Hari-Hari Bersama dan Membersamaimu

Cerpen : Nanda Dyani Amilla

Selalu ada yang tak bisa kujelaskan ketika aku melihat dirimu. Terlalu banyak cinta yang berlompatan dan menyusup masuk ke dalam hati, bahkan sebelum aku mengizinkannya untuk masuk dan menepi. Juga segudang rindu yang kau biaskan lewat tatapan matamu, semakin membuat aku kewalahan mewaraskan diri. Ya, bahkan lebih dari yang kau pahami, bahwa kau telah kujatuhcintai jauh sebelum kau mulai menyadari. Bahwa segala rasaku, muaranya adalah kamu.

Aku tidak ingin bilang bahwa kau adalah segalanya. Pun aku tak ingin bilang bahwa kau selalu menawarkan bahagia. Belakangan ini, kau sering mengajakku bermain-main dengan luka. Mendekat dan membiarkan aku merasakan sedikit perihnya berada di posisi yang kurasa sangat menyebalkan. Kau tahu aku tak tertarik, tapi kau selalu berusaha menarik. Membawaku mencicipi duka walau hanya sekadar bayangan.

Mari kita menyisir kenangan, melihat-lihat kembali masa-masa apa yang telah kita lewati. Mengunjungi ingatan yang barangkali sudah karatan. Atau membaca ulang segala senyum dan tawa yang pernah mengembang. Kita pernah sama-sama bahagia berada di sana, saling menguatkan dengan kelingking yang bertautan. Saling berjanji untuk tersenyum walau disakiti. Saling mengerti walau kadang hati susah diajak kompromi. Tapi kita selalu bisa melewatinya, membujuk hati yang kerap merajuk. Mendinginkan emosi dengan peluk dan kecup.

Aku selalu ada di saat-saat tersulitmu, kau pun kerap ada di saat-saat tersulitku. Kita utarakan janji masa depan meski hanya sekadar khayalan. Bahwa kita ingin bersama, menetap di rumah yang sama, pun tidur di ranjang yang sama, dengan cinta dan rindu yang tak pernah berubah. Bangun dengan kecupan manis di keningku sambil menikmati kopi yang berkekasih dengan roti. Setelahnya kita akan menghabiskan satu hari bersama, dengan tawa dan bahagia.

Kita tidak ingin berjanji akan semua itu, kita hanya berkhayal dan berusaha mewujudkannya di masa depan. Aku pahami bahwa kau bukan pria yang suka berjanji, apalagi dalam hal-hal besar semacam ini. Namun kau selalu berusaha untuk selalu menepati apa yang kau ingini. Ruas-ruas jarak mulai terkuak, siap menelan segala kebahagiaan yang mati-matian kita jaga. Tinggal menghitung bulan lagi, aku akan sendiri dan kembali sepi.

Bukankah kau tahu, bahwa jauh darimu adalah hal terperih untuk bunuh diri? Jauh darimu adalah mimpi buruk yang tak pernah ingin kusinggahi. Sebab akan ada luka yang kembali menganga dan kamu tidak di sini untuk mengobati. Haruskah kuminta kau untuk tidak pergi? Untuk terus menemani gadismu yang rapuh ini. Untuk terus bersama menghabiskan menit hingga detik.

Aku tak ingin kau pergi. Aku tak ingin kau melupa bahwa di kota ini, kita pernah saling membahagiakan. Kamu pernah menemaniku menikmati hujan dan menggenggam tanganku saat kedinginan. Di kota ini, kita pernah membangun cinta, merawatnya dengan temu, dan membesarkannya melalui rindu. Sungguh, aku tak ingin kau jauh. Aku tak ingin kembali sepi dan merawat rindu seorang diri.

Ah, mendung kembali bergelayut manja di pelupuk mataku. Sebentar lagi, hujan akan menderas jatuh di balik kacamataku. Orang bilang, setiap pertemuan tentu akan ada perpisahan. Tapi yang aku tahu, perpisahan itu tetap saja menyakitkan. Bagaimanapun bentuknya, perpisahan adalah kondisi paling menyebalkan untuk orang-orang yang sedang jatuh cinta. Bukan, bukan aku tidak ingin melepasmu untuk menuntaskan rindu dengan orangtuanmu. Bukan aku tak ingin kau kembali tidur di rumah hangatmu. Bukan juga aku tak ingin kau bersua dengan teman-teman masa SMA-mu.

Aku hanya takut, kau melupa bahwa gadismu masih ada. Aku takut kau lupa dengan cinta yang pernah membuat kita bahagia. Aku takut kau lupa bahwa aku menunggu dengan setia. Tidak ada kemungkinan baik atau buruk untuk sebuah hubungan, kita telah berjanji akan merawat semampunya, pun tidak menutup konsekuensi mengakhirinya. Masa depan tak berada di telapak tangan kita. Masa depan bukan bagian dari kekuasaan kita.

Meski begitu, ada kuat yang sedang kita bangun sejak saat ini. Untuk terus mendewasa dan percaya bahwa hal indah akan selalu ada jika kita mau menerima apa adanya. Bersama dan membersamaimu adalah hal paling menyenangkan dalam hidupku. Masa-masa bertengkar untuk kemudian berbaikan kembali adalah masa-masa paling syahdu untuk melunasi rindu. Kamu telah hadir dan membantu mewarnai kanvas kehidupanku. Menorehkannya dengan banyak warna hingga membuatku terkesima.

Apapun itu, mengenalmu bukan sesuatu hal yang harus kusesali. Dekat denganmu saat ini, juga bukan sesuatu hal yang patut kutakuti. Tidak ada yang sia-sia selama kita saling menjaga dan merasa bahagia. Kamu sudah membantuku mengisi ruang kosong yang selama ini mengganggu, kamu pulalah yang sudah menawarkan segala bahagia untuk membuatku merasa teristimewa. Kelak, bersama atau tidak, kita tidak akan saling membenci dan menutup diri. Kelak, dengan ataupun tanpaku, kamu akan selalu jadi Tuan Penawar Bahagia yang manis dan lucu. Yang mendapat tempat spesial di dalam hati, meski takdir sudah menemukan jalannya masing-masing.

 

 

( Nanda Dyani Amilla yang mengaku bernama fena Gadis Hujan, Perempuan pluviophile yang juga menulis novel berjudul “Kejebak Friendzone”, Bentang Pustaka, 2017)

5 tanggapan untuk “Hari-Hari Bersama dan Membersamaimu”

    1. Aamiin, terima kasih atas doa baiknya ya. Terima kasih juga sudah berkenan mampir dan melahap cerpenku hihi😊

      Suka

Tinggalkan komentar