Kapan Terakhir Kita Bertemu
Kapan teakhir kita bertemu? Saat itu aku telah melepas bajuku
dan siap untuk dirimu. Tapi kapan itu? Aku lupa kapan itu?
Yang masih kuingat aku menyentuh tubuhmu yang halus
lalu jantungmu berdebar-debar, keras sekali suaranya
terdengar di telingaku dan aku pun berhenti menyentuhmu.
Aku mulai menjilati bajumu, dari ujung ke ujung
sampai aku menemukan gula yang terbaik. Dan tak ada tandingannya.
Kapan terakhir aku menemuimu? Apakah mungkin kita bertemu lagi?
Aku sedang memandangi fotomu saat itu, aku lupa menuliskan tanggalnya
di foto padahal biasanya aku selalu, tapi kapan kita akan bertemu kembali?
Sempatkah kau datang, membiarkanku menyentuh tubuhmu mendengar
degup jantungmu yang mendebar-debar itu, lalu aku menjilatimu mencari
yang asin bukan yang manis sebab yang manis sudah membuatku lupa
kapan kita terakhir bertemu.
Malang, 2016
Aku Sedang Mencari Air
Aku sedang mencari air, menungggu air, dimana air?
Apakah di gula; apakah di kopi; apakah terikat
dengan penjalasan tentang air; lalu bagaimana dengan air?
Apakah kau menyimpannya? Aku membutuhkan air;
menunggunya datang lalu ku tenggak dalam-dalam.
Bagaimana dengan penjelasannya? Apakah ada yang lain seperti air,
di kopi? Bagaimana air di kopi? Aku mencari air. Pisahkan air dari kopi,
pisahkan teh dari air, peras. Aku lupa bagaiamana menemukanmu
sedang menenggak air, di atas meja dengan kopi lalu air
apakah ada penjelasan untuk air? Aku hanya butuh air.
Laut, tawar, manis, sungai, apapun aku butuh air.
Malang, 2016
Sudah Siang, Mulai Mengantuk
Sudah siang, mulai mengantuk,
kantong mata sudah seperti panda.
Pandanya telah tidur, kapan aku tertidur.
Jangan disamakan dengan panda,
aku berbeda. Mengantuk, sudah larut siangnya.
Ia berjalan mengelilingiku
dan mendung masuk kedalam tubuhku
dan diam-diam pergi meninggalkanku.
Bagaimana dengan daun-daun?
Apakah ia tertidur atau mengantuk sepertiku?
Aku ingin menularkan padanya,
agar tertidur bersamaku, tidur bersamaku
lalu menidurinya dan meninggalkan kekasihku, dunia.
Malang, 2016
Di Kota Ini Kita Akan Bersama
Di kota ini kita akan bersama,
setelah akad nikah yang telah kita lalu bersama.
Di kota ini mari kita membuat cerita, ada kasih sayang,
petaka, bencana, lalu cinta, rejeki, keramaian, kesepian,
sunyi jangan lupa. Mari kita menuliskannya
agar cepat kita merasakan kota.
Di kota ini kita bersama
sudah lebih dari sepuluh menit kita bersama
di sini selebihnya terserah kau mau apakan kota ini.
Aku menunggu kabar baik saja darimu.
Buatlah kota sesukamu sesuai otakmu.
Kota-kota wahai kota, turutilah istriku,
biarkan dia mengubahmu, sesuai dengan otaknya
dan berdoa sajalah agar tidak kebalik otaknya.
Aku menunggu kabar darimu juga.
Malang, 2016
Seberapa Jauh akan Berjalan
Seberapa jauh akan berjalan,
sedangkan kaki sudah lemah dan kram.
Mungkin sebentar lagi akan linu-linu, patah.
Kaki sudah putung. Kapan tangan putung?
Sebelum berjalan kembali.
Kapan mata akan melihat kedepan,
kapan bisa melihat kebelakang atau ke samping tanpa melirik.
Orang-orang selalu bilang,
hati-hati dengan paru-paru nanti ada flek ada kotoran,
jangan merokok, banyak bahayanya. Nanti mati, itu pembunuhan.
Penjarakan saja rokoknya, biar puas keluarganya.
Biar tak menangis lagi, biar tak sedih lalu kuburnya tenang.
Bukan karena rokok, karena paru-paru yang sudah berkarak
mungkin karena rokok, bukan. Karena watak yang kusam,
atau nafasnya tak bersih. Kotor, najis perlu di basuh dulu nafasnya.
Malang, 2016
ACHMAD FATHONI, mahasiswa Universitas Negeri Malang. Aktif menulis puisi, cerpen, beberapa puisinya ada di berbagai media cetak lokal daerah, puisinya pun ada di berbagai buku antologi hasil lomba, cerpen-cerpennya beberapa kali mendapat apresiasi juara di perlombaan sayembara menulis. Kini aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis.
No Hp : 085733841571
Alamat : Jl. Semarang No.5 Kampus Universitas Negeri Malang, Gedung C3 UKM Penulis (Achmad Fathoni), Kode Pos 65145 (Malang)






