Oleh: M. Rosyid HW
Ini semacam keras kepala yang berbatu-batu. Seperti tekad yang mengalir dalam urat nadi, atau cita-cita yang sudah mengakar berabad-abad dalam hati. Kata pujangga, ini perjuangan cinta. Kalau tidak, mana mungkin aku berada di tempat ini. Meneguhkan diri dan memantapkan sendi-sendi hati.
Bulan sedang pada masa jaya-jayanya, bercahaya lembut di malam yang membiru. Baru kali ini kulihat bulan bersinar sedemikian cantiknya. Sungai Brantas mengalir begitu anggun, tenang di permukaan, bergejolak di dasar. Tak terlihat siapapun sefajar ini di bantaran sungai ini, hanya seonggok lampu yang bekerjap-kerjap di kejauhan. Gelap gulita menyelimuti sekelilingku, hanya deru alir sungai yang bergelora dan sangat berwibawa. Mengerdilkan nyaliku yang sudah kuberanikan semenjak berangkat dari rumah. Perlahan-lahan kumasukkan ujung kakiku ke dalam sungai terbesar di ujung timur jawa ini. Batas air merambat dari lutut, paha, perut hingga mencapai dada bidangku. Hawa dingin menjalari tubuhku, mengalir begitu mencekam. Bibirku bergetar, bulu kudukku berdiri, aku menggigil. Riak-riak air bergelombang menerjang seluruh inci badan. Angin selatan berselancar di permukaan sungai, menerpa wajah telanjangku. Badanku bergetar hebat, hebat sekali. Aku hela nafas dalam-dalam, mencoba mengalirkan hawa panas dan menetralisir dingin yang menekan erat. Gigilku berkurang, tapi dingin tetap mencekam. Bermandikan cahaya bulan, kurendam tubuhku dalam deras air sungai. Untung bulan bercahaya begitu indah, menemani kesunyian malam ini.
Kalau bukan karena Laila, gadis jawa itu, aku tak mungkin merendam diri di malam sedingin ini, di sungai Brantas pula. Malam ini adalah malam ke lima belas dari empat puluh hari yang harus kulalui dengan raga yang basah oleh air dan cahaya bulan. Separuh jalan telah hampir ku lalui. Walau tulang-tulangku bergeletukan, senyum simpul merona dari bibirku.
Aku tak mengerti, mengapa aku bisa senekad ini. Laila dengan rambutnya yang tergerai-gerai dilambai angin membuat hatiku tak karuan. Seandainya saja aku mampu mempersuntingnya untuk menjadi istriku, hidupku yang pas-pasan akan berubah bahagia.
Seandainya aku pintar merangkai kata-kata layaknya penyair. Pasti, Laila akan terbuai oleh gombal-gombal cinta yang kulontarkan dalam puisiku. Setiap hari akan kukirimi dia sepucuk mawar merah lengkap dengan sajak yang mendayu-dayu penentram kalbu. Kemudian, dia akan menerimaku sebagai pelabuhan hatinya. Namun aku hanyalah penambang pasir di pinggiran sungai Brantas yang sedikit beruntung. Ya beruntung, karena mampu melihat dan mengenal bidadari yang turun dari langit, secantik Laila. Sayangnya, wajahku tak ganteng pula layaknya aktor-aktor film. Hingga akhirnya, tekadku berakhir dengan malam yang panjang tanpa mengatupkan mata sedikitpun dan dingin yang merasuk ke tulang-tulang.
Adalah Ki Joyoboyo yang memberikanku petuah ijazah untuk memenangkan hati Laila. Saat itu, malam Jum’at kliwon aku mendatangi rumahnya di pinggiran Sungai Brantas. Seminggu setelah aku bertemu Laila, tujuh hari setelah renungan yang berkecamuk dalam hati. Pohon beringin di depan rumah dukun ini menambah kesan sakti plus mistis yang sudah melekat dalam namanya. Aku datang mengendap-endap, tak berani banyak bersuara.
“Perempuan mana yang kau suka?” Tanya Ki Joyoboyo bahkan sebelum aku mengutarakan maksudku.
“Laila Ki, anak pakSutiyo, janda satu anak Ki.”
Setelah itu, dia mengeluarkan sebuah kertas dan menuliskan huruf-huruf arab diatasnya. Hurufnya panjang berderet-deret, berdesak-desakan dalam kertas yang sempit. Aku tak tahu isinya, lampu di kamar itu terlalu remang untuk mampu menjangkau deret hurufnya. Mungkin, itu arab pegon, bahasa jawa yang ditulis dalam huruf arab, batinku. Saat lafadz-lafadz itu sudah lengkap, dia memasukkannya dalam segelas air kemudian merapal mantra-mantra dengan memejamkan mata. Tinta-tinta dalam kertas melarut dalam air hingga air jernih itu berubah menjadi kehitam-hitaman. Aroma dupa bergelegak masuk ke dalam hidungku. Aku menciut, bulu kudukku meremang.
“Minumlah nak, minum dengan menyebut nama Tuhanmu.” Air dalam gelas kutenggak sampek habis, menyisakan kertas di dasar gelas.
“Jika kau ingin Laila bertekuk dalam pelukmu, kau harus melakukan hal yang kupinta ini. Berendamlah di Sungai Brantas sebelum fajar menjelang, berbalut cahaya bulan. Selama empat puluh hari tak boleh putus-putus. Sambil berendam bacalah ayat ini sebanyak seribu kali sampai shubuh tiba. Jika itu sudah kau lakukan, maka Sungai Brantas akan memberikanmu kekuatan untuk menaklukkan hati si Laila. Kau akan menjadi gagah di matanya, segagah aliran sungai” ujar Ki Joyoboyo sambil memberikan sepucuk kertas bertuliskan arab di depanku.
“Makasih banyak Ki,” aku menyalaminya sambil menyelipkan beberapa lembar uang ratusan ribu dalam genggamannya. Malam itu, aku pulang dengan senyum yang mengembang dan bersiul-siul gembira. Impianku untuk memperistri Laila sedikit lagi akan terwujud.
***
Siang sedang buram hari ini. Awan pekat bergulung-gulung menghitam menutup sorot cahaya mentari. Gelap menggelayut bumi, segelap hatiku saat ini. Sudah berhari-hari aku tak bertemu dengan sorot ayu wajah Laila. Biasanya, sesiang ini, dia akan menggowes sepedanya untuk menjemput anaknya pulang sekolah. Saat dia melintas di atas jembatan bambu yang membentang di atas sungai Brantas, aku akan melirik sosoknya dengan sepanggul pasir basah di bahuku. Maka, hatiku akan membuncah, semangatku akan bergelora, seakan seluruh pasir di sungai itu akan kukeruk habis dan kupersembahkan untuk Laila. Namun, sudah seminggu ini batang hidungnya tak terlihat.
Sebagai seorang penambang pasir, menyelam sungai adalah keseharianku. Berangkat semenjak mentari mulai terlihat dan berhenti ketika ia menyembunyikan cahayanya di balik mega. Seonggok bambu berbentuk kerucut yang dilapisi seng menemaniku menyusur kedalaman arus sungai. Aku mampu menyelam selama hampir lima menit kemudian muncul dengan segepok pasir basah, mutiara Sungai Brantas yang sudah terkenal kualitasnya seantero negeri. Setelah seminggu, pasir akan terkumpul dan dijemput truk-truk yang merapat untuk mengangkutnya.
Hari ini, aku beristirahat lebih cepat. Dengan baju yang basah kuyup, kupandangi lekat-lekat sungai terbesar di Jawa Timur ini. Sungai yang tak pernah kering, terus menerus mengalir, menjadi sumber penghidupanku semenjak aku lahir. Sungai yang bersumber di lereng gunung Arjuno ini melintasi beberapa kabupaten dan bermuara di ujung pantai utara jawa. Tiba-tiba aku teringat Laila dan pertama kali aku bertemu dengannya.
Senja itu angin bertiup sepoi-sepoi, aku baru saja selesai dengan angkatan pasir terakhir. Nafasku terengah-engah, tenagaku terkuras habis. Dibalik rindang pohon nangka, aku melepas lelah. Hingga seorang perempuan duduk selemparan pandang di sampingku. Duduk bertekuk lutut, memandang lepas Sungai Brantas dan melempar kerikil-kerikil ke arus yang deras. Semacam ada kabut bergelayut dalam hatinya. Rambutnya tergerai-gerai tersapu angin selatan.
“Kau lihat perempuan itu? Siapa namanya Man?” tanyaku kepada teman sesama penambang Pasir.
“Itu Laila, anak Pak Sutiyo. Sebulan lalu pulang, setelah ditinggal mati suaminya.”
Kupandangi Laila lekat-lekat, semacam ada rasa kekaguman tumbuh dalam dada. Semenjak saat itulah aku sering memimpikannya dan selalu menunggunya melintas di jembatan bambu yang berdiri gagah di atas Sungai Brantas.
***
Saat kutengok jendela di samping dipanku, fajar telah menghilang semenjak sang mentari menampakkan batang hidungnya. Malam telah menunaikan hajatnya, berganti kuning menyala-nyala di ufuk timur disertai ciut-ciut burung-burung. Fajar telah digantikan lembaran pagi. Bersamaan dengan wajahku yang tertimpa percik sinar mentari, kantuk yang melekat di kantung mataku mulai memudar. Rasa lega dan bahagia menyesaki kalbuku, malam-malam berat telah berhasil kulalui. Empat puluh malam tanpa memejamkan mata, bertahan dalam kedinginan dan jutaan mantra telah kupanjatkan.
Cuaca yang cerah, secerah gemuruh dalam dada. Hari ini akan kuselesaikan keras kepala yang membatu-batu, tekad yang mengalir dalam urat nadi, dan cita-cita yang sudah mengakar berabad-abad dalam hati. Dengan menggenggam tulisan ayat pemberian Ki Joyoboyo dan mewarisi kegagahan Sungai Brantas, aku siap untuk menjemput cinta Laila.
*M. Rosyid HW , Pegiat sastra di Komunitas Lilin Lantai
Tulisan-tulisannya pernah dimuat di koran nasional dan lokal
Biodata:
Gusti Trisno. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Kelahiran Situbondo, 26 Desember 1994. Karya penggiat Komunitas Penulis Muda Situbondo yang pernah menjadi Pemenang Kedua Lomba Menulis Cerpen dalam Pekan Seni Mahasiswa Jawa Timur ini dimuat di beberapa media. Kumpulan tulisannya bisa dibaca di:
Ida Fitri, lahir di Bireuen 25 Agustus. Sekarang menjadi Penyuluh Kesehatan Masyarakat di Aceh Timur.

Ari Vidianto, S.Pd.SD lahir di Banyumas, 27 Januari 1984, pekerjaan seorang Guru di SD N 2 Lumbir UPK Lumbir. Tinggal di Cikole RT 03 RW 02, Desa Lumbir Kecamatan Lumbir, Kabupaten Banyumas Jawa Tengah Kode Pos 53177. Saya suka menulis Puisi, Cerpen, Pantun, Lagu dan Geguritan. Sudah menerbitkan 2 buku karya tunggal berjudul “ Ibu Maafkan Aku”, “ Wajah-Wajah Penuh Cinta” , 17 buku Antologi dan banyak karya yang dimuat di Media Massa. No Hp 085726348627, Facebook Ari Vidianto, email : ari.vidianto@gmail.com