Cerpen Otang K.Baddy
Para pengusung keranda itu mandi keringat. Semangat yang tinggi atas bayangan upah yang menjanjikan, telah membuatnya mati rasa. Mereka tak perduli apakah para penggali kubur merasa kesal dan pegal menunggu. Juga, tak hirau akan keluguan iringan para pengantar yang sakral akan kalimah-kalimah toyibah yang menyertainya di gang setapak. Begitu pun soal tanda tanya semua orang di area pemakaman, tak jadi beban bagi mereka. Keranda berisi jasad perempuan tua itu bak emas murni, begitu sigap disikat, dan telah berhasil dibelotkan dari tujuan semestinya.
“Tinggal beberapa langkah lagi,” ucap salah seorang di antara mereka. Yang lain mengiyakan di tengah dengus nafas yang memburu. Memang mulut goa itu sudah di depan mata. Namun untuk mencapainya diperlukan pekerjaan yang ekstra ketat, mengingat mulut goa itu berada beberapa meter di atas kepala mereka. Jadi penyelesaianya bukan lagi berjalan, melainkan harus memanjat.
“Awas harus hati-hati!” kata seorang lelaki yang tiba-tiba muncul di mulut goa, bak seorang pribumi. “Yang dua orang naik dulu ke sini,” lanjutnya.
Setelah dua batang pinggulan depan keranda ditopangkan di tebing, dua orang itu memanjat ke bibir goa, sementara dua orang pengusung masih menahan di belakang. Lalu dua orang di bibir goa itu merengkuh kedua ujung keranda, dan perlahan menariknya ke atas. Demi menghindari kecemasan yang fatal, semua menahan nafas. Sebab posisi keranda itu tak cuma miring, melainkan berdiri seperti tangga.
“Goblog, kalian semua goblog!” maki seorang lelaki yang di goa tadi dengan geram. Giginya yang agak menghitam karena rokok, tampak gemeretak dirasuk amarah.
“Ini kegagalan total, dan merupakan aib besar! Aib besar sepanjang sejarah!” katanya seraya mata memandang langit, serta tangan kanan meninju-ninju telapak tangan kirinya.
“Sangat pesimis, mengingat jasad ibuku telah rusak!”
Entah apa maksud lelaki bujang lapuk itu. Memang tiada yang tahu pasti. Pengusung yang empat orang ini pun bukan sepenuhnya percaya padanya. Mereka bergiat lebih dikarenakan pada upah yang dijanjikan.
Pagi hari dada Warong panas menyesak. Bergumpal rasa, antara cemas dan harap begitu dahsyat menyergap. Bukan kesal pada warga yang datang dan turut belasungkawa, namun ia lebih benci dan dendam pada yang membuat keputusan. Sumaring, kakak perempaun Warong satu-satunya, yang sok alim itulah biang keroknya. Dan menuding dirinya tak sayang orang tua, tak sayang pada ibunya. Sumaring, merasa lelah akan ketelatenan mengurus perempuan tua yang sering sakit-sakitan selama adiknya itu pergi melanglang. Warong memang sering pergi dengan alasannya ingin melanglang buana. Dalam hidupnya ia tak cukup puas dengan hanya membaca buanakata, apalagi sampai dibuat situs model yang ini. Ia ingin menyelami kehidupan ini sampai ke buanarasa.
Dan dengan sering pergiannya Warong yang tak jelas tujuannya itu membuat Rukni –ibunya, sering sakit-sakitan. Ibunya mengharap kepergian anak lelaki satu-satunya itu benar-benar mencari cinta atau iwanita seperti pada umumnya untuk dijadikan istri sekaligus mantunya. Namun entah yang kesekian kalinya setiap anak lelaki itu datang, sang ibu selalu mengurut dada. Kenapa anaknya itu kerap pulang melenggang dengan tetap melajang?
Maka ketika berita kematian terdengar di pengeras suara mereka tak percaya. Apalagi setelah Warong memeriksa keadaan tubuh ibunya, bukan sedih yang dibuat, melainkan tersenyum.
“Jangan tunjukkan kebodohanmu, Rong,” kata Sumaring tatkala adiknya berpendapat lain.
“Janganlah kau usik lagi Sang Ibu, biarlah dia menikmati peristirahatannya.,”
Warong tak berdaya untuk mengutarakan pembelaannya. Apalagi belum setengah jam, para warga sudah berdatangan.
Saat proses pemandian jenazah Warong tak bisa diam. Tampak terjadi bisik-bisik dengan kedua temannya itu. Di antara isi bisikkan itu, “Asal dengan kerja keras dan terampil uang sepuluh juta siap diberikan.” Dalam waktu singkat kesepakatan pun didapat. Dua teman itu segera mencari rekanan, hingga empat orang pengusung siap menyantap suap.
“Pengembaraanmu yang fana akan terus kujaga,” desis Warong, setelah sebelumnya ia pamit pada temannya untuk pergi menunggu di suatu tempat. Dalam teropong kacamata batinnya, ruh perempuan itu tengah mengembara ke dunia lain atau bisa disebut mati suri. Setidaknya tiga hari ke depan ruh itu akan kembali ke raga. Apa pun resikonya, jasad ini harus benar-benar dijaga, terutama jangan sampai terluka, begitu batin Warong.
Namun apakah yang terjadi? Jangankan dapat terjaga dari suatu luka, di dekatnya pun kini jasad itu sudah tiada[]
Pusvita Defi, Wanita kembar Kelahiran Medan, 23 Juni 1994, menyukai seni Teater dan Sastra Beberapa Puisinya dimuat di laman : Rakyat Sumbar, Sumut Pos, Basa-basi.co, koran Harian Cakrawala Makassar, Batam Pos, RiauKepri, Detakpekanbaru, Tetas Kata, Banjarmasin Post, Rakyat Sultra.


