Galeri

Puisi Novy Eko Permono

 

Muntah

Aku membuka mata
Merasa seluruh tubuh remuk
Aku melihat langit namun tampak tidak seperti biasanya
Ia mengedipkan mata, langit tampak begitu dekat
Ia mengedip (lagi) beberapa kali, kedipan yang lemah
Aku mencoba, namun terasa berat untuk bangun
Terasa
angin mengantarkan debu-debu,
dan bau kandang ke teras rumah
aku ingin muntah

Ruang tamu, 08/16

 

Menuju Kartasura

Pada sebuah minggu
Perjalanku ke Kartasura penuh kantuk
Berbekal kuah soto dengan cabe bubuk
Motor-mobil serupa burung pelatuk
Bertengger pada dahan jalanan yang sibuk

2016

Bunga Anggrek

: Nureini Hanik
Pada lidahmu pernah tertanam
Deretan pot-pot hitam di halaman
Pada ingatanmu pernah tergambar
Sebuah anggrek dengan tangkai yang memudar
Pada sakuku pernah kau titipkan
Vas dan kelopak bunga jantan
Kita adalah dua kuntum anggrek
Padanya  terdapat keindahan,
kerahasiaan yang mengasyikkan.

Kelas menulis, Oktober 2016
 

Jendi dan Masa Silam

: Isnan A.H
Roda berputar
melaju kencang
melawan cahaya keelokan
sawah terjepit deretan pertokoan
Antara rimbun bambu dan kebun tebu
ranting-ranting sengon melambai lugu
derap langkah bocah
bersautan lonceng jam tujuh
Seorang tua
berbaju lekukan batik
tampak olehnya kebingungan
menjual aneka dolanan
memecah senyap
keramaian jalan
Dijalanku pulang
anak-anak berjalan
setengah menari
setengah menyanyi
setengah meledek
“Kok sudah pulang?”
“Gurunya rapat bu.”
aku tertawa
kursi tertawa
dipan tertawa
baju seragam tertawa seragam

2016

 

Ruang yang Biru

Pada ruang yang biru
Aku melihat keluar jendela
Menatap sejauh-jauhnya
Ke arah kolam dengan teratai di tengahnya
Pada ruangan itu
Tersusun tembok-tembok angkuh
Bertatahkan motivasi masa kini
Papan-papan administrasi
Jua poto pak Jokowi
Pada ruang yang biru
Huruf-huruf mulai berpendar
Dari lembaran-lembaran soal
Menuju setiap mata pemandangnya yang kumal
Pada ruangan yang bisu
Penuh laku mengingat
Rumus-rumus yang terpahat
Pada saku celana ketat
Pada ruangan itu
Pedal-pedal dikayuh
Melewati deretan huruf yang lusuh
Pena-pena mulai meliuk malas
Pada lembaran-lembaran kertas
Kejujuran hanya penghias
Kulihat dari sudut ruangan
Udara mulai riuh
Mulut-mulut mulai mencuit
Kode-kode rahasia, kode-kode entah apa
2016

 

Semak Menggiring Malam

Pagi menjemput
Kerbau-kerbau mengisut berjalan
Sepanjang petak-petak
Membuatnya mandi tanah
Sepasang domba
Digiring ke padang rumput punggung bukit
Menggembala bersama bocah lain
Roman mukanya riang
Bunga sepatu
Mendatangkan kupu-kupu
Membenamkan tanah lembab kebiruan
Menyatu bersama lengkung bibirmu
Tak berapa lama
Setelah adzan ashar
Sore segera mengubah banyak hal
Semak-semak belukar berhimpitan
Menerobos dinding berkedip putih
Pekarangan hening
Semak-semak pejal menggiring malam
2016

Menjelma Pasar

Di surau selepas mengaji
mereka datang
berjejalan di atas gerobak
menempuh jalan koral
kubangan kerbau
terbenam di balik kerudung hujan

Rumah kosong sudut jalan
kaca-kaca
lantai keramik
gading yang terus berpijar
menjelma pasar
menggelar baju-baju cantik
sepeda tua
kopra, singkong dan paya

Tukang cukur
bercermin besar
kotak-kotak perkakas
meja kursi
berkalung handuk yang khas

Di sudut lain
bocah-bocah
beradu gambar
duduk
berbaring di langit basah
menenggelamkan diri
dalam kerahasiaan yang menyenangkan

Rumah bukanlah rumah
tak ada kamar
tak ada dapur
kotak-kotak tembok selembaran
memanjang beberapa depa

ketika matahari berpulang pada laut
merekapun pergi
lamat-lamat
menjauh
menghilang
rumah kembali dalam kebisuan
Wonogiri, 2016
Penulis

Novy Eko Permono penggemar tempe ‘mendoan’ garis keras. Saat ini aktif sebagai koordinator Ikatan Jomblo Nusantara Cabang Wonogiri. Terkadang bermain peran sebagai ‘guru’ di Teater Dua Sisi SKND. Dapat disapa via email: novyekop@gmail.com, fb: Novy Eko Permono, hp: 085725073433

Puisi Puisi: An Najmi

Ruang-Ruang Waktu

Waktu bercerita tentang rentang yang singkat, di ruang itu, kuberbaring tanpa satupun kegelisahan, aku sendiri tak mengerti, ruang-ruang seperti menyodorkan ketentraman, kaca-kaca bergetar, tapi bukan hatiku, dan aku tetap diam menyaksikan apa yang kusebut kesendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa.

Prabumulih, 2017

 

Malam Liontin
;Sergio

Mengapa selalu kau ceritakan malam keramat yang menentukan, bukankah ada kesenangan yang kau gali setelah gelap: katamu, seperti aku yang kau tarik menjadi setubuhmu ke dalam cerita, bukan?

Malam seperti guratan kata yang terangkai di mulutmu, pada seutas karangan berkilau dan berkaca-kaca dari canda ke canda

Tugu, 2015-2017

 

di Bawah Alis Mata

di bawah alis mata kurengkuh segala cinta, tanpa pandang bulu-bulunya,
dan semua terkesan lapang, tanpa halang, kulihat begitu saja kau bersentuhan dengan bola mata, mengalirkan tawa, suka dan segenggam bahagia kepada lekukannya, walau kadang tersangkut di air mata, menerawang pandang yang jingga, kepadamu tetap kurebah

Malik Fatih, 2017

 

Pohon Tua Yang Berdosa

di pohon tua ada burung hantu yang hinggap di dahannya, kulihat ia memain-mainkan ranting dan daun dengan hikayat dosa, sesekali berlaga bak primadona dan melengking dengan suara soprannya, kejadian itu sangat menakutiku
menakuti hatiku

2017

 

Lady Gajah

seekor gajah menunjukkan kejantanannya dengan menginjak-injak masa lalu, Lady sudah tiada?; katamu, dan gajah kembali ingin tampan, siap sarapan perempuan-perempuan

2017

Kota Yang Berdo(s)a

Setiap hari langit menjerit bersama awan, sebelum datang hujan, mendung yang tak ketahanan, ia menceritakan bahwa manusia telah berdosa tangannya, tapi hujan menghapus cerita dengan seketika, dengan amarah yang tumpah, ruah ke badan kota, kota yang berdosa

2017

Merobek Napas

di dada, hati, jantung dan paru membisu dari kejaran masa lalu, menekan napas haru, dari seonggok sesal terlampau, yang sangat jauh, di ubun deritaku,

kau yang pernah tumbuh, telah tumbang di kalbu, dalam jajaran yang tak lagi utuh, tersingkap dari tabir ke tabir yang biru, melepas luruh, cerita dan napas lampauku, degub-degub rindu

2017

 

 

Biodata :

An Najmi. Berdomisili di kota kecil Prabumulih, Sumatera Selatan.  Saat ini bergiat sebagai ketua di komunitas puisi COMPETER (Community Pena Terbang) Palembang, Sumatera Selatan. Merupakan cabang COMPETER (Community Pena Terbang) – Pekanbaru.  Untuk mengenalnya bisa add FB-nya An Najmi email : star.annajmi@gmail.com atau handphone : 0822 8057 3060

[Cerbung] Seperti Laut – Bag.II Tamat

Oleh: Daruz Armedian           (sambungan dari sebelumnya)

 

Tak lama, ia sudah berada di dekatku.

Tak lama, aku sudah berbenah diri.

“Maaf, membuatmu menunggu, Kak.” katanya sambil siap-siap duduk.

“Nggak apa-apa, kok.”

Ia duduk di sampingku. Dekat. Dekat sekali.

“Sebenarnya ada apa, sih, Kak?” tanyanya dengan bersamaan kerlingan matanya yang teduh.

“Harusnya aku yang bertanya seperti itu, Sya. Haruskah terus-menerus murung?”

Ia diam sebentar. “Em, habisnya, masalah yang kualami begitu berat.”

“Begini, Sya. Kamu harus ngomong yang sejujur-jujurnya masalah kemarin itu. Sudah satu bulanan, loh, kamu murung kayak gitu. Nggak enak dilihat orang. Begini. Pada waktu kamu bertengkar, adu mulut dengan seorang lelaki yang aku tak tahu siapa namanya, dari mana dia, dan siapamu, mungkin pacarmu, aku mendengarkan seluruhnya.”

“Terus?”

“Ya, aku ingin tahu saja apa yang terjadi sebenarnya. Eh, maksudku kamu jelaskan padaku yang gamblang. Segamblangnya.”

Ia menghela napas. Menghirup udara segar di tepi laut yang biru.

“Seperti ini, Kak. Dia itu pacarku. Tapi tak pernah ngertiin aku.”

“Kok, cuma segitu?”

“Belum selesai, Kak.”

“Oh, belum selesai, toh.” Aku tertawa.

“Aku benci, benci, benci. Kenapa, sih. Ke bandara aja minta ditemenin. Dia nggak nyadar kalau aku sedang sibuk dan, dan katanya itu sangat penting. Dia nggak mementingkanku. Nggak nganggap kalau tugas-tugas kuliahku nggak penting.”

Aku diam. Sibuk mendengarkan.

“Lalu dia malah membawa cewek lain untuk nemeninnya. Kan, aku yang cemburu. Masalahnya aku bukan nggak mau nemeninnya ke sana. Tapi aku sibuk. Sibuk banget.”

“Terus?”

“Ternyata cewek itu tidak hanya dijadikan temen, tapi malah nginep di hotel bersama. Itu apa-apaan coba? Terus foto-foto lalu diupload di Facebook. Foto-foto mesra. Aku sebagai pacarnya wajarlah cemburu.”

“Sudah, sudah cukup. Cukup sampai di situ saja kamu jelasinnya. Sekarang, aku mau tanya. Kamu masih sakit hati?”

“Ya, jelas dong, Kak.”

“Masih mau murung lagi?”

Ia tidak menjawab. Cukup mengerucutkan bibir saja.

“Em, lalu, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya setelah ini?”

“Kok, Kakak nanya melulu?”

“Loh, kan katamu aku mau jadi sarjana psikologi…”

“Ya, nggak tahu. Mungkin masih mau murung.”

“Hahahaha,”

“Kok, ketawa?”

Aku tidak menjawab. Aku memandangi laut. Laut yang biru. Laut yang luas. Laut yang seperti tak punya tepi jika dilihat dari sini. Sejenak ada diam menyelimuti. Lantas, ia bicara lagi.

“Aku iri kamu, Kak.”

“Kenapa?”

“Aku tak pernah melihat kamu punya masalah. Hidupmu tentram. Damai-damai saja. Aku benar-benar iri.”

Aku menghela napas. “Begini, Sya. Sebenarnya, aku juga punya banyak masalah. Tapi kuselesaikan dengan tenang. Tidak diam atau bahkan berusaha lari dari masalah itu. Dan sebenarnya pula, masalah itu dari diri kita sendiri. Kamu, misalnya. Seandainya tidak pacaran. Mungkin saja tidak akan punya masalah yang seperti ini. Benar, bukan?”

Ia mengangguk.

“Nah, jika kita terlanjur membuat masalah, tentu hakikatnya disuruh untuk menyelesaikan. Bagaimana cara menyelesaikannya? Kalau aku, kembali jatuh cinta pada Allah. Ini bukan sok alim atau apa. Yang jelas aku lakukan itu dan berhasil. Sebab, hanya cinta kepadaNyalah kita bisa damai. Hati kita akan tentram. Kemudian, perlahan-lahan masalah itu akan selesai.”

Ia diam. Merenung.

“Apalagi masalahnya adalah hati. Perasaan. Kamu perlu tahu, kalau mencintai orang pastinya ada luka di dalam. Yang sewaktu-waktu bisa muncul kapan saja. Patah hati dan sebagainya. Obatnya apa? Cara menyelesaikannya bagaimana? Ya, seperti itu tadi. Jatuh cinta kepada Allah. Cinta kepada Allah. Sebab, aku yakin, Dia tidak akan mengecewakanmu. Tidak akan membuatmu patah hati.”

Ia mengerlingkan mata. Mengerutkan dahi. Kemudian tersenyum. Senyum yang masih getir.

“Sebagai contoh, laut. Laut terlanjur membuat masalah. Ia membiarkan panas matahari mengurangi stok airnya. Ia tak berani mencegahnya. Masalah, kan? Itu sudah terlanjur. Tapi, ia tidak diam. ia terus berdoa kepada penciptanya agar airnya kembali. Dengan doa itu, skenario Sang Pencipta yang tak pernah ia duga, mengembalikan air itu kepadanya lewat sungai-sungai.”

Ia mengerlingkan mata. Mengerutkan dahi. Kemudian tersenyum. Senyum yang tidak lagi getir, tapi bahagia. Seperti ada sesuatu yang tiba-tiba hinggap di kepalanya. Ia seperti mendapat pencerahan. Kemudian angkat bicara sekarang.

“Oh, jadi ini alasan kakak terus menerus duduk memandang laut?”

“Bukan hanya itu, aku nyari inspirasi buat tulisanku tau’!”

“Benar juga, ya.”

Ia terdiam lama setelah mengucapkan kata-kata itu. Hanya terdengar helaan napas dan sesekali desau angin dari laut. Aku memandang jauh. Ia memandang jauh mengikutiku. Walaupun sebenarnya kita duduk berdekatan.

“Kita harus sering-sering jatuh cinta pada Allah. Pencipta kita. Kalau tidak, ya, mustahil kita akan menyelesaikan masalah.”

“Selama ini, aku rasa semakin jauh dari Allah.” Gumamnya. Aku suka kata-katanya. Ia jujur sekali. Termasuk aku juga yang jauh dari Allah.

“Hem, kalau sudah seperti ini, sholat, yuk. Sudah magrib.”

“Yuk!”

 

**

 

Alesia sudah tidak lagi keluar malam-malam seperti biasanya pada saat punya pacar. Ia makin sibuk dengan kuliahnya. Dan aku suka hal yang seperti itu. Masa muda memang haruslah rajin belajar. Sebelum tubuh renta.

Kini Alesia setiap kali keluar dari kosnya, juga selalu memakai kerudung. Pemberianku kemarin. Eh, dulu. Dulu sekali sebelum ia menjadi mahasiswa. Pada saat ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Ternyata ia masih menyimpannya. Tentu saja bukan hanya semakin cantik tapi juga hal itu dapat menutup auratnya. Hari-harinya sudah mulai ceria kembali. Aku ikut bahagia. Entah kenapa, seperti saat-saat ia bersedih dulu, aku selalu tak mengerti alasanku kenapa bisa seperti itu. Dan pada saat menyapaku, ada yang berbeda dari biasanya. Biasanya dengan senyuman yang meneduhkanku, sekarang bertambah mententramkan hatiku.

“Bagaimana, Sya? Sudah tidak sumpek lagi?” tanyaku suatu hari.

“Sudah nggak, Kak. Hatiku sudah plong sekarang. Memang benar katamu, Kak. Kalau semua permasalahan di dunia ini obatnya jatuh cinta pada Allah.”

Aku tersenyum. Berhasil.

“Kamu semakin cantik kalau memakai kerudung, Sya.”

Ia tersipu. Memang perempuan sering tersipu apabila mendengar puji-pujian tentang dirinya.

Begitulah perubahan drastis Alesia.

**

 

Kembali aku duduk di pinggir laut. Kali ini tidak ada perjanjian sama siapa pun. Sama sekali tidak ada perjanjian. Aku hanya ingin bersantai-santai setelah lelah mengerjakan novelku tentang kisah yang belum pernah ada yang tahu. Kisah hidupku dan ce i en te a. Kau tentu bertanya-tanya tentang siapa cinta itu. Atau sebagian ada yang menebak-nebak kalau yang aku maksud adalah Alesia.

“Kak!” suara dari belakang mengagetkanku. Sambil menyentuh pundakku secara tiba-tiba, ia juga tertawa. Suara itu sudah tidak asing bagiku. Alesia.

“Ngaget-ngagetin aja.” Kulihat wajahnya berseri-seri. Pasti ada kabar baik yang menghampirinya. “Padahal aku nggak ngasih tahu kalau aku ke sini, loh.”

“Emangnya harus ngasih tahu dulu baru aku ke sini? Ini kan tempatku menenangkan diri seperti dulu.”

“Tempatmu?”

“Tempat kita.” Tempat kita, katanya. Aku semakin tak mengerti.

“Jangan merenung mulu, ntar kesambet.” Katanya. Giginya yang gingsul itu kelihatan semakin manis.

“Ah, nggak, kok. Aku merenung-merenung amat. Lagipula, apa yang aku renungkan?”

“Ya, entahlah. Kan selain psikolog, kamu juga menulis. Pasti kebanyaklan merenung. Hati-hati kalau merenung.”

“Eh, tunggu dulu. Kelihatannya kamu bahagia banget hari ini. Ada apa?”

“Ini pertanyaan yang aku tunggu-tunggu, Kak.”

“Loh, masa’, sih?”

“Iya, beneran.” Ia terlalu bahagia, sampai tertunda-tunda mau menjelaskan padaku sedang ada apa. Ia masih ketawa-ketiwi.

“Sya, ada apa? Jelasin, dong.”

Ia baru duduk di sampingku setelah agak lama memandangi laut.

“Kak, aku jatuh cinta lagi.”

“Eh, sama siapa? Cepet amat.”

“Sama seseoranglah, Kak. Hehehe.” Ia main-main dengan kata-katanya.

“Maksudku, nama orangnya. Nggak asik kalau gitu, ah.”

“Cie, kakak ngambek.”

“Ngomong-ngomong, sakit hatinya sudah selesai belum. Kok, cepet banget jatuh cinta lagi pada seseorang.” aku merapikan kancing lengan bajuku.

“Udah, dong.”

“Takutnya sakit hati lagi, murung lagi, aku juga ikut sedih, loh. Udah dua kali kamu putus cinta kemudian sakit hati. Terus, lama lagi sakit hatinya. Walaupun yang pertama tidak lama seperti yang kedua, tetap saja kamu sakit hati, kan.”

“Insyaallah, nggak, Kak. Masalahnya saat ini berbeda. Beda banget. Orang yang aku maksud itu mau menikahiku.”

“Beneran?”

“Iya. Aku tidak bohong. Ini buktinya.” Ia mengeluarkan secarik kertas undangan. Aku baca pelan-pelan. ia benar-benar akan menikah bulan depan.

“Alhamdulillah,” gumamku. “Akhirnya kamu akan menjalani hubungan yang halal, Sya.” Ia mengangguk-ngangguk. Tentu saja masih sambil tersenyum.

Aku lanjutkan membacanya. Sampai pada nama lelaki yang akan menikahinya, aku mengerutkan kening. “Handim?” tanyaku yang sebenarnya tidak kutujukan pada Alesia.

“Handim. Iya, Handim. Masa’ kamu lupa, sih, Kak?” tanyanya.

“Iya, aku inget, kok.” Aku bernostalgia. Handim adalah kawan apaling cerdas yang pernah satu kelas denganku. Tapi, belum sempat ia lulus, sudah pidah dulu ke Singapura. Mengikuti ayahnya yang berkarir di sana. Selain cerdas, ia juga menjabat sebagai ketua osis. Ia cocok sekali dengan Alesia yang sekarang. Alesia yang berusaha keras ingin menjadi perempuan sholihah. Alesia yang adik kelasnya dulu. Alesia yang akan berusaha keras membahagiakan Handim nanti tentunya.

Aku tidak habis pikir kenapa Handim cepat lulus kuliah di Singapura, sebab itu tadi, ia anak yang cerdas. Beda denganku yang mengerjakan skripsi, satu bulan lebih belum kelar.

“Sekarang Handim di mana?”

“Sudah pulang ke Indonesia. Sekarang sudah menetap kembali ke rumah yang dulu. Ayahnya berbisnis di Indonesia lagi.”

“Oh, jadi begitu…” aku mengangguk mafhum.

“Hem, ini undangan untuk kamu, Kak.” Katanya yang lagi-lagi dilanjutkan memandangi laut. Semenjak kukenalkan kalau memandang laut yang lama membuat hati jadi tentram, ia sering memandangi perairan berwarna biru itu.

“Oke-oke. Jangan lupa aku jadi tamu istimewanya. Hahaha,” candaku yang garing.

“Itu harus. Eh, Kak. Aku tak bisa lama-lama di sini. Aku ada janji sama temen.”

“Yup, hati-hati. Lalu, semoga pernikahanmu dengan Handim nantinya barokah. Dan sekaligus hubungan yang diridloi Allah.”

Sekali lagi, ia tersenyum. Senyum yang semakin manis. Semakin manis…

 

Kupandangi laut. Walaupun warnanya masih biru seperti dulu, rasa-rasanya ada yang berbeda. Tidak lagi meneduhkan. Tidak lagi menyejukkan. Ketika Alesia beranjak pergi, kupandangi kerudungnya yang berwarna ungu, pemberianku dulu. Ada lagi yang berbeda. Tak seperti biasanya. Ketika ia bahagia, justru sekarang aku yang resah. Aku yang sedih. Di hatiku semacam ada air mata yang maha luas seperti laut.

Tiba-tiba saja aku tak berminat menyelesaikan novelku tentang aku dan cinta itu.

Alesia tidak pernah tahu kalau aku mencintainya. Sejak dahulu. Sejak sebelum ia jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.***

 

Bantul, 1 Desember 2014

 

*Daruz Armedian, lahir di Tuban, Jawa Timur. Alumni MA Islamiyyah Sunnatunnur ini sekarang tinggal di Bantul, Yogya. Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).

email: armediandaruz@gmail.com

 

Puisi Maisyaroh el-shoby

LUKA  PARA PETANI 

Pada musim yang berlabuh

Pada kemarau tandus menusuk hati kami yang rapuh

iIalang senja memahat hati kami yang nanar

luka bekas pacul membias membelah samudra

lain kali hati kami merasa senang dengan ini

tak pernah memaksakan diri

sehingga ku biarkan sapi-sapi mengelilingi jagat raya

antara tani dan polisi sama saja

lukanya tak sampai menggores sukma

lantaran hatinya dipahat didinding kaca

bahwa anak kami yang kecil akan merebut warna jingga menjadi kejora

niatnya tak sampai melukai pada dirinya

hati tak pernah salah menbedakan antara uang rakyat dan Negara

sekalipun ada mereka adalah pecundang dimasa lalu

yang datang dalam keadaan miskin meminta uang pada  rakyat

sebenarnya tidak ada bedanya  antara tikus dan pejabat

yang kerjaanaya mengupas uang melarat

tangan tangannya menjalar keseluruh arah

sekalipun ada mereka akan selamat

karena mereka dilindungi oleh uang laknat

 

MENATAP MUSIM

dan aku,

berlari-lari pada musim hujan

gemuruh angin dan Guntur bercengkrama dalam siang

wajah langit cemas pada hati kami yang nakal

ada sedikit bimbang dan ragu

wajahnya masam menyambutku tak peduli

dan aku,

tertawa bahagia bermain bola dengan kakiku yang nakal

kata ku “jangan hawatir bu, hati kami bermain penuh bahagia”

hari seperti berselimut malam

tak ada yang mengenal waktu

matahari lari dan bersembunyi

dan aku,

mata ku perih

suara ku tak didengarnya

teman ku yang baik berhasil memasukkan kedalam sarang

hati ku berdengus

sial wajah langit kembali terang

wajahku pucat bekas luka semakin tampak dan terang

dan aku,

tersenyum geli mengingat itu

dan akhirnya angan ku mulai terang

tak terasa waktu telah gelap

anak ku sayang telah tidur pulas.

28 oktober 2016

 

Potret Indonesia Kita

Adalah aku mencari angin

Dimana arah menebus luka

Kemana jiwa membahas  petuah

Sebuah senyum yang tersungging

Kembali kepada hening

Sebuah dosa jika tuhan tak member ampun

Hanya menciptakan bahasa luka dan sepi

Tak pantas luka ini terobati

Lantas kemarin tertawa bersama

Ya, itu sebuah gelisah rindu

Permainan kita di masalalu

Pa’-opa’ iling, ilingnga sakoranjang

Peloto’ pelghedeng

Saparea!

Riuh tawa  melepas dahaga

Adalah ciri Indonesia

Kemana kah ketenangan kita?

Sumenep, 7 Agustus 2016

 

Birahi yang terluka

Suara ku serak

Membasahi daun dipagi hari

Menghirup dan melepaskan

Diantara musim kemarau

Bibir yang basah kuyup diterpa angin

Menjelma kemarau panjang dimataku

Hatiku lelah,

Bahasaku layu dalam raung wajahmu

Entah, apa yang terjadi

Adalah rinduku diujung senja

Sengaja membajak langit dimalam hari

Lalu mengembalikan sebagian kepada tuhan

Tentang kehampaan yang tertuah dihati kami

Tak perna dimengerti

Hati kami gersang ya illahi

Bibir kami lelah bertakbir

Atas nama selain engkau

Menjadi budak sepanjang masa

Jika mereka basah dengan mengingatmu

Entah, apa yang terjadi pada hati kami

Gemulai dan senang tertanggap kehampaan hidup

Hati kami gersang

Padang tandus

Tak mampu menyimpan air dimata kami

Oh tuhan,

Kami adalah sebagian yang jahat

Kami adalah jiwa-jiwa yang rapuh disepanjang hidup manusia.

 

MAHASISWA  KEPADA  NEGARA

Kepada bangsa!

Kami adalah kumpulan para pecundang yang tak berdosa

Membiarkan anak anak kami bahagia di hari esok

Menaruh beras dan karung untuk sekedar diterka

Lalu tubuh kami kering dan kerontang

Bibir kami basah sekejap memecahkan langit

Lalu berbaring dan membusuk

Hati kami terenyu tak sempat kami saksikan kematian pak soekarno

Dalam ceritanya di tembak mati oleh pak harto

Bangsa dibeli dengan hasil uang kami

Kepada Negara !

Hari ini sumpah kami berbeda

Sekedar bercanda tikus berdasi tak pernah mati

Mereka semakin bercengkrama dengan puisi

Buku dan  mulut kami dibakar api

Bangsa  dijadikan tumbal peradaban

Keperawanan bangsa diambil paksa

Tubuh tak berdosa merasa puas dan perkasa

Padahal  tubuh yang ranum  tak boleh tinggal diam

Membahasakan puisinya sendiri  kedalam masa lalu

Luka ini terlalu parah untuk sekedar disembuhkan

hati kami hampir rapuh

beribu mahasiswa berlomba menyeret dasi dasi

tak hanya  makanan yang busuk dan basi

ternyata agama telah ditinggal mati

lalu pergi melarikan diri ke ujung sunyi

kepada politisi !

silahkan tumpahkan hati kami yang sunyi

darah tuhan tak pernah mati

aku akan tersenyum melawan diri

karena itu bunuh lah kami

dalam kesesatan yang berbeda

tubuh akan tetap bangkit

suara rakyat adalah senjata sejati yang tak pernah mati.

27 september 2016

 

Dibulan agustus

Malam telah dingin

Menyeruap pada tulang belulang

Yang menggigil diterpa angin

Membawa arus  penyakit menyanyat merasuk jiwa

Seakan pudar dalam angan

Seakan pudar dalam kelam

Mengganti musim pada bulan agustus

Adalah rindu pada ikhtiar  para santri

Yah, aku menahan sakit

Pada sekur tubuh

Lalu kau setia menemaniku disepanjang malam

Sahabat sejati ku

Adalah kebahagian dimusim musim

Tak sadar air mata ku mengalir deras.

08 januari, 2017

 

Menutup senja

Sebenarnya kelelahan telah mencapai puncaknya

Luruh dan gelisah melebur air mata

Secercah harapan dulu hampa

Rindu sekian lama membelah samudra

Ada yang hilang

Ada yang merindukan senyuman malam

Saat sepi dan tertawa

Mungkin saja kau disana

Menggeluti sakit hati mu yang lama

Biar kita buang air yang keruh

Aku ingin mengenalmu kembali

Yang terlahir tuk ku miliki

Maafkan aku yang kaku

Maafkan aku yang lalu

Karena berani menutup mata

08 desember 2016

 

*)M.elshoby  atau Maisyaroh el-shoby  Lahir pada 18 Juli 1997 di Pasongsongan Sumenep. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah Usymuni (STITA). Saat ini, nyantri di PP. Aqidah Usymuni Tarate PandianSumenep. Juga aktif bergiat di LSA (lembaga santri aktif) CANDRA dan UKM  Komunitas  Pelar  STITA Sumenep, no. hp: 085104004932

 

[Cerpen] Bocah Penyihir dan Perempuan Bertatokan Kesedihan

oleh: Ferry Fansuri

Pagi itu di Akwan Ibom seorang bocah mengais sampah untuk menyambung hidupnya. Bocah sekecil itu bertelanjang mengaduk-aduk sisa-sisa makanan diujung jalan itu. Tubuhnya yang kurus kerontang dengan perut buncit penuh cacing, sekujur punggungnya penuh luka akan siksaan masyarakat Uyo-Nigeria Selatan. Mereka menyebut bocah itu pembawa sial, kerasukan atau lebih tepat penyihir menyebarkan teluh jahat.

Badannya hitam legam bermata sayu merah itu mengunyah dan mengerat daging busuk yang telah dikerubungi lalat-lalat kotor. Ia tak tahu apakah itu bersih atau menyehatkan buatnya, hanya insting layaknya binatang untuk menghapus lapar dan dahaga. Bocah ini tak punya pilihan, dilahirkan tapi tak inginkan dan dibuang oleh orang tuanya. Dianggap bukan bayi normal, lahir dengan abnormal cacat.

Tidak ada baju sehelai ditubuh bocah ini, terik matahari dan hujan tak dihiraukan sama sekali. Kaki-kaki kecil itu hanya berbalut kulit tanpa alas menjejakkan bumi bercampur lumpur. Ia tak tahu siapa bapak ibunya, lahir menangis sekarang berkeliaran dipasar itu tak dihiraukan sama sekali.

Sekitarnya ada yang peduli tapi takut untuk dekat bocah ini, cap penyihir akan membawa kesengsaraan dan kepedihan. Mereka hanya bisa membuang sisa-sisa makanan dan dilempar ke hadapan bocah itu. Tangannya meraih tak berpikir lama memasukkan kedalam mulut, air liur menetes disela-sela bibirnya.

Tak mempunyai tempat tinggal dan malam harinya  ia tertidur diujung pasar itu, paginya ia bangun tak ada rengekan anak kepada ibunya atau gelayutan manja seorang ayah. Bocah ini hanya duduk termenung terkadang mengigil kedinginan menahan kantuknya sambil mengucek-ngucek matanya penuh dengan kotoran belek. Mengaruk-garuk kepala yang penuh luka bercampur kutu dalam rambutnya

Biarpun anak sekecil itu tapi Tuhan masih sayang dia, tubuhnya terlihat ringkih ada kekuatan dalam tubuhnya menolak untuk mati. Tetap hidup seperti menantang orang-orang yang memandang atau mencaci makinya. Kalimat kotor yang disampaikan ke bocah ini tak dimengerti olehnya.

“Kau pembawa api ditanganmu, kau anah haram jadah..cuiih!” hujatan dan cibiran berbalut ludah diarahkan kepadanya.

Tapi ia tetap diam dan tak mengerti apa yang mereka perbuat pada dirinya dan apa salahnya kepada mereka.

Terkadang suatu malam yang sunyi, bocah ini duduk sendiri memandang bintang di langit. Dalam benaknya mengapa aku dilahirkan jika tidak diakui, bahkan ia tak tahu namanya sendiri dan tak sempat mengulum tetek ibunya sendiri. Tak bisa merasa kesenangan anak kecil sepertinya lainnya, bermain bola atau saling berkejaran mengejar matahari terbenam.

Hal yang ia bisa lakukan hanyalah bagaimana melawan rasa lapar dan haus yang berada di dalam perutnya. Cacing-cacing dalam perutnya terus berontak dan minta jatah pada tuannya yang masih kecil ini. Ia hanya tahu bertahan hidup, memungut makanan yang ditinggalkan pemiliknya dan minum air sisa dari botol yang terceceran di ujung jalan itu.

Suatu ketika bocah ini berusaha mendekati kerumunan anak seusianya yang sedang bermain bola. Sifat kekanak-kanaknya itu membuat mendekati mereka untuk ikut bermain, saat bola yang diperebutkan mental kearahnya dan kaki kecil tak kuasa menendangnya mengenali salah satu anak tersebut.

Sesaat itu terhenti keriuhan disana, mereka memandang bocah ini dengan tajam seakan sangat membencinya.

“Penyihir cilik…penyihir cilik…pergi kau! Tubuhnya tak diundang disini” teriak salah satu anak disana. Mereka kompak menghujat bocah ini, melempari ia dengan batu dan mengenai kepala. Lemparan-lemparan itu membuat kening mengucur darah, tidak kepala bahkan sekujur tubuh tapi bocah ini tak pernah sekalipun menangis. Orang sekelilingan hanya diam dan tidak berbuat apapun karena hanya mengiyakan perbuatan anak-anak mereka.

Malam ini bocah penyihir ini berselimut dingin dengan sekujur tubuh penuh luka tapi ajaib luka cepat mengering. Masyarakat Uyo mengira bocah sial itu menjadi bangkai mati dan lenyap kesialan di negeri itu. Tapi paginya anak ini tetap hidup dan mengais-gais sampah dekat pasar itu lagi dan mengerat daging busuk kembali. Tuhan memang sayang sama anak satu ini, ada rencana lain buatnya.

Sudah ratusan anak menjadi korban tuduhan penyihir yang menyisahkan pedih jika melihatnya. Tuduhan tidak masuk akal untuk anak kelainan fisik, indigo atau terlihat aneh tidak seperti anak umumnya. Sekte gereja orthodox setempat mengklaim anak-anak ini kerasukan setan dan harus diusir, penguasa tidak berbuat apapun karena kemiskinan menguasai semua lini kehidupan Akwan Ibom.

Malam itu seperti malam lainnya, bocah ini duduk sendirian memandang langit matanya dan disampingnya ada seekor anak anjing yang tengil kotor disampingnya. Tanganya mengelus-mengelus kepala anjing ini

“Kau kesepian juga, akupun demikian” ujarnya biarpun anjing tak tahu apa yang dikatakan dan hanya menjulur-julurkan lidah.

“Andai dunia ini kiamat dan tak ada satuppun orang hidup. Maukah kau jadi temanku”

“Orang-orang membenciku, apa kau juga membenciku?”

“Guuuk…guukkk” timpal anjing tapi tak tahu apakah jawaban iya atau tidak sambil mengibas-gibaskan ekornya.

Percakapan bocah ini dan anjing jadi penghias mimpi malam ini yang dingin menusuk tulang

 

**************

Berita tentang bocah penyihir ini menjadi viral di medsos dan didengar kantor berita lokal dan luar. Mereka berduyun-duyun turun ke Akram Ibom untuk mendokumentasikan bocah ini, semua awak kamera menyorotnya jepretan kilat kamera bersambungan menyilaukan mata. Pewarta ini diingatkan masyarakat setempat agar meliput dari kejauhan, polisi juga memasang garis pembatas agar tidak terlalu mendekat kuatir ada jurnalis asing menyentuh bocah ini menular dan membuat citra negeri jelek dimata dunia luar.

Tapi bocah ini tak terlalu peduli akan media yang datang, semua aktivitas diiikuti terus dari ia bangun, berak, kencing sampai ngupil semua tak luput dari sorotan mata kamera media. Esoknya koran pagi terbit sore lokal muncul foto-foto bocah ini, tivi-tivi asing mengulas jadi headline “Bocah Penyihir Akram Ibom” bahkan dilakukan penelitian para peneliti sampai talkshow.

Berita bocah ini menaikkan rating televisi dan oplah koran, ini membuat para pembaca dari luar negeri berdatangan. Turis-turis berduyun-duyun ke Uyo melihat bocah ajaib, datangnya wisatawan ini membawa berkah masyarakat sekitar. Geliat ekonomi mulai naik, devisa uang dollar masuk. Banyak masyarakat sekitar membuka warung dadakan, suvenir dibuar, kaos disablon atau gantungan kunci dibuat.

Selama ini kemiskinan jadi momok sekarang tidak lagi berkat bocah ini, bocah sial ini membawa peruntungan tapi masyarakat Uyo tetap mengganggap hanya sebagai binatang yang ditonton menghasilkan uang bagi mereka

Layak hewandi kebun binatang, turis-turis itu melihat dari kejauhan dengan penjagaan polisi ketat. Bocah ini tak peduli, ia tampak duduk diatas tanah yang kotor berlumpur. Banyak makanan dan minuman dilemparkan ke bocah ini, layaknya monyet mencari pisangnya bocah ini memungutnya. Tepuk riuh kerumanan bergelegar mirip suporter bola saat tim kesayangan menceploskan gol ke gawang lawan.

Berminggu-minggu sampai berbulan pertunjukukan bocah penyihir ini digelar bahkan dikarciskan. Ekonomi penduduk setempat beranjak dari taraf rendah ke menengah atas, para istri bisa membeli perhiasan gelang atau kalung emas yang bisa dipamerkan atau para bapak bisa membeli motor dan para anak memakai baju bagus. Semua itu karena pertunjukkan konyol bocah itu, memang ironis pemandangan tersebut.

Mata sayu bocah ini suatu saat menangkap hal menarik dalam kerumunan itu, sepasang mata itu tampak indah. Mata kiri dengan bola mata biru sedangkan sebelah kanan perpupil hijau. Tapi ada pancaran kesedihan, tapi seperti ada tetes mata mengalir dibawah kelopak mata….ah bocah ini hanya melihat sekilas. Bocah melanjutkan aktivitasnya mengejar dan bermain dengan sabahat anjingnya.

Setelah berbulan-bulan para turis dan awak media luar meliput fenomena ini terjadi kebosanan. Redaktur media menarik crew untuk meliput headline lainnya yang lebih bombastis, turis juga bosan tidak ada yang dilihat dari Uyo selain bocah ini. Sedikit demi sedikit pengunjung berkurang, warung-warung tutup bertumbangan, masyarakat sekitar kehilangan pekerjaan mata pencaharian. Para ibu menggadaikan perhiasan, motor para laki-laki ditarik dealer karena menunggak angsuran. Pada akhirnya kemiskinan kembali ke Akram Ibom, ke awal sekali lagi.

Kejadian ini membuat kemarahan, orang-orang disana menyalahkan bocah penyihir itu kembali.

“Ini gara-gara bocah laknat, kita miskin lagi”

“Pembawa sial !”

“Tukang sihir !”

“Kita bunuh saja !”

“Cincang !”

“Bakar hidup-hidup!”

Semua caci maki dan hinaan sahut menyahut, malam itu mereka membuat rencana busuk

 

******************

Kesunyingan tampak pagi hari itu, deru debu berkibar terkena angin. Kota itu tampak sepi tapi diujung gang tersebut bermunculan wajah-wajah penuh ketegangan dan kebencian, hawa membunuh tersirat disana. Tidak hanya laki, perempuan dan anak kecil di tangan memegang golok, pisau, rantai ataupun balok kayu. Tampak beringas terlihat seperti dari mata mereka memerah.

“Bunuh anak itu!”

“Habisi !”

“Potong-potong, kasih daging buat makanan anjing!1”

Teriakan-teriakan itu membahana di seantero kota, mereka mencari anak itu tapi kebetulan tak tampak batang hidungnya. Mereka terus mencari dan mencari dengan tujuan menghabisi sang pembawa sial kota mereka. Amarah memucak diubun-ubun dan iblis sudah merasuki mereka tapi tak ketemukan buat pelampisannya.

Terlihat bocah itu bermain dengan anjing tengiknya dipinggiran kali kota ini, kerumunan nan beringas langsung merangsek

“Itu dia, gayang! “

“Jangan sampai hilang”

“Bunuh!

Bocah tak tak tahu kenapa orang-orang ini berlari-lari kearahnya dengan membawa beda-benda tumpul itu. Maka terjadi pembantaian sore hari itu, berbagai pukulan, tendangan, sayatan pisau dan sodokan balok kayu menghantam bocah ini. Setelah puas, mereka menginjak-injak ini di atas tanah. Tubuh itu bersimbah darah tergeletak disamping anjingnya yang lebih dulu dicincang.

Merasa bocah ini telah menghembuskan napas terakhir, jasad dibuang di tumpukan sampah berharap membusuk dan dikerat anjing liar.

Tapi mereka begitu kaget, bahwa esok bocah ini masih berdiri tegak mengais sampah kembali. Betapa geram masyarakat Uyo bahwa buruan tidak mati seperti binatang.

Hajar lagi!

Hidup kembali

Hantam sanan sini!

Tegak berdiri

Itu terjadi berulang-ulang hingga pembantaian ke-13 mereka membiarkan bocah ini di tengah lampangan hingga malam. Kali ini mereka percaya bahwa setan dalam tubuh bocah sudah lenyap dan mereka kembali ke rumah mereka masing-masing. Dan tak sadar ada mata yang memperhatikan pambantaian mereka yang miris.

Tengah malam yang dingin jasad bocah tergeletak sendiri, ada seekor anjing mendekati mencoba menjilat-jilat muka. Tak dikira mata bocah ini perlahan membuka, anjing sepertinya kaget hingga lari terkaing-kaing. Bocah ini merangkak dari kematiannya lagi.

“Aku sudah lelah, kenapa tak kau matikan aku saja” wajahnya tengadah keatas langit penuh dengan bintang.

“Aku tak tahu apa salahku ? kenapa mereka memukuliku?

“Andai kau tahu jawabannya?”

Pekat malam itu ada langkah kecil mendekati ia, langkah itu berhenti didepannya.

“Kau ..kau seperti tidak asing bagiku. Mata itu..mata itu begitu indah”

Seorang perempuan mendekati bocah ini, seluruh badannya berkulit putih berajah tato dan rambut putih pirang bak emas berkilau di gelapnya malam itu.

Perempuan ini menyodorkan botol aqua ke mulut bocah sambil berjongkok

“Kau begitu cantik, matamu berbinar”

Mata itu layaknya pelangi, memancarkan harapan dan kesedihan. Kulihat airmata itu meleleh dari matamu tapi itu bukan airmata itu sebuah tato airmata. Kenapa kau tato matamu? Apakah kau membenci kebahagian? Kenapa kau menolongku tidak seperti lainnya menghujatku? …ah aku tak tahu jawabannya.

Kau ulurkan tangamu, kau selimuti aku dengan selimut dan kau gendong aku. Begitu hangat.

Kau ajak aku pergi dari kota sialan ini, pergi jauh dari kota ini. Mereka pasti senang bahwa aku sudah tidak ada, menghilang tanpa bekas dan tidak memberikan kesialan lagi kota ini.

Dalam dekapanmu kurasakan degup jantungmu, lama tak kurasakan ini.

Karena setelah ini dan esok kau kupanggil MAMA.

 

Surabaya, Februari 2017

 

Puisi Maulidan Rahman Siregar

PENYAIR HESTI

penyair hesti menulis puisi

peri hati dan lapar imaji,

dibagi-bagi, dipisahkan mana

madu mana belati, apa yang

terjual dan siapa pembeli

 

selain puisi, sehari-hari

penyair hesti mengaji

mencari siapa betul yang

meminta Adam makan pohon kuldi

 

jangan-jangan bukan setan

barangkali ada pengecualian

gemuruh penyair hesti di dada kanan

 

di ujung kata, penyair hesti bilang

pada dadanya yang lapang bahwa kadang

saya hanya menduga-duga

jangan kejar saya dengan babi yang buta

2016

 

TIDUR, PUKUL SEPULUH MALAM

Tidur bersama buku-buku

tingkahi setiap putaran waktu, menari

menyanyi, riang semesta

du du du…

 

usah kawan, jangan diamkan

lirih hati yang memanggil

ke arah kebenaran

ke arah tenang

 

mengejar masa lalu

sembunyi di bilk hari depan

tulis sesuatu

nyanyikan bila perlu, du du du…

akhir kata

tolong maafkan

kesalahan tak untuk dimakan

 

kau melayang, kau terbang

du du du…

 

YUNUS IBRAHIM DIMAKAN MALAM

la ila ha illallah

kau bertemu gelap maha gelap

gelap lautan, gelap malam

gelap perut ikan

 

kau dibakar atas nama tuhan-tuhan

yang sebenarnya tak pantas dituhankan

 

api tunduk di hadapan

tak ada kuasa lain bagi orang-orang

selain heran

 

la ila ha illallah

kau bernyanyi seperti band indie

2016

 

DOA PENGHILANG KABUT

ya Tuhan, tidurkan Mikail

kami sedang ingin berburu

untuk hidup yang selelu tergesa

 

nanti dulu kirimkan air

kami butuh uang untuk beli air

 

ya Tuhan, tidurkan Mikail

dongengkan kisah cinta, tentang

Adam yang diusir, tentang Hawa

yang penasaran

2016

 

SATE PADANG

hujan, hujan kau tetap mengipas

asap minyak mengepul ke udara

setiap yang berhenti adalah pembeli

 

malam telah larut

dingin-dingin kau berdoa,

“semoga biaya pendidikan menurun

dan buku-buku dapat diunduh gratis”

 

tinggi asap ke udara

memanggil kaum yang menggigil

selamat datang, hai mata uang rendah

Tunggul Hitam, 2016

 

LELAKI PATAH KEMUDI

nasib sepantun dengan tepian patahan

digerus terus digerus air lalu

siap-siap untuk habis

siap-siap hilang

 

menjadi yang diam di lautan

diam batu karang

diam ketika pasang

diam bila surut

 

dijemur mentari

dieram hari esok

biduk sansai menghitung untung

rugi melulu sekujur detik

 

ya Allah, ya Allah, kau panggil

apa yang bisa diselesaikan sablon kaos

2016

 

BAGAIMANA PUISI MENYELESAIKAN INI

aku mencintaimu, dan berpikir keras

bagaimana puisi menyelesaikan ini

 

kurangkai bunga manis bahasa

rima seluas samudera

dalam bola mata

 

cahaya sebagai haluan

memilih singgah atau lanjut

berjalan

2016

 

BERTEDUH, MENEPI

hati kita tak lagi bersua,

meski rindu tak ujung reda.

Seperti butir habbah* yang dipatuki merpati

peziarah, aku bersedia tiada.

 

Siiruu!**, kau kata

tak usah pamit

jangan lagi meminta.

2016

* = Habbah adalah sejenis gabah. Dinukil dari cerpen Triyanto Triwikromo.

**= Pergilah (Bahasa Arab)

 

BIODATA PENULIS

Maulidan Rahman Siregar, lahir di Padang, Sumatera Barat, 03 Februari 1991. Menyelesaikan pendidikannya di IAIN Imam Bonjol Padang. Kini tinggal dan bekerja di Padang Pariaman. Puisinya disiarkan Haluan, Singgalang, Padang Ekspress, DinamikaNews, Metro Riau, Harian Rakyat Sumbar, Mata Banua, Buletin Jejak, Buletin Tubuh Jendela, Biem.co, Brikolase.com, DetakPekanbaru.com, Riaurealita.com, tarbijahislamijah.com.

[Cerbung] Seperti Laut — Bag. I

Cerbung:  Daruz Armedian

Di langit, mendung-mendung bergelayut pelan. Hitam. Kelam. Kemudian tak terlalu lama menurunkan gerimis. Gerimis yang tipis. Membasahi rerumputan di depan beranda kos-kosan.

Di sini, pertengkaran dimulai. Aku yang bukan siapa-siapa, tidak mengerti apa-apa, cuma diam dan mendengarkan dari kamar kosku sendiri. Pertengkaran itu dari dua insan. Laki-laki dan perempuan. Pertengkaran yang memecah ritmisnya hujan. Pertengkaran yang begitu memuakkan. Pertengkaran yang merusak konsentrasi seseorang sedang membaca buku, sepertiku.

“Sya, ini salah kamu! Mengapa kamu tak menepati janji ke bandara kemarin pagi?!” teriak lelaki itu. Sebenarnya tidak semata-mata teriak, tapi juga membentak. Aku tidak tahu yang sejelasnya dia siapa. Barangkali mungkin pacar Alesia.

“Ha? Salah aku? sebagai laki-laki, harusnya kamu tahu. Harusnya kamu tuh, nyadar kalau aku memang benar-benar tidak bisa datang waktu itu. Kan sudah aku sms!” bantah Alesia, perempuan yang identitasnya sebagai temanku. Bukan hanya itu, teman dekat. Bahkan dekat sekali.

“Tidak! Aku tak percaya sama kamu. Bulshit! Jika aku yang minta, kamu pasti punya alasan begini begitu, tidak pernah satu kali pun menghargai aku!”

“Iya, iya, memang aku selalu salah di mata kamu. Selalu tidak berarti. Apa ini yang kamu namakan sebagai cinta? Ha? Cinta?” suara Alesia meninggi.

“Terserah apa katamu. Harusnya—“ suara si lelaki terpotong.

“Kamu seorang lelaki tak bisa menjaga hubungan. Aku sudah tahu segalanya. Jangan lagi mengelak. Aku sudah tahu kalau kamu selingkuh. Kamu—“

“Bodoh! Itu salah kamu. Harusnya kamu yang nyadar kalau aku juga butuh seseorang waktu itu.—“

Pembicaraan saling potong-memotong. Semakin panas. Semakin garang.

“Kamu laki-laki cemen!”

“Apa katamu?” kata si laki-laki

“Kamu laki-laki cemen! Habisnya tidak pernah ngerti perasaan perempuan!”

Plak!

Terdengar suara tamparan. Aku tergidik. Aku takut bila pertengkaran itu semakin menjadi-jadi. Tidak hanya adu mulut tapi adu fisik. Tentu Alesia perempuan yang lemah akan kalah. Laki-laki tidak tahu diri, batinku.

Aku masih di sini. Di kamar kosku sendiri. Duduk bersandar dinding di balik kamar kos Alesia. Di luar sana, gerimis sudah berubah menjadi hujan. Meski tidak terlalu deras, cukup untuk membuat suara pertengkaran semakin agak kurang jelas. Buku yang sedari aku pegang, kini kuletakkan di meja kecil dekat laptop. Simakanku menjadi serius. Sebab setelah tamparan itu, kini terdengar ada tangisan. Selain itu sudah tidak ada lagi suara-suara yang lain.

Alesia menangis sesenggukan. Agak lama tidak ada pembicaraan lagi.

Aku merutuk dalam hati. Agak lama tidak ada yang kubaca lagi.

Laptop kumatikan. Ternyata tebakanku salah. Masih ada perbincangan-perbincangan yang lain.

“Lelaki bajingan!” teriak Alesia yang membuatku merinding. Entah akan ada apa lagi setelah perkataan itu. Aku hanya bisa berharap tidak ada yang lebih mengerikan daripada tadi.

“Beraninya sama perempuan!” lanjut Alesia. Aku tidak kaget lagi omongan-omongan kasarnya. Sebab dari dulu memang seperti itu. Judes.

“Kamu perempuan munafik! Kita putus!” suara itu menggetarkan. “Tak ada lagi hubungan di antara kita.”

Aku terus menyimak dan menyimak. Semakin kupincingkan telinga. Pada saat itulah…

“Oke, kamu, kamu, jangan per—“

“Jangan banyak omong!”

Prang!

Suara gelas pecah. Seperti sengaja dibanting. Aku tak mau ikut campur dalam urusan yang serba kacau seperti ini. Nanti saja, setelah lelaki yang di dalam kamar kos Alesia itu pergi. Setelah gelas pecah, kudengar gebrakan pintu ditutup. Kembali lagi suara tangisan itu ada. Kali ini lebih memilukan daripada yang tadi.

Tak berapa lama, dari balik pintu yang terbuka sedikit, aku lihat lelaki itu pergi setelah hujan agak reda. Masih ada tetes sedikit-sedikit menyerupai embun pagi. Dengan langkah cepat menuju sepeda motornya yang sedari tadi bertengger di parkiran kos.  Orangnya sepadan denganku. Hanya saja dengan jaket tebalnya itulah yang membuat terlihat lebih gagah.

Seperginya lelaki itu dari sini, dari lingkungan kos-kosan, masih kudengar sesenggukan dari dalam kamar kos Alesia. Sebenarnya aku ingin ke sana, tapi nanti dulu setelah ia tenang dari masalahnya. Dari tangisnya.

Kurebahkan tubuhku di kasur lantai. Ah, ada-ada saja di dunia ini.

Alesia adalah tetanggaku. Ketika hendak kuliah di Jogja, ia dipasrahkan orang tuanya padaku. Mereka kenal betul denganku. Sebab rumahku dekat sekali dengan rumah mereka. Sedangkan Alesia sendiri, bukan hanya kenal betul denganku, tapi ia seperti adik.  Sungguh, ketika pelajaran apa pun, ia sering minta bantuan denganku. Ia bukan sekelas denganku, dulu. Tapi adik kelas di sekolahan yang sama. Sehingga, kadang-kadang aku dan dia sering berangkat bersama berboncengan.

Di sini, sebagai mahasiswa yang senior darinya, akulah yang harus menjaganya. Itu tujuan awal. Tapi, seiring dia mulai dewasa, dan sekaligus sudah bisa mandiri, aku juga harus mengerti. Setiap orang berhak menentukan kehidupannya masing-masing. Meskipun begitu, aku masih selalu menjaganya. Walau tidak seperti dulu. Sebab orang tuanya telah berpesan seperti itu.

Yang membuatku masih dekat dengannya ada beberapa alasan. Pertama-tama, ia ngekos di samping kosku. Sampai sekarang masih di sini. Karena masih sering minta bantuan masalah kuliahnya. Kedua, ia sering pulang. Setiap bulan pasti pulang ke rumah. Maka dari itu, aku juga sering nitip sedikit uang agar diberikan pada orang tuaku. Begitulah kedekatanku dengannya. Harusya ada beberapa lagi, tapi hal tersebut tidak terlalu penting buat cerita pendek ini.

Aku duduk kembali. Suara sesenggukan Alesia sudah berhenti. Aku mulai beranjak menuju kamarnya. Kuintip dari celah jendela, ia terduduk membisu. Pipiya masih basah oleh air mata.

“Sya,” panggilku pelan. Pelan sekali.

Alesia mendongakkan wajahnya. Mulutnya masih tetap membisu. Hanya saja matanya seperti bicara. Tentu dengan isyarat mata juga.

Aku membuka pintu. Bau harum semerbak menusuk hidung. Memang seperti inilah tempat tinggal perempuan. Yang masih gadis, maksudku. Kupandangi wajahnya dalam-dalam. Seperti ada luka yang begitu menyayat hatinya. Rambutnya acak-acakan seperti orang gila. Buka. Bukan. Maksudku seperti orang yang belum mandi dan belum merias diri.

“Kak,” ia angkat bicara. “Saat ini aku pengen sendiri dulu.” Terusnya pelan. Seperti panggilku tadi.

Aku menyadari itu. Sebagai mahasiswa psikologi yang hampir wisuda, aku memang harus seperti itu.

Aku kembali membuka pintu. Sebelum melangkah ke luar, mulut Alesia kembali berbicara. “Maaf, Kak.”

“Ya, Sya. Tenangkan dulu hatimu. Aku juga mau nerusin ngerjain skripsiku, kok.” Kataku tersenyum sambil berlalu. Masih kudengar lamat-lamat dari mulutnya sebuah kata maaf. Yang entah ke berapa kali.

**

Satu bulan berlalu.

Alesia masih seperti dulu. Tiap harinya dilalui dengan kelabu. Selalu murung. Setiap kali aku mendekatinya, ia bicara agar aku jangan mendekatinya. Ia masih ingin sendiri. Selalu begitu. Maka, kalau seperti ini terus. Akulah yang terluka. Entah apa sebab pastinya, aku tak tahu sekaligus tak mengerti.

Di pantai ini, langit sore cerah sekali. Biru-biru kemerahan. Atau merah-merah kebiruan. Aku rasa sama saja. Suasana seperti inilah yang kumau. Yang kutunggu. Apalagi sesekali ada sekawanan burung melintas, matahari yang condong ke barat seperti ingin menyelami laut dan memancarkan cahaya kekuning-kuningan. Semakin menambah jadi sempurna.

Di sini, aku menunggu seseorang. Sebagai pembaca yang baik pada cerita ini, tentulah kau tidak perlu menebak-nebak siapa orang itu. Pasti akan aku beri tahu. Aku menunggu Alesia. Seseorang yang cantik dan tidak lupa menarik. Dan ini sudah menjadi perjanjian, dia akan menemuiku sore ini.

Bersambung….

Puisi Ahmad Ginanjar

Aku Ingin Menjadi Mereka

Ada gunung es membongkah

Di bungkuk tubuh

Setiap kita bercakap.

 

Ada danau berair hangat

Di pipi rekah mulut madu

Setiap engkau berkata-kata

Dengan mereka.

 

Aku hangat, engkau es

Aku gigil.

Aku beku, engkau panas

Aku gagal.

 

Mengapa bicara denganmu

Demikian sukar?

 

Harus menjadi apa aku denganmu?

Berpura-pura hura padahal haru,

Atau berpura-pura haru agar hura?

 

Atau bila kauminta aku menjadi selain aku,

Tikamlah aku lebih dahulu.

(2016)

 

Akulah Nestapa

Akulah nestapa,

Denganku kau bisa apa?

 

Tiada candle dinner

Di sebuah meja kafe mewah.

 

Tak ada kelopak mawar berpita

Sampai di pintu matamu

Yang rekah-mekarnya sepanjang duabelas keretek.

 

Tak ada tamasya taman, pantai, atau wahana pasar malam.

Sebab akulah goa sunyi yang berteriak lolong malang.

 

Akulah nestapa,

Bertahanmu sebab apa?

 

Sarapanmu kata-kata

Makan siangmu timbel sajak

Makan malammu lagu senyap.

 

Wisata kita tempat paling angker

Yang ditinggalkan manusia biasa.

Tanpa kendaraan,

Tanpa bekal.

 

Kalau aku nestapa,

Engkau masih siapa?

(2016)

 

 

Ahmad Ginanjar, lahir di Cianjur 24 Januari 1993
Guru Bahasa Indonesia SMA Al-Ittihad Cianjur
Penyair. Buku kumpulan puisi pertamanya berjudul “Lantai Dansa” terbit Maret 2014.

 

[Cerpen] Pelukis Gunung Semeru

 oleh: M. Rosyid HW

Lukisan yang tergantung di dinding ruang tamu itu tetaplah mempesona walau sudah kutatap setiap harinya. Semacam ada aura magis yang menyeruak, mencengkeram tatapan siapapun yang melihatnya. Segunduk gunung yang membiru sangatlah gagah sebagai algojo penjaga alam disekitarnya. Hijaunya persawahan dengan gemericik sungai yang mengalir laksana prajurit-prajurit penghias alam yang bestari. Sepotong mentari mengintip dari balik punggung gunung yang begitu kekarnya. Ah, lukisan yang sangat sempurna, tak jemu-jemu aku mengaguminya.

Keindahan lukisan tersebut kata mas Bedjo adalah pemandangan di belakang rumahnya. Persis di belakang rumahnya, di lereng Gunung Semeru. Karena itulah saat dia menawariku pekerjaan untuk membantunya di rumahnya, aku tak perlu pikir panjang-panjang untuk mengiyakannya. Dan kini, aku memang benar-benar melihatnya, lukisan karya Tuhan yang terbentang di bumi-Nya dan lukisan mas Bedjo yang tergantung di dinding ruang tamu rumahnya.

Sebagai orang kampung yang tak tahu estetika lukisan, aku memang benar-benar mengagumi karya-karya mas Bedjo. Lukisannya yang ratusan itu telah melanglangbuana dalam pameran-pameran yang tak terhitung jumlahnya. Yang lebih saya kagumi, dia punya jadwal khusus untuk melukis. Persis sekitar pukul lima pagi hingga pukul sepuluh pagi dan pukul tiga sore hingga pukul tujuh malam. Katanya, kemunculan mentari dan semburat mega merah di ufuk barat akan menambah energinya untuk melukis. Itu sudah dikatakannya berkali-kali, tanpa energi matahari yang terus bergerak aku mungkin tak mampu melukis sehebat ini. Seperti tumbuhan saja mas Bedjo ini, yang membutuhkan cahaya untuk berfotosintesis, candaku. Di jam-jam tertentu tersebut dia akan menghabiskan waktunya di sebuah ruangan di pojok rumahnya. Kamar itu terletak di samping rak-rak buku di ruang tamu, juga di samping lukisan gunungnya yang maha hebat itu. Kamar itu terkesan sangat mistis. Tak ada seorangpun yang pernah memasukinya kecuali mas Bedjo. Bahkan aku, tak diperbolehkannya untuk membersihkan dan menyapunya. “Biar aku sendiri yang membersihkannya Mak,” katanya suatu ketika. Saat pagi-pagi dia memesan kopi, dia juga tak memperbolehkanku masuk. “Taruh di depan pintu aja Mak!”Ah, pelukis memang punya dunia sendiri yang tak kupahami.

***

Hangat mentari menyusuri lekuk-lekuk wajahku yang berkerut. Di umur yang baru setengah abad ini badanku sudah lapuk dan tanganku tak sekuat dulu ketika memegang sapu lidi. Ah, aku iri melihat begitu gagahnya gunung Semeru yang bertahun-tahun tak pernah kusut dan lapuk. Walaupun terkadang-kadang meletus, tapi aku yakin Semeru tak sakit, dia hanya batuk-batuk dan sakit tenggorokan. Sepagi ini, dapat dipastikan mas Bedjo masih mendekam di kamar lukisnya. Aku juga tak mau terburu-buru memasak di dapur, udara segar di luar rumah dan daun-daun yang berguguran lebih menarik minatku.

Tiba-tiba, sebuah truk melintas melewati jalan depan rumah. Menderu-deru karena tak kuat menaiki tanjakan. Di belakang deknya, tetes demi setetes air mengucur. Sepertinya truk itu mengangkut pasir, batinku. Aku heran, kenapa ada truk sepagi ini, lagipula arahnya ke atas bukan ke bawah seperti truk-truk yang lain yang mengangkut pasir dari lereng gunung. Mungkin salah satu tukang angkut pasir atau sekop atau cangkul tertinggal di lereng, aku membuyarkan keherananku.

“Den, tadi ada truk membawa pasir menuju ke lereng. Biasanya turun ke bawah, kok truk ini naik ke atas,” laporku ke mas Bedjo.

“Mungkin, ia meninggalkan sesuatu di atas,” papar Mas Bedjo kalem, terkesan cuek.

“Mak, nanti aku dibuatkan teh hangat ya, aku tunggu di kamar. Seperti biasanya, gulanya jangan banyak-banyak dan taruh di depan pintu saja.”

Tak seperti biasanya, Mas Bedjo sarapan pagi cepat sekali dan langsung menuju kamarnya. Pikirannya hanya mengarah bahwa pekerjaannya menumpuk dan imajinasinya sedang membara.

Lewat tengah hari, saat aku sedang mengepel lantai ruang tamu, sebuah truk melintas dan lagi-lagi menaiki bukit. Menjelang mentari menghilang, sebuah truk melintas lagi. Aku semakin heran. Saat makan malam, aku mengutarakan keherananku kepada Mas Bedjo, dia menjawab sekenanya.

Hari makin hari, truk-truk yang menderu-deru semakin banyak. Bahkan tidak hanya truk, seingatku ada dua mobil yang melintas. Satu berwajah colt dan berkaki pick up, satu lagi berwajah kidjang dan berkaki pick up pula. Aku juga tak tahu apa saja barang-barang yang diangkutnya. Hari itu, hari ke tujuh semenjak kedatangan truk pertama, saat mega-mega oranye mewarnai awan di atas gunung semeru, sebuah mobil fortuner warna putih tertatih-tatih menaiki lereng yang terjal.

***

Kopi yang dibuatkan Mak Eni masih mengepul hangat saat kuselesaikan sebuah lukisan yang akan dipamerkan bulan depan. Kilau secercah titik mentari yang menerpa serpihan lereng Semeru, membuat gunung itu terlihat begitu mempesona. Pemandangan itu terekam dalam memoriku dan kini telah berpindah ke dalam kanvas. Nafasku menghela lega ketika lukisan itu telah selesai dengan sempurna. Ah, akhir-akhir ini jadwal pameranku begitu padat.

Sebagai seorang pelukis gunung, pelukis gunung Semeru tepatnya, aku harus mampu mencari sudut pandang yang beragam, taburan cahaya yang berbeda, dan sebuah tempat yang strategis untuk melukis Semeru. Maka, aku membangun sebuah rumah di lereng ini. Kemudian aku membuat kamar khusus yang kupergunakan untuk bekerja. Dikamar itu aku bergelut dengan kaleng cat aneka warna yang tumpah ke mana-mana. Harum semerbak perpaduan antara air cat dan goresan kanvas lah yang membuatku sangat betah berlama-lama di kamar ini. Di ujung kamar ada sebuah kaca yang sangat lebar, kira-kira seukuran tiga kali tiga meter. Melalui kaca tersebut aku mampu memandang gunung Semeru tanpa terhalang suatu apapun, apapun itu. Tinggal menunggu matahari dan alam berputar maka nampaklah Semeru dengan ragam pesonanya. Terekamlah keindahan gunung itu ke dalam memoriku kemudian kutuangkan dalam coretan di kanvas-kanvas putih. Lama kelamaan orang-orang menyebutku pelukis gunung semeru. Dengan kamar lukisku ini beserta kaca lebar yang mengarah ke Semeru, aku memantapkan hati menjadi pelukis untuk menyalurkan hobi dan mengais rezeki.

Hingga pada suatu pagi, Mak Eni memberitahuku tentang adanya sebuah truk yang menaiki lereng. Aku mencium gelagat tidak enak yang memasuki relung-relung hatiku. Pasti akan terjadi sesuatu dengan Semeru ini. Hari makin hari kata Mak Eni truk yang melintas semakin banyak, aku tak tahu dan aku tak peduli karena aku hanya fokus dan mengisolasi diri di kamar lukisku. Lukisan telah mengasyikkanku dengan bergelut bersama kanvas, kuas, cat yang berwarna warni dan sekepul kopi hangat.

***

Hari itu, mendung sedang bergelayut di lereng-lereng yang rimbun dengan kehijauan. Kegagahan Semeru tertutupi oleh kabut-kabut pagi yang belum mencair oleh sinar matahari. Saat sapu lidiku belum membersihkan seluruh daun yang berserakan, iringan mobil-mobil melewatiku. Ada sekitar delapan mobil. Kata tetangga sekitar rumah, hari ini sebuah pabrik air minum akan diresmikan oleh bupati. “Ah, pabrik minum? Mengapa harus ada pabrik di tengah rimbunan pohon-pohon ini? Mengapa harus ada pabrik di lereng gunung?”

Saat aku beralih untuk membersihkan ruang tamu, aku kaget. Lukisan Gunung Semeru yang tergantung sudah tidak ada di tempat. Mungkin mas Bedjo telah memindahkannya pikirku. Kuingat-ingat kembali, lukisan ini masih ada kemarin sore. Aku kembali terheran saat Mas Bedjo tak membuka kamar lukisnya saat aku mengetuknya berkali-kali berharap dia akan menyantap masakan yang telah kuhidangkan. Tak biasanya dia seperti ini, paling-paling dia akan menyahut “Taruh di depan pintu aja Mak”, “Ya sebentar lagi Mak, masih tinggal sedikit”atau langsung keluar memenuhi penggalianku. Kucoba membuka knop pintu berkali-kali. Terkunci dari dalam. Dia tetap tak menyahut.

Ketika malam menjelang dan hawa dingin pegunungan mulai menusuk, aku kembali mengetuk kamar lukisnya. Dia tetap tak menyahut, aku mulai curiga. Pasti terjadi sesuatu dengan mas Bedjo. Terngiang-ngiang di telingaku saat mas Bedjo melarangku untuk memasuki kamar itu walau dalam keadaan apapun. Tapi, hatiku memberontak. Dengan tubuhku rentaku, kodobrak kamar itu dan berhasil. Gelap menyelubung, bau cat air menyeruak. Kunyalakan lampu, barulah aku mulai tahu seluruh isi kamar ini setelah bertahun-tahun aku bekerja disini. Ini galeri lukis mas Bedjo, batinku. Pandanganku mencari-cari, kutemukan dua lukisan berjajar di atas sebuah kayu. Satu lukisan yang biasa kulihat di ruang tamu, satunya lukisan baru dengan cat yang masih basah. Terlukis jelas disana, sebuah menara dan asap yang membumbung menutupi gunung Semeru. Aku memandang lurus ke depan, kaca-kaca pecah berantakan. Terpampang gunung Semeru yang tak lagi gagah karena tertutupi menara dan asap pabrik. Seonggok tubuh kutemukan tergeletak di belakang kedua lukisan itu. Pergelangan tangannya tergores dan masih mengucurkan darah merah. Sebuah kertas ada ditangannya; keindahan Semeru telah mati, pelukisnya akan menyusul keindahan itu. Lewat retakan dan pecahan kaca, kulihat Semeru masih membisu menyaksikan pelukisnya, mungkin juga membeku atau bersedih, aku tak tahu. Besok, aku tak mempunyai majikan lagi.(*)

 

*M. Rosyid HW

Pegiat sastra di Komunitas Lilin lantai

Tulisan-tulisannya beterbaran di koran nasional dan lokal

Cerpen terakhirnya “Cabai di Belakang Rumah” terbit di Koran Madura 15 Juli 2016

No. HP                        :  085608554809

[Cerpen] Melati Kuning

Oleh: Gusti Trisno

Aku duduk di serambi masjid menunggu lalu-lalang para jamaah yang tak pernah henti berkomunikasi dengan-Nya di rumah-Nya yang begitu indah. Entah, mereka benar-benar sholat atau hanya mengagumi keadaan struktur bangunan yang memiliki emas 24 karat. Aku tak tahu dan tak ingin tahu.

Dari lalu-lalang beberapa pengunjung (atau jamaah sholat) aku seperti melihat sosok perempuan yang ada dalam masa laluku. Ah. Letih rasanya, jika membicarakan sosok perempuan itu. Pasalnya sudah bertahun-tahun, kutulis surat pun kulakukan. Tak sedikit pun ada balasan.

Dengan rasa penasaran kudekati perempuan yang memakai kerudung tak terlalu panjang itu. Ia pun langsung membalas dengan senyuman yang menggetarkan jiwa.

Ah. Wajahnya begitu indah. Lebih indah dari perempuanku di masa lalu. Aku terpesona sebentar, kemudian berusaha bertanya darimana asalnya.

“Aku dari Jember, Mas. Baru saja tiba di Situbondo untuk melihat masjid indah yang bagian pilar dan kubahnya itu terbuat dari 24 karat.” Jawabnya.

Sudah kupikir sebelumnya, jika masjid ini ramai karena kemegahannya. Bukan karena hal lainnya.

“Ooo…” hanya itu yang terlontar dari mulutku.

Tak sedikit pun ingin bertanya mengapa perempuan itu mirip dengan perempuanku di masa lalu. Bukankah bisa saja mereka adalah kembar seperti dalam sebuah sinetron picisan yang seolah menganut hukum,“Jika sepasang anak kembar  terpisah, pasti akan bertemu di masa depan dengan karakter bagai bumi dan langit.”

Ah. Ya. Memang dari tata cara senyum dan ucapannya mereka jelas berbeda. Tapi dari keanggunan tetaplah sama. Dan aku tak berani berkata jika mereka; kembar.

Ia segera meminta diri padaku yang begitu kaku. Begitupun dengan iring-iringan orang disebelahnya yang mungkin saja keluarga. Ah. Keluarga. Kapan rasanya aku bertemu dengan keluarga? Sedang diri hanya terasing di sini. Tak ada sanak kerabat sebagai tempat berbagi kisah.

“Maman…,” sapa seorang lelaki memakai peci putih.

Aku segera mendekatinya, lelaki itu kemudian memberiku beberapa lembar rupiah, lalu menyuruh membelikan beberapa bungkus nasi untuk marbot di masjid ini. Dengan sigap, aku langsung manut atas perintahnya. Tak ada sedikit pun rasa menolak ataupun yang lainnya.

Jelas saja. Penolakan berarti penghinaan yang berujung pada pemecatan. Kredebilitas sebagai marbot haruslah dipertahankan.

***

Malam tiba, situasi di masjid masih sama dengan siang. Malah pengunjung semakin bertambah. Dari wajah mereka terdapat banyak topeng, mulai dari topeng keikhlasan, sampai topeng maling. Sudah berapa kali masjid ini menjadi sasaran penjahat dibalik songkok berwarna putih-hitam yang ternyata seorang pencopet.

Mereka pun bukan cuma sekali-dua kali beraksi. Tapi berkali-kali. Dan malam ini, kuperhatikan ada seseorang yang berlagak mencurigakan, tampak bingung memandangkan wajahnya ke kiri-kanan.

Tanpa ba-bi-bu segera kumendekat. Kuberjalan memutar tubuhnya. Ia bertambah bingung dengan gerak-gerikku.

“Sudah dapat berapa mangsa?” tanyaku tanpa basa-basi.

“Apa maksudmu?” ia balik bertanya.

“Ah. Pencopet berpeci sepertimu tak usah berkelit. Ngaku saja!”

Keributan segera terbentuk. Ia tak juga mengaku. Satpam masjid segera mengamankannya. CCTV yang merekam kelakuan anehnya pun diputar. Tak ada rasa mengelak lagi. Ia pasti pencuri.

“Tidak, aku bukan pencuri,” elaknya, tak ingin dituduh.

Beberapa orang mendengar pernyataannya, bersiap memberi pukulan kepada lelaki itu.

“Aku ke sini untuk mencari melati berwarna kuning untuk istriku yang  sedang sakit dan hanya bisa sembuh dengan melati itu. Aku sudah berkeliling masjid.  Tapi, tak juga kutemukan. Padahal, dulunya masjid ini adalah rumahnya,” akunya, kemudian.

Hey, ini bukan zaman purba. Orang sakit itu dibawa ke dokter! Bukan malah mencari melati berwarna kuning! Kamu ini mengada-ada saja!” kata satpam bertambah geram.

“Siapa istrimu?” tanyaku.

Ia segera menyebut sebuah nama, seperti yang pembaca duga; perempuanku di masa lalu. Aku segera mengajak lelaki itu menuju belakang masjid. Di sana hiduplah melati kuning kesukaan perempuanku dulu yang kini menjadi istrinya. Ia pun langsung memetik beberapa bunga. Lalu berucap terima kasih.

Lelaki itu tersenyum senang. Sedang hatiku bertambah sakit akibat kabar yang baru saja kuterima. Sudah bertahun-tahun tak tahu kabarnya. Kini, ia hidup dengan laki-laki cengeng dalam novel picisan yang pernah kubaca.

Bak film yang diputar di kepala. Aku menjadi ingat kembali tentang masa lalu. Dulu, dulu sekali. Kami berdua sering main bersama, berkejaran mengejar layang-layang walaupun akibatnya kami kena marah orang tua. Orang tuanya yang termasuk kalangan priyayi di desa kemudian menjadi marah dan melarang kami untuk bermain bersama. Tapi, tentu sebagai bocah ingusan. Kami tak hilang akal. Pun, ada saja permainan-permainan yang bisa kami lakukan. Dan, yang paling tidak diketahui banyak orang adalah eksprimen menanam melati kuning. Memang terdengar aneh, tapi itu nyata.

Melati kuning itu merupakan persilangan antara bunga kemuning yang memiliki aroma bangkai dan bunga melati putih. Waktu itu, kami hanya menanam bijinya di dalam tanah yang sama. Dan, entah setelah sekian lama. Tumbuh melati berwarna kuning di belakang rumahku.

Berdasar alasan itu, kami menjadi semakin sering bersama. Pun, aku memiliki kesukaan baru, yakni: memberikan setangkai melati kuning pada telinganya yang berukuran sedang. Sungguh waktu itu, ia merasakan senang yang berlebih.

Dan, aku pun merasakan hal yang serupa. Kejadian tersebut kami ulang berhari-hari tanpa rasa bosan. Hingga kemudian, sesuatu terjadi pada keluargaku. Orang tua menjadi kolaps setelah ditinggal lari pelanggan tetapnya ke luar kota dengan membawa banyak hutang. Jauh dari itu, Ibu tiba-tiba sakit keras, mungkin terlalu banyak mikir. Ayah pontang-panting dengan keadaan yang seakan memuakkan itu. hingga akhirnya tanah kami menjadi anggunan ke bank untuk meminjam. Sayang, sengsara tak dapat dihindari. Uang dari bank berhasil didapat. Tapi, tak bisa menjamin nyawa Ibu untuk diperpanjang.

Ibu meninggal. Tepat ketika Ayah membawa segepok uang. Dan, saat itu. aku seperti melihat kegagalan kedua orang tua. Seharusnya Ayah langsung mengembalikan uang itu ke bank atau setidaknya menggunakannya sedikit untuk biaya pemakaman. Tapi, nyatanya Ayah melampiaskan kekesalan dengan menghambur-hambur.

Tak terhitung. Sejak kematian Ibu. Ayah bergonta-ganti pasangan. Isak-isak kenikmatan pun sering kudengar. Aku bukannya ikut menikmati, tapi merasa jijik luar biasa. Seandainya waktu itu aku cukup umur. Barang tentu aku menentang Ayah. Tapi, bukankah anak kecil tidak boleh menentang orang tua? Apalagi ada cap anak durhaka yang begitu mudahnya diucapkan!

Keadaan itu membuatku mengubah haluan. Aku tak boleh sama seperti Ibu juga Ayah. Sayangnya, di tengah butuh dukungan moril. Perempuan di masa laluku itu pergi dengan keluarganya. Dan, ternyata nasibnya hampir sama dengan keluarga kami; kena hutang dan rumah sebagai jaminan.

Waktu itu, aku sungguh tidak bisa menahan rasa haru. Entah mengapa, ingin rasanya aku bertanya pada Tuhan. Apakah Ia telah pergi? Membiarkan segala sepi dan sedih menghampiri hamba-Nya yang tak tahu diri!

Oh! Sudahlah! Toh aku sudah move on! Apalagi sejak kejadian itu, Ayah juga meninggal. Sekalipun batinnya sudah lama meninggal akibat frustasi terhadap hutang yang tak bisa dibayar juga kematian Ibu.

Dan, aku yang tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa memelas kasih pada orang sekeliling. Beruntung, tanahku dan tanah perempuan di masa lalu itu dijadikan tanah wakaf. Masjid berkilau emas pun dibangun. Menjadi masjid yang paling megah di Situbondo atau mungkin Jawa Timur.

Dari bekas rumah itu, hanya satu yang bisa kuselamatkan; bunga melati kuning. Sekalipun, kini suaminya meminta bunga tersebut!

Ah. Mengapa perangai lelaki cengeng yang mendapatkan perempuan penyuka melati kuning itu? Mengapa tidak aku saja? Itukah yang namanya jodoh?Entahlah!

***

Setelah membantu lelaki itu, aku kembali disuruh ke luar masjid untuk membeli beberapa bungkus nasi. Jalanan lengang menyambutku, tak ada sedikit pun kemacetan yang sering terjadi. Suara angin dan jangkrik beradu kencang menambah rasa nyilu yang tiba-tiba datang.

Di depanku ada seseorang yang baru saja mendapat peristiwa kecelakaan. Dan betapa terkejutnya aku, jika yang kecelakaan itu adalah suami perempuanku itu.

“Mas, tolong bawakan melati kuning itu pada istriku. Dia harus bisa disembuhkan. Rasanya aku seperti bertemu kematian.” Ucapnya, lalu mengembuskan napas terakhirnya.

Aku pun segera melakukan perintahnya. Uang yang seharusnya digunakan untuk membeli nasi malah dibuat untuk pergi ke rumah yang alamatnya telah disodorkan padaku. Dan sekitar satu jam kemudian, aku telah tiba di Desa Dadapan Bondowoso. Desa yang jauh lebih tenang dari keramaian Kota Situbondo.

Rumah bercat putih dan tembok tak terlalu tinggi, langsung menjadi sasaranku. Dan perempuan itu telah menunggu dengan rasa lelah yang tiada tara di bilik kamar sederhana.

“Suamiku, tolong buatkan jus dari melati yang kaubawa itu.” katanya, tanpa sedikit pun melihat wajahku.

Aku pun segera melakukan apa yang diperintahkannya. Dan beberapa menit kemudian, jus aneh itu langsung diminumnya.

“Terima kasih suamiku, aku sekarang sudah baikan. Aku sayang kamu. Tapi sungguh, pemuda bernama Maman lebih kusayang.” Katanya, manja. Sambil mengecup keningku. [!]

 

Gusti Trisno. Aktif menulis cerpen, puisi, novel, dan resensi. Penggiat Komunitas Penulis Muda Situbondo ini lahir di Situbondo pada tanggal 26 Desember 1994. Saat ini, ia menjadi mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Jember. Ia pernah menjadi juara 2 Penulisan Cerpen dalam Pekan Seni Mahasiswa Jawa Timur 2016. Tulisannya dalam bentuk cerpen dan essay telah dimuat di beberapa media. Ia bisa dihubungi di Facebook: Gusti Trisno, E-mail: gusti.trisno@gmail.com atau telepon: 085330199752.