Arsip Kategori: Cerpen

Keranda Yang Membelot

 Cerpen Otang K.Baddy

Para pengusung keranda itu mandi keringat. Semangat yang tinggi atas bayangan upah yang menjanjikan, telah membuatnya mati rasa. Mereka tak perduli apakah para penggali kubur merasa kesal dan pegal menunggu.  Juga, tak hirau akan keluguan iringan para pengantar yang sakral akan kalimah-kalimah toyibah yang menyertainya di gang setapak. Begitu pun soal tanda tanya semua orang di area pemakaman, tak jadi beban bagi mereka. Keranda berisi jasad perempuan tua itu bak emas murni, begitu sigap  disikat, dan telah berhasil  dibelotkan dari tujuan semestinya.

Keranda itu diusung lebih cepat, bahkan kalau perlu melompat demi menghindari kalau ada bola mata melihat. Bukan persoalan jika jasad itu terantuk-antuk atau terbanting ke kiri dan ke kanan membentur dinding keranda. Biarkan saja, yang penting sebujur tubuh kaku itu bisa terhindar dari penguburan di pesarean.
Mereka menaiki sebuah bukit dan batu cadas, untuk mencapai sebuah goa. Pengusungan pun agak hati-hati tatkala ditemui medan yang agak licin, mungkin bekas hujan semalam.
“Tinggal beberapa langkah lagi,” ucap salah seorang di antara mereka. Yang lain mengiyakan di tengah dengus nafas yang memburu. Memang mulut goa itu sudah di depan mata. Namun untuk mencapainya diperlukan pekerjaan yang ekstra ketat, mengingat mulut goa itu berada beberapa meter di atas kepala mereka. Jadi penyelesaianya bukan lagi berjalan, melainkan harus memanjat.
“Awas harus hati-hati!” kata seorang lelaki yang tiba-tiba muncul di mulut goa, bak seorang pribumi. “Yang dua orang naik dulu ke sini,” lanjutnya.
Setelah dua batang pinggulan depan keranda ditopangkan di tebing, dua orang itu memanjat ke bibir goa, sementara dua orang pengusung masih menahan di belakang. Lalu dua orang di bibir goa itu merengkuh kedua ujung keranda, dan perlahan menariknya ke atas. Demi menghindari kecemasan yang fatal, semua menahan nafas. Sebab posisi keranda itu tak cuma miring, melainkan berdiri seperti tangga.
          Entah ceroboh karena tergesa, atau mungkin keranda itu sudah cukup umur, tiba-tiba pintu keranda belakang tosblong bersamaan dengan melorotnya jasad kaku itu. Tanpa diduga mayat yang sudah mengeras itu terjatuh keras ke batu cadas dan terpelanting jauh, hingga terbontang-banting dari atas lereng bukit penuh bebatuan itu. Karenanya, kain kapan yang telah membungkusnya dengan rapi serta mewangi itu merosot dari jasadnya dan tersangkut pada sebuah tunggul.
“Goblog, kalian semua goblog!” maki seorang lelaki yang di goa tadi dengan geram. Giginya yang agak menghitam karena rokok, tampak gemeretak dirasuk amarah.
“Ini kegagalan total, dan merupakan aib besar! Aib besar sepanjang sejarah!” katanya seraya mata memandang langit, serta tangan kanan meninju-ninju telapak tangan kirinya.
Setelah empat orang itu melongo dan menyadari keteledorannya, seorang berkata penuh harap. “Mau kami Anda bersikap tenang saja, sebab ini bukan suatu kesengajaan. Bukankah jasad itu bisa diambil dan dikapani lagi seperti semula?”
“Sangat pesimis, mengingat jasad ibuku telah rusak!”
Entah apa maksud lelaki bujang lapuk itu. Memang tiada yang tahu pasti. Pengusung yang empat orang ini pun bukan sepenuhnya percaya padanya. Mereka bergiat lebih dikarenakan pada upah yang dijanjikan.
       Menurut Warong –satu-satunya anak lelaki almarhumah-perempuan yang kurus tinggal tulang itu belum sepenuhnya mati. Ketidakberdayaannya itu hanyalah koma semata. Di mata Warsad tubuh ibunya subuh tadi masih hangat, di pergelangan tangannya masih ada denyut. Dengan mendekatkan telinganya ke hidung jasad, ia masih mendengar dengus nafas. Tapi kenapa orang-orang telah memvonis sebuah kematian?
Pagi hari dada Warong panas menyesak. Bergumpal rasa, antara cemas dan harap begitu dahsyat menyergap. Bukan kesal pada warga yang datang dan turut belasungkawa, namun ia lebih benci dan dendam pada yang membuat keputusan.  Sumaring, kakak perempaun Warong satu-satunya, yang sok alim itulah biang keroknya. Dan menuding dirinya tak sayang orang tua, tak sayang pada ibunya.  Sumaring, merasa lelah akan ketelatenan mengurus perempuan tua yang sering sakit-sakitan selama adiknya itu pergi melanglang. Warong memang sering pergi dengan alasannya ingin melanglang buana. Dalam hidupnya ia tak cukup puas dengan hanya membaca buanakata, apalagi sampai dibuat situs model yang ini. Ia ingin menyelami kehidupan ini sampai ke buanarasa.
“Wah, kamu selalu ngaco, Warong. pola pikirmu telah ngawur. Istigfar kamu!” kata Sumaring kesal. Perempuan yang telah menjanda 4 anak itu sudah tak mau lagi mendengar omongan adiknya yang seperti punya kelainan tersebut.
Yang tak dimengerti oleh Sumaring– Warong sering mengembara itu mencari matahari yang tak terlihat di siang hari, mencari bulan yang tak pernah muncul di malam hari. Mencari bintang yang tak tampak berkedip, mencari mata yang buta saat belala. Mencari dirinya yang hilang ditelan kabut misteri. Begitulah Warong setiap hendak pergi kerap berujar di depan ibu dan Sumaring.
Dan dengan sering pergiannya Warong yang tak jelas tujuannya itu membuat Rukni  –ibunya, sering sakit-sakitan. Ibunya mengharap kepergian anak lelaki satu-satunya itu benar-benar mencari cinta atau iwanita seperti pada umumnya untuk dijadikan istri sekaligus mantunya. Namun entah yang kesekian kalinya setiap anak lelaki itu datang, sang ibu selalu mengurut dada. Kenapa anaknya itu kerap pulang melenggang dengan tetap melajang?
Kendatipun kedatangannya langsung bersimpuh, rasa kecewa ibunya tak terobati. Bahkan di hari berikutnya, perempuan yang sudah kurus-kering, tinggal kulit yang membungkus tulang itu, langsung merebahkan tubuhnya di dipan. Warsad tak cemas melihatnya, dalam batinnya, perubahan ibunya yang mendadak itu adalah sebuah bentuk dari kepuasan akan kepulangan dirinya.
       Semenatara Sumaring,  telah membaca gelagat bahwa perempuan ringkih itu sudah mendekati maut. Maka, nyaris tak luput setiap saat kerap menungguinya. Sedang Warong seperti mati rasa, ia lebih banyak berada di luar rumah memandang langit. Satu, dua orang temannya -yang sudah berkeluarga, seakan setia menemaninya ngobrol. Warong seakan lihai dalam mengurai kata, sehingga apa-apa yang diucapkannya itu seperti kebenaran. Dua orang temannya itu mengakui  Warong itu sebagai punya daya linuwih.
Maka ketika berita kematian terdengar di pengeras suara mereka tak percaya. Apalagi setelah Warong memeriksa keadaan tubuh ibunya, bukan sedih yang dibuat, melainkan tersenyum.
“Jangan tunjukkan kebodohanmu, Rong,” kata Sumaring tatkala adiknya berpendapat lain.
“Janganlah kau usik lagi Sang Ibu, biarlah dia menikmati peristirahatannya.,”
Warong tak berdaya untuk mengutarakan pembelaannya. Apalagi belum setengah jam, para warga sudah berdatangan.
Saat proses pemandian jenazah Warong tak bisa diam. Tampak terjadi bisik-bisik dengan kedua temannya itu. Di antara isi bisikkan itu, “Asal dengan kerja keras dan terampil uang sepuluh juta siap diberikan.” Dalam waktu singkat kesepakatan pun didapat. Dua teman itu segera mencari rekanan, hingga empat orang pengusung siap menyantap suap.
“Pengembaraanmu yang fana akan terus kujaga,” desis Warong, setelah sebelumnya ia pamit pada temannya untuk pergi menunggu di suatu tempat. Dalam teropong kacamata batinnya, ruh perempuan itu tengah mengembara ke dunia lain atau bisa disebut mati suri. Setidaknya tiga hari ke depan ruh itu akan kembali ke raga. Apa pun resikonya, jasad ini harus benar-benar dijaga, terutama jangan sampai terluka, begitu batin Warong.
Namun apakah yang terjadi? Jangankan dapat terjaga dari suatu luka, di dekatnya pun kini jasad itu sudah tiada[]
       (Merupakan cerpen revisi dari judul yang sama, karya Otang K.Baddy yang beberapa waktu lalu pernah dimuat di Kabar Priangan)
 

Putri yang Bersujud

 Cerpen : Devian Amilla

Pagi ini aku terjaga dari tidurku karena mendengar lantunan ayat suci Al-Quran dari kamar Mbak Anzani. Kulirik jam weker yang berada tepat di samping ranjangku. Ah, masih jam 03.00 pagi. Aku pun melanjutkan tidurku. Tak lama kemudian, pintu kamarku diketuk.

“Assalamualaikum, Dek. Bangun yuk, shalat tahajud.”, suara Mbak Anzani terdengar lembut. Aku menggeliat. Kubiarkan suara Mbak Anzani yang terus berusaha membangunkanku. Aku masih ngantuk, lagian badanku masih pegal karena harus lembur di kantor semalaman. “Mbak Anzani ngeselin banget, sih. Baru juga mau tidur udah disuruh bangun.” Aku ngomel sambil terus memejamkan mata.

Aku adalah anak tunggal dan cucu satu-satunya dari keluarga besar Papi dan Mami. Yap! Papi dan Mami adalah anak tunggal dari Oma dan Opa yang terlahir dari keluarga pengusaha kaya raya. Dan aku adalah anak tunggalnya Papi dan Mami. Jadilah aku bak seorang putri raja di keluarga ini. Mbak Anzani adalah anak panti asuhan yang di asuh Mami dan Papi sejak umurku 8 tahun. Waktu itu aku sibuk minta diberikan seorang kakak perempuan. Jadilah Mami dan Papi mengunjungi panti asuhan Pelita dan mengangkat Mbak Anzani menjadi kakak perempuanku.

Aku dan Mbak Anzani bagaikan langit dan bumi. Aku yang suka sekali dengan barang-barang mewah dan branded sedangkan Mbak Anzani lebih menyukai barang-barang yang sederhana bahkan menurutku terkesan murah. “Allah tidak menyukai hambanya yang berlebih-lebihan, Dek.” Itu kata-kata yang selalu diucapkan Mbak Anzani jika aku memberikannya hadiah tas atau sepatu mahal. Ya, Mbak Anzani memang muslimah sejati. Lihat saja jilbabnya selalu menjulur menutupi dada. Beda sekali dengan aku yang masih enggan mengenakan jilbab keluar rumah dan mewarnai rambutku dengan warna hijau dan coklat.

Usiaku dan Mbak Anzani hanya terpaut 3 tahun. Saat ini usiaku 22 tahun dan Mbak Anzani 25 tahun. Papi memintaku untuk menjadi salah satu manager di perusahaannya. Sedangkan Mbak Anzani lebih memilih menjadi seorang guru di salah satu Yayasan milik keluarga besar kami. Aku menyukai jenis musik Rock, sedangkan Mbak Anzani lebih menyukai lagu-lagu nasyid dan berbau islami. Seringkali aku di tegur Mbak Anzani karena menyetel lagu Linkin Park dengan volume full saat Mbak Anzani dan teman-temannya sedang membahas tentang Palestina di ruang tamu.

“Dek, bisa dikecilkan sedikit nggak volume lagunya? Mbak dan teman-teman yang lain jadi kurang fokus, nih.”, katanya sambil menunjukkan sederet gigi mungilnya. Aku nyengir dan langsung mematikan lagu yang tadi kuputar.

“Bukan Mbak suruh matikan, sayang. Kamu masih bisa mendengarkan lagu kesukaanmu kok, tapi ya jangan kencang-kencang.”, kepala Mbak Anzani menyembul lagi dari balik pintu kamarku.

“Nggak apa-apa kok, Mbak. Aku juga udah muak dengerin lagunya.”, aku balas dengan cengiran kuda.

Mbak Anzani tersenyum sambil berlalu. Kudengar sebelum ia menutup pintu kamarku, ia berkata, “Mendingan kamu dengerin lagu-lagu islami deh, Dek. Hati kamu pasti lebih adem dan nggak cepat muak.” Aku tersenyum. Ini yang kusuka dari Mbak Anzani, meskipun aku belum bisa menjadi muslimah yang sejati seperti dia, tapi Mbak Anzani tidak pernah menghakimiku seperti orang lain. Ia selalu punya cara sendiri untuk menasehatiku.

***

“Mbaaaaaaakkk!”, aku masuk kerumah sambil berlari memanggil Mbak Anzani.

“Ya Allah, Dek. Kalau masuk rumah itu ngucapin salam. Bukan teriak-teriak begitu.” Mbak Anzani menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Mbak, tahu nggak? Di kantor ada karyawan baru, ganteeeengggg banget! Wajahnya itu loh Mbak, bercahaya gitu, kayaknya dia rajin shalat deh kayak Mbak Anzani.” Aku mengabaikan teguran Mbak Anzani dan terus bercerita.

“Tatapan matanya teduh banget, Mbak. Tapi Zira heran deh Mbak, dia nggak pernah mau lama-lama ngeliat perempuan. Sombong banget kan, Mbak?,” ucapku setengah kesal. Karena tadi ketika di kantor, aku berusaha ngobrol sama lelaki itu tapi dianya malah kebanyakan nunduk. Kan sebel!

“Itu bukan sombong, Dek. Itu namanya dia menjaga pandangannya. Bagus dong, berarti dia sangat mengahargai perempuan.”, ujar Mbak Anzani.

“Memangnya laki-laki baik menurut islam itu harus laki-laki yang menjaga pandangannya ya, Mbak?”

“Ya iyalah, sayaaang! Gimana dia mau menjaga hati kamu kalau pandangannya saja sulit ia jaga.”, ucap Mbak Anzani sambil tersenyum. Aku hanya manggut-manggut mendengarkan perkataan Mbak Anzani.

“Mbak, apa laki-laki seperti dia nggak boleh dekat-dekat dengan perempuan seperti Zira?”, tanyaku dengan tatapan sendu. Mbak Anzani mengernyitkan dahinya. Ia menangkap rona sendu di wajahku.

“Memangnya dia laki-laki yang seperti apa, Dek? Kok bisa-bisanya kamu ngomong begitu?”

“Dia rajin shalat, Mbak. Shalat sunah saja dia tak pernah tinggal, apalagi shalat wajib. Terus dia juga rajin puasa, tiap hari Zira liat pas jam istirahat selalu baca Al-Quran, setiap Jum’at Zira lihat dia membagi-bagikan nasi kotak ke pak Satpam dan tukang becak yang mangkal dekat kantor, Mbak.”

“Terus alasannya dia nggak mau ‘dekat-dekat’ dengan Zira apa dong?”, tanya Mbak Anzani dengan menekankan kata ‘dekat-dekat’ kepadaku. Eh! Aku jadi salah tingkah sendiri. Mbak Anzani menangkap rona merah yang terpampang jelas di wajah chubbyku.

“Eh, ituuu… Anu Mbak, cuma nanya doang kok.”, aku tunduk menahan malu.

Mbak Anzani memelukku. Diusapnya rambutku yang lurus dan berwarna hijau coklat itu.

“Dek, selalu ingat ya.. Laki-laki baik untuk perempuan baik. Begitu juga sebaliknya. Jika kita mendambakan laki-laki yang baik perangainya, shaleh, dan lembut hatinya, kita juga harus bisa mempersiapkan diri untuk menyambut laki-laki seperti itu. Tingkatkan kualitas diri kita, perbaiki apa yang masih kurang dalam diri kita.”  Aku menangis dalam pelukan Mbak Anzani. Aku sadar selama ini aku masih jauh dari Allah. Padahal selalu ada Mbak Anzani yang siap untuk menuntunku jika aku mau berubah. Air mataku menetes lagi.

***

Pukul 03.00 pagi. Aku berjalan ke kamar Mbak Anzani. Niatku untuk membangunkan Mbak Anzani shalat tahajud. Tapi ternyata Mbak Anzani sudah bangun dan sudah siap-siap untuk shalat tahajud. Mbak Anzani bengong melihat rambutku yang sudah berwarna hitam. Ya, setelah mendengar nasihat Mbak Anzani tadi sore, aku memutuskan untuk mengembalikan warna rambutku seperti semula.

“Mbak! Aku mau shalat tahajud bareng, boleh?”, tanyaku sambil memakai mukena.

Mbak Anzani masih bengong. Wajarlah Mbak Anzani sampai bengong gitu, soalnya sejak kejadian aku ngga pernah mau dibangunin untuk shalat tahajud, Mbak Anzani akhirnya nyerah bangunin aku.

“Boleh nggak, Mbak?”, Kuulangi lagi pertanyaanku dengan wajah agak kesal karena daritadi Mbak Anzani hanya bengong. Mbak Anzani gelagapan menjawab pertanyaanku. Ia langsung memelukku dan mengucapkan syukur. Aduh, Mbak Anzani lebay, deh.

Setelah selesai shalat tahajud, aku meminta lagu-lagu nasyid dan lagu-lagu islami milik Mbak Anzani.

“Mbak nggak salah denger nih?”, ucapnya tak percaya.

“Iya, Mbak. Apa perlu Zira ulangi berkali-kali.” aku memasang wajah kesal. Mbak Anzani masih saja kubuat syok dengan perubahanku.

“Terus lagu-lagumu yang penyanyinya serem-serem itu dikemanain, Dek?”, tanyanya polos.

“Tukeran sama, Mbak lah. Aku masukin di laptop ya.”, godaku pada Mbak Anzani.

Mbak Anzani langsung menyambar laptopnya dan berulang kali mengucapkan kalimat istighfar. Aku tertawa dengan keras melihat reaksi Mbak Anzani yang super lebay itu.

“Huss! Muslimah itu nggak boleh ketawa kenceng-kenceng, Dek!”, tegur Mbak Anzani. Aku spontan menutup mulutku. Namanya juga kelepasan, Mbak. Batinku.

***

Bel di depan pintu rumah terus menerus berbunyi. Aku tahu siapa yang datang kalau sudah begini. Kubiarkan saja Mbak Anzani yang membukanya. Itu pasti Papi dan Mami. Mereka baru saja pulang dari luar negeri karena urusan perusahaan.

“Assalamualaikum, dear.”, ucap Papi dan Mami. Mami langsung memeluk Mbak Anzani.

“Waalaikumsalam, Mi.”, Mbak Anzani mencium tangan Mami dan Papi.

“Mana adikmu, dear?”, tanya Mami. Matanya menyapu sekeliling rumah berharap mendapatkanku di salah satu pojok ruangan.

“Lagi dandan, Mi. Kan mau berangkat ke kantor.”, ucap Mbak Anzani. Sebenarnya daritadi aku sudah selesai. Tapi aku masih malu untuk turun ke ruang keluarga. Aku takut di tertawakan sama Mami, Papi dan Mbak Anzani.

“Ziraaaa! My sweetheart!”, teriak Papi dari tangga bawah. Aku buru-buru turun. Ah, bodoh amat sama penilaian Mami dan Papi. Kata Mbak Anzani kan kalau niat baik nggak boleh ditunda-ditunda.

Aku menuruni anak tangga dengan anggun. “Assalamualaikum, Mi, Pi.”

Mami dan Papi saling tatap. Mbak Anzani hanya tersenyum. Ternyata Mbak Anzani sudah menduga bahwa aku akan segera berhijab. Yap! Pagi itu aku sukses membuat Mami dan Papi bengong dan tak melepaskan pandangannya barang sedetik pun dari aku. Hanya Mbak Anzani yang bisa mengeluarkan suara. Itu pun dengan dibumbui air matanya yang menetes berkali-kali, “Masya Allah, kamu lebih cantik dengan hijab, Dek.”

“Mbak, aku ingin hijrah. Bantu aku untuk tetap istiqamah, ya.” ucapku pelan di telinganya. Mbak Anzani kembali menitikkan air mata.

Sejak hari itu, aku mulai mengenakan jilbab kemanapun aku pergi. Karena memang sudah kewajiban seorang muslimah untuk menutup auratnya kan? Kubakar semua pakaian-pakaianku dulu yang kekurangan bahan itu. Tidak ada lagi pakaian you can see dan rok mini yang mejeng di lemari pakaianku. Sekarang lemari pakaianku pun terisi dengan baju tunik dan gamis dengan warna-warna lembut dan pastinya dengan berbagai macam jenis pasmina. Semua lagu-lagu rock kesayanganku juga sudah kuhapus dan kuganti dengan lagu-lagu nasyid yang sekarang malah lebih kucintai, bahkan aku mendownload ceramah-ceramah islami yang selalu menenangkan hati. Aku dan Mbak Anzani pun sering mengikuti kegiatan pengajian setiap hari Minggu dan Mbak Anzani membantuku untuk memahami isi Al-Quran.

***

“Mi, Pi, Mbak, minggu depan kita umrah bareng, ya.”, kataku dengan penuh antusias.

“Zira udah nyiapin semuanya, kok. Kita tinggal berangkat aja.”, tambahku lagi.

Mbak Anzani paling antusias mendengar perkataanku. Mami dan Papi memasang wajah berpikir. Pasti nyari alasan, nih.

“Pokoknya harus bisa! Dunia doang yang dikejar? Tabungan untuk akhiratnya kapan? Memangnya Papi sama Mami nggak mau kita ngumpul bareng lagi di surga?”, kataku sambil memeluk Mami dan Papi. Kalau sudah begini mereka langsung luluh dan menitikkan air mata.

***

Sehari sebelum keberangkatan kami untuk menjalankan umrah. Aku masuk rumah sakit dan harus memerlukan operasi yang lumayan besar di wajahku. Saat itu aku ingat sekali, aku melihat gadis berjilbab berusia tujuh belas tahun sedang dipaksa menanggalkan pakaiannya oleh preman-preman di ujung jalan. Aku yang kebetulan sedang melintas di daerah tersebut spontan membantu. Tapi apalah dikata, mereka kaget dengan kehadiranku saat itu. Mereka juga langsung menarikku dan menarik jilbabku. Kulihat mata mereka merah dan bau alkohol yang keluar dari mulutnya sangat membuatku mual. Aku berusaha menyuruh adik itu pergi, tapi dia juga sudah kehabisan tenaga mempertahankan apa yang memang seharusnya dipertahankan perempuan.

Segerombolan preman ini makin kalap karena kami sama-sama bertahan. Jilbab yang kukenakan sudah tak karuan bentuknya. Kulihat di sudut sana adik itu sudah berlumuran darah. Ia mendapatkan tusukan di perut dan di pundaknya. Berkali-kali. Aku menjerit sekuat tenaga meminta tolong. Aku tak henti menyebut asma Allah dan memohon pertolongannya.

Allah mendengar permohonanku. Tiba-tiba terdengar sirene polisi dari kejauhan. Mereka panik dan  meninggalkanku begitu saja. Tapi salah satu dari mereka kembali dan menghujamkan belati tepat ke jantungku berkali-kali. Setelah itu ia menyiramkan cairan ke wajahku yang kuyakini saat itu adalah air keras. Aku menjerit sekali lagi. Aku sudah tak bisa merasakan sakitnya lagi, yang kulakukan hanya menyebut nama Allah. Setelah itu semua gelap.

***

Kulihat Mbak Anzani menangis disudut ruangan. Ia tak henti memanjatkan doa untukku. Kucoba untuk membuka mataku semakin lebar. Kupanggil lirih Mbak Anzani. Mbak Anzani langsung memegang tanganku sambil mengucapkan syukur karena aku akhirnya bangun dari koma selama dua bulan.

“Mbak, bagaimana keadaan adik itu?”, tanyaku dengan terbata-bata.

“Dia sudah tenang, Dek. Dia sudah bersama Allah.”, jawab Mbak Anzani sambil menangis. Aku ikut menangis. Kulihat ada Mami dan Papi yang ikut menangis melihat kami. Eh, siapa lelaki itu? Bukannya dia karyawan baru di kantor? Seakan mengerti tatapan bingungku, Papi menjelaskan bahwa Alwi lah yang mengantarkanku dan adik itu ke rumah sakit dan berpura-pura menghidupkan sirene polisi dari handphonenya. Oh, jadi nama karyawan baru itu Alwi, batinku.

“Terimakasih sudah menolongku, Mas.”, ucapku lemah.

Ternyata Alwi sudah lama memperhatikanku. Hanya saja ia takut untuk lebih mengenalku karena belum muhrim katanya. Aku tersenyum. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ia melamarku saat itu juga. Ia ingin aku menjadi istrinya.

“Apakah kau mau menjadi istriku?”, tanya Alwi dengan lembut padaku.

“Kenapa kau memilihku untuk menjadi istrimu, Mas?,” aku balik bertanya.

“Karena perangai baikmu, karena hatimu yang lembut dan karena kamu seorang muslimah sejati.”, jawabnya mantap sambil melirik Mbak Anzani.

Air mataku jatuh. Mbak Anzani masih terus menggenggam tanganku. Ia ikut menangis. Mami dan Papi pun menangis. Oh, Allah… Ini sungguh luar biasa indah. Aku menganggukkan kepalaku pertanda bahwa aku mau di peristri olehnya. Alwi mengucapkan hamdallah berkali-kali.

Aku meminta Mbak Anzani membantuku untuk shalat tahajud. Ya, aku belum bisa shalat seperti biasanya. Jadi aku hanya bisa shalat dengan duduk. Entah kenapa aku begitu merindukan Allah. Aku begitu ingin bertemu dengannya. Dalam sujud panjangku, aku menangis. Memohon ampun atas segala perbuatanku selama ini, atas kelalaianku menjalani kewajibanku sebagai seorang muslimah. Tiba-tiba aku merasakan diriku sehat, bugar seperti sedia kala. Aku merasakan hatiku tentram tanpa beban. Aku melihat cahaya yang terang sekali dan ada suara anak-anak mengaji dari sana. Kuikuti suara itu dan aku melangkah dengan pasti ke cahaya tersebut sambil tersenyum.

***

Mbak Anzani memelukku dengan isak tangis yang halus. Ia tahu bahwa seorang muslimah sejati tidak boleh meratapi kepergian saudaranya. Alwi di sudut ruangan juga hanya menitikkan air mata sekali dua kali. Begitu juga Mami dan Papi. Setelah itu mereka langsung memanjatkan doa untuk kepergianku.

“Zira adalah seorang putri dalam keluarga kami. Dan tetap akan menjadi putri kecil kami yang manis.”, ucap Mami dengan suara yang parau.

“Ia memang seorang putri, Bu. Putri yang selalu bersujud padaNya.”, tambah Alwi dengan menitikkan air matanya terakhir kali.

        Devian Amilla

 

(Penulis adalah Alumni UMSU Jurusan Matematika, Beberapa karyanya seperti puisi, cerpen dan opini pernah dimuat di media  lokal maupun luar daerah.)

[Cerpen] Merayakan Luka

Oleh: Nanda Dyani Amilla
Ketika diksiku tak lagi mampu membuatmu yakin bahwa rumahku masih cukup hangat untuk kau tinggali. Ketika ujarku tak lagi bisa menahan langkahmu untuk tidak beranjak pergi. Ketika harapku pun tak lagi bisa menghentikan keputusanmu untuk lari dan menyendiri. Ketika itu pula, aku meragukan rasa yang pernah kita jaga bersama. Apakah memang sebesar itu? Atau waktu memang telah lelah untuk memaklumi semua keegoisan kita?

Aku tidak pernah ingin berada di posisi ini. Bahkan untuk membayangkannya saja aku enggan. Meski sakit, aku selalu mampu membujuk hatiku untuk tetap mempertahankanmu. Menjalani semuanya sekalipun kau berbuat salah. Aku berusaha menelan semua kecewa agar tak pernah kita berpisah. Aku berusaha meminimalisir luka, memaafkan agar kita tetap bahagia. Aku tahu kau pun turut melakukan hal yang sama. Namun, apakah kali ini kita benar-benar menyerah?
Kau memaksaku untuk melupa. Kau memaksaku untuk berjalan sendiri. Kau memaksaku untuk pergi. Meski aku tidak ingin, aku kembali melakukannya untukmu. Dan kali ini, sakitnya melebihi batas mampuku. Haruskah kita berakhir dengan cara seperti ini? Haruskah kau mengusirku dengan paksa dari hatimu? Ataukah kau telah menemukan seseorang yang baru?
Aku berusaha untuk tidak menangis ketika menuliskan ini. Sebab aku tahu, kau juga tidak akan menangis ketika membacanya nanti. Untuk sekadar kau tahu, perasaanku masih bertahan di tempat semula. Tidak akan pernah bergeser sedikitpun dari sana. Tak akan pernah berubah meski ada seseorang yang menawarkan bahagia. Kau perlu tahu, mencintaimu tidak pernah benar-benar sederhana. Aku mencintaimu dengan segala upaya terbaik yang kupunya. Aku memperlakukanmu dengan sangat istimewa. Meski sesekali kau merasa akulah penyebab segala luka.
Maaf, jika selama mencintaiku kau begitu kelelahan. Maaf, jika selama bersamaku aku begitu menyebalkan. Aku hanya sedang berusaha mencintaimu dengan baik, meski di matamu segala usahaku tak pernah terasa penuh. Hari ini, aku kembali mengais-ais ingatan tentangmu. Tentang perjalanan kita melewati purnama-purnama. Tentang sedih bahagia yang kita cipta bersama.
Senja beberapa waktu lalu, kita masih menghabiskan waktu bersama. Duduk di taman berdua. Dan bercerita tentang apa saja. Aku masih bisa menatap wajah teduhmu dari jarak sedekat itu. Juga merasakan tawa bahagiamu yang memenuhi gendang telinga. Kita bicara tentang masa depan. Tentang hal-hal yang ingin kita capai bersama. Tentang impian yang ingin diwujudkan berdua.
Barangkali kita lupa, bahwa kita pernah melewati masa-masa paling sulit. Lebih sulit daripada saat ini. Tapi kecewaku adalah mendapati kenyataan bahwa dengan mudahnya kau menyerah. Begitu mudahnya kau melupakan segala. Kau lupa bahwa akulah perempuan yang rela menerima semua kekuranganmu. Akulah perempuan yang menangis ketika rindu kamu. Dan akulah perempuan yang selalu berdoa untuk kebahagiaanmu. Kau lupa menghitung berapa banyak airmata yang pernah tumpah atas namamu. Kau lupa menghitung berapa banyak sakit yang dipertaruhkannya bersamamu. Kau lupa menghitung berapa banyak cinta yang dijauhinya demi kamu.
Tidak. Aku tidak perlu menjelaskan seberapa banyak buih perasaan yang kupunya untukmu. Aku paham, kau mengerti jika soal ini. Kau hanya tidak paham, bagaimana cara menyelamatkan hatimu dari rasa marah. Sekuat apapun kini aku berusaha, kau tidak akan merubah prinsip itu.
Pergilah, jika rumahku kini tak lagi menghangatkanmu. Pergilah, jika kurangku terasa memberatkanmu. Pergilah, jika bahagiamu bukan lagi terletak padaku. Jangan khawatir, aku sudah bersahabat dengan luka sejak lama. Aku hanya harus terbiasa dengan dunia yang tanpamu. Aku hanya harus terbiasa saat membuka mata dan tidak lagi menemukanmu pada tempat yang sama. Bukankah setiap pertemuan memang akan bermuara pada kata pisah? Bukankah bahagia juga bisa berganti menjadi labirin luka?
Kembalilah, jika di kemudian hari kau tidak menemukan bahagia pada hati lain. Kembalilah, jika suatu hari nanti kau kembali merindu kisah kebersamaan kita. Sejatinya, kau tidak pernah menempati ruang benci di dalam hatiku. Untuk saat ini, bantulah aku untuk bisa menerima keadaan. Bantulah aku untuk menyembuhkan hati. Dengan cara pergi dan jangan menoleh lagi. Setidaknya sampai aku bisa melupakan rasa sakit ini. Setidaknya sampai perasaanku mati di kemudian hari.[]

untuk seseorang
yang kerapkali kubuat patah hatinya

 

( Nanda Dyani Amilla yang mengaku bernama fena Gadis Hujan, Perempuan pluviophile yang juga menulis novel berjudul “Kejebak Friendzone”, Bentang Pustaka, 2017)

[Cerpen] “Kisah Gracie”

Oleh : Devian Amilla

Aku gemar sekali melihat darah segar yang mengalir deras dari tubuh seseorang. Aku juga selalu excited ketika melihat seseorang sedang bertarung dengan kematian. Aku tergila-gila dengan darah yang kental dan anyir. Mungkin banyak yang bilang nyawa haruslah dibayar dengan nyawa. Tapi bagiku, bully yang harus dibayar dengan nyawa.
Aku sudah cukup lelah bertahan selama 13 tahun di bully oleh teman-temanku hanya karena aku berbeda. Aku yang sejak kecil tak pandai bergaul selalu mendapat diskriminasi dari orang-orang sekitarku. Tak terkecuali dari orangtuaku dan ketiga kakakku. Mereka bilang seharusnya aku tak perlu lahir karena membuat malu keluarga tidak bisa bergaul dan terlalu bodoh menempatkan diri dengan orang-orang baru. Ketiga kakakku sangat cantik, mereka sangat lihai dalam bergaul, mereka juga pintar berdandan. Bagi mereka aku hanya gadis kecil berkacamata yang tidak bisa apa-apa.
Aku mulai bersahabat dengan pisau dan benda-benda tajam lainnya saat aku merasa direndahkan sebagai perempuan. Saat usiaku 14 tahun, aku hampir kehilangan kesucianku. Teman sekelasku yang merencanakan semua ini. Aku dikepung oleh lima orang laki-laki ketika pulang dari bimbingan belajar dekat sekolahku. Aku diseret ke ujung jalanan yang sepi dan jarang dilewati kendaraan. Posisiku saat itu benar-benar terdesak. Mereka memaksaku untuk menanggalkan pakaian. Aku memberontak dan melihat salah satu dari mereka memegang pisau. Aku berhasil merebut pisau itu dari tangannya.
Kuacungkan pisau itu ke arah mereka, tapi mereka mengira bahwa aku hanya mengancam. Mereka malah menghinaku dan merendahkanku. Aku yang selama ini sudah muak dengan segala jenis bully langsung kalap menyayat leher salah satu dari mereka. Saat itu aku merasakan sisi lain dari diriku. Aku merasakan ada semangat yang selama ini hilang ketika aku melihat darah yang mengucur dari leher anak laki-laki tersebut. Teman-temannya yang lain mencoba kabur, namun aku lebih cepat dari mereka. Aku habisi mereka satu per satu dengan pisau yang ada di tanganku.
Kelima anak laki-laki itu sekarang terkapar dengan bersimbah darah. Aku belum merasa puas, kutikam dada mereka satu per satu berkali-kali. Aku tidak peduli bagaimana rupaku sekarang, aku merasa sangat senang. Ini pengalamanku yang paling menyenangkan. Setelah puas menghabisi mereka, kutinggalkan begitu saja tubuh mereka. Biarkan saja tubuhnya dimakan anjing liar yang berkeliaran di jalan ini.
Saat ini aku tercatat sebagai siswi kelas 3 di SMA Favorit di kotaku. Aku sedang sibuk-sibuknya belajar dan ‘bermain’ dengan mereka yang sibuk menghinaku. Aku berkali-kali ditegur dan di beri surat peringatan karena terus bercerita tentang pembunuhan. Semua anak-anak disekolahku jadi takut untuk berteman denganku. Padahal aku sangat senang melihat wajah-wajah ketakutan mereka saat aku menceritakan betapa serunya melihat darah yang mengalir deras dari tubuh seseorang.
“Gracie! Kerjakan soal ini di depan kelas.”, ucap pak Edward sambil menatapku tajam karena daritadi aku tidak memperhatikannya.
Aku maju ke depan kelas. Aku mencoba mengerjakan soal itu, tapi aku tidak bisa. Bagaimana mungkin aku bisa mengerjakannya, mendengarkan ia menjelaskannnya saja tidak.
“Kau sudah di tingkat akhir, kenapa kau tidak pernah serius belajar! Mau jadi apa kau setelah lulus nanti? Tukang sampah?!”, bentakan pak Edward menimbulkan suara tawa dari teman-teman kelasku.
Aku hanya bisa tertunduk. Dalam hati aku mengutuk perkataan pak Edward. Teman-teman sibuk menyorakiku dengan kata-kata yang sangat menyakitkan hati. Aku memang sudah terkenal dengan sebutan siswa yang paling bodoh sejak SD sampai sekarang. Tapi apakah menjadi bodoh itu dosa? Apakah bodoh itu termasuk salah satu dosa besar dan hina? Kenapa mereka memperlakukan aku seperti dosa besar yang haram untuk di dekati?
Pak Edward mempersilahkanku untuk duduk kembali setelah ia puas mempermalukanku di depan teman-teman. Aku kembali ke bangku dengan rasa marah yang membuncah. Pak Edward melanjutkan pelajarannya. Aku pun melanjutkan lamunanku. Aku malas untuk mendengarkan segala rumus fisika yang keluar dari mulutnya. Tapi, sial. Lagi-lagi pak Edward memergokiku melamun.
“Kau sedang akting menjadi hantu apa dengan gaya melamun seperti itu?”, teriak pak Edward dari depan kelas. Suasana kelas langsung pecah dengan suara tawa.
“Kau yang akan menjadi hantu. Bukan aku!”
“Kau bilang apa? Berani sekali kau memanggilku dengan sebutan “kau”!”, Pak Edward berjalan ke arahku. Melayangkan tamparan ke wajahku.
“KAU YANG AKAN MENJADI HANTU! BUKAN AKU!”.
Aku berteriak tepat di depan wajahnya, lalu bergegas meninggalkan kelas.
Napasku memburu. Aku berlari ke arah gudang sekolah dengan suara menggema di kepalaku. Suara itu menyuruhku untuk membunuh Pak Edward. Jadi, akan kubunuh lelaki tua itu dengan caraku.
***
Bel pulang sekolah sudah terdengar. Aku buru-buru menemui lelaki tua itu. Aku sudah mengatur rencanaku dengan matang. Kulihat lelaki tua itu berjalan ke arah kantor, sebelum ia sampai kesana aku harus mencegahnya. Aku berlari ke arahnya secepat mungkin.
“Pak Edward! Pak Edward!”, aku berusaha memanggilnya.
Lelaki tua itu memalingkan wajahnya. Ia tersenyum penuh kemenangan saat melihatku berlari ke arahnya. Ia mungkin berpikir aku akan minta maaf atas perbuatanku tadi. Ya, aku memang akan meminta maaf dengan caraku.
“Aku ingin minta maaf, Pak.”, ucapku dengan nada sesedih mungkin agar ia yakin.
“Aku menyesali perbuatanku.”, tambahku dengan suara bergetar menahan tangis.
“Akhirnya kau mengakui kesalahanmu! Aku akan memaafkanmu dengan satu syarat.”
“Apa itu, Pak?”, aku sudah mewanti-wanti permintaannya yang bisa saja menggagalkan rencanaku untuk membunuhnya.
“Bantu aku membersihkan ruangan laboraturium sekolah kita nanti sore. Bagaimana?”
“Baik Pak, dengan senang hati.”, aku tersenyum dan pamit dari hadapannya.
Ternyata si lelaki tua itu malah mempermudah rencanaku untuk menghabisi nyawanya. Aku jadi tidak sabar menunggu sore nanti.

 

***
“Gracie! What are you doing for me?!”, teriak Pak Edward ketika mendapati dirinya telah terikat di sebuah meja panjang.
“C’mon honey! Don’t worried like that. Oke?”, ucapku sambil mengeluarkan pisau, palu, gunting dan gergaji dari dalam tasku.
“Apa yang akan kau lakukan padaku, Gracie?”, suara lelaki tua itu melemah. Ia pias ketika melihat aku mengeluarkan “alat-alat kecantikanku”.
Aku mengelus wajahnya yang sudah hampir keriput dengan pisau. Kusayat kulit wajahnya beberapa kali. Ia menjerit kesakitan.
“Lanjutkan teriakanmu bapak tua! Seperti kau meneriakiku di kelas.”
“Apa salahku padamu?”, tanyanya sambil menangis.
“Salahmu karena kau telah bermain-main denganku. Salahmu telah merendahkanku di depan teman-temanku!”, teriakku frustasi.
Aku pun menyayat dan mengoyak-ngoyak tubuhnya dengan pisau kesayanganku. Ia terus menjerit kesakitan sambil mengeluarkan kalimat, Somebody, Help me! Please, help me! Aku semakin membabi buta menghabis nyawanya. Usai sudah kesabaranku selama ini.
Aku menancapkan pisau tepat ke jantungnya lalu mengoyak-ngoyak dan menarik jantungnya keluar. Belum puas sampai disitu, aku mengambil gergaji dan memotong-motong tangan dan kakinya menjadi beberapa bagian. Lalu aku membelah perutnya, mengeluarkan semua isinya. Kuambil gunting dan kupotong rambut lelaki tua ini sampai habis. Setelah itu kuhantamkan palu ke kepalanya yang sudah botak. Otaknya berceceran diatas meja. Aku tersenyum puas. Aku berjalan meninggalkan ruangan laboraturium sambil bergumam, “Bukannya sudah kukatakan? Kau yang akan menjadi hantu.”[]

 

Devian Amilla

 

Penulis adalah Alumni UMSU Jurusan Matematika, Beberapa karyanya seperti puisi, cerpen dan opini pernah dimuat di media lokal maupun luar daerah

 

 

 

Baca karya Devian Amilla LAINNYA

[Cerpen] Sepasang Mata Teduh

   Oleh : Ratna Ning
Mata Fia terbelalak melihat apa yang dipertontonkan Aina. Gadis itu makin menjadi. Kemarin Ia show up dengan baju serba minimnya. Pemandangan yang sudah cukup membuat Fia sakit mata.

Sekarang, ia turun dari mobil keren, tersenyum nakal dan melambai pada si pengemudi, lalu berjalan melenggok ke arah Fia dan teman-temannya. Dandanannya sudah mirip topeng lenong,.menor menggoda banget. Lanjutkan membaca [Cerpen] Sepasang Mata Teduh

[Cerpen] Tangan Kecil di Lampu Merah

Oleh Muhammad Rifki

Cuaca memang tak pernah menentu. Kadang mendung, kadang cerah. Tak seperti kota ini yang kerap ramai dan padat. Jalanan yang meski terik seolah sejengkal pun tak menyurutkan raung-raungan di jalan raya. Kemarin hujan, kemarin lagi panas dan hari ini kembali mendung yang menjamah langit disertai guntur yang menggerurtu.

Di pasar, kulihat sebagian pedagang mulai mengeluhkan hari dan perlahan bersiap menyambut hujan. Kalau begini, para pembeli di pasar pun menipis, hujan malah memenjara rezeki mereka. Sebenarnya, meski tak ada hujan pun pasar kini telah terbiasa sepi. Para pedagang kecil yang biasa suaranya meledak-ledak hingga memenuhi seisi pasar kini mulai mengenal putus asa dan merasa percuma. Tak ada pembeli yang datang. Malah sebagian mereka kini memilih menjadi kuli untuk toko-toko besar di pasar atau pemberi jasa syurga; peminta-minta yang ketika diberi akan nyerocus mendoakan pemberinya agar masuk syurga. Tak aneh, di kotaku banyak orang yang memilih pekerjaan ini. Bahkan hampir di tiap sudut kota, lampu merah, pasar di kota ini telah mereka ambil alih. Saling berlomba meminta belas kasihan. Tak peduli tua atau muda,  kakek atau anak-anak, mereka sama saja. Penipu yang lihai. Belum lagi pengamen yang mengganggu di jalanan tak kalah padat. Maka menurutku, , lampu merah hanya menjadi kantor kerja bagi mereka. PT. Tangan Peminta.

Merepotkan, kadang aku merasa kasihan pada mereka yang rela mengorbankan harga diri bahkan tubuh mereka yang dibuat cacat sedemikian rupa. Kadang pula aku benci, karena mereka tak boleh dipandang sebelah mata. Boleh saja siang mereka cacat dan hina meminta-minta di lampu merah, padahal di malam hari justru lebih kaya ketimbang orang yang memberi mereka uang.

Untung hujan belum menetas sebelum aku sempat menjemput Nana, adikku yang masih kelas satu SD. Ayah belum mengizinkannya pulang sendiri melewati jalan raya. Terlalu bahaya. Terlebih beberapa hari yang lalu beredar luas berita penculikan anak. Takut kenapa-napa. Kata orang, anak yang diculik itu nantinya akan dijadkan peminta-minta, memohon dengan tangan kecil mereka di lampu merah. Ya, seperti mainan yang diperalat seenaknya.

Kami pulang melewati jalan pasar, hanya jalan ini yang cukup surut dari kepadatan kota. Bau amis, becek-becek jalanan sudah menjadi santapan biasa. Lalu seorang kakek bertubuh kurus tinggi dengan baju kumal bolong-bolong mendekati Nana. Tangannya lihai menadah, sambil memainkan mimik wajah memeras. Adikku spontan meraih tasnya, bersiap mengulurkan uang sertibu rupiah. Belum sempat itu ia raih, lekas kutarik tangan Nana pergi menjauh dari orang tua itu.

“Nggak usah!”

“Kenapa? Nana ‘kan mau sedekah,”

“Nggak uasah!”

Adikku mana mengerti maksudku. Sepanjang jalan ia berontak berasama airmatanya yang ,menjerit-jerit. Orang-orang pasar  menatapku dengan tatapan menusuk seperti seorang hakim yang mendakwaku bersalah. Sebagian lagi menggeleng-geleng.

Di rumah, ibu dan ayah berbaring sambil mengayunkan potongan kardus untuk melibaskan peluh yang kian lahir beranak pinak. Meski mendung, udara panas di rumah masih terperangkap. Maklum, rumah kami hanya mempunyai dua ventilasi, benar pengap. Sama saja panas atau hujan, rumah serasa pemanas nasi.

“Nana kenapa nangis?” ibu mendadak bangun begitu mendengar isak tangis Nana yang masih tersisa. Adikku itu lalu mengadukan kejadian tadi kepada ibu. Tetapi ibu hanya menggeleng lantas menatapku. Mungkin aku benar, nasib kami mungkin lebih menderita dibanding pengemis tua di pasar tadi. Dagangan ibu pun, sejak dua hari yang lalu sudah macam tempat pemakaman yang kerap kunjung datang hanya suara jangkrik bersahutan. Padahal kebutuhan hidup semakin menuntut dan memaksa. Tak jarang ibu dan ayah hanya menyusun kotak kosong di toko. Banyak yang rugi.

***

Padahal ini hari pasar, seharusnya ada pengunjung yang datang ke toko kami. Barang satu atau dua orang. Tetapi hari ini pasar pun tak lebih seperti gudang tua yang pengunjungnya hanya debu dan sarang laba-laba. Padahal besok Nana mesti bayar spp sekolah. Juga tempat beras di rumah pun mulai ringan dan kosong. Sedangkan toko semakin betah dirayapi sepi.

Sudah dua kali, eh, bahkan tiga kali kulihat penjaja pentol itu lalu lalang di depan toko kami. Ia tampak lelah mengayuh gerobak besarnya itu, mungkin sendi-sendi tulangnya mulai menjerit dan jerih ingin istirahat. Nana yang tadi asyik memainkan bonekanya mendadak meloncat keluar rumah begitu tahu ada gerobak pentol yang lewat. Namun ibu buru-buru memanggilnya, bilang pentol itu sudah basi. Sudah tidak enak lagi. Ya, aku paham. Tapi Nana mana mengerti, ia tetap berkeras batu. Mengacaukan sepi yang tadi berniaga di toko ini dengan tangisnya yang ricuh.

Bagaimana mau belanja, toh gak ada pembeli, mana ada uang.

Ayah yang tadi nyaman memanjakan matanya dengan koran ikut merasakan resah. Mungkin karena di pagi minggu ini ibu absen membuatkannya kopi. Perlu hemat, itu kata ibu setiap kali aku atau ayah menginginkan sesuatu.

“Mas beli rokok satu!”

Ayah yang lekas melayani pemuda yang bertampang kuli pasar itu. Dicarinya rokok di antara kotak yang berderet. Hanya ada sisa angin. Kosong.

“Den, pinjam rokok sana di toko sebelah,” suruhnya berbisik di telingaku.

Ya begitulah. Sudah lama kami tak membeli barang-barang dagangan yang baru. Tak ada modal. Bahkan semua sisa barang di toko ini pun nyaris kadaluarsa.

“Nih, buat jajan beli pentol,” kata ayah seraya tangannya menyodorkan uang seribu rupiah kepada Nana.

Ibu melotot.

***

Siang ini, panas lagi-lagi menjalar di kotaku. Tanpa jeda teduh sesaat. Orang-orang di pasar sama keluhnya setiap hari, hanya penjual kipas angin saja yang terlihat agak damai. Bermodal secarik kertas, setidaknya cukup melebur peluh yang kian beranak pinak.

Biasanya setengah jam sebelum djuhur, Nana sudah pulang dari sekolah dan menungguku di halte depan sekolahnya ini. Tapi ia kali ini tak ada, malah aku yang sudah seperempat jam memanen peluh sendiri sambil menunggunya. Ia jarang seperti ini, apa main bersama temannya yang kaya? Memang, di sekolah adikku, hampir separuh murid antar jemput menggunakan mobil. Wong kaya. Sebenarnya aku tentu pernah merasa kasihan dengan Nana, tak jarang ia mengeluhkan tentang dirinya yang ditirikan teman-temannya di kelas. Tapi ada juga yang kadang baik, mengajaknya jalan-jalan, itupun ia minta izin dulu, tidak seperti ini yang entah di mana. Beberapa temannya yang kutanyai hanya menjawab gelengan, ada pula yang menjawab sudah pulang. Entahlah.

Usai djuhur, aku pun pulang sendiri sedang Nana belum memberi tanda ada di mana. Orang-orang di pasar yang mengenalku tampak heran. Sesekali saling tanya di mana Nana. Kupikir salah seorang mereka ada yang melihat dan mereka juga malah bertanya kepadaku di mana Nana. Eh? Maka terpakksa, dua kali kakiku kuseret menyisiri pasar dan kota mencari Nana, rela saja tubuhku menjadi mangsa liar terik siang ini seperti kain jemuran. Percuma, adikku itu, entah melalang di mana siang ini.

Di trotoar, dekat lampu merah, kubentangkan kakiku di sana, sekedar menjawab jeritan sendi tulangku yang kelelahan. Salah satu dari tiga lampu yang tegak berdiri di tengah jalan raya berkedip merah. Kulihat seorang anak kecil, berbilang masih anak SD, entah di mana orang tuanya yang tega membiarkan anaknya gentayangan di jalan raya menjedi pengemis. Dua, tiga bahkan empat orang anak lainnya menyusul berikutnya. Dan sepertinya aku mengenali anak perempuan yang baru menyusul itu, yang tangan kecilnya liar di sana.

“Nana!”

  Maibelopah, Sabtu 27 Maret 2017

Muhammad Rifki, lahir di Anjir Pasar, 13 Agustus 1998, adalah salah seoarang santri di Pondok Pesantren Al Falah Putera, Banjarbaru. Bergiat dalam organisasi kepenulisan Forum Pena Pesantren/FPP.  Kini ia tinggal di Pondok Pesantren Al Falah Putera Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Untuk mengenalnya lebih bisa melalui akun Fb-nya; Maibe Lopah .

Untuk Seseorang Setelah Aku

Cerpen : Devian Amilla

Bagaimana? Berdebar kencangkah jantungmu saat melihat matanya? Begitu sulitkah kau memalingkan wajahmu dari senyumnya? Ya, aku juga dulu merasakan hal yang sama denganmu. Aku selalu sulit mengalihkan pandanganku ketika melihat lengkungan senyum manis yang tercipta dari bibirnya. Jantungku pun berdetak lebih cepat dari biasanya ketika melihatnya menatap mataku.

Untuk seseorang setelah aku, bolehkah aku meminta tolong? Aku titipkan lelaki yang kini telah menjadi lelakimu. Dia memang sudah dewasa, tapi dia tetap si bungsu yang manja. Dia tidak akan segan untuk tidur di pangkuanmu, juga tidak akan malu untuk menggenggam tanganmu di hadapan teman-temannya. Dia akan rela datang kerumahmu meskipun kau tidak membukakan pintu untuknya. Karena dulu, aku pernah melakukan hal jahat itu padanya ketika kami sedang bertengkar. Kau, wanita yang sekarang dipilihnya untuk melangkah bersama, jangan biarkan dia merasakan hal menyakitkan yang dulu sempat aku berikan padanya.

Aku pernah dalam keadaan sangat mencintainya. Bahkan saat kutahu dia sekarang telah menjadi milikmu; aku masih sangat mencintainya. Keputusanku untuk mengakhiri hubungan dengannya bukan tanpa alasan. Dia, lelaki yang bahunya sempat menjadi sandaran paling kokoh untuk menyembunyikan tangis, lelaki yang memiliki sejuta cara untuk membuatku tersenyum bahkan tertawa dalam amarah. Lelaki yang pelukannya sehangat mentari pagi. Dia; lelaki yang sekarang telah menjadi lelakimu dan akan tetap menjadi milikmu.

Untuk seseorang; setelah aku. Bolehkah aku meminta tolong lagi padamu? Aku mengenalnya jauh sebelum kau bisa tersenyum bahagia  melihat senyumnya sekarang. Aku mengenalnya bukan baru kemarin sore. Aku mengenalnya jauh sebelum kau datang ke kehidupannya. Jadi, izinkanlah aku mengatakan beberapa hal penting untukmu.

Lelakimu tidak suka kopi, dia lebih menyukai teh. Jadi, jika nanti dia berkunjung kerumahmu, tolong jangan sediakan kopi untuknya. Dia tidak akan mengatakannya padamu, tapi dia akan tetap meminumnya untuk menghargaimu. Bukankah dia akan senang jika kau membuatkan teh kesukaannya?  Dia juga tak suka jika melihat wanitanya memakai blazer atau cardigan, dia lebih menyukai wanitanya memakai kemeja atau kaos. Dia tipe lelaki yang menyukai hal-hal sederhana. Begitupun dalam hal berpakaian. Jadi, jika nanti kalian hendak bepergian, kenakanlah pakaian yang ia sukai agar ia tak bisa melepaskan pandangannya darimu.

Oh ya, lelakimu juga sangat tergila-gila dengan makanan yang pedas. Jika nanti kau diminta untuk membuatkan masakan untuknya, tidak ada salahnya untuk menaikkan kadar pedas sesuai seleranya. Satu bocoran lagi, dia sangat menyukai nasi goreng. Jika kau tidak bisa membuat nasi goreng, ada baiknya kau mulai belajar dari sekarang. Dia akan semakin mencintaimu jika tahu kau pandai memasak.

Aku tidak tahu kau lebih sempurna dari aku atau tidak. Tapi aku sangat berharap, kehadiranmu di hidupnya bisa membuat dia lebih bahagia. Cintai dia seperti kau mencintai dirimu. Peluk erat tubuhnya ketika dia lelah. Jadilah sosok wanita yang kuat, lelakimu butuh disemangati bukan hanya dicintai.

Untuk seseorang; setelah aku. Jika nanti suatu saat kalian bertengkar, jangan menjalankan aksi diam seribu bahasa. Dia tidak akan mengerti maksud aksi diammu. Dia tidak ahli dalam membujuk wanita. Jadi, jika nanti kalian bertengkar tidak ada salahnya jika kau mengalah. Katakan semua yang ada dalam isi hatimu kepadanya. Keluarkan semua keluhan-keluhanmu. Dia akan dengan senang hati mendengarkannya. Dan kau  tahu pasti, dia akan meminta maaf padamu berkali-kali setelah mendegar semua keluhanmu tentangnya.

Aku hampir lupa, ketika bersamaku dulu dia sering mengeluh bahwa tangannya sering kesemutan. Jika sampai sekarang dia masih sering mengeluhkan tentang itu, ingatkan dia untuk membeli obatnya. Dia bukan pengingat yang baik, dia seringkali melupakan hal-hal kecil. Sudah menjadi tugasmu sebagai wanitanya untuk mengingatkan dia menjaga kesehatannya. Ingatkan dia untuk membawa air mineral kemana pun, ingatkan dia untuk meminum air putih yang banyak agar penyakitnya tak kambuh lagi.

Berbahagialah dengannya, walau terkadang hatiku masih tak sanggup untuk melihatnya bersamamu. Tapi jika dia bahagia denganmu, aku sepenuh hati rela. Jangan sesekali membahas sesuatu yang tak disukainya. Dia bisa berubah menjadi orang yang paling menyebalkan di dunia. Tapi, semenyebalkan apapun dirinya, kau pasti tetap bisa mencintai dirinya. Sama seperti aku. Aku masih tetap mencintai dirinya meskipun dia telah melupakan aku.

Untukmu; wanita yang sekarang mendampinginya. Bolehkah aku meminta satu hal? Maukah kau berjanji untukku? Permintaanku tidak sulit, aku yakin kau bisa mengabulkannya. Begini, kau tahu bahwa sampai detik ini juga aku masih sangat mencintainya. Aku tidak bisa lagi menjadi alasannya tersenyum. Aku mohon padamu, jangan sakiti hatinya. Jangan permainkan perasaannya. Jika memang kau tidak sanggup berjalan beriringan dengannya, jangan berikan dia harapan seolah kau mampu bertahan. Aku berharap dan terus berharap, kau menjadi wanita terakhir yang bisa mendampinginya dalam suka maupun duka. Dalam lapang dan sulitnya.

Sekali lagi, berbahagialah dengannya. Bahagiakan dia seperti aku membahagiakannya. Kelak, kau juga akan merasakan menjadi perempuan paling beruntung bisa mendapatkan cintanya. Aku memang tidak pernah bertatap muka denganmu, tapi aku yakin kau bisa kupercaya untuk hal membahagiakannya.

Untuk seseorang; setelah aku. Jangan kecewakan rasa percayaku padamu.

Dari wanita yang pernah menjadi wanita lelakimu…

Beranda rumahku, 28 Mei 2017

 

(Penulis adalah Alumni UMSU Jurusan Matematika, Beberapa karyanya seperti puisi, cerpen dan opini pernah dimuat di media lokal maupun luar daerah)

[Cerpen] Sifat Kembali Uang

Oleh: Gusti Trisno

Seulas senyum tersungging tatkala aku melihat lima lembar uang bergambar Soekarno-Hatta. Aku tak pernah tahu, apakah ini jalan rezeki-Nya atau ini hanya sebuah ujian dari-Nya. Bagaimana tidak, sedari kemarin keluarga merasa kesulitan dalam mencari uang. Ibu yang hanya pedagang ikan kecil di pasar, sedang mengalami krisis moneter karena cuaca laut yang tidak mendukung untuk jualan ikan.

Seperti telah diketahui, seorang nelayan dan pedagang ikan, nasibnya bergantung pada cuaca buruk. Jika cuaca tidak mendukung, pasti para nelayan tak berani melaut, hal ini mengakibatkan pedagang ikan kesulitan mencari barang dagangannya, kalaupun ada, pasti harganya sangat mahal.

“Ada apa Nak? Kok sepertinya wajahmu gelisah?” tanya Ibu memperhatikanku.

“Ah tidak, Bu. Oya, apakah ada yang bisa Rizki bantu lagi, Bu.” jawabku mengelak.

“Sudah tidak ada lagi, kok. Rizki tidur saja dulu, ini masih jam dua pagi lho.” kata Ibu mengingatkanku.

”Iya, Bu. Paham, baiklah Rizki pamit ya!” pamitku seraya mencium tangan Ibu.

Kulangkahkan kaki dengan pelan, jam dua pagi menjadi waktu yang baik bagi para pedagang di Pasar Panarukan untuk menggelar dagangannya termasuk Ibu. Aku sering membantunya membawa barang dagangannya dari rumah yang hanya berjarak duaratus meter. Namun baru pertama kali, aku menemukan uang di perjalanan menuju pasar. Ah daripada aku bingung memikirkan uang itu, lebih baik aku melaksanakan qiyamul lail, demikianlah batinku menimbang.

***

Adzan Subuh belum berkumandang. Aku pun memutuskan untuk tidur sejenak. Dan anehnya kejadian dini hari tadi terbawa dalam mimpi. Dimana terdapat seorang Ibu yang menangis karena kehilangan uangnya, padahal ia begitu membutuhkan uang tersebut.

Kejadian dalam mimpi tersebut membuatku mengutip beberapa kata-kata para ahli tentang tafsir mimpi. Di mana sebagian dari mereka beranggapan, jika mimpi adalah bunga tidur. Atau mimpi adalah tafsir atas kejadian yang akan terjadi di masa mendatang.

Dengan rasa bingung tiada tara, aku pun memutuskan untuk menyegerakan sholat Subuh. Begitu pun dengan menyelesaikan beberapa surah-surah pendek. Namun, tetap saja kegelisahaan atas uang tersebut masih membekas dalam pikiran. Bahkan, sampai kubawa di sekolah.

Nina. Teman sebangku memperhatikan tingkah lakuku yang lumayan aneh hari itu. Selain itu, dia juga menceritakan jika ayahnya kehilangan uang lengkap dengan dompetnya. Mengingat kejadiaan itu, aku jadi teringat akan uang yang ditemukan.

Dengan penasaran segera kuberondong Nina dengan beberapa pertanyaan. Dan beberapa menit kemudian, ia mendapat SMS jika uang ayahnya telah ditemukan.

Jadi. Bukan ayah Nina yang kehilangan uang, lalu siapa?

Kejadian aneh berikutnya adalah tatkala keluar dari gerbang sekolah, di mana ada seorang ibu-ibu persis dengan ibu yang ada dalam mimpi. Dia pun menyatakan jika uangnya hilang?

Apakah dia?
Aku tak berani langsung memberi kesimpulan.
Bukankah terlalu dini untuk kesimpulan mengingat sebuah mimpi belumlah pasti.

Tapi yang paling aneh perempuan itu terus membuntutiku sepanjang perjalanan dari sekolah ke rumah. Motivasinya apa?

Dan sesampainya aku di rumah, Ibu bercerita dengan perasaan sedih. Mengingat teman seperjuangannya berjualan ikan kehilangan banyak uang. Anehnya, sebelumnya teman Ibu itu menemukan uang banyak di jalan, lalu mencampurkan uang tersebut dengan uang hasil dagangannya.

Sejurus kemudian aku berpikir, apakah mungkin uang yang kutemukan adalah uang balik? Uang yang akan kembali ke pemiliknya dengan tambahan uang yang kita miliki?

Dengan penuh penasaran segera aku mengecek kantong dan benar juga uang yang kutemukan itu raib lengkap dengan uangku yang hanya memiliki nominal dua puluh ribu. Pun, terdapat tulisan tangan yang tak beraturan: DASAR PELAJAR NGGAK PUNYA UANG.
Hah?
Aneh?
Jadi Ibu tadi itu siapa?
Pemilik uang balik itukah?
Atau?
Ah. Semuanya menjadi tanda-tanya dan aku tak berani menceritakannya pada Ibu[]

Gusti Trisno. Lahir di Situbondo pada tanggal 26 Desember 1994. Saat ini menjadi mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Jember dan Penggiat Komunitas Penulis Muda Situbondo. Pemilik buku Ajari Aku, Bu(Kumpulan Puisi) ini dihubungi di Facebook: Gusti Trisno, E-mail: gusti.trisno@gmail.com atau telepon: 085330199752.

 

Catatan redaksi: Cerpen ini merupakan tayangan ulang setelah sebelumnya tampil di buanakata.com yang expired