Galeri

Puisi Puisi Tjahjono Widarmanto

 BERKACA PADA URAT POHON

berkacalah pada urat pohon saat segala ranting dan daun

meninggalkan dahan getah-getah akar yang dijemput kematian

 

urat-urat pohon adalah kitab yang terbuka

meriwayatkan hidup kita lahir dari rahim tanah

tumbuh dengan buah yang rimbun

namanya: usia!

 

semuanya menuju ke tanah

cahaya matahari seterang apapun

tak sanggup terangi semua yang kembali

pelan-pelan segalanya terkubur diam

wajah-wajah tengadah tanpa nafas

mencari warna di uban rambutnya

lantas menyerahkannya pada malam

 

TAK ADA YANG LEBIH INDAH

di bilik ini tak ada

yang lebih indah

selain duri

di ranting mawarMu

 

di bilik ini tak ada

yang lebih indah

saat hati dirajam

ranting duriMu

 

tuhan, penyair ini

terpanggang api

rinduMU

sebab sejak

mengenalMu

: Engkau tak pernah serupa!

 

SAJAK PARA PENYAIR

sajak-sajak kami menerima segala yang berlangsung dan berlari

: hujan yang tersisa di pepohonan, tikus merayap di langit-langit kamar, kuda-kuda

meringkik di kandang yang bersebelahan dinding kamar losmen murahan

yang di dalamnya terdengar ringkik perempuan di ujung telanjangnya

 

sajak-sajak kami adalah tidur yang menampung igau dan mimpi perawan tua

merindu jejaka, tangis gadis muda yang ditinggal lari perawannya saat akil balik,

suara bergemuruh di sepanjang rel kereta api tua atau kering matahari membentuk

bulatan bulatan uap yang membuat bumi keriput seperti usia yang tak putus-putus

meniup isyarat, melambai lambaikan bendera dan menggoncang lonceng-lonceng

 

sajak-sajak kami adalah bejana di dapur yang terisi air minum dan kali selokan

yang menggenangi lantai ruang tamu mengalir hingga ranjang serupa kolam

untuk mencopot dahaga dan membasuh peluh dan bilur pedih wajah dan mata

 

sajak-sajak kami adalah radio penuh suara riuh decit dan dengung benda-benda

yang mengabarkan hal-hal tak terduga, suara-suara yang melampaui lengking peluit,

gaung nada melebihi segala makna bahasa dan galau kota yang di bom para teroris,

segala suara cemas para serdadu di medan pertempuran, desah putus asa tahanan

yang dieksekusi pagi nanti, harapan yang kabur dari penumpang yang terikat di kursi

pesawat terbakar dan sekejap nyungsep mengambang di antara hiu yang meringis

 

sajak-sajak kami adalah juga kata-kata segar sekaligus kata-kata muskil yang aneh

melebihi semua mantra pawang, nyaris melampaui mukjizat para rahib

 

kami, para penyar melalui kata dan suara menumbuhkan segala

makna yang dicatat zaman!

(Ngawi, kedungdani)

 

 

HIKAYAT HASRAT

*) mencatat Gilles Deleuze

1/

ia membaca tubuh-tubuh itu.tubuh tanpa organ

mesin hasrat yang terpilin dari semacam sel atau telur

menetas, berubah wujud dan menumbuh

menjadi sesuatu yang tampak utuh seperti puzle

sejatinya terpisah serta terus menerus bergerak menuju entah

 

hasrat yang sembunyi di balik kerang

katup yang terbuka dan menutup

saat mata terbuka atau terpejam

tak peduli itu tanda atau makna

 

2/

ia merasa amat bahagia seperti bayi

yang melompat dari lumpur ketuban

yang belum peduli dengan pembenaran-pembenaran

sebab baginya tak ada yang baru dari kelahiran dan kematian

segalanya hanya sekedar tirai tersingkap menampakkan yang tersembunyi

 

semenjak bayi, hasrat telah meletup-letup

seperti nasib yang selalu keliru diramal

persis sebuah revolusi atau reformasi yang sibuk menemu pintu

 

segalanya selalu merambat bersama waktu

ia merasa manusia harus takluk pada dunia yang lain

 

 

3/

hasrat seperti kurcaci yang tiwikrama

tak satu pun bisa memeluknya dengan hangat

saat melompat-lompat seperti katak

berayun-ayun dari yang berubah dan yang terjadi

muncul dari yang tak terduga menuju nyata

temukan habitatnya sendiri sarang tempat

mendewasakan segala olah pikir, keinginan dan birahi

 

4/

sesuatu yang tampak nyata tak sanggup dipahami

walau sudah dibahasakan dengan sepeti makna

 

segala ingatan dan pengalaman luput digenggam

sebab makna melarikan diri kabur dari peristiwa

 

5/

ia suka permainan itu

semacam petak umpet yang tak punya satu peraturan

titik yang selalu bergerak dari satu garis lengkung ke lengkung lain

mirip bintang alihan, bergeser sepanjang masa

melacak makna dan mengikatnya

 

6/

ia sudah diramal oleh seorang peramal botak dan homo

disabda menjadi seorang santo atau rahib atau brahmana

 

karena hasratnya yang meluap ia dikutuk menjadi kitab

rujukan para musafir yang mencari peta dan pulau

 

 

namun, ia menolak menjadi mitos dan menggantung lehernya di pintu rumah

tangannya yang mengepal menggenggam sebuah wasiat

: ini cuma sekedar hasrat dan sebuah peristiwa!

 

(surabaya-ketintang)

 

RAINKARNASI DAJJAL (2)

aku biakkan kecemasan itu seperti kelelawar bertaring

melayang berterbangan menebarkan was di jalan hingga kolong ranjang

 

kubiakkan kecemasan itu untuk menumbuhkan gentar

maka duniamu akan terlipat di ketiakku

akan kubangkitkan kerajaan nero dan machiavelli

agar api menyala membakar apa saja

hingga takut dan gemetar mendengung seperti tawon

 

engkau pun akan meringkuk seperti trenggiling

atau babi yang akan kutusuk anusmu melengking-lengking

 

di tengah cemasmu kubangun surga. nirwanaku sendiri

rumah harem bidadari-bidadari telanjangku

 

 

RITUAL YANG MEREKA NAMAI: TEROR!

kau ganti bahasa dengan ledakan-dentuman

kau menyebutnya sebagai pertarungan suci

sorga bagimu harus dipetakan dengan darah

dan mesti dijaga dengan jubah-jubah suci

 

granat itu pun tiba-tiba hadir di meja makan anak-anak kami

 

maka, keramahan membusuk di mana-mana

pandangan mata menebar cemas curiga

koran-koran dan televisi pagi mengabarkan berita-berita kematian

 

namun mereka telah demikian biasa dengan pesona buruk itu

mereka jejalkan bersama takut yang was-was membuat kami linglung

 

sekarat itu mereka pilihkan untuk kami

 

angan-angan mitos mereka tentang sorga dan perang suci

menjadi kabar lelembut menebarkan dengki dan prasangka

menjalar bagai ular menjulurkan amarah yang diasah seperti kelewang

menyembelih siapa saja, tak peduli ibu atau anak perempuan sendiri

 

konon mereka impikan kafilah dengan pasukan surga

 

pemimpi yang percaya ayat-ayat bencana

dan mereka mengusungnya bersama keranda penuh bom

menjadi sesaji pesta-pesta pemakaman bersulang di atas nisan

 

itulah ritual yang mereka namai: teror!

 

TAN (5)

aku tak pernah cemas dengan takdir, sebab ini pilihanku

 

walau para serdadu dungu itu

akan mencungkil kedua biji mataku

aku tak pernah terpengaruh dengan gelap

 

segala cahaya telah kusimpan tidak pada mata

namun kulekatkan pada telapak kaki

 

dalam jalan paling rumpil, gelap dan berkabut

tetap saja aku mudah berlari-lari

kalian akan mengejar terseok

sebab lampu sejarah itu telah kucuri!

 

HIKAYAT ULAR YANG MENDESIS DI KEPALANYA

di kepalanya mendekam seekor ular dengan lidah bercabang

mendesis-desis beranak pinak di tiap serabut sel kelenjar otak

(persis ulat-ulat yang menggerogoti sebutir khuldi di genggaman eva)

 

desisnya menjilat pintu langit

: bukankah telah kau tukar keabadianmu dengan secuil kelamin syahwat?

 

langit lantas bukakan pintunya, julurkan sulur-sulurnya

mulailah ia melata merambatinya

lantas terperangkap dalam selokan tua

 

sabda itu berdengung

: mulailah perjalananmu mewaspadai ketololan sendiri!

 

riwayat itu pun dimulai

sejarah kelak mencatatnya sebagai sebuah legenda sepetak kebun

yang hilang bersama segenap prasastinya

(ular di kelenjar kepalanya itu masih saja mendesis-desis)

                                                                                    Ngawi

 

LELAKI PENAKLUK BUAYA

                                                                    :buat penyair mashuri

Lihat, telah kuasah tombak dan kapak tajam-tajam pada padas karang. Sigra milir sang getek sinangga bajul. Lelaki itu mendorong rakitnya ke tengah sungai. Ngalir, ngalirlah ke muara menyisir hilir. Berkisah tentang seorang lelaki berikat kepala wulung menjagai sungai-sungai. Mengulang perjalanan Khidir yang dikuntit Musa menelisik pesisir mencuri kitab rahasia nasib, sorga, dan neraka.

 

Sigra milir sang getek. Lelaki dan rakitnya terapung-apung telusuri air dan kisah-kisah kuno, saat angka-angka tak jelas mana genap dan yang mana ganjil. Saat abjad-abjad tak jelas mana yang vokal mana konsonan. Sigra milir. Kuteriakkan mantram-mantram penakluk segala penghuni sungai. Kembang telon tujuh warna, cok bakal beserta putik asoka ditebar, terbuka segala pintu hantu, tersibak segala kabut. Mari timbullah segala buaya. Buaya sungai, buaya rawa, buaya darat, buaya samudera, buaya siluman. Buaya segala buaya, buaya maha buaya

 

Sigra milir. Rakit beringsut. Matram-matram mengigau. Inilah kidungku. Muncul engkau segala buaya. Merangkaklah ke mari, segera kubelah perutmu yang selalu bunting, sebab di sana kutemu segala frase dan kata-kata. Ayo, manis, merangkaklah dengan gairah. Di sini telah kusediakan ranjang hangatmu. Nina bobok oh nina bobok. Tidurlah manis dengan telentang, bentangkan buntingmu akan kutombak dan kubelah dengan kapak dan gergaji.

 

Sigra milir sang getek sinangga bajul. Segala buaya. Buaya sungai. Buaya rawa. Buaya darat. Buaya laut. Buaya siluman. Buaya maha buaya. Merintih-rintih. Perut buntingnya meledak. Muncrat janin kata-kata. Ohoi, Columbus temukan benua, aku temukan makna! Lantas, segalanya berubah aksara, terpahat di gerbang-gerbang kota, puing-puing candi, dinding-dinding biara, lonceng-lonceng gereja, kubah-kubah masjid, mercu suar dan rumah-rumah keong.

Lelaki itu masih setia mendorong-dorong rakitnya ke segala sungai-sungai. Ngalir susuri hilir. Tak sampai-sampai ke muara. Sigra milir sang getek sinangga bajul. Menabur mantram panggili segala buaya. Engkau mahluk manis baringkan buntingmu, dalam ketubanmu akan kutemu segenap rahasia lambang-lambang.

Sigra milir. Lelaki itu berdiri di tengah rakit, tegak dengan tombak dan kapak, menyisir hilir. Akulah penyair penjaga sungai kata-kata. Akulah penyair penakluk buaya!

Ngawi, kedungdani-kedung glagah

 

RUANG KERJA AYAH

ruang kerja ayah di loteng lantai dua.kalau jendelanya terbuka, lampu menyala

ia pasti ada di dalam menekuri pesawat komputer dengan mata setengah terpejam

sebelum memiliki komputer ayah bekerja dengan sebuah mesik tik tua setua ubannya

ibu amat senang mendengar tik tak tuk mesik ketik itu.

ditempelnya telinga di pintu mencuri dengar

sebab ayah melarang siapa saja masuk ke kamar kerjanya saat ia mendekam di situ

 

kata ibu, ayah adalah penyair.berkerja sebagai penyair.

sungguh aku tak paham profesi itu. sepengetahuanku, bekerja itu harus seperti

ayah kawan-kawanku si Kaila, Agis atau Sifak; berangkat ke kantor, jadi guru

atau pedagang di pasar besar, setidaknya jadi hansip di gardu jaga

 

kata ibu, ayah adalah penyair. seolah tuhan kecil yang sanggup mencipta apa saja

leluasa mencipta riang, petaka, harapan, senyum, caci maki atau kedunguan

seperti juga tuhan, kata ibu, ayah tak peduli dengan uang atau penghasilan.

tugasnya adalah mencipta. itu saja. mencipta sabda menuliskan firman kata-kata

 

tuhan merahasiakan bagaimana ia menciptakan mahluk dan menuliskan petuahnya

begitu juga ayah melarang siapa saja masuk ke ruang kerjanya

saat mencipta dan bersabda

ini rahasia sebuah penciptaan”, katanya sambil mendelik

 

diam-diam aku pernah mengintipnya saat bekerja: ternyata saat menekuri komputernya

ayah hanya mengenakan celana dalam.kaki bergerak-gerak mengikuti jari-jari

mulut komat-kamit seperti presiden pidato atau dukun baca mantra

 

seperti juga tuhan, ayahku juga gemar menghukum, mengancam dan menakut-nakuti

acapkali ibu gemetar ketakutan saat wajahnya dituding-tuding dengan rotan

biasanya jika bertanya tentang rekening listrik dan tagihan pajak

 

diam-diam aku ingin seperti ayah, menjadi seorang penyair

: begitu berkuasa dan boleh hanya memakai celana dalam!

-ngawi-klitik-

Tjahjono Widarmanto, Lahir di Ngawi, 18 April 1969. Meraih gelar sarjananya di IKIP Surabaya (sekarang UNESA) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, sedangkan studi Pascasarjananya di bidang Linguistik dan Kesusastraan diselesaikan pada tahun 2006, saat ini melanjutkan studi di program doktoral Unesa.

Bukunya yang baru terbit MARXISME DAN SUMBANGANNYA TERHADAP TEORI SASTRA: Menuju Pengantar Sosiologi Sastra (2014) dan SEJARAH YANG MERAMBAT DI TEMBOK-TEMBOK SEKOLAH (2014)

MATA AIR DI KARANG RINDU (buku puisi, 2013) dan MASA DEPAN SASTRA: Mozaik  Telaah dan Pengajaran Sastra (2013)

Bukunya yang lain yang telah terbit terdahulu : MATA AIR DI KARANG RINDU (buku puisi, 2013) dan MASA DEPAN SASTRA: Mozaik  Telaah dan Pengajaran Sastra (2013), DI PUSAT PUSARAN ANGIN (buku puisi, 1997), KUBUR PENYAIR (buku puisi:2002),  KITAB KELAHIRAN (buku puisI, 2003), NASIONALISME SASTRA (bunga rampai esai, 2011),dan  DRAMA: Pengantar & Penyutradaraannya (2012), UMAYI (buku puisi, 2012).

Selain menulis juga bekerja sebagai Pembantu Ketua I dan Dosen di STKIP PGRI Ngawi, serta menjadi guru di beberapa SMA  Sekarang beralamat di Perumahan Chrisan Hikari B.6 Jl. Teuku Umar Ngawi. Telp. (0351)746225 atau 085643653271. E-Mail:  cahyont@yahoo.co.id,

[Cerpen] Tidak Ada yang Sia-sia

Oleh: Nasrul M. Rizal

Nayla mengembuskan napas panjang sebelum mengetuk pintu rumahnya. Sudah cukup lama dia tidak pulang. Kesibukan sebagai mahasiswa tingkat akhir memaksanya memendam rindu. Namun beberapa minggu terakhir orang tua Nayla sering menghubungi,ada hal penting yang ingin dibicarakan secara langsung. Karena tidak ingin mengecewakan orang tuanya terlalu lama, Nayla pun memutuskan untuk pulang.

“Assalamualaikum,” ucapnya Nayla setelah beberapa menit mematung di depan pintu.

“Waalaikum salam,” jawab seorang perempuan dari dalam rumah.Setelah itu pintu pun terbuka. Perempuan setengah baya langsung memeluk Nayla.

Nayla masuk ke rumahnya yang sepi, yang hanya dihuni oleh Ibu dan ayahnya saja. Kedua kakaknya (laki-laki) sudah berkeluarga dan tinggal di Bandung. Nayla pun terpaksa meninggalkan kedua orang tuanya karena harus kuliah di Ibu Kota. Siang ini Ayah Nayla masih ada di kebun.

Menyadari putrinya kelelahan, Ibu Nayla mempersilakan untuk beristirahat. Ia menahan diri untuk berbicara mengenai hal penting yang memaksa Nayla pulang. Sebetulnya Nayla sudah tahu apa pembicaraan “penting” yang dimaksud orang tuanya. Bukan, bukan tentangrasa sakit yang mereka derita.Apalagi perihal rindu yang menggebu. Tapi “sesuatu”yang membuat Nayla berpikir berkali-kali.

Ruangan berukuran 4 x 3 m2 di lantai dua, menjadi kamar Nayla. Ia beruntung mempunyai kamar sendiri. Tidak seperti kedua kakaknya yang harus berbagi tempat tidur. Nayla merebahkan badannya diatas kasur. Perjalanan lima jam Jakarta-Garut lebih dari cukup membuatnya lelah. Namun lelah yang dirasakan badannya tidak seberapa berat dibandingkan lelah yang menggelayuti hatinya. Nayla harus membujuk hatinya mengikuti kemauan orang tuanya. Ya, pembicaraan penting itu perihal rencanamenjodohkan Nayla dengan seorang lelaki pilihan orangtuanya. Lelai yang bahkan tidak dikenalNayla. Perkara satu ini membuatnya dilema.

Nayla tidak pernah meragukan pilihan orangtuanya. Ia sadar betul lelaki yang dipilih tentu saja lelaki baik-baik. Bahkan sesuai dengan kriteria yang ditetapkannya, berpendidikan tinggi dan berahlak baik. Ya lelaki itululus dariUniversitas Al-Azhar Mesir dengan predikat mumtaz. Dan dia juga hafidz 30 juz. Tidak ada alasan lagi untuk menolak perjodohan ini. Namun hati Nayla justru menolaknya, ia terlanjur memilih seseorang.

***

Sepuluh tahun silam Nayla aktif di Rohis Sekolah. Nayla suka membaca.Tak ayal perpustakaan di Sekre Rohis menjadi tempat favorite mengisi waktu luang. Baginya membaca merupakan kewajiban. Dia ingat ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, Iqra (bacalah!). Dengan membaca dia mengenal dunia, mendapat pelajaran terhebat dari kisah orang-orang hebat, serta mempunyai pegangan untukmenjalani hidupnya. Tidak jauh berbeda dengan Nayla, ada seorang lelakiyang suka sekali membaca buku. Baginya buku adalah teman terbaik. Menghibur di saat duka dan pengingat kala bahagia. Dia kakak kelas Nayla.

Beberapa kali Nayla bertemu dengan lelaki itu. Hanya senyuman saja yang mewarnai pertemuan mereka. Tidak lebih. Perlahan tapi pasti sesuatu tumbuh di hati Nayla. Dia mengagumilelaki berkaca mata itu. Pintar, ramah, sopan dan baik, membuat lelaki itu menjadi idaman siswa perempuan. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menggoyahkan prinsipnya. Ia tidak mau pacaran. Sungguh langka ada seoranglelakiseperti itu hidup di jaman sekarang.

Minggu depan lelaki itu lulus sekolah. Artinya dia akan meninggalkan Nayla. Dalam helaan napas yang sama, Nayla merasa bahagia dan juga sedih. Bahagia karena lelaki itu mendapat nilai tertinggi, sekaligus dinobatkan sebagai lulusan terbaik di sekolahnya. Dan sedih karena dia tidak bisa lagi bertemu dengan lelaki berkaca mata itu, yang selalu tersenyum manis ketika berpapasan dengannya.

Hari kelulusan pun tiba. Lelaki itu berbicara di depan ratusan siswa dan puluhan guru. Mewakili siswa-siwi kelas XII dia berterimakasih dan juga meminta maaf. Dia juga menitip pesan untuk menjaga silaturahim, terutama untuk anak-anak rohis. Air mata membanjiri sekolah. Perpisahan ialah hal yang amat dibenci. Sungguh kejam seseorang yang membuat mantra, “Setiap pertemuan pasti ada perpisahan”.

Mata Nayla menyapu seluruh bagian Sekre Rohis. Dia mencari seseorang, bermaksud memberi kenang-kenangan. Sayang orang tersebut tidak terlihat walau batang hidungnya. Air mata mentes dari mata Nayla. Dia tidak tahu betul alasan di balik air matanya. Susah payah Nayla membendung air mata tersebut.

Tiba-tiba seseorang menghampirinya, lalu bertanya, “Kamu kenapa Nay?”

“Tidak apa-apa Kak.” secepat mungkin Nayla mengusap air matanya.

“Beneran gapapa?”

Nayla mengangguk pelan.

Oh iya, kakak ingat sesuatu Nay.”

Nayla menatap heran.

Perempuan berlesung pipit yang dipanggil kakak mengambil sesuatu dari dalam tas. “Nay, kemarin dia nitip ini ke aku. Katanya maaf tidak bisa memberikannya secara langsung.”

Tiba-tiba air mata mengucur deras dari mata Nayla. Entah apa maknanya. Mungkinkah Nayla bahagia karena diberi kenang-kenangan? Atau justru sebaliknya? Tidak ada yang tahu persis makna air matanya.

“Terima kasih Kak Qiya.” Nayla berusaha tersenyum meski pipinya terlanjur basah.

“Iya sama-sama, jangan sedih gitu Nay. Ingat! Setiap orang diciptakan berpasang-pasangan. Allah sudah menentukan jodoh kita. Tidak ada yang bisa melanggar ketentuan itu,” ucap Qiya menghibur Nayla. “Sudah dulu ya Nay, sampai jumpa lagi.”

***

Waktu berlalu sangat cepat, sepuluh tahun sudah Nayla tidak bertemu dengan lelaki itu. Selama sepuluh tahun pula dia menyimpan buku pemberian darinya. Tidak terhitung sudah berapa kali dia membacanya. Tidak terhitung pula berapa kali ia membuangnya. Meski beberapa saat kemudian ia pungut kembali. Ia selalu gagalmembuang barang yang membuat bibirnya tersenyum tapi matanya menangis.

Ketahuilah di dalam buku tersebut tersimpan secarik kertas, pesan dari si pemberi buku.

Air mata kembali mentes dari kelopak mata Nayla. Air mata sepuluh tahun silam yang sampai detik ini belum juga kering. Nayla lamat-lamat membaca buku lusuh itu. Bukan bukunya yang membuat dia menangis, tapi kenangan yang menyertainya. Kenangan dengan seseorang yang selalu tersenyum saat berpapasan dengannya. Seseorang yang ia jadikan sebagai motivator. Yang membuatnya bisa melangkah sejauh ini. Yang membuat namanya tercatat sebagai mahasiswa pada salah satu Universitas ternama di Indonesia.Yang membuat ia menyibukan diri. Ya, baginya kesibukan adalah senjata paling ampuh untuk mengusir kesedihan. Sibuk memperbaiki diri, memantaskan diri dan juga berprestasi. Nayla berusaha keras untukberdamai dengan hatinya. Berhenti menanti lelaki tersebut untuk datang ke rumahnya.

Pilihan berat dihadapi Nayla. Ia tidak bisa lari dari pilihan tersebut. Jika ia menolak untuk dijodohkan, tentu saja orang tuanya akan kecewa. Menyakiti perasaan orang tua merupakan pantangan bagi Nayla. Namun, jika dia menerima,itu sama saja dengan menyakiti hatinya sendiri. Membunuh perasaan itu. Mengalah pada takdir. Dia harus berusaha keras membujuk hatinya merelakan seseorang yang bertahun-tahun ada disana untuk pergi.

“Bismillah, ya Allah apapun yang terjadi, aku yakin itu yang terbaik untukku.” Nayla mengambil keputusan.

***

Ibu Nayla menyuruh anaknya untuk bersiap-siap, memakai baju yang bagus dan make up. Tanpa make up saja Nayla sudah cantik, apalagi memakai make up?bisa-bisa bidadari pun iri padanya. Tidak banyak orang yang diundang dalam acara penting ini, hanya beberapa keluarga Nayla saja.

Belasan pasang mata menatap Nayla, kecantikannya berhasil menghipnotis mereka. Ruangan hening seketika. Nayla malu-malu mencuri pandang pada lelaki yang akan melamarnya. Hatinya berbisik “sepertinya aku pernah melihat lelaki itu. Hmm… jangan-jangan dia ..” logikanya melarang dia berpikir aneh-aneh, “Bukan. Bukan dia!”

“Sebelumnya kami ucapkan terimakasih atas jamuannya. Langsung saja pada inti dari kedatangan kami kesini. Adapun maksud dari kedatangan kami yang pertama untuk menyambung tali silaturahim diantara keluarga bapak dan kami. Selain itu, kami juga mau membahas perihal anak kami yang beberapa minggu kemarin sudah menghubungi bapak. Sebelumnya mohon maaf. Saya atas nama anak saya, Fatih, bermaksud untuk meminang putri bapak,” ucap Ayah lelaki tersebut.

Jantung Nayla berdetak sangat kencang. Rupanya lelaki yang ingin melamarnya bernama Fatih. Hah Fatih? Sepertinya nama itu tidak asing untuknya.

“Kami juga ucapkan terimakasih karena bapak dan keluarga bersedia datang ke rumah sederhana ini. Mohon maaf bila jamuan kami tidak seperti hotel bintang lima,” ayah Nayla sedikit bergurau yang disambut tawa semua orang, “Megenai lamaran dari putra bapak, sepenuhnya kami serahkan kepada putri kami,” lanjutnya.

Belasan pasang mata kini tertuju pada Nayla. Menunggu jawaban darinya. Tatapan mereka membuat jantung Nayla berdetak sangat kencang. Tiba-tiba kenangan sepuluh tahun silam berkelebat di pikirannya. Seperti kaset yang berkali-kali diputar.Satu menit. Dua menit Nayla belum merespon. Ia masih membujuk hatinya. Belasan pasang mata tajam menatap Nayla. Dari belasan orang yang ada di sana, sudah dipastikan Fatihlah yang harap-harap cemas menanti jawaban dari lamarannya. Satu tarikan napas panjang, Nayla mengambil keputusan.

***

Satu bulan setelah lamaran, Nayla menikah dengan Fatih. Lulus dengan predikat cum laudge menjadi kado pernikahannya. Kini Nayla resmi menjadi istri Fatih. Dia harus berbagi tempat tidur dengannya. Mewarnai waktu yang ditawarkan siang dan menikmati secuil waktu yang disediakan malam.

Malam hari, rahasia besar pun terungkap. Fatih menemukan buku lusuh di almari Nayla. Menyadari hal tersebut, Nayla meminta maaf pada Fatih. Dia mengakui kalau sebelumnya menaruh hati pada seorang lelaki. Buku itu kenang-kenangan dari lelaki tersebut. Fatih menatap lamat-lamat Nayla. Tersenyum. Lalu berkata “Tidak apa-apa, karena lelaki yang memberi buku ini untukmu adalah aku. Maaf dulu aku tidak sempat memberikannya langsung.Soalnya harus pulang, malam itu juga harus terbang ke Mesir.”

Nayla langsung memeluk Fatih. Menangis bahagia.

Fatih berbisik membaca kata-kata yang ia selipkan di buku tersebut.  “Setiap orang diciptakan berpasang-pasangan. Allah sudah menentukan jodoh kita. Tidak ada yang bisa melanggar ketentuan itu.”

Sempurna sudah penantian Nayla.Hati Nayla berbisik “Ya Allah terimakasih, aku tahu tidak ada yang sia-sia dalam penantian ini. Terimakasih Kau telah anugerahkan dia untukku. Rahmatillah pernikahan kami.”

 

Biodata Penulis

Nasrul M. Rizal lahir ke bumi 22 tahun silam, tepatnya 27 Agustus 1995, di Garut. Aktif di komunitas kepenulisan, yang diisi oleh orang-orang galau dan jomlo, KAFE KOPI. Beberapa cerpennya telah dimuat di berbagai media daring. Bisa dikepoin melalui: mr.nasrul19@gmail.com

Negeri Pasir Seribu Suluk

  Catatan perjalanan Ferry Fansuri

Jejakku sekarang menuju kota Pasir Pengaraian, tak banyak tahu tentang kota satu ini. Kota seribu suluk wilayah Riau propinsi Rokan Hulu. Start dari jalan Arengka sekitar jam 8 pagi menuju terminal bus Panam. Tapi sebelumnya dapat info bahwa transportasi ke pasir pengaraian harus dilalui angkutan L300, ini minibus sejuta umat khusus di pulau Andalas.

 

Pas dipinggir jalan celingak-cilinguk sampai membopong tas carrier merah buluk menunggu ojek samperin, masih jam 8 pagi kulihat jam tanganku. Memang di kota Pekanbaru masih opang (ojek pangkalan) tapi unik jika kita berdiri aja di pinggir jalan pasti ada kereta(motor) pasti samperin nawarin ojek. Setengah jam nunggu tak kunjung muncul si ojek dadakan. Pas kebetulan tempat berdiri berdekatan dengan pool Riau Taxi en pas juga ada 1 ekor taxi keluar, daripada lama-lama nunggu ku stop tuh taxi.

 

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/u/0/?view=att&th=15966a8820253ae8&attid=0.5&disp=inline&safe=1&zw&saddbat=ANGjdJ9AG6prnUd-D_hR4ixVDKjKWqdGn0z9654rcI3cznbUQ6e_HHWGwm_70Dm_plj13S2Lzr8imTUwz5DfujUsXGhnf3MIkRaj9X9FSQy7oSqlZCAJcY45-OtMdlS_od4cqUZJd9ah-oc6n9ukWmABbSUJhAjT5EyvjNZzs5zrWsDHS3CZvd2Q0lmPUgjXdcuH0BT0VYVkF_uOPumuV_--0hU7JzWf-0ZR8ra6LigSFkTVxK1hsNC0tLh0n9CQk34q7pLMAVKJzUTHXpWJWemVYXq2gTFRXj6BJTYTyyrTQT2XrcqUDbWicwGiI6cUVPUp5cBYmRZpyYYgIZ3gPf9pnIxkwRH81wZKLC8Ut1d62NBcy_PCZcqIwHC2Qk631YaFJ7_du0jC55sutYXIGZPV8bR7ZE2SBBKQNxzg0H0Pm5BqEe6vgnRz_DR9rIKvydyky_B3Cq8w3GQZd-kEurKMkb8YWQr9uVKHcPBWcX9y-YjCeSKccqzSHzpyF77f_-iiWV0655YJ2vIgnq3DOxooobl7ZJco1_7dlcF5-v0n09RMRo_ibU52BzfXPmm7DZ1PVSMOMHfjxiaseWQwKJfbDOzqkYpYDKuOEaIB_mFyaOlEr7o27az8WDWnYyE

Memang taxi agak mahal sekitar 60 ribu itupun ditentukan argometer, kalo ojek bias nego 40 ribu. Cuman 15 menit aja nyampai di simpang empat Panam jalan H.Soebrantas, disini terminal bayangan L300. Keluar dari Taxi, sudah diserbu calo yang mencoba mengais rejeki pagi hari. Berderet minibus Mitsubishi menunggu tujuan Bukittinggi, Padang, Bangkinang atau kota diperbatasan Riau dan Sumatera Barat melalui jalan kelok 9 yang terkenal itu.

Sebenarnya banyak alternatif transport ke pasir pangaraian seperti ke kota lainnya macam travel “Tapi untuk ke pasir belum ada yang resmi bang untuk travel, kita bisa jemput juga” ujar Daniel, salah satu calo terminal bayangan. Pemberangkatan cuman 2 jadwal pagi dan sore, ini dikarenakan kuantitas menuju pasir tidak sebanyak kota lainnya. Wajar karena Pasir dibilang kota perlintasan menuju Medan, sering dilalui Bus antar propinsi macam ALS.

Jam mendekati 9 pagi, L300 start dari simpang empat Panam dengan jarak 180 km atau 4 jam perjalanan. Melewati kota terbesar Bangkinang sebagai rute menuju pasir pangaraian, disini juga si sopir jemput bola angkut penumpang. Tarif normal L300 ini 30 ribu tapi pas kena calo 50 ribu, bagi-bagi rejeki deh pagi-pagi ceritanya. Kalo mau cepat naik pesawat, tapi mahal guys. Tak banyak tahu bahwa kota Pasir Pengaraian ada bandara namanya Tuanku Tambusai, pakai pesawat kecil baling-baling bambu 12 seat bisanya Susi Air menyediakan penerbangan pagi. Siap-siap sedia 280 ribu sekali terbang dari bandara Sultan Syarif Qasim, itupun dalam sepekan hanya 1 kali penerbangan. Kalo ente jurangan sawit bolehlah, naik pesawat pulang pergi.

 

Sepanjang perjalanan menuju pasir, kanan-kiri banyak budidaya kelapa sawit dan memang daerah Riau terkenal akan sawitnya. Tak aneh Indofood Group juga punya berhektar-hektar lahan sawit di bumi melayu ini. Jalanan juga dibilang naik-turun sedikit terjal, setelah 2 jam diombang-ambing per keras L300 berhenti di Rumah makan H.Nurman Ardai daerah Saran Kabun terkenal dengan Pesantren Darussalam-nya. Sejenak istirahat melepas lelah atau menunggu penumpang lainnya makan, seperti kebanyakan angkutan dimana aja pasti ada tempat ngetem. Rumah makan Padang ini juga dijadikan tempat ngetem L300, ini hubungan simbiosis mutualis antara pemilik rumah makan dan sopir. Owner diuntungkan datangnya pembeli dengan kompensasi menyediakan makanan gratis buat sang sopir.

Tepat jam 12 siang kita go again , melewati dua daerah ramai Tandun dan Ujungbatu sebelum tiba di pasir. Akhirnya jam 2 siang tiba memasuki kota, sesuai planku untuk diturunkan di Islamic Center Masjid. Karena browsing-broswing, Islamic center salah satu icon wisata Pasir Pengaraian. Terletak di jantung kota depan kantor pemerintahan bersebelahan lapangan Dataran Tinggi Rantau Baih dan hotel Sapadia.

 

Tapi eits ane kagak nginap di Sapadia, karena backpacker budget jadi nyari alternatif. Sebelumnya sudah nanya ke mbah google tentang hotel di Pasir Pengarian, memang ada beberapa tapi pas cek lokasi ternyata tidak ada. Berjalan menyusuri jalan Tuanku Tambusai berharap kelihatan penginapan, harapan dikabulkan pas ada. Penginapan Andisna Motor yang dibundling bengkel jadi tempat beristirahat sementara, memang bukan hotel bintang 3 tapi cukuplah. Cuman 200 ribu dalam TV channel berbayar en kipas angin, tapi kamar mandi luar. Taruh tas sebentar en mandi, istirahat sejenak melepas penat. Ada yang rekomendasi nginap di Ujung Batu, kota sebelum Pasir Pengaraian. Lebih murah dan beragam, lebih ramai bahkan ada rumah sakit Awal Bros.

 

Menjelang maghrib waktunya jelajah kota Pasir Pengaraian, kotanya sih tidak begitu ramai karena perlintasan. Ciri khas kota-kota kecil di Riau, uniknya ada betor (becak motor) yang biasanya ada di Medan sekitarnya berseliweran. Tujuan utama ke Islamic Center, icon Pasir Pengaraian terlihat megah. Disini dibuat satu kompleks dengan menara 99, jadi dipusatkan pendidikan dan agama Islam. Setelah mencicipi karpet masjid untuk Ashar, kesempatan berkeliling kompleks Islamic Center.

 

Menyusuri lorong-lorong yang mengitari masjid terasa sejuk. Penampakan sekilas seperti Taj Mahal di India terdapat kolam ditengah diapit 4 menara. Uniknya lagi tempat masuk jamaah wanita dan pria diberi tanda berbeda. Seperti untuk jamaah pria, pintu diatas terdapat tulisan Abu Bakar As Shidiq-Khalifah pertama sedangkan Pintu jamaah wanita bertuliskan Siti Khadijah-istri Nabi Muhammad.Jadi nggak salah masuk ruangan sholatnya, ane juga pas bingung banyak pintu mana yang buat jamaah pria. Biar nggak malu salah masuk, tiap pintu Islamic Center sesuai ruangannya masing-masing.

 

Setelah lelah mengelilingi masjid, dilanjutkan diluar masjid. Bagian depan Islamic Center ini ada tugu Ratik Togak. Ini termasuk salah icon terkenal kota Pasir Pengaraian, sebuah tugu perlambangan ekstensi Islam di sini, lima tonggak melambang 5 rukun Islam tersambung dengan tasbih. Memang Islam di Pasir sangat kuat, sebutan seribu suluk(tempat ngaji) disematkan. Selain pondasi religi, kota ini konon kaya hasil buminya macam emas. Dulu sungai Rokan Kanan atau Batang Buluh mengandung emas, banyak masyarakat sekitar melakukan tambang dengan teknik pengaraian(ayakan). Pasir disungai diayak sampai menghasilkan butir emas, itu asal nama Pasir Pengaraian diambil.

Kali ini ane cuman wisata kota aja untuk salam kenal dulu, sebenarnya Pasir pengaraian banyak wisata tempat yang wajib dikunjungi seperti obyek wisata air panas Hapanasan, Pawan, air terjun Aek Martua dan Danau Cipogas . Kalo tak suka main air bisa jelajah alam Taman Nasional Bukit Suligi dan Goa Huta Sikafir. Banyak obyek-obyek tersembunyi yang masih perawan perlu dijelajahi. Next Trip Next Rute. fey []

 

Biodata penulis:
Ferry Fansuri adalah penulis, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs. Eks redaktur tabloid Ototrend Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance untuk berbagai media Nasional

Puisi: Joe Annas Hasan

Polisi Tak Bertelinga

Mungkin panah telah menjadi Tuhan
Kemana perginya, disitu ujungnya ajal
Berita semakin mekar, tuli pun semakin jadi
Duduk di kantor, diam, bercerita, mungkin itu aktifitas mereka
Resah, risau, gusar hati orang-orang yang tak dianggap mata
“anakku dipanah, dimana pelakunya? Aku sedang terbaring tak mampu. Tolong carikan tersangkanya. Oh, rupanya polisi itu tak bertelinga. Mereka di kantor. Aku salah mengadu.” Keluh seorang Ibu.
Pndah saja dari Bau-Bau, jika tak berani melawan rusuh
Kini tak ada beda lawan dan kawan
Mana pelindung mana terlindung
Yang terlindung makin melarat oleh airmata
Sedang pelindung tetap tertawa dengan  rupiah tiap bulan
Oh, aku salah mengadu lagi
Baiklah akan kutanggalkan pakaianku
Tapi copot juga seragam polisi tak bertelinga itu
Copot seragam mereka yang hanya menengadahkan tangan

(Bau-Bau, Jumat, 25 November 2016)

 

Seperti Musim

Itu dia yang kurindukan
Datang seperti kedipan mata
Lalu pergi seperti tak mengenal
Malam memenjara tawa
Berpesta pora dalam putihnya putih
Layar berrpecah-pecah
Kecanggihan mesinnya melewati akal
Entahlah
Mengapa rindu mampu menyiksa
Padahal tak sedikitpun ia tampak
Berulang seolah aku satu-satunya
Dia yang kurindukan
Datang seperti hujan
Pergi seperti hujan
Seperti musim hari ini

(Bau-Bau, Jumat, 24 Februari 2017)

 

Semilir Angin

Ada semilir angin
Hanya sepintas
Tapi terus
Disana burung hitam berlomba
Lalu hilang
Di telan ombak
Ini hanya semilir angin
yang pergi tanpa pesan
(Kapal Ciremai, Sorong-Bau-Bau, Rabu, 16 November 2016, pukul 05.31 Sore)

 

Pernahkah Kau Bercerita

Pernahkah aku bercerita
Pada toilet yang kau kotori tiap hari?
Pernahkah kau bercerita
Pada air keruh di kolam kecil?
Kata ini sepeti kutukan
Dari selang-selang pengisi hidup orang miskin
Sekali lagi, ini seperti kutukan
Pernahkah kau bercerita?
Tentang kebohongan

(Bau-Bau, 16 Februari 2017)

 

Terima Kasih Untuk Malam Yang Tak Mau Sunyi

Terima kasih untuk malam yang tak mau sunyi
Kutinggalkan bunyi kipas di celamu
Terima kasih untuk malam yang tak mau sunyi
Atas waktu agar kau kusejarahkan
Terima kasih untuk malamyag tak mau sunyi
Telah kubelah bulan dalam panci
Terima kasih untuk malam yang tak mau sunyi
Biarkan iringan klakson kapal saling berkejaran
Terima kasih untuk malam yang tak mau sunyi
Kututup dengan birunya
sang legenda

(Wanci, Selasa, 22 November 2016)

 

Joe Annas Hasan, lahir di Ambon pada 22 Februari. Karya-karyanya baru tersebar di penerbit indie.  Aktif di bidang olahraga (Taekwondo). Nomor HP : 082248207003

[Cerpen] Bapak

Oleh: Muzammil Frasdia

Seminggu setelah dikeluhkannya benjolan kecil yang tertera di leher kirinya, akhirnya terpaksa Bapak kami larikan ke dokter untuk diperiksa. Semula ke bidan terdekat. Namun kata bidan penyakitnya serius, dan harus segera dirujuk ke Rumah Sakit. Tanpa berpikir panjang kami pun langsung tancap gas menuju rumah sakit.

Baru kali ini Bapak semasa hidupnya mengunjungi tempat paling menjengkelkan itu. Padahal dari dulu, jangankan diajak ke rumah sakit, dengar namanya saja Bapak langsung menandai sikap acuh kepada siapa saja yang bicara Rumah Sakit. Bila ia sakit, cukup minta antar ke bidan Yuyun. Hanya ke bidan Yuyun saja bapak ngerasa cocok bila geringnya kumat. Dan benar memang, keesokan harinya Bapak langsung kembali bugar pergi ke sawah menyabit rumput, membajak sawah, atau berdagang sapi di pasar.

Tidak ada kecurigaan tentang sakit yang aneh-aneh didera Bapak selama ini selain encok. Tentang adanya benjolan yang kian hari cepat membesar seukuran kepalan tangan ini belum terlintas di pikiran kami.

Setelah sampai di rumah sakit, Bapak langsung di tangani oleh dokter-dokter yang ada.  Sebelum Dokter ahli bedah itu melakukan tugasnya, ia menerangkan: “Kami harus mengambil sampel dari benjolan di lehernya terlebih dahulu. Barulah kami kabarkan hasilnya nanti.” Entah itu apa, kami semua mengijinkan dokter itu mengerat leher Bapak.

Satu jam kami menunggu dokter bedah dan dua orang asistennya tersebut mengurus Bapak di ruang operasi. Di sekitarku: kakak iparku, mbak Mut, dan ibu mencari duduk dalam suasana pikiran masing-masing. Aku tahu dari semua yang mereka tampung tentang kondisi Bapak, hal lain yang paling krusial, apalagi kalau bukan beratnya biaya yang harus dikeluarkan. Sedang tanggungan utang piutang puluhan juta ke Haji Jais hanya sedikit yang bisa dilunasi. Apalagi sekarang ditambah Bapak yang dirujuk ke rumah sakit. Pasti beban itu kian bengkak lagi.

Keluarga, sekalipun banyak orang, tidak ada satupun diantara kami yang bisa dibilang sukses dalam pekerjaan. Malah sebaliknya lika-liku kasus kakakku yang nomer dua lantaran sangkut paut sewa mobil yang belum terbayar sampai saat ini juga masih kalut menghantui kami sekeluarga. Mungkin juga Bapak begini karena terlalu suntuk memikirkan deritanya sendirian. Lalu pada akhirnya Bapak jadi begini dengan penyakit barunya yang serius. Pikiran lain juga kemungkinan tentang kabar kakak yang sampai sekarang hilang karena dicari pihak mobil. Seringnya polisi mendatangi rumah menanyakan kakak, pun makin membuat Bapak cemas dan stres.

Selang pintu ruang operasi tersebut ada yang membuka. Pandangan kami tertuju langsung pada kondisi Bapak yang tengah tertidur di atas ranjang pasien yang didorong dokter menuju ruangan lain. Kami bergegas berusaha mengikuti namun dokter tidak mengizinkan. Ibu mengeluh, dan kami hanya bisa pasrah berharap dokter tersebut cepat-cepat kembali menemui kami di sini.

“Satu minggu lagi hasilnya akan diketahui.” terang dokter kepada kami.

“Kira-kira penyakitnya apa, Dok?” Ibu bersikeras minta dikasih tahu.

“Belum ketemu, Bu. Belum jelas penyakitnya apa sebenarnya. Tapi dilihat dari benjolan pasien, kami masih menduga penyakitnya positif kanker. Jelasnya, hasil ini baru kita dengar seminggu lagi. Karena sampel kelenjar yang kami ambil dari benjolan di leher tadi harus dikirim ke Surabaya untuk diteliti lebih lanjut.”

Kami semua hanya mangguk-mangguk mendengar kata kanker dari dokter. Kami juga tak kuasa melihat Bapak yang kemudian berjalan pelan menghampiri kami yang masih duduk dengan dokter. Wajah bapak begitu pucat. Tubuhnya yang dekil kurus masih mengenakan baju pasien warna biru langit. Kata kanker masih terngiang-ngiang baginya, namun tetap akan kami rahasiakan agar pikiran Bapak merasa tenang dan tidak terusik.

Suara kumandang adzan maghrib di masjid itu seperti penutup pembicaraan kami dengan dokter. Kami pun bergegas kembali ke rumah dengan tubuh dan sikap layaknya manusia diberi beban pemikiran yang sulit untuk dipecahkan jalan keluarnya. Kami tidak tahu hal apa yang selanjutnya akan kami terima dan hadapi selain menunggu hasil kabar dari dokter. Di dalam mobil Bapak tampak lemas sehabis dikuras energinya oleh dokter. Kedua matanya memandangi pemandangan malam di luar kaca itu. Aku pun yang duduk di sampingnya hanya bisa merasakan riuhnya angin yang berlesatan melibas-libas wajahku, menghambur-hamburkan pikiranku ke sana kemari. Sempat Bapak menanyai tentang penyakitnya, kami semua diam dan ragu menjawab. “Penyakitnya ringan. Benjolan.” Sejurus ibu menjawabnya dengan lugas. “Dokter juga menyarankan harus banyak-banyak istirahat dan jangan banyak pikiran.” Mendengar ibu bicara, Bapak sedikit melegakan nafasnya dan kembali melanjutkan pandangannya ke luar jendela mobil.

**

Barulah seminggu kemudian, aku dan Mbak Mut menemui dokter lagi. Dan setelah hasil tes itu kami terima, selanjutnya kami harus mendengarkan arahan dokter itu.

“Kasihan beliau,” dokter bicara tentang Bapakku,“Betapa sakitnya ia.” dokter itu geleng-geleng kepala. Aku dan Mbak Mut terkejut dan tercengang menerima kalimat yang terpotong-potong itu.

“Maksud dokter?” tanyaku penasaran.

“Bapakmu ini sudah dikatakan terlambat, nak, untuk diperiksakan penyakitnya. Seharusnya dari dulu kalian membawanya periksa. Saya juga tidak menjamin usianya bertahan dalam waktu kurang lebih tiga bulanan. Karena jenis kanker otak ini sudah terbilang ganas dan sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. Tapi semua juga ada yang mengatur. Wallahua’lam. Kita hanya bisa berusaha dan pasrah.” Begitu berani Dokter ini memutuskan nyawa hidup seseorang.

Aku hanya bisa tertunduk lemas dan menelan ludah pahit yang tiba-tiba kurasakan ketika mendengar usia bapak yang ditaksir tidak akan lama lagi. Apalagi dibilangnya dokter taksiran mencapai 7 jutaan. Aduh, betapa kejam dunia ini menghabisi keluargaku.

“Dapat dari mana kita biaya segitu besar, nak?!” keluh ibu sambil menangis.

Benar memang, pada persoalan urus tanggung penyakit Bapak, ujungnya pasti ketidakmampuan kami mengeluarkan biaya. Dan jalan alternatif lain mau tidak mau Bapak kami bawa ke orang pintar. Jalan terapi tersebut kami lakukan keliling dari dukun satu ke dukun yang lain. Sampai Bapak harus pakai yang namanya susuk. Tapi dari sekian itu tak ada yang berhasil menyembuhkan, sebaliknya Bapak semakin mengerang sakit kepala yang luar biasa setiap harinya. Dan semakin membuat kami semua bingung mau berbuat apa. Air, ramuan rempah-rempah, tulisan arab, susuk, dan lainnya bak sia-sia untuk mencapai kata sembuh.

Seminggu lebih sejak Bapak ditemukan jatuh tersungkur terpeleset dari tangga pintu, Bapak jadi kaku dan terbaring di kasur. Tubuhnya semakin hari semakin kurus. Bicara pun Bapak sudah tidak bisa. Kedua matanya hanya berhelai-helai ke sana kemari memandangi suasana sekitar termasuk ibu yang di sampingnya tak ingin beranjak sedikit pun. Tangan dan kakinya dingin sekali kugenggam. Setiap dedahamnya yang berkeluh, selalu kami temani dengan air mata. Terakhir Bapak memberi kejutan luar biasa kepada kami. Di kondisi tubuhnya yang masih sempat bergerak, dalam pembaringan Bapak membalikkan tubuhnya hingga telungkup. Telungkup begitu saja pada bantal. Persis seperti ketika ia minta untuk dipijat. Karena dirasa lama, ibu menyarankan agar bapak dibalikkan kembali badannya. Tapi sayang, sesuatu begitu mengejutkan ketika Bapak sudah tiada dengan cara yang tidak lazim orang meninggal pada umumnya(*)

 

 

 

Muzamil Frasdia, seorang guru di Bangkalan, Madura

 

 

 

 

 

 

 

Puisi Moh.GhufronCholid

MERAPIKAN KENANGAN

Merapikan kenangan

ada yang mesti dipertaruhkan

: kesetiaan

 

Lipatan duka

pengobat segala

yang nesta

yang hilangrupa

rekah senyum

mula mencipta tentram

dalam debar keberkahan

                    Al-AmienPrenduan, 25 Juni 2016

 

SELINGAN RINDU

Pada sebuah selingan rindu

ada yang berhamburan di pekaranganingatan

tentang keakrabanmu

lamat-lamat melengkapkan separuh imanku

 

senyummu, senyummu

alasanku bertahan

lewati segenap debaran

kadang aku tak berdaya

 

embun ucapmu

; matahari, bangunkan bumi kalbuku

 

Dan aku

keyakinan yang berjalan

menuju keridhaan

Tuhan

Al-AmienPrenduan, 25 Juni 2016

 

SEPUTAR ARUS PAGI
: SoniFaridMaulana

 

Arus pagi berlari dekati hati
menyalami hidup
seimbangkan degup

 

ini keterasingan, terbalas
ini idealis dekati ikhlas

 

arus pagi berlari dekati hati
sunting mimpi
yang telah lama tertunda
doa lama terperam
dan tirakat usai
dalam syukur
menyubur tafakur

 

                       Madura, 2015

 

SALAM RINDU

 

Salam rindu
buatmu guru

 

kehadiranmu
surgaku

 

kau, matahari pengetahuan
karuniaTuhan

 

           Junglorong, 8 Agustus 2015

 

MENANAM MATAHARI

 

aku telah percaya
segenap jiwa

 

tak aku hiraukan segala
kendati meyakinimu duka terus tumbuh
ini semata agar kau bisa tegak

 

aku telah percaya
aku abaikan seluruh nyeri
menyaksikanmu lumpuh
aku tak ingin

 

kelak ada masa
kau bangkit dan bangkit
meninggalkan kamar keputusasaan

 

sebagai guru akrab duka
jalan tak terhindarkan
dan pengobatnya
puncak kejayaan didikan

 

sebagai guru benturan kekecewaan
tak dapat terelakkan
menyaksikan senyum anak-anak matari yang diasuh
adalah jalan mahabbah terindah
begitu pun menyaksikanmu berdiri tegak
dan aku lupa pada segala onak

 

biar aku tanam matahari
dalam hatimu
biar tak hanya malam
bermukim dalam
hatimu

 

Junglorong, 2015

 

 

 

BiodataPenulis

Moh.GhufronCholid adalah nama pena Moh. Gufron, S.Sos.I, lahir di Bangkalan, 7 Januari 1986 M. PendiriPesantrenPenyair Nusantara di FB.Karya-karyanyatersebar di berbagai media sepertiMingguan Malaysia, New Sabah Times, MingguanWanita Malaysia, MingguanWartaPerdana, Utusan Borneo, Tunas Cipta, Daily Ekspres, Bali Post, MajalahHorison, Majalah QALAM, Majalah QA, MajalahSabili, Radar Madura, Koran Madura, Radar Surabaya, poemhunter.com, kompas.comdll jugaterkumpuldalamberbagaiantologibaikcetakmaupun online, terbit di dalammaupunluarnegerisepertiMengasahAlief, EpitafArau, AkarJejak,JejakSajak, MenyiratCintaHaqiqi, SinarSiddiq, Ketika Gaza PenyairMembantah, UnggunKebahagiaan, AnjungSerindai, Poetry-poetry 120 Indonesian Poet, Flows into the Sink into the Gutter, Indonesian Poems Among the Continents, dll. Beberapapuisinyapernahdibacakan di Japan Foundation Jakarta (10 Agustus 2011), di UPSI Perak Malaysia (25 Februari 2012), di Rumah PENA Kuala Lumpur Malaysia(2 Maret 2012) dan di RumahMakanBiyungJemursari Surabaya dalamacarabukabersamaPipietSenja (30 Juli 2012), di Jogjadalam Save Palestina (2012), di SragendalamTemu 127 Penyair Dari SragenMemandang Indonesia (20 Desember 2012), di Pekalongandalam Indonesia di Titik 13 (Maret 2013), di SastraReboandalamTemuSastra Indonesia-Malaysia (Agustus 2013), di P.O.RT AmanJaya, Mydin Mall danDewanBahasadanPustaka Malaysia dalamKongresPenyairSeduniake 33 (21,23, 26 Oktober 2013), di Brunei ketikamenikmatiindahkampoeng air (7 November 2013) di Al-Izzah Islamic Boarding School BatuJawaTimurdalam safari menulisbersamaPipietSenjadkk (Juli, 2014), di RRI Sumenep (5 Januari 2015), di PondokPesantrenPutridan Putra DarulUlumBanyuanyarPamekasan (27&28 Juni 2015), di Bandung dalamTemuSastra Indonesia Malaysia (2015), di Janati Park dalamTemuMahasiswa Madura selepasshalatIdulAdha (24/09/2015), di Kampung Toga Sumedang (2015), di TeaterGunungKunciSumedang (26/09/2015), di Pesantren Al-Amien PRENDUAN dalamacaraBhineka Tunggal Ika (26/10/2015). Bukupuisi terbarunya Menemukan Allah (Pena House, 2016). Berkhidmat di PondokPesantrenAssanusiTorjunan Robatal Sampang Madura. HP 087705743403

Pesona Melayu di Istana Matahari

Oleh: Ferry Fansuri

Saat landing di Bandara Sultan Syarif Kasim II International Airpot, teringatku akan sejarah kesultanan Siak Indra Pura. Sosok Pahlawan Nasional dan  Riau yang melawan penjajah Belanda disahkan BJ Habibie pada 1998. Jejak history ada di istana Siak dan pusat kerajaan cikal bakal kot Pekanbaru yang terletak di kabupaten Siak. Menuju kesana bisa memakai mobil atau travel kesana, menempuh 202 km dengan perjalanan 2 jam 30 menit arus normal. Ketika kulewati jembatan megah Tengku Agung Sultanah Latifah diambil dari nama permasuri Sultan Syarif Kasim II, pertanda ucapan selamata datang dari Siak Indrapura telah dekat

        
Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah

Setibaku di Istana Siak yang menghadap sungai Siak ini, terlintas gaya bangunan panduan Melayu, Arab dan Eropa sama dengan arsiktektur Istana Maimun yang ada Medan. Istana Siak ini juga disebut Istana Matahari atau Asserayah Hasyimiah konon membutuhkan 3 tahun dalam pembangunannya (1889-1893). Dirancang arsiktektur Jerman pada masa Sultan Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin atau Sultan Siak XI.

Gerbang kebesaran kesultanan Siak

Begitu megah dan mewah Istana Siak, memasuki gerbang hingga pintu utama terlihat kebesaran kesultanan Siak dijamannya. Pada bagian utama dalamnya kita dapati balairung tempat pertemuan para tamu, dibangun dengan 2 lantai. Istana Siak yang berada jalan Sultan Syarif Kasim ini mempunyai 6 pilar menopang dan dicat warna kuning gading.

Didalamnya terdiri dari 4 bangunan utama terdiri dari Istana  Siak, Lima, Padjang dan Baroe. Jika kita memasuki ruangan utama, terlihat ruang tunggu untuk tamu-tamu kerajaan dibagi menjadi 2 bagian untuk laki-laki dan perempuan.

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/u/0/?view=att&th=15966b343fac5103&attid=0.15&disp=inline&safe=1&zw&saddbat=ANGjdJ8WuOnwkSkx3DKnf615sV4TfguGmKAIT9opfW7MYRsQO8zWm3zYni6VaWqwg2aAo7ObdomnZ6Eg1HEMIm-pev6p9eEExqNk0va-D_2gI9hOaBZcCciRuMuha9F5hJS_sEEsbrSuM61IHgAdP1Fb_MsjBy1JM1zfYqwu3NaeSLgxHTiwRh2f8w4b23e4AomwqM0abQdoAaHVlMSUfuDHVudjIrNBiYYigT4OBtLacjVBXUMBub_dhpXts9QSDhW6sIqettMkB-xsQ49A8Sriw6ma8MwCZ4QD2w0-wAjH8Oo0rwuHkE6cFqfvV9nXExkLcCd56rMxt3sCb4HRg3pjCCFtJJaE4dxZVWojRqt1Lnxc-yiebeQFw8FWLFD4KNABxxhpNPyUE0GPJIOnACSyOmJaHe9ZQXa_1DI-4heyC0yjyehJ5gBmhsCYi7_WaaykEGMvHNk46uCJTWQSFLskpZ6Wo0QBydepiGWyLE2rw4ItOpO6PmNh8hAKie1pSscAp6j3civixcZTc1dxBQgnac2SgZNcsKUyBzT1uDZ2xw1rIW7vedYbKJrdIilzfsNELysNJ5hnwuU5ELkUKCW4-XkUj12UlAnEqiJADoGHy-BMAZ_RUSKLNnzIuQ4

Foto Sultan Kasim II dengan sang permaisuri

 

Saat memasuki dalam Istana Siak, kita seperti diajak nostalgia akan sejarah didalamnya. Aku jumpai foto-foto Sultan Kasim II dengan sang permaisuri, dan juga foto proklamator Republik ini Soekarno. Mungkin tak banyak tahu bahwa Sultan Kasim II ini begitu cinta tanah air ini dan getol melawan penjajah Belanda bahkan rela menyerahkan 13 juta Gulden setara 1,074 trilyun rupiah dijamanya kepada Soekarno sebagai mahar untuk bergabung dengan Indonesia. “Biarpun Soekarno belum pernah berkunjung disini” jelas salah satu staff “kuncen” istana Siak ini. Siak jadi kerajaan kedua yang memastikan bergabung dengan Indonesia setelah Jogja.

  Situs cagar Budaya Gudang Mesiu

Berkeliling dalam selayar istana Siak begitu banyak ornamen dan peninggalan dari kesultanan Siak. Paling unik koleksi meriam dari abad 18, saat kuperhatikan ada sebuah meriam paling besar daripada lainnya. Dikenal sebagai meriam buntung berdiameter 21 cm, ada cerita unik dibaliknya. Kondisi meriam masih sangat baik tapi jika diperhatikan terbelah menjadi dua bagian. Meriam buntung sempat jadi incaran pencuri untuk dijual ke kolektor, tahun 1960 konon pernah dicuri dan dipotong untuk dibawa moncong saja ke Singapura tapi sial kapal yang mengangkut moncong meriam itu tenggelam di teluk Salak. Ajaibnya kembali lagi ke pasangannya.

  Gramafon buatan Jerman
Tatanan dan arsiktektur modern begitu kental didalamnya, ini tak lepas didikan sang ayah Sultan Siak X1 kepada sultan Syarif Kasim II. Ini bisa terlihat dari peninggalan Gramafon buatan Jerman atau lebih dikenal Komet ini. Sang Sultan begitu tergila-gila sama Beethoven komponis musik klasik, sang Sultan bisa menikmati sorenya dengan mendengarkan simponi kelimada dan sembilan milik Beethoven dari piringan hitam. Menikmati sampai akhir hayat sampai mangkat tahun 1968 tanpa keturunan dan begitu juga berakhir garis keturunan kesultanan Siak dan takdirnya melebur dengan Indonesia.

  
Kelenteng Hock Siu Kiong

Istana Siak terletak di pinggiran sungai Siak yang strategis, sempat jadi rebutan kolonias Belanda dan kesultanan Johor. Kusempatkan berjalan disekitar istana Siak, banyak bangunan bertingkat 2 bercatkan merah dan terlihat dari indentitas ini Pecinan Siak atau lebih dikenal kawasan Merah. Hampir 200 tahun lebih komunitas Cina pendatang di Siak, ini ditandai berdirinya kelenteng Hock Siu Kiong bersebelahan dengan Masjid Syahabuddin. Selain keleteng ini, ada juga gereja yang dibangun tahun 1936 dan sekarang dikelola HKBP. Sultan Siak XII memang sejak lama menghormati keanekaragaman agama di wilayahnya, ini terbukti jejak-jejak kerukunan dimasa lampau dan ini sepertinya berbanding terbalik dengan suasana intregasi nasional yang saling kecam di media sosial saat ini.

 


Biodata Penulis :
 
Ferry Fansuri kelahiran Surabaya, 23 Maret 1980 adalah penulis, fotografer dan entreprenur luluasan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya “Roman Picisan” (2000) termuat. Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional

Puisi Achmad Fathoni

Ada Senja yang Bermain-main di Otakku

ada senja yang bermain-main di otakku,
berwarna kelabu membantang
kearah yang tak berlabuh, anginnya pun riuh,
membuntuti burung-burung menuju ke selatan
untuk berlabuh. senja bermain-main
membentuk pendar cahaya di danau; laut; air
dan juga selembar rayuan yang telah lama kumu.
kapan akan turun senja, sudah banyak orang yang bertanya
dan menunggu, tapi wajahnya direnggut kesedihan.
lalu gerimis datang menjadi bingkai sebelum
larut sebelum malam datang membawa bintang
dan mendung tipis-tipis lalu menebal.
ada senja di otakku sedang melilit kata di mataku.
Malang, 2016

 

Sepi Membunuh

sepi menikam tubuh, belati telah siap di tancapkan
tetapi mati tak lagi pasti
ruang menjadi bunting lalu malahirkan sepi yang baru lagi,
beranak pinak mengembang seperti soda gembira
di warung sebelah rumah yang dijual dengan harga mati
lalu perut mual menunggu orang keluar dari toilet umum
yang dibandrol dua ribu rupiah dengan sepasang sandal
yang di lepas di di depan pintu. tapi sayangnya terlalu kotor
toliet tersebut, baunya seperti keringat anjing kampung
yang tak pernah dimandikan oleh pemiliknya
yang bekerja di toilet umum itu.
sepi menikan tubuh, menjadikan soda tak lagi gembira
dan tak ada ruang yang bunting lagi
dan dukun beranak tak ramai seperti sebelumnya.
sepi menikam tubuh menjadikan luka
yang tak sempat sembuh sampai lupa kapan bertemu subuh.

Malang, 2016

 

Nasib Sebatang Rokok

satu batang rokok telah habis,

tiga batang lainnya menunggu dihabiskan,

satu batang rokok harga seribu lima ratus

dengan bea cukai lebih dari tiga ratus

lalu dikali empat batang rokok menjadi enam

ribu tanpa uang kembali sebab membelinya

dengan uang pas. seribu lima ratus dapat sebatang

rokok lalu di nyalakan untuk menemukan asap,

mencari sebab kematian yang terdakwa adalah rokok.

apakah rokok akan dipenjara? apakah ada lapas rokok?

mungkin orang-orang sedang bercanda,

padahal tuhan maha memafkan,

kenapa harus menghakimi padahal benda mati.

Malang, 2016

 

Tiga Jam Berlalu Melewatkan Ruang

tiga jam sudah berlalu, melewatkan ruang

yang belum bertatap muka dengan waktu

serta matahari yang belum sempat menunjukan

waktu akan terbit. begitulah telunjuk jarimu

menyentuh keningku saat subuh menjelma kabut

dan dingin bersekongkol bersama embun

membelenggu tubuh ringkih seperti ini.

tiga jam sudah aku duduk menunggu

sebelum jarimu menyentuh keningku lagi

Malang, 2016

 

================================================================

 

ACHMAD FATHONI, mahasiswa Universitas Negeri Malang. Aktif menulis puisi, cerpen, beberapa puisinya ada di berbagai media cetak lokal daerah, puisinya pun ada di berbagai buku antologi  hasil lomba, cerpen-cerpennya beberapa kali mendapat apresiasi juara di perlombaan sayembara menulis. Kini aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis.

No Hp : 085733841571

Alamat : Jl. Semarang No.5 Kampus Universitas Negeri Malang, Gedung C3 UKM Penulis (Achmad Fathoni), Kode Pos 65145 (Malang)

[Cerpen] Menikahi Matahari

Oleh : Devian Amilla

“Bagaimana mungkin kau hidup dengan seseorang yang tak pernah menganggap kau ada, Mira?” tanyanya padaku. Dia menatapku dengan tatapan tak percaya. Seperti biasa, aku hanya diam lalu berusaha untuk tersenyum di hadapannya.

“Mira, pernikahan itu membawa kebahagiaan bukan kesedihan.” Ucapnya sambil mengelap air mataku yang sejak tadi tak mau berhenti. Aku merasakan kekecewaan yang teramat dalam dari nada bicaranya. Pagi ini setelah pertengkaranku dengan Sultan, aku memutuskan untuk menenangkan hati dan pikiranku di apartement Bita.

“Apakah kau menyesal telah menikah dengannya?”. Sebenernya aku masih malas untuk membuka mulut. Tapi rasa-rasanya Bita telah salah paham atas kehadiranku pagi ini di apartementnya. “Jika kau tanya padaku apakah aku menyesal, jawabannya jelas ‘tidak’, meskipun sekarang aku masih gagal, tapi aku bangga hidup di atas keputusan yang kubuat sendiri.” Aku mencoba menarik sudut bibirku untuk menciptakan senyuman yang selama ini ia suka. Meskipun aku tau, aku gagal melakukannya kali ini.

“Maksudku, apa kau tidak ingin berhenti saja? Sebelum semuanya semakin menyakitkan, Mir.”

“Ini sudah sangat menyakitkan untukku, Bit. Tapi aku mencintainya. Sangat mencintainya.” Aku mengelap pipiku yang basah.

“Tapi dia tidak mencintaimu!”, ucap Bita ketus.

“Mana mungkin dia menikahiku jika dia tidak mencintaiku, Bita!”, aku menjawab ucapan Bita tidak kalah ketus. Aku rasa percuma berdebat dengan sahabatku yang satu ini. Bita tidak akan sependapat denganku. Ini bukan kunjunganku yang pertama ke apartementnya. Sudah tiga bulan usia pernikahanku, dan hampir tiga bulan juga aku bertandang ke apartementnya dengan keadaan seperti ini. Mata sembab, hati berantakan, pikiran kacau. Sudah entah berapa ribu kali nasihat yang keluar dari bibir mungilnya untukku. Tapi aku tak pernah mengindahkannya. Bita sahabatku sejak kecil, usianya 3 tahun lebih tua dariku. Bita sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Sultan tahu pasti hal ini.

“Lepaskan Mataharimu, Mir. Dia terlalu panas untukmu. Lihatlah, tiga bulan pernikahan kalian, tak sekalipun dia mengusap air matamu ketika menangis. Padahal jelas-jelas dialah sebab kau menangis, dialah sebab mata cantikmu sembab seperti sekarang. Lihatlah, matamu sudah seperti pemain tinju yang menerima serangan telak di wajahnya.” Bita terus menggerutu.

“Kalau begitu, biarlah aku yang akan mengatur suhunya agar tak terlalu panas untukku, Bit.” Aku tersenyum tanpa menoleh ke arah Bita. Tuhan, rasanya sakit sekali ketika mengatakan ini. Tapi biarlah, biarlah aku yang merasakan semua ini. Aku mencintai Matahari, itu artinya aku harus tahan seberapa pun panas yang akan ia berikan untukku. Walaupun Bita benar. Selalu benar. Seharusnya aku melepaskan Matahari.

Malam itu aku diantar Bita pulang kerumah. Aku mengira Sultan belum pulang dari kantor. Karena jam masih menunjukkan pukul 20.00. Biasanya Sultan baru tiba dirumah pukul 02.00 pagi.  Tapi dugaanku salah. Sultan sudah pulang dan banyak sekali mobil parkir di halaman rumah kami. Aku panik. Sultan pasti marah sekali ketika tidak mendapatiku di rumah saat dia tiba tadi. Takut-takut aku melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Bita yang melihat aku begitu takut memutuskan untuk ikut masuk ke dalam mengantarkanku. Aku menolaknya tapi bukan Bita namanya kalau ia mau mendengarkanku. Bita menarik tanganku untuk segera masuk ke rumah karena diluar hujan sedang turun dengan derasnya.

Betapa terkejutnya aku melihat Sultan sedang pesta minuman keras dengan teman-teman wanitanya. Kucari penjelasan dari tatapan matanya. Tapi ia hanya menatapku dengan dingin. Bahkan tatapan dinginnya mengalahkan udara diluar. Bita yang saat itu menyadari aku sudah tak di hargai lagi sebagai seorang istri mulai berang.

“Sultan! Keluarkan teman-temanmu yang tidak tahu sopan santun ini dari rumah kalian!”, Bita kalap, ia melemparkan salah satu gelas yang berada tepat disampingnya ke lantai. Seluruh perhatian teman-temannya pun tertuju pada kami. Sultan menoleh, rahangnya mengeras. Dia berjalan kearahku dan Bita. Dia berbisik di telingaku, “Keluarkan temanmu yang seperti anjing liar ini dari rumah kita!”. Aku terkesiap. Bagaimana mungkin dia menyebut Bita “Anjing Liar”. Bukankah dia tahu Bita sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri.

Demi mendengar dirinya disebut “Anjing Liar” oleh Sultan, Bita refleks melayangkan tamparan telak di wajah tampan Sultan. Sultan mendesis. Menyeret paksa aku yang sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, meninggalkan Bita yang berteriak memanggil namaku. Sultan menarik paksa rambutku yang seharusnya dibelainya dengan lembut, mencampakkan tubuhku kedalam kamar yang seharusnya dia peluk dengan hangat. Sultan mengunciku dari luar. Kepalaku sakit sekali. Semua terasa berputar. Mataku sudah tidak bisa melihat dengan jelas lagi. Kurasakan cairan mengalir dari atas kepalaku. Tiba-tiba semua terasa begitu gelap.

Keesokan paginya aku terbangun dengan kepala yang masih terasa sakit. Aku mencoba mengingat kejadian tadi malam. Oh, Tuhan. Bagaimana dengan Bita? Tidak seharusnya dia ikut mengantarku ke dalam. Kulihat pintu kamarku sudah terbuka. Aku bersyukur Sultan sudah melupakan kejadian tadi malam dan mau memperbaiki semuanya dengan membukakan pintu kamarku.

Kulihat ia sedang membuat roti panggang kesukaanku. Kupeluk Sultan dari belakang, kubisikkan bahwa aku minta maaf atas kejadian tadi malam, bilang kalau tak seharusnya aku membawa Bita kedalam rumah. Tak ada respon. Sultan tak merespon perkataanku. Tapi ia juga tak berusaha melepaskan pelukanku seperti biasanya. Aku tersenyum, ini suatu kemajuan. Mungkin Matahari-ku akan sehangat dulu lagi.

Sultan sarapan tepat di hadapanku. Dia membiarkan aku menikmati caranya makan. Hal yang selalu aku suka dan tak pernah lagi ia lakukan untukku selama tiga bulan pernikahan kami. Biasanya dia akan pergi menghindariku jika aku berada di dekatnya. Mungkin Matahari-ku akan kembali seperti dulu. Senyumku terus mengembang.

Kulihat Sultan sibuk membereskan berkas-berkas yang akan dibawanya ke kantor. Kutanyakan apakah aku perlu membuatkan bekal untuknya. Tak ada respon. Kutanyakan lagi apakah malam ini ia akan makan malam dirumah? Ia juga tak merespon. Aku mulai merasa diacuhkan. Tapi tidak apa, setidaknya Sultan tidak menyuruhku pergi seperti biasanya. Rasanya aku lelah sekali. Kutinggalkan Sultan yang sekarang melangkah ke arah kamarku.

Baru beberapa langkah kakiku menjauh darinya, kudengar Sultan berteriak memanggil namaku. Aku pias. Aku segera berbalik ke arahnya. Aku terperanjat melihat tubuhku yang sudah lemah tak berdaya dengan darah yang segar dibagian kepala, sebagian sudah mengering di lantai. Kulihat Sultan menangis, berusaha membangunkanku dengan menggerak-gerakkan tubuhku. Aku bingung. Aku berteriak memanggil Sultan. Sultan tidak mendengarkanku. Oh, Tuhan. Apa-apaan ini? Kenapa Sultan tidak mendengarku? Kenapa ia malah sibuk dengan teleponnya? Bisa-bisanya dia menelepon seseorang dalam keadaan seperti ini?

Belum habis kepanikanku, kulihat dokter dan beberapa perawat masuk ke kamarku dan memindahkan tubuhku yang sudah mulai pucat seperti mayat. Semua belalai-belalai panjang yang dibawa dokter dipasangkan ke tubuhku. Alat kejut jantung juga dikeluarkan. Satu. Dua. Tiga. Tak ada respon dari tubuhku. Ayolah, sekali lagi, batinku. Satu. Dua. Tiga. Hasilnya tetap sama. Tidak ada lagi respon dari tubuhku.

Kulihat Sultan memohon pada dokter untuk mengupayakan segala cara, kudengar ia menyebut-nyebut asetnya. Ia ingin menukar semua asetnya untuk membuat jantungku berdegup kembali. Tapi itu tak mungkin terjadi. Manusia hanya bisa berencana, Tuhanlah yang menentukan segala. Saat itulah aku sadar, duniaku dan dunia Sultan sudah berbeda. Itu mengapa dari pagi tadi ia tak merespon semua pertanyaanku. Kulirik sudut meja kamarku, ada bercak darah disitu. Aku baru ingat, ketika Sultan mencampakkan tubuhku, kepalaku membentur sudut meja tersebut.

Aku pun mulai menyadari sesuatu, Sultan, Matahari-ku yang dulu hangat juga sangat mencintaiku. Sangat takut kehilanganku. Lihatlah, dia tak henti-henti menciumiku, menyuruhku membuka mata, bilang bahwa ia akan menjadi Matahari-ku yang manis, yang selalu hangat. Bita salah. Bita tidak selalu benar. Sultan mencintaiku. Matahari-ku sungguh mencintaiku. Hanya saja ia tak tahu bagaimana cara memperlakukan orang yang ia cintai dengan baik. Mahal sekali yang harus kubayar untuk mengetahui Sultan mencintaiku atau tidak. Aku bahkan menukarnya dengan nyawaku. Tapi tak mengapa. Aku tak pernah menyesalinya sedikit pun. Bagiku, dengan menikahi Matahari, aku menemukan kebahagiaanku sendiri dan aku bangga dengan keputusan untuk menikahi Matahari tiga bulan yang lalu.


 

Devian Amilla adalah Alumni UMSU, Jurusan Matematika, 2016. Perempuan kelahiran 13 Desember 1994 ini sekarang tercatat sebagai Guru Matematika di salah satu sekolah swasta di Medan. Bisa dihubungi di FB : Devian Amilla atau email : princessadevian@gmail.com