Galeri

[Cerpen] Bangkai Pesawat Yang Menimpa Kami

Oleh Ferry Fansuri

Lama tak kulihat Kamidi atau kadang dipanggil si Kami, dia tampak berbeda setelah 5 tahun yang ditinggal istri dan anaknya. Istrinya meninggal bersama jabang bayinya, setelah itu Kamidi pergi dari kampung ini. Konon dia menjadi TKW di negara tetangga Malaysia atau menyepi di ujung Sumatra. Tapi sekarang dia kembali ke kampung dengan janggut panjang dan tubuh yang kurus kering, matanya sayu sama seperti kulihat dia dulu. Hampa kosong tanpa harapan

Dia kembali ke rumahnya dulu, sebuah rumah yang lumayan besar tapi sekarang tak terawat. Dulu keluarga Kamidi cukup terpandang dikampung ini, semenjak dia pergi semua hilang. Saat sore kulihat dia, membangun sebuah ruangan kecil suluk (surau) menghadap barat dari kayu.

Tiap kali kujumpai, Kamidi hanya berdiam didalam ruangan kayu itu. Bertafakur dan bersujud, melantunkan doa-doa buat yang Kuasa. Mulai pagi sampai sore bahkan menjelang malam tak beranjak dari suluk itu. Rumahnya sendiri tak terawat, cat terkelupas oleh debu dan hujan. Listrik pun tidak menerangi lagi karena bertahun-tahun diputus pusat karena menunggak lama bertahun-tahun. Sepertinya si Kami juga tidak perduli akan hal tersebut, tiap malam hanya lampu templok kecil yang menerangi bilik suluk kecilnya itu.

Si Kami juga tidak melakukan pekerjaan apapun selain di suluknya itu, sesekali dia ke sumur belakang rumahnya untuk membersihkan diri. Memang terlihat manual karena pompa air tidak lagi dialiri listrik sama sekali dan juga air pam sudah tidak mengalir, Si Kami harus mengambil air secara mengangsuh memakai timba dengan kerekan tua penuh dengan karat.

Untuk makan sehari-hari, Si Kami juga seperti tidak terlalu perduli. Pernah kulihat sekali-kali dia memungut ranting dahan kering hutan dekat kampung ini. Dibawalah ranting tersebut dengan dipanggul diatas punggung yang kurus kering kerontang itu. Setibanya dirumahnya, Si Kami membuat tungku dari batu dan api dari bahan ranting itu. Diatas diletakkan panci yang terlihat tak karuan bentuknya mungkin bekas didalam rumahnya dulu. Air mendidih didalamnya dan si Kami mencelupkan mie instan. Setelah jadi, mie instan itu dilahap langsung dari pancinya dan tanpa melihat kanan kirinya. Darimana pula uang yang peroleh karena selama ini dia tidak bekerja sama sekali, mungkin dari tabungan saat merantau dulu. Kamidi seperti terasing didalam kampungnya sendiri.

**********************************

“Bang, nih kasih ke Kamidi” tiba-tiba sore itu Karni istriku menyodorkan bungkusan ke aku. Kubuka bungkusan itu, ikan selais asap dalam rantang yang menggugah selera. “ Ini buat si Kami dik?”sahutku. “Iya bang, sesekali ajak ngobrol dia sambil anter nih makanan. Khan dulu dia teman abang dari kecil” jawab istriku. Memang Kamidi adalah teman akrab dari kecil, tapi setelah musibah itu dia terasa berbeda dan hidupnya sepi.

Sambil kujinjing bungkusan tersebut, melangkah aku ke rumah Kamidi. Kulihat dia sedang duduk diberanda pekarangannya sambil membersihkan ranting-ranting yang biasa diambil dari hutan. Kehadiranku cuman dipandangnya dengan mata sayu itu “Hei No, tumben kesini” sambut Kamidi. “Ah nggak juga Di, ini ada titipan istriku buat kamu” sambil kusodorkan bungkusan tersebut “Tak usah repotlah sampai bawa makanan segala” nyinyirnya. Kuletakkan pantatku pada beranda pekarangan di sampingnya, Kamidi hanya meminggirkan bungkusan sambil meneruskan pekerjaannya.

“Kabarmu bagaimana Di?” aku membuka omongan lebih dulu untuk basa-basi. “Oh baik, seperti kau lihat” sahutnya tanpa menoleh. Ku tengok  sekeliling rumah ini, begitu kotor tak terawat tapi si Kamidi ini betah juga..ah..Apa pedulinya dia..lha wong ini rumahnya sendiri.

“Betah juga kau disini Di?” tanyaku kembali “Yah ini khan rumahku ya pasti betahlah” sahutnya  kembali. Kulihat kaki dan tangannya yang kurus terbalut kulit itu cekatan mempisahkan ranting-ranting kering untuk dibuat bahan tungku apinya. “Sudah lama seperti kita tak ketemu dan bicara Di” buka omongan lagi “Iya 5 tahun lebih sepertinya” jawabnya lirih.

Ada pertanyaan-pertanyaan didalam hati ini yang ingin aku tanyakan ke Kamidi tapi tertahan. Dan akhirnya “Kamu nggak mau nikah lagi Di?” tanyaku dengan nada sedikit rendah. Kamidi sepertinya terdiam sejenak dan tidak melanjutkan pekerjaannya kembali. Sepertinya terganggu akan ucapanku tadi, terus dia bergeser ke sebelahku sambil memandangku nyinyir.

“Ketahui No, semua itu semu yang ada kehidupan ini dan tidak ada abadi” sergapnya “Harta, Wanita dan Anak hanyalah ilusi dan titipan sementara. Pernah aku miliki tapi tidak abadi” tambahnya “Jadi apa yang aku lakukan saat ini hanya menunggu kuasa-Nya untuk memanggil pulang. Cuman ini yang bisa aku lakukan, menunggu ajal sambil memuja Nya” akhir katanya.

Aku hanya terdiam mendengar ucapannya, tak sedikitpun bergerak dan membantah perkataan. Mataku hanya melihat Kamidi perlahan sekelebat masuk ke suluk-nya kembali.

 

*******************************

 

Suatu masa kulihat Kamidi berjalan tenang di titian jembatan, memakai kain putih diselempang pada bahunya. Wajahnya terlihat berseri-seri, seperti saatnya telah tiba di “Hari Penghakiman”. Kamidi terlihat tersenyum nyinyir ke arah seperti dialah yang benar dan menang. Dengan gagahnya dia melangkah melewati titian jembatan, semua orang terlihat mengatri tapi Kamidi melenggang tanpa halangan.

Titian jembatan itu mengarah ke dua pintu yang tampak di jaga dua makhluk bertubuh besar bercahaya. Kamidi memandang sinis kepada orang-orang yang mengantri seperti mau mengucapkan selamat tinggal sambil melambaikan tangan tanda kemenangan.

Pintu ke kiri menuju neraka dan sebelah kanan Surga seperti plang penunjuk jalan tertera, dengan pedenya Kamidi berbelok ke pintu sebelah kanan. Tapi tiba-tiba “Hei manusia bernama Kamidi,engkau berhenti!!. Apa tujuan ke pintu surga ini?” hardik malaikat penjaga pintu. “Tentunya saja tempatku di Surga, kemana lagi kalau tidak disini” betapa nyakin dia.

“Tempatmu bukan disini, tapi di Neraka” jawab malaikat penjaga surga . Betapa kaget Kamidi mendengar ucapan malaikat penjaga. “Pergi kau Kamidi !” ditendang tubuh kurus si Kamidi sekali gerakan. Melesatlah Kamidi dengan sekejab jatuh dipintu Neraka.

Sekejap Kamidi tampak meronta-ronta dipegangi malaikat penjaga neraka “Apa salahku, di dunia aku memuja Tuhanku. Aku tidak terima!!” teriaknya sampai menggema. “Lepaskan hei kau malaikat jijik, kau tak layak memegang tanganku yang suci” tapi malaikat berwujud besar bercahaya itu terbelak matanya yang memancarkan api.

“Aku mau ketemu Tuhanku, ini tak adil” “Tak seharusnya seperti ini, siang malam aku memuja Mu dan melantunkan ayat-ayat suci untuk Mu tapi apa yang aku terima saat ini..Tidak!!” teriaknya sekali lagi dengan menggelora.

“Diam kau Kamidi !!!, tempatmu bukan di surga tapi neraka” hardik salah satu Malaikat yang memiliki sayap lebar selebar ufuk timur tiba-tiba muncul.

“Aku mau ketemu Tuhanku, aku mau protes. Kenapa aku diperlakukan seperti ini? Tidak Adil” serunya. “Diam kau Kamidi, tak layak kau ketemu Tuhanku. Kau hanya manusia rendahan yang hanya mementingkan diri sendiri” hardik si malaikat ini.

Dilemparkan sebuah buku dari tangan kiri si malaikat, jatuh didepannya. “Lihatlah buku timbanganmu, tak ada gunanya kau di masa hidupmu” tambahnya

“Apa salahku? Sisa hidupku abadikan untuk memuja Tuhanku, menghapal ayat-ayat suci dari Nabi Mu luar kepala. Kepalaku menghitam karena sujud tiap tengah malam dan tanganku tak henti bertasbih akan namaMu” rinci si Kamidi.

“ Apa? Tuhanku tak perlu pujamu Kamidi. Tuhanku tidak mabuk akan rayuan sujudmu. Lihatlah engkau hanya beribadah karena kau takut masuk neraka bukan? dan apa hanya sujud dan dzikir perintah TuhanMU” seru si malaikat.

“Tapi..Tapi..” Kamidi belepotan tak bisa menyanggah. “Lihatlah dirimu hidup dalam kesendirian dan miskin.Bagaimana mau beramal jika kau hanya ibadah saja? Tak bekerja dan menjadi miskin. Mau membantu sekitarnya pun tidak bisa” “Hidupmu bukan untuk kamu saja tapi buat orang lain, kamu diciptakan bukan kesia-sia saja” “TuhanMu menyuruh kamu untuk beristri dan beranak pinak untuk meneruskan kehidupan manusia di dunia” “Kamu egois Kamidi, takut jika nanti istri dan anakmu diambil lagi, pengecut !!! tidak bisa terima kenyataan” “Kamu takut untuk berusaha lagi, takut kehilangan, takut tidak bisa mencukupi anak dan istrimu lagi. Itulah kamu rela tidak berkeluarga lagi” teriak malaikat itu sekali lagi.”Pergi kau ke Neraka!!”

Sadarlah Kamidi apa yang telah ia perbuat selama ini dan apa yang diridha Tuhan-Nya. Terasa tubuhnya panas seperti terkena jilatan api neraka dan menggigil kedinginan.

 

*******************************

 

Terbangun aku dari tidur, sebelahku Karni sedang memeluk si kecil. Diluar hujan deras sekali, petir menyambar beberapa kali dengan kilatan maha dashyat. Mimpiku tadi terasa aneh, mungkin aku terlalu memikirkan ucapan Kamidi beberapa hari yang lalu. Kulihat wajah istriku dan anakku yang masih kecil, betapa teduhnya mereka. Kuselimut mereka dengan tenang dan kulanjutkan tidurku.

Pagi harinya panas matahari menyeruak dari bilik jendelaku, ku tengok Karni dan si kecil tidak ada. Mungkin di belakang memandikan si kecil, tiba-tiba suara ketukan pintu seperti digendor dari luar. Brakk..Brak..Brakk “No..Darno..buka pintu cepat ini Darmiji” suara dari luar. Darmiji? Tumben pagi-pagi tetangga sebelah mengedor pintu rumah.

Kubuka pintu rumah, “No, ada kejadian di rumahnya si Kamidi teman engkau” serunya “Hah, si Kami itu kenapa ?” terheran-heran. Ditariklah tanganku tergesa-gesa kearah rumah Kamidi. Terlihat banyak warga kampungku berkerumunan di depan perkarangan rumah Kamidi. Membelah kerumunan warga, kulihat rumah si Kami hancur berantakan seperti diterjang angin puting beliung. Parahnya suluk yang biasa didiami oleh Kamidi hancur berkeping-keping, aku bergidik ngeri saat kulihat dalam reruntuhan tersebut banjir menggenang bersimbah darah.

Kepala Kamidi tertimpa sebongkah besar terbuat dari besi, aku perhatikan seksama ternyata sebuah turbin pesawat dengan tulisan Boeing. Dari mana benda itu, sampai bisa jatuh di kampung ini dan mengenai rumah Kamidi. Baru kusadari bahwa itu serpihan kecelakan bangkai pesawat yang sempat meledak saat mengudara tadi pagi dan beritanya ada diseluruh saluran televisi[]

 

Kisaran, Desember 2016

Puisi Budhi Setyawan

Desember – Januari (1)

orang orang siap melewati perbatasan
dalam kepala. pergi ke toko toko dengan
wajah berlapis doa. musim makin pelik
diduga.
berbagai kue dan ragam cokelat, berbagi
perayaan yang singkat. untuk mengingat
atau menandai, simpul simpul dalam
riwayat.
hujan hanya sekelumit rintik rintih haru
langit. mereka kemudian menyalakan
lilin, seperti menghangatkan ingin.
Jakarta, 2015

 

Desember – Januari (2)

jalan jalan jadi tempat parkir kendaraan.
umpat berledakan, bersaing bunyi petasan.
ruang ruang bergembira, meraung ke telinga
malam. seberapa lama menahan ronta jam.
anak anak menyulut kembang api. pijar
memancar rapi. tapi jantung waktu tetap sepi.

Jakarta, 2015

 

Desember – Januari (3)

mereka memburu momentum baru. bersama
melepaskan kepiatuan waktu, ke garis tubir
deru.
apa yang berubah, wajah kalender menanggung
lelah. lembar lembar akan rebah, sejumput
persepsi patah.
di esok pagi mimpi tersangkut gagang pintu,
matahari bermimikri menjadi biru.
Jakarta, 2015

 

Silsilah Debu

apa alpa
yang mencipta debu
jatuh berdebum
di kebun surga
tertolak melontar
melayang masygul
menjadi bumi
Jakarta, 2015

 

Pijar dan Getar

ayat adalah hayat:

  • aksara menyulut pijar
  • suara merawat getar

 

Jakarta, 2015
 

Lingkar Embun

gigil daun
membaca luka tahun
di mana musim bermukim
cuaca berkaca kaca
Jakarta, 2015

Osmosis Elegi

teraduk duka
akan daku
menyusup pori waktu
membaur partikel gagu
Jakarta, 2015

 

Semburat Senyap

nada terakhir
resital gitar tunggal
menggaris tanya
ke mana lindap cahaya
saat lampu ruang pertunjukan diredupkan
saat kesibukan dalam kepala dihidupkan
di kamar
gitaris tertidur
berselimut lagu lagu

Jakarta, 2015

 

Riwayat Kata

hanya selubang jarum
sebagai pintu
segajah pesan dan maksud
terus memburu
Jakarta, 2015

 

Pusaran Bayang

ihwal mendekat-menjauh
kesadaran separuh
detik dan detak berkejaran
fragmen fragmen berlepasan
ruang mengangkut remang
sajak makin menggenang
Jakarta, 2015

 

 

 

 

Budhi Setyawan, kelahiran Purworejo, Jawa Tengah. Menyukai musik rock dan puisi. Bergiat di komunitas Forum Sastra Bekasi (FSB). Tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

Puisi Puisi: Fajrus Shiddiq

Magan

Saat air laut belum tenang

Sampan-sampan dari ranting diapungkan

Dengan sedih dibungkus senyum

Lalu nelayan bergoyang bersama ombak

Menunggu ikan-ikan

Mungkin untuk sekedar makan malam

 

Ada Slamet dan Sumarni

Bersandar pasir berselimut sedikit dedaunan

Menunggu ayahnya

Menghilang dibalik ombak

 

Rasti

Reinkarnasi cintamu, Rasti

Hanya berkamuflase dibalik embrio

Dan tak terfikirkan

Meski sesekali mengeruhkan urat nadi

 

Jantung hatimu, Rasti

Menjelma labirin dengan nafas membasah

Membekukan kelenjar dengan derajat rendah

Menidurkan saraf

 

Rasti, cantik

Leukosit dan trombosit terenyuh

Ketika kau hadirkan wajah lusuh

 

Seret aku dengan pasti, Rasti

Agar tak lagi terbagi

Setangkai mawar yang masih tertusuk di hati

 

Jani

Selamat malam, Jani

Maukah kau duduk bersamaku

Di meja yang aku tak tahu hulu-hilirnya

Dan aku tak pernah tahu tentang menunya

 

Seduh saja,

Karena empedu menjelma racun

Lalu racun telah kuendap

 

Hanya karena kau, Jani

Aku mabuk bukan karena vodka

Dan aku sakit tidak juga sembuh

 

Kapan kau mampir, Jani

Ruang ini menunggumu harum aroma melati

Kurajut dari duri mawar

Dan aku telah terluka

2009

 

Titipan Yang Maha

Kukarang namamu pada proposal

Tak lelah selalu aku semogakan

Lewat tuan yang melahirkan

Melukis mawar tak sebegitu merah

Yang Maha Cinta

 

Aransemen sanjung dipanjat  di tinggian

Masih tentang namamu yang kembang

Terus menjalar lekat eritrosit

Pintu delapan belas pada surat dua tiga

Yang Maha Cipta

 

Ruh kata sayembara

Belum saja berani menusuk pori membangunkan bulu-bulu

Hatimu terpenjara di kamar sembahyang

Dibalut lembut helaian mesra

Yang Maha Suci

Malang, 16 Maret 2015

 

Membaca Ka’bah

Gantung aku puisi

Pusar kitaran sesembahan Ibrahim

Perbawa ababil hapus hikayat kawanan gajah

Petarangan legojo gadis-gadis kersik

Rumah telah dibangun, milik tuannya

 

Tujuh pujangga mati

Aksara wangi dupa-dupa dan puja

Melontar kerikil mengusir diabolos

Arah pulang matahari di tempurung waktu penghisab tarikh

 

Ada puisi yang kuat dan teduh

Di Ka’bah

Malang 2015

 

Laghouat Cemburu

Laman pagi ini adalah etiket pertemuan

Di gedung yang hangat oleh cemburu

Aku dan duri mawar

 

Jadilah surat terakhir,

Oase keruh karena kau mengarau

Tercebur aku belum entas di kubangan

Kau hadiahi senyum

Pesan tak sampai

 

Laman siang ini adalah salam

Aku dzikir sumringahmu

 

 

Suatu Pagi yang Ping Pong

Ada karib membunuh sepagian

Seutas waktu bercengkrama dengan guru

 

Ping pong dekat patembayan minum kopi

Sepintas perawan melangkah ping pong

Semakin ping pong, kedatangan sekawanan membual

Desahku ping pong tak simetris

 

Lampu hijau perempatan

Aku telah gegas ke perteduhan

Sebingkis legum hadiah lora

Mengalpakan

Suatu pagi yang ping pong

 

 

Sketsa Pagi

Luminositas kota

Topeng-topeng gerilya di lingkarnya

Ada kaki lima dirintih gebuk hujan

Sempoyong kaku bermata kaca

Kehidupan baru dimulai

Disemogakan

 

 

Melodia Pagi

Ruang ini hampa

Saat tak lama aku menjumpa

Pagi yang mesra

Kantin yang sepi kosa kata

 

Kulihat kembang senyum

Perawan-perawan menebar harum

Graptophyllum pictum

 

Maka waktu ini semakin kusut

Hati tertambat sayang terpaut

 

Adakah yang lebih perih dari harap ?

 

================================================

Tentang Penulis

Fajrus Shiddiq, lahir di pedesaan Madura, Sumenep 18-Oktober-1991. Mahasiswa Jurusan Pendidikan S1 Bahasa Arab Universitas Negeri Malang. Puisinya tak jarang dimuat di berbagai antologi Senja Bercerita, Muara Pelangi, dan Pada Batas Tualang. Serta media lokal Qalam dan KOMUNIKASI. Aktif tulis menulis semenjak masih nyantri di PP. AL-AMIEN PRENDUAN, anggota Sanggar Sastra Al-Amien, Sanggar Cakram, dan anggota redaksi majalah berbahasa inggris ZEAL.Saat ini menggeluti seni teater bersama Sanggar Seni & Budaya Al-Karomi UM (Teater Bahasa Arab), FLP ranting UM, dan Perguruan Seni Beladiri Indonesia TAPAK SUCI.

______________________________________________________________________________

 

[Cerpen] 21 Hari

Oleh: Ari Vidianto
Entah kenapa kehamilan istri saya penuh dengan cobaan. Saat ini sudah memasuki usia kehamilan dua puluh tujuh minggu.Tidak seperti wanita lain yang menjalani kehamilan dengan lancar. Hanya berobat tiap bulan ke bidan terdekat, tanpa perlu berobat ke klinik yang biayanya sampai satu juta lebih. Karena harus melakukan USG juga. Tiap bulan aku berusaha keras demi mendapat uang tiap bulan untuk kontrol istriku. Selain itu juga aku harus beli susu hamil untuk istriku yang hanya dipakai untuk lima gelas. Betul-betul memerlukan biaya yang cukup banyak, sementara aku hanya guru bhakti biasa, yang setiap bulannya hanya mendapat uang bayaran sedikit. Untunglah orang tuaku yang pensiunan penjaga SD selalu membantuku. Hingga pada suatu malam yang kelam, saat aku sedang membeli susu di supermarket, tiba-tiba hp ku berdering.
“Mas, cepat pulang, ketuban saya sudah pecah,” kata istriku.
“ Apa?? Pe..pe..pecah??” aku pun terkejut bukan main. Langsung aku tutup hpku dan segera mengendarai motorku untuk menuju rumah. Sesampai disana mertuaku sudah memanggil taxi, terlihat istriku sudah ada didalam.Tanpa aku bertanya taxi itu sudah melesat meninggalkanku.
“ Aztagfirulohhaladzim, Ya Allah…apa yang harus aku lakukan” pikirku. Tanpa pikir panjang aku pun segera mengejar taxi yang membawa istriku menuju rumah sakit.
***
Sesampai di rumah sakit istriku langsung ditangani oleh dokter, aku dan mertuaku menunggu di luar. Beberapa menit kemudian dokter keluar dan mengatakan padaku bahwa malam ini juga istriku harus dicesar. Hatiku sungguh tak karu-karuan, keringat menetes begitu deras dan jantungku berdetak begitu cepat. Apa yang akan terjadi pada istri dan anakku nanti. Sebetulnya untuk masalah biaya rumah sakit, aku tidak khawatir karena aku dan istriku sudah mempunyai BPJS. Tapi entah kenapa aku masih diam seribu bahasa.
“Maaf Pak bagaimana keputusannya? Kami sebagai dokter harus dapat menyelamatkan dua-duanya” jelas dokter tersebut. Dan aku pun masih bingung.
“To, Anto ayo kamu putuskan malam ini juga. Kasihan kan anak dan istrimu?” mertuaku coba membujukku.
“Baiklah Bu,” jawabku.Akhirnya aku pun menyetujuinya. Segera kutanda tangani persetujuan operasi cesar tersebut. Setelah itu istriku langsung di bawa ke ruang operasi. Aku dan mertuaku menunggu dengan cemas dan sambil berdoa pada Tuhan supaya di beri kelancaran.
***
Aku dan mertuaku masih menunggu dengan cemas, kata dokter operasi cesar berlangsung satu jam. Gelisah di dada dan keringat dingin bercucuran, aku membayangkan berapa ukuran anakku nanti. Aku hanya berharap semoga istri dan anakku baik-baik saja. Akhirnya terdengar suara bayi dan seorang perawat keluar dari ruang operasi sambil membawa seorang bayi.
“Pak ini putranya sudah lahir,” kata perawat itu padaku.
“Alhamdulilahirobilalamin,” jawabku sambil berkaca-kaca. Mertuaku pun merasa senang. Saya pun mengikuti perawat menuju runag bayi.
“Sus, anak saya laki-laki atau perempuan?” tanyaku.
“Laki-laki pak,” jawabnya.
“Alhamdulilahirobilalamin,” ucap syukurku tiada hentinya kepada Allah.Lalu aku pun segera memberi nama putraku : ‘Muhammad Yaafi‘
Setelah itu aku pun berwudhu dan segera mengadzani putraku,aku sungguh terharu dan sangat senang. Putraku mendengarkanku adzan sambil menggerak-gerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan.Setelah itu  suster memberitahukan bahwa berat putraku 1,2 ons dan panjangnya 33 cm. Aku pun jadi sedikit khawatir. Suster pun kembali memberitahukan bahwa rumah sakit disini alatnya belum lengkap, oleh karena itu anakku akan dirujuk ke rumah sakit lain. Dan dengan berat hati aku pun menyetujuinya.
***
Malam telah menjelang, kepalaku terasa terbang melayang kerena memikirkan nasib anakku. Sementara itu istriku telah siuman dan berada di kamar pasien rawat inap. Tiba-tiba datang suster dan memberitahukan malam ini juga anakku akan di bawa ke rumah sakit lain. Tapi sebelum itu aku disuruh ke tempat administrasi. Setelah sampai disana aku di sodorkan oleh rincian perawatan putraku dari siang sampai malam ini. Aku pun terkejut bukan main jumlahnya delapan ratus ribu lebih. Anakku belum ikut BPJS jadi ia dikenakan biaya. Demi anakku aku pun langsung membayar tagihan tersebut. Setelah itu aku menemui istriku dan menceritakan semuanya. Dan istriku pun hanya dapat berdoa supaya semuanya baik-baik saja. Setelah berpamitan pada istri dan mertua aku dengan seorang suster yang membawa anakku segera naik mobil ambulan menuju rumah sakit rujukan. Setelah setengah jam perjalanan akhirnya sampailah kami ke rumah sakit yang di tuju.Anakku langsung ditangani dan di bawa ke ruang perinatologi, ruang yang khusus untuk anak usia 0-27 hari. Disana aku tidak seorang diri, ternyata banyak orang yang bernasib sama denganku. Wajah-wajah mereka terlihat penuh tanya, resah gelisah sangat jelas karena letih yang teramat sangat. Ada yang sudah terlelap dalam mimpi ada yang melamun seorang diri. Dan aku pun duduk termangu di kursi besi berwarna perak yang dingin menyengat bersama angin malam yang menusuk tubuhku.
***
Pagi yang penuh tanya telah tiba,aku pun segera bangun. Terdengar adzan shubuh menggema,aku segera pergi ke masjid. Dalam shalatku aku memohon kepada Allah supaya anak dan istriku ku cepat sehat. Istriku belum dapat menemaniku karena luka habis cesarnya belum kering dan harus menunggu seminggu untuk pemulihan. Setelah lama berdoa aku segera kembali ke tempat anakku dirawat. Disana aku hanya dapat memandangi anakku lewat kaca. Kasihan sekali melihat anakku yang penuh dengan alat-alat penolongnya. Dan aku hanya bisa meneteskan air mata dan berdoa pada Yang Maha Kuasa. Supaya anakku cepat diberi kesembuhan.
***
Seminggu telah berlalu,istriku kujemput dan kubawa ke rumah sakit. Istriku langsung masuk ke dalam dan menemani anak kita. Dia pun merasa sedih dan tak kuasa melihat anaknya terbaring di ruangan incubator. Hampir setiap malam tetangga dekat rumah silah berganti menggunjungi kami dan selalu memberikan kata supaya kita tetap sabar. Orang tuaku pun telah datang bersama ibu mertua, kami semua bertemu dan menginap di emperan ruang tempat anakku di rawat. Hampir tiap malam udara dingin menyerang, siang menjelang panas menyengat di badan. Hujan pun datang tiba-tiba tanpa diundang,badan ini kadang masuk angin dan lelah yang teramat sangat. Tapi semuanya seolah tak dipikirkan demi pewaris kami yang kami harap-harapkan cepat sembuh dari sakitnya.
***
Malam yang tak diharapkan pun datang,malam ke 21, saat aku dan istriku duduk dengan gelisah tiada kunjung usai. Tiba-tiba seorang suster menyuruh kami ke ruang anak kami. Di sana ada seorang dokter yang sedang menangani anak kami. Dan mengatakan anak kami kondisinya semakin menurun. Dan dia sedang berusaha sekuat tenaga memulihkan kondisi anak kami. Kami pun berharap semoga dokter itu bisa menyelamatkan buah cinta kami. Sudah hampir setengah jam
dokter itu sudah berusaha.
“Maaf Pak, Bu,saya sudah berusaha. Tapi Allah berkehendak lain, putra anda telah meninggal,” kata dokter itu dengan wajah sedih. Aku dan istriku tak sedikit pun menyangka bahwa buah hati kami telah pergi secepat itu.
“Innalilahiwainailaihi rojiuun,” kataku sambil menenangkan istriku yang menangis berlinang air mata menyesak di dada.
“Bun,Bunda..sudah jangan menagis,kita harus merelakan kepergian anak kita. Mungkin Allah berkehendak lain,mungkin ini jalan terbaik untuk anak kita,” jelasku pada istriku sambil memeluknya erat-erat.
Lalu aku pun memberitahukan kedua orang tua dan mertuaku,mereka pun langsung menangis sejadi-jadinya karena kehilangan cucu yang tercinta. Setelah anakku diurus oleh suster dan meyelesaikan administrasi kami pun langsung pulang ke rumah menggunakan mobil ambulans. Setelah sampai di rumah,lalu anakku pun langsung di mandikan di pakaikan kain kafan. Malam itu juga anakku di makamkan.Hatiku ikhlas menerima cobaan ini. Aku pun berdoa:” Ya Allah berilah Surgamu yang terindah untuk anakku, Aamiin…!”

Lumbir, Mei 2016
                                                       Tentang Penulis

Ari Vidianto, S.Pd.SD lahir di Banyumas, 27 Januari 1984, pekerjaan seorang Guru di SD N 2 Lumbir UPK Lumbir. Tinggal di Cikole RT 03 RW 02, Desa Lumbir Kecamatan Lumbir, Kabupaten Banyumas Jawa Tengah Kode Pos 53177. Saya suka menulis Puisi, Cerpen, Pantun, Lagu dan Geguritan. Sudah menerbitkan 2 buku karya tunggal berjudul “ Ibu Maafkan Aku”, “ Wajah-Wajah Penuh Cinta” , 17 buku Antologi  dan banyak karya yang dimuat di Media Massa. No Hp 085726348627, Facebook Ari Vidianto, email : ari.vidianto@gmail.com

Wahana Wisata Terpopuler di Asia

BENUA Asia merupakan wahana bagi berbagai tujuan liburan dan budaya yang menarik. Karena itu kaum wisatawan dapat memilih jenis liburan sendiri, mulai dari ramai dan euphoria kota dengan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi atau pulau-pulau terpencil indah yang tenang, damai dan sejuk.

Jika ingin menjadi salah satu dari para traveler yang menikmati keindahan Asia, sebaiknya tidak melewatkan beberapa tujuan paling populer di Asia berikut ini.

Beijing, Tiongkok. Beijing dianggap sebagai tempat budaya dan politik di Tiongkok. Wisatawan lokal dan asing dapat menemukan sejarah yang kaya. Di sini, pelancong akan terpesona oleh keagungan istana kuno yang bercerita tentang kehidupan masa lalu.

Di antara situs-situs sejarah yang populer di kota ini, dapat ditemukan Lapangan Tiananmen dan Kota Terlarang. Ada juga stasiun kereta bawah tanah kontemporer dengan sentuhan klasik yang rugi jika tak disambangi. Jangan lupa juga mengunjungi salah satu keajabian dunia yakni Tembok Besar Tiongkok.

Singapura. Singapura memang terkenal karena sistemnya yang sangat efisien dan teroganisir yang memudahkan siapa saja untuk melakukan perjalanan wisata maupun bisnis di sini.

Salah satu negara terkaya di dunia ini juga sangat pandai dalam menyeimbangkan pemandangan alam dan kehidupan modernnya. Selain itu, singapura juga merupakan salah satu dari 10 destinasi wisata terbaik untuk muslim yang menawarkan liburan halal meskipun Singapura sendiri bukanlah negara mayoritas muslim. Keberagaman sangat dihargai di sini, anda dapat menemukan Chinatown dan Little India di sini.

Hong Kong, Tiongkok. Banyak sekali tempat menarik yang bisa dikunjungi saat berada d Hongkong. Terkenal sebagai salah satu negara dengan internet tercepat di dunia, tak perlu bingung jika tersesat atau mencari referensi tempat melalui GPS.

Beberapa tempat menarik yang tak boleh terlewatkan di sini antara lain, Disney Land Hong Kong, Ngok Ping 360, Museum lilin Madam Tussaus dan Sky Terrace (dimana terdapat banyak patung lilin dari artis-artis dunia yang sayang sekali jika tidak diabadikan dalam jepretan kamera anda), Masjid Besar Kowloon, pusat perbelanjaan di Ladies Market dan Mongkok.

Teknologi

Tokyo, Jepang. Saat mendengar kata ” Tokyo “, hampir tidak mungkin untuk memisahkan kota ini dari gambar anime atau teknologi. Bahkan, kota Jepang megah ini terus ramai dan menyiptakan penemuan yang menarik bagi dunia.

Di sini, wisatawan dapat menemukan mobil bergaya zooming, kereta bawah tanah, dan kapal yang elegan untuk keluar dari Tokyo. Jepang juga menjadi salah satu kota di Asia yang sangat pesat kemajuan teknologinya, serta gaya hidupnya yang serba cepat. Tidak ada orang malas di Jepang.

Meski demikian, Jepang tetap memegang teguh nilai-nilai sejarah dan budaya, juga memperhatikan kebersihan serta keasrian alam yang tetap dijaga hingga saat ini. Wisata kulinernya juga tak kalah seru, dari kuliner terkenal seperti suhsi, onigiri dan bento, hingga makanan terekstrim seperti sperma ikan, odori don si cumi menari dan kadal panggang.

Bali, Indonesia. Merupakan salah satu tujuan bulan madu paling populer di dunia. Bali, adalah kota seribu candi yang menawarkan sejuta keunikan alam, budaya dan kuliner yang terbungkus menjadi satu dalam pariwisata mereka.

Bali memiliki semua yang diimpikan oleh para traveler dan para wisatawan. Pelancong bisa memilih kegiatan yang harus dilakukan, seperti berjemur, memanjakan diri untuk relaksasi dan spa, olahraga air seperti snorkeling dan menyelam, atau menikmati makan malam romatis di restoran-restoran yang dimilikinya.

Jika ingin menikmati keindahan khas budaya, ada berbagai pertunjukan yang bisa dinikmati, mulai dari penampilan tari kecak yang populer, tari pendet hingga berbagai kegiatan kebudaayn khas suku Bali yang ada.

Bangkok, Thailand. Sawaadeka! Welcome to Thailand! Negara ini sangat terkenal dengan wisata kulinernya yang telah mencuri banyak tempat dalam daftar 10 makanan terenak di dunia.

Selain itu, untuk tempat-tempat wisatanya, selain akan menjumpai gedung-gedung khas pemandangan kota, juga akan menemukan kuil kuno Buddha dan pusat perbelanjaan yang luas yang terletak di ibukota Thailand ini.

Bangkok akan membuat pelancong terpesona oleh pengalaman liburan yang luar biasa. Terlebih lagi, akan menemukan patung Golden Buddha yang menjulang indah, megah, dengan ketinggian sekitar 150 meter. Juga sebaiknya tak melewatkan akuarium di dalam pusat perbelanjaan kota serta dan pasar terbuka yang luas yang merupakan terbesar di dunia.

Menakjubkan

Koh Tunsay, Kamboja. Dikenal juga sebagai The Rabbit Island. Letaknya sekitar 20 menit perjalanan dari dermaga Kep. Hal yang paling menakjubkan dari pulau ini adalah bentuk pulaunya yang yang menyerupai bentuk semanggi.

Juga beberapa restoran, bar, dan beberapa bungalow bergaya pedesaan, yang dapat memberikan nuansa liburan yang spektakuler. Kamar-kamar yang tersedia di beberapa resornya tidak memiliki fasilitas seperti TV, internet atau AC.

Namun, di sinilah letak keunikannya. Karena pulau ini memang menawarkan liburan yang benar-benar membuat pelancong lebih dekat dan menikmati keindahan alam, dan melupakan sejenak teknologi modern.

Pulau Phu Quoc, Vietnam. Pantai menawan Vietnam memiliki keunikan tersendiri untuk menjadi bagian dari daftar tempat tujuan paling populer di Asia. Meskipun Panta Nha Trang merupakan pantai paling peopuler di negeri ini, namun pulau Phu Quoc juga menawarkan panorama dan suasana yang tak kalah seru.

Di sini wisatawan bisa menikmati pemandangan spektakuler dari kejernihan air dan pantainya elegan. Selain itu, perairan Phu Quoc adalah rumah bagi beragam kehidupan laut yang kaya serta terumbu karang yang unik di bawah air.

Yaang membuat liburan semakin menyatu dengan alam, pelancong bisa menjelajahi berbagai pegunungan yang dengan air terjun, tanaman yang indah dan hewan asli yang langka di negeri ini. Pulau Phu Quoc atau yang dikenal juga dengan Koh Trol ini sebelumnya milik Kamboja, nama Koh Trol adalah nama dalam bahasa Kamboja.

Boracay Island, Filipina. Pulau Boracay tetap sebagai salah satu tujuan pantai paling disukai oleh sebagian besar turis lokal maupun asing yang berencana untuk mengunjungi Filipina. Letaknya di sebelah selatan pulau Luzon, dan termasuk destinasi wisata terfavorit karena memiliki pantai yang putih dan bersih.

Perjalanan menuju pulau Boracay terbilang cukup panjang karena harus menggunakan pesawat kecil dari kota Manila menuju kota Kalibo di kepulauan Panay selama kurang lebih 45 menit, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan selama dua jam ke pelabuhan di Caticlan dengan bis.

Setibanya di Caticlan, wisatawan masih harus menyeberang selama 20 menit untuk menuju pulau Boracay. Namun, lamanya perjalanan yang harus ditempuh akan terbayar lunas saat tiba di sana. Wisatawan akan dibuat takjub dengan pemandangan indah yang terhampar di sepanjang Bulabog Beach dan White Beach.

Pulau Boracay memang memiliki dua pantai utama. Yang pertama adalah Bulabog Beach. Suasananya yang tenang dan damai dengan perpaduan pasir putih dan halus, air laut yang tenang serta rumput laut yang bergoyang seirama dengan arus air akan membuat pengunjungnya merasa rileks dan nyaman.

Pantai utama ke dua yaitu White Beach, menawarkan suasana yang berbeda karena merupakan pusat keramaian di Boracay. Selain banyaknya tempat makan dan penginapan, di sini juga merupakan pusat informasi pariwisata, tempat hiburan malam dan toko suvenir. (analisa/tmc/ar)