KENAPA?
Untuk Shinta.
Mencari rerindang malam
bersemayam dalam sunyi
adalah pilihan kita kala itu
namun kenapa kita masih enggan bertanya
pada lagu-lagu dedahan, dan tarian dedaunan yang juga bersemayam di jembatan tua itu
kenapa Shinta?.
kenapa kita lupa, menitipkan janji suci kita pada ikan-ikan berloncatan yang juga sempat kegirangan lantaran gurauan kita
kenapa Shinta?.
kenapa kita lupa pesan riak-riak air ditepian batu itu
kenapa?.
kenapa kita lupa, atas rindu yang sempat kita cicipi berdua
dan kenapa kita juga lupa untuk kembali ke muasal rerindu jembatan tua.
TETAP KU RINDU
Mamakku perkasa
kurindu dirimu di hamparan karang-karang yang menusuk mata
kurindu dirimu di serbuan angin gaduh yang mencekam jiwa
kurindu dirimu di cercah-cercah cawan yang menjelma tawa
Kurindu dirimu.
meniti pasir basah di ujung gelora yang murka
tak kenal lelah dari ujung desa utara hingga di ujung desa selatan beringin tua
kau lelaki yang kekar
kau lelaki yang tegar
dan kau jua lelaki yang berhati mulia
rela menjadi budak
hanya tak ingin membuat anakmu kecewa.
NOSTALGIA
Untuk Sunna.
C G
Am Em
F C Am G.
Kunci itu menjelma semua tentang kita
disini, di kota kejauhan aku menyanyikan lagunya
dengan lirik adanya serupa wajah kita dulu
disini, di tengah hujan deras aku harus menimangnya
dengan raungan tangis dihati yang merana
disini, di heningnya malam aku kembali terhanyut di wajahmu yang semu, yang senantiasa menjanjikan damai dalam setiap takdirku.
Masih terhampar dengan jelas rasa yang tak sempat kita seduh di matamu yang indah
masih tumbuh dengan subur
walau ladang di hatiku sudah penuh dengan batu
dan masih berbuah lebat, walau rusuhnya topan terus menerjang.
disini, aku masih mengenangmu untuk kulupakan. SUNNA.
LUKA DI UJUNG RINDU
Padahal janjimu tak pernah rebah di saku
namun kenapa kau masih saja tampak begitu anggun di mataku
selalu merayu, mengayu, mengharu dan selalu meminta untuk meramaikan malammu dengan lelahku.
seperempat malam waktunya dimana aku harus mulai beranjak
dengan berjuta harapan di esok hari dapat memikul buah benang-benang kaca yang sudah ku rangkai sedemikian rupa
namun tadir berkata lain malam itu
harus berpulang dengan tangan hampa
dan membawa berjuta luka.
masih lelahku.
TAKDIRMU LAKNAT
Samping warung depan mesjid gang kecil jalan keluar dari sarangnya
keramain dan sunyi sepertiga malam waktu jalan siasatnya
mengundang nada desah
sehalus dan semerdu desau sunyi saat sendiri
nyaris tak ku pahami
kau tanpak cerdik bermain
minnyak di atas air
memarkan hati yang damai
memagut mata menanar
hingga hasratpun
mampu menyamar
Hemm..
hati-hati gadis merang
jika tubuhmu tak ingin terbakar
kau iblis serupa bidadari
aku tau itu..
mendekatlah dan lihatlah
pedangku masih terhunus dengan tajam jika hanya untuk menembus tubuhmu
jangan menangis
jangan sampai kecewa
karna pasti aku melampauimu.
Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995. Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.

