oleh: Teti Hodijah
SORE ini hatiku berbunga, badan pun mendadak segar. Entahlah, aku pun tak mengerti apa sebabnya. Yang jelas, hari ini Ema, Abah dan semua adikku dapat berkumpul di tempat ini. Ah, bagai hidup di alam mimpi saja. Indah sekali.
Apakah dokter juga dapat merasakan keindahan sore ini?
Iya, mestinya orang berduit seperti dokter setiap saat berbahagia dan dapat meraskan keindahan. Bukankah di dunia ini uang telah menjadikan segalanya?
Eh, maaf dokter, aku bicara lantang. Maklum saja, dokter juga tahu siapa aku. Seorang pembantu rumah tangga yang terpaksa harus mendekam di rumah sakit akibat dari kebodohan dan ketololan.
Dokter, jangan salahkan Ibu dan Bapak. Dan juga salahkan Ema dan Ayahku, aku sangat menyayangi mereka. Itulah sebabnya, pada usia empatbelas tahun ketika baru saja sembuh dari sakit yang berkepanjangan aku rela mninggalkan kampung halaman serta saudaraku yang berjumlah enam orang. Kutepiskan masa kecil yang teramat indah. Memang, rasanya terlalu muluk bagi orang miskin seperti aku harus mendambakan suatu kebahagiaan.
Dulu, ketika aku pergi bersama Bi Ocih, Ema, Abah dan keenam adikku ngantar sampai ke pinggir jalan. Ketika beca yang kutumpangi melaju kencang, mereka menatap seperti tak berkedip. Ingin aku menjerit sambil menangis. Aku sedih berpisah dengan orang-orang yang sangat mencintai dan dicintai. Berpisah yang entah untuk berapa lama.
Kesedihan itu sempat menghilang dokter, tatkala dalam pikiranku terbayang sebuah angan, setiap bulan dapat uang gaji, bisa beli baju dan perhiasan. Sisanya ditabung buat nanti lebaran. Ou, lebaran, hari bahagia bagi seluruh umat Islam. Betapa bangganya kedua orang tua serta adikku, bila pada saat lebaran nanti bisa memakai baju baru hasil dari keringat Si Sulung. Ah,,, siapa bilang orang seperti aku tidak dapat mendambakan kebahagiaan?
Dokter, kesedihan itu ternyata masih senang menguntitku. Buktinya, Si Enci yang minta dicarikan pembantu itu ternyata tidak mau menerima aku. Karena aku masih kecil katanya. Dia kira aku tidak akan bisa bekerja. Padahal, hampir semua orang di desaku mengetahui kalau aku ini cabe rawit. Mencangkul, mencari kayu bakar, menyabit rumput, memotong padi adalah pekerjaanku di desa. Masa bekerja di dapur saja yang tidak banyak mengeluarkan tenaga, tidak mampu?
Air mata tak dapat dibendung saat itu. Aku benar-benar sedih karena tidak jadi tinggal bersama Si Enci yang rumahnya besar itu. Yang konon sanggup membayar gaji 300 ribu sebulan. Dan Bi Ocih pun seperti kebingungan, karena bekas ongkos pulang-pergi ke desa tidak jadi diganti oleh Si Enci. Rasanya aku benar-benar berdosa, dokter. Untung saja Bi Ocih tak bosan-bosannya membujuk, agar aku tidak berkecil hati dan menyuruhku agar banyak berdoa kepada Tuhan.
Oh ya, dokter tahu kan, siapa Bi Ocih? Yang suka berjualan lotek di belakang kantoran yang gedungnya besar dan tinggi itu. Ia sering pulang ke desa, karena banyak orang kota yang minta dicarikan pembantu kepadanya. Banyak teman sebaya yang berhasil hidupnya setelah dibawa oleh Bi Ocih ke kota. Si Tumir, Si Supti, Si konoh, Si Kiloh, kalau pulang ke desa suka membawa banyak pakaian, bagus-bagus. Pipinya yang montok bersinar itu dihiasi anting dan kalung mas. Jadi banyak teman laki yang naksir, dan akhirnya dapat jodoh. Ah, anak perempuan cepat dapat jodoh, adalah impian orang-orang tua di desaku.
Boleh dong sesekali dokter main ke rumahku. Namun perlu diketahui rumahku berupa gubuk bambu terbilang kecil. Artinya tak seimbang dengan jumlah keluargaku yang sembilan, terdiri dari kedua orang tua dan tujuh orang anak. Terbayang kan, dok?
Jika musim paceklik tiba, kami cukup saja makan singkong. Karena padi hasil panen satu kali tak mampu bertahan hingga panen berikutnya. Di tengah kesenggangan menggarap sawah orang, paling bisa ema dan abah mencari lidi kelapa untuk dibuat sapu lidi, yang dijual dengan harga 5.00 per ikat. Kalau satu hari dapat tiga-empat ikat, ya uangnya berkisar 1.500-2.000, dapat apa? Namun kami bersyukur karena uang itu dapat ditukar dengan ikan asin, untuk kemudian dicampur dengan rebus singkong.
***
Oya, setelah seminggu aku tinggal bersama Ma Ocih (yang tentunya merepotkan Ma Ocih), tiba-tiba ada seorang ibu cantik mencariku. Siapa gerangan? Eh, anehnya beliau seperti sudah mengenali aku. Rupanya sering melihatku kalau aku sedang bantu-bantu Ma Ocih di warung. Dan yang paling mengherankan, kok ibu ini tahun persis tentang aku. Sampai dia bicara begini: “Omih pinter ngaji, kan? Nanti ajarin anak ibu yah,” bibir mungilnya tersenyum.
Pasti Si Ma Ocih yang cerita, bahwa aku pinter ngaji. Ah, Ma Ocih, malu-maluin orang!
***
Hampir Sembilan bulan aku tinggal bersama ibu cantik itu. Beliau baik sekali. Biarpun aku sering melakukan kesalahan, beliau tak pernah marah. Itulah sebabnya, walau badan terasa letih aku tak pernah mengeluh. Aku tidak mau merepotkan Ibu dan Bapak. Mereka perlu istirahat setelah seharian pikiran dan tenaganya dikuras di kantor. Biarlah ketiga anaknya aku yang ngurus. Anaknya yang paling gede sudah duduk di SD kelas dua. Adiknya usia empat tahun –sudah bisa main sendiri. Si bungsu –masih bayi, nggak usah digendong-gendong. Anak ibu sehat-sehat sih. Ngurusnya juga nggak terlalu repot.
Dokter, kira-kira tiga bulan yang lalu kepalaku mulai terasa pusing. Biasanya, kalau keadaan di rumah sepi, anak-anak semua pada tidur, ibu dan bapak masih di kantor, rasa pusing itu terasa parah. Saat itulah aku sempat menangis. Menangis hanya karena memikirkan nasib, membayangkan keadaan kedua orangtua serta adik-adikku di desa sana. Makan apa mereka hari ini. Apakah Si Oce mencretnya sudah sembuh. Si Oding juga, waktu ditinggal pergi korengnya masih ada nanahnya. Si Ikin sering ada cacingan. Si kecil pernah terserang batuk dan suhu badannya panas sekali, mudah-mudahan tak kambuh lagi. Yang menjadi pikiran, kapankah mereka bernasib baik seperti aku, bisa makan nasi dan lauknya tiap hari?
Suatu hari, ketika pusing kepalaku tak tertahankan, aku sempat muntah-muntah. Waktu itu ketahuan oleh Ibu, langsung diajak ke Puskesmas. Namun aku tolak. Karena sejak kecil aku tidak pernah berobat ke Puskesmas. Kalau badan terasa sakit cukup dengan obat-obatan tradisional, ya dengan dedaunan, akar-akaran, atau dengan air jampi dari Ma Amot.
Aneh, setiap aku kelihatan murung, ibu selalu mengajakku ke Puskesmas, dan selalu aku tolak. Lama-lama jengkel juga aku. Kepala jadi tambah pening, mata sering kunang-kunang. Sampai suatu saat aku jatuh pingsan. Tubuhku memang panas sekali waktu itu. Ketika sadar ternyata sudah ada di kamar ini, ruang sepuluh kamar empat. Mataku sempat melihat-lihat sekeliling ruang, sepertinya banyak juga orang yang senasib denganku. Hampir semua tempat tidur di ruang ini diisi.
Yang membuat hatiku bertanya-tanya, kok Ema dan Abah tiba-tiba ada di sampingku. Darimana mereka tahu kalau anaknya sakit? Aku yakin, Bapak atau entah siapa yang memberi tahu ke sana. Dan dari mana beliau berdua punya ongkos jalan. Duh, lagi-lagi aku merepotkan orang.
Lagi-lagi aku menangis, dokter. Mengapa orang seperti aku mesti mengalami dirawat di rumah sakit yang kata orang biayanya cukup mahal? Kendatipun Ibu dan Bapak kerap membujukku agar tidak mimikirkan apa-apa, karena semua biaya beliau yang akan menanggung. Namun tetap merasa berhutang budi dan berdosa.
Kalau saja dulu mau diajak ke puskesmas, mungkin tidak akan mengalami kejadian seperti ini. Apalagi jika mengingat keadaan orangtuaku yang jauh-jauh dari desa harus menjenguk ke rumah sakit. Padahal anak-anaknya masih kecil-kecil, bahkan masih ada yang menyusui. Yang paling membuatku ngeri, Si Nyai –adikku yang baru berusia tigabelas bulan– terpaksa berhenti minum ASI karena terlalu lama ditinggal Ema kemit di rumah sakit. Si Nyai ditinggalkan di rumah Bi Esih –adik Ema yang bungsu—yang suaminya sebagai buruh kuli bangunan. Adik-adikku yang lainnya sebagian tinggal di rumah nenek, sebagian lagi dititipkan di Ceu Munah, tetangga yang baik hati.
Rupanya penyakitku bandel juga ya, dok? Sehingga suhu badanku naik, muntah-muntah dan tak mau sembuh, serta sering sekali mengalami pingsan. Menjengkelkan ya, dok? Untung saja suster-suster di sini baik-baik. Sepertinya mereka tak membeda-bedakan, baik pasen kaya maupun miskin seperti aku, mereka layani dengan wajah yang ramah.
Dan akhirnya aku mengerti, dok, bahwa sehat itu lebih berharga daripada emas murni.
Pak Dokter, saat ini aku butuh kedamaian. Kedamaian yang hakiki. Sampaikan salamku buat teman-teman, buat suster dan semuanya.@***