Oleh: Muzammil Frasdia
Seminggu setelah dikeluhkannya benjolan kecil yang tertera di leher kirinya, akhirnya terpaksa Bapak kami larikan ke dokter untuk diperiksa. Semula ke bidan terdekat. Namun kata bidan penyakitnya serius, dan harus segera dirujuk ke Rumah Sakit. Tanpa berpikir panjang kami pun langsung tancap gas menuju rumah sakit.
Baru kali ini Bapak semasa hidupnya mengunjungi tempat paling menjengkelkan itu. Padahal dari dulu, jangankan diajak ke rumah sakit, dengar namanya saja Bapak langsung menandai sikap acuh kepada siapa saja yang bicara Rumah Sakit. Bila ia sakit, cukup minta antar ke bidan Yuyun. Hanya ke bidan Yuyun saja bapak ngerasa cocok bila geringnya kumat. Dan benar memang, keesokan harinya Bapak langsung kembali bugar pergi ke sawah menyabit rumput, membajak sawah, atau berdagang sapi di pasar.
Tidak ada kecurigaan tentang sakit yang aneh-aneh didera Bapak selama ini selain encok. Tentang adanya benjolan yang kian hari cepat membesar seukuran kepalan tangan ini belum terlintas di pikiran kami.
Setelah sampai di rumah sakit, Bapak langsung di tangani oleh dokter-dokter yang ada. Sebelum Dokter ahli bedah itu melakukan tugasnya, ia menerangkan: “Kami harus mengambil sampel dari benjolan di lehernya terlebih dahulu. Barulah kami kabarkan hasilnya nanti.” Entah itu apa, kami semua mengijinkan dokter itu mengerat leher Bapak.
Satu jam kami menunggu dokter bedah dan dua orang asistennya tersebut mengurus Bapak di ruang operasi. Di sekitarku: kakak iparku, mbak Mut, dan ibu mencari duduk dalam suasana pikiran masing-masing. Aku tahu dari semua yang mereka tampung tentang kondisi Bapak, hal lain yang paling krusial, apalagi kalau bukan beratnya biaya yang harus dikeluarkan. Sedang tanggungan utang piutang puluhan juta ke Haji Jais hanya sedikit yang bisa dilunasi. Apalagi sekarang ditambah Bapak yang dirujuk ke rumah sakit. Pasti beban itu kian bengkak lagi.
Keluarga, sekalipun banyak orang, tidak ada satupun diantara kami yang bisa dibilang sukses dalam pekerjaan. Malah sebaliknya lika-liku kasus kakakku yang nomer dua lantaran sangkut paut sewa mobil yang belum terbayar sampai saat ini juga masih kalut menghantui kami sekeluarga. Mungkin juga Bapak begini karena terlalu suntuk memikirkan deritanya sendirian. Lalu pada akhirnya Bapak jadi begini dengan penyakit barunya yang serius. Pikiran lain juga kemungkinan tentang kabar kakak yang sampai sekarang hilang karena dicari pihak mobil. Seringnya polisi mendatangi rumah menanyakan kakak, pun makin membuat Bapak cemas dan stres.
Selang pintu ruang operasi tersebut ada yang membuka. Pandangan kami tertuju langsung pada kondisi Bapak yang tengah tertidur di atas ranjang pasien yang didorong dokter menuju ruangan lain. Kami bergegas berusaha mengikuti namun dokter tidak mengizinkan. Ibu mengeluh, dan kami hanya bisa pasrah berharap dokter tersebut cepat-cepat kembali menemui kami di sini.
“Satu minggu lagi hasilnya akan diketahui.” terang dokter kepada kami.
“Kira-kira penyakitnya apa, Dok?” Ibu bersikeras minta dikasih tahu.
“Belum ketemu, Bu. Belum jelas penyakitnya apa sebenarnya. Tapi dilihat dari benjolan pasien, kami masih menduga penyakitnya positif kanker. Jelasnya, hasil ini baru kita dengar seminggu lagi. Karena sampel kelenjar yang kami ambil dari benjolan di leher tadi harus dikirim ke Surabaya untuk diteliti lebih lanjut.”
Kami semua hanya mangguk-mangguk mendengar kata kanker dari dokter. Kami juga tak kuasa melihat Bapak yang kemudian berjalan pelan menghampiri kami yang masih duduk dengan dokter. Wajah bapak begitu pucat. Tubuhnya yang dekil kurus masih mengenakan baju pasien warna biru langit. Kata kanker masih terngiang-ngiang baginya, namun tetap akan kami rahasiakan agar pikiran Bapak merasa tenang dan tidak terusik.
Suara kumandang adzan maghrib di masjid itu seperti penutup pembicaraan kami dengan dokter. Kami pun bergegas kembali ke rumah dengan tubuh dan sikap layaknya manusia diberi beban pemikiran yang sulit untuk dipecahkan jalan keluarnya. Kami tidak tahu hal apa yang selanjutnya akan kami terima dan hadapi selain menunggu hasil kabar dari dokter. Di dalam mobil Bapak tampak lemas sehabis dikuras energinya oleh dokter. Kedua matanya memandangi pemandangan malam di luar kaca itu. Aku pun yang duduk di sampingnya hanya bisa merasakan riuhnya angin yang berlesatan melibas-libas wajahku, menghambur-hamburkan pikiranku ke sana kemari. Sempat Bapak menanyai tentang penyakitnya, kami semua diam dan ragu menjawab. “Penyakitnya ringan. Benjolan.” Sejurus ibu menjawabnya dengan lugas. “Dokter juga menyarankan harus banyak-banyak istirahat dan jangan banyak pikiran.” Mendengar ibu bicara, Bapak sedikit melegakan nafasnya dan kembali melanjutkan pandangannya ke luar jendela mobil.
**
Barulah seminggu kemudian, aku dan Mbak Mut menemui dokter lagi. Dan setelah hasil tes itu kami terima, selanjutnya kami harus mendengarkan arahan dokter itu.
“Kasihan beliau,” dokter bicara tentang Bapakku,“Betapa sakitnya ia.” dokter itu geleng-geleng kepala. Aku dan Mbak Mut terkejut dan tercengang menerima kalimat yang terpotong-potong itu.
“Maksud dokter?” tanyaku penasaran.
“Bapakmu ini sudah dikatakan terlambat, nak, untuk diperiksakan penyakitnya. Seharusnya dari dulu kalian membawanya periksa. Saya juga tidak menjamin usianya bertahan dalam waktu kurang lebih tiga bulanan. Karena jenis kanker otak ini sudah terbilang ganas dan sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. Tapi semua juga ada yang mengatur. Wallahua’lam. Kita hanya bisa berusaha dan pasrah.” Begitu berani Dokter ini memutuskan nyawa hidup seseorang.
Aku hanya bisa tertunduk lemas dan menelan ludah pahit yang tiba-tiba kurasakan ketika mendengar usia bapak yang ditaksir tidak akan lama lagi. Apalagi dibilangnya dokter taksiran mencapai 7 jutaan. Aduh, betapa kejam dunia ini menghabisi keluargaku.
“Dapat dari mana kita biaya segitu besar, nak?!” keluh ibu sambil menangis.
Benar memang, pada persoalan urus tanggung penyakit Bapak, ujungnya pasti ketidakmampuan kami mengeluarkan biaya. Dan jalan alternatif lain mau tidak mau Bapak kami bawa ke orang pintar. Jalan terapi tersebut kami lakukan keliling dari dukun satu ke dukun yang lain. Sampai Bapak harus pakai yang namanya susuk. Tapi dari sekian itu tak ada yang berhasil menyembuhkan, sebaliknya Bapak semakin mengerang sakit kepala yang luar biasa setiap harinya. Dan semakin membuat kami semua bingung mau berbuat apa. Air, ramuan rempah-rempah, tulisan arab, susuk, dan lainnya bak sia-sia untuk mencapai kata sembuh.
Seminggu lebih sejak Bapak ditemukan jatuh tersungkur terpeleset dari tangga pintu, Bapak jadi kaku dan terbaring di kasur. Tubuhnya semakin hari semakin kurus. Bicara pun Bapak sudah tidak bisa. Kedua matanya hanya berhelai-helai ke sana kemari memandangi suasana sekitar termasuk ibu yang di sampingnya tak ingin beranjak sedikit pun. Tangan dan kakinya dingin sekali kugenggam. Setiap dedahamnya yang berkeluh, selalu kami temani dengan air mata. Terakhir Bapak memberi kejutan luar biasa kepada kami. Di kondisi tubuhnya yang masih sempat bergerak, dalam pembaringan Bapak membalikkan tubuhnya hingga telungkup. Telungkup begitu saja pada bantal. Persis seperti ketika ia minta untuk dipijat. Karena dirasa lama, ibu menyarankan agar bapak dibalikkan kembali badannya. Tapi sayang, sesuatu begitu mengejutkan ketika Bapak sudah tiada dengan cara yang tidak lazim orang meninggal pada umumnya(*)

Muzamil Frasdia, seorang guru di Bangkalan, Madura
Profil Penulis :

Tentang Penulis