[Cerpen] Bapak

Oleh: Muzammil Frasdia

Seminggu setelah dikeluhkannya benjolan kecil yang tertera di leher kirinya, akhirnya terpaksa Bapak kami larikan ke dokter untuk diperiksa. Semula ke bidan terdekat. Namun kata bidan penyakitnya serius, dan harus segera dirujuk ke Rumah Sakit. Tanpa berpikir panjang kami pun langsung tancap gas menuju rumah sakit.

Baru kali ini Bapak semasa hidupnya mengunjungi tempat paling menjengkelkan itu. Padahal dari dulu, jangankan diajak ke rumah sakit, dengar namanya saja Bapak langsung menandai sikap acuh kepada siapa saja yang bicara Rumah Sakit. Bila ia sakit, cukup minta antar ke bidan Yuyun. Hanya ke bidan Yuyun saja bapak ngerasa cocok bila geringnya kumat. Dan benar memang, keesokan harinya Bapak langsung kembali bugar pergi ke sawah menyabit rumput, membajak sawah, atau berdagang sapi di pasar.

Tidak ada kecurigaan tentang sakit yang aneh-aneh didera Bapak selama ini selain encok. Tentang adanya benjolan yang kian hari cepat membesar seukuran kepalan tangan ini belum terlintas di pikiran kami.

Setelah sampai di rumah sakit, Bapak langsung di tangani oleh dokter-dokter yang ada.  Sebelum Dokter ahli bedah itu melakukan tugasnya, ia menerangkan: “Kami harus mengambil sampel dari benjolan di lehernya terlebih dahulu. Barulah kami kabarkan hasilnya nanti.” Entah itu apa, kami semua mengijinkan dokter itu mengerat leher Bapak.

Satu jam kami menunggu dokter bedah dan dua orang asistennya tersebut mengurus Bapak di ruang operasi. Di sekitarku: kakak iparku, mbak Mut, dan ibu mencari duduk dalam suasana pikiran masing-masing. Aku tahu dari semua yang mereka tampung tentang kondisi Bapak, hal lain yang paling krusial, apalagi kalau bukan beratnya biaya yang harus dikeluarkan. Sedang tanggungan utang piutang puluhan juta ke Haji Jais hanya sedikit yang bisa dilunasi. Apalagi sekarang ditambah Bapak yang dirujuk ke rumah sakit. Pasti beban itu kian bengkak lagi.

Keluarga, sekalipun banyak orang, tidak ada satupun diantara kami yang bisa dibilang sukses dalam pekerjaan. Malah sebaliknya lika-liku kasus kakakku yang nomer dua lantaran sangkut paut sewa mobil yang belum terbayar sampai saat ini juga masih kalut menghantui kami sekeluarga. Mungkin juga Bapak begini karena terlalu suntuk memikirkan deritanya sendirian. Lalu pada akhirnya Bapak jadi begini dengan penyakit barunya yang serius. Pikiran lain juga kemungkinan tentang kabar kakak yang sampai sekarang hilang karena dicari pihak mobil. Seringnya polisi mendatangi rumah menanyakan kakak, pun makin membuat Bapak cemas dan stres.

Selang pintu ruang operasi tersebut ada yang membuka. Pandangan kami tertuju langsung pada kondisi Bapak yang tengah tertidur di atas ranjang pasien yang didorong dokter menuju ruangan lain. Kami bergegas berusaha mengikuti namun dokter tidak mengizinkan. Ibu mengeluh, dan kami hanya bisa pasrah berharap dokter tersebut cepat-cepat kembali menemui kami di sini.

“Satu minggu lagi hasilnya akan diketahui.” terang dokter kepada kami.

“Kira-kira penyakitnya apa, Dok?” Ibu bersikeras minta dikasih tahu.

“Belum ketemu, Bu. Belum jelas penyakitnya apa sebenarnya. Tapi dilihat dari benjolan pasien, kami masih menduga penyakitnya positif kanker. Jelasnya, hasil ini baru kita dengar seminggu lagi. Karena sampel kelenjar yang kami ambil dari benjolan di leher tadi harus dikirim ke Surabaya untuk diteliti lebih lanjut.”

Kami semua hanya mangguk-mangguk mendengar kata kanker dari dokter. Kami juga tak kuasa melihat Bapak yang kemudian berjalan pelan menghampiri kami yang masih duduk dengan dokter. Wajah bapak begitu pucat. Tubuhnya yang dekil kurus masih mengenakan baju pasien warna biru langit. Kata kanker masih terngiang-ngiang baginya, namun tetap akan kami rahasiakan agar pikiran Bapak merasa tenang dan tidak terusik.

Suara kumandang adzan maghrib di masjid itu seperti penutup pembicaraan kami dengan dokter. Kami pun bergegas kembali ke rumah dengan tubuh dan sikap layaknya manusia diberi beban pemikiran yang sulit untuk dipecahkan jalan keluarnya. Kami tidak tahu hal apa yang selanjutnya akan kami terima dan hadapi selain menunggu hasil kabar dari dokter. Di dalam mobil Bapak tampak lemas sehabis dikuras energinya oleh dokter. Kedua matanya memandangi pemandangan malam di luar kaca itu. Aku pun yang duduk di sampingnya hanya bisa merasakan riuhnya angin yang berlesatan melibas-libas wajahku, menghambur-hamburkan pikiranku ke sana kemari. Sempat Bapak menanyai tentang penyakitnya, kami semua diam dan ragu menjawab. “Penyakitnya ringan. Benjolan.” Sejurus ibu menjawabnya dengan lugas. “Dokter juga menyarankan harus banyak-banyak istirahat dan jangan banyak pikiran.” Mendengar ibu bicara, Bapak sedikit melegakan nafasnya dan kembali melanjutkan pandangannya ke luar jendela mobil.

**

Barulah seminggu kemudian, aku dan Mbak Mut menemui dokter lagi. Dan setelah hasil tes itu kami terima, selanjutnya kami harus mendengarkan arahan dokter itu.

“Kasihan beliau,” dokter bicara tentang Bapakku,“Betapa sakitnya ia.” dokter itu geleng-geleng kepala. Aku dan Mbak Mut terkejut dan tercengang menerima kalimat yang terpotong-potong itu.

“Maksud dokter?” tanyaku penasaran.

“Bapakmu ini sudah dikatakan terlambat, nak, untuk diperiksakan penyakitnya. Seharusnya dari dulu kalian membawanya periksa. Saya juga tidak menjamin usianya bertahan dalam waktu kurang lebih tiga bulanan. Karena jenis kanker otak ini sudah terbilang ganas dan sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. Tapi semua juga ada yang mengatur. Wallahua’lam. Kita hanya bisa berusaha dan pasrah.” Begitu berani Dokter ini memutuskan nyawa hidup seseorang.

Aku hanya bisa tertunduk lemas dan menelan ludah pahit yang tiba-tiba kurasakan ketika mendengar usia bapak yang ditaksir tidak akan lama lagi. Apalagi dibilangnya dokter taksiran mencapai 7 jutaan. Aduh, betapa kejam dunia ini menghabisi keluargaku.

“Dapat dari mana kita biaya segitu besar, nak?!” keluh ibu sambil menangis.

Benar memang, pada persoalan urus tanggung penyakit Bapak, ujungnya pasti ketidakmampuan kami mengeluarkan biaya. Dan jalan alternatif lain mau tidak mau Bapak kami bawa ke orang pintar. Jalan terapi tersebut kami lakukan keliling dari dukun satu ke dukun yang lain. Sampai Bapak harus pakai yang namanya susuk. Tapi dari sekian itu tak ada yang berhasil menyembuhkan, sebaliknya Bapak semakin mengerang sakit kepala yang luar biasa setiap harinya. Dan semakin membuat kami semua bingung mau berbuat apa. Air, ramuan rempah-rempah, tulisan arab, susuk, dan lainnya bak sia-sia untuk mencapai kata sembuh.

Seminggu lebih sejak Bapak ditemukan jatuh tersungkur terpeleset dari tangga pintu, Bapak jadi kaku dan terbaring di kasur. Tubuhnya semakin hari semakin kurus. Bicara pun Bapak sudah tidak bisa. Kedua matanya hanya berhelai-helai ke sana kemari memandangi suasana sekitar termasuk ibu yang di sampingnya tak ingin beranjak sedikit pun. Tangan dan kakinya dingin sekali kugenggam. Setiap dedahamnya yang berkeluh, selalu kami temani dengan air mata. Terakhir Bapak memberi kejutan luar biasa kepada kami. Di kondisi tubuhnya yang masih sempat bergerak, dalam pembaringan Bapak membalikkan tubuhnya hingga telungkup. Telungkup begitu saja pada bantal. Persis seperti ketika ia minta untuk dipijat. Karena dirasa lama, ibu menyarankan agar bapak dibalikkan kembali badannya. Tapi sayang, sesuatu begitu mengejutkan ketika Bapak sudah tiada dengan cara yang tidak lazim orang meninggal pada umumnya(*)

 

 

 

Muzamil Frasdia, seorang guru di Bangkalan, Madura

 

 

 

 

 

 

 

Puisi Moh.GhufronCholid

MERAPIKAN KENANGAN

Merapikan kenangan

ada yang mesti dipertaruhkan

: kesetiaan

 

Lipatan duka

pengobat segala

yang nesta

yang hilangrupa

rekah senyum

mula mencipta tentram

dalam debar keberkahan

                    Al-AmienPrenduan, 25 Juni 2016

 

SELINGAN RINDU

Pada sebuah selingan rindu

ada yang berhamburan di pekaranganingatan

tentang keakrabanmu

lamat-lamat melengkapkan separuh imanku

 

senyummu, senyummu

alasanku bertahan

lewati segenap debaran

kadang aku tak berdaya

 

embun ucapmu

; matahari, bangunkan bumi kalbuku

 

Dan aku

keyakinan yang berjalan

menuju keridhaan

Tuhan

Al-AmienPrenduan, 25 Juni 2016

 

SEPUTAR ARUS PAGI
: SoniFaridMaulana

 

Arus pagi berlari dekati hati
menyalami hidup
seimbangkan degup

 

ini keterasingan, terbalas
ini idealis dekati ikhlas

 

arus pagi berlari dekati hati
sunting mimpi
yang telah lama tertunda
doa lama terperam
dan tirakat usai
dalam syukur
menyubur tafakur

 

                       Madura, 2015

 

SALAM RINDU

 

Salam rindu
buatmu guru

 

kehadiranmu
surgaku

 

kau, matahari pengetahuan
karuniaTuhan

 

           Junglorong, 8 Agustus 2015

 

MENANAM MATAHARI

 

aku telah percaya
segenap jiwa

 

tak aku hiraukan segala
kendati meyakinimu duka terus tumbuh
ini semata agar kau bisa tegak

 

aku telah percaya
aku abaikan seluruh nyeri
menyaksikanmu lumpuh
aku tak ingin

 

kelak ada masa
kau bangkit dan bangkit
meninggalkan kamar keputusasaan

 

sebagai guru akrab duka
jalan tak terhindarkan
dan pengobatnya
puncak kejayaan didikan

 

sebagai guru benturan kekecewaan
tak dapat terelakkan
menyaksikan senyum anak-anak matari yang diasuh
adalah jalan mahabbah terindah
begitu pun menyaksikanmu berdiri tegak
dan aku lupa pada segala onak

 

biar aku tanam matahari
dalam hatimu
biar tak hanya malam
bermukim dalam
hatimu

 

Junglorong, 2015

 

 

 

BiodataPenulis

Moh.GhufronCholid adalah nama pena Moh. Gufron, S.Sos.I, lahir di Bangkalan, 7 Januari 1986 M. PendiriPesantrenPenyair Nusantara di FB.Karya-karyanyatersebar di berbagai media sepertiMingguan Malaysia, New Sabah Times, MingguanWanita Malaysia, MingguanWartaPerdana, Utusan Borneo, Tunas Cipta, Daily Ekspres, Bali Post, MajalahHorison, Majalah QALAM, Majalah QA, MajalahSabili, Radar Madura, Koran Madura, Radar Surabaya, poemhunter.com, kompas.comdll jugaterkumpuldalamberbagaiantologibaikcetakmaupun online, terbit di dalammaupunluarnegerisepertiMengasahAlief, EpitafArau, AkarJejak,JejakSajak, MenyiratCintaHaqiqi, SinarSiddiq, Ketika Gaza PenyairMembantah, UnggunKebahagiaan, AnjungSerindai, Poetry-poetry 120 Indonesian Poet, Flows into the Sink into the Gutter, Indonesian Poems Among the Continents, dll. Beberapapuisinyapernahdibacakan di Japan Foundation Jakarta (10 Agustus 2011), di UPSI Perak Malaysia (25 Februari 2012), di Rumah PENA Kuala Lumpur Malaysia(2 Maret 2012) dan di RumahMakanBiyungJemursari Surabaya dalamacarabukabersamaPipietSenja (30 Juli 2012), di Jogjadalam Save Palestina (2012), di SragendalamTemu 127 Penyair Dari SragenMemandang Indonesia (20 Desember 2012), di Pekalongandalam Indonesia di Titik 13 (Maret 2013), di SastraReboandalamTemuSastra Indonesia-Malaysia (Agustus 2013), di P.O.RT AmanJaya, Mydin Mall danDewanBahasadanPustaka Malaysia dalamKongresPenyairSeduniake 33 (21,23, 26 Oktober 2013), di Brunei ketikamenikmatiindahkampoeng air (7 November 2013) di Al-Izzah Islamic Boarding School BatuJawaTimurdalam safari menulisbersamaPipietSenjadkk (Juli, 2014), di RRI Sumenep (5 Januari 2015), di PondokPesantrenPutridan Putra DarulUlumBanyuanyarPamekasan (27&28 Juni 2015), di Bandung dalamTemuSastra Indonesia Malaysia (2015), di Janati Park dalamTemuMahasiswa Madura selepasshalatIdulAdha (24/09/2015), di Kampung Toga Sumedang (2015), di TeaterGunungKunciSumedang (26/09/2015), di Pesantren Al-Amien PRENDUAN dalamacaraBhineka Tunggal Ika (26/10/2015). Bukupuisi terbarunya Menemukan Allah (Pena House, 2016). Berkhidmat di PondokPesantrenAssanusiTorjunan Robatal Sampang Madura. HP 087705743403

[Cerpen] Lantai Lima

Cerpen

Oleh: Nanda Dyani Amilla

Aku meletakkan tas punggungku di atas kursi panjang itu. Saat ini aku tengah berada di lantai lima gedung B Fakultas Keguruan. Jam perkuliahan baru saja selesai 10 menit lalu, teman-teman sudah menghambur menuruni anak tangga. Aku tak buru-buru sore ini, kulirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku, masih pukul 17.45 WIB. Masih ada sedikit waktu utuk melakukan hobiku sebelum waktu merangkak menuju maghrib.

Aku mengambil kamera dan mulai memotret beberapa objek dari atas gedung ini. Ya, aku memang mahasiswa Fakutas Keguruan, namun tidak dapat dipungkiri bahwa aku terlalu mencintai fotografi. Lagi pula, dari hobi ini aku juga bisa mendapatkan uang. Setelah memotret beberapa objek yang kurasa cukup bagus, tanpa sengaja kameraku menangkap sosok perempuan berdiri di sudut lantai lima gedung Fakultas Hukum.

Gedung Fakultas Keguruan memang berhadap-hadapan dengan gedung Fakultas Hukum, sehingga aku bisa melihat perempuan itu dengan jelas dari atas sini. Aku memperhatikannya, ini sudah keempat kalinya aku melihat perempuan itu berdiam diri menatap ke bawah dengan tatapan sendu. Perempuan itu selalu hadir menjelang petang, mungkin dia juga mahasiswa yang mendapat jam perkuliahan sore sepertiku.

Terkadang, jika isengku kambuh, aku suka memotretnya beberapa kali. Wajahnya terbilang cantik, dengan rambut panjang sebahu yang lurus, juga sweater pink fuschia yang selalu dikenakannya. Pada mulanya, aku heran mengapa perempuan itu selalu berdiri sendiri di sudut lantai lima gedung hukum. Tidak seperti perempuan kebanyakan yang suka beramai-ramai dan mengobrol jika jam perkuliahan sudah selesai.

Yang perempuan itu lakukan hanya berdiri menatap ke bawah dan membiarkan angin meneriapkan anak rambutnya.  Aku masih memotretnya dengan berbagai angle. Wajahnya sedikit pucat dengan bibir yang sedikit membiru. Entahlah barangkali perempuan itu kedinginan. Cuaca sore ini memang dingin dan mendung nampaknya sudah menyelimuti sebagian awan.

Aku kembali melirik jam di pergelangan tanganku, sepuluh menit lagi maghrib tiba. Aku bergegas memasukkan kamera ke dalam tas. Kiranya cukuplah hobi memotret sore ini sebagai pelepas penat setelah seharian menyantap menu perkuliahan yang membuat kram otak.  Aku mengalihkan pandang ke gedung hukum kembali, berniat memandang sekali lagi perempuan dengan mata sendu itu sebelum aku beranjak menuju masjid kampus. Tapi nihil, perempuan itu sudah tak ada lagi di sana. Barangkali dia sudah pergi lebih dulu ketika aku sedang membereskan kamera tadi. Aku menghela napas, kemudian beranjak menuruni anak tangga.

Hari berikutnya masih sama. Aku kembali menemukan perempuan bersweater pink fuschia itu. Di tempat yang sama pula, dengan tatapan sendu yang selalu ia bawa. Jam kuliahku sudah habis. Maghrib juga hampir menjelang. Anehnya, saat jam masuk kuliah tadi, aku tidak melihatnya di sudut gedung hukum itu. Entahlah, bahkan kemunculannya belakangan ini begitu aku nantikan. Sampai-sampai setiap aku keluar kelas, aku selalu mengalihkan pandang ke seberang gedung. Berharap perempuan itu ada di sana.

Lagi-lagi, aku hanya menemukannya di sepotong senja menuju maghrib. Dia masih sama seperti kemarin, menggunakan sweater dengan rambut tergerainya. Begitu manis tatkala angin senja menerpa rambutnya. Aku yang tengah penasaran dengan sosok perempuan itu akhirnya memberanikan diri berkunjung ke gedung hukum tersebut. Kebetulan aku memiliki kenalan di sana. Aku bisa berbasa-basi dan akhirnya menanyakan siapa perempuan yang kerap berdiri di sudut lantai lima itu.

“Perempuan cantik dengan sweater pink?” Rendi menggaruk tengkuknya bingung.

“Iya. Apa kau mengenalnya? Sepertinya dia anak semester akhir juga seperti kita,” jelasku. Berharap Rendi mengenal perempuan itu.

“Kebetulan kelasku juga tidak terlalu jauh dari kelas sudut di lantai lima ini, Dam. Dan aku mengenal beberapa gadis di sana. Tapi aku tidak pernah melihat gadis dengan ciri-ciri yang kau sebutkan tadi,” Rendi merasa jawabannya sudah benar.

Bagaimana mungkin Rendi tak mengenali perempuan itu? Bukankah perempuan itu kerapkali berdiri menikmati senja di sudut lantai lima ini? Aku berpikir keras bagaimana caranya agar bisa berkenalan dengan gadis itu. Aku ingin sekadar mengenalnya dan berbasa-basi menunjukkan hobiku memotretnya. Mungkin kami bisa mengobrol dan menjadi teman baik, pikirku.

Esoknya, aku yang masih penasaran dengan sosok perempuan itu, akhirnya memberanikan diri bertanya kepada salah satu cleaning service yang ada di lantai lima itu. Sore ini, perempuan itu tidak muncul. Beberapa kelas di lantai ini kebetulan kosong. Aku berpikir dia adalah bagian dari kelas yang tidak sedang masuk sore ini. Sosoknya begitu membuatku penasaran. Aku hanya ingin tahu alasannya menyukai berdiri lama-lama di sudut lantai lima menjelang maghrib.

“Hmm.. maksud Mas Adam, perempuan dengan rambut panjang sebahu yang mengenakan sweater pink?” Tanya Mang Asep memastikan.

“Iya, Mang. Saya kerapkali melihatnya dari lantai lima gedung FKIP. Saya melihatnya jelas sekali, bahkan ada beberapa yang saya potret. Saya hanya ingin tahu namanya. Ingin berkenalan. Sebentar, biar saya tunjukkan fotonya,” aku mengeluarkan kameraku. Kali ini aku membawanya agar bisa menunjukkannya pada Mang Asep.

Seketika kulihat wajah Mang Asep pucat pasi. Dia menatapku sekilas dengan tatapan menggigil. Berulang kali menatap foto itu dan menelan ludah. “Kenapa Mas Adam mencari tahu perempuan ini? Untuk apa, Mas?” Tanya Mang Asep lagi.

Aku sumringah, senang rasanya Mang Asep akhirnya mengenali gadis ini. “Jadi, Mang Asep tahu? Boleh saya tahu namanya, Mang? Besok saya akan menemuinya. Atau boleh saya tahu dia anak semester berapa? Ruang kelasnya yang mana?” tanyaku begitu antusias.

Mang Asep mengusap wajahnya yang berkeringat.. “Mas Adam lebih baik pulang sekarang. Sudah malam, saya juga mau beres-beres untuk kembali ke kontrakan,” Mang Asep menepuk pundakku dua kali.

“Loh, tunggu sebentar, Mang. Jawab pertanyaan saya dulu. Bukankah Mang Asep mengenali perempuan itu? Saya hanya ingin berkenalan kok, Mang. Tidak akan berbuat macam-macam,” terangku jujur.

Mang Asep mengajakku duduk di bangku panjang itu. “Mas Adam sebaiknya melupakan gadis itu,” kata-kata Mang Asep membuat dahiku berkerut. Memangnya kenapa, pikirku. Aku menatap Mang Asep serius. Aku tidak terlalu suka mendengar jawabannya.

“Gadis yang Mas Adam cari itu tidak ada,” katanya sekali lagi.

“Tidak ada bagaimana, Mang? Jelas-jelas Mang Asep melihat fotonya tadi, kan? Dan mengenali gadis itu,” aku berusaha memaksa Mang Asep.

“Mas Adam benar-benar tidak tahu dengan cerita itu?”

“Cerita apa?” tanyaku semakin bingung.

Mang Asep memasang raut muka serius. Tangannya sekali lagi mengusap dahi yang berkeringat. “Baiklah kalau Mas Adam membutuhkan jawabannya sekarang,” Mang Asep menarik napas dan mulai bercerita.

“Lima tahun yang lalu, ada tragedi berdarah di lantai lima ini, Mas. Seorang mahasiswi tingkat akhir, bunuh diri dengan cara melompat dari lantai lima gedung ini. Penyebab kematiannya tidak ada yang bisa memastikan. Sebab saat itu semua orang sedang sibuk melaksanakan sholat maghrib di masjid kampus. Diperkirakan dia melakukan bunuh diri itu sekitar jam 6 sore, Mas. Pihak kampus sempat melarikannya ke rumah sakit, namun sayang nyawanya tidak dapat diselamatkan. Gadis itu berambut sebahu, cantik, dan mengenakan sweater berwarna pink. Saya tahu sebab saat itu saya juga sempat membopongnya ke dalam mobil ambulans. Gadis itu adalah gadis yang ada di kamera Mas Adam tadi,” kalimat Mang Asep membuatku tersentak.

“Ma.. Maksud Mang Asep, gadis itu sudah…..”

“Iya, Mas. Gadis itu sudah meninggal dunia,” jawab Mang Asep.

Seketika itu juga bulu kudukku berdiri. Tak dinyana bahwa apa yang selama ini kupotret ternyata bukan manusia. Keringat dingin membanjiri dahiku. Aku benar-benar shock dengan yang baru saja kudengar. Bayangan gadis dengan mata sendu itu berkelebat hebat di kepalaku. Wajah pucatnya, rambut sebahunya, bibir birunya, dan tatapan sendunya, semuanya merasuki kepalaku. Mendadak kepalaku pusing. Badanku terasa lemas sekali. Seketika itu juga, mataku berkunang-kunang. Aku pingsan.

 

 

 

Profil Penulis :

Nanda Amilla demikian di akun Fb-nya kerap juga menggunakan nama fena Gadis Hujan. Penulis berparas cantik yang memang sangat mencintai hujan ini dan memiliki nama lengkap Nanda Dyani Amilla. Lahir di Medan, 16 Oktober 1996. Saat ini tercatat sebagai Mahasiswi aktif di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Semester 6. Domisili di Medan-Sumatera Utara.

Penulis sedang sibuk mempromosikan novel perdananya yang berjudul Kejebak Friendzone (Bentang Pustaka, 2017). Penulis juga aktif menulis puisi, cerpen, dan opini di berbagai media cetak dan media online. Penulis dapat dihubungi di beberapa akun sosial medianya :

  • Surel : dyani.nanda@gmai.com
  • FB : Nanda Amilla
  • IG : gadishujan_
  • Blog : nandadyaniamilla.blogspot.co.id
  • No HP : 0821 6315 5917

Puisi Eddy Pranata PNP

SAJAK MALAM

berkali-kali menarik nafas dalam-dalam
menahan ngilu detak jarum jam
serupa irama langkah makhluk yang aku rindukan
: sajak malam!

Cilacap, 29 Juni 2015

 

KAUBUKALAH JENDELA

kaubukalah jendela sunyimu, suatu siang
udara panas menyerbu kamarmu yang berantakan
cemburumu pada sajak-laut bergemeretap
: hidup harus berkeringat, bisikku di telingamu
seperti debu, suara isakmu berlompatan dari jendela
hidup harus selalu tersenyum, bisikku lagi.

Cilacap, 29 Juni 2015

 

SUARAMU YANG SERAK

suaramu yang serak kukira bangun tidur
mengabarkan mimpimu: mengemas hatiku setulusnya, sepenuhnya!

Cilacap, 29 Juni 2015

 

TUBUH SENYAP KEKASIHKU

rasa kehilangan yang mengekal; menetesnya darah puisiku
pada jalan panjang masalalu yang absurd
pada amis pelabuhan, karang-karang runcing
padang getir, bukit dan lembah berkabut
aku kemas segalanya untukmu, tubuh senyap kekasihku, o, puisi!

Cilacap, 28 Juni 2015

 

KENIKMATAN DALAM LAPAR

kenikmatan dalam lapar adalah menjejak alam bawah sadar dengan perlahan
ada keindahan yang asing serupa senja dan matahari yang menurun
di batas laut, dan kau duduk di sampingku, melukis sketsa diriku berlatar laut senja.

Cilacap, 27 Juni 2015

 

APAKAH DIRIMU SUKA LAUT

aku ingin mengundangmu makan malam di rumahku, bung puisi
kekasihku masak diksi yang dipetik sepanjang jalan berdebu
goreng estetika, rendang daging-ambigu
bakar kata-kata dari laut
semur jamur-lumut ilham
jus kepahitan hidup
segelas airmata, dan keringat yang mengucur dari leherku
dirimu datang tepat waktu ya bung?
banyak cerita yang akan bisa kaudengarkan dariku
dan aku juga ingin mendengar cerita darimu
apakah dirimu, bung puisi, akan mati?
seperti diriku, apakah dirimu suka laut?

Cilacap, 26 Juni 2015

 

DARI WAKTU KE WAKTU

dari waktu ke waktu kenangan menggenang di kamar ini, rumah ini
bagaimana setiap malam engkau mengecup keningku
engkau menyiapkan segala sesuatu sebelum keberangkatanku
bahkan tak jarang engkaulah yang menyisir rambut dan merapikan bajuku
dan banyak hal unik dan tulus lainnya kau lakukan kepadaku, chin
: genangan di kamar ini sering merendam gigilku, lalu melambungkanku
aku melayang ke mana saja
sampai aku lelah dan tertidur dengan sejuta mimpi
dengan sejuta mimpi!

Cilacap, 26 Juni 2015

 

MENCINTAI KABUT

mencintai kabut yang turun di penghujung malam
dalam sujudku; angin pelan seperti isak tertahan
dan jemari tanganMu mengelus rambutku yang beruban
kelopak mataku basah merindukanMu.

Cirebah, 24 Juni 2015

 

 

Biodata:

Eddy Pranata PNP, sekarang tinggal di Cirebah –sebuah dusun di pinggiran barat Banyumas, Jawa Tengah. Lahir 31 Agustus 1963 di Padang Panjang, Sumatera Barat. Sehari-hari beraktivitas di Disnav Ditjenhubla Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016).Puisinya dipublikasikan di Horison, Aksara, Kanal, Jejak, Indo Pos, Suara Merdeka, Media Indonesia, Padang Ekspres, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, Batam Pos, Sumut Pos, Fajar Sumatera, Lombok Pos, Harian Rakyat Sumbar, Singgalang, Haluan, Satelit Pos, Radar Banyuwangi, Solopos dan lain-lain.Puisinya juga terhimpun ke antologi: Rantak-8 (1991), Sahayun (1994), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Antologi Puisi Indonesia (1997), Puisi Sumatera Barat (1999), Pinangan (2012), Akulah Musi (2012), Negeri Langit (2014), Bersepeda ke Bulan (2014), Sang Peneroka (2014), Metamorfosis (2014), Patah Tumbuh Hilang Berganti (2015), Negeri Laut (2015), Palagan Sastra (2016), Pesisir Karam (2016), Memo Anti Terorisme (2016) dan lain-lain.

Alamat rumah: Cirebah RT.02/RW.08 Desa Cihonje, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Kode Pos 53615.
Handphone: 082322062966

Pesona Melayu di Istana Matahari

Oleh: Ferry Fansuri

Saat landing di Bandara Sultan Syarif Kasim II International Airpot, teringatku akan sejarah kesultanan Siak Indra Pura. Sosok Pahlawan Nasional dan  Riau yang melawan penjajah Belanda disahkan BJ Habibie pada 1998. Jejak history ada di istana Siak dan pusat kerajaan cikal bakal kot Pekanbaru yang terletak di kabupaten Siak. Menuju kesana bisa memakai mobil atau travel kesana, menempuh 202 km dengan perjalanan 2 jam 30 menit arus normal. Ketika kulewati jembatan megah Tengku Agung Sultanah Latifah diambil dari nama permasuri Sultan Syarif Kasim II, pertanda ucapan selamata datang dari Siak Indrapura telah dekat

        
Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah

Setibaku di Istana Siak yang menghadap sungai Siak ini, terlintas gaya bangunan panduan Melayu, Arab dan Eropa sama dengan arsiktektur Istana Maimun yang ada Medan. Istana Siak ini juga disebut Istana Matahari atau Asserayah Hasyimiah konon membutuhkan 3 tahun dalam pembangunannya (1889-1893). Dirancang arsiktektur Jerman pada masa Sultan Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin atau Sultan Siak XI.

Gerbang kebesaran kesultanan Siak

Begitu megah dan mewah Istana Siak, memasuki gerbang hingga pintu utama terlihat kebesaran kesultanan Siak dijamannya. Pada bagian utama dalamnya kita dapati balairung tempat pertemuan para tamu, dibangun dengan 2 lantai. Istana Siak yang berada jalan Sultan Syarif Kasim ini mempunyai 6 pilar menopang dan dicat warna kuning gading.

Didalamnya terdiri dari 4 bangunan utama terdiri dari Istana  Siak, Lima, Padjang dan Baroe. Jika kita memasuki ruangan utama, terlihat ruang tunggu untuk tamu-tamu kerajaan dibagi menjadi 2 bagian untuk laki-laki dan perempuan.

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/u/0/?view=att&th=15966b343fac5103&attid=0.15&disp=inline&safe=1&zw&saddbat=ANGjdJ8WuOnwkSkx3DKnf615sV4TfguGmKAIT9opfW7MYRsQO8zWm3zYni6VaWqwg2aAo7ObdomnZ6Eg1HEMIm-pev6p9eEExqNk0va-D_2gI9hOaBZcCciRuMuha9F5hJS_sEEsbrSuM61IHgAdP1Fb_MsjBy1JM1zfYqwu3NaeSLgxHTiwRh2f8w4b23e4AomwqM0abQdoAaHVlMSUfuDHVudjIrNBiYYigT4OBtLacjVBXUMBub_dhpXts9QSDhW6sIqettMkB-xsQ49A8Sriw6ma8MwCZ4QD2w0-wAjH8Oo0rwuHkE6cFqfvV9nXExkLcCd56rMxt3sCb4HRg3pjCCFtJJaE4dxZVWojRqt1Lnxc-yiebeQFw8FWLFD4KNABxxhpNPyUE0GPJIOnACSyOmJaHe9ZQXa_1DI-4heyC0yjyehJ5gBmhsCYi7_WaaykEGMvHNk46uCJTWQSFLskpZ6Wo0QBydepiGWyLE2rw4ItOpO6PmNh8hAKie1pSscAp6j3civixcZTc1dxBQgnac2SgZNcsKUyBzT1uDZ2xw1rIW7vedYbKJrdIilzfsNELysNJ5hnwuU5ELkUKCW4-XkUj12UlAnEqiJADoGHy-BMAZ_RUSKLNnzIuQ4

Foto Sultan Kasim II dengan sang permaisuri

 

Saat memasuki dalam Istana Siak, kita seperti diajak nostalgia akan sejarah didalamnya. Aku jumpai foto-foto Sultan Kasim II dengan sang permaisuri, dan juga foto proklamator Republik ini Soekarno. Mungkin tak banyak tahu bahwa Sultan Kasim II ini begitu cinta tanah air ini dan getol melawan penjajah Belanda bahkan rela menyerahkan 13 juta Gulden setara 1,074 trilyun rupiah dijamanya kepada Soekarno sebagai mahar untuk bergabung dengan Indonesia. “Biarpun Soekarno belum pernah berkunjung disini” jelas salah satu staff “kuncen” istana Siak ini. Siak jadi kerajaan kedua yang memastikan bergabung dengan Indonesia setelah Jogja.

  Situs cagar Budaya Gudang Mesiu

Berkeliling dalam selayar istana Siak begitu banyak ornamen dan peninggalan dari kesultanan Siak. Paling unik koleksi meriam dari abad 18, saat kuperhatikan ada sebuah meriam paling besar daripada lainnya. Dikenal sebagai meriam buntung berdiameter 21 cm, ada cerita unik dibaliknya. Kondisi meriam masih sangat baik tapi jika diperhatikan terbelah menjadi dua bagian. Meriam buntung sempat jadi incaran pencuri untuk dijual ke kolektor, tahun 1960 konon pernah dicuri dan dipotong untuk dibawa moncong saja ke Singapura tapi sial kapal yang mengangkut moncong meriam itu tenggelam di teluk Salak. Ajaibnya kembali lagi ke pasangannya.

  Gramafon buatan Jerman
Tatanan dan arsiktektur modern begitu kental didalamnya, ini tak lepas didikan sang ayah Sultan Siak X1 kepada sultan Syarif Kasim II. Ini bisa terlihat dari peninggalan Gramafon buatan Jerman atau lebih dikenal Komet ini. Sang Sultan begitu tergila-gila sama Beethoven komponis musik klasik, sang Sultan bisa menikmati sorenya dengan mendengarkan simponi kelimada dan sembilan milik Beethoven dari piringan hitam. Menikmati sampai akhir hayat sampai mangkat tahun 1968 tanpa keturunan dan begitu juga berakhir garis keturunan kesultanan Siak dan takdirnya melebur dengan Indonesia.

  
Kelenteng Hock Siu Kiong

Istana Siak terletak di pinggiran sungai Siak yang strategis, sempat jadi rebutan kolonias Belanda dan kesultanan Johor. Kusempatkan berjalan disekitar istana Siak, banyak bangunan bertingkat 2 bercatkan merah dan terlihat dari indentitas ini Pecinan Siak atau lebih dikenal kawasan Merah. Hampir 200 tahun lebih komunitas Cina pendatang di Siak, ini ditandai berdirinya kelenteng Hock Siu Kiong bersebelahan dengan Masjid Syahabuddin. Selain keleteng ini, ada juga gereja yang dibangun tahun 1936 dan sekarang dikelola HKBP. Sultan Siak XII memang sejak lama menghormati keanekaragaman agama di wilayahnya, ini terbukti jejak-jejak kerukunan dimasa lampau dan ini sepertinya berbanding terbalik dengan suasana intregasi nasional yang saling kecam di media sosial saat ini.

 


Biodata Penulis :
 
Ferry Fansuri kelahiran Surabaya, 23 Maret 1980 adalah penulis, fotografer dan entreprenur luluasan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya “Roman Picisan” (2000) termuat. Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional

Matinya Sirih Merah Lotta

 

Cerpen: Wiwik Waluyo

Kartik paling bangga dengan menantunya yang bernama Lotta. Bukan karena Lotta tinggal persis di sebelah rumahnya dan sering mengiriminya panganan. Bukan juga karena Lotta sering mengajak Kartik pergi-pergi ke luar, untuk jalan-jalan atau sekadar jajan-jajan. Yang Kartik senangi dari menantunya yang ini adalah, Lotta memiliki tangan dingin yang bisa menumbuhkan semua jenis tanaman yang ia tanam.

Sebelum rumah di samping rumah Kartik selesai direnovasi untuk ditempati Jais anaknya dan Lotta menantunya, menantunya itu sudah membeli banyak sekali bibit tanaman. Dan walau Lotta itu perempuan berkarir, ia tetap menanam semua tanaman dengan tangannya sendiri. Lotta tidak jijik mengaduk-aduk tanah dan tidak menjerit jika bertemu ulat. Dan lihatlah sekarang, belum dua tahun Lotta tinggal di sana, pekarangannya sudah menghijau.

Di sisi dalam pagar Lotta menanam bambu Jepang yang sekarang sudah tinggi rapat dan cukup sebagai penampik abu jalanan. Pekarangan samping penuh dengan tanaman buah dalam pot yang mangga dan sawonya sudah tiga kali berbuah. Sementara di teras samping, terdapat lapangan hijau dengan cemara yang rindang dan perdu yang rapi teratur. Pot-pot berisi melati dan aglaonema berjajar apik. Dan sirih merah tumbuh subur menjalar-jalar di tali yang dipasang Lotta sepanjang satu sisi teras. Sirih merah itu menjadi kerai alami yang meneduhi teras kala siang hari.

Sebagai orangtua, Kartik sangat mengerti manfaat daun sirih merah. Mulai penyakit ringan berupa jerawat dan gatal-gatal hingga bronkitis, darah tinggi, asam urat, tumor, diabetes, juga paru-paru bisa diterapi dengan daun sirih merah. Berulang-ulang Kartik memuji Lotta karena keberhasilannya menanam tanaman obat dari banyak penyakit itu. Dan sore ini, Kartik yang merasakan badannya pegal-pegal akibat serentet penyakit tua yang menggelayuti tubuhnya datang ke rumah Lotta.

“Ibu minta daun sirih merahnya tiga lembar, ya?”

Lotta memandang wajah penuh gelambir milik Kartik, “tiga lembar cukup, Bu?”

“Cukup, kata orang-orang tua dulu memang harus ganjil. Kalau nggak tiga ya lima, atau tujuh. Pokoknya ganjil.”

“Kenapa harus ganjil?” Lotta menyerahkan gunting kepada Kartik.

“Nah itu Ibu nggak faham,” jawab Kartik sambil menggunting tiga lembar daun sirih merah dari tangkainya.

“Ambil yang banyak, Bu. Sembilan atau sebelas lembar gitu,” tawar Lotta tulus.

“Wah, ini tiga saja sudah pahit bukan main,” Kartik mengembalikan gunting pada Lotta. “Lagipula, nggak semua orang bisa menanam sirih merah seperti kamu Lotta. Ibu saja sudah coba beberapa kali tapi mati terus-terusan. Jadi yang kau tanam ini harus baik-baik dirawat, disayang-sayang. Kau bersyukur punya tangan yang dingin.”

Lotta menerima pujian mertuanya dengan senyuman kecil. Ia tahu benar bahwa yang memumbuhkan segala sesuatu hanyalah Tuhan. Jika benih dan bibit yang ditanam dengan tangannya mampu tumbuh besar, itu sama sekali bukan karena kehebatannya. Tapi karena Lotta memang telaten merawat tanaman dan Tuhan berkenan menyuburkannya.

Kartik terus memuji Lotta. Lotta bisa menerima pujian itu dengan wajar andai saja Kartik tak terlalu berlebihan. Lotta jadi jengah. Apalagi, ketika kemudian tetangga, saudara-saudara bahkan orang-orang entah dari mana datang meminta sirih merah milik Lotta, Kartik menjadi resah dan keresahannya itu tak masuk di akal Lotta.

“Itu Uwak Liang, kemarin datang minta sirih merah lagi, ya?”

“Iya, Bu. Luka diabetesnya lumayan kering setelah minum rebusan sirih,” jawab Lotta jujur.

“Lha, tapi ya jangan terus-terusan minta ke mari. Cari di tempat lain kan ada!”

“Nggak apa-apa, Bu. Lotta malah senang kalau yang kita tanam ada manfaatnya untuk orang-orang.”

“Iya, tapi ya jangan keseringan. Ibu saja sungkan kalau mau minta ke Lotta.”

Ups, Kartik kelepasan. Lotta memandang sekilas ke wajah Kartik yang serba salah.

“Ibu nggak perlu sungkan. Kalau ibu mau, setiap hari juga nggak masalah ibu petik sirih merahnya.”

Kartik mengendurkan nada bicaranya. “Bukan apa-apa, sirih merah itu susah menanamnya. Kalau sembarang orang petik nanti bisa mati. Kalau mati susah ditanam lagi.”

Dan, apa yang dikatakan Kartik itu serupa kaset yang selalu diputar-putar saat datang bertandang ke rumah Lotta. Bahwa tak mudah menanam sirih merah, tak boleh orang sembarangan memetiknya dan karenanya harus Lotta awasi tiap-tiap yang meminta ke rumahnya. Dan itu sungguh membuat Lotta tidak nyaman. Terlebih, Kartik beberapa kali meneriaki tetangga yang datang meminta sirih merah ke rumah Lotta.

“Heh, jangan banyak-banyak!”

“Jangan asal petik!”

“Kalau mau banyak beli di pasar!”

Sikap Kartik membuat Lotta mengurut dada. Satu sisi hati ia tak ingin bersikap buruk di hadapan ibu mertua, namun sisi lainnya ia juga tak bisa menerima sikap Kartik yang terlalu perhitungan. Di antara ketidak enak hatian itu, daun-daun sirih merah mengalami perubahan. Daunnya yang berwarna merah hijau dengan corak abu-abu berubah menjadi kuning. Daun-daun kuning itu lantas kering seolah terbakar dan gugur satu per satu diterpa angin.

Lotta mengira perubahan itu hanyalah akibat anomali cuaca. Karenanya ia memotong sulur-sulur sirih merah yang daunnya telah mengering. Ia juga menambahkan volume air saat menyiramnya. Namun usaha itu tak membuahkan hasil. Kian hari sirih merahnya semakin berubah. Daun-daun yang menguning itu seolah menular. Maka perlahan, helai-helai daun berubah menjadi kuning. Terbakar. Luruh.

Kartik menjadi naik darah. Uwak Liang yang datang ke rumah Lotta mengantar makanan mendapat sasaran kemarahannya.

“Itulah, karena terlalu sering dipetik, mati dia.”

Uwak Liang yang mendengar itu merasa bersalah. Sementara Kartik puas telah menumpahkan uneg-unegnya. Dan Lotta cepat-cepat meredakan suasana.

“Mungkin hanya karena cuaca, Bu. Selama batang utama masih segar, sirih kita masih bisa tumbuh sulur-sulur yang baru.”

Kartik tak puas dan terus menggerutu. Uwak Liang berulang-ulang meminta maaf. Dan berhari-hari setelahnya, Lotta tetap merawat sirih merahnya. Bahkan, Lotta selalu berbicara dengan sirih merahnya yang semakin meranggas, setiap malam menjelang tidur.

“Kalau kau lelah mendengar orang-orang meributkanmu, aku ikhlas kau pergi dan beristirahat.”

Dan, pada sebuah pagi yang ribut cericit emprit, saat Lotta membuka pintu teras sampingnya, ia melihat daun-daun sirih merahnya yang menguning dan terbakar luruh sepenuhnya menutupi tanah. Batang utamanya kisut dan kering. Lotta mengerti, sirih merahnya butuh jeda untuk kembali hidup dan tangguh pada angkara yang membumbung semesta.[]

 

 

BIODATA PENULIS

Nama               : Dwi Asih Rahmawati

Nama Pena      : Wiwik Waluyo

TTL                 : Lubuk Pakam, 01 Juli 1983

Alamat                        : Jl.Karya Gg.Ambarsari No.36 Medan Barat, 20117 Medan.

HP                   : 081232098883 dan 081270208383

Blog                : www.wiwikwaluyo.com

Pekerjaan         : Penulis lepas.

 

Karya fiksi tersiar di Majalah Paras, Annida, koran Batam Pos, Riau Pos, Minggu Pagi, Radar Surabaya.

Karya Buku Antologi :

  1. Karenamu Aku Cemburu (LPPH, 2007)
  2. Too Good To Be True (Hasfa publisher, 2011)
  3. Gado-gado Poligami (Quanta, Elex Media 2012)
  4. Love Journey, Mengeja Seribu Wajah Indonesia (Diva Press, 2013)
  5. My Wedding Story (Pustaka Al-Kautsar, 2014)
  6. Kumpulan Syair-Syair KeIndonesiaan (Interlude, Mei 2016)
  7. Antologi Cerpen Cinta Laki-laki Biasa (Asma Nadia Publishing House, Juni 2016)

Puisi Achmad Fathoni

Ada Senja yang Bermain-main di Otakku

ada senja yang bermain-main di otakku,
berwarna kelabu membantang
kearah yang tak berlabuh, anginnya pun riuh,
membuntuti burung-burung menuju ke selatan
untuk berlabuh. senja bermain-main
membentuk pendar cahaya di danau; laut; air
dan juga selembar rayuan yang telah lama kumu.
kapan akan turun senja, sudah banyak orang yang bertanya
dan menunggu, tapi wajahnya direnggut kesedihan.
lalu gerimis datang menjadi bingkai sebelum
larut sebelum malam datang membawa bintang
dan mendung tipis-tipis lalu menebal.
ada senja di otakku sedang melilit kata di mataku.
Malang, 2016

 

Sepi Membunuh

sepi menikam tubuh, belati telah siap di tancapkan
tetapi mati tak lagi pasti
ruang menjadi bunting lalu malahirkan sepi yang baru lagi,
beranak pinak mengembang seperti soda gembira
di warung sebelah rumah yang dijual dengan harga mati
lalu perut mual menunggu orang keluar dari toilet umum
yang dibandrol dua ribu rupiah dengan sepasang sandal
yang di lepas di di depan pintu. tapi sayangnya terlalu kotor
toliet tersebut, baunya seperti keringat anjing kampung
yang tak pernah dimandikan oleh pemiliknya
yang bekerja di toilet umum itu.
sepi menikan tubuh, menjadikan soda tak lagi gembira
dan tak ada ruang yang bunting lagi
dan dukun beranak tak ramai seperti sebelumnya.
sepi menikam tubuh menjadikan luka
yang tak sempat sembuh sampai lupa kapan bertemu subuh.

Malang, 2016

 

Nasib Sebatang Rokok

satu batang rokok telah habis,

tiga batang lainnya menunggu dihabiskan,

satu batang rokok harga seribu lima ratus

dengan bea cukai lebih dari tiga ratus

lalu dikali empat batang rokok menjadi enam

ribu tanpa uang kembali sebab membelinya

dengan uang pas. seribu lima ratus dapat sebatang

rokok lalu di nyalakan untuk menemukan asap,

mencari sebab kematian yang terdakwa adalah rokok.

apakah rokok akan dipenjara? apakah ada lapas rokok?

mungkin orang-orang sedang bercanda,

padahal tuhan maha memafkan,

kenapa harus menghakimi padahal benda mati.

Malang, 2016

 

Tiga Jam Berlalu Melewatkan Ruang

tiga jam sudah berlalu, melewatkan ruang

yang belum bertatap muka dengan waktu

serta matahari yang belum sempat menunjukan

waktu akan terbit. begitulah telunjuk jarimu

menyentuh keningku saat subuh menjelma kabut

dan dingin bersekongkol bersama embun

membelenggu tubuh ringkih seperti ini.

tiga jam sudah aku duduk menunggu

sebelum jarimu menyentuh keningku lagi

Malang, 2016

 

================================================================

 

ACHMAD FATHONI, mahasiswa Universitas Negeri Malang. Aktif menulis puisi, cerpen, beberapa puisinya ada di berbagai media cetak lokal daerah, puisinya pun ada di berbagai buku antologi  hasil lomba, cerpen-cerpennya beberapa kali mendapat apresiasi juara di perlombaan sayembara menulis. Kini aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis.

No Hp : 085733841571

Alamat : Jl. Semarang No.5 Kampus Universitas Negeri Malang, Gedung C3 UKM Penulis (Achmad Fathoni), Kode Pos 65145 (Malang)

Batu Besar di Balik Bukit

 Cerpen: Mufidz At-thoriq S.

Konon, batu-batu besar itu dulunya gajah. Dulu mereka berumah di balik bukit belakang kampung kita, hidup seperti biasa selayaknya gajah. Namun ada yang berbeda, mereka tak pernah berpindah-pindah meski musim kemarau merayap ke sana. Sebab air tidak pernah habis di danau mereka. Danau itu jernih dan indah, meski sering dipakai mandi gajah-gajah. Di sana hidup ikan-ikan sebesar paha orang dewasa, dan ikan-ikan itu bisa terbang dengan sirip lebar di samping tubuhnya.

Kalian pasti asing dengan danau yang kuceritakan. Jangan kira aku mengarang tentang danau itu, aku bersungguh-sungguh. Danau itu ada di sebelah timur bukit itu. Dekat! Tidak sampai berkilo meter. Danau itu yang sekarang tertimbun tanah dan bangunan yang kalian tinggali. Bangunan modern dengan selusin warna-warni yang cerah, juga pagar-pagar tinggi di halaman rumah seperti garpu-garpu besar yang dijajarkan. Bukannya aku tak suka, tapi kami dulu cukup dengan bilik dan selotan dari bambu yang diputar di daun lawang.

***

Di bukit yang rimbun dengan pepohonan, seperti kepala perawan berambut ikal selepas mandi, begitu indah di balik matahari yang baru menyala. Burung-burung dengan warna-warna serupa bunga hidup sejahtera, saling berpasangan, bergerombol menghias langit dengan awan yang memulun seperti orang berciuman. Cakrawala membuat siapapun merasa tenang dan damai. Mengembungkan jiwa senyaman berbaring di bawah pohon berdaun lebat –sampai meneduhi rerumputan di kakinya– dengan matahari yang menyisir masuk di sela-sela dedaunan. Lalu semilir angin menghanyut bersama sukma ke dalam dada paling dalam.

Di bawah itu semua, di tanah yang datar dan luas, seperti karpet hijau yang digelar sampai ke ujung mata, hidup segerombol gajah dengan warna yang sama. Mereka berwarna abu muda, dengan kuping dan gading yang besar. Di antara mereka, ada satu gajah yang berbeda. Tubuhnya besar besar, kantung mata bergelombang, gadingnya kokoh seperti emas, dan belalainya sekuat akar pohon seribu tahun. Ia adalah seseuh dari seluruh gajah di sana. Umurnya hampir dua abad, ia menyaksikan gajah-gajah lahir dan mati. Pohon tumbuh dan runtuh. Ribuan kali menyaksikan matahari naik dan tenggelam. Seperti berdiri di terminal, menyaksiakan orang-orang pergi dan datang. Hidupnya dipulun kesepian, ia tak memilih gajah betina lain selepas gajah yang sangat ia cintai habis ditelan waktu. “Sebab sesungguhnya hal yang paling kejam di sini ialah waktu, ia menelan segalanya” lirihnya pada salah satu senja. Gajah-gajah sering melihat matanya yang tak setajam dulu, katanya. Bagaikan diciptakan dari cahaya bulan di malam purnama, juga sinar senja yang memantul pada awan. Namun sekarang kesenduan dan kegelisahan begitu lekat pada licin matanya.

Saban sore, ia sering pergi ke balik bukit, di sana ada sebuah pemukiman manusia, dan katanya ia akan menemui sahabatnya di sana, seorang pemuda yang sangat mengerti perasaannya. Tak ada satu gajah pun yang berani membuntutinya, sebab mereka tahu, manusia akan merenggut gading dan belalai mereka yang berharga.

***

Para wanita sedang berebut sayur di pasar. Saling memaki dan saling menegangkan otot-otot keningnya. Di sebereng, para lelaki tua sedang duduk di kursi kayu pajang sambil ngopi dan menghisap tembakau yang dilinting rapi. Asapnya mengepul ke dahan pohon rambutan di atasnya, anak-anak sedang berebut rambutan matang di sana. Di masukkannya rambutan penuh semut itu ke kantong-kantong yang dirajut dari bambu-bambu tipis yang dihaluskan. Sambil tertawa, mereka memakan rambutan itu lalu melemparkan bijinya ke para pemuda yang sedang menyabung ayam di lapangan. Mereka bersorak dengan samping dan golok masing-masing dipinggang. Sebagian pemuda mengikat kepalanya dengan kain lusuh berwarna coklat.

Seorang Lelaki dengan dagu lancip dan dada lapang duduk di teras dengan teh hangat dalam cangkir kecil. Kepulnya ia hisap dengan jarak. Kenikmatan hidup menjadi wajahnya, serupa matahari muda dengan jentik embun. Angin mengelus empat batok kelapa kering kecil yang digantung di lawang. Bunyinya ritmis, saling membenturkan tubuhnya. Teh dalam cangkirnya bergelombang kecil, menggoyangkan wajahnya di sana. Perlahan menganyutkan ketenangan wajahnya pada dinding cangkir yang molek.

Lelaki beranjak dari kursi kayunya. Dengan tangan yang berpelukkan ke belakang pinggang, ia berjalan menuju bibir teras. Ia melihat matahari menggantung di langit barat, menjadi senja yang menempel pada setiap benda di cakrawala –di pohon-pohon, dinding-dinding kusam, wajah anak-anak dan orang tua. Membias cahaya keemasan yang indah. Lelaki itu menuju bukit, memantulkan bayangannya di genangan-genangan hujan yang ia lewati. Mata orang-orang mengikuti langkahnya yang tenang. Mereka tahu ia akan ke balik bukit menjumpai sahabatnya yang tak sembarang orang bisa menjumpainya.

Lelaki itu menuju senja, yang perlahan dimakan ketinggian bukit, masuk ke dalam keteduhan. Sambil menyibak pepohonan kecil yang menjuntai di pematang jalan, ia terlihat sumeringah. Sahabat tuanya sedang menanti di sana, duduk seperti batu besar yang disibak sedikit cahaya senja.

“Selamat senja, Gajah Tua.” Sapanya di samping gajah itu mengikuti menatap senja.

“Seperti biasa, senja selalu menjadi hal yang indah namun menyakitkan. Bahkan aku menunggu senja di usiaku, yang tak hinggap sampai sekarang. Mungkin senja lupa hinggap pada diriku, sampai aku setua ini menyaksikan banyak kematian.”

“Jangan melulu bersedih , Gajah Tua. Senjamu tahu kau masih dibutuhkan di sini. Untuk menuntun kami, aku takut keturunanku tak mengenal kebaikkanmu.”

“Semoga keturunanmu tak takut padaku yang seperti kulit pohon ini.” Gajah itu sedikit tersenyum. “Kau masih ingat Janji Batuku dan leluhurmu,” Ia menarik napas,”dan sekarang aku masih di sini menyimpan janji itu. Aku takut, ketika aku menuju senja dan pandanganku menjadi malam, anak cucuku tak bisa memegang Janji Batu itu. Aku menyimpan harap padamu.”

Lelaki itu menyentuh tubuh besar di sampingnya yang disibak cahaya senja. Ia rasakan kehangatan pada kembung napasnya, dan ia tak seperti dulu lagi yang bisa menaikinya dan memeluknya hangat. “Kita dulu sering menikmati senja sambil mandi bersama di danau itu. Rasanya aku rindu.”

***

Di tengah remang cempor yang hangat, udara malam tak seperti biasanya. Keringat membasahi seluruh tubuh yang tak lelap. Sepertinya musim hujan akan tiba, kata seseorang yang lewat. Lelaki itu sedang mengipasi bayinya yang baru delapan bulan, ia menyibak keringat di dahinya dengan lembut, seperti mengusap air mata pada pipi perempuan.

Di balik cahaya cempor di lawang, seorang pemuda lari dengan sendal penuh lumpur, pakaiannya kuyup dengan keringat, napasnya terengah. Ia mengetuk pintu dengan keras tanpa jarak. Lelaki itu segera menarik peruh pintunya, ia mendapatkan seorang pemuda yang kepayahan di terasnya.

“Malam Juragan, maaf menggangu.” Masih dengan napas yang terburu.” Anu, itu si Kasmin anak tetangga saya mati di danau timur bukit.”

Dengan kain coklat yang dililitkan di lehernya, Lelaki itu menuju rumah orang yang berduka. Malam diirisnya dengan langkah yang lebar dan cepat, napasnya diburu ketergesaan, dadanya sedikit bertalu mendengar orang yang meninggal dipinggir danau dengan isi kepala berhamburan, dan tempurungnya pecah.

Sesampainya di sana, para lelaki menggengam golok dan obor yang hidup di wajah mereka. Mereka bersiap memburu ketakutan. Gajah-gajah di balik bukit yang akan menjadi pertaruhan mereka. Semestinya sebuah kejadian, mereka takut kejadian serupa terulang kembali dan menimpa anak-anak mereka atau siapa saja. Tangan Lelaki itu bergetar melihat api obir yang menetes di hadapannya. Emosinya merangkak dari dada ke kepalanya, ia mengibaskan sorban yang ia pakai dengan keras, sampai pepohonan menggugurkan sebagian dedaunan. Semua orang terdiam. Malam menelen mereka semua.

“Aku akan bertanggung jawab untuk kejadian ini, sekarang aku akan menjumpai gajah-gajah itu tanpa golok dan api pada diri kalian.”

Semua orang terpaku di tanahnya masing-masing, seakan bumi telah memegang kaki mereka bersamaan. Melihat semua orang menuruti kehendaknya. Lelaki itu bersama para lelaki menuju ke balik bukit, ia akan menjumpai sahabat tuanya. Di sepanjang jalan, keringatnya tak henti membanjiri kening, pundak dan dadanya. Lelaki itu tak percaya, Gajah Tua yang sangat ia hormati menghianati Janji Batu dengan leluhurnya. Namun ia tahu, selalu ada alasan bagi setiap kehendak.

Langit tak lekat lagi, subuh mengantar dinginnya sesampainya Lelaki itu dan rombongan sampai di balik bukit. Di sana gajah-gajah sudah menantinya, berbaris membentang seluas mata menatapnya. Gajah Tua itu berjalan perlahan menghampiri Lelaki yang ia kenal. Begitu juga Lelaki itu –yang dipenuhi keringat dan air mata membentang seperti sungai di pipinya– melakukan hal yang sama dengan gajah tua.

Sesaat waktu seakan berhenti melangkah. Tak ada yang bersuara. Bahkan serangga pun sepakat diam saat itu, hanya kunang-kunang yang mengedip di balik dedaunan dan di antara mereka.

“Segeralah usap sungai di wajahmu , kuakui ini sebagai petaka bagi kaumku. Ia adalah anakku yang paling muda, ia belum terlalu dewasa untuk menyikapi gangguan manusia di sekitarnya. Maafkan aku dan kaumku. Juga Janji Batu itu sebentar lagi tiba pada kaumku. Setelah fajar menyentuh pepohonan di atas bukit itu, kami semua akan menjadi batu. Semoga leluhurmu dan kaummu takkan diingat dengan kisah yang salah.” Gajah Tua itu berbalik.

Ia merasakan segalanya lepas dari tubuhnya, bukan senja yang selama ini ia nantikan untuk memberangkatkanya menyusul leluhurnya, namun fajar yang berbeda yang akan menjemputnya menuju keabadian.

Fajar menyentuh ujung daun pohon tertinggi di bukit itu. Gajah-gajah itu berjingkrak dengan kedua kaki depannya. Teriakan mereka seperti terompet kesedihan yang mengisi setiap ruang di cakrawala. Menggema di cakrawala, mengisi setiap dada orang yang berdiri di sana. Mata mereka bergelimang di sentuh sinar mentari, mereka merasakan kesakitan gajah-gajah itu, perlahan tubuh mereka menjadi batu, merayap semakin menghabisi tubuh besar yang semakin terlihat kokoh. Seperti ribuah panah dengan api dihunuskan pada isi dadanya, Lelaki itu tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Sungai meluap di pipinya, menyibak segala kesakitan menyaksiakan batu-batu besar itu di sentuh sinar matahari pagi.[]

 

 

  Tentang Penulis

Mufidz At-thoriq Syarifudin mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Siliwangi yang sedang menyusun skripsi.

Lahir di Bandung pada 26 Juni 1994 namun dari kecil menetap di Tasikmalaya bersama keluarganya.

Menulis cerpen, puisi, cermin, essai/laporan budaya, dan naskah drama. Beberapa karyanya pernah dimuat Pikiran Rakyat, Kabar Priangan, Banjarmasin Post, Radar Tasikmalaya, Buruan.co, Radar Banyuwangi, Bentangpustaka.com, Detakpekanbaru.com, Majelissastra.com, sastramu.com, Pos Merto Prabu, Buletin Estetika Diksatrasia, dan lain-lain. Cerpennya yang berjudul “Gelisah” menjadi Juara 2 FSA II Lomba Menulis Cerpen Se-Priangan Timur UPI Kampus Tasikmalaya, “Di Tubuh Cermin, Marnus Bermain” menjadi Cermin pilihan Bentang Pustaka , antologi cerpen “Batu yang Dililit Ari” menjadi nominator Siwa Nataraja Award II dan antologi cerpen “Kampung Sebelah” masuk 8 besar Siwa Nataraja Award II. Cerpen dan puisinya juga tergabung dalam beberapa antologi bersama. Buku kumpulan cerpen tunggalnya“Bapak Kucing” (2015) dan “Batu yan Dililit Ari” (2016). Selain menulis, aktif juga di Teater 28 dan  Berada 57. Dapat dihubungi lewat facebook/gmail: mufidzatthoriq@gmail .com, juga sering upload gambar berkata di @mutthors_ yang diasuh @sherlyfirmayaa.

 

Catatan: cerpen ini merupakan tayangan ulang setelah sebelumnya (Minggu 9 Okt 2016) tampil di Buanakata dalam domain yang berbeda

 

Puisi Yoga Permana Wijaya

Bunga Tidur

aku di mimpimu

bermain peran

waktupun perlahan

mengeja dengan bahasa puisi

memantik pelukan

yang menghangatkan

 

dan engkau dimimpiku

sebagai lahan

tempatku berlarian

untuk aku isi

menjadi taman

penuh warna-warni

surgawi

Sukabumi, 22 Juni 2016

 

Yang Merindukan Pelangi

adalah hujan yang merindukan pelangi

di sudut binar netramu

melukis langit lazuardi

melengkungkan waktu yang terus melaju

pada degup jantung yang berhenti tiba-tiba

karena terpesona

 

hujan pun tak pernah berhenti berharap

karena selalu yakin pelangi muncul setelahnya

dan kebahagiaan ada, setelah kesulitan

begitupun aku

padamu sebagai hujan

Sukabumi, 28 Juni 2016

 

Kisah Cemburu

jika setiap lelaki kau akukan

maka aku yang satu kan menjauh

mengkamukan satu wanita lain

yang hanya mengakukan aku

 

karena hatiku yang satu hanya membutuhkan kesetiaan

sebagai kutub utara dan selatan yang selamanya

saling tarik menarik

satu sama lain

Sukabumi, 03 Juli 2016

 

Tentang Sebuah Kenangan

matahari yang tenggelam

purnama yang meredup

tak ada yang abadi

karena esok mentari terbit lagi

dan suatu hari bulan bersinar kembali

tetapi esok bukanlah kemarin

 

-hanya kenangan –

yang membuat esok dan kemarin menjadi sama

mungkin suatu saat kita tak kan lagi bersama

tetapi kenangan denganmu kan jadi yang abadi

yang terbit dan tak kan pernah tenggelam

yang bersinar tanpa pernah meredup

Sukabumi, 05 Agustus 2016

 

Kisah yang Tak Terucap

aku dan kamu

sebuah pintu tak berdaun

dalam remang-remang waktu

bergaun kelambu

 

kita –sebagai dinding beratapkan langit bulan Agustus penuh puisi

mengapit ketiak cakrawala dengan tarian Bima Sakti

 

rasi Angsa, cemerlang Vega, Deneb dan Altair

menggantung di atas kepala tanpa tabir

berdansa dengan manja

menebar romansa pada malam paling purna

menghias kisah kita

sebagai kisah paling angkasa

kisah di mana semburat cahaya

dengan genitnya

mengedipkan kerlip dari jarak berjuta tahun

hanya sekedar menyapa aku yang lamun

lewat layar retina penuh takjub dengan cinta

 

sebagai kisah asmaraterpisah

asmara, terindah…

Sukabumi, 10 Agustus 2016

 

=================================================================

 

Biografi:

Yoga Permana Wijaya, tinggal di Sukabumi. Guru TIK yang sedang melanjutkan S2 bidang sains. Baru saja belajar sastra secara otodidak. Meski baru memulai, puisinya berhasil menjadi finalis dan menjuarai beberapa perlombaan, diantaranya Juara 1 Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional Deza Publishing (2016), Juara 1 Lomba Cipta Puisi Tiga Tema Isykarima Media (2016) dll. Puisinya tersebar dalam puluhan antologi bersama diantaranya: Goresan Jiwa (2016); Ketika Senja Mulai Redup (2016); Sajak Kita (2016); Dialog Dini Hari Kala Itu (2016); Kembang Api (2016); Turunnya Nawang Wulan (2016); Senandung Kidung-Kidung Lara (2016); Bahtera Nelayan (2016); Rumah Abadi (2016); Rona di Simpul Bibirmu (2016); Baju Baru Untuk Puisi & Hal-Hal Yang Belum Kita Mengerti (2016) dll.

Biodata Diri:

Nama               : Yoga Permana Wijaya

TTL                 : Cianjur, 31 Maret 1989

Alamat                        : Kp. Babakan RT 016 RW 005, Desa/Kecamatan Bojonggenteng Kabupaten

Sukabumi, Jawa Barat 43353

No Kontak      : 085759486317

Email               : yogapermanawijaya@gmail.com

 

[Cerpen] Menikahi Matahari

Oleh : Devian Amilla

“Bagaimana mungkin kau hidup dengan seseorang yang tak pernah menganggap kau ada, Mira?” tanyanya padaku. Dia menatapku dengan tatapan tak percaya. Seperti biasa, aku hanya diam lalu berusaha untuk tersenyum di hadapannya.

“Mira, pernikahan itu membawa kebahagiaan bukan kesedihan.” Ucapnya sambil mengelap air mataku yang sejak tadi tak mau berhenti. Aku merasakan kekecewaan yang teramat dalam dari nada bicaranya. Pagi ini setelah pertengkaranku dengan Sultan, aku memutuskan untuk menenangkan hati dan pikiranku di apartement Bita.

“Apakah kau menyesal telah menikah dengannya?”. Sebenernya aku masih malas untuk membuka mulut. Tapi rasa-rasanya Bita telah salah paham atas kehadiranku pagi ini di apartementnya. “Jika kau tanya padaku apakah aku menyesal, jawabannya jelas ‘tidak’, meskipun sekarang aku masih gagal, tapi aku bangga hidup di atas keputusan yang kubuat sendiri.” Aku mencoba menarik sudut bibirku untuk menciptakan senyuman yang selama ini ia suka. Meskipun aku tau, aku gagal melakukannya kali ini.

“Maksudku, apa kau tidak ingin berhenti saja? Sebelum semuanya semakin menyakitkan, Mir.”

“Ini sudah sangat menyakitkan untukku, Bit. Tapi aku mencintainya. Sangat mencintainya.” Aku mengelap pipiku yang basah.

“Tapi dia tidak mencintaimu!”, ucap Bita ketus.

“Mana mungkin dia menikahiku jika dia tidak mencintaiku, Bita!”, aku menjawab ucapan Bita tidak kalah ketus. Aku rasa percuma berdebat dengan sahabatku yang satu ini. Bita tidak akan sependapat denganku. Ini bukan kunjunganku yang pertama ke apartementnya. Sudah tiga bulan usia pernikahanku, dan hampir tiga bulan juga aku bertandang ke apartementnya dengan keadaan seperti ini. Mata sembab, hati berantakan, pikiran kacau. Sudah entah berapa ribu kali nasihat yang keluar dari bibir mungilnya untukku. Tapi aku tak pernah mengindahkannya. Bita sahabatku sejak kecil, usianya 3 tahun lebih tua dariku. Bita sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Sultan tahu pasti hal ini.

“Lepaskan Mataharimu, Mir. Dia terlalu panas untukmu. Lihatlah, tiga bulan pernikahan kalian, tak sekalipun dia mengusap air matamu ketika menangis. Padahal jelas-jelas dialah sebab kau menangis, dialah sebab mata cantikmu sembab seperti sekarang. Lihatlah, matamu sudah seperti pemain tinju yang menerima serangan telak di wajahnya.” Bita terus menggerutu.

“Kalau begitu, biarlah aku yang akan mengatur suhunya agar tak terlalu panas untukku, Bit.” Aku tersenyum tanpa menoleh ke arah Bita. Tuhan, rasanya sakit sekali ketika mengatakan ini. Tapi biarlah, biarlah aku yang merasakan semua ini. Aku mencintai Matahari, itu artinya aku harus tahan seberapa pun panas yang akan ia berikan untukku. Walaupun Bita benar. Selalu benar. Seharusnya aku melepaskan Matahari.

Malam itu aku diantar Bita pulang kerumah. Aku mengira Sultan belum pulang dari kantor. Karena jam masih menunjukkan pukul 20.00. Biasanya Sultan baru tiba dirumah pukul 02.00 pagi.  Tapi dugaanku salah. Sultan sudah pulang dan banyak sekali mobil parkir di halaman rumah kami. Aku panik. Sultan pasti marah sekali ketika tidak mendapatiku di rumah saat dia tiba tadi. Takut-takut aku melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Bita yang melihat aku begitu takut memutuskan untuk ikut masuk ke dalam mengantarkanku. Aku menolaknya tapi bukan Bita namanya kalau ia mau mendengarkanku. Bita menarik tanganku untuk segera masuk ke rumah karena diluar hujan sedang turun dengan derasnya.

Betapa terkejutnya aku melihat Sultan sedang pesta minuman keras dengan teman-teman wanitanya. Kucari penjelasan dari tatapan matanya. Tapi ia hanya menatapku dengan dingin. Bahkan tatapan dinginnya mengalahkan udara diluar. Bita yang saat itu menyadari aku sudah tak di hargai lagi sebagai seorang istri mulai berang.

“Sultan! Keluarkan teman-temanmu yang tidak tahu sopan santun ini dari rumah kalian!”, Bita kalap, ia melemparkan salah satu gelas yang berada tepat disampingnya ke lantai. Seluruh perhatian teman-temannya pun tertuju pada kami. Sultan menoleh, rahangnya mengeras. Dia berjalan kearahku dan Bita. Dia berbisik di telingaku, “Keluarkan temanmu yang seperti anjing liar ini dari rumah kita!”. Aku terkesiap. Bagaimana mungkin dia menyebut Bita “Anjing Liar”. Bukankah dia tahu Bita sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri.

Demi mendengar dirinya disebut “Anjing Liar” oleh Sultan, Bita refleks melayangkan tamparan telak di wajah tampan Sultan. Sultan mendesis. Menyeret paksa aku yang sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, meninggalkan Bita yang berteriak memanggil namaku. Sultan menarik paksa rambutku yang seharusnya dibelainya dengan lembut, mencampakkan tubuhku kedalam kamar yang seharusnya dia peluk dengan hangat. Sultan mengunciku dari luar. Kepalaku sakit sekali. Semua terasa berputar. Mataku sudah tidak bisa melihat dengan jelas lagi. Kurasakan cairan mengalir dari atas kepalaku. Tiba-tiba semua terasa begitu gelap.

Keesokan paginya aku terbangun dengan kepala yang masih terasa sakit. Aku mencoba mengingat kejadian tadi malam. Oh, Tuhan. Bagaimana dengan Bita? Tidak seharusnya dia ikut mengantarku ke dalam. Kulihat pintu kamarku sudah terbuka. Aku bersyukur Sultan sudah melupakan kejadian tadi malam dan mau memperbaiki semuanya dengan membukakan pintu kamarku.

Kulihat ia sedang membuat roti panggang kesukaanku. Kupeluk Sultan dari belakang, kubisikkan bahwa aku minta maaf atas kejadian tadi malam, bilang kalau tak seharusnya aku membawa Bita kedalam rumah. Tak ada respon. Sultan tak merespon perkataanku. Tapi ia juga tak berusaha melepaskan pelukanku seperti biasanya. Aku tersenyum, ini suatu kemajuan. Mungkin Matahari-ku akan sehangat dulu lagi.

Sultan sarapan tepat di hadapanku. Dia membiarkan aku menikmati caranya makan. Hal yang selalu aku suka dan tak pernah lagi ia lakukan untukku selama tiga bulan pernikahan kami. Biasanya dia akan pergi menghindariku jika aku berada di dekatnya. Mungkin Matahari-ku akan kembali seperti dulu. Senyumku terus mengembang.

Kulihat Sultan sibuk membereskan berkas-berkas yang akan dibawanya ke kantor. Kutanyakan apakah aku perlu membuatkan bekal untuknya. Tak ada respon. Kutanyakan lagi apakah malam ini ia akan makan malam dirumah? Ia juga tak merespon. Aku mulai merasa diacuhkan. Tapi tidak apa, setidaknya Sultan tidak menyuruhku pergi seperti biasanya. Rasanya aku lelah sekali. Kutinggalkan Sultan yang sekarang melangkah ke arah kamarku.

Baru beberapa langkah kakiku menjauh darinya, kudengar Sultan berteriak memanggil namaku. Aku pias. Aku segera berbalik ke arahnya. Aku terperanjat melihat tubuhku yang sudah lemah tak berdaya dengan darah yang segar dibagian kepala, sebagian sudah mengering di lantai. Kulihat Sultan menangis, berusaha membangunkanku dengan menggerak-gerakkan tubuhku. Aku bingung. Aku berteriak memanggil Sultan. Sultan tidak mendengarkanku. Oh, Tuhan. Apa-apaan ini? Kenapa Sultan tidak mendengarku? Kenapa ia malah sibuk dengan teleponnya? Bisa-bisanya dia menelepon seseorang dalam keadaan seperti ini?

Belum habis kepanikanku, kulihat dokter dan beberapa perawat masuk ke kamarku dan memindahkan tubuhku yang sudah mulai pucat seperti mayat. Semua belalai-belalai panjang yang dibawa dokter dipasangkan ke tubuhku. Alat kejut jantung juga dikeluarkan. Satu. Dua. Tiga. Tak ada respon dari tubuhku. Ayolah, sekali lagi, batinku. Satu. Dua. Tiga. Hasilnya tetap sama. Tidak ada lagi respon dari tubuhku.

Kulihat Sultan memohon pada dokter untuk mengupayakan segala cara, kudengar ia menyebut-nyebut asetnya. Ia ingin menukar semua asetnya untuk membuat jantungku berdegup kembali. Tapi itu tak mungkin terjadi. Manusia hanya bisa berencana, Tuhanlah yang menentukan segala. Saat itulah aku sadar, duniaku dan dunia Sultan sudah berbeda. Itu mengapa dari pagi tadi ia tak merespon semua pertanyaanku. Kulirik sudut meja kamarku, ada bercak darah disitu. Aku baru ingat, ketika Sultan mencampakkan tubuhku, kepalaku membentur sudut meja tersebut.

Aku pun mulai menyadari sesuatu, Sultan, Matahari-ku yang dulu hangat juga sangat mencintaiku. Sangat takut kehilanganku. Lihatlah, dia tak henti-henti menciumiku, menyuruhku membuka mata, bilang bahwa ia akan menjadi Matahari-ku yang manis, yang selalu hangat. Bita salah. Bita tidak selalu benar. Sultan mencintaiku. Matahari-ku sungguh mencintaiku. Hanya saja ia tak tahu bagaimana cara memperlakukan orang yang ia cintai dengan baik. Mahal sekali yang harus kubayar untuk mengetahui Sultan mencintaiku atau tidak. Aku bahkan menukarnya dengan nyawaku. Tapi tak mengapa. Aku tak pernah menyesalinya sedikit pun. Bagiku, dengan menikahi Matahari, aku menemukan kebahagiaanku sendiri dan aku bangga dengan keputusan untuk menikahi Matahari tiga bulan yang lalu.


 

Devian Amilla adalah Alumni UMSU, Jurusan Matematika, 2016. Perempuan kelahiran 13 Desember 1994 ini sekarang tercatat sebagai Guru Matematika di salah satu sekolah swasta di Medan. Bisa dihubungi di FB : Devian Amilla atau email : princessadevian@gmail.com

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai