Galeri

Keranda Yang Membelot

 Cerpen Otang K.Baddy

Para pengusung keranda itu mandi keringat. Semangat yang tinggi atas bayangan upah yang menjanjikan, telah membuatnya mati rasa. Mereka tak perduli apakah para penggali kubur merasa kesal dan pegal menunggu.  Juga, tak hirau akan keluguan iringan para pengantar yang sakral akan kalimah-kalimah toyibah yang menyertainya di gang setapak. Begitu pun soal tanda tanya semua orang di area pemakaman, tak jadi beban bagi mereka. Keranda berisi jasad perempuan tua itu bak emas murni, begitu sigap  disikat, dan telah berhasil  dibelotkan dari tujuan semestinya.

Keranda itu diusung lebih cepat, bahkan kalau perlu melompat demi menghindari kalau ada bola mata melihat. Bukan persoalan jika jasad itu terantuk-antuk atau terbanting ke kiri dan ke kanan membentur dinding keranda. Biarkan saja, yang penting sebujur tubuh kaku itu bisa terhindar dari penguburan di pesarean.
Mereka menaiki sebuah bukit dan batu cadas, untuk mencapai sebuah goa. Pengusungan pun agak hati-hati tatkala ditemui medan yang agak licin, mungkin bekas hujan semalam.
“Tinggal beberapa langkah lagi,” ucap salah seorang di antara mereka. Yang lain mengiyakan di tengah dengus nafas yang memburu. Memang mulut goa itu sudah di depan mata. Namun untuk mencapainya diperlukan pekerjaan yang ekstra ketat, mengingat mulut goa itu berada beberapa meter di atas kepala mereka. Jadi penyelesaianya bukan lagi berjalan, melainkan harus memanjat.
“Awas harus hati-hati!” kata seorang lelaki yang tiba-tiba muncul di mulut goa, bak seorang pribumi. “Yang dua orang naik dulu ke sini,” lanjutnya.
Setelah dua batang pinggulan depan keranda ditopangkan di tebing, dua orang itu memanjat ke bibir goa, sementara dua orang pengusung masih menahan di belakang. Lalu dua orang di bibir goa itu merengkuh kedua ujung keranda, dan perlahan menariknya ke atas. Demi menghindari kecemasan yang fatal, semua menahan nafas. Sebab posisi keranda itu tak cuma miring, melainkan berdiri seperti tangga.
          Entah ceroboh karena tergesa, atau mungkin keranda itu sudah cukup umur, tiba-tiba pintu keranda belakang tosblong bersamaan dengan melorotnya jasad kaku itu. Tanpa diduga mayat yang sudah mengeras itu terjatuh keras ke batu cadas dan terpelanting jauh, hingga terbontang-banting dari atas lereng bukit penuh bebatuan itu. Karenanya, kain kapan yang telah membungkusnya dengan rapi serta mewangi itu merosot dari jasadnya dan tersangkut pada sebuah tunggul.
“Goblog, kalian semua goblog!” maki seorang lelaki yang di goa tadi dengan geram. Giginya yang agak menghitam karena rokok, tampak gemeretak dirasuk amarah.
“Ini kegagalan total, dan merupakan aib besar! Aib besar sepanjang sejarah!” katanya seraya mata memandang langit, serta tangan kanan meninju-ninju telapak tangan kirinya.
Setelah empat orang itu melongo dan menyadari keteledorannya, seorang berkata penuh harap. “Mau kami Anda bersikap tenang saja, sebab ini bukan suatu kesengajaan. Bukankah jasad itu bisa diambil dan dikapani lagi seperti semula?”
“Sangat pesimis, mengingat jasad ibuku telah rusak!”
Entah apa maksud lelaki bujang lapuk itu. Memang tiada yang tahu pasti. Pengusung yang empat orang ini pun bukan sepenuhnya percaya padanya. Mereka bergiat lebih dikarenakan pada upah yang dijanjikan.
       Menurut Warong –satu-satunya anak lelaki almarhumah-perempuan yang kurus tinggal tulang itu belum sepenuhnya mati. Ketidakberdayaannya itu hanyalah koma semata. Di mata Warsad tubuh ibunya subuh tadi masih hangat, di pergelangan tangannya masih ada denyut. Dengan mendekatkan telinganya ke hidung jasad, ia masih mendengar dengus nafas. Tapi kenapa orang-orang telah memvonis sebuah kematian?
Pagi hari dada Warong panas menyesak. Bergumpal rasa, antara cemas dan harap begitu dahsyat menyergap. Bukan kesal pada warga yang datang dan turut belasungkawa, namun ia lebih benci dan dendam pada yang membuat keputusan.  Sumaring, kakak perempaun Warong satu-satunya, yang sok alim itulah biang keroknya. Dan menuding dirinya tak sayang orang tua, tak sayang pada ibunya.  Sumaring, merasa lelah akan ketelatenan mengurus perempuan tua yang sering sakit-sakitan selama adiknya itu pergi melanglang. Warong memang sering pergi dengan alasannya ingin melanglang buana. Dalam hidupnya ia tak cukup puas dengan hanya membaca buanakata, apalagi sampai dibuat situs model yang ini. Ia ingin menyelami kehidupan ini sampai ke buanarasa.
“Wah, kamu selalu ngaco, Warong. pola pikirmu telah ngawur. Istigfar kamu!” kata Sumaring kesal. Perempuan yang telah menjanda 4 anak itu sudah tak mau lagi mendengar omongan adiknya yang seperti punya kelainan tersebut.
Yang tak dimengerti oleh Sumaring– Warong sering mengembara itu mencari matahari yang tak terlihat di siang hari, mencari bulan yang tak pernah muncul di malam hari. Mencari bintang yang tak tampak berkedip, mencari mata yang buta saat belala. Mencari dirinya yang hilang ditelan kabut misteri. Begitulah Warong setiap hendak pergi kerap berujar di depan ibu dan Sumaring.
Dan dengan sering pergiannya Warong yang tak jelas tujuannya itu membuat Rukni  –ibunya, sering sakit-sakitan. Ibunya mengharap kepergian anak lelaki satu-satunya itu benar-benar mencari cinta atau iwanita seperti pada umumnya untuk dijadikan istri sekaligus mantunya. Namun entah yang kesekian kalinya setiap anak lelaki itu datang, sang ibu selalu mengurut dada. Kenapa anaknya itu kerap pulang melenggang dengan tetap melajang?
Kendatipun kedatangannya langsung bersimpuh, rasa kecewa ibunya tak terobati. Bahkan di hari berikutnya, perempuan yang sudah kurus-kering, tinggal kulit yang membungkus tulang itu, langsung merebahkan tubuhnya di dipan. Warsad tak cemas melihatnya, dalam batinnya, perubahan ibunya yang mendadak itu adalah sebuah bentuk dari kepuasan akan kepulangan dirinya.
       Semenatara Sumaring,  telah membaca gelagat bahwa perempuan ringkih itu sudah mendekati maut. Maka, nyaris tak luput setiap saat kerap menungguinya. Sedang Warong seperti mati rasa, ia lebih banyak berada di luar rumah memandang langit. Satu, dua orang temannya -yang sudah berkeluarga, seakan setia menemaninya ngobrol. Warong seakan lihai dalam mengurai kata, sehingga apa-apa yang diucapkannya itu seperti kebenaran. Dua orang temannya itu mengakui  Warong itu sebagai punya daya linuwih.
Maka ketika berita kematian terdengar di pengeras suara mereka tak percaya. Apalagi setelah Warong memeriksa keadaan tubuh ibunya, bukan sedih yang dibuat, melainkan tersenyum.
“Jangan tunjukkan kebodohanmu, Rong,” kata Sumaring tatkala adiknya berpendapat lain.
“Janganlah kau usik lagi Sang Ibu, biarlah dia menikmati peristirahatannya.,”
Warong tak berdaya untuk mengutarakan pembelaannya. Apalagi belum setengah jam, para warga sudah berdatangan.
Saat proses pemandian jenazah Warong tak bisa diam. Tampak terjadi bisik-bisik dengan kedua temannya itu. Di antara isi bisikkan itu, “Asal dengan kerja keras dan terampil uang sepuluh juta siap diberikan.” Dalam waktu singkat kesepakatan pun didapat. Dua teman itu segera mencari rekanan, hingga empat orang pengusung siap menyantap suap.
“Pengembaraanmu yang fana akan terus kujaga,” desis Warong, setelah sebelumnya ia pamit pada temannya untuk pergi menunggu di suatu tempat. Dalam teropong kacamata batinnya, ruh perempuan itu tengah mengembara ke dunia lain atau bisa disebut mati suri. Setidaknya tiga hari ke depan ruh itu akan kembali ke raga. Apa pun resikonya, jasad ini harus benar-benar dijaga, terutama jangan sampai terluka, begitu batin Warong.
Namun apakah yang terjadi? Jangankan dapat terjaga dari suatu luka, di dekatnya pun kini jasad itu sudah tiada[]
       (Merupakan cerpen revisi dari judul yang sama, karya Otang K.Baddy yang beberapa waktu lalu pernah dimuat di Kabar Priangan)
 

Unik, Begini Suasana Dalam Kereta Banjar-Pangandaran Waktu Itu

Peserta ajang Napak Tilas Jalur Kereta Banjar-Cijulang menyusuri Terowongan Juliana di Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang beberapa waktu lalu.

Trisilo Hartono (52) masih mengingat betul suasana kereta Banjar-Pangandaran yang ia naiki beberapa kali pada tahun 1978-1979. Tri ingat benar, harga tiket dari Banjar ke Pangandaran, ketika itu sebesar Rp 125 untuk dewasa dan Rp 100 untuk anak-anak.

Hingga kini, Tri mengaku masih menyimpan potongan-potongan tiket yang ia pungut di sekitar peron tersebut. Tri sendiri menyebut, ia yang saat itu masih murid SMP tidak membayar karena memiliki kartu subsidi keluarga Perusahaan Jawatan Kereta Api/PJKA (kini PT KAI).

“Saat itu saya ingin tahu Pangandaran. Saya pergi sendiri,” kata warga Jalan Padjajaran, Kota Bandung ini kepada SP.Com ketika mengikuti napak tilas jalur kereta Banjar-Cijulang beberapa waktu lalu.

Kereta dari Banjar ke Pangadaran, Tri melukiskan, ketika itu menggunakan satu lokomotif dan tiga gerbong berwarna hijau. Satu gerbong paling belakang, kata Tri, adalah gerbong barang yang diubah menjadi angkutan penumpang.

Di dalam kereta, Tri menggambarkan, penumpang duduk di dipan kayu menyamping. Ia mengingat, ada tiga dipan memanjang, masing-masing di kiri, kanan dan di tengah. Penumpang yang duduk di bangku tengah, kata dia, bisa sembarang menghadap, entah ke kiri atau ke kanan.

Tri mengingat, ketika itu, penumpang dari arah Banjar sebagian membawa barang belanjaan, seperti mi instan. Jika berangkat subuh dari Banjar, kata dia, ada sejumlah nelayan yang hendak melaut di Pangandaran. Menurut Tri, mereka membawa kecrik atau heurap, alat tangkap jaring tradisional.

“Pedagang asongan ada, tapi enggak banyak dan mereka sangat ramah. Kalau di stasiun, subuh-subuh mereka jualannya pakai lilin atau lampu sentir,” kata Tri yang juga bergiat di Yayasan Kereta Anak Bangsa, lembaga yang mewadahi para penggemar kereta api.

Beberapa hal mengesankan yang tak pernah ia lupa, ia menceritakan, ketika itu, selepas terowongan Wilhelmina di Kalipucang, kereta bisa dihentikan di sembarang tempat. Saat itu, ia bahkan melihat penumpang membawa batang-batang pohon bambu dan menaikannya ke atas gerbong.

“Pas musim liburan, saya juga pernah dari Pangandaran ke arah Banjar duduk di atas gerbong, karena saat itu penuh sekali,’ ujar pria 52 tahun ini.

Tri mengaku merasa beruntung pernah merasakan naik kereta ke Pangandaran. Karena tak di sangka, jalur berpemandangan indah itu ditutup tak lama kemudian. Rute Pangandaran-Cijulang ditutup pada 1979 dan Jalur Banjar-Pangandaran menyusul dihentikan pada 3 Februari 1981.

Mendengar rencana reaktivasi jalur Banjar-Cijulang ini, Tri sangat senang dan tak sabar kembali merasakan naik kereta ke Pangandaran. Ia berharap, rencana tersebut tak sebatas wacana, tapi benar-benar terealisasi.

Rekan Tri, Intrias Herlistiarto dari Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) Bandung, juga mengaku sangat antusias mendengar rencana reaktivasi jalur yang dianggapnya legendaris ini. Menurut Tri, reaktivasi jalur Banjar-Pangadaran atau dulu disebut jalur Ban-Ci, sangat menjanjikan, mengingat tingginya potensi ekonomi dan pariwisata di daerah Pangandaran.

“Banyak teman-teman saya orang Belanda yang tertarik datang ke Pangandaran. Mereka mengaku akan sangat suka kalau bisa naik kereta,” ujar Intrias kepada Andi Nuroni dari SP.Com.

Kereta Banjar-Cijulang, kata dia, bisa menjadi jalur wisata. Wisatawan dari arah barat, menurut Intrias, bisa singgah dulu ke Pangandaran sebelum melanjutkan ke Jogja atau Solo.

Turut menghadiri kegiatan, Kepala Daerah Operasi II Bandung PT KAI Saridal membenarkan, saat ini Pemerintah Pusat tengah merencanakan reaktivasi seluruh jalur kereta non-aktif, termasuk jalur Banjar-Cijulang.

“Kemarin pertamuan dengan Bu Menteri BUMN, dia berharap sebelum 2019 (jalur-jalur itu) sudah bisa digunakan,” kata Saridal.

Ia melaporkan, proses studi kelayakan atau feasibility study (FS) jalur Banjar-Cijulang sudah diselesaikan dan akan masuk pada tahap detil rancangan teknis atau detail engineering design (DED).

Untuk menyiapkan pengaktifan ulang atau reaktivasi, menurut Saridal, saat ini pihaknya tengah melakukan pendataan aset. Ia menyayangkan, kini, sebagian aset tanah PT KAI di jalur Pangandaran-Cijulang dikuasai warga.

Selain tanah, menurut Saridal, aset lain, seperti rel dan baja jembatan, juga sebagian besar telah hilang. Dan jikapun reaktivasi akan dilakukan, menurut dia, konstruksi jembatan lama, seperti Jembatan Cikacepit, tidak akan bisa digunakan lagi karena telah lapuk.

Editor: Andi Nurroni/SP.Com

Pangandaran Akan Miliki Lima Perguruan Tinggi

Mahasiswa Unpad Multikampus Pangandaran berfoto di depan kampus mereka di Desa Cikangkung, Kec. Sidamulih, Kab. Pangandaran, Jabar.(Foto atas/ Dok: Unpad)

SwaraPangandaran.Com. Posisi Kabupaten Pangandaran sebagai daerah otonom baru menarik minat perguruan tinggi untuk mendirikan kampus di wilayah tersebut. Kondisi ini diharapkan dapat meningkatkan angka partisipasi warga ke perguruan tinggi. Lanjutkan membaca Pangandaran Akan Miliki Lima Perguruan Tinggi

Puisi Pusvita Defi

LUKISAN TERAKHIR UNTUK MILLAN

Bruce Allender

Di matamu kota Honolulu serasa kebakar, seperti ladang yang disiram percikan api

Debu-debu itu hinggap di etalase ingatanmu, juga celana dalam yang kau pakai sewaktu

melepas lambai pada kekasih mayamu

 

“terkadang Tuhan itu lebih suka menatapku seorang diri, meraya sepi, lalu dengan lembut

membunuh cinta yang tidak semestinya kukecup, ucapmu lirih sebelum kereta mengantar

detak jam yang terasa tua menuju Melbourne. Kota tua yang mengeram kenangan

//

Di pantai Waimanalo, sore itu, udara gigil terlalu asing untuk  di nikmati, ombak begitu

garang, burung merak mengepak sayap di jingga yang hampir terbenam, perlahan dingin

dalam dadamu menyeruak pitam, dan sebentuk kenangan yang menyerupai

daun-daun maple jatuh tepat di keningmu.

//

Tiga tahun berangsur lalu

di sudut ruang yang penuh redup dan sunyi

kepalamu terasa nyeri, matamu berkunang-kunang

bagai dihantam sebuah bongkahan batu besar

kau menatap ke luar jendela, angin berdesir lambat

kecamuk dalam batin semakin teriris

ketika lekat  tatap lukisan  di atas dinding itu membentur kembali ingatanmu

“aku tidak ingin  terpukau pada bibirmu yang terlalu rapuh, dan binar matamu yang

memukau, sayang.

sebab di sini telah kumakamkan jasadmu dalam genting jeruji waktu

juga semburat air mata yang kian layu

dihantam cemburu,  ihwal kerahasiaan cinta

yang kau tusuk tepat di punggung hatiku

 

jangan menangis atau pun merintih,

sebab kisah putri tidur dan dongeng lainya adalah sebuah cerita  yang paling kubenci

dan aku tak betah sewaktu mencium bibirmu lalu dengan tergesa meracuni lambungmu

maafkan aku, Millan

terlarutlah kau dalam eraman ujung kuas dan halaman kanvas yang kupersembahkan

untukmu terakhir kali

kecammu dengan serinai kelopak mata yang

berkaca-kaca dan luapan emosi membabi buta.

    Pelalawan, 14:54 Wib

 

MANTERA PARAKANG

lelaki penganut Parakang

itu telah menanam dendam diatas pusara

Eyangnya yang  mampus disabit

oleh kaum Bangsawan, gumpalan darah hitam

berkunang-kunang di atas batinya meradang

menumpas liang dendam,

Barangkali bagai cambuk api membakar hati

 

Di malam jumat kliwon

di rentan bulan sabit

Sebuah ritual disajikan

Rangka, sehari menjelang pernikahan

Puteri bangsawan dengan Tutu, kekasihnya.

dua tetes darah perawan

telah ia sungguhkan
menyuruh mambang bertandang
menyilaukan taring
melumat gadis kampung  yang terbungkus perawan

teramat rawan

//

Seraya kabut pagi menjelang,
ilmu guna-guna itu telah melekat
di atas pangkal rambut Puteri Natisha
hingga kokok ayam melengking,

Rangka berhasil mencuri Natisha dari istana

//

Di lereng gunung,
Lelaki berbudak setan itu mentabiat
sesembah yang akan ia tumbalkan

untuk menambal ilmu gaibnya

dan Natisha yang lincah bakal ditumbal

untuk persembahan terakhir

dengan mantra yang ia ritualkan

 

Manusia yang beralih rupa menjadi Serigala,
yang menyanyikan kidung-kidung purba,
telah menyambut tetes-tetes darah perawan Natisha!”

 

Akan tetapi, Dewa jagat batera bertakdir lain.

sebelum semua itu terjadi, secarik pesan rahasia

ditemukan Tutu di loteng Rumah Rangka,

lalu ia memecah kode-kode  Rerahasia

dalam kitab kuno ilmu Parakang,

hingga akhirnya Tutu pun berhasil menumpas

darah bejat Rangka, sebelum perawan  Natisha tumpah

              Pangkalan Kerinci, 2016

 

PEREMPUAN  YANG  MENANAM  API  DI DADANYA

Perempuan itu berkecak

matanya bagai bara yang meluap-luap

barangkali, seliang luka telah mengubun

menancap di lubuknya paling purba

 

Pukul dua dini hari

di patung yang tergantung

bewarna merah—serekah darah

perempuan itu telah ditawan

oleh sekumpulan buaya putih berkepala manusia

tubuhnya dicabik, di rampas kesuciannya
orang-orang berdoa menghilangkan kepala

dan hatinya

sepasang burung ruak mengepak

membiar tubuh perempuan itu dilahap derita.

 

Di luar—senja terbenam

langit pitam, malam bertandang

angin datang

menghantam bagai tajam belati

kendati perawan dirampas habis

namun desir dendam tetap menyala

di lubuk—perempuan yang membara api

di dadanya

Pangkalan kerinci, 29/09/16

 


Pusvita Defi, Wanita kembar Kelahiran Medan, 23 Juni 1994, menyukai seni Teater dan Sastra Beberapa Puisinya dimuat di laman : Rakyat Sumbar, Sumut Pos, Basa-basi.co, koran Harian Cakrawala Makassar, Batam Pos, RiauKepri, Detakpekanbaru, Tetas Kata, Banjarmasin Post, Rakyat Sultra.

Penyair juga memenangkan beberapa Lomba Baca puisi diantaranya: Juara 1 Baca puisi Se-Riau, Juara 1 Baca puisi Bulan Bahasa UNRI,  Juara 1 Baca puisi UR, Juara 1 Baca Puisi Gelora Puisi UKM-Batra

Karya-karyanya pun termaktub dalam Himpunan Puisi dan antologi Cerpen, Bergabung di Komunitas Pena Terbang (Competer), Kenduri Puisi Pekanbaru

Penyair berdomisili di Riau- Pekanbaru

Puisi Lia Amalia Sulaksmi

 JIKA TAK TAHU JALAN PULANG

jika kau tunjukkan jalannya maka akan kutabur kamboja di atas nisannya
sampai musim yang sunyi menemukan mekarnya kembali, entah berkilo panjangnya itu
tiada tahu, tempat singgah apa yang telah mencium bau surga
tubuhmu tubuhku tak berarti apa-apa
hanya kau tahu? denting musafir di setiap perjalanan
menambah kekuatan, cinta atau dendam atau rindu
semakin erat semakin luruh dalam ketidakkuasaan kita

apa yang kurengkuh, detik! tiba-tiba menghambur bagai hujan
menembus peluhku, menimbun baramu

jika tak tahu jalannya, maka kamboja menahan sedihnya
dari pengembaraan yang tak pernah mampu diselesaikan

Bandung, 2-9-14

Setahun yang lalu, dia memberiku harapan, entah Tuhan yang memberikannya? Lewat pikirannya, aku menemukan diriku, menemukan apa yang telah hilang selama ini. Lewat dirinya aku juga menemukan salahku. Menyusun kembali batu-batu yang sudah menjadi kerikil runcing.

“Aku menemukanmu, melalui celah-celah kesakitan. Kau membuatku tertawa, seakan tawa benda purba di tanganku waktu itu”

#EPS 1

KETIKA MENEMUKAN

memasuki rumah, menghembus napas dan aroma mawar
yang ditertawakan sepi seperti memukul-mukul mata
kepala menatap namun hati menyayat, jejak jejak di beranda
mengisi hampa; aku menemukanmu, risalah yang cemburu

masuk lebih lama; tungku api menyala, diam-diam aroma masakan menusuk jantungku
almanak tua tergantung miring, dinding muram dan detak jam melebam dadaku
;aku menemukanmu ketika kertas-kertas berbaring tak berdaya

di pembaringan yang kian sunyi, alarm menghunus tubuhku
gambarmu tersenyum di sudut paling berwarna oleh lampu-lampu
;yang berjuang mempertahankan hati
aku menemukanmu mengelus keperempuananku

aku berlari dan kuhitung bintang di halaman belakang
rambut yang tergerai meniup senja yang lapar
punggungmu di tepi ngarai mengurai banyak hal
kutangkap tanganmu kudekap tubuhmu kuciumi kerinduanku

sungguh-sungguh aku menemukanmu, ilalang berarak adalah waktu singgah yang lama

Bandung, 10-9-14

Sungguh! Itu setahun yang lalu, dan akhirnya dia menemukan rasa sakitku di celah paling tersembunyi. Katanya, “aku membayangkan bagaimana orang itu bisa tetap menciummu, ketika engkau menangis dalam luka.” Aku tertawa miris dan pilu. Sedangkan dia mengelusku dalam setiap kata-kata puitisnya.

“Kau mengerti! Betapa berharganya engkau melebihi apa yang dimiliki dunia ini, tetapi kau lebih memahami, cinta akan lebih membuatku perih kehilanganmu. Dan kini aku akan kehilanganmu”

#14

biarkan aku berlari, menangisi temaram dalam matahari
gila sebab yang berjuntai bukan saja sungai dan kelokannya
tapi mimpi-mimpi mendaratkan sepi
sehampa laguku sore yang ragu itu

kamu yang memberi kecupan, dari bibir terkatup
gelap dan mesra, angin barat telah menabur pucuk dedaunannya
di tanahku, lama tertinggalkan; pada sebuah nisan

tanganmu wahai sang penyair, meramu masakan tulang-tulangmu
rempah-rempah menangkup ciumanku
batas malam di antara sesak rembulan

dan aku kini, menjadi kelu, saat bayangmu menggapai-gapai

biarkan aku berlari, tepat di jantungmu

Bandung, September 2014

Dia pergi, aku yang membiarkannya pergi. Hari ini, Agustus 2015. Sudah hampir setahun. Aku memberinya kecupan kata yang pahit. Aku pergi untuk hidupnya! Bukan untukku.

“Kata-kata telah menjadi mimpi, mereka menamparmu, dan aku pun tertampar. Dalam kebimbanganku untuk meyatakan aku merdeka dari rasa yang tiada aku sesali, aku masih mencari adakah sela

selain dirimu yang mampu tepat menembus jantungku dengan bunga-bunga? Sungguh hidup ini memberiku akal untuk memilih yang lain, bukan dirimu! Sayang, dalam ketidakmengertian kita, aku hendak memilih jalanku, cukuplah hidupmu dengan adanya sekarang, dan hidupku biarkan mengalir ke jalannya”

Tanganmu wahai sang penyair
akan damai saat sunyi di atas bukit mimpi
memanggil untuk kembali
menjemput pagi

Bandung, 11 Agustus 2015

Ini kisahnya, setahun lalu.

Dan aku memberikan puisi pertamaku padanya, 1 September 2014. Aku menganggapnya seorang teman dari masa lalu, yang biasa berbagi tawa. Setelah lama menghilang dari jagad permayaan, aku menemukannya lagi, masih dengan perasaan yang sama, seorang teman yang sangat lucu.

“Tiba-tiba engkau hadir pada ketidakmengertianku,­ pada misteri masa depan. Kau datang memberi warna, pada hidup kelabuku. Semua orang tidak pernah tahu tentang lubang rasa sakitku waktu itu”

terlelap sayangku, mungkin jiwa
mungkin lainnya, mengenai terbang
seperti camar atas lautannya.
aku atas samuderaku dari kumpulan angin
yang tersedu-sedu.

jika warna itu rindu, aku memulai
dari yang paling sunyi
menemukanmu dari tatap panjang masa silam
seolah-olah terbangun dari mimpi itu

kutemukan palung indah dari kedalaman yang damai

Bandung, 1 September 2014

Lia Amalia Sulaksmi, Ibu Guru Muda yang suka piknik

Aku (bukan) Monster

Oleh : Devian Amilla

“Maaf, bu. Tidak boleh ada monster di tempat ini.” Kata pemilik yayasan tersebut kepada Ibu. Pemilik yayasan tersebut menoleh ke arahku dengan tatapan ngeri. Ibu tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Sambil berlalu kudengar Ibu seperti berbisik kepada dirinya sendiri, “Anakku bukan monster.” Kuikuti langkah kaki Ibu yang semakin cepat. Kutarik ujung bajunya untuk menyuruhnya berhenti. Ibu menoleh kearahku sambil memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Ia berusaha menutupi rasa marahnya.

“Ada apa, sayang? Fahri capek, ya? Kita cari satu sekolah lagi sebelum pulang, ya.”

Aku menggelengkan kepala. Ini sudah berjalan seminggu, tapi tak satupun sekolah mau menerimaku sebagai muridnya. Ibu bersikeras menyekolahkanku di sekolah umum, ia tak mau aku dianggap berbeda. Apalagi dianggap sebagai ‘monster’.

“Fahri mau pulang, Bu.” dengan terbata-bata kuutarakan niatku pada ibu. Ibu menggelengkan kepala dengan tegas. Ibu menarik tangankku untuk tetap berjalan. Aku tidak mau. Aku bersikeras berdiri dan tidak mau bergerak.

“Fahri, apa yang kamu lakukan? Ayo bergegas, sebentar lagi hari mulai gelap.”

“Fahri mau pulang sekarang!”

“Tidak! Kita tidak akan pulang sebelum nama kamu ada di salah satu sekolah di kota ini.” Kurasakan suara ibu bergetar.

“FAHRI MAU PULAAAANGGG!!!” Aku berteriak. Aku tidak lagi menghiraukan sekitarku. Aku menangis sejadi-jadinya. Kulihat Ibu panik dan berusaha menenangkanku. Aku mengambil batu yang berada di sekitarku, melemparkannya ke segala arah. Orang-orang yang berada di jalan sempurna melihatku dengan tatapan ngeri, seperti melihat monster yang lepas dari peradabannya. Ya, beginilah aku. Aku bisa sangat berbahaya jika kemauanku tidak terpenuhi. Aku bahkan sulit mengontrol emosiku.

Sejak lahir aku divonis dokter mengidap Down Syndrome. Aku memang berbeda dengan anak-anak lain seusiaku. Saat ini aku berusia 8 tahun. tapi bentuk fisikku tak seperti teman-temanku. Kepalaku lebih kecil dari kepala anak normal lainnya, ukuran hidungku kecil dan datar, itulah yang sering kali membuatku sulit bernapas. Ukuran mulutku juga kecil, menguncup dan punya lidah yang tebal, dan mengakibatkan lidahku sering menjulur keluar. Bentuk mataku miring dan tidak memiliki lipatan kelopak mata. Kulitku kering, leherku juga pendek, tangan dan jari-jari kakiku pun pendek. Pertumbuhan gigiku juga terbilang lambat dan tumbuh tidak beraturan. Sekarang, kalian paham kenapa Ibu pemilik yayasan tadi mengataiku ‘monster’ kan?

Aku tidak pernah menginginkan terlahir seperti ini, begitu pun Ibuku. Mungkin, Ibu memimpikan anak laki-laki yang tampan dengan bola mata yang indah dan senyum yang mempesona. Tapi kenyataannya, Ibu melahirkan seorang anak laki-laki yang mengidap Down Syndrome. Begitulah hidup, kadang manusia hanya bisa berencana dan berangan-angan, selebihnya Tuhan lah yang berkuasa atas segalanya.

Tetapi aku bersyukur mempunyai Ibu yang hebat. Ibuku tidak pernah malu dengan kondisiku. Ibu memperlakukanku layaknya anak normal. Meskipun seringkali aku membuat Ibu malu di depan banyak orang. Pernah suatu ketika Ibu mengajakku ke Supermarket untuk membeli keperluan bulanan. Ketika hendak masuk, Ibu berpesan, “Fahri jangan sentuh apapun ya, Nak. Kalau Fahri menginginkan sesuatu, minta pada Ibu untuk mengambilkannya.” Aku mengangguk. Ibu menarik napas lega, lalu menuntunku berjalan disampingnya.

Ketika Ibu sibuk memilih barang, kulihat seorang gadis kecil dengan bola mata berwana biru, rambutnya di kepang dua, dan tangannya sedang memegang ice cream. Mata kami beradu, saling tatap. Tiba-tiba saja gadis kecil itu menjerit dan menangis histeris. Aku sama sekali tidak mengerti, aku tidak mendekatinya apalagi menyentuhnya. Tapi gadis kecil itu menangis seperti baru melihat hantu. Sontak seluruh pengunjung berlari kearah kami. Gadis itu terus menangis sambil mengucapkan kata-kata yang tidak kumengerti.

“He’s monsters! He’s monsters!”

“There is a monsters!”

Ibu mendengar teriakan gadis kecil itu dan langsung berlari kearahku, lalu membawaku keluar dari kerumunan orang-orang. Sejak kejadian itu, Ibu tidak pernah lagi mengajakku ke Supermarket. Sama halnya dengan yang terjadi baru saja, sudah entah berapa sekolah yang kami kunjungi, tetapi tak satupun sekolah mau menerimaku. Mereka mengaggapku monster yang berbahaya.

Akhirnya, Ibu mengalah. Ibu membawaku pulang. Selama perjalanan pulang, Ibu tidak mengajakku bicara seperti biasa. Mungkin Ibu masih marah padaku. Akibat ulahku yang melempari batu ke segala arah tadi, tanpa sengaja mengenai kepala seorang kakek yang berdiri tidak jauh dariku. Ibu terpaksa harus membayar biaya pengobatannya meskipun beliau menolaknya.

Sampai dirumah, ibu langsung menyuruhku masuk kamar. Ibu tidak mau bermain denganku seperti biasa. Ibu masih marah. Kulihat kalender di meja kamarku, hari ini adalah hari ulang tahun Ibu. Aku tersenyum, aku mengambil celengan ayam dari lemari. Kupecahkan celengan yang terbuat dari tanah liat itu, lalu kukutip uang yang berserakan di lantai dan kumasukkan ke dalam kantung plastik. Aku akan membelikan Ibu kue ulang tahun. Aku pun keluar rumah tanpa sepengatahuan Ibu.

Aku sudah berada di toko kue. Aku memberikan uang yang ada di dalam kantung plastik itu kepada petugas. Ia menanyakan padaku hendak membeli kue apa? Aku menunjuk kue tart yang dilumuri coklat dan bertuliskan “Happy Birthday” kepada petugas. Sebelum mengambil kue tart tersebut, petugas menghitung uang yang kubawa. Ternyata, setelah menghitung jumlah uang yang kubawa, uangku tidak mencukupi untuk membeli kue tersebut. Aku marah. Bilang bahwa petugas sengaja tidak memberiku kue itu. Aku mulai beringas. Aku berteriak-teriak agar petugas itu mau memberikanku kue tart.

Ketika aku membuat keributan, pemilik toko kue keluar dari ruangannya.

“Ada apa ini?”, dengan nada kesal ia bertanya pada pegawainya.

“Begini Pak, anak ini ingin membeli kue tart, tetapi uang yang ia bawa tidak cukup. Ia mengamuk dan memaksa kami untuk memberikannya.”

Pemilik toko itu terdiam, ia memperhatikanku, melihatku dengan tatapan yang berbeda. Ada rasa kasih sayang dari tatapannya. Pemilik toko tersebut langsung mengambil kue tart itu dan memberikannya untukku. Aku tersenyum, berulang kali mengucapkan terima kasih. Ia mengelus kepalaku.

“Sekarang, pulanglah. Berikan kue ini pada Ibumu.”

Aku mengernyitkan dahi. Darimana ia tahu kalau aku ingin memberikan kue ini untuk Ibu. Seperti mengerti kebingunganku, ia menjawabnya.

“Sudah pasti kue ini untuk Ibumu, anak tampan. Itu terlihat sekali dari matamu.”, sambil tertawa ia mengusap lembut kepalaku.

“Maukah, Bapak membantuku menulis surat untuk Ibu? Aku ingin sekali Ibu membaca tulisanku.”

Dengan senyum yang tulus, pemilik toko itu mengangguk.

***

Aku pulang ke rumah dengan selamat, diantar oleh bapak pemilik toko kue itu. Beliau tahu alamat rumahku dari gelang yang selalu kupakai kemana-mana. Ibu menulis alamat rumah kami di gelang tersebut, untuk berjaga-jaga jika aku keluar rumah tanpa sepengetahuan Ibu seperti sekarang. Begitu sampai di depan rumah, ibu langsung memarahiku. Ibu panik ketika tidak mendapati aku di kamar. Ibu mengucapkan terima kasih kepada pemilik toko itu dan langsung menarikku masuk ke dalam rumah.

Ibu mengambil dengan kasar kotak kue dari tanganku dan mencampakkannya ke atas meja. Ibu menyeretku ke arah gudang belakang, mendorongku dan mengunciku di dalam gudang yang pengap itu. Aku marah, berusaha bilang kalau kue tart itu untuk Ibu. Ibu jahat. Ibu tidak pernah seperti ini sebelumnya. Aku memukul-mukul pintu, minta dikeluarkan dari gudang. Tapi Ibu tidak mau mendengarkanku. Aku kehabisan tenaga, mulai sulit bernapas. Pukulanku di pintu pun semakin melemah. Dan aku mulai memejamkan mataku, berharap mendapatkan kekuatan.

Ibu yang sedang emosi mulai sadar dengan apa yang ia lakukan padaku. Ia membuka isi kotak kue tart tersebut. Betapa terkejutnya ia melihat kue tart yang sudah tak berbentuk lagi. Ada sepucuk surat di dalamnya. Dengan tangan bergetar dan air mata yang berjatuhan ia membaca isi surat itu.

Selamat ulang tahun, Ibuku terhebat.

Maafkan aku jika selama ini aku hanya menjadi beban untukmu

Maafkan aku karena sudah terlalu banyak air mata yang kau jatuhkan untukku

Maafkan aku karena belum bisa menjadi anak laki-laki kebanggaanmu

Mulai hari ini, aku berjanji akan menjadi anak laki-laki seperti yang selalu Ibu ceritakan sebelum tidur.

Sekali lagi, selamat ulang tahun wanita yang paling kucintai dan kuinginkan kebahagiannya…

Ingatlah selalu, Bu. Aku bukan monster seperti yang mereka katakan.

Aku FAHRI, Anak laki-laki kesayangan Ibu.

Aku bukan monster, Bu.

Aku bukan monster!

Aku bukan monster!

 

   Air mata ibu tidak bisa berhenti setelah membaca baris terakhir dari surat itu. Ibu langsung berlari ke arah gudang, Ketika Ibu membuka pintu gudang dan mendapati aku yang sudah terbaring tak bernyawa, Ibu histeris dan menangis sejadi-jadinya sambil bergumam, “Fahri bukan monster, sayang. Maafkan Ibu.” Aku tersenyum melihat ibu dan kubisikkan di telinganya, “Selamat ulang tahun, Bu.”

 

(Penulis adalah Alumni UMSU Jurusan Matematika, Beberapa karyanya seperti puisi, cerpen dan opini pernah dimuat di media lokal maupun luar daerah)

Melepas Pelukan Hujan

Karya : Devian Amilla

Aku memiliki seorang kekasih. Seseorang yang selalu ada untukku. Seorang lelaki berlesung pipi dengan bola mata yang bulat dan bulu mata yang lentik. Seorang lelaki yang perfeksionis. Meski begitu, kekasihku adalah seorang yang setia. Ia selalu ada saat aku membutuhkannya. Ia ada saat aku butuh seseorang untuk melampiaskan amarahku. Tersenyum hangat, tak menatapku kaku. Ia pun tak segan meminjamkan dadanya yang bidang untuk menyembunyikan tangisku dibalik pelukan kokohnya. Hujan, begitu ia kupanggil.

Hujan tak menyukai sesuatu yang berlebihan. Tapi Hujan menyukai hal-hal yang sempurna. Mulai dari penampilan hingga pekerjaan. Hujanku selalu tampil keren, aku suka meskipun terkadang aku tidak bisa menjadi sekeren Hujan. Beberapa bulan lalu, Hujan mengajakku pergi ke acara pernikahan teman kantornya. Aku senang karena aku bisa bertemu dan berkenalan dengan teman-temannya. Hujanku terlihat tampan dengan kemeja maron dan celana keper hitam yang semakin membuatnya terlihat sempurna.

“Apa kau tidak bisa mengganti pakaianmu? Kita akan ke pernikahan teman kantorku, loh.” Hujan menatapku dengan tatapan aneh. Aku melirik pakaian yang kukenakan. Apakah ada yang salah dengan pakaianku? Ini adalah pakaian terbaikku, tapi kenapa Hujan menyuruhku mengganti pakaianku?

“Ini pakaian terbaikku. Apakah pakaian yang kukenakan tidak cocok dipakai untuk ke acara pernikahan teman kantormu?” Aku mencoba mengendalikan intonasi suaraku.

“Pakaian yang kau kenakan tidak matching dengan pakaianku. Tapi ya sudahlah, kalau kau tidak mau menggantinya. Ayo, kita pergi sekarang. Jangan membuang waktuku untuk hal-hal seperti ini. Nanti kita terlambat sampai disana.” Hujan berjalan meninggalkanku yang sempurna berdiri mematung. Mataku panas. Kuikuti Hujan masuk ke dalam mobil. Aku mencoba menenangkan hatiku sendiri.

Di penghujung Desember 2015, karir Hujan meningkat. Hujan naik jabatan dan mengharuskan Hujan untuk pindah tugas keluar kota. Bukannya aku tidak senang mendengar kabar ini. Tapi itu berarti aku harus terpisah jarak ratusan kilometer dengan Hujan. Aku membenci bulan Desember ini lebih dari Desember-desember tahun sebelumnya, tahun ini Hujan akan pergi sangat lama sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.

Sebelum Hujan pergi, ia membuatkanku akun Skype. Katanya, agar ia bisa melihat wajahku setiap malam sebelum tidur. Aku hanya diam.

“Janji?”

“Iya, aku janji.” Hujan tersenyum, mengecup keningku dan menarikku kedalam pelukannya.

Setelah hari ini, Hujan tak akan sama lagi. Hujan mengecupku perlahan di depan bandara kota kami. Bulan Desember adalah musim penghujan. Kali ini hujan deras mengantarkan kepergiannya meninggalkan kota kami. Hujan deras diluar bandara sederas air mataku yang tak juga mau berhenti meski telah diseka puluhan kali. Ia memelukku erat, berjanji akan selalu memberi kabar. Hujan berjanji akan selalu meluangkan waktunya untukku, melakukan video call setiap minggu. Ya, Hujan berjanji.

Juli 2016. Sudah tujuh bulan berlalu. Sudah belasan minggu tidak lagi kami lewati dengan melempar senyum lewat video call. Sibuk katanya. Bahkan membalas pesanku pun Hujan tak sempat lagi. Padahal Hujan telah berjanji. Aku coba memahaminya tapi rasa sedih dan kecewaku lebih besar. Aku merindukan Hujan. Bahkan Hujan tak tahu kapan bisa kembali ke kota kami. Ketika kutanya kabarnya, Hujan marah. Hujan memintaku untuk tidak mengganggunya. Pekerjaan kantor dan teman-teman barunya disana lebih menarik baginya sekarang.

Aku kesepian. Sampai pada akhirnya aku menemukan Summer. Summer lelaki yang menyenangkan. Summer rekan kerjaku. Summer membenci hujan, bukan Hujan tapi hujan. Apalagi jika hujan di pagi hari. Mengganggu aktivitas, katanya. Aku tidak sependapat dengannya. Kubilang bahwa hujan itu menyenangkan jika kita tahu cara menghadapinya.

Malam itu, aku menangis. Aku sangat merindukan Hujan. Hujanku. Aku mencoba menghubungi Hujan. Tapi Hujan tidak bisa dihubungi. Lalu aku mencoba menghubungi Summer. Aku butuh teman curhat. Summer mendengarkan ceritaku. Summer pendengar yang baik. Setelah aku selesai bercerita, hanya satu yang Summer katakan.

“Kau punya duniamu sendiri, jangan menangis lagi.” Aku tersenyum. Malam ini aku memang menangis, tapi hatiku tersenyum. Terima kasih Summer, batinku.

Setelah malam itu, aku memutuskan pergi dari Hujan. Aku mencintainya, maka kubiarkan ia bahagia dengan apa yang ia cintai. Biarlah aku mencari bahagiaku sendiri. Tanpa Hujan. Kukirim pesan bahwa aku telah melepasnya, bahwa ia sekarang bebas. Tidak perlu lagi menyisihkan waktunya yang berharga itu untuk memberiku kabar. Hujan marah. Seharusnya aku yang marah, tapi ia lebih marah dariku.

Ia mendengar kedekatanku dengan Summer. Ia bilang aku tidak memahaminya. Ia menuduhku tidak setia, ia bilang aku membohonginya selama ini. Aku menangis. Tidakkah ia menyadari bahwa jika ada orang yang paling berhak kecewa atas semua ini, orang itu adalah aku?

Gemetar, kuketik dengan perlahan di layar ponsel bahwa aku lelah menjadi yang kedua setelah tugas-tugasnya, aku lelah menjadi orang kedua yang tahu setiap kali ia pergi dengan teman-temannya, aku lelah selalu ada untuknya sementara ia tak pernah ada saat aku butuh. Aku lelah ia selalu melanggar janji-janji kecil yang ia buat sendiri.

Hujan diam. Hujan tak membalas pesanku. Hujan pergi. Aku tak mau menahannya seperti dulu. Aku tak bisa. Aku tak mau. Sekarang  aku memiliki Summer. Sesuatu yang kusuka setelah Hujan pergi. Summer yang hangat. Bukan Hujan yang selalu membuat gigil. Summer yang ceria dan sederhana. Bukan Hujan yang dingin dan perfeksionis.

Maafkan aku, Hujan. Aku pergi.

 ====================================================

 

Devian Amilla adalah Alumni UMSU, Jurusan Matematika, 2016. Perempuan kelahiran 13 Desember 1994 ini sekarang tercatat sebagai Guru Matematika di salah satu sekolah swasta di Medan. Bisa dihubungi di FB : Devian Amilla atau email : princessadevian@gmail.com

Alamat: Jl. Serayu 3 Dusun V, Medan-Sumatera Utara

No. Hp           : 0821 6736 7106

Puisi Puisi Moh.Romli

LITER PAGI

Tak sanggup menahan embun yang berlalu

memaksaku menantang terik matahari

dengan wajah pucat

melawan jeritan lapar yang terasa semakin menyengat

 

lelah aku sangat lelah

Gemetar tangan dan kaki semakin kencang

melewati gang kecoak di bawah got-got panjang

namun tetap saja hasil kepingan logam itu masih tak dapat aku tukar dengan seliter beras dengan harga yang semakin deras

 

mengeluh, bosan dengan harga yang tak terbatas

lalu kucoba mendaki gunung barang kali ada bekas-bekas semalam yang bisa mengganjal perut kita

 

namun yang ku temui bukan itu, melainkan singa yang sedang mencabik – cabik tulang tanpa kasihan.

aku tak tau keadaanku begitupun dengan keluargaku yang masih menunggu liter-liter itu.

 

RINDU MAMAK

Rindu di ujung senja

Mamak, senja itu kembali menusukku

dengan ujung pedangnya yang gelap

 

mamak, senja itu kembali menyambukku

dengan kulit tangannya yang terkupas

seperti yang mamak lakukan waktu aku kecil dulu

 

menyeretku, mamandikanku, menyiapkanku

untuk bergegas di lamur senja itu.

 

terlepas dua gema adalah waktumu

menjemputku

merayuku, menggendongku

 

dan raungan yang kau tahan

hanya untuk duduk dan makan bersama anakmu.

 

Mamak, anakmu rindu akan itu.

 

TIRAKATMU – TIRAKATKU

Lantaran awan memutih

hujan berlalu tak pamit

menyumpahkan rindu kematian

mengabdi keabadian

 

entahlah, yang kurasa bukanlah hakikatnya

melainkan hikmah dari kehendakmu Yaa-Rab

 

atau mungkin ini adalah

pahatan doa mamak

yang masih engkau sapa selama ini

 

mampu membuatku ada

walaupun sebenarnya sudah tiada.

 

tirakatmu dan tirakatku

adalah janji tuhan yang dipersiapkan untukku.

 

AKU TAU ITU

Waktu itu.

Yaah.. sampai saat ini aku masih terus bertanya tentang waktu itu

waktu dimana tiga sukma yang hilang tertangisi.

saat itu aku masih kecil dan keluguannya yang sangat tampak dimata mereka

 

entah dengan kakak dan ibu yang mestinya juga harus bisu, meratap dan melugu

hanya mengasa dan berharap lima daging dan darah yang tumpah dari rahim yang sama kembali menyatuh di puskesmas itu.

 

kami tak pernah menyalahkan siapa dan siapa, sebab kami sadar berharap bukan menunggu, meminta bukan pula membeli.

 

karna kami adalah orang tiada yang cuma mengemis belas kasih tuhan, entah dari posisi mana datangnya, dari gumpalan darah kita sendiri atau malah dari orang lain yang sama sekali kita tak mengnalinya.

 

harapan semakin beku

sementara detik, menit dan jam mengalir saja di tong sampah

seakan tak ada seorangpun yang rela berkorban mencairi asa dan mengalirkan hingga ke tubuh yang terbaring diranjang sepon hitam itu, kecuali bibik yang juga menangisinya, dengan kerelaan, keiklasan dan ketulusan yang sampai melelapkan dirinya.

aku tau itu

 

lima daging dan darah yang tumpah dari rahim yang sama hanya tampak dua,

ketiga daging dan darah lainnya entah melesat kemana

jangankan bertaruh untuk adapun meraka terpaksa

aku tau itu

 

matanya yang dusta

lelahnya yang pura

suaranya yang nyampah

dan rugi nya yang tanpak nyata

aku tau itu.

 

AKU INGIN SURGAMU

Dengarlah desahan anakmu

tinggalkan malam-malam itu, malam yang kerap melukaimu

sebab aku tak rela jika pekatnya sampai menyentuh mu apalagi lirih nya menyelimuti tubuhmu

ibu urungkanlah niatmu

untuk bangun malam menyiapkan ramuan yang akan ibu jual di pagi hari nanti

sudahlah ibu kumohon berhenti jualan

sekian lama ibu harus membanting tulang demi menafkahi anak-anak ibu, dan mengabulkan apa yang di inginkannya

apapun ibu lakukan itu

walau terkadang fisik tak mampu menuruti kemauan jiwanya yang sudah menua

aku tau itu ibu

karna ibu tak ingin anak ibu merasa kekurangan apalagi sampai kelaparan

tapi itu dulu ibu, itu dulu.

di waktu anakmu masih kecil dan sekarang siklus telah beralih

lihatlah anakmu ibu

pandanglah anakmu

anakmu sudah besar

anakmu sudah bisa hidup mandiri

dan bahkan anakmu sudah siap bekerja untuk ibu.

ibu, izinkanlah anakmu untuk menepati janji-janjinya

janji pada ibu dan juga pada beliau (mamak) yang sudah tiada

ini kawajibanku ibu

dan tangga untuk menggapai surgamu

ibu, aku masih ingat pesan beliau di desah nafas terahirnya,

anakku kalau mamak sudah tiada

jangan nakal ya nak

jangan main terlalu jauh

jangan sampai ibumu bersedih karenamu dan bantulah ibumu dalam setiap kesibukannya

sebab dibalik kesibukan itu

ibumu senantiasa menyimpan mutiara yang setiap hari nya ia kumpulkan untuk masa depanmu kelak

karna beliau tak ada alasan untuk hidup kecuali untuk membahagiakan, membing-bing dan mengarahkan mu ke jalan yang benar nak, ke jalan yang di ridhoinya.

ketika ibumu di dapur sedang memasak siapkanlah kayu yang di butuhkannya

jangan biarkan ibumu yang mengambil dan menebas nya sendiri

karena mamak sudah tak lagi bisa melakukannya nak

dan ketika ibumu di ladang sedang menyabit rumput  untuk peliharaan yang ia pelihara hanya untukmu

bawalah hasil sabitan itu nak

jangan sampai ibumu sendiri yang memikulnya

di karenakan mamak sudah tak lagi di samping kalian

itulah pesan beliau ibu.

desahan itu masih tertera dengan jelas di hati dan di telinga anakmu

jadi kumohon berhentilah jualan demi kesehatan ibu.

 

 

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995

Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.

Kumpulan Puisi Terbarunya DI SUDUT KOTA (2016).

No.085232343060

083853208689

[Cerpen]: Perempuan Jadi-jadian itu mati dibawah kasur

oleh: Ferry Fansuri

Kamar itu letaknya dilantai dua hotel murahan itu, ukuran tidaklah terlalu besar. Single bed room berhadapan layar lcd televisi saluran channel digital satelit, lampu sedikit remang-remang kekuningan. Sirikit telah lama berada di kamar itu tapi tak tahu tanggal dan bulan berapa sekarang, tak tahu kapan masuk dalam ruangan itu. Ia hanya terdiam terpaku disana, terkadang mendengar suara kebisingan lalu lintas Pattaya diluar jendela kamarnya.

Di waktu malam Sirikit tidak bisa tidur, matanya terus melek tak bisa dipejamkan sama sekali. Suara-suara itu itu terus mengganggu dari luar dan kamar sebelah, ia tidak bisa menutup telinga. Menusuk ke gendang telinga bagai tawon berseliweran kesana kemari bahkan membuat mata merah pedih.

Sirikit merasa sendirian tanpa teman, tidak ada yang memperhatikan tapi ia tidak bisa pulang. Ada sesuatu yang menahannya disana, tubuhnya seperti kaku tak bisa bergerak sama sekali.

Saat pintu kamar itu terbuka, seorang cleaning service tampak membawa kain pel, sapu dan bak berisi air. Suara Sirikit ingin berteriak tapi pita suara seperti tercekik tak mengeluarkan kata sekatapun. Cleaning service tetap melakukan aktivitasnya, memberesin selimut, menata bantal dan menyapu kotoran dilantai.Tak ketinggalan menggosok bekas kotoran-kotoran manusia melekat di toilet.

“Dasar penyewa tengik, buang hajat tak disiram” gerutu cleaning service terlihat gemulai dan jari lentik tapi terlihat ia adalah seorang pria. Dan ia tidak melihat Sirikit sama sekali disana atau tidak tampak.

Bau apek dan menyengat membuat hidung cleaning service mengendus-endus mencari asal bau. Tapi tak ia temukan, akhirnya ia menyemprot wangi-wangian ke seluruh ruangan.

“Jangan pergi, tolong aku” Sirikit memohon dengan sangat tapi kata-kata tersendak dengan ludah di tenggorokannya. Saat terakhir cleaning service menutup pintu, malam itu Sirikit kembali sendiri disana. Berteman sepi dan berselimut keheningan hingga menjelang esok

 

*********

 

Hari berganti hari, senja merayap ke malam.Sirikit hanya bisa diam dan didalam otaknya terus berputar mencari jalan keluar dari tempat sial ini. Tapi sia-sia, semua syarafnya tidak bisa ia kendalikan sama sekali. Sirikit tak bisa menggerakkan jari-jari tangan ataupun kakinya, semua lumpuh tapi inderanya masih berfungsi. Telinga dan mata masih normal, bisa mendengarkan dan bola mata bisa bergerak ke kanan-kiri seperti mencari sesuatu.

Sirikit memang tidak berdaya tapi dalam ruangan itu tapi bisa merasakan dan melihat semua peristiwa yang terjadi. Pagi itu ada sepasang berlain jenis, pria separuh baya kira beumur 50 an postur tambun, kepala sedikit beruban dan botak meranggas terlihat mengkilap. Datang bersamaan wanita berumur 30-an terlihat cantik dengan setelan kemeja bluse dan rok terusan.

“Khun(pak) kenapa Som dibawa kesini? Katanya kita akan hotel berbintang kok malah hotel murahan begini” sungutnya si wanita

“Nong(dik) jangan marah, disini lebih aman. Kalau dihotel berbintang itu nanti istriku tahu. Mata-matanya dimana-mana nong, disini saja kita juga bisa gituan” kekeh pria tambun hingga perut yang bergelambir naik turun. Sambil mencolek dagu wanita ini, pria merayu untuk meredakan kesewotannya.

“Ah khun nakal” berusaha beringsut menjauh jual mahal, sang pria semakin menggebu-gebu mendekap dan sang wanita tidak menolak.

“Khun kapan mau menceraikan istri, katanya janji menikah aku secepatnya”

“Sabar nong, pasti aku ceraikan tapi masih waktu yang pas tapi sekarang terpenting senang-senang dulu”

Pria ini langsung menindih tubuh asoy semok itu dan mencium bertubi-tubi melampiaskan syahwatnya. Pekikan dan legungan sang wanita membuat Sirikit mual karena telinga tidak bisa disumbat sama sekali. Sirikit merasakan gumulan dan desahan mereka ada diatas tubuhnya.

Mata dan telinga menyaksikan adegan demi adegan tersaji apik dimata Sirikit, sepertinya dipaksa menyaksikan tiap peristiwa yang terjadi di kamar itu.

Terkadang ini bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia telah mati atau menjadi arwah penasaran menghantui kamar itu? Tapi tak tahu jawaban, seberapa berat Sirikit mengingat terus terasa ada palu godam menghantam kepalanya. Sirikit merasa masih hidup, napas bisa ia rasakan dalam hembusan hidungnya. Pori-pori kulit juga merasakan dingin dan panas, gendang telinga bisa mendengarkan jelas bahkan detak jantungnya sendiri terasa dekat. Tapi mengapa tiap orang yang datang dikamar 313 itu tak melihatnya sama sekali.

Seperti juga pada suatu malam ada seorang pemuda datang, raut muka masam dan perawakan ceking yang semalam memandang sebuah foto. Matanya tampak sembab oleh linangan airmata, sesekali ia memukul dadanya, menampar wajahnya atau menjambak-jambak rambutnya sendiri.

“Nongsa, kenapa kau begitu jahat kepadaku? Kau lari dengan begundal itu…hah…kenapa Nongsa?” matanya melototi foto itu. Ia remas dan terus dibuang di ujung kamar tapi kemudian diambil lagi, dicium foto gadis manis berambut sebahu.

“Maafin aku Nongsa, tadi aku aku menyakiti kamu?” kata-kata memelas dan mulai tertawa sendiri kehilangan akal. Pemuda tak pernah keluar dari kamar itu, bergelut dengan kesedihan dan keputusasaan. Menenggak bir, menelan extacy atau menyuntikan beberapa morfin dilengan kanannya. Merusak dirinya sendiri dan menyesali kebodohan tak bisa mendapatkan gadis idamannya.

Selepas teler memasukan morfin ke dalam urat nadi, pemuda ini tergeletak di ranjang. Berhalusinasi bahwa ia terbang tinggi ke langit ke tujuh, Sirikit tak bisa berbuat apa-apa hanya melihat nasib pemuda ini. Keesok hari pemuda ini ditemukan overdosis tapi nyawa sempat tertolong di rumah sakit.

Sunyi kembali, Sirikit sendirian lagi. Sebenarnya orang-orang datang lalu lalang masuk ke kamar itu membuat dirinya sedikit terhibur. Banyak kelakuan unik dan agak konyol,  membuat Sirikit senyum-senyum sendiri.

Macam ada sepasang muda-mudi yang janjian untuk ketemu dikamar itu, sebelumnya belum pernah ketemu hanya bersua di medsos facebook. Si cewek menjanjikan akan memberikan tubuhnya, sang cowok mengiyakan bagaikan anjing yang ketemu tulang, menggonggong. Setengah telanjang dari tahap foreplay sampai menjelang intercourse, tiba-tiba..

“Stop, aku tidak mau melakukannya kalau kau tak pakai pengaman” cewek menghentikan gerilya si cowok untuk mengerayanginya.

“Sana cari dulu, baru aku mau” usir cewek itu dan cowok itu mengangguk iya keluar dari kamar

Berselang beberapa menit, cowok itu datang membawa kondom kebahagiaan buat pujaan tercintanya. Tapi yang ia dapati kamar kosong melompong, dompet, Iphone dan kunci matic raib bersama sang cewek kabur.

Mulut Sirikit mau tertawa terpingkal-pingkal, pita suaranya tak mau diajak kompromi tak suara sama sekali.

Banyak cerita dan peristiwa-peristiwa Sirikit saksikan tapi mereka tidak bisa melihat dia. Ia merasa nyata hadir di kamar itu, tapi tidak semua mengacukan Sirikit. Sempat ada duo suami istri bule ostrali backpacker menyewa kamar itu, saat mereka datang ke kamar sang istri mencium bau tak sedap. Terus mencari-cari asal bau tersebut, saat melongok ke bawah ranjang, mata bule itu memandangku tapi ia seperti tidak melihat aku.

“Tolong miss, help me” Sirikit mencoba berkomunikasi dengannya tapi sia-sia. Bule ostrali itu memanggil pemilik hotel murahan tersebut untuk komplain bahwa ada bau yang menyengat sekali. Sang owner dengan santai mengatakan semua bisa ditangani, bos memanggil anak buahnya untuk menyemprot pewangi lavender. Bau aneh menghilang, duo backpacker melepas lelah diatas ranjang.

Sirikit hanya menghela napas dalam kesendirian, kamar itu gelap kembali hanya sinar matahari kecil menerobos. Beberapa hari kamar 313 tidak ada yang menyewa, Sirikit tidak melihat pintu itu dibuka. Terasa lama sekali tidak orang masuk, apakah sedang ada renovasi atau low season turis ddi Pattaya lagi menurun.

Sempat sekilas pintu itu terbuka, Sirikit melihat bos hotel bercakap-cakap dengan pria berseragam, bersepatu boot, berkacamata hitam dan bertopi brigadir. Ada wajah pucat basi dari bos ketika pria itu menjelaskan sesuatu,..ah aku tak tah apa yang dibicarakan mereka. Sebelum pintu itu ditutup, sekelebatan sebuah pita yellow line melintang depan pintu kamar itu.

 

***********

Chiangrai Times. Polisi Thailand menahan 2 remaja terkait kasus pembunuhan terhadap seorang lady boy. Mayat korban dibunuh dan disembunyikan dibalik ranjang hotel Pattaya agar tidak ketahui. Berawal dari pertemuan korban di Facebook, mereka bertemu dikamar 313 hotel itu. Korban dicekik setelah menolak berhubungan intim, mayat membusuk selama 3 atau 4 hari tersimpan rapi dibalik tempat tidur tertumpuk kasur, baru ketahui jasad tersebut saat sepasang muda-mudi chek in mencium bau busuk dan meminta staff hotel untuk disemprotkan pengharum ruangan. Tanpa disadari, mereka telah tidur diatas mayat itu. (neo)

Pematang Siantar, Maret 2017

 

Biodata Penulis :
Ferry Fansuri kelahiran Surabaya adalah travel writer, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya “Roman Picisan” (2000) termuat. Cerpen “pria dengan rasa jeruk” masuk antologi cerpen senja perahu litera (2017). Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional. Dalam waktu dekat menyiapkan buku antalogi cerpen dan puisi tunggal.
ferry_fansuri@yahoo.com
HP. 0818509233
Alamat Simogunung Barat Tol 3 no.1B Surabaya 60181

 

Memudarnya Sastrawan Publik

Oleh: Matroni Musèrang*

Indonesia pada umumnya dan Yogyakarta khususnya, akhir-akhir ini, bukanlah tempat yang adem, nyaman untuk membaca WS. Rendra, Pramodya Ananta Toer, Chairil Anwar, Wiji Tukul, Sitor Situmorang, Umbu Landu Paranggi, Umar Kayam, Romo Mangun dan Kuntowojoyo. Meskipun kepenyairannya cukup dikenal dan beberapa sajaknya menjadi wacana dan didiskusikan di kampus-kampus dan komunitas-komunitas, namun terasa jauh jarak antara diskusi dan aksi, keterkenalan mereka dalam berproses, menciptakan sejarah sastra Indonesia dan apa yang sudah dan mungkin bisa kita kembangkan darinya Yogyakarta secara khusus dan Indonesia secara umum.

Kita boleh mencela, mengkritik, bahkan membenci sajak-sajak mereka (WS. Rendra, Pramodya Ananta Toer, Chairil Anwar, Wiji Tukul, Umbu Landu Paranggi, Umar Kayam, Romo Mangun dan Kuntowojoyo). Tapi rasanya banyak orang suka dengan berbagai acara sastra, diskusi sastra, seminar sastra dan banyak orang suka pada sisi mereka sebagai manusia yang bebas mengekspresikan imajinasinya dan gairah kreativitasnya, seolah-olah hidup tak beraturan. Namun kita mengelu-elukan dengan memperingati dan selalu menyebut mereka sebagai sastrawan, meskipun belum tentu kita mau atau mampu, mengikuti jejaknya karena darinya kita berharap bahwa kran kepentingan sosial-kemasyarakatan dan kepentingan publik bisa terus dibela dan diperjuangkan.

Mereka adalah pemikir, ilmuwan dan sastrawan publik dengan santun memancing pikiran dan imajinasi kita, yang seolah-olah merongrong kemapanan dan realisme-strukturalisme bukanlah filsafat yang disukainya. Mereka semacam bintang film dengan senjata pemikiran, dan ketajaman kata-kata yang darinya kita berharap apa yang tak dipikirkan dari kelompok kepentingan dan partai politik dan kita berharap kepada mereka apa yang tak mungkin menjadi mungkin. Dari orang seperti mereka, kita bisa berharap muncul keberanian-keberanian sikap dan kesediaan untuk menjadi teman, menjadi speaker kebenaran dengan segala ongkos, termasuk hidup “kaya pengetahuan” dan di usir dari panggung kepahlawanan.

Sosok mereka yang matang dan sekaligus berani, terkadang diromantismekan oleh pemuda. Secara sosial-spikologis mereka lah kelompok yang paling mungkin untuk hidup bohemian. Pemuda yang merasa bebas dari nasehat orang tua, pemuda yang tidak memiliki tanggungjawab mencari nafkah untuk menghidupi keluarga sendiri. Romantisme seperti yang pernah digambarkan oleh Ben Aderson tentang revolusi pemuda pada tahun 1972.

Untuk orang-orang seperti mereka itu, Yogyakarta secara khusus dan Indonesia secara umum hari ini bukanlah kota yang ramah. Sebab hari ini yang dinomersatukan di sini sekarang adalah “kuliah cari ijasah-karir” dan “profesionalisme”. Dan dua kata ini seperti mantra suci yang harus di zikirkan setiap malam dan siang hari untuk mengumpulkan sebanyak mungkin uang dari keahlian teknis yang maknanya semakin sempit se-sempit-sempitnya. Sesudah itu waktu senggang dihabiskan di tempat wisata, di jalan-jalan raya yang semakin macet, dengan dana hidup yang terus mahal, pikiran dan hati didorong terus untuk menjauh dari humaniora, pada novel, puisi, cerpen, pada literatur antropologi, psikologi, sejarah, dan filsafat yang mempertajam kepekaan kita pada manusia, mempertebal rasa gotong royong kita, sesuatu yang diagungkan dalam karya-karya mereka. Ketika waktu kita hilang tanpa makna, sementara kita terus dikejar target, bukankah humaniora makin tampak tak bermaknanya, ini sejalan dengan prediksi yang pernah dilontarkan Jurgen Habermas?

Maka tidak nyaman membaca karya mereka hari ini, sementara mereka lebih mengedepankan manusia dan kemanusiaan, Indonesia menuntut agar kita lebih rela tunduk pada orang asing, dan lebih individualistik-pragmatis-materialistik. Saya tak bisa membayangkan bagaimana seandainya WS. Rendra, Pramodya Ananta Toer, Chairil Anwar, Wiji Tukul, Romo Mangun dan Kuntowojoyo masih ada di tengah-tengah tungganglanggangnya Indonesia, mungkin mereka akan lebih sering difitnah dan dikafirkan bahkan dimusuhi, mungkin tidak ada keberanian untuk menciptakan teori sendiri dan berjuang atas nama rakyat yang sebenarnya, sebab karya-karyanya tidak dimaknai dan direnungkan dengan serius, dan saya ragu apakah Romo Mangun masih mau bersama rakyat di Yogyakarta, apakah Pram masih bisa membuat karya sehebat karya-karyanya terdahulu, apakah Umbu masih layak di sebut presiden penyair, sementara ada penyair yang menyebut dirinya presiden penyair, apakah Kuntowijoyo akan marah-marah lagi karena kita hanya mengkonsumsi teori-teori orang lain, apakah Wiji Tukul akan melawan ketidakadilan dan koruptor, apakah Rendra akan mengkritik habis para birokrat sementara birokrat santai saja, apakah Chairil Anwar akan mencuri buku lagi untuk proses kreativitasnya, apakah Sitor Situmorang akan memberikan pemahaman para politisi yang kini suka berdebat di tv-tv?

Merenungkan mereka di Indonesia atau di Yogyakarta hari ini, teringat akan judul esai ini “memudarnya sastrawan publik” sastrawan/penyair kita hari ini dan orang-orang yang mengaku sastrawan.penyair belakangan ini mayoritas sudah tidak mau lagi hidup sebagai bohemian, menghabiskan waktu senggang untuk berdiskusi, berdialektika, berpikir serius tentang hubungan antara berbagai disiplin keilmuan dan menulis, membaca tentang berbagai problem sosial dan public yang bisa dibaca oleh kalangan terdidik, untuk menyadarkan, mencerahkan dan berdialog dengan mereka.

Tiba-tiba kita lebih memilih hidup berisiko di kota-kota, lebih suka untuk hidup lebih teratur dan disiplin, lebih siap nikah, dengan konsep KB, berakhir pekan dengan nonton film di bioskop, nonton televise, nonton bola di stadion, kita jarang di warung-warung atau di rumah-rumah sesepuh untuk membahas problem publik dan wajar jika karyanya dicirikan oleh ketidakterbacaannya oleh publik, dan ir-relevansinya dengan keseharian.

Saya selalu iri pada tahun 1980-an dan 1999-an, ketika membaca sejarah kesusastrawan dan kesanstrawanan Indonesia dengan generasi Goenawan Mohamad yang tumbuh subur dengan iringan bacaan yang bermutu, seprti Horison, Budaya djaya yang terbit teratur. Namun saya senang masih bisa membaca buku-buku sosial-humaniora yang dikeluarkan Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial (YIIS), seri filsafat Driyarkara, jurnal Filsafat UGM. Yang lebih memprihatinkan penerbitan makin merosot mutunya. Tokoh-tokoh buku lebih PD memajang buku-buku how to dan self help yang seringkali best sellers. Orang-orang masa kini sudah kehabisan daya dan energi untuk membaca karya-karya yang merangsang pemikiran dan menuntut untuk berpikir.

Maka saya memutuskan untuk tidak pergi ke toko buku karena di sana tidak dipajang karya Nietzsche, Kierkegaard, Sartre, Arendt atau Kafka, Pramdya atau Chairil yang menarik untuk dilirik. Saya juga tidak akan ke warung-warung kopi yang bersaingan satu sama lain, selain harga kopi mahal di sana, karena di dalamnya ada para aktivis, politisi dan pengusaha yang mempertukarkan kepentingan demi kepentingan.

Tapi jarak antara mereka dengan kita hari ini bukan saja tampak pada sulitnya sisi bohemiannya, yang menjadikan kesastrawanan/kepenyairannya sebagai sastrawan publik untuk kita refleksikan hari ini. Kesenjangan yang menonjol dapat kita lihat dari apa yang mereka idealkan untuk berbuat secara riil atau tidak dan apa yang secara aktif-aktual kita lakukan.

Apakah sekarang ini yang disebut zaman jahiliyah, zaman dimana perang ideologi, pemikiran tertentu disebar untuk meracuni keilmuan kita. Jangan-jangan kita masih berada dalam posisi tragis, walau pun semangat pemuda berkoar-koar, namun pemuda masih ragu-ragu karena lahir dari ketidaksukaan membaca buku bermutu, pemuda banyak berpegangan pada “lawan”, dan “hidup atau mati”, sehingga pemuda banyak yang hanya hafal nama-nama sastrawan besar yang kemudian dengan PD mengutipnya tanpa tahu maksudnya, sebab bukan hanya namanya yang mampu memperjuangkan kemerdekaan manusia dan vitalitas hidup, tentang kedamaian, cinta, dan kemanusiaan. Apalagi sastrawan hari ini memang bukan tipe orang yang serius, bagaimana mungkin kita akan nyaman membaca karya-karya mereka hari ini?

Madura, 21 Juli 2016

 

* Matroni Musèrang, Esais dan penyair

Hp; 085233199668