Galeri

SDN 12 Sokop Lokal Jauh Memperingati Hari Kartini dengan Berbagai Cabang Lomba

Catatan: Redovan Jamil

Antusias Para siswa SDN 12 Sokop Lokal Jauh, Riau mengikuti Lomba Memperingati Hari Kartini. Kondisi serta letak  geografis tidak menghalang mereka untuk kreatif (25/4/2017/ foto atas)

R.A Kartini tidak asing lagi di telinga kita yang selalu menilik sejarah. Seorang wanita tangguh yang berjasa atas kebangkitan emansipasi wanita atau persamaan hak wanita pribumi. Setiap jatuh tanggal 21 April alangkah bagusnya kita selaku bangsa Indonesia yang menghargai sejarah mengadakan kegiatan untuk memperingati “Hari Kartini” tersebut.

Di SDN 12 Sokop Lokal Jauh Hari Kartini diperingati dengan berbagai lomba. Cabang perlombaan terbagi atas Lomba Bercerita (pengalaman pribadi) teruntuk kelas 3 saja, Lomba Menulis Cerita (pengalaman pribadi) teruntuk kelas 2 dan 3, dan Lomba Membaca Cepat teruntuk kelas 1 sampai kelas 3.

 

Kelas 3 SDN 12 Sokop Lokal Jauh tampak antusias tengah mengikuti lomba menulis cerita
Kelas 3 SDN 12 Sokop Lokal Jauh, tampak antusias tengah mengikuti lomba menulis cerita

Lomba diadakan di SDN 12 Sokop Lokal Jauh dengan tingkatan perkelas. Lomba dilaksanakan pada hari Sabtu, (22/4). Kegiatan tersebut disambut dengan antusias oleh semua siswa. Bentuk antusias para siswa terbukti bahwa mereka datang ke sekolah lebih awal dari hari biasanya. Juga dapat dipandang sumringah di wajah para siswa, saat penyampaian peraturan lomba serta kategori penilaian di lapangan sekolah.

Lomba dimulai sejak pukul 08.30 hingga 12.00 Wib. Anak-anak mengikuti perlombaan antar kelas dengan sungguh-sungguh. Para siswa ingin mendapatkan juara dan juga hadiah jika menjadi yang terbaik pada setiap cabang lomba yang dijanjikan Bapak Redovan Jamil (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia) Dompet Dhuafa.


 
Salah satu anak peserta tengah mengikuti lomba baca cepat*

Lomba pun berjalan meriah walaupun dengan suasana sederhana. “Baru kali ini kami berlomba macam ini, Pak. Kami senang, besok adakan lagi ya, Pak”, ucap salah satu siswa kelas 3. Bapak Jamil menjawab dengan senyuman yang menyatakan, “iya”. Siswa yang produktif menulis di kelas 3 adalah anak kita Abu. Setiap pagi ia selalu menyetor tulisannya berupa puisi (tema yang berbeda) kepada Pak Jamil. Kemudian Bapak Jamil mengkoreksi puisi tersebut serta memberikan masukan serta motivasi agar selalu menulis.

Pada hari Selasa, (25/4) pemenang lomba memperingati “Hari Kartini” pun di diumumkan. Pagi hari itu semua siswa dikumpulkan di halaman sekolah. Semua siswa tidak sabaran untuk mendengarkan hasil perlombaan. Pengumuman langsung diambil alih oleh pengelola SDN 12 Sokop Lokal Jauh Ibuk Riyati.

Jantung para siswa jelas dag dig dug. Ini sebuah lomba perdana bagi mereka, yang jelas sesuatu yang baru dan luar biasa. Akhir satu persatu siswa yang terbaik dipanggil ke dapan untuk menerima hadiah. Karya yang terbaik pada cabang Lomba Menulis Cerita (pengalaman pribadi) kelas 3 dipegang oleh anak kita Abu dengan 94 poin, dari kategori penilaian; Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), keunikan cerita, dan pesan cerita.

Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia, Redovan Jamil tampak tengah  memberikan hadiah secara simbolik kepda salah satu pemenang cabang lomba menulis cerita.

Pemegang terbaik untuk cabang Lomba Bercerita (pengalaman pribadi) diraih oleh anak kita Asip untuk tingkatan kelas 2 dengan poin 88.Kemudian pada cabang Membaca cepat peringkat pertama diraih oleh Sanjay tingkatan kelas 1 dengan poin 86. Kegiatan lomba memperingati Hari Kartini merupakan seuatu hal yang baru bagi para siswa SDN 12 Sokop Lokal Jauh.

Ini foto brsma dg pemenang lomba mas
Mereka, para pemenang lomba mas tampak suka cita saat melakukan poto bersama

Kegiatan ini diadakan bertujuan untuk mengajarkan sekaligus mengajak para siswa mencintai dunia literasi. “Kegiatan ini akan diagendakan menjadi program tahunan”, ujar Buk Riyati selaku pengelola.(Redovan Jamil)

Puisi Achmad Fathoni

Kapan Terakhir Kita Bertemu

Kapan teakhir kita bertemu? Saat itu aku telah melepas bajuku

dan siap untuk dirimu. Tapi kapan itu? Aku lupa kapan itu?

Yang masih kuingat aku menyentuh tubuhmu yang halus

lalu jantungmu berdebar-debar, keras sekali suaranya

terdengar di telingaku dan aku pun berhenti menyentuhmu.

Aku mulai menjilati bajumu, dari ujung ke ujung

sampai aku menemukan gula yang terbaik. Dan tak ada tandingannya.

Kapan terakhir aku menemuimu? Apakah mungkin kita bertemu lagi?

Aku sedang memandangi fotomu saat itu, aku lupa menuliskan tanggalnya

di foto padahal biasanya aku selalu, tapi kapan kita akan bertemu kembali?

Sempatkah kau datang, membiarkanku menyentuh tubuhmu mendengar

degup jantungmu yang mendebar-debar itu, lalu aku menjilatimu mencari

yang asin bukan yang manis sebab yang manis sudah membuatku lupa

kapan kita terakhir bertemu.

 

Malang, 2016

 

Aku Sedang Mencari Air

Aku sedang mencari air, menungggu air, dimana air?

Apakah di gula; apakah di kopi; apakah terikat

dengan penjalasan tentang air; lalu bagaimana dengan air?

Apakah kau menyimpannya? Aku membutuhkan air;

menunggunya datang lalu ku tenggak dalam-dalam.

Bagaimana dengan penjelasannya? Apakah ada yang lain seperti air,

di kopi? Bagaimana air di kopi? Aku mencari air. Pisahkan air dari kopi,

pisahkan teh dari air, peras. Aku lupa bagaiamana menemukanmu

sedang menenggak air, di atas meja dengan kopi lalu air

apakah ada penjelasan untuk air? Aku hanya butuh air.

Laut, tawar, manis, sungai, apapun aku butuh air.

Malang, 2016

 

Sudah Siang, Mulai Mengantuk

Sudah siang, mulai mengantuk,

kantong mata sudah seperti panda.

Pandanya telah tidur, kapan aku tertidur.

Jangan disamakan dengan panda,

aku berbeda. Mengantuk, sudah larut siangnya.

Ia berjalan mengelilingiku

dan mendung masuk kedalam tubuhku

dan diam-diam pergi meninggalkanku.

Bagaimana dengan daun-daun?

Apakah ia tertidur atau mengantuk sepertiku?

Aku ingin menularkan padanya,

agar tertidur bersamaku, tidur bersamaku

lalu menidurinya dan meninggalkan kekasihku, dunia.

Malang, 2016

 

Di Kota Ini Kita Akan Bersama

Di kota ini kita akan bersama,

setelah akad nikah yang telah kita lalu bersama.

Di kota ini mari kita membuat cerita, ada kasih sayang,

petaka, bencana, lalu cinta, rejeki, keramaian, kesepian,

sunyi jangan lupa. Mari kita menuliskannya

agar cepat kita merasakan kota.

Di kota ini kita bersama

sudah lebih dari sepuluh menit kita bersama

di sini selebihnya terserah kau mau apakan kota ini.

Aku menunggu kabar baik saja darimu.

Buatlah kota sesukamu sesuai otakmu.

Kota-kota wahai kota, turutilah istriku,

biarkan dia mengubahmu, sesuai dengan otaknya

dan berdoa sajalah agar tidak kebalik otaknya.

Aku menunggu kabar darimu juga.

Malang, 2016

 

Seberapa Jauh akan Berjalan

Seberapa jauh akan berjalan,

sedangkan kaki sudah lemah dan kram.

Mungkin sebentar lagi akan linu-linu, patah.

Kaki sudah putung. Kapan tangan putung?

Sebelum berjalan kembali.

Kapan mata akan melihat kedepan,

kapan bisa melihat kebelakang atau ke samping tanpa melirik.

Orang-orang selalu bilang,

hati-hati dengan paru-paru nanti ada flek ada kotoran,

jangan merokok, banyak bahayanya. Nanti mati, itu pembunuhan.

Penjarakan saja rokoknya, biar puas keluarganya.

Biar tak menangis lagi, biar tak sedih lalu kuburnya tenang.

Bukan karena rokok, karena paru-paru yang sudah berkarak

mungkin karena rokok, bukan. Karena watak yang kusam,

atau nafasnya tak bersih. Kotor, najis perlu di basuh dulu nafasnya.

Malang, 2016

 

ACHMAD FATHONI, mahasiswa Universitas Negeri Malang. Aktif menulis puisi, cerpen, beberapa puisinya ada di berbagai media cetak lokal daerah, puisinya pun ada di berbagai buku antologi  hasil lomba, cerpen-cerpennya beberapa kali mendapat apresiasi juara di perlombaan sayembara menulis. Kini aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis.

No Hp : 085733841571

Alamat : Jl. Semarang No.5 Kampus Universitas Negeri Malang, Gedung C3 UKM Penulis (Achmad Fathoni), Kode Pos 65145 (Malang)

Puisi Ferry Fansuri

Lama tanpaMu

Dalam sujudku ku mengingatMu

Terkadang hambamu ini lupa akan diriMu

Tapi sungguh dalam lubuk ini ada Kamu

Bergumul napsu kerumunan dunia

Berselimut selubung ilusi

Aku lama tanpaMu

 

Surabaya, Maret 2017

 

Badai Dejavu

Gemuruh badai itu

Datang menerpaku

Menggerototi tulang

Merayapi sela-sela jiwa ini

 

Ombak itu menggulung

Menderu-deru

Menghantam tepian kalbu

Berdiam tak bergerak

 

Layaknya dejavu

Berulang bergilir

Mencabik-cabikku

Tapi disini aku tetap tegak

Tuk mengingatMu

 

Surabaya, Maret 2017

 

 

Rapuh

Kulihat seorang ayah renta tua

Duduk ditepian kasur termenung

Menyeka luka dikakinya

Tertunduk meratapi nasib

 

Kupandangi wanita yang kusebut Mama

Tergeletak lemah stroke menyerang

Tangan kiri terkulai tak berdaya

Teronggok dalam kursi rodanya

 

Kusaksikan pemuda itu pergi

Meradang meninggalkan luka

Tak kembali mengejar amarah

Kebencian itu ada di sorot matanya

 

Ah rumah ini begitu besar tapi kosong

Dan aku sendiri terkulai lelah

Memandang waktu terus tergerus habis

Tapi dalam doaku untukMu

Kau kuatkan jiwaku yang rapuh ini

 

Surabaya, April 2017

 

Bara Api Es

Subuh itu di kamar kos

Terbangun gundah

Ada detak berkecamuk di ulu hati ini

Kulinting batang rokok

Kuteguk arak itu

Kuhisap bong sabu

Kubiarkan melayang tanpa arah

Tapi tak semua itu menenangkanku

 

Langkahku terseok

Pundak terasa berat

Memikul dosa itu

Ingin kutusuk jantung kotor ini

Sayup-sayup alunan Alif…Lam..Min

Menghentikanku tuk bergejolak

 

PesanMu menyejukkanku

Bara Api itu menjadi es

Surabaya, April 2017

 

Labirin Rahim

Kerlingan mata sendu

Bibir merah merekah

Lenggok pinggul menggoda

Dua pualam itu menantang

 

Jeratan berahi selalu datang

Legungan berkeliaran diotak

Dentuman syahwat meletup

Menyebar urat nadi ini

 

Setiap kali kumasuki labirin rahim

Saat itu juga jatuh tertunduk

Sujud minta ampun padaMu

 

Surabaya, April 2017

 

Biodata Penulis :
> Ferry Fansuri kelahiran Surabaya adalah travel writer, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya “Roman Picisan” (2000) termuat. Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional
ferry_fansuri@yahoo.comHP. 0818509233 Alamat Simogunung Barat Tol 3 no.1B Surabaya 6018

Selalu Diuji dan Diuji

Oleh: Virgorini Dwi Fatayati

Pasca saya mengalami kecelakaan, tetangga ibu saya yang merasa penasaran sampai bertanya perihal ujian yang menimpa kami. Dia menilai kami keluarga yang religius, suami istri dan anak-anak soleh-soleh, tapi mengapa diberi ujian yang begitu berat? Begitu tanyanya.

Aih, malu betul dinilai orang sebagai orang soleh, padahal kami masih belajar terus dan berusaha untuk berada di jalan Allah, belum tentu penilaian Allah dan manusia sama. Namun ibu saya menjawab bahwa orang soleh itu justru malah lebih berat ujiannya. Dengan serta merta si tetangga mengatakan, ”oh, kalau begitu mah, nggak mau ah saya jadi orang soleh, nanti ujiannya berat.”

Lho kok?

Pikirannya bisa begitu? Bukankah kita semua bakal pulang ke kampung akhirat? Rugi kalau kita tidak bersungguh-sungguh dengan Allah kalau hanya sekedar takut dengan ujian di dunia, mending dapat ujian saat masih di dunia daripada nanti di akhirat.

Siapa nyana di waktu berikutnya sang tetangga ibu saya ini justru mendapat musibah yang tak terperi, anaknya yang sudah remaja dibunuh temannya sendiri sesaat setelah berbuka puasa. Motifnya apa tak pernah diketahui karena kasusnya tak pernah diusut tuntas. Ujian apalagi yang lebih berat daripada kehilangan anak? Padahal sang ibu bertekad tidak mau jadi orang soleh karena khawatir mendapat ujian, tapi nyatanya dia dapat juga ujian. Ternyata mau orang soleh, mau orang tidak soleh tetap sajaTuhan memberi ujian, mau orang kafir atau pun orang beriman sama-sama diuji.

Jadi pilih mana? Pilih jadi orang tidak soleh yang diuji atau jadi orang soleh yang diuji? Nilainya tentu berbeda di sisi Allah, bagi orang beriman ujian yang didapat di dunia dan diterima dengan ridloinsya Allah bisa meringankan hukuman di akhirat, namun ujian yang diterima oleh orang tidak beriman apalagi kalau dia tidak ridlo apakah ada nilainya juga?

Tetanggaibusayaituselamaberbulan-bulanseperti orang stress, bicarasendiri, tidakmaumakanberhari-hari, berteriak histeris saat kembali menyadari anaknya sudah tak ada dan bahkan sampai tidur di makam anaknya.

Saya tidak bisa menyalahkan beliau karena ditinggal mati oleh anak memang sebuah ujian yang luarbiasa berat. Saya  sendiri mengalaminya, dan saya sempat khawatir saya akan menjadi gila. Bayangkan, di saat air susu saya masih deras-derasnya mengalir, di saat sabun mandinya masih tersedia banyak, di saat minyak telonnya masih penuh, Tuhan mengambilnya dari pelukan saya. Bagaimana rasanya? Luar biasa sakit, luar biasa sedih.

Satu-satunya tempat yang membuat saya tenang adalah mengadu pada Allah.Saya punya Allah dan berpegang pada tali Allah, namun tetap saja air mata saya tak mampu terbendung, tetap saja ada perasaan tak rela, tetap saja saya seperti menggugat Allah, bagaimana dengan ibu yang sengaja tidak mau berpegang padatali Allah? Tentu perasaannya lebih berat lagi. Dan menjadi gila itu adalah sesuatu yang mungkin.

Mungkin kadar ujian kita memang berbeda-beda, seperti yang saya alami, sepertinyaTuhan memberi saya ujian secara bertahap, mungkinTuhan menganggap saya sudah naik kelas hingga diberi ujian yang lebih beratlagi. Wallahualam.

Jadimaupilihmana? Jadi orang yang beriman dan diuji atau tidak beriman namun tetap diuji?

Pelatihan Guru Tingkat Sekolah Dasar Se-Kecamatan Rangsang Pesisir

Catatan: Redovan Jamil

Pelatihan Guru Tahap 1 tingkat Sekolah Dasar dengan materi RPP dan PAIKEM se-Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau telah diselenggarakan 15-16 Maret 2017 lalu . Pelatihan dibawakan oleh trainer Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa Bapak Redovan Jamil. Pelatihan tersebut disambut antusias oleh Bapak Mazlan selaku kepala UPTD Kecamatan Rangsang Pesisir.

Peserta yang hadir mengikuti pelatihan sejumlah 31 orang guru yang terdiri dari 12 orang guru dampingan Dompet Dhuafa dari SDN 12 Sokop Lokal Jauh. Selebihnya Bapak/Ibu guru perwakilan dari 12 SD yang ada di Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.
Pada sesi sambutan sekaligus pembukaan kegiatan pelatihan, kepala UPTD menyampaikan kepada semua peserta yang hadir, “jangan lihat fisik dari sang trainer dari Konsultan Sekolah Literasi Indonesia Dompet Dhuafa dan jangan menganggap remeh. Tapi ambillah ilmu yang diberikan beliau. Orang yang dikirim oleh Dompet Dhuafa ke daerah kita adalah orang hebat. Maka dari itu jangan menyia-nyiakan kesempatan ini. Marilah kita menerima ilmu yang akan beliau sampaikan.” Setelah untaian kata motivasi yang di sampaikan Bapak Mazlan selaku Kepala UPTD dan kemudian beliau resmi membuka Pelatihan Guru Tahap 1 Se-Kecamatan Rangsang Pesisir.

 

Pelatihan dimulai dengan percikan kata motivasi penuh semangat yang dilontarkan oleh sang trainer Bapak Redovan Jamil. Memperkenalkan diri dengan cara yang unik, sehingga semua peserta yang ada di ruangan itu terkesima. Cara itu adalah sebuah teknik pembuka yang wajib dimiliki oleh seorang trainer Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia Dompet Dhuafa.

Dihari pertama Bapak Redovan Jamil menyajikan pelatihan dengan materi RPP. Terutama sekali peserta dirangsang untuk berpikir apa itu RPP sebenarnya? Dan juga menyadarkan semua guru betapa pentingnya sebuah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk menyukseskan proses pembelajaran di kelas.

Pada sesi awal peserta juga diajak menyaksikan video Nick Vujinic dengan kondisi tubuh yang cacat. Mengaitkan hasil tayangan video tersebut kepada materi pelatihan. “Bahwasannya orang cacat saja sanggup melaksanakan aktifitas keseharian layaknya manusia yang terlahir normal. Apalagi kita seorang guru yang terlahir dengan fisik yang tidak kurang sedikitpun. Saya yakin dan percaya, Insyaallah bapak/ibu guru hebat sanggup mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang biasa disebut RPP sebelum mengajar di kelas”, terang Bapak Redovan Jamil.

Semua guru mengangguk dengan wajah penuh tanda tanya. Juga tergambar wajah penuh dengan kekecewaan. Apakah kekecewaan kepada dirinya selaku guru? Atau kekecewaan yang lainnya. Semua itu menjadi rahasia masing-masing guru yang ikut pelatihan. Tidak berselang beberapa menit, Bapak Redovan Jamil selaku trainer Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia menginstruksikan kepada semua peserta pelatihan untuk menulis di kertas yang sudah dibagikan satu persatu, “apa yang akan dilakukan perubahan saat mengajar nanti di kelas?” Semua peserta mengikuti instruksi yang diberikan Bapak Jamil.

Pelatihan berjalan dengan lancar. Setelah Isoma peserta ditugaskan untuk membuat RPP secara berkelompok yang dipilih secara acak oleh sang trainer. Pada akhir sesi, perwakilan dari kelompok disuruh tampil mengajar selama 15 menit sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat.

Banyak ditemukan kekurangan dari kelengkapan sebuah RPP oleh Bapak Jamil selaku trainer. RPP yang dibuat oleh masing-masing kelompok belum masuk kategori standar Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Masih banyak yang harus dilengkapi agar mencukupi kelayakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran agar guru bisa mengajar dengan sebaik mungkin.

Pelatihan hari pertama tersebut diakhiri dengan foto bersama dengan semua peserta pelatihan dan diikuti oleh Kepala UPTD Rangsang Pesisir (Bapak Mazlan).

Hari kedua pelatihan dengan materi PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). Bapak/ibu guru selaku peserta masih antusias untuk mengikuti pelatihan lanjutan tersebut. Pelatihan dibuka dengan rangkain kata-kata motivasi untuk menggugah hati paling dalam para guru untuk keluar dari pola mengajar yang selama ini kurang tepat.

Mengajak para guru untuk bergerak bersama menata perbaikan sedikit demi sedikit dengan menerapkan metode PAIKEM. Tujuannya adalah agar terciptanya pembelajaran yang aktif serta menyenangkan yang dapat dirasakan oleh siswa. Dan juga terwujudnya capaian indikator pembelajaran yang sudah ditentukan.

Metode PAIKEM juga memiliki manfaat kepada seorang guru untuk mengajar dengan pola yang baru, berbeda dengan cara mengajar yang sebelumnya. Bisa terciptanya minimal 5 interaksi serta terwujudnya minimal melibatkan 3 indra siswa, yaitu melihat, mendengar dan mengucapkan. Maka siswa akan aktif dan pembelajaran tidak monoton.

Pada sesi terakhir, salah satu guru perwakilan kelompok bertugas tampil bagaimana mengajar menggunakan model pembelajaran. Model pembelajaran yang akan digunakan telah ditentukan oleh trainer Bapak Redovan Jamil. Walaupun perwakilan guru kesulitan menerapkan model pembelajaran itu, namun Bapak Jamil memandu guru tersebut untuk menyelesaikan tugasnya sebagai perwakilan kelompok.

Sang Trainer menutup materi Pelatihan Guru Tahap 1 dengan meminta komitmen guru agar menerapkan motedo PAIKEM saat mengajar nanti di kelas. Pelatihan guru hari kedua diakhiri dengan foto bersama.**

Masakan Ibu dan Cerita Yang Mengiringinya

Cerpen: Nasrul M. Rizal

Kamu tahu, apa yang membuat aku rindu rumah? Ya, kamu benar. Canda dan tawa adikku, beserta kenakalan yang mereka ciptakan. Tapi ada satu hal lagi yang membuatku sangat rindu rumah. Ingin sekali pulang walau beberapa hari yang lalu sudah pulang. Yang tidak bisa diobati meski berkomunikasi lewat sambungan telepon. Bahkan lewat video call sekalipun. Kamu ingin tahu? Aku merindukan masakan ibu.

Tidak terhitung berapa kali aku membeli makanan. Mulai dari makanan cepat saji hingga makanan lama tersaji. Beli di rumah makan biasa hingga mewah. Diwarteg hingga rumah makan padang. Mulai dari yang harganya ribuan rupiah hingga ratusan ribu. Tapi, tidak satu pun yang bisa menggantikan masakan ibu. Aku pun heran. Padahal jika diperhatikan, masakan ibu sangat sederhana. Aku juga bisa membuatnya, dengan resep dan cara yang sama. Anehnya rasa masakanku kalah jauh dibandingkan masakan ibu. Apa karena aku masaknya terlalu lama ya (baca: gosong) atau justru terlalu sebentar. Ah, perasaan sama kayak ibu. Dan kenapa rasanya terlalu asin. Apa karena aku pengin cepat-cepat nikah, seperti yang diucapkan ibu? Bisa jadi sih haha.

Di rumah, aku bersedia menunggu lama demi mencicipi masakan ibu. Sambil menunggu Ibu memasak, aku menjagasi bungsu yang mulai nakal. Si bungsu sering membuat onar. Namanya Alfath,walau masih merangkak tapi, kamu harus percaya, dia bisa menjadikan rumah seperti kapal pecah. Apa pun diperhatikan. Dimainkan. Lebih tepatnya dirusak. Remot TV dilempar gara-gara tidak bisa digigit. Mungkin dia kira biskuit. Yang lebih menggelikan, saat aku membuka kulkas, Al mendekat,sepertinya dia penasaran. Sebagai kakak yang baik hati, aku menuruti rasa ingin tahunya. Dengan semangat Al mengacak-acak isi kulkas. Tidak lama kemudian dia menangis. Aku mengenalkan dia dengan es batu,freezer.Mendengar si bungsu menangis, ibu berhenti masak, memarahiku sejadinya. Untung aku bukan anak kecil. Jadi meski dimarahi aku tidak menangis, seperti ketiga adikku.

Aku menyesal mengenalkan Al dengan es batu. Bukan karena dia menangis, tapi karena dia dibawa sama ibu. Artinya aku harus menunggu lebih lama unutk merasakan masakan ibu. Memasak sambil menggendong anak pasti merepotkan. Aku saja masak tanpa ada gangguan sangat repot, apalagi ini, diganggu Al. Semngat ya Bu. Eh, maksudnya semangat Bu.

Jarum jam menunjuk angka 10. Perut aku sudah berbunyi, krubuk, krukk. Sepertinya cacing di perutku sedang demo. Aku harap mereka tidak anarkis. Supaya tidak terjadi bentrok. Kan bahaya kalau bentrok. Bisa-bisa perutku semakin kencang bunyinya.

Karena sudah bebas tugas –tidak menjaga Alfath lagi– aku semedi di kamar. Aku mendudukkan si Hime dipangkuanku, membuka bajunya pelan-pelan, merabanya, memijitnya perlahan. Sungguh mulus si Hime. Dalam hati aku berkata, “Hime, sekarang hanya ada kau dan aku, kita bisa berlama-lama menikmati waktu.” Aku kembali memijit tubuh si Hime.Untung saja kuota aku masih banyak, jadi semediku pasti berjalan dengan mulus. Apa? Kamu pengin kenalan sama Hime? Hmm, baiklah. Dia laptopku. Sudah tiga tahun lamanya Hime menjadi sahabatku. Dia menemaniku mengerjakan tugas, menonton film, main game, berselancar di dunia maya, dan … rahasia. Sudah beberapa kali Hime sakit (baca: rusak) karena itu aku mengganti namanya. Awalnya nama dia Asu seperti mereknya, aku ganti jadi Hime. Berdasarkan kepercayaan orang-orang di kampung halamanku, kalau ada anak yang sakit-sakitan terus, maka namanya harus diganti. Nah, aku melakukan hal yang sama pada laptopku.

Belum lama aku semedi, pintu kamarku dibuka kasar. Mataku berpaling dari wajah si Hime, melihat sosok pembuka pintu. “Si raja onar pulang. Pasti dia ganggu,” batinku.

Aa[1] tadi Azka olahraga. Lari jauuuuhpisan[2]. Untung Azka biasa lari jadi teu cape teuing.[3]” Si pembuka pintu menembakku dengan ocehannya.

Aku mengembuskan napas panjang. Mencoba meniraukannya,kembali fokus menatap wajah si Hime.

“Wih si Aa jago perang. Tembak, terus tembak.” Tiba-tiba si pembuka pintu duduk di sampingku. Menyuruh ini dan itu layaknya komandan, “Tembak yang sebelah kiri. Itu di belakang. Awas bom. Ah, si Aa mah teu baleg maen teh[4]. Gantian! Azka yang maen.”

Tanpa dipersilakan Azka mengangkat si Hime dari pangkuanku, meletakkannya di kasur. Aku menatapnya sinis, dia merusak kebersamaanku dengan si Hime.

“Aa gimana cara maennya?” Azka bertanya dengan tampang polos khas anak SD.

Heeeeuhh kalau saja dia bukan adikku, daritadi sudah kutelan kepala pelontosnya. Menyebalkan sekali. Mana masuk kamar tidak izin dulu. Ganggu maen game. Merebut si Hime. Dan dengan polosnya bilang gimana cara maennya. Menyebalkan bukan? Dari ketiga adikku, Azkalah yang sering bikin onar. Si raja onar. Tidak ada hari tanpa “pertikaian” antara Azka denganku. Bahkan ketika matahari masih bersembunyi, emosiku sudah meninggi. Dengan wajah tanpa dosa, Azak memukul pipiku. Berteriak, “Bangun! Bangun! Hey kebo bangun!” Dengan sangat terpaksa aku bangun. Ingin sekali kutelan kepalanya yang mirip baso. Tapi niatku selalu urung. Dalam kondisi apa pun. Dalam keadaan bagaimanapun. Aku yang akan disalahkan. Ya, Ibu pasti memarahiku. Katanya aku ini sudah besar jadi harus mengalah. Benarkah seorang kakak harus selalu mengalah pada adiknya? Walau dalam keadaan apa pun? Apa kamu seperti itu?

Kedongkolanku sedikit berkurang. Ibu memanggilku. Meminta untuk menggendong Al. Harumnya masakan ibu membuatku semakin ngiler. Perutku berbunyi keras, krubuk, krubuk, krubuk. Sepertinya cacing di perutku menjadi anarkis. Ibu membersihkan dapur. Tak lama kemudian makanan sudah siap disantap. Kami (aku, Azka, Ibu dan Al) duduk, melingkar, di karpet tipis. Di rumahku tidak ada meja makan. Tapi meskipun begitu, makan dengan cara seperti ini sungguh nikmat. Sesekali cobalah!

“Biasakan berdoa dulu sebelum makan… Azka jangan buru-buru makannya. Deni jangan banyak-banyak lauknya, ingat Ayah sama adikmu, Anti.” ucap Ibu mengingatkan sekaligus menegur.

Dasar Azka, dia menghiraukan teguran Ibu. Mulutnya cepat mengunyah makanan. Tidak mau kalah dengan Azka, aku pun malahap masakan sederhan ini. Ya, kali ini Ibu memask tumis kangkung, tahu, tempe dan cumi. Tak lupa sambal terasi sebagai pelengkap. Walaupun sederhana tapi rasanya nikmat sekali.

Kalau Ayah dan Anti bergabung. Suasana makan pasti lebih hangat –lebih tepaya panas. Azka dan Anti berebut lauk. Walaupun Ibu sudah membaginya dengan adil. Tetap saja kedua anak itu tidak mau mengalah. Merasa bagian yang satu lebih banyak dari yang lainnya. Jika Ayah tidak turun tangan terkadang salah satu di antara ke duanya menangis. Lebih seringnya Azka yang menangis. Aku memanfaatkan situasi tersebut dengan mengambil lauk lagi. Menyembunyikannya di bawah nasi. Stttt! Ini rahasia.

Ya, aku ingin pulang karena rindu masakan ibu. Rindu makan bersama keluargaku. Lebih rindu lagi melihat Azka dan Anti bertengkar, sedangkan aku memanfaatkannya untuk menyelundupkan lauk.

Jadi kamu mau makan apa? Maaf aku malah bercerita hehe. Sesuai dengan janjiku, sebelum pulang ke rumah, kita makan bareng dulu. Silakan pilih saja. Tenang aku yang bayar[]

[1] Kakak

[2] Banget

[3] Tidak terlalu capai

[4] Tidak bener mainnya

 

Biodata Penulis

Nasrul M. Rizal lahir ke bumi 22 tahun silam, tepatnya 27 Agustus 1995, di Garut. Aktif di komunitas kepenulisan, yang diisi oleh orang-orang galau dan jomlo, KAFE KOPI. Beberapa cerpennya telah dimuat di berbagai media daring. Bisa dikepoin melalui: mr.nasrul19@gmail.com

 

 

Guruku R. A Kartini

Oleh: Redovan Jamil

Penulis mengajak pembaca untuk sejenak mengingat betapa spesialnya tanggal 21 Februari di setiap tahunnya. Di mana setiap hari itu di seluruh Indonesia memperingati kebangkitan emansipasi wanita atau persamaan hak wanita pribumi. Semua itu tidak lepas dari sepekterjang seorang wanita tangguh yang lahir di tengah-tengah keluarga bangsawan yang bernama R.A Kartini.

Lanjutkan membaca Guruku R. A Kartini

Puisi Abd.Sofi

Kepada mantan

Ku ucap selamat tinggal,jiwa terpenggal

Tanggal-tanggal gagal, yang telah sejengkal

Bulan buncit telah kempis,jalan sempit

Tempias angin sakau,hujan sakal

 

Jam berlari meniti perih

Memandang hanya mengundang petang datang

Senyum biru muda telah membongkar isi dada

Dari balik jendela kita mencoba pasrah pada kenyataan yang ada.

 

Perempuan luka 1

Luka telah ia sebut bahagia

kesetiaannya tegah birdiri di antara reruntuah

Di tepi pantai telah ia tancapkan janji dan munajad yang meninggi

Langit jadi sepi menyetebui kuncug bianglala

kini lukanya ia pinang-pinang,bersama gugur air mata

Menelannya pada setiap sayatan bayang-bayang

Menghujam menikam malam  ,khusuk kelam

 

Setangkup kecup melekat di pintu kamar

Menaiki malam memar

Saat angin timur mengantar pulang ke blitar

Benih-benihnya tak juga pudar

Getar jiwa berputar-putar.

 

Di senja

Senja ke senja langit berdarah

Angin kemarau hitam tua,

Dari kuncup sabit ingatanku jadi celurit

Air laut pasang mengantar langit merah saga

Ku eja setiap hunus bayang silam

Dari balik setangkai bunga temaram

Dan sepasang kupu-kupu yang lepas dari kekasihnya

Musim demi musim layu awan kelebu aku pilu

 

Di senja ini

Riak-riak ombak telah jadi gelombang

Meretakkan kuat batu karang

Aku duduk di atas batu

Di tepi pantai tempat pertama kita saksikan sepasang kupu-kupu bermesraan

Namum kini senja telah karam bersama rerempah duka

Tuhan . Di mana tempat berteduh ?

Membuang segala empedu rindu

 

Senja telah sempurna mengantar matahari mati

Angin timur mengirim gelombang

Perahuku karam pada purnama ke enam

Namamu kuhafal,matamu kuhafal

Ku abadikan di bukit dada

Ku adadikan di luka.

 

 

Memandang lautan dimatamu

Aku ingin berlayar hingga ke ujung debar

Aku ingin menyelamimu hingga kutemukan mutiara-mutiara itu

Aku ingin duduk hingga senja menenggelamkan tubuhku nanti

Aku ingin menulis puisi-puisi indah di bibirmu

Aku ingin damai seperti riak ombak perlahan meletakkan getar dada

 

Memandang lautan

Aku ingin tenggelam, menemukan malam pegantin di sana

Dan purnama bermekaran di atasnya

Lewat cahaya yang membacakan puisi-puisiku padamu.

 

Membuang masa lalu

Aku melangkah ke senja

Melaju,menjauh dari masa lalu

Memasuki gelap kian pengap

Angin-angin kencang

Burung-burung berlarian

 

Di tepianmu aku membuang segala bunyi kebisingngan dari bermusim bentuk paling asin

Kemurungan kuterbangkan kepada angin kemarau

Dan jenis-jenis luka kulempar pada lautan dan gelombang bergulung

 

Aku pulang membuang sesak masa silam yang muram

Menggikuti arah bintang yang jatuh itu

Mencari pintu-pintu tempat berlabuh dengan jiwa rubuh.

 

83 pesan dari masa lalu

kubaca hingga mata basah

Kuberi makna luka dan bahagia

Segala jenis gemuruh telah kita lafadkan mendaki keterasingan yang memuncah

tanggal bergerak purnama

Sambil mengengam bayang-bayang

Keriap embun dan tetes hujan kita terjamahkan didalamnya

Kepungan dingin membasuh kesepian

Malam telanjang kelam

Kita saling menutupi luka agar tak berdarah.

 

 

 

Abd.Sofi ,lahir di sumenep madura 17 juli 1991

Dan sekarang ia sedang megembara menemukan takdirnya

Kumpulan puisi-puisinya Di Ujung Senja (2015)

Dan aktif di Rumah Sajak

Cinta Dalam Diam

Cerpen: Redovan Jamil

Akhirnya Egy lulus dengan nilai memuaskan serta dapat masuk ke perguruan tinggi yang diinginkannya. Setelah ia berusaha sebisa mungkin untuk mencapai impiannya. Dulu Egy belajar giat agar dapat dilirik oleh lelaki yang dikagumi. Kedua orang tuanya sangat bangga dengan prestasi yang telah ditorehkannya. Anak yang berkulit sawo matang dengan tinggi lebih kurang 160. Tubuhnya termasuk kategori ideal seumurannya. Perempuan yang suka memakai jilbab di kesehariannya.
Wanita yang memiliki nama lengkap Peggy Anggraini itu telah mengenang masa selama di pesantren. Duduk manis di bawah pohon depan kelas 7.2. Mengamati lapangan tempat melaksanakan upacara bendera. Berlari dan bermain dengan teman sebaya. Sesuatu yang tidak bisa ia lupakan adalah saat pertama kali menatap mata sipit santri pujaan hatinya. Mereka bertabrakan karena terburu-buru ingin masuk kelas masing-masing.
Santri laki-laki itu adalah kakak kelasnya Egy di kala itu. Kelas lelaki misterius itu bersebelahan dengan kelasnya Egy. Egy duduk di kelas 7.2 dan lelaki itu duduk di kelas 8.1. Semenjak pertemuan tanpa sengaja pagi itu, Egy selalu terpikirkan pandangan tajamnya lelaki yang menusuk jauh ke dalam relung hatinya. Sepanjang pelajaran pagi itu ia tidak bisa fokus. Pikirannya melayang-layang dan penuh tanya. Siapakah lelaki yang menabraknya? Kenapa lelaki tersebut yang minta maaf terlebih dulu, padahal Egy tahu ia yang sebenarnya salah.
“Egy, mengapa kamu bermenung?” ucap, Bu guru.
“Iya..iya buk.” Egy menjawab penuh cemas.
“Apa yang iya, Gy?” Bu guru sedikit melotot.
Egy hanya menundukkan kepalanya. Ia tahu telah melakukan kesalahan; tidak bisa menyimak dan memperhatikan apa yang diterangkan oleh gurunya. Egy memaksakan otaknya membuang beribu tanda tanya tentang lelaki itu. Mencoba untuk hanyut ke dalam pelajaran pagi ini. Jadwal pagi itu adalah pelajaran Fiqih dengan guru yang bernama Bu Yetti. Ibu yang bertubuh bongsor dan berperawakan jawa. Banyak senior Egy mengatakan Ibu Yetti termasuk kepada guru yang pemarah. Maka pada saat Egy ditegur, ia hanya diam dan tidak ingin berdebat.
***
“Bangun…semua bangun lagi! Sekarang sudah pukul 04.00 WIB.”
Ibu asrama yang biasa dipanggil Umi Rosi mengetuk pintu kamar para santri. Mencoba membangunkan semua anak santrinya. Terdengar beberapa santri menyahut dari dalam kamar dengan suara sedikit parau. Setelah ibu asrama yakin semua santri telah bangun baru ia pergi menuju mushalla untuk menunaikan shalat subuh berjemaah. Egy pun sudah bangun. Segera ia mengganti baju tidurnya dengan pakaian yang layak digunakan untuk shalat. Mengambil serta memakai mukenah yang biasa terlipat rapi di atas meja. Mukenah putih dengan bordiran bunga berwarna merah saga di ujung tepinya. Egy terlihat anggun oleh mukenah yang membaluti tubuhnya.
Terdengar suara adzan berkumandang. Egy dengan sahabat karibnya yang bernama Sinta buru-buru untuk menuju Mushalla. Setelah semua santri memenuhi ruangan Mushalla, baik itu laki-laki maupun perempuan, shalat pun dimulai. Diimami oleh Ustad Jefri Al- Qhadri. Syahdu suara imam merindingkan bulu roma para santri. Seakan-akan diimami oleh imam besar di Mekah. Shalat subuh itu berjalan dengan khitmad. Setelah shalat subuh selesai, semua santri dianjurkan melakukan tadarus sampai pukul 05.45 WIB.
Sesampai di asrama Egy pun segera mengambil handuk. Menuju ke kamar mandi. Egy pun mandi lebih kurang sepuluh menit. Disaat mandi para santri berbicara tidak karuan. Karena di asrama memiliki bak mandi besar yang muat oleh sepuluh santri. Bak mandi itu dipakai oleh santri secara bersama.
Pada saat mandi, banyak santri yang suka bercanda. Seperti lempar-lemparan air. Sebagian juga ada yang membicarakan tentang keluh kesah selama belajar di pesantren. Tapi, saat mandi Egy menceritakan kejadian pagi kemarin kepada Sinta. Menjelaskan secara terperinci hingga Sinta merasa ada yang menakjubkan atas kejadian itu.
“Siapa nama lelaki itu, Gy?”
“Tidak tahu. Aku belum sempat kenalan.”
“Kenapa kamu tidak mengajaknya kenalan?
“Aku malu. Tidak sewajarnya aku begitu.”
Beberapa menit mereka saling bertatapan. Tergambar tanda tanya di wajahnya. Sinta ingin tahu siapa lelaki yang dimaksud oleh sahabatnya tersebut. Sinta mencoba menerka-nerka lelaki yang ciri-cirinya sesuai yang dibicarakan Egy. Tapi ia belum juga bisa menemukan siapa lelaki misterius itu.
***
Pada hari sabtu siang adalah waktunya Ekstrakulikuler. Ada yang masuk ke bidang tataboga, seni rupa, dan olahraga. Egy dan Sinta memilih bidang tataboga. Biasanya mereka selalu rajin untuk mengikuti Ekstrakulikuler. Bersemangat menyambut hari sabtu karena mereka memang hobi persoalan masak-memasak. Untuk sabtu kali ini Egy dan Sinta sudah berencana tidak mengikuti proses belajar memasak. Mereka sudah sepakat untuk mencari tahu lelaki yang mampu membuat tidur Egy tidak nyaman. Dihantui tatapan tajam lelaki itu yang penuh rasa saat pertemuan yang tidak disengaja. Seolah-olah wajah lelaki itu selalu mengikuti Egy ke manapun ia pergi. Tidak ingin beranjak dalam pikirannya.
“Kemana kita harus mencarinya, Gy?”
“Tidak tahu.”
“Bagaimana kita ke lapangan basket saja!”
Mereka kini berjalan menuju lapangan basket. Mencoba melirik ke kanan dan ke kiri. Mengamati semua santri laki-laki yang sedang bermain basket. Mendatangi kantin yang biasanya tempat makan para santri laki-laki. Mereka pura-pura membeli sesuatu di sana. Padahal hanya bermaksud mencari seorang laki-laki yang membuat mereka penasaran. Mereka tidak menemukan orang yang dicari. Mereka menyempatkan mencari ke tempat duduk di bawah pohon kelas 8.2. Di mana tempat itu pertama kali Egy dan lelaki itu tidak sengaja bertabrakan. Usaha mereka sia-sia. Wajah putus asa Egy tergambar jelas. Egy merasa tidak akan pernah bertemu lagi dengan lelaki itu. Angan-angannya untuk berkenalan secara dekat dengan lelaki itu telah sirna. Kini tidak ada lagi kesempatan Egy. Mereka memutuskan untuk segera kembali ke kelas tataboga.
Wajah kecewa mereka tergambar jelas. Tidak ada lagi semangat Egy untuk mencari siapa lelaki itu. Egy berjalan dengan gontai. Hanya memandang ke depan, seolah-olah sepi di antara keramaian aktifitas Ekstrakulikuler. Sesekali ia memandang ke arah lapangan takraw. Kemudian Egy memandang ke depan lagi. Di hatinya timbul penasaran akan siapa saja yang sedang bermain takraw. Dialihkan lagi pandangan ke arah lapangan takraw. Mengamati santri yang sedang bersorak-sorak memainkan bola takraw. Tanpa disengaja Egy mengenali wajah salah satu santri yang sedang bermain takraw itu. Sejenak ia berhenti mengayunkan kakinya. Lalu, Egy memastikan orang yang ia rasa kenal tersebut. Tiba-tiba Egy berteriak kencang.
“Sinta…itu lelaki yang menabrakku kemarin.”
“Yang Mana?”
“Itu santri lelaki yang berbaju putih dan bercelana merah.”
“Gantengnya…”
Kegembiraan Egy tidak bisa diungkapkan lagi. Egy melompat-lompat kegirangan. Jantungnya berdetak kencang. Tiba-tiba wajahnya memerah seperti udang kepanasan. Sinta jadi bingung melihat tingkah sahabatnya tersebut. Sungguh Sinta tidak menyangka betapa bahagianya sahabatnya tersebut. Mereka berdua sepakat untuk melihat santri laki-laki itu secara dekat. Mencoba sedikit berjalan mendekati lapangan takraw. Mengamati lelaki itu dari kejauhan.
***
Pada akhirnya Egy mengetahui nama santri laki-laki itu dari teman sekelasnya yang bernama Ainun. Suatu hari Egy melihat Ainun sedang bercakap-cakap dengan lelaki itu. Egy tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Sebenarnya Egy ingin langsung menemui lelaki itu untuk minta maaf atas kejadian beberapa waktu lalu. Tapi ia enggan untuk langsung bergabung dengan mereka. Egy mencoba menahan hasratnya untuk bertindak gegabah. Egy sabar menunggu mereka selesai bicara. Tidak lama kemudian lelaki itu pergi masuk kelas 8.1. Tinggalah Ainun berdiri terpaku. Dengan perasaan penuh tanya Egy memberanikan diri untuk menghampiri Ainun dan mengajukan beberapa pertanyaan. Ternyata santri laki-laki yang ia cari selama ini bernama Fauzan Mubaroh. Biasa dipanggil Fauzan. Ainun menjawab semua pertanyaan yang diajukan Egy. Ainun menjelaskan bahwasannya Fauzan adalah anak dari pamannya yang bernama Firdaus. Rumah Ainun di kampung tidak begitu jauh dari rumah Fauzan. Apabila Ainun perlu bantuan, ia tidak sungkan-sungkan untuk meminta bantuan kepada Fauzan. Karena Fauzan sudah menganggap Ainun adik kandungnya sendiri di tanah rantau ini. Sudah kewajiban Fauzan membantu dan melindungi adiknya dari bahaya apapun.
Semenjak Egy tahu nama lelaki yang dikaguminya tersebut. Egy selalu membuat puisi cinta setiap malam ia berangan-angan bisa lebih mengenal lelaki itu. Buku diary Egy kini telah penuh dengan puisi cinta. Apabila ia merindukan tatapan pesona Fauzan, maka ia akan mengungkapkan rasanya melalui sebuah puisi. Lebih kurang sudah ada tiga puluh puisi ditulis Egy. Kala siang hari Egy melihat Fauzan bercanda tawa dengan temannya, malamnya akan dituangkannya ke dalam sebuah puisi.
“Apa yang sedang kamu tulis, Gy?”
“Tidak ada. Cuma coretan saja.”
“Coba sini aku baca!”
Sinta membaca lembar demi lembar puisi ungkapan perasaan cinta Egy terhadap Fauzan. Sungguh menakjubkan kata-kata perumpamaan yang dipakai oleh Egy. Sinta saja terkesima oleh makna yang disampaikan puisi sahabatnya tersebut. Sinta telah mengetahui betapa Egy mengagumi dan menyukai Fauzan. Lelaki yang berkulit putih dengan tinggi lebih kurang 170 itu. Berhidung mancung dan berwajah sedikit opal. Fauzan memiliki bola mata yang indah. Bola matanya hitam dan sekelilingnya putih jernih. Seakan-akan Egy bisa berkaca-kaca di sana.
Setiap hari sabtu, pada jam ekstrakulikuler Egy selalu menyempatkan diri pergi melihat Fauzan yang sedang bermain takraw. Fauzan adalah salah satu santri yang sangat pandai bermain takraw. Hampir setiap pertandingan yang dihadapinya, ia selalu menang. Egy mendapat kabar bahwa Fauzan juga sudah pernah mewakili pesantren untuk lomba takraw tingkat kabupaten. Egy semakin mengagumi lelaki yang bertemu tidak sengaja itu. Egy berpikir bahwasannya pertemuanya dengan Fauzan adalah kehendak Tuhan. Egy selalu berdoa setiap shalat agar bisa berkenalan dengan Fauzan lebih dekat.
Tanpa disadari Egy berdiri terlalu dekat dengan lapangan takraw. Fauzan dan kawan-kawannya keasikan memainkan bola takraw. Tidak tahu kenapa, salah satu pemain tersebut salah mengatasi pukulan dari Fauzan. Sehingga bolanya memutar arah menuju Egy. Karena tanpa persiapan Egy tidak sanggup menghindari bola takraw tersebut. Bola takraw tepat mengenai kepalanya. Egy berteriak kesakitan. Bola takraw tersebut sangat keras mengenai kepalanya sehingga membuat ia pingsan di tepi lapangan tersebut. Segera Fauzan berlari menghampiri Egy yang telah roboh ke tanah. Langsung Fauzan serta kawan-kawannya memapah Egy ke UKS. Fauzan panik. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Sesampai di UKS Egy diperiksa oleh Ibu yang bertugas di sana.
Ibu UKS memberikan keterangan bahwa Egy tidak apa-apa. Memang benar benturan bola terhadap kepalanya keras. Tapi Insa Allah Egy akan segera siuman. Ia hanya butuh istirahat beberapa jam saja. Ibu UKS tersebut mencoba meyakinkan Fauzan. Fauzan memutuskan untuk menjaga dan menunggu Egy hingga tersadar dari pingsannya. Dipandanginya wajah santri perempuan itu penuh rasa prihatin. Fauzan mengingat-ingat atas kejadian beberapa waktu lalu. Timbullah rasa bersalahnya. Sudah dua kali ia mencelakakan Egy. Fauzan ingin meminta maaf mewakili kawan-kawan atas kejadian tersebut.
Lebih kurang sudah satu jam Egy pingsan. Tiba-tiba Egy terbangun. Terlihat jelas wajah lelahnya. Fauzan menawarkan air putih kepada Egy. Egy tidak menolak karena ia memang terasa haus. Dituntunnya gelas oleh Fauzan ke mulut Egy. Tanpa disengaja mereka bertatapan. Bagi Egy itu adalah tatapan penuh cinta. Ia merasa beruntung sekali bisa sedekat ini dengan lelaki yang mengisi lembaran demi lembaran dalam bait puisinya. Dipandanginya laki-laki yang membuatnya terkagum dengan kebaikan serta kelihaiannya bermain takraw.
“Besok kamu jangan terlalu dekat ke lapangan takraw. Berbahaya.”
“Istirahat yang cukup. Semoga cepat sembuh.”
“Maafkan aku yang sudah mencelakakan kamu.”
Egy hanya memandang dan mengamati bibir Fauzan komat-kamit memberikan perhatian dan ucapan maaf. Tidak ada satupun kata-kata yang keluar dari mulut Egy. Di dalam hatinya mengiyakan apa yang disampaikan oleh Fauzan. Tapi mulutnya kali ini tidak bisa bekerjasama dengan hatinya. Hatinya ingin berkata panjang lebar. Tapi mulutnya memilih untuk diam. Kemudian Fauzan mohon pamit untuk melanjutkan kelas berikutnya. Egy hanya menjawab dengan bahasa isyarat.
***
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan tahun pun telah beranjak pergi. Egy dan Fauzan semakin dekat. Fauzan selalu memberikan perhatian terhadap Egy agar terus giat belajar. Baik belajar menghafal hadist atau pun pelajaran yang lainya. Hari-hari Egy semakin berwarna. Pelangi sering melengkung indah di atas atap pesantren.
Sampai saat ini Egy dan Fauzan tidak pernah mengikrarkan janji cinta. Tapi mereka hanya berbagi cerita dikala resah. Saling memberi semangat satu sama lain. Memang pernah Egy meminta kejelasan hubungannya dengan Fauzan. Fauzan memberikan sebuah pemahaman bahwa rasa suka dan cinta tidak diwajibkan untuk sebuah ikrar cinta. Fauzan berharap suatu saat mereka dipertemukan dengan kehendak Tuhan. Untuk saat ini marilah kita kejar impian kita masing-masing. Mari kita mencintai Tuhan dan berdoa agar kita dipertemukan semesta.(*)

 


Redovan Jamil, lahir 10 Mei 1993, asal Sijunjung, Sumpur kudus. Sedang menempuh perkuliah di STKIP PGRI Sumatera Barat, jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pernah menjadi Ketua HMJ Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumatera Barat periode 2014/2015, Wakil Ketua BEM Kabinet Biru 56 STKIP PGRI Sumatera Barat periode 2015/2016. Aktif di organisasi IMABSII (Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Se-Indonesia) periode 2014/2016. Aktif di organisasi IMAKIPSI (Ikatan Mahasiswa Keguruan dan Ilmu Pendidikan Seluruh Indonesia) periode 2016/2018. Aktif dan menjadi pengurus di komunitas kepenulisan Daun Ranting. “Perihal menulis bagiku adalah sebuah kesenangan dan kecintaan. Sebuah terapi jiwa dan renungan hati yang suci,” demikianlah katanya.
Kontak person: 085265781291

Puisi Anistia Patma

Kata-kata

Kata-kataku berserak
Saat dia mendekat
Seperti permusuhan anak-anak

Telah kususun kata-kata
Dalam kepala
Agar saat berjumpa
Dapat bercerita
Lalu tertawa

Telah kususun kata-kata
Untuk ungkap semua rasa
Yang beriak dalam dada
Agar kau dapat mengetahuinya
Dan kita menuju masa depan yang sama

Degup jantungku telah menjelma
Angina pada debu
Saat akhirnya kita berjumpa

Hilang semua
Yang telah kususun sedemikian rupa
Membuat detak jam
Menguasai kita
Yang berkawan sepi

2016

 

Puisiku

Kurajutkan kata menjadi kalimat
Menjadi bait
Menjadi puisi

Berisi banyak isi
Yang mungkin tak dimengerti
Kecuali pemnyuka puisi
Yang membaca dengan teliti

 

Lagu Sendu

Musikmu mengalun tak menentu
Menggambarkan cerita hidupmu
Yang dirangkum ruang itu
Ruang dekat sumber debaran

Nadamu menjelaskan cuaca
Dalam ruang segenggam tangan
Yang dilukiskan Tuhan
Dekat sumber detakan

Matamu jendelanya
Mengatakannya lewat cahanya
Memaksa semua orang tenggelam
Dalam lagumu

Bait-baitnya semakin menyatakannya
Menjadikannya ruang penuh cahaya
Hingga semua yang disana melihatnya

2016

 

Rahasia Hati

Waktu bercerita padaku
Tentang hujan yang terusir
Mathari yang berkuasa
Menghapus abu-abu di langit
Memberinya warna biru cerah
Menyisakan seberkas putih
Agar mahluk tetap teduh
Melahirkan obat lembab
Menumbuhkan bunga-bunga
Menumpahkan warna pelangi di taman
Menyembuhkan banjir
Menyisakan syukur
Serta hidup makmur
Namun ia berucap
Terjadi beberapa putaran setelah ini
Setelah hujan berkali-kali
Perjuangan dan ketahanan hati
Yang belum pasti

 

Merah Jalanku

Merah jalanku bukan urusanmu
Merah jalanku bukan hidupmu
Merah jalanku bukan menujumu
Merah jalanku aku tanpamu

Merah yang berdarah menyelimuti jalanku
Merah yang membakar
Silih berganti menghadang
Merah ayng mampu merenggut nyawaku
Jika ia keluar
Dari pintu tempat tubuhku berjalan
Atau dari detak itu berasal

Merah jalanku
Bukan untuk kau mengerti
Bukan untuk kau debatkan
Bukan untuk kau tandingi
Tak perlu kau mengamini
Merah jalanku sudah bulat

 

Pesan Untuk Masa Depan

Datanglah bersama kegembiraan
Membawa kisah yang kehilangan
Duka lara, tangisan air mata

Bersiaplah sejak sekarang
Ubahlah doaku bukan bayang
Hadirkan cita-citaku

Kuberikan daftar impian
Kita bersama kerjakan
Agar ia menjadi bagian kedatangan
Mu, masa depan

2016

Anistia, atau nama lengkapnya Anistia Patma, lahir di Madiun 17 Agustus, saat ini tinggal di Banten. Pembaca setia sastra koran hari minggu.