Arsip Tag: Cerpen

[Cerpen] Demi Cinta Laila

Oleh: M. Rosyid HW

Ini semacam keras kepala yang berbatu-batu. Seperti tekad yang mengalir dalam urat nadi, atau cita-cita yang sudah mengakar berabad-abad dalam hati. Kata pujangga, ini perjuangan cinta. Kalau tidak, mana mungkin aku berada di tempat ini. Meneguhkan diri dan memantapkan sendi-sendi hati.

Bulan sedang pada masa jaya-jayanya, bercahaya lembut di malam yang membiru. Baru kali ini kulihat bulan bersinar sedemikian cantiknya. Sungai Brantas mengalir begitu anggun, tenang di permukaan, bergejolak di dasar. Tak terlihat siapapun sefajar ini di bantaran sungai ini, hanya seonggok lampu yang bekerjap-kerjap di kejauhan. Gelap gulita menyelimuti sekelilingku, hanya deru alir sungai yang bergelora dan sangat berwibawa. Mengerdilkan nyaliku yang sudah kuberanikan semenjak berangkat dari rumah. Perlahan-lahan kumasukkan ujung kakiku ke dalam sungai terbesar di ujung timur jawa ini. Batas air merambat dari lutut, paha, perut hingga mencapai dada bidangku. Hawa dingin menjalari tubuhku, mengalir begitu mencekam. Bibirku bergetar, bulu kudukku berdiri, aku menggigil. Riak-riak air bergelombang menerjang seluruh inci badan. Angin selatan berselancar di permukaan sungai, menerpa wajah telanjangku. Badanku bergetar hebat, hebat sekali. Aku hela nafas dalam-dalam, mencoba mengalirkan hawa panas dan menetralisir dingin yang menekan erat. Gigilku berkurang, tapi dingin tetap mencekam. Bermandikan cahaya bulan, kurendam tubuhku dalam deras air sungai. Untung bulan bercahaya begitu indah, menemani kesunyian malam ini.

Kalau bukan karena Laila, gadis jawa itu, aku tak mungkin merendam diri di malam sedingin ini, di sungai Brantas pula. Malam ini adalah malam ke lima belas dari empat puluh hari yang harus kulalui dengan raga yang basah oleh air dan cahaya bulan. Separuh jalan telah hampir ku lalui. Walau tulang-tulangku bergeletukan, senyum simpul merona dari bibirku.

Aku tak mengerti, mengapa aku bisa senekad ini. Laila dengan rambutnya yang tergerai-gerai dilambai angin membuat hatiku tak karuan. Seandainya saja aku mampu mempersuntingnya untuk menjadi istriku, hidupku yang pas-pasan akan berubah bahagia.

Seandainya aku pintar merangkai kata-kata layaknya penyair. Pasti, Laila akan terbuai oleh gombal-gombal cinta yang kulontarkan dalam puisiku. Setiap hari akan kukirimi dia sepucuk mawar merah lengkap dengan sajak yang mendayu-dayu penentram kalbu. Kemudian, dia akan menerimaku sebagai pelabuhan hatinya. Namun aku hanyalah penambang pasir di pinggiran sungai Brantas yang sedikit beruntung. Ya beruntung, karena mampu melihat dan mengenal bidadari yang turun dari langit, secantik Laila. Sayangnya, wajahku tak ganteng pula layaknya aktor-aktor film. Hingga akhirnya, tekadku berakhir dengan malam yang panjang tanpa mengatupkan mata sedikitpun dan dingin yang merasuk ke tulang-tulang.

Adalah Ki Joyoboyo yang memberikanku petuah ijazah untuk memenangkan hati Laila. Saat itu, malam Jum’at kliwon aku mendatangi rumahnya di pinggiran Sungai Brantas. Seminggu setelah aku bertemu Laila, tujuh hari setelah renungan yang berkecamuk dalam hati. Pohon beringin di depan rumah dukun ini menambah kesan sakti plus mistis yang sudah melekat dalam namanya. Aku datang mengendap-endap, tak berani banyak bersuara.

“Perempuan mana yang kau suka?” Tanya Ki Joyoboyo bahkan sebelum aku mengutarakan maksudku.

“Laila Ki, anak pakSutiyo, janda satu anak Ki.”

Setelah itu, dia mengeluarkan sebuah kertas dan menuliskan huruf-huruf arab diatasnya. Hurufnya panjang berderet-deret, berdesak-desakan dalam kertas yang sempit. Aku tak tahu isinya, lampu di kamar itu terlalu remang untuk mampu menjangkau deret hurufnya. Mungkin, itu arab pegon, bahasa jawa yang ditulis dalam huruf arab, batinku. Saat lafadz-lafadz itu sudah lengkap, dia memasukkannya dalam segelas air kemudian merapal mantra-mantra dengan memejamkan mata. Tinta-tinta dalam kertas melarut dalam air hingga air jernih itu berubah menjadi kehitam-hitaman. Aroma dupa bergelegak masuk ke dalam hidungku. Aku menciut, bulu kudukku meremang.

“Minumlah nak, minum dengan menyebut nama Tuhanmu.” Air dalam gelas kutenggak sampek habis, menyisakan kertas di dasar gelas.

“Jika kau ingin Laila bertekuk dalam pelukmu, kau harus melakukan hal yang kupinta ini. Berendamlah di Sungai Brantas sebelum fajar menjelang, berbalut cahaya bulan. Selama empat puluh hari tak boleh putus-putus. Sambil berendam bacalah ayat ini sebanyak seribu kali sampai shubuh tiba. Jika itu sudah kau lakukan, maka Sungai Brantas akan memberikanmu kekuatan untuk menaklukkan hati si Laila. Kau akan menjadi gagah di matanya, segagah aliran sungai” ujar Ki Joyoboyo sambil memberikan sepucuk kertas bertuliskan arab di depanku.

“Makasih banyak Ki,” aku menyalaminya sambil menyelipkan beberapa lembar uang ratusan ribu dalam genggamannya. Malam itu, aku pulang dengan senyum yang mengembang dan bersiul-siul gembira. Impianku untuk memperistri Laila sedikit lagi akan terwujud.

***

Siang sedang buram hari ini. Awan pekat bergulung-gulung menghitam menutup sorot cahaya mentari. Gelap menggelayut bumi, segelap hatiku saat ini. Sudah berhari-hari aku tak bertemu dengan sorot ayu wajah Laila. Biasanya, sesiang ini, dia akan menggowes sepedanya untuk menjemput anaknya pulang sekolah. Saat dia melintas di atas jembatan bambu yang membentang di atas sungai Brantas, aku akan melirik sosoknya dengan sepanggul pasir basah di bahuku. Maka, hatiku akan membuncah, semangatku akan bergelora, seakan seluruh pasir di sungai itu akan kukeruk habis dan kupersembahkan untuk Laila. Namun, sudah seminggu ini batang hidungnya tak terlihat.

Sebagai seorang penambang pasir, menyelam sungai adalah keseharianku. Berangkat semenjak mentari mulai terlihat dan berhenti ketika ia menyembunyikan cahayanya di balik mega. Seonggok bambu berbentuk kerucut yang dilapisi seng menemaniku menyusur kedalaman arus sungai. Aku mampu menyelam selama hampir lima menit kemudian muncul dengan segepok pasir basah, mutiara Sungai Brantas yang sudah terkenal kualitasnya seantero negeri. Setelah seminggu, pasir akan terkumpul dan dijemput truk-truk yang merapat untuk mengangkutnya.

Hari ini, aku beristirahat lebih cepat. Dengan baju yang basah kuyup, kupandangi lekat-lekat sungai terbesar di Jawa Timur ini. Sungai yang tak pernah kering, terus menerus mengalir, menjadi sumber penghidupanku semenjak aku lahir. Sungai yang bersumber di lereng gunung Arjuno ini melintasi beberapa kabupaten dan bermuara di ujung pantai utara jawa. Tiba-tiba aku teringat Laila dan pertama kali aku bertemu dengannya.

Senja itu angin bertiup sepoi-sepoi, aku baru saja selesai dengan angkatan pasir terakhir. Nafasku terengah-engah, tenagaku terkuras habis. Dibalik rindang pohon nangka, aku melepas lelah. Hingga seorang perempuan duduk selemparan pandang di sampingku. Duduk bertekuk lutut, memandang lepas Sungai Brantas dan melempar kerikil-kerikil ke arus yang deras. Semacam ada kabut bergelayut dalam hatinya. Rambutnya tergerai-gerai tersapu angin selatan.

“Kau lihat perempuan itu? Siapa namanya Man?” tanyaku kepada teman sesama penambang Pasir.

“Itu Laila, anak Pak Sutiyo. Sebulan lalu pulang, setelah ditinggal mati suaminya.”

Kupandangi Laila lekat-lekat, semacam ada rasa kekaguman tumbuh dalam dada. Semenjak saat itulah aku sering memimpikannya dan selalu menunggunya melintas di jembatan bambu yang berdiri gagah di atas Sungai Brantas.

***

Saat kutengok jendela di samping dipanku, fajar telah menghilang semenjak sang mentari menampakkan batang hidungnya. Malam telah menunaikan hajatnya, berganti kuning menyala-nyala di ufuk timur disertai ciut-ciut burung-burung. Fajar telah digantikan lembaran pagi. Bersamaan dengan wajahku yang tertimpa percik sinar mentari, kantuk yang melekat di kantung mataku mulai memudar. Rasa lega dan bahagia menyesaki kalbuku, malam-malam berat telah berhasil kulalui. Empat puluh malam tanpa memejamkan mata, bertahan dalam kedinginan dan jutaan mantra telah kupanjatkan.

Cuaca yang cerah, secerah gemuruh dalam dada. Hari ini akan kuselesaikan keras kepala yang membatu-batu, tekad yang mengalir dalam urat nadi, dan cita-cita yang sudah mengakar berabad-abad dalam hati. Dengan menggenggam tulisan ayat pemberian Ki Joyoboyo dan mewarisi kegagahan Sungai Brantas, aku siap untuk menjemput cinta Laila.

 

*M. Rosyid HW , Pegiat sastra di Komunitas Lilin Lantai

Tulisan-tulisannya pernah dimuat di koran nasional dan lokal

 

 

[Cerpen] Bapak dan Sebuah Kenangan

 Oleh: Daruz Armedian

Waktu kecil, bapak sering mengajakku pergi ke sebuah jembatan di salah satu desa tempat kami tinggal. Kata bapak, jembatan adalah penghubung jalan. Kalau tidak ada jembatan, kita akan kesulitan jika mau melewati sungai. Di situlah aku selalu diberi cerita macam-macam. Banyak sekali cerita yang diutarakan, sehingga banyak juga yang aku lupakan. Yang selama ini masih kuingat adalah cerita tentang tiga orang gadis cantik-cantik. Namanya Klenting Abang, dan Klenting Ijo. Kedua Klenting itu sifatnya sangat jahat. Hati mereka busuk. Kemudian ada Klenting Kuning yang sering dijadikan musuh bagi mereka meskipun Klenting Kuning tidak memusuhi dan malah selalu berbuat baik kepada mereka. Suatu hari, ada seorang pemuda putra raja bernama Ande-Ande Lumut yang hendak mencari pendamping hidup. Ketiga gadis itu ikut mendaftar menjadi calon pendamping meski jarak rumah mereka jauh sekali dengan kerajaan. Pagi sekali, Klenting Abang dan Klenting Ijo merias tubuhnya agar terlihat elok. Sementara Klenting Kuning disuruh emaknya—yang memang tidak suka pada Klenting Kuning—mencuci piring dan perabotan-perabotan lainnya.

Klenting Abang dan Klenting Ijo berangkat. Tetapi dalam perjalanan, mereka tidak tidak menemukan jembatan di sungai yang biasa ada jembatannya. Di sana hanya ada orang usil bernama Yuyu Kangkang yang sedang naik perahu sampan. Mereka berdua memanggil-manggil Yuyu Kangkang untuk meminta tolong menyeberangkan. Tapi Yuyu Kangkang tidak mau. Meski dengan syarat apa pun termasuk uang. Kecuali mencium pipi kanan dan kiri mereka. Klenting Abang dan Klenting Ijo yang mulanya tidak mau akhirnya terpaksa mau. Sementara Klenting Kuning datang telat dan tidak sempat merias wajahnya. Dengan pakaian yang jelek pula ia berangkat menuju kerajaan. Sampai di sungai, ada orang tua yang sukarela membantu menyeberangkannya sebab Yuyu Kangkang tidak mau.

Di dalam kerajaan, ternyata Ande-Ande Lumut tidak mau memilih Klenting Abang dan Klenting Ijo karena sudah menjadi sisa Yuyu Kangkang. Akhirnya Klenting Kuninglah yang dipilih. Meski datang terlambat, dengan paras muka yang jelek karena belum merias wajahnya dan masih menggunakan pakaian jelek. Tetapi Ande-Ande Lumut tahu kalau seseorang tidak dilihat dari seberapa elok paras tubuh, tetapi elok paras hatinya.

Begitulah, kemudian bapak hanya akan menasihatiku agar menjadi anak yang baik meski sering diejek teman-teman karena menjadi anak orang miskin. Sebab, setiap kebaikan mempunyai balasan sendiri-sendiri. Begitu juga kejelekan.

Setelah itu, biasanya bapak akan pulang. Dalam perjalanan pulang, bapak memboncengkanku di belakang. Kedua kakiku ditali dengan sapu tangan dan diikatkan pada besi di bawah sadel untuk mengantisipasi agar tidak kena jeruji. Pernah aku tidak mau kakiku diikat karena tidak bisa bergerak dengan bebas. Tapi naas, benar kata bapak, aku orangnya teledor. Kakiku masuk dalam ruas-ruas jeruji yang sedang berputar. Sakitnya lebih dari seminggu tidak sembuh-sembuh.

Ketika emak marah-marah padaku karena membuat kesalahan, bapak hanya diam. Ia tidak ikut memarahiku. Meskipun kadang bapak juga kena marah karena tidak memarahi anaknya, ia tetap tidak memarahiku. Dan sekarang aku tahu, kepada anak kecil kemarahan hanya akan membuatnya minder.

Ketika aku ingin sekali punya sepeda, bapak dengan diam-diam menabung hasil kerjanya untuk membeli sepeda. Meski saat itu ia rela tidak merokok dan tidak di warung kopi berhari-hari. Padahal biasanya merokok dalam satu hari habis lebih dari lima batang. Kemudian ia mengajariku naik sepeda. Jika saat aku jatuh, emak lihat dan menyuruhku berhenti saja. Karena jatuh itu sakit. Tapi bapak tidak, ia menyuruhku bangun sendiri dan memberdirikan sepeda sendiri. Kemudian bilang nanti lama-lama juga bisa kok.

Ketika aku kecil dan tak bisa berenang seperti teman-teman, bapak menggendongku, kemudian ia berenang. Seolah-olah aku sedang naik ikan. Aku tertawa bahagia.

Waktu remaja, aku minta dibelikan hape, tapi bapak menolak. Aku marah-marah. Bapak tetap teguh pada pendiriannya, walau aku murung setiap hari. Dan saat ini aku baru mengerti, bahwa bapak tak ingin aku lalai dalam sekolah karena nanti bakalan main hape terus-terusan.

Waktu bapak ingin sekali mengantarkanku sekolah dengan motor bututnya yang dengan susah payah mengumpukan uangnya untuk beli motor itu. Aku tidak mau. Aku malu sama teman-temanku. Dan bapak tidak marah. Ia hanya tersenyum sambil berkata “hati-hati di jalan.” Lalu saat ini aku sadar, bapak saat itu hanya ingin aku bangga anaknya masih punya bapak yang mau mengantarkan sekolah anaknya.

Dan saat di perantauan ini, ketika mendengar kabar bahwa bapak sakit, sedang aku masih menjalani ujian di perkuliahan dan tak bisa pulang, bapak kutelepon, di sana ia berpesan agar aku di sini tetap baik-baik saja. Jangan terlalu gusar. Fokus saja pada ujian.

Mungkin ada saatnya aku akan dikisahkan begini:

Ada seorang bapak, tubuhnya yang renta membawa telepon pemberian anaknya ke sebuah bengkel hape, ia bertanya pada tukang servis “Pak, ini hapenya apanya yang rusak?” dan tukang servis itu menjawab “Tidak ada yang rusak.” Dan seorang bapak itu berkata dengan nada lirih “Kalau tidak rusak, kok tidak ada telepon dari anakku?”

Tidak bapak. Aku tidak ingin seperti itu. Semoga bapak tetap sehat selalu. Maafkan anakmu.**

 

* Daruz Armedian, mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga dan bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).

armediandaruz@gmail.com

[Cerpen] Musim Sakura Yang Paling Dingin

Oleh: Rinidiyanti Ayahbi

Aku sedang ingin sendiri, berjalan di temaram lampu jalan di waktu malam hari. Kadang memperkecil langkah, berjalan sedikit cepat, kemudian berhenti. Sesukaku saja. Tak begitu dingin malam ini, bukti jarum jam belum menuju tengah malam, masih kelihatan riuh orang-orang lalu lalang. Namaku Lunar, di ingatanku namamu Sabit. Dua nama itu saja yang berputar-putar dalam kepalaku. Sabit sudah diambil Langit. Langit yang megah tentu, singgasananya bintang-bintang cantik yang terpugar di antara keduanya. Singgasanaku hanya rimbunnya pohon sakura. Sesekali aku memakai cadar agar kau tak menemukanku. Tapi tak berhasil, kau masih saja mengikuti dan mengenali.

“Sudahlah, kau di sana saja, ya? Langit itu sepertinya sangat mencintaimu.” Aku menyuruhnya pergi.

Kau hanya diam, matamu saja yang mencari-cari mataku. Mungkin di dalam otakmu itu sedang kusut, berpikir apakah aku waras menanyakan hal itu. Sekarang aku kembali berjalan menuju pulang. Kau pasti nyaman sekali di sana, ini pikiranku yang bilang. Ada sesuatu bernoda yang benar-benar tak merelakan kau ada di sana, jujur aku masih merasa senang dibayangi-bayangi olehmu.

“Tolonglah, keluar dari persembunyianmu, Lunar?!” pintanya kebingungan.

“Ini tak benar, tolonglah, Langit sedang menunggumu!” Aku bersembunyi di balik pohon beringin yang besar, yang siap melindungiku. Entah mengapa tiba-tiba ada beringin yang sekejap muncul dari tanah basah, sepertinya beringin  itu juga tahu kalau di antara kami adalah salah. Sesekali aku berusaha menahan diri agar tak menatapnya. Sabit terlalu silau buatku.

“Bukan salahku, Lunar. Tolong maafkan aku,” lirih Sabit lemas.

Aku hanya bisa menatap punggung kekarnya yang kembali memanjat pohon sakura yang paling tinggi, kembali ke dekapan Langit. Kepalaku setengah pusing, hatiku sedikit sesak. Sudah berkali-kali aku berusaha mencoret namamu dengan arang yang paling legam, bertransmigrasi hingga ke pedalaman yang tak akan ada sakura yang sanggup tumbuh di tanahnya. Tak peduli banyak merpati yang memakan seluruh bagian bunga, herannya sakura itu terus tumbuh serentak dan bersama-sama mekar dan hanya berwarna sedikit merah muda. Sepertinya sakura itu tetap akan menjadi penghubung kami, Lunar dengan Sabit. Dulu, kami pernah merencanakan akan membuat teh bunga sakura, dengan cemilan sakura mochi. Aku sebelumnya tak pernah tahu apa itu sakura mochi. Dia menjelaskan dengan tatapan yang paling hangat, “ itu kue mochi yang dibungkus dengan daun sakura, Sayang.”

Kami duduk dan bercerita, tertawa renyah.

Sabit kembali menjelaskan, “sakura ada buahnya, seperti buah ceri. Kalau masih muda, buahnya berwarna hijau, tapi kalau sudah matang berwarna merah tua bahkan menjadi ungu, tapi tidak enak untuk dimakan, Sayang.”

Saat itu aku hanya melongo, berusaha menafsirkan diri sendiri, mengapa aku sampai tak bisa lepas dari Sabit. Aku kembali melongo melihat bibirnya yang terus bercerita tentang makanan yang terbuat dari bunga sakura. Aku baru tahu ternyata ada juga es krim dan kue kering rasa bunga sakura. Sepertinya Sabit suka sekali makan. Ah, bukan, dia mengaku dia suka sekali memasak. Aku seperti mendapat bonus, lelaki yang selalu membuatku melongo dengan ceritanya ternyata sangat suka memasak. Sepertinya kelak, aku akan sangat bahagia. Pikiranku kembali bilang.

“Mengapa kau suka sekali dengan sakura?”

“Entah,” jawabnya singkat.

“Sakura kan, hanya ada di Jepang, mengapa pohon-pohon itu tumbuh di mana- mana dan mengikuti kita?”

“Entah, mungkin mereka tahu aku ini sangat sukaa sekali dengan mereka, jadi mereka mengikutiku. Seperti kamu yang suka padaku. Jadiii …,” Sabit tersenyum dan tertawa lepas.

Dia berhasil membuat pipiku berubah warna, serupa dengan warna sakura yang sedikit merah muda dan hanya mampu mengiyakan dalam hati. Tapi itu hanya sementara, jalan cerita yang disusun dengan sempurna disulap menjadi pecahan yang menyakitkan. Saat itu juga bunga-bunga sakura rontok satu persatu pada saat yang hampir bersamaan dengan  hujan. Pohon-pohon sakura itu juga merasakan kesedihan kami. Kami tak pernah melawan dinginnya hujan deras yang membuat perasaan kami menggigil. Pernah satu saat, aku mengintip ke atas. Ada dirimu, Sabit dipeluk Langit, erat sekali. Aku seperti bayanganmu saja. Tapi aku cekatan dan paham kalau dirimu itu cengeng. Saat kau bersinar, selalu ada airmata di sana. Jatuh hanya di kepalaku.
“Aku bisa kedinginan, Sabit … berhentilah. Sudahlah, seharusnya aku yang cengeng, aku kan wanita. Kau lelaki, Sabit. Tapi sudahi saja sampai di sini ya? Tak pantas rasanya, aku berjanji tiap kau muncul dengan sinarmu, aku akan selalu mengawasimu dari jauh. Kalaupun dekat, jangan pernah bawa sakura mochi ke hadapanku ya?” Aku berusaha menenangkannya, merayu dengan jari kelingking yang menunjuk ke atas.
Kau lupa, aku tak perlu sayap, karena aku pemanjat ulung. Pohon sakura tertinggi yang mencapai dirimu, aku mampu memanjatnya. Kakiku kuat, jantungku juga kuat. Setelah sampai di puncak pohon sakura, aku duduk melepas lelah, kembali memandangimu dengan tersenyum. Tanganku menadah airmatamu yang jatuh satu-satu. Biarlah hatiku yang menelan airmataku sendiri.
Itu kulakukan setiap kau muncul. Aku selalu siap di pohon sakura yang paling tinggi. Siap menadah airmatamu. Berulang-ulang, entah mengapa aku tak pernah bosan. Kadang airmatamu terlalu banyak hingga pakaianku sampai basah semua. Kau tak pernah tahu, aku Lunar yang mengalah dan hanya mampu bersembunyi di tiap lapisan kelopak bunga sakura yang tipis. Tetaplah di sana bersama Langit dan bintang-bintang kecilmu. Tak mengapa, Aku Lunar, selalu ada Sabit di dalamnya, pada musim sakura yang paling dingin.[]

 

 

================================================

Biodata:

Pembaca dan penulis berdarah Aceh – Rinidiyanti Ayahbi  ini mengaku masih terus mengeja abjad. Menulis di beberapa antologi cerpen dan puisi, juga di beberapa media. Saat ini tinggal di Jakarta, dapat dihubungi di: ayahbi@yahoo.com.

 

 

Jelmaan Kepompong

Cerpen: Gusti Trisno

Kamu tidak akan pernah tahu, persahabatan mereka tumbuh mulai dari lagu Kepompong-nya Sindetosca dijadikan OST sebuah sinetron remaja. Persahabatan mereka begitu cukup dekat, awalnya mereka terdiri dari tiga orang yakni Della, Ardo, dan Romi. Dan kamu pun berusaha menjadi salah satu di antara mereka. Mencoba masuk dan tiba-tiba ditolak tanpa alasan yang tidak kamu mengerti. Namun, anehnya mereka malah menerima anggota baru bernama Rizi yang baru saja masuk dalam sekolah mereka. Dan kebetulan sekelas di kelas XII.

Baiklah, kamu mungkin tak memahami siapa Rizi itu. Kamu perlu mengetahuinya terlebih dahulu, sebelum mengambil kesimpulan pada pemuda itu. Rizi adalah seorang anak pindahan yang berasal dari Jember, selain itu ternyata ia adalah anak dari kepala sekolah, tempat di mana Della, Ardo, dan Romi belajar. Kehadiran Rizi pun memperkuat citra geng mereka se-antero SMA Baluran Situbondo.

Nyaris setiap hari mereka bercanda tawa, juga menyimak pelajaran dari guru, keempat sahabat itu sudah layaknya saudara. Tak ada satu pun yang membuat jarak antara mereka. Awalnya Della, Ardo, dan Romi berteman dengan Rizi karena mereka menilai jika anak kepala sekolah itu butuh teman agar mudah bersosialasi di tengah kejamnya SMA Baluran, namun ternyata kedekatan itu membuat mereka merasa memiliki anggota baru yang senasip dan sepenanggungan.

Sinetron remaja kesukaanmu tiba-tiba berhenti tayang, bukan karena rating-nya yang buruk. Tapi sinetron tersebut merasa bahwa sudah saatnya diakhiri, daripada ceritanya dibuat bertambah panjang karena ratingnya bagus. Pasti hal tersebut tak baik bagi penonton. Kamu pasti setuju bukan? Tapi tidak dengan keesmpat sahabat itu, mereka merenggut kesal, sebab lagu Sindetosca di setiap sore tak lagi mereka dengar bersama.

“Aku malas kalo kayak gini!” Ardo berdengus kesal, sambil memperbaiki kacamata yang bermata minus enam itu.

“Kita harus protes ke stasiun televisi yang menayangkannya!” Della memberi saran.

Kamu terdiam, bingung mencerna perkataan dua orang remaja itu.

“Ah, awalnya aku juga sebal. Mengapa sinetron itu dihentikan? Tapi, bukankah justru membuat kita fokus terhadap ujian nasional di depan mata!” Rizi mulai bersuara.

Romi, lelaki yang gemuk diantara Ardo dan Rizi hanya semakin buas dalam memakan kue yang disediakan ibu dari Della.

Kamu merasa bahwa mereka sudah tak sejalan. Dan benar saja, tiba-tiba salah satu dari mereka beropini.

“Mari kita satukan mimpi yang satu. Yakni menjadi pejuang untuk negeri!”

Kamu terbingung? Pejuang untuk negeri? Pekerjaan apa itu, begitu yang ada dalam pikirmu. Kamu pun mencari tahu, apakah yang dimaksud adalah TNI/Polri. Dan benar perkiraanmu, keempat sahabat itu mencoba menantang mimpi yang sama.

Kamu mungkin terkejut, bagaimana mungkin mereka bisa memiliki satu mimpi yang sama. Bukankah dalam kepala-kepala anak manusia meskipun otaknya beratnya sama tapi pikiran dan keencerannya jelas berbeda. Tapi, tidak dengan mereka. Kamu pun melihatnya jika mereka memiliki kesungguhan dalam mewujudkan mimpinya:

Ardo, yang memiliki minus enam tiba-tiba melakukan tindakan untuk mengurangi minus ke pengobatan alternatif.

Romi memperketat makanan yang masuk dalam tubuhnya.

Sementara Rizi dan Della yang merupakan anak berada diantara mereka hanya cukup menjalani latihan bersama.

Ya? Latihan bersama? Kamu kemudian melihat mereka, melakukan sit-up, push-up, lari-lari kecil, dan sederet aktivitas fisik lainnya. Akhirnya, sampai suatu ketika mereka memiliki badan yang lumayan bagus untuk mengikuti seleksi.

“Mengapa Ardo daftar jadi polisi?” seorang guru kemudian bertanya pada anak didiknya itu, apalagi jika melihat otak Ardo yang begitu cemerlang. Pasti sukses menjadi sarjana.

“Mencoba, Bu. mimpi harus terwujud bersama De Kepompong!”

Bu Guru itu hanya tersenyum menanggapi pernyataan Ardo, kamu pun begitu. Tapi, tidak dengan Rizi. Ia tiba-tiba menarik diri terhadap ketiga sahabatnya, hingga suatu ketika kamu mengetahui alasan itu.

Cinta.

“Bagaimana mungkin kau mencintaiku?” tanya Della tak percaya.

“Haruskah cinta butuh alasan!”

Ardo dan Rizal bingung terhadap pernyataan Rizi yang sungguh tak diduga mereka.

“Tapi kita sahabat, dan tak mungkin bersatu. Jika boleh memilih aku menyukai Ardo. Dan tak mungkin kita bersama. Karena kita bersahabat.”

Rizi seperti ditimba godam. Kamu pun merasa tertimba longsor yang begitu menenggelemkan tubuh. Dan persahabatan yang kemudian menjadi cinta itu runtuh. Bahkan sampai mereka lulus dan menemui mimpi-mimpinya.

Kamu jangan kembali bingung, mimpi mereka kini tak lagi sama. Hanya Ardo yang mengentaskan mimpi di Polri. Sedang, yang lainnya berbeda. Bahkan, lebih tragisnya salah satu dari mereka yakni Romi meninggal dunia. Kamu mungkin bisa berpikir? Setelah, perseteruan itu Romi kembali kepada kebiasaan lama. Ia terus makan tanpa ada yang memerhatikan, makanya obesitas. Sedangkan Rizi dan Della kembali berkoalisi di suatu perguruan tinggi ternama, hingga benih-benih cinta antara mereka tumbuh, lalu koalisi itu berakhir di penghulu.

Kamu mungkin membayangkan bagaimana jika mereka bertemu dalam suatu reuni. Ya, hal itu memang terjadi.

“Ini siapa Rizi? Istrimu?”

“Ya, Della. Teman kita, sekarang menjadi istriku?”

“Mana Romi?”

Semua bingung. Kamu juga ingin bicara, tapi tak diizinkan oleh orang yang menciptamu dalam tulisan ini. Kemudian mereka pun mencari tahu kepada guru di sekolah yang juga datang di acara itu.

“Romi meninggal, beberapa tahun yang lalu karena obesitas!”

Mereka menyesal seketika, mengapa karena permasalahan sepele membuat tali silaturahmi merenggang!

            Jember, 08-11-16 5:22 lewat beberapa detik.

 


 

Gusti Trisno. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Kelahiran Situbondo, 26 Desember 1994. Karya penggiat Komunitas Penulis Muda Situbondo yang pernah menjadi Pemenang Kedua Lomba Menulis Cerpen dalam Pekan Seni Mahasiswa Jawa Timur ini dimuat di beberapa media. Kumpulan tulisannya bisa dibaca di: http://www.gustitrisno.blogspot.com.

[Cerpen] Sebuah Jam di Kepala Khomsatun

 Oleh: Ida Fitri

Khomsatun mengelap keringat di dahi. Di kelapanya sebuah jam terus berdetak, dan bunyinya bukan: tak tik … tak tik, seperti jam yang biasanya dijual di etalase sebuah toko. Maukah kamu berdiam sejenak biar kuceritakan tentang sebuah jam di kepala Khomsatun?

***

Klojen hanya sebuah kelurahan yang terletak di kecamatan Klojen. Tidak seberapa luas. Tapi Khomsaton hampir setiap hari mengukur luas Klojen dengan sepedanya. Bahkan jika ban sepedanya kempes, ia akan mengukur dengan kakinya. Mengukur luas Klojen bukan  hal baru untuk perempuan bermata belok dan berkulit gelap itu. Semenjak ia masih sekolah dulu, sudah melakukan hal tersebut. Tapi dengan maksud yang berbeda.

Dulu Khomsatun mengukur luas kelurahan dengan tujuan berjalan ke sekolah untuk mengecam pendidikan, seraya berharap sebuah masa depan cerah, menjadi seorang guru di sebuah sekolah dasar. Sayang, cita-citanya terhempas di dinding tebing Batu yang berada lima belas kilo meter dari kota. Betapa tidak, saat orang-orang sibuk melakukan terbang layang di tebing Batu pada hari kemerdekaan, Bapak malah terjatuh dari tebing saat turun ke lembah untuk merawat daun selada mereka. Kepala bapak bocor, tulang belakangnya patah. Beruntung Wak Saminan yang memiliki kebun apel yang tidak jauh dari kebun selada mereka melihat kecelakaan itu. Lelaki itu segera memanggil pertolongan, hanya saja bapak menghembuskan napas terakhir dalam perjalanan ke rumah sakit.

Kini Khomsatun juga masih mengukur luas Klojen tapi bukan untuk pergi ke sekolah seperti dulu, ia melakukannya agar anak-anak bisa sekolah. Ia tidak mau cita-cita mereka kandas seperti dirinya. Untuk itu ia harus berjuang dengan menjajakan mie kering, berbagai keripik, bahkan terkadang tas dan baju dari satu rumah ke rumah selanjutnya. Beruntung jaman sudah sangat modern, dengan membelikan sebuah gadget murah, ia bisa memperluas pemasaran. Tapi menjajakan dari rumah ke rumah juga tetap di lakukannya, bahkan terkadang sampai ke universitas. Menawari dagangan pada anak-anak muda yang dengan mudah meminta uang pada orang tua mereka. Lampu tidur ber-sablon gambar mereka dan pasangannya selalu diborong para mahasiswi.

Universitas adalah sebuah tempat yang sangat ingin ia datangi dulu, sebagai mahasiswi tentunya. Hidup memang tak seindah harapan, tapi Khomsatun akan memastikan kedua anaknya bisa mengenyam tempat tersebut. Anak-anaknya harus menjadi orang yang berhasil yang tidak perlu mengukur luas Klojen setiap hari, atau minimal jika pun harus, mereka bisa melakukannya dengan menggunakan motor atau bahkan mobil. Untuk itu ia harus tetap hidup.

Seperti pada pagi ini, Khomsatun sedang mengayuh sepedanya. Di belakang sepedanya sepasang ayaman berbentuk bulat tergantung di kanan dan kiri, dimana perempuan bermata sipit itu meletakkan dagangannya. Sebeleh kiri berisi mie lidi dengan berbagai rasa, sebelah kanan berisi keripik usus yang akan ditawarkan pada anak-anak di universitas. Sementara di depan sepedanya berisi lima lampu tidur bersablon sebagai contoh untuk dipesan anak-anak itu.

Sepatu sekolah Ari, putra bungsunya yang koyak di bagian ujung sebelah kiri terus membayang dalam kepala. Kasihan Ari memakai sepatu koyak dan menjadi bahan ejekan teman-temannya.

“Nggak apa, Bu. Sepatunya masih bisa dipakai kok,” ujar Ari saat Khomsatun melihat keadaan sepatu putranya itu hari minggu lalu. Kebetulan hari minggu ia tidak jualan, jadi ia gunakan waktunya untuk mengurus anak-anak, salah satunya mencuci sepatu Ari. Dan si bungsu yang baru duduk di kelas tiga sekolah dasar itu telah tumbuh dewasa begitu cepat. Khomsatun menelan air matanya mendengar jawaban putranya itu.

Perempuan itu menghela napas berat sambil terus mengayuh sepeda. Sementara surat peringatan ketelambatan SPP Ajeng, putri sulungnya yang duduk di bangku SLTA berada di sudut kepalanya yang lain. Khomsatun sibuk mengalikan jumlah nominal yang dibutuhkan untuk membeli sepatu sekolah Ari dan uang SPP Ajeng ditambah kebutuhan sehari-hari.

Setelah sebuah nominal tertulis di dasar kepala, kini perempuan itu memikirkan cara untuk membuat dagangannya cepat habis. Tanpa terasa ia sudah berada di gerbang universitas. Perempuan tersebut memarkirkan sepedanya di dekat pagar kemudian meletakkan dagangannya di pinggir jalan di bawah pohon Mahoni besar. Ia berharap mahasiswi yang lalu lalang tertarik pada dagangannya.

“Mie Lidi pedas manis, Mba?” tawar khomsatun pada mahasiswi berambut sebahu yang kebetulan lewat di depannya. Mahasiswi berkaca mata minus itu menatap sebentar ke arah Khomsatun, kemudian kembali berjalan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Pesan lampu tidur bersablon, Mas?” Lagi Khomsatun menawarkan dagangannya pada seorang mahasiswa yang memanggul ransel. “Ayo, Mas. Ini bisa disablon fotonya Mas dan pacarnya.” Lanjut perempuan itu.

Mahasiswa tersebut menggeleng perlahan. “Maaf, Bu. Saya tidak punya pacar.” Tolak pemuda itu sopan.

“Keripik usus kalau tidak, Mas.” Khomsatun tidak putus asa. Namun sang mahasiswa hanya menggeleng sebelum meninggalkan perempuan itu dengan dagangannya.

Waktu terus berjalan. Hari ini mungkin bukan hari keberuntungan Khomsatun. Dagangannya belum laku satu pun. Menjelang matahari berada di atas kepala, Khomsatun hendak membereskan dagangannya. Ia mengangkat kedua ayaman bambu yang berbentuk bulat itu ke atas sepedanya. Kemudian perempuan itu mendorong sepedanya meninggalkan tempat itu. Entah kenapa ia merasa terlalu capai untuk mengayuh sepeda hari ini. Jam dalam keplanya berdetak semakin kuat. Ia dapat mendengar dengan jelas bunyinya, uang … uang …uang ….

Suara klakson mobil berulang kali membuat perempuan itu melihat ke belakang. Seorang lelaki setengah baya mengeluarkan kepala dari balik kepala dari balik kaca mobil.

“Bu Khomsatun, sebentar.” Lelaki itu melewati Khomsatun, kemudian memarkirkan sedan putihnya di dinggil jalan. Kemudian ia turun menemui perempuan penjual keliling itu.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak Sam?” Khomsatun mengenal lelaki itu sebagai dosen universitas. Lelaki itu juga pernah beberapa kali membelikan mie lidi yang ia jual. Menurut keteranganya, sang istri yang orang Aceh itu sangat menyukai mie lidi buatan Khomsatun.

“Mie lidi masih ada, Bu?”

“Banyak ini, Pak. Mau saya bungkuskan berapa?”

“Berapa ya?” Lelaki itu terlihat ragu,”Ini, Bu. Ada keluarga istri yang akan menikahkan anaknya di Aceh. Kami akan pulang ke sana. Menurut istri saya, di sana tidak ada mie lidi. Istri saya ingin bawa pulang untuk oleh-oleh. Dua lusin saja deh, Bu,” lanjut lelaki itu lagi.

Khomsatun bersorak dalam hati. Tuhan memang tahu apa yang dibutuhkan hambanya. Perempuan itu menghitung bungkus mie lidi yang ia bawa. Syukurlah ternyata memang ada dua lusin lebih satu. Ia memasukkan semuanya ke dalam plastic kresek, Pak Sam sangat baik, tak ada salahnya ia berikan bonus sesekali.

Lelaki itu mengeluarkan dua lembaran merah dan satu lembaran biru dari dompetnya. “Ini cukup, Bu?” Lelaki itu menyerahkan uang tersebut pada Khomsatun.

“Wah, ini kebanyakan, Pak. Harga mie lidi saya hanya seratus Sembilan puluh dua ribu. Sebentar saya carikan kembaliannya di kios itu.” Khomsatun menunjuk ke sebuah kios penjula rokok.

“Nggak usah, Bu. Untuk Ibu saja.”

“Ini sangat banyak, Pak.”

“Nggak apa, Bu. Anggap saja itu rejekinya anak-anak Ibu,” ujar  lelaki itu sambil berjalan naik ke dalam mobilnya.

Khomsatun berkali-kali mengucapkan syukur dalam hati. Tapi ia tidak ingin dikasihani, cepat ia mengisi beberapa bungkus keripik usus ke dalam plastik kresek yang lain.

“Saya jalan duluan, Bu,” ujar Pak Sam dari jendela mobilnya.

“Ini ….” Khomsatun menenteng plastic kresek yang berisai keripik usus, tapi mobil Pak Sam sudah melaju meninggalkannya.

“Bu, Keripik ususnya tiga dong,” ujar seorang mahasiswi berjilbab yang sudah menghentikan motornya di dekat perempuan itu. Khomsatun menyerahkan Plastik kresek di tanganya kepada sang mahasiswi. Dan seoarang mahasiswa pejalan kaki juga memesan dua lampu tidur bersablon setelah itu.

Ketika Khomsatun kembali mengayuh sepeda meninggalkan tempat tersebut. Sepatu dan uang SPP putra putrinya bisa ia penuhi hari ini. Jam di kepalanya kembali berbunyi. Dan bunyinya berubah menjadi, syukur … syukur … syukur. Jam di kepala Khomsatun memang memiliki bunyi yang berbeda setiap waktunya.

 

Tentang Penulis.

 

https://scontent.fcgk4-1.fna.fbcdn.net/v/t1.0-0/cp0/e15/q65/p240x240/183330_145479665516998_6394792_n.jpg?efg=eyJpIjoiYiJ9&_nc_eui2=v1%3AAeEcJm4ndw8KkaxVTO55bNE51quf2XEVW3Cb4gVUbLSFttnfOrvzLciwbgmVshyubRwr385acXGuwGna3IVuFuCjmmjkqkWb-Ef2qcRd3k2TFg&oh=dcc45e5b84e57c904f5a09087defa1cc&oe=59F4BE04Ida Fitri, lahir di Bireuen 25 Agustus. Sekarang menjadi Penyuluh Kesehatan Masyarakat di Aceh Timur.

 

Catatan: cerpen ini sebelumnya pernah tayang di Buanakata 18 Sept 2016

Kisah Malaikat dan Gadis Pemanah Cinta

  Cerpen : Nanda Dyani Amilla

“Ini tugasmu berikutnya, Ren. Lakukan dengan cepat dan bijak,” ucap Dewa Oxi sambil memberikannya prasasti kecil berisi data singkat seseorang.
Nama : Abigail Ocaria
Umur : 23 tahun
Lokasi : Persimpangan Jalan Amerius Blok A.
Ren menghela napas pelan. Ya, sudah menjadi tugasnya mencabut nyawa seseorang di Atlantik Galaxy ini. Dewa Oxi sudah sangat mempercayainya melebihi petugas pencabut nyawa yang lain. Bahkan ratting-nya mengalahkan Xaveriza yang hanya pernah melakukan satu kesalahan saat menjalankan tugasnya. Sementara ia, namanya masih nihil untuk satu kesalahan pun. Ren pun menjadi kebanggaan Dewa Oxi di Galaxy ini. Bahkan Dewa Oxi berjanji akan mengangkatnya menjadi tangan kanannya kelak jika semua tugas yang diberikannya bisa Ren lakukan dengan cepat dan tanpa cela.
Ren membungkukkan setengah badan, memberi hormat seraya meminta izin untuk segera melakukan tugasnya. Dewa Oxi tersenyum tipis dan mengizinkan Ren pergi. Ren menghilang bersamaan dengan munculnya asap tipis di pelataran Dewa Oxi. Dan muncul dengan kilat di persimpangan Jalan Amerius. Ren melihat seorang wanita berambut pirang sedang asyik bermain gadget paling canggih di Galaxy ini. Dia memikirkan cara bagaimana agar kematian tak menyakiti gadis itu.

Di ujung jalan sana, Ren melihat sebuah truk besar melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Dengan segera ide itu datang. Ren berkonsentrasi mengulik pikiran sang supir dan membuat truk itu oleng. Tepat saat wanita berambut pirang itu berada di tepi jalan, Ren mengarahkan truk itu ke arahnya. Untuk beberapa detik, suara berdebam dan teriakan histeris terdengar di sekitar area itu. Kerumunan orang mulai mendekati wanita malang itu. Ren hanya melakukan tugasnya, “Lakukan dengan cepat dan bijak” begitu pesan Dewa Oxi. Galaxy ini terlalu mengerikan untuk sekadar main-main dalam mencabut nyawa seseorang. Dewa Oxi tidak menyukai itu.

Suara tepuk tangan seseorang mengagetkannya. Ren melihat Cupidista tersenyum padanya. Ah, gadis itu lagi, pikirnya. “Begitukah caramu melakukan tugasmu, Malaikat?” Cupidista bergurau. “Mau apa kau di sini?” Tanya Ren seraya membersihkan sarung tangan hitam yang selalu dikenakannya saat bertugas. “Mau melihatmu dari dekat saat kau menjalankan tugasmu. Yang tadi itu… cukup mengerikan, ya,” Cupidista memicingkan sebelah matanya. “Aku hanya melakukan perintah,” kata Ren singkat. Ren berjalan dan duduk di bangku besi seberang jalan.

“Yah… terkadang untuk mendapatkan popularitas, kita harus mengorbankan sesuatu. Bukan begitu?” Cupidista menyikutnya. Gadis itu sudah duduk manis di sebelah Ren. Ren tidak menjawab, hanya memperhatikan rambut panjang hitam Cupidista yang tergerai diterpa angin sore. Jingganya senja menerpa sedikit wajahnya, gadis itu kelihatan sangat cantik. Ren buru-buru menghapus pikiran gilanya. Bagaimana mungkin dia mencintai si pemanah cinta yang centilnya melebihi gadis manapun di Galaxy itu?

“Kau tidak bertugas?” Tanya Ren. “Pemanah cinta tidak pernah bertugas di saat senja begini,” jawab Cupidista tersenyum. “Lagipula aku ini perempuan, bagaimana mungkin perempuan bekerja hingga petang? Dewi Lovezia tidak akan setega itu padaku,” katanya tertawa. “Kau kebanggaan Dewi Lovezia, bukan?” Ren menatapnya. Gadis itu terdiam, lantas balas menatap Ren.

“Kenapa?” tanyanya kemudian. “Terkadang, aku merasa.. menjadi kebanggaan seseorang tidak selamanya menyenangkan. Apa kau merasakan hal yang sama?” Ren menyilangkan tangan di dada, menunggu jawaban. Cupidista menarik napas pelan, “Entahlah. Sejauh ini, aku merasakan semuanya baik-baik saja. Apa ada sesuatu?” dia balik bertanya. Ren menggeleng, “Tidak ada, hanya saja aku merasa menjadi kebanggaan seseorang berarti mengikuti segala kemauannya, tidak ingin membuatnya kecewa, dan seolah-olah seperti berjanji akan membahagiakannya. Bukan begitu, Dista?”

Kali ini dia mengangguk, “Kurasa kau sedang lelah, Ren. Apa Dewa Oxi memberikan tugas berat padamu? Siapa yang selanjutnya akan kau bunuh?” Cupidista bertanya lugu. Senja itu, untuk pertama kalinya, Ren enggan menjawab pertanyaan gadis pemanah cinta itu. Mereka menikmati senja hingga habis dimakan malam. Menikmati semilir angin yang menerbangkan anak rambut. Untuk kemudian, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.

* * *

Nama : Ren Andromeda
Umur : 21 tahun
Lokasi : Atap gedung Violet, 22.30 malam.
Panah untuk : Cupidista

Cupidista tercengang melihat prasasti yang diberikan Dewi Lovezia padanya. “Ini saatnya, Dista,” Dewi Lovezia tersenyum. Dia merasa menjadi Cinderella untuk beberapa detik, sudut matanya basah. Bagaimana mungkin Dewi Lovezia mengabulkan keinginan yang tak pernah terucapkan itu? Ini ajaib, batin Cupidista senang. Malam ini, dia akan menemui Ren di atap gedung Violet, pukul 22.30 malam. “Terima kasih, Dewi Lovezia. Aku sangat bahagia,” bisiknya seraya memeluk Dewi Lovezia.

Malam bergerak cepat. Di tempat yang berbeda, Ren menghela napas berat sesaat setelah menerima pesan dari Cupidista. Gadis itu ingin ia menemuinya malam ini di atap gedung Violet. Ren merasa ia tak harus pergi, sebab tugas Dewa Oxi sangat mengganggu pikirannya. Tapi bagaimana mungkin ia menolak ajakan gadis centil itu? Sebab sejak pertama kali mereka bertemu, gadis itu telah berhasil mencuri hatinya. Ya, Ren menyukai gadis itu. Meski ia tak pernah berani mengungkapkannya.

Ren akhirnya menghilang dan tiba dengan segera di atap gedung pencakar langit itu. Ternyata Cupidista telah tiba lebih dulu. Gadis itu tersenyum padanya, “Akhirnya kau datang juga. Kau telat dua menit, Ren!” katanya manja. Ren hanya memperhatikan gadis itu berceloteh. “Kenapa kau menyuruhku menemuimu malam ini?” Ren bertanya dingin. Cupidista menyerahkan prasasti pemberian Dewi Lovezia, “Ini tugasku selanjutnya. Untuk tugas yang satu ini, aku tidak akan memanahmu seperti apa yang kulakukan pada manusia-manusia kebanyakan. Aku ingin meminta persetujuanmu langsung. Apa kau bersedia mencintaiku, Ren?” Cupidista tersenyum, matanya berkaca-kaca.

Ren gamang. Disatu sisi, hatinya ingin sekali menjawab iya. Namun di sisi yang lain, hatinya menolak. Esok adalah tugas terberat yang diberikan Dewa Oxi padanya. Tugas pertama yang dirasanya amat tak mungkin untuk ia lakukan : mencabut nyawa Cupidista. Bagaimana mungkin dia akan mencabut nyawa gadis yang begitu dicintainya? Bagaimana mungkin dia akan mencabut nyawa gadis yang bahkan malam ini meminta jawabannya? Dan bagaimana mungkin dia menolak tugas dari Dewa Oxi? Tiba-tiba kepala Ren berdenyut. Dia berada di antara dua pilihan yang sulit.

“Ren…” tegur Cupidista. “Apa kau baik-baik saja?” Cupidista menyentuh kulit wajah Ren. Ren menepisnya, “Lupakan tugasmu ini, Dista!” Ren menolak. Cupidista terkejut mendengar jawaban Ren. “Tapi kenapa? Apa kau mencintai gadis lain?” Cupidista menatap Ren dalam, meminta jawaban. Dadanya bergemuruh, ada air yang hendak berlompatan dari kelopak matanya. “Dista… seandainya kau mengerti…” Ren tersungkur ke lantai. Ia menutupi wajahnya. “Katakan.. apa yang sedang kau sembunyikan dariku, Ren?” Cupidista memohon.

“Dewa Oxi memerintahkanku untuk mencabut nyawamu besok. Bagaimana bisa aku melakukannya pada orang yang paling kucintai, Dista,” Ren menangis. Hatinya bimbang menentukan apa yang akan dilakukannya. Cupidista terdiam. Benarkah apa yang baru saja didengarnya? Takdir memang selalu mengejutkan. Di saat Dewi Lovezia mengabulkan cintanya, Dewa Oxi malah telah menentukan kematiannya. Air mata yang sejak tadi ditahannya tumpah ruah, meski tanpa suara.

“Lakukanlah, Ren. Lakukanlah demi Dewa Oxi,” kalimat Cupidista membuat Ren tersentak. “Hey, jangan menangis! Kau adalah kebanggaan Dewa Oxi, bagaimana mungkin kau mengecewakannya? Lakukanlah, Ren. Lakukanlah esok. Aku tidak akan membencimu meski aku harus menggagalkan tugasku malam ini.” Cupidista mencoba tertawa. “Tersenyumlah, Ren. Aku pamit dulu.” Cupidista menghilang, meninggalkan Ren seorang diri di atap gedung itu. Dia hanya tidak ingin Ren melihat air matanya bertambah deras.

* * *

Nama : Cupidista
Umur : 20 tahun
Lokasi : Obelia Garden

Ren membuang prasasti itu ke dalam sungai di tepi jalan. Keputusannya sudah bulat. Untuk pertama kalinya, ia telah melahap semua amarah Dewa Oxi. Ren berjalan menuju Obelia Garden, dia yakin Cupidista ada di sana. Benar saja, dia melihat gadis itu duduk menghadap utara, membiarkan semilir angin memainkan rambut panjangnya. Gadis itu menggunakan jubah pink fuschia kesukaannya. Juga menggunakan bandana putih favoritnya.

Dengan perlahan, Ren mendekati gadis itu. “Boleh aku duduk di sini?” suara Ren mengejutkan Cupidista. Gadis pemanah cinta itu tampak terkejut. Dia mempersilakan meski dengan wajah yang sedikit canggung. “Apa kematianku sudah dekat?” Tanya Cupidista membuka percakapan. Ren meliriknya sekilas. “Apa kau bisa memberitahuku sedikit bagaimana caramu mencabut nyawaku? Apa itu akan terasa sakit?” gadis itu terus berkicau. “Apa kau akan mencabut nyawaku detik ini juga?”

Ren menyentuh wajah Cupidista lembut. Gadis itu terkesiap. “Bisakah kau menghentikan ucapan gilamu itu? Aku ke sini bukan untuk itu,” tegas Ren menatap dalam mata cokelat itu. “Lantas? Untuk apa?” Cupidista balas menatapnya dingin. “Aku ke sini untuk memberitahumu bahwa sekarang aku adalah manusia biasa. Aku bukan lagi Ren si Malaikat seperti yang dulu sering kau sebut. Dan aku ke sini, untuk menjawab pertanyaanmu tadi malam. Apa masih ada kesempatan?” Tanya Ren.

Cupidista membuka mulutnya setengah, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Kau bercanda?” Cupidista mencari jawaban di dalam mata Ren. Ren tersenyum dan menggeleng, “Pagi tadi aku menolak perintah Dewa Oxi. Dia marah besar dan mencabut kekuatan serta kedudukanku sebagai petugas pencabut nyawa. Itu bukan masalah besar, Dista. Yang jadi masalah adalah jika aku kehilangan kesempatan mencintaimu. Hey, aku sudah menunggu bertahun-tahun lamanya hanya untuk mendengar kau mengucapkan permintaan seperti malam tadi,” Ren mulai kesal.

Cupidista tertawa keras. Ia sampai memegangi perutnya. “Jadi, kau melakukan semuanya demi aku?” Cupidista terharu. Ren mengangguk, lantas menggenggam jemari Cupidista erat. “Ya, aku bersedia mencintaimu asal dengan satu syarat,” ucap Ren. “Syarat apa?” Tanya Cupidista penasaran. “Kau tidak boleh genit pada siapapun. Sebab kini aku hanya manusia biasa yang tidak bisa mengawasimu dengan kekuatanku!” kata Ren lucu. Cupidista melirik manja. Dia tersenyum sambil melihat kupu-kupu beterbangan di langit taman itu. Bukan hanya di taman itu, kupu-kupu pun turut terbang di dalam perutnya. Berkejaran, sampai lupa bahwa ia sudah melayang.

 

Profil Penulis :

 

 

Nanda Dyani Amilla, Penulis yang senang mengabadikan kenangan lewat tuisan, jepretan, dan hujan-hujanan. Pecinta kopi, puisi, dan narasi. Pembenci semangka, serangga, dan kecoa. Sering wara-wiri di FB : Nanda Amilla dan instagram : gadishujan_

[Cerpen] Bibir Basah di Seberang Meja

 Oleh: Marina Novianti

Kau berdiri di seberang meja.Tubuhmu kau tegakkan seolah seutas temali dijatuhkan dari langit, menempel di ubun-ubun kepalamu dan menarik kencang hingga tubuhmu meregang ke atas. Kau tampak seperti penari yang sedang berpose di atas panggung, siap memukau penonton yang dengan mulut ternganga menantikan aksi geliat tubuhmu. Kedua sudut bibir basahmu yang merah menyala perlahan saling menjauhi satu sama lain. Lekuk sempurna ujung matamu di dekat hidung terangkat mendekati alis.  Ya,  aku paham. Kau hendak menyampaikan pembelaan diri.Bukan salahku kalau lelaki ini memilihku…begitu pikirmu sambil menatap adegan penuh air mata di depanmu.

“Duh Gustiiiii….Apa salahku sampai suamiku tega berkhianat dan membohongi selama ini?” jerit tangis perempuan berbaju daster yang menumpahkan dirinya di kursi meja makan.

Kau hanya diam dengan ekspresi tak berubah sama sekali. Megah, dengan bibir basahmu yang menantang .Dan aku memang tidak pernah menyalahkanmu. Aku hanya mencoba memberikan saran, sayang. Pandanglah perempuan itu, istri lelakimu. Perhatikan ia baik-baik. Rekam dan pelajarilah segala yang ia lakukan. Dengarkan dan pahamilah sedu-sedannya. Karena suatu saat, kau pun akan mengalami apa yang sedang terjadi padanya.

Lelaki curianmu ini, sekarang sedangberbangga hati telah beroleh pengalaman meninggalkan seorang perempuan – istrinya- demi yang lain -dirimu. Baginya, ini adalah suatu alasan kuat untuk membusungkan dada; bahwa di antara kaum lelaki, dirinyalah yang layak dipuja dan diperebutkan perempuan.Tentu kau sadar, telah menjadi lebih mudah baginya untuk mengulangi perbuatannya. Hanya di kali nanti, kaulah yang akan ditinggalkannya. Ah, tak perlu berpura-pura naif. Masakan kau percaya dengan usahamu memantrai diri sendiri, bahwa bagi dia, kaulah perempuannya, perempuan yang tepat, yang terindah dalam hidupnya, keputusan terbaik yang pernah dia pilih?

Sebab di benaknya, semua yang sedang terjadi hanyalah seperti bermain seluncuran di taman bermain. Sesaat gamang di puncak keputusan, terombang-ambing saat menjalani proses. Namun begitu sampai di titik rumput, dia kembali berlari-lari menuju anak tangga, tak sabar menapaki  langkah demi langkah ke atas.  Dirindukannya rasa gamang yang sama saat dia harus memilih perempuan berikut. Sungguh ironis, karena perempuan itupun, sama seperti halnya dirimu sekarang, akan merasa bahwa dialah yang menentukan, dialah pemegang kendali keputusan penting dalam hidup lelaki pujaannya.

Sementara bagi lelaki jantanmu, kanak-kanak sejati itu, kalian semua tak lebih dari mainannya. Semua perkara ini hanya variasi warna dan nada pada taman bermainnya. Itu sebabnya dia selalu tampak begitu indah, tampan menggemaskan, jauh dari kerut gundah. Walau tahun-tahun terus berlalu, keceriaan seorang bocah dan kegagahan pemuda selalu menjadi miliknya. Langkah kakinya tetap lebar dan bergegas, tak sabar ingin merambah  ketaman bermain yang lain, di mana terdapat aneka makhluk dahaga pesona ketampanannya.  Jari-jari tangannya tetap gelisah menyentuh dan meraup setiap kelembutan belaian, yang berlimpah ditawarkan dunia padanya.  Hela napasnya senantiasa terengah dalam menuntut perhatian tiap kerling mata yang rindu melihat keindahan, tiap daun telinga yang teruja mendengar gelak tawa yang ia tengadahkan ke awan-awan.

Dan kau, apa yang akan terjadi padamu, seiring berlalunya waktu? Dirimu, sayang, mulai menjalin keakraban dengan gelambir lengan, lipatan dagu dan keriput wajah. Lekukan bukit dan lembah di tubuhmu memutuskan untuk beralih wujud, menjadi onggokan gumpalan buruk yang bergelantungan secara serampangan. Sementara lelakimu masih tetap akan berdiri tegak menantang dunia dengan bangga, dan dunia membalas tatapannya dengan penuh pujaan. Sementara kau? Kau, sayang, saat itu mereka akan memandangmu penuh iba, seperti perasaanku padamu saat ini. Mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka sambil berkata, “Lihat. Menyedihkan sekali penampilan si Maling Kisut.”

Oh. Tahukah kau? Istri lelakimu, yang sekarangsedang tertelungkup sambil tersedu meratapi nasibnya, mengingatkanku pada ibuku. Saat itu, mereka mungkin tak sadar adaseorangbocahkecil di balik meja, yang menyaksikansemuaadegan di ruangmakanitu. Kulihat seorangperempuan sepertimu berdiri tegak  di seberang meja, sambil menatap ibuku.  Ibu terdudukgontai di kursi dan menumpahkan dirinya berinai tangis di meja makan. Lalu perlahan-lahan kedua sudut bibir basah yang merahmembatamilikperempuan megah itu saling menjauhi satu sama lain, dan lekuk mata dekat hidungnya yang mancung, terangkat mendekati alisp.[]

(Maret 2014)

================================================


Marina NoviantiboruTampubolon, lebih populernya Marina Novianti, putrid ketiga dari Ir. H.   Tampubolon dan E boruSiregar, lahir di Medan pada tanggal 21 November 1971.  Semasa kecilnya gemar baca novel dan nonton The Sound Of Music. Baginya, novel dan film ia jadikan medium belajar bahasa Inggris secara otodidak.  Selain itu, ia dan ketiga saudarinya belajar mengikuti kursus piano.

Tamat SMA di Medan, iakuliah di FakultasMatematikadanIlmuPengetahuanAlam, InstitutPertanian Bogor, JurusanBiologi – Mikrobiologi.  Menikah di tahun 1998 dan dikaruniai tiga orang anak.Sebelum menikah Marina berkarir di bank asing, setelah menikah beralih profesi menjadi ibu dan guru. Tahun 2005, mereka sekeluarga pindah ke Kuala Lumpur, mengikuti suami yang ditugaskan bekerja di sana. Di KL, Marina belajar piano klasik dan menjadi pianis di St. Andrew’s Presbyterian Church.Kembalike Indonesia tahun 2007, Marina mengajar di sebuahsekolahsambilmembuka New Tune Learning Center di Bogor.Tahun 2011 Marina menulisbukuRingToneBiologiuntuk SMP/ MTs, sebuah ringkasan teori dan evaluasi soal-soal Biologi untuk Sekolah Menengah Pertama yang diterbitkan Grasindo.TahunberikutnyabukuSelamatPagi Pak Guru, sebuah sharing tentangkehidupankeluarga dan pertumbuhan anak ditulisnya dan diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan.Marina juga menggubah beberapa lagu serta memusikalisasi puisi. Tahun 2013 Marina mendapat kesempatan dari Depdikbud turut serta sebagai penulis naskah Kelas Dua SD Tematik untuk Kurikulum 2013.

Tahun 2012, Marina mulai bertekun di sastra.Tahun 2013, lahirlah antologi puisinya Aku Mati di Pantai terbitan Rayakultura. Bulan Mei 2014 terbit antologi puisi kedua, Pendar Plasma terbitanTeras Budaya Jakarta.Puisi-puisi Marina juga turut mengisi antologi Habituasi WajahSemesta (Rumah Kata Medan, 2013), Dari NegeriPoci 5 (PenerbitKosakatakita, 2014), Metamorfosis (TerasBudaya, 2014)dan 1000 Haiku Indonesia (PenerbitKosakatakita, 2015).Puisidancerpen Marina turut dimuat dalam kumpulan puisi (Puisi Menetas di Kaki Monas) dan cerpen(EmbunPecah di Taman Kota) karya sastrawan Mitra Praja Utama IX tahun 2014 yang diterbitkan Departemen Pariwisata dan Kebudayaan, sebagai delegasi dari Jakarta.Karya Marina juga pernah dimuat di beberapa media cetak nasional dan daerah (Koran Tempo, SuaraKarya, Indopos, SinarHarapan, Media Indonesia, majalah sastra Horison, Nova, Radar Bekasi, Analisa Medan, Medan Bisnis, Haluan Padang, Lampung Post, Serambi Indonesia, Pos Metro Jambi, MimbarUmum, Sumut Pos).

 

[Cerpen] 21 Hari

Oleh: Ari Vidianto
Entah kenapa kehamilan istri saya penuh dengan cobaan. Saat ini sudah memasuki usia kehamilan dua puluh tujuh minggu.Tidak seperti wanita lain yang menjalani kehamilan dengan lancar. Hanya berobat tiap bulan ke bidan terdekat, tanpa perlu berobat ke klinik yang biayanya sampai satu juta lebih. Karena harus melakukan USG juga. Tiap bulan aku berusaha keras demi mendapat uang tiap bulan untuk kontrol istriku. Selain itu juga aku harus beli susu hamil untuk istriku yang hanya dipakai untuk lima gelas. Betul-betul memerlukan biaya yang cukup banyak, sementara aku hanya guru bhakti biasa, yang setiap bulannya hanya mendapat uang bayaran sedikit. Untunglah orang tuaku yang pensiunan penjaga SD selalu membantuku. Hingga pada suatu malam yang kelam, saat aku sedang membeli susu di supermarket, tiba-tiba hp ku berdering.
“Mas, cepat pulang, ketuban saya sudah pecah,” kata istriku.
“ Apa?? Pe..pe..pecah??” aku pun terkejut bukan main. Langsung aku tutup hpku dan segera mengendarai motorku untuk menuju rumah. Sesampai disana mertuaku sudah memanggil taxi, terlihat istriku sudah ada didalam.Tanpa aku bertanya taxi itu sudah melesat meninggalkanku.
“ Aztagfirulohhaladzim, Ya Allah…apa yang harus aku lakukan” pikirku. Tanpa pikir panjang aku pun segera mengejar taxi yang membawa istriku menuju rumah sakit.
***
Sesampai di rumah sakit istriku langsung ditangani oleh dokter, aku dan mertuaku menunggu di luar. Beberapa menit kemudian dokter keluar dan mengatakan padaku bahwa malam ini juga istriku harus dicesar. Hatiku sungguh tak karu-karuan, keringat menetes begitu deras dan jantungku berdetak begitu cepat. Apa yang akan terjadi pada istri dan anakku nanti. Sebetulnya untuk masalah biaya rumah sakit, aku tidak khawatir karena aku dan istriku sudah mempunyai BPJS. Tapi entah kenapa aku masih diam seribu bahasa.
“Maaf Pak bagaimana keputusannya? Kami sebagai dokter harus dapat menyelamatkan dua-duanya” jelas dokter tersebut. Dan aku pun masih bingung.
“To, Anto ayo kamu putuskan malam ini juga. Kasihan kan anak dan istrimu?” mertuaku coba membujukku.
“Baiklah Bu,” jawabku.Akhirnya aku pun menyetujuinya. Segera kutanda tangani persetujuan operasi cesar tersebut. Setelah itu istriku langsung di bawa ke ruang operasi. Aku dan mertuaku menunggu dengan cemas dan sambil berdoa pada Tuhan supaya di beri kelancaran.
***
Aku dan mertuaku masih menunggu dengan cemas, kata dokter operasi cesar berlangsung satu jam. Gelisah di dada dan keringat dingin bercucuran, aku membayangkan berapa ukuran anakku nanti. Aku hanya berharap semoga istri dan anakku baik-baik saja. Akhirnya terdengar suara bayi dan seorang perawat keluar dari ruang operasi sambil membawa seorang bayi.
“Pak ini putranya sudah lahir,” kata perawat itu padaku.
“Alhamdulilahirobilalamin,” jawabku sambil berkaca-kaca. Mertuaku pun merasa senang. Saya pun mengikuti perawat menuju runag bayi.
“Sus, anak saya laki-laki atau perempuan?” tanyaku.
“Laki-laki pak,” jawabnya.
“Alhamdulilahirobilalamin,” ucap syukurku tiada hentinya kepada Allah.Lalu aku pun segera memberi nama putraku : ‘Muhammad Yaafi‘
Setelah itu aku pun berwudhu dan segera mengadzani putraku,aku sungguh terharu dan sangat senang. Putraku mendengarkanku adzan sambil menggerak-gerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan.Setelah itu  suster memberitahukan bahwa berat putraku 1,2 ons dan panjangnya 33 cm. Aku pun jadi sedikit khawatir. Suster pun kembali memberitahukan bahwa rumah sakit disini alatnya belum lengkap, oleh karena itu anakku akan dirujuk ke rumah sakit lain. Dan dengan berat hati aku pun menyetujuinya.
***
Malam telah menjelang, kepalaku terasa terbang melayang kerena memikirkan nasib anakku. Sementara itu istriku telah siuman dan berada di kamar pasien rawat inap. Tiba-tiba datang suster dan memberitahukan malam ini juga anakku akan di bawa ke rumah sakit lain. Tapi sebelum itu aku disuruh ke tempat administrasi. Setelah sampai disana aku di sodorkan oleh rincian perawatan putraku dari siang sampai malam ini. Aku pun terkejut bukan main jumlahnya delapan ratus ribu lebih. Anakku belum ikut BPJS jadi ia dikenakan biaya. Demi anakku aku pun langsung membayar tagihan tersebut. Setelah itu aku menemui istriku dan menceritakan semuanya. Dan istriku pun hanya dapat berdoa supaya semuanya baik-baik saja. Setelah berpamitan pada istri dan mertua aku dengan seorang suster yang membawa anakku segera naik mobil ambulan menuju rumah sakit rujukan. Setelah setengah jam perjalanan akhirnya sampailah kami ke rumah sakit yang di tuju.Anakku langsung ditangani dan di bawa ke ruang perinatologi, ruang yang khusus untuk anak usia 0-27 hari. Disana aku tidak seorang diri, ternyata banyak orang yang bernasib sama denganku. Wajah-wajah mereka terlihat penuh tanya, resah gelisah sangat jelas karena letih yang teramat sangat. Ada yang sudah terlelap dalam mimpi ada yang melamun seorang diri. Dan aku pun duduk termangu di kursi besi berwarna perak yang dingin menyengat bersama angin malam yang menusuk tubuhku.
***
Pagi yang penuh tanya telah tiba,aku pun segera bangun. Terdengar adzan shubuh menggema,aku segera pergi ke masjid. Dalam shalatku aku memohon kepada Allah supaya anak dan istriku ku cepat sehat. Istriku belum dapat menemaniku karena luka habis cesarnya belum kering dan harus menunggu seminggu untuk pemulihan. Setelah lama berdoa aku segera kembali ke tempat anakku dirawat. Disana aku hanya dapat memandangi anakku lewat kaca. Kasihan sekali melihat anakku yang penuh dengan alat-alat penolongnya. Dan aku hanya bisa meneteskan air mata dan berdoa pada Yang Maha Kuasa. Supaya anakku cepat diberi kesembuhan.
***
Seminggu telah berlalu,istriku kujemput dan kubawa ke rumah sakit. Istriku langsung masuk ke dalam dan menemani anak kita. Dia pun merasa sedih dan tak kuasa melihat anaknya terbaring di ruangan incubator. Hampir setiap malam tetangga dekat rumah silah berganti menggunjungi kami dan selalu memberikan kata supaya kita tetap sabar. Orang tuaku pun telah datang bersama ibu mertua, kami semua bertemu dan menginap di emperan ruang tempat anakku di rawat. Hampir tiap malam udara dingin menyerang, siang menjelang panas menyengat di badan. Hujan pun datang tiba-tiba tanpa diundang,badan ini kadang masuk angin dan lelah yang teramat sangat. Tapi semuanya seolah tak dipikirkan demi pewaris kami yang kami harap-harapkan cepat sembuh dari sakitnya.
***
Malam yang tak diharapkan pun datang,malam ke 21, saat aku dan istriku duduk dengan gelisah tiada kunjung usai. Tiba-tiba seorang suster menyuruh kami ke ruang anak kami. Di sana ada seorang dokter yang sedang menangani anak kami. Dan mengatakan anak kami kondisinya semakin menurun. Dan dia sedang berusaha sekuat tenaga memulihkan kondisi anak kami. Kami pun berharap semoga dokter itu bisa menyelamatkan buah cinta kami. Sudah hampir setengah jam
dokter itu sudah berusaha.
“Maaf Pak, Bu,saya sudah berusaha. Tapi Allah berkehendak lain, putra anda telah meninggal,” kata dokter itu dengan wajah sedih. Aku dan istriku tak sedikit pun menyangka bahwa buah hati kami telah pergi secepat itu.
“Innalilahiwainailaihi rojiuun,” kataku sambil menenangkan istriku yang menangis berlinang air mata menyesak di dada.
“Bun,Bunda..sudah jangan menagis,kita harus merelakan kepergian anak kita. Mungkin Allah berkehendak lain,mungkin ini jalan terbaik untuk anak kita,” jelasku pada istriku sambil memeluknya erat-erat.
Lalu aku pun memberitahukan kedua orang tua dan mertuaku,mereka pun langsung menangis sejadi-jadinya karena kehilangan cucu yang tercinta. Setelah anakku diurus oleh suster dan meyelesaikan administrasi kami pun langsung pulang ke rumah menggunakan mobil ambulans. Setelah sampai di rumah,lalu anakku pun langsung di mandikan di pakaikan kain kafan. Malam itu juga anakku di makamkan.Hatiku ikhlas menerima cobaan ini. Aku pun berdoa:” Ya Allah berilah Surgamu yang terindah untuk anakku, Aamiin…!”

Lumbir, Mei 2016
                                                       Tentang Penulis

Ari Vidianto, S.Pd.SD lahir di Banyumas, 27 Januari 1984, pekerjaan seorang Guru di SD N 2 Lumbir UPK Lumbir. Tinggal di Cikole RT 03 RW 02, Desa Lumbir Kecamatan Lumbir, Kabupaten Banyumas Jawa Tengah Kode Pos 53177. Saya suka menulis Puisi, Cerpen, Pantun, Lagu dan Geguritan. Sudah menerbitkan 2 buku karya tunggal berjudul “ Ibu Maafkan Aku”, “ Wajah-Wajah Penuh Cinta” , 17 buku Antologi  dan banyak karya yang dimuat di Media Massa. No Hp 085726348627, Facebook Ari Vidianto, email : ari.vidianto@gmail.com

[Cerpen] Perempuan Yang Menjahit Mata Anaknya

Oleh: Nanda Dyani Amilla

Aku meraba tangan Ibu, jemarinya sudah tak utuh. Aku meraba wajah Ibu, kulit pipinya tak semulus dulu. Aku meraba telinga Ibu, yang kini hanya tinggal satu. Aku ingin menangis. Ingin merasakan air mata yang jatuh di pipi. Namun, itu tidak bisa kulakukan. Benar-benar tidak bisa kulakukan. Tiba-tiba aku mendengar Ibu mengucapkan sesuatu, seperti nyanyian menyayat hati yang menyentuh gendang telingaku. Suara merdu Ibu membawa ingatanku pada kejadian beberapa bulan lalu. Saat untuk pertama kalinya aku benar-benar membenci ayah.

“Perempuan jalang! Sudah miskin tak tahu diri pula! Bisa-bisanya kau merayu Ajid untuk memberi dua batang ubi itu! Dimana harga dirimu?!” suara ayah menggelegar dari ruang depan. Aku mengintip dari celah pintu kamar yang terbuka. Ibu menangis. Air matanya membasahi wajah. Menjelaskan berkali-kali meski ayah tak mau mendengar.

“Dia yang memberiku ini, Yah. Bagaimana mungkin ayah menuduhku seperti itu?” suara ibu terdengar dari balik isak tangisnya. Tapi ayah tidak peduli, terus mencaci maki Ibu seakan perempuan itu hina sekali.

“Aku tahu bahwa dia masih menyukaimu! Aku tahu kalau kau ada main dengan laki-laki itu!” tuduh ayah sinis. Kudengar Ibu beristighfar berulang kali. Ayah mendorong Ibu hingga tersungkur ke lantai. Aku segera muncul dan memeluk Ibu. Ayah membanting apa saja yang ada di dekatnya. Aku ingin bilang bahwa Paman Ajid-lah yang berbaik hati memberi ubi itu. Tapi aku takut jika ayah semakin marah dan menyakiti kami berdua.

Wajahnya merah padam. Aku paham sekali bahwa ayah marah. Ayahku yang tempramen dan tidak bisa mengontrol emosi. Suka menyakiti jika amarah tengah memenuhi kepala. Lihat, pincangnya kaki Ibu juga bersebab ulah ayah. Luka di kepala Ibu pun adalah karena ayah. Ayah terlalu sering menyakiti Ibu. Dan aku sangat tidak menyukai perbuatannya.

Malamnya, tidak ada ayah di meja makan. Ibu mengunyah nasi dengan mata sembab. Aku menyentuh tangan Ibu, menatapnya dengan wajah muram. “Ayahmu adalah lelaki baik, Naina. Dia baik sekali,” suara Ibu memecah keheningan. Aku menggeleng kuat-kuat, tidak setuju dengan kalimat Ibu. Ayah itu jahat. Ayah bukan lelaki baik. Ayah suka menyakiti Ibu. Dan aku membenci itu.

Ibu mengusap rambutku lembut. Bercerita banyak bahwa ayah adalah lelaki paling baik yang pernah ditemuinya. Ibu bilang kalau aku tak boleh sedikit pun membenci ayah. Ibu bilang kalau aku harus selalu menghormati ayah. Dan Ibu bilang, aku harus menyayanginya. Aku menggeleng lagi. Aku tidak akan menyayangi ayah. Ayah jahat pada Ibu. Ayah tidak menyayangi Ibu. Bagaimana mungkin aku menyayangi lelaki yang selalu menyakiti Ibu?

Hari-hari selanjutnya, rumah seperti wadah pertumpahan darah. Mataku terus dimanjakan ayah dengan kekerasan yang dilakukannya pada Ibu. Telingaku disuapinya dengan teriakan kasar dan jeritan Ibu. Bahkan tak jarang aku pun turut menjadi korban kemurkaan ayah. Pernah suatu malam, lelapku terbangun karena suara ayah. Aku menyeret kakiku menuju asal suara itu.

Kulihat di halaman belakang rumah, ayah sudah siap menghabisi Ibu. Ia memegang kasar tangan Ibu yang diletakkan di atas bangku kayu. Ibu meronta dan mencoba melepaskan genggaman ayah pada pergelangan tangannya, namun sia-sia. Pisau besar yang biasa digunakan ayah untuk menyembelih ayam akhirnya menjawab semua pertanyaan besar dalam hatiku tentang apalagi yang akan dilakukan ayah terhadap Ibu.

Pisau besar itu dengan sekali hentakan, memotong dua jemari tangan Ibu. Aku menelan ludah saat kulihat darah segar mengucur dari tangan Ibu. Setetes air mataku jatuh. Badanku menggigil. Seketika itu pula tubuhku gemetar hebat. Oh Tuhan, apa yang baru saja dilakukan ayah? Aku melangkah menjauhi pintu dapur, masuk menuju kamarku.

Kudengar suara jeritan pilu dari mulut Ibu. Aku tak lagi mendengar suara ayah, barangkali lelaki jahanam itu pergi setelah memotong dua ruas jari ibuku. Langkah kakiku menuju kamar Ibu, selang beberapa menit tak lagi kudengar suara apapun. Hanya sesenggukan tangis Ibu yang terdengar menyakiti hatiku. Kubawakan kotak P3K sambil berurai air mata. Ibu menatapku begitu dingin. Tak ada kata terucap dari bibirnya. Wajahnya pucat seperti seseorang yang hendak menemu kematian.

Aku membalut jemari berdarah Ibu. Ibu tidak merintih, hanya suara tertahan yang kudengar dari mulutnya. Sakit di hati ibu jelas lebih banyak daripada sakit di jemarinya saat ini. “Aku akan membunuh ayah!” tiba-tiba suara itu keluar dari mulutku. Ibu menggeleng, matanya kembali berair. “Aku tidak bisa membiarkan dia membunuh Ibu pelan-pelan, Bu. Terlalu sering dia menyakiti Ibu. Sakit! Sakit mata dan hatiku tiap kali melihat lelaki itu menjahatimu!” bentakku pada Ibu.

Oh Tuhan, dosakah aku telah membentak Ibuku sendiri? Aku hanya tak sanggup melihat lebih banyak laki luka di tubuh Ibu. Pun luka-luka lain di hatinya. “Lihat, Bu. Lihat! Lihat kakimu, Bu. Lihat telingamu! Lihat wajahmu! Dan sekarang lihat jemarimu! Mau sampai berapa banyak lagi cacat di tubuhmu hingga kau percaya bahwa sebenarnya dia ingin membunuhmu, Bu!” teriakku di depan Ibu. Aku terisak panjang. Hatiku benar-benar sakit melihat keadaan Ibu.

Untuk kemudian, aku tersadar. Jika Ibu tidak bisa menghentikan perbuatan ayah, maka akulah yang harus berhenti melihat ini semua. Aku sungguh tidak sanggup lagi melihat semua perbuatan ayah pada Ibu. Aku mengorek laci meja Ibu. Mencari sesuatu yang dapat menghentikan semua kegilaan ini. Ibu terus menangis di pinggir tempat tidur. Setelah mendapatkan apa yang aku cari, aku mendekati Ibu.

“Jahitlah, Bu. Jahitlah mataku. Kumohon…” pintaku dengan penuh keyakinan.

Ibu menggeleng lemah. Air matanya tidak berhenti. Aku tahu Ibu akan sulit melakukannya. Aku tahu ini adalah permintaan gila. Tapi aku akan lebih gila bila terus-terusan melihat ayah menyakiti Ibu. Kuusap lembut tangannya, kupeluk ia dengan hangat.

“Kumohon jahitlah, Bu. Jahitlah mataku. Aku tidak ingin melihatmu terluka lagi. Aku tidak sanggup melihatmu dengan kondisi begini. Kumohon jahitlah, Bu. Jahitlah sekarang juga,” aku serahkan jarum dan benang paling kuat ke tangan Ibu.

Ibu menerima dengan tangisan yang semakin kencang. Aku mengusap tangannya, “Jangan menangis, Bu. Percayalah, aku akan lebih bahagia jika kau menjahit mataku dan menyelamatkanku dari kekejaman ayah padamu,” suaraku menyentuh gendang telinga Ibu. Malam itu, Ibu menjahit mataku dengan lihai. Tak ada sakit yang kurasa sedikitpun. Aku seperti melayang dan ingin mati saja. Menyudahi segala kekejaman yang ada di dunia. Membuktikan pada ayah bahwa aku bisa lebih kejam dari dirinya.

Darah di mataku pun mengering keesokan paginya. Bersama mayat Ibu yang membeku di samping tubuhku. Ya, Ibuku telah meninggal dunia. Dia mati dalam rasa sakit di hati dan tubuhnya. “Dia lelaki baik, Naina. Dia satu-satunya lelaki yang mau menikahiku meskipun tahu aku sedang mengandung janin dari lelaki lain.” Astaga! Jadi itulah sebab mengapa ayah sering murka kepada Ibu. Karena ia merasa telah menolong Ibu, jadi ia merasa bebas memperlakukan apa saja terhadap Ibu. Dan aku? Aku bukan anak kandungnya. Cerita Ibu saat menjahit mataku benar-benar pilu. Kali ini, bukan hati Ibu saja yang sakit, melainkan hatiku.

Aku meraba tangan Ibu, jemarinya sudah tak utuh. Aku meraba wajah Ibu, kulit pipinya tak semulus dulu. Aku meraba telinga Ibu, yang kini hanya tinggal satu. Aku ingin menangis. Ingin merasakan air mata yang jatuh di pipi. Namun, itu tidak bisa kulakukan. Benar-benar tidak bisa kulakukan. Sebab Ibu telah menjahit mataku. Tiba-tiba kudengar suara jeritan tangis ayah memelukku. Kudengar teriakan histerisnya melihat mayat Ibu. Kudengar tangis meraungnya menyentuh mataku. Untuk pertama kalinya, ayahku menangis. Bukan, dia bukan ayahku. Dia bukan lelaki baik bagiku. Dia bukan keluargaku. Dia… dia adalah pembunuh ibuku!

 

 

 

 Nanda Dyani Amilla, Penulis Novel Kejebak Friendzone, Bentang Pustaka, 2017