Cerpen: Mufidz At-thoriq S.
Konon, batu-batu besar itu dulunya gajah. Dulu mereka berumah di balik bukit belakang kampung kita, hidup seperti biasa selayaknya gajah. Namun ada yang berbeda, mereka tak pernah berpindah-pindah meski musim kemarau merayap ke sana. Sebab air tidak pernah habis di danau mereka. Danau itu jernih dan indah, meski sering dipakai mandi gajah-gajah. Di sana hidup ikan-ikan sebesar paha orang dewasa, dan ikan-ikan itu bisa terbang dengan sirip lebar di samping tubuhnya.
Kalian pasti asing dengan danau yang kuceritakan. Jangan kira aku mengarang tentang danau itu, aku bersungguh-sungguh. Danau itu ada di sebelah timur bukit itu. Dekat! Tidak sampai berkilo meter. Danau itu yang sekarang tertimbun tanah dan bangunan yang kalian tinggali. Bangunan modern dengan selusin warna-warni yang cerah, juga pagar-pagar tinggi di halaman rumah seperti garpu-garpu besar yang dijajarkan. Bukannya aku tak suka, tapi kami dulu cukup dengan bilik dan selotan dari bambu yang diputar di daun lawang.
***
Di bukit yang rimbun dengan pepohonan, seperti kepala perawan berambut ikal selepas mandi, begitu indah di balik matahari yang baru menyala. Burung-burung dengan warna-warna serupa bunga hidup sejahtera, saling berpasangan, bergerombol menghias langit dengan awan yang memulun seperti orang berciuman. Cakrawala membuat siapapun merasa tenang dan damai. Mengembungkan jiwa senyaman berbaring di bawah pohon berdaun lebat –sampai meneduhi rerumputan di kakinya– dengan matahari yang menyisir masuk di sela-sela dedaunan. Lalu semilir angin menghanyut bersama sukma ke dalam dada paling dalam.
Di bawah itu semua, di tanah yang datar dan luas, seperti karpet hijau yang digelar sampai ke ujung mata, hidup segerombol gajah dengan warna yang sama. Mereka berwarna abu muda, dengan kuping dan gading yang besar. Di antara mereka, ada satu gajah yang berbeda. Tubuhnya besar besar, kantung mata bergelombang, gadingnya kokoh seperti emas, dan belalainya sekuat akar pohon seribu tahun. Ia adalah seseuh dari seluruh gajah di sana. Umurnya hampir dua abad, ia menyaksikan gajah-gajah lahir dan mati. Pohon tumbuh dan runtuh. Ribuan kali menyaksikan matahari naik dan tenggelam. Seperti berdiri di terminal, menyaksiakan orang-orang pergi dan datang. Hidupnya dipulun kesepian, ia tak memilih gajah betina lain selepas gajah yang sangat ia cintai habis ditelan waktu. “Sebab sesungguhnya hal yang paling kejam di sini ialah waktu, ia menelan segalanya” lirihnya pada salah satu senja. Gajah-gajah sering melihat matanya yang tak setajam dulu, katanya. Bagaikan diciptakan dari cahaya bulan di malam purnama, juga sinar senja yang memantul pada awan. Namun sekarang kesenduan dan kegelisahan begitu lekat pada licin matanya.
Saban sore, ia sering pergi ke balik bukit, di sana ada sebuah pemukiman manusia, dan katanya ia akan menemui sahabatnya di sana, seorang pemuda yang sangat mengerti perasaannya. Tak ada satu gajah pun yang berani membuntutinya, sebab mereka tahu, manusia akan merenggut gading dan belalai mereka yang berharga.
***
Para wanita sedang berebut sayur di pasar. Saling memaki dan saling menegangkan otot-otot keningnya. Di sebereng, para lelaki tua sedang duduk di kursi kayu pajang sambil ngopi dan menghisap tembakau yang dilinting rapi. Asapnya mengepul ke dahan pohon rambutan di atasnya, anak-anak sedang berebut rambutan matang di sana. Di masukkannya rambutan penuh semut itu ke kantong-kantong yang dirajut dari bambu-bambu tipis yang dihaluskan. Sambil tertawa, mereka memakan rambutan itu lalu melemparkan bijinya ke para pemuda yang sedang menyabung ayam di lapangan. Mereka bersorak dengan samping dan golok masing-masing dipinggang. Sebagian pemuda mengikat kepalanya dengan kain lusuh berwarna coklat.
Seorang Lelaki dengan dagu lancip dan dada lapang duduk di teras dengan teh hangat dalam cangkir kecil. Kepulnya ia hisap dengan jarak. Kenikmatan hidup menjadi wajahnya, serupa matahari muda dengan jentik embun. Angin mengelus empat batok kelapa kering kecil yang digantung di lawang. Bunyinya ritmis, saling membenturkan tubuhnya. Teh dalam cangkirnya bergelombang kecil, menggoyangkan wajahnya di sana. Perlahan menganyutkan ketenangan wajahnya pada dinding cangkir yang molek.
Lelaki beranjak dari kursi kayunya. Dengan tangan yang berpelukkan ke belakang pinggang, ia berjalan menuju bibir teras. Ia melihat matahari menggantung di langit barat, menjadi senja yang menempel pada setiap benda di cakrawala –di pohon-pohon, dinding-dinding kusam, wajah anak-anak dan orang tua. Membias cahaya keemasan yang indah. Lelaki itu menuju bukit, memantulkan bayangannya di genangan-genangan hujan yang ia lewati. Mata orang-orang mengikuti langkahnya yang tenang. Mereka tahu ia akan ke balik bukit menjumpai sahabatnya yang tak sembarang orang bisa menjumpainya.
Lelaki itu menuju senja, yang perlahan dimakan ketinggian bukit, masuk ke dalam keteduhan. Sambil menyibak pepohonan kecil yang menjuntai di pematang jalan, ia terlihat sumeringah. Sahabat tuanya sedang menanti di sana, duduk seperti batu besar yang disibak sedikit cahaya senja.
“Selamat senja, Gajah Tua.” Sapanya di samping gajah itu mengikuti menatap senja.
“Seperti biasa, senja selalu menjadi hal yang indah namun menyakitkan. Bahkan aku menunggu senja di usiaku, yang tak hinggap sampai sekarang. Mungkin senja lupa hinggap pada diriku, sampai aku setua ini menyaksikan banyak kematian.”
“Jangan melulu bersedih , Gajah Tua. Senjamu tahu kau masih dibutuhkan di sini. Untuk menuntun kami, aku takut keturunanku tak mengenal kebaikkanmu.”
“Semoga keturunanmu tak takut padaku yang seperti kulit pohon ini.” Gajah itu sedikit tersenyum. “Kau masih ingat Janji Batuku dan leluhurmu,” Ia menarik napas,”dan sekarang aku masih di sini menyimpan janji itu. Aku takut, ketika aku menuju senja dan pandanganku menjadi malam, anak cucuku tak bisa memegang Janji Batu itu. Aku menyimpan harap padamu.”
Lelaki itu menyentuh tubuh besar di sampingnya yang disibak cahaya senja. Ia rasakan kehangatan pada kembung napasnya, dan ia tak seperti dulu lagi yang bisa menaikinya dan memeluknya hangat. “Kita dulu sering menikmati senja sambil mandi bersama di danau itu. Rasanya aku rindu.”
***
Di tengah remang cempor yang hangat, udara malam tak seperti biasanya. Keringat membasahi seluruh tubuh yang tak lelap. Sepertinya musim hujan akan tiba, kata seseorang yang lewat. Lelaki itu sedang mengipasi bayinya yang baru delapan bulan, ia menyibak keringat di dahinya dengan lembut, seperti mengusap air mata pada pipi perempuan.
Di balik cahaya cempor di lawang, seorang pemuda lari dengan sendal penuh lumpur, pakaiannya kuyup dengan keringat, napasnya terengah. Ia mengetuk pintu dengan keras tanpa jarak. Lelaki itu segera menarik peruh pintunya, ia mendapatkan seorang pemuda yang kepayahan di terasnya.
“Malam Juragan, maaf menggangu.” Masih dengan napas yang terburu.” Anu, itu si Kasmin anak tetangga saya mati di danau timur bukit.”
Dengan kain coklat yang dililitkan di lehernya, Lelaki itu menuju rumah orang yang berduka. Malam diirisnya dengan langkah yang lebar dan cepat, napasnya diburu ketergesaan, dadanya sedikit bertalu mendengar orang yang meninggal dipinggir danau dengan isi kepala berhamburan, dan tempurungnya pecah.
Sesampainya di sana, para lelaki menggengam golok dan obor yang hidup di wajah mereka. Mereka bersiap memburu ketakutan. Gajah-gajah di balik bukit yang akan menjadi pertaruhan mereka. Semestinya sebuah kejadian, mereka takut kejadian serupa terulang kembali dan menimpa anak-anak mereka atau siapa saja. Tangan Lelaki itu bergetar melihat api obir yang menetes di hadapannya. Emosinya merangkak dari dada ke kepalanya, ia mengibaskan sorban yang ia pakai dengan keras, sampai pepohonan menggugurkan sebagian dedaunan. Semua orang terdiam. Malam menelen mereka semua.
“Aku akan bertanggung jawab untuk kejadian ini, sekarang aku akan menjumpai gajah-gajah itu tanpa golok dan api pada diri kalian.”
Semua orang terpaku di tanahnya masing-masing, seakan bumi telah memegang kaki mereka bersamaan. Melihat semua orang menuruti kehendaknya. Lelaki itu bersama para lelaki menuju ke balik bukit, ia akan menjumpai sahabat tuanya. Di sepanjang jalan, keringatnya tak henti membanjiri kening, pundak dan dadanya. Lelaki itu tak percaya, Gajah Tua yang sangat ia hormati menghianati Janji Batu dengan leluhurnya. Namun ia tahu, selalu ada alasan bagi setiap kehendak.
Langit tak lekat lagi, subuh mengantar dinginnya sesampainya Lelaki itu dan rombongan sampai di balik bukit. Di sana gajah-gajah sudah menantinya, berbaris membentang seluas mata menatapnya. Gajah Tua itu berjalan perlahan menghampiri Lelaki yang ia kenal. Begitu juga Lelaki itu –yang dipenuhi keringat dan air mata membentang seperti sungai di pipinya– melakukan hal yang sama dengan gajah tua.
Sesaat waktu seakan berhenti melangkah. Tak ada yang bersuara. Bahkan serangga pun sepakat diam saat itu, hanya kunang-kunang yang mengedip di balik dedaunan dan di antara mereka.
“Segeralah usap sungai di wajahmu , kuakui ini sebagai petaka bagi kaumku. Ia adalah anakku yang paling muda, ia belum terlalu dewasa untuk menyikapi gangguan manusia di sekitarnya. Maafkan aku dan kaumku. Juga Janji Batu itu sebentar lagi tiba pada kaumku. Setelah fajar menyentuh pepohonan di atas bukit itu, kami semua akan menjadi batu. Semoga leluhurmu dan kaummu takkan diingat dengan kisah yang salah.” Gajah Tua itu berbalik.
Ia merasakan segalanya lepas dari tubuhnya, bukan senja yang selama ini ia nantikan untuk memberangkatkanya menyusul leluhurnya, namun fajar yang berbeda yang akan menjemputnya menuju keabadian.
Fajar menyentuh ujung daun pohon tertinggi di bukit itu. Gajah-gajah itu berjingkrak dengan kedua kaki depannya. Teriakan mereka seperti terompet kesedihan yang mengisi setiap ruang di cakrawala. Menggema di cakrawala, mengisi setiap dada orang yang berdiri di sana. Mata mereka bergelimang di sentuh sinar mentari, mereka merasakan kesakitan gajah-gajah itu, perlahan tubuh mereka menjadi batu, merayap semakin menghabisi tubuh besar yang semakin terlihat kokoh. Seperti ribuah panah dengan api dihunuskan pada isi dadanya, Lelaki itu tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Sungai meluap di pipinya, menyibak segala kesakitan menyaksiakan batu-batu besar itu di sentuh sinar matahari pagi.[]
Tentang Penulis
Mufidz At-thoriq Syarifudin mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Siliwangi yang sedang menyusun skripsi.
Lahir di Bandung pada 26 Juni 1994 namun dari kecil menetap di Tasikmalaya bersama keluarganya.
Menulis cerpen, puisi, cermin, essai/laporan budaya, dan naskah drama. Beberapa karyanya pernah dimuat Pikiran Rakyat, Kabar Priangan, Banjarmasin Post, Radar Tasikmalaya, Buruan.co, Radar Banyuwangi, Bentangpustaka.com, Detakpekanbaru.com, Majelissastra.com, sastramu.com, Pos Merto Prabu, Buletin Estetika Diksatrasia, dan lain-lain. Cerpennya yang berjudul “Gelisah” menjadi Juara 2 FSA II Lomba Menulis Cerpen Se-Priangan Timur UPI Kampus Tasikmalaya, “Di Tubuh Cermin, Marnus Bermain” menjadi Cermin pilihan Bentang Pustaka , antologi cerpen “Batu yang Dililit Ari” menjadi nominator Siwa Nataraja Award II dan antologi cerpen “Kampung Sebelah” masuk 8 besar Siwa Nataraja Award II. Cerpen dan puisinya juga tergabung dalam beberapa antologi bersama. Buku kumpulan cerpen tunggalnya“Bapak Kucing” (2015) dan “Batu yan Dililit Ari” (2016). Selain menulis, aktif juga di Teater 28 dan Berada 57. Dapat dihubungi lewat facebook/gmail: mufidzatthoriq@gmail .com, juga sering upload gambar berkata di @mutthors_ yang diasuh @sherlyfirmayaa.
Catatan: cerpen ini merupakan tayangan ulang setelah sebelumnya (Minggu 9 Okt 2016) tampil di Buanakata dalam domain yang berbeda