Oleh : Ratna Ning
Mata Fia terbelalak melihat apa yang dipertontonkan Aina. Gadis itu makin menjadi. Kemarin Ia show up dengan baju serba minimnya. Pemandangan yang sudah cukup membuat Fia sakit mata.
Sekarang, ia turun dari mobil keren, tersenyum nakal dan melambai pada si pengemudi, lalu berjalan melenggok ke arah Fia dan teman-temannya. Dandanannya sudah mirip topeng lenong,.menor menggoda banget.
“Haii guys! Kenapa lo pada bengong lihat gue? Aneh ya? Atau…lo pada silau karena ngelihat gue cantik? …” Ngomong gitu aksennya begitu kemayu. Geli Fia melihatnya.
Sejak putus dengan Aldo, tingkah Aina mulai aneh. Gadis manis yang asalnya lugu dan sangat mature itu tiba-tiba berubah total dalam penampilan dan sikapnya. Menurutnya, itu perubahan wajar agar Ia bisa move on. Tapi di mata Fia, perubahan yang sangat lebay. Bahkan dari hari ke hari tingkah cewek itu makin menjadi. Aina yang dikenal pemalu dan anggun itu jadi seperti putus urat malu. Bahasanya saja berganti jadi betawi gaul. Penuh lo dan gue. Membuat Fia sering merasa enek.
“Aku muak lihat tingkah kamu yang lebay, tahu? Kamu nih bukan seperti Aina yang kukenal. Aina yang lugu, pendiam….”
“Alaaaahhh..elo aja yang sirik sama gue. Apa salah kalau gue mau berubah? Gue mau move on! Gue mau meningkatkan kualitas diri gue…Apa salah? Gue juga mau bahagia tahu Fi!” Aina balas berteriak. Ia melibaskan kedua tangannya ke udara.
Fia semakin geregetan. Dicengkeramnya tangan Aina, lalu diseretnya menjauh dari tempat ramai itu. Tak dipedulikannya Aina yang meronta dan menjerit-jerit. Sampai tiba di tempat sepi, Fia menghempaskan cekalannya sambil ngos-ngosan.
“Sini kita ngobrol. Pertama aku mau tanya, siapa cowok yang nganterin kamu tadi hah?” Fia langsung menginterogasi.
Aina hanya mendengus. Wajahnya tak acuh membuang pandang.
“Jawab, Aina!”
“Oke..Oke! Miss Kepo. Gue jawab! Tu cowok gue kenal di café gaul tempat kita nongkrong. Ari namanya. Gue lagi pedekate sama dia. Dia bisa bikin gue bahagia. ” terang Aina lancar.
“W…What??”
Mata Fia seperti mau loncat mendengar penjelasan Aina dengan wajah tanpa dosanya.
“Lo udah dengar barusan. Dan gak perlu selebay itu ekspresinya. Biasa aja kali!” jawab Aina datar dan masabodoh.
Ada bara di dada Fia. Ada api di matanya juga. Aina sudah sangat keterlaluan. Ini tak bisa dibiarkan. Aina temannya. Fia tak mau Aina semakin jauh terjerumus.
“Hanya gara-gara cinta bertepuk sebelah tangan. Hanya karena Aldo mainin perasaan kamu, kamu jadi berubah sedrastis ini? Aina yang kulihat sekarang bukan Aina yang kukenal sebelumnya. Tahu nggak Aina, dengan merubah penampilan begini, kamu jadi terlihat asing. Keren nggak, lebay iya! Kenapa bisa separah ini sihir si raja gombal itu nempel di diri kamu?”
“Lo tahu apa masalah sakit hati gue? Lo nggak tahu gimana Aldo mengolok-olok gue? Sementara gue begitu memujanya. Gue begitu menyayanginya. Lo nggak tahu sakitnya tuh gimana? Perih banget Jendral! Perih banget. Elo tahu?” dengan cepat Aina menyabot omongan Fia, dengan suara yang mulai terbata.
Aina, sebenarnya dia sangat sensitive dan mellow sebelum ini. Ia sangat lembut hati, penyayang pada siapa saja. Makanya, meskipun agak lugu pembawaannya, ia punya banyak teman. Kepribadian lembut dan agak primitifnya terbentuk dari lingkungan keluarga dia yang sangat religius. Bapak dan Ibunya sepasang suami istri yang sederhana dan sudah mendapat gelar Haji dan Hajjahnya beberapa tahun lalu. Karakter itu menjadi kontras dengan kecenderungannya yang mengidolakan cowok hyperaktif dan semi-semi badboys. Lalu ketika kriteria itu ia dapati dari sosok Aldo, mati-matian Aina tebar pesona, berusaha meraih simpati cowok playboy itu. Ia tak mau mendengar saran Fia dan beberapa temannya tentang tabiat Aldo yang tak pernah main hati sama perempuan manapun di seantero kampus ini. Bahkan Ia punya kecenderungan senang main-main dengan banyak perempuan.
Fia sendiri tak habis pikir, apa yang membuat Aina tertarik pada Aldo? Wajahnya cukup pasaran, otak dan isi kantongnya sama cekaknya. Kelakuan dia minus gak ada plus-plusnya. Jika itu ditanyakan pada Aina, dengan cukup bijak Aina akan menjawab.
“Itulah cinta Fi. Dia tak akan mengenal tempat jika ia ingin jatuh. Meskipun tempat itu kotor dan penuh kotoran kerbau, ia tak akan permisi apalagi membersihkan dulu tuh kotoran. Aku menyukai Aldo tanpa alasan. Tanpa syarat pula. Yang jelas, saat melihat dia aku merasakan detak jantungku berpacu lebih dari biasanya. Ada getaran-getaran indah seperti petikan dawai asmara dewi Amor. Huaahhh…aku ngomong apa Fi??” ceracauannya itu diakhiri dengan cekikikan.
“Tapi jika itu cinta, dia tidak buta Aina. Dia bisa melihat mana yang patut dijatuhinya atau tidak. Yang terjadi sama kamu bukan cinta…”
“Lantas apa haiii?”
“Entahlah. Apakah itu obsesi atau hanya pelarian. Jika saja itu obsesi, maka pantaslah. Ketika kamu mendapatkan sosok impian bawah sadarmu ada pada sosok Aldo, maka mati-matian kamu berusaha mendapatkannya. Kamu sedang berusaha untuk meraih impianmu menjadi kenyataan. Pantas saja logikamu tak bermain disini!”
“Apapun itu Fia. Yang jelas hatiku berbunga-bunga sejak dekat dengan Aldo!” Aina tetap pada pendiriannya.
Fia mendengus.
“Aku hanya takut kamu mendapatkan kekecewaan!” Fia bergumam.
Semua kekhawatirannya terbukti kini. Aldo memang bukan lelaki pilihan. Ia tak pantas mendapat cinta Aina yang begitu tulus. Aldo seorang munafik yang pandai bermanis kata di depan Aina, mungkin juga di depan cewek-cewek lain yang digombalinya. Aldo selalu menjelek-jelekkan Aina. Ainalah yang mengejarnya habis-habisan. Aina yang cinta mati. Cewek dungulah. Culun, kampungan. Semua perkataan jelek tentang Aina berhamburan dari mulutnya bagai asap knalpot butut. Hingga suatu hari, Aina mendengarnya secara langsung. Ia tak sengaja mencuri dengar ketika Aldo menjelek-jelekkan Aina di depan cewek yang sedang digombalinya.
“”Dia bukan cewekku. Aina Cuma cewek bodoh yang mau saja aku bohongi. Nggak ada dalam kriteriaku harus cinta sama cewek culun kayak dia. Sudah dandanannya konvensional seperti gadis tahun empat lima, pembawaannya juga kolot dan nggak gaul!” ceracauan Aldo diiringi cengar-cengir monyet urung begitu Aina muncul. Ada bara di mata cewek itu. Kilatan merahnya kemudian menyambar muka badak Aldo melalui lemparan buku-buku diktat tebal Aina.
Tanpa sepatah kata Aina berlalu. Lantas hilang untuk beberapa waktu. Handphonenya tak dapat dihubungi. Begitu juga di rumahnya, cewek itu menolak ditemui siapapun. Fia tak berusaha mengusiknya lagi setelah itu. Hingga kemunculannya minggu lalu yang membuat pangling semua temannya. Dandanannya bak potomodel. Dengan rambut panjangnya yang digerai lurus, muka yang tadinya alami jadi dipoles sedikit menor, sepatu pantopel pendeknya diganti dengan higheels keren. Semua yang melekat pada tubuhnya, dari ujung rambut sampai ujung kaki, dipermak habis-habisan dengan semua tempelan yang terlihat wah dan mahal. Meski terlihat asing, diakui Fia jika Aina dengan penampilan barunya itu terlihat makin bersinar dan tak terlihat norak. Mungkin ia melakukan survey dulu sebelumnya atau berguru pada pakar kecantikan. Entahlah!
Jika Aina ingin merubah penampilan saja, itu adalah hal yang wajar. Semua orang berhak merubah diri. Tapi yang terjadi kemudian seperti pemandangan yang baru saja lewat siang ini. Fia yang kemarin-kemarin hanya diam, sekarang tak bisa lagi menahan kejengkelannya. Aina sudah sangat keterlaluan. Sebagai seorang sahabat, Fia merasa harus menegurnya. Kalau perlu, mengembalikan Aina pada habitatnya semula. Dengan icon lugu dan apa adanya.
“Kamu terlalu jauh menterjemahkan rasa sakit hatimu, Ain! Aku khawatir dengan perubahanmu yang ini. Aku nggak mau kamu mengotori citramu sebagai seorang perempuan dan ikut menambah citra buruk mahasiswi-mahasiswi alay seperti yang banyak diberitakan!” suara Fia melembut. Berharap Aina tersentuh mendengar tegurannya.
“So keep calm Fia. Aku hanya main-main saja kok. Jangan cowok aja yang bisa main hati. Aku juga bisa Fia. Aku mau mempermainkan hati semua laki-laki. Biar mereka tahu gimana rasanya dipermainkan itu. Sakitnya gurih banget Fi!” Aina begitu jumawa dengan tekadnya yang konyol. Fia menggelengkan kepalanya, menatap Aina semu geram.
***
Senja menjelang. Aina masih menikmati milkshake coklat dan seporsi kentang goreng di sebuah sudut café mewah. Ari yang duduk sambil sesekali mencuri tatap ke arahnya luput dari perhatian. Aina malah asyik mengantar lamunannya entah kemana. Separuh jiwanya terasa hampa. Ia sibuk mengkamuflase perasaannya akhir-akhir ini. Semenjak dikecewakan Aldo, Aina merasakan ketakmenetuan melanda hatinya.
Aldo. Seandainya Aina tak mengenal dan pernah teramat mengidolakannya, tentu peristiwa bodoh bin memalukan ini tak akan diterimanya. Aldo yang ia kira punya rasa cinta meski secuil saja pada Aina ternyata tak lebih dari cowok brengsek yang nggak punya hati nurani. Kekecewaan Aina yang sudah terlanjur memberikan seluruh hatinya pada Aldo yang tlah membuatnya melakukan kebodohan kedua, ketiga dan seterusnya.
“Aina…” sentuhan lembut di punggung tangannya dibarengi panggilan Ari membuat Aina menjejakkan kesadarannya dari layangan khayal.
“Owhh…Ya?” Matanya memutar pandang ke arah Ari. Cowok yang sebenarnya hampir sebaya dengannya itu tengah memandangnya penuh arti. Yang entah apa, Aina sendiri tak bisa menterjemahkannya. Yang jelas, tatap laki-laki itu mengandung sesuatu.
“Kita mau kemana nih? Abis dari sini?” pertanyaan Ari mengingatkan Aina pada waktu. Aina tlah berjanji pada Ibunya, untuk pulang sebelum maghrib. Ari menjemputnya untuk jalan-jalan sore ke rumahnya, beberapa jam lalu.
“Hmmhhh..pulang aja deh. Aku nggak enak sama Ibu kalau pulang malam. Lagipula baru kali ini aku jalan sama cowok, Ri!”
“Nggak jalan-jalan dulu sebentar Ain?”
Ketika Ari mengajaknya pergi dari tempat itu, Aina dengan ringan mengangguk. Ahh..apa salahnya bersenang-senang sedikit. Bisik hati Aina memungkiri bisikan sisi hatinya yang lain.
Senja mulai beranjak. Sayap malam terbentang. Rembulan muncul malu-malu di balik awan, seperti rupa perawan yang tengah jatuh cinta. Sedan abu-abu metalik yang ditumpangi Aina pelan-pelan bergerak melaju, membelah jalan raya yang dipenuhi kelap-kelip lampu kendaraan dan penerangan sepanjang jalan.
Aina duduk di depan, di sisi pangeran tampan yang tengah mengobati luka cintanya. Bibir Aina menyungging senyum sambil sesekali melirik Ari yang menggodanya sembari tenang mengendalikan kemudi. Kalau saja kamu tahu Do, aku dengan mudah bisa membuat laki-laki lain tergila-gila, kamu akan menyesal karena tlah menganggapku seperti seonggok sampah yang bau dan menjijikkan. Lagi-lagi, hati Aina menggerundel, menetralisir kekecewaannya yang bersemayam demikian tebal pada Aldo.
“Kita mau jalan kemana nih Ain? Menghabiskan malam kita?” suara Ari kembali membuatnya tersadar dari lamunan. Aina menoleh, mengernyitkan kening.
“Menghabiskan malam? Maksudmu?” Aina tergeragap. Hatinya mulai was was. Entah karena apa. Ia merasakan sesuatu yang berjalan dengan tidak semestinya.
Ari terkekeh. Matanya melirik Aina sesaat, terkesan nakal menggoda.
“Masak kamu nggak ngerti? Kita langsung jalan ya? Pulang besok pagi saja”. Ari datar saja ngomong begitu sembari matanya lepas memandang kea rah jalan.
“Pulang besok pagi? Kamu gila ya?” sentak Aina dengan suara keras bergetar. Ia mulai mencium ketakberesan itu. Lagi-lagi Ari terkekeh. Mengalihkan tatap ke arah Aina setelah menepikan mobil dan menghentikan kegiatan mengemudinya.
“Ayolah Aina, kita jalan sore ini untuk bersenang-senang kan? Kamu kira seperti apa gaya pacaran kita? Cuma jalan doang, makan, sayang-sayang trus pulang gitu?” ngomong gitu mata Ari tajam menatap Aina, seperti srigala yang siap menerkam. Mulutnya menyungging sringai yang menyeramkan. Aina memperbaiki posisi duduknya. Ari semakin menyeringai.
Serta merta cowok itu merangsek, menangkap pergelangan tangan Aina dan mencengkeramnya kuat-kuat.
“Kenapa? Takut? Shhhhsss…Kamu yang mau pacaran denganku. Menggoda dengan dandanan menor bikin syuurrr..Katamu kamu mau move on denganku kan? Ayolah, aku akan buat kamu senang…” nafas Ari memburu, wajahnya dekat sekali ke wajah Aina. Tatap matanya sebentar nyala sebentar redup seperti lampu disko. Godd! Aina panik.
Aina berusaha untuk lepas dari himpitan tubuh Ari. Sekuat tenaga didorongnya cowok itu. Semua tenaga dikerahkannya tanpa sisa. Dan…
Brukkk!
Seiring tubuh Ari yang terjungkal ke sela antara kemudi dan kursi, Aina membuka pintu mobil. Ia berusaha menghilangkan kegugupannya. Berhasil pada detik-detik Ari mampu bangkit dari jerembabnya. Aina berlari, berlari sekuat tenaga menyusuri trotoar. Belok di sebuah jalan kecil, sepertinya kompleks perumahan. Ia terus berlari menggunakan sisa-sisa tenaganya.
***
“Assalamu alaikum ukhtie!” suara salam yang lembut namun bernada bariton mengejutkan Aina. Ia tengah terduduk di halaman sebuah mesjid dengan sisa nafas yang masih ngos-ngosan.
“Waalaikum salam…e..maaf Kamu…?” begitu ia menjawab salam dan menoleh, didapatinya seorang cowok berkoko biru berpeci putih tengah manggut dan mengulas sesungging senyum ke arahnya. Duhaii..wajah cowok itu terlihat segar dan memancarkan aura ketenangan. Tatapannya begitu teduh, seteduh air telaga. Sesaat Aina hanya tertegun.
“Nama saya Ahmad Fadhilah. Panggil Fadhil saja!” cowok itu memperkenalkan diri tanpa mengulurkan tangan. Hanya manggut dan tersenyum.
“Ukhtie…kenapa malam-malam duduk di halaman mesjid ini sendirian? Ini sudah lewat waktu Isya lho…”
Aina membawa tunduknya. Ia baru tersadar pada waktu. Ternyata sudah malam. Ibu dan Bapak pasti mencarinya di rumah. Aina sudah akan beranjak, tapi teringat ketakutannya pada Ari yang masih menghantuinya, ia mengurungkan niatnya.
“E..saya…saya tersesat…Fadhil. Saya baru kena musibah. Emmhh..ceritanya panjang. Tapi…bisakah kamu nganterin saya pulang? Plisss!!” suara Aina penuh harap bercampur keraguan. Jengah diangkatnya wajahnya, bersitatap kembali dengan wajah teduh milik Fadhil.
Kening cowok itu mengernyit. Tatapannya berpindah mengitar ke sekeliling. Seperti mencari-cari sesuatu. Kemudian berbalik lagi, memandang Aina. Seperti mencari binar kejujuran di wajah gadis itu.
“Hemmhh…gimana ya?” ia seperti kebingungan.
“Saya perempuan baik-baik, Fadhil. Sumpah!” Aina lalu menerangkan garis besar peristiwa yang menimpanya. Ekspresi wajah Fadhil kadang mengangguk kadang menatapnya tajam penuh arti.
“Hemmhh..oke deh. Saya antarkan ukhtie sampai ke rumah ya? Tapi nanti saya mau mengantarkan ukhtie sampai ke hadapan Bapak dan Ibu Ukhtie…”
Aina hampir bersorak.
Malam itu Aina menarik nafas lega karena telah lolos dari mulut harimau lapar. Dua butir bening luruh dari kelopak matanya. God! Entah apa yang terjadi kalau ia lupa diri. Mungkin malam ini ia sudah jadi ampas tahu. Gara-gara sakit hatinya yang terlalu pada Aldo yang nggak penting itu ia hampir saja kehilangan harga diri. Aina telah salah memilih jalan untuk move on. Ia lagi-lagi hanya terobsesi mimpi-mimpinya. Ingin merubah diri dari si itik buruk rupa menjadi bidadari yang turun dari kahyangan. Hanya sekedar ingin membuktikan bahwa dirinya mampu menjadi lebih baik.
Tiger merah yang mengantarkannya pulang, membelah jalan raya yang masih ramai. Tapi jauh di sudut hati Aina, ia merasakan kelengangan dan kehampaan.
***
“Fi, nanti siang antar aku ke Gramedia ya?”
Fia menurunkan buku yang tengah dibacanya. Matanya lurus kini beradu tatap dengan mata Aina. Aina tersenyum. Fia malah membalasnya dengan cibiran.
“Kenapa nggak minta anter Arimu saja hehhhkk?”
“Aiihhh..jangan begitulah kawan. Hemmhh…Ari sibuk Fi!” Aina berdalih.
“Ogah! Aku juga sibuk!” Fia kembali meneruskan bacaannya. Menutup wajahnya dengan buku. Taman kampus siang itu cukup ramai oleh mahasiswa dengan ulahnya masing-masing.
“Fia jahatt!” Aina manyun.
Hpnya membunyikan nada dering sms. Cepat dibukanya. Bibir kerucutnya berubah senyum membaca isi sms.
“Aku pergi dulu ya Fi!”
“Heeiii..mau kemana lagi ratu ngilang?” teriak Fia hanya dibalas lambaian tangan Aina.
Aneh lagi tu anak. Penampilannya nggak seekstrim kemarin. Meskipun masih modis, tapi kini Aina terlihat lebih sopan dan casual. Ia mengenakan blous tangan panjang dan celana jeans yang tak begitu ketat. Sepatunya masih terlihat modis meskipun bukan higheels. Lalu, bungkusan apa yang ditenteng di tangan kanannya? Kening Fia mengernyit, mengikuti langkah Aina dengan pandangannya. Gadis itu berjalan lurus lalu belok kea rah Mushola.
***
“Asslamualaikum ukhtie…”
“Haaiii…eehh, waalaikumussalam…Udah siap?”
Cowok dengan wajah bersinar itu tersenyum melihat tingkah Aina. Mengangguk. Setelah berpamitan pada Ibu, mereka berdua melangkah keluar. Fadhil memberikan helmnya satu untuk Aina. Meski sedikit ribet mengenakannya di atas jilbabnya, Aina terlihat tenang mengenakannya.
Sebentar saja Tiger merah sudah membelah jalan raya. Rinai gerimis yang merintik menularkan kesejukan di hati Aina. Aina mendongak, menatap langit yang bersih tanpa mendung bergayut. Gerimis ini mungkin hanya sisa-sisa hujan kemarin. Tak ada awan bergayut yang menjadi pertanda hujan akan segera turun. Di ufuk barat sana lembayung menggebyarkan warna orange terang. Indah sekali.
Senja yang kontras dalam pandangannya. Indah dalam perasaannya. Entah kenapa, Aina merasakan ketenangan berada di dekat cowok religius itu. Tatap teduhnya kerap kali menimbulkan getaran halus jika beradu tatap. Pandangan mata yang tak menimbulkan gerah apalagi jengah. Keteduhan yang terasa begitu melindungi dan menjaganya. Tatapan mata yang tlah mengisi kisi-kisi kosong sisi hatinya semenjak dikhianati Aldo.
Fadhil. Fadhil yang datang menawarkan cintanya yang begitu bening. Fadhil yang membuat Aina mampu menjernihkan kembali pandangan matanya. Lalu hati nuraninya dengan jernih pula menjatuhkan pilihan pada si pemilik tatapan seteduh telaga itu.
***
Biodata :
Ratna Ning, lahir di Subang Tanggal 19 September. Mulai menulis sejak remaja, tahun 1994. Pada tahun itu juga tulisan pertamanya dimuat di media massa remaja Pop ‘KawanKu’. Dari tahun 1994 sampai medio tahun 2005 masih aktif menulis dan beberapa tulisannya dimuat di beberapa media massa nasional, daerah dan instansi. Cerpennya yang berjudul “Serenada Pelangi” dimuat di ANNIDA sebagai cerpen Pilihan Annida.
Tahun 2005 sampai 2012 vakum dari dunia kepenulisan meskipun masih menulis di facebook dan blog pribadi. Tahun 2013 mulai menekuni lagi dan beberapa buku antologi dengan penerbitan indie telah lahir.
Alamat Blog : ratnaning597.Blogspot.com
Email : ratnaning597@gmail.com
Twitter : Ratnaning6