yap! Papi dan Mami adalah anak tunggal dari Oma dan Opa yang terlahir dari keluarga pengusaha kaya raya. Dan aku adalah anak tunggalnya Papi dan Mami. Jadilah aku bak seorang putri raja di keluarga ini. Mbak Anzani adalah anak panti asuhan yang di asuh Mami dan Papi sejak umurku 8 tahun. Waktu itu aku sibuk minta diberikan seorang kakak perempuan. Jadilah Mami dan Papi mengunjungi panti asuhan Pelita dan mengangkat Mbak Anzani menjadi kakak perempuanku.
Aku dan Mbak Anzani bagaikan langit dan bumi. Aku yang suka sekali dengan barang-barang mewah dan branded sedangkan Mbak Anzani lebih menyukai barang-barang yang sederhana bahkan menurutku terkesan murah. “Allah tidak menyukai hambanya yang berlebih-lebihan, Dek.” Itu kata-kata yang selalu diucapkan Mbak Anzani jika aku memberikannya hadiah tas atau sepatu mahal. Ya, Mbak Anzani memang muslimah sejati. Lihat saja jilbabnya selalu menjulur menutupi dada. Beda sekali dengan aku yang masih enggan mengenakan jilbab keluar rumah dan mewarnai rambutku dengan warna hijau dan coklat.
Usiaku dan Mbak Anzani hanya terpaut 3 tahun. Saat ini usiaku 22 tahun dan Mbak Anzani 25 tahun. Papi memintaku untuk menjadi salah satu manager di perusahaannya. Sedangkan Mbak Anzani lebih memilih menjadi seorang guru di salah satu Yayasan milik keluarga besar kami. Aku menyukai jenis musik Rock, sedangkan Mbak Anzani lebih menyukai lagu-lagu nasyid dan berbau islami. Seringkali aku di tegur Mbak Anzani karena menyetel lagu Linkin Park dengan volume full saat Mbak Anzani dan teman-temannya sedang membahas tentang Palestina di ruang tamu.
“Dek, bisa dikecilkan sedikit nggak volume lagunya? Mbak dan teman-teman yang lain jadi kurang fokus, nih.”, katanya sambil menunjukkan sederet gigi mungilnya. Aku nyengir dan langsung mematikan lagu yang tadi kuputar.
“Bukan Mbak suruh matikan, sayang. Kamu masih bisa mendengarkan lagu kesukaanmu kok, tapi ya jangan kencang-kencang.”, kepala Mbak Anzani menyembul lagi dari balik pintu kamarku.
“Nggak apa-apa kok, Mbak. Aku juga udah muak dengerin lagunya.”, aku balas dengan cengiran kuda.
Mbak Anzani tersenyum sambil berlalu. Kudengar sebelum ia menutup pintu kamarku, ia berkata, “Mendingan kamu dengerin lagu-lagu islami deh, Dek. Hati kamu pasti lebih adem dan nggak cepat muak.” Aku tersenyum. Ini yang kusuka dari Mbak Anzani, meskipun aku belum bisa menjadi muslimah yang sejati seperti dia, tapi Mbak Anzani tidak pernah menghakimiku seperti orang lain. Ia selalu punya cara sendiri untuk menasehatiku.
***
“Mbaaaaaaakkk!”, aku masuk kerumah sambil berlari memanggil Mbak Anzani.
“Ya Allah, Dek. Kalau masuk rumah itu ngucapin salam. Bukan teriak-teriak begitu.” Mbak Anzani menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Mbak, tahu nggak? Di kantor ada karyawan baru, ganteeeengggg banget! Wajahnya itu loh Mbak, bercahaya gitu, kayaknya dia rajin shalat deh kayak Mbak Anzani.” Aku mengabaikan teguran Mbak Anzani dan terus bercerita.
“Tatapan matanya teduh banget, Mbak. Tapi Zira heran deh Mbak, dia nggak pernah mau lama-lama ngeliat perempuan. Sombong banget kan, Mbak?,” ucapku setengah kesal. Karena tadi ketika di kantor, aku berusaha ngobrol sama lelaki itu tapi dianya malah kebanyakan nunduk. Kan sebel!
“Itu bukan sombong, Dek. Itu namanya dia menjaga pandangannya. Bagus dong, berarti dia sangat mengahargai perempuan.”, ujar Mbak Anzani.
“Memangnya laki-laki baik menurut islam itu harus laki-laki yang menjaga pandangannya ya, Mbak?”
“Ya iyalah, sayaaang! Gimana dia mau menjaga hati kamu kalau pandangannya saja sulit ia jaga.”, ucap Mbak Anzani sambil tersenyum. Aku hanya manggut-manggut mendengarkan perkataan Mbak Anzani.
“Mbak, apa laki-laki seperti dia nggak boleh dekat-dekat dengan perempuan seperti Zira?”, tanyaku dengan tatapan sendu. Mbak Anzani mengernyitkan dahinya. Ia menangkap rona sendu di wajahku.
“Memangnya dia laki-laki yang seperti apa, Dek? Kok bisa-bisanya kamu ngomong begitu?”
“Dia rajin shalat, Mbak. Shalat sunah saja dia tak pernah tinggal, apalagi shalat wajib. Terus dia juga rajin puasa, tiap hari Zira liat pas jam istirahat selalu baca Al-Quran, setiap Jum’at Zira lihat dia membagi-bagikan nasi kotak ke pak Satpam dan tukang becak yang mangkal dekat kantor, Mbak.”
“Terus alasannya dia nggak mau ‘dekat-dekat’ dengan Zira apa dong?”, tanya Mbak Anzani dengan menekankan kata ‘dekat-dekat’ kepadaku. Eh! Aku jadi salah tingkah sendiri. Mbak Anzani menangkap rona merah yang terpampang jelas di wajah chubbyku.
“Eh, ituuu… Anu Mbak, cuma nanya doang kok.”, aku tunduk menahan malu.
Mbak Anzani memelukku. Diusapnya rambutku yang lurus dan berwarna hijau coklat itu.
“Dek, selalu ingat ya.. Laki-laki baik untuk perempuan baik. Begitu juga sebaliknya. Jika kita mendambakan laki-laki yang baik perangainya, shaleh, dan lembut hatinya, kita juga harus bisa mempersiapkan diri untuk menyambut laki-laki seperti itu. Tingkatkan kualitas diri kita, perbaiki apa yang masih kurang dalam diri kita.” Aku menangis dalam pelukan Mbak Anzani. Aku sadar selama ini aku masih jauh dari Allah. Padahal selalu ada Mbak Anzani yang siap untuk menuntunku jika aku mau berubah. Air mataku menetes lagi.
***
Pukul 03.00 pagi. Aku berjalan ke kamar Mbak Anzani. Niatku untuk membangunkan Mbak Anzani shalat tahajud. Tapi ternyata Mbak Anzani sudah bangun dan sudah siap-siap untuk shalat tahajud. Mbak Anzani bengong melihat rambutku yang sudah berwarna hitam. Ya, setelah mendengar nasihat Mbak Anzani tadi sore, aku memutuskan untuk mengembalikan warna rambutku seperti semula.
“Mbak! Aku mau shalat tahajud bareng, boleh?”, tanyaku sambil memakai mukena.
Mbak Anzani masih bengong. Wajarlah Mbak Anzani sampai bengong gitu, soalnya sejak kejadian aku ngga pernah mau dibangunin untuk shalat tahajud, Mbak Anzani akhirnya nyerah bangunin aku.
“Boleh nggak, Mbak?”, Kuulangi lagi pertanyaanku dengan wajah agak kesal karena daritadi Mbak Anzani hanya bengong. Mbak Anzani gelagapan menjawab pertanyaanku. Ia langsung memelukku dan mengucapkan syukur. Aduh, Mbak Anzani lebay, deh.
Setelah selesai shalat tahajud, aku meminta lagu-lagu nasyid dan lagu-lagu islami milik Mbak Anzani.
“Mbak nggak salah denger nih?”, ucapnya tak percaya.
“Iya, Mbak. Apa perlu Zira ulangi berkali-kali.” aku memasang wajah kesal. Mbak Anzani masih saja kubuat syok dengan perubahanku.
“Terus lagu-lagumu yang penyanyinya serem-serem itu dikemanain, Dek?”, tanyanya polos.
“Tukeran sama, Mbak lah. Aku masukin di laptop ya.”, godaku pada Mbak Anzani.
Mbak Anzani langsung menyambar laptopnya dan berulang kali mengucapkan kalimat istighfar. Aku tertawa dengan keras melihat reaksi Mbak Anzani yang super lebay itu.
“Huss! Muslimah itu nggak boleh ketawa kenceng-kenceng, Dek!”, tegur Mbak Anzani. Aku spontan menutup mulutku. Namanya juga kelepasan, Mbak. Batinku.
***
Bel di depan pintu rumah terus menerus berbunyi. Aku tahu siapa yang datang kalau sudah begini. Kubiarkan saja Mbak Anzani yang membukanya. Itu pasti Papi dan Mami. Mereka baru saja pulang dari luar negeri karena urusan perusahaan.
“Assalamualaikum, dear.”, ucap Papi dan Mami. Mami langsung memeluk Mbak Anzani.
“Waalaikumsalam, Mi.”, Mbak Anzani mencium tangan Mami dan Papi.
“Mana adikmu, dear?”, tanya Mami. Matanya menyapu sekeliling rumah berharap mendapatkanku di salah satu pojok ruangan.
“Lagi dandan, Mi. Kan mau berangkat ke kantor.”, ucap Mbak Anzani. Sebenarnya daritadi aku sudah selesai. Tapi aku masih malu untuk turun ke ruang keluarga. Aku takut di tertawakan sama Mami, Papi dan Mbak Anzani.
“Ziraaaa! My sweetheart!”, teriak Papi dari tangga bawah. Aku buru-buru turun. Ah, bodoh amat sama penilaian Mami dan Papi. Kata Mbak Anzani kan kalau niat baik nggak boleh ditunda-ditunda.
Aku menuruni anak tangga dengan anggun. “Assalamualaikum, Mi, Pi.”
Mami dan Papi saling tatap. Mbak Anzani hanya tersenyum. Ternyata Mbak Anzani sudah menduga bahwa aku akan segera berhijab. Yap! Pagi itu aku sukses membuat Mami dan Papi bengong dan tak melepaskan pandangannya barang sedetik pun dari aku. Hanya Mbak Anzani yang bisa mengeluarkan suara. Itu pun dengan dibumbui air matanya yang menetes berkali-kali, “Masya Allah, kamu lebih cantik dengan hijab, Dek.”
“Mbak, aku ingin hijrah. Bantu aku untuk tetap istiqamah, ya.” ucapku pelan di telinganya. Mbak Anzani kembali menitikkan air mata.
Sejak hari itu, aku mulai mengenakan jilbab kemanapun aku pergi. Karena memang sudah kewajiban seorang muslimah untuk menutup auratnya kan? Kubakar semua pakaian-pakaianku dulu yang kekurangan bahan itu. Tidak ada lagi pakaian you can see dan rok mini yang mejeng di lemari pakaianku. Sekarang lemari pakaianku pun terisi dengan baju tunik dan gamis dengan warna-warna lembut dan pastinya dengan berbagai macam jenis pasmina. Semua lagu-lagu rock kesayanganku juga sudah kuhapus dan kuganti dengan lagu-lagu nasyid yang sekarang malah lebih kucintai, bahkan aku mendownload ceramah-ceramah islami yang selalu menenangkan hati. Aku dan Mbak Anzani pun sering mengikuti kegiatan pengajian setiap hari Minggu dan Mbak Anzani membantuku untuk memahami isi Al-Quran.
***
“Mi, Pi, Mbak, minggu depan kita umrah bareng, ya.”, kataku dengan penuh antusias.
“Zira udah nyiapin semuanya, kok. Kita tinggal berangkat aja.”, tambahku lagi.
Mbak Anzani paling antusias mendengar perkataanku. Mami dan Papi memasang wajah berpikir. Pasti nyari alasan, nih.
“Pokoknya harus bisa! Dunia doang yang dikejar? Tabungan untuk akhiratnya kapan? Memangnya Papi sama Mami nggak mau kita ngumpul bareng lagi di surga?”, kataku sambil memeluk Mami dan Papi. Kalau sudah begini mereka langsung luluh dan menitikkan air mata.
***
Sehari sebelum keberangkatan kami untuk menjalankan umrah. Aku masuk rumah sakit dan harus memerlukan operasi yang lumayan besar di wajahku. Saat itu aku ingat sekali, aku melihat gadis berjilbab berusia tujuh belas tahun sedang dipaksa menanggalkan pakaiannya oleh preman-preman di ujung jalan. Aku yang kebetulan sedang melintas di daerah tersebut spontan membantu. Tapi apalah dikata, mereka kaget dengan kehadiranku saat itu. Mereka juga langsung menarikku dan menarik jilbabku. Kulihat mata mereka merah dan bau alkohol yang keluar dari mulutnya sangat membuatku mual. Aku berusaha menyuruh adik itu pergi, tapi dia juga sudah kehabisan tenaga mempertahankan apa yang memang seharusnya dipertahankan perempuan.
Segerombolan preman ini makin kalap karena kami sama-sama bertahan. Jilbab yang kukenakan sudah tak karuan bentuknya. Kulihat di sudut sana adik itu sudah berlumuran darah. Ia mendapatkan tusukan di perut dan di pundaknya. Berkali-kali. Aku menjerit sekuat tenaga meminta tolong. Aku tak henti menyebut asma Allah dan memohon pertolongannya.
Allah mendengar permohonanku. Tiba-tiba terdengar sirene polisi dari kejauhan. Mereka panik dan meninggalkanku begitu saja. Tapi salah satu dari mereka kembali dan menghujamkan belati tepat ke jantungku berkali-kali. Setelah itu ia menyiramkan cairan ke wajahku yang kuyakini saat itu adalah air keras. Aku menjerit sekali lagi. Aku sudah tak bisa merasakan sakitnya lagi, yang kulakukan hanya menyebut nama Allah. Setelah itu semua gelap.
***
Kulihat Mbak Anzani menangis disudut ruangan. Ia tak henti memanjatkan doa untukku. Kucoba untuk membuka mataku semakin lebar. Kupanggil lirih Mbak Anzani. Mbak Anzani langsung memegang tanganku sambil mengucapkan syukur karena aku akhirnya bangun dari koma selama dua bulan.
“Mbak, bagaimana keadaan adik itu?”, tanyaku dengan terbata-bata.
“Dia sudah tenang, Dek. Dia sudah bersama Allah.”, jawab Mbak Anzani sambil menangis. Aku ikut menangis. Kulihat ada Mami dan Papi yang ikut menangis melihat kami. Eh, siapa lelaki itu? Bukannya dia karyawan baru di kantor? Seakan mengerti tatapan bingungku, Papi menjelaskan bahwa Alwi lah yang mengantarkanku dan adik itu ke rumah sakit dan berpura-pura menghidupkan sirene polisi dari handphonenya. Oh, jadi nama karyawan baru itu Alwi, batinku.
“Terimakasih sudah menolongku, Mas.”, ucapku lemah.
Ternyata Alwi sudah lama memperhatikanku. Hanya saja ia takut untuk lebih mengenalku karena belum muhrim katanya. Aku tersenyum. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ia melamarku saat itu juga. Ia ingin aku menjadi istrinya.
“Apakah kau mau menjadi istriku?”, tanya Alwi dengan lembut padaku.
“Kenapa kau memilihku untuk menjadi istrimu, Mas?,” aku balik bertanya.
“Karena perangai baikmu, karena hatimu yang lembut dan karena kamu seorang muslimah sejati.”, jawabnya mantap sambil melirik Mbak Anzani.
Air mataku jatuh. Mbak Anzani masih terus menggenggam tanganku. Ia ikut menangis. Mami dan Papi pun menangis. Oh, Allah… Ini sungguh luar biasa indah. Aku menganggukkan kepalaku pertanda bahwa aku mau di peristri olehnya. Alwi mengucapkan hamdallah berkali-kali.
Aku meminta Mbak Anzani membantuku untuk shalat tahajud. Ya, aku belum bisa shalat seperti biasanya. Jadi aku hanya bisa shalat dengan duduk. Entah kenapa aku begitu merindukan Allah. Aku begitu ingin bertemu dengannya. Dalam sujud panjangku, aku menangis. Memohon ampun atas segala perbuatanku selama ini, atas kelalaianku menjalani kewajibanku sebagai seorang muslimah. Tiba-tiba aku merasakan diriku sehat, bugar seperti sedia kala. Aku merasakan hatiku tentram tanpa beban. Aku melihat cahaya yang terang sekali dan ada suara anak-anak mengaji dari sana. Kuikuti suara itu dan aku melangkah dengan pasti ke cahaya tersebut sambil tersenyum.
***
Mbak Anzani memelukku dengan isak tangis yang halus. Ia tahu bahwa seorang muslimah sejati tidak boleh meratapi kepergian saudaranya. Alwi di sudut ruangan juga hanya menitikkan air mata sekali dua kali. Begitu juga Mami dan Papi. Setelah itu mereka langsung memanjatkan doa untuk kepergianku.
“Zira adalah seorang putri dalam keluarga kami. Dan tetap akan menjadi putri kecil kami yang manis.”, ucap Mami dengan suara yang parau.
“Ia memang seorang putri, Bu. Putri yang selalu bersujud padaNya.”, tambah Alwi dengan menitikkan air matanya terakhir kali.
Devian Amilla
(Penulis adalah Alumni UMSU Jurusan Matematika, Beberapa karyanya seperti puisi, cerpen dan opini pernah dimuat di media lokal maupun luar daerah.)
Pangandaran, SPC – Benteng pertahanan Jepang masa Perang Dunia II yang berada di kawasan Konservasi Cagar Alam Pangandaran selesai dibangun selama 3,5 bulan pada dekade 1940. Namun begitu, penggunaan benteng tersebut tidak lama, karena seluruh tentara Jepang dipaksa harus menyerah kepada Sekutu setelah Kota Nagasaki dan Hiroshima dibom atom.
Salah seorang pemandu wisata menunjukan bagian dalam Goa Jepang. Asepd Nurdin/SPC
“Menurut informasi yang saya terima goa jepang tidak lama digunakan karena tentara Jepang ditarik dan kembali ke negaranya setelah menyerah kepada sekutu karena Kota nagasaki dan Hiroshima di Bom Atom,” ungkap Nuryanto, Pemandu Wisata Cagar Alam Pangandaran belum lama ini.
Seiring berjalannya waktu, Kawasan Cagar Alam Pangandaran dijadikan sebagai kawasan konservasi dan kawasan wisata sehingga keberadaan goa jepang dijadikan salah satu lokasi wisata sejarah.
“Karena Goa Jepang berada di kawasan konservasi Cagar Alam Pangandaran, akhirnya dimanfaatkan oleh warga lokal Pangandaran dijadikan tempat wisata sejarah,” tutur Nuryanto, seperti diberitakan SP.Com
Banyak manfaat yang didapatkan dengan adanya Goa Jepang tersebut, warga Pangandaran bisa mengetahui sejarah keberadaan Jepang di Pangandaran. Untuk mendapatkan informasi tentang sejarah goa Jepang para Pemandu mengumpulkan data-data dan mendatangi saksi hidup.
“Saksi hidupnya sekarang sudah mulai berkurang paling tinggal beberapa orang dan sekarang sejarah Goa Jepang harus digali selengkap-lengkapnya,” tuturnya.
Para Pemandu juga pernah kedatangan wisatawan yang berasal dari Jepang dan pernah bertugas menjadi tentara di Pangandaran. “Kita sempat ketemu sama orang jepang yang dulunya pernah menjadi tentara bertugas di Goa Jepang,” kenangnya.
Dirinya mengaku sempat menggali informasi dari tentara jepang tersebut tetapi informasi yang didapatkan tidak banyak. “Orang Jepang hanya bilang minta maaf kepada masyarakat Pangandaran yang sudah menjadi Romusha, hanya bilang seperti itu,” ungkapnya.
Saat ini Keberadaan Goa Jepang sudah mulai banyak dikunjungi wisatawan yang datang ke Cagar Alam Pangandaran. Para Pemandu dan Pemerhati sejarah di Pangandaran sangat berharap perhatian dari Pemerintah.
“Supaya goa jepang terus terjaga keberadaannya kita sangat berharap Pemerintah bisa melakukan yang terbaik untuk Goa Jepang,” pungkasnya.
PERNAHKAH TELAPAK KAKIMU DINGIN DAN JANTUNG BEDEBAR
pernahkah telapak kakimu dingin dan jantung berdebar, seperti kualami ketika pertama aku jatuh cinta? di usiamu yang sudah setua sekarang, apakah mungkin hal itu terjadi, sebenarnya hal ini tidak perlu aku pertanyakan kepadamu, tapi, hal itu tidaklah salah tentunya; cinta bisa datang kapan saja dalam suasana yang tidak terduga, dan dirimu boleh bernyanyi-nyanyi, menari-nari, juga menulis puisi karena jatuh cinta, o, cinta!
Cilacap, 02 Juli 2015
MENGEMAS LUKA-CAHAYA
selalu; dirimu mendengar detak-detik jarum jam dinding, apakah sering perih dan ngilu
kecewa pada malam yang turun perlahan?
chin, beberapa hari lagi padang kujelang
bandara minangkabau kujejak
kita pergi ke telukbayur, ke bukit lampu, ke pantai bungus
atau ke indarung rumah yunizar nassyam
mengemas luka-cahayaku
atau bila dirimu ingin mandi-mandi di laut, aku akan menjelma karang
karang tempat dirimu berlindung dari hempasan ombak
lalu sorenya, chin, kita makan sate padang dan minum es durian patimura ya?
Cilacap, 01 Juli 2015
SEGELAS AIRMATA
ia selalu menawarkan kepadamu segelas airmatanya untuk kauminum
nyaris pada setiap pertemuan yang selalu tidak direncanakan
bisa jadi di pesisir laut, di ruang tunggu bandara, di peron stasiun atau bahkan di sebuah kafe
dan engkau akan meminum airmatanya dengan begitu tenang
lalu beberapa saat kau dan ia saling peluk, kemudian berpisah lagi
dan entah kapan bertemu lagi.
Cilacap, 01 Juli 2015
SKETSA PUISI
berapa macam penyakit yang kauderita
engkau selalu menutupinya dengan tersenyum
izinkan, aku mengantarmu bila ke dokter
aku mau kau berobat dan bila harus dirujuk ke rumah sakit
aku akan menungguimu sambil terus membuat sketsa puisi
o, sketsa puisi!
Cilacap, 30 Juni 2015
RUANG INI TERLALU GADUH
ruang ini terlalu gaduh, bagaimana mungkin aku melukis bayang wajahmu
yang bergemuruh, wajah mulai menua tapi matamu masih menyala
dan parau suaramu memanggil-manggil namaku
: “edelweis, edelweis! bunga hutan yang tumbuh di dadaku
mersik di kedalaman jiwaku!”
Cilacap, 30 Juni 2015
BIODATA:
Eddy Pranata PNP, sekarang tinggal di Cirebah –sebuah dusun di pinggiran barat Banyumas, Jawa Tengah. Lahir 31 Agustus 1963 di Padang Panjang, Sumatera Barat. Sehari-hari beraktivitas di Disnav Ditjenhubla Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016).Puisinya dipublikasikan di Horison, Aksara, Kanal, Jejak, Indo Pos, Suara Merdeka, Media Indonesia, Padang Ekspres, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, Batam Pos, Sumut Pos, Fajar Sumatera, Lombok Pos, Harian Rakyat Sumbar, Singgalang, Haluan, Satelit Pos, Radar Banyuwangi, Solopos dan lain-lain.Puisinya juga terhimpun ke antologi: Rantak-8 (1991), Sahayun (1994), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Antologi Puisi Indonesia (1997), Puisi Sumatera Barat (1999), Pinangan (2012), Akulah Musi (2012), Negeri Langit (2014), Bersepeda ke Bulan (2014), Sang Peneroka (2014), Metamorfosis (2014), Patah Tumbuh Hilang Berganti (2015), Negeri Laut (2015), Palagan Sastra (2016), Pesisir Karam (2016), Memo Anti Terorisme (2016) dan lain-lain.
Alamat rumah: Cirebah RT.02/RW.08 Desa Cihonje, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Kode Pos 53615.
pergidulu.com – Dengan semakin banyaknya tempat wisata baru yang dibuka di sekitar Pangandaran, kadang-kadang sulit untuk tetap update dengan informasi tempat mana yang lagi booming, tempat mana yang baru buka dan tempat mana yang cocok buat foto-foto cantik.
Nah…Jogjogan ini memenuhi semua kategori tersebut! Berlokasi cukup tinggi di daerah pegunungan sebelah utara Pangandaran dan lebih ke utara lagi dari Citumang, Jogjogan adalah nama yang diberikan untuk menyebut sebuah area yang mempunyai banyak aktivitas wisata untuk turis, seperti body rafting, Farikota Garden dan Wonder Hill.Kebanyakan pengunjung ke daerah ini akan masuk lewat Wonder Hill dan kemudian dari sana bisa memilih aktivitas apa saja yang mau dilakukan. Wonder Hill memang sering dijadikan base untuk menikmati atrasksi di sekitar sana dan selain itu pemandangan dari sana juga sangat cantik.
Tentunya ada banyak spot bagus untuk selfie termasuk platform bambu ini…Dari sini bisa jalan kaki (atau naik kendaraan sendiri) ke Taman Farikota. Di sana kamu bisa jalan-jalan keliling taman dan melihat berbagai jenis tanaman yang ada di taman tersebut.
Body Rafting di Sungai Citumang juga jadi salah satu aktivitas wisata yang paling populer. Di sana ada banyak jenis paket yang ditawarkan. Namun yang paling bagus dari aktivitas ini adalah pemandangannya.Sekitar jam 5 sore, ribuan kelelawar terbang keluar dari sebuah gua raksasa dan pemandangan tersebut bisa dinikmati dari Jogjogan. Jam 5 pagi para kelelawar tersebut kembali lagi masuk ke dalam gua. Jadi ada banyak sekali pengalaman seru yang bisa dinikmati di Jogjogan.
Cara Menuju Jogjogan
Jogjogan agak sulit dicapai, namun kami bisa coba sharing informasi petunjuk jalannya:
Jika datang dari arah Pangandaran, belok kanan dari jalan utama Pangandaran Batu Karas di belokan kedua (penting!!) yang memiliki tanda arah ke Citumang. Ini dikarenakan belokan pertama yang mengarah ke Citumang tidak nyambung dengan jalan ke Jogjogan, kecuali kalau kamu naik motor.
Ikuti terus jalan ini hingga kamu menemukan belokan ke Citumang. Di tanda belok tersebut kamu tetap lurus.
Dari sini ada banyak tanda petunjuk arah ke Jogjogan dan Wonder Hill. Ikuti saja petunjuk ini. Kebanyakan sih tinggal lurus terus dan kemudian beberapa kali belok kanan.
Kondisi jalan ke Jogjogan jelek. Tapi masih bisa dilalui menggunakan mobil 2WD biasa ataupun motor Scoopy (seperti kami :)).
Berikut ini adalah lokasi Jogjogan dalam google map.
Jogjogan Desa Cintaratu, Parigi Harga tiket: Rp. 10.000 per orang Rafting: Rp. 125.000 (min 5 orang, sudah termasuk makan siang & transportasi hard top)
Ternyata, sudah sejak 10 tahun lalu DL Sitorus berkeinginan meninggal di pesawat dan ia meminta kepada Tuhan agar hal itu terjadi. Dan seperti muzizat, hal itu benar-benar terjadi.
Foto: Akun Intagram Dewi Marpaung
Hal itu terungkap dalam status yang dituliskan Dewi Marpaung dalam akun instagramnya novitadewirock. Dewi Marpaung adalah penyanyi top Batak, yang mencapai puncak popularitas ketika ikut di ajang kontes nyanyi di salah satu TV Swasta. Di akun itu, Dewi juga mengunggah fotonya bersama DL Sitorus.“Ya ampun opung, DL . Sitorus.. padahal baru tiga minggu lalu kita bertemu dan ceria banget opung. Sekitar 10 tahun lalu opung pernah bilang kalau bisa minta sama Tuhan meninggal di pesawat aja terkabul opung mreninggal di pesawat. Selamat jalan opung..damailah opung di sana. Semoga keluarga yang ditinggalkan Tuhan diberi ketabahan,” demikian Dewi Marpaung menulis seperti dikutif Sopo Batak.
Sebagaimana diberitakan, DL Sitorus meninggal dunia pada Kamis (3/8) sesaat sebelum take off menggunakan pesawat Garuda Indonesia GA 188 tujuan Jakarta-Medan. Pesawat yang seharusnya berangkat pukul 13.35 WIB ditunda akibat kejadian itu. (sopo/bbs/int)
Oleh: Nanda Dyani Amilla
Ketika diksiku tak lagi mampu membuatmu yakin bahwa rumahku masih cukup hangat untuk kau tinggali. Ketika ujarku tak lagi bisa menahan langkahmu untuk tidak beranjak pergi. Ketika harapku pun tak lagi bisa menghentikan keputusanmu untuk lari dan menyendiri. Ketika itu pula, aku meragukan rasa yang pernah kita jaga bersama. Apakah memang sebesar itu? Atau waktu memang telah lelah untuk memaklumi semua keegoisan kita?
Aku tidak pernah ingin berada di posisi ini. Bahkan untuk membayangkannya saja aku enggan. Meski sakit, aku selalu mampu membujuk hatiku untuk tetap mempertahankanmu. Menjalani semuanya sekalipun kau berbuat salah. Aku berusaha menelan semua kecewa agar tak pernah kita berpisah. Aku berusaha meminimalisir luka, memaafkan agar kita tetap bahagia. Aku tahu kau pun turut melakukan hal yang sama. Namun, apakah kali ini kita benar-benar menyerah?
Kau memaksaku untuk melupa. Kau memaksaku untuk berjalan sendiri. Kau memaksaku untuk pergi. Meski aku tidak ingin, aku kembali melakukannya untukmu. Dan kali ini, sakitnya melebihi batas mampuku. Haruskah kita berakhir dengan cara seperti ini? Haruskah kau mengusirku dengan paksa dari hatimu? Ataukah kau telah menemukan seseorang yang baru?
Aku berusaha untuk tidak menangis ketika menuliskan ini. Sebab aku tahu, kau juga tidak akan menangis ketika membacanya nanti. Untuk sekadar kau tahu, perasaanku masih bertahan di tempat semula. Tidak akan pernah bergeser sedikitpun dari sana. Tak akan pernah berubah meski ada seseorang yang menawarkan bahagia. Kau perlu tahu, mencintaimu tidak pernah benar-benar sederhana. Aku mencintaimu dengan segala upaya terbaik yang kupunya. Aku memperlakukanmu dengan sangat istimewa. Meski sesekali kau merasa akulah penyebab segala luka.
Maaf, jika selama mencintaiku kau begitu kelelahan. Maaf, jika selama bersamaku aku begitu menyebalkan. Aku hanya sedang berusaha mencintaimu dengan baik, meski di matamu segala usahaku tak pernah terasa penuh. Hari ini, aku kembali mengais-ais ingatan tentangmu. Tentang perjalanan kita melewati purnama-purnama. Tentang sedih bahagia yang kita cipta bersama.
Senja beberapa waktu lalu, kita masih menghabiskan waktu bersama. Duduk di taman berdua. Dan bercerita tentang apa saja. Aku masih bisa menatap wajah teduhmu dari jarak sedekat itu. Juga merasakan tawa bahagiamu yang memenuhi gendang telinga. Kita bicara tentang masa depan. Tentang hal-hal yang ingin kita capai bersama. Tentang impian yang ingin diwujudkan berdua.
Barangkali kita lupa, bahwa kita pernah melewati masa-masa paling sulit. Lebih sulit daripada saat ini. Tapi kecewaku adalah mendapati kenyataan bahwa dengan mudahnya kau menyerah. Begitu mudahnya kau melupakan segala. Kau lupa bahwa akulah perempuan yang rela menerima semua kekuranganmu. Akulah perempuan yang menangis ketika rindu kamu. Dan akulah perempuan yang selalu berdoa untuk kebahagiaanmu. Kau lupa menghitung berapa banyak airmata yang pernah tumpah atas namamu. Kau lupa menghitung berapa banyak sakit yang dipertaruhkannya bersamamu. Kau lupa menghitung berapa banyak cinta yang dijauhinya demi kamu.
Tidak. Aku tidak perlu menjelaskan seberapa banyak buih perasaan yang kupunya untukmu. Aku paham, kau mengerti jika soal ini. Kau hanya tidak paham, bagaimana cara menyelamatkan hatimu dari rasa marah. Sekuat apapun kini aku berusaha, kau tidak akan merubah prinsip itu.
Pergilah, jika rumahku kini tak lagi menghangatkanmu. Pergilah, jika kurangku terasa memberatkanmu. Pergilah, jika bahagiamu bukan lagi terletak padaku. Jangan khawatir, aku sudah bersahabat dengan luka sejak lama. Aku hanya harus terbiasa dengan dunia yang tanpamu. Aku hanya harus terbiasa saat membuka mata dan tidak lagi menemukanmu pada tempat yang sama. Bukankah setiap pertemuan memang akan bermuara pada kata pisah? Bukankah bahagia juga bisa berganti menjadi labirin luka?
Kembalilah, jika di kemudian hari kau tidak menemukan bahagia pada hati lain. Kembalilah, jika suatu hari nanti kau kembali merindu kisah kebersamaan kita. Sejatinya, kau tidak pernah menempati ruang benci di dalam hatiku. Untuk saat ini, bantulah aku untuk bisa menerima keadaan. Bantulah aku untuk menyembuhkan hati. Dengan cara pergi dan jangan menoleh lagi. Setidaknya sampai aku bisa melupakan rasa sakit ini. Setidaknya sampai perasaanku mati di kemudian hari.[]
untuk seseorang yang kerapkali kubuat patah hatinya
( Nanda Dyani Amilla yang mengaku bernama fena Gadis Hujan, Perempuan pluviophile yang juga menulis novel berjudul “Kejebak Friendzone”, Bentang Pustaka, 2017)
gigih motorku melawan angin gaduh
riuh pohon mengancamku kala itu
ranting-ranting patah tebanting kepusar jalan
juga daun-daun berhamburan serupa debu.
hasrat menampar dengan bengis, mendorongku semakin kencang berlari
mengejar target diantara nyawa-nyawa perantau yang gigih
namun takdir berkata lain kala itu
hujan telah menguyur gesah-gesah tadi
hingga pada akhirnya aku lupa jalan kebenaran
nyaris saja tuhan murka padaku.
MALAM SUNYI
Malam itu rembulan menatapku
sisik-sisik sunyi diam bisu
menjadi penonton wayang
dua pendekar yang sedang jihad
pernak pernik tanpak jauh menatap
namun setianya mampu bertaruh
meski di selimuti dinginnya malam
sehening kalimaya india
bulan, mengapa dirimu senyum menatapku?
melangkah keluar kedalam yang sibuk menukar recehan itu.
TENTANG KITA DI MUSIM SEMI
Sebatang kayu kaki kita
batu bulat dan tali warna biru penimang nya
dan takdir kita adalah benang yang berujung besi malu
tentu kau ingat itu bukan?
biduk karet yang terbakar lunak akibat ter-elus besi-besi panjang memerah di ujungnya
kain membasah kotor berlumut tanah adalah pembentuknya
kita rakit di tengah samudra.
tentu kau ingat itu bukan?
tempat dimana kita hidup
dan tertidur pulas di pangkuannya
sambil memegang benang di tangan sampai di jari kaki
hingga gema suci buyarkan mimpi.
AKU MALU
Aku malu padamu
mengapa kau begitu tampak pendiam
sudah kubilang lepaskan suara hatimu
dan tebaskan egomu
buatlah aku sedikit lumpuh
sekiranya aku tak mampu
lagi mencekam mu
aku malu.
LAGU YANG BISU
Kisah seorang remaja
terkesut sembunyi bisu
kedua tangan menari
menggeluti masalalu
mestinya kau tak ragu
dengan apa yang ku tau
karna kau mampu
dan tak perlu kau menjaminkan perawanmu
jika hanya untuk sekedar penawar malu,
sebab tanpa kau tau
perawanmu telah banyak menghabiskan waktuku.
PUTRI KHAYALAN
Hay Gadis kecil
jangan tampakkan senyummu
jika tak mau beradu
merahnya takkan mampu
melahap yang sudah berdebu
mustahil semuanya akan berlalu
jika senyummu
masih saja mencubit hatiku.
Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995
Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.
Kumpulan Puisi Terbarunya KISAH SEORANG REMAJA YANG MENCARI TAKDIR NYA (2016)
No. 085232343060
083853208689
Kuda…..
Ayo melesat
Melaju bagai mesiu
Terus maju seperti waktu,
Kuda…..
Belok ke kanan
Meloncati awan-awan,
Menyapa kawan-kawan,
Kuda…….
Belok ke kiri
Tak takut mati
Membela NKRI,
Kuda….
Kudaku….
Kudaku Kuda Semberani…
Paling berani di muka bumi……
Terjang musuh-musuh
Menjaga perbatasan, menghalau serangan
Kita kuat kita siap
Ayo! Surakarta, 1 Maret 2017
Emansipasi Waktu
Dibalik tirai yang mengancam kemelut hari esok
Fajar tetap berotasi menghiasi bumi
Dengan sawah, hutan, dan samudra.
Ikan-ikan menjadi tembok kokoh di pagar Nusantara
Dengan bumbu masak yang menyemaikan bau bawang
Ada sosok wanita yang menjadi ibu, menjadi istri, dan menjadi pekerja
Buku menjadi sahabat karib di rongga waktu dapur dan sofa
Tetapi perjuangan sebagai seorang anak manusia
Seorang wanita, seorang mahluk Tuhan
Tetap berlanjut menuju keadilan bersama cita-cita luhur
Dalam kehidupan berbangsa, masyarakat, dan bernegara.
Kita melihat seorang pemimpin, seorang guru, dan dewi kasih
Dari sosok wanita yang lembut, gemulai untaian perkataan tubuh.
Dan selalu membuat lelaki tertegun sejenak, terkagum-kagum tanpa batas.
Surakarta, 29 April 2017
Muhammad Lutfi, lahir di Pati, tanggal 15 Oktober 1997, Pelajar di Fakultas Ilmu Budaya, Prodi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta , tinggal di Desa Tanjungsari, RT.01/ RW.02, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah.
Sehari sebelum Idul Fitri tahun 2017 ini, ibuku menghadap yang Maha. Saat nafasnya memburu, dan detak nadi sudah tak terasa di kakinya, lalu bola matanya berputar 180 derajat, kami yang mengantarkannya dengan “talkin”, segera menangis serempak. Nafas terakhir berlalu. Innalillahi…
Aku berserta kakak dan adik-adikku, bibi dan sepupu, juga para tetangga, segera saling pandang. Bidan yang memeriksa kondisi tubuhnya dengan stateskop, menyatakan beliau sudah mangkat. Lalu kami tutupkan kelopak matanya. Bibirnya dikatupkan, kemudian ditutupi dengan samping corak batik warna coklat.
Aku makin mengerti, kenapa kain batik yang digemari para orang tua cenderung warna coklat. Karena coklat dekat pada warna tanah, dan tanah adalah pralambang dari muasal sekaligus tempat kembali. Dan setiap yang bernafas, akan “mudik” ke Lebaran masing-masing.
Pelayat segera berdatangan, cukup banyak, meski sebagian tetangga sudah mudik. Mungkin karena ibuku seorang guru mengaji, dan aktivis PKK untuk tingkat madrasah/mesjid, maka murid-muridnya segera memenuhi rumah kami. Usai dimandikan, dan disalatkan, aku mengantarkannya ke peristirahatan terakhir di Kabupaten Subang, tentu bersama warga dan sanak famili.
Di Subang, kerabat keluarga telah menunggu, lalu menyalatkannya. Setelah itu, kami mengatarkan jenazah ke pemakaman keluarga. Di sana, telah menunggu kakek dan nenek dari pihak ayah, para uwa dan sepupu, dan tentu ayahku yang lebih duluan berkalang tanah. Iring-iringan yang mengantarkan ayahku dari Bandung kala itu, jumlahnya jauh lebih banyak, diperkirakakn dua kali lipat. Aku teringat kejadian sembilan tahun silam, saat jasad ayahku dibenamkan pada liang lahat, lalu ditutup dengan padung, adikku yang “keras kepala”, meneteskan air mata. Tentu aku juga. Namun aku segera menghapusnya. Tapi saat ibuku yang dimasukkan ke liang lahat, justru aku yang duluan menitikkan air mata.
Aku masih belum percaya bahwa beliau telah berpulang. Pagi-pagi sekitar pukul 9, aku masih menyapanya. Malamnya, ia masih tersenyum dan menggenggam jemariku. Ada kontak batin yang cukup kuat antara ibuku denganku. Berkali-kali ia sakit, tak lama kemudian jadi pulih setelah kujenguk. Juga malam itu, saat ia menggenggam jemariku, aku masih berpikir bahwa ia kembali pulih. Pada akhirnya, manusia hanya memiliki prakiraan dan keinginan, tapi urusan maut, tak seorang pun dapat mempercepat atau menundanya.
Selesai hotbah terakhir dalam ritual pemakaman itu, dan para pelayat melangkah balik badan, aku sempat menekur di papan nisan. Mengenangnya, dan berdoa, dan seakan berbisik kepadanya. Dan serasa ia mendengarku. Aku yakin itu hanya perasaan. Sebelum akhirnya berlalu, aku sempat merenung di gigir nisan itu. Bila aku disolatkan, lalu dimakamkan, akan sebanyak inikah para pendoa yang ikhlas mengantarku untuk berkalang tanah?
Telah ratusan kali kusaksikan orang-orang dikuburkan, termasuk ibu dan ayahku. Tak seorang pun dari mereka yang membawa kekayaan, selain tiga helai kain kafan, setampuk kapas, serbuk kamper, dan minyak Si Nyong-nyong atau Putri Duyung. Hanya amal perbuatan yang menyertai manusia ke akhirat, dan sungguh kesenangan dunia termasuk mengumpulkkan material, adalah permainan belaka.
Tetapi sejujurnya, aku ingin memiliki kapal pesiar untuk sekolah terapung, yang bisa membelah samudra, dan mengenalkan lautan luas kepada anak bangsa. Bukankah nenek moyang kita para pelaut, dan negeri ini dikelilingi laut? Tapi kenapa lautan dikuasai orang asing?
Keinginan itu terlalu angkuh dan jauh. Ada kesan sombong di dalamnya. Padahal sekarang ini, peralatan kerjaku saja masih terbatas. Kalau memang mau mengajar, mengabdi, kenapa pula harus menunggu kapal pesiar. Bukankah selama ini aku biasa menyampaikan materi pelatihan menulis di manapun? Bukankah pernah kusampaikan pelatihan menulis di hotel, di kelas, di rumah ibadat, di emperan jalan, di bawah pohon beringin, bahkan di kuburan? Tidak, sungguh tidak mesti harus menunggu kapal pesiar untuk berbuat.
Ibu dan bapak guru yang budiman, sungguh tidak pernah kurasakan gairah seperti sekarang ini. Aku bersyukur, dapat ikut menyaksikan suatu era di mana para guru begitu antusias berlatih menulis, kemudian menulis, kemudian membukukannya. Itikad para guru itu, bagiku, adalah secercah cahaya “aufklarung”, adalah pengharapan akan terbitnya fajar pencerahan. Bangsa ini akan dan pasti bisa berubah ke arah yang lebih baik, yang lebih kreatif, yang sanggup bersaing di masa depan dengan bangsa-bangsa yang jauh lebih maju dan menguasai berbagai sendi kehidupan.
Sudah sejak tahun 2000-an, aku sering berkoar-koar di media massa, bahwa perubahan negeri ini tidak bisa diharapkan lahir dari para politikus zaman sekarang. Sebab kebanyakan dari mereka nyaris serupa dan semuka, yaitu muka badak. Ujung perjuangan para politikus adalah berebut kekuasaan. Pameo yang berbunyi “Tak ada kawan dan lawan abadi dalam politik, yang abadi adalah kepentingan,” teramat vulgar dipertontonkan oleh para politikus, bahkan termasuk para politikus dari kalangan muslim. Bapak dan Ibu tentu masih ingat, siapa yang mengangkat Gusdur, dan siapa pula yang menurunkannya.
Perubahan ke arah yang lebih beradab, juga sulit diharapkan dapat lahir dari kalangan para pengusaha. Di dalam pikiran mereka, kekayaan alam yang terbentang dari Sabang hingga Merauke, tak lebih dari aset yang dapat diperjual-belikan. Bila tidak menguntungkan, maka bisnis garam ditinggalkan. Alhasil, harga garam tiba-tiba menohok ulu-hati bangsa yang hidupnya dikelilingi lautan.
Pun para agamawan, sepanjang mereka masih menjual ayat-ayat suci untuk kepentingan yang lebih duniawi, maka harapan akan lahirnya era pencerahan, atau era ufklarung menurut orang Jerman, rasanya masih jauh panggang dari api. Maka betapa kita saksikan belakangan ini, cukup banyak ustad yang berpenampilan seperti artis, atau berlomba melawak dalam televisi. Peringatan yang berbunyi: “Janganlah kalian menjual ayat-ayat Kami dengan harga yang murah, sedangkan kalian menggenggam kitab suci,” seakan hanya rambu laluintas menjelang berangkat dan pulang kerja.
Kepada para gurulah aku berharap. Lebih jauh lagi, di lengan para guru kemajuan peradaban bangsa ini dapat diharapkan. Untuk hal ini, tentu sudah banyak contohnya. Jepang, Mekkah, Yunani, dan negara-negara maju, adalah bangsa-bangsa yang menghormati dan memberikan keistimewaan kepada para guru, disebabkan guru adalah agen perubahan, adalah yang mencetak sumber daya manusia. Tetapi di negeri “ing ngarso sung tulodo” ini, eksistensi guru terasa dibungkam, dan daya juang mereka digembosi, sehingga guru menjelma jadi sapi perah bagi orang dinas, dan menjelma jadi robot bagi para perancang kurikulum dan administrasi. Betapa gila, hanya mengubah kata “A” (SMA) menjadi “U” (SMU), dan mengembalikannya lagi ke “A” (SMA), uang milyaran rupiah kala itu, digelontorkan untuk mengganti bet, plang, stempel, dan serluruh atribut.
Guru sudah waktunya menjelma sebagai “ummatan wasathon,” yaitu warga yang paripurna, dan mengemban jiwa kerasulan. Ciri-ciri kerasulan adalah beriman dan bertakwa, kritis dan menjadi pembelajar sepanjang hayat, berbuat untuk keadilan serta kemaslahatan lingkungan. Untuk melaksanakan ketiga perkara tersebut, terkadang rasul dimusuhi oleh umat sekampung, bahkan oleh keluarganya sendiri. Tentu para guru di Indonesia tidak perlu sedahsyat rasul. Cukup berubah dari robot penyampai pelajaran, menjadi manusia pembelajar yang sungguh-sungguh. Dengan kesungguhan dalam belajar, siapapun punya harapan akan sampai pada aras “sangkan paraning dumadhi”, atau pada prinsip “aparigraha” dan “nirartha”. Salah satu metode belajar yang cukup efektif, menurut hematku, adalah dengan menggunakan logika terbalik: Menulislah, baru kau akan melakukan IQRA!