Arsip Tag: Ida Fitri

[Cerpen] Sebuah Jam di Kepala Khomsatun

 Oleh: Ida Fitri

Khomsatun mengelap keringat di dahi. Di kelapanya sebuah jam terus berdetak, dan bunyinya bukan: tak tik … tak tik, seperti jam yang biasanya dijual di etalase sebuah toko. Maukah kamu berdiam sejenak biar kuceritakan tentang sebuah jam di kepala Khomsatun?

***

Klojen hanya sebuah kelurahan yang terletak di kecamatan Klojen. Tidak seberapa luas. Tapi Khomsaton hampir setiap hari mengukur luas Klojen dengan sepedanya. Bahkan jika ban sepedanya kempes, ia akan mengukur dengan kakinya. Mengukur luas Klojen bukan  hal baru untuk perempuan bermata belok dan berkulit gelap itu. Semenjak ia masih sekolah dulu, sudah melakukan hal tersebut. Tapi dengan maksud yang berbeda.

Dulu Khomsatun mengukur luas kelurahan dengan tujuan berjalan ke sekolah untuk mengecam pendidikan, seraya berharap sebuah masa depan cerah, menjadi seorang guru di sebuah sekolah dasar. Sayang, cita-citanya terhempas di dinding tebing Batu yang berada lima belas kilo meter dari kota. Betapa tidak, saat orang-orang sibuk melakukan terbang layang di tebing Batu pada hari kemerdekaan, Bapak malah terjatuh dari tebing saat turun ke lembah untuk merawat daun selada mereka. Kepala bapak bocor, tulang belakangnya patah. Beruntung Wak Saminan yang memiliki kebun apel yang tidak jauh dari kebun selada mereka melihat kecelakaan itu. Lelaki itu segera memanggil pertolongan, hanya saja bapak menghembuskan napas terakhir dalam perjalanan ke rumah sakit.

Kini Khomsatun juga masih mengukur luas Klojen tapi bukan untuk pergi ke sekolah seperti dulu, ia melakukannya agar anak-anak bisa sekolah. Ia tidak mau cita-cita mereka kandas seperti dirinya. Untuk itu ia harus berjuang dengan menjajakan mie kering, berbagai keripik, bahkan terkadang tas dan baju dari satu rumah ke rumah selanjutnya. Beruntung jaman sudah sangat modern, dengan membelikan sebuah gadget murah, ia bisa memperluas pemasaran. Tapi menjajakan dari rumah ke rumah juga tetap di lakukannya, bahkan terkadang sampai ke universitas. Menawari dagangan pada anak-anak muda yang dengan mudah meminta uang pada orang tua mereka. Lampu tidur ber-sablon gambar mereka dan pasangannya selalu diborong para mahasiswi.

Universitas adalah sebuah tempat yang sangat ingin ia datangi dulu, sebagai mahasiswi tentunya. Hidup memang tak seindah harapan, tapi Khomsatun akan memastikan kedua anaknya bisa mengenyam tempat tersebut. Anak-anaknya harus menjadi orang yang berhasil yang tidak perlu mengukur luas Klojen setiap hari, atau minimal jika pun harus, mereka bisa melakukannya dengan menggunakan motor atau bahkan mobil. Untuk itu ia harus tetap hidup.

Seperti pada pagi ini, Khomsatun sedang mengayuh sepedanya. Di belakang sepedanya sepasang ayaman berbentuk bulat tergantung di kanan dan kiri, dimana perempuan bermata sipit itu meletakkan dagangannya. Sebeleh kiri berisi mie lidi dengan berbagai rasa, sebelah kanan berisi keripik usus yang akan ditawarkan pada anak-anak di universitas. Sementara di depan sepedanya berisi lima lampu tidur bersablon sebagai contoh untuk dipesan anak-anak itu.

Sepatu sekolah Ari, putra bungsunya yang koyak di bagian ujung sebelah kiri terus membayang dalam kepala. Kasihan Ari memakai sepatu koyak dan menjadi bahan ejekan teman-temannya.

“Nggak apa, Bu. Sepatunya masih bisa dipakai kok,” ujar Ari saat Khomsatun melihat keadaan sepatu putranya itu hari minggu lalu. Kebetulan hari minggu ia tidak jualan, jadi ia gunakan waktunya untuk mengurus anak-anak, salah satunya mencuci sepatu Ari. Dan si bungsu yang baru duduk di kelas tiga sekolah dasar itu telah tumbuh dewasa begitu cepat. Khomsatun menelan air matanya mendengar jawaban putranya itu.

Perempuan itu menghela napas berat sambil terus mengayuh sepeda. Sementara surat peringatan ketelambatan SPP Ajeng, putri sulungnya yang duduk di bangku SLTA berada di sudut kepalanya yang lain. Khomsatun sibuk mengalikan jumlah nominal yang dibutuhkan untuk membeli sepatu sekolah Ari dan uang SPP Ajeng ditambah kebutuhan sehari-hari.

Setelah sebuah nominal tertulis di dasar kepala, kini perempuan itu memikirkan cara untuk membuat dagangannya cepat habis. Tanpa terasa ia sudah berada di gerbang universitas. Perempuan tersebut memarkirkan sepedanya di dekat pagar kemudian meletakkan dagangannya di pinggir jalan di bawah pohon Mahoni besar. Ia berharap mahasiswi yang lalu lalang tertarik pada dagangannya.

“Mie Lidi pedas manis, Mba?” tawar khomsatun pada mahasiswi berambut sebahu yang kebetulan lewat di depannya. Mahasiswi berkaca mata minus itu menatap sebentar ke arah Khomsatun, kemudian kembali berjalan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Pesan lampu tidur bersablon, Mas?” Lagi Khomsatun menawarkan dagangannya pada seorang mahasiswa yang memanggul ransel. “Ayo, Mas. Ini bisa disablon fotonya Mas dan pacarnya.” Lanjut perempuan itu.

Mahasiswa tersebut menggeleng perlahan. “Maaf, Bu. Saya tidak punya pacar.” Tolak pemuda itu sopan.

“Keripik usus kalau tidak, Mas.” Khomsatun tidak putus asa. Namun sang mahasiswa hanya menggeleng sebelum meninggalkan perempuan itu dengan dagangannya.

Waktu terus berjalan. Hari ini mungkin bukan hari keberuntungan Khomsatun. Dagangannya belum laku satu pun. Menjelang matahari berada di atas kepala, Khomsatun hendak membereskan dagangannya. Ia mengangkat kedua ayaman bambu yang berbentuk bulat itu ke atas sepedanya. Kemudian perempuan itu mendorong sepedanya meninggalkan tempat itu. Entah kenapa ia merasa terlalu capai untuk mengayuh sepeda hari ini. Jam dalam keplanya berdetak semakin kuat. Ia dapat mendengar dengan jelas bunyinya, uang … uang …uang ….

Suara klakson mobil berulang kali membuat perempuan itu melihat ke belakang. Seorang lelaki setengah baya mengeluarkan kepala dari balik kepala dari balik kaca mobil.

“Bu Khomsatun, sebentar.” Lelaki itu melewati Khomsatun, kemudian memarkirkan sedan putihnya di dinggil jalan. Kemudian ia turun menemui perempuan penjual keliling itu.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak Sam?” Khomsatun mengenal lelaki itu sebagai dosen universitas. Lelaki itu juga pernah beberapa kali membelikan mie lidi yang ia jual. Menurut keteranganya, sang istri yang orang Aceh itu sangat menyukai mie lidi buatan Khomsatun.

“Mie lidi masih ada, Bu?”

“Banyak ini, Pak. Mau saya bungkuskan berapa?”

“Berapa ya?” Lelaki itu terlihat ragu,”Ini, Bu. Ada keluarga istri yang akan menikahkan anaknya di Aceh. Kami akan pulang ke sana. Menurut istri saya, di sana tidak ada mie lidi. Istri saya ingin bawa pulang untuk oleh-oleh. Dua lusin saja deh, Bu,” lanjut lelaki itu lagi.

Khomsatun bersorak dalam hati. Tuhan memang tahu apa yang dibutuhkan hambanya. Perempuan itu menghitung bungkus mie lidi yang ia bawa. Syukurlah ternyata memang ada dua lusin lebih satu. Ia memasukkan semuanya ke dalam plastic kresek, Pak Sam sangat baik, tak ada salahnya ia berikan bonus sesekali.

Lelaki itu mengeluarkan dua lembaran merah dan satu lembaran biru dari dompetnya. “Ini cukup, Bu?” Lelaki itu menyerahkan uang tersebut pada Khomsatun.

“Wah, ini kebanyakan, Pak. Harga mie lidi saya hanya seratus Sembilan puluh dua ribu. Sebentar saya carikan kembaliannya di kios itu.” Khomsatun menunjuk ke sebuah kios penjula rokok.

“Nggak usah, Bu. Untuk Ibu saja.”

“Ini sangat banyak, Pak.”

“Nggak apa, Bu. Anggap saja itu rejekinya anak-anak Ibu,” ujar  lelaki itu sambil berjalan naik ke dalam mobilnya.

Khomsatun berkali-kali mengucapkan syukur dalam hati. Tapi ia tidak ingin dikasihani, cepat ia mengisi beberapa bungkus keripik usus ke dalam plastik kresek yang lain.

“Saya jalan duluan, Bu,” ujar Pak Sam dari jendela mobilnya.

“Ini ….” Khomsatun menenteng plastic kresek yang berisai keripik usus, tapi mobil Pak Sam sudah melaju meninggalkannya.

“Bu, Keripik ususnya tiga dong,” ujar seorang mahasiswi berjilbab yang sudah menghentikan motornya di dekat perempuan itu. Khomsatun menyerahkan Plastik kresek di tanganya kepada sang mahasiswi. Dan seoarang mahasiswa pejalan kaki juga memesan dua lampu tidur bersablon setelah itu.

Ketika Khomsatun kembali mengayuh sepeda meninggalkan tempat tersebut. Sepatu dan uang SPP putra putrinya bisa ia penuhi hari ini. Jam di kepalanya kembali berbunyi. Dan bunyinya berubah menjadi, syukur … syukur … syukur. Jam di kepala Khomsatun memang memiliki bunyi yang berbeda setiap waktunya.

 

Tentang Penulis.

 

https://scontent.fcgk4-1.fna.fbcdn.net/v/t1.0-0/cp0/e15/q65/p240x240/183330_145479665516998_6394792_n.jpg?efg=eyJpIjoiYiJ9&_nc_eui2=v1%3AAeEcJm4ndw8KkaxVTO55bNE51quf2XEVW3Cb4gVUbLSFttnfOrvzLciwbgmVshyubRwr385acXGuwGna3IVuFuCjmmjkqkWb-Ef2qcRd3k2TFg&oh=dcc45e5b84e57c904f5a09087defa1cc&oe=59F4BE04Ida Fitri, lahir di Bireuen 25 Agustus. Sekarang menjadi Penyuluh Kesehatan Masyarakat di Aceh Timur.

 

Catatan: cerpen ini sebelumnya pernah tayang di Buanakata 18 Sept 2016